Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Merasakan Puasa Ramadhan di Hong Kong

Kata banyak kalangan, melaksanakan puasa Ramadhan di manapun itu sama saja, yang membedakan hanyalah niat dan amalan lain yang ingin dilakukan. Tapi, bagi para muslim yang berada di negeri yang mayoritas penduduknya non-muslim, tentu tidak demikian. Tak ada gema adzan, tak ada gema riuh suara sahur, dan tak ada lagi suasa keramaian saat berbuka bersama sanak keluarga.

Bandingan ketika mereka masih ada di Indonesia, semuanya bisa dinikmati tanpa kurang satupun bahkan bisa dibilang itu "suasana yang dirindukan tiba".

Merasakan Puasa Ramadhan di Hong Kong (Sumber Gambar : Nu Online)
Merasakan Puasa Ramadhan di Hong Kong (Sumber Gambar : Nu Online)

Merasakan Puasa Ramadhan di Hong Kong

Saat Ramadhan pertama tiba, puasa di negeri beton ini pun terasa biasa saja, tak ada yang istimewa, ratusan manusia mengelilingi jalan dengan melahap makanannya di tangan, ratusan kedai makan seolah tak mau tahu urusan pribadi seseorang. Begitulah mirisnya, tapi sebagai seorang muslim yang teguh tentu saja itu semua bukan halangan. Saat senja tiba, berbuka puasa pun terasa nikmat walau ala kadarnya, hingga tarawih yang dilakukan seorang diri.

Negeri ini sebenarnya juga punya masjid, tapi hanya beberapa dan bisa dihitung pakai jari, bilangannya pun tak lebih dari angka 5. Miris, tapi ya sebagai muslim yang baik seharusnya bersyukur, ternyata di sini masih ada bangunan masjid yang berdiri kokoh dengan penuh jamaahnya.

IMNU Tegal

Dalam lubuk hati terdalam, siapa sih yang tidak ingin memijakkan kaki di “rumah Allah” ini, semua pasti ingin memasukinya, begitupun saya. Tapi sayang seribu sayang, masjidnya jauh dan tak bisa selalu pergi kesana dalam waktu-waktu ibadah.

Waktu terus berjalan, puasa dan cuaca bisa dibilang saling bergandengan tangan, tak terasa kini mendekati detik-detik akhir Ramadhan. Sebenarnya tak ada perasaan apapun ketika Ramadhan pergi, hanya saja dalam hati sering berbisik "Andai negeri ini mayoritas penduduknya adalah muslim, mungkin kita tak akan sengsara untuk menapaki kaki menuju masjid dan melakukan ibadah lainnya."

IMNU Tegal

Tapi ini realita, apapun itu harapannya hanya satu, semoga Allah SWT menerima amal ibadah semua muslimin dan muslimat di negeri ini walau dengan seribu keterbatasannya. Berharap mendapatkan pahala yang melimpah di malam-malam Lailatul Qadar. Berharap mendapatkan kemantapan hati untuk selalu istiqamah di manapun dan dalam keadaan apapun dan yang terpenting agar kita semua yang ada di negeri ini selalu diberi kemantapan iman dan Islamnya.

Sampai jumpa lagi Ramadhan, walau tak seistimewa di negeri sendiri tapi kita semua masih merindukanmu, masih ingin selalu bertemu di setiap tahunnya. Aamiin Yaa Rabbalalamiin..

Hong Kong, 15 July 2015

Pengirim: Rina Nur Widayanti

Keterangan Foto: Masjid Kowloon, Hong Kong.

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Sunnah, Santri, Lomba IMNU Tegal

Senin, 12 Februari 2018

Kiai Wahab dan Kiai Bisri Berdebat soal Aurat

Beberapa tahun setelah kemerdekaan RI, para santri putri di pesantren-pesantren berinisiatif mengadakan kegiatan-kegiatan dalam rangka mengisi kemerdekaan. Mereka tidak mau kalah dengan organisasi-organisasi perempuan terutama dari Partai Komunis Indonesia (Gerwani) yang lebih sering tampil di muka umum.

Para santri putri ini kemudian merencanakan membuat satu grup drumband. Nah, ternyata Kiai Bisri Syamsuri mendengar geliat ini. Dengan bersemangat beliau melarang kegiatan ini. “Perempuan tidak boleh main drumband. Nanti auratnya kelihatan,” katanya.

Para santri putri lantas melaporkan, peringatan Kiai Bisri ini ke Kiai Abdul Wahab Chasbullah yang adalah kakak ipar Kiai BIsri sendiri. Biasanya, Kiai Wahablah satu-satunya kiai yang lebih memahami keinginan mereka. Kiai Wahab lantas menemui Kiai Bisri. “Nggak apa-apa wong masih pakek kerudung koq, nggak seperti Gerwani. Pokoknya, auratnya nggak kelihatan,” katanya kepada Kiai Bisri. Kiai Bisri terdiam, tidak melarang. Baiklah grup drumband jadi dibentuk. Kiai Wahab berpesan, “Janganlah sampai Kiai Bisri tahu dulu!” Para santri putri yang tergabung di dalamnya langsung mengadakan latihan. Ada yang menenteng drum kecil, ada yang lebih besar sampai seperti bedug kemudian dipukul-pukul. Ada juga yang membawa tongkat kemudian diayun-ayunkan ke atas. Rupaya dia memimpin drumband-nan itu. Tiba-tiba kiai Wahab meminta latihan itu dihentikan. “Jangan pake goyang-goyang, itu namanya aurat,” kata Kiai Wahab kepada salah seorang yang membawa tongkat. Kiai Bisri yang kemudian ikut menyaksikan drumband-nan itu mengetahui hal itu manggut-manggut.

Kiai Wahab dan Kiai Bisri Berdebat soal Aurat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Wahab dan Kiai Bisri Berdebat soal Aurat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Wahab dan Kiai Bisri Berdebat soal Aurat

Jauh-jauh hari sebelumnya, pada masa-masa menjelang kemerdekaan, perempuan-perempuan pesantren melakukan demonstrasi menuntut para kiai agar mereka diperkenankan untuk bergabung dalam pasukan non-reguler Hizbullah dan Sabilillah, berjihad mengusir para “kumpeni.” Para kiai menenangkan, “Perempuan juga punya kesempatan untuk berjihad. Jihadnya perempuan itu di rumah tangga.” Namun itu tidak membuat semangat kaum perempuan kendur. Mereka tetap memaksa bergabung dengan pasukan perang.

Kiai Bisri pun bersuara. “Perempuan tidak boleh ikut berperang, karena berbahaya.” Lagi-lagi Kiai Wahab tampil dan ikut bersura, “Tidak apa-apa asal tetap menutup aurat dan yang menjadi pimpinan tetap laki-laki, perempuan mengikuti komando saja kalau nanti pas nyerang.”

Demikianlah. Ada Kiai Bisri yang sangat berhati-hati dalam memberikan fatwa. “Hukum harus berdasarkan dalil yang paling jelas, dan aturan harus diputuskan dengan sangat hati-hati.” Ada juga kiai Wahab mengedepankan efektifitas dan katakanlah semacam “substansi” hukum, kaitannya dengan pengabdian para santri, warga NU untuk negaranya tercinta, Indonesia. Dan bukan untuk yang lain. (A Khoirul Anam)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Lomba IMNU Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

Sambut Maulid Nabi, IPNU-IPPNU Mojowarno Siapkan Festival Pelajar

Jombang, IMNU Tegal. Untuk menyemarakkan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, tengah menyiapkan Festival Pelajar NU (FPNU) se-Kecamatan Mojowarno.

Sambut Maulid Nabi, IPNU-IPPNU Mojowarno Siapkan Festival Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Maulid Nabi, IPNU-IPPNU Mojowarno Siapkan Festival Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Maulid Nabi, IPNU-IPPNU Mojowarno Siapkan Festival Pelajar

Festival dikemas dengan penampilan beberapa lomba, di antaranya lomba pidato, shalawat dan cerdas cermat antar siswa atau pelajar yang akan dihelat di Aula Kantor Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) setempat. Saat ini kurang lebih dari 10 sekolah yang sudah mendaftar mengikuti masing-masing lomba tersebut.

Yanuar Setyawan, Ketua PAC IPNU Mojowarno mengatakan, kegiatan ini untuk mewadahi dan mengembangkan bakat-bakat pengurus ranting dan pengurus PAC, juga mengenalkan IPNU-IPPNU kepada para pelajar di Mojowarno.

IMNU Tegal

“Kita ingin bakat kader NU mulai ranting sampai PACNU bisa terwadahi, sekaligus kita juga ingin menyosialisasikan keberadaan IPNU-IPNNU kepada para pelajar di sini,” katanya kepada IMNU Tegal saat dihubungi, Ahad pagi (13/12).

IMNU Tegal

Yanuar, sapaan akrabnya menambahkan, tidak sedikit siswa di lembaga sekolah tingkat SMP/MTs dan MA/SMA Mojowarno mengenal tentang keberadaan IPNU-IPPNU setempat. “Festival ini juga sebagai media memperkenalkan kepada mereka untuk ikut bergabung di IPNU-IPPNU. Mereka adalah regenerasi kami,” tambahnya.

FPNU akan digelar pada 27 Desember 2015 mendatang. Namun, formulir agenda sudah disebarluaskan jauh hari sebelumnya karena untuk memaksimalkan kouta peserta. “Kita memang sengaja menyosialisasikan terkait festival ini mulai kemarin-kemarin, kami ingin semua lembaga sekolahan tingkat SMP/MTs dan MA/MAN supaya mendelegasikan semuanya,” tandasnya.

Di samping itu pihak penyelenggara juga membatasi usia setiap peserta, dimulai dari usia 12-16 tahun. Dan untuk hadiah dari masing-masing lomba mendapatkan piagam penghargaan, piala dan uang pembinaan. Setiap lomba diambil 1 hingga 3 penampil terbaik.

Disinggung kriteria penilaian yang paling berpengaruh dari salah satu lomba, ia mengungkapkan setiap peserta harus bisa beretika, baik dari pakaian dan sikap di depan juri. “Adab/etika dalam berpidato dan bershalawat harus sopan, juga perform yang bagus,” pungkasnya. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kajian Sunnah, Lomba, Meme Islam IMNU Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

Munas IV JQH Dibuka Taushiyah Rais Majelis Ilmi

Pontianak, IMNU Tegal. Musyawarah Nasional IV Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) dibuka Rais Majelis Ilmi JQH NU Prof Dr KH Ahsin Sakho Muhammad berlangsung di Hotel Grand Mahkota, Pontianak, Jumat, (6/7) pukul 10.00. 

Dalam taushiyahnya Ahsin yang juga Rektor Institut Ilmu Quran Jakarta ini mengharapkan seluruh anggota JQH setia menjadi khodimatul Quran, menjadi pelayan-pelayan Al-Quranul Karim.

Munas IV JQH Dibuka Taushiyah Rais Majelis Ilmi (Sumber Gambar : Nu Online)
Munas IV JQH Dibuka Taushiyah Rais Majelis Ilmi (Sumber Gambar : Nu Online)

Munas IV JQH Dibuka Taushiyah Rais Majelis Ilmi

Khodimatul Quran itu adalah menjadi orang selalu memberikan pencerahan, memberikan pelayanan-pelayanan sesuai dengan keahliannya masing-masing. 

IMNU Tegal

“Ada orang-orang yang keahliannya dalam bidang tahfidh Al-Quran, maka mari kita gerakkan tahfidh Al-Quran,” ujarnya.

Sekarang, lanjut kiai asal Cirebon ini, ada beberap teori tentang cara cepat menghapalkan Al-Quran, misalnya teori otak kanan, ada juga teori fahim Al-Quran.

IMNU Tegal

“Begitu juga mereka yang memiliki kepedulian terhadap tilawah  Al-Quran. Marilah kita bersama-sama mengembangkan fan tilawah di tempatnya masing-masing,” imbaunya.

Dengan adanya fan tilawah, masyarakat bisa menyenangi menggandrungi bacaan-bacaan Al-Quran dengan lagu-lagunya yang macam-macam itu. 

“Bagi mereka yang memiliki kajian Al-Quran, marilah kita kembangkan kajian Al-Quran dari berbagai macam sudutnya. Baik dari balaghoh, isinya, kemukjizatan ilmiahnya, dan lain sebagainya,” jelasnya.

Rais Majelis Ilmi PP JQH ini juga mengimbau supaya anggota JQH tidak hanya berkutat dalam persoalan tahfidh, tilawah Al-Quran, tapi lebih luas lagi yaitu dari segi tafsir, terjemah, ilmiah, dan lain sebagianya.

Menurut Wakil Sekretari PP JQH NU Zahid Luqman, Munas IV JQHNU ini akan berlangsung Jumat-Sabtu (6-7), dihadiri 250 orang yang terdiri dari Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Cabang. Masing-masing mengirimkan 2 majelis ilmi dan pengurus.

Selain Munas IV digelar juga MTQ Nasional VII dan MTQ Internasional I; berlangsung dari Selasa, (3/7) dan akan berakhir Ahad, (8/7).

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   :  Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Lomba, Syariah IMNU Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Dari Kita untuk Kita Jadi Program LAZISNU Hong Kong

Hong Kong, IMNU Tegal. Pada Selasa (30/05) pukul 10 pagi waktu Cause Waybay, Hong Kong, Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) Lembaga Dakwah NU melakukan rapat dengan pengurus NU Care-LAZISNU Hong Kong, terkait soft launching program One Day One Dollar: Dari Kita untuk Kita. Walaupun usia NU Care-LAZISNU masih terbilang amat muda, tepatnya 16 April 2017 berdiri, namun langkah yang ditempuh oleh NU Care-LAZISNU Hong Kong ini sungguh strategis. Bagaimana tidak, potensi buruh migran Indonesia (BMI) yang mencapai kurang lebih 170.000 SDM, ialah peluang sekaligus tantangan.

Dari Kita untuk Kita Jadi Program LAZISNU Hong Kong (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Kita untuk Kita Jadi Program LAZISNU Hong Kong (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Kita untuk Kita Jadi Program LAZISNU Hong Kong

Banyaknya kasus yang terjadi serta permasalahan sosial dan hukum di kota yang terletak di tenggara Tiongkok ini membuat spirit untuk memperjuangkan kemanusiaan terutama warga Indonesia kian menggelora. “Dana yang terkumpul akan sepenuhnya untuk Hong Kong,” tegas Ustadz Nur Rohman selaku Direktur Fundraising PP NU Care-LAZISNU, yang sejak tiga hari sudah berada di Hong Kong untuk berdakwah.

Lalu apakah yang akan dilakukan dari Program One Day One Dollar ini? Pertama, sebagai dana jaminan sosial komunitas BMI Hong Kong. Kedua, membantu program sosial keagamaan, biaya kesehatan, kematian, pelatihan, pinjaman dan pembiayaan usaha. Ketiga, dana tersebut akan dikumpulkan sebagai biaya advokasi bagi BMI yang bermasalah terkait interminite, brake contract, dlsb, serta menyediakan shelter (rumah NU Care) bagi yang bersangkutan, juga memberikan donasi untuk keluarga di tanah air. Kegiatan ini bermuara bukan hanya pada edukasi dan advokasi tapi juga pembinaan dan pemberdayaan BMI di Hong Kong.

“Kita berusaha menebarkan kasih sayang melalui program-program NU Care-LAZISNU. Oleh karenanya harapan dan doa dari semua pihak agar program-program NU Care-LAZISNU bisa meluas ke Malaysia, Korea, dan berbagai negara lainnya,” ungkap Ust. Nur Rohman.?

NU Care-LAZISNU yang telah menerapkan Sistem Manajemen ISO 9001:2015, yang dikeluarkan oleh badan sertifikasi NQA dan Ukas Management System dengan nomor sertifikat 49224 yang telah diterbitkan pada tanggal 21 Oktober 2016. NU Care-LAZISNU berkomitmen dengan manajemen MANTAP: Modern, Akuntable, Transparan, Amanah dan Profesional. (Saepuloh/Mukafi Niam)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Lomba IMNU Tegal

IMNU Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Yang Syahdu dan Unik-unik dari Ramadhan di Tarim Yaman

Tarim merupakan nama suatu daerah terpencil di Hadhramaut, Yaman. Di sini aktivitas keilmuan dan kerohaniannya lebih terasa dibanding kota lainnya di Yaman. Tarim juga memiliki nuansa Ramadhan yang khas yang diwariskan secara turun-menurun. Suasana semacam inilah yang tidak ditemukan di daerah Yaman lainnya.

Antusiasme masyarakat Tarim dalam menyambut bulan Ramadhan sangat tinggi. Hal itu terlihat dari ramainya masjid-masjid pada siang hingga malam hari. Mereka menghidupkan bulan Ramadhan dengan Al-Qur’an, dzikir, shalawat, dan ziarah.

Yang Syahdu dan Unik-unik dari Ramadhan di Tarim Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Yang Syahdu dan Unik-unik dari Ramadhan di Tarim Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Yang Syahdu dan Unik-unik dari Ramadhan di Tarim Yaman

Pelaksaan shalat tarawih di Tarim tidak hanya dilaksanakan dalam satu waktu serentak, namun bergantian secara estafet sejak pukul 19.30 hingga pukul 03.00 di beberapa masjid yang berbeda.

Yang unik dari suasana Ramadhan di Tarim, setelah melaksanakan shalat tarawih dan witir para jamaah tidak langsung pulang, tetapi mereka tetap duduk untuk bersama-sama melantunkan pujian kepada Rasulullah secara bersahutan dengan nada khas Tarim. Pujian ini disebut "Qashidah Fazzaziyah dan Witriyah". Vokalis pemilik suara merdu menambah rasa syahdu malam itu.

IMNU Tegal

IMNU Tegal

Selama pembacaan qasidah terlihat beberapa orang tua yang mengabdikan diri kepada masjid berkeliling membawa bukhur (sejenis kemenyan), dan juga tampak orang orang berbaris memberikan minuman air dingin dan kopi khas Yaman. Sesekali di hari-hari tertentu juga diberikan air mawar asli untuk pewangi badan juga halawah (manisan) dan kaak (kue khas Tarim).

Kemudian dilanjutkan pembacaan "Qawafi", yaitu lantunan syair yang berisi nasihat dan pengingat yang dibaca sesuai abjad huruf hijaiyah setiap harinya satu judul huruf hingga akhir bulan Ramadhan. Lalu diakhiri doa khusus di bulan Ramadhan yang ditulis Al Habib Umar bin Saqqof Asshofi. Biasanya ritual ini berlangsung selama 40 menitan.

Setelah usai orang-orang pun bersegera keluar dari masjid untuk pindah ke masjid lainnya mengerjakan shalat tarawih berikutnya dengan tata cara yang sama hingga akhir Ramadhan. Maka tidak diherankan jika di sini setiap orang dalam semalam bisa sampai melaksanakan tarawih hingga 100 rakaat. Ini bagi memiliki semangat yang tinggi. Habib Umar bin Hafidz dan Habib Salim Assyatiri, misalnya, meskipun keduanya berusia senja sanggup menunaikan shalat 60 rakaat dalam semalamnya.

Menjelang sahur, biasanya ada dua anak muda yang satu orang menabuh "thosah" (sejenis gendang) yang satunya lagi melantunkan dzikir dengan lantang berjalan di jalanan dan gang-gang membangunkan ibu-ibu untuk menyiapkan santap sahur.

Khatmul Quran Ramadhan di Tarim disebut Khatmu Rubu sebab khataman ini dilaksanakan setiap 4 empat hari sekali. Di antara masjid yang melaksanakan Khatmur Rubu adalah Masjid Al Muhdlar, Masjid Baalawi, Masjid Saqqaf, Masjid Wael. selain itu, banyak juga masjid yang melakasnakan "Khotmu Sitt" yaitu khataman setiap 6 hari sekali.

Panasnya cuaca Ramadhan membuat masjid-masjid memasang puluhan AC khusus daerah padang pasir dan puluhan kipas angin. Infrastruktur penunjang disediakan untuk member kenyamanan para jamaah yang sedang sibuk beribadah. Kamar mandi pun disiapkan bagi yang ingin berendam mendinginkan badan di kolam mandi yang disebut "Jabiyah".

Antusiasme ini tidak hanya di malam hari bahkan saat Shalat Dluha, Dhuhur dan Ashar juga ramai dengan aktivitas membaca Al-Qur’an, dzikir, dan pengajian- pengajian majelis taklim yang membacakan kitab-kitab Salafus Shalih. Biasanya setiap selesai majelis taklim para hadirin membaca surat Yasin bersama. Dan di akhiri dengan "Qashidah Fardiyah", kaisdah nasihat yang dibaca oleh satu orang.

Biasanya setelah Ashar pada Jumat pertama bulan Ramadhan seluruh masyarakat dan santri mancanegara yang berada di Tarim melaksanakan ziarah ke makam para sahabat dan waliyullah di makam "Zambal" dipimpin oleh mufti Tarim dan para ulama Tarim, hingga menjelang waktu berbuka puasa.

Kemudian peziarah bergegas ke masjid untuk berbuka dengan takjil yang telah disediakan dan dilanjutkan Shalat Tasbih dan Shalat Awwabin, barulah setelah itu mereka kembali ke rumah masing masing.

Pada hari ke-9 diadakan majelis di kediaman Al Imam Haddad dan kediaman keluarga Al Hamid. Perkumpulan ini lazim disebut "Tsamratu Tasi." Acara itu diisi dengan bermacam-macam kasidah nasihat.

Pada hari ke-19 diadakan majelis di kediaman Khalifatussalaf Al-Habib Alwi bin Abdullah bin Syihabuddin. Acara ini berisi ceramah agama dan nasihat lalu kasidah pujian tentang bulan Ramadhan sambil menikmati secangkir kopi khas Tarim.

Ada hal menarik juga di kalangan masyarak desa Tarim. Nuansa Islami di sini sangat terasa bahkan tidak hanya di dalam masjid melainkan di luar juga. Biasanya sejak tanggal 11 sebelas Ramadhan hingga 29 Ramadhan sambil berharap datangnya lailatul qadar masyarakat Tarim saling bertukar undangan dengan tetangga dan kerabat untuk bersantap hidangan buka puasa dalam rangka khataman masjid yang ada di sekitar rumahnya.

Sementara anak-anak kecil laki laki maupun perempuan saling berkunjung ke rumah teman bermain mereka saling bergantian menyanyikan lagu-lagu anak yang diwariskan para ulama pendahulunya dan lagu-lagu tersebut disebut dengan "Khotamy". Kegembiraan anak-anak itu kemudian bertambah dengan banyaknya hadiah yang diberikan pada mereka oleh tuan rumah, tentunya setelah lagu itu usai dilantunkan.

Sementara khataman akbar Al-Qur’an di masjid dipimpin oleh para ulama. Doa yang dibaca adalah doa khatmul qur’an susunan Imam Ali Zainal Abidin. Saat doa dirapalkan, air dan kopi dibagikan. Setelah selesai, dilanjutkan doa susunan Imam Abil Hirbah. Selanjutnya anak-anak kecil yang turut hadir diberikan kesempatan membaca doa "Birrul Walidain" untuk orang tua mereka secara bergantian. Dilanjutkan pembacaan khutbah "Qoff" dan khutbah milik salah satu dari Habib Idrus bin Umar Al Habsyi, Al Habib Hasan bin Sholih Al Bahr, Habib Abu Bakr bin Abdurrohman bin Syihab.

Ketika Ramadhan memasuki hari ke-21 maka masyarakat, santri, dan mahasiswa berduyun-duyun hadir ke masjid-masjid yang diistimewakan di Tarim. Keistimewaan masjid tidak ditinjau dari kemegahan bangunannya, tetapi dari kealiman dan kewalian yang membangun masjidnya meskipun hampir semua masjid di sini terbuat dari tanah liat. Berikut di antara masjid-masjid istimewa tersebut.

Tanggal 21 Ramadhan di Masjid Syeh Abdurrohman Assaqqof dan Masjid Abi Bakr Assakron. Tanggal 23 Ramadhan di Masjid Al Awwabin milik Imam Haddad. Tanggal 25 Ramadhan Syeh Ali bin Abi Bakr Assakron. Tanggal 27 Ramadhan di Masjid Baalawi yang dibangun oleh Syeh Kholi Qosam abad ke-5. Tanggal 29 Ramadhan di masjid fenomenal dengan menara tertinggi yang terbuat dari tanah liat milik Syeikh Umar Muhdlor dan Masjid Al-Fath milik Imam Abdulloh bin Alwi al-Haddad.

Menurut pengamatan saya, suasana religius Ramadhan di Tarim yang diwariskan turun-menurun menggabungkan beberapa konsep mahabbah (cinta), yaitu cinta kepada Allah dengan amalan shalat dan puasa, cinta kepada kitab Allah dengan memperbanyak tadarus dan khataman, cinta kepada Rasulullah dengan memperbanyak shalawat, cinta kepada syiar Allah dengan memperbanyak majelis taklim dan daurah (pesantren Ramadhan) bahkan peserta daurah ada yang datang dari Amerika, Australia, Inggris, Malaysia, China, dan lain-lain.

Ini merupakan Ramadhan kedua yang saya alami di Tarim, sementara Ramadhan pertama saya di kota Mukalla Yaman. Meskipun di Mukalla juga banyak syiar-syiar Ramadhan namun religiusme Tarim tidak ada tandingannya. Mungkin salah satu faktornya adalah banyaknya wali-wali Allah dan para ulama sufi yang dijumpai di Tarim. Sebuah nuansa kerohaniahan yang murni mendekatkan diri kepada Allah.

Moh Nasirul Haq, Mahasiswa Universitas Imam Syafii Yaman. Ditulis di Tarim, 7 Ramadhan 1437 H.

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Lomba, Kajian Sunnah IMNU Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Kiai Syaroni: Jangan Guyon Kebablasan!

Kudus, IMNU Tegal. Pada Pengajian Tafsir Al-Qur’an di Masjid al-Aqsha Menara Kudus, Jawa Tengah Rabu (24/7) pagi tadi, Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi mengingatkan jangan suka bercanda (guyon) kebablasan yang hanya mengumbar kebohongan. Karena hal tersebut bisa berakibat hati menjadi keras dan fasik.

“Kalau guyon maton diperbolehkan saja, tetapi kalau guyon yang membohongi untuk mengundang tawa belaka itu tidak baik,” katanya saat menerangkan ayat 15- 20 Surat Al-Hadid Juz 27.

Kiai Syaroni: Jangan Guyon Kebablasan! (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Syaroni: Jangan Guyon Kebablasan! (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Syaroni: Jangan Guyon Kebablasan!

Ulama kharismatik yang biasa disapa Mbah Sya’roni ini menjelaskan bahwa ayat 15 Surat Al-Hadid menerangkan sikap para sahabat Muhajirin yang bercanda berlebihan saat menerima sambutan luar biasa dari sahabat Ansor (sahabat yang sudah mukim di Madinah).

IMNU Tegal

“Kaum Muhajirin diingatkan supaya tidak meniru orang Yahudi yang senang guyon sehingga menjadi fasik sampai lupa kitab Taurat dan Injil,” katanya menerangkan ayat selanjutnya.

Nabi Muhammad, tutur mbah Sya’roni, suka bercanda namun gaya dan materi yang disampaikan tidak pernah bohong. Dikisahkan, Nabi Muhammad menyapa seorang perempuan tua yang selalu menyapu jalan menuju masjid yang sering dilaluinya. Nabi bertanya alasan perempuan tua menyapu jalan itu, sang perempuan menjawab, ingin masuk surga bersama Nabi. 

IMNU Tegal

“Nabi menjawab dengan canda bahwa di surga tidak ada nenek-nenek seperti ibu. Sang perempuan tua itu menangis. Lalu Nabi menyahuti lagi, di surga itu perempuan tua-tua akan menjadi muda lagi. Jadi, ibu tetap masuk surga. Sang nenek tadi bisa tersenyum lega,” cerita Mbah Sya’roni mencontohkan. 

Diterangkan ayat selanjutnya, meskipun banyak orang yang lupa akibat guyonan berlebihan, Allah bisa mengubah kembali menjadi khusuk sehingga ingat kembali kepada Allah maupun membaca Al-Qur’an. 

“Makanya, guyon ya guyon tapi yang maton. Jangan kebablasan. Lebih baik untuk dzikir atau membaca Al-Qur’an,” tegas mbah Sya’roni dalam bahasa Jawa.

Mbah Sya’roni juga menerangkan hidup di dunia adalah permainan, kesenangan, perhiasan untuk kebanggaan manusia belaka. Banyak harta dan anak, merupakan kesenangan di dunia yang hanya sementara. 

“Oleh karenanya kita harus berusaha menggunakan harta benda kita untuk kebaikan termasuk berinfak juga,” ajaknya lagi kepada  ribuah jamaah yang memenuhi ruangan dan halaman masjid Menara Kudus.

Redaktur    : Abdullah Alawi 

Kontributor: Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Lomba, Fragmen, Ulama IMNU Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Jadikan Puasa untuk Perbaikan Karakter

Brebes, IMNU Tegal?



Imam Besar Masjid Agung Brebes KH Rosyidi mengajak seluruh umat Islam untuk menjadikan Ramadhan sebagai ladang perbaikan karakter secara menyeluruh. Perbaikan karakter tersebut, bisa dicapai melalui tahapan-tahapan puasa dalam sebulan, yang tentunya harus diikuti dengan penuh semangat dan ikhlas karena Allah SWT.?

Jadikan Puasa untuk Perbaikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadikan Puasa untuk Perbaikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadikan Puasa untuk Perbaikan Karakter

“Puasa diharapkan bisa menjadi perbaikan karakter secara menyeluruh,” ujar Kiai Rosyidi ketika ditemui IMNU Tegal di kediamannya, jalan Kiai Kholid Barat Pasarbatang Brebes, Selasa (6/6).

Karakter itu bisa terwujud, bila manusia makin menyadari akan peningkatan persaudaraan di antara kita. Meliputi memperkuat ukuhwah islamiyah, ukhuwah ? wathoniyah, dan ukhuwah basariyah, sehingga persatuan dan kesatuan umat islam makin kuat.?

Tindakan-tindakan kekerasan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam, justru kurang memberikan arti bagi perkembangan agama Islam, malah merugikan. “Bulan puasa kok melakukan terror, ini malah merugikan orang lain,” katanya.

Dalih jihad itu tidak betul, kalau mau jihad benar-benar berada di medan perang yang sesungguhnya. Bukan menjadi pecundang seperti yang dilakukan para teroris itu. Teroris cuma mengacaukan dan memperburuk serta merusak nama Islam. Kejadian terakhir di Inggris sangat mencoreng umat Islam karena dilakukan pada bulan suci Ramadhan.?

IMNU Tegal

Pun teror di Kampung Melayu, ? korbannya malah umat Islam, bahkan salah satu korbannya anak Brebes, anggota pelajar NU. “Bunuh diri dengan cara apa pun itu tidak dibenarkan dalam Islam, apalagi bunuh diri dengan membawa korban orang lain,” tegasnya.

Puasa Ramadhan, sambung Kiai Rosyidi, telah mendidik kita bersikap jujur, kepedulian sosial, saling ukhuwah, menegaskan diri sebagai pribadi yang saleh saleha dengan karakter yang hebat.

Ramadhan, menjadi perekat benang benang persatuan dan kesatuan umat. Keharmonisan di dalam keluarga bisa terbangun lewat saur dan buka puasa bersama. Ayah dan Ibu saling memperhatikan dan gendu-gendu rasa menyampaikan keluhan dan problematika masing-masing secara asyik. Jamaah shalat tarawih di mushola dan masjid mewujudkan arti sesungguhnya persatuan dan kesatuan umat.?

IMNU Tegal

Ada takjil yang disediakan oleh kaum aghnia, ada doa-doa yang dilantunkan para kaum dhuafa. Ada tadarus yang memperhalus perkataan dan ada juga siraman rohani dari pemuka-pemuka agama yang menentramkan hati. “Rajutan benang keikhlasan dan kebersamaan di bulan puasa, amat teramat kuat bagi kekokohan dan kejayaan bangsa Indonesia, termasuk perputaran roda ekonomi yang sangat dinamis,” tandas mantan kepala Kemenag Brebes itu.

Kiai Rosyidi menambahkan, untuk kegiatan Masjid Agung di bulan Ramadhan antara lain pembahasan Tafsir Qur’an oleh KH Jaerukhi setiap hari bakda ashar berikut bacaan tahfidz serta tadarus Al-Qur’an saat bakda isya. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Lomba IMNU Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Jombang Bakal Jadi Tuan Rumah ASEAN Youth Interfaith Camp 18 Negara

Jombang, IMNU Tegal. Kenalkan Islam Rahmatal lil Alamin, kabupaten Jombang bakal menjadi tuan rumah ASEAN Youth Interfaith Camp yang diikuti dari 18 negara. Pertemuan yang diikuti kalangan muda antar agama yang digelar Kementrian Luar Negeri bekerja sama dengan Pusat Studi ASEAN Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (PSA Unipdu) Jombang juga dalam rangka HUT ASEAN ke 50 .

"Pelaksanaannya akan digelar Oktober mendatang, Alhamdulillah Bupati Jombang menyambut baik rencana kegiatan ini, dan siap menjadi tuan rumah," terang Rektor Unipdu, Prof Ahmad Zahro bersama Direktur Kerjasama Sosial Budaya ASEAN Kementrian Luar Negeri, JS George Lantu, Direktur Pusat Studi Asean Unipdu Jombang, usai bertemu Bupati Jombang, Nyono Suharli, Sabtu (25/2) di pendopo kabupaten.

Jombang Bakal Jadi Tuan Rumah ASEAN Youth Interfaith Camp 18 Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Jombang Bakal Jadi Tuan Rumah ASEAN Youth Interfaith Camp 18 Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Jombang Bakal Jadi Tuan Rumah ASEAN Youth Interfaith Camp 18 Negara

Dikatakan Zahro, sebagai kota santri, Jombang memiliki potensi wisata yang sangat luar biasa dalam menciptakan kehidupan yang damai. Kabupaten yang dikenal memiliki ratusan pesantren ini bisa menjadi contoh Negara lain dalam memelihara kerukunan umat beragama.

"Disini juga banyak pesantren dan juga warga nonmuslim, mereka bisa hidup damai, peserta bisa belajar dari Jombang," bebernya.

JS George Lantu, Direktur Kerjasama Sosial Budaya ASEAN Kementrian Luar Negeri mengatakan, disamping dari Negara Negara yangtergabung dalam ASEAN, ? beberapa perwakilan dari Rusia, Korea Selatan, India, Kanada China, Jepang dan Newzeland akan ikut menjadi peserta.

IMNU Tegal

"Tidak hanya dari kaum muslim, akan tetapi juga peserta nonmuslim juga ikut dalakegaiatan ini," ujarnya.

IMNU Tegal

Dari kegiatan ASEAN Youth Interfaith Camp di Jombang nantinya diharapkan muncul banyak ide dunia dalam mengembangkan kehidupan yang harmoni, kehidupan yang damai.

"Mereka bisa belajar dan berdialog tentang kehidupan yang harmoni dan damai dibangun di Jombang ini. Bagaimana kehidupan yang dilator belakangi perbedaan agama, suku ras dan budaya bias dibangun," jelasnya.

Sementara itu, Bupati Jombang Nyono Suharli mengatakan sangat siap menjadi tuan rumah pertemuan yang akan diikuti peserta dari 18 negara.

"Ini adalah momentum bagus, kota pesantren Jombang akan lebih dikenal di manca Negara. Kita akan sambut dengan berbagai budaya yang ada," tandasnya. (Muslim Abdurrahman/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Lomba IMNU Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Biola Idris Sardi Pukau Ratusan Pendekar

Jakarta, IMNU Tegal. Maestro biola Indonesia, Idris Sardi memukau ratusan pendekar silat pada pengukuhan Pimpinan Pusat Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa, di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Ahad, (21/10).

Biola Idris Sardi Pukau Ratusan Pendekar (Sumber Gambar : Nu Online)
Biola Idris Sardi Pukau Ratusan Pendekar (Sumber Gambar : Nu Online)

Biola Idris Sardi Pukau Ratusan Pendekar

Selepas dhuhur, di pentas pengukuhan, muncul pria menenteng biola. Ia kemudian menggeseknya. Menjerit-jerit, melengking. Kadang seperti gemericik hujan. Nadanya turun naik. Sesekali seperti mengumbar kemarahan. Sesekali selembut ibu mengayunkan bayinya.?

Meski acara belum mulai, pria kelahiran 1938 itu terus menggesek biolanya. Mulai lagu Sepasang Mata Bola, Insyaflah, dan sederet lagu yang tak dikenal hadirin. Ia mengitari sela-sela kursi sambil berjalan perlahan.?

IMNU Tegal

Gesekan Idris Sardi yang mencintai biola sejak usia 5 tahun, tak ayal, membuat pendekar yang hilir-mudik mempersiapkan acara, berdecak kagum, menggeleng-gelengkan kepala. Sesekali mengabadikannya dalam kamera ponsel.?

IMNU Tegal

Pada acara pembukaan, Idris Sardi kembali menggesek biola Indonesia Raya. Kemudian shalawat Nariyah dan beberapa lagu lain semisal Alhamdulillah yang dipopulerkan Opick dan Amanda.

Hadirin berdiri khidmat. Mereka terpaku ke pentas. “Bulu kuduk saya merinding mendengarnya,” ujar Alip Nuryanto, salah seorang pengurus Pagar Nusa. “Saya hampir menangis ketika ia membawakan Indonesia Raya,” timpal pengurus yang lain.

Selepas tampil, Idris yang mengenakan baju putih dan sarung krem bergaris putih, kemudian menyalami Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua IPSI Prabowo Subiyanto. Kemudian duduk di samping mereka.?

Ia kemudian masuk ruangan. Tapi kembali lagi, menyimak acara hingga usai.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Lomba, Olahraga, Nahdlatul Ulama IMNU Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Harlah Kedua, TPQ NU Al-Hikmah Gelar Festival Anak Saleh

Semarang, IMNU Tegal. Dalam rangka peringatan hari lahir kedua, Taman Pendidikan al-Qur’an (TPQ) Al-Hikmah Sembunharjo, Semarang, Jawa Tengah, mengadakan Festival Anak Saleh II di gedung TPQ setempat, Rabu (29/01).

Membentuk generasi cemerlang dan generasi Qur’ani menjadi tema besar kegiatan Festival Anak Shaleh. Kegiatan ini terselenggara sebagai bentuk wujud rasa syukur karena TPQ NU Al-Hikmah turut serta aktif memberikan pengajaran qur’ani kepada masyakat,?

Harlah Kedua, TPQ NU Al-Hikmah Gelar Festival Anak Saleh (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Kedua, TPQ NU Al-Hikmah Gelar Festival Anak Saleh (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Kedua, TPQ NU Al-Hikmah Gelar Festival Anak Saleh

“Meski kondisi bangunan TPQ NU Al-Hikmah masih sederhana, kami meyakini dari kesederhaan ini akan lahir manusia-manusia yang sederhana, cemerlang dan memiliki jiwa Qur’an,” tutur Sodikin selaku kepala sekolah TPQ NU Al-Hikmah

IMNU Tegal

Festival anak saleh menampilkan beragam perlombaan, seperti mewarnai, cerdas cermat, dan lomba-lomba lainnya. Pihak penyelenggara berharap, kegiatan ini dapat memotivasi santri untuk lebih giat belajar mendalami ilmu al-Qu’ran dan keislaman.

IMNU Tegal

TPQ NU Al-Hikmah didirikan oleh Majelis Wakil Cabang NU (MWC NU) Genuk Semarang yang mendapatkan tanah wakaf dari masyarakat dan merupakan TPQ NU pertama dan satu-satunya di kecamatan Genuk. Pihak TPQ menyadari bahwa masih banyak keterbatasan khususnya dari segi bangunan. Aktifitas TPQ tak akan berjalan maksimal tanpa dukungan dari banyak pihak. (Lukni Maulana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Lomba IMNU Tegal

Selasa, 28 November 2017

Ansor Pasaman Toreh Sejarah Baru

Pasaman, IMNU Tegal. Gerakan Pemuda Ansor Cabang Kabupaten Pasaman menoreh sejarah baru dengan melakukan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) I yang melibatkan generasi muda nahdiyin di kabupaten paling utara Propinsi Sumatera Barat. PKD yang berlangsung selama dua hari, Sabtu-Ahad(26-27/9/2015) di aula Kantor Camat Padang Gelugur.

Tampil sebagai instruktur Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor ? Saleh Ramli dan Khoirul Anwar serta ? dihadiri anggota Tim Careteker PW GP Ansor Sumbar Zeki Aliwardana. ?

Ansor Pasaman Toreh Sejarah Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Pasaman Toreh Sejarah Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Pasaman Toreh Sejarah Baru

Menurut Saleh Ramli, PKD Gerakan Pemuda Ansor ini penting dilakukan untuk konsolidasi organisasi. Semangat peserta yang mengikuti PKD ini cukup potensial dalam mengembangkan Ansor ke depan di Kabupaten Pasaman.

IMNU Tegal

"Sebagaimana kebijakan PP GP Ansor, setiap pengurus Cabang GP Ansor di kabupaten/kota harus sudah mengikuti PKD yang instrukturnya dari pusat (PP GP Ansor). Mereka yang belum mengikuti PKD, jangan harap bisa menjadi pengurus Ansor di kabupaten/kota," ? kata Saleh Ramli.

Sementara itu, Ketua Panitia PKD PC GP Ansor Kabupaten Pasaman Asrial Arfandi Hasan menyebutkan, pelaksanaan PKD ini merupakan upaya menunjukkan eksistensi generasi muda di Pasaman agar dapat berbuat lebih baik di tengah masyarakat.?

IMNU Tegal

"Selama ini kepengurusan Ansor yang terbentuk tidak melalui pengkaderan yang jelas. Sehingga militansinya dalam mengurus organisasi masih sangat lemah," kata Asrial yang juga Camat Padang Gelugur, Kabupaten Pasaman ini.

Dikatakan Asrial, secara potensi kawasan Kabupaten Pasaman banyak yang praktek keagamaannya sehari-hari sudah sesuai dengan Nahdlatul Ulama. Namun mereka selama ini tidak terayomi dengan baik.?

"Untuk itu, Ansor sebagai generasi muda mencoba menyamakan visi, misi dan gerakan perjuangan dalam masyarakat. Alhamdulillah sambutan generasi muda cukup antusias," kata Asrial.

Menurut Asrial, PKD ini merupakan tonggak sejarah bangkitnya Ansor di Kabupaten Pasaman. Usai PKD ini, kita akan lanjutkan dengan pembentukan pengurusa Pimpinan Cabang Kabupaten Pasaman dan Pimpinan Anak Cabang di kecamatan-kecamatan.?

"Saya optimis Ansor ke depan di Pasaman akan terus berkembang dan diminati generasi muda. Karena Ansor tetap komit mempertahankan NKRI, Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika," kata Asril alumni STPDN ini. (Armaidi Tanjung/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Lomba, Sholawat, AlaSantri IMNU Tegal

Ustadz Hamid: Jangan Gampang Menyalahkan Sebelum Memahami

Pringsewu, IMNU Tegal. Ustadz Abdul Hamid pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) yang diadakan rutin di kantor NU kabupaten Pringsewu, Ahad (16/08/15) menyampaikan pesan agar tidak gampang menyalahkan sebelum memahami persoalan secara menyeluruh dan mendalam. 

Ustadz Hamid: Jangan Gampang Menyalahkan Sebelum Memahami (Sumber Gambar : Nu Online)
Ustadz Hamid: Jangan Gampang Menyalahkan Sebelum Memahami (Sumber Gambar : Nu Online)

Ustadz Hamid: Jangan Gampang Menyalahkan Sebelum Memahami

Pesan ini disampaikan menyikapi fenomena di zaman sekarang ini banyak sekelompok golongan yang dengan gampang menyalah-nyalahkan amaliyah golongan lain.

Menurut Ustadz Hamid golongan ini sering memahami makna dari Al-Qur’an dan hadits secara tekstual saja. Padahal menurutnya, dalam memahami makna dari ayat Al-Qur’an dan hadits diperlukan pemahaman yang dalam, mencakup juga makna kontekstual berikut asbabun nuzul dan asbabul urutnya.

IMNU Tegal

Menurut Ustadz yang sedang menempuh pendidikan S3 di IAIN Radin Intan Lampung ini, pemahaman terhadap ayat Al-Qur’an hendaknya tidak memotong-motong ayat. Hal ini karena banyak sekali ayat Al-Qur’an yang memiliki kaitan dengan ayat sebelum dan sesudahnya. Sedangkan dalam memahami hadits, Ustadz Hamid mengatakan bahwa diperlukan pemahaman tentang sebab-sebab dan bagaimana hadits tersebut disampaikan oleh Nabi.

Hal senada juga disampaikan Mustasyar NU Pringsewu KH Sujadi yang memoderatori Jihad Pagi tersebut. Menurutnya, para ulama Nahdlatul Ulama tidak hanya mengkaji dan menyampaikan secara tekstual dalil dan hukum di dalam agama Islam. Banyak sekali yang menyampaikannya dengan langsung memberikan uswatun hasanah kepada umat.

IMNU Tegal

KH Sujadi mencontohkan bagaimana baru-baru ini KH Maimun Zubair memberikan uswatun hasanah dengan berdiri ketika dilantunkan lagu Indonesia Raya pada Muktamar ke-33 NU di Jombang walaupun kondisi beliau sedang menggunakan kursi roda. 

"Kemudian apakah ada dalil upacara kemerdekaan 17 Agustus? Apakah ada dalil menghormati bendera merah putih? Hal itu tidak harus diperdebatkan karena para ulama lebih tahu dengan mencontohkan yang terbaik kepada umatnya," terangnya. (Muhammad Faizin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Lomba, Berita, Kyai IMNU Tegal

Sabtu, 25 November 2017

Kebrobrokan Bathin Merusak Urusan Dhahir

Rasulullah saw pernah bersabda قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلَّمَ : ثَلاثٌ مُهْلِكَاتٌ شُحٌّ مُطَاعٌ ØŒ وَهَوًى مُتَّبَعٌ ØŒ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بÙ? فْسِهِ? ? “Tiga perkara yang merusak yaitu, menuruti kebakhilan, mengikuti hawa nafsu dan megagumi diri sendiri”. Sesungguhnya ketiga perkara itu adalah urusan bathiniyah tetapi jika dibiarkan ketiganya dapat merusak urusan lahiriyah, mulai dari merusak tatanan keluarga, budaya hingga tataran ekonomi.

Ø¥Ù? الحمد لله الذى أرسل رسوله بالهدى ودÙ? Ù? الحق Ù„Ù? ظهره على الدÙ? Ù? كله. أرسله بشÙ? را ÙˆÙ? ذÙ? را وداعÙ? ا الى الله باذÙ? Ù‡ وسراجا Ù…Ù? Ù? را. أشهد اÙ? لا اله الا الله وحده لا شرÙ? Ùƒ له. شهادة اعدها للقائه ذخرأ. واشهد اÙ? محمدا عبده Ùˆ رسوله. ارفع البرÙ? Ø© قدرا. اللهم صل وسلم وبارك على سÙ? دÙ? ا محمد وعلى أله وأصحابه وسلم تسلÙ? ما كثÙ? را. أما بعد. فÙ? اأÙ? ها الÙ? اس اتقوالله حق تقاته ولاتموتÙ? الا وأÙ? تم مسلموÙ? . Pada kesempatan ini pertama-tama khatib ingin mengajak diri sendiri dan jama’ah semua untuk meningkatkan taqwa. Sesungguhnya taqwa itu Bermuda dari mengihdar larang-larangannya. Seperti halnya menghindar berbagai keburukan yang yang dijabarkan dalam salah satu hadits pendek:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلَّمَ : ثَلاثٌ مُهْلِكَاتٌ شُحٌّ مُطَاعٌ ØŒ وَهَوًى مُتَّبَعٌ ØŒ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بÙ? فْسِهِ?

Kebrobrokan Bathin Merusak Urusan Dhahir (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebrobrokan Bathin Merusak Urusan Dhahir (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebrobrokan Bathin Merusak Urusan Dhahir

Tiga perkara yang dapat merusak yaitu, menuruti kebakhilan, mengikuti hawa nafsu dan megagumi diri sendiri.

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Jika kita baca sekilas saja, hadits ini seolah hanya berfungsi sebagai hadits motifasi, semacam golden ways, yang memebri tips bagaimana tata cara hidup yang sukses dan benar. Padahal tidak demikian, karena sesungguhnya teks ini adalah hadits Rasulullah saw yang kadar kebenarannya seratus persen. Hadits Rasulullah saw bukan sekedar motifasi yang member janji, tetapi hadits itu berbicara bukti.

IMNU Tegal

Marilah kita ungkap bersama, bahwa ada tiga hal yang merusak hidup manusia yaitu menuruti kebakhilan, mengikuti hawa nafsu dan megagumi diri sendiri. Memang ketiga hal ini sangatlah bersifat bathiniah, karena ketiganya beroperasi dalam hati. Sehingga ketiganya sangat bersifat individualis dan sangat pribadi sekali.

IMNU Tegal

Tetapi jika dibiarkan, ketiga masalah tersebut yang bathiniah dan privasi itu akan merusak tatanan dhahir dan social. Kita akan melihat bagaimana penyakit hati yang tersimpan rapat dan sangat rahasia ini dapat merusak kehidupan nyata, kehidupan bermasyarakat, bahkan juga berbangsa dan bernegara. Jika ketiga penyakit itu menjalar kesebagian besar bangsa ini, maka hadits ini akan berlaku bagi bangsa Indonesia.

Jama’ah Jum’ah yang Dirahmati Allah

Perkara pertama yang dapat merusak adalah شخ مطاع syukkhun mutha’un (kikir yang dituruti). Kata syukkun, meskipun memiliki padanan dalam bahasa Arab bakhil, tetapi kata syukhkhun menunjukkan tingkat kebakhilan yang lebih tinggi, tidak sekedar pelit atau kikir biasa. Karena jika bakhil itu bermakna orang yang mempertahankan miliknya jangan sampai kepada orang lain. Namun sykhkhun lebih dari itu, ia adalah orang yang memepertahakan dan tidak rela, kalau ada kenikmatan Allah swt yang diberikan kepada orang lain. Walaupun ia sadari bahwa rahmat dan nikmat itu milik Allah swt dan bukan miliknya.

Secara tidak langsung, sifat inilah akar dari sifat madzmumah yang terkenal dan berbahaya yaitu hasud. Hasud adalah perasaan iri dan dengki dengan kenikmatan dan rahmat yang diterima orang lain serta menginginkan rahmati itu berpindah kepadanya. Sungguh inilah karakter terburuk manusia. Kebrobrokan moral yang paling tinggi, dibandingkan dengan kenakalan remaja dan praktik kekerasan dimanapun juga. Karena tindak kekerasan hanyalah kembangan dari sifat hasud ini.

Karena itu pantaslah jika Rasulullah saw berpesan dengan sangat ‘mewanti-wanti’ dalam haditsnya:

Ø£Ù? الÙ? بÙ? صلى الله علÙ? Ù‡ وسلم قال ? Ø¥Ù? اكم والحسد فإÙ? الحسد Ù? أكل الحسÙ? ات كما تأكل الÙ? ار الحطب?

Jagalah dirimu dari hasud, akan hasud akan meruntuhkan amal kebajikan sebagaimana api membakar kayu bakar’

Meski demikian para Jama’ah yang berbahagia, karena begitu seringnya kita mendengar dan membaca hadits ini, sehingga telinga terasa familier dan hatipun tidak tergugah. Akibatnya seringkali kita menganggap hadits ini sebagai intimidasi tak berkelanjutan, atau sekedar surat peringatan yang tidak pernah ditindak lanjuti. Na’udzubillah min dzalik, sungguh itu bisikan syaitan yang terkutuk.

Andaikata syukhkhun yang mengembang menjadi hasud itu berdampak pada hilangnya amal baik, dan perkara amal itu urusan nanti diakhirat, terus dimanakah bahaya syukhkhun muthoun ? dalam kehidupan nyata ini? ada sebuah hadits tentang kekikiran? yang ? sangat beroreintasi pada kehidupan bermasyarakat ijtimaiyyah yaitu

قال رسول الله صلى الله علÙ? Ù‡ وآله : السخÙ? قرÙ? ب Ù…Ù? الله قرÙ? ب Ù…Ù? الÙ? اس ØŒ قرÙ? ب Ù…Ù? الجÙ? Ø© ØŒ والبخÙ? Ù„ بعÙ? د Ù…Ù? الله بعÙ? د Ù…Ù? الÙ? اس قرÙ? ب Ù…Ù? الÙ? ار? . Bahwasannya Rasulullah saw bersabda: orang yang dermawan dekat dengan Allah swt, dekat dengan manusia dan dekat dengan surga. Sedangkan orang kikri itu jauh dari Allah, jauh dari manusia dan dekat dekat dengan neraka.

Pemahaman yang baik atas hadits ini adalah betapa ragam dalam kehidupan merupakan sunnatullah maka kaya-miskin, ada-tiada, adalah kenyataan. Dan semua itu dapat berjalan saling harmoni jika mereka yang kaya dan ada suka berbagi. Begitu pula sebaliknya, jika mereka kelompok yang kaya, yang mampu malah melakukan monopoli dan dominasi. Maka perputaran ekonomi tidak akan normal dan sehat lagi. Karena yang kaya akan makin kaya dan yang melarat akan tambah sekarat. Bukankah itu namanya sykhiyyun jika dia berekonomi dengan kaedah ‘memperoleh untung sebesar-besanya dengan modal sedikit-dikitnya?’

Bukankah ini yang terjadi dengan perekonomian di Negara kita. Ketika modal asing yang sangat kuat menggempur ekonomi mandiri masyarakat kecil dan menengah. Maka pemilik modal itulah yang sekarang menguasai pasar ekonomi negeri ini. Dengan berkedok investasi mereka ingin menguasai perdagangan dalam negeri dan anehnya mereka diberi jalan oleh penguasa atau pemerintah dengan dalih mengatur hajat-hidup bangsa ini.

Pertanyaannya kemuddian, bagaimanakah bisa para pejabat, penguasa dan pemerintah itu member jalan kepada para investor/pemilik modal dan para syakhiyyun itu?

Saudara-saudara Jama’ah Jum’ah yang dilindungi Allah swt. jawabnya ada dalam penyakit keduaوهوى متبع ? wa hawan muttaba’ (nafsu yang selalu dituruti). Nafsu atau kesenangan memang urusan pribadi, daftar keinginan dan kesenanga itu berderet dalam hati. Mungkin jika dituliskan dalam kertas akan menghabiskan berlembar-lembar.

Jika seseorang telah bertekad untuk menuruti segala keinginan memenuhi kesenangannya, maka apapun akan dilakukan. Tidak perduli kelakuannya akan mengorbankan masyarakat yang di dalam masyarakat itu ada keluarganya, ada orang-orang yang berjasa padanya. Inilah yang dalam Negara ini tergambar dalam tindakan korupsi.

Korupsi adalah contoh termudah dari penurutan hawa nafsu, nafsu memiliki rumah yang mewah-mewah, mobil baru-baru, dan perempuan canti-cantik. Maka ketika para syakhiyyun itu menawarkan kerja sama dengan keuntungan yang memikat dan para pemilik kebijakan menuruti hawa nafsunya, maka terjadilah tindak korupsi. Membeli Sapi dari luar negeri, membeli buah dari luar negeri, membeli kedelai dari luar negeri, member songkong dari luar negeri, membeli gula dari luar negeri. Semua dilakukan demi keuntungan pribadi, demi memenuhi keinginan pribadi tanpa merasa iba kepada petani sapi, petani bauah, petani singkong dan petani tebu. Bukankah ini merusak tatanankehidupan berbangsa dan bernegara.

Sekali lagi memang syakhiyy dan nafsu adalah masalah bathin adanya terselubung jauh dalam hati, tapi jika ia telah bergerak dan menguasai badan ini, ia mampu merusak tatanan kehidupan nyata, mengotak-ngoyak tatanan ekonomi riil dan mempercuram jenjang social kehidupan. Na’udzubillah min dzalik

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Katiga, adalah إعجاب المرء بÙ? فسه ? I’jabul mar’I binafsih mengagumi diri sendiri yang terkenal dengan ‘ujub. ‘ujub adalah satu penyakit hati paling akut yang susah sekali mengobatinya. Dokter sekaliber apapun tidak sanggup mengobati. Pada praktiknya penyakit ini akan membawa penderita menganggap dirinya paling baik, paling pintar, paling cantik, paling berwibawa dan lain seterusnya.

Ingatkah kita dengan perkataan Iblis ketika diperintah untuk tunduk kepada Nabi Adam as. dalam al-A’raf 12 disebutkan:

قَالَ Ø£ÙŽÙ? َا خَÙ? ْرٌ مِÙ? ْهُ خَلَقْتَÙ? ِÙ? مِÙ? Ù’ Ù? َارٍ وَخَلَقْتَهُ مِÙ? Ù’ طِÙ? Ù? ٍ

Saya lebih baik dari padanya, Engkau ciptakan saya dari api sedangkan ia, Engkau ciptakan dari tanah

Biasanya ‘ujub akan melahirkan penyakit laian yaitu ‘thulul amal’ angan-angan yang panjang. Mereka yang merasa diri lebih dari orang lain selanjutnya akan mengangan-angan dalam lamuanan. “Karena aku orang paling berwibawa di kampung ini, maka jika ada pejabat datang pastilah nanti akan menemuiku, jika menemuiku pastilah aku jadi banyak relasi, jika banyak relasi, maka aku akan…” dan terus tidak ada ujungnya. Jika penyakit ini telah menyergap pada diri seseorang, maka ia akan menjadi serang penghayal yang malas untuk bertindak dan berkreasi, karena lamunan yang panjang. Seperti malasnya pemasang lotre menunggu nasib.

Maka sudah seharusnya, jika kita ingin menyelamatkan diri, keluarga, lingkungan bahkan juga bangsa tercinta ini, marilah kita bersama-sama berusaha dan melatih diri menghindari ketiga penyakit itu. Dan tidak lupa berdo’a kepada Allah swt agar memberikan petunjukNya mempermudah jalan kita menghindari dari penyakit tersebut. Bukankah sesungguhnya iman dan taqwa yang ada dalam diri kita merupakan anugrah dari-Nya?

Demikianlah khotbah Jum’ah kali ini, meskipun sekelumit semoga bermanfaat.

? بَارَكَ اللهُ لِÙ? Ù’ وَلَكُمْ فِÙ? Ù’ اْلقُرْآÙ? ِ اْلعَظِÙ? ْمِ ÙˆÙŽÙ? َفَعَÙ? ِÙ? ÙˆÙŽØ¥Ù? َّاكُمْ ِبمَا ِفÙ? ْهِ مِÙ? ÙŽ اْلآÙ? اَتِ وَالذكْر ِالْحَكِÙ? ْمِ وَتَقَبَّلَ مِÙ? ِّÙ? وَمِÙ? ْكُمْ تِلاَوَتَهُ Ø¥Ù? َّهُ هُوَ السَّمِÙ? ْعُ اْلعَلِÙ? ْمُ

Khutbah II

? اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَاÙ? ِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِÙ? ْقِهِ وَاِمْتِÙ? َاÙ? ِهِ. وَاَشْهَدُ اَÙ? Ù’ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِÙ? ْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَÙ? ÙŽÙ‘ سَÙ? ِّدَÙ? َا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَاÙ? ِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِÙ? ْمًا كِثÙ? ْرًا

اَمَّا بَعْدُ فَÙ? اَ اَÙ? ُّهَا الÙ? َّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِÙ? ْمَا اَمَرَ وَاÙ? ْتَهُوْا عَمَّا Ù? ÙŽÙ‡ÙŽÙ‰ وَاعْلَمُوْا اَÙ? ÙŽÙ‘ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِÙ? ْهِ بِÙ? َفْسِهِ وَثَـÙ? ÙŽÙ‰ بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ Ù? ُصَلُّوْÙ? ÙŽ عَلىَ الÙ? َّبِى Ù? Ø¢ اَÙ? ُّهَا الَّذِÙ? Ù’Ù? ÙŽ آمَÙ? ُوْا صَلُّوْا عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِÙ? ْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَÙ? ِّدِÙ? اَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَÙ? ْبِÙ? آئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَارْضَ اللّهُمَّ عَÙ? ِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِÙ? Ù’Ù? ÙŽ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَاÙ? وَعَلِى وَعَÙ? Ù’ بَقِÙ? َّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَتَابِعِÙ? التَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ لَهُمْ بِاِحْسَاÙ? ٍ اِلَىÙ? َوْمِ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَارْضَ عَÙ? َّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ Ù? َا اَرْحَمَ الرَّاحِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِÙ? ِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُؤْمِÙ? َاتِ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْÙ? آءُ مِÙ? ْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاÙ? ْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِÙ? َّةَ وَاÙ? ْصُرْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ Ù? َصَرَ الدِّÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاخْذُلْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ خَذَلَ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ ÙˆÙŽ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى Ù? َوْمَ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَÙ? َّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ وَسُوْءَ اْلفِتْÙ? َةِ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ مَا ظَهَرَ مِÙ? ْهَا وَمَا بَطَÙ? ÙŽ عَÙ? Ù’ بَلَدِÙ? َا اِÙ? ْدُوÙ? ِÙ? ْسِÙ? َّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَاÙ? ِ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ عآمَّةً Ù? َا رَبَّ اْلعَالَمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. رَبَّÙ? َا آتِÙ? اَ فِى الدُّÙ? Ù’Ù? َا حَسَÙ? َةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَÙ? َةً وَقِÙ? َا عَذَابَ الÙ? َّارِ. رَبَّÙ? َا ظَلَمْÙ? َا اَÙ? ْفُسَÙ? َاوَاِÙ? Ù’ لَمْ تَغْفِرْ Ù„ÙŽÙ? َا وَتَرْحَمْÙ? َا Ù„ÙŽÙ? َكُوْÙ? ÙŽÙ? ÙŽÙ‘ مِÙ? ÙŽ اْلخَاسِرِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. عِبَادَاللهِ ! اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ Ù? َأْمُرُÙ? َا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَاÙ? ِ وَإِÙ? ْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ ÙˆÙŽÙ? ÙŽÙ? ْهَى عَÙ? ِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُÙ? ْكَرِ وَاْلبَغْÙ? Ù? َعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْÙ? ÙŽ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِÙ? ْمَ Ù? َذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ Ù? ِعَمِهِ Ù? َزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

?

Red: Ulil Hadrawy

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Lomba, Khutbah IMNU Tegal

Kamis, 23 November 2017

PBNU Harapkan IPNU-IPPNU Isi Kekosogan Dakwah Sekolah

Palembang, IMNU Tegal. Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H As’ad Said Ali menilai, banyak lembaga pendidikan saat ini mengalami kekosongan dakwah. Ia berharap, Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) menjadi solusi bagi persoalan ini.

“Kekosongan dakwah di kampus dan di sekolah-sekolah harus diisi,” ujarnya dalam taushiyah pembukaan Kongres XVII IPNU dan Kongres XVI IPPNU di Asrama Haji Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (1/12).

PBNU Harapkan IPNU-IPPNU Isi Kekosogan Dakwah Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Harapkan IPNU-IPPNU Isi Kekosogan Dakwah Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Harapkan IPNU-IPPNU Isi Kekosogan Dakwah Sekolah

As’ad menjelaskan, sesuai prinsip Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) karakter pendidikan yang dibangun mesti bertumpu pada nilai-nilai tasamuh (toleransi), tawazun (seimbang), i’tidal (tegak lurus) dan tawassuth (moderat).

IMNU Tegal

“Aswaja adalah perwujudan dari Islam rahmatan lil ‘alamin. Islam yang lembut, bukan Islam yang bengis. Islam yang bermanfaat bagi semua,” tuturnya.

IMNU Tegal

Menurut dia, hal ini relevan di tengah himpitan dua kutub ideologi yang terus merongrong jati diri republik ini, yaitu sekularisme dan ekstremisme beragama. NU dipandang sanggup menjadi solusi bagi keutuhan NKRI.

As’ad berpendapat, IPNU dan IPPNU termasuk organisasi yang khas karena memiliki basis pelajar tak hanya di madrasah dan pesantren, tapi juga di sekolah umum. Badan otonom NU ini perlu memperhatikan cara-cara berdakwah yang sesuai dengan selera anak muda saat ini.

Sebelumnya, Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU Ahmad Syauqi menyatakan, basis pelajar menjadikan IPNU sebagai tahapan terpenting proses kaderisasi NU. IPNU bukan semata organisasi massa, melain juga organisasi yang fokus berjuang di dunia pendidikan.

Ketua Umum Pimpinan Pusat IPPNU Margaret Aliyatul Maimunah menegaskan tentang pentingnya kembali pada basis pelajar dan santri sebagaimana ditegaskan dalam Kongres ke-13 di Surabaya. Garis perjuangan IPPNU antara lain adalah mengatasi berbagai persoalan pelajar, seperti kekerasan dan narkoba.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Lomba IMNU Tegal

Sabtu, 18 November 2017

Menteri Agama Janji Tingkatkan Kualitas Madrasah

Yogyakarta,IMNU Tegal. Menteri Agama RI Suryadharma Ali mengatakan, penyelenggara pendidikan di Indonesia ada dua, yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang fokus pada sekolah dan Menteri Agama (Menag) yang fokus pada madrasah.

Ia berpendapat bahwa pendidikan agama harus kita tingkatkan, “Dan menteri Agama siap untuk meningkatkan kualitas pendidikan madrasah,” katanya. Ia mengatakan hal itu pada dialog pendidikan dalam rangka Harlah ke-90 NU yang digelar di kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Dikpora) di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (15/05).

Menteri Agama Janji Tingkatkan Kualitas Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Agama Janji Tingkatkan Kualitas Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Agama Janji Tingkatkan Kualitas Madrasah

Dengan agama, lembaga pendidikan kita akan lebih baik. Karena kita sering mendengar krisis akhlak, moral dan sosial, “Di manakah sumber akhlak itu berada? Pastinya dari agama. Lembaga pendidikan agama harus menjadi pendidikan yang utama,” ujar Suryadharma.

IMNU Tegal

Ia menambahkan, kita harus memperhatikan betul lembaga pendidikan agama atau madrasah. Karena saat ini banyak penurunan santri dan rendahnya santri mengkaji kitab kuning, “Menjadi impian kita semua bahwa madrasah dapat mencetak pemuda-pemuda yang bisa memimpin doa, tahlilan, istigotsah, khutbah, dan ceramah.”

IMNU Tegal

Anggaran pendidikan, sambung Suryadharma, terus meningkat, kami terus memotivasi segenap pengurus dan guru di lembaga pendidikan agama. Agar Menteri Agama dapat menjalankan program-program yang menyentuh, meningkatkan kualitas pendidikan serta para menteri dapat turun ke bawah untuk melihat kondisi pendidikan yang berada di daerah.

Ia kemudian menyinggung lembaga Ma’arif NU. Menurutnya, dari sisi bahasa, “ma’arif” sangat mudah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, karena Kepala Mendikbud dan Menag berasal dari warga NU dan sama-sama untuk meningkatkan moral masyarakat kita.

Dialog pendidikan yang dipandu salah seorang Pengurus Pusat LP Ma’arif NU Zainal Arifin Toha tersebut, dihadiri pengurus NU, LP Ma’arif, dan pelajar se-DIY.

Redaktur      : Abdullah Alawi

Kontributor  : Solikhin dan Dwi

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Amalan, Lomba IMNU Tegal

Rabu, 15 November 2017

NahNu Harapkan Nahdliyin Dapat Akses Investasi Keuangan

Jakarta, IMNU Tegal. Seminar nasional hasil kerjasama Nahdliyin Nusantara (NahNu) dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan memberi ruang seluas-luasnya bagi warga NU untuk mendapatkan akses investasi keuangan.

NahNu Harapkan Nahdliyin Dapat Akses Investasi Keuangan (Sumber Gambar : Nu Online)
NahNu Harapkan Nahdliyin Dapat Akses Investasi Keuangan (Sumber Gambar : Nu Online)

NahNu Harapkan Nahdliyin Dapat Akses Investasi Keuangan

Ketua Umum NahNu Miftahul Aziz mengatakan hal tersebut kepada IMNU Tegal di sela-sela seminar yang dihelat di lantai 8 gedung PBNU Jl Kramat Raya No 164 Jakarta Pusat, Selasa (30/9) siang. Seminar mengusung tema “Combined Assurance pada Industri Jasa Keuangan: Upaya mewujudkan Industri Jasa Keuangan yang Sehat dan Stabil”.

Menurut Aziz, masyarakat harus mengerti bahwa hari ini industri keuangan sedang melakukan berbagai pembenahan. Dalam hal ini, OJK yang memiliki hak atau fungsi pengaturan dan pengawasan industri keuangan membuat satu desain insurance yang terintegrasi. Desain itu nantinya diberlakukan pada industri keuangan.

IMNU Tegal

“Itu penting karena pascakrisis 1998 isu tentang stabilitas sistem keuangan yang bisa tercipta ketika jasa keuangan kita sehat maka dibutuhkan satu insurance yang berbeda dengan asuransi pada umumnya. Ini adalah jaminan adanya manajemen resiko yang baik, ada good goverment yang baik, serta tata kelola keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan,” ungkapnya.

IMNU Tegal

Sehingga, lanjut dia, program memperluas akses investasi untuk masyarakat agar mereka memiliki akses kepada industri keuangan bisa berhasil karena mereka merasa nyaman.

Nahdliyin sebagai penduduk mayoritas di republik ini, bagi Aziz, sangat diuntungkan adanya jasa keuangan yang sehat ini. “Jika otoritas keuangan ini sehat, negara ini sehat, maka manfaat yang paling besar tentu didapat warga Nahdliyin. Sebaliknya, kalau buruk maka yang dirugikan adalah Nahdliyin juga,” tegasnya. (musthofa asrori/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Lomba, News IMNU Tegal

Selasa, 14 November 2017

Jejak Peninggalan Syekh Nahrawi Banyumas

Tangerang Selatan, IMNU Tegal - Banyak ulama Nusantara yang belum terekam jejak peninggalannya sehingga banyak dilupakan oleh kalangan intelektual Muslim saat ini. Salah satu tokoh ulama Nusantara yang mempunyai pengaruh besar dalam sanad keilmuan ulama-ulama di Nusantara adalah Syekh Ahmad Nahrawi Banyumas.

Direktur Islam Nusantara Center A Ginanjar Sya’ban membahas jejak peninggalan Syekh Nahrawi dalam diskusi rutin Sabtu, (30/9) di Ciputat, Tangerang Selatan.

Jejak Peninggalan Syekh Nahrawi Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)
Jejak Peninggalan Syekh Nahrawi Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)

Jejak Peninggalan Syekh Nahrawi Banyumas

Kiai Nahrawi lahir di Purbalingga pada tahun 1276 H (1860 M). Nama aslinya adalah Kiai Mukhtarom. Kemudian tafa’ulan kepada gurunya sehingga namanya menjadi Nahrawi.

IMNU Tegal

“Nama lengkap beliau adalah Ahmad Nahrawi Mukhtarom bin Imam Raja Al-Banyumasi Al-Jawi. Biografinya terdapat di kitab A’lamul Makiyyin yang ditulis oleh Syekh Abdullah Muallimi. Ada di entri nomor 1431 halaman 964,” ujar penulis buku Mahakarya Islam Nusantara itu.

Kitab tersebut menurutnya menceritakan tentang Syekh Nahrawi yang dilahirkan di Banyumas dan datang ke Mekkah pada usia 10 tahun. Dalam kitab itu juga dituliskan bahwa ia sangat tekun belajar kepada ulama-ulama Masjidil Haram sampai akhirnya mendapatkan surat izin untuk mengajar di Masjidil Haram. Dalam kitab tersebut juga menurutnya diceritakan bahwa dari tangan Syekh Nahrawi keluar murid-murid yang menjadi ulama besar.

Dalam keterangannya, ada juga kitab lain yang memuat biografi Syekh Nahrawi yaitu Al-Mudarrisun fil Masjidil Haram. Kitab yang ditulis oleh Mansyur An-Naqib itu menurutnya berisi pengajar yang ada di Masjidil Haram dari abad pertama zaman sahabat sampai kitab itu ditulis.

IMNU Tegal

“Biografi Syekh Nahrawi terdapat dalam juz 1 halaman 287,” tambahnya.

Ia menyampaikan peran Syekh Nahrawi Banyumas dalam jejaring keilmuan ulama Nusantara sangat besar. Hal itu menurutnya ditandai dengan beberapa karangan dan taqridz atas kitab-kitab ulama Nusantara. Bahkan, penulis buku Masterpiece Islam Nusantara Zainul Milal Bizawie yang menjadi moderator dalam diskusi tersebut juga menyampaikan Syekh Nahrawi merupakan gurunya ulama-ulama Nusantara.

“Habib Luthfi pernah mengatakan bahwa tidak ada karangan ulama-ulama Nusantara di Mekkah yang diterbitkan tanpa ada tanshih atau rekomendasi dari Syekh Nahrawi Banyumas. Guru utama Habib Luthfi bin Yahya yaitu KH Abdul Malik Purwokerto merupakan murid beliau (Syekh Nahrawi),” tambah penulis buku Laskar Ulama Santri dan Resoulusi Jihad itu.

Keterangan tersebut didukung oleh beberapa karangan dan taqridz Syekh Nahrawi yang disampaikan oleh intelektual Islam Nusantara A Ginanjar Sya’ban di antaranya, kitab Nadzom Risalatul Manasiq atau dikenal dengan Qurotul Uyun Linnasiq Al Muti’ bil Funun. Selain itu, menurutnya Syekh Nahrawi juga mempunyai kitab yang berisi ulasan atau ta’liq terhadap Risalah Kiai Ahmad Zaini Dahlan. Kitab yang berisi tentang ilmu Ballaghah itu menurutnya dicetak oleh Al-Maktabat Taroki Al-Majidiyah di Mekkah pada tahun 1911 M.

“Saat ini, manuskripnya tertulis milik KH Abdullah Umar Faqih Cemoro Banyuwangi,” tambahnya.

Selain itu, ia menambahkan bahwa ada juga manuskrip tentang fatwa Syekh Nahrawi yang berjudul Risalah fi Hukmin Naqus. Kitab yang sampai saat ini tersimpan di Pesantren Langitan, Tuban itu berisi tentang risalah hukum memukul kentongan yang menjadi tradisi Islam di Nusantara.

Dalam risalah tersebut, ia menceritakan ada seseorang yang menanyakan pendapat Syekh Nahrawi tentang ulama Nusantara baik di barat maupun di timur yang memukul kentongan yang terbuat dari sebilah kayu atau bambu dengan bertujuan untuk memberitahukan waktu masuknya shalat wajib. Tetapi setelah memukul kentongan, adzan, pupujian, dan iqamah pun dilakukan. Selain itu, mereka juga tidak menyukai agama para penjajah. Jadi orang tersebut menanyakan apakah hukum kentongan ini disamakan dengan hukum lonceng yang ada di gereja atau tidak.

Dari pertanyaan itu, jawaban dari Syekh Nahrawi menurutnya sangat moderat.

“Beliau menjawab bahwa ada banyak pendapat dari ulama. Ada yang mengharamkan, ada yang memakruhkan, dan ada yang membolehkan,” tambahnya.

Selain itu, yang tidak kalah penting dari jejak peninggalan Syekh Nahrawi menurutnya yaitu Syekh Nahrawi sering memberikan taqrizh atau endorsmen pada kitab-kitab ulama besar waktu itu.

Beberapa kitab yang ditaqrizh yang disebutkannya yaitu Fathul Majid Syarh Jauharatut Tauhid karya Syekh Husain bin Umar Palembang dan fatwa Al-Ajwibatul Makkiyah ‘alal As’ilatil Jawiyyah yang ditulis oleh Syekh Abdullah bin Abdurrahman Siraj pada tahun 1922 M. Kitab yang kedua itu menurutnya berisi jawaban mufti Mekkah terhadap persoalan yang ada di Nusantara. Persoalan tersebut seperti tradisi Nusantara muludan, tahlilan, ziarah kubur.

“Empat tahun sebelum Nahdlatul Ulama didirikan secara resmi, ulama Mekkah itu sudah buat fatwa kalau masalah-masalah tradisi Islam yang ada di Nusantara itu sah dan ada dalilnya,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa kitab tersebut merupakan dalil yang tak terbantahkan untuk kalangan Aswaja sekaligus menjadi dalil yang mematahkan argumen pihak-pihak yang mana mereka mengaku sebagai pihak-pihak ahlu ijtihad wal istinbat yang langsung mengambil hukum dari Al-Quran dan juga hadits.

“Dalam taqrizhnya, Syekh Nahrawi menulis bahwa mereka ingin mengambil langsung ke Al-Quran dan Hadits seperti Mujtahid tetapi mereka tidak mempunyai syarat-syarat ijtihad itu sendiri. Tetapi karena ideologi yang rusak dan sudah tertancap dan hatinya yang keras itu, mereka tidak mau mendengarkan dalil-dalil yang dituliskan oleh para ulama-ulama yang ahli keutamaan,” tambahnya.

Selain memberikan taqrizh, Syekh Nahrawi juga menulis sebuah catatan atau taqrirat penting atas kitab Fiqih Minhajul Qawwim yang ditulis oleh Syekh Nahrawi Banyumas pada tahun 1908.

“Kitabnya berjudul Taqrirat Qayyimah ‘ala Syarh Minhaj al-Qawwim fi al-Fiqh al-Syafi’i,” pungkasnya. (M Ilhamul Qolbi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Lomba IMNU Tegal

Jumat, 10 November 2017

Menag: Sisi Dalam Agama Hakikatnya Sama

Jakarta, IMNU Tegal



Jati diri dan realitas keindonesiaan kita adalah keragaman. Dalam perspektif agama, keragaman itu hakikatnya adalah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Sesuatu yang memang begitu adanya (given) Tuhan menghendakinya.

Menag: Sisi Dalam Agama Hakikatnya Sama (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Sisi Dalam Agama Hakikatnya Sama (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Sisi Dalam Agama Hakikatnya Sama

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan hal tersebut saat didaulat sebagai pembicara kunci dalam Temu Kebangsaan (Tembang) Orang Muda 2017 di Aula HM Rasyidi Kementerian Agama Jl MH Thamrin No 6 Jakarta, Jumat (28/4).

“Karena Tuhan sadar betul bahwa manusia merupakan makhluk yang amat sangat terbatas. Dan justru karena keterbatasan yang kita miliki maka Tuhan menurunkan anugerah-Nya, yakni dengan menciptakan keragaman di antara kita,” ujar Menag.

Hikmah keterbatasan itu, lanjut Menag, agar bisa saling mengisi, melengkapi dan menyempurnakan. Oleh karenanya, keragaman harus dilihat dari sisi positifnya, bukan sebaliknya malah saling menafikan antara yang satu dengan yang lain.

Menurut Menteri Lukman, agama selalu bisa dilihat dari dua pendekatan, dua sudut pandang, dari dalam sekaligus dari luar. Jika kita melihat agama dari sisi luar atau eksoteris, tentu akan kita lihat keragaman yang sangat banyak.

IMNU Tegal

Menag menambahkan, jangankan antara satu agama dengan yang lain, di internal agama itu sendiri kita lihat beragam cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Itulah yang disebut peribadatan atau berkomunikasi dengan Tuhan. Dalam Islam disebut syari’at.

“Syari’ yang artinya jalan tentu banyak. Ya, banyak jalan menuju Tuhan Yang Maha Segalanya. Jadi, sebagai makhluk kita jangan sampai memiliki obsesi atau pretensi untuk menyamakan perbedaan tersebut,” tandas putra bungsu mantan Menag KH Saifuddin Zuhri ini.

Sebaliknya, kata dia, jika kita melihat agama dari perspektif sisi dalam (esoteris) maka jangankan antarmadzhab yang ada dalam sebuah agama, antara agama yang satu dengan yang lain tidak akan kita temui perbedaan signifikan. Semua agama bicara pada tujuan yang sama. Esensi dan substansi dari semua agama hakikatnya sama.

IMNU Tegal

“Semua agama bicara tentang keadilan, persamaan di depan hukum, perlindungan HAM. Banyak sekali nilai universal yang dibicarakan agama. Jangan berbohong, jangan menipu, jangan menyakiti orang lain dan seterusnya. Jadi, sisi dalam agama-agama itu hakikatnya sama,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Lomba, Doa IMNU Tegal

Minggu, 05 November 2017

Aktivis PMII Minta Kepala Disdikda Bojonegoro Tanggung Jawab Kasus UN

Bojonegoro, IMNU Tegal. Puluhan aktivis PMII Bojonegoro yang berdemonstrasi meminta pertanggungjawaban perihal kebocoran dan kecurangan penyelenggaran Ujian Nasional dikecewakan, Kamis (8/5). Permintaan mereka untuk bertemu langsung dengan Kepala Dinas Pendidikan Daerah Bojonegoro Khusnul Huluq, tidak terpenuhi.

Aktivis PMII Minta Kepala Disdikda Bojonegoro Tanggung Jawab Kasus UN (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktivis PMII Minta Kepala Disdikda Bojonegoro Tanggung Jawab Kasus UN (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktivis PMII Minta Kepala Disdikda Bojonegoro Tanggung Jawab Kasus UN

Setelah berorasi dan melakukan aksi teaterikal yang menampilkan tokoh siswa, guru, dan joki UN di depan gedung Dinas Pendidikan Daerah (Disdikda) Bojonegoro, para peserta aksi meminta bertemu dengan Khusnul Huluq. Tetapi ternyata mereka hanya ditemui oleh Kabid ketenagaan Disdikda Muh Kuzaini.

"Tidak kompeten itu, tinggalkan saja," teriak salah seorang aktivis.

IMNU Tegal

Hanya beberapa menit saja, Kuzaini memberikan penjelasan kepada puluhan mahasiswa peserta aksi. Karena kecewa tidak bertemu orang nomor satu, mereka akhirnya meninggalkan kantor Disdikda menuju gedung DPRD Bojonegoro.

IMNU Tegal

Sementara itu, Kuzaini di depan para pendemo memberikan penjelasan terkait kurikulum 2013 yang akan segera diterapkan. "Tahun ini kurikulum baru, tahun 2013 akan dimulai," terangnya. (M Yazid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Lomba, News IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock