Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2018

Majalah Arwaniyyah Angkat Tema "Maksiat Membawa Rahmat"

Kudus, IMNU Tegal. Pasca vakum selama dua tahun, kini media cetak yang diterbitkan oleh Yayasan Arwaniyyah Kudus, Jawa Tengah, hadir kembali. Pada edisi ke-12 ini majalah Arwaniyyah yang memiliki jargon Membangun Generasi Qurani mengangkat tema "Maksiat Membawa Rahmat: Mengelola Dosa Menjadi Energi Spiritual".

Selain berupa kajian leteratur Islam dengan tema tersebut, majalah yang kerap disapa Marwa itu juga mengupas biografi KH M Arwani Amin Said yang selama hidupnya mengabdi untuk Al-Quran, transkripsi pengajian yang diasuh oleh Mustasyar PBNU KH M Syaroni Ahmadi tentang surga dalam bertetangga, serta mauidhoh dari KH M Ulinnuha Arwani. Rencananya, Marwa akan terbit tiga bulan sekali.

Majalah Arwaniyyah Angkat Tema Maksiat Membawa Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah Arwaniyyah Angkat Tema Maksiat Membawa Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah Arwaniyyah Angkat Tema "Maksiat Membawa Rahmat"

Agus Abdul Muthi Irhamna, Sekretaris Redaksi Marwa mengungkapkan bahwa untuk memulai menerbitkan kembali majalah tersebut butuh manajemen redaksi yang mapan dan semangat kesabaran. "Karena baru memulai maka kita pelan-pelan dulu. Kemarin kami mencetak hanya seribu eksemplar dan ternyata ludes, Alahamdulillah. Majalah kami sebar untuk para santri dan juga kami komersilkan untuk masyarakat umum sebagai bacaan religi yang penuh hikmah ilmu. Kini kami beranikan diri mencetak ulang seribu lagi," terang Irhamna yang telah nyantri selama empat tahun di pondok putra Yanbuul Quran Pusat.

IMNU Tegal

Marwa yang dua tahun lalu terbit skala nasional dengan mengupas tema tentang kekufuran laku konsumerisme itu dibedah pada Rabu sore (15/7) di aula yayasan Arwaniyyah, kompleks pondok tahfidh Yanbuul Quran asuhan KH M Ulil Albab Arwani, Rois Syuriah NU Kudus yang juga menantu KH M Syaroni Ahmadi.

IMNU Tegal

Diskusi bedah majalah tersebut mengundang seluruh santri yayasan dan perwakilan santri dari segenap pondok pesantren di Kabupaten Kudus. "Untuk narasumber dalam bedah majalah nanti kami memanggil Gus Faiz dan Pak Said," kata pemred, M Salahuddin Al-Ayyuubi kepada IMNU Tegal saat persiapan acara.

H Ahmad Faiz Irsyad yang dimaksud adalah pengajar muda di Selcuk University Turki, yang juga menjabat sebagai Rois Syuriah Pimpinan Cabang Istimewa NU (PCINU) di sana. Sedangkan Nur Said yakni dosen STAIN Kudus sekaligus Ketua Lajnah Tasyrih wan Nasyr NU Kudus. Keduanya merupakan intelektual muda NU asli Kudus. Agenda bedah majalah itu dirangkai dengan khataman Al-Quran pada pagi harinya, dan buka puasa bersama saat maghrib usai diskusi. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kajian Sunnah, Sejarah, Pertandingan IMNU Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Quraish Shihab Ingatkan Pentingnya Nasionalisme dan Cinta Tanah Air

Jakarta, IMNU Tegal



Khatib shalat Idul Fitri di masjid Istiqlal Quraish Shihab mengingatkan bahwa nasionalisme, patriotisme dan cinta tanah air adalah fitrah (naluri) manusia.

Quraish Shihab Ingatkan Pentingnya Nasionalisme dan Cinta Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Quraish Shihab Ingatkan Pentingnya Nasionalisme dan Cinta Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Quraish Shihab Ingatkan Pentingnya Nasionalisme dan Cinta Tanah Air

"Tanah air adalah ibu pertiwi yang sangat mencitai kita sehingga mempersembahkan segalanya buat kita, kita pun secara naluriah mencintainya. Itulah fitrah, naluri manusiawi, karena itu hubbu al-wathan minal iman, cinta tanah air adalah manifestasi dan dampak keimanan," kata Quraish di masjid Istiqlal Jakarta pada Ahad.

Presiden RI Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo beserta putrinya Kahiyang Ayu dan putranya Kaesang Pangarep ikut melaksanakan shalat Id di masjid tersebut.?

Bersama Presiden dan keluarga, hadir pula Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta Ibu Mufidah Jusuf Kalla, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat dan istri Happy Farida, serta para menteri Kabinet Kerja, pimpinan lembaga negara, dan duta besar negara sahabat.

"Tanah air kita terbentang dari Sabang sampai Merauke harus dibangun dan dimakmurkan serta dipelihara persatuan dan kesatuannya," tambah Quraish.

IMNU Tegal

Persatuan dan kesatuan menurut Quraish adalah anugerah Tuhan yang tidak ternilai karena sebaliknya, perpecahan dan tercabik-cabiknya masyarkat adalah bentuk siksa Allah.

Kesatuan itu menurut Quraish memiliki tiga arti.

"Pertama, kesatuan seluruh makhluk karena semua makhluk kendati berbeda-beda namun semua diciptakan dan di bawah kendali Allah," ungkap Quraish.

Arti kedua adalah, karena semua manusia berasal dari tanah sehingga semua manusia harus dihormati kemanusiannya, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat walau mereka durhaka.

IMNU Tegal

"Memang jika ada manusia yang menyebarkan teror, mencegah tegaknya keadilan, menempuh jalan yang bukan jalan kedamaian, maka kemanusiaan harus mencegahnya," jelas Quraish.

Arti ketiga adalah kesatuan bangsa meski berbeda agama, suku, kepercayaan maupun pandangan politik.

"Mereka semua bersaudara, berkedududukan sama dari kebangsaan. Kesadaran tentang kesatuan dan persatuan itulah yang mengharuskan kita duduk bersama bermusyawarah demi kemaslahanan dan itulah makna kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan," tambah Quraish. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal RMI NU, Pertandingan IMNU Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Danial Tandjung: Berbeda Pendapat Bukan Berarti Bermusuhan

Di tengah riuh ramai peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-88 Nahdlatul Ulama di gedung PBNU Jalan Kramat Raya No 164 Jakarta Pusat (31/1), Jum’at malam, hadir seorang mantan aktivis NU era 1960-an. Dialah Haji Muhammad Danial Tandjung (80). Dilihat dari sorot matanya yang tajam namun teduh dan pancaran wajahnya yang cerah, bisa ditebak sosok yang masih gagah di usia senjanya ini bukan orang biasa.

Sesaat sebelum wawancara dengan IMNU Tegal, pria kelahiran Nias tahun 1934 ini duduk menikmati makan malam di dekat tim marawis. Tampak dari wajahnya yang sumringah, ia asyik menikmati sholawatan sembari sesekali berbincang akrab dengan Katib Syuriah KH Mujib Qulyubi yang diikuti dua putrinya yang cerdas dan aktif.

Berikut ini petikan wawancara Musthofa Asrori dari IMNU Tegal dengan eksponen NU yang meniti karir organisasinya sejak muda ini.

Danial Tandjung: Berbeda Pendapat Bukan Berarti Bermusuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Danial Tandjung: Berbeda Pendapat Bukan Berarti Bermusuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Danial Tandjung: Berbeda Pendapat Bukan Berarti Bermusuhan

Apa yang ada dalam pemikiran Pak Danial tentang NU hari ini?

Mmm... Saya nggak tau yaa.. Bahwa malam ini merasa terharu dan gembira menyaksikan para kader NU antargenerasi bisa duduk bersama. Saya bangga melihat Kiai Said Aqil Siraj duduk sama rendah dengan Kiai Hasyim Muzadi, Kiai Masdar Farid Mas’udi, Pak As’ad Said Ali, Ali Masykur Musa, Marzuki Ali dan beberapa tokoh lainnya bersama perwakilan keturunan para pendiri NU, mulai Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Hasbullah, Mbah Bisri Syansuri, Kiai Djamaluddin Malik, hingga H Asrul Sani, dan yang lainnya.

Sejak kapan Anda aktif di organisasi Nahdlatul Ulama?

IMNU Tegal

Saya aktif di organisasi Nahdlatul Ulama dan underbow-nya semisal PMII dan Pandu Ansor (sekarang Gerakan Pemuda Ansor-red) sejak muda belia. Saya meniti karir dari bawah hingga akhirnya saya bergabung di PBNU era KH Idham Cholid. Jabatan terakhir yang saya sandang adalah wakil bendahara umum.

Apa yang menarik dari gaya kepemimpinan Idham Cholid? Tanggapan Anda..

IMNU Tegal

Menurut saya, Pak Idham itu tokoh kharismatik dan politisi ulung yang matang dan mau berproses. Selama hampir 26 tahun beliau memimpin NU, tidak ada anaknya yang jadi pengurus NU, jadi anggota DPR pun tak ada. Itulah mengapa saya sangat mengidolakan beliau.

Mengapa Anda mengidolakan Kiai Idham?

Bagi saya, Pak Idham adalah tokoh yang merakyat dan bersahaja. Suatu ketika, ada kiai yang mau menghadap kepada beliau. Padahal beliau sedang menggelar rapat kabinet di kantor Perdana Menteri di Pejambon. Waktu itu, Pak Idham kan menjabat sebagai Waperdam (Wakil Perdana Menteri-red) IV di Kabinet Dwikora II. Waperdam I Dr Subandrio, Waperdam II Dr J Leimena, dan Waperdam III Chaerul Saleh. Nah, tak lama kemudian, masuklah ajudan memberitahu bahwa ada tamu seorang kiai dari Jawa Timur. Dengan tanpa berpikir panjang, Pak Idham mengiyakan. Kemudian, untuk sejenak meninggalkan rapat untuk menemui kiai tersebut.

Koleganya sesama menteri pun sontak menegur Idham Khalid. “Pak Idham ini bagaimana, ada rapat kabinet membicarakan masalah negara yang begitu penting kok malah ditinggal nemuin tamu,” kata salah seorang kawan Idham di kabinet. Tapi, Pak Idham pun menyanggah. “Dia datang ke sini jauh-jauh kan pasti ada sesuatu yang penting. Mana tahu apa yang dia sampaikan bisa kita jadikan bahan rapat kabinet. Ingat, kita duduk di sini karena mewakili suara mereka. Kalau tidak kita dengar, apa yang mau kita bawa,” begitu kata Pak Idham.

Pelajaran penting apakah yang harus diketahui kader NU masa kini?

Ada pelajaran penting untuk para aktivis NU ke depan. Ketika Idham Khalid memimpin PBNU, oposisi atau faksi yang beragam mengelilinginya. Hingga batas tertentu, oposisinya cenderung keras sekali. Pada Muktamar NU di Bandung, misalnya, sebetulnya para kader muda NU sudah merasa bosan dengan kepemimpinan Pak Idham. Pertama yang dilakukan adalah mengganti Rais Aam KH A Wahab Hasbullah dengan wakilnya, yaitu KH Bisri Syansuri. Pada waktu pemilihan berhasil, laporlah seorang panitia kepada Kiai Bisri bahwa Rais Aam terpilih adalah KH Bisri Syansuri.

Kakek Gus Dur dari ibu ini pun lantas mengatakan, “Saya berbeda pendapat dengan Kiai Wahab itu bukan untuk menggantikan beliau. Berbeda pendapat itu untuk mencari kebenaran. Saya tidak bersedia menjadi Rais Aam selama masih ada beliau.” Kiai Bisri dengan tegas bilang begitu.

Artinya apa itu..?

(Ia pun dengan semangat terus bercerita)

Pada saat pemilu, kader-kader muda NU potensial banyak yang disiapkan menjadi pengurus PBNU. Antara lain Imron Rosyadi, faksi yang berseberangan dengan Idham Khalid. Mendengar Imron tidak terdaftar, Idham segera mengambil langkah politis. “Sekarang begini, ambil dua kursi di depan pintu masuk ruang sidang, nanti kami berdua (Idham-Imran) akan berbincang akrab di situ.” Yang disuruh Pak Idham pun lantas segera melakukan apa yang dikatakannya tadi. Nah, dari sandiwara itu kemudian terpilihlah Imran Rosyadi sebagai pengurus.

Artinya apa itu..?

Artinya ya dalam organisasi kita mesti cerdas memilah antara beda pendapat dengan bermusuhan. Sekarang ini kan tidak. Umpamanya Anda faksi yang berbeda dengan saya. Lalu, saya terpilih jadi ketua umum. Sudah pasti, Anda dan faksi-faksi yang berseberangan dengan saya pasti terlibas (dari kabinet-red). Inilah penyakit berorganisasi pada masa sekarang ini.

Apakah Anda melihat hal tersebut juga menggejala di organisasi yang lain? Semisal parpol begitu?

Apalagi partai politik. Kebanyakan elit politik sekarang ini tak lagi memiliki spirit sebagaimana saat saya berorganisasi dulu. Idealisme yang diperjuangkan ketika menjadi aktivis telah luntur. Para elit masa kini kan jika berbeda pendapat sedikit saja langsung main jegal, “menggunting” di lipatan, dan saling mencari muka di hadapan pimpinan. Menurut saya, kader-kader muda partai tersebut bisa dibilang tak memiliki akar ideologi yang kuat. Makanya, gampang padam.

Idealnya, parpol tak hanya sekadar pemasok calon anggota dewan dan calon presiden, namun dia musti memahami esensi peranannya bagi bangsa dan negara, yakni memakmurkan rakyat yang diwakilinya. Hari ini bisa kita saksikan secara kasat mata, betapa politisi kita dalam berpolitik sungguh mengkhawatirkan. Semua kebijakan yang dikeluarkan nyaris berujung kepada money politic (politik uang).

Saran dan harapan Anda bagi kader NU ke depan?

Para aktivis NU sejatinya tak jauh beda dengan politisi, dalam arti pengkaderannya. Jadi, politisi itu menjadi anggota dan kader dulu di partai politik sebelum menjadi pejabat publik. Di parpol kan ada latihan kader yang berisi tentang bagaimana arah ideologi partai, visi, wacana, dan strategi dalam pembangunan bangsa. Di sinilah seorang politikus akan bersaing dan saling beradu wacana demi satu tujuan, yaitu membangun bangsa yang lebih baik.

Kader partai yang memang benar-benar kapabel dan mumpuni baru akan diterjunkan menjadi pejabat publik. Dengan kata lain, kader partai yang akan menjadi pejabat publik benar-benar orang yang memiliki kualitas, integritas, dan telah melewati jenjang keorganisasian yang layak. Bukan seperti sekarang yang karena uang dan popularitas. Nah, aktivis NU juga demikian. Mestinya dia melewati kaderisasi yang berjenjang kayak zaman saya muda dulu.

Terima kasih atas pandangan dan nasihatnya, Pak Danial..

Ya, sama-sama. Saling mendoakan yaa.. Doakan saya sehat dan bisa bermanfaat bagi semua. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pertandingan, IMNU IMNU Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Kiai Dilibatkan Lawan HIV/AIDS

Jakarta, IMNU Tegal. Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) mendorong kiai-kiai di jajaran Syuriyah NU dari berbagai wilayah untuk mengadakan bahtsul masail terkait persoalan HIV/AIDS.

Keterlibatan kiai dianggap perlu untuk mengatasi persoalan HIV/AIDS yang semakin memperihatinkan. “Baru kali ini, NU melibatkan Syuriyah di 33 wilayah NU di Indonesia untuk membahas HIV/AIDS,” kata Kang Said Aqil Siroj, Ketum PBNU saat jumpa pers dengan tajuk ‘Jihad Kyai NU Melawan AIDS’ di aula lantai lima Gedung PBNU, jalan Kramat Raya nomor 164, Selasa (9/10) sore.

Kiai Dilibatkan Lawan HIV/AIDS (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Dilibatkan Lawan HIV/AIDS (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Dilibatkan Lawan HIV/AIDS

LKNU menilai persoalan HIV/AIDS tidak hanya persoalan kesehatan, tetapi juga persoalan sosial. LKNU mendapati banyak kasus diskriminasi masyarakat terhadap pengidap positif HIV. Orang dengan HIV/AIDS, ODHA, sering dikucilkan di tengah lingkungannya.

IMNU Tegal

Menurut ilmu kesehatan, pengucilan itu tidak menyelesaikan persoalan HIV/AIDS. Interaksi itu sendiri tidak mengakibatkan penularan. Tindakan pengucilan seperti ini sudah bukan lagi sikap wajar masyarakat.

Dari sini, peran kiai NU sangat dibutuhkan. Kiai dengan pengetahuannya, akan menetapkan persoalan hukum keagamaan terkait HIV/AIDS. Selain itu, para kiai juga mengimbau masyarakat untuk memperlakukan pengidap ODHA secara wajar.

IMNU Tegal

Kang Said mengajak masyarakat untuk ambil bagian dalam jihad melawan HIV. Menurutnya, HIV/AIDS ini sama bahaya dengan kekuatan nuklir. Karena, virus HIV dapat menyerang siapa pun tanpa memandang agama, suku, usia, jenis kelamin, dan golongan.

Di hadapan sedikitnya 15 kiai Syuriyah, Kang Said memperingatkan umat Islam yang tidak peduli dengan persoalan banyak orang. Ketum PBNU ini sempat menyebutkan hadits Nabi Muhammad SAW bersabda, “Bukan umatku, mereka yang tidak peduli dengan permasalahan kita.”

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pertandingan, Nasional IMNU Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Ramadhan, Pemkab Brebes Kembali Gelar Kunjungan Desa

Brebes, IMNU Tegal - Hari pertama puasa, Bupati Brebes Hj Idza Priyanti menggelar Safari Jelajah Desa Hebat (Sajadah) di bulan Ramadhan 1437 Hijriyah. Kegiatan tahunan di bulan Ramadhan ini dilakukan sebagai ajang silaturahmi mendekatkan diri antara ulama dan umara serta umat.

“Kerja gotong-royong antara ulama, umara, dan umat bisa meningkatkan pembangunan di segala bidang, terutama pembangunan rohani,” terang Bupati saat menggelar Sajadah di Masjid Nurul Hikmah Desa Banjarannyar Kecamatan Brebes, Senin (6/6) malam.

Ramadhan, Pemkab Brebes Kembali Gelar Kunjungan Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, Pemkab Brebes Kembali Gelar Kunjungan Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, Pemkab Brebes Kembali Gelar Kunjungan Desa

Sebagai daerah yang agamis, lanjutnya, pembangunan rohani mendapat perhatian yang penuh dari Pemkab. Maka dari itu, enam pilar pembangunan Kabupaten Brebes memasukan program program yang menyentuh rohani menjadi prioritas utama.

IMNU Tegal

Di antaranya memberikan bisyarah atau stimulant untuk guru ngaji, imam masjid dan mushalla, hafizh-hafizhah, dai-daiyah dan pengasuh pesantren. Program ini terbukti mampu menggairahkan semangat kerja sama dalam membangun umat. “Ulama, kiai dan tokoh agama lainnya sangat berperan dalam pembangunan Kabupaten Brebes,” ungkap Idza.

Dalam kesempatan ini, Bupati juga menjelaskan tentang pentingnya peningkatan sektor pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Ketiga bidang tersebut diupayakan terus peningkatannya dalam rangka mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia.

IMNU Tegal

Orang tua juga diminta untuk menjaga anak-anaknya dari kekerasan terhadap anak dan perempuan. Idza mendukung penuh kalau pelaku kejahatan seksual dan tindak kekerasan terhadap anak dan perempuan dihukun berat. “Pantau terus anak-anak kita, apalagi di saat liburan sekolah,”

Menjelang Idhul Fitri jalan tol Brebes Timur sudah dioperasikan sehingga masyarakat Brebes harus menyambut dengan gembira namun juga berhati-hati karena di eksit tol Pejagan maupun Banjaranyar akan terjadi lonjakan kepadatan kendaraan. “Kita harus sambut tamu-tamu kita dengan ramah, juga bisa menjajakan jajanan khas Brebes kepada para pelancong atau pemudik,” tuturnya.

Gelar Sajadah hari pertama diisi dengan buka puasa bersama, sholat maghrib berjamaah, shalat isya dan tarawih berjamaah serta seremonial dan ceramah agama. Shalat isya dan tarawih dipimpin Imam Masjid Nurul Hikmah Banjaranyar KH Umar Amrullah. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pondok Pesantren, Pertandingan IMNU Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Menjawab Problematika Kehidupan Warga NU

Dalam kehidupan ini, kita tidak akan lepas dari berbagai persoalan yang tentunya bisa datang kapan saja dan dimana saja. Begitupula dengan solusinya, tentu sudah ada ketentuan. Jika ada persoalan, sudah barang tentu ada solusinya. Namun, tidak semua orang mudah menemukan solusi dari suatu problem kehidupan yang dihadapinya. Khususnya terkait dengan aktivitas sehari-hari yang ada kiatannya dengan ibadah warga NU dan masyarakat pada umumnya. Meskipun menemukan jawaban dari persoalan yang dihadapi, kadang-kadang perasaan masih was-was atau ragu-ragu. Maka dari itu, kita membutuhkan suatu penguat dari jawaban tersebut. Tentunya dengan cara berbagi atau bertanya kepada orang yang mumpuni.

Buku ini hadir di tengah-tengah kita sebagai pegangan hidup agar tidak selalu dilanda keraguan untuk membuat suatu tindakan sesuai dengan syari’at Islam. Dengan sistem tanya-jawab, buku ini akan memudahkan pembaca untuk memahami tentang persoalan yang pernah terjadi di lingkungan masyarakat yang disertai dengan jawaban serta solusinya. Misalkan persoalan yang berkaitan dengan akidah, seperti persoalan seputar qadla dan qadar, taubatnya orang murtad, dan hukum pelarungan (hlm. 1).

Menjawab Problematika Kehidupan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjawab Problematika Kehidupan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjawab Problematika Kehidupan Warga NU

Inisiatif KH Marzuqi Mustamar dalam melayani umat untuk memberikan solusi mengenai problematika hukum dan aktivitas sehari-hari masyarakat yang berkaitan dengan ibadah perlu kita apreasi. Dengan jawaban dan solusi-solusi yang diberikan oleh KH Marzuqi, sedikit banyak akan memberikan sebuah pencerahan bagi kita semua. Berbagai persoalan akan segera ditemukan jawaban dan alasan-alasan yang menjadi hujjah dari ide dan gagasan yang dilontarkan olehnya.

IMNU Tegal

Secara umum, pertanyaan-pertanyaan dalam buku ini selalu kita dengar dari masyarakat. Padahal sudah banyak keterangan-keterangan yang menjelaskannya. Namun, kemungkinan karena masyarakat terlalu sibuk dengan aktivitas sehari-harinya, akhirnya masyarakat banyak yang tertinggal mengenai hukum-hukum yang semestinya diketahui. Sehingga, sebagai alternatif, buku ini akan menutupi celah masyarakat yang seakan terlalu sibuk. Dengan begitu, kita tidak akan merasa tertinggal dan bertanya kembali dengan pertanyaan yang sama dari penanya-penanya sebelumnya.

IMNU Tegal

Solusi hukum Islam yang disampaikan oleh KH. Marzuqi Mustamar melalui buku ini sangatlah sederhana, tidak berbelit-belit dengan teori-teori berat yang jauh dari praktek. Ulasan buku ini lebih realistis untuk bisa kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan banyak kita jumpai dalam berbagai aktivitas yang kita lakukan atau orang lain yang melakukannya.

Sudah barang tentu kita tahu, tentang jimat, rajah, dan berbagai jenis mantra serta jenis-jenisnya. Hal-hal seperti ini selalu menjadi ganjalan dalam hal aktivitas dan hal-hal yang berkaitan dengan ibadah sehari-hari. Tentunya ada pihak yang tak memperbolehkan menggunakan jimat, rajah, atau benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan di nalar manusia. Namun, tentu ada pula yang memperbolehkan untuk menggunakannya dengan alasan yang jelas dan rasional. Hal ini yang menjadi sorotan dan bahasan menarik dalam buku ini (hlm. 202).

Segala macam persoalan dijawab dengan penuh jemawa mulai hal-hal yang sepeleh hingga persoalan yang memerlukan daya kekuatan otak untuk berpikir lebih tajam dan tepat. Misalkan tentang persoalan dzikir yang menggunakan bahasa Arab, mengumandangkan talbiyah di luar Tanah Haram, dan bertakbir di luar Hari Raya. Entah itu pertanyaan remeh temeh atau berat, dengan tangkas dan penuh peduli mendapat respon dan jawaban yang sesuai dengan syari’at yang berlaku dalam aturan Islam, yang jelas buku ini hadir demi kemaslahatan bagi masyarakat secara umum sebagaimana tujuan utama agama Islam terlahir ke dunia ini.

Bahkan menariknya, model tanya jawab yang disajikan seakan-akan pembaca berbicara langsung dengan sang penulis. Sehingga pemahaman mengenai penjelasan yang disampaikan lebih mudah dimengerti dan tak tampak ada penghalang sedikitpun. Sebuah kreasi yang jarang dilakukan oleh banyak penulis, toh meskipun ada hanya bisa dihitung dengan jari tangan saja.

Kehadiran buku ini bukan semata untuk menjawab problematika kehidupan warga NU dan masyarakat secara luas yang terfokus pada persoalan ibadah belaka, namun juga sampai pada persoalan yang modern di era yang lebih maju pun disajikan dengan begitu sempurna. Secara menyeluruh, buku ini membahas tentang akidah dan Al-Qur’an, shalat dan zakat, puasa Ramadhan dan persoalan mengenai nabi, pernikahan, dan segala macam persoalan yang pernah dirasakan oleh masyarakat warga NU dan masyarakat secara luas. Sehingga, buku ini bisa menjadi wakil untuk memberikan jalan alternatif agar kebuntuan tentang hukum suatu ibadah atau aktivitas sehari-hari menemukan jalan keluar.

Data Buku

Judul : Solusi Hukum Islam Bersama Kiai Marzuqi Mustamar

Penulis : KH. Marzuqi Mustamar

Penerbit : Muara Progresif

Cetakan : I, September 2014

Tebal : xvi + 267 hal. 14,5 x 21 cm

ISBN: 978-602-14738-4-9

Peresensi : Fauzan, Kader Muda NU dan Pegiat Ikatan Pemuda dan Pemudi Nahdlatul Ulama (IPPNU) UIN Sunan Ampel, Surabaya 

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal IMNU, Pertandingan, RMI NU IMNU Tegal

Kang Said: Semua Amalan NU Ada Dalilnya

Jakarta, IMNU Tegal. Warga NU harus bangga dan mantap dengan semua amalan atau tradisi keagamaan yang dijalankan. Tak perlu menghiraukan kicauan kelompok yang gemar menuding bid’ah karena semua amalan dan tradisi itu ada dalilnya.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyampaikan hal itu di hadapan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta dalam kegiatan Kuliah Umum di Aula gedung PBNU, Kamis (17/10).

Kang Said: Semua Amalan NU Ada Dalilnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Semua Amalan NU Ada Dalilnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Semua Amalan NU Ada Dalilnya

Kang Said, memulai penjelasan dengan membahas bab Sunnah Nabi. Dijelaskannya, sunnah itu terbagi menjadi 3 bagian, yaitu sunnah qauliyah (ucapan), sunnah fi`liyah (perilaku/pekerjaan) dan sunnah taqririyyah (pembenaran).

Ia menekankan penjelasan tentang sunnah taqririyah. “Kalau yang melakukan itu orang lain dan telah mendapatkan pembenaran dari Rasulullah, mendapat legitimasi, maka menjadi sunnah taqririyyah,” jelasnya.

“Contoh, sahabat Bilal setelah wudlu melakukan shalat dua rakaat lalu ? Nabi malah tanya itu, shalat apa Bilal? Shalat ba’diyah wudu. Lalu kata Nabi, ya kamu benar, ayo kita menjalankan itu,” papar Kang Said di hadapan ratusan mahasiswa STAINU Jakarta.

IMNU Tegal

Contoh yang paling penting, lanjut Kang Said, banyak sahabat yang memberikan pujian dan sanjungan kepada Rasulullah, lalu Rasulullah membenarkan hal itu, padahal Rasulullah tidak pernah memuji diri sendiri dan tidak pernah memberikan perintah itu. Ketika para sahabat memuji dan menyanjung Rasulullah, beliau membenarkan, seandainya hal itu tidak benar, pasti Rasulullah melarangnya.

“Contoh ada seorang penyair namanya Ka`ab Bin Zuhair memuji-muji Nabi setinggi langit, engkau orang hebat, engkau orang mulia, orang engkau orang yang gagah berani, engkau orang luar biasa,” tukas Kang Sadi sambil membaca syi`irnya Ka`ab Bin Zuhair

IMNU Tegal

Kalau memuji-muji itu salah, tambah Kang Said, itu pasti dilarang. Rasulullah tidak melarangnya malahan Ka`ab Bin Zuhair diberi kenang-kenangan berupa selimut bergaris-garis (burdah) yang sedang dipakai oleh Rasulullah.

“Kalau nggak percaya, selimut itu masih ada di Museum Topkapi, Istambul, Turki, fakta masih ada, saya dua kali sudah lihat, jadi memuji-muji Nabi Muhammad, baca Diba, Barjanzi, Syarfulanam, Simtudduror, Burdah lilbusaeri, itu sunnah, bukan bid`ah!” tegasnya

Untuk memantapkan penjelasan sunnah taqririyah ini, Kang Said melanjutkannya dengan persoalan tawasul. Diceritakan, Suku Mudhar sedang dilanda paceklik selama 7 tahun karena tidak ada air, tidak ada gandum, untuk mengatasi hal itu tokoh-tokoh Suku Mudhar yang dipimpin oleh Labid Bin Rabi`ah datang menghadap kepada Rasulullah di Madinah, Rasulullah pun bertanya kepada rombongan ini.

“Ada apa datang kemari? Ataina, kami datang kepadamu, litarhamana, agar Engkau merahmati kami, jadi orang ini minta rahmat sama Rasulullah, bukan sama Allah. Kalau salah, pasti dilarang, enggak tuh, enggak dilarang,” tegas Kang Said seraya membaca syiiran Arab yang dibawakan oleh suku Mudhar tersebut.

Setelah mendapat penjelasan dari suku Mudhar ini, Nabi Muhammad kemudian berdoa kepada Allah agar segera menurunkan hujan di daerah suku Mudhar itu, hujan yang membawa rezeki dan berkah, bukan hujan banjir dan membawa malapetaka. Tidak lama kemudian rombongan suku Mudhar pulang, sebelum mereka sampai di? rumahnya masing-masing, di sana sudah turun hujan.

“Kalau mau tahu sejarah ini baca Al-Kamil fittarikh lil imam ibnil Atsir, 13 jilid, Tarikhul umam walmuluk Abu Ja`far Ibnu Jarir Athabari, 10 jilid, Tarikhul hadhar Islamiyah, Prof. Dr. Ahmad Syalabi, 9 jilid, Tarikh Ibnu Khaldun, 14 Jilid, baru tahu cerita ini, maka minta pada Allah lewat Nabi Muhammad itu sunnah, bukan bid`ah,” imbuhnya.

Untuk itu, Kang Said, menegaskan kepada para mahasiswa untuk tetap bangga menjadi warga NU, karena semua amalan-amalan warga NU memiliki dalil-dalil yang kuat. (Aiz Luthfi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pertandingan IMNU Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Aher Buka Konferensi Wilayah IPPNU Jabar

Karawang, IMNU Tegal - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) resmi membuka Konferensi Wilayah (Konferwil) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Barat XV di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 3, Cilamaya, Karawang, Sabtu (26/11) sore. Aher dalam kesempatan ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk senantiasa mempersiapkan diri menghadapi perkembangan zaman.

"Hari ini negara-negara di Asia sudah menunjukkan kekuatannya, dimulai dari Jepang, Korea, dan China. Indonesia, harusnya sudah siap menghadapi kemajuan itu," ujar Aher.

Aher Buka Konferensi Wilayah IPPNU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)
Aher Buka Konferensi Wilayah IPPNU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)

Aher Buka Konferensi Wilayah IPPNU Jabar

Kemajuan negara-negara Asia itu tidak lepas dari komitmentnya dalam menyejahterakan masyarakatnya.

"Inilah kemudian hari ini kita terus berupaya bagaimana bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat seperti yang tertera dalam sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia," tegasnya.

IMNU Tegal

Selain kesejahteraan sosial, Aher berkomitmen untuk bisa mencerdaskan masyarakat, baik mental maupun spiritual.

IMNU Tegal

"Sebagaimana tuntunan Nabi SAW bahwa mencari ilmu hukumnya wajib. Kita berupaya memberikan akses agar masyarakat bisa menikmati mencari ilmu tersebut," pungkasnya.

Hadir dalam pembukaan Konferwil Ketua KPUD Jawa Barat Yayat Hidayat, Ketua PWNU Jawa Barat KH Hasan Nuri Hidayatullah, Ketua GP Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haidar, dan Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana. (Ade Mahmudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Meme Islam, Nahdlatul, Pertandingan IMNU Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

Tatacara Shalat Sunah di Atas Kendaraan

Mengingat bahwa di era modern ini mobilitas seseorang sangat tinggi dari satu daerah ke daerah lain, maka bagi seorang Muslim, memahami tatacara shalat dalam perjalanan menjadi penting. Hal ini untuk tetap mampu menjaga shalat wajib ataupun shalat lain yang sudah menjadi rutinitas.

Di masyarakat kita, sembahyang dhuha adalah salah satu amalan yang banyak dilakukan dan bahkan ada yang merutinkan. Berdasarkan beberapa sumber fikih, hukum shalat dhuha ini adalah dianjurkan (mustahab).

Tatacara Shalat Sunah di Atas Kendaraan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tatacara Shalat Sunah di Atas Kendaraan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tatacara Shalat Sunah di Atas Kendaraan

Pertanyaannya, bagaimana melakukan shalat-shalat sunah yang dianjurkan ini saat berkendara di perjalanan? Dalam suatu riwayat dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah disebutkan oleh Jabir bin Abdillah melakukan shalat sunnah di atas kendaraan, tanpa menghadap kiblat.

? ? -? ? ? ?- ? ? ? ? ? ? ? ?

IMNU Tegal

IMNU Tegal

Artinya, “Nabi Muhammad SAW shalat tathawwu’ (sunah) saat beliau sedang berkendara, tanpa menghadap arah kiblat.”

Kisah lain menuturkan, suatu ketika sahabat Anas bin Malik RA sedang menuju Syam. Ia disambut oleh warga setempat. Tapi warga tersebut, yang dalam Irsyadus Sari li Syarhi Shahihil Bukhari karya Imam Al-Qasthalani adalah saudara dari Muhammad bin Sirin seorang tokoh tabi’in, melihat Anas bin Malik shalat mengendarai keledai, tapi wajahnya tidak menghadap kiblat.

“Aku melihatmu shalat, tapi tidak menghadap kiblat,”

“Kalau aku tidak melihat Nabi melakukan seperti itu, aku tidak akan melakukannya juga,” terang Anas bin Malik.

Dari dua riwayat ini, kasus bapak sepuh yang ditemui Jumari tadi menemui maksudnya. Shalat sunah di kendaraan, meskipun tidak menghadap kiblat, itu boleh dilakukan. Selain itu, pelaksanaannya pun bisa dilakukan sesuai kondisi yang ada, seperti dilakukan dengan duduk dan tanpa wudhu, yakni hanya dengan bertayamum. Tapi ingat, ini untuk shalat sunah saja.

Untuk menjaga keamanan berkendara, jangan melakukan hal seperti ini saat mengemudi kendaraan di jalanan atau menjadi sopir. Shalat sunah apapun bisa dilakukan semisal Anda ingin sembahyang saat naik dokar, angkot, bus sambil dibonceng di motor, dan sebagainya, sekiranya nyaman dan tidak berlebihan. Wallahu a’lam. (M Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pertandingan IMNU Tegal

Wakil Bupati Tegal: Jual Gelang, Kalung Demi NU

Tegal, IMNU Tegal. Wakil Bupati Tegal Umi Azizah menegaskan pentingnya memperhatikan dunia pendidikan NU. Karena lewat pendidikan, pengkaderan NU bisa terus berjalan. Untuk pengkaderan, bila perlu jual cincin, gelang, kalung emas untuk pembiayaan pendidikan NU. Pengorbanan tersebut, telah dicontohkan oleh Nahdliyin di wilayah bagian timur sehingga pendidikan di bawah naungan Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU maju dengan pesat.?

Wakil Bupati Tegal: Jual Gelang, Kalung Demi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Wakil Bupati Tegal: Jual Gelang, Kalung Demi NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Wakil Bupati Tegal: Jual Gelang, Kalung Demi NU

Demikian disampaikan Umi Azizah saat membuka Rapat Kerja Cabang 1 dan Pengukuhan Pengurus Lembaga Pendidikan Maarif NU Cabang Kabupaten Tegal, masa khidmat tahun 2016-2021.

“Kalau perlu, kita jual gelang kalung demi sekolah NU, demi mewujudkan LP Maarif NU Kabupaten Tegal yang profesional, unggul dan tangguh (pro umat),” ajak Umi Azizah dihadapan peserta Rakercab di Gedung NU Tegal, Jalan Raya Procot Slawi, Sabtu (21/1/17).

Diakui oleh Umi yang juga Ketua Muslimat NU Kabupaten Tegal, belum semua Nahdliyin di Kabupaten Tegal menaruh kepercayaan kepada sekolah NU. Namun demikian, akhir akhir ini mengalami perkembangan yang signifikan. Pengurus baru, diharapkan mampu melakukan terobosan-terobosan jitu untuk menangkap keinginan masyarakat bahwa sekolah di NU tidak kalah dengan sekolah-sekolah yang lain.

IMNU Tegal

“Pengkaderan paling jitu lewat jalur pendidikan, baik formal maupun nonformal. Maka LP Maarif NU harus menangkap itu sebagai tugas mulia meskipun berat,” ucapnya.

Selaku pimpinan daerah, pemerintahan Umi-Enthus telah memberi perhatian penuh pada guru guru swasta dengan menggelontorkan biaya stimulant. Sehingga ada semangat bagi guru-guru di bawah naungan LP Maarif yang mayoritas swasta. Pemerintah tahu, kalau pendidikan adalah kunci perubahan dan guru menjadi pembukanya.

Umi juga menyarankan kepada Maarif untuk memberi pengertian kepada peserta didiknya agar saat melanjutkan ke perguruan tinggi tidak hanya mengambil jurusan agama saja. Perlu persebaran pendidikan, sehigga anak-anak NU tidak hanya bergelar SPd, SPdI, SAg saja.?

Disamping itu, lanjutnya, LP Maarif seyogyanya bisa menciptakan keunggulan daerah dalam pendidikan. Seperti di Pare-Kediri, ada Kampong Inggris. “Di Tegal, cobalah kita buat Keunggulan kampung matematika atau kampung Al-Quran dan sesuai dengan kesepatan bersama yang bisa menjadi destinasi wisata intelektual,” ajaknya.?

IMNU Tegal

Kelemahan masih sedikitnya SDM di Tegal akibat minimnya perguruan tinggi juga perlu disikapi bersama. Pasalnya, biaya kuliah dengan biaya penghidupan di luar kota jauh lebih besar. Jadi kalau di daerah kita ada perguruan tinggi yang mumpuni, otomatis anak-anak NU bisa sekolah yang tinggi-tinggi.?

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Pimpinan Wilayah (PW) LP Maarif Prov Jateng Agus Sofuan Hadi melantik kepengurusan PC LP Maarif Kabupaten Tegal periode 2016-2021. Pengurus yang dilantik antara lain Ketua Al Fatah, Sekretaris Amroji dan Bendahara Imamuddin.?

Tampak hadir dalam Rakercab dan Pelantikan, para utusan Pengurus MWC Maarif se Kabupaten Tegal, Kepala Sekolah SD/MI. SMP/MTs, SMA/SMK/MA di bawah naungan LP Maarif serta jajaran PC LP Maarif NU Kabupaten Tegal. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pondok Pesantren, Kajian Islam, Pertandingan IMNU Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Kitab Ahkamul Fukoha akan Diselaraskan

Jakarta, IMNU Tegal. Kitab Ahkamul Fukoha yang berisi solusi problematika aktual hukum Islam berdasarkan keputusan muktamar, munas dan konbes NU dari tahun 1926-2004 akan diselaraskan isinya, terutama sumber rujukannya.

Rais Syuriyah PBNU KH Hafidz Utsman menjelaskan dalam keputusan-keputusan tentang hukum fikih tersebut, belum disebutkan rujukannya secara jelas. “Kadang-kadang hanya disebutkan sumbernya kitab “anu” tanpa memberikan keterangan tambahan kitab tersebut karangan siapa, halaman berapa dan dicetak tahun berapa,” tuturnya, Selasa.

Kitab Ahkamul Fukoha akan Diselaraskan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kitab Ahkamul Fukoha akan Diselaraskan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kitab Ahkamul Fukoha akan Diselaraskan

Namun ia memastikan bahwa penyelarasan ini tidak merubah hasil keputusan yang sudah diambil karena sifatnya hanya memberikan informasi tambahan dasar pengambilan keputusan tersebut yang memungkinkan orang lain dapat menelurusi sumbernya.

Untuk melakukan penyerasian ini, PBNU telah membentuk tim tersendiri yang diketuai oleh KH Hafidz Utsman dengan anggota KH Zakky Anwar, KH Sadid Djauhari, KH Arwani Faisal, KH Ghozali Said, Dr. Suyuthi Nasution dan Cholil Nafis.

Tim ini diberi waktu selama 6 bulan untuk mengkaji dan mencari sumber rujukan keputusan muktamar, munas dan konbes NU serta beberapa koreksi lainnya.

Ditanya mengenai siapa yang berhak mencetak kitab yang kini laris manis ini, Kiai Hafidz menjelaskan bahwa hal tersebut belum dibicarakan. Saat ini, kitab tersebut dicetak oleh penerbit Diantama bekerjasama dengan Lembaga Ta’lief wan Nasr. Sebelumnya keputusan-keputusan hukum NU dalam berbagai versi pernah dicetak oleh Penerbit Menara Kudus dan Rabithah Maahid Islamiyah.

IMNU Tegal

Versi kali ini merupakan yang paling lengkap karena berusaha memuat seluruh keputusan NU dari tahun 1926 meskipun masih terdapat 6 keputusan muktamar yang sampai saat ini belum berhasil ditelusuri. Ghozali Said, pengurus PP Lembaga Bahtsul Masail menjelaskan bahwa ia sudah berusaha mencari kemana-mana bagian dari keputusan NU yang hilang tersebut. Ia sampai mencarinya ke perpustakaan di Belanda, namun hanya memperoleh salinan untuk satu kali muktamar.

Dikatakannya bahwa keputusan-keputusan yang sampai saat ini belum ketemu tersebut terjadi pada saat NU masih menjadi partai politik, yaitu pada tahun 1960-an yang mana pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh NU sangat didominasi oleh nuansa politik. (mkf)

IMNU Tegal



Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pertandingan, Halaqoh, Sholawat IMNU Tegal

Makna Selembar Bendera

Selembar bendera berlambang NU yang dibuat secara manual pada tahun 1962 masih tersimpan rapi di kediamaan KH Thola’ Al-Badr Karim, pengasuh Pesantren Al-Karimiyah, Pungangan, Patokbeusi, Subang, Jawa Barat. ?

Bendera yang berukuran 150 cm x 60 cm itu berwarna hijau tua dengan lafadh Nahdlatul Ulama dalam huruf Arab warna putih. Di bawah lambang itu tertulis “Tjabang NU Subang”.?

Makna Selembar Bendera (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Selembar Bendera (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Selembar Bendera

Kata cabang masih ditulis “tjabang” karena aturan “tj” menjadi “c” diberlakukan sejak tahun 1972 dalam aturan Ejaan Yang Disempurnakan. Sementara kata “NU” sudah tidak lagi “NO” karena pada tahun 1947 pun sudah diubah.

Bendera tersebut milik pribadi Mama Ajengan KH Syamsuddin. Kata “mama” adalah panggilan akrab “rama” yang berarti ayah. Sebagaimana di Jawa, penyematan “mama”, digunakan juga kepada tokoh agama, di samping untuk ayah.?

Mama Syamsuddin adalah tokoh NU di MWC Pabuaran, ketika Subang masih menjadi bagian Kabupaten Purwakarta. Ia adalah tokoh agama yang lari dari Garut karena tidak mau menerima tawaran bergabung menjadi bagian DI/TII. Kemudian ia tinggal daerah Subang, dan bekerja di perkebunan tebu.

IMNU Tegal

Kendati ia menyembunyikan diri, karena prilakunya berbeda dengan pekerja lain, lama kelamaan ia tercium juga sebagai seorang ahli agama. Kemudian ia diambil warga Pungangan untuk mengajar masyarakat. ?

Menurut Kiai Thola’ Al-Badr Karim bendera dibuat oleh kakeknya sendiri, Mama Syamsuddin dengan alat tulis kapas. Selain itu, sambil puasa juga. Bahkan bendera terebut pernah “dijiad” atau diberi bacaan-bacaan bertuah oleh kiai di Buntet.

Kemudian bendera tersebut disimpan di kamar pribadi Mama Syamsuddin. ? Setelah ia wafat, bendera itu raib tanpa jejak.

IMNU Tegal

Bertahun-tahun Kiai Thola’ Al-Badr Karim mencari bendera itu. Usahanya membuahkan hasil sebelum bulan puasa tahun ini. Bendera tersebut rupanya diamanatkan kepada Kiai Munir, seorang santri Mama Syamsuddin.

Selain itu, KH Thola’ Al-Badr juga menyimpan dua surat dan satu SK struktur kepengurusan NU Kabupaten Subang pada tahun 1979. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Berita, Kiai, Pertandingan IMNU Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

PB Kopri: Kekerasan terhadap Perempuan di Indonesia Masih Tinggi

Jakarta, IMNU Tegal

Peringatan Hari Perdamaian Internasional setiap 21 September sudah dilakukan selama dua dekade. Peringatan tersebut ditetapkan pada tahun 1981 oleh Majelis Umum PBB melalui Resolusi Nomor 55/282. Terkait Hari Perdamaian Internasional, Ketua Pengurus Besar Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB Kopri), Septi Rahmawati menilai masih banyak kasus kekerasan terhadap perempuan. 

PB Kopri: Kekerasan terhadap Perempuan di Indonesia Masih Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
PB Kopri: Kekerasan terhadap Perempuan di Indonesia Masih Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

PB Kopri: Kekerasan terhadap Perempuan di Indonesia Masih Tinggi

"Berdasarkan data yang ada, kasus kekerasan pada perempuan masih cukup tinggi. Terutama kasus yang terjadi di Indonesia," kata Septi, Kamis (21/9).

Pada 2016, urai Septi, terjadi sebanyak 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani oleh Komnas Perempuan. Dari angka itu sebanyak 245.548 kasus bersumber pada data kasus/perkara yang ditangani oleh 359 Pengadilan Agama. Sisanya13.602 kasus ditangani oleh 233 lembaga mitra pengada layanan. Jumlah tersebut merata di 34 provinsi di Indonesia.





IMNU Tegal

Diakui olehnya, hidup damai  menjadi  harapan setiap manusia. Manusia harus saling menghargai, menyayangi, dan berbagi.  

"Untuk itu sebagai organisasi perempuan, Kopri tegas memerangi kasus kekerasan terhadap perempuan," tegasnya.

Melalui pendidikan, kekerasan terhadap perempuan dapat diperangi. Sebab, pendidikan merupakan upaya penyadaran kepada masyarakat. Selain itu untuk memeranginya, para perempuan harus sudah merdeka sejak dalam pikiran.

Hal tersebut diharapkan menjadi langkah nyata yang bisa ditempuh oleh pemerintah untuk mengurangi jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan.  

IMNU Tegal

Septi menyebut, kisah Nabi Muhammad SAW yang telah menginspirasi seluruh dunia dalam perdamaian yang sesungguhnya di tengah kondisi masyarakat yang kala itu masih jahilliyah.

"Begitu juga tokoh Bunda Teresa, hadir menginspirasi banyak perempuan dunia. Menyayangi sesama akan memberikan kekuatan dan perdamaian," pungkasnya. (Nita Nurdiani Putri/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pertandingan, RMI NU IMNU Tegal

Kamis, 30 November 2017

Surat yang Disunahkan Dibaca Saat Shalat Hari Jum’at

Jum’at termasuk hari yang dimuliakan dalam Islam. Bahkan, dalam hadits riwayat Ibnu Majah disebutkan, “Hari Jum’at adalah hari raya yang dijadikan Allah SWT untuk umat Islam.”

Ada banyak keutamaan dan manfaat bila mengerjakan amaliyah sunah Jum’at. Sebab itu, Rasulullah menganjurkan memperbanyak ibadah dan melakukan amalan sunah di hari Jum’at.

Surat yang Disunahkan Dibaca Saat Shalat Hari Jum’at (Sumber Gambar : Nu Online)
Surat yang Disunahkan Dibaca Saat Shalat Hari Jum’at (Sumber Gambar : Nu Online)

Surat yang Disunahkan Dibaca Saat Shalat Hari Jum’at

Di antara amalan sunah yang dianjurkan di hari Jum’at ialah membaca surat-surat tertentu pada saat shalat lima waktu, khususnya shalat Jum’at. Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in menjelaskan,

IMNU Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? {?} [? ?] {? ?} [? ?] ? ? ? ? ? ? ? {? ?} [? ?] ? ? {? ?} [? ?] ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

IMNU Tegal

Artinya, “Disunahkan bagi orang yang hadir (menetap) membaca surat Al-Jumu’ah dan Al-Munafiqun, atau surat Al-A’la dan surat Al-Ghasyiyah saat shalat Jum’at dan shalat Isya hari Jum’at. Dianjurkan pula membaca surat As-Sajdah dan surat Al-insan pada shalat Shubuh dan membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas saat shalat Maghrib di hari Jum’at. Sementara bagi musafir dianjurkan membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas saat shalat Shubuh di hari Jum’at dan selainnya.”

Berdasarkan penjelasan Zainuddin Al-Malibari di atas dapat dipahami bahwa pada saat shalat Shubuh di hari Jum’at disunahkan membaca surat As-Sajdah dan surat Al-Insan. Lebih afdhal lagi bila shalat Shubuh dilakukan secara berjamaah sembari membaca dua surat itu.

Pada shalat Jum’at, dianjurkan membaca surat Al-Jumu’ah dan Al-Munafiqun, atau membaca surat Al-A’la dan Al-Ghasyiyah. Kedua surat ini juga dianjurkan membacanya ketika shalat Isya hari Jum’at. Sementara surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas disunahkan membacanya saat shalat Maghrib.

Orang yang sedang berpergian jauh, atau musafir disunahkan membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas pada saat shalat Shubuh di hari Jum’at. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kajian Islam, Pertandingan, Tokoh IMNU Tegal

Jumat, 24 November 2017

Wiranto Ingatkan Peran Penting Tokoh Islam terhadap Kelahiran Pancasila

Jakarta, IMNU Tegal. Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto mengingatkan tentang peranan penting para tokoh-tokoh Islam terdahulu yang telah melahirkan Pancasila yang kemudian pada 1 Juni ditetapkan sebagai hari kelahiran Pancasila.?

“Tapi bukan soal lahirnya, (melainkan) prosesnya yang penting,” kata Wiranto saat menjadi tamu pada peringatan Harlah ke-5 Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) di lantai 8, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (1/6).

Wiranto menjelaskan bahwa proses melahirkan Pancasila itu melibatkan tokoh-tokoh Islam yang notabene masih sangat muda, tetapi memiliki pemikiran yang bijak, dan jauh ke depan.

Wiranto Ingatkan Peran Penting Tokoh Islam terhadap Kelahiran Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Wiranto Ingatkan Peran Penting Tokoh Islam terhadap Kelahiran Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Wiranto Ingatkan Peran Penting Tokoh Islam terhadap Kelahiran Pancasila

Selain itu, lanjutnya, semangat nasionalisme yang diungkapkan dalam sikap toleransi yang menyebabkan negara ini menjadi satu.

“Kalau toleransi itu tidak ada dari tokoh-tokoh Islam zaman dulu, Indonesia tidak ada,” kata Wiranto.?

Menurut panglima TNI periode 1998-1999 ini, kalau masyarakat Islam memaksakan diri menjadikan negara ini sebagai negara Islam, maka sangat memungkinkan karena umat Islam merupakan mayoritas.?

IMNU Tegal

“Tapi kesadaran itu yang menentukan bahwa Nusantara ini memang kodratnya itu dari Allah beragam, beraneka ragam,” ujar pria kelahiran Jogjakarta ini.?

Wiranto menyesalkan, setelah bertahun-tahun Indonesia merdeka dan menjadikan Pancasila sebagai dasar negara, tiba-tiba muncul kelompok yang ingin merusak warisan tersebut. Padahal, merawat warisan itu cukup mudah karena karena para pendahulu telah melahirkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.?

“Kok sekarang ini tinggal merawat untuk melahirkan keadilan sosial dikorek-korek,” katanya terheran-heran. (Husni Sahal/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Pertandingan IMNU Tegal

Kamis, 23 November 2017

LKSB Adakan Dialog Interaktif Kebangsaan di SMAN 26 Jakarta

Jakarta, IMNU Tegal. Sebagian banyak remaja kita merasa terasing dan antisosial (individualistis) dengan kehidupan nyata (bermasyarakat). Fenomena sosial ini cukup mengkhawatirkan. Terutama berbicara masa depan Indonesia. Mungkin pernyataan ini terlalu berlebihan.

Tetapi faktanya, banyak laporan di media bahwa orang-orang muda dan remaja Indonesia mulai terasing dari negerinya sendiri, terasing dari lingkungan tempatnya ia tinggal, terasing dari nilai-nilai dasar kemanusiaannya, terasing dan tercerabut dari akar tradisi budayanya. 

Hal itu diutarakan Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) Abdul Ghopur saat memberi materi pada Dialog Interaktif Kebangsaan di SMAN 26 Jakarta, Jumat (29/9).

LKSB Adakan Dialog Interaktif Kebangsaan di SMAN 26 Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
LKSB Adakan Dialog Interaktif Kebangsaan di SMAN 26 Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

LKSB Adakan Dialog Interaktif Kebangsaan di SMAN 26 Jakarta

Intelektual muda NU ini menilai, generasi muda terasing karena ketidakhadiran pemerintah di tengah penderitaan rakyat yang tak kunjung berhenti. Kita pun menyaksikan sebagian besar masyarakat khususnya remaja banyak yang menjadi kaum abai. 

Para remaja banyak yang sudah tak perduli lagi satu sama lainnya. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak ada lagi tegur sapa satu sama lainya, tidak ada lagi orang mengenal tetangga rumahnya sendiri, apalagi mengenal RT sebelah.

“Singkatnya, bangunan sosial budaya masyarakat Indonesia menjadi sangat individualistis dan rapuh,” tegasnya di depan ratusan siswa yang memadati ruang kegiatan.

IMNU Tegal

Ia merefleksi, akan seperti itukah cerminan dan wajah Indonesia ke depan? Apakah kita benar-benar menuju Indonesia yang baru, atau hanya mimpi?

IMNU Tegal

“Karena sebagai bangsa kita punya “mimpi” suatu saat di masa depan, akan ada negara yang menakjubkan dan makmur di mana rakyat hidup damai dan bahagia, suatu negara demokratis yang menjunjung tinggi supremasi hukum dan menghormati sepenuhnya hak asasi manusia,” jelas Ghopur. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pertandingan, Halaqoh IMNU Tegal

Jumat, 17 November 2017

Ingin Terus Dapat Pahala, Lakukan Hal Kecil Ini!

Ketika kebutuhan hidup manusia terpenuhi oleh alam, manusia tidak perlu susah-susah membuat dan mengolah makanan. Manusia cukup mengambil dari alam karena alam banyak menyediakan kebutuhan manusia, terutama makanan. Makanan itu antara lain buah-buahan dan binatang buruan.

Kehidupan awal manusia sangat tergantung dari alam. Ketika alam sudah tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup manusia, yang disebabkan populasi manusia bertambah dan sumber daya alam berkurang, maka manusia mulai memikirkan bagaimana dapat menghasilkan makanan.

Ingin Terus Dapat Pahala, Lakukan Hal Kecil Ini! (Sumber Gambar : Nu Online)
Ingin Terus Dapat Pahala, Lakukan Hal Kecil Ini! (Sumber Gambar : Nu Online)

Ingin Terus Dapat Pahala, Lakukan Hal Kecil Ini!

Oleh karena itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

IMNU Tegal

?

Artinya: “Siapa yang menanam tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan anak Adam (manusia) atau makhluk Allah lainnya, niscaya baginya (pahala) sedekah “ (HR. Muslim)

IMNU Tegal

Sabda tersebut menggerakkan para sahabat Nabi untuk melakukan penghijauan. Diceritakan, Abu Darda radliyallahu ‘anhu pernah menanam pohon zaitun ketika usianya sudah senja. Padahal, untuk menghasilkan buah pohon tersebut membutuhkan waktu cukup lama.

Abu Darda pun ditegur seseorang perihal kegiatannya ini. “Kenapa Engkau menanam pohon zaitun, padahal pohon tersebut lama berbuah sementara usiamu sudah tua, wahai Abu Darda?”

“Tidak menjadi persoalan pohon yang saya tanam berbuah ketika saya sudah meninggal, tapi nanti yang menikmati anak cucu saya,” jelas Abu Darda.

Abu Darda pun melanjutkan penjelasannya,? “Anak cucu saya akan mendoakan, dan doanya sampai ke kuburan saya.” (Ahmad Rosyidi)

(Disarikan dari kitab Ahubbuhum Anfa’uhum karya Dr.? Imad Ali Abd Abdusam’i Husani)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pertandingan, Pendidikan, Ulama IMNU Tegal

Kamis, 09 November 2017

STAINU Jakarta Serah Terima Pimpinan Baru

Jakarta, IMNU Tegal. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta mengadakan serah terima jabatan dan pengukuhan pimpinan baru periode 2014-2019 di ruang rapat kantor PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (8/7). Pengukuhan dilakukan langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

STAINU Jakarta Serah Terima Pimpinan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Serah Terima Pimpinan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Serah Terima Pimpinan Baru

Dalam serahterima itu ketua STAINU yang lama KH Mujib Qulyubi yang naik menjadi ketua Badan Pelaksana Perguruan Tinggi Nahdaltul Ulama (BPPTNU) digantikan oleh Syahrizal Syarif PhD.? Ia didapingi oleh empat wakil ketua yakni Imam Buhori, Arif Rahman, Ahmad Nurul Huda dan Aris Adi Leksono.

“Sebelum kita punya presiden baru, kita sudah punya ketua baru,” kata KH Mujib Qulyubi berseloroh.

IMNU Tegal

Ia mengatakan, sesuai dengan keputusan PBNU, semua perguruan tinggi di lingkungan NU sudah harus bernaung di bawah badan hukum organisasi NU. Selama ini beberapa perguruan tinggi di lingkungan NU masih bernaung di bawah yayasan masing-masing.

Karena itu Yayasan Perguruan Tinggi NU Jakarta telah berubah menjadi BPPTNU. “Ini yang pertama dan diharapkan menjadi pilot project untuk seluruh perguruan tinggi di lingkungan NU,” katanya yang didampingi Sekretaris BPPT H Sulthon Fathoni.

IMNU Tegal

Ketua Umum PBNU usai mengukuhkan pimpinan baru STAINU mengingatkan, perguruan tinggi NU mengemban amanat melestarikan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). “Para dosen di STAINU harus tahu apa itu Aswaja NU,” katanya.

Diingatkan bahwa STAINU Jakarta yang sedang berproses menjadi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) harus memegang empat prinsip yakni ta’lim (pengajaran), tadris (pengamalan), ta’dib (kedisiplinan), dan tarbiyah (pengelolaan dan pengembangan).

Serah terima dan pengukuhan langsung dianjutkan dengan rapat pimpinan. “Mari kita mulai bekerja,” kata Ketua STAINU baru, Syahrizal Syarif. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pahlawan, RMI NU, Pertandingan IMNU Tegal

Senin, 23 Oktober 2017

Ribuan Warga NTB Rencanakan Aksi Damai Tolak 5 Hari Sekolah

Mataram, IMNU Tegal - Peraturan Mentri Pendidkan dan kebudayaan tentang Full Day School (FDS) atau 8 jam per hari serta? lima hari sekolah mendapat? respon keras penolakan dari GP Ansor NTB bersama keluarga besar Nahdlatul Ulama setempat. Rencananya mereka akan melakukan aksi damai besar-besaran bersama ribuan santri serta banom-banom yang ada di lingkungan NU.

Hal ini disampaikan oleh Ketua GP Ansor NTB H Zamroni Aziz kepada IMNU Tegal di Mataram, Kamis (10/8).

Ribuan Warga NTB Rencanakan Aksi Damai Tolak 5 Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga NTB Rencanakan Aksi Damai Tolak 5 Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga NTB Rencanakan Aksi Damai Tolak 5 Hari Sekolah

GP Ansor NTB rencananya bersama ribuan warga NU termasuk para pimpinan pesantren, madrasah-madrasah, mahasiswa, pemuda, Banser, PMII, IPNU, IPPNU, Fatayat, Muslimat dan yang lainnya, akan melakukan aksi besar-besaran menolak Full Day School.

IMNU Tegal

"Aksi ini akan kami lakukan sebagai bentuk protes keras kebijakan FDS yang akan diterapkan. Sudah jelas dan tegas kami menolak kebijakan Mendikbud RI Muhadjir," kata Kasubag Humas Kanwil Kemenag Provinsi NTB ini.

IMNU Tegal

Pihaknya ini sedang berkoordinasi dan melakukan persiapan untuk aksi menolak kebijakan Full Day School bersama ribuan santri untuk turun aksi di Kota Mataram.

Rencana aksi besar-besaran akan diadakan pada Rabu 16 Agustus 2017 mendatang. Hal ini merupakan bagian dari amanah instruksi PBNU kepada seluruh pengurus wilayah hingga ranting serta banom NU di seluruh Indonesia atas kebijakan Permendikbud No 23 tahun 2017 tentang hari sekolah yang merugikan dan mengancam eksistenis madrasah diniyah.

Di samping itu pihaknya juga menegaskan akan mendesak pemerintah di masing-masing daerah (Gubernur, Walikota, dan Bupati) untuk menolak Permendikbud No 23 tahun 2017 itu.

"Sesuai instruksi dari PBNU, maka kami dari keluarga besar NU NTB berencana menggelar aksi damai untuk menolak Permendikbud 23 tahun 2017 tentang hari sekolah itu," tutupnya. (Hadi/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pertandingan, AlaSantri, Hikmah IMNU Tegal

13 Negara Siap Ikuti Musabaqah Al Quran dan Hadits

Jakarta, IMNU Tegal. Sebanyak 82 peserta dari 13 negara di ASEAN, Asia Tengah dan Pasifik, siap mengikuti Musabaqah Hafalan Al-Quran dan Hadits Internasional Pangeran Sultan Bin Abdul Aziz ke-6 yang diselenggarakan di Masjid Istiqlal Jakarta, mulai 23-26 Maret 2015.

13 Negara Siap Ikuti Musabaqah Al Quran dan Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)
13 Negara Siap Ikuti Musabaqah Al Quran dan Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)

13 Negara Siap Ikuti Musabaqah Al Quran dan Hadits

“Ada 18 negara yang diundang, alhamdulillah yang bisa hadir 13 negara. Jumlah peserta yang hadir ada 82 peserta,” kata Ketua Panitia Pelaksana, Dr. Shobah Surur Syamsi, di Jakarta, Selasa (24/3). Peserta berasal dari Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Philipina, Thailand, Myammar, Kamboja, Kazakhstan, Tajikistan, Kyrgyz, Australia dan New Zealand serta tuan rumah Indonesia.

Shobah menjelaskan, peserta  akan berkompetisi dalam 5 cabang perlombaan, yakni Hafalan Al-Quran 30 Juz, 20 Juz, 15 Juz dan 10 Juz, serta hafalan 500 Hadist. “Juri yang akan menilai para peserta seluruhnya berasal dari Lembaga Musabaqah Internasional dari Arab Saudi,” jelasnya.

IMNU Tegal

Menurut Shobah, untuk musabaqoh tingkat ASEAN, Asia Tengah dan Pasifik ini panitia telah menyiapkan hadiah berupa uang tunai dan ibadah Haji bagi seluruh pemenang. Meski diadakan di Indonesia, namun, Shobah menjamin netralitas penyelenggara.

“Pemenangnya nanti ada 15 pemenang karena ada 5 cabang, masing-masing juara 1, 2 dan 3. Para juara akan mendapatkan hadiah berupa uang,” tambah Shobah. Dijelaskan lebih lanjut untuk juara 1, sebesar 16ribu real atau sekitar Rp 48 juta dan Ibadah Haji untuk seluruh pemenang.

IMNU Tegal

Diharapkan, melalui kegiatan ini para peserta semakin bersemangat untuk terus meningkatkan kemampuan mereka. Selain itu, melalui kegiatan ini pula, kerjasama antar negara-negara juga dapat dieratkan.

“Tujuan acara ini, antar negara peserta, kan ada negara yang besar, ada yang kecil, ada negara maju dan berkembang, semuanya diharapkan ada kerjasama dan saling tolong menolong. Selain itu, dapat menjadi pemersatu dan menjadi kekuatan islam,” terang Shobah.

Duta Besar Arab Saudi Mustofa Mubarak yang hadir menyaksikan musabaqah hafalan Al Quran dan Hadits tingkat nasional beberapa waktu lalu mengatakan pelaksanaan musabaqah diikuti pelajar atau mahasiswa dari berbagai negara, didanai oleh Pangeran Sultan Bin Abdul Aziz. “Saat ini Pangeran Sultan telah wafat pendanaan dilanjutkan oleh putranya Pangeran Khalid Bin Sultan,” kata Dubes Mustofa.

Menurut Dubes, musabaqah ini menunjukan kerjasama Indonesia dengan Arab Saudi semakin erat khususnya dalam pengembangan dakwah Islam. “Kegiatan ini juga memberi semangat kepada peserta dan masyarakat dalam menggiatkan Al Quran,” pungkas Mustafa. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Santri, Kajian, Pertandingan IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock