Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2018

Majalah Arwaniyyah Angkat Tema "Maksiat Membawa Rahmat"

Kudus, IMNU Tegal. Pasca vakum selama dua tahun, kini media cetak yang diterbitkan oleh Yayasan Arwaniyyah Kudus, Jawa Tengah, hadir kembali. Pada edisi ke-12 ini majalah Arwaniyyah yang memiliki jargon Membangun Generasi Qurani mengangkat tema "Maksiat Membawa Rahmat: Mengelola Dosa Menjadi Energi Spiritual".

Selain berupa kajian leteratur Islam dengan tema tersebut, majalah yang kerap disapa Marwa itu juga mengupas biografi KH M Arwani Amin Said yang selama hidupnya mengabdi untuk Al-Quran, transkripsi pengajian yang diasuh oleh Mustasyar PBNU KH M Syaroni Ahmadi tentang surga dalam bertetangga, serta mauidhoh dari KH M Ulinnuha Arwani. Rencananya, Marwa akan terbit tiga bulan sekali.

Majalah Arwaniyyah Angkat Tema Maksiat Membawa Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah Arwaniyyah Angkat Tema Maksiat Membawa Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah Arwaniyyah Angkat Tema "Maksiat Membawa Rahmat"

Agus Abdul Muthi Irhamna, Sekretaris Redaksi Marwa mengungkapkan bahwa untuk memulai menerbitkan kembali majalah tersebut butuh manajemen redaksi yang mapan dan semangat kesabaran. "Karena baru memulai maka kita pelan-pelan dulu. Kemarin kami mencetak hanya seribu eksemplar dan ternyata ludes, Alahamdulillah. Majalah kami sebar untuk para santri dan juga kami komersilkan untuk masyarakat umum sebagai bacaan religi yang penuh hikmah ilmu. Kini kami beranikan diri mencetak ulang seribu lagi," terang Irhamna yang telah nyantri selama empat tahun di pondok putra Yanbuul Quran Pusat.

IMNU Tegal

Marwa yang dua tahun lalu terbit skala nasional dengan mengupas tema tentang kekufuran laku konsumerisme itu dibedah pada Rabu sore (15/7) di aula yayasan Arwaniyyah, kompleks pondok tahfidh Yanbuul Quran asuhan KH M Ulil Albab Arwani, Rois Syuriah NU Kudus yang juga menantu KH M Syaroni Ahmadi.

IMNU Tegal

Diskusi bedah majalah tersebut mengundang seluruh santri yayasan dan perwakilan santri dari segenap pondok pesantren di Kabupaten Kudus. "Untuk narasumber dalam bedah majalah nanti kami memanggil Gus Faiz dan Pak Said," kata pemred, M Salahuddin Al-Ayyuubi kepada IMNU Tegal saat persiapan acara.

H Ahmad Faiz Irsyad yang dimaksud adalah pengajar muda di Selcuk University Turki, yang juga menjabat sebagai Rois Syuriah Pimpinan Cabang Istimewa NU (PCINU) di sana. Sedangkan Nur Said yakni dosen STAIN Kudus sekaligus Ketua Lajnah Tasyrih wan Nasyr NU Kudus. Keduanya merupakan intelektual muda NU asli Kudus. Agenda bedah majalah itu dirangkai dengan khataman Al-Quran pada pagi harinya, dan buka puasa bersama saat maghrib usai diskusi. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kajian Sunnah, Sejarah, Pertandingan IMNU Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Quraish Shihab Ingatkan Pentingnya Nasionalisme dan Cinta Tanah Air

Jakarta, IMNU Tegal



Khatib shalat Idul Fitri di masjid Istiqlal Quraish Shihab mengingatkan bahwa nasionalisme, patriotisme dan cinta tanah air adalah fitrah (naluri) manusia.

Quraish Shihab Ingatkan Pentingnya Nasionalisme dan Cinta Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Quraish Shihab Ingatkan Pentingnya Nasionalisme dan Cinta Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Quraish Shihab Ingatkan Pentingnya Nasionalisme dan Cinta Tanah Air

"Tanah air adalah ibu pertiwi yang sangat mencitai kita sehingga mempersembahkan segalanya buat kita, kita pun secara naluriah mencintainya. Itulah fitrah, naluri manusiawi, karena itu hubbu al-wathan minal iman, cinta tanah air adalah manifestasi dan dampak keimanan," kata Quraish di masjid Istiqlal Jakarta pada Ahad.

Presiden RI Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo beserta putrinya Kahiyang Ayu dan putranya Kaesang Pangarep ikut melaksanakan shalat Id di masjid tersebut.?

Bersama Presiden dan keluarga, hadir pula Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta Ibu Mufidah Jusuf Kalla, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat dan istri Happy Farida, serta para menteri Kabinet Kerja, pimpinan lembaga negara, dan duta besar negara sahabat.

"Tanah air kita terbentang dari Sabang sampai Merauke harus dibangun dan dimakmurkan serta dipelihara persatuan dan kesatuannya," tambah Quraish.

IMNU Tegal

Persatuan dan kesatuan menurut Quraish adalah anugerah Tuhan yang tidak ternilai karena sebaliknya, perpecahan dan tercabik-cabiknya masyarkat adalah bentuk siksa Allah.

Kesatuan itu menurut Quraish memiliki tiga arti.

"Pertama, kesatuan seluruh makhluk karena semua makhluk kendati berbeda-beda namun semua diciptakan dan di bawah kendali Allah," ungkap Quraish.

Arti kedua adalah, karena semua manusia berasal dari tanah sehingga semua manusia harus dihormati kemanusiannya, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat walau mereka durhaka.

IMNU Tegal

"Memang jika ada manusia yang menyebarkan teror, mencegah tegaknya keadilan, menempuh jalan yang bukan jalan kedamaian, maka kemanusiaan harus mencegahnya," jelas Quraish.

Arti ketiga adalah kesatuan bangsa meski berbeda agama, suku, kepercayaan maupun pandangan politik.

"Mereka semua bersaudara, berkedududukan sama dari kebangsaan. Kesadaran tentang kesatuan dan persatuan itulah yang mengharuskan kita duduk bersama bermusyawarah demi kemaslahanan dan itulah makna kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan," tambah Quraish. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal RMI NU, Pertandingan IMNU Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Danial Tandjung: Berbeda Pendapat Bukan Berarti Bermusuhan

Di tengah riuh ramai peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-88 Nahdlatul Ulama di gedung PBNU Jalan Kramat Raya No 164 Jakarta Pusat (31/1), Jum’at malam, hadir seorang mantan aktivis NU era 1960-an. Dialah Haji Muhammad Danial Tandjung (80). Dilihat dari sorot matanya yang tajam namun teduh dan pancaran wajahnya yang cerah, bisa ditebak sosok yang masih gagah di usia senjanya ini bukan orang biasa.

Sesaat sebelum wawancara dengan IMNU Tegal, pria kelahiran Nias tahun 1934 ini duduk menikmati makan malam di dekat tim marawis. Tampak dari wajahnya yang sumringah, ia asyik menikmati sholawatan sembari sesekali berbincang akrab dengan Katib Syuriah KH Mujib Qulyubi yang diikuti dua putrinya yang cerdas dan aktif.

Berikut ini petikan wawancara Musthofa Asrori dari IMNU Tegal dengan eksponen NU yang meniti karir organisasinya sejak muda ini.

Danial Tandjung: Berbeda Pendapat Bukan Berarti Bermusuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Danial Tandjung: Berbeda Pendapat Bukan Berarti Bermusuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Danial Tandjung: Berbeda Pendapat Bukan Berarti Bermusuhan

Apa yang ada dalam pemikiran Pak Danial tentang NU hari ini?

Mmm... Saya nggak tau yaa.. Bahwa malam ini merasa terharu dan gembira menyaksikan para kader NU antargenerasi bisa duduk bersama. Saya bangga melihat Kiai Said Aqil Siraj duduk sama rendah dengan Kiai Hasyim Muzadi, Kiai Masdar Farid Mas’udi, Pak As’ad Said Ali, Ali Masykur Musa, Marzuki Ali dan beberapa tokoh lainnya bersama perwakilan keturunan para pendiri NU, mulai Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Hasbullah, Mbah Bisri Syansuri, Kiai Djamaluddin Malik, hingga H Asrul Sani, dan yang lainnya.

Sejak kapan Anda aktif di organisasi Nahdlatul Ulama?

IMNU Tegal

Saya aktif di organisasi Nahdlatul Ulama dan underbow-nya semisal PMII dan Pandu Ansor (sekarang Gerakan Pemuda Ansor-red) sejak muda belia. Saya meniti karir dari bawah hingga akhirnya saya bergabung di PBNU era KH Idham Cholid. Jabatan terakhir yang saya sandang adalah wakil bendahara umum.

Apa yang menarik dari gaya kepemimpinan Idham Cholid? Tanggapan Anda..

IMNU Tegal

Menurut saya, Pak Idham itu tokoh kharismatik dan politisi ulung yang matang dan mau berproses. Selama hampir 26 tahun beliau memimpin NU, tidak ada anaknya yang jadi pengurus NU, jadi anggota DPR pun tak ada. Itulah mengapa saya sangat mengidolakan beliau.

Mengapa Anda mengidolakan Kiai Idham?

Bagi saya, Pak Idham adalah tokoh yang merakyat dan bersahaja. Suatu ketika, ada kiai yang mau menghadap kepada beliau. Padahal beliau sedang menggelar rapat kabinet di kantor Perdana Menteri di Pejambon. Waktu itu, Pak Idham kan menjabat sebagai Waperdam (Wakil Perdana Menteri-red) IV di Kabinet Dwikora II. Waperdam I Dr Subandrio, Waperdam II Dr J Leimena, dan Waperdam III Chaerul Saleh. Nah, tak lama kemudian, masuklah ajudan memberitahu bahwa ada tamu seorang kiai dari Jawa Timur. Dengan tanpa berpikir panjang, Pak Idham mengiyakan. Kemudian, untuk sejenak meninggalkan rapat untuk menemui kiai tersebut.

Koleganya sesama menteri pun sontak menegur Idham Khalid. “Pak Idham ini bagaimana, ada rapat kabinet membicarakan masalah negara yang begitu penting kok malah ditinggal nemuin tamu,” kata salah seorang kawan Idham di kabinet. Tapi, Pak Idham pun menyanggah. “Dia datang ke sini jauh-jauh kan pasti ada sesuatu yang penting. Mana tahu apa yang dia sampaikan bisa kita jadikan bahan rapat kabinet. Ingat, kita duduk di sini karena mewakili suara mereka. Kalau tidak kita dengar, apa yang mau kita bawa,” begitu kata Pak Idham.

Pelajaran penting apakah yang harus diketahui kader NU masa kini?

Ada pelajaran penting untuk para aktivis NU ke depan. Ketika Idham Khalid memimpin PBNU, oposisi atau faksi yang beragam mengelilinginya. Hingga batas tertentu, oposisinya cenderung keras sekali. Pada Muktamar NU di Bandung, misalnya, sebetulnya para kader muda NU sudah merasa bosan dengan kepemimpinan Pak Idham. Pertama yang dilakukan adalah mengganti Rais Aam KH A Wahab Hasbullah dengan wakilnya, yaitu KH Bisri Syansuri. Pada waktu pemilihan berhasil, laporlah seorang panitia kepada Kiai Bisri bahwa Rais Aam terpilih adalah KH Bisri Syansuri.

Kakek Gus Dur dari ibu ini pun lantas mengatakan, “Saya berbeda pendapat dengan Kiai Wahab itu bukan untuk menggantikan beliau. Berbeda pendapat itu untuk mencari kebenaran. Saya tidak bersedia menjadi Rais Aam selama masih ada beliau.” Kiai Bisri dengan tegas bilang begitu.

Artinya apa itu..?

(Ia pun dengan semangat terus bercerita)

Pada saat pemilu, kader-kader muda NU potensial banyak yang disiapkan menjadi pengurus PBNU. Antara lain Imron Rosyadi, faksi yang berseberangan dengan Idham Khalid. Mendengar Imron tidak terdaftar, Idham segera mengambil langkah politis. “Sekarang begini, ambil dua kursi di depan pintu masuk ruang sidang, nanti kami berdua (Idham-Imran) akan berbincang akrab di situ.” Yang disuruh Pak Idham pun lantas segera melakukan apa yang dikatakannya tadi. Nah, dari sandiwara itu kemudian terpilihlah Imran Rosyadi sebagai pengurus.

Artinya apa itu..?

Artinya ya dalam organisasi kita mesti cerdas memilah antara beda pendapat dengan bermusuhan. Sekarang ini kan tidak. Umpamanya Anda faksi yang berbeda dengan saya. Lalu, saya terpilih jadi ketua umum. Sudah pasti, Anda dan faksi-faksi yang berseberangan dengan saya pasti terlibas (dari kabinet-red). Inilah penyakit berorganisasi pada masa sekarang ini.

Apakah Anda melihat hal tersebut juga menggejala di organisasi yang lain? Semisal parpol begitu?

Apalagi partai politik. Kebanyakan elit politik sekarang ini tak lagi memiliki spirit sebagaimana saat saya berorganisasi dulu. Idealisme yang diperjuangkan ketika menjadi aktivis telah luntur. Para elit masa kini kan jika berbeda pendapat sedikit saja langsung main jegal, “menggunting” di lipatan, dan saling mencari muka di hadapan pimpinan. Menurut saya, kader-kader muda partai tersebut bisa dibilang tak memiliki akar ideologi yang kuat. Makanya, gampang padam.

Idealnya, parpol tak hanya sekadar pemasok calon anggota dewan dan calon presiden, namun dia musti memahami esensi peranannya bagi bangsa dan negara, yakni memakmurkan rakyat yang diwakilinya. Hari ini bisa kita saksikan secara kasat mata, betapa politisi kita dalam berpolitik sungguh mengkhawatirkan. Semua kebijakan yang dikeluarkan nyaris berujung kepada money politic (politik uang).

Saran dan harapan Anda bagi kader NU ke depan?

Para aktivis NU sejatinya tak jauh beda dengan politisi, dalam arti pengkaderannya. Jadi, politisi itu menjadi anggota dan kader dulu di partai politik sebelum menjadi pejabat publik. Di parpol kan ada latihan kader yang berisi tentang bagaimana arah ideologi partai, visi, wacana, dan strategi dalam pembangunan bangsa. Di sinilah seorang politikus akan bersaing dan saling beradu wacana demi satu tujuan, yaitu membangun bangsa yang lebih baik.

Kader partai yang memang benar-benar kapabel dan mumpuni baru akan diterjunkan menjadi pejabat publik. Dengan kata lain, kader partai yang akan menjadi pejabat publik benar-benar orang yang memiliki kualitas, integritas, dan telah melewati jenjang keorganisasian yang layak. Bukan seperti sekarang yang karena uang dan popularitas. Nah, aktivis NU juga demikian. Mestinya dia melewati kaderisasi yang berjenjang kayak zaman saya muda dulu.

Terima kasih atas pandangan dan nasihatnya, Pak Danial..

Ya, sama-sama. Saling mendoakan yaa.. Doakan saya sehat dan bisa bermanfaat bagi semua. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pertandingan, IMNU IMNU Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Kiai Dilibatkan Lawan HIV/AIDS

Jakarta, IMNU Tegal. Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) mendorong kiai-kiai di jajaran Syuriyah NU dari berbagai wilayah untuk mengadakan bahtsul masail terkait persoalan HIV/AIDS.

Keterlibatan kiai dianggap perlu untuk mengatasi persoalan HIV/AIDS yang semakin memperihatinkan. “Baru kali ini, NU melibatkan Syuriyah di 33 wilayah NU di Indonesia untuk membahas HIV/AIDS,” kata Kang Said Aqil Siroj, Ketum PBNU saat jumpa pers dengan tajuk ‘Jihad Kyai NU Melawan AIDS’ di aula lantai lima Gedung PBNU, jalan Kramat Raya nomor 164, Selasa (9/10) sore.

Kiai Dilibatkan Lawan HIV/AIDS (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Dilibatkan Lawan HIV/AIDS (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Dilibatkan Lawan HIV/AIDS

LKNU menilai persoalan HIV/AIDS tidak hanya persoalan kesehatan, tetapi juga persoalan sosial. LKNU mendapati banyak kasus diskriminasi masyarakat terhadap pengidap positif HIV. Orang dengan HIV/AIDS, ODHA, sering dikucilkan di tengah lingkungannya.

IMNU Tegal

Menurut ilmu kesehatan, pengucilan itu tidak menyelesaikan persoalan HIV/AIDS. Interaksi itu sendiri tidak mengakibatkan penularan. Tindakan pengucilan seperti ini sudah bukan lagi sikap wajar masyarakat.

Dari sini, peran kiai NU sangat dibutuhkan. Kiai dengan pengetahuannya, akan menetapkan persoalan hukum keagamaan terkait HIV/AIDS. Selain itu, para kiai juga mengimbau masyarakat untuk memperlakukan pengidap ODHA secara wajar.

IMNU Tegal

Kang Said mengajak masyarakat untuk ambil bagian dalam jihad melawan HIV. Menurutnya, HIV/AIDS ini sama bahaya dengan kekuatan nuklir. Karena, virus HIV dapat menyerang siapa pun tanpa memandang agama, suku, usia, jenis kelamin, dan golongan.

Di hadapan sedikitnya 15 kiai Syuriyah, Kang Said memperingatkan umat Islam yang tidak peduli dengan persoalan banyak orang. Ketum PBNU ini sempat menyebutkan hadits Nabi Muhammad SAW bersabda, “Bukan umatku, mereka yang tidak peduli dengan permasalahan kita.”

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pertandingan, Nasional IMNU Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Ramadhan, Pemkab Brebes Kembali Gelar Kunjungan Desa

Brebes, IMNU Tegal - Hari pertama puasa, Bupati Brebes Hj Idza Priyanti menggelar Safari Jelajah Desa Hebat (Sajadah) di bulan Ramadhan 1437 Hijriyah. Kegiatan tahunan di bulan Ramadhan ini dilakukan sebagai ajang silaturahmi mendekatkan diri antara ulama dan umara serta umat.

“Kerja gotong-royong antara ulama, umara, dan umat bisa meningkatkan pembangunan di segala bidang, terutama pembangunan rohani,” terang Bupati saat menggelar Sajadah di Masjid Nurul Hikmah Desa Banjarannyar Kecamatan Brebes, Senin (6/6) malam.

Ramadhan, Pemkab Brebes Kembali Gelar Kunjungan Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, Pemkab Brebes Kembali Gelar Kunjungan Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, Pemkab Brebes Kembali Gelar Kunjungan Desa

Sebagai daerah yang agamis, lanjutnya, pembangunan rohani mendapat perhatian yang penuh dari Pemkab. Maka dari itu, enam pilar pembangunan Kabupaten Brebes memasukan program program yang menyentuh rohani menjadi prioritas utama.

IMNU Tegal

Di antaranya memberikan bisyarah atau stimulant untuk guru ngaji, imam masjid dan mushalla, hafizh-hafizhah, dai-daiyah dan pengasuh pesantren. Program ini terbukti mampu menggairahkan semangat kerja sama dalam membangun umat. “Ulama, kiai dan tokoh agama lainnya sangat berperan dalam pembangunan Kabupaten Brebes,” ungkap Idza.

Dalam kesempatan ini, Bupati juga menjelaskan tentang pentingnya peningkatan sektor pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Ketiga bidang tersebut diupayakan terus peningkatannya dalam rangka mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia.

IMNU Tegal

Orang tua juga diminta untuk menjaga anak-anaknya dari kekerasan terhadap anak dan perempuan. Idza mendukung penuh kalau pelaku kejahatan seksual dan tindak kekerasan terhadap anak dan perempuan dihukun berat. “Pantau terus anak-anak kita, apalagi di saat liburan sekolah,”

Menjelang Idhul Fitri jalan tol Brebes Timur sudah dioperasikan sehingga masyarakat Brebes harus menyambut dengan gembira namun juga berhati-hati karena di eksit tol Pejagan maupun Banjaranyar akan terjadi lonjakan kepadatan kendaraan. “Kita harus sambut tamu-tamu kita dengan ramah, juga bisa menjajakan jajanan khas Brebes kepada para pelancong atau pemudik,” tuturnya.

Gelar Sajadah hari pertama diisi dengan buka puasa bersama, sholat maghrib berjamaah, shalat isya dan tarawih berjamaah serta seremonial dan ceramah agama. Shalat isya dan tarawih dipimpin Imam Masjid Nurul Hikmah Banjaranyar KH Umar Amrullah. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pondok Pesantren, Pertandingan IMNU Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Menjawab Problematika Kehidupan Warga NU

Dalam kehidupan ini, kita tidak akan lepas dari berbagai persoalan yang tentunya bisa datang kapan saja dan dimana saja. Begitupula dengan solusinya, tentu sudah ada ketentuan. Jika ada persoalan, sudah barang tentu ada solusinya. Namun, tidak semua orang mudah menemukan solusi dari suatu problem kehidupan yang dihadapinya. Khususnya terkait dengan aktivitas sehari-hari yang ada kiatannya dengan ibadah warga NU dan masyarakat pada umumnya. Meskipun menemukan jawaban dari persoalan yang dihadapi, kadang-kadang perasaan masih was-was atau ragu-ragu. Maka dari itu, kita membutuhkan suatu penguat dari jawaban tersebut. Tentunya dengan cara berbagi atau bertanya kepada orang yang mumpuni.

Buku ini hadir di tengah-tengah kita sebagai pegangan hidup agar tidak selalu dilanda keraguan untuk membuat suatu tindakan sesuai dengan syari’at Islam. Dengan sistem tanya-jawab, buku ini akan memudahkan pembaca untuk memahami tentang persoalan yang pernah terjadi di lingkungan masyarakat yang disertai dengan jawaban serta solusinya. Misalkan persoalan yang berkaitan dengan akidah, seperti persoalan seputar qadla dan qadar, taubatnya orang murtad, dan hukum pelarungan (hlm. 1).

Menjawab Problematika Kehidupan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjawab Problematika Kehidupan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjawab Problematika Kehidupan Warga NU

Inisiatif KH Marzuqi Mustamar dalam melayani umat untuk memberikan solusi mengenai problematika hukum dan aktivitas sehari-hari masyarakat yang berkaitan dengan ibadah perlu kita apreasi. Dengan jawaban dan solusi-solusi yang diberikan oleh KH Marzuqi, sedikit banyak akan memberikan sebuah pencerahan bagi kita semua. Berbagai persoalan akan segera ditemukan jawaban dan alasan-alasan yang menjadi hujjah dari ide dan gagasan yang dilontarkan olehnya.

IMNU Tegal

Secara umum, pertanyaan-pertanyaan dalam buku ini selalu kita dengar dari masyarakat. Padahal sudah banyak keterangan-keterangan yang menjelaskannya. Namun, kemungkinan karena masyarakat terlalu sibuk dengan aktivitas sehari-harinya, akhirnya masyarakat banyak yang tertinggal mengenai hukum-hukum yang semestinya diketahui. Sehingga, sebagai alternatif, buku ini akan menutupi celah masyarakat yang seakan terlalu sibuk. Dengan begitu, kita tidak akan merasa tertinggal dan bertanya kembali dengan pertanyaan yang sama dari penanya-penanya sebelumnya.

IMNU Tegal

Solusi hukum Islam yang disampaikan oleh KH. Marzuqi Mustamar melalui buku ini sangatlah sederhana, tidak berbelit-belit dengan teori-teori berat yang jauh dari praktek. Ulasan buku ini lebih realistis untuk bisa kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan banyak kita jumpai dalam berbagai aktivitas yang kita lakukan atau orang lain yang melakukannya.

Sudah barang tentu kita tahu, tentang jimat, rajah, dan berbagai jenis mantra serta jenis-jenisnya. Hal-hal seperti ini selalu menjadi ganjalan dalam hal aktivitas dan hal-hal yang berkaitan dengan ibadah sehari-hari. Tentunya ada pihak yang tak memperbolehkan menggunakan jimat, rajah, atau benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan di nalar manusia. Namun, tentu ada pula yang memperbolehkan untuk menggunakannya dengan alasan yang jelas dan rasional. Hal ini yang menjadi sorotan dan bahasan menarik dalam buku ini (hlm. 202).

Segala macam persoalan dijawab dengan penuh jemawa mulai hal-hal yang sepeleh hingga persoalan yang memerlukan daya kekuatan otak untuk berpikir lebih tajam dan tepat. Misalkan tentang persoalan dzikir yang menggunakan bahasa Arab, mengumandangkan talbiyah di luar Tanah Haram, dan bertakbir di luar Hari Raya. Entah itu pertanyaan remeh temeh atau berat, dengan tangkas dan penuh peduli mendapat respon dan jawaban yang sesuai dengan syari’at yang berlaku dalam aturan Islam, yang jelas buku ini hadir demi kemaslahatan bagi masyarakat secara umum sebagaimana tujuan utama agama Islam terlahir ke dunia ini.

Bahkan menariknya, model tanya jawab yang disajikan seakan-akan pembaca berbicara langsung dengan sang penulis. Sehingga pemahaman mengenai penjelasan yang disampaikan lebih mudah dimengerti dan tak tampak ada penghalang sedikitpun. Sebuah kreasi yang jarang dilakukan oleh banyak penulis, toh meskipun ada hanya bisa dihitung dengan jari tangan saja.

Kehadiran buku ini bukan semata untuk menjawab problematika kehidupan warga NU dan masyarakat secara luas yang terfokus pada persoalan ibadah belaka, namun juga sampai pada persoalan yang modern di era yang lebih maju pun disajikan dengan begitu sempurna. Secara menyeluruh, buku ini membahas tentang akidah dan Al-Qur’an, shalat dan zakat, puasa Ramadhan dan persoalan mengenai nabi, pernikahan, dan segala macam persoalan yang pernah dirasakan oleh masyarakat warga NU dan masyarakat secara luas. Sehingga, buku ini bisa menjadi wakil untuk memberikan jalan alternatif agar kebuntuan tentang hukum suatu ibadah atau aktivitas sehari-hari menemukan jalan keluar.

Data Buku

Judul : Solusi Hukum Islam Bersama Kiai Marzuqi Mustamar

Penulis : KH. Marzuqi Mustamar

Penerbit : Muara Progresif

Cetakan : I, September 2014

Tebal : xvi + 267 hal. 14,5 x 21 cm

ISBN: 978-602-14738-4-9

Peresensi : Fauzan, Kader Muda NU dan Pegiat Ikatan Pemuda dan Pemudi Nahdlatul Ulama (IPPNU) UIN Sunan Ampel, Surabaya 

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal IMNU, Pertandingan, RMI NU IMNU Tegal

Kang Said: Semua Amalan NU Ada Dalilnya

Jakarta, IMNU Tegal. Warga NU harus bangga dan mantap dengan semua amalan atau tradisi keagamaan yang dijalankan. Tak perlu menghiraukan kicauan kelompok yang gemar menuding bid’ah karena semua amalan dan tradisi itu ada dalilnya.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyampaikan hal itu di hadapan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta dalam kegiatan Kuliah Umum di Aula gedung PBNU, Kamis (17/10).

Kang Said: Semua Amalan NU Ada Dalilnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Semua Amalan NU Ada Dalilnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Semua Amalan NU Ada Dalilnya

Kang Said, memulai penjelasan dengan membahas bab Sunnah Nabi. Dijelaskannya, sunnah itu terbagi menjadi 3 bagian, yaitu sunnah qauliyah (ucapan), sunnah fi`liyah (perilaku/pekerjaan) dan sunnah taqririyyah (pembenaran).

Ia menekankan penjelasan tentang sunnah taqririyah. “Kalau yang melakukan itu orang lain dan telah mendapatkan pembenaran dari Rasulullah, mendapat legitimasi, maka menjadi sunnah taqririyyah,” jelasnya.

“Contoh, sahabat Bilal setelah wudlu melakukan shalat dua rakaat lalu ? Nabi malah tanya itu, shalat apa Bilal? Shalat ba’diyah wudu. Lalu kata Nabi, ya kamu benar, ayo kita menjalankan itu,” papar Kang Said di hadapan ratusan mahasiswa STAINU Jakarta.

IMNU Tegal

Contoh yang paling penting, lanjut Kang Said, banyak sahabat yang memberikan pujian dan sanjungan kepada Rasulullah, lalu Rasulullah membenarkan hal itu, padahal Rasulullah tidak pernah memuji diri sendiri dan tidak pernah memberikan perintah itu. Ketika para sahabat memuji dan menyanjung Rasulullah, beliau membenarkan, seandainya hal itu tidak benar, pasti Rasulullah melarangnya.

“Contoh ada seorang penyair namanya Ka`ab Bin Zuhair memuji-muji Nabi setinggi langit, engkau orang hebat, engkau orang mulia, orang engkau orang yang gagah berani, engkau orang luar biasa,” tukas Kang Sadi sambil membaca syi`irnya Ka`ab Bin Zuhair

IMNU Tegal

Kalau memuji-muji itu salah, tambah Kang Said, itu pasti dilarang. Rasulullah tidak melarangnya malahan Ka`ab Bin Zuhair diberi kenang-kenangan berupa selimut bergaris-garis (burdah) yang sedang dipakai oleh Rasulullah.

“Kalau nggak percaya, selimut itu masih ada di Museum Topkapi, Istambul, Turki, fakta masih ada, saya dua kali sudah lihat, jadi memuji-muji Nabi Muhammad, baca Diba, Barjanzi, Syarfulanam, Simtudduror, Burdah lilbusaeri, itu sunnah, bukan bid`ah!” tegasnya

Untuk memantapkan penjelasan sunnah taqririyah ini, Kang Said melanjutkannya dengan persoalan tawasul. Diceritakan, Suku Mudhar sedang dilanda paceklik selama 7 tahun karena tidak ada air, tidak ada gandum, untuk mengatasi hal itu tokoh-tokoh Suku Mudhar yang dipimpin oleh Labid Bin Rabi`ah datang menghadap kepada Rasulullah di Madinah, Rasulullah pun bertanya kepada rombongan ini.

“Ada apa datang kemari? Ataina, kami datang kepadamu, litarhamana, agar Engkau merahmati kami, jadi orang ini minta rahmat sama Rasulullah, bukan sama Allah. Kalau salah, pasti dilarang, enggak tuh, enggak dilarang,” tegas Kang Said seraya membaca syiiran Arab yang dibawakan oleh suku Mudhar tersebut.

Setelah mendapat penjelasan dari suku Mudhar ini, Nabi Muhammad kemudian berdoa kepada Allah agar segera menurunkan hujan di daerah suku Mudhar itu, hujan yang membawa rezeki dan berkah, bukan hujan banjir dan membawa malapetaka. Tidak lama kemudian rombongan suku Mudhar pulang, sebelum mereka sampai di? rumahnya masing-masing, di sana sudah turun hujan.

“Kalau mau tahu sejarah ini baca Al-Kamil fittarikh lil imam ibnil Atsir, 13 jilid, Tarikhul umam walmuluk Abu Ja`far Ibnu Jarir Athabari, 10 jilid, Tarikhul hadhar Islamiyah, Prof. Dr. Ahmad Syalabi, 9 jilid, Tarikh Ibnu Khaldun, 14 Jilid, baru tahu cerita ini, maka minta pada Allah lewat Nabi Muhammad itu sunnah, bukan bid`ah,” imbuhnya.

Untuk itu, Kang Said, menegaskan kepada para mahasiswa untuk tetap bangga menjadi warga NU, karena semua amalan-amalan warga NU memiliki dalil-dalil yang kuat. (Aiz Luthfi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pertandingan IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock