Pesantren? mempunyai tradisi (turats) khas. Sebuah khazanah kejiwaan (makhzun an-nafs) yang bersifat material dan imaterial yang dikembangkan untuk melahirkan pemikiran yang progresif-transformatif dalam upaya membangun masyarakat.
Di dalam pesantren ada 5 (lima) unsur ? pokok yaitu kiai, masjid, santri, pondok, dan kitab Islam klasik. Kiai adalah penjaga spiritualitas dan intelektualitas yang senantiasa diwariskan dari satu generasi ke generasi berikut melalui lembaga pesantren.
Jika ditelusuri, genealogi intelektual di kalangan ulama pesantren—khususnya Nahdlatul Ulama—tak dapat dilepaskan dari jaringan yang dibentuk ulama peletak dasar intelektualisme pesantren dan NU, semisal Syaikh Nawawi Al-Bantani, KH Mahfudz Al-Termasi, KH Kholil Bangkalan, KH Hasyim Asyari, KH A. Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syamsuri.
Para Kiai mengajarkan Kitab kuning yang merupakan elemen unik yang membedakan sistem pendidikan pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya serta memberikan kontribusi positif terhadap pemikiran Islam yang toleran dan mencerahkan. Dengan keduanya pesantren acapkali bersifat fleksibel dan toleran sehingga jauh dari watak radikal apalagi ekstrem dalam menyikapi masalah sosial, politik, maupun kebangsaan.
| Kiai Pesantren dan Genuine Kebudayaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online) |
Kiai Pesantren dan Genuine Kebudayaan Indonesia
Karena punya watak dan tradisi yang fleksibel dan toleran, maka pesantren mampu menjembatani problem keotentikan dan kemodernan (musykilah al-ashalah wa al-hadatsah) secara harmonis.Jika tradisi ini bisa dipertahankan, maka pesantren akan selalu eksis dalam memperjuangkan tujuan-tujuan dasar Syariat Islam (maqashid al-syariat), yakni menegakkan nilai dan prinsip keadilan sosial, kemaslahatan umat manusia, kerahmatan semesta, dan kearifan lokal. Yaitu Syariat Islam yang sesuai dengan kehidupan demokrasi dan mencerminkan karakter genuine kebudayaan Indonesia sebagai alternatif dari tuntutan formalisasi Syariat Islam yang kaffah pada satu sisi dengan keharusan menegakkan demokrasi dalam nation-state Indonesia pada sisi yang lain.
Buku yang ditulis Sahabat Jamal, “Biografi Singkat Ulama Ahlussunnah wal Jamaah:Pendiri dan Penggerak NU” ini akan menegaskan kembali nilai-nilai yang diperjuangkan pesantren. Sebuah buku yang menggugah kesadaran dan, Insya Allah, merubah keadaan. Selamat membaca!
IMNU Tegal
?Maman Imanulhaq
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi Majalengka, Ketua LDNU Jabar
IMNU Tegal
Dari Nu Online: nu.or.idIMNU Tegal Doa IMNU Tegal
