Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2018

Doa Senjata untuk Dapat Rahmat Allah dan Tolak Laknat-Nya

Jember, IMNU Tegal. Memungkasi? tahun 2016, Pengurus Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Sumberjambe, Jember, Jawa Timur? menggelar? peringatan Mualid? Nabi Muhammad SAW di Sumberpakem, Sabtu (31/12) .

Selain peringatan Maulid? Nabi, acara tersebut juga dimaksudkan untuk konsolidasi, evaluasi program dan rencana kegiatan tahun 2017.

“Ya, kita akan segera memasuki tahun 2017, maka kita adakan evaluasi kegiatan yang sudah-sudah, dan kita programkan kegiatan yang lebih baik di tahun depan,” ujar Ketua Pimpinan Cabang Muslimat NU Jember, Nyai Hj. Emi Kusminarni saat memberikan sambutan.

Doa Senjata untuk Dapat Rahmat Allah dan Tolak Laknat-Nya (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Senjata untuk Dapat Rahmat Allah dan Tolak Laknat-Nya (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Senjata untuk Dapat Rahmat Allah dan Tolak Laknat-Nya

Wakil Sekretaris PCNU Jember, Ustadz Moch. Eksan yang didapuk bertaushiyah menegaskan, betapa pentingnya doa. Untaian doa yang dipanjatkan, pasti mempunyai pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan manusia. Namun disadari atau tidak, sebagian umat Islam dewasa ini justru cenderung meremehkan kekuatan doa. Padahal Islam mengajarkan bahwa doa adalah senjata orang mukmin.

“Senjata untuk mendapat rahmat Allah dan senjata untuk menolak laknat Allah,” ujarnya.

IMNU Tegal

Doa, katanya, memiliki kekuatan yang luar biasa dahsyat. Mengapa dahsyat? Karena Allah sendiri yang menyuruh hamba-Nya untuk berdoa dan memastikan akan mengabulkan doa tersebut. Cuma persoalannya, manusia sering meragukan kasih sayang Allah, sehingga tidak yakin doanya dikabulkan. Padahal meragukan kasih sayang Allah, sama artinya dengan berburuk sangka keapda Allah.

“Alllah pasti mengabulkan doa hamba-nya. Kenapa? Sebab, Allah sendiri yang meminta kita berdoa,” jelasnya.

IMNU Tegal

Ia lalu mengurai faidah pembacaan shalawat. Seraya menyitir sebuah hadits, Ustadz Eksan mengungkapkan bahwa siapapun yang membaca shalawat 100 kali dalam sehari, maka Allah akan penuhi 100 hajatnya. Komposisinya adalah 70 hajat dipenuhi di akhirat, dan 30 permintaan dikabulkan di dunia.

“Oleh karena itu, memasuki tahun baru 2017, kini saatnya umat Islam? kembali meneguhkan keyakinannya akan kekuatan doa. Bahwa doa adalah senjata kemenangan untuk izzu Islam wal muslimin,” pungkasnya. (Aryudi A. razaq/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Daerah, Olahraga, News IMNU Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

Empat Acara Sekaligus pada Pelantikan MWC NU Balen

Bojonegoro, IMNU Tegal. Setelah beberapa waktu lalu mengadakan konferensi, pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Balen, Bojonegoro, Jawa Timur, periode 2013-2018, secara resmi dilantik di kantor MWC NU setempat, Jumat (31/1).

Empat Acara Sekaligus pada Pelantikan MWC NU Balen (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Acara Sekaligus pada Pelantikan MWC NU Balen (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Acara Sekaligus pada Pelantikan MWC NU Balen

Selain pelantikan, rangkaian acara juga meliputi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Acara pelantikan dilanjutkan dengan musyawarah kerja (Musker) MWC NU Balen.

Panitia pelantikan, Mulazim, menjelaskan, sebelum pelantikan Jumat siang ini, tahtimul Quran lebih dulu digelar Kamis (30/1) malam di kantor MWC NU Balen.

IMNU Tegal

Ketua PC NU Bojonegoro, Cholid Ubed berpesan kepada seluruh pengurus hinga tingkat ranting, termasuk jajaran badan otonom NU, baik IPNU, IPPNU, Muslimat NU, Fatayat NU, dan GP Ansor, untuk tetap memegang sikap kejujuran.

IMNU Tegal

"Kuncinya jujur, karena kejujuran merupakan pondasi yang tidak akan pernah terkalahkan. Serta orang yang mau mengurusi, baik meengurusi NU maupun organisasi dan masyarakat," sambung dokter spesialis penyakit dalam ini.

Ditambahkan, kebersamaan, kejujuran dan kepedulian perlu ditingkatkan. Sehingga masyarakat bisa bersatu dan tidak terjadi konflik sosial.

Rais Syuriyah MWC NU Balen Abdullah Hilmi Al-Jumadi mengajak para undangan dalam acara pelantikan, untuk meneladani sosok Gus Dur. Pasalnya presiden keempat RI itu tidak pernah diskriminatif di tengah keragaman budaya dan agama di Tanah Air.

"Kita orang Indonesia yang beragama islam, bukan islam yang hidup di makkah," ujar Kepala KUA Kecamatan Malo, Bojonegoro ini. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Daerah, Olahraga IMNU Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Kang Said: NU Penyangga Keutuhan Bangsa

Surabaya, IMNU Tegal. Konflik di Negara-negara Islam adalah pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia. Sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar, NU memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi kondusifnya suasana di negeri ini.

Penegasan ini disampaikan Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj saat menyampaikan sambutan pada pelantikan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur (22/8). Bagi Kiai Said, sumbangsih NU bagi bangsa ini sangat besar sehingga tidak terjadi kekerasan dan kerusuhan.

Kang Said: NU Penyangga Keutuhan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: NU Penyangga Keutuhan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: NU Penyangga Keutuhan Bangsa

“Di Indonesia, kita memiliki NU yang merupakan organisasi sosial kegamaan terbesar sehingga mampu meredam sejumlah gejolak yang akan memicu disintegrasi dan kerusuhan massal,” katanya.

IMNU Tegal

Kiai Said membandingkan kondisi negara Timur Tengah yang terus begolak. “Di negara-negara itu ada polisi dan pasukan militer,” katanya. “Namun karena tidak memiliki organisasi kemasyarakatan yang mengakar, akhirnya kerusuhan tidak bisa terhindarkan,” lanjutnya.

“Kebesaran Islam di Maroko, Syria maupun Mesir yang telah berlangsung beratus tahun lamanya akhirnya porak poranda oleh kerusuhan yang kini terjadi,” terangnya.

IMNU Tegal

Karena itu Kiai Said mengharapkan agar keberadaan NU terus menjadi perekat umat dan tidak mudah tercerai berai. “Marilah kita jaga keutuhan Indonesia dengan Islam Ahlussunnah wal Jamaah,” katanya.

Dan Jawa Timur hendaknya tetap menjadi ruh bagi NU di Indonesia. “Ruh NU ada di Jawa Timur,” tandas Kiai Said. “Kalau ruh NU sudah tidak ada, maka tidak akan ada lagi NU di negeri ini,” lanjutnya.

Pada kesempatan itu kepengurusan PWNU Jawa Timur hasil Konferensi Wilayah yang diselenggarakan di SMP Progresif Bhumi Shalawat Lebo Sidoarjo beberapa waktu lalu dilantik. Menempati bangunan lantai tiga kantor PWNU Jawa Timur di Jalan Masjid al-Akbar Timur No 9 Surabaya, sejumlah ketua lembaga dan lajnah juga diambil sumpah untuk berkhidmat kepada jam’iyah dan jamaah NU. 

Redaktur     : Abdullah Alawi 

Kontributor : Syaifullah Ibnu Nawawu 

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kajian Sunnah, Daerah IMNU Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Panitia Konferensi NU Demak Akhiri Kegiatan dengan Ziarah Wali

Demak, NUOnline

Panitia konferensi cabang (konfercab) NU Demak yang sukses mengelar konfercab pada 30 Juli 2017 di Pesantren Fathul Huda, Demak, Jawa Tengah, mengakhiri tugasnya dengan melakukan ziarah ulama Nusantara. Ziarah yang berlangsung Sabtu-Ahad (9-10/9) ini sekaligus sebagai bentuk pembubaran panitIa.

Ketua panitia pelaksana KH Sa’dullah Fattah dalam upacara pemberangkatan rombongan mengatakan, ziarah para wali bertujuan merajut tali silaturrahim di antara pengurus cabang NU Demak masa khidmah 2012-2017 dengan pengurus baru masa khidmah 2017-2022.

Panitia Konferensi NU Demak Akhiri Kegiatan dengan Ziarah Wali (Sumber Gambar : Nu Online)
Panitia Konferensi NU Demak Akhiri Kegiatan dengan Ziarah Wali (Sumber Gambar : Nu Online)

Panitia Konferensi NU Demak Akhiri Kegiatan dengan Ziarah Wali

“Ini dalam rangka membangun soliditas dan hormonisasi panutan NU yang peran dan fungsinya ke depan semakin besar dan berat,” katanya.

IMNU Tegal

Beberapa ulama yang dikunjungi antara lain raja Islam pertama, Sultan Fattah Demak, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Maulana Malik Ibrahim,  Sunan Giri,  Sunan Ampel, Syaikhona Kholil (Bangkalan), KH Khamid (Pasuruan),  KH Asad Syamsul Arifin (Situbondo),  KH Hasyim Asyari, KH Abdul Wahid Hasyim dan KH Abdurrahman Wahid (Jombang).

IMNU Tegal

Ia juga berharap para pengurus NU mampu meneladani langkah dan perjuangan para ulama yang diziarahi dalam membumikan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah di bumi Nusantara sebagai rahmatan lil alamin.

Sementara itu ketua PCNU Demak terpilih KH Muh Aminuddin yang juga ikut dalam rombongan mengapresiasi panitia konfercab NU Demak yang menutup kegiatan konferensi dengan ziarah ulama Nusatara, termasuk pendiri NU

“Saya sangat senang dengan acarayang luar biasa baiknya,karena bisa menjadi napak tilas ulama Nusantara,” tutur Pak Amin, begitu akrab dipanggil. (A.ShiddiqSugiarto/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Daerah, Olahraga, News IMNU Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Akidah Islam Perlu Standarisasi

Pati, IMNU Tegal. Majelis Ulama Indonesia (MUI) perlu membuat standarisasi akidah Islam, karena terlalu bebasnya arus informasi dan komunikasi yang diterima masyarakat.

Menurut Ketua MUI KH. MA Sahal Mahfudh, di Pati, Minggu, saat memberikan ceramah dalam Musda VII MUI di Kabupaten Pati, Minggu, bebasnya arus informasi itu merupakan pendorong utama bergesernya nilai-nilai syariah Islam di Indonesia, sehingga perlu standarisasi melalui jalur pendidikan.

"Kurikulum yang berbeda-beda di masing-masing daerah perlu disatukan kembali," katanya.

Akidah Islam Perlu Standarisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Akidah Islam Perlu Standarisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Akidah Islam Perlu Standarisasi

Ia mengatakan, upaya tersebut merupakan salah satu cara yang efektif untuk menyelamatkan Akidah Islam, sehingga perlu juga diusulkan ke forum MUI pusat.

Standarisasi kurikulum pendidikan tidak mudah dilakukan, karena ada dua lembaga yang menangani tentang pendidikan, yaitu Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan Departemen Agama (Depag).

Selaiun itu, Kyai Sahal yang juga rais aam PBNU tersebut menambahkan dalam pengelolaan pendidikan keduanya tidak saling sinkron, bahkan terdapat perbedaan mencolok, sehingga terkesan masing-masing departemen berjalan sendiri-sendiri.

IMNU Tegal

"Upaya mencari penyelesaian masalah pendidikan agama antara dua departemen tersebut memang sulit menemukan solusi tepat, meski di tingkat kabinet sudah ada titik temu," katanya. (ant/mad)



Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Daerah IMNU Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Khofifah: Ngopeni Warga NU Level Ranting Jauh Lebih Penting

Jember, IMNU Tegal - Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa menganggap pentingnya berdakwah ke luar. Tetapi menurutnya, berdakwah ke dalam jauh lebih penting. Mendampingi warga NU sangat penting di tengah meluapnya arus global paham-paham transnasional.

Hal ini disampaikan Hj Khofifah dalam acara tatap muka dengan santri Pesantren Nuris Islam (Nuris), Antirogo, Kabupaten Jember, Sabtu (28/5).

Khofifah: Ngopeni Warga NU Level Ranting Jauh Lebih Penting (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Ngopeni Warga NU Level Ranting Jauh Lebih Penting (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Ngopeni Warga NU Level Ranting Jauh Lebih Penting

Menurut Khofifah, masih banyak warga NU yang ngambang, bahkan tidak tahu seluk-beluk ajaran ahlussunah wal jamaah (Aswaja). "Dan mereka itu rawan dikapling komunitas lain, semisal kelompok radikal," ucapnya.

IMNU Tegal

Khofifah mengaku khawatir dengan kondisi itu. Sebab, nyatanya tidak sedikit warga NU, bahkan tokoh NU yang terbuai rayuan kelompok lain, dan akhirnya mereka menjadi pengurus di komunitas tersebut.

Ia lalu bercerita tentang salah seorang pengurus Muslimat NU Endah Nizar yang diundang oleh Ketua IPPNU Mojokerto untuk mengisi pengajian. Karena yang mengundang adalah IPPNU, maka tentu yang terbayang di benak Endah bahwa audiennnya adalah muslimat NU. Tapi tenyata yang hadir adalah muslimat HTI (Hizbut Tahrir Indonesia).

IMNU Tegal

"Ning Endah, akhirnya tanya kepada Ketua IPPNU itu, ‘Anda Ketua IPPNU. Kok saya diundang di acaranya HTI?’ Ia menjawab. ‘Ya, memang, karena saya tahu Islam dari HTI,’" ungkapnya.

Menurut Khofifah, kasus tersebut harus menjadi pelajaran bagi warga NU. Bahwa NU besar adalah sebuah kenyataan yang tak bisa dipungkiri. Tapi ngopeni umat harus terus menerus dilakukan agar warga NU tak mudah terjebak oleh bujuk rayu komunitas lain.

"Ini pekerjaan rumah para kiai, pekerjaan rumah tokoh NU, pekerjaan rumah pengasuh pesantren, dan pekerjaan rumah kita semua," jelasnya.

Khofifah menambahkan, Aswaja adalah rohnya NU. Mengenal NU, otomatis harus mengenal Aswaja. Ia sendiri mengaku terus belajar dan memperdalam Aswaja.

Saat KH Muchit Muzadi masih hidup, ia mengaku sering belajar Aswaja kepada Kiai Muchit lewat telepon. "Kalau saya ngaji kepadanya, itu sampai setengah jam by phone. Sering. Saya juga belajar Aswaja kepada Kiai Muhyiddin (pengasuh Pesantren Nuris), tapi belum selesai," ungkapnya.

Acara yang digelar di masjid Nuris putra itu juga dihadiri oleh Bupati Jember Faida, para ustadz, dan ratusan santri. Dalam acara tersebut juga ditampilkan drama Dialog Aswaja yang diperankan santriwati Nuris. (Aryudi AR/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Daerah IMNU Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Habib Puang Makka Baiat Peserta Susbanpim Ansor

Makassar, IMNU Tegal. Dewan Pembina PP GP Ansor, Habib Puang Makka membaiat peserta Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) IV PP GP Ansor, di aula Balai Latihan Kerja Indonesia (BLKI), Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (29/3). ? ?

Kepada peserta berasal dari seluruh provinsi di Pulau Sulawesi, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua, Riau, Kepulauan Riau, Lampung, Jawa Tengah dan Yogyakarta, Habib Puang Makka meminta kader inti Pemuda Ansor itu untuk selalu menjaga Indonesia dan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah An Nahdliyah.

Habib Puang Makka Baiat Peserta Susbanpim Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Puang Makka Baiat Peserta Susbanpim Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Puang Makka Baiat Peserta Susbanpim Ansor

Usai lagu Indonesia Raya berakhir, pemilik nama lengkap Habib Abdur Rahim Assegaf Puang Makka bin Habib Jamaluddin Assegaf Puang Rama itu melangkah yakin menuju empat bendera, merah putih, Nahdlatul Ulama (NU), GP Ansor dan Banser. Lalu dengan khusyuk mencium bendera-bendera itu secara berurutan dan kemudian kembali ke tempat semula.

"Banser senantiasa menjalankan kewajiban terhadap Allah SWT dan Rasullullah SAW. Dan tanpa pamrih mengisi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila serta UUD 1945 tanpa pamrih dan konsekuen," ujar Puang Makka diikuti peserta.

Pasca pembaiatan, tindakan Puang Makka mencium empat bendera diikuti anggota Banser dan jamaah Khalwatiyah Yusuf Makassari yang menghadiri prosesi. Lantunan sholawat dan tangis haru memenuhi ruangan.

"Jajaran Satkornas Banser mengucapkan terima kasih kepada jajaran PW GP Ansor Sulawesi Selatan atas terselenggaranya kaderisasi di Makassar," ujar Kasatkornas Banser H Alfa Isnaeni. (Gatot Arifianto/Zunus)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Daerah, Bahtsul Masail IMNU Tegal

IMNU Tegal

Senin, 08 Januari 2018

Selama Ramadhan, STISNU Nusantara Adakan Pengajian Metodologi Tafsir

Tangerang, IMNU Tegal. Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang, Banten mengadakan kegiatan ngaji posonan atau pasaran di kampus dalam mengisi kegiatan Bulan Ramadhan 1437 H. Ramadhan kali ini, Perguruan Tinggi NU tersebut mengkaji Kitab Metodologi Tafsir.?

H Muhamad Qustulani, Pembantu Ketua Bidang Akademik menjelaskan bahwa kegiatan posonan atau pasaran di kampus STISNU sudah menjadi rutinitas di setiap bulan puasa. Tahun lalu kajiannya ushul fiqih, dibaca oleh KH M. Mahrusillah. Pada tahun ini, yatu metode tafsir, langsung diampu oleh Katib Syuriyah NU Kota Tangerang, KH Arif Hidayat.

Selama Ramadhan, STISNU Nusantara Adakan Pengajian Metodologi Tafsir (Sumber Gambar : Nu Online)
Selama Ramadhan, STISNU Nusantara Adakan Pengajian Metodologi Tafsir (Sumber Gambar : Nu Online)

Selama Ramadhan, STISNU Nusantara Adakan Pengajian Metodologi Tafsir

"Harapannya, di bulan puasa ini mahasiswa dapat menggali potensi diri dengan mengaji tafsir al Quran. Insya Allah, akan lebih bermakna dan bernilai jika diisi dengan taklim," ujar Qustulani.

KH Arif Hidayat, murabbi pengajian menjelaskan bahwa pada pasaran kali ini mahasiswa akan dibekali cara mudah dalam menafsirkan al-Quran, menggunakan metode yang ? diberi nama TAQWA.?

IMNU Tegal

"Mahasiswa diharapkan akan lebih mudah memberikan materi pembelajaran al-Quran kepada siswa/siswi di sekolah nantinya. Insyaallah, lebih mudah dalam menejermahkan al-Quran," jelas Kiai Arif.

Tidak hanya itu, imbuhnya, pada pengajian ini juga akan dibahas kutipan-kutipan penafsiran yang diambil dari kitab tafsir mutabarah, seperti Ibnu Katsir, al-Qurthuby, Mafathil Ghaib Fakhruddin al-Razi, dan lain sebagainya.?

Pengajian ini direncanakan berlangsung selama 10 hari, mulai pukul 10.00 pagi sampai menjelang ashar yang akan diikuti oleh seluruh mahasiswa STISNU Nusantara. Adapun jika dari selain mahasiswa yang ingin mengikuti pengajian maka dipersilahkan dengan pintu terbuka. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Cerita, Daerah IMNU Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Kader Muslimat NU Diperkenalkan Bursa Saham

Jakarta, IMNU Tegal. Otoritas bursa saham, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menjalin kerja sama dengan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU). Kerja sama ini merupakan wujud keseriusan BEI untuk terus meningkatkan jumlah investor pasar modal.

Kader Muslimat NU Diperkenalkan Bursa Saham (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Muslimat NU Diperkenalkan Bursa Saham (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Muslimat NU Diperkenalkan Bursa Saham

Selain penandatanganan memorandum of understanding (MoU), kerja sama Muslimat dengan BEI juga ditandai dengan ? pembukaan perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI oleh Ketua Umum Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa.

Pada kesempatan tersebut, Khofifah mengajak kader Muslimat giat berinvestasi. Salah satunya melalui perdagangan di lantai bursa saham.

IMNU Tegal

"Mulai sekarang kita menginisiasi pembukaan perdagangan. Semoga kehadiran Muslimat NU di pasar saham memberi kesejahteraan dan membangun kedaulatan ekonomi bangsa serta memperkuat perekonomian, win-win profit," katanya.

Sebelumnya, sejumlah saham yang tercatat di BEI memang sudah ada yang memiliki sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sehingga, ormas perempuan ini sangat yakin untuk mengajak 12 juta kadernya di 33 provinsi untuk ikut ambil bagian di pasar saham.

IMNU Tegal

Wakil Sekretaris Jenderal PP Muslimat NU, Yenny Zannuba Arifah Chafsoh melihat langkah ormasnya bisa mengembangkan dan memajukan pengetahuan tentang pasar modal sebagai sesuatu yang luar biasa. Perempuan yang akrab disapa Yenny Wahid ini sebagai bentuk peningkatan partisipasi serta menambah keterampilan dari kalangan perempuan.

Menurutnya, impian menjadi investor Muslimat didukung potensi kuantitas anggota. Partisipasi aktif anggota Muslimat NU pun diyakininya bisa memberi nilai tambah bagi perekonomian umat.

"Keuangan nasional berimbas pula pada rumah tangga, perempuan harus bisa menyiasati agar tak menjadi korban," kata Yenny.

Dikatakannya, pengetahuan finansial yang didapatkan diiringi praktik di lapangan bakal menambah keistimewaan fungsi perempuan. Sehingga perempuan bukan hanya sekadar menjadi kasir, tapi manajer yang strategis mengatur keuangan.

Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Uriep Budhi Prasetyo, mengatakan, kerja sama yang dibuat kedua pihak ini sebagai wujud untuk mengembangkan sektor pasar modal.

"NU memiliki konstituen di wilayah timur cukup banyak. Kami optimistis kerja sama BEI dan Nahdlatul Ulama ini dapat memberikan kontribusi positif untuk pasar modal Indonesia," kata Uriep.

Direktur pengembangan BEI, Friderica Widyasari Dewi mengatakan, dengan penandatanganan kerja sama itu diharapkan menjadi kegiatan sosialisasi dan perencanaan investasi bagi muslimat Nadhatul Ulama.

Apalagi, katanya, saat ini di dalam Bursa Efek Indonesia terdapat daftar efek syariah yang bisa dijadikan acuan pilihan investasi. "Kami optimis kerja sama BEI dan Nadhatul Ulama ini dapat memberikan kontribusi positif untuk pasar modal Indonesia dan turut serta memberi kontribusi positif dan meningkatkan jumlah investor," katanya.

Ia menambahkan, saat ini jual-beli saham di BEI juga sudah mendapatkan sertifikat halal dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI).

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Daerah, Meme Islam IMNU Tegal

Pendaftaran Online Mudahkan Wali Calon Santri Tebuireng

Jombang, IMNU Tegal. Pendaftaran secara online dirasa sangat efektif oleh para orang tua peserta test santri baru. Sistem online ini lebih terasa terutama bagi mereka yang berdomisili di luar Jawa. Dengan online, layanan informasi yang berkaitan dengan penerimaan santri baru pesantren Tebuireng, lebih cepat dan efisien.

Pendaftaran Online Mudahkan Wali Calon Santri Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendaftaran Online Mudahkan Wali Calon Santri Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendaftaran Online Mudahkan Wali Calon Santri Tebuireng

Demikian disampaikan Ketua panitia penerimaan santri baru pesantren Tebuireng Ali Subhan. Menurut Ali, “Panitia akan berusaha keras untuk memberikan pelayanan yang bagus dan maksimal bagi para peserta dan keluarga yang mengantar.”

Panitia, kata Ali, juga tengah berusaha untuk mengentri data secepat dan seefektif mungkin sehingga deadline pengumuman jatuh sesuai rencana, pada 10 Januari 2015.

IMNU Tegal

Sejak dibuka pendaftaran gelombang pertama pada Sabtu (15/11) lalu, mereka yang mendaftar sebagai santri baru tercatat sebanyak 916 calon santri. Sementara pada Ahad (28/12), para peserta mengikuti test penerimaan santri baru 2015-2016 pesantren Tebuireng di unit-unit pendidikan masing-masing.

Peserta seleksi beserta keluarga memadati pesantren Tebuireng sejak pukul 05.30 WIB. Selanjutnya peserta diarahkan untuk menuju ke unit-unit masing, kecuali test SMA trensains yang dilaksanakan di aula Bachir Ahmad Gedung Yusuf Hasyim lantai 3.

IMNU Tegal

Test pada Ahad, (28/12) diperuntukkan bagi unit SMA Abdul Wahid Hasyim, SMP Abdul Wahid Hasyim, MA Salafiyah Syafiiyah, Mts Salafiyah Syafiiyah dan SMA Trensains. Sementara untuk unit lain seperti SDIT, Madrasah Muallimin dan Mahad Aly Hasyim Asyari baru akan dimulai pada awal 2015 mendatang. (Abror/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Daerah, Berita, Aswaja IMNU Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Muslimat NU Sumedang Deklarasikan Laskar Anti-Narkoba

Sumedang, IMNU Tegal

Ketua Pimpinan Cabang Muslimat Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumedang Hj. Ikah Mumsikah mengatakan, Muslimat NU Sumedang berkomitmen untuk selalu menyatukan langkah membangun negeri dan menjaga NKRI. Salah satu bentuk nyata untuk hal itu adalah mendeklarasikan Laskar Anti-Narkoba muslimat NU.

Muslimat NU Sumedang Deklarasikan Laskar Anti-Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Sumedang Deklarasikan Laskar Anti-Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Sumedang Deklarasikan Laskar Anti-Narkoba

Hal itu disampaikannya di hadapan ratusan warga muslimat NU Sumedang pada Sabtu (15/4) pada peringatan Isra’ Miraj Nabi Muhammad SAW dan peringatan hari lahir Muslimat NU yang ke-71 di Gedung Islamic Centre Kabupaten Sumedang.

Hajah Ikah melanjutkan, beberapa hari ke belakang pengurus Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Sumedang telah menyelenggarakan kegiatan sosialisasi bahaya narkoba serta cara penanggulangannya dan kegiatan lomba penyuluhan bahaya narkoba yang diikuti oleh perwakilan Pimpinan Anak Cabang Muslimat NU se-Kabupaten Sumedang.

IMNU Tegal

Dua kegiatan tersebut, menurutnya, merupakan langkah untuk mencetak laskar anti narkoba. Laskar-laskar tersebut diharapkan nantinya bisa terjun dimasyarakat untuk menyosialisasikan bahaya narkoba.

Puncaknya pada Sabtu (15/4) secara resmi, Laskar Anti-Narkoba Muslimat NU Sumedang dideklarasikan. Deklarasi ini diharapkan dapat memberikan semangat warga Muslimat NU untuk terus berikhtiar mencegah beredarnya narkoba dan bisa melenyapkannya, tutur Hajah Ikah.

IMNU Tegal

“Terakhir kami atas nama Pengurus Muslimat NU Kabupaten Sumedang mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan bekerja sama atas terselenggaranya beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh Muslimat NU. Mari kita semua untuk selalu menyatukan langkah membangun negeri dan menjaga NKRI,” tutup Hajah Ikah. (Ayi Abdul Kohar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Humor Islam, Daerah IMNU Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

Dari Ihya Ulumiddin: Membela Al-Qur’an dengan Akhlak Mulia

Sore itu Ujang mengobrol dengan Haji Yunus. Di meja beliau ada kitab Ihya Ulumiddin karya Imam al-Ghazali. Ujang lantas bertanya: "Banyak Ustad yang menekankan pentingnya kita ber-akhlak seperti akhlak Nabi Muhammad. Wak Haji, seperti apa sih akhlak Nabi kita itu?

Haji Yunus menarik sarungnya yang lusuh, lantas membuka kitab Ihya di depannya, "Mari Ujang kita ngaji bersama untuk menjawab pertanyaanmu itu". Haji Yunus membaca dan menerjemahkannya:

Dari Ihya Ulumiddin: Membela Al-Qur’an dengan Akhlak Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Ihya Ulumiddin: Membela Al-Qur’an dengan Akhlak Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Ihya Ulumiddin: Membela Al-Qur’an dengan Akhlak Mulia

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? {? ? ?} ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

IMNU Tegal

Nabi selalu memohon kepada Allah SWT supaya dihiasi dengan adab yang baik serta akhlak terpuji. Dalam doanya, beliau membaca: Ya Allah, baguskanlan rupa dan akhlakku. Dan beliau juga berdoa: "Ya Allah, jauhkan aku dari akhlak yang munkar," maka Allah mengabulkan doa beliau sesuai dengan firmanNya "Berdoalah kepada-Ku niscaya Kuperkenankan (permintaan) kamu itu" (QS al-Mumin: 60). Allah turunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad dan dijadikan Al-Qur’an itu bahan pengajaran adab, maka jadilah akhlak Nabi Muhammad itu (seperti isi) Al-Qur’an.

Said bin Hisyam berkata, "Aku masuk menemui Siti Aisyah RA dan bertanya tentang akhlak Rasulullah Saw." Aisyah menjawab dan bertanya, "Apakah engkau membaca Al-Qur’an?" Aku menjawab, "Iya." Aisyah menjawab, "Akhlak Nabi SAW adalah Al-Qur’an."

IMNU Tegal

**

Haji Yunus berkata: "Ujang, kalau akhlak Nabi itu Al-Qur’an, maka mari kita simak sejumlah ayat Al-Qur’an untuk memahami akhlak beliau SAW". Haji Yunus meneruskan membaca kitab Ihya:

? ? ? ? ? ? {? ? ? ? ? ? ?} ? {? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?} ? {? ? ? ? ? ? ? ? ?} ? {? ? ? ? ? ? ? ?} ? {? ? ? ? ? ? ?} ? {? ? ? ? ? ? ? ?} ? {? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?} ? {? ? ? ? ? ? ? ?} ? {? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?} ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? {? ? ? ? ?} ? ? ? ?

Sungguh Al-Qur’an mengajarkan Rasulullah SAW adab kesantunan sebagaimana dalam ayat, "Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang maruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh." (QS al-Araf: 199)

Di lain ayat, Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan." (QS al-Nah,: 90)

Dan firman Allah, "Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)." (QS Luqman:17)

Begitu juga dengan ayat "Orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan" (QS Asy-Syura: 43) dan "Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik" (QS al-Maidah:13). Kemudian, "Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?" (QS al-Nur:22).

Lanjut dengan ayat "Dan yang sanggup menahan marahnya, serta orang- orang yang mema’afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS Ali Imran:134) dan "jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain" (QS al-Hujurat:12).

Pada perang Uhud, gigi geraham Nabi patah sehingga darah mengucur keluar dan membasahi wajah beliau. Nabi berkata, "Bagaimana suatu kaum akan selamat jika mereka melumuri wajah Nabi mereka dengan darah, sedangkan Nabi mereka mengajak mereka kepada Tuhan" maka, Allah Swt menurunkan ayat, "Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu" (QS Ali Imran:128). Ayat-ayat ini bermakna membimbing Rasulullah SAW atas kejadian yang tengah dihadapinya.

**

Haji Yunus mulai berkaca-kaca matanya. Ujang terdiam menundukkan kepalanya. Haji Yunus meneruskan membaca kitab Ihya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? {? ? ? ?}

Ayat yang senada seperti di atas banyak dijumpai dalam Al-Qur’an. Semuanya itu dimaksudkan mula-mula yaitu untuk membimbing dan mengarahkan Nabi Saw. Dengan itu, maka sinar pelajaran dari Al-Qur’an dapat menyebar ke seluruh manusia.

Itulah sebabnya Rasulullah SAW bersabda: "Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia". Setelah Allah menyempurnakan akhlak beliau, lalu Allah memujinya: "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung" (QS al-Qalam:4).

**

Ujang mengangkat tangan, "Wak Haji, adakah contoh praktis dari akhlak Nabi SAW?"

"Iya, ada..." Haji Yunus kemudian lompat ke lembaran berikutnya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ketika didatangkan sekelompok tawanan Thayyi-in, di antara tawanan tersebut ada seorang gadis belia. Dia berkata, "Hai Muhammad, sudikah engkau membebaskan aku, dan tidak mengecewakan musuh-musuhmu serta tidak mempermalukan orang-orang Arab? Sesungguhnya, aku adalah putri seorang pemimpin di kaumku. Bapakku bertugas melindungi daerahku, membebaskan tawanan, memenuhi kebutuhan orang yang membutuhkan, memberi makan, menyebarkan salam dan tidak pernah mengusir seseorang yang datang kepadanya untuk suatu keperluan. Aku adalah putri dari Hatim al-Thai"

Rasulullah Saw berkata, "Wahai budak perempuan, yang kamu sebut adalah semuanya sifat orang-orang mumin. Andaikata bapakmu seorang Muslim, niscaya kami akan mendoakan rahmat baginya." Nabi lalu memerintahkan, "Bebaskan dia, sesungguhnya bapaknya menyenangi budi pekerti yang mulia." Lalu bangun berdiri Abu Bardah bin Niar, seraya-berkata : "Wahai Rasulullah! Allah menyukai akhlaq yang mulia!" Nabi Menjawab: "Demi Allah yang nyawaku dalam kekuatan-Nya! Tiada yang masuk surga kecuali orang yang bagus akhlaknya"

**

"Sampai di sini, mengertikah kamu, Ujang, bahwa Nabi pun memghormati akhlak non-Muslim dan menyanjungnya. Kita tentu malu sekarang kalau non-Muslim lebih banyak yang mengamalkan akhlak mulia ketimbang kita para pengikut Nabi Muhammad," tegas Haji Yunus. Beliau melanjutkan menerjemahkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Muaz bin Jabal, Nabi Bersabda: "Sesungguhnya, Islam meliputi akhlak-akhlak yang terpuji dan perilaku yang baik." Adapun contoh dari akhlak yang terpuji adalah pergaulan yang baik, perbuatan terpuji dan perkataan yang lemah lembut, melakukan perbuatan yang maruf, memberi makan tamu, menyebarkan salam, menziarahi orang Muslim yang sakit baik yang akhlaknya baik maupun yang buruk, mengantarkan jenazah Muslim, berlaku baik kepada tetangga baik yang Muslim maupun yang Kafir, memuliakan yang lebih tua, menghadiri undangan perjamuan makan dan mendoakannya, suka memaafkan, senang mendamaikan, bersifat pemurah, mulia, toleran, memulai memberi salam, menahan amarah dan memberi maaf orang yang minta maaf.

**

Haji Yunus menghela napas. "Masih panjang pembahasan comtoh-contoh akhlak Nabi yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya ini. Silakan dibaca sendiri. Tapi intinya kamu sudah paham belum?"

Ujang mengangguk: "Intinya adalah akhlak Nabi itu Al-Qur’an."

Haji Yunus berkata: "Benar! Maka kalau kita bertekad membela Al-Qur’an maka kita harus membelanya lewat akhlak Nabi Muhammad yang digambarkan begitu indah dalam Al-Qur’an. Tentu mengherankan kalau kita hendak membela Al-Qur’an tapi dilakukan dengan cara yang jauh dari nilai-nilai akhlak yang terkandung dalam Al-Qur’an dan terwujud dalam contoh budi pekerti Nabi Muhammad yang agung."

Spontan Ujang berteriak: "takbiiirrrr!!!"

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School



Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Daerah IMNU Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Pawai Panjang Jimat Meriahkan Maulid Nabi di Pekalongan

Pekalongan, IMNU Tegal. Ribuan orang dari berbagai komunitas ikut memeriahkan Pawai Panjang Jimat di Pekalongan, Sabtu (24/1) siang. Acara ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Kanzus Sholawat.

Dalam kirab tersebut, tampak dalam barisan paling depan, rombongan pembawa bendera Merah Putih. Rombongan tersebut terdiri dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama Polri, Banser, Satpol PP dan puluhan pelajar.

Pawai Panjang Jimat Meriahkan Maulid Nabi di Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pawai Panjang Jimat Meriahkan Maulid Nabi di Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pawai Panjang Jimat Meriahkan Maulid Nabi di Pekalongan

Sedangkan di belakang rombongan pembawa bendera, ikut mengiringi aneka atraksi ditampilkan oleh peserta pawai. Selanjutnya, iring-iringan pecinta sepeda ontel, berbagai grup drumband/marching band dari beberapa sekolah di Kota dan Kabupaten Pekalongan dan Batang, barisan anggota Banser, IPNU-PPNU, Pemuda Pancasila dan kelompok rebana.

IMNU Tegal

Di tengah-tengah rombongan, masyarakat dihibur dengan aksi egrang batik dari Paguyuban Terbang Egrang Kebahan Lor, Banyuri Ageng Kota Pekalongan. Dan grup barongsai dan liong Naga Mas Pekalongan.

IMNU Tegal

Rais ‘Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (Jatman) Habib Luthfy bin Yahya mengatakan, pawai panjang jimat ditampilkan setiap menjelang kegiatan peringatan maulid yang diadakan Kanzus Sholawat.

"Momentum peringatan maulid di samping untuk meningkatkan rasa cinta kepada Rasulullah, juga meningkatkan rasa kebersamaan dalam kedamaian sesama ummat manusia di muka bumi ini," ujarnya.

Pawai yang dimulai sejak pukul 1 siang tersebut, diawali Stadion Kraton menyusuri Jalan Kemakmuran, Jalan Imam Bonjol, Jalan Pemuda, Jalan Hayamwuruk, Jalan dr. Cipto dan berakhir di Jalan dr. Wahidin Pekalongan. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Daerah IMNU Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Gus Dur pun Sering Menemui Kiai Khotib Umar

Jember, NU Onilne. Ahad sore (8/6) kemarin, mendung duka menggelayut di langit Jember. Salah seorang putera terbaik Jember, KH Khotib Umar dipanggil Sang Khalik. Kiai kelahiran tahun 1940 itu menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit Dr. Soebandi, Patrang, Jember setelah 5 hari opname di rumah sakit tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi pengasuh pesantren Raudlatul Ulum, Sumberwringin itu memang labil. Sudah tak terhitung berapa kali ia keluar masuk rumah sakit, baikdi Jember maupun di Surabaya. “Ya beliau memang sakit-sakitan, gangguan pernafasan terutama, juga komplikasi,” kata salah seorang kerabatnya, Nyai Ja’faroh Hasan kepada IMNU Tegal semalam.

Gus Dur pun Sering Menemui Kiai Khotib Umar (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur pun Sering Menemui Kiai Khotib Umar (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur pun Sering Menemui Kiai Khotib Umar

Seiring dengan kondisi fisiknya yang menurun,? Kiai Khotib juga mengurangi akivitasnya sebagai muballigh. Namun untuk area Jember, beliau masih bisa memenuhi panggilan dakwah, kendati harus pakai kursi roda.

IMNU Tegal

Kiai Khotib dikenal sebagai salah seorang kiai khos NU. Ia kerap menjadi jujugan tokoh NU dan pejabat yang berkunjung ke Jember. Kiai Hasyim Muzadi, KH. Said Aqil Siroj dan sederet tokoh NU lainnya, juga terhitung kerap mengunjungi beliau.

IMNU Tegal

Demikian juga dengan Gus Dur. Bahkan Kiai Khotib dikenal mempunyai hubungan khusus dengan mantan presiden RI tersebut. Sudah tak? terhitung berapa kali, Gus Dur mengunjungi Sumberwringin, baik sebelum, saat menjadi persiden maupun seteleh lengser.

Ketika masih sama-sama sehat, tak? jarang Kiai Khotib sowan ke Gus Dur di Jakarta. “Aba dan Gus Dur memang cukup dekat hubungannya,” tutur Izat Umari, salah seorang putranya. (Aryudi A. Razaq/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Sejarah, Daerah IMNU Tegal

Sabtu, 25 November 2017

KMNU POLINELA Ajak Masyarakat Peduli Sesama

Bandar Lampung, IMNU Tegal

Mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) lakukan penggalangan dana di Lampu Merah Rajabasa untuk korban banjir yang terjadi pada senin malam (20/2) sepekan yang lalu.?

KMNU POLINELA Ajak Masyarakat Peduli Sesama (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU POLINELA Ajak Masyarakat Peduli Sesama (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU POLINELA Ajak Masyarakat Peduli Sesama

"Selain aksi turun langsung ke jalan, kami juga membuka donasi untuk korban banjir di Kabupaten Pesawaran melalui transfer rekening," ujar Ketua KMNU Polinela, M. Ajid, di Bandarlampung, Ahad (26/2)

Menurut Ajid penggalangan dana ini dilakukan sebagai bukti konkrit empati dan kepekaan sosial mahasiswa dan masyarakat terhadap sesama manusia. "Sudah seharusnya jiwa sosial di tumbuhkan dalam diri mahasiswa saat ini, dengan mengajak orang lain untuk membantu sesama misalnya" ungkap ajid di sela-sela melakukan aksinya.

Selain KMNU Polinela aksi ini juga ? dilaksanakan bersama KMNU Universitas lain. "Kita terjun bersama dengan Keluarga Mahasiswa NU Universitas Lampung dan Permata Sholawat UIN Raden Intan Lampung, mereka juga melakukan aksi serupa di titik yang berbeda. Hal ini agar penggalangan dana ? lebih maksimal, tambahnya.?

IMNU Tegal

Di sela-sela kesibukan sebagai mahasiswa, organisasi-organisasi tersebut meluangkan waktunya untuk peduli pada saudara yang terkena musibah banjir. Banjir tersebut di akibatkan karena hujan yang tak kunjung reda sejak senin malam hingga pagi menjelang. Lokasi banjir yang terjadi di berbagai daerah di Provinsi Lampung. Hal ini merupakan banjir terparah dalam beberapa tahun terakhir. (Nuri Resti Chayyani/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Daerah, Kiai, AlaSantri IMNU Tegal

Rabu, 22 November 2017

PMII Ngawi Desak DPRD Pro Rakyat

Ngawi,IMNU Tegal. Pelantikan anggota DPRD periode 2014-2019 disambut aksi demonstrasi puluhan mahasiswa, Senin 25/08). Massa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menuntut 45 wakil rakyat menandatangani kontrak moral. Sebab mereka menilai kinerja dewan sebelumnya tidak banyak memberikan sumbangsih terhadap kemajuan Ngawi.

Dalam aksi tersebut mereka tidak hanya berorasi, tapi juga membawa poster yang berisi pesan moral. Namun, mahasiswa berhadapan dengan pintu tertutup. Petugas sengaja menutup pintu masuk menuju Pendapa Wedya Graha, tempat dilakukan pengambilan sumpah janji anggota DPRD periode 2014-2019. Beberapa nekat naik ke atas gerbang dan berorasi sambil meneriakan yel-yel.

PMII Ngawi Desak DPRD Pro Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Ngawi Desak DPRD Pro Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Ngawi Desak DPRD Pro Rakyat

Wakhid Hariadi, koordinator aksi mendesak para wakil rakyat merealisasikan janji politiknya pasca diambil sumpah dan janjinya. Dia mengingatkan agar mereka benar-benar bekerja secara profesional dan pro rakyat. ‘’Pelantikan memiliki makna yang sakral dan mendalam sebagai penentu nasib rakyat,’’ ungkapnya.

IMNU Tegal

PMII menyodorkan kontrak moral yang berisi kesediaan anggota dewan baru untuk memiliki komitmen memajukan pembangunan ekonomi dan pendidikan, senantiasa melibatkan partisipasi masyarakat, lebih pro rakyat, merealisasikan kepentingan rakyat dengan amanah, jujur, profesional, kredibel dan transparan.

IMNU Tegal

PMII juga serta mendorong anggota DPRD agar merealisasikan kontrak politiknya, dan transparansi anggaran serta fungsi legislasinya. Mendesak anggota agar tidak berpraktik korupsi, kolusi serta nepotisme. ‘’Produk hukum, kebijakan serta program yang dilaksanakan harus pro rakyat,’’ tegasnya.

Sayangnya, tidak ada satupun anggota DPRD baru yang menandatangi kontrak moral tersebut. Usai pengambilan sumpah janji, para wakil rakyat buru-buru pulang. Mereka juga menggunakan pintu keluar depan sekretariat daerah. Sehingga tidak bertemu massa yang berkumpul di pintu masuk pendapa. ‘’Kalau mereka tidak mau menandatangani kontrak moral, sudah terlihat jika mereka tidak mau memajukan Ngawi,’’ katanya.

Meski begitu, PMII mengancam akan mendatangi gedung dewan. Mereka akan melakukan sweeping agar anggota DPRD mau menandatangani kontrak moral tersebut. Jika tidak berhasil, mahasiswa akan datang lagi dengan massa yang lebih besar. ‘’Kami tidak main main,’’ tegas Wakhid.

Ketua DPRD sementara Dwi Rianto Jatmiko mengatakan menerima masukan dari kalangan mahasiswa itu. Tanpa diminta pun, pihaknya sudah komitmen berjuang untuk kepentingan rakyat. Hal itu sudah dibuktikan dengan meningkatnya anggaran perbaikan infrastruktur jalan yang setiap tahunnya di atas 40 persen. Dewan juga fokus pada program dan kebijakan di bidang kesehatan dan pendidikan. ‘’Karena tiga hal tersebut merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Dan selalu kami perjuangkan agar mendapat prioritas,’’ katanya. (Agus Susanto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Syariah, Daerah, Pendidikan IMNU Tegal

Liga Muslim Dunia: Moderasi dan Toleransi, Pilar Utama Islam

Makkah, IMNU Tegal - Moderasi dan toleransi dalam Islam adalah pilar utama. Penyimpangan apa pun terhadapnya berasal dari ketidaktahuan atau gagasan yang keliru. Moderasi dan toleransi adalah ciri khas umat Islam sepanjang sejarah yang sejalan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Demikian di antara gagasan pokok forum Liga Muslim Dunia yang digelar pada musim haji ini di Mina, Arab Saudi, dengan mengusung tema "Moderasi dan Toleransi dalam Islam: Teks dan Realitas", sebagaimana dikutip Arab News, Rabu (6/9).

Liga Muslim Dunia: Moderasi dan Toleransi, Pilar Utama Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Liga Muslim Dunia: Moderasi dan Toleransi, Pilar Utama Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Liga Muslim Dunia: Moderasi dan Toleransi, Pilar Utama Islam

Forum tersebut dihadiri para utusan dari berbagai negara seperti Mufti Agung Mesir Shawqi Allam, Mufti Al-Quds dan Palestina Syekh Mohammed Ahmed Husain, Mufti Agung Republik Chechen Syekh Salah Medjiyev, Mufti Agung Arab Saudi Abdul Aziz bin Abdullah Al-Asheikh, serta sejumlah ilmuwan dari 72 negara Arab dan Islam.

IMNU Tegal

Dalam pidato pembukaan di forum tersebut, Al-Asheikh menekankan bahwa moderasi, keadilan dan toleransi adalah ciri utama dari ajaran Islam dan Nabi Muhammad SAW. Ia juga menyerukan kepada para ilmuwan, pendakwah, intelektual, dan penulis untuk menunjukkan sisi moderasi dan toleransi dalam Islam

Sementara itu Shawqi Allam mengatakan, Islam adalah peradaban yang masuk ke hati mendahului tubuh. “Kita telah melihat dalam sejarah kita bagaimana para sahabat dan tabi’in ketika mereka keluar dari Jazirah Arab tidak hanya lewat khutbah tapi menerjemahkan makna Islam dalam bentuk perilaku yang memikat hati,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Mufti Agung Chechnya Syekh Salah Medjiyev. Ia mengatakan, Allah menggambarkan umat Islam sebagai umat moderat dan oleh karena itu umat Islam mendapat derajat tertinggi dari Tuhan.

IMNU Tegal

Dia mengatakan bahwa teks-teks syariah banyak mempromosikan toleransi. Ia berpendapat gagasan dan teror takfiri menyebabkan pertumpahan darah dan kehancuran.

Forum Liga Muslim Dunia berlangsung pada Sabtu (2/9). Pertemuan lembaga non-pemerintah yang didirikan di Makkah pada tahun 1962 tersebut juga diwarnai ucapan selamat untuk pemerintah Arab Saudi yang sukses menyelenggarakan ibadah haji tahun ini. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Fragmen, Khutbah, Daerah IMNU Tegal

Hari Santri Meriah, PBNU: Terima Kasih untuk Semuanya

Jakarta, IMNU Tegal. Peringatan Hari Santri Nasional berlangsung semarak dimana-mana. PBNU mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut terlibat dalam peringatan yang berlatar belakang sejarah Resolusi Jihad NU 71 tahun lalu tersebut.

Hari Santri Meriah, PBNU: Terima Kasih untuk Semuanya (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri Meriah, PBNU: Terima Kasih untuk Semuanya (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri Meriah, PBNU: Terima Kasih untuk Semuanya

Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faishal Zaini mengungkapkan hal itu di gedung PBNU, Jakarta, Rabu (26/10). Menurutnya, respon semua pihak kepada program PBNU di Hari Santri seperti Kirab Resolusi Jihad NU dan pembacaan 1 Milar Shalawat Nariyah sungguh meriah sekali.

“Kami atas nama PBNU, mengucapkan terima kasih dan apresiasi sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang membantu peringatan Hari Santri, mulai dari TNI, Polri, Pemeritah Daerah, Presiden,” ungkapnya.

IMNU Tegal

Lebih khusus ia sampaikan terim kasih kepada seluruh warga NU yang memperingati Hari Santri dengan tertib, kreatif, dan penuh kesahajaan.

IMNU Tegal

Ia menilai, peringatan Hari Santri 22 Oktober lalu penuh khidmat dan sarat dengan nilai-nilai pengembangan wawasan kebangsaan, menyampaikan pesan sejarah, menanamkan nilai-nilai patriotik, membela tanah air, dan bangsa. “Ini bagian proses edukasi yang selama ini kurang didapat di sekolah,” katanya. ?

Lebih lanjut, ia menilai, peringatan tersebut menjadi perekat sosial sesama anak bangsa. Padahal sebelumnya, Hari Santri disinyalir akan melahirkan kelas sosial baru, akan semakin meruncingkan dikotom.

“Yang terjadi justru sebaliknya karena makna santri, menurut para kiai, tidak hanya terbatas yang mesantren di pondok, tapi seluruh warga masyarakat yang haus ilmu di pendidikan formal dan nomformal, serta memiliki watak dan adab kesantrian seperti menjaga ukhwah, memiliki spirit kebangsaan dan cinta tanah air,” jelasnya. ?

PBNU, sambungnya, berniat pembacaan Shalawat Nariyah akan menjadi agenda rutin tahunan di tiap peringatan Hari Santri. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Internasional, Daerah, Halaqoh IMNU Tegal

Selasa, 14 November 2017

Cinta dan Hormati Guru Kunci Ilmu Bermanfaat

Jakarta, IMNU Tegal. Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) KH Maman Imanul Haq menyayangkan kepada santri yang suka menghina para ulama seperti KH Said Aqil Siroj, KH Ahmad Mustofa Bisri atau KH Maimun Zubair. Karena menurutnya, ilmu yang diperolehnya tidak akan bermanfaat. 

"Maka dijamin (ilmu) dia tidak manfaat dunia akhirat," kata Kiai Maman saat mengisi Maulid Nabi Muhammad SAW dan Sewindu Haul Gus Dur di Masjid An-Nahdlah Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (27/12).

Cinta dan Hormati Guru Kunci Ilmu Bermanfaat (Sumber Gambar : Nu Online)
Cinta dan Hormati Guru Kunci Ilmu Bermanfaat (Sumber Gambar : Nu Online)

Cinta dan Hormati Guru Kunci Ilmu Bermanfaat

Kiai yang juga Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka ini mengatakan bahwa nama-nama seperti KH Said Aqil Siroj, KH Ahmad Mustofa Bisri atau KH Maimun Zubair memiliki sanad keilmuan yang nyambung dengan seluruh ulama di Nusantara. 

Sebaliknya, Kiai Maman menekankan agar para santri takdzim dan cinta kepada gurunya agar ilmunya bermanfaat. 

Pada acara ini, LD PBNU sempat memberikan santunan kepada 150 orang yang terdiri atas anak Yatim, piatu, fakir, dan dhuafa. 

IMNU Tegal

Hadir pada acara ini Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghani, Wakil Ketua LD PBNU KH Syamsul Maarif, Wakil Ketua LD PBNU KH Misbahul Munir dan Pengurus LD PBNU yang lain. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Habib, Daerah, AlaSantri IMNU Tegal

Minggu, 05 November 2017

Mantra Pesantren dalam Krisis

Oleh: Abdurrahman Wahid?

Dalam perkembangan pesantren di negeri kita, terdapat banyak sekali legenda yang harus diteliti secara mendalam, termasuk dengan penelitian lapangan. Salah satu contoh yang dapat dikemukakan adalah legenda tentang Syeikh Ahmad Muttamakin dari Mejagung. Pertama mengenai lokasi kegiatan beliau. Ada sumber lisan yang menyatakan bahwa Mejagung terletak di Tuban sekarang Jawa Timur; sedangkan sumber lain mengatakan tempat itu ada di wilayah Pati (sekarang termasuk kecamatan Kajen, Kabupaten Pati). Kedua menurut DR. Subardi dalam desertasinya tentang Serat Cebolek, menggambarkan perdebatan antara beliau dan Katib Anom (cucu Sunan Kudus), yang dimenangkan oleh tokoh Kudus itu (yang penulis duga jadi semacam Menteri Agamanya Amangkurat III dari Kraton Kartasura dekat Solo. Dalam serat itu, Kiai Ahmad Muttamakin mengakui “kesalahan doktriner” yang dibuatnya, tanpa menjelaskan hal itu. Ini terbawa oleh kenyataan, bahwa Katib Anom menyalahkan Kiai Ahmad Muttamakin yang menyimpang dari “hukum agama” sebagaimana tertera dalam literatur fiqh. Bentuk penyimpangan itu adalah ia membiarkan Gajah dan Ular dilukis lengkap pada dinding Musholla tempatnya beribadat/mengajar, sedangkan waktu itu fiqh menetapkan bahwa tidak ada gambar yang utuh dari binatang maupun manusia yang diperkenankan. Yang sebenarnya diperbolehkan hanyalah “gambar mahluk hidup” yang tidak lengkap alias hanya sebagian saja. Disamping itu, Kiai Mutamakin sering menikmati pagelaran wayang kulit dengam cerita Dewa Ruci/ Bima Sakti.

Apa yang tidak dikemukakan oleh DR. Subardi dalam serat Cebolek itu adalah latar belakang politis dari pemunculan beliau, yang mungkin menimbulkan “masalah” bagi para pemuka agama Islam dalam masyarakat Jawa pada waktu itu. Para ahli fiqh, -di masa itu dikenal juga dengan nama kaum syari’ah-, banyak yang dekat posisi mereka dengan Raja/ Penguasa, minimal dimasyarakat “pesisiran” tempat Kiai Muttamakin tinggal. Sebaliknya para pemimpin tarekat (gerakan tasawuf yang diakui), umumya menentang penguasa. Namun keadaan ini menjadi berkebalikan pada tahun 70-an hingga akhir abad yang lalu (abad ke-20 masehi).

Jika Wali Sanga (wali sembilan yang menyebarkan Islam dikalangan orang Jawa dalam Abad ke XV dan XVI Masehi) menggunakan cara berkonfrontasi untuk menundukan para penguasa, dan hal itu diikuti oleh para ahli Fiqh dalam abad ke XVI dan XVII Masehi, Kiai Muttamakin menampilkan sebuah “strategi baru” dalam perjuangan gerakan-gerakan Islam waktu itu dalam menghadapi para penguasa, minimal di kalangan orang Jawa. Strategi baru itu merupakan jalan ketiga, yaitu tidak membiarkan tunduk kepada para penguasa (seperti dilakukan para ahli Fiqh), maupun menentang mereka (seperti dilakukan para pemimpin tarekat). Cara ketiga itu berintikan sikap menolak membicarakan pribadi-pribadi kaum penguasa waktu itu, melainkan hanya membatasi diri pada “kebiasaan” mengemukakan hal-hal ideal jika para penguasa berperilaku adil, memperjuangkan kebenaran dan berpikir melayani kepentingan orang banyak.

Mantra Pesantren dalam Krisis (Sumber Gambar : Nu Online)
Mantra Pesantren dalam Krisis (Sumber Gambar : Nu Online)

Mantra Pesantren dalam Krisis

Strategi baru Kiai Muttamakin itu akhirnya menjadi “strategi model” bagi apa yang dinamakan perjuangan Islam di negeri ini sampai sekarang. Dalam kidung yang ditulis dalam huruf Arab tetapi berbahasa Jawa (literatur Pegon) tersebut –kidung ini dahulunya dibacakan (dan terhenti sejak beberapa tahun terakhir ini) dalam upacara peringatan kematian (Haul/Khoul) beliau di desa Kajen, Margoyoso, Pati yang dihadiri oleh lebih dari 100 ribu orang-, disebutkan bahwa oleh penguasa/ Ratu (yang berarti Raja) di Solo akhirnya beliau diambil menjadi menantu. Ini adalah perlambang dari tercapainya kemenangan beliau dihadapan Ratu/Raja tersebut. Penguasa waktu itu adalah Susuhunan Pakubuwana II yang berkuasa di Surakarta Hadiningrat, menggantikan Amangkurat dari Kertasura.

IMNU Tegal

Dalam kidung tersebut diceritakan kembali doa-doa yang diucapkan oleh Syeikh Ahmad Muttamakin dalam perdebatannya melawan seorang abdi dalam maupun belakang oleh Susuhunan Pakubuwana II sendiri. Hal itu dapat dimengerti karena Syeikh Ahmad Muttamakin adalah pengasuh sebuah Pondok Pesantren, sehingga doa-doa yang diucapkannya tentulah dibaca tiap hari oleh murid-muridnya, baik santri di Pesantren maupun pengikut tarekat di luarnya. Karenanya, dalam pengertian kita sekarang ini, apa yang dijadikan doa-doa oleh mereka dapat disebut sebagai “mantra” di lingkungan Pesantren (para Kiai, para Santri dan para pengikut kiai di luar Pesantren).

Beraneka warna dan berjenis-jenis istilah yang digunakan dilingkungan mereka, baik yang bersifat umum maupun khusus. Yang belakangan ini disebut juga ijazah, konjugasi dari kata Ajaztuka yang berarti kubolehkan engkau mengajarkan/menggunakan suatu hal yang kuberikan kepadamu. Seorang Kiai harus dapat memberikan ijazah dalam bentuk doa, di samping ijazah mengajarkan kitab atau literatur yang semula diajarkan. Baik pemberian doa maupun ijin mengajarkan kitab tertentu itu, tentu saja dimulai dan ditutup dengan pembacaan doa oleh sang Kiai, yang diamini oleh para Santri/pengikutnya. Kareananya, seorang santri seperti pembawa makalah ini, dengan bangga akan mengemukakan ia telah mendapatkan ijazah buk atau kitab dari seorang Kiai, yang tentu saja akan disebutkan namanya dengan penuh hormat oleh santri tersebut. Umpamanya saja, pembawa makalah ini akan dengan bangga menyebutkan bahwa ia memperoleh ijazah dari Kiai Idris Kamali dari Tebu Ireng, Jombang untuk mengajarkan Al Itqan dari Imam Al-Sayuti yang ditulis abad ke-X Hijriyah/ ke- XVIII Masehi. Ada 25 buah literatur berbahasa Arab yang diperoleh ijin/Ijazahnya oleh penulis setelah bertahun-tahun mengaji di Pesantren. Tentu saja selama belajar di Pesantren para santri tidak akan sama memperoleh ijazah literaturnya, karena para Kiai memiliki keahlian yang berbeda-beda pula. KH. A Wahab Chasbullah (Ra’is Am PBNU 1947-1971) yang ahli Ushul F’qh / teori hukum Islam tentu tidak sama dengan adik iparnya, KH. M. Bisri Syansuri (Ra’is Am PBNU 1971-1980) yang adalah ahli Fi’qh sangat terkenal.

IMNU Tegal

Empat belas buah “disiplin pengetahuan agama” Islam yang dipelajari di Pesantren secara tradisional sesuai dengan silabi yang disusun oleh Imam Al-Suyuti dalam Itman Al-Dirayah, merupakan lahan kajian yang memiliki ratusan “buku wajib” (Al-Kutub Al-Mu’tabarah), sehingga tidak mungkin seorang santri pernah membaca/mengaji semuanya. Namun, seorang Kiai diharapkan mampu mengajarkan sebuah “buku wajib” untuk tiap disiplin, sehingga ia memiliki kebulatan disiplin-disiplin yang diketahuinya. Namun, kiai tersebut tidak akan mengajarkan semua disiplin yang pernah dipelajarinya. Ia akan memberikan ijazah hanya dalam disiplin-disiplin yang dikuasainya dan dengan demikian ia melakukan “pendalaman bidang” yang diajarkannya. Namun ia akan memberikan ijazah atau doa umum yang sama dengan para kiai yang lain dari pesantren-pesantren yang berbeda. Dalam “ijazah umum” itu, ia akan memberikan urutan-urutan para kiai yang mengajarkan “buku wajib” tersebut, yang tentu saja memuat nama guru, hingga kepada pengarangnya. Rangkaian nama-nama? itu di kalangan Pesantren disebut sebagai “sanad” (mata rantai) ijazah atau “Buku Wajib” tersebut, yang tentunya berbeda dari (walaupun berfungsi sama dengan) Sanad Hadist dari zaman Nabi Muhammad SAW.

Pesantren mengenal istilah pesantren tahunan ataupun pesantren bulanan (lebih dikenal dengan sebutan “pesantren puasa”. Jenis pertama adalah Pesantren yang memberikan pelajaran sepanjang tahun, sedangkan jenis kedua hanya berlangsung selama bulan puasa, seperti halnya dengan Pondok Ramadhan yang disamakan dengan program musim panas (summer program). Kedua jenis Pesantren itu, -yang pertama memiliki jangka pendidikan panjang dan yang satu berjangka sangat pendek-, sama-sama memiliki tata nilai serupa yaitu? penghormatan kepada guru ketundukan kepada hukum agama dan sama-sama menegakkan tata peribadatan serupa. Dengan mengikuti nilai-nilai yang sama itu, dengan sendirinya tata nilai yang dikembangkan dari satu ke lain Pesantren akan melahirkan tata kehidupan yang memiliki persamaan yang kokoh pula. Memang, dalam abad modern ini pesatren juga menghadapi tantangan-tantangan Barat dari proses modernisasi, yang dalam banyak hal berarti “pembaratan” dalam bentuknya yang vulgar.

Akibat suasana penuh tantangan dari respon yang lebih banyak berupa imitasi “proses pembaratan” itu sendiri, maka dominasi pencarian ijazah yang diutamakan dalam pendidikan agama formal di sekolah-sekolah agama kita sekarang, yang dikejar bukanlah standarisasi ilmu pengetahuan agama, melainkan penghargaan yang terlalu berlebih kepada ijazah/ diploma dari sekolah-sekolah tersebut. Berbeda dari perolehan ijazah cara lama, -yang bertumpukan pengalaman tata nilai yang dipercaya dalam kehidupan sehari-hari-, pencarian ijazah “model baru” tersebut sama sekali tidak mengindahkan pengalaman tata nilai tersebut. Dengan demikian, “perbenturan budaya” antara sekolah-sekolah agama kita dan sistem kehidupan Barat terletak pada perbenturan dua institusi. Karena baik Islam maupun Barat juga memiliki sisi lain yaitu proses budaya.

Harus diingat baik pihak Barat maupun pihak Islam sama-sama memiliki proses budaya yang kuat, maka dengan demikian kedua peradaban seluruhnya itu saling belajar bagaimana mengembangkan budaya di hadapan tantangan teknologi dan ilmu pengetahuan modern. Salah satu tantangan modernisasi adalah hilangnya ketiga nilai di atas yang digantikan oleh “modernitas” model barat yang terlalu berdasar kepada logika rasional, yang lebih banyak bersifat materialistik, capaian inilah yang menjadi kritik penulis. Makalah ini juga ditujukan untuk mengkritisi konsep “perbenturan peradaban” (clash of civilizations) yang dikemukakan oleh Samuel Huntington. Penulis makalah ini menilai, Huntington hanya mampu menggambarkan deretan pohon yang memiliki perbedaan keunikan tanpa mampu melihat keseluruhan hutan. Ia hanya mampu melihat sekitar peradaban yang saling berbenturan itu, tanpa mampu mengamati proses saling belajar antara mereka. Peoses saling belajar itu terlihat dari adanya sekitar ratus ribu orang pemuda muslim yang belajar di Barat setiap tahunnya. Mereka tidak hanya datang untuk mempelajari teknologi dan ilmu pengetahuan yang dijalani orang-orang barat, tetapi mereka juga memperoleh “penularan” dari peradaban Barat dan hal-hal lain yang diperlukan untuk “mengerti” peradaban Barat secara lengkap yaitu penghargaan kepada kerja keras, bersikap jujur dalam kehidupan, menghargai kedaulatan hukum dan kebebasan perpendapat, pengorganisasian hidup dan keterbukaan kepada faham-faham lain di luar pandangan sendiri.Walaupun sebenarnya nilai-nilai yang disebutkan diatas juga terdapat dalam peradaban masing-masing, namun hanya masih dalam bentuk potensi yang belum dikembangkan.

Salah satu “korban” dari perbenturan modernisme lawan tradisionalisme itu adalah mantra-mantra yang terdapat di lingkungan pesantren. Sekarang ini mantra demi matra yang sering digunakan di pesantren, kehilangan relevansinya dihadapan erosi keyakinan akibat pendidikan formal yang terlalu diarahkan kepada capaian-capaian materialistik. Mantra-mantra yang digunakan di pesantren, dalam bentuk doa seperti Hidzb, Wirid, dan sebagainya sudah tidak dianggap sakti oleh banyak sekali warga pesantren sendiri, sehingga dengan demikian terjadi pembelahan warga pesantren antara dua kubu yang saling berhadapan. Yaitu mereka yang percaya kepada mantra-mantra tersebut dan dianggap tidak rasional dengan mereka yang seolah-olah bersikap rasional secara penuh, namun tidak terjadi proses pengembangan rasionalitasnya berlandaskan pertimbangan moral.? Hal terakhir mengakibatkan munculnya konservativisme politik seperti saat ini.

Dilupakan dua hal penting oleh kaum muslimin dalam “perbenturan budaya” -antara yang modern dan yang kuno itu-, bahwa mau tidak mau perbenturan itu akan mempengaruhi juga kedudukan mantra di lingkungan pesantren. Oleh karena itu perlu dikaji beberapa hal yaitu: pertama, karena terdapat kekhususan antara berbagai masyarakat, maka? dalam mengembangkan ajaran Islam ini diharuskan adanya studi kawasan kaum muslimin? (Islamic Area Study’s) yang oleh laporan penulis kepada Universitas PBB di Tokyo (dengan Rektor DR. Sudjatmoko) pada tahun 1980-an, terbagi sebagai berikut: Masyarakat Afrika Hitam, Masyarakat Afrika Utara dan negeri-negeri Arab, masyarakat Turko – Persia - Afghan, masyarakat Asia Selatan (Bangladesh, Pakistan, Nepal, India dan Sri Lanka), masyarakat Asia Tenggara dan masyarakat minoritas muslim di negeri-negeri industri maju (terutama Eropa Barat dan Amerika Serikat). Kedua, perbedaan cara hidup antara Asia Tenggara dan Timur Tengah mempunyai perbedaan dalam struktur masyarakat. Di Asia Tenggara, tradisi gerakan Non-Pemerintah (LSM) sudah lama ada dan berdiri secara indenpenden. Sedangkan di Timur Tengah tradisi seperti itu tidak ada –contoh dari hal ini adalah ketua gerakan palang merah, ditunjuk dan diangkat oleh presiden/penguasa-. Dengan demikian gerakan-gerakan yang berbeda dengan pemerintah harus bergeraki di bawah tanah dan isu utama yang digunakan tidaklah mengajukan kritik terhadap kebijaksanaan pemerintah, melainkan terhadap “modernisasi model barat”. Pada akhirnya, hal ini sampai pada perbenturan institusional yang menjadi latar belakang terorisme secara internasional.

Kedua kenyataan diatas tentu saja menimbulkan pengaruh sangat besar kepada kedudukan mantra bagi kaum muslimin, termasuk yang berada di pesantren. Akhirnya do’a, Hidzb dan wirid hanya digunakan oleh mereka yang masih mempercayai ketiganya, sedangkan mereka yang menganggap diri “modern” tidak lagi memiliki kepercayaan seperti itu. Memang berat bagi kaum muslimin tradisionalis untuk meyakinkan keseluruhan kaum muslimin untuk tetap percaya penuh kepada kekuatan doa, hidzb dan wirid. Karena walau mereka berdoa pun, seperti di masjid-masjid kawasan kota, belum tentu mempercayai doa mereka sendiri, karena hal itu dilakukan karena memenuhi katentuan sopan-santun maupun karena keinginan orang banyak. Karena itulah selama gerakan-gerakan Islam tidak dapat menyelesaikan hal itu dengan baik, maka dikotomi antara yang modern dan yang tradisional akan tetap ada. Sementara itu, dikotomi antar kaum muslimin pun tidak hanya? dibatasi pada gerakan yang diikuti saja,? melainkan juga memasuki bidang-bidang lain. Demikian juga dalam bidang pendidikan, lembaga-lembaga modern berhadapan dengan pandangan hidup kuno yang berintikan kekuatan mantra tersebut. Tidak terkecuali dalam dunia Pesantren.

Dengan demikian menjadi jelaslah bagi kita bahwa masalah mantra dalam bentuk do’a, hidzb wirid yang juga merupakan bagian umum dari proses ijazah oleh sang Kiai pada murid/ santrinya juga dilanda oleh “krisis keyakinan.”? Ini diakibatkan oleh berbagai tantangan Internasional dari proses modernisasi. Sewaktu belajar di pesatren Tegalrejo (Magelang) dari 1957-1959, penulis tiap bulan menyelesaikan membaca Al Quran (Khatam Qur’an) di pemakaman Tejo Mulyo. Hal itu dimaksudkan sebagai penunjang bacaan doa, Hidzib dan Wirid yang harus dijalaninya waktu itu,-hingga kini pun masih ada yang “diamalkan” oleh penulis.? Hingga saat membuat makalah ini, penulis berkeyakinan bahwa kepercayaan individual akan kekuatan mantra itu, harus diimbangi dengan rasionalitas kolektif kaum Muslimin di manapun mereka berada, sebagai bagian dari proses penemuan identitas diri kembali. Pengamalan wirid dan hizib merupakan sesuatu yang sah dari sudut manapun, sama sahnya dengan “pencarian akar” yang dilakukan oleh orang-orang seperti Alex Haley melalui novelnya, The Roots. Apabila kita mengakui “hak kultural” berarti kita mengakui keutuhan manusia secara keseluruhan. Dan adalah hak seseorang untuk menilai bahwa hal itu adalah sesuatu yang ada gunanya atau tidak. Rasionalitas saja memang tidak cukup, karena ia cenderung melebih-lebihkan porsi rasio dalam kehidupan. Rasionalitas sebagai ukuran kegunaan sesuatu secara kolektif memang harus dipakai, tetapi penggunaannya secara individual sering harus dipertanyakan kembali. Nah, jika kita dapat “menerima” perbedaan antara kenyataan kolektif yang rasional dengan kebutuhan individual yang belum tentu rasional, maka hal ini masih menunjukkan pentingnya arti mantra dalam kehidupan manusia, apalagi untuk lingkungan pesantren.

?

Jakarta, 1 September 2003

? Makalah ini disampaikan pada Seminar Nasional Naskah Kuno Nusantra, 2 Sepetember 2003 di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta.

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pendidikan, Daerah, Anti Hoax IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock