Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Maret 2018

Festival Hadrah MWCNU Bayat Diagendakan Setiap Tahun

Klaten, IMNU Tegal

Sabtu (16/12) pagi, Masjid Golo Komplek Makam Sunan Pandanaran terlihat ramai. Ibu-ibu, bapak-bapak, para remaja, serta anak-anak kompak menghadiri Festival Hadrah Kecamatan Bayat.

Begitu penampilan kelompok hadrah mulai beraksi, kemeriahan itu sekaligus berpadu dengan kekhusyukan hadirin, hingga suasana khidmat tersirat di sana.

Festival Hadrah MWCNU Bayat Diagendakan Setiap Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Festival Hadrah MWCNU Bayat Diagendakan Setiap Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Festival Hadrah MWCNU Bayat Diagendakan Setiap Tahun

Pada acara yang dimulai pukul 08.00 WIB itu, peserta setiap kelompok hadrah tidak dibatasi. Siapa pun boleh mengikuti acara ini dengan catatan tidak boleh merangkap menjadi anggota di grup lain.

Setiap peserta menampilkan dua lagu, yaitu wajib dan pilihan. Lagu wajib adalah Mars Syubanul Wathan, dan lagu pilihannya dibebaskan. 

Festival hadrah ini mendapat sambutan meriah, terbukti dengan banyaknya peserta yang mengikuti.

IMNU Tegal

"Alhamdulillah, ada 17 peserta yang mengikutinya. (Mereka) dari Bayat dan beberapa daerah di sekitarnya," jelas Ketua Panitia, Sunaryo.

IMNU Tegal

Setiap peserta menampilkan dua lagu, yaitu wajib dan pilihan. Lagu wajib adalah Mars Syubanul Wathan, dan lagu pilihannya dibebaskan. 

Diprakarsai MWCNU Bayat, didukung oleh GP Ansor Bayat, Muslimat NU Bayat, Fatayat NU Bayat, dan Pagar Nusa NU Bayat, festival diadakan untuk memeriahkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Dan memperkuat silaturahim, khususnya antar warga NU di Bayat,” kata Ketua Tanfidziyah MWC NU Bayat, Sagino.

Festival Hadrah Kecamatan Bayat direncanakan akan diselenggarakan setiap tahun. (Minardi Kusuma/Kendi Setiawan) 

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nusantara, Humor Islam IMNU Tegal

Rabu, 21 Februari 2018

SMK Walisongo Terapkan Program Double Degree

Jepara, IMNU Tegal. SMK Walisongo Pecangaan Jepara menerapkan sistem double degree untuk para peserta didiknya. Penerapan keahlian ganda ini berlaku untuk siswa kelas XII semester ganjil dengan program ekstra wajib. Setelah mengikuti program selama satu satu semester, mereka mengikuti uji kompetensi.

SMK Walisongo Terapkan Program Double Degree (Sumber Gambar : Nu Online)
SMK Walisongo Terapkan Program Double Degree (Sumber Gambar : Nu Online)

SMK Walisongo Terapkan Program Double Degree

Ekstra wajib untuk jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR) ialah Teknik Sepeda Motor (TSM). Sementara untuk jurusan Kriya Teksil (KT), Tata Busana (TB). Sedangkan bagi siswa jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), mereka mengambil ekstra wajib Rekayasa Perangkat Lunak (RPL).

Sebanyak 106 siswa akan mengikuti uji kompetensi tahun ini pada Senin-Rabu (12-14/5).

IMNU Tegal

Menurut Waka Kurikulum Ardana Himawan, ? program ini dilaksanakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. “Masyarakat biasanya tak mau tahu. Kalau jurusan kendaraan ringan dikiranya bisa paham tentang mobil dan motor. Padahal sejatinya TKR fokus di mobil. Maka dari itu, program double degree kami laksanakan mulai tahun 2013 kemarin,” jelasnya.

IMNU Tegal

Kepala SMK Walisongo Sutarwi Samsul Maarif menambahkan, pihaknya berharap program ganda itu memikat calon peserta didik baru. Program ini menjadi keistimewaan SMK Walisongo. Karena SMK lain belum tentu menjalankannya.

“Kelebihan program ini, siswa mendapat dua sertifikat. Jurusan TKR mendapat sertfikat dari Mitsubishi dan Honda. Jurusan KT dari Sanggar Batik dan Griya Anita dan TKJ dari APTI,” tambahnya. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nusantara, PonPes IMNU Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Fatayat NU Jateng Gelar Kontes Puteri Fatayat 2015

Solo, IMNU Tegal. Akhir pekan lalu (24/5), Pengurus Wilayah (PW) Fatayat NU Jawa Tengah menggelar acara kontes pemilihan ajang Puteri Fatayat NU wilayah Jawa Tengah yang bertempat di Gedung Asrama Haji Islamic Centre Manyaran, Semarang.

Dalam kesempatan tersebut, peserta dari perwakilan Fatayat Magelang, Aini Chabibah, berhasil mengalahkan para pesaingnya dan berhak untuk dinobatkan menjadi Puteri Fatayat NU Jawa Tengah tahun 2015.

Fatayat NU Jateng Gelar Kontes Puteri Fatayat 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Jateng Gelar Kontes Puteri Fatayat 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Jateng Gelar Kontes Puteri Fatayat 2015

Ketua Umum PW Fatayat NU Jawa Tengah Khizanaturrohmah menjelaskan, kegiatan Kontes Puteri Fatayat 2015 ini, masih menjadi rangkaian dari kegiatan Harlah Fatayat NU yang diperingati pada 24 April lalu.

IMNU Tegal

“Acara ini diikuti 60-an peserta dari 35 pengurus cabang Fatayat se-Jawa Tengah. Seleksi peserta sudah dilaksanakan sejak bulan April. Dari jumlah tersebut kemudian dipilih 25 finalis yang tampil dalam acara final pemilihan Puteri Fatayat NU,” terang Khizanaturrohmah, saat ditemui IMNU Tegal di Solo belum lama ini.

IMNU Tegal

Ditambahkan dia, pihak panitia juga membuka kesempatan bagi para wanita di luar Fatayat yang ingin mengikuti kegiatan ini. “Tujuan kita, juga untuk mengenalkan Fatayat NU kepada masyarakat, agar mereka juga tertarik untuk masuk Fatayat,” ujar dia.

Meski demikian, lanjut Khiz, para peserta yang mengikuti kegiatan ini mesti memiliki beberapa kriteria. Kriteria tersebut antara lain brain, beauty, religius, dan berakhlakul karimah. “Yang tidak kalah penting mereka juga mesti menguasai materi Aswaja,” imbuhnya.

Selain kegiatan pemilihan Puteri Fatayat NU 2015 ini, Fatayat Jateng juga menggelar berbagai event kegiatan “Festival Budaya Islami 2015” yang berupa ? fashion show, seminar beauty class, focus group discussion, dan festival hadroh. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nusantara, AlaNu IMNU Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Kemendes Kembangkan Konsep Transmigrasi Nelayan dan Penyangga

Jakarta, IMNU Tegal. Sejak zaman orde baru, konsep transmigrasi identik dengan pola agraris, konsep pertanian dan perkebunan pun lebih banyak dikembangkan di beberapa kawasan transmigrasi. Namun, di era pemerintahan saat ini dengan visi ke maritimannya, juga mulai menggarap pola transmigrasi dengan konsep nelayan.

Kemendes Kembangkan Konsep Transmigrasi Nelayan dan Penyangga (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemendes Kembangkan Konsep Transmigrasi Nelayan dan Penyangga (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemendes Kembangkan Konsep Transmigrasi Nelayan dan Penyangga

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Marwan Jafar menjelaskan bahwa kawasan pantai potensial untuk pengembangan pola nelayan tangkap ikan dan budidaya. Oleh karena itu, kawasan tersebut akan dikembangkan menjadi kawasan pemukiman dengan konsep nelayan.

"Berbeda dengan kawasan transmigrasi lain yang mayoritas mengembangkan konsep pertanian dan perkebunan," ujar ? Marwan, di Jakarta, Selasa (21/6).

Salah satu kawasan yang coba ingin dikembangkan menjadi kawasan transmigrasi dengan konsep nelayan, salah satunya adalah kawasan Paguyaman Pantai Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo menjadi salah satu prioritas pembangunan transmigrasi tahun ini.?

IMNU Tegal

Berdasarkan studi Rencana Teknis Satuan Pemukiman Transmigrasi (RTSP), imbuh Marwan, kawasan tersebut potensial untuk 1000 KK (Kepala Keluarga). Oleh karen itu, ? Kemendesa PDTT di Tahun 2015 telah membangun 100 unit rumah transmigran dan telah ditempatkan transmigrasn sebanyak 65 KK (225) jiwa.

"Sisa rumah yang belum ditempati akan segera dipenuhi pada tahun 2016. Transmigran yang akan ditempatkan adalah transmigran dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat," ujarnya.

Untuk tahun ini, Marwan menjelaskan akan membangun 75 unit rumah dan akan menempatkan transmigran sebanyak 75 KK. Transmigran tersebut meliputi Transmigran Penduduk Asal (TPA) dan Transmigran Penduduk Setempat (TPS). Selain transmigrasi dengan konsep nelayan, Marwan juga akan menerapkan pola transmigrasi lokal yang menempatkan para transmigran tidak jauh dari perkotaan.

"Konsep yang berbeda juga akan diterapkan di Pulubala Kabupaten Gorontalo, yang mengembangkan konsepsi keterkaitan desa-kota. Pulubala adalah lokasi transmigrasi yang dibangun berdekatan dengan ibukota kabupaten Gorontalo, yang memiliki akses cukup baik dengan jarak kurang lebih 20 Kilometer dari Ibukota," tandasnya.

IMNU Tegal

Dengan konsep ini, diharapkan kawasan transmigran bisa menjadi hinterland kota, yang berfungsi sebagai buffer (penyangga) untuk mensuplai kebutuhan konsumsi pangan perkotaan. "Pulubala di Tahun 2015, telah dibangun hunian transmigrasi sebanyak 150 unit rumah, dan diimplementasikan transmigran sebanyak 90 KK (360 jiwa). Rumah kosong sebanyak 60 unit, akan diberikan kepada transmigran dari daerah asal yakni Provinsi Lampung, Banten, DIY dan Jawa Timur. Sedangkan Tahun 2016, akan dibangun 25 unit rumah transmigran yang merupakan pemenuh sisa daya tamping, dan saat ini dalam tahap konstruksi," ujarnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nusantara, Tokoh IMNU Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Mahasiswa Jadi Ekstrimis karena Wawasan Keagamaan yang Minim

Pati, IMNU Tegal. Mahasiswa bukanlah kelompok pemuda dan akademisi intelektual yang memiliki nalar kritis saja. Mahasiswa idealnya juga bukan mereka dengan wawasan keagamaan yang minim sehingga menunjukkan sikap dan tindakan yang ekstrim. Mahasiswa merupakan generasi produktif yang mampu memberikan kemaslahatan pada negara dan umat manusia.

Mahasiswa Jadi Ekstrimis karena Wawasan Keagamaan yang Minim (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Jadi Ekstrimis karena Wawasan Keagamaan yang Minim (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Jadi Ekstrimis karena Wawasan Keagamaan yang Minim

Demikianlah gelora semangat yang diorasikan Ketua Umum Jamiyyah Mahasiswa Ahli Thariqah Mutabarah An Nahdliyah (MATAN), KH Hamdani Muin dalam halaqah santri Mahad Jamiah Institut Pesantren Mathaliul Falah (IPMAFA) Pati, Senin (2/5). Halaqah tersebut dihadiri para santri mahad, mahasiswa, dosen Ipmafa dan sejumlah mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Hamdani diundang dalam rangka memperkuat khasanah nilai-nilai pesantren berbasis tashawuf pada para mahasiswa dan santri Ipmafa. Pengasuh Mahad Jamiah, KH Umar Farouq, dalam sambutannya menyampaikan bahwa KH M.A. Sahal Mahfudz termasuk salah satu ahli thariqah yang alim. Sehingga sudah sepantasnya nilai-nilai tasawuf yang suci dimiliki para santri dan mahasiswa Ipmafa.

Sementara Dimyati, Wakil Rektor I Ipmafa menegaskan bahwa pemahaman tentang thariqah mengalami stagnasi jika dipadang dari sudut orientalis yang melihat bahwa thariqah menjauh dari kehidupan dunia. Padahal dalam Islam, thariqah diumpamakan sebagai jalan atau proses menuju tujuan yang hakiki.

Hamdani mengawali paparannya dengan mengisahkan sejarah berdirinya MATAN yang melalui proses cukup serius. Matan berdiri karena mendapat amanat langsung dari Rais Aam Jamiyyah Ahli Thariqah Al-Mutabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya. Pada tahun 2012 MATAN resmi didirikan oleh KH Habib Lutfi. Salah satu tujuan MATAN agar para pemuda Muslim memiliki sinergitas antara intelektualitas dan spiritualitas.

IMNU Tegal

Melalui thariqah MATAN, akan bermunculan kader-kader dai yang dapat membangkitkan dunia Islam dan perdamaian dunia. Karena dalam thariqah, pendekatan yang dipakai adalah mahabbah atau cintakasih. "Jika tarekat bangkit, itu artinya adalah kebangkitan Islam dunia. Perdamaian dunia dapat diraih dengan penerapan nilai tashawuf yang berlandaskan mahabbah. Cinta adalah memberi dan berkorban. Sedangkan tanpa tashawuf paradigmanya adalah kepemilikan,” papar KH Hamdani.

Lebih lanjut, Hamdani menegaskan bahwa berthariqah bukan untuk menikmati kepuasan spiritualitas. Beberapa prinsip yang harus dilakukan seorang dalam berthariqah adalah tafaqquh fiddin atau pendalaman ilmu agama sekaligus ilmu sains. Dengan demikian akan muncul mursyid-mursyid yang ahli dalam bidang keilmuannya.?

Hal itu dapat dicontoh dari Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani yang merupakan ahli geologi dan banyak ulama lainnya. Kewajiban lain dalam thariqah adalah mulazamatul adzkar, atau wiridan agar hubungan antara hamba dan Allah Sang Rabb selalu terjaga dengan baik.

IMNU Tegal

Dalam thariqah ini terdapat tiga tahapan yang akan dilalui seorang salik (pelaku thariqah) meliputi adab yakni mengikuti akhlak Rasulullah dengan menyucikan hati dan jiwa, kemudian iltizamut thoah yakni selalu siap dalam ketaatan, dan terakhir al-wushul ilallah atau meraih kenikmatan hakikat karena sampai dalam perlindungan Allah SWT. (Isyrokh Fuaidi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Berita, Meme Islam, Nusantara IMNU Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Kiai Abbas Buntet: Kiai Sufi Pejuang Negeri

Salah satu kiai yang menjadi pejuang pada masa revolusi ialah Kiai Abbas bin Abdul Jamil, Buntet Cirebon. Kiai Abbas merupakan kiai kharismatik, yang dikenal karena pengetahuan keislaman, keteduhan spiritual dan kekuatan ilmu kanuragan yang menjadikan beliau sebagai rujukan dalam perang kemerdekaan. Kiai Abbas, dikenal sebagai Angkatan Udara Nahdlatul Ulama, yang menghancurkan beberapa pesawat tempur tentara NICA, dalam perang kemerdekaan di Surabaya, November 1945. Uniknya, Kiai Abbas menggunakan bakiak, tasbih dan butiran pasir sebagai senjata untuk merontokkan pesawat tempur musuh. Bagaimana kisahnya?

Kiai Abbas merupakan putra sulung dari Kiai Abdul Jamil, pengasuh pesantren Buntet, Cirebon. Beliau lahir pada 24 Dzulhijjah 1300 H/1879 M, di Cirebon, Jawa Barat. Pada masa kecilnya, Kiai Abbas belajar mengaji dengan Kiai Nasuha Plered Cirebon dan Kiai Hasan, Jatisari. Setelah itu, Abbas kecil berkelana untuk mengaji ke Tegal, di bawah asuhan Kiai Ubaedah. Setelah itu, menuju Jombang, Jawa Timur untuk mengaji kepada Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari.

Pada kisaran tahun 1900an, Kiai Abbas datang untuk belajar ke pesantren Tebu Ireng, Jombang. Beliau datang bersama saudaranya, yakni Kiai Sholeh Zamzam, Kiai Abdullah Pengurangan, dan Kiai Syamsuri Wanatar. Pada waktu itu, pesantren Tebu Ireng masih sering diganggu oleh musuh, yakni berandal-berandal lokal di sekitar Pabrik Gula Cukir. Bersama santri-santri lainnya, Kiai Abbas membantu Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari melawan bandit lokal yang mengganggu pesantren. Akhirnya, para berandal lokal dan bandit-bandit kecil kalah dalam adu ilmu kanuragan (Masyamul Huda, 2014). PesantrenTebu Ireng menjadi aman, serta jadi rujukan santri untuk mengaji.

Kiai Abbas Buntet: Kiai Sufi Pejuang Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Abbas Buntet: Kiai Sufi Pejuang Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Abbas Buntet: Kiai Sufi Pejuang Negeri

Ketika belajar di pesantren, bakat sebagai pemimpin, ahli ilmu, ahli strategi dan watak periang sudah terlihat dalam diri Kiai Abbas. Beliau berkawan karib dengan Kiai Wahab Chasbullah, putra Kiai Chasbullah Said, Tambakberas, Jombang. Setelah melalang buana di pesantren Jawa, Kiai Abbas kemudian menikah dan berangkat haji ke tanah suci. Di tanah Arab, Kiai Abbas bertemu dengan banyak kawan asal Nusantara yang belajar di Hijaz. Ia banyak diskusi dengan mereka, untuk memperdalam pengetahuan agama dan wawasan global.

Kemudian, Kiai Abbas pulang sebentar ke tanah air, dan kembali lagi ke tanah suci untuk belajar. Di Makkah, Kiai Abbas menjadi santri Syekh Ahmad Zubaidi. Kiai Abbas juga belajar kepada Syekh Mahfudh at-Termasi dan Syaikh Chatib al-Minangkabawi. Di tanah suci, Kiai Abbas dengan tekun belajar, diskusi dan menggelar pelbagai majlis ilmu bersama kawan-kawannya. Pada usia 40 tahun, Kiai Abbas mendapatkan tugas sebagai pengajar.

Mengembangkan Pesantren Buntet

IMNU Tegal

Sekembali ke tanah air, Kiai Abbas kemudian mengembangkan pesantren Buntet, yang menjadi peninggalan ayahandanya. Di bawah asuhan Kiain Abbas, pesantren Buntet menjadi ramai oleh santri dan terkenal sebagai salah satu rujukan dalam mengaji serta memperdalam ilmu Islam. Bagi Kiai Abbas, siapa saja boleh datang untuk mengaji di pesantren, untuk belajar berbagai macam ilmu. Pengetahuan dan wawasan yang diperoleh Kiai Abbas ketika belajar di pesantren dan mengaji di tanah suci, digunakan untuk menguatkan model pendidikan pesantren Buntet. Di pesantren ini, pada masa Kiai Abbas, bermacam ilmu diajarkan, dari ilmu al-Qur’an, ilmu Qiroat, Hadist, Tauhid hingga kanuragan menjadi bagian dari tradisi pembelajaran santri.

Kiai Abbas, selain mengasuh santri, juga menjadi _mursyid_ tarekat Syattariyah dan _muqoddam_ tarekat Tijaniyyah. Dalam catatan Muhaimin AG, Kiai Abbas termasuk sosok kiai dengan pikiran yang terbuka. Ketika beberapa Kiai menolak tarekat Tijaniyyah, Kiai Abbas menerima sebagai salah satu alternatif dalam laku batin. Di Cirebon, dalam perkembangannya, tarekat Tijaniyah berkembang, dengan Kiai Abbas dan Kiai Annas sebagai muqoddamnya. Kiai Annas kemudian melahirkan beberapa kiai yang menjadi penerus muqoddam dalam praktik tarekat Tijaniyyah: Kiai Muhammad (Brebes), Kiai Bakri (Kasepuhan, Cirebon), Kiai Muhammad Rais (Cirebon), Kiai Murtadho (Buntet), Kiai Abdul Khair, Kiai Hawi (Buntet), serta Kiai Soleh (Pesawahan). Sedangkan, Kiai Abbas mencetak beberapa penerus dalam tarekat ini, yakni: Kiai Badruzzaman (Garut), Kiai Ustman Dlomiri (Cimahi, Bandung), serta Kiai Saleh dan Kiai Hawi (Buntet) (Muhaimin, 2006: 264).

Kiai Abbas menjadikan pesantren Buntet sebagai rujukan santri. Beliau menambah staf pengajar untuk mengakomodasi kebutuhan santri-santri dalam belajar berbagai macam ilmu. Kiai Abbas juga mendirikan madrasah yang dipadukan dengan pendidikan sekolah. Madrasah inilah yang dinamakan Abna’oel Wathan, yang menegaskan visi perjuangan Kiai Abbas dalam membangun fondasi negara.

IMNU Tegal

Pejuang Revolusi

Kiai Abbas Buntet merupakan murid dari ulama Nusantara yang menjadi penyambung sanad para kiai: Kiai Nawawi al Bantani dan Syech Mahfudh at-Tirmasi. Selain Kiai Nawawi, ada beberapa murid lain yang juga menjadi kiai-kiai penting di Jawa, sebagai jaringan penggerak Nahdlatul Ulama. Di antaranya: Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muhammad Bakri bin Nur, Kiai Asnawi Kudus, Kiai Muammar bin Baidlawi Lasem, Kiai Ma’shum bin Muhammad Lasem, Haji Ilyas (Serang), Tubagus Muhammad Asnawi dan Abdul Ghaffar dari Caringin (Burhanuddin, 116).

Kiai Abbas, adalah sosok pejuang yang mencintai tanah air, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau menggembleng santri agar semangat memperjuangkan agama dan negara. Bahkan, pesantren Buntet juga menjadi markas latihan laskar Hizbullah, Sabilillah, dan pasukan PETA. Kiai Abbas juga membentuk dua regu laskar santri, yang dinamakan Asybal dan Athfal.

Dikisahkan, dalam pertempuran 10 November 1945, Kiai Abbas menggenggam pasir yang ditaburkan ke arah musuh. Aksi ini membuat musuh kocar-kacir, karena seakan-akan pasir yang ditaburkan menjadi meriam dan bom yang menghancurkan.

Sebelum pertempuran ini, Kiai Abbas juga ikut andil dalam keputusan Resolusi Jihad, yang merupakan keputusan para Kiai dalam rapat Nahdlatul Ulama di Bubutan, Surabaya, pada 21-22 Oktober 1945. Beberapa kiai, di antaranya Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri, Kiai Abbas Buntet, Kiai Wahid Hasyim, dan beberapa kiai lainnya berkumpul dalam sebuah majlis untuk membahas penyerbuan tentara NICA (_Netherlands Indies Civil Administration_). Fatwa Jihad yang digelorakan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari akhirnya menjadi catatan sejarah, sebagi pengobar semangat kaum santri untuk berjuang mempetahankan negeri.

Pada pertempuran 10 November 1945, Kiai Abbas ikut membaur dengan pejuang dari kalangan Kiai yang berpusat di Markas Ulama, di rumah Kiai Yasin Blauran Surabaya. Di rumah ini, para kiai berkumpul untuk merancang strategi, menyusun komando serta memberikan suwuk/doa kepada para santri pejuang yang bertempur melawan penjajah (Amin, 2008: 72)

Setelah masa perjuangan kemerdekaan, Kiai Abbas mendapat amanah sebagai anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat)—yang kedudukannya sebagai DPR sementara. Kiai Abbas mewakili area Jawa Barat, dalam kedudukannya sebagai anggota KNIP.

Kiai Abbas dikenal sebagai kiai yang memiliki ilmu kedigdayaan yang tinggi pada masa hidupnya. Beliau tak hanya berilmu agama mendalam, namun juga dikenal digdaya dan ampuh. Kemampuan Kiai Abbas dalam bidang _psychokinesys_—yang berangkat dari Cirebon menuju Surabaya dalam sekejap hentakan kaki, merupakan karomah yang diberikan Allah kepada beliau (Amin, 2008: 72). Inilah potret Kiai Abbas yang berjuang dengan ikhlas dan rela untuk menjaga negeri dari tangan penjajah. Sudah selayaknya, perjuangan Kiai Abbas menjadi referensi pewaris negeri, sebagai pahlawan dari kaum santri.

Munawir Aziz, Koordinator Teraju Indonesia, Wakil Sekretaris LTN PBNU, (@MunawirAziz)

Referensi:

Abdul Ghoffir Muhaimin, The Islamic Tradition of Cirebon: Ibadat and Adat among Javanese Muslim, Canberra: ANU Press, 2006.

_____________________________. Pesantren and Tarekat in the Modern Era: An Account of the Transmission of Traditional Islam in Java, Jakarta, Studia Islamika, 1997.

Abdul Wahid, Peranan Pondok Pesantren Buntet Cirebon bagi Kemajuan Lingkungan Pendidikan di Lingkungan Sekitar 1958-2009, Universitas Negeri Semarang, 2012.

Hasan AZ, Perlawanan dari Tanah Pengasingan: Kiai Abbas, Pesantren Buntet dan Bela Negara, Yogyakarta: LKIS. 2014.

Jajat Burhanuddin, Ulama dan Kekuasaan: Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia, Jakarta: Mizan, 2012.

Samsul Munir Amin, Karomah Para Kiai, Yogyakarta: LKIS. 2008.

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tegal, Nusantara IMNU Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

PMII Cianjur Nilai KPUD Gagal

Cianjur, IMNU Tegal. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Pemilu Kabupaten Cianjur menilai proses Pemilihan Anggota Legislatif 9 April 2014 yang digelar Komisi Pemilihan Umum Daerah Kabupaten Cianjur tidak berjalan mulus.

PMII Cianjur Nilai KPUD Gagal (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Cianjur Nilai KPUD Gagal (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Cianjur Nilai KPUD Gagal

Ketua Umum PMII Kabupaten Cianjur Ayi Sopwanul Umam menyebutkan, pihaknya menemukan kertas suara dan Daftar Calon Tetap (DCT) yang tertukar di setiap daerah pemilihan (dapil).

“Kertas Suara yang seharusnya di dapil 1 Tertukar dengan dengan dapil 4, dapil1 dengan dapil 2. Seperti terjadi di TPS VII Desa Bunikasih Kecamatan Warungkondang tertukar kertas suaranya dengan dapil 2,” terangnya Sabtu, (12/4). ?

IMNU Tegal

Ia menilai KPUD Cianjur kurang mensosialisasikan pemilu kepada masyarakat. Karena di lapangan masyarakat kurang memahami apa dan bagaimana proses pemilu ini, mulai arti wakil DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan DPD, serta tata cara pencoblosan itu tersendiri.

IMNU Tegal

PMII Cianjur menyayangkan, hal seperti itu tidak seharusnya terjadi dan sudah diantisipsai dari awal dengan mempersiapkan tenaga profesional serta bertanggungjawab dalam tugasnya.

“Dengan terjadinya kasus seperti ini, PMII Kabupaten Cianjur menilai KPUD Cianjur gagal? menjalankan kinerjanya. KPUD Cianjur harus lebih serius serta cepat tanggap melihat dari pada kenyataan permasalahn seperti ini,” imbaunya.

Lebih lanjut Ayi menjelaskan, temuan itu didapat dari kader-kader PMII yang diterjunkan menjadi pemantau Pemilu pada 9 April lalu.

“Atas dasar kepedulian terhadap pesta demokrasi rakyat, PMII Cianjur menerjunkan pemantau di 32 kecamatan. Setiap kecamatan yang dipantau 5 TPS,” jelasnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kajian Sunnah, Santri, Nusantara IMNU Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Rektor UIN Yogya: Pelajaran Agama Lahirkan Muslim Pancasilais

Yogyakarta, IMNU Tegal



Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta masa bakti 2016-2020, Yudian Wahyudi, mengatakan, jika mata pelajaran agama dijadikan materi Ujian Nasional, cita-cita melahirkan muslim Pancasilais menjadi niscaya.

Yudian melempar ide tersebut saat menjadi narasumber pada lokakarya Finalisasi Draf Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang Penilaian Buku Pendidikan Agama dan Keagamaan (Tadqiq al-Kutub) pada jenjang pendidikan dasar, menengah dan tinggi yang diinisiasi Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Balitbang Diklat Kemenag, Ahad (27/8) malam.

Rektor UIN Yogya: Pelajaran Agama Lahirkan Muslim Pancasilais (Sumber Gambar : Nu Online)
Rektor UIN Yogya: Pelajaran Agama Lahirkan Muslim Pancasilais (Sumber Gambar : Nu Online)

Rektor UIN Yogya: Pelajaran Agama Lahirkan Muslim Pancasilais

 

Kegiatan ini dijadwalkan selama tiga hari, Minggu-Selasa, 27-29 Agustus 2017 di Hotel Harper Jl. Pangeran Mangkubumi, Yogyakarta. Acara dibuka resmi Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Mas’ud, Minggu (27/8) malam.

Menurut Kiai Yudian, setidaknya ada empat ranah yang harus disepakati seluruh pendidik. Pertama, pelajaran akidah dan ibadah diajarkan oleh guru seagama untuk murid seagama. “Itu berlaku bagi enam agama resmi di Indonesia,” tandas Doktor (PhD) lulusan McGill University Kanada ini.

IMNU Tegal

Kedua, lanjut dia, pelajaran fiqih muamalah juga diajarkan oleh guru seagama untuk murid seagama. Ketiga, pelajaran agama pada poin pertama dan kedua digunakan untuk membaca aneka kebutuhan nasional.

“Misal, bagaimana Pancasila versi Islam. Bagaimana pula versi Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Contoh lain bagaimana agama-agama ini melihat persoalan mulai narkoba, radikalisme, korupsi, disintegrasi, hingga human trafficking dan HAM,” urai Pengasuh Pesantren Nawesea Yogyakarta ini.

 

Untuk poin keempat, dosen pertama dari Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang berhasil menembus Harvard Law School di Amerika Serikat ini mencoba menawarkan kebutuhan-kebutuhan nasional yang telah diurai berdasar kaca mata agama tersebut dibaca pakai Pancasila.

IMNU Tegal

“Logika ini mungkin hanya untuk anak SMA atau kampus. Tentu, membacanya dengan segala peraturan turunan mulai UU, Perpres dan lain sebagainya. Jika ini mampu dilakukan, saya kira tentu dahsyat output-nya,” tegas Kiai Yudian.

Lokakarya yang diikuti 50 orang tersebut menghadirkan sejumlah pejabat dan akademisi di lingkungan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, antara lain Rektor Prof KH Yudian Wahyudi PhD, Wakil Rektor I, Wakil Rektor III, Guru Besar Bidang Politik Islam Kontemporer Prof Noorhaidi Hasan PhD, serta para peneliti. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pahlawan, Nusantara IMNU Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Pergunu Jakarta Barat Dilantik

Jakarta, IMNU Tegal?

Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta melantik Pimpinan Cabang Pergunu Jakarta Barat di aula Kantor Kementerian Agama Kota Jakarta Barat bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional akhir pekan lalu.?

Pergunu Jakarta Barat Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Jakarta Barat Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Jakarta Barat Dilantik

Kegiatan tersebut dirangkai dengan sarasehan bertema "Membendung Radikalisme dengan Pengutan Pemahaman Ahlussunah Wal Jamaah An-Nahdliyah".

Ketua PC Pergunu Jakarta Barat H. Nur Sehat mengungkapkan, Pergunu merupakan pilihan yang tepat bagi guru untuk memperjuangkan nilai-nilai Aswaja dan nilai kebangsaan melalui jalur pendidikan.?

“Kerana melalui guru, nilai kebangsaan ala NU akan ditanamkan menjadi karakter peserta didik,” katanya melalui siaran pers Selasa (25/10).?

IMNU Tegal

Lebih lanjut, Nur Sehat yang kepala SMPN 207 menjelaskan keberadaan Pergunu juga diharapkan mampu membendung berkembangnya paham radikalisme di lingkungan sekolah. Karena paham tersebut kalau dibiarkan berkembang akan menjadi bom waktu bagi NKRI.

Sementara itu, Ketua PW Pergunu DKI Jakarta Aris Adi Leksono dalam sambutannya menekankan bahwa nilai dan prinsip perjuangan Pergunu selaras dengan NU.?

IMNU Tegal

Maka, menurutnya Pergunu wajib memperjuangkan paham Aswaja An-Nahdliyah melalui jalur pendidikan. Maka dari itu, anggota Pergunu harus memiliki empat kompetensi yang menjadi amanat undang-undang, juga harus memiliki kompetensi ideologis berbasis Aswaja Annahdliyah.

Lebih lanjut, Aris menekankan pentingnya guru dalam naungan Pergunu dalam praktek pembelajaran mengambil referensi dari ulama salafunassolikh. Pandahulu NU, dalam mendidik selalu memegang teguh keikhlasan dan ruh jihad sebagai seorang guru yang peka dan peduli pada peserta didiknya. "athoriqotu ahammu minal maadah, wal mudarrisu ahammu minat thoriqoh, wa ruuhul mudarrisu ahammu minal mudarrisi binafsihi".

Sebagai narasumber sarasehan Aswaja, KH Mujib Qulyubi, Katib Syuriyah PBNU, dan Jakfar Amirudin, Ketua LP Maarif DKI Jakarta yang juga Anggota Komisi Pusat Badan Akreditasi Sekolah dan Madrasah.?

Menurut Kiai Mujib, paham Aswaja sudah teruji dalam lintasan sejarah mampu menghadirkan wajah Islam yang sejuk dan kedamaian.?

“Kiprah NU sebagai organisasi kemasyarakatan juga sudah mendapatkan pengakuan, baik secara nasional maupun internasional. Salah satu buktinya adalah hari ini kita peringati hari Santri.”

Sementara itu, Jakfar Amirudin mengungkapkan perlu mengemas paham Aswaja An-Nahdliyah dengan medotologi yang modern. Bagaimana kemudian dakwah Aswaja ini memanfaatkan media IT yang sekarang cepat. Dengan kemasan jenaka dan kata-kata atau kalimat yang familier di semua kalangan, khususnya kalangan remaja, pemuda, dan belajar. Untuk itu, LP Maarif DKI Jakarta mengajak bersinergi dengan Pergunu dalam merumuskan konsep dan gerakan Aswaja dengan sajian yang kompatibel dengan perkembangan zaman.?

Hadir dalam pelantikan dan sarasehan Aswaja tersebut H. Solahi, Kepala Kantor Kemenag Kota Jakarta Timur, AKBP Fauzan, Waka Polres Jakarta Barat, KH Fahrurrozi, Ketua PCNU Jakarta Barat, Kepala Badan Kesmas Wali Kota Jakarta Barat, segenap banom dan lembaga NU se-Jakarta Barat, Pengurus MWCNU, serta organisasi profesi guru lainnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nusantara IMNU Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Dapat Sejumlah Undangan dari Tetangga?

Tetangga berhak membuat keramaian di rumahnya. Macam-macam hajat diadakan mulai dari pernikahan, khitanan, walimatus safar haji, mondokin anak, selamatan rumah, syukuran, arwahan, dan hajat lain. Untuk itu mereka menyebarkan undangan kepada kerabat dan tetangga lainnya. Mereka tidak ingin bikin hajatan sendiri.

Tetapi tetangga yang hendak mengadakan hajatan bukan seorang diri. Kadang sejumlah tetangga mengadakan hajatan berbeda jadwal dan berbeda tempat. Tetapi tidak menutup kemungkinan beberapa tetangga mengundang kita untuk sebuah hajatan yang harinya berbarengan. Sebab mereka juga tidak perlu bermusyawarah agar tidak bentrok. Sementara kaki hanya dua. Mereka berharap kehadiran para tetangga dan kerabat.

Dapat Sejumlah Undangan dari Tetangga? (Sumber Gambar : Nu Online)
Dapat Sejumlah Undangan dari Tetangga? (Sumber Gambar : Nu Online)

Dapat Sejumlah Undangan dari Tetangga?

Untuk mereka yang mendapatkan undangan, tidak perlu panik atau bingung. Dengan sejumlah undangan itu, ia justru terhormat karena diharapkan kehadirannya. Hanya saja ia perlu menimbang tetangga mana yang mesti didatangi duluan. Syekh Zainuddin Abdul Aziz Malibari menerangkan dalam kitab Fathul Mu’in demikian.

IMNU Tegal

? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, andaikata ada dua tetangga mengundang seseorang, maka ia harus memenuhi lebih dahulu undangan tetangga yang datang duluan. Kalau misalnya keduanya datang berbarengan untuk mengundang, maka ia mesti memenuhi undangan orang yang lebih dekat hubungan kekerabatan dengannya. Kalau keduanya ialah saudara dengan kedekatan yang sama, maka ia pilih datangi undangan kerabat yang rumahnya lebih dekat. Kalau jarak kedekatan rumah mereka sama, ia bisa mengambil cara undian.

Syukur alhamdulillah kalau yang mengundang hanya dua tetangga. Kalau lebih dari dua undangan, ya tetap alhamdulillah. Pasalnya, keterangan Fathul Muin di atas berlaku juga untuk kasus lebih dari dua undangan. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Nusantara, Sunnah IMNU Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

46.713 Jamaah Illegal Dipulangkan, 19.193 Ditangkap

Makkah, IMNU Tegal. Pejabat keamanan mengatakan pada Ahad, bahwa 46.713 jamaah asal Saudi dan negara lain diminta kembali ke negaranya karena tidak memiliki izin dan sekitar 19.193 lebih ditangkap. 37.799 kendaraan yang membawa jamaah illegal juga disita, seperti dilaporkan oleh Saudi Gazette.?

Pihak berwenang telah membuat pintu-pintu pemeriksaan di seluruh jalanan menuju tanah suci dan secara kontinyu memonitor jalan tikus untuk mencegah masuknya jamaah illegal.

46.713 Jamaah Illegal Dipulangkan, 19.193 Ditangkap (Sumber Gambar : Nu Online)
46.713 Jamaah Illegal Dipulangkan, 19.193 Ditangkap (Sumber Gambar : Nu Online)

46.713 Jamaah Illegal Dipulangkan, 19.193 Ditangkap

Sementara itu Arab News melaporkan, kampanye mencegah haji illegal memasuki tahap kedua dimana pihak berwenang menempatkan teknologi tinggi sidik jari disamping kendaraan van berwarna putih sebagai unit mobil sidik jari yang diparkir di lokasi-lokasi strategis di perkemahan.

IMNU Tegal

“Kami melakukan check secara acak pada jamaah haji yang tidak memiliki izin,” kata seorang petugas di satu unit mobil. “Sekarang mereka sudah disini, kami tidak akan menghentikan mereka menjalankan ibadah.”

Pejabat tersebut hanya mensyaratkan jamaah yang tidak memiliki dokumen untuk mendaftarkan sidik jadinya. “Kami diminta untuk bersikap baik pada mereka dan menghormati perasaan mereka,” katanya. “Namun demikian, karena hukum harus ditegakkan, maka tindakan akan diambil setelah musim haji selesai.”

IMNU Tegal

Ekspatriat yang ditemukan bersalah melanggar aturan tidak diizinkan masuk Saudi dalam 10 tahun sejak deportasi, sementara warga Saudi yang melanggar akan didenda berat dan dipenjara.

Meskipun ada aturan ketat, banyak jamaah tanpa izin menggunakan berbagai cara untuk bisa sampai di Mina pada Ahad. Masing-masing memiliki cerita bagaimana mereka bisa masuk.

“Saya membayar SR600 (Rp1.750.000) dengan sopir pribadi di dekat pemberhentian bis SAPTCO di Jeddah untuk membawa saya ke Mina,” kata Ashraf, seorang ekspatriat India. “Dia bertanya, apakah saya punya izin, saya bila tidak dan dia mengenakan SR700 tetapi saya menawarnya sehingga harganya menjadi SR600. Di dalam mobil tersebut, sudah ada empat jamaah, dua dari Pakistan, satu dari Bangladesh dan satu dari Yaman. Seperti saya, mereka tidak punya izin dan mereka semua setuju membayar ke sopir masing-masing SR600.”

Perjalanan dengan kendaraan reguler dari Jeddah ke Makkah hanya SR10 atau maksimum SR20.

Ditengah perjalanan pada perjalanan sejauh 85 km itu, Ashraf mengatakan sopir tersebut memintanya untuk turun sebelum sampai di pintu pemeriksaan Shumaisi di jalan bebas hambatan Jeddah-Makkah.?

“Ini marupakan satu-satunya jalan untuk menghindari ditangkap,” katanya. “Kami berjalan dengan barang bawaan sampai kami mencapai satu tempat yang cukup jauh dari pintu pemeriksaan. Disana, sopir sudah menunggu kami.”

Ketika ditanya tentang hukuman berat yang menunggu jika tertangkap, Ashraf, yang menolak menyebutkan nama lengkapnya mengatakan: “Saya sudah bersumpah untuk berhaji tahun ini. Saya sudah menghabiskan seluruh uang saya untuk mendapatkan iqama (izin kerja di Saudi) yang ditransfer dua bulan lalu. Tak ada cara saya bisa mendapatkan izin haji legal yang mahal. Harganya selangit.”

Ashraf mengatakan dia tidak akan mendekati unit mobil sidik jari. “Saya akan berusaha sebaik-baiknya untuk menjauhi mobil itu,” katanya.

Ashraf tidaklah sendirian. Terdapat ratusan orang sepertinya untuk bisa mencapai perkemahan. Jika dia tertangkap oleh petugas keamanan di unit mobil sidik jari, ceritanya akan berbeda.

Di dalam tenda, dia menyimbukkan diri membaca Qur’an. “Kami sekarang dalam perlindungan Allah,” katanya sambil tersenyum. (mukafi niam)

Foto: Arabnews

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nusantara IMNU Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

KH Wahab Chasbullah Tokoh yang Mesti Diteladani PMII, Kenapa?

Jombang,? IMNU Tegal?



Segenap keluarga besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas KH Wahab Hasbullah (Unwaha) dan STIKES Bahrul Ulum Tambakberas Jombang memperingati hari lahir (halah) ke-57 PMII, Senin, (17/4). Harlah digelar dengan kegiatan refleksi sejarah dan tujuan PMII didirikan. Tak hanya itu, mereka juga gelar istighotsah dan doa bersama.

Kegiatan yang digelar di aula STIKES Bahrul Ulum Tambakberas ini dihadiri puluhan aktivis PMII dari masa ke masa di lingkungan Tambakberas, mulai anggota dan kader yang saat ini masih aktif di kepengurusan tingkat rayon dan komisariat maupun beberapa alumni PMII komisariat Wahab Hasbullah.?

KH Wahab Chasbullah Tokoh yang Mesti Diteladani PMII, Kenapa? (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Wahab Chasbullah Tokoh yang Mesti Diteladani PMII, Kenapa? (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Wahab Chasbullah Tokoh yang Mesti Diteladani PMII, Kenapa?

Ketua Komisariat Elik mengungkapkan, tujuan diselenggarakannya kegiatan ini untuk melawan lupa akan sejarah PMII dan bagaimana tujuan terbentuknya PMII, selain itu upaya meningkatkan solidaritas anggota dan kader PMII Wahab Hasbullah juga menjadi tujuan penting digelarnya kegiatan tersebut. "Terhadap bagaimana PMII didirikan, kemudian apa tujuan PMII didirikan tidak boleh lupa, dan harus kita tanamkan betul," ujarnya.

Lebih jauh Hanifun Nashor alumni PMII Unwaha menyebutkan, KH Wahab Hasbullah adalah salah satu tokoh yang bisa dijadikan teladan bagi aktivis PMII dalam mengaplikasikan nilai-nilai dan tujuan PMII didirikan.?

IMNU Tegal

Sikap pemberani, pemikir dan pelopor yang dimiliki pendiri Nahdlatul Ulama ini, kata dia, seyogyanya menjadi representasi perjuangan aktivis PMII untuk mencapai cita-cita didirikannya PMII hingga saat ini.

Sementara Agus Riyanto Pengurus Cabang PMII Jombang dalam kesempatan yang sama, menyampaikan usia PMII yang sudah bisa dikatakan dewasa bahkan tua, hendaknya bisa membuat kader PMII secara keseluruhan lebih dewasa pula dalam pola berpikirnya juga gerakan-gerakannya. Hal ini menurutnya tiada lain untuk lebih taktis mencapai tujuan didirikannya PMII.

IMNU Tegal

"Perjalanan 57 tahun seharusnya mampu mendewasakan kita semua dalam berpikir maupun bergerak, senantiasa menjadi pelopor garda terdepan dalam membela bangsa dan menegakkan agama," kata pria berkaca mata ini.

Seperti dikatakan Hanifun Nashor di atas, Agus sapaan akrabnya kembali menegaskan betapa pentingnya aktivis PMII meneladani Kiai Wahab Hasbullah.?

"Sahabat-sahabat harus bisa menjadi pelopor seperti Kiai Wahab, gagasan Tashwirul Afkar, Nahdlatul Wathon, Nahdlatut tujjar, Nahdlatul Ulama sebagai representasi ide kebangsaan dan keislaman harus menular pada diri sahabat-sahabat selaku pembawa nama besar Kiai Wahab Hasbullah," tambahnya.? (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Syariah, Nusantara, Pendidikan IMNU Tegal

Jumat, 01 Desember 2017

Umat Bertanya, NU Jatim Menjawab

Kebangkitan masyarakat terhadap kesadaran beragama di abad ini cenderung meningkat, baik dalam aspek hukum, sosial budaya, politik, ekonomi, maupun pendidikan. Namun di balik kebangkitan tersebut menyisakan keprihatinan tersendiri, sebab kebangkitan agama oleh sebagian umat mengarah kepada pemahaman syariat secara tekstual dan literal, yakni merujuk langsung kepada teks al-Qur’an dan al-Hadis tanpa merujuk kepada kitab-kitab karya ulama yang otoritatif di bidangnya, sehingga berpotensi memunculkan pemahaman yang keliru. Lebih memprihatinkan lagi, dengan semakin familiarnya umat Islam dengan internet, masyarakat banyak merujuk “fatwa-fatwa” yang tidak jelas sumbernya. Tentu saja fenomena ini dapat mereduksi hakikat syariat Islam dan berakibat sesatnya umat.

Melihat fenomena di atas, ulama, santri serta cendekiawan muslim baik perorangan maupun melalui lembaga dituntut untuk responsif dan senantiasa pro aktif menampung serta mencarikan solusi dari setiap permasalahan yang timbul di tengah-tengah masyarakat dengan metode dan strategi yang tepat, sehingga kebangkitan kesadaran ber-Islam berbanding lurus dengan pemahaman Islam yang sesuai dengan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah pengikut ajaran ulama salafus shalih.

Umat Bertanya, NU Jatim Menjawab (Sumber Gambar : Nu Online)
Umat Bertanya, NU Jatim Menjawab (Sumber Gambar : Nu Online)

Umat Bertanya, NU Jatim Menjawab

Adalah Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PWNU Jatim, sebagai lembaga yang berkutat dalam ranah pengambilan keputusan tentang hukum-hukum Islam, baik yang terkait dengan permasalahan bidang akidah, masa’il fiqhiyyah, maupun tasawuf, menerbitkan dua jilid buku kumpulan hasil Bahtsul Masa’il. Jilid kesatu hasil Bahtsul Masa’il tahun 1979- 2009, sedangkan jilid kedua mulai 2009-2014 M. Isi buku jilid kesatu memuat kategori keputusan Bahtsul Masail waqi’iyah (faktual) saja, sedangkan jilid kedua selain memuat keputusan hukum waqi’iyyah, juga berisi hasil keputusan hukum maudhu’iyyah (tematik) dan qanuniyyah (perundang-undangan).

IMNU Tegal

Hadirnya buku hasil Bahtsul Masail ini menjadi obat kerinduan semua fihak terhadap dokumen rumusan hukum Islam aktual yang akurat dan mu’tamad ala Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyyah yang merujuk kepada kutubul mu’tabarah. Sehingga masyarakat selain mudah dalam mencari jawaban hukum atas setiap permasalahan yang dihadapi, begitu juga buku ini sebagai alternatif pilihan yang dapat menyelamatkan umat Islam dari bahaya mengikuti “fatwa-‘fatwa” liar di luar arus utama Ahlussunnah Waljamaah, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Terkait dengan tema pembahasan, hampir seluruh aspek permasalahan umat terekam dalam buku ini. Buku satu berisi 19 tema meliputi akidah dan fikih madzhab, fikih taharah, shalat, al-Qur’an, doa dan bacaan, fikih jenazah dan kuburan, fikih zakat, puasa, haji dan umrah, muamalah, wakaf dan fasilitas umum, munakahat, akhlaq dan pendidikan, fikih makanan, medis, warisan, sosial, seni dan budaya, yustisi (peradilan) serta fikih siyasah politik kenegaraan dan kebangsaan. Buku kedua berisi 18 tema, yakni akidah dan fikih madzhab, fikih thaharah, shalat, bacaan al-Qur’an, fikih jenazah, zakat, haji dan umrah, fikih muamalah, wakaf dan fasilitas umum, fikih munakahat, akhlaq dan fikih tarbiyah, fikih makanan, medis, wasiat, sosial, seni budaya, yustisi (peradilan), serta fikih siyasah.

Menjawab Polemik Konsep Khilafah

IMNU Tegal

Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang memberikan kontribusi besar terhadap terbentuknya negara Indonesia, sekaligus menjadi penyokong utama absahnya konsep kebangsaan menurut perpektif syari’at Islam, dewasa mendapatkan tantangan besar dengan masuknya ide-ide Islam transnasional yang menggembar-gemborkan konsep khilafah dan memperjuangkan berlakunya syari’at Islam di bumi Indonesia. Kelompok Islam transnasional ini secara vulgar menolak konsep nasionalisme Indonesia karena dianggap tidak sesuai dengan konsep yang diajarkan Nabi Muhammad Saw.

Dalam menjawab polemik konsep khilafah dan formalisasi syariat ini, LBM NU Jatim menguraikan dalam buku jilid I halaman 706. Menurut keputusan musyawirin bahwa konsep khilafah dalam ketatanegaraan Islam tidak terdapat pijakan dalil nash, karena keberadaan sistem khilafah adalah bentuk ijtihadiyah. Sehingga hukum mengubah bentuk negara Indonesia dengan bentuk yang lain sebagaimana khilafah hukumnya tidak boleh selama akan menimbulkan mafsadah yang lebih besar. Sedangkan upaya mengubah dasar hukum negara diperbolehkan dengan syarat dengan menggunakan cara yang konstitusional. Dalam upaya penerapan syariat di Indonesia tepat jika digunakan dengan strategi tadrij (gradual).

Menjawab Polemik Konsep Salaf

Nahdlatul Ulama sebagai pengamal dan pengawal ideologi Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia juga mendapatkan resistensi begitu kuat dari faham-faham keagamaan yang mengklaim pengikut ulama salaf dan kemudian mendefiniskan dirinya sebagai kelompok Salafi. Kelompok ini berslogan mengembalikan pemahaman umat Islam kepada Al-Qur’an dan Hadis, sehingga amaliyah Nahdlatul Ulama yang mengikuti pemikiran ulama madzhab dianggap jauh dari perilaku ulama salaf. Untuk menyikapi hal tersebut, LBM NU Jatim dalam buku ini memberikan panduan yang tepat dalam berakidah. Dalam jilid I halaman 594 dijelaskan bahwa Islam memiliki tiga aspek yang dalam hal ini didasarkan kepada hadis Nabi saw. dari jalur riwayat Umar bin Khattab ra., yakni konsep Iman yang kemudian dielaborasi dalam ilmu tauhid, yang kedua aspek Islam yang kemudian direpresentasikan dalam ilmu fikih, serta aspek Ihsan yang kemudian tererabolari dalam ilmu tasawuf.

Dari tiga konsep ini, Ahlussunnah Waljamaah menyandarkan pada rumusan delapan Imam, yakni dalam ilmu tauhid berpegangan kepada Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi, dalam ilmu fikih bersandar pada Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali, sedangkan dalam ilmu tasawuf berpijak kepada pemikiran Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali.

Diharapkan dengan hadirnya buku himpunan hasil Bahtsul Masa’il LBM PWNU Jatim ini bisa memberikan panduan kepada umat Islam. Tentu saja hasil Bahtsul Masa’il ini telah melalui proses diskusi yang panjang dan melibatkan para pakar fikih yang kapabel dan kredibel dalam lingkungan Nahdlatul Ulama Jawa Timur. Keputusan yang disepakati dalam buku ini bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, sehingga sangat sangat layak dijadikan solusi bersyari’at, apalagi di tengah-tengah bermunculannya fatwa-fatwa perorangan maupun lembaga keagamaan di luar Ahlussunnah wal Jamaah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Judul : NU Menjawab Problematika Umat; Keputusan Bahtsul Masa’il PWNU Jawa Timur. Jilid I: 1979-2009 M. Jilid II: 2009-20014 M.

Penyusun: TIM PW LBM NU Jatim

Penerbit: PW LBM NU Jatim

Hal: jilid I; xxix + 936. Jilid II; xxi +850.

ISBN: 978-602-97112-9-5

Peresensi: Fathul Qodir (Pegiat Aswaja NU Jatim)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nusantara, RMI NU IMNU Tegal

Sabtu, 28 Oktober 2017

Persoalannya adalah Derajat

Jakarta, IMNU Tegal. Hilal atau bulan dianggap terlihat dan keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah apabila memenuhi salah satu dari dua syarat. Pertama, ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas ufuk tidak kurang daripada 20 dan jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang daripada 30. Kedua, ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang daripada 8 jam selepas ijtima’/konjungsi berlaku.

“Ketentuan ini berdasarkan taqwim standard empat negara asean, yang ditetapkan berdasarkan musyawarah menteri-menteri agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) pada tahun 1992,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) KH Ghozali Masroeri, di Jakarta, Selasa (17/10).

Persoalannya adalah Derajat (Sumber Gambar : Nu Online)
Persoalannya adalah Derajat (Sumber Gambar : Nu Online)

Persoalannya adalah Derajat

Perbedaan yang muncul dikalangan organisasi-organisasi Islam adalah seputar penentuan dua derajat sebagai syarat. Muhammadiyah misalnya berpendapat bawa satu menit saja, sudah dikatakan bulan telah muncul. Makanya, tahun ini Muhammadiyah telah mengumumkan Idul Fitri 1427 H jatuh pada 23 Oktober 2006 (puasa hanya 29 hari).

Tinggi hilal di Indonesia, menurut umumnya metode ilmu hisab antara –00 30’ sampai 10. Tinggi hilal di Jakarta pada waktu itu, menurut limabelas metode hisab (ada sekitar 20 metode hisab di Indonesia: Red): antara 00 12’ – 00 58’ 32”; Hasil hisab LFNU: 00 54’.

Ketetapan dua derajat sebagai persyaratan imkanur rukyat (visibilitas pengamatan) disepakati oleh NU, kata Kiai Ghazali, karena memang benar-benar berdasarkan penelitian para ahli ilmu pengetahuan. Dikatakan bahwa sangat mustahil melihat bulan dengan mata kepala dalam kondisi 1 derajat.

Masalahnya, Muhammadiyah tidak mau menerima persyaratan rukyatul hilal (melihat bulan) sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW, hanya memakai hisab alias terlalu mengunggulkan ilmu pengetahuan, padahal sudah dianggap tidak valid oleh banyak kalangan.

IMNU Tegal

Sementara itu di indonesia bagian timur bulan malah belum berada belum di atas ufuk. “Kalau 1 Syawal itu tanggal 23 berarti puasa di Merauke sana kurang 1 hari,” kata Kiai Ghazali.

“Gara-gara Muhammadiyah tetap begitu tadi ada yang mengusulkan pada saya, untuk menyampaikan bahwa tidak boleh ormas Islam mengumumkan sebelum pemerintah. Tapi kukan Muhammadiyah kalau nggak begitu,” pungkasnya. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Sunnah, Daerah, Nusantara IMNU Tegal

Kamis, 14 September 2017

Menteri Pendidikan Singapura Isi Seminar IPNU-IPPNU

Jakarta, IMNU Tegal. Menteri Pendidikan, Perdagangan, dan Industri Singapura S Iswaran dijadwalkan akan menjadi narasumber pada Kongres XVII IPNU dan Kongres XVI IPPNU di Palembang, Sumsel, Sabtu (1/12).

Menteri Pendidikan Singapura Isi Seminar IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Pendidikan Singapura Isi Seminar IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Pendidikan Singapura Isi Seminar IPNU-IPPNU

Iswaran akan berdampingan dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhammad Nuh, M Jusuf Kalla, dan Gubernur Provinsi Sumatera Selatan Alex Noerdin. Menurut Ketua Panitia Kongres XVII IPNU Nurudin, keempat narasumber itu sudah positif menyanggupi undangan panitia.

Dalam kesempatan itu, tema yang dibahas adalah “Rekonstruksi Pendidikan Nasional Menuju Peningkatan Kualitas Pendidikan Indonesia yang Berdaya Saing Global”. 

Pembahasan ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan lain, seperti Seminar Pendidikan Karakter, Seminar Ke-IPNU-an dan Ke-IPPNU-an, serta Seminar Media dan Demokrasi.

IMNU Tegal

Rabu kemarin, Ketua Umum IPNU Ahmad Syauqi juga menemui Menteri Pemuda dan Olahraga RI Andi Mallarangeng untuk menyampaikan visi kongres dan aspirasi pelajar NU terhadap pemerintah. Rencananya, Andi juga ikut mengisi kongres yang berakhir pada 4 Desember ini.

 

IMNU Tegal

Redaktur  : Hamzah Sahal

Penulis     : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Daerah, RMI NU, Nusantara IMNU Tegal

Kamis, 10 Agustus 2017

Saudi Tahan 11 Pangeran atas Tuduhan Korupsi

Jeddah, IMNU Tegal?

Kerajaan Arab Saudi menagkap sebelas pangeran, empat menteri aktif, dan puluhan mantan menteri pada Sabtu (4/11) malam. Perintah penangkapan keluar dari komite anti-korupsi baru yang dipimpin oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Saudi Tahan 11 Pangeran atas Tuduhan Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Saudi Tahan 11 Pangeran atas Tuduhan Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Saudi Tahan 11 Pangeran atas Tuduhan Korupsi

Seperti dilansir Al Arabiya, komite tersebut mengumumkan bahwa mereka tengah membuka kembali berkas banjir Jeddah tahun 2009 dan menyelidiki masalah virus Corona yang juga dikenal sebagai Middle East Respiratory Syndrome atau MERS. Sumber berita yang disiarkan Al Arabiya anonim dan tak ada rincian nama siapa saja yang menjadi objek penangkapan.

Pembentukan komite pemberantasan korupsi merupakan salah satu dari dua keputusan penting yang diumumkan Raja Salman selain merombak kabinet Saudi. Penangkapan orang-orang berpengaruh tersebut adalah keputusan pertama komite ini.

Menurut sebuah Keputusan Kerajaan yang dikeluarkan oleh Raja Salman pada hari Sabtu, komite anti-korupsi diketuai oleh Putra Mahkota dengan keanggotaan: Ketua Komisi Pemantauan dan Investigasi, Ketua Otoritas Anti Korupsi Nasional, Kepala Biro Audit Umum, Jaksa Agung, dan Kepala Bagian Keamanan Negara.

IMNU Tegal

Komite baru ini berhak untuk menyelidiki, menahan, melarang bepergian, membekukan rekening dan portofolio, melacak dana dan aset orang-orang yang terlibat dalam praktik korupsi.

Terkait perombakan kabinet, Arab News melaporkan, kebijakan Raja Salman terbaru telah menyingkirkan Pangeran Miteb bin Abdullah dari posisi sebagai Kepala Garda Nasional. Posisinya digantikan oleh Khaled bin Ayyaf. Sementara Menteri Ekonomi Adel Fakieh digantikan oleh wakilnya Mohammed al-Tuwaijri. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Nahdlatul Ulama, Nusantara, Halaqoh IMNU Tegal

Jumat, 30 Juni 2017

Semarak “Maulid Bahari 2014” NU Sulsel

Makassar, IMNU Tegal. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Selatan menggelar kegiatan “Maulid Bahari 2014” di Pelabuhan Paotere, Makassar, Sabtu (25/1). Acara ini dibuka Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’mang yang sekaligus Mustasyar PWNU Sulsel.

Ini adalah peringatan Maulid Akbar Tradisonal PWNU Sulawesi Selatan sebagai ajang silaturrahim warga Nahdliyin. Maulid yang berkerja sama dengan PW Sarbumusi ini mengusung tema “Dengan Peringatan Maulid Meneladani Kehidupan Rasulullah SAW dalam rangka Peningkatan Kesejahteraan Buruh Nasional.”

Semarak “Maulid Bahari 2014” NU Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak “Maulid Bahari 2014” NU Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak “Maulid Bahari 2014” NU Sulsel

Maulid Akbar ini diharapakan dapat membangkitkan ghirah dan gairah mencintai Rasulullah SAW di kalangan Umat Islam. Ini juga untuk memasyarakatkan tradisi keagamaan di lingkungan warga Nahdliyin yang mengalami kecenderungan ditinggalkan oleh generasinya.

IMNU Tegal

Beberapa kegiatan yang dirangkaikan  dalam perhelatan Maulid Akbar  ini, yakni pembacaan Barzanji, parade Bakul Maulid, pelantikan pengurus baru Sarbumusi NU Sulsel oleh Ketua Umum PP Sarbumusi, dan terakhir peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW yang dibawakan Rais Syuriyah PWNU Sulsel Anregurutta Sanusi Baco

IMNU Tegal

Acara ini diikuti sekitar 100 orang peserta untuk pembacaan Barzanji dari pengurus Jammiyatul Qurra Wal Hufadz. Ada juga Parade Bakul Maulid diikuti 50 Masjid se Kota Makassar yang mengangkat tema tentang Phinisi.

Puncak Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW diikuti dan dihadiri oleh sekitar 5.000 orang, para peserta ini terdiri dari Pengurus Wilayah NU, warga Nahdliyin, Pengurus Cabang NU, Pengurus Banom, Lembaga, dan Lajnah NU Sulsel.

Disela-sela acara, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sulsel memberikan secara simbolik kepada Ketua Tanfidziyah Iskandar Idy bantuan pembangunan Gedung NU. “Bantuan ini merupakan hasil kumpulan dari semua pegawai kanwil,” imbuhnya.

Setelah penerimaan simbolik oleh Ketua Tanfidziyah, gedung NU Sulsel rencana akan dibangun 5 lantai yang sudah menghabiskan anggaran 1,5 milyar dan diperkirakan akan menghabiskan anggaran 4 milyar, apabila ada jamaah yang ingin memberikan sumbangannya dapat langsung diberikan kepada Ketua Panitia Pembangunan Dr Andi Majdah M Zain yang juga Rektor Universitas Islam Makassar atau Muhammad Said sebagai Bendahara Panitia. (Andy Muhammad Idris/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nusantara, Olahraga IMNU Tegal

Rabu, 26 Oktober 2016

Gubug dan Kisah Kiai Penolak Santri

Probolinggo, IMNU Tegal. Pengasuh Pesantren Nahdlatut Tholibin KH Abdul Hadi mengisahkan sebuah gubug dari daun tebu dan anyaman bambu berusia 20 tahun di pesantrennya. Meski kini di sebelahnya berdiri kokoh bangunan kamar-kamar santri, gubug itu tetap dibiarkan ada.

Gubug dan Kisah Kiai Penolak Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubug dan Kisah Kiai Penolak Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubug dan Kisah Kiai Penolak Santri

Kisah gubug di pesantren terletak di Desa Sumendi Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur itu berkaitan dengan kiai yang tidak mau menerima santri, KH Abdul Hadi sendiri.

Karena menolak santri, orang yang diseganinya yaitu KH M Toha, Pengasuh Pesantren Nahdlatut Tholibin Desa Blado Kulon Kecamatan Banyuanyar memarahinya.? Itu terjadi pada tahun 1994.

IMNU Tegal

Karena itu, kiai yang kini Ketua PCNU Probolinggo tersebut, akhirnya mau menerima santri. Pesantren yang didirikannya disamkan dengan nama pesantren sang guru, Nahdlatut Tholibin. Ia memang pernah nyantri di pesantren tersebut selama 9 (sembilan) tahun.

IMNU Tegal

Pada saat menempuh pendidikan di pesantren salaf itu, kepandaiannya berdakwah muncul. Ia kerap kali menjuarai lomba pidato baik yang diselenggarakan pesantren atau pemerintah. Puncaknya ia menjadi juara pertama dalam pekan madaris cabang lomba pidato tingkat Provinsi Jawa Timur tahun 1985 (saat ini MTQ).

Selepas mondok, pada tahun 1989 ia kemudian mempersunting Hj Fadiah Rowi. Sebagai alumnus pesantren, dia ditunjuk masyarakat untuk memimpin pengajian rutin. Dari pengajian rutin itu, ia kemudian berdakwah.

Kepandaiannya berdakwah tidak hanya di desanya saja. Sejak tahun 1990 ia kerap diundang ke berbagai daerah untuk berceramah. “Saya pun merasa ada keajaiban. Sebagai orang yang tidak punya sejarah atau keturunan kiai besar, saya di minta masyarakat berdakwah,” ucapnya, Jum’at (2/1).

Selang 4 tahun atau pada tahun 1994, Kiai Abdul Hadi diminta untuk mendirikan pesantren oleh masyarakat yang biasa mengundangnya pada acara pengajian. Namun, karena ia merasa tidak mampu mengemban amanah besar itu, permintaan itu ditolak.

“Saya semula menolak. Sebab bagi saya pengasuh pesantren itu harus mampu mengenalkan santri kepada Allah. Padahal saya sendiri waktu itu masih dalam tahap mencari jati diri sebagai seorang umat muslim,” katanya merendah.

Penolakan Kiai Abdul Hadi itu kemudian didengar Pengasuh Pesantren Nahdlatut Tholibin Desa Blado Kulon Kecamatan Banyuanyar. Pada tahun yang sama itu, Abdul Hadi kemudian dipanggil Kiai M. Toha. Pada saat itu, Kiai Abdul Hadi dimarahi karena tidak bersedia menerima santri.

“Jika memang mau berkhidmat pada pesantren harus dilakukan secara total dan jangan setengah-setengah. Sebagai alumni pesantren, maka harus menerima amanah warga,” ucapnya menirukan perkataan Kiai M. Toha.

Saat itu pun, ia minta doa restu kepada Kiai M Toha dan bersedia menerima santri dan mendirikan pesantren. Dengan persyaratan, pesantren yang didirikannya itu merupakan amanah Kiai M. Toha.

“Saya hanya santri juga. Makanya pesantren ini merupakan bagian dari Pesantren Nahdlatut Tholibin di Desa Blado Kulon Kecamatan Banyuanyar,” terangnya.

Sejak saat itu, satu per satu para santri berdatangan untuk menimba ilmu di pesantren yang didirikannya. Bermula dari sebuah kamar terbuat dari bambu dengan atap daun tebu, pesantren ini berkembang dengan pesat. “Hingga saat ini kamar kuno itu kami pelihara. Untuk mengenang awal pendirian,” jelasnya.

Karena pesantren induknya merupakan pendidikan salaf, maka pesantren yang saat ini dipimpinnya itu juga berhaluan salafiah. “Semua pendidikan masih salaf. Kami belum berpikir untuk pendidikan formal. Nanti saat masa anak saya saja,” katanya.

Menurut Kiai Abdul Hadi, saat ini kebanyakan pesantren menerapkan pembelajaran pendidikan salaf. Maka pesantrennyapun kini berkurikulum salaf. Setiap hari, santri sekolah di madrasah diniyah pada sore hari. Di malam hari dan pagi hari, kegiatannya mengaji kitab kuning dan musyawarah serta Bathsul Masail.

“Seperti pesantren salaf pada umumnya. Mengaji kitab kuning dan madrasah diniyah,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

?

Ilustrasi gambar diunduh dari: http://alhikmahdua.net/yazidu-bilinfaq/

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Olahraga, Nusantara, Hikmah IMNU Tegal

Sabtu, 20 Agustus 2016

Pesantren Langitan Gelar Bahtsul Masail Kubro Se-Jawa-Madura

Tuban, IMNU Tegal. Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) Pondok Pesantren Langitan menggelar pembahasan masalah keagamaan atau Bahtsul Masa’il Diniyyah Kubro se-Jawa-Madura dan Alumni Langitan di kompleks pesantren setempat di Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, 13-14 Maret 2014.

Pesantren Langitan Gelar Bahtsul Masail Kubro Se-Jawa-Madura (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Langitan Gelar Bahtsul Masail Kubro Se-Jawa-Madura (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Langitan Gelar Bahtsul Masail Kubro Se-Jawa-Madura

Acara tersebut secara resmi dibuka salah seorang pengasuh Pesantren Langitan selaku tuan rumah KH Muhammad Faqih di gedung Madrasah Aliyah Al Falahiyah.

Hadir dalam pembukaan tersebut  beberapa masyayikh, di antaranya KH Ardani Ahmad dari Ploso, KH Arsyad (Pasuruan), KH. Aniq Muhammadun (Pati), KH Muhibbul Aman Ali (Pasuruan), dan ratusan peserta dari 35 delegasi yang dikirim dari beberapa pesantren di Pulau Jawa dan Madura. Para alumni Pesantren Langitan dari berbagai daerah juga turut serta dalam forum ilmiah ini.

Seperti yang diungkapkan pengasuh pesantren yang lain, KH Ubaidillah Faqih, Bahtsul Masa’il ini diharapkan menjadi awal langkah positif para santri untuk mensyi’arkan perjuangan para ulama’ terdahulu dalam menghidupkan agama Allah.

IMNU Tegal

IMNU Tegal

Insya Allah semoga kita termasuk dalam al-‘ulama warasatul anbiya’. Tidak hanya kita membuktikan lewat mubahatsah wal munadhoroh fil ilmi wa ‘anil ilmi tapi juga dalam amal fil ilmi,” tambahnya.

Bahtsul Masa’il Kubro ini dilaksanakan selama dua hari, Kamis hingga penutupan pada Jumat (14/3). Para peserta dalam bahtsul masa’il ini dibagi menjadi dua komisi, yakni komisi A yang di laksanakan di Aula Pesantren Langitan dan komisi B yang dilaksanakan di gedung MA Al-Falahiyah.

Pada tiap komisi diikuti oleh dua peserta dari dua delagasi yang menjadi utusan dari beberapa pesantren se-Jawa-Madura Pesantren Langitan. (M. Sahal Yasin/Mahbib)

 

Foto: suasana dalam salah satu komisi bahtsul masail

. Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pesantren, Nusantara IMNU Tegal

Senin, 29 Desember 2014

Informasi Provokatif Bikin Otak Tidak Sehat

Depok, IMNU Tegal. Akhir-akhir ini banyak sekali kita jumpai fenomena radikalisme, ? yang tentu tidak jauh dari masyarakat khususnya anak muda. ? Hal ini dikarenakan begitu besar pengaruh media dalam mencuci otak kita yang menyebabkan opini publik menjadi tidak sehat.?

Informasi Provokatif Bikin Otak Tidak Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Informasi Provokatif Bikin Otak Tidak Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Informasi Provokatif Bikin Otak Tidak Sehat

Sebagai santri dan pemuda bangsa, sebaiknya kita dapat memilih dan memilah mana yang baik dan benar sesuai dengan fakta yang ada. Maka dari itu, pengenalan jurnalistik menjadi penting.?

Bertempat di Pesantren Takhassus IIQ (institut Ilmu al-Quran) Cinangka Depok, digelar Pelatihan Jurnalistik, Ahad (13/11) dengan peserta Hafizh dan Hafizhah sekitar 30 peserta. Kegitan yang diadakan oleh LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) IIQ berkerja sama dengan LPM STKQ (Sekolah Tinggi Kulliyatul Quran) Al-Hikam Depok ini menekankan pentingnya jurnalistik bagi santri.?

Menurut Ketua Panitia Azzah, tindak lanjut dari Pelatihan jurnalistik diharapkan dapat membentuk jurnalis yang cerdas dan berkarakter. Cerdas dalam bermedia, mencerna informasi, dan berkarakter Ahlussunnah wal Jamaah.?

Sementara Zaki Muttaqien (Pembina LPM Al-Hikam) mengatakan, sebagai seorang Hafizh maupun Hafizhah seharusnya mengetahui Jurnalistik dengan baik. Sehingga bisa memberikan dampak yang signifikan dalam pemikirannya.?

IMNU Tegal

“Selain itu ide yang berasal dari penghafal Al-Quran dapat dimanifestasikan dalam bentuk tulisan yang memberikan banyak manfaat,” ujar Zaki.

Dilain tempat Zahrotussani (Pembina LPM IIQ) menjelaskan, sebagai kampus pengahafal Al-Quran (IIQ dan Al-Hikam) sudah saatnya melek dengan media. Jangan sampai terpengaruh dengan opini provokatif yang beredar di banyak media yang dapat mengakibatkan orang bisa saling membenci.?

Kegiatan ini menghadirkan Pemateri dari UIN jakarta, IIQ jakarta, dan STKQ Al-Hikam Depok. ? Pemateri saling bersinergi dengan peserta dalam beberapa diskusi tentang kejurnalistikan. (Zaki Muttaqien/Fathoni)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Ulama, Nusantara IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock