Rabu, 29 November 2017

Sumber Gerakan Radikal adalah Pemahaman Agama Eksklusif

Jakarta, IMNU Tegal. Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI Abdurrahman Masud mengatakan, sumber dari gerakan radikal adalah pemahaman Agama yang eksklusif dan tertutup.

"Eksklusivisme adalah inti dari pada gerakan radikal," katanya usai memberikan pidato kunci dalam acara Halaqah Pencegahan Anak dari Gerakan Radikal di Hotel Puri Denpasar Jakarta, Selasa (29/8).

Sumber Gerakan Radikal adalah Pemahaman Agama Eksklusif (Sumber Gambar : Nu Online)
Sumber Gerakan Radikal adalah Pemahaman Agama Eksklusif (Sumber Gambar : Nu Online)

Sumber Gerakan Radikal adalah Pemahaman Agama Eksklusif

Menurut dia, pemahaman Agama yang eksklusif atau tertutup cenderung merasa benar sendiri dan menyalahkan yang lain. Ironisnya, gelombang pemahaman Agama yang demikian semakin meningkat pada ranah anak di sekolah-sekolah.

Abdurrahman juga menyebutkan, potensi gerakan radikal yang berbasis pada pemahaman ideologis terjadi di semua agama, baik di lingkungan umat muslim maupun non-muslim.

"Artinya radikalisme merupakan persoalan semua kelompok masyarakat dan seluruh umat beragama," jelasnya.

IMNU Tegal

Ia berpendapat, masalah radikalisme seharusnya diselesaikan dari lingkungan terkecil atau keluarga. Baginya, keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam menghadang gerakan radikal, terutama terhadap anak-anak.

"Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak," tegasnya.

Selain itu, imbuh Abdurrahman, guru di sekolah juga seharusnya menjadi garda terdepan dalam memberikan pemahaman agama yang inklusif atau terbuka kepada anak didiknya.

IMNU Tegal

Pengarusutamaan Islam damai dan toleran

Abdurrahman menjelaskan, ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk mengarusutamakan Islam yang damai dan toleran di sekolah-sekolah. Pertama, membekali guru-guru agama dengan materi dan metode pembelajaran yang mengedepankan sikap moderasi.

"Hal ini dilakukan melalui pendalaman dan pemahaman aspek keagamaan tentang perdamaian, kerukunan, dan kemanusiaan," urainya.

Kedua, mengaitkan pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, dan pendidikan Pancasila dengan isu-isu baru yang lebih menyentuh kebutuhan dasar seperti kesehatan, kesetaraan gender, pemerintahan yang baik, kesejahteraan ekonomi, dan lainnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Bahtsul Masail IMNU Tegal

IMNU - Internet Marketer Nahdlatul Ulama Tegal.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock