Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Kemiskinan Kontekstual dan Tugas NU

Oleh Aswab Mahasin



Kemiskinan merupakan ancaman sosial dan bisa berefek pada keberagamaan manusia. Tidak sedikit manusia putus asa dan murka dikarenakan kondisi ekonominya carut marut. Walaupun dalam hal ini masalahnya adalah kualitas iman dan Islam seseorang. Sering kita dengar celoteh. “Shalat terus tidak kaya-kaya, sedangkan mereka tidak shalat menjadi kaya.” 

Kemiskinan Kontekstual dan Tugas NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemiskinan Kontekstual dan Tugas NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemiskinan Kontekstual dan Tugas NU

Sebenarnya, bukan masalah shalat atau tidak shalat lantas kemudian orang menjadi kaya, melainkan etos kerja, kreativitas, dan sejenisnya. Kalau kita kembalikan kepada hakikat penciptaan manusia, manusia telah difasilitasi kondisi alam yang kaya raya, dan manusia telah difasilitasi akal budi oleh Allah, dan Allah menyuruh kita untuk memaksimalkan potensi kreatif kita. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri.” 

Melihat data per Maret yang dilansir oleh banyak media, mengatakan, “Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Maret 2017 jumlah penduduk miskin, yakni penduduk dengan pengeluaran perkapita perbulan di bawah garis kemiskinan, di Indonesia mencapai 27,77 juta orang (10,64 persen dari jumlah total penduduk).” 

Lanjut menurt BPS, angka tersebut bertambah 690 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2016, sebesar 27,76 juta orang (10.70 persen). Secara presentase angka kemiskinan mengalami penurunan, tetapi jumlah angka tersebut mengalami kenaikan. Pertumbuhan penduduk yang naik tiap tahun menambah deretan jumlah penduduk Indonesia yang miskin.

Di samping itu, secara ekonomi, dikarenakan oleh tingkat penghasilan yang makin lemah, sedangkan harga-harga barang terus-menerus naik. Secara sosial, ditandai oleh lemahnya solidaritas sosial. Secara politik, ditandai oleh meluasnya konflik para elite politik, hanya mementingkan kekuasaan dan kepentingan partainya. Secara budaya, ditandai oleh kecenderungan kekuatan otot mengalahkan kekuatan nalar, sehingga nalar sebagai pusat mengalirnya kreativitas mengalami kekeringan. Secara hukum, ditandai oleh makin meluasnya masyarakat yang tidak taat aturan dan kebiasaan main hakim sendiri. Sedangkan, kemiskinan keagamaan munculnya gesekan, tindak kekerasan, dan pembunuhan “atas nama agama”. (Prof. Dr. Musya Asy’arie, Dialektika Agama untuk Pembebasan Spiritual, 2000, hlm. 65).

IMNU Tegal

Dari penjelasan di atas telah jelas, kemiskinan diakibatkan oleh banyak faktor—susah untuk diurai. Artinya, kemiskinan tidak mungkin disolusikan dengan satu pendekatan saja (ekonomi), melainkan harus menggunakan banyak pendekatan/berbagai aspek. Selagi Indonesia tidak kondusif, secara sosial, budaya, hukum, politik, dan agama—sepertinya “mimpi di siang bolong” mengurangi angka kemiskinan. 

Paling disayangkan adalah, ‘kemiskinan milenial’ (dialami oleh kalangan muda), terlahir dari keluarga tidak mampu dibarengi dengan tuntutan pergaulan hedonis, seringkali membuat mereka terjebak “gengsi sosial”. Akhirnya, jalan pintas menjadi caranya untuk menyelesaikan permasalahan gengsi. Tidak sedikit di antara anak sekolah tingkatan menengah atau mahasiswa/i, terjun ke “dunia gemerlap” demi mendapatkan uang (membeli gengsi). 

Ambil contoh, website yang baru saja diblokir pemerintah (nikahsirri[dot]com), baru satu hari dilaunching sudah banyak yang mendaftar, dan website itu menampung para wanita, yang putus sekolah/kuliah untuk dinikahkan sirri dengan para bos-bos berduit. Itu yang dinyatakan oleh pembuat website.  

Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits menyampaikan, “kada al-faqru an-yakuna kufran” (hampir-hampir kemiskinan menjadikan kekufuran). Penjelasan di atas adalah salah satu contoh, kemiskinan bisa menjerumuskan manusia pada lubang hitam. Tidak hanya itu, tidak sedikit fenomena sosial, seperti; pencurian, jambret, maling, kejahatan, dan sebagainya, di awali dari kemiskinan.

IMNU Tegal

Dalam konteks ini, seorang Muslim hakikatnya mempunyai keharusan berusaha terus-menerus agar mencapai tingkat kemampuan berlebih, memungkin mereka mampu menyempurnakan rukun-rukun Islam yang lima. Indonesia dengan mayoritas penduduknya adalah Muslim, suatu keharusan terus mencoba berpikir dan bertindak—melepas belenggu kemiskinan yang menjerat masyarakat Indonesia. Ini merupakan tantangan bagi komunitas Muslim di Indonesia sendiri. Bagaimana mereka melakukan sebuah instrumen dalam membantu saudaranya.

Seperti yang dikatakan oleh Hasan Hanafi dalam Al-Yasar al Islami (Kiri Islam), “bahwa kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertindasan umat Islam merupakan tantangan terbesar yang mesti dijawab”

Menurut Bachtiar Chamsyah, kemiskinan yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang memiliki dua dimensi, pertama, kemiskinan non-fisik, yang meliputi dimensi moral, etika, akhlak, dan mental—yang kemudian memperlemah daya saing sumber daya manusia Indonesia; kedua, kemiskinan fisik, yang lazim disebut kemiskinan ekonomi atau struktural. Jadi, krisis yang berwajah multidimensi di berbagai bidang kehidupan selama beberapa tahun belakangan ini semakin menutup jalan keluar bagi kemiskinan.

Meski persoalan penanggulangan kemiskinan cukup berat dan sulit. Bisa kita lihat, tidak sedikit usaha yang dilakukan oleh pemerintah, begitupun para tokoh dalam menggenjot potensi ekonomi rakyat. Namun, kita tidak boleh berhenti apalagi mundur. Minimal saling tolong menolong yang kita lakukan terhadap tetangga kita yang kurang mampu, menjadi bagian solusi pendek yang kita lakukan.

Bagi seorang Muslim, baiknya kita merenungkan pesan Nabi Muhammad SAW, melalui salah satu haditsnya ibda’ bi nafsika, mulailah dari diri kamu sendiri. Kita tidak harus menunggu pemerintah atau organisasi dalam menyelesaikan masalah ini, semua hal tersebut harus diawali dari kesadaran kita terhadap lingkungan sosial kita. Menurut Musya Asya’ari paling tidak, mulai dari jiwa kita untuk tidak miskin, karena jiwa yang miskin akan melahirkan tindakan yang miskin pula. 

Islam sebenarnya sudah mempunyai banyak cara untuk menanggulangi kesenjangan ekonomi, melalui zakat, sedekah, waris, dan sebagainya. Ajaran tersebut sebagai media berbagi untuk umat Islam terhadap kebanyakan manusia yang kekurangan. Selain itu, ajaran tersebut juga sebagai sarana mencegah penumpukan modal/harta dari tahun ke tahun/dari generasi ke generasi (sudah banyak konsep yang diterangkan oleh banyak pakar), karena di dalam harta kita ada hak orang lain. Nabi Muhammad SAW menegaskan, “yadu al-ulya khairun min-yadi al-sufla” (Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah).  

Kembali lagi dengan pernyataan, umat Islam di Indonesia jumlahnya begitu besar, sesungguhnya jika digali lebih dalam merupakan potensi ekonomi yang luar biasa, dan sudah waktunya kita tidak melulu menjadi konsumen, melainkan diusahakan menjadi produsen. Dan NU sebagai organisasi yang memiliki basis massa 80 juta lebih, harus terus menerus giat dan fokus menggenjot ekonomi rakyat. Minimal memberikan solusi dalam pengajaran pendidikan kewirausahaan dan penyaluran modal, sekaligus dengan pendampingannya. Terutama kemiskinan-kemiskinan konstekstual saat ini yang berwajah multidimensi dengan berbagai masalahnya. Kalau bukan NU, siapa lagi. 

Saya tutup dengan Firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 268, “Setan menjanjikan kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat jahat, sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampunan dari-Nya dan karunia (kekayaan dan balasan pahala. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya), lagi Maha Mengetahui.”





Penulis, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Anti Hoax, Aswaja IMNU Tegal

Sabtu, 24 Februari 2018

PBNU Larang Nahdliyin Ikut Aksi 313

Jakarta, IMNU Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj melarang keras Nahdliyin (warga NU) untuk ikut demo atau aksi yang rencananya digelar atas prakarsa Forum Umat Islam (FUI) pada Jumat, (31/3) di sekeliling Monumen Nasional (Monas) Jakarta.

PBNU Larang Nahdliyin Ikut Aksi 313 (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Larang Nahdliyin Ikut Aksi 313 (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Larang Nahdliyin Ikut Aksi 313

“Gak usah berdemo. Buang-buang energi, waktu, uang saja,” kata Kiai Said di Lantai 3 Gedung PBNU Jakarta, Rabu (29/3).

Lebih jauh, Kiai Said yang juga menjadi Ketua Lembaga Persahabatan Organisasi Masyarakat Islam (LPOI) tidak mengizinkan warga ormas-ormas tersebut turun pada dalam demo tersebut.?

“Saya adalah Ketua Lembaga Persahabatan Organisasi Masyarakat Islam. Ada 12 ormas (yang tergabung). Ada Al Irsyad, PITI, Mathlaul Anwar, dan lain-lainnya. Warga ormas itu saya larang untuk ikut demo (313),” tegas Doktor lulusan Ummul Qurro University Mekkah itu.

Bahkan ia mempertanyakan status FUI sebagai forum yang mengatasnamakan umat Islam. “FUI itu apa? Ormas apa? Umat Islam yang mana? LPOI tidak berada di bawah FUI. Apalagi NU,” ujar Guru Besar Ilmu Tasawuf ini.

IMNU Tegal

Meski demikian, Kiai Said mempersilahkan orang yang mau demo. Namun ia menyayangkan kalau demo itu digelar dengan mengatasnamakan agama.?

“Yang saya sayangkan adalah (demo dengan) mengatasnamakan agama demi mengalahkan pasangan calon dan menaikkan calon yang didukung,” urai Kiai asal Kempek, Cirebon ini. ? ?

IMNU Tegal

Terakhir, ia mengimbau kepada seluruh umat Islam Indonesia, khusunya Nahdliyin, untuk senantiasa menampilkan wajah Islam yang damai dan sejuk. Serta menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia adalah negara yang beradab, beretika, dan tunduk di bawah hukum.

“Platform negara Madinah (yang dibangun Nabi Muhammad) adalah semua sama di mata hukum,” tegas Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

Demo 313 dikomandoi oleh Forum Umat Islam (FUI). Tujuan dari demo itu adalah meminta Presiden Joko Widodo untuk menon-aktifkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama karena ia didakwa telah menistakan agama Islam. ? ?

Rencananya, Aksi 313 ini akan dimulai dengan Shalat Jumat di Masjid Istiqlal. Kemudian peserta aksi akan berjalan menuju Istana Negara untuk menyampaikan tuntutannya kepada Presiden Joko Widodo. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Sholawat, Nahdlatul Ulama, Aswaja IMNU Tegal

Minggu, 18 Februari 2018

Katakan Tidak pada Selfie Selama Berhaji

Jakarta, IMNU Tegal. Mereka membuat video rekaman sendiri saat berjalan di sekitar Kabah, mencium hajar aswat, bertengger dekat dengan gunung Safa Marwa, atau berdiri di dekat kubah hijau masjid Nabi. 

Demam selfie telah menjangkiti para peziarah di Dua Masjid Suci dalam beberapa hari terakhir, banyak yang kecewa dan jamaah lain menyebutnya sebagai ‘perilaku turis, seperti dilaporkan oleh arab news. 

Katakan Tidak pada Selfie Selama Berhaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Katakan Tidak pada Selfie Selama Berhaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Katakan Tidak pada Selfie Selama Berhaji

"Di Madinah, aku melihat sebuah keluarga menghadap matahari, mengangkat tangan mereka seolah-olah mereka sedang berdoa. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan. Tapi kemudian aku melihat seseorang di depan mereka mengambil gambar mereka," kata Zahra Mohammad, 27, seorang guru Agama Islam di Riyadh. 

IMNU Tegal

"Saya telah melihat peziarah di Masjidil Haram melakukan selfi dengan Kabah sebagai latar belakang dan kemudian diposting di Facebook, membuatnya menjadi acara media sosial dan merusak tindakan ibadah dengan rendah hati," tambahnya. 

IMNU Tegal

Dorongan untuk mendokumentasikan setiap gerakan mereka di masjid-masjid suci Makkah dan Madinah, dan berbagi momen berharga dengan teman dan keluarga di media sosial telah meningkatkan penggunaan ponsel mereka di masjid-masjid suci daripada yang seharusnya digunakan.

Banyak yang percaya perilaku tersebut dapat menjadi penangkal untuk mencapai kerendahan hati dan ketenangan saat melakukan ibadah, terutama selama perjalanan Haji yang diwajibkan sekali dalam seumur hidup. 

Ledakan tiba-tiba selfie dan pemotretan di masjid-masjid suci sebagian dapat disalahkan pada peningkatan penjualan dan penggunaan smartphone. 

Sampai beberapa tahun yang lalu, ponsel berkamera dilarang dibawa dalam masjid suci, meskipun beberapa peziarah berhasil menyelinapkannya. 

Namun, pihak berwenang tampaknya telah mengendorkan aturan ini karena tidak jarang melihat peziarah berpose dengan Kabah dan mengambil foto dengan senang hati, meskipun penjaga di pintu masuk masjid dilaporkan melarang orang membawa kamera profesional masuk. 

"Aku sedang sholat Jum’at di Masjidil Haram tapi beberapa orang terus datang di depan saya untuk merekam khotbah dengan kamera mereka. Apakah bisa khusu’ dalam situasi seperti ini," kata Ahmad, seorang expat yang berbasis di Jeddah melakukan haji tahun ini. 

"Jumlah orang yang pernah kulihat dengan kamera di dalam Haram mungkin ribuan selama umrah tahun lalu, dan begitu banyak orang memiliki ponsel kamera, itu adalah endemi yang tidak mudah dihentikan," tambahnya. 

Dia menunjukkan bahwa operator tur haji harus menginformasikan anggota kelompok mereka terhadap penggunaan kamera yang berlebihan agar tidak mengganggu diri sendiri dan orang lain dari tujuan utama untuk mencapai haji mabrur. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Aswaja IMNU Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Umat Islam Harus Renungkan Esensi Khutbah Wada’ Rasulullah

Arafah, IMNU Tegal?



Jemaah telah melakukan perjalanan panjang menuju Baitullah. Para dhuyufurrahman (tamu Allah) telah datang dengan penuh keamanan dan keselamatan ke Baitullah. Kalian telah memenuhi panggilan Allah menuju Baitullah.

Demikian kutipan syair yang disampaikan Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel di Arafah, Kamis (31/08).

Umat Islam Harus Renungkan Esensi Khutbah Wada’ Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Umat Islam Harus Renungkan Esensi Khutbah Wada’ Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Umat Islam Harus Renungkan Esensi Khutbah Wada’ Rasulullah

"Di Arafah ini, 1428 tahun lalu, tepatnya 10 Hijriyah dan tepatnya di atas Jabal Rahmah, Nabi Muhammad memberikan khutbah yang lalu dikenal khutbatul wada’," ujar Dubes sebagaimana dilaporkan Kemenag.go.id.

Dikatakannya, isi khutbah tersebut sangat layak direnungkan. Di atas Jabal Rahmah, Nabi Muhammad di tanggal 9 Zulhijjah 10 H, memunculkan pernyataan dahsyat untuk kemanusiaan.

“Wahai manusia dengarkan perkataanku. Sesungguhnya saya tidak tahu kemungkinan saya tidak akan berjumpa dengan kalian setelah tahun ini di tempat ini selamanya.

IMNU Tegal

Wahai manusia, sungguh darahmu, hartamu, dan kehormatanmu adalah haram (tidak boleh mengalirkan darah seenaknya atas nama apapun, apalagi dengan pembajakan terhadap teks suci keagamaan sebagaimana terjadi akhir-akhir ini di negara konflik.)

Pesan Nabi, Islam sangat menghargai nyawa, harta dan harga diri. Sebagaimana kehormatan hari Arafah, bulan Zulhijjah di Kota Makkah yang suci ini," tuturnya.

Dari statemen Nabi itu, kata Dubes, bisa diambil kesimpulan bahwa pada haji wada’(perpisahan) adalah pesan perdamaian dunia. Kita menghargai orang lain, mempertegas Islam sebagai agama rahmat dan perdamaian untuk semua.

Menurutnya, statemen Menag dalam sambutannya di Arafah (bahwa menebarkan kedamain itu itu esensi ajaran Islam. Menjadi tugas muslim untuk senantiasa mewujudkannya di lingkungan masing-masing) merupakan pengharaman terhadap pengkoyakan nilai kemanusiaan.

IMNU Tegal

"Ini sebuah pesan yang mesti direnungkan hari ini," tutur Agus.

Dubes melanjutkan, Nabi menegaskan bahwa Islam adalah agama yang menghargai persamaan. Islam yang sangat menghargai persamaan.

Wahai manusia. Sungguh Tuhanmu satu. Dan sungguh bapakmu satu. Anda sekalian ada karena Adam dan Adam terbuat dari debu. Semulia kalian adalah orang yang paling takwa. Tidak ada kelebihan bangsa Arab dari bangsa lain kecuali dengan takwa.

"Khutbah Nabi 1428 tahun lalu menekankan prinsip persamaan antar umat manusia," terangnya.

Dari sabda Nabi di Arafah ini, lanjut Dubes, kita dapat simpulkan bahwa Nabi ingin kita mempertegas Islam sebagai agama yang cinta damai, agama persahabatan dan persaudaraan, agama yang sangat menghargai keadilan dan agama persamaan.

"Antara Saudi dan Indonesia sudah ada kerjasama yang berisi: 1. Mempertegas dan menyebarkan Islam yg tawaauth dan itidal. 2. Sepakat memerangi ekstrimisme dan kekerasan antar sekte, madzhab dan agama di dunia,".

"Berharap doa jemaah haji, agar misi diplomatik Dubes Saudi utk menebar kedamaian untuk semua manusia yang ada di bumi terwujud," ujarnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Sholawat, Aswaja, Kiai IMNU Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Musuh Indonesia adalah Keterbelakangan, Kebodohan, dan Ketidakdilan

Jakarta, IMNU Tegal. Inisiator Islam Nusantara Center Jazilul Fawaidz mengingatkan tentang peristiwa 72 tahun lalu, di mana para sesepuh Nahdlatul Ulama dan KH Hasyim Asy’ari? mengobarkan semangat di medan pertempuran dalam menghadapi dan mengusir penjajah dari Indonesia.

Musuh Indonesia adalah Keterbelakangan, Kebodohan, dan Ketidakdilan (Sumber Gambar : Nu Online)
Musuh Indonesia adalah Keterbelakangan, Kebodohan, dan Ketidakdilan (Sumber Gambar : Nu Online)

Musuh Indonesia adalah Keterbelakangan, Kebodohan, dan Ketidakdilan

Demikian disampaikan Inisiator Islam Nusantara Center Jazilul Fawaid pada acara “Santri of The Year 2017” di gedung Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Ahad (22/10).

Pria kelahiran Gresik, Jawa Timur ini pun meminta kepada para santri agar semangat para sesepuh NU terus dibawa dalam wujud mengisi kemerdekaan dengan berbagai karya dan prestasi.

“Oleh karena itu, nominator ini mewakili kita semua untuk membangun, untuk mengisi, untuk memberikan prestasi-prestasi terbaik para santri ini mengisi kemerdekaan ini,” jelas pria juga menjadi anggota DPR 2014-2019 ini.

Meskipun begitu, ia mengaku, pada saat ini Indonesia masih punya musuh yang besar, yang menjalar diberbagai aspek kehidupan.

IMNU Tegal

“Musuh kita keterbelakangan, musuh kita kebodohan, musuh kita adalah hal-hal yang menindas, kezaliman, ketidakadilan yang ada di Jakarta maupun di Indonesia pada saat orang tua kita sudah memerdekakan kita semua,” terangnya.

Hadir pada acara penghargaan ini, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HA. Helmy Faisal Zaini, Wakil Ketua Umum PBNU periode 2010-2015, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Indonesia Muhammad Nasir, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya Abd. A’la, dan lain-lain. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal AlaSantri, Ubudiyah, Aswaja IMNU Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Cara Mbah Ngis Buat Pencuri Menangis

Mbah Ngismatun Sakdullah Solo (w. 1994)—biasa dipanggil Mbah Ngis—berhati lembut hingga beliau tidak mau mempermalukan orang lain di depan orang banyak. Sikap itu dapat kita lihat misalnya ketika menghadapi seorang anak sekolah yang sering mengambil jajanan di warungnya. Sebagai anak Mbah Ngis, Pak Udin tidak senang mendengar ada muridnya yang suka mengambil dagangan ibunya tanpa bayar. Tetapi Mbah Ngis menolak mentah-mentah menyebutkan namanya ketika Pak Udin menanyakan nama anak itu. Mbah Ngis khawatir Pak Udin akan memarahi anak itu di dalam kelas sehingga diketahui seluruh temannya. ?

“Jangan… Jangan tanya namanya. Akan aku coba atasi sendiri supaya masalah ini tidak didengar banyak orang,”? kata Mbah Ngis kepada Pak Udin.

Cara Mbah Ngis Buat Pencuri Menangis (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Mbah Ngis Buat Pencuri Menangis (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Mbah Ngis Buat Pencuri Menangis

“Kalau saya tahu namanya kan saya bisa menasihatinya di kelas saat memberikan pelajaran, Bu,”, kata Pak Udin pada Mbah Ngis untuk meyakinkan bahwa Pak Udin bisa membantu karena ia adalah? guru di sekolah itu.

“Nah, itu yang aku khawatirkan,” kata Mbah Ngis.

IMNU Tegal

Mbah Ngis kemudian menceritakan bahwa sebenarnya beliau bisa menangkap basah anak itu cukup dengan menahan tangannya ketika mengambil barang. Memang wajahnya tidak tampak karena bersembunyi di balik teman-temannya yang berjubel di saat istirahat sekolah. Tetapi Mbah Ngis memilih diam dan pura-pura tidak tahu.

IMNU Tegal

“Mengapa tidak langsung ditangkap saja bu... dan kemudian dinasihati baik-baik supaya kapok?” tanya Pak Udin pada Mbah Ngis.

Mbah Ngis menjawab bahwa semula beliau pernah berpikir seperti itu. Tapi selalu beliau urungkan karena membayangkan betapa malunya anak itu kalau ditangkap basah di depan teman-teman sendiri. Mbah Ngis justru merasa kasihan sama anak itu. Apalagi menurut Mbah Ngis, ini juga menyangkut nama baik kedua orang tuanya.

“Hahaha,” tawa Pak Udin lirih.? “Gimana sih, Bu? Ibu kasihan sama dia, sedangkan dia tidak kasihan sama kita,” tanya Pak Udin pada Mbah Ngis, setengah memprotes.

Mbah Ngis menjawab bahwa usul putranya itu cukup bagus, tetapi masih ada cara yang lebih bagus dan lebih bijak. Cara itu adalah menasihatinya pada saat dia jajan sendirian sehingga tidak ada orang tahu. Bagaimanapun menurut Mbah Ngis, tidak baik mempermalukan anak di depan orang banyak.

“Tapi maksud Ibu kan baik?!” Kata Pak Udin berargumentasi.

Namun, argumen tersebut tampak patah begitu saja oleh jawaban Mbah Ngis bahwa justru karena Mbah Ngis punya maksud baik, maka caranya pun juga harus baik. Mbah Ngis sekali lagi mengatakan akan menasihati anak itu ketika sepi tak ada orang lain. Mbah Ngis berharap akan dipertemukan Allah SWT dengan anak itu ketika tak ada orang lain selain dia dan Mbah Ngis.

Harapan Mbah Ngis akhirnya terkabul. Suatu hari di siang yang sepi anak itu jajan sendirian di warung Mba Ngis. Ketika transaksi sudah selesai, Mbah Ngis meminta waktu untuk berbicara. Mbah Ngis mengatakan bahwa Mbah Ngis cukup tahu semua ketidakjujuran anak itu selama ini dengan sebelumnya meminta maaf karena mengganggu waktunya. Anak tersebut mencoba menyangkal dengan pura-pura tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Mbah Ngis.

“Masak kamu tidak tahu?” Tanya Mbah Ngis dengan tatapan mata agak tajam. “Apa aku harus mengungkapkan semuanya?”

Anak itu terdiam agak lama. Sejurus kemudian ia mengatakan bahwa ia paham dengan apa yang dimaksudkan Mbah Ngis. Tak lama setelah itu, ia menundukan kepala. Ia tidak mengira sama sekali kalau selama ini ternyata Mbah Ngis menyimak dan tahu semua masalah ketidakjujurannya. Anak itu akhirnya menangis di depan Mbah Ngis dan berjanji tidak akan mengulangi.

Ya wis... sing wis ya wis... Ojo dibaleni maneh. Tak dongakke kowe dadi bocah sing becik lan sukses tembe mburune” (Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Jangan diulangi lagi. Saya doakan kamu jadi anak yang baik dan sukses di kemudian hari),” kata Mbah Ngis sambil menenangkannya dan meminta agar ia mengusap air matanya.

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam, Universitas Nahdlatul Ulama UNU) Surakarta







=====

IMNU Tegal mengajak kepada pembaca semua untuk berbagi kisah inspiratif penuh hikmah baik tentang cerita nyata diri sendiri atau pengalaman orang lain. Silakan kirim ke email: redaksi@nu.or.id

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kajian Sunnah, Hikmah, Aswaja IMNU Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

GP Ansor Malang Aktifkan Kader Melalui DKD

Malang, IMNU Tegal. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Malang telah melakukan Diklat Kepemimpinan Dasar di tiga PAC selama kurun waktu 2 bulan, yaitu Pimpinan Anak Cabang (PAC) Sumawe, PAC Kepanjen dan yang terbaru adalah PAC Pakis.

GP Ansor Malang Aktifkan Kader Melalui DKD (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Malang Aktifkan Kader Melalui DKD (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Malang Aktifkan Kader Melalui DKD

“DKD terakhir PAC Pakis dilaksanakan pada tanggal 2 November 2014 lalu,” kata Hasan Abadi, PC GP Ansor Kabupaten Malang, Senin (17/11).

Peran aktif dari peserta menjadi indikasi betapa antusiasnya para kader menjadi bagian dari Ansor untuk menjamin keberlanjutan organisasi NU dan keberlangsungan paham Ahlussunnah wal Jama’ah dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di Indonesia.

IMNU Tegal

Menurut Hasan, kegiatan DKD dilakukan untuk mewujudkan kaderisasi  yang dilakukan secara terarah, terencana, sistemik, terukur, terpadu, berjenjang dan berkelanjutan, yang dilakukan dengan tahapan dan metode tertentu.

DKD juga dimaksudkan untuk mewujudkan kader-kader muda GP Ansor untuk lebih berperan dalam masyarakat, serta meningkatkan kualitas dan potensi kader muda NU dengan memperkuat kapasitas, kompetensi, ketrampilan dan profesionalitas dalam bidang-bidang tertentu sesuai dengan kebutuhan diri.

IMNU Tegal

“Diklat Kepemimpinan Dasar ini akan dilakukan secara terus-menerus di 33 PAC yang ada di Kabupaten Malang.  Sehingga bisa menciptakan kader-kader NU yang berkompetensi,” kata Hasan. (Rizky Megawanto/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Aswaja, Sejarah IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock