Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Maret 2018

Festival Hadrah MWCNU Bayat Diagendakan Setiap Tahun

Klaten, IMNU Tegal

Sabtu (16/12) pagi, Masjid Golo Komplek Makam Sunan Pandanaran terlihat ramai. Ibu-ibu, bapak-bapak, para remaja, serta anak-anak kompak menghadiri Festival Hadrah Kecamatan Bayat.

Begitu penampilan kelompok hadrah mulai beraksi, kemeriahan itu sekaligus berpadu dengan kekhusyukan hadirin, hingga suasana khidmat tersirat di sana.

Festival Hadrah MWCNU Bayat Diagendakan Setiap Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Festival Hadrah MWCNU Bayat Diagendakan Setiap Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Festival Hadrah MWCNU Bayat Diagendakan Setiap Tahun

Pada acara yang dimulai pukul 08.00 WIB itu, peserta setiap kelompok hadrah tidak dibatasi. Siapa pun boleh mengikuti acara ini dengan catatan tidak boleh merangkap menjadi anggota di grup lain.

Setiap peserta menampilkan dua lagu, yaitu wajib dan pilihan. Lagu wajib adalah Mars Syubanul Wathan, dan lagu pilihannya dibebaskan. 

Festival hadrah ini mendapat sambutan meriah, terbukti dengan banyaknya peserta yang mengikuti.

IMNU Tegal

"Alhamdulillah, ada 17 peserta yang mengikutinya. (Mereka) dari Bayat dan beberapa daerah di sekitarnya," jelas Ketua Panitia, Sunaryo.

IMNU Tegal

Setiap peserta menampilkan dua lagu, yaitu wajib dan pilihan. Lagu wajib adalah Mars Syubanul Wathan, dan lagu pilihannya dibebaskan. 

Diprakarsai MWCNU Bayat, didukung oleh GP Ansor Bayat, Muslimat NU Bayat, Fatayat NU Bayat, dan Pagar Nusa NU Bayat, festival diadakan untuk memeriahkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Dan memperkuat silaturahim, khususnya antar warga NU di Bayat,” kata Ketua Tanfidziyah MWC NU Bayat, Sagino.

Festival Hadrah Kecamatan Bayat direncanakan akan diselenggarakan setiap tahun. (Minardi Kusuma/Kendi Setiawan) 

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nusantara, Humor Islam IMNU Tegal

Rabu, 21 Februari 2018

SMK Walisongo Terapkan Program Double Degree

Jepara, IMNU Tegal. SMK Walisongo Pecangaan Jepara menerapkan sistem double degree untuk para peserta didiknya. Penerapan keahlian ganda ini berlaku untuk siswa kelas XII semester ganjil dengan program ekstra wajib. Setelah mengikuti program selama satu satu semester, mereka mengikuti uji kompetensi.

SMK Walisongo Terapkan Program Double Degree (Sumber Gambar : Nu Online)
SMK Walisongo Terapkan Program Double Degree (Sumber Gambar : Nu Online)

SMK Walisongo Terapkan Program Double Degree

Ekstra wajib untuk jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR) ialah Teknik Sepeda Motor (TSM). Sementara untuk jurusan Kriya Teksil (KT), Tata Busana (TB). Sedangkan bagi siswa jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), mereka mengambil ekstra wajib Rekayasa Perangkat Lunak (RPL).

Sebanyak 106 siswa akan mengikuti uji kompetensi tahun ini pada Senin-Rabu (12-14/5).

IMNU Tegal

Menurut Waka Kurikulum Ardana Himawan, ? program ini dilaksanakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. “Masyarakat biasanya tak mau tahu. Kalau jurusan kendaraan ringan dikiranya bisa paham tentang mobil dan motor. Padahal sejatinya TKR fokus di mobil. Maka dari itu, program double degree kami laksanakan mulai tahun 2013 kemarin,” jelasnya.

IMNU Tegal

Kepala SMK Walisongo Sutarwi Samsul Maarif menambahkan, pihaknya berharap program ganda itu memikat calon peserta didik baru. Program ini menjadi keistimewaan SMK Walisongo. Karena SMK lain belum tentu menjalankannya.

“Kelebihan program ini, siswa mendapat dua sertifikat. Jurusan TKR mendapat sertfikat dari Mitsubishi dan Honda. Jurusan KT dari Sanggar Batik dan Griya Anita dan TKJ dari APTI,” tambahnya. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nusantara, PonPes IMNU Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Fatayat NU Jateng Gelar Kontes Puteri Fatayat 2015

Solo, IMNU Tegal. Akhir pekan lalu (24/5), Pengurus Wilayah (PW) Fatayat NU Jawa Tengah menggelar acara kontes pemilihan ajang Puteri Fatayat NU wilayah Jawa Tengah yang bertempat di Gedung Asrama Haji Islamic Centre Manyaran, Semarang.

Dalam kesempatan tersebut, peserta dari perwakilan Fatayat Magelang, Aini Chabibah, berhasil mengalahkan para pesaingnya dan berhak untuk dinobatkan menjadi Puteri Fatayat NU Jawa Tengah tahun 2015.

Fatayat NU Jateng Gelar Kontes Puteri Fatayat 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Jateng Gelar Kontes Puteri Fatayat 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Jateng Gelar Kontes Puteri Fatayat 2015

Ketua Umum PW Fatayat NU Jawa Tengah Khizanaturrohmah menjelaskan, kegiatan Kontes Puteri Fatayat 2015 ini, masih menjadi rangkaian dari kegiatan Harlah Fatayat NU yang diperingati pada 24 April lalu.

IMNU Tegal

“Acara ini diikuti 60-an peserta dari 35 pengurus cabang Fatayat se-Jawa Tengah. Seleksi peserta sudah dilaksanakan sejak bulan April. Dari jumlah tersebut kemudian dipilih 25 finalis yang tampil dalam acara final pemilihan Puteri Fatayat NU,” terang Khizanaturrohmah, saat ditemui IMNU Tegal di Solo belum lama ini.

IMNU Tegal

Ditambahkan dia, pihak panitia juga membuka kesempatan bagi para wanita di luar Fatayat yang ingin mengikuti kegiatan ini. “Tujuan kita, juga untuk mengenalkan Fatayat NU kepada masyarakat, agar mereka juga tertarik untuk masuk Fatayat,” ujar dia.

Meski demikian, lanjut Khiz, para peserta yang mengikuti kegiatan ini mesti memiliki beberapa kriteria. Kriteria tersebut antara lain brain, beauty, religius, dan berakhlakul karimah. “Yang tidak kalah penting mereka juga mesti menguasai materi Aswaja,” imbuhnya.

Selain kegiatan pemilihan Puteri Fatayat NU 2015 ini, Fatayat Jateng juga menggelar berbagai event kegiatan “Festival Budaya Islami 2015” yang berupa ? fashion show, seminar beauty class, focus group discussion, dan festival hadroh. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nusantara, AlaNu IMNU Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Kemendes Kembangkan Konsep Transmigrasi Nelayan dan Penyangga

Jakarta, IMNU Tegal. Sejak zaman orde baru, konsep transmigrasi identik dengan pola agraris, konsep pertanian dan perkebunan pun lebih banyak dikembangkan di beberapa kawasan transmigrasi. Namun, di era pemerintahan saat ini dengan visi ke maritimannya, juga mulai menggarap pola transmigrasi dengan konsep nelayan.

Kemendes Kembangkan Konsep Transmigrasi Nelayan dan Penyangga (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemendes Kembangkan Konsep Transmigrasi Nelayan dan Penyangga (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemendes Kembangkan Konsep Transmigrasi Nelayan dan Penyangga

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Marwan Jafar menjelaskan bahwa kawasan pantai potensial untuk pengembangan pola nelayan tangkap ikan dan budidaya. Oleh karena itu, kawasan tersebut akan dikembangkan menjadi kawasan pemukiman dengan konsep nelayan.

"Berbeda dengan kawasan transmigrasi lain yang mayoritas mengembangkan konsep pertanian dan perkebunan," ujar ? Marwan, di Jakarta, Selasa (21/6).

Salah satu kawasan yang coba ingin dikembangkan menjadi kawasan transmigrasi dengan konsep nelayan, salah satunya adalah kawasan Paguyaman Pantai Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo menjadi salah satu prioritas pembangunan transmigrasi tahun ini.?

IMNU Tegal

Berdasarkan studi Rencana Teknis Satuan Pemukiman Transmigrasi (RTSP), imbuh Marwan, kawasan tersebut potensial untuk 1000 KK (Kepala Keluarga). Oleh karen itu, ? Kemendesa PDTT di Tahun 2015 telah membangun 100 unit rumah transmigran dan telah ditempatkan transmigrasn sebanyak 65 KK (225) jiwa.

"Sisa rumah yang belum ditempati akan segera dipenuhi pada tahun 2016. Transmigran yang akan ditempatkan adalah transmigran dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat," ujarnya.

Untuk tahun ini, Marwan menjelaskan akan membangun 75 unit rumah dan akan menempatkan transmigran sebanyak 75 KK. Transmigran tersebut meliputi Transmigran Penduduk Asal (TPA) dan Transmigran Penduduk Setempat (TPS). Selain transmigrasi dengan konsep nelayan, Marwan juga akan menerapkan pola transmigrasi lokal yang menempatkan para transmigran tidak jauh dari perkotaan.

"Konsep yang berbeda juga akan diterapkan di Pulubala Kabupaten Gorontalo, yang mengembangkan konsepsi keterkaitan desa-kota. Pulubala adalah lokasi transmigrasi yang dibangun berdekatan dengan ibukota kabupaten Gorontalo, yang memiliki akses cukup baik dengan jarak kurang lebih 20 Kilometer dari Ibukota," tandasnya.

IMNU Tegal

Dengan konsep ini, diharapkan kawasan transmigran bisa menjadi hinterland kota, yang berfungsi sebagai buffer (penyangga) untuk mensuplai kebutuhan konsumsi pangan perkotaan. "Pulubala di Tahun 2015, telah dibangun hunian transmigrasi sebanyak 150 unit rumah, dan diimplementasikan transmigran sebanyak 90 KK (360 jiwa). Rumah kosong sebanyak 60 unit, akan diberikan kepada transmigran dari daerah asal yakni Provinsi Lampung, Banten, DIY dan Jawa Timur. Sedangkan Tahun 2016, akan dibangun 25 unit rumah transmigran yang merupakan pemenuh sisa daya tamping, dan saat ini dalam tahap konstruksi," ujarnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nusantara, Tokoh IMNU Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Mahasiswa Jadi Ekstrimis karena Wawasan Keagamaan yang Minim

Pati, IMNU Tegal. Mahasiswa bukanlah kelompok pemuda dan akademisi intelektual yang memiliki nalar kritis saja. Mahasiswa idealnya juga bukan mereka dengan wawasan keagamaan yang minim sehingga menunjukkan sikap dan tindakan yang ekstrim. Mahasiswa merupakan generasi produktif yang mampu memberikan kemaslahatan pada negara dan umat manusia.

Mahasiswa Jadi Ekstrimis karena Wawasan Keagamaan yang Minim (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Jadi Ekstrimis karena Wawasan Keagamaan yang Minim (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Jadi Ekstrimis karena Wawasan Keagamaan yang Minim

Demikianlah gelora semangat yang diorasikan Ketua Umum Jamiyyah Mahasiswa Ahli Thariqah Mutabarah An Nahdliyah (MATAN), KH Hamdani Muin dalam halaqah santri Mahad Jamiah Institut Pesantren Mathaliul Falah (IPMAFA) Pati, Senin (2/5). Halaqah tersebut dihadiri para santri mahad, mahasiswa, dosen Ipmafa dan sejumlah mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Hamdani diundang dalam rangka memperkuat khasanah nilai-nilai pesantren berbasis tashawuf pada para mahasiswa dan santri Ipmafa. Pengasuh Mahad Jamiah, KH Umar Farouq, dalam sambutannya menyampaikan bahwa KH M.A. Sahal Mahfudz termasuk salah satu ahli thariqah yang alim. Sehingga sudah sepantasnya nilai-nilai tasawuf yang suci dimiliki para santri dan mahasiswa Ipmafa.

Sementara Dimyati, Wakil Rektor I Ipmafa menegaskan bahwa pemahaman tentang thariqah mengalami stagnasi jika dipadang dari sudut orientalis yang melihat bahwa thariqah menjauh dari kehidupan dunia. Padahal dalam Islam, thariqah diumpamakan sebagai jalan atau proses menuju tujuan yang hakiki.

Hamdani mengawali paparannya dengan mengisahkan sejarah berdirinya MATAN yang melalui proses cukup serius. Matan berdiri karena mendapat amanat langsung dari Rais Aam Jamiyyah Ahli Thariqah Al-Mutabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya. Pada tahun 2012 MATAN resmi didirikan oleh KH Habib Lutfi. Salah satu tujuan MATAN agar para pemuda Muslim memiliki sinergitas antara intelektualitas dan spiritualitas.

IMNU Tegal

Melalui thariqah MATAN, akan bermunculan kader-kader dai yang dapat membangkitkan dunia Islam dan perdamaian dunia. Karena dalam thariqah, pendekatan yang dipakai adalah mahabbah atau cintakasih. "Jika tarekat bangkit, itu artinya adalah kebangkitan Islam dunia. Perdamaian dunia dapat diraih dengan penerapan nilai tashawuf yang berlandaskan mahabbah. Cinta adalah memberi dan berkorban. Sedangkan tanpa tashawuf paradigmanya adalah kepemilikan,” papar KH Hamdani.

Lebih lanjut, Hamdani menegaskan bahwa berthariqah bukan untuk menikmati kepuasan spiritualitas. Beberapa prinsip yang harus dilakukan seorang dalam berthariqah adalah tafaqquh fiddin atau pendalaman ilmu agama sekaligus ilmu sains. Dengan demikian akan muncul mursyid-mursyid yang ahli dalam bidang keilmuannya.?

Hal itu dapat dicontoh dari Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani yang merupakan ahli geologi dan banyak ulama lainnya. Kewajiban lain dalam thariqah adalah mulazamatul adzkar, atau wiridan agar hubungan antara hamba dan Allah Sang Rabb selalu terjaga dengan baik.

IMNU Tegal

Dalam thariqah ini terdapat tiga tahapan yang akan dilalui seorang salik (pelaku thariqah) meliputi adab yakni mengikuti akhlak Rasulullah dengan menyucikan hati dan jiwa, kemudian iltizamut thoah yakni selalu siap dalam ketaatan, dan terakhir al-wushul ilallah atau meraih kenikmatan hakikat karena sampai dalam perlindungan Allah SWT. (Isyrokh Fuaidi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Berita, Meme Islam, Nusantara IMNU Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Kiai Abbas Buntet: Kiai Sufi Pejuang Negeri

Salah satu kiai yang menjadi pejuang pada masa revolusi ialah Kiai Abbas bin Abdul Jamil, Buntet Cirebon. Kiai Abbas merupakan kiai kharismatik, yang dikenal karena pengetahuan keislaman, keteduhan spiritual dan kekuatan ilmu kanuragan yang menjadikan beliau sebagai rujukan dalam perang kemerdekaan. Kiai Abbas, dikenal sebagai Angkatan Udara Nahdlatul Ulama, yang menghancurkan beberapa pesawat tempur tentara NICA, dalam perang kemerdekaan di Surabaya, November 1945. Uniknya, Kiai Abbas menggunakan bakiak, tasbih dan butiran pasir sebagai senjata untuk merontokkan pesawat tempur musuh. Bagaimana kisahnya?

Kiai Abbas merupakan putra sulung dari Kiai Abdul Jamil, pengasuh pesantren Buntet, Cirebon. Beliau lahir pada 24 Dzulhijjah 1300 H/1879 M, di Cirebon, Jawa Barat. Pada masa kecilnya, Kiai Abbas belajar mengaji dengan Kiai Nasuha Plered Cirebon dan Kiai Hasan, Jatisari. Setelah itu, Abbas kecil berkelana untuk mengaji ke Tegal, di bawah asuhan Kiai Ubaedah. Setelah itu, menuju Jombang, Jawa Timur untuk mengaji kepada Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari.

Pada kisaran tahun 1900an, Kiai Abbas datang untuk belajar ke pesantren Tebu Ireng, Jombang. Beliau datang bersama saudaranya, yakni Kiai Sholeh Zamzam, Kiai Abdullah Pengurangan, dan Kiai Syamsuri Wanatar. Pada waktu itu, pesantren Tebu Ireng masih sering diganggu oleh musuh, yakni berandal-berandal lokal di sekitar Pabrik Gula Cukir. Bersama santri-santri lainnya, Kiai Abbas membantu Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari melawan bandit lokal yang mengganggu pesantren. Akhirnya, para berandal lokal dan bandit-bandit kecil kalah dalam adu ilmu kanuragan (Masyamul Huda, 2014). PesantrenTebu Ireng menjadi aman, serta jadi rujukan santri untuk mengaji.

Kiai Abbas Buntet: Kiai Sufi Pejuang Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Abbas Buntet: Kiai Sufi Pejuang Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Abbas Buntet: Kiai Sufi Pejuang Negeri

Ketika belajar di pesantren, bakat sebagai pemimpin, ahli ilmu, ahli strategi dan watak periang sudah terlihat dalam diri Kiai Abbas. Beliau berkawan karib dengan Kiai Wahab Chasbullah, putra Kiai Chasbullah Said, Tambakberas, Jombang. Setelah melalang buana di pesantren Jawa, Kiai Abbas kemudian menikah dan berangkat haji ke tanah suci. Di tanah Arab, Kiai Abbas bertemu dengan banyak kawan asal Nusantara yang belajar di Hijaz. Ia banyak diskusi dengan mereka, untuk memperdalam pengetahuan agama dan wawasan global.

Kemudian, Kiai Abbas pulang sebentar ke tanah air, dan kembali lagi ke tanah suci untuk belajar. Di Makkah, Kiai Abbas menjadi santri Syekh Ahmad Zubaidi. Kiai Abbas juga belajar kepada Syekh Mahfudh at-Termasi dan Syaikh Chatib al-Minangkabawi. Di tanah suci, Kiai Abbas dengan tekun belajar, diskusi dan menggelar pelbagai majlis ilmu bersama kawan-kawannya. Pada usia 40 tahun, Kiai Abbas mendapatkan tugas sebagai pengajar.

Mengembangkan Pesantren Buntet

IMNU Tegal

Sekembali ke tanah air, Kiai Abbas kemudian mengembangkan pesantren Buntet, yang menjadi peninggalan ayahandanya. Di bawah asuhan Kiain Abbas, pesantren Buntet menjadi ramai oleh santri dan terkenal sebagai salah satu rujukan dalam mengaji serta memperdalam ilmu Islam. Bagi Kiai Abbas, siapa saja boleh datang untuk mengaji di pesantren, untuk belajar berbagai macam ilmu. Pengetahuan dan wawasan yang diperoleh Kiai Abbas ketika belajar di pesantren dan mengaji di tanah suci, digunakan untuk menguatkan model pendidikan pesantren Buntet. Di pesantren ini, pada masa Kiai Abbas, bermacam ilmu diajarkan, dari ilmu al-Qur’an, ilmu Qiroat, Hadist, Tauhid hingga kanuragan menjadi bagian dari tradisi pembelajaran santri.

Kiai Abbas, selain mengasuh santri, juga menjadi _mursyid_ tarekat Syattariyah dan _muqoddam_ tarekat Tijaniyyah. Dalam catatan Muhaimin AG, Kiai Abbas termasuk sosok kiai dengan pikiran yang terbuka. Ketika beberapa Kiai menolak tarekat Tijaniyyah, Kiai Abbas menerima sebagai salah satu alternatif dalam laku batin. Di Cirebon, dalam perkembangannya, tarekat Tijaniyah berkembang, dengan Kiai Abbas dan Kiai Annas sebagai muqoddamnya. Kiai Annas kemudian melahirkan beberapa kiai yang menjadi penerus muqoddam dalam praktik tarekat Tijaniyyah: Kiai Muhammad (Brebes), Kiai Bakri (Kasepuhan, Cirebon), Kiai Muhammad Rais (Cirebon), Kiai Murtadho (Buntet), Kiai Abdul Khair, Kiai Hawi (Buntet), serta Kiai Soleh (Pesawahan). Sedangkan, Kiai Abbas mencetak beberapa penerus dalam tarekat ini, yakni: Kiai Badruzzaman (Garut), Kiai Ustman Dlomiri (Cimahi, Bandung), serta Kiai Saleh dan Kiai Hawi (Buntet) (Muhaimin, 2006: 264).

Kiai Abbas menjadikan pesantren Buntet sebagai rujukan santri. Beliau menambah staf pengajar untuk mengakomodasi kebutuhan santri-santri dalam belajar berbagai macam ilmu. Kiai Abbas juga mendirikan madrasah yang dipadukan dengan pendidikan sekolah. Madrasah inilah yang dinamakan Abna’oel Wathan, yang menegaskan visi perjuangan Kiai Abbas dalam membangun fondasi negara.

IMNU Tegal

Pejuang Revolusi

Kiai Abbas Buntet merupakan murid dari ulama Nusantara yang menjadi penyambung sanad para kiai: Kiai Nawawi al Bantani dan Syech Mahfudh at-Tirmasi. Selain Kiai Nawawi, ada beberapa murid lain yang juga menjadi kiai-kiai penting di Jawa, sebagai jaringan penggerak Nahdlatul Ulama. Di antaranya: Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muhammad Bakri bin Nur, Kiai Asnawi Kudus, Kiai Muammar bin Baidlawi Lasem, Kiai Ma’shum bin Muhammad Lasem, Haji Ilyas (Serang), Tubagus Muhammad Asnawi dan Abdul Ghaffar dari Caringin (Burhanuddin, 116).

Kiai Abbas, adalah sosok pejuang yang mencintai tanah air, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau menggembleng santri agar semangat memperjuangkan agama dan negara. Bahkan, pesantren Buntet juga menjadi markas latihan laskar Hizbullah, Sabilillah, dan pasukan PETA. Kiai Abbas juga membentuk dua regu laskar santri, yang dinamakan Asybal dan Athfal.

Dikisahkan, dalam pertempuran 10 November 1945, Kiai Abbas menggenggam pasir yang ditaburkan ke arah musuh. Aksi ini membuat musuh kocar-kacir, karena seakan-akan pasir yang ditaburkan menjadi meriam dan bom yang menghancurkan.

Sebelum pertempuran ini, Kiai Abbas juga ikut andil dalam keputusan Resolusi Jihad, yang merupakan keputusan para Kiai dalam rapat Nahdlatul Ulama di Bubutan, Surabaya, pada 21-22 Oktober 1945. Beberapa kiai, di antaranya Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri, Kiai Abbas Buntet, Kiai Wahid Hasyim, dan beberapa kiai lainnya berkumpul dalam sebuah majlis untuk membahas penyerbuan tentara NICA (_Netherlands Indies Civil Administration_). Fatwa Jihad yang digelorakan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari akhirnya menjadi catatan sejarah, sebagi pengobar semangat kaum santri untuk berjuang mempetahankan negeri.

Pada pertempuran 10 November 1945, Kiai Abbas ikut membaur dengan pejuang dari kalangan Kiai yang berpusat di Markas Ulama, di rumah Kiai Yasin Blauran Surabaya. Di rumah ini, para kiai berkumpul untuk merancang strategi, menyusun komando serta memberikan suwuk/doa kepada para santri pejuang yang bertempur melawan penjajah (Amin, 2008: 72)

Setelah masa perjuangan kemerdekaan, Kiai Abbas mendapat amanah sebagai anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat)—yang kedudukannya sebagai DPR sementara. Kiai Abbas mewakili area Jawa Barat, dalam kedudukannya sebagai anggota KNIP.

Kiai Abbas dikenal sebagai kiai yang memiliki ilmu kedigdayaan yang tinggi pada masa hidupnya. Beliau tak hanya berilmu agama mendalam, namun juga dikenal digdaya dan ampuh. Kemampuan Kiai Abbas dalam bidang _psychokinesys_—yang berangkat dari Cirebon menuju Surabaya dalam sekejap hentakan kaki, merupakan karomah yang diberikan Allah kepada beliau (Amin, 2008: 72). Inilah potret Kiai Abbas yang berjuang dengan ikhlas dan rela untuk menjaga negeri dari tangan penjajah. Sudah selayaknya, perjuangan Kiai Abbas menjadi referensi pewaris negeri, sebagai pahlawan dari kaum santri.

Munawir Aziz, Koordinator Teraju Indonesia, Wakil Sekretaris LTN PBNU, (@MunawirAziz)

Referensi:

Abdul Ghoffir Muhaimin, The Islamic Tradition of Cirebon: Ibadat and Adat among Javanese Muslim, Canberra: ANU Press, 2006.

_____________________________. Pesantren and Tarekat in the Modern Era: An Account of the Transmission of Traditional Islam in Java, Jakarta, Studia Islamika, 1997.

Abdul Wahid, Peranan Pondok Pesantren Buntet Cirebon bagi Kemajuan Lingkungan Pendidikan di Lingkungan Sekitar 1958-2009, Universitas Negeri Semarang, 2012.

Hasan AZ, Perlawanan dari Tanah Pengasingan: Kiai Abbas, Pesantren Buntet dan Bela Negara, Yogyakarta: LKIS. 2014.

Jajat Burhanuddin, Ulama dan Kekuasaan: Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia, Jakarta: Mizan, 2012.

Samsul Munir Amin, Karomah Para Kiai, Yogyakarta: LKIS. 2008.

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tegal, Nusantara IMNU Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

PMII Cianjur Nilai KPUD Gagal

Cianjur, IMNU Tegal. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Pemilu Kabupaten Cianjur menilai proses Pemilihan Anggota Legislatif 9 April 2014 yang digelar Komisi Pemilihan Umum Daerah Kabupaten Cianjur tidak berjalan mulus.

PMII Cianjur Nilai KPUD Gagal (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Cianjur Nilai KPUD Gagal (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Cianjur Nilai KPUD Gagal

Ketua Umum PMII Kabupaten Cianjur Ayi Sopwanul Umam menyebutkan, pihaknya menemukan kertas suara dan Daftar Calon Tetap (DCT) yang tertukar di setiap daerah pemilihan (dapil).

“Kertas Suara yang seharusnya di dapil 1 Tertukar dengan dengan dapil 4, dapil1 dengan dapil 2. Seperti terjadi di TPS VII Desa Bunikasih Kecamatan Warungkondang tertukar kertas suaranya dengan dapil 2,” terangnya Sabtu, (12/4). ?

IMNU Tegal

Ia menilai KPUD Cianjur kurang mensosialisasikan pemilu kepada masyarakat. Karena di lapangan masyarakat kurang memahami apa dan bagaimana proses pemilu ini, mulai arti wakil DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan DPD, serta tata cara pencoblosan itu tersendiri.

IMNU Tegal

PMII Cianjur menyayangkan, hal seperti itu tidak seharusnya terjadi dan sudah diantisipsai dari awal dengan mempersiapkan tenaga profesional serta bertanggungjawab dalam tugasnya.

“Dengan terjadinya kasus seperti ini, PMII Kabupaten Cianjur menilai KPUD Cianjur gagal? menjalankan kinerjanya. KPUD Cianjur harus lebih serius serta cepat tanggap melihat dari pada kenyataan permasalahn seperti ini,” imbaunya.

Lebih lanjut Ayi menjelaskan, temuan itu didapat dari kader-kader PMII yang diterjunkan menjadi pemantau Pemilu pada 9 April lalu.

“Atas dasar kepedulian terhadap pesta demokrasi rakyat, PMII Cianjur menerjunkan pemantau di 32 kecamatan. Setiap kecamatan yang dipantau 5 TPS,” jelasnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kajian Sunnah, Santri, Nusantara IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock