Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

RSI Siti Hajar Sidoarjo Sosialisasikan Bahaya Penyakit Diabetes

Sidoarjo, IMNU Tegal - Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo menggelar seminar bahaya penyakit diabetes, Sabtu (26/11). Seminar ini diadakan dalam rangka memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pentingnya hidup sehat.

Ketua Panitia Riza Ahmadi menjelaskan, acara yang bertajuk "Si Manis Berujung Kronis" ini digelar di ruang Darun Naim lantai 3 dengan tujuan agar penderita diabetes mengerti tentang penyakit tersebut.

RSI Siti Hajar Sidoarjo Sosialisasikan Bahaya Penyakit Diabetes (Sumber Gambar : Nu Online)
RSI Siti Hajar Sidoarjo Sosialisasikan Bahaya Penyakit Diabetes (Sumber Gambar : Nu Online)

RSI Siti Hajar Sidoarjo Sosialisasikan Bahaya Penyakit Diabetes

"Bagi masyarakat khususnya yang menderita diabetes supaya mengerti cara pencegahan dan asupan diet bagi penderita diabetes," kata Riza.

IMNU Tegal

Riza mengatakan, acara seminar ini rutin diadakan setiap empat bulan sekali dan temannya pun berbeda-beda. Selain seminar diabetes, RSI Siti Hajar juga sering mengadakan seminar kesehatan ibu hamil, kesehatan anak, dan lain sebagainya.

Dalam acara seminar diabetes kali ini, RSI Siti Hajar menghadirkan dua narasumber yang profesional dan kompetensi di bidangnya yakni spesialis penyakit dalam dr Atik Yuniani dan ahli gizi Rina Yuniati. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Habib, Kiai IMNU Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Umat Islam Harus Renungkan Esensi Khutbah Wada’ Rasulullah

Arafah, IMNU Tegal?



Jemaah telah melakukan perjalanan panjang menuju Baitullah. Para dhuyufurrahman (tamu Allah) telah datang dengan penuh keamanan dan keselamatan ke Baitullah. Kalian telah memenuhi panggilan Allah menuju Baitullah.

Demikian kutipan syair yang disampaikan Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel di Arafah, Kamis (31/08).

Umat Islam Harus Renungkan Esensi Khutbah Wada’ Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Umat Islam Harus Renungkan Esensi Khutbah Wada’ Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Umat Islam Harus Renungkan Esensi Khutbah Wada’ Rasulullah

"Di Arafah ini, 1428 tahun lalu, tepatnya 10 Hijriyah dan tepatnya di atas Jabal Rahmah, Nabi Muhammad memberikan khutbah yang lalu dikenal khutbatul wada’," ujar Dubes sebagaimana dilaporkan Kemenag.go.id.

Dikatakannya, isi khutbah tersebut sangat layak direnungkan. Di atas Jabal Rahmah, Nabi Muhammad di tanggal 9 Zulhijjah 10 H, memunculkan pernyataan dahsyat untuk kemanusiaan.

“Wahai manusia dengarkan perkataanku. Sesungguhnya saya tidak tahu kemungkinan saya tidak akan berjumpa dengan kalian setelah tahun ini di tempat ini selamanya.

IMNU Tegal

Wahai manusia, sungguh darahmu, hartamu, dan kehormatanmu adalah haram (tidak boleh mengalirkan darah seenaknya atas nama apapun, apalagi dengan pembajakan terhadap teks suci keagamaan sebagaimana terjadi akhir-akhir ini di negara konflik.)

Pesan Nabi, Islam sangat menghargai nyawa, harta dan harga diri. Sebagaimana kehormatan hari Arafah, bulan Zulhijjah di Kota Makkah yang suci ini," tuturnya.

Dari statemen Nabi itu, kata Dubes, bisa diambil kesimpulan bahwa pada haji wada’(perpisahan) adalah pesan perdamaian dunia. Kita menghargai orang lain, mempertegas Islam sebagai agama rahmat dan perdamaian untuk semua.

Menurutnya, statemen Menag dalam sambutannya di Arafah (bahwa menebarkan kedamain itu itu esensi ajaran Islam. Menjadi tugas muslim untuk senantiasa mewujudkannya di lingkungan masing-masing) merupakan pengharaman terhadap pengkoyakan nilai kemanusiaan.

IMNU Tegal

"Ini sebuah pesan yang mesti direnungkan hari ini," tutur Agus.

Dubes melanjutkan, Nabi menegaskan bahwa Islam adalah agama yang menghargai persamaan. Islam yang sangat menghargai persamaan.

Wahai manusia. Sungguh Tuhanmu satu. Dan sungguh bapakmu satu. Anda sekalian ada karena Adam dan Adam terbuat dari debu. Semulia kalian adalah orang yang paling takwa. Tidak ada kelebihan bangsa Arab dari bangsa lain kecuali dengan takwa.

"Khutbah Nabi 1428 tahun lalu menekankan prinsip persamaan antar umat manusia," terangnya.

Dari sabda Nabi di Arafah ini, lanjut Dubes, kita dapat simpulkan bahwa Nabi ingin kita mempertegas Islam sebagai agama yang cinta damai, agama persahabatan dan persaudaraan, agama yang sangat menghargai keadilan dan agama persamaan.

"Antara Saudi dan Indonesia sudah ada kerjasama yang berisi: 1. Mempertegas dan menyebarkan Islam yg tawaauth dan itidal. 2. Sepakat memerangi ekstrimisme dan kekerasan antar sekte, madzhab dan agama di dunia,".

"Berharap doa jemaah haji, agar misi diplomatik Dubes Saudi utk menebar kedamaian untuk semua manusia yang ada di bumi terwujud," ujarnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Sholawat, Aswaja, Kiai IMNU Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Lailatul Ijtima’ Simpul Kerekatan Warga Banyudono

Boyolali, IMNU Tegal. Kegiatan lailatul ijtima’ yang digelar rutin Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) kecamatan Banyudono kabupaten Boyolali, Jawa Tengah menjadi ajang silaturahim antarwarga NU. Lailatu ijtima’ juga menjadi wadah perekatan NU dengan masyarakat setempat.

“Kegiatan Lailatul Ijtima’ ini kita harapkan bisa menjadi ajang anjangsana dari satu desa ke desa. Sehingga, NU bisa dikenal di tiap desa,” terang Ketua MWCNU Banyudono Zainal Arifin di desa Surobayan Banyudono, Selasa (24/12).

Lailatul Ijtima’ Simpul Kerekatan Warga Banyudono (Sumber Gambar : Nu Online)
Lailatul Ijtima’ Simpul Kerekatan Warga Banyudono (Sumber Gambar : Nu Online)

Lailatul Ijtima’ Simpul Kerekatan Warga Banyudono

Menurutnya, silaturahim ini juga dapat menyinergikan program NU dan kepentingan masyarakat. Zainal menambahkan, lailatul ijtima’ dilanjutkan dengan program pembentukan ranting di tiap desa.

IMNU Tegal

Kesempatan itu juga diisi dengan kajian kitab Tafsir Showi yang disampaikan Rais Syuriah Banyudono KH Asikin.

IMNU Tegal

Kiai Asikin yang menerangkan kandungan surah al-Fatihah, menekankan pentingnya surah ini. “Diusahakan kita bisa membacanya dengan benar, sebab surah ini menjadi salah satu rukun dalam shalat,” tuturnya.

Dia menganjurkan warga NU untuk membenahi kemabli bacaan surah al-Fatihah. Penting untuk mereka kembali belajar kepada seorang guru yang memiliki ilmu tajwid. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kiai IMNU Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

Ini Pesan Kiai Said di Pernikahan Kahiyang dan Bobby

Jakarta, IMNU Tegal. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan pernikahan Kahiyang Ayu, putri Presiden Joko Widodo dan Muhammad Afif Bobby merupakan tanda Kekuasan Allah.

Ini Pesan Kiai Said di Pernikahan Kahiyang dan Bobby (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pesan Kiai Said di Pernikahan Kahiyang dan Bobby (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pesan Kiai Said di Pernikahan Kahiyang dan Bobby

“Pernikahan Ananda Kahiyang Ayu dan Muhammad Afif Bobby Nasution yang kita hadiri adalah salah satu tanda kebesaran dan keagungan allah,” kata Kiai Said saat memberikan tausiyah pernikahan di gedung Graha Saba Buana, Jl Letjen Suprapto, Surakarta, Rabu (8/11).

Pernikahan tersebut, lanjut Kiai Said juga sebagai bentuk adanay Islam Nusantara, karena menyatunya dua kebudayaan dan pelaksanaan pernikahan secara adat.

“Pernikahan selain menyatukan Mas Boby dan Kahiyang secara jasmani, juga pertemuan khuluq (akhlak), budaya, peradaban, dan kepribadian,” sambung Kiai Said.

Kiai Said mengingatkan, dalam pernikahan akan membangun rumah sebagai tempat tinggal atau  rumah tangga, yang orang Jawa menyebutnya omah-omah. 

IMNU Tegal

“Saya yakin Ananda Kahiyang dan Bobby menempati rumah yang bagus nyaman. Tapi itu tidak ada artinya kecuali kalau ada sakinah,” Kiai Said meneruskan.

IMNU Tegal

Sakinah tersebut terwujud dalam ketenangan di hati para penghuninya.

Terakhir, Kiai Said mengingatkan kedua mempelai agar saling menjaga dan melindungi.

“Istri adalah pakaian bagi istri. Artinya harus menutupi merahasiakan dengan rapat kekurangan suami. Begitu juga suami harus menutupi rahasia istrinya,” urai Kiai Said.

Ia mengatakan paling bahaya bila suami menceritakan kekurangan istrinya kepada orang lain apalagi orang lain itu perempuan. Demikian juga bila istri menceritakan kekurangan suaminya kepada orang lain, terlebih orang lain itu adalah laki-laki. 

“Itu adalah awal petaka dalam rumah tangga,” tegas Kiai Said.

Ia berpesan pernikahan tersebut melahirkan keturunan bermartabat, beradab, dan  berguna bagi bangsa dan agama dan dilimpahi rizki yang halal.

Pernikahan Kahiyang dan Bobby dihadiri sejumlah tokoh seperti Wakil Presiden Jusuf Kala, KH Maruf Amin, Gus Mus, Buya Syafii Maarif, Alisa Wahid. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Doa, Sunnah, Kiai IMNU Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Soal 1 Syawwal, Tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Minta Jamaahnya Ikut PBNU dan Pemerintah

Yogyakarta, IMNU Tegal - Mursyid Thariqah Naqsyabandiyah Kholidiyah Yogyakarta KH R Irfai Nachrawi Naqsyabadandy menyerukan jamaahnya yang tersebar di seluruh Indonesia untuk merayakan Idul Fitri 1438 H atau 2017 M sesuai dengan waktu yang ditetapkan pemerintah.

Demikian disampaikan KHR Irfai Nachrawi ini di hadapan sedikitnya 100 jamaah pada acara syuhbah, shalat malam, dan zikir malam ganjilan di Pondok Pesantren Qoshrul Arifin Plosokuning, Yogyakarta, Jumat (23/6).

Soal 1 Syawwal, Tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Minta Jamaahnya Ikut PBNU dan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal 1 Syawwal, Tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Minta Jamaahnya Ikut PBNU dan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal 1 Syawwal, Tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Minta Jamaahnya Ikut PBNU dan Pemerintah

Menurutnya, putusan NU dan pemerintah RI merupakan kesepakatan ulama dari berbagai unsur umat Islam dan pemerintah. Tentu semuanya didasari oleh ilmu yang mumpuni dari berbagai ahli ilmu sehingga bisa menentukan waktu tersebut. Selain itu juga meningkatkan pada cinta tanah air dan persatuan.

Menurut Abah (panggilan KH Irfai Nachrowi), kehadiran agama adalah untuk mengatur kehidupan pemeluknya lahir dan batin sehingga tercapai rasa aman dan tenteram dalam hidup ini. Diharapkan dengan itu memperoleh kebahagiaan dunia akhirat untuk mencapai surga dan ridha Allah hingga kehidupan setelah dunia ini. Begitu juga adanya peraturan, aturan, dan hukum adalah untuk mengatur kehidupan manusia baik secara individu maupun bermasyarakat dan bersosial.

IMNU Tegal

Kehadiran negara yang mempunyai berbagai aturan hukum yang berlaku dan harus ditegakkan, tidak lain untuk menjamin rasa aman nyaman dan tentram warga negaranya baik secara pribadi, kelompok, maupun secara lebih luas. Selama itu tidak bertentangan dengan syariat agama ataupun hukum dan aturan yang berlaku, maka harus didukung.

"Apalagi kita tahu sendiri negara Indonesia banyak berbagai suku agama, dan lain lain. Tanpa aturan pasti akan terjadi keributan yang tak kunjung selesai terutama SARA. Apalagi antargolongan, satu suku saja bisa ribut terus kalau tidak adanya aturan," kata Abah yang juga pengasuh Pondok Pesantren Kasepuhan Atas Angin Kabupaten Ciamis.

IMNU Tegal

Kegiatan syuhbah, shalat malam, dan zikir bersama merupakan kegiatan rutin jamaah Thariqah Naqsyabandiyah ini terutama pada malam malam ganjil setelah tanggal 15 Ramadhan atau pertengahan puasa. Selain di Yogyakarta, kegiatan ini juga dilakukan di berbagai zawiyah ataupun cabang dari perguruan ini yang tersebar di seluruh Indonesia terutama di Jawa, yaitu di Jakarta, Depok, Karawang, Semarang, Cilacap, Temanggung, dan daerah lain. Kegiatan ini dilakukan setelah ada arahan dan intruksi dari abah atau KH R irfai Nachrowi sebagai Mursyid Thariqahnya yang sekarang bermukim di Ciamis. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kiai IMNU Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Jihad dan Tawuran

Kalau sekadar memakai senjata tajam mulai dari ? parang, golok, anak panah, bambu runcing, senjata api, meriam dan sejenisnya, ini namanya bukan perang di jalan Allah, tetapi tawuran antardesa. Perang di jalan-Nya selain memerlukan itu semua, juga membutuhkan pikiran matang.

Perang di jalan Allah disebut jihad. Maksudnya perang akan disebut jihad sejauh praktik perang itu dimaksudkan untuk menegakkan agama Allah sebagai syiar. Perang seperti ini sangat dibutuhkan. Agama menganjurkan jihad. Karena, jihad merupakan ibadah.

Jihad dan Tawuran (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad dan Tawuran (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad dan Tawuran

Hanya saja seseorang yang maju ke medan perang memiliki pelbagai motif. Ada yang maju karena berani, jaga harga diri, atau karena riya. Lalu siapa di antara mereka yang masuk dalam kategori mujahid?

Ketika ditanya demikian, Rasulullah SAW menjawab dengan sabdanya seperti di bawah ini,

IMNU Tegal

Ù…Ù? قاتل لتكوÙ? كلمة الله Ù‡Ù? العلÙ? ا فهو فÙ? سبÙ? Ù„ الله

IMNU Tegal

“Siapa saja yang maju ke medan perang dengan niat agar agama Allah menjadi naik (syiar) maka ia telah berjuang di jalan Allah.”

Namun demikian, para ulama memberikan sejumlah catatan perihal peperangan, jihad, dan perjuangan di jalan Allah. Keputusan untuk perang di jalan Allah harus dilewati dengan sejumlah pertimbangan pikiran. Artinya ulama harus berkumpul terlebih dahulu untuk memutuskan bahwa umat Islam telah wajib untuk melakukan jihad di jalan Allah.

Salah satu contohnya ialah fatwa Resolusi Jihad NU pada November 1945. Fatwa Resolusi Jihad NU ini didasarkan pada pikiran matang ulama. Keputusan fatwa ini tidak didasarkan pada nafsu amarah.

Dalam kitab Dalilul Falihin (syarah Riyadlus Shalihin), M bin Alan Ash-shiddiqy menjelaskan hadis di atas sebagai berikut,

Ø£Ù? القتال فÙ? سبÙ? Ù„ الله قتال Ù…Ù? شؤه القوة العقلÙ? Ø© لا القوة الغضبÙ? Ø© أو الشهواÙ? Ù? Ø©

“Bahwa perang di jalan Allah adalah perang yang didasarkan pada kekuatan pikiran, bukan kekuatan amarah atau kekuatan nafsu.”

Dengan demikian umat Islam tidak boleh memutuskan sendiri perihal perang di jalan Allah. Mereka harus menunggu keputusan dan kebijaksanaan para kiai agar para kiai mengerahkan segala pikiran dan pertimbangannya atas kenyataan yang ada.

Selagi para kiai belum mengeluarkan fatwa jihad, umat Islam tidak boleh memutuskan bahwa dirinya akan maju ke medan perang. Karena, keputusannya didasarkan pada amarah dan nafsu belaka.

Kalau saja salah dalam mengambil keputusan, mereka justru mengamuk dan kalap di tengah masyarakat yang damai, seperti anak-anak yang sedang tawuran. Bukannya kalimat Allah (Islam) menjadi harum, mereka justru mencemarkan nama Islam dari dalam. Wallahu A‘lam. (Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kiai, Meme Islam, AlaSantri IMNU Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Spirit Rakyat dalam Perang 10 November 1945

Jakarta, IMNU Tegal. Kedasyatan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya tidak bisa dilepaskan dari Resolusi Jihad, Perintah Perang, yang dikeluarkan oleh Hadratush Syaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari pada Tanggal 22 Oktober 1945. Pernyataan Perintah Perang itu disampaikan oleh Kiai Haji Hasyim Asy’ari di depan Presiden Soekarno di Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, beberapa hari sebelum pecah Perang 10 November 1945.



Spirit Rakyat dalam Perang 10 November 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)
Spirit Rakyat dalam Perang 10 November 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)

Spirit Rakyat dalam Perang 10 November 1945

Ihwal pertemuan bersejarah itu diungkapkan oleh Ki Setyo Oetomo Darmadi, adik pahlawan PETA Soepriyadi, di Blok A, Jakarta, Ahad, 7 November 2010.

Menurut mantan anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang akrab dipanggil Ki Darmadi, Bung Karno menemui Kiai Haji Hasyim Asy’ari ditemani oleh Residen Jawa Timur Soedirman, ayah Kandung Mantan Gubernur Jawa Timur Basofi Soedirman. Dalam pertemuan bersejarah di Pondok Pesantren Tebu Ireng itu, kedua pemimpin tersebut membahas situasi politik terkait kedatangan Pasukan Sekutu dibawa Komando Inggris, yang membawa serta penjajah Belanda.

IMNU Tegal

“Kiai, dipundi (despundi, bhs Jawa: bagaimana: RED.), bahasa Bung Karno, Inggris datang niku(itu: Jawa), gimana umat Islam menyikapinya? “ tanya Presiden Soekarno kepada Rois Akbar NU, yang akrab dengan panggilan Mbah Hasyim.

Mendapat pertanyaan atas sikapnya dengan kedatangan pasukan Sekutu, yang berdalih mengambil alih kekuasaan dari Jepang, lawan Perang Dunia Kedua yang sudah dikalahkan, yang berarti juga menafikan Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945, Mbah Hasyim pun menjawab dengan tegas.

IMNU Tegal

Lho Bung, umat Islam jihad fisabilillah (berjuang di jalan Allah: RED.) untuk NKRI, ini Perintah Perang !” kata Rois Akbar Nahdlatul Ulama Hadratush Syaikh Kia Haji Hasyim Asy’ari, menjawab pertanyaan, sekaligus permintaan bantuan dari Presiden Soekarno dalam menghadapi ancaman pasukan Sekutu.

Pasukan AFNEI mulai mendarat di Jakarta pada Tanggal 29 September 1945 dibawa pimpinan Letnan Jenderal Sir Philip Christison. AFNEI berkekuatan 3 divisi: Divisi ke-23 dibawa Komando Mayor Jenderal D.C Hawthorn, menguasai daerah Jawa Barat; Divisi ke-5 dibawa Komando Mayor Jenderal E.C.Mansergh, menguasai daerah Jawa Timur; dan Divisi ke-26 dibawah Komando Mayor Jenderal H.M. Chambers, menguasai daerah Sumatera. Adapun Brigade ke-49 dibawa pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S.Mallaby yang mendarat di Surabaya merupakan bagian Divisi ke-23 pimpinan Mayjen D.C Hawthorn. Ketiga divisi itu bertugas mengambil alih kekuasaan Indonesia dari Jepang, yang berarti tidak mengakui Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Menurut Ki Darmadi, seruan jihad melawan pasukan sekutu yang dikeluarkan Kiai Haji Hasyim Asy’ari itulah yang dikenal sebagai Resolusi Jihad. “Lalu Kiai Hasyim Asy’ari meminta Bung Tomo supaya teriak Allahu Akbar untuk menggerakkan para pemuda. Jasa utama Bung Tomo itu karena diperintah Kiai Haji Hasyim Asy’ari jadi orator perang,” ungkap Ki Darmadi terkait ihwal munculnya pekik Allahu Akbar yang dikumandangkan Bung Tomo melaui radio-radio.

Terkait pertanyaan kenapa Bung Karno menemui Mbah Hasyim Asy’ari, adik Pahlawan Nasional Soepriyadi, yang lahir di Kediri pada 17 Maret 1930 silam ini menjawab, “Tujuannya supaya Kiai Hasyim Asy’ari yang memiliki pengaruh besar di kalangan umat Islam itu menggerakkan jihad. Lalu ada yang hendak mengenyampingkan, kenapa Bung Karno tidak ke BKR (TKR: RED)? Saya punya jawaban. Karena jauh sebelum itu, saat pasukan PETA terbentuk, semua komandan batalyonnya itu ulama. Dan yang punya pengaruh besar terhadap para ulama, dan santri itu kan Kiai Haji Hasyim Asy’ari,” terang Ki Darmadi.

Di antara para ulama yang memegang kendali komando terhadap pasukan PETA, salah satu cikal bakal BKR itu, adalah Panglima Divisi Suropati, Kiai Imam Sujai, Divisi Ranggalawe dengan Panglimanya Jatikusumo, wakilnya adalah Soedirman, ayah kandung Basofi Soedirman, mantan gubernur Jawa Timur. Termasuk di Jawa Barat, komandan resimennya seorang ulama yang berjuluk Singa Bekasi, Kiai Haji Noor Ali.

“Jadi pilihan Bung Karno menemui Kiai Hasyim Asy’ari itu sudah tepat, karena yang bisa menggerakkan umat Islam ya, Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Terbukti sebelum Inggris masuk seluruh komandan batalyon PETA itu ulama,” tandas Ki Darmadi.

Presiden Soekarno memang datang ke orang yang tepat, lanjut Ki Darmadi, dampak perangnya pun luar biasa, seperti digambarkan dalam buku berjudul : Api Neraka di Surabaya. “Pertempuran di Surabaya itu bagaikan neraka bagi pasukan Sekutu. Orang bisa mati-matian berperang, itu karena perintah jihad tadi,” terang Ki Darmadi.

Pelaku dan saksi sejarah lainnya, yaitu Tokoh dan sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) Kiai Haji Muchit Muzadi beberapa tahun lalu mengatakan, Hari Pahlawan 10 November itu tak bisa dilepaskan dengan Resolusi Jihad NU, yang dicetuskan para ulama di Bubutan, Surabaya pada 22 Oktober 1945.

“Proklamasi yang diucapkan Bung Karno dan Bung Hatta merupakan tantangan kepada tentara Sekutu yang saat itu berkuasa setelah Jepang menyerah,” kata Kiai yang akrab dipanggil dengan Mbah Muchit ini. Pernyataan salah seorang santri Hadratus Syaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari ini kian menegaskan, bahwa Deklarasi Resolusi Jihad 21-22 Oktober 1945 merupakan kelanjutan dari hasil pertemuan Bung Karno dengan Mbah Hasyim.

Segera setelah itu, ribuan kiai dan santri bergerak ke Surabaya. Pada Tanggal 28 Oktober 1945, pasukan sekutu dibawa Brigadir Jenderal Mallaby mengambil alih lapangan udara Morokrembangan, dan beberapa gedung penting kantora jawatan kereta api, pusat telepon dan telegraf, termasuk Rumah Sakit Darmo.

Pertempuran besar tak terhindarkan antara 6 ribu pasukan Inggris dengan 120 ribu pemuda Indonesia yang terdiri dari para santri, dan tentara. Akibat kalah jumlah Mallaby meminta bantuan Hawthorn agar pihak Indonesia menghetikan pertempuran. Hawthorn pun meminta Soekarno agar mau membujuk panglima-panglimanya di Surabaya menghentikan pertempuran. Terjepit pasukan sekutu itu digambarkan dalam buku Donnison “The Fighting Cock” sebagai “Narrowly escape complete destraction” alias hampir musnah seluruhnya”, kalau tidak dihentikan Soekarno – Hatta dan Amir Syarifuddin.

Jenderal Sekutu Tewas

Karena tidak mau belajar, dari kekalahan pertama, Brigjen Mallaby pun tewas dalam pertempuran yang pecah pada Tanggal, 30 Oktober 1945. Panglima AFNEI Letjen Philip Sir Christison pun mengirim pasukan Divisi ke-5 dibawa Komando Mayor Jenderal E.C.Mansergh, jenderal yang terkenal karena kemenangannya dalam Perang Dunia II di Afrika saat melawan Jenderal Rommel, jenderal legendaris tentara Nazi Jerman. Mansergh membawa 15 ribu tentara, dibantu 6 ribu personel brigade45 The Fighting Cock dengan persenjataan serba canggih, termasuk menggunakan tank Sherman, 25 ponders, 37 howitser, kapal Perang HMS Sussex dibantu 4 kapal perang destroyer, dan 12 kapal terbang jenis Mosquito.

Dengan mesin pembunuhnya itu, Mansergh mengultimatum rakyat Surabaya, untuk bertekuk lutut alias menyerah, yang berarti mengakui Indonesia belum merdeka.

”Ultimatum Sekutu itu pun tak digubris sehingga terjadilah pertempuran 10 November 1945 dengan korban yang tidak sedikit, bahkan para santri dari Kediri, Tuban, Pasuruan, Situbondo, dan sebagainya banyak yang menjadi mayat dengan dibawa gerbong KA,” kata Mbah Muchit.

Kiai Kelahiran Tuban Jatim pada 1925 itu menambahkan, semangat dan tekad untuk merdeka itu merupakan semangat yang dipupuk melalui Resolusi Jihad NU yang digagas para ulama NU di Jalan Bubutan, Surabaya.”Tapi, terus terang, semuanya itu tidak tercatat dalam sejarah, karena ulama NU itu memang tidak ingin menonjolkan diri, sebab mereka berbuat untuk bangsa dan negara demi ridlo dari Allah SWT, bukan untuk dicatat dalam sejarah,” katanya.

Dampak perlawanan itu sepertinya tidak pernah terpikir oleh pasukan Sekutu, yang mengultimatum, agar seluruh pemuda, dan pasukan bersenjata bertekuk lutut. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

“Kenapa bisa begitu? Karena sebenarnya yang fanatik melbu suwargo (Bhs Jawa: masuk surga: RED.) itu kan Islam, jadi sudah tidak mikir apa-apa lagi. Mana ada Jenderal Sekutu tewas dalam Perang Dunia Kedua, itu kan hanya terjadi di Surabaya, di Indonesia, dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby,” kata Ki Darmadi menandaskan.

David Welch menggambarkan dasyatnya pertempuran itu dalam bukunya, Birth of Indonesia (hal. 66),“Di pusat kota pertempuran adalah lebih dasyat, jalan-jalan diduduki satu per satu, dari satu pintu ke pintu lainnya. Mayat dari manusia, kuda-kuda, kucing-kucing serta anjing-anjing bergelimangan di selokan selokan. Gelas - gelas berpecahan, perabot rumah tangga, kawat-kawat telephon bergelantungan di jalan-jalan dan suara pertempuran menggema di tengah gedung-gedung kantor yang kosong. Perlawanan Indonesia berlangsung dalam dua tahap, pertama pengorbanan diri secara fanatik, dengan orang-orang yang hanya bersenjatakan pisau-pisau belati menyerang tank-tank Sherman, dan kemudian dengan cara yang lebih terorganisir dan lebih efektif, mengikuti dengan cermat buku-buku petunjuk militer Jepang”

Pertempuran berlangsung dengan ganas selama 3 minggu. Pada akhir bulan November 1945 seluruh kota telah jatuh ke tangan sekutu. Namun semangat perlawanan oleh para pejuang Indonesia yang masih hidup tak bisa dipadamkan. Para santri, dan tentara mengikuti ribuan pengungsi yang melarikan diri meninggalkan Surabaya dan kemudian mereka membuat garis pertahanan baru mulai dari Mojokerto di Barat hingga ke arah Sidoarjo di Timur. Beberapa versi menyebut, korban dari pihak Republik Indonesia mencapai 20 ribu, bahkan ada yang menyebut 30 ribu jiwa.

Pelaku dan Saksi Sejarah

Pertanyaan, kemudian muncul, bagaimana membuktikan bahwa peristiwa Pertemuan Bung Karno dengan Rais Akbar Kiai Haji Hasyim Asy’ari itu benar? Mendapat pertanyaan ini Ki Setyo Oetomo Darmadi, menjelaskan posisinya. Menurutnya, Inggris datang ke Surabaya itu jauh sebelum meletus Perang 10 November 1945.

“Setelah meletus Pemberontakan PETA yang dipimpin Soepriyadi, saya dan ayah saya sekeluarga ditahan oleh penjajah Jepang, setelah Proklamasi Kemerdekaan, yaitu pada Tanggal 25 Agustus kami sekelurga dibebaskan. Usia saya saat itu 15 tahun, lalu masuk BKR. Karena saya Adiknya Soepriyadi, saya bisa kenal sama kiai-kiai, di antaranya Pak ud (KH Jusuf Hasyim), Pak Baidlowi, lalu bapaknya Pak Rozi Munir, yaitu Pak Munasir. Dan kebetulan saya masih familinya Bung Karno, jadi saya tahu ada pertemuan Bung Karno dengan Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Hasil pertemuan itu juga disampaikan oleh Bung Karno kepada para anggota BKR,” ungkap Ki Darmadi menjawab, asal sumber kesaksian.

Seruan Resolusi Jihad yang disampaikan di depan Presiden Soekarno oleh Rois Akbar Kiai Haji Hasyim Asy’ari merupakan peristiwa sejarah yang terpendam, dan hanya menjadi sejarah lisan. Namun, peristiwa tersebut bukan isapan jempol. Saat penulis meneliti sejumlah arsip Kabinet Presiden di Arsip Nasional, Cilandak, Jakarta Tahun 2001, penulis menemukan indeks tentang Resolusi Jihad. Namun saat saya pesan untuk saya baca, ternyata bagian pelayanan arsip tersebut menyatakan arsip sudah kosong, alias hilang.(Abdullah Taruna)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Berita, Nasional, Kiai IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock