Sabtu, 26 Agustus 2017

Hasyim Muzadi: Idham Chalid Arif dan Berpandangan Tajam

Kairo, IMNU Tegal. Mantan Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi yang sedang berada di Kairo Mesir merasa kehilangan atas wafatnya Kiai Idham. Ia menilai pendahulunya di PBNU itu sebagai sosok yang luar biasa, bukan saja karena sejumlah jabatan tinggi yang pernah disandangnya, namun juga kearifan dan ketajaman pandangannya.

Sebagai tokoh NU yang berproses dari bawah, Hasyim mengaku punya banyak kenangan bersama Kiai Idham, terutama saat ia masih menjabat sebagai Ketua PMII Cabang Malang dan Kiai Idham telah menjadi Ketua Umum PBNU.

Hasyim Muzadi: Idham Chalid Arif dan Berpandangan Tajam (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Muzadi: Idham Chalid Arif dan Berpandangan Tajam (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Muzadi: Idham Chalid Arif dan Berpandangan Tajam

“Ketika itu, ingat saya tahun 1967, saya datang ke Jakarta sebagai Ketua PMII Cabang Malang sekaligus Ketua KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) konsulat Malang. Saya niat memprotes Pak Idham kenapa tidak mendukung gerakan Pak Subhan ZE. yang menuntut demokratisasi Indonesia di awal Orde Baru,” kata Hasyim.

IMNU Tegal

Menurut Hasyim, saat itu PMII di bawah kepemimpinan Zamroni sangat fanatik kepada Subhan ZE, tokoh muda NU yang memimpin gerakan pro demokrasi, termasuk menentang menghadapi demokrasi terpimpin pada era Presiden Soekarno.

Ketika diterima Kiai Idham yang saat itu merupakan Ketua Umum PBNU, kata Hasyim, dia pun menumpahkan semua "unek-unek" yang ada di kepalanya.

IMNU Tegal

Menanggapi protes yang dilontarkannya, kata Hasyim, Kiai Idham dengan tenang menjawab dan memberikan pengertian bahwa dalam bertindak tidak boleh "grusa-grusu" atau terburu-buru.

"Kita baru saja selesaikan komunis, sisanya masih panjang. Jangan minta demokrasi dalam saat yang sama, nanti demokrasi ada waktunya sendiri," kata Hasyim menirukan jawaban Kiai Idham.

Mengutip pendapat Imam Ibnu Atho`ilah, lanjut Hasyim, Kiai Idham menuturkan bahwa Allah menyelamatkan satu per satu, tidak sekaligus.

"Biarkan Pak Harto (Soeharto) berkuasa. Setiap zaman ada orangnya dan setiap orang ada zamannya," kata Kiai Idham seperti ditirukan Hasyim.

Kiai Idham, lanjut Hasyim, sama sekali tidak merisaukan keadaan waktu itu, namun justru lebih mengkhawatirkan keadaan yang mungkin terjadi beberapa puluh tahun sesudahnya.

"Yang saya khawatirkan justru puluhan tahun yang akan datang. Kita akan menghadapi kemunafikan, dan saya takut NU tidak mampu menghadapinya karena racun terasa madu," kata Hasyim mengutip pernyataan Kiai Idham.

Kiai Idham, lanjut Hasyim, juga menghargai sikap anak muda NU yang mendukung gagasan Subhan, yang notabene berseberangan dengan pandangan Kiai Idham sendiri.

"Saya senang kau menghormati Pak Subhan. Dia pejuang," kata Hasyim, mengulang pernyataan Kiai Idham kepadanya.

Dari pertemuan itu, kata Hasyim, dia menyadari bahwa pandangan kedua tokoh NU itu, Kiai Idham dan Subhan Z.E., sama-sama benar.

"Keluar dari Pak Idham saya langsung lemas karena konsep Pak Subhan memang bagus dan progresif, tetapi Pak Idham juga benar. Ibarat Nabi Musa dan Nabi Hidr, sama benarnya antara syariat dan hakikat," pungkasnya. (mad)Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Amalan, Bahtsul Masail IMNU Tegal

IMNU - Internet Marketer Nahdlatul Ulama Tegal.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock