Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2018

Ziarahi Syekh Yusuf Al-Makassari Penutup PKL PMII Makassar

Makassar, IMNU Tegal. Pelatihan Kader Lanjutan (PKL) Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Makassar ditutup dengan wisata religi dengan menziarahi makam Syekh Yusuf Al-Makassari di Kabupaten Gowa. Panitia, peserta yang berjumlah 19 orang beserta fasilitator turut serta dalam ziarah tersebut.

Ziarahi Syekh Yusuf Al-Makassari Penutup PKL PMII Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ziarahi Syekh Yusuf Al-Makassari Penutup PKL PMII Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ziarahi Syekh Yusuf Al-Makassari Penutup PKL PMII Makassar

Syekh Yusuf Al-Makasaari merupakan salah satu uluma besar yang berasal dari Makassar. Menurut Sonny Majid, fasilitator PKL PMII Makasaar, wisata religi ini dilakukan dalam rangka menjaga dan melestarikan budaya dan amalan yang selama ini dijaga oleh para tetua kita di Nahdatul Ulama.

“Menjaga tradisi merupakan salah satu tanggung jawab bagi organisasi yang berlambang prisai ini,” jelas Sonny yang juga dosen Universitas Pamulang Tangerang, Banten pada Kamis (29/9).

IMNU Tegal

Senada dengan Sonny, Ketua Cabang PMII Makassar Basri menegaskan, arti dari lambang perisai PMII adalah sebagai simbol agar warga pergerakan menjadi tameng untuk menjaga budaya dan tradisi di Indonesia.

Oleh karena itu, kata alumni PMII Rayon Ekonomi UMI, ziarah ke makam Syekh Yusuf Al-Makassari merupakan salah satu langkah untuk menjaga tradisi dan budaya di Indonesia.

IMNU Tegal

Setelah selesai PKL, Basri mengharapkan semua peserta dapat mengamalkan ilmunya di masyarakat, serta dapat mengembangkan PMII dan NU di daerah masing-masing. (Muhammad Aras Prabowo/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Warta, News IMNU Tegal

Senin, 19 Februari 2018

Banser Diimbau Perkuat Kemampuan di Bidang IT

Majalengka, IMNU Tegal - Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menggelar Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Angkatan VII pada Jumat-Sabtu (13-14/1). Kegiatan kaderisasi jenjang awal ini dikonsentrasikan di Lereng Cakrabuana Girimukti, Malausma, Majalengka.

Ketua GP Ansor Kabupaten Majalengka Ahmad Cece Asyfiyadi menjelaskan, sebanyak 350 anggota Banser terlibat kegiatan itu. "Ini adalah tahap awal untuk menempa fisik dan mental sebagai Banser agar siap menjaga marwah NU dan keutuhan NKRI," ujar Cece.

Banser Diimbau Perkuat Kemampuan di Bidang IT (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Diimbau Perkuat Kemampuan di Bidang IT (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Diimbau Perkuat Kemampuan di Bidang IT

Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Maman Imanulhaq yang turut mengisi acara tersebut meminta Banser menjadi garda terdepan dalam menjaga NKRI. Ia menegaskan, Banser harus siap membela para kiai dan ulama NU yang belakangan ini marak dilecehkan, dihujat, dan dihina.

IMNU Tegal

"Apakah kalian siap menjaga NKRI? Apakah kalian siap membela para kiai dan ulama?" teriak Kiai Maman dalam orasinya di hadapan peserta Diklatsar Banser.

Pertanyaan itu pun langsung dijawab serentak oleh seluruh anggota Banser yang hadir dengan jawaban “Siap!”.

Terkait Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Ansor yang digelar bersamaan Diklatsar Banser, Kiai Maman meminta GP Ansor Majalengka fokus melakukan kaderisasi untuk menguatkan ideologi Ahlussunah wal Jama’ah dan nasionalisme ke berbagai kalangan, termasuk pondok pesantren.

IMNU Tegal

"Intensifkan berbagai kegiatan pengkaderan seperti Pendidikan Kepemimpinan Dasar (PKD), Pendidikan Kader Lanjutan (PKL) untuk Ansor maupun Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar), Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) bagi Banser," ujar anggota DPR RI ini.

Merespon pesatnya perkembangan medsos dewasa ini, Kiai Maman berharap agar kader GP Ansor dan Banser memperkuat diri dengan kapasitas atau kemampuan di bidang teknologi informasi (IT).

"Ansor juga harus membangun jaringan komunikasi yang lebih luas dengan berbagai elemen lain dalam kerangka terlibat aktif memajukan pembangunan di Majalengka," pinta Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi itu. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Warta IMNU Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

LFNU Undang Masyarakat Ikuti Pelatihan Hisab-Rukyat

Jakarta, IMNU Tegal

Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) mengajak masyarakat secara umum untuk mengikuti Pelatihan Hisab-Rukyat yang digelar di Masjid an-Nahdlah yang terletak di lantai dasar gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (1/5) mendatang.

Kegiatan yang rutin diselenggarakan tiap Rabu minggu pertama saban bulan ini dimulai setelah sembahyang maghrib dari pukul 18.30 sampai 21.00 WIB. Pelatihan Hisab-Rukyat menargetkan, peserta dapat menguasai beragam materi seputar penentuan awal bulan hijriyah, waktu shalat, arah kiblat, dan peristiwa gerhana.

Seorang staf LFNU, Maftuhin, mengungkapkan, Rabu nanti pemateri akan datang dari Subdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat Kemenag RI yang akan mengulas hisab-rukyat penentuan arah kiblat.

LFNU Undang Masyarakat Ikuti Pelatihan Hisab-Rukyat (Sumber Gambar : Nu Online)
LFNU Undang Masyarakat Ikuti Pelatihan Hisab-Rukyat (Sumber Gambar : Nu Online)

LFNU Undang Masyarakat Ikuti Pelatihan Hisab-Rukyat

”Peserta juga akan diajarkan tentang cara hitung dan praktik sampai bisa. Rencananya, peserta akan mendapatkan buku secara gratis,” ujarnya.

LFNU mengadakan pelatihan gratis ini secara perdana pada April 2013. Dalam kesempatan ini, Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat Kemenag RI KH Ahmad Izzuddin, yang juga pengurus PP LFNU, memberikan pengenalan umum mengenai ilmu falak, hisab dan rukyat.

IMNU Tegal

Izzuddin mengatakan, ilmu falak merupakan pengetahuan yang langka. Meskipun, dalam menunjang ibadah umat Islam, urgensi disiplin ini tak terelakkan.

Untuk registrasi, peserta dapat datang ke sekretariat PP LFNU di gedung PBNU, lantai 4, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, atau menghubungi (021) 31909735.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Sholawat, Warta, Budaya IMNU Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Ini Cara Memakmurkan Masjid

Masjid merupakan tempat yang paling sakral bagi umat Islam sebab tempat ibadah seluruh umat Islam. Selain difungsikan sebagai tempat ibadah, masjid juga digunakan untuk kegiatan sosial, dakwah, dan belajar agama.

Islam menganjurkan umatnya untuk memakmurkan dan meramaikan masjid. Dalam Surat At-Taubah ayat 18, Allah SWT menjelaskan bahwa yang memakmurkan masjid tersebut hanyalah orang-orang beriman pada hari akhir, mendirikan shalat, dan membayar zakat.

Ini Cara Memakmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Memakmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Memakmurkan Masjid

Syekh Muhammad Ali As-Shabuni dalam Rawai’ul Bayan: Tafsir Ayatul Ahkam menerangkan ada dua cara memakmurkan masjid. Ia  mengatakan:

IMNU Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?....? ?: ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sebagian ulama berpendapat bahwa memakmurkan masjid adalah dengan cara membangun, memperkuat, dan memperbaiki bangunan yang rusak. Sementara pandangan lain mengatakan, yang dimaksud memakmurkan masjid ialah mengerjakan shalat dan segala bentuk ibadah di masjid.”

IMNU Tegal

Ulama berbeda pendapat tentang maksud memakmurkan masjid (‘imaratul masajid): ada yang menekankan pada pembangunan dan perbaikan fisik masjid dan ada pula yang menekankan pada substansi pendirian masjid, yaitu sebagai tempat ibadah.

Kedua pendapat ini sebenarnya masuk dalam kategori ‘imaratul masajid (memakmurkan masjid). Menurut mayoritas ulama, yang dimaksud memakmurkan masjid itu adalah memperbanyak ibadah di dalamnya.

Jadi memakmurkan masjid tidak hanya dengan memperindah dan merenovasi bangunan masjid, tetapi juga memperbanyak ibadah dan mengerjakan shalat berjamaah di masjid. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah).

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Warta, Tokoh, Pesantren IMNU Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Mahasiswa FDK Unisnu Jepara Shooting Film "Surban Putih"

Semarang, IMNU Tegal. Usai melakukan shooting film "Surban Putih" di pesantren Darut Talim Bangsri Jepara, dan di Kampus Unisnu Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), film yang disutradarai Robit Himami melakukan shooting di di kampus Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang pada Rabu (1/7).

Film ini memberikan pesan moral kepada masyarakat bahwa, pendidikan di pesantren memiliki ruang yang besar untuk meraih cita-cita sesuai dengan kompetensi yang diinginkan. Karena selain mendalami ilmu agama, juga mempelajari ilmu-ilmu yang berbasis sosial maupun penguatan keahlian sesuai dengan bakat minat yang dimiliki, ujar Khoirul Muslimin salah satu dosen FDK yang membina terlaksananya film ini.

Mahasiswa FDK Unisnu Jepara Shooting Film Surban Putih (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa FDK Unisnu Jepara Shooting Film Surban Putih (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa FDK Unisnu Jepara Shooting Film "Surban Putih"

"Modal dasar penguatan agama pada generasi muda akan menjadi generasi yang tangguh dan bermartabat untuk membangun bangsa yang lebih sejahtera," tambahnya.

IMNU Tegal

Sementara itu, Robit Himami mengatakan "Film ini menjadi penanda baru bahwa Fakultas Dakwah dan Komunikasi memiliki ruang lingkup yang luas dalam telaah keilmuan, dengan terjun langsung di dunia perfilman ini, banyak hal-hal yang baru yang didapatkan sesuai pada kajian teori yang kami dapat di bangku kuliah."

Dalam satu tahun mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi sudah memproduksi film sebanyak 7 karya, diantaranya film dengan judul (1) Paijo; (2) Tapak Kaki di Desa; (3) Karung Beras; (4) Terjawab oleh Detik; (5) Sepenggal Kisah Dua Belas AP; (6) Ngalap Berkah Pesta Lomban; dan (7) Surban Putih, pungkas Robit.

IMNU Tegal

Dalam sambutan ketua Program Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang Dr Turnomo Raharjo  mengucapkan "terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada kami menjadi tempat salah satu shooting film, semoga ini menjadi awal kerjasama kita dalam meningkatkan kualitas mahasiswa dan dosen."

Dalam kesempatan yang sama di ruang rapat magister Komunikasi Abdul Wahab, M.SI. selaku Kaprodi Fakultas Dakwah dan Komunikasi menyampaikan kerjasama ini diharapkan menjadi awal membuka gerbang kompetensi yang lain yang bisa dikerjasamakan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa di bidang Ilmu Komunikasi.

Minanurrohman yang juga pemeran Andi mengungkapkan "Senang sekali, tentu kegiatan ini memberikan kesempatan kepada saya untuk menggali ilmu dengan memerankan Andi. Tentu saya dituntut untuk bisa menjadi Andi yang sesungguhnya, harapan saya semoga apa yang saya perankan menjadi doa untuk kesuksesan saya dan teman-teman mahasiswa yang lain," tutur Minan. (Iqdasy/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Amalan, Makam, Warta IMNU Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Ultimatum, Calon dan Jurkam Harus Mundur dari Kepengurusan NU

Probolinggo, IMNU Tegal. Rais Syuriyah PCNU Kota Probolinggo terpilih KH Azis Fadol memberikan ultimatum dan garis tegas bagi pengurus harian NU selama lima tahun ke depan. Terutama dalam momen Pilwali Kota Probolinggo 2013 mendatang, jika akan maju harus pengurus harian NU harus mundur.

Menurutnya, pengurus harian NU ini meliputi Rais Syuriyah, Ketua Tanfidziyah, Wakil Ketua dan Sekretaris. “Dalam AD/ART sudah dijelaskan, kalau dicalonkan harus lepas dari kepengurusan NU,” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hidayah Kecamatan Kademangan ini saat dihubungi IMNU Tegal, Senin (3/12).

Ultimatum, Calon dan Jurkam Harus Mundur dari Kepengurusan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ultimatum, Calon dan Jurkam Harus Mundur dari Kepengurusan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ultimatum, Calon dan Jurkam Harus Mundur dari Kepengurusan NU

Selanjutnya posisi yang ditinggalkan pengurus tadi akan digantikan pengurus lainnya. Proses yang sama terjadi ketika Maksum Subani menggantikan Kiai Mafruddin Kelurahan Pilang Kecamatan Kademangan yang mengundurkan diri dari kepengurusan.

IMNU Tegal

Ketentuan yang sama berlaku bagi pengurus yang menjadi juru kampanye (jurkam) calon tertentu. Hanya saja, jika menjadi jurkam yang bersangkutan cukup nonaktif dari kepengurusan.

Meski demikian, bukan berarti pengurus NU tidak boleh terlibat dukung mendukung calon. Mereka tetap mendapatkan kebebasannya atas nama pribadi, tidak mengatasnamakan organisasi. “Kalau menjadi tim sukses, selama tidak membawa NU, tidak masalah,” terangnya.

IMNU Tegal

Menurut KH. Azis Fadol, ketentuan itu sesuai dengan komitmen khittah NU. “Tidak kemana-mana, tapi ada di mana-mana. NU tidak ke politik, terutama dalam Pilkada,” jelasnya.

Kiai Azis menyatakan perlu menyampaikan pernyataan tersebut pasalnya pada tahun 2013 mendatang warga nahdliyin terutama yang berada di Kota Probolinggo akan menghadapi Pilgub Jatim dan Pilwali Kota Probolinggo.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pendidikan, Warta, Kyai IMNU Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Menentukan Tujuan Berpuasa Sejak Dini

Bila Anda hendak pergi bermain ke Jakarta selama dua atau tiga hari lamanya, bagaimanakah Anda menyiapkan segala sesuatunya? Bila Anda hendak pergi ke Jakarta sebulan lamanya untuk satu keperluan bisnis yang menghasilkan keuntungan ratusan juta di mana di dalamnya Anda akan bertemu dengan orang-orang penting, bagimanakah Anda akan menyiapkan segala sesuatunya?

Tentunya jawaban atas kedua contoh soal di atas jauh berbeda. Pergi ke Jakarta selama dua tiga hari dengan keperluan sekadar bermain tak perlu bersusah payah mempersiapkan segalanya jauh-jauh hari. Tak harus membawa perbekalan yang banyak, uang yang berlebih, bakaian yang sangat bagus. Cukup biasa saja. Beli tiket bus atau kereta pada hari pemberangkatan, membawa uang yang cukup untuk makan dan keperluan lain selama dua atau tiga hari, dan berpakaian biasa saja yang pantas untuk sekadar bermain.

Menentukan Tujuan Berpuasa Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Menentukan Tujuan Berpuasa Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Menentukan Tujuan Berpuasa Sejak Dini

Tapi pergi ke Jakarta sebulan lamanya untuk satu keperluan bisnis yang menghasilkan keuntungan ratusan juta di mana di dalamnya Anda akan bertemu dengan orang-orang penting, tentu persiapan untuk melaksanakannya jauh lebih rumit dari yang pertama. Jauh-jauh hari mesti sudah membeli tiket, jangan sampai kehabisan karena bisa terlambat bertemu dengan rekanan dan jadwal bisnis jadi tak karuan. Pakaian yang dibawa pun mesti pakaian yang bagus yang layak dikenakan untuk pertemuan dengan orang-orang penting. Mesti menyiapkan banyak uang untuk hidup sebulan di sana. Dan persiapan lainnya harus diperhatikan agar keuntungan ratusan juta benar-benar dapat di raih.

IMNU Tegal

Dari gambaran kecil di atas dapat diambil satu pelajaran bahwa tujuan yang hendak dicapai seseorang akan sangat berpengaruh kepada proses mencapai tujuan tersebut. Seberapa mudah dan sulit, kecil dan besar, ringan dan berat suatu tujuan yang hendak dicapai akan berpengaruh pada proses mencapainya.

Demikian pula dengan puasa di bulan Ramadhan. Bagaimana proses menjalaninya akan sangat dipengaruhi oleh seberapa besar tujuan yang hendak dicapai oleh puasa itu. Bila seseorang berpuasa hanya karena merasa tidak enak dengan rekan sekantor yang pada berpuasa, maka ia akan menjalani ibadah puasanya sambil lalu saja. Bila seseorang berpuasa dengan motivasi sekadar menggugurkan kewajiban sebagai seorang muslim, maka bisa jadi ia akan menjalani puasanya dengan menahan lapar dan haus saja, sementara perilaku buruk yang bisa menghilangkan keutamaannya tetap ia lakukan. Dan bila seseorang melakukan puasanya dengan tujuan benar-benar ingin mendapat keridloan Tuhannya, maka ia akan menjalaninya sebaik mungkin, tidak hanya sekadar menahan haus dan lapar tapi juga menjaga diri dari perilaku-perilaku tercela yang tak disukai Tuhannya.

IMNU Tegal

Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183 Allah berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”

Dari ayat di atas tersurat sebuah harapan agar dengan berpuasa seorang mukmin akan selalu bertakwa kepada Allah SWT. Agar dengan berpuasa seseorang akan berpredikat sebagai muttaqin, orang yang bertakwa kepada Tuhannya. Inilah sebuah tujuan yang hendak dicapai dari diwajibkannya puasa di bulan Ramadhan.

Pertanyaannya adalah, apakah dengan berpuasa Ramadhan sebulan penuh maka dengan serta merta seseorang berpredikat sebagai muttaqin, orang yang bertakwa? Tentu saja tidak. Seorang yang bertakwa tentunya memiliki kriteria tertentu. Bila seorang yang berpuasa memiliki kriteria tersebut maka bisa jadi tujuan berpuasanya telah tercapai. Bila tidak, ya tidak.

Di dalam al-Qur’an ada banyak ayat yang menyebutkan beberapa kriteria orang yang bertakwa. Di antaranya adalah apa yang disebutkan oleh ayat 134 surat Al-Maidah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Yaitu orang-orang yang berinfak di saat senang dan susah, orang-orang yang menahan amarah, dan orang-orang yang memberi maaf kepada orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Ayat di atas menunjukkan tiga kriteria seorang yang bertakwa kepada Allah, yakni mau berinfak di kala suka dan duka, mampu menahan amarah, dan memberi maaf atas kesalahan orang lain.

Orang yang bertakwa memiliki perilaku mau menginfakkan hartanya pada kondisi apapun, baik saat senang atau susah, saat kaya atau sedang jatuh miskin, bahkan sementara ulama ada yang menafsirkan baik infaknya ia berikan kepada orang yang ia cintai maupun kepada orang yang ia benci (Baca, Abu Hayan al-Andalusi, Tafsir al-Bahrul Muhith [Beirut: Darul Fikr, 2005], jil. 3, hal. 346).

Orang yang bertakwa juga memiliki sikap mampu menahan rasa marah yang menggebu di dalam hati. Semestinya ia memiliki kemampuan untuk melampiaskan kemarahannya, namun ia lebih memilih untuk menahannya.

Ada yang menarik untuk dicermati dalam ayat itu membahasakan perilaku “menahan amarah”. Untuk menyebut “orang yang menahan amarah” ayat tersebut membahasakannya dengan kalimat al-kâdhimînal ghaidh. Kata al-kâdhimîn adalah bentuk jamak dari kata al-kâdhim yang berarti “yang menahan”. Yang menarik adalah kata ini satu akar kata dengan kata al-kadhîmah yang berarti “termos” (Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab – Indonesia [Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum, 1997], hal. 1509). Dari sini bisa dipahami bahwa seorang yang bertakwa mesti memiliki perilaku sebagaimana termos. Sepanas apapun air yang ada di dalam termos orang yang ada di dekatnya tak merasakan panasnya air tersebut. Demikian juga orang yang bertakwa. Sepanas apapun amarah yang membara di dalam hatinya ia mesti mampu menahan diri hingga orang yang di dekatnya tak tahu bahwa ia sedang marah.

Apakah orang yang bertakwa tak boleh marah? Tidak begitu. Orang yang bertakwa baru akan menumpahkan kemarahannya bila dirasa akan membawa manfaat yang nyata, sebagaimana termos hanya akan mengeluarkan air panasnya untuk sesuatu yang jelas manfaatnya.

Orang yang bertakwa juga berperilaku mudah memaafkan kesalahan orang lain. Memaafkan yang dalam bahasa Arab disebut ‘afwun dan pelakunya disebut al-‘âfî berasal dari kata ‘afâ – ya’fû semakna dengan kata mahâ – yamhû – mahwûn yang berarti menghapus (Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, 1997: 1302). Seorang yang bertakwa member maaf tidak sekadar mengucapkan kata maaf belaka, namun juga disertai rasa keridhaan, keikhlasan, dan tidak mendendam. Ia menghapus kesalahan dari dalam hatinya. Bukanlah pemaaf bila satu saat masih mengungkit-ungkit kesalahan orang lain dan bahkan menyebarluaskannya ke banyak orang. Bukanlah pemaaf bila dalam hatinya masih tersimpan kebencian pada orang yang berbuat salah kepadanya.

Menjadi orang bertakwa dengan perilaku seperti inilah yang hendak dituju dengan ibadah puasa selama Ramadhan. Menjadi hamba berperilaku luhur tersebut yang didamba dengan proses ibadah puasa.

Bila sejak dini seorang muslim telah mengetahui dan menyadari tujuan yang demikian yang hendak diraih dengan puasanya, maka akan sangat berpengaruh pada bagaimana ia akan menjalani ibadah puasanya sebagai proses mencapai tujuan tersebut. Jauh-jauh hari ia telah mempersiapkan diri untuk menyambut dan mengisi Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Ia rencanakan secara matang kebaikan apa saja yang akan ia lakukan di dalamnya. Sedemikian rupa ia jaga perilaku dan ucapannya.

Katakanlah, bila saya, Anda, kita semua dahulu memulai berpuasa pada saat berumur sepuluh tahun dan kini telah berusia empat puluh, lima puluh atau enam puluh tahun, itu artinya kita telah berpuasa Ramadhan sebanyak tiga puluh, empat puluh atau lima puluh kali. Dengan telah berpuasa berpuluh kali itu sudahkah saya, Anda, kita semua menjadi hamba yang bertakwa? Yang mau berinfak di kala suka dan duka, mampu menahan amarah, dan mudah memaafkan orang lain? Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)



Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tokoh, Warta IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock