Kamis, 11 Mei 2017

Gembong NU dari Lasem

Judul Buku: Mbah Mashum Lasem; The Authorized Biography of KH. Mashum Ahmad

Penulis: M. Luthfi Thomafi

Editor: Abdillah Halim

Gembong NU dari Lasem (Sumber Gambar : Nu Online)
Gembong NU dari Lasem (Sumber Gambar : Nu Online)

Gembong NU dari Lasem

Pengantar: KH. A. Mustofa Bisri

Penerbit: Pustaka Pesantren, Yogyakarta

Cetakan: I, April 2007

IMNU Tegal

Tebal: xxx+ 318 halaman

Peresensi: Noviana Herliyanti



KH. A. Musthofa Bisri (Gus Mus), dalam pengantar buku ini menyebutnya, Lasem pernah memiliki dua "gembong" kiai yang sangat dihormati dan disegani terutama di kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU). Kiai yang dimaksud Gus Mus adalah KH. Mashum Ahmad alias Mbah Mashum dan KH. Baidhowi Abdul Aziz alias Mbah Baidhowi. Pada masanya, kedua kiai besar dan berpengaruh itu merupakan rujukan, tidak hanya bagi masyarakat dan para kiai lain di wilayah Rembang dan Lasem saja. Bahkan Prof. Dr. KH. Mukti Ali, salah satu santrinya yang menjadi Mentri Agama, ia selalu sowan kepadanya untuk memohon restu dan doanya, agar mendapatkan kesuksesan selama menjalankan tugas dan tanggung-jawab kenegaraannya.

IMNU Tegal

Ada sebuah pesan dan nasihat Mbah Mashum, yang pernah diberikan kepada salah seorang tokoh NU, yakni Subhan ZE, "Engkau jangan sekali-kali membenci NU. Sebab, membenci NU sama dengan membenci aku, karena NU itu saya yang mendirikan bersama-sama ulama yang lain. Meski demikian, kau pun jangan membenci Muhammadiyah. Jangan pula membenci PNI (Partai Nasional Indonesia) dan partai-partai lain".

Dari realitas dan pesan moral Mbah Mashum di atas, tidak berlebihan jika dia disejajarkan dengan ulama-ulama, tokoh pesantren dan tokoh-tokoh sentral NU lainnya. Dan sangatlah pantas sosok Mbah Mashum, kalau digolongkan sebagai kiai yang memang patut kita teladani. Karena, dari beberapa peran dan kiprahnya, ia semata-mata hanya mengabdikan diri untuk santri dan masyarakatnya, lebih-lebih pada NU. Ini terbukti dan terjadi pada masa-masa organisasi NU itu didirikan.

Selain menjadi pejuang dan ikut andil dalam berdirinya organisasi sosial keagamaan ini, Mbah Masum termasuk pecinta jamiyah NU. Bahkan, saking cintanya kepada NU, ia pernah menyatakan bahwa dirinya tidak rida jika anak keturunannya tidak NU. Ini menunjukkan ke-NU-an Mbah Mashum tidak di ragukan lagi. Dia juga pernah mengatakan, siapa yang pernah memperjuangkan dan mengabdi pada NU, insya Allah akan mendapatkan berkah dari Allah. Dari pernyataan ini, bisa diambil kesimpulan bahwa akidah yang dianut NU adalah konsep teologi yang penting dan layak untuk diikuti dari sekian varian akidah atau teologi Islam yang ada di Indonesia.

Mbah Mashum adalah salah seorang yang tidak setengah-setengah dalam memperjuangkan dan mengabdi dalam NU. Di dalam catatan sejarah NU, khususnya sejarah relasi NU, politik dan kekuasaan, seperti yang banyak ditulis oleh para sejarahwan NU baik di dalam maupun di luar negeri peran dan perjuangannya dalam NU tak pernah terlihat dan tidak ada yang menulisnya. Bahkan, dalam struktural NU-pun, Mbah Mashum jarang sekali terlibat aktif dan kurang dikenal pada tingkatan nasional. Namun, meski tidak pernah dan jarang masuk di struktural manapun, peran Mbah Mashum tidak kalah pentingnya dengan tokoh-tokoh NU lainnya.

Memperjuangkan dan mengabdi pada NU, ternyata mempunyai manfaat tersendiri. KH. Ridwan Abdullah, penemu lambang NU mengatakan, jangan takut tidak makan kalau berjuang mengurus NU. Yakinlah kalau sampai tidak makan, komplainlah aku, jika aku masih hidup. Tapi kalau aku sudah mati, maka tagihlah ke batu nisanku. Dari wasiat KH. Ridwan di atas, ternyata menyimpan makna filosofis yang tinggi. Ini terbukti bahwa NU telah banyak memberikan sumbangsih pada agama dan bangsa, khususnya kepada para tokoh-tokohnya.

Selain banyak berkiprah dan mengabdi pada NU, Mbah Mashum termasuk ahli silaturrahim dengan siapapun. Acara silaturrahim ini, dilakukan pada bulan Maulud, setelah acara Mauludan dilaksanakan. Sehingga pada bulan tersebut, Mbah Mashum meliburkan pengajian yang khusus selama satu bulan. Dan ia meluangkan waktunya untuk berkunjung ke berbagai pihak, baik saudara, teman atau bahkan ke antar-sesama. Adapun yang menarik bentuk jalinan silaturrahmi Mbah Mashum, tidak hanya diperuntukkan kepada orang-orang Islam saja, melainkan juga kepada kalangan non-Muslim (Hal. 181).

Buku ini sangatlah menarik untuk dijadikan bahan bacaan bagi banyak pihak, khususnya oleh warga NU dan tokoh-tokohnya. Sebab, selain berisi uraian biografi lengkap Mbah Mashum, buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto galeri keluarga besar Mbah Mashum. Selain itu, buku ini menyuguhkan dan memaparkan dengan bahasa yang sistematis, komonikatif, lugas dan mudah dipahami.

Dari buku ini, setidaknya dapat menjadi langkah awal sajauhmana bisa kita mengenal sosok dan latar belakang Mbah Masum. Dengan harapan, agar muncul para penulis dan peneliti yang bisa menulis biografi para tokoh-tokoh NU lainnya, terutama tokoh pesantren. Karena, selama ini buku-buku yang membahas tokoh-tokoh pesantren relatif terbatas.

*Peresensi adalah pecinta buku, alumnus Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya.Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pertandingan, Cerita, Tokoh IMNU Tegal

IMNU - Internet Marketer Nahdlatul Ulama Tegal.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock