Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

Konsumen Puas Pelayanan Sertifikasi Halal NU

Jakarta, IMNU Tegal. Sertifikat halal sangat penting untuk memperluas jangkauan pemasaran, demikian alasan yang diungkapkan oleh Budi Paramita, pemilik usaha suplemen Vitamor Grape, minuman alami penjaga kesehatan dan keremajaan yang terbuat dari buah anggur segar.?

Konsumen Puas Pelayanan Sertifikasi Halal NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Konsumen Puas Pelayanan Sertifikasi Halal NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Konsumen Puas Pelayanan Sertifikasi Halal NU

Kepada IMNU Tegal, yang dihubungi via telepon, Senin (14/4), ia menjelaskan masyarakat mengidentikkan produk dari buah anggur seperti minuman beralkohol anggur atau wine karena berasal dari bahan yang sama, sehingga untuk mengantisipasi keraguan tersebut, ia mencari kepastian dengan sertifikasi halal. Produknya dibuat dari buah anggur segar yang di-blender, disaring dan dipasteurisasi agar bisa tahan lebih lama. Produk ini tanpa dicampur air dan pemanis. Suplemen tersebut dipasarkan di toko-toko khusus yang menjual produk kecantikan dan kesehatan.

Ia meminta bantuan koleganya, yang kebetulan saat ini menjabat sebagai Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud, untuk memproses sertifikasi halal di satu badan halal yang sudah beroperasi dan mapan di Indonesia, tetapi Marsudi juga menawarkan, NU saat ini juga sudah memiliki badan halal tersendiri. Ia memutuskan untuk mendapatkan sertifikat halal dari dua lembaga tersebut.

IMNU Tegal

Untuk sertifikat halal di badan halal yang sudah mapan tersebut, ia dikenakan biaya 2.4 juta rupiah dan biaya kunjungan auditor sebesar 300 ribu per kunjungan sehingga total biaya yang dikeluarkan sebesar 3 juta. Sertifikat halal tersebut berlaku selama dua tahun. Proses sertifikasinya memerlukan waktu sekitar tiga bulan.

IMNU Tegal

Untuk sertifikasi halal di BHNU, hanya dikenakan biaya 600 ribu dengan lama pemprosesan selama 2 minggu dan masa berlaku untuk tiga tahun. Yang berbeda, sertifikat halal NU harus melakukan uji kandungan alkohol di laboratorium Sucofindo di jl Pasar Minggu Jakarta dengan biaya 800 ribu.?

“Saya senang dengan adanya kerjasama BHNU dan Sucofindo, yang dikenal memiliki laboratorium handal,” terangnya.

Untuk sertifikasi di badan halal yang sudah mapan tersebut, tidak diperlukan pemeriksaan kandungan alkohol. Waktu kunjungan ke tempat produksinya di daerah Jelambar Jakarta Barat, auditor halal lembaga tersebut, seorang dokter, hanya memintanya mendeskripsikan proses produksi dan tidak diminta uji kandungan alkohol.

Dari auditor halal NU yang seorang santri, ia mendapat pengetahuan baru bagaimana melakukan proses produksi secara halal.?

Menurut Budi, keberadaan Badan Halal NU (BHNU) sangat membantu sektor UKM untuk memperoleh sertifikat halal dengan biaya terjangkau.?

Sebelumnya Ketua BHNU Prof Dr Maksum Mahfudh menjelaskan, sesuatu yang dimonopoli tidak baik bagi konsumen, sedangkan keberadaan persaingan akan membuat penyedia layanan berusaha memaksimalkan kebutuhan konsumen. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Bahtsul Masail, Syariah, Santri IMNU Tegal

Jumat, 16 Februari 2018

Shalawat Habib Syech Semarakkan Harlah Ke-7 TV9 Nusantara

Sidoarjo, IMNU Tegal - Semarak hari lahir media televisi NU, TV9 Nusantara, diperingati dengan bershawalat bersama Habib Syech Abdul Qodir Assegaf dan ribuan syekhermania, sebutan bagi penggemar Habib Syech, di alun-alun Sidoarjo, Jumat (3/1) malam. Hujan yang sempat mengguyur wilayah Sidoarjo tidak menyurutkan semangat Nahdliyin untuk menghadiri acara tersebut.

Ketua PWNU Jawa Timur sekaligus Komisaris Utama TV9 Nusantara, KH Hasan Mutawakkil Alallah menyampaikan, TV9 Nusantara yang memiliki jargon “Santun Menyejukkan” itu telah tujuh tahun menjadi media perjuangan NU untuk mensyiarkan agama Islam Ahlusunnah wal Jamaah.

Shalawat Habib Syech Semarakkan Harlah Ke-7 TV9 Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalawat Habib Syech Semarakkan Harlah Ke-7 TV9 Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalawat Habib Syech Semarakkan Harlah Ke-7 TV9 Nusantara

"Tujuh tahun sudah TV9 menghiasi angkasa dan hadir di televisi para pemirsa yang membawa pesan para ulama, mengamankan, memperthankan, membumikan dan mengembangkan misi Nahdlatul Ulama di tengah-tengah ragam siaran televisi mainstream yang masih dominan dan cendrung menjadi pilihan," kata Kiai Mutawakkil.

IMNU Tegal

Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo ini menegaskan, pihaknya dituntut untuk bekerja keras mempunyai visi jauh ke depan sebagai perjuangan dan pengabdian untuk agama, NU, dan Indoensia. "Oleh karenanya atas nama Ketua PWNU Jatim dan Komisaris Utama TV9, kami mohon doanya mudah-mudahan TV9 tetap istiqamah berdakwah, bersyiar juga bersyair untuk NU, agama dan dunia," tuturnya.

?

Daam semarak peringatan hari lahir TV9 ini, hadir sejumlah tokoh ulama, para kiai Jawa Timur, PCNU Sidoarjo, PWNU Jatim, serta pejabat daerah setempat turut larut bershalawat merayakan hari lahirnya TV9 yang ke-7 tahun dan bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo ke-158.

Alunan shalawat dan syiiran yang dilantunakan Habib Syech Abdul Kodir Assegaf seakan menghipnotis para syekhermania. Sejumlah atribut syekhermania dan kecintaannya kepada TV9 juga dikibarkan oleh pemirsa TV9. (Moh Kholidun/Mahbib)

IMNU Tegal



Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Bahtsul Masail, Santri IMNU Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

Sebentar Lagi Arab Saudi Seperti di Indonesia, Gelar Muludan?

Mataram, IMNU Tegal 

Putra Mahkota Raja Arab Saudi, Muhammad bin Salman melakukan reformasi besar-besaran di negaranya, ulama-ulama dan khotib yang medok Wahabinya dipecat lebih dari seribu orang. Menteri dan pengaran yang korupsi dan hidup bermewah-mewahan dipecat, di antaranya Walib bin Thalab bin Abdul Aziz, termasuk Jenderal Mith’ab.  

Hal itu dikemukakan Ketua Umum PBNU ketika menceritakan situasi Arab Saudi saat ini kepada peserta Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama di Islamic Center Provinsi Nusa Tenggara Barat, di Kota Mataram pada Kamis malam (23/11). 

Sebentar Lagi Arab Saudi Seperti di Indonesia, Gelar Muludan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebentar Lagi Arab Saudi Seperti di Indonesia, Gelar Muludan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebentar Lagi Arab Saudi Seperti di Indonesia, Gelar Muludan?

Pengeran Muhammad bin Salman, lanjutnya, menyatakan, “Saya akan mengubah Islam di Arab Saudi menjadi Islam washatan, moderat”. Salah satu tandanya, pada Maulid Nabi Muhammad tahun ini, pemerintah menyatakan hari libur, sebagai penghormatan kepada warga Arab Saudi yang memperingatinya.  

Namun, kata Kiai Said, pemerintah Arab Saudi tidak dikabarkan akan mengadakan peringatan Maulid Nabi seperti di Indonesia. Baru menghormati Maulid Nabi dengan menjadikan hari libur. 

“Lama-lama mauludan itu, jangan khawatir,” katanya pada ujung pemaparan Laporan Perkembangan Pelaksanaan Keputusan-keputusan Muktamar. 

IMNU Tegal

Di Indonesia, Kedutaan Arab Saudi yang baru, telah bertemu dengan PBNU. Bahkan pada pembukaan Munas dan Konbes di pulau Lombok ini, Duta Besarnya datang. 

IMNU Tegal

Duta Besar Arab Saudi Muhammad Usamah mengungkapkan terima kasih kepada PBNU yang telah mengundang ke acara itu. Kepada Kiai Said, ia akan memberikan kesempatan umroh selepas Munas dan Konbes atas biaya mereka. 

"Mereka ingin menunjukkan terbuka, moderat, terbuka kepada semua kalangan," kata Kiai Said. 

Pada kesempatan itu, Kiai Said mengaku mengajukan permintaan kepada Dubes Arab Saudi itu tentang dua hal. Pertama tidak lagi memberikan buku kepada jamaah haji asal Indonesia yang isinya menjelek-jelekkan Alussunah wal-Jamaah. Kedua, meminta supaya diberikan kebebasan bermazhab dalam melaksanakan ibadah haji.

"Sekarang sih diiyakan, wallahu alam benar tidaknya," katanya.   

Munas Alim Ulama dan Konbes NU dibuka Presiden Joko Widodo Kamis siang. Hajatan tingkat nasional itu digelar di lima pondok pesantren dan akan berlangsung hingga 26 November. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Bahtsul Masail, Internasional, Budaya IMNU Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Saat Muslim Austria Terdiskriminasi karena Isu Terorisme

Sejumlah dosen dari tanah air mendapat kesempatan mengunjungi Austria dalam rangka studi. Zaimatus Sadiyah Lc, MA, dosen Pendidikan Bahasa Arab STAIN Kudus, menceritakan sekelumit pengalamannya di sana kepada IMNU Tegal.

Saat berada di Austria, rombongan berkesempatan untuk bertemu Dr. Fuad Sanac, President of Muslim Community (MC) di Austria. Dengan diantar Prof. Lohlker, rombongan bersama menuju kantor MC dengan berjalan kaki. Kira-kira 20 menit waktu yang diperlukan untuk menempuh perjalanan dari apartemen ke kantor MC. Bule-bule di Austria memang sangat suka berjalan kaki, dan jalannya juga sangat cepat, mungkin untuk menghangatkan badan apalagi di musim dingin. Kalau tidak bergerak, rasanya tambah dingin.

Saat Muslim Austria Terdiskriminasi karena Isu Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Muslim Austria Terdiskriminasi karena Isu Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Muslim Austria Terdiskriminasi karena Isu Terorisme

Banyak hal didapatkan dalam dialog tersebut. Terutama terkait dengan isu yang sedang hangat yakni tentang draf undang-undang yang mengatur komunitas muslim di Austria. Sebagaimana diketahui, Islam merupakan salah satu agama yang diakui secara resmi di negara ini, karenanya perkembangannya cukup menggembirakan.

IMNU Tegal

"Pemerintah memberikan kesempatan umat Islam membangun masjid, mendirikan lembaga pendidikan dan juga melakukan ritual keagamaan lain," kata alumnus Madrasah Aliyah Program Keagamaan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo Jawa Timur ini. Tidak ada diskriminasi antara penduduk muslim dengan penduduk beragama lain, lanjutnya.

IMNU Tegal

"Namun, harmoni kehidupan di Wina mulai terusik karena isu terorisme yang seringkali dikaitkan dengan Islam," tandas Zaimatus Sadiyah yang juga jebolan Universitas Al-Azhar Mesir. Tentu saja hal tersebut tidak lepas dari propaganda pihak luar yang mencoba mendiskreditkan Islam dan menjadikannya sebagai agama yang identik dengan teror.

Rupanya pemerintah Austria juga mulai terusik dengan isu ini, sehingga menyusun draf perubahan undang-undang tentang Islam. Perlu diketahui bahwa undang-undang yang mengatur umat Islam di Austria sudah berusia lebih dari 100 tahun. "Selama itu tidak ada masalah yang muncul hingga berakibat pada perubahan undang-undang tersebut," ungkap lulusan UGM Kajian Timur Tengah ini.

"Ada tiga hal yang sangat mengusik umat Islam dan mengandung unsur diskriminasi," katanya sembari memerinci. Pertama, aturan yang melarang umat Islam di Austria untuk menerima bantuan finansial dari luar negeri, baik dari negara Arab maupun lainnya. Kedua, aturan bahwa imam masjid yang juga berperan sebagai seorang mufti bagi jamaahnya harus merupakan lulusan sekolah Islam di Austria. Ketiga, penetapan standar terjemahan al-Quran ke dalam bahasa Jerman.

Selain terorisme, isu peningkatan jumlah penduduk muslim Austria secara signifikan dari tahun ke tahun juga menjadi catatan tersendiri bagi pemerintah. Menurut Mr. Farouq yang sempat ditemui di kantor IRPA (semacam Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah di Indonesia yang dikelola oleh umat Islam dengan subsidi dari pemerintah Austria), selain imigrasi, faktor utama peningkatan jumlah penduduk muslim secara signifikan tersebut adalah paradigma berpikir yang berbeda antara umat Islam dengan orang Barat khususnya masalah keturuanan.

"Umat Islam rata-rata menikah di usia yang relatif muda dan mempunyai banyak keturunan," terangnya. Selain karena mengikuti sunnah Rasulullah SAW, menikah juga salah satu bentuk ikhtiar untuk keberlajutan hidup manusia, lanjutnya.

Sebaliknya, bule di Austria rata-rata menikah di usia "mapan" dan mungkin hanya mempunyai satu anak. Karena itu, wajar jika jumlah penduduk muslim di Austria kian tahun semakin bertambah. Bahkan, sebuah surat kabar lokal di Wina menulis tentang perkiraan jumlah muslim di Austria pada tahun 2046 akan meningkat menjadi 24 % dari jumlah total pendudukAustria (saat ini jumlah penduduk muslim 600.000 jiwa atau setara dengan 6% dari total penduduk).

"Jika itu terbukti benar, maka siap-siap saja Eropa menjadi benua Eurab alias Eropa Arab," katanya sumringah. Tapi kendati demikian, tentunya bukan hanya kuantitas yang dipikirkan, namun kualitas generasi Islam yang cemerlanglah yang dinantikan akan lahir di berbagai belahan bumi manapun.

Jaminan Produk Halal

Hal lain yang menarik untuk diceritakan adalah jaminan bagi konsumen muslim terkait penyediaan makanan halal. "Jika ingin aman mengonsumsi makanan di sini sangat gampang, cari saja kedai-kedai makanan yang rata-rata dimiliki orang Turki dan Mesir," katanya berbagi tips. Cara menandainya pun mudah, biasanya mereka menjual kebab. "Kadang saat kita datang mereka langsung mengatakan ‘halal... halal’," terangnya.

Menurut Dr. Aminah Syakir, direktur IRPA, untuk mendapatkan daging halal, kaum muslimin bisa membelinya di beberapa supermarket umum yang menyediakan produk bersertifikat halal atau supermarket khusus milik warga muslim. "Rata-rata umat Islam di sini sudah sangat akrab dengan tempat tersebut. Bahkan dalam satu kesempatan kami pernah berkunjung ke pasar tradisional yang seluruh penjualnya adalah warga muslim Austria," ungkapnya. Ada toko khusus baju-baju khas Turki, lapak pedagang sayuran, buah, ikan, ayam, daging dan sebagainya. "Sungguh sangat menarik," katanya.

Sayang sekali jaminan halal bagi konsumen muslim semacam ini belum didapatkan secara utuh di Indonesia. Entah di mana letak permasalahannya. Rasanya kita mungkin tidak terlalu memperhatikan kehalalan makanan yang dimakan di sejumlah warung atau kedai. Padahal bisa jadi makan tersebut tidak memenuhi krteria halal dan thayyib sebagaimana yang disyariatkan dalam agama. "Karenanya perlu ada regulasi yang mendukung hal ini, agar kaum muslimin bisa mendapatkan jaminan untuk selalu mengonsumsi makanan sesuai syariat, sehingga konsumen merasa tenang dan pedagang juga senang," harapnya.

Zaimatus Sadiyah jadi teringat saat awal pulang dari Australia tahun 2009. "Saya sempat tidak memasak daging ayam ataupun sapi beberapa waktu lamanya karena tidak tahu harus beli di mana dan kepada siapa," terangnya. Bingung menjadi hal mendasar untuk mencari penjual daging halal. Perasaan ragu muncul karena selama satu setengah tahun bersama keluarga tinggal di negeri Kanguru dalam rangka mendampingi suami tugas belajar, selalu membeli daging ayam atau sapi di toko khusus halal meat yang mudah didapatkan di sekitar tempat tinggal. Selain mudah dan murah, yang terpenting adalah jaminan kehalalan daging dari majelis ulama setempat.

"Kemudahan dan jaminan rasa aman inilah yang belum saya dan juga mayoritas kaum muslim dapatkan di negara kita," sergahnya. Namun, akhirnya ia secara pribadi berikhtiar melalui simbol-simbol keagamaan yang melekat pada penjual, misalnya yang penting penjualnya mengenakan peci atau kerudung, dan syukur-syukur sudah berpredikat haji atau hajjah.

"Ya, dua simbol itu sebenarnya tidak menjamin, tapi paling tidak sebagai kriteria minimum dalam ikhtiar untuk memenuhi kebutuhan dapur," ungkapnya. Karena bagaimanapun juga sesekali ingin masak rawon ataupun soto khas Jawa Timur, dua menu favorit keluarga yang sulit ditemukan di tempat tinggal saat ini, Kota Semarang. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Bahtsul Masail IMNU Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

Pemuda Tak Sekadar Bagian Lapisan Sosial Masyarakat

Bogor, IMNU Tegal. Pemuda, sesungguhnya bukan sekadar bagian dari lapisan sosial dalam masyarakat, sebab mereka memainkan peranan penting dalam perubahan sosial. Jauh daripada itu, pemuda merupakan konsepsi yang menerobos definisi pelapisan sosial tersebut, terutama terkait konsepsi nilai-nilai.

Demikianlah salah satu poin penting yang mengemuka pada diskusi Mengokohkan Kemanusiaan Indonesia  yang Adil dan Beradab, di Kedai Aer Mantjoer, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (21/10).

Pemuda Tak Sekadar Bagian Lapisan Sosial Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda Tak Sekadar Bagian Lapisan Sosial Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuda Tak Sekadar Bagian Lapisan Sosial Masyarakat

Pemuda harus dapat memberikan pemaknaan yang nyata dari nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan keadaban dalam hidup berbangsa dan bernegara yang bermuara pada peningkatan kualitas kemanusiaan Indonesia yang Berketuhanan yang Maha Esa (Pancasilais).

Pemuda juga harus mampu meneguhkan nilai-nilai spiritualitas Nusantara sebagai nilai-nilai luhur bangsa serta rasa cinta tanah air dan kemanusiaan untuk saling berbagi serta sikap saling welas-asih; meningkatkan semangat nasionalisme atas asas kekeluargaan, kebudayaan, dan kebangsaan; serta menumbuhkembangkan kembali sikap menghargai kemajemukan serta menghindari setiap upaya pengingkaran terhadap pluralitas bangsa Indonesia yang setiap saat dapat saja muncul ke permukaan. 

Pada acara yang digelar dalam rangka Refleksi 89 Tahun Soempah Pemoeda , juga ditegaskan pemuda hendaknya dapat menghilangkan rasa prejudise atas barrier of psicology (batas psikologis/prasangka) terhadap sesama anak bangsa yang multi etnis, ras, suku, budaya, bahasa dan agama, terhadap sesama anak bangsa.

IMNU Tegal

Pemuda atau generasi muda adalah konsep-konsep yang sering mewujud pada nilai-nilai herois-nasionalisme. Hal ini disebabkan keduanya bukanlah semata-mata istilah ilmiah, tetapi lebih merupakan pengertian ideologis dan kultural.

“Pemuda harapan bangsa,” “Pemuda pemilik masa depan bangsa,” dan sebagainya, betapa mensyaratkan nilai yang melekat pada kata “pemuda”. Pernyataan ini, dalam konteks Indonesia sebagai bangsa, menemukan jejaknya. Sebab, berbicara sosok pemuda memang identik dengan nilai-nilai dan peran kesejarahan yang selalu melekat padanya. Sosok pemuda selalu terkait dengan peran sosial-politik dan kebangsaan. Ini dapat dipahami mengingat hakikat perubahan sosial-politik yang selalu tercitrakan pada sosok pemuda. Citra pemuda Indonesia tidak lepas dari catatan sejarah yang telah diukirnya sendiri. 

Betapa peristiwa-peristiwa besar di negeri ini dilalui dan digerakkan oleh pemuda. Sejarah mencatat bahwa Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908, merupakan rekayasa sosial-politik para pemuda Indonesia dalam menggerakkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia melawan penjajah kolonial. 

Tonggak penting itu direkatkan lagi oleh Ikrar/Sumpah Pemuda, yang menegaskan kesatuan niat, kebualatan tekad dan semangat satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa nasional Indonesia, pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928. Lalu, semangat nasionalisme tersebut mengkristal dan menemukan momentumnya saat diproklamirkannya Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarano dan Hatta.   

Tidak mengherankan jika kemerdekaan Indonesia tak lepas dari gerakan “revolusi kaum muda.” Prestasi dan citra kaum muda Indonesia begitu menyejarah sepanjang berdirinya Republik Indonesia. Pergantian rezim ke rezim di Indonesia juga melibatkan pemuda. Sedemikian melekatnya nilai-nilai kepeloporan dan semangat kebangsaannya, tentu saja ini menjadi beban  sekaligus tanggungjawab moral sosial pemuda Indonesia ke depan.

IMNU Tegal

Diskusi tersebut juga  merupakan agenda pre-launching buku  Indonesia Rumah Kita karya Abdul Ghopur & Rizky Afriono. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Bahtsul Masail, Ubudiyah IMNU Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Fatayat Sulsel Gelar Penyuluhan di Lapas hingga Pengobatan Gratis

Makassar, IMNU Tegal

Pimpinan Wilayah Fatayat Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan bakal menggelar serangkaian acara dalam rangka menyambut hari lahir (halah) Fatayat NU yang jatuh pada 24 April nanti. Kegiatan praharlah ini diwujudkan dalam bentuk bakti sosial.

Fatayat NU Sulsel akan mengadakan antara lain penyuluhan narkoba bagi perempuan di Lapas Bolangi Kabupaten Gowa pada 23 April, layanan pengobatan gratis di Makassar pada 24 April 2016, dan donor darah di Makassar pada 26 April.

Fatayat Sulsel Gelar Penyuluhan di Lapas hingga Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat Sulsel Gelar Penyuluhan di Lapas hingga Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat Sulsel Gelar Penyuluhan di Lapas hingga Pengobatan Gratis

Hal ini disampaikan Ketua PW Fatayat NU Sulsel Nurul Ulfa dalam diskusi publik praharlah Fatayat NU di Aula Kantor PWNU Sulawesi Selatan, Jalan Perintis Kemerdekaan Km 9, Kompleks Universitas Islam Makassar, Kamis (21/4).

IMNU Tegal

Diskusi publik tersebut mengangkat tema "Meretas Profesionalisme dan Kompetensi Perempuan Sulsel dari Stereotip Sosial Kultural, menuju Pembangunan Berkeadilan". Narasumber yang hadir di antaranya Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI) Prof Masrurah Muktar, anggota DPRD Kabupaten Soppeng Andi Nurhidayati, dan Nurfadillah Mappaselleng, pakar budaya Sulsel.

IMNU Tegal

Peran besar perempuan

Prof Masrurah Muktar dalam paparannya banyak menyinggung eksistensi perempuan di dunia modern dewasa ini. Menurutnya, saat ini perempuan memiliki peran ganda, di dalam dan di luar keluarga.

"Sehingga ruang-ruang yang ada saat ini, baik itu dunia pendidikan, politik, dan lain sebagainya semua bisa berkontribusi, tanpa harus melihat gender," tambahnya.

Senada, Nurfadillah Mappaselleng berpendapat, laki-laki dan perempuan memiliki derajat sosial yang sama dan yang membedakan hanyalah fisik. "Dewasa ini, tanpa melihat jenis kelamin, semua orang memiliki kontribusi terhadap pembangunan bangsa, sehingga semuanya harus dihargai sesuai perannya masing-masing," tuturnya.

Namun, ia menilai saat ini masih banyak pandangan mengatasnamakan agama yang mereduksi peran perempuan.

Salah satu Anggota DPRD Kabupaten Soppeng Andi Nurhidayati banyak mengulas keterlibatan perempuan dalam politik 30 persen. Menurutnya, keterlibatan perempuan di parlemen memiliki kontribusi besar terhadap maju tidaknya pembangunan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat.

Tampak hadir Wakil Ketua PW Muslimat NU Sulsel Nurjannah Abna, ratusan pengurus Fatayat NU Sulsel, kader PMII Sulsel, pengurus IPNU Sulsel, dan ratusan mahasiswa Universitas Islam Makassar. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Bahtsul Masail IMNU Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Aman Tentram Bila Umara dan Ulama Bersatu

Brebes, IMNU Tegal. Rais Syuriyah Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Tanjung Brebes KH Mudrikah Toyib memandang perlu adanya hubungan antara ulama dan umara. Sebab bila keduanya sudah saling menyatu keamanan dan ketentraman masyarakat akan kondusif.

“Antara ulama dan umara, perlu menyatu untuk menjaga kondusivitas masyarakat,” tuturnya saat memberi mauidlatul hasanah memasuki hari kedua? Safari? Ramadhan? bersama Wakil Bupati Brebes? Narjo di Masjid Mujahidin Desa Karangreja Kecamatan Tanjung Brebes, Selasa malam (1/7).

Aman Tentram Bila Umara dan Ulama Bersatu (Sumber Gambar : Nu Online)
Aman Tentram Bila Umara dan Ulama Bersatu (Sumber Gambar : Nu Online)

Aman Tentram Bila Umara dan Ulama Bersatu

Menurut Kiai Mudrikah, masyarakat akan sejahtera manakala masing-masing pemangku kebijakan untuk rakyat dan umat berjalan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Namun harus saling bergenggam erat dengan satu tujuan untuk kesejahteraan warga masyarakat. “Akan diangkat derajat pemimpin manakala mencintai rakyatnya,” kata Mudrikah.

IMNU Tegal

Akan sangat sempurna bila suatu negara atau masyarakat dibangun di atas empat pilar yang saling menyangga. Empat pilar tersebut adalah Ilmu para cendekiawan yang bermanfaat, pemimpin yang bijaksana dan adil, sodaqohnya para aghniya dan doanya orang miskin. “Keempat pilar tersebut akan kokoh menegakan negara yang baldatun toyibatun wafofur ghofur,” pungkasnya.

IMNU Tegal

Safari Ramadhan Wakil Bupati Narjo didampingi unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) sebagai upaya perjalanan religi untuk menjalin ukhuwah antara pejabat dan rakyat. Tampak mengikuti Asisten III Setda Brebes Kustoro, Kepala Dishubkominfo Mayang Sri Herbimo, Kepala Badan Pertanahan Kab Brebes Gunung Jayalaksana, Kabag Humas dan Protokol Setda Brebes Atmo Tan Sidik, Kabag Kesra? Setda Brebes Syaiful Islam dan sejumlah pejabat lainnya.

Wakil Bupati Brebes Narjo dalam kesempatan tersebut mengajak kepada seluruh warga masyarakat untuk bersama-sama mensukseskan pemilu preiden 9 Juli mendatang. Partisipasi masyarakat sangat penting dalam pilpres untuk melahirkan pemimpin yang berkualitas.

Menurut Narjo, pada pemilu legislatif yang lalu angka partisipasi aktif masyarakat sudah sangat bagus, meskipun masih dibawa rata-rata Jateng yang mencapai 70 persen lebih. “Mari datang dan gunakan hak pilih anda ke TPS-TPS yang telah disediakan,” ajaknya.

Camat Tanjung Sugeng Basuki atas nama warga merasa gembira dengan kedatangan Wakil Bupati

di desa Karangreja. Dia melaporkan, kehidupan beragama dan bermasyarakat di Kecamatan Tanjung secara umum dalam keadaan kondusif. Termasuk untuk kegiatan pilpres sudah siap sedia demi kesuksesan bersama. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kajian Sunnah, RMI NU, Bahtsul Masail IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock