Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Sarung Miliki Potensi dalam Pemberdayaan Ekonomi Pesantren

Jakarta, IMNU Tegal. Direktur Jenderal Industri Tekstil, Kulit, dan Aneka, Kementerian Perindustrian RI Muhdori mengungkapkan tradisi bersarung yang dilakukan warga NU dan pondok pesantren, memiliki potensi dan peluang positif dilihat dari pemberdayaan ekonomi pesantren. ?

Sarung Miliki Potensi dalam Pemberdayaan Ekonomi Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarung Miliki Potensi dalam Pemberdayaan Ekonomi Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarung Miliki Potensi dalam Pemberdayaan Ekonomi Pesantren

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara pada Seminar Nasional “Sarung Nusantara” yang digelar Lembaga Takmir Masjid Nahdltaul Ulama (LTMNU) di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Kamis (6/4).

“Industri tekstil, di dalamnya termasuk industri sarung, menempati urutan ketiga penghasil devisa negara. Nilai ekspor tahun 2016 sebesar US$ 11,78 miliar (8,22 persen ekspor nasional), dengan surplus USD 4,73 miliar; berkontribusi 1,18 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada tahun 2016. Industri tekstil juga merupakan satu dari sepuluh industri prioritas dan industri andalan Indonesia 2015-2035,” urai Muhdori.

Muhdori menyebut, pada tahun 2015, dari sisi penyerapan tenaga kerja, industri tersebut menyerap tenaga kerja langsung sejumlah 2,69 juta orang. Angka ini setara dengan 17,03 persen dari total tenaga kerja industri manufaktur yang bersifat padat karya.

IMNU Tegal

Oleh karena itu ia mendorong pesantren memanfaatkan peluang tersebut. “Contohnya bila di Cirebon saja ada 27 pesantren dengan rata-rata 200 santri per pesantren. Lalu koperasi pesantren membeli sarung dengan harga dasar 45 ribu dijual 50 ribu, itu akan ada keuntungan untuk pesantren. Jelas ini upaya pemberdayaan umat lewat sarung,” terangnya.

Belum lagi, kata Mudhori bila pesantren bisa memproduksi sarung sendiri, tentu optimalisasi pemberdayaan ekonomi dapat dilakukan.

IMNU Tegal

Ia juga mengatakan pengembangan tekstil tidak terbatas hanya sarung. “Ketika musim haji, kiai dan satri pondok pesantren minimal kalau tidak berangkat haji bisa bertindak sebagai pemandu manasik. Sekaligus ini bisa dipersiapkan dengan mengenalkan produk pendukung ibadah haji dan umrah,” lanjut Muhdori.

Bicara tentang bisnis, kata Muhdori, tidak akan ada habisnya ketika dikaitkan dengan pondok pesantren. “Karena itu pondok pesantren dan NU harus memanfaatkan betul peluang ini, selagi masih terbuka,” tandasnya. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Syariah, Amalan IMNU Tegal

Sabtu, 24 Februari 2018

Ekonomi Kreatif dan Agroindustri Bisa Jadi Solusi Atasi Persoalan Ekonomi

Jakarta, IMNU Tegal - Ketimpangan antara penduduk yang kaya dan miskin meningkat sejak diberlakukannya otonomi daerah. Ini berarti penerapan otonomi daerah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat belum tercapai.

Hal itu disampaikan Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung, Prof Dr Bustanul Arifin dalm Diskusi Ekonomi “Menyongsong Satu Abad Kebangkitan Ekonomi Umat dan Nahdlatul Tujar”, di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Selasa (14/6) sore.

Ekonomi Kreatif dan Agroindustri Bisa Jadi Solusi Atasi Persoalan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ekonomi Kreatif dan Agroindustri Bisa Jadi Solusi Atasi Persoalan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ekonomi Kreatif dan Agroindustri Bisa Jadi Solusi Atasi Persoalan Ekonomi

Diskusi yang diselenggarakan Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) ini sebagai persiapan Rapat Pleno PBNU yang akan dihelat akhir Juni.

IMNU Tegal

(Baca: Pentingnya Indonesia Kembali ke Sistem Ekonomi Pancasila)

IMNU Tegal

Lebih lanjut Bustanul mengatakan, ketimpangan tersebut ditandai dengan tingginya angka gini ratio (ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan secara keseluruhan) yang mencapai 0,41 antara tahun 2011-2015.

“Kalau sampai gini ratio mencapai 0,5 sangat mungkin menimbulkan kerusuhan rasial, seperti yang terjadi di beberapa negara. Jadi masalah ketimpangan ini menjadi serius,” kata Bustanul.

Angka kemiskinan yang pada tahun 2015 juga meningkat menjadi 28,51 juta jiwa dari tahun sebelumnya yang hanya 27,73 juta jiwa. Kemiskinan di perdesaan yang pada tahun 2014 sebanyak 17,73 juta jiwa menjadi 17,89 juta jiwa di tahun 2015.

Perlu Pembenahan

Menurut Bustanul, permasalahan ekonomi Indonesia memerlukan pembenahan dari aspek hati masyarakat Indonesia. Bustanul memaparkan pentingnya keunggulan keberlanjutan, sebab langkah pemerintah untuk menstabilkan harga pangan seperti yang selama ini dijalankan tidaklah cukup.

Saat ini ekspolitasi sumber daya alam seperti batu bara juga tidak menjamin penyelesaian persoalan ekonomi. Misalnya di Kalimantan Timur yang mulai sadar untuk masuk ke sektor yang mengandalkan jasa. Selain itu juga penerapan agroindustri di bidang perikanan dan holikultura, akan membuat ekonomi Indonesia mampu bertahan.

Ekonomi kreatif juga menjadi pilihan yang baik. Ekonomi kreatif bisa dalam bentuknya yang benar-benar menggunakan pemikiran, tidak harus berbasis aplikasi. Misalnya berupa pengenalan kebudayaan Indonesia. Bustanul mencontohkan Korea berhasil menjual budaya pop-nya sehingga dikenal dunia.

Contoh lainnya adalah Isreal. Israel yang tidak mempunyai tanah (wilayah) dan tidak punya kekuatan, tetapi bisa menjadi negara super power yang mampu mengendalikan dunia.

Presiden Joko Widodo mencetuskan ekonomi kreatif ini juga, tetapi agaknya kurang aktif sehingga hasilnya belum maksimal. Bustanul mengkritisi selama ini NU tidak sekali pun menyentuh hal tersebut.

Ekonomi kreatif yang dapat diterapkan juga adalah turisme yang mengombinasikan beberapa hal misalnya kekhasan home stay berhubungan dengan masyarakat asli. Dan semuanya dijadikan paket wisata sehingga bisa menjual hotel dan kuliner.

Bustanul merekomendasikan selain isu ketimpangan, yang juga perlu dibahas dalam periode nanti adalah pengusaaan lahan pertanian yang semakin menurun, dan kreativitas. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Syariah, Nasional, Ahlussunnah IMNU Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

Konsumen Puas Pelayanan Sertifikasi Halal NU

Jakarta, IMNU Tegal. Sertifikat halal sangat penting untuk memperluas jangkauan pemasaran, demikian alasan yang diungkapkan oleh Budi Paramita, pemilik usaha suplemen Vitamor Grape, minuman alami penjaga kesehatan dan keremajaan yang terbuat dari buah anggur segar.?

Konsumen Puas Pelayanan Sertifikasi Halal NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Konsumen Puas Pelayanan Sertifikasi Halal NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Konsumen Puas Pelayanan Sertifikasi Halal NU

Kepada IMNU Tegal, yang dihubungi via telepon, Senin (14/4), ia menjelaskan masyarakat mengidentikkan produk dari buah anggur seperti minuman beralkohol anggur atau wine karena berasal dari bahan yang sama, sehingga untuk mengantisipasi keraguan tersebut, ia mencari kepastian dengan sertifikasi halal. Produknya dibuat dari buah anggur segar yang di-blender, disaring dan dipasteurisasi agar bisa tahan lebih lama. Produk ini tanpa dicampur air dan pemanis. Suplemen tersebut dipasarkan di toko-toko khusus yang menjual produk kecantikan dan kesehatan.

Ia meminta bantuan koleganya, yang kebetulan saat ini menjabat sebagai Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud, untuk memproses sertifikasi halal di satu badan halal yang sudah beroperasi dan mapan di Indonesia, tetapi Marsudi juga menawarkan, NU saat ini juga sudah memiliki badan halal tersendiri. Ia memutuskan untuk mendapatkan sertifikat halal dari dua lembaga tersebut.

IMNU Tegal

Untuk sertifikat halal di badan halal yang sudah mapan tersebut, ia dikenakan biaya 2.4 juta rupiah dan biaya kunjungan auditor sebesar 300 ribu per kunjungan sehingga total biaya yang dikeluarkan sebesar 3 juta. Sertifikat halal tersebut berlaku selama dua tahun. Proses sertifikasinya memerlukan waktu sekitar tiga bulan.

IMNU Tegal

Untuk sertifikasi halal di BHNU, hanya dikenakan biaya 600 ribu dengan lama pemprosesan selama 2 minggu dan masa berlaku untuk tiga tahun. Yang berbeda, sertifikat halal NU harus melakukan uji kandungan alkohol di laboratorium Sucofindo di jl Pasar Minggu Jakarta dengan biaya 800 ribu.?

“Saya senang dengan adanya kerjasama BHNU dan Sucofindo, yang dikenal memiliki laboratorium handal,” terangnya.

Untuk sertifikasi di badan halal yang sudah mapan tersebut, tidak diperlukan pemeriksaan kandungan alkohol. Waktu kunjungan ke tempat produksinya di daerah Jelambar Jakarta Barat, auditor halal lembaga tersebut, seorang dokter, hanya memintanya mendeskripsikan proses produksi dan tidak diminta uji kandungan alkohol.

Dari auditor halal NU yang seorang santri, ia mendapat pengetahuan baru bagaimana melakukan proses produksi secara halal.?

Menurut Budi, keberadaan Badan Halal NU (BHNU) sangat membantu sektor UKM untuk memperoleh sertifikat halal dengan biaya terjangkau.?

Sebelumnya Ketua BHNU Prof Dr Maksum Mahfudh menjelaskan, sesuatu yang dimonopoli tidak baik bagi konsumen, sedangkan keberadaan persaingan akan membuat penyedia layanan berusaha memaksimalkan kebutuhan konsumen. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Bahtsul Masail, Syariah, Santri IMNU Tegal

Minggu, 18 Februari 2018

Panglima TNI Jelaskan Tahlilan dan Pancasila

Jakarta, IMNU Tegal - Melalui perwakilannya, Laksdya TNI Didit Herdiawan, Panglima TNI menyampaikan sambutan dalam kegiatan ”Tahlil Akbar untuk Pendiri Bangsa dan Pahlawan Indonesia” Kamis (24/11) malam di halaman Gedung PBNU, Jakarta Pusat.

Dalam pidato berdurasi tak kurang dari sepuluh menit itu, mewakili Panglima TNI, Didit menyampaikan menyambut baik kegiatan Tahlil Akbar. Kegiatan tahlil dapat dijadikan sebagai ajang untuk melestarikan semangat juang, patriotisme,? nasionalisme, dan keteladanan para pendiri bangsa. Pendiri bangsa yang telah berjuang dalam menyatukan visi dan misi rakyat, didominasi oleh para ulama dan santri.

Panglima TNI Jelaskan Tahlilan dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Panglima TNI Jelaskan Tahlilan dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Panglima TNI Jelaskan Tahlilan dan Pancasila

”Saya melihat kegiatan tahlil mengisyaratkan adanya benang merah dengan Pancasila,” kata Didit membacakan sambutan Panglima TNI.

Didit lalu meneruskan filosofi Pancasila dalam tahlilan dalam lima ilustrasi ilustrasi.

IMNU Tegal

IMNU Tegal

”Kita dapat melihat orang tahlil pasti membaca Surat Al-Ikhlas, yang berbunyi Qul huwa allaahu ahad(un), allaahu alshshamad(u), lam yalid walam yuulad(u), walam yakullahu kufuwan ahad(un). Dalam ayat tersebut ada sepotong kalimat yang artinya Ketuhanan yang Maha Esa, Tuhan yang hak (benar) adalah satu.”

Berikutnya, ”Siapa pun dalam suasana tahlil boleh datang, boleh ikut, tidak ada seleksi, tidak ada pertanyaan, bahkan nonmuslim pun boleh masuk, dan tidak ada yang dibeda-bedakan. Kelihatan bahwa Kemanusian yang adil dan beradab ada di sini.”

Ketiga, orang tahlil duduknya bersila, di mana tidak dibedakan duduknya antara seorang pejabat kaiai, santri, atau orang biasa. Semuanya bersila. Itulah Persatuan Indonesia yang terdapat dalam sila ketiga Pancasila.

Keempat, menjelang dimulai mereka mencari pemimpin. Maka terjadi musyawarah kecil untuk mencari pemimpin di dalam kegiatan tahlil. Setelah terpilih maju satu orang yang langsung memimpin kegiatan tahlil tersebut.

”Itulah Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanan dalam permusyawaratan perwakilan,” kata Didit yang untuk sekian kalinya disambut tepuk tangan hadirin.

”Kelima setelah melaksanakan kegiatan tahlil, semuanya alhamdulillah mendapatkan berkat yang sama. Tanpa ada perbedaan, baik tampilan dan isinya. Semuanya itu dituangkan dalam ’Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Syariah IMNU Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

Munas IV JQH Dibuka Taushiyah Rais Majelis Ilmi

Pontianak, IMNU Tegal. Musyawarah Nasional IV Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) dibuka Rais Majelis Ilmi JQH NU Prof Dr KH Ahsin Sakho Muhammad berlangsung di Hotel Grand Mahkota, Pontianak, Jumat, (6/7) pukul 10.00. 

Dalam taushiyahnya Ahsin yang juga Rektor Institut Ilmu Quran Jakarta ini mengharapkan seluruh anggota JQH setia menjadi khodimatul Quran, menjadi pelayan-pelayan Al-Quranul Karim.

Munas IV JQH Dibuka Taushiyah Rais Majelis Ilmi (Sumber Gambar : Nu Online)
Munas IV JQH Dibuka Taushiyah Rais Majelis Ilmi (Sumber Gambar : Nu Online)

Munas IV JQH Dibuka Taushiyah Rais Majelis Ilmi

Khodimatul Quran itu adalah menjadi orang selalu memberikan pencerahan, memberikan pelayanan-pelayanan sesuai dengan keahliannya masing-masing. 

IMNU Tegal

“Ada orang-orang yang keahliannya dalam bidang tahfidh Al-Quran, maka mari kita gerakkan tahfidh Al-Quran,” ujarnya.

Sekarang, lanjut kiai asal Cirebon ini, ada beberap teori tentang cara cepat menghapalkan Al-Quran, misalnya teori otak kanan, ada juga teori fahim Al-Quran.

IMNU Tegal

“Begitu juga mereka yang memiliki kepedulian terhadap tilawah  Al-Quran. Marilah kita bersama-sama mengembangkan fan tilawah di tempatnya masing-masing,” imbaunya.

Dengan adanya fan tilawah, masyarakat bisa menyenangi menggandrungi bacaan-bacaan Al-Quran dengan lagu-lagunya yang macam-macam itu. 

“Bagi mereka yang memiliki kajian Al-Quran, marilah kita kembangkan kajian Al-Quran dari berbagai macam sudutnya. Baik dari balaghoh, isinya, kemukjizatan ilmiahnya, dan lain sebagainya,” jelasnya.

Rais Majelis Ilmi PP JQH ini juga mengimbau supaya anggota JQH tidak hanya berkutat dalam persoalan tahfidh, tilawah Al-Quran, tapi lebih luas lagi yaitu dari segi tafsir, terjemah, ilmiah, dan lain sebagianya.

Menurut Wakil Sekretari PP JQH NU Zahid Luqman, Munas IV JQHNU ini akan berlangsung Jumat-Sabtu (6-7), dihadiri 250 orang yang terdiri dari Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Cabang. Masing-masing mengirimkan 2 majelis ilmi dan pengurus.

Selain Munas IV digelar juga MTQ Nasional VII dan MTQ Internasional I; berlangsung dari Selasa, (3/7) dan akan berakhir Ahad, (8/7).

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   :  Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Lomba, Syariah IMNU Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Pergunu Jombang Perluas Anak Cabang ke Tiap Kecamatan

Jombang, IMNU Tegal. Pimpinan Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jombang segera membentuk kepengurusan  pimpinan anak cabang (PAC) di tiap kecamatan. Rencana ini merupakan salah satu amanat musyawarah wilayah Pimpinan Wilayah Pergunu di Yayasan Madinatul Ulum Jombang beberapa waktu lalu.

Kepengurusan PAC Pergunu yang sedang diproses SK oleh PW Pergunu adalah PAC Kecamatan Ngoro, kemudian menyusul PAC Kecamatan Diwek.

Pergunu Jombang Perluas Anak Cabang ke Tiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Jombang Perluas Anak Cabang ke Tiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Jombang Perluas Anak Cabang ke Tiap Kecamatan

“Berdasarkan rapat kooordinasi pada awal Desember lalu, bertempat di rumah bendahara  PC Pergunu Jombang, Ustadz Dimyathi, ada agenda sesuai dengan amanat muskerwil Pergunu, agar  kita memperbanyak  pembentukan pengurus  PAC,” ujar Ahmad Faqih, Ketua Pimpinan Cabang Pergunu Jombang pada Rapat Koordinasi Program, Senin (31/03) di Hall Abdurrahman Wahid, Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Jombang.

IMNU Tegal

Agar sinergi dan berjalan efektif, PC Pergunu Jombang akan mengirim surat kepada tiap pengurus Majelis Wakil Cabang (MWCNU) dengan mengetahui Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah.

“Kita akan mengundang MWC, dengan mengetahui Rais dan Ketua Tanfidziyah , dilampirkan formulir dan stuktur kepengurusan. Rekomendasi pengurus MWC patut dipertimbangkan dalam seleksi pengurus PAC Pergunu. Harapannya guru yang aktif, dan dari kalangan nahdliyin yang menjadi kandidat pengurus,” ujarnya di hadapan para peserta rapat.

IMNU Tegal

Sebelum diadakan perluasan pembentukan pengurus anak cabang di tiap kecamatan, PC Pergunu Jombang kembali mengadakan diklat. Untuk akhir April ini, diagendakan diklat tentang Kurikulum 2013.

“Sebelum diklat Kurikulum 13 itu kita beri kemanfaatan lebih dulu. Kita kembali mengadakan pendidikan dan pelatihan untuk para guru. Pendidikan dan pelatihan itu dilaksanakan sebagai wujud kebermanfaatan yang harus dilakukan Pergunu,” ujarnya didampingi wakil ketua PC Pergunu, M. Sholahuddin, dan dua pengurus lainnya, Ahmad Rofik, dan Burhanuddin.

“Acara kita kali ini, dibuat lebih besar sekalian, dandirencanakan bekerja sama dengan PC LP Maarif Jombang, dan yang diundang seluruh perwakilan guru sekolah di bawah LP Ma’arif, SD, SMP, dan SMA di Jombang. Kita undang minimal 300 peserta,” ujar Kepala Sekolah SMA Misykatul Anwar Jombang ini. (Yusuf Suharto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal RMI NU, Syariah, Pesantren IMNU Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Mengupas Perjuangan Santri Nusantara

Mengapa tanggal 22 Oktober layak disebut sebagai Hari Santri Nasional? Sejatinya peristiwa apa yang terjadi pada tanggal tersebut? Serta apa yang melatarbelakangi tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari Santri? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab dengan kehadiran buku ini, sebuah buku yang ditulis oleh para ahli sejarah mengingat banyak sejarah kaum santri yang dimarjinalkan oleh sejarah nasional itu sendiri.

Dalam kata pengantarnya, KH. Salahuddin Wahid mengatakan bahwa pada akhir 2011, ia cukup terkejut dengan sebuah statement yang menyatakan bahwa Resolusi Jihad itu tidak pernah terjadi, bahkan Resolusi tersebut merupakan sebuah legenda. Oleh karena itu beliau memerintahkan Abdul Latif Bustami dan Tim Sejarawan Tebuireng untuk mencari bukti keras kesejarahannya pada media-media cetak yang terbit akhir Oktober 1945 pada Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional di Jakarta. Oleh sebab itu buku ini ditulis dengan disertai scan hasil bukti-bukti kesejarahan, sehingga buku ini layak untuk dibaca oleh siapa pun termasuk para peneliti yang akan melakukan penelitian lebih lanjut tentang Resolusi Jihad.

Mengupas Perjuangan Santri Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengupas Perjuangan Santri Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengupas Perjuangan Santri Nusantara

Pada bagian pertama buku ini menjabarkan tentang sejarah masuknya Islam di Nusantara. Ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh sejarawan terdahulu, ada yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara berasal dari India Selatan (Gujarat dan Malabar), pendapat kemudian ada yang menyatakan bahwa Islam Nusantara berasal dari Arab, Ada pula yang mengatakan dari Persia. Tentang penyebaran Islam di Nusantara penulis buku ini dengan lantang mengatakan bahwa Islam masuk di Nusantara dan disebarkan oleh para Wali Sanga (Sebuah julukan yang mengandung suatu perlambangan suatu dewan wali-wali, dengan mengambil angka sembilan yang sebelum pengaruh Islam sudah dipandang sebagai angka yang keramat). Sedangkan tentang proses saluran Islamisasinya, disalurkan melalui saluran perdagangan, saluran kebudayaan, saluran perkawinan, saluran tasawuf, saluran pendidikan serta saluran politik. Dalam bab ini juga, penulis menolak pandangan-pandangan para sejarawan yang mengamini bahwa kehadiran Islam di Nusantara dilakukan dengan pedang, agresi penyerangan ke Majapahit. Bukti sejarah menunjukkan bahwa tumbuh dan berkembangnya Islam bersamaan dengan terjadinya perang saudara Paregreg di Majapahit sehingga menyebabkan konflik internal yang berkepanjangan sampai berujung pada keruntuhan Majapahit. Sehingga sesuai hukum logika, keruntuhan Majapahit disebabkan faktor internal dan bukan dari faktor eksternal, sebab faktor eksternal hadir sebagai alternatif yang bukan kekuatan determinan yang bersifat destruktif.

IMNU Tegal

Pada bagian kedua, penulis buku ini memaparkan tentang dinamika pemikiran serta gerakan politik yang dilakukan oleh Nahdlatul Ulama. Misalnya pada Muktamar NU ke-2 di Surabaya, NU menyoroti persoalan kemasyarakatan, seperti masalah pernikahan di bawah umur yang ditangani pemerintah Hindia-Belanda yang banyak menyimpang dari hukum fiqih. Dalam muktamar ini juga meminta kepada pemerintah untuk memasukkan kurikulum agama Islam pada setiap sekolah umum di Jawa dan Madura. Juga dibahas dan diputuskan hukum menyerupai orang Belanda dalam hal berpakaian, misalnya pakai celana, dasi, topi serta sepatu hukumnya adalah Haram, apabila niat menyerupai itu dimaksudkan untuk seluruhnya termasuk kesombongannya, kekafirannya serta kegagahannya. Tapi untuk sekedar mode maka hukumnya boleh dengan pertimbangan tidak boleh melanggar batas aurat yang sudah ditentukan oleh Islam. (Hlm. 113-114). Juga pada muktamar ke-4 NU membentuk Lajnatun Nasihin (Sebuah komisi propaganda untuk menyebarkan NU ke berbagai daerah) yang dibentuk oleh Kiai Shaleh Banyuwangi dengan anggota KH. Hasyim Asy’ari, Kiai Ridwan, Kiai Asnawi Kudus dan Kiai Muharram Kediri pada Majelis Khamis (Komisi Lima).

Pada bab ini juga dibahas bagaimana pandangan NU terhadap pemerintahan Hindia-Belanda serta pemerintahan Jepang, mengingat terdapat tanggapan serta kritik dari beberapa peneliti sejarah akan sikap inkonsistensi NU terhadap pemerintahan saat itu, kita ambil contoh bahwa NU selalu kooperatif terhadap koloni sebelum diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta, tetapi setelah itu NU justru melawan serta memerangi koloni yang datang, Hal ini dijawab oleh penulis bahwa pada masa pendudukan Hindia-Belanda ataupun Jepang (hingga 1945), Indonesia termasuk Darul Islam sehingga pemerintahan Hindia-Belanda serta Jepang termasuk dalam pemerintahan yang sah (bis Syaukah), pendapat tersebut diperkuat oleh hasil keputusan Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin. Hasil tersebut menjadi momentum kebangsaan NU karena diputuskan status wilayah Indonesia termasuk Darul Islam. Keputusan ini berdasarkan pada rujukan karya al-Hadrami pada Bughyatul Mustarsyidin pada bab al-Hudnah wa al-Imamah. Tetapi pada masa kemerdekaan Indonesia (1945-1950), NU berubah sikap dengan dikeluarkannya keputusan Muktamar NU ke-16 di Purwekerto yang menyatakan bahwa pentingnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia sesuai hukum Islam, sehingga Indonesia dijadikan sebagai Darul Harb (Wilayah Perang) yang mewajibkan setiap warga negara untuk melawan penjajah yang diperkuat dengan Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945.

IMNU Tegal

Pada bagian ketiga membicarakan secara tuntas dan heuristik tentang Resolusi Jihad yang difatwakan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari serta kapasitas beliau sebagai seorang mufti serta pemegang Ijazah Hadist Shahih Bukhari ke-24. Suatu ketika Presiden Soekarno mengirim utusannya untuk menemui beliau dengan tujuan meminta fatwa beliau dengan rujukan Gunseikanbu (Pemerintahan Militer Jepang di Indonesia) ? bahwa KH. Hasyim Asy’ari termasuk orang yang sangat terkemuka di Jawa. Melalui utusannya beliau bertanya ? “Apakah hukumnya membela tanah air, bukan membela Allah, membela Islam atau membela al-Quran. Sekali lagi membela tanah air?” Pertanyaan tersebut direspon oleh Kiai Hasyim Asy’ari dengan dikeluarkannya Fatwa jihad yang kemudian diperkuat oleh Resolusi Jihad hasil Musyawarah Ulama NU se-Jawa dan Madura di Surabaya pada tanggal 21-22 Oktober 1945 yang mana resolusi tersebut memiliki dampak yang luar biasa besar dimulai dengan solidaritas umat, Berdirinya Laskar Sabilillah dan laskar Hizbullah serta kongres Masyumi yang merespon resolusi tersebut hingga pada puncaknya pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya.

Pada bagian keempat atau bagian terakhir, Penulis membahas tentang politisasi sejarah Indonesia. Menurut penulis, masa lalu terdiri dari dua hal, yaitu fakta sebagaimana ia terjadi, apa adanya serta pemikiran dari para sejawan sehingga disebut ada apanya, oleh sebab itu banyak para sejarawan kelas atas yang ingin mengkerdilkan bahkan menghapus peran para santri atau pun kiai dan pondok pesantren dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ijtihad untuk memperjuangkan atau pun meluruskan sejarah tersebut merupakan kewajiban yang harus sesuai dengan fakta riil atau yang biasa disebut apa adanya.

Data Buku?

Judul : Resolusi Jihad; Perjuangan Ulama: dari menegakkan Agama hingga Negara

Penulis : Abdul Latif Bustami dan Tim Sejarawan Tebuireng

Penerbit : Pustaka Tebuireng

Terbitan : I, 2015

Tebal : xx + 236

ISBN : 978-602-8805-36-0

Peresensi : M Ichwanul Arifin, mahasiswa FUF UIN Sunan Ampel Surabaya/Kader PC IPNU Kota Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal RMI NU, Syariah, Kyai IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock