Sabtu, 13 Januari 2018

Hobi Corat-Coret, Juara Kedua Lomba Jurnalistik

Jombang, IMNU Tegal. Kenakalan siswa tidak selamanya berdampak negatif. Salah satunya aksi corat-coret yang biasanya dilakukan menyambut kelulusan Ujian Nasional seperti sekarang. Jika diarahkan dengan benar, maka bisa menjadi sebuah prestasi. Ini yang dibuktikan beberapa siswa dari Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah (MASS) Seblak. 

Hobi Corat-Coret, Juara Kedua Lomba Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Hobi Corat-Coret, Juara Kedua Lomba Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Hobi Corat-Coret, Juara Kedua Lomba Jurnalistik

Dengan beranggotakan beberapa siswa yang terkenal dengan aksi corat-coretnya, tim yang dikirim justeru diraih juara kedua pada lomba jurnalistik, Jumat (25/5). Penyelenggaranya adalah media nasional yang berpusat di Jakarta bekerja sama dengan Pesantren Tebuireng Jombang. 

Lomba yang diikuti perwakilan dari madrasah aliyah, SMA dan perwakilan beberapa kampus ini digelar di Gedung Yusuf Hasyim. Tim yang terdiri dari 12 siswa ini sebelumnya juga mengikuti diklat jurnalistik sejak Selasa (22/5). Kegiatan ini menghadirkan tim fasilitator langsung dari Jakarta. “Para peserta juga datang dari berbagai daerah,” kata Umar Bakri, ketua tim MASS Seblak. 

IMNU Tegal

Materi yang disampaikan terkait penyusunan berita. Baik saat masih mencari ataupun saat penulisan berita. Termasuk di antaranya masalah struktur dan cara kerja dewan redaksi. Komposisi pelatihan yang diberikan adalah 20 persen teori dan 80 persen praktek di lapangan.   

IMNU Tegal

Dalam tugas terakhir penyusunan berita, tim MASS Seblak menamakan koran karyanya dengan SPEKTA. “Itu merupakan singkatan dari Seblak spektakuler dan pecinta al-Qur’an,” ujar ketua OSIS ini. Diakui Bakri, untuk sekedar menentukan nama koran, tim redaksi dari MASS Seblak juga terlibat perdebatan sengit. Meskipun diakuinya tim-tim yang lain menentukan nama koran seolah tidak serius. “Bahkan terkesan namanya lucu dan tidak mengandung nilai filosofi,” imbuhnya. 

Berita yang dimuat adalah lima tema. Yaitu terkait musik banjari sebagai headline, radio sebagai media dakwah, pedagang kaki lima di sekitar makam Gus Dur, profil pengasuh Pesantren Seblak dan jilbab model rubu’ sebagai feature. “Tapi berdasar penilaian para dewan juri, feature tentang rubu’ yang memperoleh nilai tertinggi,” kata Irna Nailun Najjaha, anggota tim. 

Kelima berita itu harus selesai tepat waktu. Ketepatan penyelesaian ini menjadi aspek penilian tersendiri. Siswa yang akrab dipanggil Irna ini mengaku harus kerja keras agar penyusunan koran tidak molor. “Teman-teman sampai harus begadang untuk memenuhi deadline itu,” ucapnya.

Terlebih, dewan juri yang menilai bukan dari tim media itu sendiri. “Tetapi dari para pembaca yang sengaja datang untuk menilai hasil kerja keras para peserta,” ujarnya. Dengan beragam latar belakang ini, pembaca tentu akan menilai lebih berbobot terhadap hasil dari setiap tim. 

Nurul Muslimah, anggota tim lainnya, mengakui memang lomba kali ini adalah yang pertama diikuti. “Meski pertama kali, banyak pengalaman yang saya dapatkan, tidak cuma teori, tapi juga praktek,” katanya. Menulis berita, lanjut siswi dari Bau-Bau Sulawesi Selatan ini, ternyata tidak semudah membacanya. “Membuat koran ternyata tidak segampang yang dibayangkan,” ujarnya. 

Pelaksanaan diklat dan lomba yang digelar mulai pagi sampai petang hari juga menjadi catatan anggota tim ini. Dari kebiasaan yang kurang menghargai waktu, Laila Nailul Fauziah menjadi sangat mempehitungkan waktu dalam menulis berita. “Meski badan capek karena mondar-mandir dari pondok ke tempat acara, namun melalui perlombaan ini saya sadar harus menggunakan waktu dengan baik,” kata siswi dari Pasuruan yang akrab dipanggil Ela ini. 

Kepala sekolah MASS Seblak Nur Laili Rahmah mengakui bahwa pengalaman yang diperoleh siswanya memang sangat berharga. Mengingat lomba itu juga diikuti banyak peserta. “Bahkan ada juga tim dari beberapa perguruan tinggi. Jadi, jika mereka keluar sebagai juara kedua, itu saya kira sudah maksimal,” katanya. 

Perempuan berkacamata ini tidak henti-hentinya memotivasi siswanya agar kreativitas yang dimiliki bisa ditonjolkan. “Dengan berdiskusi menentukan nama koran saja, mereka akan belajar berdemokrasi dan menghargai pendapat temannya,” pungkasnya. 

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Khutbah, Sunnah, Jadwal Kajian IMNU Tegal

IMNU - Internet Marketer Nahdlatul Ulama Tegal.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock