Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

PBNU Larang Nahdliyin Ikut Aksi 313

Jakarta, IMNU Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj melarang keras Nahdliyin (warga NU) untuk ikut demo atau aksi yang rencananya digelar atas prakarsa Forum Umat Islam (FUI) pada Jumat, (31/3) di sekeliling Monumen Nasional (Monas) Jakarta.

PBNU Larang Nahdliyin Ikut Aksi 313 (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Larang Nahdliyin Ikut Aksi 313 (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Larang Nahdliyin Ikut Aksi 313

“Gak usah berdemo. Buang-buang energi, waktu, uang saja,” kata Kiai Said di Lantai 3 Gedung PBNU Jakarta, Rabu (29/3).

Lebih jauh, Kiai Said yang juga menjadi Ketua Lembaga Persahabatan Organisasi Masyarakat Islam (LPOI) tidak mengizinkan warga ormas-ormas tersebut turun pada dalam demo tersebut.?

“Saya adalah Ketua Lembaga Persahabatan Organisasi Masyarakat Islam. Ada 12 ormas (yang tergabung). Ada Al Irsyad, PITI, Mathlaul Anwar, dan lain-lainnya. Warga ormas itu saya larang untuk ikut demo (313),” tegas Doktor lulusan Ummul Qurro University Mekkah itu.

Bahkan ia mempertanyakan status FUI sebagai forum yang mengatasnamakan umat Islam. “FUI itu apa? Ormas apa? Umat Islam yang mana? LPOI tidak berada di bawah FUI. Apalagi NU,” ujar Guru Besar Ilmu Tasawuf ini.

IMNU Tegal

Meski demikian, Kiai Said mempersilahkan orang yang mau demo. Namun ia menyayangkan kalau demo itu digelar dengan mengatasnamakan agama.?

“Yang saya sayangkan adalah (demo dengan) mengatasnamakan agama demi mengalahkan pasangan calon dan menaikkan calon yang didukung,” urai Kiai asal Kempek, Cirebon ini. ? ?

IMNU Tegal

Terakhir, ia mengimbau kepada seluruh umat Islam Indonesia, khusunya Nahdliyin, untuk senantiasa menampilkan wajah Islam yang damai dan sejuk. Serta menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia adalah negara yang beradab, beretika, dan tunduk di bawah hukum.

“Platform negara Madinah (yang dibangun Nabi Muhammad) adalah semua sama di mata hukum,” tegas Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

Demo 313 dikomandoi oleh Forum Umat Islam (FUI). Tujuan dari demo itu adalah meminta Presiden Joko Widodo untuk menon-aktifkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama karena ia didakwa telah menistakan agama Islam. ? ?

Rencananya, Aksi 313 ini akan dimulai dengan Shalat Jumat di Masjid Istiqlal. Kemudian peserta aksi akan berjalan menuju Istana Negara untuk menyampaikan tuntutannya kepada Presiden Joko Widodo. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Sholawat, Nahdlatul Ulama, Aswaja IMNU Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

PW Ansor Jabar Siap Kembangkan Ekonomi Pemuda

Bandung, IMNU Tegal 



Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat sedang menyiapkan instrumen untuk mengembangkan potensi ekonomi untuk kalangan pemuda. Hal itu mengemuka pada l Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) PW Ansor Jawa Barat di Pondok Pesantren Cijaura, Kota Bandung, Ahad (21/1).

"Tiada pilihan lain kecuali para pemuda, khususnya kader GP Ansor untuk melek dalam mengembangkan perekonomian di wilayahnya masing-masing," ujar Ketua PW Aansor Jawa Barat, Deni Ahmad Haidar.

PW Ansor Jabar Siap Kembangkan Ekonomi Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)
PW Ansor Jabar Siap Kembangkan Ekonomi Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)

PW Ansor Jabar Siap Kembangkan Ekonomi Pemuda

Saat ini, kata Deni, PW GP Ansor Jawa Barat tengah menginventarisir berbagai potensi ekonomi agar bisa dikembangkan oleh anggota GP Ansor di seluruh Jawa Barat. 

"Untuk itu kita akan support dan fasilitasi agar potensi tersebut bisa kita raih dan jalankan sehingga kader-kader GP Ansor siap berdaya saing," ujarnya.

Selain itu, lanjut Deni, pengembangan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) juga akan menjadi perhatian serius dalam menyambut era persaingan global tersebut.

IMNU Tegal

"Saat ini beberapa kader GP Ansor di Jawa Barat sukses menjadi direktur utama di beberapa perusahaan milik daerah. Ini semata-mata tak lepas dari kapasitas SDM yang dimilikinya," tandasnya.

IMNU Tegal

Untuk itu, lanjut Deni, pihaknya akan terus mendorong kader-kader GP Ansor di Jawa Barat untuk merebut potensi - potensi ekonomi demi kesejahteraan ummat.

"Masalah pendidikan dan kemiskinan, ini persoalan serius. Kedepan tidak ada lagi kader-kader Ansor yang hanya tamatan SD dan SMP. Kader Ansor harus unggul di berbagai lintas sektoral," pungkasnya. (Ade Mahmudin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Anti Hoax, Quote, Nahdlatul Ulama IMNU Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Kurikulum Pesantren Al-Qur’an Perlu Pembenahan

Jakarta, IMNU Tegal. Pesantren yang tumbuh dan dikembangkan oleh para kiai dan ulama memiliki banyak ragam. Selain pesantren umum yang mengajarkan ilmu-ilmu fikih, tafsir, hadist dan lainnya, terdapat pula pesantren yang lebih spesifik berupa pesantren Al-Qur’an atau tempat mempelajari dan menghafal kitab suci Al-Qur’an.

Sejauh ini, pesantren-pesantren Al-Qur’an telah melahirkan puluhan penghafal qur’an yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun sayangnya pengetahuan para penghafal (hafidz atau hafizhdoh) tersebut baru berbasis hafalan.

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi berpendapat, kurikulum pengajaran yang saat ini masih berbasis hafalan saja perlu dikembangkan lagi. “Mereka perlu memahami makna teks sehingga bisa menyampaikan isi Al-Qur’an kepada masyarakat,” tuturnya dalam perbincangan dengan IMNU Tegal di kantor PBNU, Jakarta, Jumat (18/5).

Kurikulum Pesantren Al-Qur’an Perlu Pembenahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurikulum Pesantren Al-Qur’an Perlu Pembenahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurikulum Pesantren Al-Qur’an Perlu Pembenahan

Pengasuh Ponpes Al Hikam Malang tersebut mengusulkan agar pesantren-pesantren tersebut manambahkan materi seperti bahasa Arab, tafsir, asbabun nuzul (penjelasan tentang sebab-sebab diturunkannya ayat tertentu), ayatul ahkam (berkaitan dengan hukum), ayat-ayat sosial, ayat-ayat tentang alam dan teknologi sampai dengan penafsiran Al-Qur’an dalam dunia kontemporer.

“Ini perlu agar puluhan ribu hafidz dan hafidhoh tidak dalam keadaan statis, hanya menunggu undangan hifdzul Qur’an,” paparnya.

IMNU Tegal

Dalam struktur NU, perangkat organisasi yang mengurusi para penghafal dan penafsir Al-Qur’an adalah Jamiyyatul Qurro wal Huffadz (JQH). Lembaga ini telah mengembangkan semaan Al-Qur’an yang secara rutin diselenggarakan di berbagai tempat. Sejumlah qori dan qoriah yang tergabung dalam lembaga ini juga telah meraih prestasi gemilang sampai ke tingkat internasional. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Kyai, Nahdlatul Ulama IMNU Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Dosen UNU Indonesia Ini Ajak Mahasiswa Kuasai Teknologi

Jakarta, IMNU Tegal

Bagi Suryandaru, dosen Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia, proses pembelajaran itu tidak sekadar teori. Tidak sekadar membaca, tapi juga dengan terjun langsung. Itu sebabnya dirinya selalu menyempatkan diri untuk mengajak mahasiswanya kunjungan studi, antara lain ke Pusat Penelitian Pengembangkan Teknologi (Pupitek), Serpong.

Dosen UNU Indonesia Ini Ajak Mahasiswa Kuasai Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dosen UNU Indonesia Ini Ajak Mahasiswa Kuasai Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dosen UNU Indonesia Ini Ajak Mahasiswa Kuasai Teknologi

Dalam proses pengajaran di kelas, Ndaru juga sering memutarkan video untuk menunjukkan gambaran langsung peristiwa alam yang bisa dikaji dari ? ilmu pengetahuan.

Sebagai dosen yang merupakan bagian dari perguruan tinggi yang salah satu tugasnya adalah pengabdian di masyarakat, Ndaru juga sering terjun ke masyarakat untuk memberikan pelatihan penerapan teknologi, salah satunya adalah pembuatan biogas dari kotoran sapi.

“Ini semacam bentuk aktivitas sosial. Agar mereka bisa melihat teknologi yang bisa mengahasilkan energi dan bisa dimanfaatkan sebagai sumber api,” kata Ndaru, Selasa (1/3) yang saat dihubungi lewat telepon sedang memberi pelatihan di Bintuhan, Kabupaten Riau, Bengkulu.

IMNU Tegal

Ndaru menambahkan bahwa pelatihan-pelatihan tersebut bisa menjadi model awal yang bisa diterapkan di berbagai tempat. Ndaru sendiri menganggap bahwa kunjungan ke berbagai tempat itu sebagai pengabdian ilmu yang dimilikinya.

Ditanya apakah aktivitas dan penelitiannya akan melibatkan UNU Indonesia tempatnya mengajar, Ndaru mengatakan sangat mungkin ke depan akan melibatkan mahasiswa UNU. “Tetapi itu tergantung dari pihak UNU,” Ndaru memberi catatan.

Ndaru yang menyenangi travelling dan karenanya sangat menikmati perjalanan dan kunjungan-kunjungan ke berbagai daerah, menyimpan harapan yang besar agar mahasiswa dan alumni UNU lebih banyak terlibat di masyarakat. Ndaru memandang Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisai masyarakat Islam terbesar di Indonesia yag saat ini sedang ditunggu kiprahnya, terlebih bidang sains dan teknologi.?

“Kita mesti bisa mengonversi pemahaman keislaman kita menjadi wujud nyata di masyarakat. Dengan begitu, NU akan menjadi sahabat terbaik bagi masalah umat manusia di Indonesia bahkan dunia,” terang Ndaru yang baru-baru ini proposal penelitiannya ‘Pengolahan Limbah Seng Menjadi Nano Sengosida sebagai Aplikasi Kemasan Anti Bakteri dan Kosmetik’ disetujui oleh Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek Dikti). (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Nahdlatul Ulama IMNU Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar

Popularitas shalawat Nariyah di kalangan umat Islam di Nusantara memang tak terbantahkan. Namun, apakah ia lantas bersih dari para penolaknya? Ternyata tidak. Sebuah fenomena yang sesungguhnya sangat lumrah dalam kehidupan beragama.

Lewat beragam sudut, beberapa orang melancarkan vonis bahwa pengamalan shalawat Nariyah termasuk melenceng dari ajaran Rasulullah alias bid’ah. Sebagian yang lain mengahakimi secara lebih ekstrem: syirik atau menyekutukan Allah.

Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar

Vonis bid’ah umumnya berangkat dari alasan tak ditemukannya hadits atau ayat spesifik tentang shalawat Nariyah. Sementara tuduhan syirik berasal dari analisa terjemahan atas redaksi shalawat yang dinilai mengandung unsur kemusyrikan. Yang terakhir ini menarik, karena tuduhan “sekejam” itu ternyata justru muncul hanya dari analisa kebahasaan. Benarkah demikian?

Kita simak dulu redaksi shalawat Nariyah secara lengkap sebagai berikut:

IMNU Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

IMNU Tegal

Perhatian para penuduh shalat Nariyah mengandung kesyirikan umumnya tertuju pada empat kalimat berurutan di bawah ini:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Kalimat-kalimat itu pun dirinci lalu diterjemahkan begini:

? ? ?

Artinya: "Segala ikatan dan kesulitan bisa lepas karena Nabi Muhammad."

? ? ?

Artinya: "Segala bencana bisa tersingkap dengan adanya Nabi Muhammad."

? ? ?

Artinya: "Segala kebutuhan bisa terkabulkan karena Nabi Muhammad."

? ? ?

Artinya: "Segala keinginan bisa didapatkan dengan adanya Nabi Muhammad."

Menurut para penuduh itu, empat kalimat tersebut sarat kesyirikan karena secara terjemahan mengandung pengakuan bahwa Nabi Muhammad memiliki kemampuan yang hanya dimiliki Allah, seperti bisa menghilangkan kesulitan, menghilangkan bencana, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan serta doa hanyalah Allah.



Bantahan dari Ilmu Sharaf dan Nahwu Dasar


Shalawat Nariyah atau disebut juga shalawat Tâziyah atau shalawat Tafrîjiyah berasal bukan dari Indonesia. Ia dikarang oleh ulama besar asal Maroko, Syekh Ahmad At-Tazi al-Maghribi (Maroko), dan diamalkan melalui sanad muttashil oleh ulama-ulama di berbagai belahan dunia. Tak terkecuali Mufti Mesir Syekh Ali Jumah yang memperoleh sanad sempurna dari gurunya Syaikh Abdullah al-Ghummar, seorang ahli hadits dari Maroko.

Jika shalawat Nariyah dianggap syirik, ada beberapa kemungkinan. Pertama, para ulama pengamal shalawat itu tak mengerti tentang prinsip-prinsip tauhid. Ini tentu mustahil karena mereka besar justru karena keteguhan dan keluasan ilmu mereka terhadap dasar-dasar ajaran Islam. Kedua, pengarang shalawat Nariyah, termasuk para pengikutnya, ceroboh dalam mencermati redaksi tersebut sehingga terjerumus kepada kesyirikan. Kemungkinan ini juga sangat kecil karena persoalan bahasa adalah perkara teknis yang tentu sudah dikuasai oleh mereka yang sudah menyandang reputasi kelilmuan dan karya yang tak biasa. Ketiga, para penuduhlah yang justru ceroboh dalam menghakimi, tanpa mencermati secara seksama dalil shalawat secara umum, termasuk juga aspek redaksional dari shalawat Nariyah.

Dilihat dari segi ilmu nahwu, empat kalimat di atas merupakan shilah dari kata sambung (isim maushul) ? yang berposisi sebagai na‘at atau menyifati kata ?.

Untuk menjernihkan persoalan, mari kita cermati satu per satu kalimat tersebut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Pertama, ? ? ? .




Dalam kacamata ilmu sharaf, kata ? merupakan fi’il mudlari‘ dari kata ?. Bentuk ini mengikuti wazan ? yang memiliki fungsi/faedah ? ? (dampak dari ?). Demikian penjelasan yang kita dapatkan bila kita membuka kitab sharaf dasar, al-Amtsilah at-Tashrîfiyyah, karya Syekh Muhammad Ma’shum bin ‘Ali.

Contoh:

? ? ?

“Saya memecahkan kaca maka pecahlah kaca itu.” Dengan bahasa lain, kaca itu pecah (?) karena dampak dari tindakan subjek “saya” yang memecahkan.

Contoh lain:

? ? ? ?

“Allah telah melepas beberapa ikatan (kesulitan) maka lepaslah ikatan itu.” Dengan bahasa lain, ikatan-ikatan itu lepas karena Allahlah yang melepaskannya.

Di sini kita mencermati bahwa wazan ? mengandaikan adanya “pelaku tersembunyi” karena ia sekadar ekspresi dampak atau kibat dari pekerjaan sebelumnya.

Kalau ? ? ? dimaknai bahwa secara mutlak Nabi Muhammad melepas ikatan-ikatan itu tentu adalah kesimpulan yang keliru, karena tambahan bihi di sini menunjukkan pengertian perantara (wasilah). Pelaku tersembunyinya tetaplah Allah—sebagaimana faedah ? ?.

Hal ini mengingatkan kita pada kalimat doa:

? ? ? ? ? ? ?? ? ? ? ? ? ?

“Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah ikatan/kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”

Kedua, ? ? ?. Senada dengan penjelasan di atas, ? merupakan fi’il mudlari‘ dari kata ?, yang juga mengikuti wazan ?. Faedahnya pun sama ? ? (dampak dari ?).

Ketika dikatakan ? ? ? maka dapat diandaikan bahwa ? ? ? ?. Dengan demikian, Allah-lah yang membuka atau menyingkap bencana/kesusahan, bukan Nabi Muhammad.

Ketiga, ? ? ?. Kata ? adalah fi’il mudlari‘ dalam bentuk pasif (mabni majhûl). Dalam ilmu nahwu, fi’il mabni majhul tak menyebutkan fa’il karena dianggap sudah diketahui atau sengaja disembunyikan. Kata ? menjadi naibul fa’il (pengganti fa’il). Ini mirip ketika kita mengatakan “anjing dipukul” maka kita bisa mengandaikan adanya pelaku pemukulan yang sedang disamarkan.

Dengan demikian kita bisa mengandaikan kalimat lebih lengkap dari susunan tersebut.

? ? ?

“Allah akan mengabulkan kebutuhan-kebutuhan.”



Keempat, ? ? ?




Penjelasan ini juga nyaris sama dengan kasus ? ? ?. Singkatnya, Nabi Muhammad bukan secara mutlak memiliki kemampuan memberikan keinginan-keinginan karena Allah-lah yang melakukan hal itu yang dalam kalimat tersebut disembunyikan. Fa’il tidak disebutkan karena dianggap sudah diketahui.

Alhasil, dapat dipahami bahwa tuduhan syirik atas kalimat-kalimat itu sesungguhnya keliru. Sebab, kemampuan melepas kesulitan, menghilangkan bencana/kesusahan, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan-keinginan secara mutlak hanya dimiliki Allah. Dan ini pula yang dimaksudkan pengarang shalawat Nariyah, dengan susunan redaksi shalawat yang tidak sembrono. Hanya saja, dalam redaksi shalawat Nariyah tersebut diimbuhkan kata bihi yang berarti melalui perantara Rasulullah, sebagai bentuk tawassul.

Bahasa Arab dan bahasa Indonesia memang memiliki logika khas masing-masing. Karena itu analisa redaksi Arab tanpa meneliti struktur bakunya bisa menjerumuskan kepada pemahaman yang keliru. Lebih terjerumus lagi, bila seseorang membuat telaah, apalagi penilaian, hanya dengan modal teks terjemahan. Wallahu a’lam. (Mahbib Khoiron)

(Baca juga: Menjawab Penggugat Shalawat Nariyah)


Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nahdlatul Ulama IMNU Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Cara Santri Futuhiyyah Mranggen Rayakan Hari Santri

Demak, IMNU Tegal. Pusaka hati wahai tanah airku//Cintamu dalam imanku//Jangan halangkan nasibmu//Bangkitlah hai bangsaku//Indonesia negeriku//Engkau panji martabatku//Siapa datang mengancammu//’kan binasa di bawah dulimu//.

Syair Subbanul Wathan karya KH Abdul Wahab Chasbullah itu menggema di halaman Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak pada Ahad malam (22/10). Syair itu dinyanyikan oleh sekitar lima ratus santri Futuhiyyah dengan suara lantang dan tangan kanan mengepal di tengah pelaksanaan upacara dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2017.

Cara Santri  Futuhiyyah Mranggen Rayakan Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Santri Futuhiyyah Mranggen Rayakan Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Santri Futuhiyyah Mranggen Rayakan Hari Santri

  

Seperti diketahui, melalui Keputusan Presiden (kepres) nomor 22 tahun 2015, Presiden Joko Widodo menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan itu mengacu pada Resolusi Jihad yang diinisiasi oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari dan dimaklumkan oleh para ulama Nahdlatul Ulama (NU) pada 22 Oktober 1945 sebagai hasil musyawarah konsul-konsul ulama NU se-Jawa dan Madura.

“Resolusi Jihad itu menyatakan bahwa memerangi penjajah itu hukumnya fardlu ain bagi setiap Muslim yang berjarak 94 km dari tempat musuh, adapun bagi yang di luar jarak itu, hukumnya fardlu kifayah,” terang Ustad Ahmad Sahal selaku pembina upacara.

 

IMNU Tegal

Hal itu, lanjutnya, menunjukkan bahwa para ulama dan kiai kita memiliki sikap nasionalisme yang tidak diragukan.

IMNU Tegal

“Karena itu, kita harus meneladani beliau-beliau yang sudah memberikan contoh yang sangat bagus, bukannya malah mengajarkan paham-paham yang merongrong NKRI!”

Pemahaman mengenai jihad harus diaktualisasi. Jika jihad pada zaman penjajah adalah memerangi para penjajah, maka jihad sekarang adalah belajar dengan rajin.

 

“Sekarang Indonesia sudah merdeka, dengan begitu jihad kita sekarang bukan lagi memerangi penjajah, tetapi memerangi kebodohan. Para santri harus rajin mengaji. Sebab dengan mengaji santri menjadi aji. Kita harus menyerap semaksimal mungkin ilmu-ilmu yang kita pelajari di pondok pesantren dan sekolah kemudian kita amalkan di masyarakat. Itulah makna jihad sekarang ini,” jelasnya.

Mujahadah 

Sebelum upacara digelar, bakda magrib para santri berkumpul di Masjid An-Nur mengadakan mujahadah dengan membaca shalawat nariyah sebanyak seratus kali. Mujahadah dipimpin oleh wakil kepala lurah Pondok Pesantren Futuhiyyah, Ustad Imam Fitri Khosyi’i, AH. 

Selain mengikuti intruksi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), menurut Ustad Imam Fitri Khosyi’i mujahadah juga penting dilakukan dalam rangka menyeimbangkan antara pikir dan dzikir. 

“Kita harus senantiasa memadukan antara jihad, ijtihad, dan mujahadah. Setelah kita melaksanakan jihad melawan malas dan ijtihad memahami pelajaran, rasanya tidak lengkap jika tidak dibarengi dengan mujahadah, memasrahkan semuanya kepada Allah,” tuturnya.

Nobar Film Sang Kiai. Selain mujahadah dan upacara, para santri Futuhiyyah juga mengadakan nonton bareng (nobar) film Sang Kiai di halaman pondok. Layar proyektor yang besar dan sound system yang menggelegar membuat para santri larut dalam keasyikan menonton film yang mengisahkan memoar KH. Hasyim Asy’ari tersebut.

 

Keakraban benar-benar tampak di antara para santri. Mereka duduk berlesehan sembari menikmati makanan ringan yang disajikan panitia. Tawa mereka membahana tiap kali film mempertontonkan adegan yang lucu. Begitu film selesai, para santri bertepuk tangan.  

Nailul Kamal, salah satu santri, merasa puas dengan rangkaian acara hari santri yang diselenggarakan Pesantren Futuhiyyah.

“Acara hari santri ini sederhana, tetapi efektif. Manfaatnya buat kami, terasa khidmat seperti acara nobar ini. Selain tidak mengganggu ketertiban umum, nobar ini sangat menghibur dan mendidik kami. Kami selaku para santri menjadi tahu perjuangan para kiai terdahulu seperti KH. Hasyim Asy’ari. Ia berharap acara seperti ini diagendakan setiap tahunnya. Kalau bukan kita, para santri, siapa lagi yang akan merayakannya,” pungkasnya. (Moh Salapudin/Ben Zabidy/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Meme Islam, RMI NU, Nahdlatul Ulama IMNU Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

Gus Mus: Saya Asisten Kiai Sahal Mahfudh

Pati, IMNU Tegal. Pejabat Rais Aam Syuriah PBNU KH A Musthofa Bisri (Gus Mus) menuturkan banyak hal saat menyampaikan taushiyah pada Haul ke-1 Almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh di Pesantren Maslakul Huda Kajen-Margoyoso-Pati, Jawa Tengah.

Gus Mus: Saya Asisten Kiai Sahal Mahfudh (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Saya Asisten Kiai Sahal Mahfudh (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Saya Asisten Kiai Sahal Mahfudh

Gus Mus pada acara Selasa (13/01/15) malam tersebut mengaku sebagai asisten Kiai Sahal sejak di kepengurusan PWNU Jawa Tengah hingga berlanjut di PBNU. Uniknya, ketika Mbah Sahal naik jabatan, otomatis Gus Mus naik jabatan di bawah Kiai Sahal.

“Saya itu asisten Kiai Sahal sejak lama. Ketika beliau Katib Syuriah PWNU Jateng, saya Wakil Katib. Ketika beliau jadi Rais, saya jadi Katib. Nah, ketika beliau jadi Rais di PBNU, saya tetap jadi Katib,” ujar Gus Mus jenaka yang langsung disambut ger-geran hadirin.

IMNU Tegal

Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin ini menambahkan, itulah bedanya kualitas seseorang. Ketika yang satu sudah sampai di bulan sementara yang lain masih merayap di bumi.

Gus Mus masih ingat betul ketika Departemen Agama (kini Kemenag) saat itu banyak membuat program macam-macam yang ternyata terinspirasi pemikiran Kiai Sahal.

IMNU Tegal

“Misalnya begini, ketika beliau sedang ngomongin sesuatu dengan saya tentang kesehatan masyarakat. Lalu, kata orang Depag, ‘wah itu kita seminarkan saja. Kita kerja sama dengan UNICEF.’ Nah, seluruh pegawai Depag pun ikut seminar. Semua lalu tanda tangan dan semua dapat amplop,” ungkap Gus Mus yang lagi-lagi disambut tawa segar hadirin.

Hasil seminar tersebut, lanjut Gus Mus, menyepakati untuk membentuk tim perumus.  Ditunjuklah narasumbernya, Kiai Sahal, sebagai tim perumus bersama Gus Dur dan beberapa orang lainnya.

“Saya tau betul karena setelah itu saya ditugasi Kiai Sahal untuk menulis rumusan dengan membuka kitab-kitab yang ditunjukkan beliau,” paparnya.

Gus Mus menegaskan, hingga saat ini buku panduan tentang gizi di Kementerian Agama tulisan Arabnya masih asli tulisan sahabat karib Gus Dur ini. “Jadi, tulisan Arab saya masih dipakai saking kesete (malas, Jawa-red) orang Kemenag itu. Udah gitu difoto kopi.” Lagi-lagi hadirin tertawa gembira.

Menurut Gus Mus, Kiai Sahal memiliki keahlian nyata di bidang fiqih. “Beliau itu kan keahliannya fiqih. Tapi ini bukan fiqih murni yang lalu dipakai ndalil ke sana ke mari, buat pidato. Ndak. Ada pembaruan bahtsul masail di NU itu juga pemikirannya Kiai Sahal,” tegas putra KH Bisri Musthofa ini. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nahdlatul Ulama, Meme Islam IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock