Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

PBNU Larang Nahdliyin Ikut Aksi 313

Jakarta, IMNU Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj melarang keras Nahdliyin (warga NU) untuk ikut demo atau aksi yang rencananya digelar atas prakarsa Forum Umat Islam (FUI) pada Jumat, (31/3) di sekeliling Monumen Nasional (Monas) Jakarta.

PBNU Larang Nahdliyin Ikut Aksi 313 (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Larang Nahdliyin Ikut Aksi 313 (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Larang Nahdliyin Ikut Aksi 313

“Gak usah berdemo. Buang-buang energi, waktu, uang saja,” kata Kiai Said di Lantai 3 Gedung PBNU Jakarta, Rabu (29/3).

Lebih jauh, Kiai Said yang juga menjadi Ketua Lembaga Persahabatan Organisasi Masyarakat Islam (LPOI) tidak mengizinkan warga ormas-ormas tersebut turun pada dalam demo tersebut.?

“Saya adalah Ketua Lembaga Persahabatan Organisasi Masyarakat Islam. Ada 12 ormas (yang tergabung). Ada Al Irsyad, PITI, Mathlaul Anwar, dan lain-lainnya. Warga ormas itu saya larang untuk ikut demo (313),” tegas Doktor lulusan Ummul Qurro University Mekkah itu.

Bahkan ia mempertanyakan status FUI sebagai forum yang mengatasnamakan umat Islam. “FUI itu apa? Ormas apa? Umat Islam yang mana? LPOI tidak berada di bawah FUI. Apalagi NU,” ujar Guru Besar Ilmu Tasawuf ini.

IMNU Tegal

Meski demikian, Kiai Said mempersilahkan orang yang mau demo. Namun ia menyayangkan kalau demo itu digelar dengan mengatasnamakan agama.?

“Yang saya sayangkan adalah (demo dengan) mengatasnamakan agama demi mengalahkan pasangan calon dan menaikkan calon yang didukung,” urai Kiai asal Kempek, Cirebon ini. ? ?

IMNU Tegal

Terakhir, ia mengimbau kepada seluruh umat Islam Indonesia, khusunya Nahdliyin, untuk senantiasa menampilkan wajah Islam yang damai dan sejuk. Serta menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia adalah negara yang beradab, beretika, dan tunduk di bawah hukum.

“Platform negara Madinah (yang dibangun Nabi Muhammad) adalah semua sama di mata hukum,” tegas Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

Demo 313 dikomandoi oleh Forum Umat Islam (FUI). Tujuan dari demo itu adalah meminta Presiden Joko Widodo untuk menon-aktifkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama karena ia didakwa telah menistakan agama Islam. ? ?

Rencananya, Aksi 313 ini akan dimulai dengan Shalat Jumat di Masjid Istiqlal. Kemudian peserta aksi akan berjalan menuju Istana Negara untuk menyampaikan tuntutannya kepada Presiden Joko Widodo. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Sholawat, Nahdlatul Ulama, Aswaja IMNU Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

PW Ansor Jabar Siap Kembangkan Ekonomi Pemuda

Bandung, IMNU Tegal 



Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat sedang menyiapkan instrumen untuk mengembangkan potensi ekonomi untuk kalangan pemuda. Hal itu mengemuka pada l Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) PW Ansor Jawa Barat di Pondok Pesantren Cijaura, Kota Bandung, Ahad (21/1).

"Tiada pilihan lain kecuali para pemuda, khususnya kader GP Ansor untuk melek dalam mengembangkan perekonomian di wilayahnya masing-masing," ujar Ketua PW Aansor Jawa Barat, Deni Ahmad Haidar.

PW Ansor Jabar Siap Kembangkan Ekonomi Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)
PW Ansor Jabar Siap Kembangkan Ekonomi Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)

PW Ansor Jabar Siap Kembangkan Ekonomi Pemuda

Saat ini, kata Deni, PW GP Ansor Jawa Barat tengah menginventarisir berbagai potensi ekonomi agar bisa dikembangkan oleh anggota GP Ansor di seluruh Jawa Barat. 

"Untuk itu kita akan support dan fasilitasi agar potensi tersebut bisa kita raih dan jalankan sehingga kader-kader GP Ansor siap berdaya saing," ujarnya.

Selain itu, lanjut Deni, pengembangan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) juga akan menjadi perhatian serius dalam menyambut era persaingan global tersebut.

IMNU Tegal

"Saat ini beberapa kader GP Ansor di Jawa Barat sukses menjadi direktur utama di beberapa perusahaan milik daerah. Ini semata-mata tak lepas dari kapasitas SDM yang dimilikinya," tandasnya.

IMNU Tegal

Untuk itu, lanjut Deni, pihaknya akan terus mendorong kader-kader GP Ansor di Jawa Barat untuk merebut potensi - potensi ekonomi demi kesejahteraan ummat.

"Masalah pendidikan dan kemiskinan, ini persoalan serius. Kedepan tidak ada lagi kader-kader Ansor yang hanya tamatan SD dan SMP. Kader Ansor harus unggul di berbagai lintas sektoral," pungkasnya. (Ade Mahmudin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Anti Hoax, Quote, Nahdlatul Ulama IMNU Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Kurikulum Pesantren Al-Qur’an Perlu Pembenahan

Jakarta, IMNU Tegal. Pesantren yang tumbuh dan dikembangkan oleh para kiai dan ulama memiliki banyak ragam. Selain pesantren umum yang mengajarkan ilmu-ilmu fikih, tafsir, hadist dan lainnya, terdapat pula pesantren yang lebih spesifik berupa pesantren Al-Qur’an atau tempat mempelajari dan menghafal kitab suci Al-Qur’an.

Sejauh ini, pesantren-pesantren Al-Qur’an telah melahirkan puluhan penghafal qur’an yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun sayangnya pengetahuan para penghafal (hafidz atau hafizhdoh) tersebut baru berbasis hafalan.

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi berpendapat, kurikulum pengajaran yang saat ini masih berbasis hafalan saja perlu dikembangkan lagi. “Mereka perlu memahami makna teks sehingga bisa menyampaikan isi Al-Qur’an kepada masyarakat,” tuturnya dalam perbincangan dengan IMNU Tegal di kantor PBNU, Jakarta, Jumat (18/5).

Kurikulum Pesantren Al-Qur’an Perlu Pembenahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurikulum Pesantren Al-Qur’an Perlu Pembenahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurikulum Pesantren Al-Qur’an Perlu Pembenahan

Pengasuh Ponpes Al Hikam Malang tersebut mengusulkan agar pesantren-pesantren tersebut manambahkan materi seperti bahasa Arab, tafsir, asbabun nuzul (penjelasan tentang sebab-sebab diturunkannya ayat tertentu), ayatul ahkam (berkaitan dengan hukum), ayat-ayat sosial, ayat-ayat tentang alam dan teknologi sampai dengan penafsiran Al-Qur’an dalam dunia kontemporer.

“Ini perlu agar puluhan ribu hafidz dan hafidhoh tidak dalam keadaan statis, hanya menunggu undangan hifdzul Qur’an,” paparnya.

IMNU Tegal

Dalam struktur NU, perangkat organisasi yang mengurusi para penghafal dan penafsir Al-Qur’an adalah Jamiyyatul Qurro wal Huffadz (JQH). Lembaga ini telah mengembangkan semaan Al-Qur’an yang secara rutin diselenggarakan di berbagai tempat. Sejumlah qori dan qoriah yang tergabung dalam lembaga ini juga telah meraih prestasi gemilang sampai ke tingkat internasional. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Kyai, Nahdlatul Ulama IMNU Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Dosen UNU Indonesia Ini Ajak Mahasiswa Kuasai Teknologi

Jakarta, IMNU Tegal

Bagi Suryandaru, dosen Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia, proses pembelajaran itu tidak sekadar teori. Tidak sekadar membaca, tapi juga dengan terjun langsung. Itu sebabnya dirinya selalu menyempatkan diri untuk mengajak mahasiswanya kunjungan studi, antara lain ke Pusat Penelitian Pengembangkan Teknologi (Pupitek), Serpong.

Dosen UNU Indonesia Ini Ajak Mahasiswa Kuasai Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dosen UNU Indonesia Ini Ajak Mahasiswa Kuasai Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dosen UNU Indonesia Ini Ajak Mahasiswa Kuasai Teknologi

Dalam proses pengajaran di kelas, Ndaru juga sering memutarkan video untuk menunjukkan gambaran langsung peristiwa alam yang bisa dikaji dari ? ilmu pengetahuan.

Sebagai dosen yang merupakan bagian dari perguruan tinggi yang salah satu tugasnya adalah pengabdian di masyarakat, Ndaru juga sering terjun ke masyarakat untuk memberikan pelatihan penerapan teknologi, salah satunya adalah pembuatan biogas dari kotoran sapi.

“Ini semacam bentuk aktivitas sosial. Agar mereka bisa melihat teknologi yang bisa mengahasilkan energi dan bisa dimanfaatkan sebagai sumber api,” kata Ndaru, Selasa (1/3) yang saat dihubungi lewat telepon sedang memberi pelatihan di Bintuhan, Kabupaten Riau, Bengkulu.

IMNU Tegal

Ndaru menambahkan bahwa pelatihan-pelatihan tersebut bisa menjadi model awal yang bisa diterapkan di berbagai tempat. Ndaru sendiri menganggap bahwa kunjungan ke berbagai tempat itu sebagai pengabdian ilmu yang dimilikinya.

Ditanya apakah aktivitas dan penelitiannya akan melibatkan UNU Indonesia tempatnya mengajar, Ndaru mengatakan sangat mungkin ke depan akan melibatkan mahasiswa UNU. “Tetapi itu tergantung dari pihak UNU,” Ndaru memberi catatan.

Ndaru yang menyenangi travelling dan karenanya sangat menikmati perjalanan dan kunjungan-kunjungan ke berbagai daerah, menyimpan harapan yang besar agar mahasiswa dan alumni UNU lebih banyak terlibat di masyarakat. Ndaru memandang Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisai masyarakat Islam terbesar di Indonesia yag saat ini sedang ditunggu kiprahnya, terlebih bidang sains dan teknologi.?

“Kita mesti bisa mengonversi pemahaman keislaman kita menjadi wujud nyata di masyarakat. Dengan begitu, NU akan menjadi sahabat terbaik bagi masalah umat manusia di Indonesia bahkan dunia,” terang Ndaru yang baru-baru ini proposal penelitiannya ‘Pengolahan Limbah Seng Menjadi Nano Sengosida sebagai Aplikasi Kemasan Anti Bakteri dan Kosmetik’ disetujui oleh Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek Dikti). (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Nahdlatul Ulama IMNU Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar

Popularitas shalawat Nariyah di kalangan umat Islam di Nusantara memang tak terbantahkan. Namun, apakah ia lantas bersih dari para penolaknya? Ternyata tidak. Sebuah fenomena yang sesungguhnya sangat lumrah dalam kehidupan beragama.

Lewat beragam sudut, beberapa orang melancarkan vonis bahwa pengamalan shalawat Nariyah termasuk melenceng dari ajaran Rasulullah alias bid’ah. Sebagian yang lain mengahakimi secara lebih ekstrem: syirik atau menyekutukan Allah.

Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar

Vonis bid’ah umumnya berangkat dari alasan tak ditemukannya hadits atau ayat spesifik tentang shalawat Nariyah. Sementara tuduhan syirik berasal dari analisa terjemahan atas redaksi shalawat yang dinilai mengandung unsur kemusyrikan. Yang terakhir ini menarik, karena tuduhan “sekejam” itu ternyata justru muncul hanya dari analisa kebahasaan. Benarkah demikian?

Kita simak dulu redaksi shalawat Nariyah secara lengkap sebagai berikut:

IMNU Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

IMNU Tegal

Perhatian para penuduh shalat Nariyah mengandung kesyirikan umumnya tertuju pada empat kalimat berurutan di bawah ini:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Kalimat-kalimat itu pun dirinci lalu diterjemahkan begini:

? ? ?

Artinya: "Segala ikatan dan kesulitan bisa lepas karena Nabi Muhammad."

? ? ?

Artinya: "Segala bencana bisa tersingkap dengan adanya Nabi Muhammad."

? ? ?

Artinya: "Segala kebutuhan bisa terkabulkan karena Nabi Muhammad."

? ? ?

Artinya: "Segala keinginan bisa didapatkan dengan adanya Nabi Muhammad."

Menurut para penuduh itu, empat kalimat tersebut sarat kesyirikan karena secara terjemahan mengandung pengakuan bahwa Nabi Muhammad memiliki kemampuan yang hanya dimiliki Allah, seperti bisa menghilangkan kesulitan, menghilangkan bencana, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan serta doa hanyalah Allah.



Bantahan dari Ilmu Sharaf dan Nahwu Dasar


Shalawat Nariyah atau disebut juga shalawat Tâziyah atau shalawat Tafrîjiyah berasal bukan dari Indonesia. Ia dikarang oleh ulama besar asal Maroko, Syekh Ahmad At-Tazi al-Maghribi (Maroko), dan diamalkan melalui sanad muttashil oleh ulama-ulama di berbagai belahan dunia. Tak terkecuali Mufti Mesir Syekh Ali Jumah yang memperoleh sanad sempurna dari gurunya Syaikh Abdullah al-Ghummar, seorang ahli hadits dari Maroko.

Jika shalawat Nariyah dianggap syirik, ada beberapa kemungkinan. Pertama, para ulama pengamal shalawat itu tak mengerti tentang prinsip-prinsip tauhid. Ini tentu mustahil karena mereka besar justru karena keteguhan dan keluasan ilmu mereka terhadap dasar-dasar ajaran Islam. Kedua, pengarang shalawat Nariyah, termasuk para pengikutnya, ceroboh dalam mencermati redaksi tersebut sehingga terjerumus kepada kesyirikan. Kemungkinan ini juga sangat kecil karena persoalan bahasa adalah perkara teknis yang tentu sudah dikuasai oleh mereka yang sudah menyandang reputasi kelilmuan dan karya yang tak biasa. Ketiga, para penuduhlah yang justru ceroboh dalam menghakimi, tanpa mencermati secara seksama dalil shalawat secara umum, termasuk juga aspek redaksional dari shalawat Nariyah.

Dilihat dari segi ilmu nahwu, empat kalimat di atas merupakan shilah dari kata sambung (isim maushul) ? yang berposisi sebagai na‘at atau menyifati kata ?.

Untuk menjernihkan persoalan, mari kita cermati satu per satu kalimat tersebut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Pertama, ? ? ? .




Dalam kacamata ilmu sharaf, kata ? merupakan fi’il mudlari‘ dari kata ?. Bentuk ini mengikuti wazan ? yang memiliki fungsi/faedah ? ? (dampak dari ?). Demikian penjelasan yang kita dapatkan bila kita membuka kitab sharaf dasar, al-Amtsilah at-Tashrîfiyyah, karya Syekh Muhammad Ma’shum bin ‘Ali.

Contoh:

? ? ?

“Saya memecahkan kaca maka pecahlah kaca itu.” Dengan bahasa lain, kaca itu pecah (?) karena dampak dari tindakan subjek “saya” yang memecahkan.

Contoh lain:

? ? ? ?

“Allah telah melepas beberapa ikatan (kesulitan) maka lepaslah ikatan itu.” Dengan bahasa lain, ikatan-ikatan itu lepas karena Allahlah yang melepaskannya.

Di sini kita mencermati bahwa wazan ? mengandaikan adanya “pelaku tersembunyi” karena ia sekadar ekspresi dampak atau kibat dari pekerjaan sebelumnya.

Kalau ? ? ? dimaknai bahwa secara mutlak Nabi Muhammad melepas ikatan-ikatan itu tentu adalah kesimpulan yang keliru, karena tambahan bihi di sini menunjukkan pengertian perantara (wasilah). Pelaku tersembunyinya tetaplah Allah—sebagaimana faedah ? ?.

Hal ini mengingatkan kita pada kalimat doa:

? ? ? ? ? ? ?? ? ? ? ? ? ?

“Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah ikatan/kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”

Kedua, ? ? ?. Senada dengan penjelasan di atas, ? merupakan fi’il mudlari‘ dari kata ?, yang juga mengikuti wazan ?. Faedahnya pun sama ? ? (dampak dari ?).

Ketika dikatakan ? ? ? maka dapat diandaikan bahwa ? ? ? ?. Dengan demikian, Allah-lah yang membuka atau menyingkap bencana/kesusahan, bukan Nabi Muhammad.

Ketiga, ? ? ?. Kata ? adalah fi’il mudlari‘ dalam bentuk pasif (mabni majhûl). Dalam ilmu nahwu, fi’il mabni majhul tak menyebutkan fa’il karena dianggap sudah diketahui atau sengaja disembunyikan. Kata ? menjadi naibul fa’il (pengganti fa’il). Ini mirip ketika kita mengatakan “anjing dipukul” maka kita bisa mengandaikan adanya pelaku pemukulan yang sedang disamarkan.

Dengan demikian kita bisa mengandaikan kalimat lebih lengkap dari susunan tersebut.

? ? ?

“Allah akan mengabulkan kebutuhan-kebutuhan.”



Keempat, ? ? ?




Penjelasan ini juga nyaris sama dengan kasus ? ? ?. Singkatnya, Nabi Muhammad bukan secara mutlak memiliki kemampuan memberikan keinginan-keinginan karena Allah-lah yang melakukan hal itu yang dalam kalimat tersebut disembunyikan. Fa’il tidak disebutkan karena dianggap sudah diketahui.

Alhasil, dapat dipahami bahwa tuduhan syirik atas kalimat-kalimat itu sesungguhnya keliru. Sebab, kemampuan melepas kesulitan, menghilangkan bencana/kesusahan, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan-keinginan secara mutlak hanya dimiliki Allah. Dan ini pula yang dimaksudkan pengarang shalawat Nariyah, dengan susunan redaksi shalawat yang tidak sembrono. Hanya saja, dalam redaksi shalawat Nariyah tersebut diimbuhkan kata bihi yang berarti melalui perantara Rasulullah, sebagai bentuk tawassul.

Bahasa Arab dan bahasa Indonesia memang memiliki logika khas masing-masing. Karena itu analisa redaksi Arab tanpa meneliti struktur bakunya bisa menjerumuskan kepada pemahaman yang keliru. Lebih terjerumus lagi, bila seseorang membuat telaah, apalagi penilaian, hanya dengan modal teks terjemahan. Wallahu a’lam. (Mahbib Khoiron)

(Baca juga: Menjawab Penggugat Shalawat Nariyah)


Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nahdlatul Ulama IMNU Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Cara Santri Futuhiyyah Mranggen Rayakan Hari Santri

Demak, IMNU Tegal. Pusaka hati wahai tanah airku//Cintamu dalam imanku//Jangan halangkan nasibmu//Bangkitlah hai bangsaku//Indonesia negeriku//Engkau panji martabatku//Siapa datang mengancammu//’kan binasa di bawah dulimu//.

Syair Subbanul Wathan karya KH Abdul Wahab Chasbullah itu menggema di halaman Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak pada Ahad malam (22/10). Syair itu dinyanyikan oleh sekitar lima ratus santri Futuhiyyah dengan suara lantang dan tangan kanan mengepal di tengah pelaksanaan upacara dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2017.

Cara Santri  Futuhiyyah Mranggen Rayakan Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Santri Futuhiyyah Mranggen Rayakan Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Santri Futuhiyyah Mranggen Rayakan Hari Santri

  

Seperti diketahui, melalui Keputusan Presiden (kepres) nomor 22 tahun 2015, Presiden Joko Widodo menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan itu mengacu pada Resolusi Jihad yang diinisiasi oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari dan dimaklumkan oleh para ulama Nahdlatul Ulama (NU) pada 22 Oktober 1945 sebagai hasil musyawarah konsul-konsul ulama NU se-Jawa dan Madura.

“Resolusi Jihad itu menyatakan bahwa memerangi penjajah itu hukumnya fardlu ain bagi setiap Muslim yang berjarak 94 km dari tempat musuh, adapun bagi yang di luar jarak itu, hukumnya fardlu kifayah,” terang Ustad Ahmad Sahal selaku pembina upacara.

 

IMNU Tegal

Hal itu, lanjutnya, menunjukkan bahwa para ulama dan kiai kita memiliki sikap nasionalisme yang tidak diragukan.

IMNU Tegal

“Karena itu, kita harus meneladani beliau-beliau yang sudah memberikan contoh yang sangat bagus, bukannya malah mengajarkan paham-paham yang merongrong NKRI!”

Pemahaman mengenai jihad harus diaktualisasi. Jika jihad pada zaman penjajah adalah memerangi para penjajah, maka jihad sekarang adalah belajar dengan rajin.

 

“Sekarang Indonesia sudah merdeka, dengan begitu jihad kita sekarang bukan lagi memerangi penjajah, tetapi memerangi kebodohan. Para santri harus rajin mengaji. Sebab dengan mengaji santri menjadi aji. Kita harus menyerap semaksimal mungkin ilmu-ilmu yang kita pelajari di pondok pesantren dan sekolah kemudian kita amalkan di masyarakat. Itulah makna jihad sekarang ini,” jelasnya.

Mujahadah 

Sebelum upacara digelar, bakda magrib para santri berkumpul di Masjid An-Nur mengadakan mujahadah dengan membaca shalawat nariyah sebanyak seratus kali. Mujahadah dipimpin oleh wakil kepala lurah Pondok Pesantren Futuhiyyah, Ustad Imam Fitri Khosyi’i, AH. 

Selain mengikuti intruksi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), menurut Ustad Imam Fitri Khosyi’i mujahadah juga penting dilakukan dalam rangka menyeimbangkan antara pikir dan dzikir. 

“Kita harus senantiasa memadukan antara jihad, ijtihad, dan mujahadah. Setelah kita melaksanakan jihad melawan malas dan ijtihad memahami pelajaran, rasanya tidak lengkap jika tidak dibarengi dengan mujahadah, memasrahkan semuanya kepada Allah,” tuturnya.

Nobar Film Sang Kiai. Selain mujahadah dan upacara, para santri Futuhiyyah juga mengadakan nonton bareng (nobar) film Sang Kiai di halaman pondok. Layar proyektor yang besar dan sound system yang menggelegar membuat para santri larut dalam keasyikan menonton film yang mengisahkan memoar KH. Hasyim Asy’ari tersebut.

 

Keakraban benar-benar tampak di antara para santri. Mereka duduk berlesehan sembari menikmati makanan ringan yang disajikan panitia. Tawa mereka membahana tiap kali film mempertontonkan adegan yang lucu. Begitu film selesai, para santri bertepuk tangan.  

Nailul Kamal, salah satu santri, merasa puas dengan rangkaian acara hari santri yang diselenggarakan Pesantren Futuhiyyah.

“Acara hari santri ini sederhana, tetapi efektif. Manfaatnya buat kami, terasa khidmat seperti acara nobar ini. Selain tidak mengganggu ketertiban umum, nobar ini sangat menghibur dan mendidik kami. Kami selaku para santri menjadi tahu perjuangan para kiai terdahulu seperti KH. Hasyim Asy’ari. Ia berharap acara seperti ini diagendakan setiap tahunnya. Kalau bukan kita, para santri, siapa lagi yang akan merayakannya,” pungkasnya. (Moh Salapudin/Ben Zabidy/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Meme Islam, RMI NU, Nahdlatul Ulama IMNU Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

Gus Mus: Saya Asisten Kiai Sahal Mahfudh

Pati, IMNU Tegal. Pejabat Rais Aam Syuriah PBNU KH A Musthofa Bisri (Gus Mus) menuturkan banyak hal saat menyampaikan taushiyah pada Haul ke-1 Almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh di Pesantren Maslakul Huda Kajen-Margoyoso-Pati, Jawa Tengah.

Gus Mus: Saya Asisten Kiai Sahal Mahfudh (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Saya Asisten Kiai Sahal Mahfudh (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Saya Asisten Kiai Sahal Mahfudh

Gus Mus pada acara Selasa (13/01/15) malam tersebut mengaku sebagai asisten Kiai Sahal sejak di kepengurusan PWNU Jawa Tengah hingga berlanjut di PBNU. Uniknya, ketika Mbah Sahal naik jabatan, otomatis Gus Mus naik jabatan di bawah Kiai Sahal.

“Saya itu asisten Kiai Sahal sejak lama. Ketika beliau Katib Syuriah PWNU Jateng, saya Wakil Katib. Ketika beliau jadi Rais, saya jadi Katib. Nah, ketika beliau jadi Rais di PBNU, saya tetap jadi Katib,” ujar Gus Mus jenaka yang langsung disambut ger-geran hadirin.

IMNU Tegal

Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin ini menambahkan, itulah bedanya kualitas seseorang. Ketika yang satu sudah sampai di bulan sementara yang lain masih merayap di bumi.

Gus Mus masih ingat betul ketika Departemen Agama (kini Kemenag) saat itu banyak membuat program macam-macam yang ternyata terinspirasi pemikiran Kiai Sahal.

IMNU Tegal

“Misalnya begini, ketika beliau sedang ngomongin sesuatu dengan saya tentang kesehatan masyarakat. Lalu, kata orang Depag, ‘wah itu kita seminarkan saja. Kita kerja sama dengan UNICEF.’ Nah, seluruh pegawai Depag pun ikut seminar. Semua lalu tanda tangan dan semua dapat amplop,” ungkap Gus Mus yang lagi-lagi disambut tawa segar hadirin.

Hasil seminar tersebut, lanjut Gus Mus, menyepakati untuk membentuk tim perumus.  Ditunjuklah narasumbernya, Kiai Sahal, sebagai tim perumus bersama Gus Dur dan beberapa orang lainnya.

“Saya tau betul karena setelah itu saya ditugasi Kiai Sahal untuk menulis rumusan dengan membuka kitab-kitab yang ditunjukkan beliau,” paparnya.

Gus Mus menegaskan, hingga saat ini buku panduan tentang gizi di Kementerian Agama tulisan Arabnya masih asli tulisan sahabat karib Gus Dur ini. “Jadi, tulisan Arab saya masih dipakai saking kesete (malas, Jawa-red) orang Kemenag itu. Udah gitu difoto kopi.” Lagi-lagi hadirin tertawa gembira.

Menurut Gus Mus, Kiai Sahal memiliki keahlian nyata di bidang fiqih. “Beliau itu kan keahliannya fiqih. Tapi ini bukan fiqih murni yang lalu dipakai ndalil ke sana ke mari, buat pidato. Ndak. Ada pembaruan bahtsul masail di NU itu juga pemikirannya Kiai Sahal,” tegas putra KH Bisri Musthofa ini. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nahdlatul Ulama, Meme Islam IMNU Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

Sekretaris Ansor Sumbar Terpilih Ketua IPSI Padang

Padang, IMNU Tegal. Sekretaris GP Ansor Provinsi Sumatera Barat Zulhardi Z Latif diamanahkan memimpin Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Padang pada Musyawarah Kota (Muskot) IPSI Padang di gedung KNPI Sumbar Komplek GOR Agus Salim, Padang, Ahad (17/5). Anggota DPRD Kota Padang ini sebelumnya memimpin GP Ansor Kota Padang.

Sekretaris Ansor Sumbar Terpilih Ketua IPSI Padang (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekretaris Ansor Sumbar Terpilih Ketua IPSI Padang (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekretaris Ansor Sumbar Terpilih Ketua IPSI Padang

Musyawarah Kota IPSI dalam sidang pemilihan dipimpin oleh Syahrial Panghulu Rajo Api dengan wakil Fachri Jamal Rajo Bungsu, H Ongga Pandeka Rajo Batuah, Syahril K, dan Idris Chan Sutan Rajo Bujang. Pimpinan sidang memberikan waktu dua pekan kepada ketua terpilih bersama tim formatur menyusun kepengurusan IPSI Padang periode 2015-2019.

Zulhardi dikenal pemuda yang aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan di samping menjadi sekretaris di salah satu partai politik.

IMNU Tegal

Dalam sambutan singkatnya, Zulhardi mengatakan, tidak ada yang kalah dan menang dalam pemilihan Ketua IPSI Kota Padang ini. Yang lebih penting adalah bagaimana bersama-sama kita membesarkan IPSI Kota Padang ke depan.

IMNU Tegal

"Mari saling bergandengan tangan memajukan IPSI," kata Zulhardi.

Muskot sendiri sebelumnya dibuka Walikota Padang Mahyeldi yang dihadiri Sekretaris Umum IPSI Sumatera Barat, Muasri.

"Kembali ditekankan kepada pengurus IPSI Padang yang terpilih betul-betul dapat mengurus IPSI. Apalagi pencak silat merupakan cabang olahraga tradisional Minangkabau yang menjunjung jalinan silaturahmi," ujarnya. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nahdlatul Ulama, Khutbah IMNU Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Habib Lutfi: Contohlah Laut

Brebes, IMNU Tegal. Manusia di dunia, kadang lupa diri ketika diberi kelebihan oleh Allah SWT. Sehingga kadang berbuat diluar nalar dan lebih membanggakan diri sendiri tanpa memperhatikan kekuatan yang lebih dasyat. Bahkan dibandingkan dengan alam sekitarnya pun, manusia kadang kalah.



Habib Lutfi: Contohlah Laut (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Lutfi: Contohlah Laut (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Lutfi: Contohlah Laut

Seperti yang dicontohkan laut. Bagaimanapun banyaknya anak sungai yang airnya mengalir kelaut namun air laut tak akan kehilangan asinnya.

“Artinya kita selaku manusia meskipun banyak sekali ilmu pengetahuan maupu segala sesuatu yang dapat kita serap namun kita jangan sampai kehilangan jati diri,” pinta KH Habib Lutfi bin Ali Yahya pada saat menyampaikan tausiyah Maulid Nabi dan Haul Muassis ke-24 di Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes Senin (22/2).

IMNU Tegal

Menurut Habib, bila para alim memiliki jatidiri, maka akan selalu berada di dijalan yang benar sesuai dengan ajaran Islam. “Era sekarang, pencemaran laut terus mendera, tapi tetap saja terasa asin,” ucapnya mantap.

Tak terkecuali manusia, setiap hari diterpa pencemaran. Baik itu berupa harta, tahta maupun wanita yang sangat menggiurkan. Tapi bila tetap berpegang pada jatidiri yang hakiki, tidak akan tergoyahkan.

IMNU Tegal

Hadir pada acara tersebut wakil Bupati Brebes H. Agung Widiyantoro, SH MSi, Walikota tegal H. Ikmal Jaya, Kapolres dan wakapolres Brebes, Muspida dan muspika, kepala SKPD, ki dalang Entus dan ratusan Santri dan santriwati serta masyarakat umum lainnya.

Sebelumnya panitia juga mendaulat dalang kondang asal tegal Ki Entus Susmono untuk memberikan sedikit sambutan. Dengan gaya bahasanya yang blak-blakan, jamaah yang hadir dibuat ketawa lepas. Karuan saja, suasana mendadak ramai dan meriah. 

Wakil Bupati Brebes H. Agung Widyantoro, SH MSi yang membacakan sambutan Bupati, mengucapkan terima kasih atas kedatangan habib lutfi di acara peringatan Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan oleh pondok pesantren assalafiah desa Luwungragi.

Lebih lanjut dikatakan, pemerintah kabupaten Brebes setiap tahunya telah memperhatikan kebutuhan beragama mulai dari Pondok pesantren, madrasah dan lainya, hal tersebut dilakukan sebagai upaya agar pendidikan agama tetap ditanamkan sejak dini. Selanjutnya bupati berpesan kepada yang hadir pada acara tersebut agar dapat menjaga kerukunan antar sesama terutama kerukunan antar umat beragama, mengingat kabupaten brebes memiliki wilayah yang cukup luas. (was)Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Internasional, Nahdlatul Ulama IMNU Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Biola Idris Sardi Pukau Ratusan Pendekar

Jakarta, IMNU Tegal. Maestro biola Indonesia, Idris Sardi memukau ratusan pendekar silat pada pengukuhan Pimpinan Pusat Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa, di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Ahad, (21/10).

Biola Idris Sardi Pukau Ratusan Pendekar (Sumber Gambar : Nu Online)
Biola Idris Sardi Pukau Ratusan Pendekar (Sumber Gambar : Nu Online)

Biola Idris Sardi Pukau Ratusan Pendekar

Selepas dhuhur, di pentas pengukuhan, muncul pria menenteng biola. Ia kemudian menggeseknya. Menjerit-jerit, melengking. Kadang seperti gemericik hujan. Nadanya turun naik. Sesekali seperti mengumbar kemarahan. Sesekali selembut ibu mengayunkan bayinya.?

Meski acara belum mulai, pria kelahiran 1938 itu terus menggesek biolanya. Mulai lagu Sepasang Mata Bola, Insyaflah, dan sederet lagu yang tak dikenal hadirin. Ia mengitari sela-sela kursi sambil berjalan perlahan.?

IMNU Tegal

Gesekan Idris Sardi yang mencintai biola sejak usia 5 tahun, tak ayal, membuat pendekar yang hilir-mudik mempersiapkan acara, berdecak kagum, menggeleng-gelengkan kepala. Sesekali mengabadikannya dalam kamera ponsel.?

IMNU Tegal

Pada acara pembukaan, Idris Sardi kembali menggesek biola Indonesia Raya. Kemudian shalawat Nariyah dan beberapa lagu lain semisal Alhamdulillah yang dipopulerkan Opick dan Amanda.

Hadirin berdiri khidmat. Mereka terpaku ke pentas. “Bulu kuduk saya merinding mendengarnya,” ujar Alip Nuryanto, salah seorang pengurus Pagar Nusa. “Saya hampir menangis ketika ia membawakan Indonesia Raya,” timpal pengurus yang lain.

Selepas tampil, Idris yang mengenakan baju putih dan sarung krem bergaris putih, kemudian menyalami Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua IPSI Prabowo Subiyanto. Kemudian duduk di samping mereka.?

Ia kemudian masuk ruangan. Tapi kembali lagi, menyimak acara hingga usai.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Lomba, Olahraga, Nahdlatul Ulama IMNU Tegal

NU dan Mercon Lebaran Masa Penjajahan Belanda

Mercon atau petasan, tidak ada hubungannya dengan Islam. Penggunaannya pada hari Raya Idul Fitr atau Lebaran oleh sebagian kalangan dianggap bid’ah sesat karena tidak diajarkan Nabi Muhammad SAW serta tak berfaidah sama sekali.?

Namun, Berita Nahdlatul Oelama (selanjutnya BNO) berpendapat lain, mercon untuk semarak Lebaran merupakan bagian syiar Islam. Tengok misalnya pada majalah yang diterbitkan HBNO di Surabaya tersebut terbitan 7 November 1940 halaman 15:?



NU dan Mercon Lebaran Masa Penjajahan Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Mercon Lebaran Masa Penjajahan Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Mercon Lebaran Masa Penjajahan Belanda

Sampik sekarang masih banyak orang Islam yang berkelebihan sikep pada mertjon; ada jang anti dan ada jang keliwat dojan ja’ni sampik jang djenggoten, atau sampik meloepakan jang lebih perlu apa lagi sampik oetang atau gade-gade.? Keduanya menurut pikiran Garagoesy, nama ini entah penulis entah kelompok atau majalah lain, yang ada pada majalah itu, sama salahnya. Ia mengatakan,?



Jang pertama hendak menghilangkan keramaiannya hari orang Islam memperlihatken hari besarnya. Jang pertama bilang: itoe mertjon boekan perintah agama. Itoe memang betoel.? Namun, kata penulis itu, apa mercon saja yang bukan perintah agama yang dilakukan kalangan Muslimin saat Idul Fitri? Kenapa mercon saja yang dimusuhi sedang perkara-perkara yang memusuhi Islam 10 ribu persen dipelihara. Namun sayangnya penulis tidak merinci perkara-perkara tersebut.

IMNU Tegal

Lantas penulis mengajak untuk mengkaji kembali tentang larangan membakar mercon tersebut waktu itu.

Dari mana asalja anti mertjon itoe? Kan kembali kepada orang-orang jang soedah terkenal…nggak soeka sama Islam!!! Mereka bilang itoe pemborosan. Jah, itoe betoel kalau kelewat bates. Tapi apa tidak ada lain matjem pemborosan jang dipiara baik oleh mereka? Dan kaloek kita kritik kita dapat tjap ….kolot?Sepertinya memang mercon dilarang waktu itu. Pelarangnya tiada lain adalah pemerintah Hindia Belanda. Kalaupun tidak dilarang, pemerintah jajahan waktu itu mengatur atau membatasi penggunaan mercon. Majalah tersebut pada No 1 tahun 10 (diperkirakan edisi Oktober 1940), mengutip berita dari Balai Pustaka.



IMNU Tegal

Atas nama Legercommandant dikabarkan:

Berhoeboeng dengan larangan memasang petasan (mertjon) maka banjaklah timboel pertanyaan. Oleh sebab itoe diterangkan disini, bahwa larangan itoe mengenai segala matjam petasan dan jang sebangsanya. Djadi bukan petasan (mertjon atau bedil-bedil jang biasa sadja, melainkan djuga kembang api dan petasan banting).?

Oleh karena berhoeboeng dengan lebaran jang akan datang ini banjak permintaan jang masoek, maka sekarang lagi dipertimbangkan diberi tidaknja izin orang memasang petasan itoe, djadi diberi tidaknja atas larangan tersebut.?

Tidak lama lagi bisa rasajnadiberitakan poetoesan tentang itoe.?

Pada edisi tahun ke-10 BNO mengangkat berita berjudul “Mertjon Waktoe Lebaran” seperti berikut:?



Dengan memperloeas jang telah ditentoekan dalam beslitnya 28 Augustus 1941 Nr.4068/G.S. III-9, soedah diizinkan oleh Leggercommandant membakar mertjon pada malam sebeloem 1 Sjawal (21 Oktober) dan pada 1 Sjawal (22 Oktober) tetapi dalam hal itoe haroeslah diperhatikan djoega apa-apa jang ditentoekan dan atau jang dilarang oleh Bestuur.?

(D.v.O. verstrekt)?

Sekadar diketahui, BNO memiliki moto “Majalah Islamiyah Umumiyah”. Terbit dua minggu. Pada tiap jilid, dijelaskan Made Redacteuren j.m. K.H. Hasjim Asj’arie Teboeireng Djombang, j.m. K.H. Abduwahab Chasbullah Soerabaja, j.m. K.H Bisri Denanjar Djombang. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Berita, Nahdlatul Ulama, Budaya IMNU Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Habib Syech: Nasihat Mengena karena Faktor Keikhlasan

Solo, IMNU Tegal. Banyaknya da’i yang memberikan kultum dan ceramah, khususnya di bulan Ramadhan ini, mestinya membuat umat Islam semakin paham akan ajaran Islam. Namun, terkadang yang terjadi justru sebaliknya. Banyaknya kalimat nasihat yang disampaikan, tidak berbanding lurus dengan banyaknya masyarakat yang mengamalkannya.

Hal tersebut, menurut keterangan yang terdapat dalam kitab al-Hikmah karya Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, disebabkan karena kurangnya keikhlasan para da’i dalam menyampaikan nasihatnya.

Habib Syech: Nasihat Mengena karena Faktor Keikhlasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syech: Nasihat Mengena karena Faktor Keikhlasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syech: Nasihat Mengena karena Faktor Keikhlasan

“Kata-kata nasihat orang yang ikhlas, meski sederhana akan mengena. Sebaliknya, ahli riya, kalimat nasihatnya akan dibuat-dibuat, justru menjadikan para pendengarnya gelap hati,” terang Pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa, Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf pada kajian yang diselenggarakan menjelang sahur di Gedung Bustanul Asyiqin Solo, Ahad (12/7) lalu.

IMNU Tegal

Lebih lanjut dijelaskan Mustasyar PWNU Jateng itu, keikhlasan kalam dari para orang shaleh dan ulama menjadikan kalam mereka selama ribuan tahun sampai sekarang tetap diperhatikan dan dipelajari umat Islam.

“Bahasa nasihat itu bahasa ikhlas, bukan sekedar pintar bicara atau indahnya bahasa. Kita lihat Nabi saw, kalau menyampaikan sederhana tapi maknanya dalam. Misal ketika ditanya apa itu iman? Dijawab Nabi, iman itu menjaga Islam,” papar Habib Syech.

IMNU Tegal

Kajian menjelang sahur ini diselenggarakan tiap dini hari Selama bulan Ramadhan di Gedung Bustanul Asyiqin Solo. Pada kegiatan tersebut menghadirkan beberapa ustadz antara lain Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi, Kiai Anshori (LBM PCNU Solo), dan lainnya. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nahdlatul Ulama IMNU Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

IPNU-IPPNU Rembang Siapkan Pelajar Mandiri Ekonomi

Rembang, IMNU Tegal. Departemen Perekonomian Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Cabang Rembang, Jawa Tengah merencanakan kegiatan ekonomi bagi kalangan pelajar NU di Rembang supaya mandiri.

IPNU-IPPNU Rembang Siapkan Pelajar Mandiri Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Rembang Siapkan Pelajar Mandiri Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Rembang Siapkan Pelajar Mandiri Ekonomi

Anggota Departemen Perekonomian IPNU Cabang Rembang Ahmad Indraki pada Ahad pagi (21/6) di kantor sekretariat IPNU Cabang Rembang, kompleks Gedung NU Jalan Pemuda No 78 Rembang, mengatakan, pihaknya akan berupaya menggagas perekonomian pelajar NU ke depan. Pasalnya kebutuhan para pelajar masakini sangatlah banyak. Jika diteruskan meminta pada orang tua bukan tidak mungkin akan membuat para orang tua kesal.

“Kebutuhan pelajar masakini mulai dari pulsa himgga transportasi dan akomodasi menuju ke sekolah sangatlah banyak. Belum lagi keperluan mereka untuk perawatan mulai dari pakaian hingga yang lainnya, jika di hitung relatif tinggi.

IMNU Tegal

Mengenai usaha yang akan dirintis Ahmad Indraki menjelaskan akan membuat usaha kecil-kecilan yakni memberikan suplai barang kebutuhan pokok bagi warga nahdliyin di Rembang. Seperti beras, minyak goreng, dan dan kebutuhan dapur lainnya, yang akan di dimulai sebelum ramadan hari pertama dimulai.

IMNU Tegal

Dia menjelaskan, tak menarget mendapatkan untung banyak, tetapi bisa berjalan terlebih dahulu. Ahmad Indraki mengaku, tidak mudah dalam menjalankan usaha itu. Tetapi ia bersama pengurus IPNU-IPPNU yang lain akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan usaha itu.

Jika dihitung jumlah warga Nahdlatul Ulama di Kabupaten Rembang relatif tinggi, jika bersedia menjadi member bukan tidak mungkin usaha yang dirintis oleh Departemen Perekonomian IPNU-IPPNU akan dapat berdiri, sesuai dengan harapan. Serta program merintis ke uangan para pelajar NU dapat tercapai.

Sejauh ini, kata Ahmad Indraki pihaknya sudah berkomunikasi dengan Ketua Cabang Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) M Syafi Majlis. Hasilnya LPNU sangat mendukung rencana yang akan dilakukan oleh para pelajar NU untuk mulai merintis keuangannya sendiri.

“Kita tak muluk untung sebagaimana para pengusaha. Tetapi kami akan merintis usaha kecil yang akan dikembangkan secara bertahap. Agar nantinya dapat menjadi pembelajaran kita bersama dalam berusaha ke depan,” katanya. (Ahmad Asmu’i/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Sholawat, Nahdlatul Ulama, Aswaja IMNU Tegal

Jumat, 01 Desember 2017

Peziarah Mancanegara Tertarik Kotak Amal di Makam Gus Dur

Jombang, IMNU Tegal

Makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur ) mantan Ketua Umum PBNU di komplek Pesantren Tebuireng Jombang, tidak pernah sepi dari peziarah. Hal ini seperti yang terlihat, Sabtu (3/6) sore, mereka datang dari berbagai penjuru daerah di Indonesia bahkan tidak jarang juga dari mancanegara.

Rombongan peziarah yang datang dari mancanegara itu adalah mahasiswa Miami Dade College Florida, Amerika Serikat . Rombongan mahasiswa yang didampingi Prof ? Michael Lenaghan salah satu dosennya ini menyempatkan berziarah ke makam Gus Dur setelah belajar Multikulturalisme di Pesantren yang didirikan KH HAsyim Asy’ari ini.

Di kompleks makam, mereka mendapatkan penjelasan bahwa para peziarah biasanya menyalurkan donasi atau infaq di kotak amal yang disediakan Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT). ? “ Kotak amal tersebut dikelola untuk pelayanan sosial, kesehatan dan ekonomi bagi dhuafa di sekitar Pesantren Tebuireng,” terang Mohammad Asad Direktur LSPT.

Peziarah Mancanegara Tertarik Kotak Amal di Makam Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Peziarah Mancanegara Tertarik Kotak Amal di Makam Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Peziarah Mancanegara Tertarik Kotak Amal di Makam Gus Dur

Mendengar cerita itu, Prof ? Michael Lenaghan spontan mengeluarkan dompetnya dan menanyakan lokasi kotak amal tersebut. Pria yang mengaku pernah tiga kali bertemu Gus Dur ini pun bergegas menuju kotak amal dan memasukkan selembar uang dolar Amerika.?

Langkah dosen senior itu segera diikuti oleh dua mahasiswanya, Joshua Elias dan Enrique Sepulvedas. Ketika ditanya kenapa ikut-ikutan memberika donasi, pria paruh baya tersebut menjawab singkat, "Thats what friends do," ujarnya dengan nada bangga.

Selain donasi yang dimasukkan ketiga orang tersebut ke kotak amal, mereka secara kolektif juga menyerahkan donasi sebesar Rp. 1,5 juta kepada LSPT. Donasi tersebut diterima oleh Mohammad Asad mewakili pengurus LSPT. (Muslim Abdurrahman)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Aswaja, News, Nahdlatul Ulama IMNU Tegal

IMNU Tegal

Senin, 27 November 2017

Metode Baca Kitab Kuning Al-Lubab Diperkenalkan kepada Mahasiswa Unej

Jember, IMNU Tegal. Pengetahuan terhadap ilmu agama, khususnya kitab kuning juga menjadi kebutuhan kalangan mahasiswa umum. Hal ini tercermin dalam “Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Membaca Kitab Kuning Dengan Metode Al-Lubab” yang digelar di ruang kuliah Fakultas Hukum, Universitas Jember selama 3 hari.

Metode Baca Kitab Kuning Al-Lubab Diperkenalkan kepada Mahasiswa Unej (Sumber Gambar : Nu Online)
Metode Baca Kitab Kuning Al-Lubab Diperkenalkan kepada Mahasiswa Unej (Sumber Gambar : Nu Online)

Metode Baca Kitab Kuning Al-Lubab Diperkenalkan kepada Mahasiswa Unej

Menurut penggagas kegiatan tersebut, Ahmad Nafi’, pembelajaran membaca kitab kuning merupakan kebutuhan bagi kalangan mahasiswa perguruan tinggi umum. Sebab, di kitab-kitab kuning itulah sumber ilmu keislaman yang begitu luas berada.

“Kalau kita bisa membaca kitab kuning, maka kita dapat membuka wawasan soal keislaman seluas-luasnya. Ini bisa mengimbangi ilmu umum yang mereka punya,” ujarnya kepada IMNU Tegal di sela-sela acara tersebut, Sabtu (24/9).

Dosen Fakultas Pertanian, Univesitas Jember itu menambahkan, bahwa secara umum mahasiswa saat ini cukup cerdas dan cakap. Namun sayang, kecerdasan mereka sering kali tidak dibarengi dengan pengetahuan agama yang cukup.

IMNU Tegal

Akibatnya, kondisi keilmuan mereka jomplang. Mereka pinter-pinter, tapi jauh dari sentuhan agama. Padahal, mereka adalah agen perubahan sosial sekaligus calon pemegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa.

“Karena itu, kami memfasilitasi mereka untuk belajar kitab kuning dengan metode Al-Lubab. Kami berharap dengan metode ini, mereka bisa memahami dan tahu membaca kitab kuning dengan cepat dan praktis. Mau nyantri mereka sudah tidak punya waktu. Jadi ini alternatif lain. Tujuan akhirnya, mereka cakap sekaligus ? berakhlaq mulya,” jelas Pengurus Pusat Matan (Mahasiswa Ahli Thoriqoh An-Nahdliyyah) tersebut.

Diklat membaca kitab kuning tersebut menghadirkan narasumber yang juga penemu metode Al-Lubab, Kiai Fakhruddin dari Demak, Jawa Tengah. Sebanyak 50 mahasiswa-mahasiswi dengan tekun mengikuti pemaparan sang kiai dengan komposisi waktu penjelasan teori ? 6 jam dan praktek 8 jam.

Diklat tersebut diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Matan bekerjasama dengan Pengurus Cabang Matan Jember yang dipimpin oleh Nurul Ghufron, yang juga Dekan ? Fakultas Hukum, Universitas Jember. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nahdlatul Ulama IMNU Tegal

Sabtu, 25 November 2017

Ini Jadwal Peringatan Harlah Ke-32 Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta

Jakarta, IMNU Tegal



Pondok Pesantren Asshiddiqiyah yang diasuh KH Noer M. Iskandar, SQ memperingati hari lahir (harlah) ke-32. Beragam kegiatan digelar mulai hari ini Kamis (9/3) sampai Ahad (12/3). ? Berdasarkan jadwal kegiatan yang diterima IMNU Tegal, di antara kegiatan Harlah adalah nonton film bareng, bedah novel, karnaval budaya, pentas seni, bazar hingga tabligh akbar.?

Berikut agenda peringatan harlah tersebut. Pada Kamis malam 9 Maret 2017, panitia mengadakan bedah film “Jalan Da’wah Pesantren”.

Ini Jadwal Peringatan Harlah Ke-32 Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Jadwal Peringatan Harlah Ke-32 Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Jadwal Peringatan Harlah Ke-32 Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta

Pada Jumat pagi 10 Maret 2017, panitia mengadakan Bakti Sosial “Cek Darah, Fisioterapi, Konsultasi & Cek Kesehatan (Gula Darah & Kolesterol)”. Di waktu yang sama diadakan Santri Goes to Campus “Mengenal Berbagai Jurusan di PTN dan PTS”.

Pada siang hari, sekitar pukul 14.00 – 15.00, panitia mengadakan Peresmian Bazar & Pameran Selama 3 hari. Pada pukul 16.00 – 18.00, panitia mengadaka Seminar Informatika bertema “Aktif & Beretika dalam Dunia Sosial Media.”

Pada malam harinya, sekitar pukul 19.00 – 20.30, panitia mengadakan Bedah Novel “Pondok Lentera” karya Putri Annisa (Iklas 2008). Lalu pukul 21.00 – 22.30 diadakan kegiatan Ngaji Budaya bersama Zastrow El Ngatawi dan Fadly (Vokalis Band Padi)

IMNU Tegal

Pada Sabtu pagi 11 Maret 2017 sekitar pukul 07.30 – 12.00, panitia mengadakan Haul Akbar & Tabligh Akbar serta peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-32 Pondok Pesantren Asshiddiqiyah.

Pada siang harinya, pukul 14.00 – 16.00, panitia mengadakan Pentas Seni & Budaya Karya Santri. Pada pukul 20.30 – 22.30 diadakan Tasyakuran Ulang Tahun Pernikahan KH Noer M. Iskandar, SQ dan Ibu Nyai.

IMNU Tegal

Pada Ahad pagi 12 Maret 2017 pukul 07.00 – 10.00, panitia mendakan Karnaval Budaya Nusantara. Pukul 10.00 – 11.00 Hiburan & Pengumuman Pemenang Lomba. Pukul 13.00 – 14.30? Silaturrahim Nasional Alumni.?

Pada pukul 14.30 – 16.00 Konser Musik Religi dan Gerakan Ayo Mondok bersama Wali ? Band. Pukul 19.00 – 23.00 Asshiddiqiyah Bershalawat dalam Rangka Maulid Nabi Muhammad saw bersama Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Hadits, Nahdlatul Ulama, Kyai IMNU Tegal

Sabtu, 11 November 2017

Siswa Ma’arif Bandongan Gelar Rihlah Ruhiyah

Magelang, IMNU Tegal. Pagi yang cerah di lereng Gunung Sumbing disambut riuh kicau burung di pepohonan, 200 siswa Madrasah Ibtidaiyah tampak bersemangat mengikuti kegiatan hari itu, Rislah Ruhiyyah atau perjalanan spiritual yang diadakan Kelompok Kerja Madrasah Ma’arif  se-Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang yang diikuti siswa kelas VI  dari 11 Madrasah dibawah yayasan Ma’arif  NU. 

Ketua Panitia Rozib Sulistyo menjelaskan, rihlah ruhiyyah adalah perjalanan menggunakan hati dan jiwa spiritualisme siswa agar dapat meneladani sifat, sikap dan perjuangan tokoh-tokoh NU, tidak hanya sekedar perjalanan fisik belaka dari pagi hingga sore mendatangi makam di kabupaten Magelang.

Siswa Ma’arif Bandongan Gelar Rihlah Ruhiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa Ma’arif Bandongan Gelar Rihlah Ruhiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa Ma’arif Bandongan Gelar Rihlah Ruhiyah

Acara ini merupakan dukungan riil terhadap visi misi Nahdlatul Ulama yaitu “al mukhafadhotu “alal qodimi wal ahdhu bil jadidil aslahi” mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik dan mempertahankan hal lama yang masih baik. Di sisi lain secara akademis siswa kelas VI Madrasah Ma’arif Nahdlatul Ulama harus menjalani ujian praktek mata pelajaran ke-NU-an sebagai mata pelajaran kelembagaan yang salah satunya membaca tahlil, siswa diperkenalkan kepada tokoh-tokoh besar Nahdlatul Ulama di wilayah Magelang agar menghargai dan melanjutkan perjuangan mereka.

IMNU Tegal

Tujuan lain adalah menjadi ajang silaturahmi dan menghilangkan kejenuhan bagi siswa yang dalam waktu beberapa minggu ini bergelut dengan berbagai model soal guna menghadapi Ujian Nasional.

IMNU Tegal

Pukul 8 pagi semua siswa dan guru pendamping menggunakan 15 angkudes dan 4 mobil pribadi telah berada dititik awal kegiatan di makam Kiai Raden Abdullah di Tonoboyo Bandongan kemudian menuju Banjaragung Kajoran makam Kiai Raden Abdul Chamid, dilanjutkan makam KH Nur Muhammad di Ngadiwongso Salaman, tujuan berikutnya adalah makam Kiai Haji Raden Ma’sum di Tempuran dan kompleks makam Keluarga Kerajaan Mataram di Gunung Pring Muntilan, tempat terakhir pukul 3 sore adalah kompleks makam KH Chudlori di Tegalrejo Magelang.

“Siswa tidak diajarkan untuk meminta kepada arwah tokoh yang diziarahi namun mendoakan agar waliyullah tersebut diampuni dosanya, sedangkan siswa tetap berdoa kepada Allah dengan masing-masing sesuai hajat atau keinginannya,” tutur Rozib

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Ubudiyah, Nahdlatul Ulama, Tokoh IMNU Tegal

Selasa, 07 November 2017

Tingkatkan Kualitas Kader, IPPNU Demak Gelar Lakut

Demak, IMNU Tegal. Pengurus IPPNU Demak di akhir masa kepengurusannya terus menggalakkan kaderisasi serta memaksimalkan kualitas kadernya. Mereka melibatkan pengurus aktifnya yang ada di tingkat kecamatan pada Latihan Kader Utama di aula Masjid Besar Baitul Muttaqin Kauman Mranggen Demak, Jumat-Ahad (29-31/8).

Tingkatkan Kualitas Kader, IPPNU Demak Gelar Lakut (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Kualitas Kader, IPPNU Demak Gelar Lakut (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Kualitas Kader, IPPNU Demak Gelar Lakut

“Kegiatan Lakut ini bertujuan mempersiapkan kader pada kepengurusan mendatang. Dengan materi Lakut ini, mereka diharapkan bisa mandiri dan professional,” ujar Ketua IPPNU Demak Fitriyah di tengah kaderisasi tingkat lanjut ini.

Kaderisasi ini menghadirkan beberapa senior andal dan pengisi pelatihan yang professional. Program seperti ini, kata Fitriyah, merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan di semua tingkatan.

IMNU Tegal

“Secara formal kaderisasi berbentuk pelatihan dan kegiatan lain sudah jalan. Hanya pada Lakut ini saya merasa lega karena sudah ada gambaran kader-kader penerus saat konferensi nanti,” jelas Fitriyah.

Dalam pelaksanaan Lakut ini, IPPNU Demak menggandeng antara lain lembaga pendidikan di Demak, Ma’arif NU Demak, dan 14 PAC IPNU-IPPNU sekabupaten Demak. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Nahdlatul Ulama, Berita IMNU Tegal

Minggu, 05 November 2017

Madrasah Kader di Malut Siapkan Pemimpin Internal Sadar Visi Maritim

Ternate, IMNU Tegal. Menindaklanjuti instruksi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Pengurus Wilayah NU Maluku Utara, Senin (14/11) menyelenggarakan program Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) yang dirangkai dengan agenda Konferensi Wilayah (konferwil). Program ini dilaksanakan tiga hari di Kota Ternate.

Madrasah Kader di Malut Siapkan Pemimpin Internal Sadar Visi Maritim (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Kader di Malut Siapkan Pemimpin Internal Sadar Visi Maritim (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Kader di Malut Siapkan Pemimpin Internal Sadar Visi Maritim

Ketua PWNU Maluku Utara H. Adam Marus mengatakan, MKNU adalah proses kaderisasi NU untuk menyiapkan pemimpin internal. Ada beberapa capaian ditargetkan, antara lain menyiapkan tokoh-tokoh ulama kampung yang sadar akan visi maritim.?

“Di Jawa ada banyak pesantren yang menjadi basis kultural NU. Pesantren di sini tidak sebanyak di Jawa. Di sini adanya Johu Guru (kiai kampung) yang menjadi ujung tombaknya (yang menjaga amaliyah-amaliyah NU),” kata H. Adam di sela rehat pelatihan.

Menyiapkan kepemimpinan NU berbasis maritim menurutnya menjadi kebutuhan NU di Maluku Utara yang tak terbantahkan. ? Dengan kata lain, kalau mau jadi kader NU di Maluku Utara, semua harus punya militansi maritim. Ini mengingat Maluku Utara adalah provinsi kepulauan paling strategis di mana gugus-gugusnya melimpah kekayaan alam.

IMNU Tegal

“Jauh sebelum Indonesia berdiri, sejak abad 14 wilayah Kesultanan di sini sudah dikenal hebat di Eropa. Itulah alasan kenapa di abad itu orang Belanda orang Portugis datang ke sini,” paparnya.

Hadir langsung sebagai pemateri dan fasilitator dalam MKNU di Malut ini lima utusan PBNU. Mereka yakni H Sultonul Huda, H Endi AJ. Soefihara, KH Mujib Qulyubi, H Robikin Emhas, dan H Aizzuddin Abdurrahman. Red: Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Nahdlatul Ulama, Sejarah IMNU Tegal

Sabtu, 04 November 2017

Ma’arif Babat Gelar Kursus Pembina Pramuka Mahir

Babat, IMNU Tegal. Kursus pembina pramuka mahir tingkat dasar (KMD) yang dilaksanakan oleh Satuan Komunitas Ma’arif NU Cabang Babat, Lamongan bertujuan untuk memberi bekal pengetahuan dan pengalaman praktis membina pramuka.?

Ma’arif Babat Gelar Kursus Pembina Pramuka Mahir (Sumber Gambar : Nu Online)
Ma’arif Babat Gelar Kursus Pembina Pramuka Mahir (Sumber Gambar : Nu Online)

Ma’arif Babat Gelar Kursus Pembina Pramuka Mahir

Kegiatan yang dilaksanakan di SMK Wachid Hasjim Maduran pada hari Sabtu-Jumat, 01-07 Oktober 2016 ini diikuti oleh seluruh calon pembina pramuka di gugus depan binaan PC LP Maarif NU Babat.?

Mulai dari pretest untuk mengawali KMD, seluruh peserta nampak menikmati dengan soal yang diberikan oleh kakak pelatih. Kemudian dinamika kelompok dengan menyusun puzzle. Usai itu waktunya istirahat shalat dan persiapan upacara pembukaan kursus.

Tepat bada maghrib upacara pembukaan kursus dilaksanakan, dihadiri oleh Ketua Sakoma PW LP Maarif NU Jawa Timur dan beberapa dari Pelatih Pusdiklat Jodipati Kwarda Lamongan. Kegiatan ini mendapatkan sambutan hangat dari PW LP Maarif NU Jawa Timur sebab Sakoma Cabang Babat adalah pertama kalinya Sakoma mengadakan KMD. Setelah itu, orientasi kursus oleh Ketua Pusdiklat langsung yaitu Imam hingga pukul 11.00 malam.

Hari kedua suasana nampak cerah, diawali dengan kegiatan senam pagi dilanjut sarapan. Kemudian materi oleh para pelatih. Beberapa hari berjalan mulai dari kekompakan, solidaritas dan kekeluargaan mulai tertanam.?

IMNU Tegal

Materi yang diberikan diantaranya kepramukaan, AD/ART Gerakan Pramuka, prodik, cara membina dengan sistem among, organisasi, SKU/SKK/TKK, SPG/TPG & alat pendidikan hingga kegiatan luar ruang. (Wiwin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Nahdlatul Ulama, Sejarah, Nahdlatul IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock