Tampilkan postingan dengan label Anti Hoax. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anti Hoax. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Kemiskinan Kontekstual dan Tugas NU

Oleh Aswab Mahasin



Kemiskinan merupakan ancaman sosial dan bisa berefek pada keberagamaan manusia. Tidak sedikit manusia putus asa dan murka dikarenakan kondisi ekonominya carut marut. Walaupun dalam hal ini masalahnya adalah kualitas iman dan Islam seseorang. Sering kita dengar celoteh. “Shalat terus tidak kaya-kaya, sedangkan mereka tidak shalat menjadi kaya.” 

Kemiskinan Kontekstual dan Tugas NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemiskinan Kontekstual dan Tugas NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemiskinan Kontekstual dan Tugas NU

Sebenarnya, bukan masalah shalat atau tidak shalat lantas kemudian orang menjadi kaya, melainkan etos kerja, kreativitas, dan sejenisnya. Kalau kita kembalikan kepada hakikat penciptaan manusia, manusia telah difasilitasi kondisi alam yang kaya raya, dan manusia telah difasilitasi akal budi oleh Allah, dan Allah menyuruh kita untuk memaksimalkan potensi kreatif kita. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri.” 

Melihat data per Maret yang dilansir oleh banyak media, mengatakan, “Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Maret 2017 jumlah penduduk miskin, yakni penduduk dengan pengeluaran perkapita perbulan di bawah garis kemiskinan, di Indonesia mencapai 27,77 juta orang (10,64 persen dari jumlah total penduduk).” 

Lanjut menurt BPS, angka tersebut bertambah 690 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2016, sebesar 27,76 juta orang (10.70 persen). Secara presentase angka kemiskinan mengalami penurunan, tetapi jumlah angka tersebut mengalami kenaikan. Pertumbuhan penduduk yang naik tiap tahun menambah deretan jumlah penduduk Indonesia yang miskin.

Di samping itu, secara ekonomi, dikarenakan oleh tingkat penghasilan yang makin lemah, sedangkan harga-harga barang terus-menerus naik. Secara sosial, ditandai oleh lemahnya solidaritas sosial. Secara politik, ditandai oleh meluasnya konflik para elite politik, hanya mementingkan kekuasaan dan kepentingan partainya. Secara budaya, ditandai oleh kecenderungan kekuatan otot mengalahkan kekuatan nalar, sehingga nalar sebagai pusat mengalirnya kreativitas mengalami kekeringan. Secara hukum, ditandai oleh makin meluasnya masyarakat yang tidak taat aturan dan kebiasaan main hakim sendiri. Sedangkan, kemiskinan keagamaan munculnya gesekan, tindak kekerasan, dan pembunuhan “atas nama agama”. (Prof. Dr. Musya Asy’arie, Dialektika Agama untuk Pembebasan Spiritual, 2000, hlm. 65).

IMNU Tegal

Dari penjelasan di atas telah jelas, kemiskinan diakibatkan oleh banyak faktor—susah untuk diurai. Artinya, kemiskinan tidak mungkin disolusikan dengan satu pendekatan saja (ekonomi), melainkan harus menggunakan banyak pendekatan/berbagai aspek. Selagi Indonesia tidak kondusif, secara sosial, budaya, hukum, politik, dan agama—sepertinya “mimpi di siang bolong” mengurangi angka kemiskinan. 

Paling disayangkan adalah, ‘kemiskinan milenial’ (dialami oleh kalangan muda), terlahir dari keluarga tidak mampu dibarengi dengan tuntutan pergaulan hedonis, seringkali membuat mereka terjebak “gengsi sosial”. Akhirnya, jalan pintas menjadi caranya untuk menyelesaikan permasalahan gengsi. Tidak sedikit di antara anak sekolah tingkatan menengah atau mahasiswa/i, terjun ke “dunia gemerlap” demi mendapatkan uang (membeli gengsi). 

Ambil contoh, website yang baru saja diblokir pemerintah (nikahsirri[dot]com), baru satu hari dilaunching sudah banyak yang mendaftar, dan website itu menampung para wanita, yang putus sekolah/kuliah untuk dinikahkan sirri dengan para bos-bos berduit. Itu yang dinyatakan oleh pembuat website.  

Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits menyampaikan, “kada al-faqru an-yakuna kufran” (hampir-hampir kemiskinan menjadikan kekufuran). Penjelasan di atas adalah salah satu contoh, kemiskinan bisa menjerumuskan manusia pada lubang hitam. Tidak hanya itu, tidak sedikit fenomena sosial, seperti; pencurian, jambret, maling, kejahatan, dan sebagainya, di awali dari kemiskinan.

IMNU Tegal

Dalam konteks ini, seorang Muslim hakikatnya mempunyai keharusan berusaha terus-menerus agar mencapai tingkat kemampuan berlebih, memungkin mereka mampu menyempurnakan rukun-rukun Islam yang lima. Indonesia dengan mayoritas penduduknya adalah Muslim, suatu keharusan terus mencoba berpikir dan bertindak—melepas belenggu kemiskinan yang menjerat masyarakat Indonesia. Ini merupakan tantangan bagi komunitas Muslim di Indonesia sendiri. Bagaimana mereka melakukan sebuah instrumen dalam membantu saudaranya.

Seperti yang dikatakan oleh Hasan Hanafi dalam Al-Yasar al Islami (Kiri Islam), “bahwa kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertindasan umat Islam merupakan tantangan terbesar yang mesti dijawab”

Menurut Bachtiar Chamsyah, kemiskinan yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang memiliki dua dimensi, pertama, kemiskinan non-fisik, yang meliputi dimensi moral, etika, akhlak, dan mental—yang kemudian memperlemah daya saing sumber daya manusia Indonesia; kedua, kemiskinan fisik, yang lazim disebut kemiskinan ekonomi atau struktural. Jadi, krisis yang berwajah multidimensi di berbagai bidang kehidupan selama beberapa tahun belakangan ini semakin menutup jalan keluar bagi kemiskinan.

Meski persoalan penanggulangan kemiskinan cukup berat dan sulit. Bisa kita lihat, tidak sedikit usaha yang dilakukan oleh pemerintah, begitupun para tokoh dalam menggenjot potensi ekonomi rakyat. Namun, kita tidak boleh berhenti apalagi mundur. Minimal saling tolong menolong yang kita lakukan terhadap tetangga kita yang kurang mampu, menjadi bagian solusi pendek yang kita lakukan.

Bagi seorang Muslim, baiknya kita merenungkan pesan Nabi Muhammad SAW, melalui salah satu haditsnya ibda’ bi nafsika, mulailah dari diri kamu sendiri. Kita tidak harus menunggu pemerintah atau organisasi dalam menyelesaikan masalah ini, semua hal tersebut harus diawali dari kesadaran kita terhadap lingkungan sosial kita. Menurut Musya Asya’ari paling tidak, mulai dari jiwa kita untuk tidak miskin, karena jiwa yang miskin akan melahirkan tindakan yang miskin pula. 

Islam sebenarnya sudah mempunyai banyak cara untuk menanggulangi kesenjangan ekonomi, melalui zakat, sedekah, waris, dan sebagainya. Ajaran tersebut sebagai media berbagi untuk umat Islam terhadap kebanyakan manusia yang kekurangan. Selain itu, ajaran tersebut juga sebagai sarana mencegah penumpukan modal/harta dari tahun ke tahun/dari generasi ke generasi (sudah banyak konsep yang diterangkan oleh banyak pakar), karena di dalam harta kita ada hak orang lain. Nabi Muhammad SAW menegaskan, “yadu al-ulya khairun min-yadi al-sufla” (Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah).  

Kembali lagi dengan pernyataan, umat Islam di Indonesia jumlahnya begitu besar, sesungguhnya jika digali lebih dalam merupakan potensi ekonomi yang luar biasa, dan sudah waktunya kita tidak melulu menjadi konsumen, melainkan diusahakan menjadi produsen. Dan NU sebagai organisasi yang memiliki basis massa 80 juta lebih, harus terus menerus giat dan fokus menggenjot ekonomi rakyat. Minimal memberikan solusi dalam pengajaran pendidikan kewirausahaan dan penyaluran modal, sekaligus dengan pendampingannya. Terutama kemiskinan-kemiskinan konstekstual saat ini yang berwajah multidimensi dengan berbagai masalahnya. Kalau bukan NU, siapa lagi. 

Saya tutup dengan Firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 268, “Setan menjanjikan kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat jahat, sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampunan dari-Nya dan karunia (kekayaan dan balasan pahala. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya), lagi Maha Mengetahui.”





Penulis, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Anti Hoax, Aswaja IMNU Tegal

Senin, 26 Februari 2018

NU Jatim Jalin Kerja Sama dengan Malaysia

Surabaya, IMNU Tegal. Kunjungan sejumlah tokoh agama dari negara Jiran Malaysia ke Jawa Timur akan dioptimalkan untuk kegiatan penguatan kerjasama antar kedua pihak. Kegiatan yang diagendakan antara lain daurah Aswaja hingga pertukaran santri maupun mahasiswa serta dosen.

Penegasan ini disampaikan M Zunaidul Muhaimin di sela-sela mendampingi rombongan dari lembaga dan kampus yakni Universitas Tun Husain onn Malaysia (UTHM), Majlis Agama Johor, serta Institut Ahli Sunnah wal Jamaah kampus UTHM ke sejumlah pesantren di Jawa Timur.

NU Jatim Jalin Kerja Sama dengan Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jatim Jalin Kerja Sama dengan Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jatim Jalin Kerja Sama dengan Malaysia

"Ada 22 rombongan dari Malaysia yang mengikuti kunjungan ini," kata Wakil Direktur PW Aswaja NU Center Jawa Timur ini, Ahad (21/12). Jumlah ini lebih besar dari rencana semula yang hanya 16 orang.  Mereka mengunjungi sejumlah pesantren karena ingin mendapatkan informasi secara langsung dari para pimpinan dan pengelola pesantren.

IMNU Tegal

"Rombongan adalah utusan dari perguruan tinggi dan sejumlah lembaga di Malaysia," katanya. Jumat (20/12), rombongan dari Universitas Tun Husain onn Malaysia (UTHM), Majlis Agama Johor, serta Institut Ahli Sunnah wal Jamaah kampus UTHM diterima oleh pengurus NU Jatim di kantornya, Jalan Masjid al-Akbar Timur 9 Surabaya. Sejumlah kiai seperti KH Miftachul Akhyar (Rais), KH Abdul Matin (Wakil), KH Hasan Mutawakkil Alallah (Ketua), H Hamid Syarif, dan KH Jazuli Nur (Wakil) hadir saat penyambutan ini.

IMNU Tegal

Ustadz Muhaimin, sapaan akrabnya menandaskan bahwa dari kunjungan ini akan ditindaklanjuti dengan akan diselenggarakannya daurah Aswaja secara lebih intensif. "Juga akan dilakukan pertukaran pelajar atau santri hingga dosen demi pemantaban kerja sama tersebut," tandas kandidat doktor di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini. Dan semuanya akan dituangkan dalam nota kesepakatan yang ditandatangani bersama, lanjutnya.

Seperti diberitahukan sebelumnya, rombongan mengunjungi Pondok Pesantren Al-Fitroh Kedinding Surabaya. Hari kedua (hari ini) adalah berkunjung ke Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan. "Di Pesantren Sidogiri, para rombongan berkunjung lumayan lama sejak pagi hingga sore," kata dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) ini. Selama di Pasuruan, rombongan juga akan singgah di pesaren KH Hamid.

Keesokan harinya, rombongan melanjutkan kunjungan ke dua pesantren. "Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo dan terakhir di Pondok Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo," terang Muhaimin.

Dan pada hari Selasa (23/12), rombongan akan bergabung dalam seminar internasional yang diselenggarakan di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. "Mereka akan menceritakan pengalaman tantangan yang dihadapi serta peluang yang dapat ditindaklanjuti bersama," katanya.

Sedangkan hari Rabu, rombongan akan mengunjungi makam Syeikhona Kholil di Bangkalan, Sunan Ampel serta Taman Bungkul Surabaya.

Selama kunjungan, para akademisi dan ulama tersebut setidaknya ingin mendapatkan gambaran soal proses seleksi dan pendaftaran santri baru. "Selanjutnya juga akan diperdalam perihal proses belajar mengajar di masing-masing pesantren tersebut," katanya.

Kurikulum di masing-masing pesantren juga tidak luput dari perhatian rombongan. "Demikian juga pengawasan selama para santri mondok, juga penilaian yang dilakukan setiap pesantren terhadap para santri," ujarnya.

Sedangkan yang tidak kalah penting adalah pola distribusi dari setiap pesantren terhadap alumni yang dimiliki. "Tentu masing-masing pesantren memiliki model yang berbeda dalam pengelolaan dan distribusi para alumninya," pungkas Muhaimin.

Direktur PW Aswaja NU Center Jatim KH Abdurrahman Navis menandaskan bahwa kunjungan ini sebagai buah kerja sama yang intensif dengan sejumlah tokoh dan kampus di Malaysia. "Karenanya, kami berusaha menjadi tuan rumah yang baik dengan memberikan pelayanan kepada mereka," katanya.

Kiai Navis, sapaan akrabnya juga menandaskan dari kerja sama ini diharapkan akan ada tindaklanjut yang bisa dilakukan pada kesempatan berbeda. "Bisa dengan pesantren yang dituju, juga dengan Aswaja NU Center," kata Wakil Ketua PWNU Jatim ini. Sehingga kehadiran para ulama dan dosen dari kampus Malaysia tersebut bisa bermanfaat bagi syair agama dan kerja sama yang lain, pungkasnya. (Syaifullah/Mahbib)

Foto: Direktur Aswaja NU Center Jatim KH Abdurrahman Navis

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Anti Hoax, AlaNu IMNU Tegal

Sabtu, 24 Februari 2018

Agama, Rohingya, dan Masa Depan Kemanusiaan

Oleh Aswab Mahasin

Sebagai sistem kepercayaan, agama hanya mempunyai kapasitas mengajak. Ada dua pilihan ketika seseorang diajak oleh agama “mempercayai” atau “mengingkari”. Secara personal, tidak ada konsekuensi logis bagi mereka yang mengingkarinya, namun bagi mereka yang meyakininya (telah sukarela menjadi penganutnya), maka ada tuntunan yang harus dijaga dan disemarakan, khususnya esensi dari nilai-nilai agama itu sendiri. Agama tidak memuat unsur paksaan, melainkan agama memuat batasan-batasan nilai, norma, aturan, dan konsep sebagai realisasi keimanan seseorang.

Agama dalam catatan Karen Armstrong, “akhir abad ke-20, agama akan menjadi kekuatan yang harus dipertimbangkan. Dewasa ini, kita tengah dipertontonkan kebangkitan agama yang menyebar luas, padahal sebelumnya kisaran tahun 1950 dan 60-an oleh banyak orang, khususnya kaum sekuler cenderung menganggap agama sebagai takhayul primitif yang ditumbuh-kembangkan oleh manusia rasional dan beradab. Ada juga yang memprediksi kematian agama sudah di depan mata. Sedangkan prediksi terbaik pada saat itu, agama hanya akan menjadi aktifits privat dan marginal, yang tidak lagi dapat mempengaruhi peristiwa-peristiwa dunia.”

Agama, Rohingya, dan Masa Depan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Agama, Rohingya, dan Masa Depan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Agama, Rohingya, dan Masa Depan Kemanusiaan

Sekarang ini, kembangkitan agama dipertanyakan kembali, agama yang seharusnya konsisten mengusung misi perdamaian, terlihat lebih lihai menebarkan konflik. Walaupun jumlah antara kedamaian dan konflik, lebih dominan situasi damai. Hanya saja, ketika konflik meletus atas nama agama sulit untuk dilerai, pasti berkepanjangan, dan efeknya menyebar kemana-mana.

Munculnya penganut paham radikal atau biasa dikenal juga dengan fundamentalisme merupakan salah satu bagian penyulut api konflik tersebut. Karen Amstrong berpendapat fundamentalisme adalah suatu bentuk keimanan yang bersifat sangat politis, dan sebagian orang melihatnya sebagai bahaya yang mengancam dunia dan kedamaian sipil.

IMNU Tegal

Lanjutnya, fundamentalisme muncul ke permukaan di kebanyakan agama dan menjadi respon mendunia atas ketegangan kehidupan di akhir abad ke-20. Hindu radikal turun ke jalan-jalan untuk membela sistem kasta dan menentang Muslim India; kaum fundamentalisme Yahudi melakukan penghunian ilegal di Tepi barat dan Jalur Gaza serta bersumpah untuk mengusir semua orang Arab dari Tanah Suci mereka; Moral Majority yang dipimpin Jerry Falwell dan Chrsitian Right, yang menganggap Uni Soviet sebagai kerajaan setan, mencapai kekuatan yang hebat di Amerika Serikat selama tahun 1980-an. (Karen Armstrong: 2001). Selain itu, ada laskar ISIS yang mengusik kedamaian Aleppo.

Baru-baru inikonflik atas nama agama muncul kembali, belum habis berita Israel dan Palestina, menyusul gejolak yang sedang terjadi di Myanmar, di manaumat Islam Rohingya diberangus oleh kelompok Budha Ortodok (katanya). Ini adalah tragedi kemanusiaan yang “parah”. Namun, situasi yang terjadi sekarang di Myanmar kalau kita kaji secara mendalam, seperti yang di tuliskan dalam pernyataan GP Ansor di IMNU Tegal (judul berita: Ini Pernyataan Sikap GP Ansor Terkait Nasib Rohingya, Arakan, Rakhine, Myanmar) sangat menarik.

GP Ansor dalam pernyataannya, atas dasar laporan UN Office of the High Commissioner for Human Rights (OHCHR) – 2017peristiwa kemanusiaan keji di Myanmar semenjak tahun 2013, 2016, dan menguat di tahun 2017 syarat dengan konflik geopolitik, ada tiga hal yang saya garis bawahi;

IMNU Tegal

Pertama, konflik geopolitik di dasari atas pertarungan kuasa dan kekuasaan (yang tidak seimbang), di daerah Arakan-Rakhine, yang dihuni mayoritas etnis Rohingya, dengan dugaan kuat ada perebutan paksa tanah dan sumber daya, khususnya minyak dan gas (di wilayah-wilayah sekitar).

Kedua, daerah tersebut dilaporkan memiliki cadangan sebesar 1,774 triliun kaki kubik gas dan 1,569 Barel minyak, yang beberapa blok diantara jatuh tempo pada tahun 2017. GP Ansor menyatakan, fenomena minyak dan gas atau kutukan sumber daya, tidak hanya terjadi di Myanmar tetapi juga terjadi di belahan dunia yang lain. Di mana untuk menutup operasi apropriasi sumber daya. GP Ansor menyebutkan operator-operator di lapangan melakukan dengan cara menjijikan, dibungkus dengan konflik antar etnis, antar agama, antar kelompok masyarakat dengan tujuan agar akar masalahnya menjadi kabur.

Ketiga, Menurut GP Ansor saudara-saudara kita di Rohingya sudah menjadi sasaran khusus dengan operasi terselubung (covered operation) apropriasi kapital dan sumber daya secara biadab dan terencana menyasar praktik serta simbol agama. Membenturkan antar umat beragama termasuk dengan cara membakar al-Qur’an, pemerkosaan di Masjid, mempersenjatai dan memprovokasi warga untuk juga melakukan persekusi terhadap minoritas Rohingya.

GP Ansor juga mencermati, tragedi kemanusian ini karena situaasi dimana pemeluk agama mayoritas yang sebenarnya moderat memilih diam dan bukan membantu melawan saat terjadi persekusi terhadap kaum minoritas. GP Ansor dengan tegas menyatakan, Aung San Suu Kyi, sang penerima Nobel Perdamaian, hanyalah contoh paling memuakan dari diamnya mayoritas. (untuk lebih jelas, bisa membacanya langsung link di atas).

Di lihat dari analisis panjang tersebut, pembantain keji di Rohingya memang layak untuk dikutuk sebagai bentuk kebiadan sejarah umat manusia. Logikanya, kita tidak harus memakai agama untuk mengutuk ini, sisi kemanusiaan kita pun sudah tergugah, bahwa ini adalah tindakan yang sangat tidak manusiawi.?

Khusus mengenai peristiwa Rohingya tersebut, dalam menanggapi hal ini, mungkin yang paling bijak adalah mencoba menyaring seluruh berita, dan menganalisis sebenarnya apa yang terjadi di Rohingya, karena ini bukanlah perseteruan antar kampung. Siapa saja mungkin bisa ikut campur secara lapangan.?

Tentu kita tidak bisa diam, karena ini adalah peristiwa kemanusiaan paling parah di Asia Tenggara. Namun, untuk menyelesaikan masalah konflik, hubungannya bukanlah kirim militer dan kemudian berperang, melainkan ada pendekatan yang dilakukan antar negara, berdiplomasi, mengurai konflik, dan Indonesia dalam hal ini telah melakukan tindakan tersebut, bekerja sama dengan 11 Ormas, salah satunya Nadhlatul Ulama (NU) untuk membentuk aliansi kemanusiaan, dengan fokus pada bantuan kesehatan, makanan dan perlindungan. Sekarang telah akan mengglontorkan bantuan senilai 24 Miliar untuk warga Rakhine di Myanmar dan Ormas NU dan 11 Ormas lainnya melakukan pemberdayaan terhadap warga di Rakhine.

Dengan demikian, memanjatkan doa, dan terus mendukung serta memberi masukan terhadap pemerintah atas peristiwa ini adalah hal yang paling bijak, tidak lantas melampiaskan kemarahan kita, khususnya dilatarbelakangi sentimen keagamaan, dengan menggugat salah satu agama di Indonesia, karena dianggap sebagai agama tertuduh dalam konflik di Myanmar. Mari kita urai sekarng, bagaimana agama-agama dunia, khususnya Islam dalam menyikapi berbagai perbedaannya.

Agama dan sikap kemanusiaan

Berpijak dari hal-hal di atas, agama dalam praksisnya (oleh oknum-oknum tertentu), menjadi alat pertentangan yang strategis, ia dijadikan sebagai alat penindasan. Apalagi jika agama sudah bercampur dengan aktivitas politik arogan. Rumusannya begini, begitu agama diformalkan, baik dalam bentuk pelembagaan doktrin ataupun lainnya, dengan tujuan kepentingan-kepentingan kelompok, baik kepentingan “suara Tuhan” sebagai suara kekuasaan, maupun berbagai kepentingan lain yang memanfaatkan agama, maka agama tidak lagi murni sebagai gerakan persaudaran, perdamaian, dan keselarasan. Melainkan sebagai topeng surgawi semata.?

Pada tataran berhubungan dengan Tuhan, antar semua agama tidaklah ada pertentangan, apalagi konflik yang mengakar, wilayah keTuhan hanya melahirkan perdebatan teologis semata. Konflik terlahir dari mulut manusia yang mengatasnamakan sebagai pembela Tuhan demi keteraturan dunia. Akhirnya, dunia ini seakan-akan menjadi tunggal, kalau tidak sesuai dengannya maka akan salah. Lebih parah lagi, jika agama ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan duniawi. Seperti yang dikatakan Sidney Hook, perbedaan antar-agama tidak terletak pada “nilainya”, tetapi lebih pada “kosmologinya”.

Seperti halnya ilustrasi, memakan daging anjing bagi umat agama tertentu adalah haram, bagi satu umat agama lainnya hal yang biasa. Ini sama saja kita dengan membandingan antara satu merek mobil A dengan mobil B, yang jelas-jelas pabrikan dan buku panduannya berbeda. Itu bukanlah substansi yang harus kita perdebatkan, karena kebenaran esensinya antara mobil A dan mobil B, mempunyai tujuan yang sama, yakni “keselamatan dalam berkendara”. Artinya, yang kita cari adalah keamanan dan perdamaian.

Bukan berarti dalam hal ini kita menyamaratakan agama, melainkan sebagai pijakan paradigma kita dalam berpikir, untuk meminimalisir konflik. bahwa sesungguhnya Tuhan menghendaki perbedaan, seperti halnya apa yang pernah di tuliskan oleh Muhammad Afiq Zahara dalam opininya di IMNU Tegal (Terorisme Jihad), “Diversitas, kemajemukan dan kebhinekaan merupakan ketetapan dan fitrah kehidupan. Tuhan sendiri tidak menghendaki menciptakan umat yang satu”, seperti firmanNya (Q.S. Hud [11]: 118: “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.”

Komarudin Hidayat, dalam tulisannya “Agama-agama Besar Dunia: Masalah Perkembangan dan Interelasi”, menyatakan, “Suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah (truism) bahwa bumi ini hanya satu, sementara penghuninya terkotak-kotak ke dalam berbagai suku, ras, bangsa, profesi, kultural dan agama. Membayangkan bahwa dalam kehidupan ini hanya terdapat satu agama, rasanya hanya ilusi belaka.”

Untuk menjaga masa depan kemanusiaan, yang perlu ditanamkan adalah sebuah paradigma berpikir yang utuh mengenai sebuah ajaran, kita tidak bisa larut dalam pemahaman segregatif, di mana klaim kebenaran menjadi mutlak dalam setiap agama. Padahal, esensi dari beragama bukanlah mencari “kebenaran” untuk “menyalahkan”, melainkan kebenaran itu difungsikan sebagai jalan perdamain dan menebarkan kasih sayang. Karena ketika orang merasa benar, maka di situlah ia menjadi salah.?

Agama jika dipahami secara mendalam dan komperhensif akan melahirkan sifat humanis, toleran dan menghormati orang lain. Dengan demikian, yang dibangun tidak hanya pemahaman kemajemukan semata, melainkan pemahaman yang sesuai dengan konteks kekinian, tentu diambil dari ajaran agama yang utuh. Dalam Islam sendiri kita diajarkan oleh Allah sebuah penghormatan yang besar untuk menghormati yang lain dari kita, “tidak ada paksaan dalam beragama...”, “untukmulah agammu, dan untukkulah agamaku..”, “kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu: Maka barangsiapa yang ingin beriman hendaklah berimanlah”.

Di lihat dari penggalan pesan-pesan Allah SWT tersebut, Allah mengajarkan kepada kita bahwa prinsip beragama harus merupakan sebuah pilihan bukan paksaan. Karena dasar dari keimanan selain keTuhanan adalah kemanusiaan. Dan agama menolak kekerasan sebagai prinsip sebuah tindakan. Kekerasan merupakan tindakan amoral. Moralitas agama adalah kesadaran, kesalehan, yang selalu mendorong pemeluknya untuk akrab satu sama lain.?

Dan jangan dipahami keliru, pluralisme, saling menghormati dan berdampingan dengan agama lain, lantas kita mencampuradukan ajaran-ajaran agama tersebut, saya katakan, “tidak”. Karena tentu takarannya tidak akan sama. Pastinya adalah, keyakinan kita (keimanan) terhadap Allah SWT harus terus disemarakan untuk membangun sebuah sistem berketuhanan yang mampu menajawab persoalan-persoalan kemanusiaan. Agar masa depan kemanusiaan, yang dilatarbelakangi oleh misi agama yaitu perdamaian bisa terselenggara dengan baik.

Saya tutup tulisan ini dari perkataan seorang atheis, Friedrich Nietzche, “Hidup ini hanya masalah selera”. Agama adalah pilihan selera makan, tujuan makan adalah rasa kenyang, pepatah Jawa mengatakan, “Weteng ngelih pikiran ngalih, weteng wareg pikiran jejeg”. Jadi, beragama dengan memahami segala aspeknya—mutlak sebagai gizi kehidupan kita, sehat jasmani dan rohani.

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Anti Hoax IMNU Tegal

Kamis, 22 Februari 2018

PMII Jateng Instruksikan Pengawalan Penarikan Buku SKI

Semarang, IMNU Tegal. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Jawa Tengah menginstruksikan semua pengurus cabang PMII di Jawa Tengah untuk mengawal penarikan buku guru SKI Kelas VII MTs berbau sentimen Suku, Agama, Ras dan Antargolongan oleh Kemenag. Mereka melihat adanya upaya kelompok tertentu untuk menciptakan keresahan di tengah masyarakat.

PMII Jateng Instruksikan Pengawalan Penarikan Buku SKI (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Jateng Instruksikan Pengawalan Penarikan Buku SKI (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Jateng Instruksikan Pengawalan Penarikan Buku SKI

“Tampak sekali ada pihak-pihak tertentu secara sengaja dan terselubung menyebutkan ‘Berhala sekarang adalah kuburan para wali’,” kata Ketua PMII Jateng Ibnu Ngakil, Rabu (17/9) siang.

Ibnu Ngakil menyatakan pihaknya telah mengecek jangkauan edar buku berbau SARA ini. Menurutnya, pendistribusian buku ini sudah sampai ke tingkat madrasah di Jateng. Ia menyayangkan kejadian begini.

IMNU Tegal

Padahal para wali sangat berjasa menyebarkan agama Islam sekaligus mengembangkan peradaban masyarakat di zamannya.

IMNU Tegal

"Mereka adalah simbol penyebaran Islam rahmatan lil alamin di Indonesia," sambung Ibnu. (Mukhamad Zulfa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Anti Hoax IMNU Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

PW Ansor Jabar Siap Kembangkan Ekonomi Pemuda

Bandung, IMNU Tegal 



Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat sedang menyiapkan instrumen untuk mengembangkan potensi ekonomi untuk kalangan pemuda. Hal itu mengemuka pada l Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) PW Ansor Jawa Barat di Pondok Pesantren Cijaura, Kota Bandung, Ahad (21/1).

"Tiada pilihan lain kecuali para pemuda, khususnya kader GP Ansor untuk melek dalam mengembangkan perekonomian di wilayahnya masing-masing," ujar Ketua PW Aansor Jawa Barat, Deni Ahmad Haidar.

PW Ansor Jabar Siap Kembangkan Ekonomi Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)
PW Ansor Jabar Siap Kembangkan Ekonomi Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)

PW Ansor Jabar Siap Kembangkan Ekonomi Pemuda

Saat ini, kata Deni, PW GP Ansor Jawa Barat tengah menginventarisir berbagai potensi ekonomi agar bisa dikembangkan oleh anggota GP Ansor di seluruh Jawa Barat. 

"Untuk itu kita akan support dan fasilitasi agar potensi tersebut bisa kita raih dan jalankan sehingga kader-kader GP Ansor siap berdaya saing," ujarnya.

Selain itu, lanjut Deni, pengembangan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) juga akan menjadi perhatian serius dalam menyambut era persaingan global tersebut.

IMNU Tegal

"Saat ini beberapa kader GP Ansor di Jawa Barat sukses menjadi direktur utama di beberapa perusahaan milik daerah. Ini semata-mata tak lepas dari kapasitas SDM yang dimilikinya," tandasnya.

IMNU Tegal

Untuk itu, lanjut Deni, pihaknya akan terus mendorong kader-kader GP Ansor di Jawa Barat untuk merebut potensi - potensi ekonomi demi kesejahteraan ummat.

"Masalah pendidikan dan kemiskinan, ini persoalan serius. Kedepan tidak ada lagi kader-kader Ansor yang hanya tamatan SD dan SMP. Kader Ansor harus unggul di berbagai lintas sektoral," pungkasnya. (Ade Mahmudin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Anti Hoax, Quote, Nahdlatul Ulama IMNU Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

Cari Solusi, Mahasiswa-Pesantren se-Indonesia Silaturahmi di Madura

Sumenep, IMNU Tegal - Ratusan presiden mahasiswa (presma) berkumpul di Pesantren Al-Amien, Pragaan, Sumenep, Kamis-Sabtu (6-8/4). Mereka berasal dari pesantren seluruh Indonesia. Mereka juga mendiskusikan kelebihan dan kekurangan mereka di tempat masing-masing.

"Semua mahasiswa santri yang jadi presma dari kampus di bawah naungan pesantren se-Indonesia sengaja berkumpul di sini. Tujuannya, menguatkan solidaritas," ujar Khoirus Salim, Presma STIA Al-Falah yang terlibat aktif dalam pertemuan tersebut.

Cari Solusi, Mahasiswa-Pesantren se-Indonesia Silaturahmi di Madura (Sumber Gambar : Nu Online)
Cari Solusi, Mahasiswa-Pesantren se-Indonesia Silaturahmi di Madura (Sumber Gambar : Nu Online)

Cari Solusi, Mahasiswa-Pesantren se-Indonesia Silaturahmi di Madura

Acara ini diketengahkan guna mencuatkan kembali betapa pesantren merupakan gudangnya ilmu. Fakta tersebut sedikit banyak mulai pudar dalam keseharian pemuda.

"Kebanyakan pemuda bangga bila kuliah ke luar negeri. Padahal, pesantren adalah gudangnya ilmu. Kita komitmen untuk kembali mengkristalkan pemahaman tersebut," terangnya.

IMNU Tegal

Dalam acara tersebut, kelemahan dan kelebihan mahasiswa santri dari berbagai daerah didiskusikan. Semuanya diselaraskan dengan kearifan lokal masing-masing.

"Untuk kelemahannya, kita upayakan untuk meretas solusi. Sementara kelebihannya, kita perkuat dan syiarkan," tandasnya. (Hairul Anam/Alhafiz K)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Cerita, Anti Hoax IMNU Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Prodi KPI IPMAFA Pati Jalin Kerja Sama dengan Sejumlah Pakar Media

Pati, IMNU Tegal

Memantapkan langkah di era digital, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Institut Pesantren Mathaliul Falah (KPI IPMAFA) menjalin kerja sama dengan sejumlah pakar media untuk menyelenggarakan forum diskusi bertema ‘Kompetensi Dasar Komunikasi dan Penyiaran di Masa Depan’ yang merumuskan sejumlah pemikiran dan hubungan kerja sama dengan berbagai lembaga terkait.?

Prodi KPI IPMAFA Pati Jalin Kerja Sama dengan Sejumlah Pakar Media (Sumber Gambar : Nu Online)
Prodi KPI IPMAFA Pati Jalin Kerja Sama dengan Sejumlah Pakar Media (Sumber Gambar : Nu Online)

Prodi KPI IPMAFA Pati Jalin Kerja Sama dengan Sejumlah Pakar Media

Acara yang berlangsung Jumat (25/3) ini dihadiri oleh sejumlah praktisi dan pakar media seperti Hakim Jayli (TV9), Asep Cuwantoro (KPID Jawa Tengah), Muhammad Niam (Kepala SMK Multimedia Cordova), dan Luluk (PAS FM Pati).

?

"Forum ini adalah pemantik untuk membuka berbagai sumbangsih pemikiran mengenai tren era komunikasi digital pada 10 tahun mendatang," ungkap Rektor IPMAFA H Abdul Ghaffar Rozin saat memberikan sambutan.

?

IMNU Tegal

Ditegaskan kembali oleh Hakim Jayli, tren komunikasi dan penyiaran digital di era mendatang akan menawarkan banyak peluang sekaligus tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah keberagaman konten dan teknologi berbasis internet. Maka dibutuhkan kejelian untuk menangkap adanya peluang itu sekaligus kemampuan mengatasi berbagai hambatan yang ada.

IMNU Tegal

?

Pernyataan serupa juga dilontarkan oleh PAS FM Pati yang memandang, institusi pendidikan seperti KPI IPMAFA harus memulai untuk memberikan sumbangsih berupa karya-karya berbasis teknologi digital seperti pembuatan film dokumenter maupun fiksi, seni fotografi, maupun reportase radio. Namun, lebih ditekankan pada aspek local wisdom yang kini mulai terlupakan. Padahal secara geografis tiap daerah pasti memiliki kekhasan tersendiri. Tinggal bagaimana membuat kemasannya terasa menarik dan tepat sasaran.

?

Perihal konten berbasis local wisdom ini juga disoroti oleh Asep Cuwantoro selaku KPID Jawa Tengah. Menurutnya, aspek konten inilah yang harus diperkuat kembali. IPMAFA sebagai institusi perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan komunikasi dan penyiaran akan memiliki keunikan tersendiri jika mampu menghasilkan konten berkualitas yang berpatokan pada standar regulasi penyiaran dan tentu saja nilai-nilai moral pesantren.

?

Pada ranah praktis, banyak sekali tantangan yang harus dihadapi oleh perguruan tinggi maupun institusi pendidikan penyelenggara kegiatan pembelajaran komunikasi sejenis. Misalnya dari segi pembiayaan dan pengadaan alat-alat yang tentunya tidak murah. "Keterbatasan alat bisa disiasati dengan menjalin kerjasama dengan berbagai institusi," ungkap Muhammad Niam Kepala SMK Cordova.

?

Acara yang dimulai pukul 9:30 dan berakhir pada 15.30 WIB itu tidak hanya merumuskan gagasan ideal dan praksis untuk menghadapi tren komunikasi digital di masa depan, tetapi juga ditindaklanjuti dengan kesepakatan hubungan kerjasama antara IPMAFA dengan lembaga-lembaga yang hadir.

?

Menurut Arif Chasannudin, Sekretaris Program Studi Komunikasi dan Penyiaran IPMAFA, sumbangsih pemikiran dari para narasumber diskusi ini juga akan menjadi acuan ideal untuk merumuskan kurikulum perkuliahan komunikasi dan penyiaran berbasis nilainilai pesantren di masa depan. Ia juga menambahkan, tidak menutup kemungkinan KPI IPMAFA menjalin kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Islam Negeri (UIN), Universitas Gajah Mada (UGM), Undip Semarang dan penyelenggara pendidikan komunikasi lainnya. (Jamal Mamur/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Sejarah, Anti Hoax IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock