Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

RSI Siti Hajar Sidoarjo Sosialisasikan Bahaya Penyakit Diabetes

Sidoarjo, IMNU Tegal - Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo menggelar seminar bahaya penyakit diabetes, Sabtu (26/11). Seminar ini diadakan dalam rangka memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pentingnya hidup sehat.

Ketua Panitia Riza Ahmadi menjelaskan, acara yang bertajuk "Si Manis Berujung Kronis" ini digelar di ruang Darun Naim lantai 3 dengan tujuan agar penderita diabetes mengerti tentang penyakit tersebut.

RSI Siti Hajar Sidoarjo Sosialisasikan Bahaya Penyakit Diabetes (Sumber Gambar : Nu Online)
RSI Siti Hajar Sidoarjo Sosialisasikan Bahaya Penyakit Diabetes (Sumber Gambar : Nu Online)

RSI Siti Hajar Sidoarjo Sosialisasikan Bahaya Penyakit Diabetes

"Bagi masyarakat khususnya yang menderita diabetes supaya mengerti cara pencegahan dan asupan diet bagi penderita diabetes," kata Riza.

IMNU Tegal

Riza mengatakan, acara seminar ini rutin diadakan setiap empat bulan sekali dan temannya pun berbeda-beda. Selain seminar diabetes, RSI Siti Hajar juga sering mengadakan seminar kesehatan ibu hamil, kesehatan anak, dan lain sebagainya.

Dalam acara seminar diabetes kali ini, RSI Siti Hajar menghadirkan dua narasumber yang profesional dan kompetensi di bidangnya yakni spesialis penyakit dalam dr Atik Yuniani dan ahli gizi Rina Yuniati. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Habib, Kiai IMNU Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Umat Islam Harus Renungkan Esensi Khutbah Wada’ Rasulullah

Arafah, IMNU Tegal?



Jemaah telah melakukan perjalanan panjang menuju Baitullah. Para dhuyufurrahman (tamu Allah) telah datang dengan penuh keamanan dan keselamatan ke Baitullah. Kalian telah memenuhi panggilan Allah menuju Baitullah.

Demikian kutipan syair yang disampaikan Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel di Arafah, Kamis (31/08).

Umat Islam Harus Renungkan Esensi Khutbah Wada’ Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Umat Islam Harus Renungkan Esensi Khutbah Wada’ Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Umat Islam Harus Renungkan Esensi Khutbah Wada’ Rasulullah

"Di Arafah ini, 1428 tahun lalu, tepatnya 10 Hijriyah dan tepatnya di atas Jabal Rahmah, Nabi Muhammad memberikan khutbah yang lalu dikenal khutbatul wada’," ujar Dubes sebagaimana dilaporkan Kemenag.go.id.

Dikatakannya, isi khutbah tersebut sangat layak direnungkan. Di atas Jabal Rahmah, Nabi Muhammad di tanggal 9 Zulhijjah 10 H, memunculkan pernyataan dahsyat untuk kemanusiaan.

“Wahai manusia dengarkan perkataanku. Sesungguhnya saya tidak tahu kemungkinan saya tidak akan berjumpa dengan kalian setelah tahun ini di tempat ini selamanya.

IMNU Tegal

Wahai manusia, sungguh darahmu, hartamu, dan kehormatanmu adalah haram (tidak boleh mengalirkan darah seenaknya atas nama apapun, apalagi dengan pembajakan terhadap teks suci keagamaan sebagaimana terjadi akhir-akhir ini di negara konflik.)

Pesan Nabi, Islam sangat menghargai nyawa, harta dan harga diri. Sebagaimana kehormatan hari Arafah, bulan Zulhijjah di Kota Makkah yang suci ini," tuturnya.

Dari statemen Nabi itu, kata Dubes, bisa diambil kesimpulan bahwa pada haji wada’(perpisahan) adalah pesan perdamaian dunia. Kita menghargai orang lain, mempertegas Islam sebagai agama rahmat dan perdamaian untuk semua.

Menurutnya, statemen Menag dalam sambutannya di Arafah (bahwa menebarkan kedamain itu itu esensi ajaran Islam. Menjadi tugas muslim untuk senantiasa mewujudkannya di lingkungan masing-masing) merupakan pengharaman terhadap pengkoyakan nilai kemanusiaan.

IMNU Tegal

"Ini sebuah pesan yang mesti direnungkan hari ini," tutur Agus.

Dubes melanjutkan, Nabi menegaskan bahwa Islam adalah agama yang menghargai persamaan. Islam yang sangat menghargai persamaan.

Wahai manusia. Sungguh Tuhanmu satu. Dan sungguh bapakmu satu. Anda sekalian ada karena Adam dan Adam terbuat dari debu. Semulia kalian adalah orang yang paling takwa. Tidak ada kelebihan bangsa Arab dari bangsa lain kecuali dengan takwa.

"Khutbah Nabi 1428 tahun lalu menekankan prinsip persamaan antar umat manusia," terangnya.

Dari sabda Nabi di Arafah ini, lanjut Dubes, kita dapat simpulkan bahwa Nabi ingin kita mempertegas Islam sebagai agama yang cinta damai, agama persahabatan dan persaudaraan, agama yang sangat menghargai keadilan dan agama persamaan.

"Antara Saudi dan Indonesia sudah ada kerjasama yang berisi: 1. Mempertegas dan menyebarkan Islam yg tawaauth dan itidal. 2. Sepakat memerangi ekstrimisme dan kekerasan antar sekte, madzhab dan agama di dunia,".

"Berharap doa jemaah haji, agar misi diplomatik Dubes Saudi utk menebar kedamaian untuk semua manusia yang ada di bumi terwujud," ujarnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Sholawat, Aswaja, Kiai IMNU Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Lailatul Ijtima’ Simpul Kerekatan Warga Banyudono

Boyolali, IMNU Tegal. Kegiatan lailatul ijtima’ yang digelar rutin Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) kecamatan Banyudono kabupaten Boyolali, Jawa Tengah menjadi ajang silaturahim antarwarga NU. Lailatu ijtima’ juga menjadi wadah perekatan NU dengan masyarakat setempat.

“Kegiatan Lailatul Ijtima’ ini kita harapkan bisa menjadi ajang anjangsana dari satu desa ke desa. Sehingga, NU bisa dikenal di tiap desa,” terang Ketua MWCNU Banyudono Zainal Arifin di desa Surobayan Banyudono, Selasa (24/12).

Lailatul Ijtima’ Simpul Kerekatan Warga Banyudono (Sumber Gambar : Nu Online)
Lailatul Ijtima’ Simpul Kerekatan Warga Banyudono (Sumber Gambar : Nu Online)

Lailatul Ijtima’ Simpul Kerekatan Warga Banyudono

Menurutnya, silaturahim ini juga dapat menyinergikan program NU dan kepentingan masyarakat. Zainal menambahkan, lailatul ijtima’ dilanjutkan dengan program pembentukan ranting di tiap desa.

IMNU Tegal

Kesempatan itu juga diisi dengan kajian kitab Tafsir Showi yang disampaikan Rais Syuriah Banyudono KH Asikin.

IMNU Tegal

Kiai Asikin yang menerangkan kandungan surah al-Fatihah, menekankan pentingnya surah ini. “Diusahakan kita bisa membacanya dengan benar, sebab surah ini menjadi salah satu rukun dalam shalat,” tuturnya.

Dia menganjurkan warga NU untuk membenahi kemabli bacaan surah al-Fatihah. Penting untuk mereka kembali belajar kepada seorang guru yang memiliki ilmu tajwid. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kiai IMNU Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

Ini Pesan Kiai Said di Pernikahan Kahiyang dan Bobby

Jakarta, IMNU Tegal. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan pernikahan Kahiyang Ayu, putri Presiden Joko Widodo dan Muhammad Afif Bobby merupakan tanda Kekuasan Allah.

Ini Pesan Kiai Said di Pernikahan Kahiyang dan Bobby (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pesan Kiai Said di Pernikahan Kahiyang dan Bobby (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pesan Kiai Said di Pernikahan Kahiyang dan Bobby

“Pernikahan Ananda Kahiyang Ayu dan Muhammad Afif Bobby Nasution yang kita hadiri adalah salah satu tanda kebesaran dan keagungan allah,” kata Kiai Said saat memberikan tausiyah pernikahan di gedung Graha Saba Buana, Jl Letjen Suprapto, Surakarta, Rabu (8/11).

Pernikahan tersebut, lanjut Kiai Said juga sebagai bentuk adanay Islam Nusantara, karena menyatunya dua kebudayaan dan pelaksanaan pernikahan secara adat.

“Pernikahan selain menyatukan Mas Boby dan Kahiyang secara jasmani, juga pertemuan khuluq (akhlak), budaya, peradaban, dan kepribadian,” sambung Kiai Said.

Kiai Said mengingatkan, dalam pernikahan akan membangun rumah sebagai tempat tinggal atau  rumah tangga, yang orang Jawa menyebutnya omah-omah. 

IMNU Tegal

“Saya yakin Ananda Kahiyang dan Bobby menempati rumah yang bagus nyaman. Tapi itu tidak ada artinya kecuali kalau ada sakinah,” Kiai Said meneruskan.

IMNU Tegal

Sakinah tersebut terwujud dalam ketenangan di hati para penghuninya.

Terakhir, Kiai Said mengingatkan kedua mempelai agar saling menjaga dan melindungi.

“Istri adalah pakaian bagi istri. Artinya harus menutupi merahasiakan dengan rapat kekurangan suami. Begitu juga suami harus menutupi rahasia istrinya,” urai Kiai Said.

Ia mengatakan paling bahaya bila suami menceritakan kekurangan istrinya kepada orang lain apalagi orang lain itu perempuan. Demikian juga bila istri menceritakan kekurangan suaminya kepada orang lain, terlebih orang lain itu adalah laki-laki. 

“Itu adalah awal petaka dalam rumah tangga,” tegas Kiai Said.

Ia berpesan pernikahan tersebut melahirkan keturunan bermartabat, beradab, dan  berguna bagi bangsa dan agama dan dilimpahi rizki yang halal.

Pernikahan Kahiyang dan Bobby dihadiri sejumlah tokoh seperti Wakil Presiden Jusuf Kala, KH Maruf Amin, Gus Mus, Buya Syafii Maarif, Alisa Wahid. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Doa, Sunnah, Kiai IMNU Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Soal 1 Syawwal, Tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Minta Jamaahnya Ikut PBNU dan Pemerintah

Yogyakarta, IMNU Tegal - Mursyid Thariqah Naqsyabandiyah Kholidiyah Yogyakarta KH R Irfai Nachrawi Naqsyabadandy menyerukan jamaahnya yang tersebar di seluruh Indonesia untuk merayakan Idul Fitri 1438 H atau 2017 M sesuai dengan waktu yang ditetapkan pemerintah.

Demikian disampaikan KHR Irfai Nachrawi ini di hadapan sedikitnya 100 jamaah pada acara syuhbah, shalat malam, dan zikir malam ganjilan di Pondok Pesantren Qoshrul Arifin Plosokuning, Yogyakarta, Jumat (23/6).

Soal 1 Syawwal, Tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Minta Jamaahnya Ikut PBNU dan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal 1 Syawwal, Tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Minta Jamaahnya Ikut PBNU dan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal 1 Syawwal, Tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah Minta Jamaahnya Ikut PBNU dan Pemerintah

Menurutnya, putusan NU dan pemerintah RI merupakan kesepakatan ulama dari berbagai unsur umat Islam dan pemerintah. Tentu semuanya didasari oleh ilmu yang mumpuni dari berbagai ahli ilmu sehingga bisa menentukan waktu tersebut. Selain itu juga meningkatkan pada cinta tanah air dan persatuan.

Menurut Abah (panggilan KH Irfai Nachrowi), kehadiran agama adalah untuk mengatur kehidupan pemeluknya lahir dan batin sehingga tercapai rasa aman dan tenteram dalam hidup ini. Diharapkan dengan itu memperoleh kebahagiaan dunia akhirat untuk mencapai surga dan ridha Allah hingga kehidupan setelah dunia ini. Begitu juga adanya peraturan, aturan, dan hukum adalah untuk mengatur kehidupan manusia baik secara individu maupun bermasyarakat dan bersosial.

IMNU Tegal

Kehadiran negara yang mempunyai berbagai aturan hukum yang berlaku dan harus ditegakkan, tidak lain untuk menjamin rasa aman nyaman dan tentram warga negaranya baik secara pribadi, kelompok, maupun secara lebih luas. Selama itu tidak bertentangan dengan syariat agama ataupun hukum dan aturan yang berlaku, maka harus didukung.

"Apalagi kita tahu sendiri negara Indonesia banyak berbagai suku agama, dan lain lain. Tanpa aturan pasti akan terjadi keributan yang tak kunjung selesai terutama SARA. Apalagi antargolongan, satu suku saja bisa ribut terus kalau tidak adanya aturan," kata Abah yang juga pengasuh Pondok Pesantren Kasepuhan Atas Angin Kabupaten Ciamis.

IMNU Tegal

Kegiatan syuhbah, shalat malam, dan zikir bersama merupakan kegiatan rutin jamaah Thariqah Naqsyabandiyah ini terutama pada malam malam ganjil setelah tanggal 15 Ramadhan atau pertengahan puasa. Selain di Yogyakarta, kegiatan ini juga dilakukan di berbagai zawiyah ataupun cabang dari perguruan ini yang tersebar di seluruh Indonesia terutama di Jawa, yaitu di Jakarta, Depok, Karawang, Semarang, Cilacap, Temanggung, dan daerah lain. Kegiatan ini dilakukan setelah ada arahan dan intruksi dari abah atau KH R irfai Nachrowi sebagai Mursyid Thariqahnya yang sekarang bermukim di Ciamis. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kiai IMNU Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Jihad dan Tawuran

Kalau sekadar memakai senjata tajam mulai dari ? parang, golok, anak panah, bambu runcing, senjata api, meriam dan sejenisnya, ini namanya bukan perang di jalan Allah, tetapi tawuran antardesa. Perang di jalan-Nya selain memerlukan itu semua, juga membutuhkan pikiran matang.

Perang di jalan Allah disebut jihad. Maksudnya perang akan disebut jihad sejauh praktik perang itu dimaksudkan untuk menegakkan agama Allah sebagai syiar. Perang seperti ini sangat dibutuhkan. Agama menganjurkan jihad. Karena, jihad merupakan ibadah.

Jihad dan Tawuran (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad dan Tawuran (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad dan Tawuran

Hanya saja seseorang yang maju ke medan perang memiliki pelbagai motif. Ada yang maju karena berani, jaga harga diri, atau karena riya. Lalu siapa di antara mereka yang masuk dalam kategori mujahid?

Ketika ditanya demikian, Rasulullah SAW menjawab dengan sabdanya seperti di bawah ini,

IMNU Tegal

Ù…Ù? قاتل لتكوÙ? كلمة الله Ù‡Ù? العلÙ? ا فهو فÙ? سبÙ? Ù„ الله

IMNU Tegal

“Siapa saja yang maju ke medan perang dengan niat agar agama Allah menjadi naik (syiar) maka ia telah berjuang di jalan Allah.”

Namun demikian, para ulama memberikan sejumlah catatan perihal peperangan, jihad, dan perjuangan di jalan Allah. Keputusan untuk perang di jalan Allah harus dilewati dengan sejumlah pertimbangan pikiran. Artinya ulama harus berkumpul terlebih dahulu untuk memutuskan bahwa umat Islam telah wajib untuk melakukan jihad di jalan Allah.

Salah satu contohnya ialah fatwa Resolusi Jihad NU pada November 1945. Fatwa Resolusi Jihad NU ini didasarkan pada pikiran matang ulama. Keputusan fatwa ini tidak didasarkan pada nafsu amarah.

Dalam kitab Dalilul Falihin (syarah Riyadlus Shalihin), M bin Alan Ash-shiddiqy menjelaskan hadis di atas sebagai berikut,

Ø£Ù? القتال فÙ? سبÙ? Ù„ الله قتال Ù…Ù? شؤه القوة العقلÙ? Ø© لا القوة الغضبÙ? Ø© أو الشهواÙ? Ù? Ø©

“Bahwa perang di jalan Allah adalah perang yang didasarkan pada kekuatan pikiran, bukan kekuatan amarah atau kekuatan nafsu.”

Dengan demikian umat Islam tidak boleh memutuskan sendiri perihal perang di jalan Allah. Mereka harus menunggu keputusan dan kebijaksanaan para kiai agar para kiai mengerahkan segala pikiran dan pertimbangannya atas kenyataan yang ada.

Selagi para kiai belum mengeluarkan fatwa jihad, umat Islam tidak boleh memutuskan bahwa dirinya akan maju ke medan perang. Karena, keputusannya didasarkan pada amarah dan nafsu belaka.

Kalau saja salah dalam mengambil keputusan, mereka justru mengamuk dan kalap di tengah masyarakat yang damai, seperti anak-anak yang sedang tawuran. Bukannya kalimat Allah (Islam) menjadi harum, mereka justru mencemarkan nama Islam dari dalam. Wallahu A‘lam. (Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kiai, Meme Islam, AlaSantri IMNU Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Spirit Rakyat dalam Perang 10 November 1945

Jakarta, IMNU Tegal. Kedasyatan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya tidak bisa dilepaskan dari Resolusi Jihad, Perintah Perang, yang dikeluarkan oleh Hadratush Syaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari pada Tanggal 22 Oktober 1945. Pernyataan Perintah Perang itu disampaikan oleh Kiai Haji Hasyim Asy’ari di depan Presiden Soekarno di Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, beberapa hari sebelum pecah Perang 10 November 1945.



Spirit Rakyat dalam Perang 10 November 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)
Spirit Rakyat dalam Perang 10 November 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)

Spirit Rakyat dalam Perang 10 November 1945

Ihwal pertemuan bersejarah itu diungkapkan oleh Ki Setyo Oetomo Darmadi, adik pahlawan PETA Soepriyadi, di Blok A, Jakarta, Ahad, 7 November 2010.

Menurut mantan anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang akrab dipanggil Ki Darmadi, Bung Karno menemui Kiai Haji Hasyim Asy’ari ditemani oleh Residen Jawa Timur Soedirman, ayah Kandung Mantan Gubernur Jawa Timur Basofi Soedirman. Dalam pertemuan bersejarah di Pondok Pesantren Tebu Ireng itu, kedua pemimpin tersebut membahas situasi politik terkait kedatangan Pasukan Sekutu dibawa Komando Inggris, yang membawa serta penjajah Belanda.

IMNU Tegal

“Kiai, dipundi (despundi, bhs Jawa: bagaimana: RED.), bahasa Bung Karno, Inggris datang niku(itu: Jawa), gimana umat Islam menyikapinya? “ tanya Presiden Soekarno kepada Rois Akbar NU, yang akrab dengan panggilan Mbah Hasyim.

Mendapat pertanyaan atas sikapnya dengan kedatangan pasukan Sekutu, yang berdalih mengambil alih kekuasaan dari Jepang, lawan Perang Dunia Kedua yang sudah dikalahkan, yang berarti juga menafikan Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945, Mbah Hasyim pun menjawab dengan tegas.

IMNU Tegal

Lho Bung, umat Islam jihad fisabilillah (berjuang di jalan Allah: RED.) untuk NKRI, ini Perintah Perang !” kata Rois Akbar Nahdlatul Ulama Hadratush Syaikh Kia Haji Hasyim Asy’ari, menjawab pertanyaan, sekaligus permintaan bantuan dari Presiden Soekarno dalam menghadapi ancaman pasukan Sekutu.

Pasukan AFNEI mulai mendarat di Jakarta pada Tanggal 29 September 1945 dibawa pimpinan Letnan Jenderal Sir Philip Christison. AFNEI berkekuatan 3 divisi: Divisi ke-23 dibawa Komando Mayor Jenderal D.C Hawthorn, menguasai daerah Jawa Barat; Divisi ke-5 dibawa Komando Mayor Jenderal E.C.Mansergh, menguasai daerah Jawa Timur; dan Divisi ke-26 dibawah Komando Mayor Jenderal H.M. Chambers, menguasai daerah Sumatera. Adapun Brigade ke-49 dibawa pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S.Mallaby yang mendarat di Surabaya merupakan bagian Divisi ke-23 pimpinan Mayjen D.C Hawthorn. Ketiga divisi itu bertugas mengambil alih kekuasaan Indonesia dari Jepang, yang berarti tidak mengakui Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Menurut Ki Darmadi, seruan jihad melawan pasukan sekutu yang dikeluarkan Kiai Haji Hasyim Asy’ari itulah yang dikenal sebagai Resolusi Jihad. “Lalu Kiai Hasyim Asy’ari meminta Bung Tomo supaya teriak Allahu Akbar untuk menggerakkan para pemuda. Jasa utama Bung Tomo itu karena diperintah Kiai Haji Hasyim Asy’ari jadi orator perang,” ungkap Ki Darmadi terkait ihwal munculnya pekik Allahu Akbar yang dikumandangkan Bung Tomo melaui radio-radio.

Terkait pertanyaan kenapa Bung Karno menemui Mbah Hasyim Asy’ari, adik Pahlawan Nasional Soepriyadi, yang lahir di Kediri pada 17 Maret 1930 silam ini menjawab, “Tujuannya supaya Kiai Hasyim Asy’ari yang memiliki pengaruh besar di kalangan umat Islam itu menggerakkan jihad. Lalu ada yang hendak mengenyampingkan, kenapa Bung Karno tidak ke BKR (TKR: RED)? Saya punya jawaban. Karena jauh sebelum itu, saat pasukan PETA terbentuk, semua komandan batalyonnya itu ulama. Dan yang punya pengaruh besar terhadap para ulama, dan santri itu kan Kiai Haji Hasyim Asy’ari,” terang Ki Darmadi.

Di antara para ulama yang memegang kendali komando terhadap pasukan PETA, salah satu cikal bakal BKR itu, adalah Panglima Divisi Suropati, Kiai Imam Sujai, Divisi Ranggalawe dengan Panglimanya Jatikusumo, wakilnya adalah Soedirman, ayah kandung Basofi Soedirman, mantan gubernur Jawa Timur. Termasuk di Jawa Barat, komandan resimennya seorang ulama yang berjuluk Singa Bekasi, Kiai Haji Noor Ali.

“Jadi pilihan Bung Karno menemui Kiai Hasyim Asy’ari itu sudah tepat, karena yang bisa menggerakkan umat Islam ya, Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Terbukti sebelum Inggris masuk seluruh komandan batalyon PETA itu ulama,” tandas Ki Darmadi.

Presiden Soekarno memang datang ke orang yang tepat, lanjut Ki Darmadi, dampak perangnya pun luar biasa, seperti digambarkan dalam buku berjudul : Api Neraka di Surabaya. “Pertempuran di Surabaya itu bagaikan neraka bagi pasukan Sekutu. Orang bisa mati-matian berperang, itu karena perintah jihad tadi,” terang Ki Darmadi.

Pelaku dan saksi sejarah lainnya, yaitu Tokoh dan sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) Kiai Haji Muchit Muzadi beberapa tahun lalu mengatakan, Hari Pahlawan 10 November itu tak bisa dilepaskan dengan Resolusi Jihad NU, yang dicetuskan para ulama di Bubutan, Surabaya pada 22 Oktober 1945.

“Proklamasi yang diucapkan Bung Karno dan Bung Hatta merupakan tantangan kepada tentara Sekutu yang saat itu berkuasa setelah Jepang menyerah,” kata Kiai yang akrab dipanggil dengan Mbah Muchit ini. Pernyataan salah seorang santri Hadratus Syaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari ini kian menegaskan, bahwa Deklarasi Resolusi Jihad 21-22 Oktober 1945 merupakan kelanjutan dari hasil pertemuan Bung Karno dengan Mbah Hasyim.

Segera setelah itu, ribuan kiai dan santri bergerak ke Surabaya. Pada Tanggal 28 Oktober 1945, pasukan sekutu dibawa Brigadir Jenderal Mallaby mengambil alih lapangan udara Morokrembangan, dan beberapa gedung penting kantora jawatan kereta api, pusat telepon dan telegraf, termasuk Rumah Sakit Darmo.

Pertempuran besar tak terhindarkan antara 6 ribu pasukan Inggris dengan 120 ribu pemuda Indonesia yang terdiri dari para santri, dan tentara. Akibat kalah jumlah Mallaby meminta bantuan Hawthorn agar pihak Indonesia menghetikan pertempuran. Hawthorn pun meminta Soekarno agar mau membujuk panglima-panglimanya di Surabaya menghentikan pertempuran. Terjepit pasukan sekutu itu digambarkan dalam buku Donnison “The Fighting Cock” sebagai “Narrowly escape complete destraction” alias hampir musnah seluruhnya”, kalau tidak dihentikan Soekarno – Hatta dan Amir Syarifuddin.

Jenderal Sekutu Tewas

Karena tidak mau belajar, dari kekalahan pertama, Brigjen Mallaby pun tewas dalam pertempuran yang pecah pada Tanggal, 30 Oktober 1945. Panglima AFNEI Letjen Philip Sir Christison pun mengirim pasukan Divisi ke-5 dibawa Komando Mayor Jenderal E.C.Mansergh, jenderal yang terkenal karena kemenangannya dalam Perang Dunia II di Afrika saat melawan Jenderal Rommel, jenderal legendaris tentara Nazi Jerman. Mansergh membawa 15 ribu tentara, dibantu 6 ribu personel brigade45 The Fighting Cock dengan persenjataan serba canggih, termasuk menggunakan tank Sherman, 25 ponders, 37 howitser, kapal Perang HMS Sussex dibantu 4 kapal perang destroyer, dan 12 kapal terbang jenis Mosquito.

Dengan mesin pembunuhnya itu, Mansergh mengultimatum rakyat Surabaya, untuk bertekuk lutut alias menyerah, yang berarti mengakui Indonesia belum merdeka.

”Ultimatum Sekutu itu pun tak digubris sehingga terjadilah pertempuran 10 November 1945 dengan korban yang tidak sedikit, bahkan para santri dari Kediri, Tuban, Pasuruan, Situbondo, dan sebagainya banyak yang menjadi mayat dengan dibawa gerbong KA,” kata Mbah Muchit.

Kiai Kelahiran Tuban Jatim pada 1925 itu menambahkan, semangat dan tekad untuk merdeka itu merupakan semangat yang dipupuk melalui Resolusi Jihad NU yang digagas para ulama NU di Jalan Bubutan, Surabaya.”Tapi, terus terang, semuanya itu tidak tercatat dalam sejarah, karena ulama NU itu memang tidak ingin menonjolkan diri, sebab mereka berbuat untuk bangsa dan negara demi ridlo dari Allah SWT, bukan untuk dicatat dalam sejarah,” katanya.

Dampak perlawanan itu sepertinya tidak pernah terpikir oleh pasukan Sekutu, yang mengultimatum, agar seluruh pemuda, dan pasukan bersenjata bertekuk lutut. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

“Kenapa bisa begitu? Karena sebenarnya yang fanatik melbu suwargo (Bhs Jawa: masuk surga: RED.) itu kan Islam, jadi sudah tidak mikir apa-apa lagi. Mana ada Jenderal Sekutu tewas dalam Perang Dunia Kedua, itu kan hanya terjadi di Surabaya, di Indonesia, dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby,” kata Ki Darmadi menandaskan.

David Welch menggambarkan dasyatnya pertempuran itu dalam bukunya, Birth of Indonesia (hal. 66),“Di pusat kota pertempuran adalah lebih dasyat, jalan-jalan diduduki satu per satu, dari satu pintu ke pintu lainnya. Mayat dari manusia, kuda-kuda, kucing-kucing serta anjing-anjing bergelimangan di selokan selokan. Gelas - gelas berpecahan, perabot rumah tangga, kawat-kawat telephon bergelantungan di jalan-jalan dan suara pertempuran menggema di tengah gedung-gedung kantor yang kosong. Perlawanan Indonesia berlangsung dalam dua tahap, pertama pengorbanan diri secara fanatik, dengan orang-orang yang hanya bersenjatakan pisau-pisau belati menyerang tank-tank Sherman, dan kemudian dengan cara yang lebih terorganisir dan lebih efektif, mengikuti dengan cermat buku-buku petunjuk militer Jepang”

Pertempuran berlangsung dengan ganas selama 3 minggu. Pada akhir bulan November 1945 seluruh kota telah jatuh ke tangan sekutu. Namun semangat perlawanan oleh para pejuang Indonesia yang masih hidup tak bisa dipadamkan. Para santri, dan tentara mengikuti ribuan pengungsi yang melarikan diri meninggalkan Surabaya dan kemudian mereka membuat garis pertahanan baru mulai dari Mojokerto di Barat hingga ke arah Sidoarjo di Timur. Beberapa versi menyebut, korban dari pihak Republik Indonesia mencapai 20 ribu, bahkan ada yang menyebut 30 ribu jiwa.

Pelaku dan Saksi Sejarah

Pertanyaan, kemudian muncul, bagaimana membuktikan bahwa peristiwa Pertemuan Bung Karno dengan Rais Akbar Kiai Haji Hasyim Asy’ari itu benar? Mendapat pertanyaan ini Ki Setyo Oetomo Darmadi, menjelaskan posisinya. Menurutnya, Inggris datang ke Surabaya itu jauh sebelum meletus Perang 10 November 1945.

“Setelah meletus Pemberontakan PETA yang dipimpin Soepriyadi, saya dan ayah saya sekeluarga ditahan oleh penjajah Jepang, setelah Proklamasi Kemerdekaan, yaitu pada Tanggal 25 Agustus kami sekelurga dibebaskan. Usia saya saat itu 15 tahun, lalu masuk BKR. Karena saya Adiknya Soepriyadi, saya bisa kenal sama kiai-kiai, di antaranya Pak ud (KH Jusuf Hasyim), Pak Baidlowi, lalu bapaknya Pak Rozi Munir, yaitu Pak Munasir. Dan kebetulan saya masih familinya Bung Karno, jadi saya tahu ada pertemuan Bung Karno dengan Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Hasil pertemuan itu juga disampaikan oleh Bung Karno kepada para anggota BKR,” ungkap Ki Darmadi menjawab, asal sumber kesaksian.

Seruan Resolusi Jihad yang disampaikan di depan Presiden Soekarno oleh Rois Akbar Kiai Haji Hasyim Asy’ari merupakan peristiwa sejarah yang terpendam, dan hanya menjadi sejarah lisan. Namun, peristiwa tersebut bukan isapan jempol. Saat penulis meneliti sejumlah arsip Kabinet Presiden di Arsip Nasional, Cilandak, Jakarta Tahun 2001, penulis menemukan indeks tentang Resolusi Jihad. Namun saat saya pesan untuk saya baca, ternyata bagian pelayanan arsip tersebut menyatakan arsip sudah kosong, alias hilang.(Abdullah Taruna)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Berita, Nasional, Kiai IMNU Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

Innalillahi, KH Luthfi Elt Hakim Fuad Hasyim Buntet Wafat

Cirebon, IMNU Tegal. KH Luthfi Elt Hakim Fuad Hasyim, Pengasuh Pesantren Nadwatul Ummah-Buntet Pesantren, Cirebon tutup usia pada Senin (18/5) malam lalu. Almarhum tutup usia saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta sekitar pukul 22.30 WIB.

Menurut Abu Tolkha Nawawi, Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Cirebon, pagi sekitar pukul 08.00 WIB, Almarhum menjalani operasi pergantian pembuluh darah, namun operasi tersebut tidak berhasil dengan lancar.

Innalillahi, KH Luthfi Elt Hakim Fuad Hasyim Buntet Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillahi, KH Luthfi Elt Hakim Fuad Hasyim Buntet Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillahi, KH Luthfi Elt Hakim Fuad Hasyim Buntet Wafat

Almarhum KH Luthfi Elt Hakim Fuad Hasyim, di mata Tolkha adalah sosok dengan pribadi dan budi pekerti yang sangat luhur serta punya dedikasi yang luar biasa terhadap dunia pesantren. Diakui Tolkha, dirinya sangat merasa kehilangan salah satu sahabat terbaiknya ini.

IMNU Tegal

“Beliau selaku guru dan sahabat saya terlalu istimewa. Dengan pribadinya dan budi pekertinya yang sangat luhur, perangainya sangat santun, alim dan punya dedikasi yang luar biasa,” jelasnya seperti dilansir cirebontrust.com. (Red: Fathoni)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Internasional, Kiai, AlaNu IMNU Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam

Jakarta, IMNU Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengaku tak terlalu serius menanggapi stigma ahli bid’ah (mengada-ada dalam beribadah) yang diarahkan padanya maupun organisasi yang ia pimpin. Hal itu dilakukannya demi menjaga kerukunan di antara sesama umat Islam di Indonesia.

“Dicap bid’ah-lah, dianggap kurang Islam-lah, saya biarkan aja. Kalau ditanggapi, saya khawatir jadi konflik nantinya. Kalau sudah konflik, meluas, dan akhirnya Islam mudah dipecah-belah,” ujar Hasyim kepada wartawan usai menerima kunjungan Duta Besar Swiss untuk Indonesia Bernardino Regazzoni di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (9/1) kemarin.

Presiden World Conference on Religion and Peace (WCRP) itu mengaku, hal yang dilakukannya didasari atas pertengkaran umat Islam di Timur Tengah yang hingga saat ini tak kunjung mereda. Meski sadar bahwa pertengkaran tersebut bukanlah didasari persoalan agama—melainkan konflik politik, menurutnya, hal itu cukup menjadi bukti bahwa umat Islam mudah sekali diadu-domba.

Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam

Ketika umat Islam berhasil diadu-domba, maka, lanjut Hasyim, kondisi tersebut berarti membuka peluang bagi pihak luar untuk memanfaatkan Islam. Hal itulah, katanya, yang sedang terjadi pada umat Islam di Irak, terutama pasca eksekusi mati mantan Presiden Irak Saddam Hussein.

“Video eksekusi Saddam terus ditayangkan. Saya yakin, maksudnya itu supaya orang Sunni marah dan berkelahi dengan Syiah. Sementara sekarang kepemimpinan Irak dipegang Syiah. Nah, saat mereka berkelahi, Amerika Serikat masuk ngambil minyak,” urai Hasyim yang juga Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars.

IMNU Tegal

Hal yang sama juga ia lakukan ketika sejumlah aset milik warga nahdliyin (sebutan untuk warga NU) seperti masjid dan madrasah diambil-alih oleh kelompok Islam garis keras. Ia yakin, jika ditanggapi apalagi dengan kekerasan, maka akan tumbuh benih-benih perpecahan di antara umat Islam.

“Biarkan saja. Saya tidak mungkin nyuruh warga NU marah dan mengambil lagi masjid atau madrasahnya. Saya yakin, masyarakat sendiri yang nanti akan menentukan sikap. Kalau nggak diadili langsung oleh masyarakat, ya, masjidnya ditinggalin jamaah,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur itu.

Ditambahkan Hasyim, meski umat Islam di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia relatif tenang. Namun, bukan tidak mungkin ketenangan itu akan diusik, seperti halnya di Timur Tengah. “Jangan sampai hal itu (konflik: Red) terjadi di Asia Tenggara, juga di Indonesia. Kuncinya jangan sampai tercerai berai,” imbaunya.

Untuk kepentingan itu, Hasyim akan mengusahakan pertemuan rutin para pemimpin organisasi kemasyarakat (ormas) Islam di Indonesia, tak terkecuali ormas Islam yang tergolong garis keras. “Saya ingin tokoh-tokoh Islam Indonesia kumpul, minimal tiga bulan sekali di sini (PBNU). Ya, sekedar silaturrahim aja. Biar kita bisa berkomunikasi dan saling terbuka,” harapnya. (rif)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal AlaSantri, Cerita, Kiai IMNU Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Makna Selembar Bendera

Selembar bendera berlambang NU yang dibuat secara manual pada tahun 1962 masih tersimpan rapi di kediamaan KH Thola’ Al-Badr Karim, pengasuh Pesantren Al-Karimiyah, Pungangan, Patokbeusi, Subang, Jawa Barat. ?

Bendera yang berukuran 150 cm x 60 cm itu berwarna hijau tua dengan lafadh Nahdlatul Ulama dalam huruf Arab warna putih. Di bawah lambang itu tertulis “Tjabang NU Subang”.?

Makna Selembar Bendera (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Selembar Bendera (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Selembar Bendera

Kata cabang masih ditulis “tjabang” karena aturan “tj” menjadi “c” diberlakukan sejak tahun 1972 dalam aturan Ejaan Yang Disempurnakan. Sementara kata “NU” sudah tidak lagi “NO” karena pada tahun 1947 pun sudah diubah.

Bendera tersebut milik pribadi Mama Ajengan KH Syamsuddin. Kata “mama” adalah panggilan akrab “rama” yang berarti ayah. Sebagaimana di Jawa, penyematan “mama”, digunakan juga kepada tokoh agama, di samping untuk ayah.?

Mama Syamsuddin adalah tokoh NU di MWC Pabuaran, ketika Subang masih menjadi bagian Kabupaten Purwakarta. Ia adalah tokoh agama yang lari dari Garut karena tidak mau menerima tawaran bergabung menjadi bagian DI/TII. Kemudian ia tinggal daerah Subang, dan bekerja di perkebunan tebu.

IMNU Tegal

Kendati ia menyembunyikan diri, karena prilakunya berbeda dengan pekerja lain, lama kelamaan ia tercium juga sebagai seorang ahli agama. Kemudian ia diambil warga Pungangan untuk mengajar masyarakat. ?

Menurut Kiai Thola’ Al-Badr Karim bendera dibuat oleh kakeknya sendiri, Mama Syamsuddin dengan alat tulis kapas. Selain itu, sambil puasa juga. Bahkan bendera terebut pernah “dijiad” atau diberi bacaan-bacaan bertuah oleh kiai di Buntet.

Kemudian bendera tersebut disimpan di kamar pribadi Mama Syamsuddin. ? Setelah ia wafat, bendera itu raib tanpa jejak.

IMNU Tegal

Bertahun-tahun Kiai Thola’ Al-Badr Karim mencari bendera itu. Usahanya membuahkan hasil sebelum bulan puasa tahun ini. Bendera tersebut rupanya diamanatkan kepada Kiai Munir, seorang santri Mama Syamsuddin.

Selain itu, KH Thola’ Al-Badr juga menyimpan dua surat dan satu SK struktur kepengurusan NU Kabupaten Subang pada tahun 1979. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Berita, Kiai, Pertandingan IMNU Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Dua Jenis Sejarah dalam Kehidupan Manusia

Tasikmalaya, IMNU Tegal. Dalam kehidupan manusia terdapat dua sejarah, yaitu sejarah yang diberikan oleh Allah, dan sejarah yang dirancang oleh manusia. Kiai Yayan Bunyamin mengungkapkan, sejarah yang diberikan Allah adalah sejarah yang oleh manusia harus diterima dan tidak bisa ditolak begitu saja. Lahir di mana, dari suku apa, warna kulit, adalah beberapa contoh sejarah manusia yang diberikan oleh Allah.?

Dua Jenis Sejarah dalam Kehidupan Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Jenis Sejarah dalam Kehidupan Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Jenis Sejarah dalam Kehidupan Manusia

“Sedangkan sejarah yang dapat dirancang oleh manusia sendiri contohnya adalah memilih cita-cita,” kata kiai muda penulis buku ‘Hujjah Al-Nahdliyah’, dalam pengajian Rijalul Ansor yang digelar PAC GP Ansor Rajapolah, Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat (14/4) malam.

Termasuk sebagai umat Islam, kata Kiai Yamin, hendaknya dapat mendesain masa depan. Ia menyebut gagal merencanakan masa depan sama artinya dengan merencanakan kegagalan.?

Dalam konteks ini, umat Islam harus memiliki setidaknya dua hal, yakni visi ideal dan aksi atau tindakan sebagai ikhtiar yang nyata.

IMNU Tegal

“Umat Islam harus memiliki cita-cita yang bagus. Saya ingat promotor tesis saya dari Universitas Leiden yang menyebut ‘kekuatan tidak terletak pada otot, tetapi dalam kepala yaitu otak,” ceritanya.

Kiai Yamin mencontohkan bila seseorang dikejar tiga ekor anjing, padahal orang itu berada di dalam tembok setinggi dua meter, normalnya orang itu tidak bisa lepas dari kejaran anjing. Tetapi karena dikejar anjing dan ingin selamat, orang itu harus bisa melewati tembok. Ini membuktikan kekuatan terletak pada otak.

IMNU Tegal

“Demikian pula saat ada seorang santri yang harus menghapal. Kalau berpikir kuat maka akan kuat. Makanya Islam mengajarkan optimism melalui huznudzon,” tambah kiai yang juga aktif di Lakpesdam NU Tasikmalaya.

Sebagai orang tua, lanjut Kiai Yamin, kita bisa menyemangati anak-anak kita saat mereka mengungkapkan cita-citanya, walau keadaan kita sangat terbatas.?

Misalnya saat anak kita mengatakan ingin jadi dokter, jangan langsung dilarang atau dipatahkan semangatnya. Tetapi idealnya katakan bahwa kita mendukung mereka.

“Ya, Nak. Ibu mendoakan semoga kau jadi dokter,” kata Kiai Yamin.

Adapun aksi atau tindakan adalah ikhtiar nyata setelah kita memegang visi atau cita-cita. Dalam meraih cita-cita sudah pasti diperlukan juga perjuangan dan pengorbanan.?

Perjuangan atau ikhtiar harus disertai dengan keikhlasan dan kerja yang cerdas yakni berdasarkan pengetahuan. Perjuangan juga mensyaratkan keikhlasan dan ilmu pengetahuan (knowledge) dalam menjalankannya.

“Kesuksesan dan perjuangan adalah satu paket. Tidak ada kesuksesan yang tanpa perjuangan dan pengorbanan,” tegasnya. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kiai IMNU Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

BNPT: Peluru Tajam dan Penangkapan Tak Selesaikan Terorisme

Kendari, IMNU Tegal

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyadari persoalan terorisme tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan keras atau hard approach. Masyarakat diharapkan terlibat secara aktif dalam pencegahan kejahatan luar biasa tersebut.

?

"Karena itu, peluru tajam, penangkapan, dan penegakan hukum semata dirasa bukan jalan tunggal yang dapat memutus aktivitas terorisme di Indonesia," kata Deputi I bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT, Abdul Rahman Kadir, saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan kegiatan Literasi Media sebagai Upaya Cegah Tangkal Radikalisme dan Terorisme di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (9/3).

BNPT: Peluru Tajam dan Penangkapan Tak Selesaikan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
BNPT: Peluru Tajam dan Penangkapan Tak Selesaikan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

BNPT: Peluru Tajam dan Penangkapan Tak Selesaikan Terorisme

?

Abdul menambahkan, terorisme bukan persoalan pelaku, jaringan, sasaran, dan aksi brutalnya saja. Terorisme adalah persoalan ideologi, keyakinan, dan pemahaman yang keliru tentang cita-cita yang tidak sesuai dengan pandangan hidup bangsa, Pancasila.

IMNU Tegal

?

BNPT yang dibentuk pada tahun 2010, masih kata Abdul, telah menetapkan 2 jenis pendekatan dalan penanggulangan terorisme, yaitu hard dan soft approach. Soft approach sendiri dalam pelaksanaannya terbagi dalam 2 program, yaitu deradikalisasi, pembinaan terhadap narapidana terorisme, mantan narapidana terorisme, keluarganya dan jaringannya, baik di dalam Lapas maupun di luar Lapas.

?

"Program kedua adalah kontra-rdikalisasi, yaitu pelibatan seluruh komponen bangsa dalam menangkal pengaruh paham radikal terorisme di tengah lingkungan masyarakat. FKPT adalah bagian dari strategi kontraradikalisasi, dengan melibatkan tokoh dari berbagai unsur, untuk bisa membentengi masyarakat dari paparan paham raadikal terorisme," urai Abdul.

?

IMNU Tegal

Sebagai mitra strategis BNPT, Abdul meminta FKPT bisa mengkoordinir keterlibatan masyarakat dalam pencegahan terorisme. "Terorisme adalah kejahatan luar biasa yang menjadi musuh kita bersama. Oleh karena kebersamaan juga yang bisa menjadi sarana pencegahannya," pungkasnya.

?

Kegiatan Literasi Media sebagai Upaya Cegah Tangkal Radikalisme dan Terorisme, dilaksanakan BNPT dengan menggandeng 32 Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme di seluruh Indonesia. Selain diisi dengan kegiatan dialog, metode lain yang dijalankan adalah visit media dan menggelar lomba karya jurnalistik bertemakan kearifan lokal. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kiai, Pesantren IMNU Tegal

Sabtu, 25 November 2017

KMNU POLINELA Ajak Masyarakat Peduli Sesama

Bandar Lampung, IMNU Tegal

Mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Politeknik Negeri Lampung (Polinela) lakukan penggalangan dana di Lampu Merah Rajabasa untuk korban banjir yang terjadi pada senin malam (20/2) sepekan yang lalu.?

KMNU POLINELA Ajak Masyarakat Peduli Sesama (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU POLINELA Ajak Masyarakat Peduli Sesama (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU POLINELA Ajak Masyarakat Peduli Sesama

"Selain aksi turun langsung ke jalan, kami juga membuka donasi untuk korban banjir di Kabupaten Pesawaran melalui transfer rekening," ujar Ketua KMNU Polinela, M. Ajid, di Bandarlampung, Ahad (26/2)

Menurut Ajid penggalangan dana ini dilakukan sebagai bukti konkrit empati dan kepekaan sosial mahasiswa dan masyarakat terhadap sesama manusia. "Sudah seharusnya jiwa sosial di tumbuhkan dalam diri mahasiswa saat ini, dengan mengajak orang lain untuk membantu sesama misalnya" ungkap ajid di sela-sela melakukan aksinya.

Selain KMNU Polinela aksi ini juga ? dilaksanakan bersama KMNU Universitas lain. "Kita terjun bersama dengan Keluarga Mahasiswa NU Universitas Lampung dan Permata Sholawat UIN Raden Intan Lampung, mereka juga melakukan aksi serupa di titik yang berbeda. Hal ini agar penggalangan dana ? lebih maksimal, tambahnya.?

IMNU Tegal

Di sela-sela kesibukan sebagai mahasiswa, organisasi-organisasi tersebut meluangkan waktunya untuk peduli pada saudara yang terkena musibah banjir. Banjir tersebut di akibatkan karena hujan yang tak kunjung reda sejak senin malam hingga pagi menjelang. Lokasi banjir yang terjadi di berbagai daerah di Provinsi Lampung. Hal ini merupakan banjir terparah dalam beberapa tahun terakhir. (Nuri Resti Chayyani/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Daerah, Kiai, AlaSantri IMNU Tegal

Selasa, 21 November 2017

Bahtsul Masail NU Yaman Haramkan ISIS

Tarim, IMNU Tegal. Untuk merespon kehadiran Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) yang menggemparkan media massa akhir-akhir ini Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Yaman bekerja sama dengan Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI) Al-Ahgaff mengadakan acara Bahtsul Masail Diniyyah Waqi’iyyah.

Bahtsul Masail NU Yaman Haramkan ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail NU Yaman Haramkan ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail NU Yaman Haramkan ISIS

Acara yang bertempat di Auditorium Fakultas Syariah wal Qanun, Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Senin (9/8), tersebut diikuti sejumlah organisasi mahasiswa Indonesia di Hadhramaut, Yaman. Sekitar 70 delegasi pelajar hadir menyemarakkan acara.

Dalam forum tersebut, ada beberapa persoalan yang dibahas peserta bahtsul masail. Di antaranya tentang status pembaiatan Abu Bakar al-Baghdadi sebagai pemimpin ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria), dan hukum memberi dukungan kepada kelompok tersebut baik secara materi atau tenaga.

IMNU Tegal

Pembahasan yang berlangsung selama kurang lebih empat jam itu telah memutuskan bahwa khalifah adalah wakil umat yang diberi kepercayaan oleh umat melalui baiat. Hal ini tidak terwujud secara realita dan syar’i kecuali dengan persetujuan seluruh umat atau melalui wakil-wakil mereka yang disebut sebagai ahlul halli wa al aqdi.

Forum menilai deklarasi sebuah kelompok saja tidaklah cukup untuk mengangkat khalifah. Dengan demikian, deklarasi khilafah oleh kelompok ISIS tidak memenuhi syarat. Sehingga tidak ada keharusan bagi umat Islam untuk berbaiat.

IMNU Tegal

Selanjutnya, forum menyatakan bahwa deklarasi khilafah oleh kelompok ISIS dilakukan tanpa musyawarah dengan umat Islam. Dan ini tidak sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Umar Ibn Khattab, “Siapa yang membaiat seseorang tanpa bermusyawarah dengan kaum muslimin, maka tidaklah Ia dibaiat dan tidak pula orang yang membaiatnya dikhawatirkan keduanya akan dibunuh". (HR. Bukhori).

Jelaslah bahwa pembaiatan Imam ISIS tidak bisa disahkan secara hukum, dan tidak boleh hukumnya membaiat mereka. Selain tidak sah dari sisi syariat, langkah perjuangan yang mereka tempuh dinilai sangat ekstrem, seperti membunuh sesama muslim dan menghancurkan situs-situs makam para Nabi.

Membaiat mereka berarti mengucapkan janji setia dan siap menolong serta membantu mereka. Membantu ISIS berarti membantu dalam kemaksiatan dan kezaliman, dan saling membantu dalam berbuat dosa dan pelanggaran hukumnya haram, sebagaimana firman Allah swt. dalam al-Qur’an surat al-Maidah ayat 2.

Di akhir acara, forum ilmiah yang dipimpin Zadit Taqwa menulis surat pernyataan resmi atas nama pelajar Indonesia di Hadhramaut yang berisi penegasan bahwa ISIS adalah gerakan transnasional yang bisa mengancam keutuhan NKRI.

Hal tersebut karena ISIS menginstruksikan warga muslim dunia untuk membaiat khalifah yang diangkatnya, di tengah-tengah kondisi sosio-politik mayoritas negeri Islam yang telah memiliki pemimpin secara resmi dalam sistem negara bangsa. Karenanya, pelajar Indonesia di Hadhramaut menuntut pihak pemerintah dan semua elemen masyarakat untuk tegas dan pro aktif menangkal gerakan semacam ini. (Ahmad Thohirin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Doa, Kiai IMNU Tegal

Jumat, 17 November 2017

Pahami Garis Perjuangan NU dan Karakteristik Setempat

Indramayu, IMNU Tegal. Memahami garis perjuangan NU dan mengetahui karakteristik NU di wilayahnya menjadi hal yang penting ketika hendak mereposisi peran Lakpesdam dalam penguatan jama’ah dan jam’iyyah.?

Demikian disampaikan Yahya Ma’shum, ketua Pengurus Pusat Lakpesdam NU pada acara Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Lakpesdam NU Jawa Barat di Indramayu, pada 24-25 November 2012.

Pahami Garis Perjuangan NU dan Karakteristik Setempat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pahami Garis Perjuangan NU dan Karakteristik Setempat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pahami Garis Perjuangan NU dan Karakteristik Setempat

Kurang memahami karakteristik wilayahnya, menurut Yahya, sering kali membuat beberapa program dan rencana aksi Lakpesdam di tingkat pengurus cabang kontraproduktif, tidak tepat sasaran dan bahkan terbengkalai.

Begitu pula kurang mengetahui garis besar perjuangan NU akan membuat program dan rencana aksi PC Lakpesdam tidak sejalan dengan apa yang di lakukan oleh pengurus cabang NU. Bahkan yang paling tragis adalah rencana aksi yang di rumuskan justru keluar dari garis besar perjuangan NU itu sendiri, dan itu sangat berbahaya bagi pengawalan dan pengamanan idoelogi Aswaja.

IMNU Tegal

Rapat koordinasi dengan agenda reposisi peran Lakpesdam dalam penguatan jama’ah dan jam’iyyah yang digelar oleh PW Lakpesdam NU Jawa Barat ini dihadiri oleh Wakil Sekjen PBNU H Abdul Mun’im DZ, Ketua PWNU Jawa Barat Eman Suryaman. Para peserta yang hadir, menurut ketua PW Lakpesdam NU Jawa Barat H Tatang Astarudin adalah para pengurus cabang Lakpesdam NU se-wilayah Jawa Barat.?

Acara yang digelar selama dua hari di gedung PCNU Kabupaten Inderamayu ini, menurut ketua penyelenggara Ahmad Dasuki, menghasilkan beberapa rencana aksi.

IMNU Tegal

Pertama, di bidang pemeberdayaan Masyarakat, PC Lakpesdam akan menginisiasi kegiatan usaha masyarakat, membangkitkan partisipasi masyarakat dengan cara pengorganisasian masyarakat dan melakukan pendidikan politik.

Kedua, di bidang penguatan sumberdaya pengurus, PC Lakpesdam akan melakukan silaturrahmi intensif kepada pengurus-pengurus ranting, melakukan sosialisasi dan membuat data base.?

Ketiga, di bidang organisasi, yang akan dilakukan oleh PC Lakpesdam adalah pelatihan management organisasi, latihan dasar kepemimpinan dan mendorong PCNU untuk membentuk dan menghidupkan kembali ranting-rating yang terputus.

Keempat, di bidang kaderisasi, PC Lakpesdam NU akan merumuskan metodologi kaderisasi dan sekaligus menjadi fasilitator atau instruktur pelaksanaan kaderisasi. Rumusan-rumusan ini di latari atas pembacaan situasi dan karakter NU di masing-masing kabupaten.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Muiz Syaerozie

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kiai, Ubudiyah, Habib IMNU Tegal

Pemkab Ajak GP Ansor Jaga Perdamaian di Kabupaten Sikka

Jakarta, IMNU Tegal. Wakil Bupati Sikka Drs Nong Susar meminta GP Ansor dan seluruh pemuda Banser ? kabupaten Sikka untuk menjaga suasana kedamian di Sikka. Dengan perdamaian, pemkab setempat bersama GP Ansor membangun kemajuan daerah setempat.?

Demikian dinyatakan Nong Susar dalam sambutan pembukaan PKD GP Ansor Sikka yang berlangsung di Gedung FKUB Sikka, Senin (28/9) malam.

Pemkab Ajak GP Ansor Jaga Perdamaian di Kabupaten Sikka (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab Ajak GP Ansor Jaga Perdamaian di Kabupaten Sikka (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab Ajak GP Ansor Jaga Perdamaian di Kabupaten Sikka

“GP Ansor secara nasional telah lama dekat di hati masyarakat Indonesia sebagai pemuda terdepan yang membela keberagamaan. Mereka dikenal menyelesaikan masalah yang dihadapi kaum minoritas di Indonesia.”

IMNU Tegal

Keberagamaan, kata Nong Susar, tidak merupakan malapetaka melainkan kekuatan. Karena kita berjuang bukan demi perbedaan melainkan demi kemanusiaan.

IMNU Tegal

Ia bercerita, Presiden Ke-4 RI KH Abdurahman Wahid memiliki pikiran yang sangat cerdas melampui sekat agama di Indonesia.

"Gusdur sebelum dan setelah jadi presiden, pernah melakukan kunjungan di Ledalero. Melakukan dialog agama dan dialog karya. Gusdur memiliki sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh kita-kita, memunyai pikiran melampaui sekat agama, suku, dan ras," kata Susar.

Pelatihan ini dihadiri istruktur dari PP GP Ansor Masud Saleh, H Aunullah, dan PW GP Ansor NTT Ajhar Jowe.

Masud Saleh mengatakan, “Dalam sebuah kehidupan manusia banyak ditemukan berbagai warga dan perbedaan. Jika kita memhami perbedaan maka kita aman dan damai selalu di bumi milik kita sendiri.”

Sementara Ajhar Jowe mengatakan, pelaksanaan PKD perdana bagi pengurus GP Ansor Sikka akan membawa perubahan cabang Ansor dari masa-masa sebelumnya. Penguatan kapasitas organisasi melalui proses pelatihan perdana ini, akan menjadi gambaran terbaru untuk Ansor Sikka ke depan. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nasional, Kiai, RMI NU IMNU Tegal

Rabu, 01 November 2017

Berharap Hujan, Ratusan Santri Mranggen Gelar Sholat Istisqa’

Demak, IMNU Tegal. Usai sholat Jum’at pada Jumat (6/11) siang, pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) kecamatan Mranggen menyelenggarakan sholat Istisqa’. Rangkaian sholat memohon hujan ini diikuti pengasuh dan lebih dari 500 santri dari berbagai pesantren yang ada di Mranggen. Selain santri, warga juga masuk dalam barusan shaf sholat Istisqa’ itu.

Berharap Hujan, Ratusan Santri Mranggen Gelar Sholat Istisqa’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Berharap Hujan, Ratusan Santri Mranggen Gelar Sholat Istisqa’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Berharap Hujan, Ratusan Santri Mranggen Gelar Sholat Istisqa’

Sholat Istisqa’ ini diadakan di lapangan desa Kembangarum, kecamatan Mranggen kabupaten Demak. Bertugas sebagai imam adalah KH Muhibbin Muhsin Al-Hafidz. Sementara khotibnya adalah KH Shonhaji Sulaiman.

Dalam khotbahnya Kiai Shonhaji mengajak para jama’ah untuk tidak henti-hentinya membaca istighfar dan senantiasa bertobat serta bertakwa kepada Allah SWT.

IMNU Tegal

“Karena dengan bertakwa kepada Allah kita akan menjadi orang yang beruntung dan apa yang kita inginkan akan dikabulkan oleh Allah SWT.”

IMNU Tegal

Mereka berharap setelah diadakan sholat Istisqa’ ini Allah menurunkan hujan yang penuh nikmat dan keberkahan.

Sholat Istisqa’ ini ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh KH Agus Maghfur Murod dan KH Ishaq Ahmad. (Abdus Shomad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kiai, Fragmen, Quote IMNU Tegal

Senin, 25 September 2017

Pendeta Danang Kupas Gus Dur dalam Keindonesiaan

Jepara, IMNU Tegal. Pendeta Gereja Injili Tanah Jawa (GITJ) Jepara, Danang Kristiawan didaulat untuk menjadi pembicara dalam “Ngaji Gus Dur; Tadarus Kemanusiaan, Budaya dan Islam Indonesia” di pesantren Darus aadah desa Bugel kecamatan Kedung kabupaten Jepara, Kamis (9/7) lalu.

Pada kesempatan itu ia diminta panitia kegiatan kerja sama Lakpesdam NU Jepara, Gusdurian Jepara, dan Fakultas Syariah dan Hukum Unisnu Jepara untuk berbicara Gus Dur dan keindonesiaan.

Pendeta Danang Kupas Gus Dur dalam Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendeta Danang Kupas Gus Dur dalam Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendeta Danang Kupas Gus Dur dalam Keindonesiaan

Danang membidik Gus Dur dari sisi demokrasi dengan mengutip 3 referensi, yaitu Islamku, Islam Anda dan Islam Kita (buku), Islam, Pluralism and Democracy (artikel) serta Islam and Indonesia; Religio Political Thought of Abdurrahman Wahid.

IMNU Tegal

Demokrasi bagi Gus Dur merupakan ruang di mana setiap kelompok dapat berkontribusi untuk kebaikan bersama. Demokrasi memberi kesempatan setiap kelompok untuk menyelesaikan permasalahan secara dewasa.

“Demokrasi dengan demikian tidak sekadar suara terbanyak tetapi adanya kesempatan setiap kelompok bahkan yang kecil dan berbeda sekalipun untuk menyampaikan pendapat dan keinginannya.

IMNU Tegal

Sehingga dalam berdemokrasi memiliki dua tantangan, yakni sikap yang sangat diperlukan dalam berdemokrasi. Kesediaan untuk peduli kepada kepentingan yang lain dan kesediaan untuk memberi dan menerima terhadap pihak lain. Ini merupakan sikap dan kerendahan hati.

“Jadi nilai dalam demokrasi menurut pembacaan saya terhadap Gus Dur adalah diperlukannya sikap kepedulian kepada yang lain yang berbeda dan kerendahan hati terhadap yang lain. Menurut saya inilah yang mewarnai pemikiran politik keindonesiaan Gus Dur,” terangnya.

Pembina Komite Sekolah Minggu GITJ Jepara ini menambahkan demokrasi tidak akan bisa hidup hanya secara formal saja misal pemilu dan sebagainya. Demokrasi perlu untuk dihidupi masyarakat dalam kehidupannya.

Berikutnya soal agama dan negara sebagai mutual supportive, saling mendukung. Jadi bukan negara agama dan negara sekuler. Dalam hubungan yang saling mendukung itu masing-masing punya fungsi yang beda. Agama sebagai landasan moral dan etis. Sedangkan negara melindungi dan memfasilitasi agama-agama.

Sehingga dalam konteks Indonesia yang plural, Pancasila adalah landasan terbaik. Karena merupakan kompromi dari kelompok yang ada. Pancasila bersumber juga pada nilai-nilai agama.?

“Jadi agama dalam konteks negara berperan dalam memberikan esensinya, nilai-nilainya, bukan bentuk atau sistemnya. Karenanya Gus Dur pernah berkata akan mempertahankan Pancasila sepenuh hidup,” imbuh Danang.

Dalam kesempatan ini hadir juga pembicara lain. Kholis Hauqola memaparkan Biografi Gus Dur dan Sholahuddin bicara tentang Gus Dur dan Pesantren. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Sholawat, Kiai IMNU Tegal

Minggu, 24 September 2017

IPNU Kota Banjar Pilih Pemimpin Baru

Banjar, IMNU Tegal. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota banjar melaksanakan Konferensi Cabang IV, Jumat (18/7), di Gedung MTs Cibeunteur Banjar, Jawa Barat,  dengan tema "Membangun Sayap-sayap Generasi NU untuk Memperjuangkan dan Mempertahankan Aqidah Aswaja".

Ketua PC IPNU Kota Banjar Irvan Fauzi menuturkan bahwa selain untuk mengevaluasi kinerja kepengurusan, menyusun program kerja dan strategi gerakan IPNU, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk regenerasi kepengurusan IPNU Kota Banjar.

IPNU Kota Banjar Pilih Pemimpin Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Kota Banjar Pilih Pemimpin Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Kota Banjar Pilih Pemimpin Baru

Sidang pleno IV Pemilihan Ketua PC IPNU Kota Banjar menetapkan Dikdik Nursidik sebagai Ketua PC IPNU Kota Banjar masa khidmah 2014-2016. Dikdik terplih secara aklamasi dalam konfercab yang dihadiri sedikitnya 50 peserta dari perwakilan Pimpinan Anak Cabang IPNU dan Pimpinan Komisariat IPNU se-Kota Banjar.

IMNU Tegal

Kegiatan tersebut juga dihadiri para tamu dari PCNU Kota Banjar, termasuk badan otonomom, lembaga dan lajnah NU Kota Banjar; Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Barat.

Supriyanto dari PCNU Kota Banjar berpesan kepada kepengurusan baru untuk lebih aktif turun ke desa-desa. Hal tersebut, menurutnya, menjadi modal gerakan untuk mempertahankan nilai-nilai Aswaja dan menjaga tradisi Islam Aswaja di Kota Banjar. (Aris Prayuda/Mahbib)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kiai, Pesantren, RMI NU IMNU Tegal

Selasa, 05 September 2017

Mahasiswa RI di Yaman Diajak Kembangkan Semangat Entrepreneurship

Tarim, IMNU Tegal. Sebagai upaya menanamkan jiwa entrepreneurship di kalangan pelajar dan ? mahasiswa Indonesia di Yaman, Dewan Pengurus Wilayah Hadramaut Persatuan Pelajar Indonesia di Yaman (DPW PPI Yaman) bekerjasama dengan Asosiasi Mahasiswa Indonesia Al-Ahgaff (AMI Al-Ahgaff) dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama Yaman (PCI NU Yaman) menggelar acara kuliah umum bertajuk “Pemberdayaan Ekonomi Pesantren, Menuju Pesantren Mandiri dan Bermartabat” pada Rabu, (17/04).

Acara yang bertempat di Auditorium Fakultas Syari’ah Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Hadhramaut, Yaman ini menghadirkan KH Mahfudz Syaubari MA, pengasuh pesantren Riyadhul Jannah, Mojokerto, Jawa Timur sekaligus sosok kiai yang sukses dalam mengembangkan usahanya.?

Mahasiswa RI di Yaman Diajak Kembangkan Semangat Entrepreneurship (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa RI di Yaman Diajak Kembangkan Semangat Entrepreneurship (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa RI di Yaman Diajak Kembangkan Semangat Entrepreneurship

Kedatangannya ke Tarim yang kesekian kalinya ini dalam rangka ziarah. ?

IMNU Tegal

Dalam paparannya, alumnus program pasca sarjana Universitas King Abdul Aziz Saudi Arabia ini menuturkan bahwa pesantren selayaknya memiliki kader-kader yang berjiwa mandiri. Karena pesantren merupakan salah satu tempat tumpuan masyarakat.?

“Kini saatnya pesantren tampil sebagai jawaban atas permasalahan ekonomi Indonesia” tambahnya.

IMNU Tegal

“Bedakan antara kasal (rasa malas) dan tawakkal (sikap pasrah sepenuhnya kepada Allah SWT)!”, imbuhnya memotivasi ratusan pelajar Indonesia dari berbagai lembaga pendidikan yang ada di kota Tarim yang hadir malam itu. Selain itu, ia juga me-wanti-wanti para audien yang mayoritas dari kalangan pesantren tersebut agar bisa membedakan antara thalab al-halal (mencari rezeki yang halal) dan hub al-mal (cinta harta dunia).

Di pamungkas acara, ia mengatakan, “Semua pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri ketika sudah kembali ke tanah air, hal pertama yang harus dilakukan adalah meng-Indonesiakan diri dahulu.”

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Amaludin?

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Makam, Doa, Kiai IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock