Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

KH Hasyim, Ulama yang Satukan Islam dan Kebangsaan

Jakarta, IMNU Tegal. Kiai Hasyim Asy’ari merupakan ulama yang berhasil menggabungkan antara nilai keislaman dan kebangsaan. Inilah yang mampu melahirkan Indonesia seperti yang ada saat ini dengan NU sebagai salah satu penopang utamanya dalam menjaga Islam dan kebangsaan ini.?

“Kalau di Eropa, nasionalisme jadi ideologi. Kalau kita, ideologinya ahlusunnah wal jamaah spiritnya nasionalisme, ruhnya wathaniah, tapi ideologi kita aswaja,” kata Kiai Said Aqil Jum’at (3/7).

KH Hasyim, Ulama yang Satukan Islam dan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim, Ulama yang Satukan Islam dan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim, Ulama yang Satukan Islam dan Kebangsaan

Ternyata rumusan tersebut sangat luar biasa dalam mewujudkan Indonesia yang damai. Di Timur Tengah ada perang saudara, sama Islamnya, sama mazhabnya tetapi mereka tidak punya komitmen nasionalisme.?

IMNU Tegal

Kiai Said menjelaskan dalam sebuah seminar di Jerman, para peserta ? pada keheranan bagaimana umat Islam di Indonesia mampu menggabungkan antara ketuhanan dan keadilan sosial. Dimata mereka, ketuhanan merupakan urusan pribadi sementara keadilan menjadi urusan masyarakat.?

Dengan konsep integrasi Islam dan kebangsaa ini, meskipun ada konflik, mampu dilokalisir dan diminimalisir sebagaimana terjadi di Madura dan Puger antara Sunni dan Syiah, tetapi relatif bisa dilokalisir dan diselesaikan relatif cepat. Di Timur Tengah sampai saat ini, konflik yang melanda Irak, Suriah, Mesir, Yaman dan lainnya sudah berlangsung selama bertahun-tahun dan tak jelas kapan bisa selesai.?

“Kalau disana, kalau sudah konflik, bisa melebar dari ujung ke ujung karena fanatisme kesukuan masih sangat tebal. Belum menyatu dalam kebangsaan. Setiap ada konflik politik, pasti ada konflik suku seperti di Yaman sekarang.”?

IMNU Tegal

Ia menilai kondisi damai di Indonesia salah satunya berkat visi kebangsaan dan keislaman moderat yang dimiliki oleh NU.

“Karena kita tidak hanya tekstual hadist saja, tetapi juga menerima argumen logis. Ini hasil ijtihad kreatifitas KH Hasyim Asy’ari sebelum membangun NU dan NKRI ini.” (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kajian Sunnah, Tokoh IMNU Tegal

Minggu, 18 Februari 2018

Satu Jamaah Haji Brebes Tidak Pulang

Brebes, IMNU Tegal. Kepulangan jamaah haji Indonesia asal Brebes ternyata tidak lengkap, karena salah satu jamaah meninggal dunia. Satu orang lagi tertinggal dan lima orang pulang cepat. 

Namun pada intinya, semua proses perjalanan haji dari Kabupaten Brebes berjalan lancar dan sukses. Hal tersebut disampaikan Kepala Seksi penyelenggara haji dan umrah (garahaju) Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kab Brebes H Moh Aqso. 

Satu Jamaah Haji Brebes Tidak Pulang (Sumber Gambar : Nu Online)
Satu Jamaah Haji Brebes Tidak Pulang (Sumber Gambar : Nu Online)

Satu Jamaah Haji Brebes Tidak Pulang

“Alhamdulillah, semalam pukul 22.00 jamaah kita sudah sampai di Islamic Center dan dijemput masing-masing keluarga,” terang di kantornya, Rabu (28/11).

IMNU Tegal

Lebih jauh Aqso menerangkan, jamaah yang meninggal dunia bernama Khodijah bin Maksudi (72) warga Slatri Rt 4 Rw I, Kec Larangan Brebes. Dia meninggal pada tanggal 12 Nopember lalu di Mekkah Arab Saudi karena sakit pada pukul 10.30 waktu setempat. 

IMNU Tegal

Sementara yang pulang cepat akibat sakit Khudori Sudaryo Carsiyem dan Ruisah Wastap Asy’ari keduanya warga Tegalglagah Rt 05/09 bulakamba Brebes, Darwen (Bantarkawung), Kartem (Paguyangan) dan Sofi suami dari Khodijah.

Sedangkkan seorang lagi Muslihah Ahmad tidak bisa pulang bersama-sama dengan kloter Brebes karena masih terbaring sakit di RS Hira Mekkah. “Mereka yang pulang cepat, sudah memenuhi rukun haji, tapi karena kondisinya tidak memungkinkan maka dipulangkan bersama kloter sebelumnya,” bebernya.

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Wasdiun

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tokoh, Pendidikan, AlaSantri IMNU Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Makna Hari Kartini di Mata Para Pelajar NU Kudus

Kudus, IMNU Tegal. Hari Kartini yang selalu diperingati setiap 21 April lebih dari sekadar berkebaya ria atau perayaan sejenis lainnya. Hari Kartini adalah momentum menghayati, meneladani, dan meneruskan perjuangan RA Kartini yang telah mengangkat harkat dan martabat wanita Indonesia.

Makna Hari Kartini di Mata Para Pelajar NU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Hari Kartini di Mata Para Pelajar NU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Hari Kartini di Mata Para Pelajar NU Kudus

Demikian rangkuman dari pandangan beberapa? pelajar madrasah NU di Kudus yang dihubungi IMNU Tegal terkait makna hari peringatan Hari Kartini yang tahun ini jatuh pada hari Selasa (21/4) kemarin.

Menurut pelajar SMANU Al-Maruf Riska Rahayu Lestari, hari kartini bukan hanya sebagai hari penghormatan pahlawan emansipasi wanita ini namun juga merupakan momen dimulainya revolusi kedudukan kaum wanita.

IMNU Tegal

"Munculnya RA Kartini, wanita mulai diberi kesempatan yang? lebih luas untuk menggenggam dunianya, khususnya lewat pendidikan yang menjadi aspek penentu kedudukan seseorang," ujarnya.

Ketua Pimpinan Komisariat (PK) IPPNU Al-Maruf ini menegaskan, Hari Kartini telah menjadi semangat baru wanita Indonesia untuk menyuarakan kedudukan dan perannya, bukan sebagai konco wingking (di belakang) kaum lelaki. Wanita mempunyai impian untuk menggenggam dunia dengan cara mereka sendiri.

?

IMNU Tegal

"Namun tetap digarisbawahi bahwa hari kartini bukan hari di mana kodrat wanita lebih tinggi daripada lelaki. Tetapi lebih? kepada wanita punya tangan sendiri," kata Riska.

?

Siswi MANU Muallimat Inas Arna Ramaddhani mengutarakan, kemeriahan Hari Kartini bermakna mengenang jasa tokoh kelahiran Jepara yang telah memperjuangakan kaum wanita dengan mengembalikan harkat dan martabatnya.

?

"Hal itu juga bagian untuk instrospeksi diri apakah kita ini sudah mampu? untuk menjadi Kartini masa kini? atau tidak, termasuk siapkah sebagai Kartini-Kartini sejati di masa depan?" ujar Inas yang juga ketua Forkapik IPNU-IPPNU Kudus.

?

Senada dengan Inas, siswi MANU Nurussalam Besito Gebog Amalia Sholikhah menilai RA Kartini telah menjadikan wanita tidak dipandang remeh. Adik RM Sosrokartono itu mampu menjadikan wanita mempunyai hak yang sama dengan laki-laki.

?

"Seperti halnya dulu wanita hanya di rumah mengerjakan pekerjaan rumah tetapi berkat jasa RA Kartini sekarang banyak wanita yang berkarir," katanya.

?

Jaga martabat wanita

?

Sementara siswi MANU Ibtidaul falah Samirejo Dawe Aang Riana Dewi mempunyai pandangan berbeda. Menurutnya, makna Kartini bukan terdapat pada perayaannya tetapi penghayatan atas perjuangannya.

"Sebab, RA Kartini telah memang memperjuangkan derajat wanita. Tetapi fenomena yang terjadi (sekarang) wanita (masih) cenderung dilecehkan.Terbukti dari banyaknya kasus kriminal yang menimpa kaum hawa," ungkapnya.

?

Lantas bagaimana meneladani perjuangan RA Kartini dalam konteks kekinian? Riana berpandangan kaum wanita harus menjaga harkat dan martabatnya seraya tidak merendahkan diri. ?

?

"Wanita harus menjaga pergaulannya, tidak terlalu bebas dan berlebihan. Dengan begitu, tidak akan diremehkan apalagi dilecehkan," kata wakil ketua OSIS MA Ibtidaul Falah ini.

?

Sedangkan Riska menyatakan, meneladani perjuangan RA Kartini mungkin sangat sulit. Tetapi sebagai pelajar, harus senantiasa memanfaatkan kesempatan pendidikan yang ada dan yang telah diperjuangkan RA Kartini guna mengembangkan dunia yang lebih luas.

?

"Pelajar wanita harus berpikir proaktif untuk perkembangan pendidikan ke depan dengan senantiasa berkarya? untuk memanfaatkan pendidikan. Pelajar wanita harus punya prinsip, belajar bukan karena formalitas tapi kebutuhan,"tandas siswi kelas XI SMANU AL-Maruf ini. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tokoh IMNU Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Bupati Brebes Sarankan Warga Desa Tak Terpesona Kota

Brebes, IMNU Tegal. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti menyarankan agar selepas Lebaran ini warga tidak terpesona dengan kota. Kemudian ikut-ikutan urbanisasi ke Jakarta tanpa memiliki bekal keterampilan cukup. Pasalnya, mengadu nasib ke ibu kota tidak segampang dalam angan-angan. Lebih baik bekerja di daerah sendiri dengan turut serta membangun masyarakat.

“Tak usah ikut-ikutan ke Jakarta bila tidak memiliki bekal keterampilan yang cukup,” sarannya pada sambutan Haul KH Syihabuddin dan haul massal serta halal bihalal desa Jagalempeni Kecamataman Brebes, Ahad (2/7).

Bupati Brebes Sarankan Warga Desa Tak Terpesona Kota (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes Sarankan Warga Desa Tak Terpesona Kota (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes Sarankan Warga Desa Tak Terpesona Kota

Idza meyakini, hidup di desa lebih sejahtera dan tenang. Jika memiliki inovasi dan kreativitas bisa disumbangsihkan kepada daerah.

IMNU Tegal

Dia juga menerangkan, di Brebes telah disediakan 10 ribu hektar untuk lahan industri dan sudah ada 38 investor yang tengah menyelesaikan pengurusan perizinannya.

IMNU Tegal

“Kabupaten Brebes pro investasi, jadi akan ada pergerakan perkembangan ekonomi yang signifikan,” tandasnya.

Sebagai pimpinan daerah, dirinya bertekad memperhatikan berbagai peluang usaha untuk warganya. Termasuk pembangunan infrastruktur jalan yang terus diselesaikan hingga tahun kelima.

“Tahun kelima ini, insyaallah infrastruktur jalan di Brebes bisa rampung dan akan dilanjutkan dengan periode II dengan pembangunan yang seimbang antara pembangunan jasmani dan rohani,” terangnya.

Dalam kesepatan tersebut, Idza juga menyambut baik tradisi budaya masyarakat desa yang kental dengan gotong-royong dalam pembangunan. Terbukti berbagai kegiatan keagamaan, pembangunan tempat tempat ibadah, maupun sarana dan prasana pendidikan banyak yang dilakukan dengan dukungan gotong royong.

Atas nama pribadi maupun pemerintah, Bupati meminta maaf kepada masyarakat Brebes khususnya desa Jagalempeni.

Ketua Panitia Haul dan Halal Bihalal, Fahrizal Julian Pratama menjelaskan, haul dan halal bihalal menjadi kebiasaan masyarakat Jagalempeni. Dalam haul tersebut, terkumpul dana gotong royong lebih dari Rp 13 juta untuk 6 ribu arwah. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Fragmen, Tokoh, Kajian IMNU Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Kemendes Kembangkan Konsep Transmigrasi Nelayan dan Penyangga

Jakarta, IMNU Tegal. Sejak zaman orde baru, konsep transmigrasi identik dengan pola agraris, konsep pertanian dan perkebunan pun lebih banyak dikembangkan di beberapa kawasan transmigrasi. Namun, di era pemerintahan saat ini dengan visi ke maritimannya, juga mulai menggarap pola transmigrasi dengan konsep nelayan.

Kemendes Kembangkan Konsep Transmigrasi Nelayan dan Penyangga (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemendes Kembangkan Konsep Transmigrasi Nelayan dan Penyangga (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemendes Kembangkan Konsep Transmigrasi Nelayan dan Penyangga

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Marwan Jafar menjelaskan bahwa kawasan pantai potensial untuk pengembangan pola nelayan tangkap ikan dan budidaya. Oleh karena itu, kawasan tersebut akan dikembangkan menjadi kawasan pemukiman dengan konsep nelayan.

"Berbeda dengan kawasan transmigrasi lain yang mayoritas mengembangkan konsep pertanian dan perkebunan," ujar ? Marwan, di Jakarta, Selasa (21/6).

Salah satu kawasan yang coba ingin dikembangkan menjadi kawasan transmigrasi dengan konsep nelayan, salah satunya adalah kawasan Paguyaman Pantai Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo menjadi salah satu prioritas pembangunan transmigrasi tahun ini.?

IMNU Tegal

Berdasarkan studi Rencana Teknis Satuan Pemukiman Transmigrasi (RTSP), imbuh Marwan, kawasan tersebut potensial untuk 1000 KK (Kepala Keluarga). Oleh karen itu, ? Kemendesa PDTT di Tahun 2015 telah membangun 100 unit rumah transmigran dan telah ditempatkan transmigrasn sebanyak 65 KK (225) jiwa.

"Sisa rumah yang belum ditempati akan segera dipenuhi pada tahun 2016. Transmigran yang akan ditempatkan adalah transmigran dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat," ujarnya.

Untuk tahun ini, Marwan menjelaskan akan membangun 75 unit rumah dan akan menempatkan transmigran sebanyak 75 KK. Transmigran tersebut meliputi Transmigran Penduduk Asal (TPA) dan Transmigran Penduduk Setempat (TPS). Selain transmigrasi dengan konsep nelayan, Marwan juga akan menerapkan pola transmigrasi lokal yang menempatkan para transmigran tidak jauh dari perkotaan.

"Konsep yang berbeda juga akan diterapkan di Pulubala Kabupaten Gorontalo, yang mengembangkan konsepsi keterkaitan desa-kota. Pulubala adalah lokasi transmigrasi yang dibangun berdekatan dengan ibukota kabupaten Gorontalo, yang memiliki akses cukup baik dengan jarak kurang lebih 20 Kilometer dari Ibukota," tandasnya.

IMNU Tegal

Dengan konsep ini, diharapkan kawasan transmigran bisa menjadi hinterland kota, yang berfungsi sebagai buffer (penyangga) untuk mensuplai kebutuhan konsumsi pangan perkotaan. "Pulubala di Tahun 2015, telah dibangun hunian transmigrasi sebanyak 150 unit rumah, dan diimplementasikan transmigran sebanyak 90 KK (360 jiwa). Rumah kosong sebanyak 60 unit, akan diberikan kepada transmigran dari daerah asal yakni Provinsi Lampung, Banten, DIY dan Jawa Timur. Sedangkan Tahun 2016, akan dibangun 25 unit rumah transmigran yang merupakan pemenuh sisa daya tamping, dan saat ini dalam tahap konstruksi," ujarnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nusantara, Tokoh IMNU Tegal

Ini Cara Memakmurkan Masjid

Masjid merupakan tempat yang paling sakral bagi umat Islam sebab tempat ibadah seluruh umat Islam. Selain difungsikan sebagai tempat ibadah, masjid juga digunakan untuk kegiatan sosial, dakwah, dan belajar agama.

Islam menganjurkan umatnya untuk memakmurkan dan meramaikan masjid. Dalam Surat At-Taubah ayat 18, Allah SWT menjelaskan bahwa yang memakmurkan masjid tersebut hanyalah orang-orang beriman pada hari akhir, mendirikan shalat, dan membayar zakat.

Ini Cara Memakmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Memakmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Memakmurkan Masjid

Syekh Muhammad Ali As-Shabuni dalam Rawai’ul Bayan: Tafsir Ayatul Ahkam menerangkan ada dua cara memakmurkan masjid. Ia  mengatakan:

IMNU Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?....? ?: ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sebagian ulama berpendapat bahwa memakmurkan masjid adalah dengan cara membangun, memperkuat, dan memperbaiki bangunan yang rusak. Sementara pandangan lain mengatakan, yang dimaksud memakmurkan masjid ialah mengerjakan shalat dan segala bentuk ibadah di masjid.”

IMNU Tegal

Ulama berbeda pendapat tentang maksud memakmurkan masjid (‘imaratul masajid): ada yang menekankan pada pembangunan dan perbaikan fisik masjid dan ada pula yang menekankan pada substansi pendirian masjid, yaitu sebagai tempat ibadah.

Kedua pendapat ini sebenarnya masuk dalam kategori ‘imaratul masajid (memakmurkan masjid). Menurut mayoritas ulama, yang dimaksud memakmurkan masjid itu adalah memperbanyak ibadah di dalamnya.

Jadi memakmurkan masjid tidak hanya dengan memperindah dan merenovasi bangunan masjid, tetapi juga memperbanyak ibadah dan mengerjakan shalat berjamaah di masjid. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah).

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Warta, Tokoh, Pesantren IMNU Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Menentukan Tujuan Berpuasa Sejak Dini

Bila Anda hendak pergi bermain ke Jakarta selama dua atau tiga hari lamanya, bagaimanakah Anda menyiapkan segala sesuatunya? Bila Anda hendak pergi ke Jakarta sebulan lamanya untuk satu keperluan bisnis yang menghasilkan keuntungan ratusan juta di mana di dalamnya Anda akan bertemu dengan orang-orang penting, bagimanakah Anda akan menyiapkan segala sesuatunya?

Tentunya jawaban atas kedua contoh soal di atas jauh berbeda. Pergi ke Jakarta selama dua tiga hari dengan keperluan sekadar bermain tak perlu bersusah payah mempersiapkan segalanya jauh-jauh hari. Tak harus membawa perbekalan yang banyak, uang yang berlebih, bakaian yang sangat bagus. Cukup biasa saja. Beli tiket bus atau kereta pada hari pemberangkatan, membawa uang yang cukup untuk makan dan keperluan lain selama dua atau tiga hari, dan berpakaian biasa saja yang pantas untuk sekadar bermain.

Menentukan Tujuan Berpuasa Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Menentukan Tujuan Berpuasa Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Menentukan Tujuan Berpuasa Sejak Dini

Tapi pergi ke Jakarta sebulan lamanya untuk satu keperluan bisnis yang menghasilkan keuntungan ratusan juta di mana di dalamnya Anda akan bertemu dengan orang-orang penting, tentu persiapan untuk melaksanakannya jauh lebih rumit dari yang pertama. Jauh-jauh hari mesti sudah membeli tiket, jangan sampai kehabisan karena bisa terlambat bertemu dengan rekanan dan jadwal bisnis jadi tak karuan. Pakaian yang dibawa pun mesti pakaian yang bagus yang layak dikenakan untuk pertemuan dengan orang-orang penting. Mesti menyiapkan banyak uang untuk hidup sebulan di sana. Dan persiapan lainnya harus diperhatikan agar keuntungan ratusan juta benar-benar dapat di raih.

IMNU Tegal

Dari gambaran kecil di atas dapat diambil satu pelajaran bahwa tujuan yang hendak dicapai seseorang akan sangat berpengaruh kepada proses mencapai tujuan tersebut. Seberapa mudah dan sulit, kecil dan besar, ringan dan berat suatu tujuan yang hendak dicapai akan berpengaruh pada proses mencapainya.

Demikian pula dengan puasa di bulan Ramadhan. Bagaimana proses menjalaninya akan sangat dipengaruhi oleh seberapa besar tujuan yang hendak dicapai oleh puasa itu. Bila seseorang berpuasa hanya karena merasa tidak enak dengan rekan sekantor yang pada berpuasa, maka ia akan menjalani ibadah puasanya sambil lalu saja. Bila seseorang berpuasa dengan motivasi sekadar menggugurkan kewajiban sebagai seorang muslim, maka bisa jadi ia akan menjalani puasanya dengan menahan lapar dan haus saja, sementara perilaku buruk yang bisa menghilangkan keutamaannya tetap ia lakukan. Dan bila seseorang melakukan puasanya dengan tujuan benar-benar ingin mendapat keridloan Tuhannya, maka ia akan menjalaninya sebaik mungkin, tidak hanya sekadar menahan haus dan lapar tapi juga menjaga diri dari perilaku-perilaku tercela yang tak disukai Tuhannya.

IMNU Tegal

Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183 Allah berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”

Dari ayat di atas tersurat sebuah harapan agar dengan berpuasa seorang mukmin akan selalu bertakwa kepada Allah SWT. Agar dengan berpuasa seseorang akan berpredikat sebagai muttaqin, orang yang bertakwa kepada Tuhannya. Inilah sebuah tujuan yang hendak dicapai dari diwajibkannya puasa di bulan Ramadhan.

Pertanyaannya adalah, apakah dengan berpuasa Ramadhan sebulan penuh maka dengan serta merta seseorang berpredikat sebagai muttaqin, orang yang bertakwa? Tentu saja tidak. Seorang yang bertakwa tentunya memiliki kriteria tertentu. Bila seorang yang berpuasa memiliki kriteria tersebut maka bisa jadi tujuan berpuasanya telah tercapai. Bila tidak, ya tidak.

Di dalam al-Qur’an ada banyak ayat yang menyebutkan beberapa kriteria orang yang bertakwa. Di antaranya adalah apa yang disebutkan oleh ayat 134 surat Al-Maidah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Yaitu orang-orang yang berinfak di saat senang dan susah, orang-orang yang menahan amarah, dan orang-orang yang memberi maaf kepada orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Ayat di atas menunjukkan tiga kriteria seorang yang bertakwa kepada Allah, yakni mau berinfak di kala suka dan duka, mampu menahan amarah, dan memberi maaf atas kesalahan orang lain.

Orang yang bertakwa memiliki perilaku mau menginfakkan hartanya pada kondisi apapun, baik saat senang atau susah, saat kaya atau sedang jatuh miskin, bahkan sementara ulama ada yang menafsirkan baik infaknya ia berikan kepada orang yang ia cintai maupun kepada orang yang ia benci (Baca, Abu Hayan al-Andalusi, Tafsir al-Bahrul Muhith [Beirut: Darul Fikr, 2005], jil. 3, hal. 346).

Orang yang bertakwa juga memiliki sikap mampu menahan rasa marah yang menggebu di dalam hati. Semestinya ia memiliki kemampuan untuk melampiaskan kemarahannya, namun ia lebih memilih untuk menahannya.

Ada yang menarik untuk dicermati dalam ayat itu membahasakan perilaku “menahan amarah”. Untuk menyebut “orang yang menahan amarah” ayat tersebut membahasakannya dengan kalimat al-kâdhimînal ghaidh. Kata al-kâdhimîn adalah bentuk jamak dari kata al-kâdhim yang berarti “yang menahan”. Yang menarik adalah kata ini satu akar kata dengan kata al-kadhîmah yang berarti “termos” (Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab – Indonesia [Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum, 1997], hal. 1509). Dari sini bisa dipahami bahwa seorang yang bertakwa mesti memiliki perilaku sebagaimana termos. Sepanas apapun air yang ada di dalam termos orang yang ada di dekatnya tak merasakan panasnya air tersebut. Demikian juga orang yang bertakwa. Sepanas apapun amarah yang membara di dalam hatinya ia mesti mampu menahan diri hingga orang yang di dekatnya tak tahu bahwa ia sedang marah.

Apakah orang yang bertakwa tak boleh marah? Tidak begitu. Orang yang bertakwa baru akan menumpahkan kemarahannya bila dirasa akan membawa manfaat yang nyata, sebagaimana termos hanya akan mengeluarkan air panasnya untuk sesuatu yang jelas manfaatnya.

Orang yang bertakwa juga berperilaku mudah memaafkan kesalahan orang lain. Memaafkan yang dalam bahasa Arab disebut ‘afwun dan pelakunya disebut al-‘âfî berasal dari kata ‘afâ – ya’fû semakna dengan kata mahâ – yamhû – mahwûn yang berarti menghapus (Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, 1997: 1302). Seorang yang bertakwa member maaf tidak sekadar mengucapkan kata maaf belaka, namun juga disertai rasa keridhaan, keikhlasan, dan tidak mendendam. Ia menghapus kesalahan dari dalam hatinya. Bukanlah pemaaf bila satu saat masih mengungkit-ungkit kesalahan orang lain dan bahkan menyebarluaskannya ke banyak orang. Bukanlah pemaaf bila dalam hatinya masih tersimpan kebencian pada orang yang berbuat salah kepadanya.

Menjadi orang bertakwa dengan perilaku seperti inilah yang hendak dituju dengan ibadah puasa selama Ramadhan. Menjadi hamba berperilaku luhur tersebut yang didamba dengan proses ibadah puasa.

Bila sejak dini seorang muslim telah mengetahui dan menyadari tujuan yang demikian yang hendak diraih dengan puasanya, maka akan sangat berpengaruh pada bagaimana ia akan menjalani ibadah puasanya sebagai proses mencapai tujuan tersebut. Jauh-jauh hari ia telah mempersiapkan diri untuk menyambut dan mengisi Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Ia rencanakan secara matang kebaikan apa saja yang akan ia lakukan di dalamnya. Sedemikian rupa ia jaga perilaku dan ucapannya.

Katakanlah, bila saya, Anda, kita semua dahulu memulai berpuasa pada saat berumur sepuluh tahun dan kini telah berusia empat puluh, lima puluh atau enam puluh tahun, itu artinya kita telah berpuasa Ramadhan sebanyak tiga puluh, empat puluh atau lima puluh kali. Dengan telah berpuasa berpuluh kali itu sudahkah saya, Anda, kita semua menjadi hamba yang bertakwa? Yang mau berinfak di kala suka dan duka, mampu menahan amarah, dan mudah memaafkan orang lain? Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)



Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tokoh, Warta IMNU Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Bazar Sembako GP Ansor Gebog Menarik Perhatiaan Warga

Kudus, IMNU Tegal. Bazar sembako murah yang dilaksanakan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gebog Kudus menarik perhatian warga masyarakat. Pada putaran ketiga, Jumat (10/6) di halaman Mushola Baitus Shofa Dukuh Ngaringan Desa Klumpit Gebog, Kudus itu. Ratusan warga baik, anak-anak maupun orang tua berdatangan memadati arena bazar.

Seperti malam sebelumnya, bazar yang menjadi rangkaian kegiatan tarawih keliling pengurus GP Ansor ini menjajakan berbagai pakaian hem, kemeja dan paket sembako murah berisi beras, minyak dan gula. Selama satu jam, mereka menjajakan dagangaan di atas mobil Ansor. Warga-pun rela antri membeli sembako yang di banderol dengan harga di bawah pasaran.

Bazar Sembako GP Ansor Gebog Menarik Perhatiaan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Bazar Sembako GP Ansor Gebog Menarik Perhatiaan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Bazar Sembako GP Ansor Gebog Menarik Perhatiaan Warga

Salah seorang warga, Aminah menyatakan kegembiraannya adanya bazar Ansor ini. Menurutnya, adanya bazar sangat membantu warga yang membutuhkan. Apalagi harganya sangat murah di bawah harga pasar.?

"Kalau bisa kegiatan bazar tidak hanya sekali ini saja, tetapi nanti jelang lebaran diadakan lagi. Usahakan barang yang jual beragam terutama untuk kebutuhan lebaran," harapnya.

Sekretaris PAC GP Ansor Gebog Ali Maghfuri merasa gembira melihat antusiasme warga. Ia tidak mengira putaran ketiga dibanjiri ratusan warga. "Untung, barang yang disiapkan sangat banyak sehingga bisa melayani semua warga yang membutuhkan," katanya.

IMNU Tegal

Pada putaran ketiga ini, jelasnya, pihaknya menambah stok barang dan menggandeng sejumlah pengurus Ansor yang memiliki usaha. "Ini sesuai harapan Ansor, Bazar untuk memberdayakan kemandirian ekonomi anggota, kader dan pengurus Ansor," imbuh Ali.

IMNU Tegal

Sebagaimana di ketahui, PAC GP Ansor Kecamatan Gebog mengadakan tarawih keliling di 11 desa mulai tanggal 6-22 Juni 2016 mendatang. Kegiatannya, tarawih bersama, ngaji kitab dan bazar. Tujuannya, disamping mengisi kegiatan ramadhan, juga untuk mengenalkan Ansor di tengah masyarakat serta membantu warga yang membutuhkan keperluan sembako. (Qomarul Adib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tokoh IMNU Tegal

Wabah Penyakit Ancam Rohingya, NU akan Kembali Berangkatkan Tim Medis ke Bangladesh

Jakarta, IMNU Tegal 

Sudah enam bulan pengungsi dari Rohingya yang tinggal di Bangladesh. Saat ini, Bangladesh sedang mengalami musim dingin. Persoalan kesehatan para pengungsi mulai terjadi, sementara akses untuk ke rumah sakit tidak ada. 

Wabah Penyakit Ancam Rohingya, NU akan Kembali Berangkatkan Tim Medis ke Bangladesh (Sumber Gambar : Nu Online)
Wabah Penyakit Ancam Rohingya, NU akan Kembali Berangkatkan Tim Medis ke Bangladesh (Sumber Gambar : Nu Online)

Wabah Penyakit Ancam Rohingya, NU akan Kembali Berangkatkan Tim Medis ke Bangladesh

Demikian diungkapkan Koordinator Tim Medis gelombang pertama Nahdlatul Ulama Muhammad Makki Zamzami saat ditemui IMNU Tegal di Gedung PBNU, Jakarta, Senin (11/12).

Menurut Makki, semakin hari, jumlah pengungsi semakin banyak. Terakhir, kata Makki, jumlah pengungsi hampir mencapai 900.000 orang. Membludaknya pengungsi dan munculnya masalah sanitasi air yang ada di tempat pengungsian membuat pengungsi mulai banyak yang terserang berbagai penyakit. 

"Jadi kondisi kesehatan di sana karena memang sangat terbatas terkait dengan sanitasi air yang sangat bermasalah di sana," katanya.

Berbagai penyakit yang ia maksud seperti cacingan, penyakit kulit, Ispa, dan lain-lain. Menurut Makki, penyakit Ispa menduduki peringkat pertama sebagai penyakit yang paling menjadi masalah. 

IMNU Tegal

"Nomor satu Ispa, penyakit cacingan di nomor empat. Saya pikir itu cukup perlu tindakanlah," katanya. 

IMNU Tegal

Melihat berbagai penyakit mulai bermunculan, NU melalui kerja sama Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim PBNU (LPBI PBNU), NU Care-LAZISNU, dan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) dalam waktu dekat akan kembali mengirim tim medis ke Bangladesh. Sementara untuk obat-obatan yang diperlukan, kata Makki, akan dibeli di Bangladesh. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tokoh IMNU Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Pengurus Baru PMII Probolinggo Perketat Kaderisasi

Probolinggo, IMNU Tegal. Kepengurusan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Probolinggo masa khidmah 2015-2016 resmi dilantik, Ahad (10/1). Pelantikan yang digelar di aula Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Probolinggo ini dipimpin oleh Anwari Ilham dari PKC PMII Jawa Timur. Kepengurusan yang baru dilantik akan memperketat kaderisasi.

Pengurus Baru PMII Probolinggo Perketat Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus Baru PMII Probolinggo Perketat Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus Baru PMII Probolinggo Perketat Kaderisasi

Hadir dalam pelantikan ini PMII se-Probolinggo, PMII se-Situbondo, PMII se-Bondowoso, PMII se-Lumajang serta PMII dari Rayon Sastra Unej Jember. Hadir pula Ketua PMII Probolinggo Fajar Ilyas, Ketua IKA PMII Probolinggo Badrus Sholeh, dan Ketua Mabincab PMII Probolinggo Abdur Rohman Mawardi.

Fajar Ilyas menyampaikan ucapan terima kasih atas kepercayaan dan amanah yang diberikan oleh para mahasiswa di Probolinggo dengan harapan mampu menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya sesuai dengan keinginan para mahasiswa.

IMNU Tegal

“Fokus utama kami setelah dilantik adalah proses regenerasi organisasi. Salah satu upaya yang akan kami lakukan adalah memperketat kaderisasi di semua tingkatan di Probolinggo,” katanya.

IMNU Tegal

Demi mewujudkan hal itu, Fajar Ilyas mengharapkan doa dan dukungan serta kerja sama dari semua pengurus PMII Probolinggo. “Tanpa dukungan dan kerja sama, sebagus apapun program tidak akan berjalan dengan maksimal,” jelasnya.

Sementara Anwari Ilham mengharapkan agar pengurus PMII Probolinggo yang baru dilantik dapat bekerja lebih baik dari kepengurusan sebelumnya. Terlebih saat ini banyak tantangan yang harus dihadapi oleh mahasiswa di tengah perkembangan zaman yang semakin maju.

“Kader-kader PMII yang baru saja dilantik harus mampu memberikan warna baru dalam kegiatan mahasiswa di kampusnya masing-masing. Semoga PMII Probolinggo mampu menciptakan kader yang berkualitas,” harapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tokoh, Makam, Hikmah IMNU Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Belajar dari Kesuksesan Gerakan Sedekah di Sukabumi

Ada seabrek buku yang membahas tentang urgensi zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Umumnya buku-buku tersebut berupaya meyakinkan para pembaca bahwa terdapat hubungan saling mengikat antara kesalahen ritual dan sosial. Dipaparkanlah dalil-dalil dari teks suci, keteladanan para Rasul, hingga prospek kemanfaatan yang bakal diambil dari perilaku gemar berbagi itu. Jumlah buku semacam ini tampaknya kian banyak dan mungkin sedikit saja yang mengulas soal panduan praktis gerakan filantropi dan contoh hasil yang bisa menjadi inspirasi.

Buku Membumikan Sedekah: Belajar dari Cicurug Sukabumi adalah di antara yang sedikit itu. Buku yang disusun oleh sebuah tim NU Care-LAZISNU (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama) ini menekankan tentang bagaimana kesadaran filantropi dibangkitkan, dikelola, lalu dikembalikan manfaatnya kepada masyarakat kampung. Para penerima manfaat bukanlah orang asing. Mereka adalah para penderma itu sendiri yang tiap hari menyedekahkan limaratus rupiah atau 2,5 persen dari penghasilan mereka.

Belajar dari Kesuksesan Gerakan Sedekah di Sukabumi (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Kesuksesan Gerakan Sedekah di Sukabumi (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Kesuksesan Gerakan Sedekah di Sukabumi

Hasil yang kini terlihat luar biasa. Poliklinik ZIS seluas seribu meter persegi berdiri megah dari kantong umat sendiri. Begitu pula penyediaan ambulans jenazah dan orang sakit. Layanan kesehatan disediakan secara cuma-cuma, termasuk untuk para ibu yang menjalani proses persalinan. Di luar sektor kesehatan, manfaat yang terasa juga tampak di segi infrastruktur. Dana sedekah tersebut telah membuahkan ratusan lampu dan menerangi hampir seluruh sudut jalanan desa yang sebelumnya gelap gulita.

Belum lagi soal bantuan-bantuan sosial dan berbagai pembiayaan rutin untuk sejumlah fasilitas publik. Santunan diberikan kepada mereka yang benar-benar miskin, tak terkecuali para janda jompo. Sementara sejumlah ongkos rutin yang juga ditanggung meliputi listrik masjid, serta insentif untuk beberapa imam, marbot, dan guru ngaji. Semua dilakukan sepengetahuan dan atas persetujuan masyarakat setempat.

IMNU Tegal

Di balik hasil yang gemilang tentu ada proses dan perjuangan. Demikian pula kemandirian masyarakat di desa-desa Kecamatan Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat itu. Kisah penggalangan partisipasi dana publik melalui zakat, infak, dan sedekah ini bermula dari uang Rp500 setiap kepala keluarga (KK) setiap RT setiap hari.

IMNU Tegal

Angka 500 rupiah tak muncul sembarangan. Jumlah tersebut berasal dari hitung-hitungan rasional 2,5 persen rata-rata pendapatan harian penduduk Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug. Mereka yang mayoritas adalah buruh tani lepas berpenghasilan Rp20.000 per hari. “Kira-kira kalau diambil 500 rupiah per hari, apakah mengurangi jumlah nasi yang disuapkan ke keluarga? Apakah memberatkan?” Begitu tanya KHR Abdul Basith, inisiator gerakan sedekah ini, saat sosialisasi di sebuah majelis taklim. Jamaah menjawab, “Tidaaaak.” “Kalau begitu apakah berani diambil 500 rupiah per hari demi berbagi dan membangun desa?” Semua menyatakan berani.

Dari situlah kesadaran berderma dipupuk. Buya Basith, panggilan akrab ketua PCNU Sukabumi itu, sejatinya hendak mendidik masyarakat untuk belajar zakat sebelum nishab (batas minimum jumlah harta wajib zakat). Lima ratus rupiah memang sangat sedikit, namun saat itu dilakukan terus menerus, jumlahnya menjadi banyak. Karena sedikit adalah dasar dari yang banyak. Bukankah gunung yang besar itu terdiri dari kumpulan batu, tanah, dan krikil yang kecil?

Analogi tersebut menunjukkan kebenarannya. Uang recehan itu ditaruh di dalam toples setiap hari, untuk kemudian dipunguti tiap pekan oleh petugas khusus. Dari toples ke toples recehan selama setahun itulah terhimpun total dana yang cukup fantastis untuk ukuran masyarakat setempat. Sebagai contoh, untuk tahun 2016 lalu saja, Desa Nanggerang yang menjadi proyek percontohan desa-desa lainnya memperoleh pemasukkan sebesar 336 juta rupiah.

Kunci sukses dari jerih payah ini tak lepas dari kejelian para tokoh dan aktivis NU dalam melihat potensi kearifan lokal di sana. Di kalangan urang Sunda Sukabumi telah berkembang lama tradisi beas perelek. Beas atau beras yang dikumpulkan sepekan sekali dan dikumpulkan oleh salah seorang petugas yang berkeliling memanggul karung dari rumah ke rumah. Tradisi yang dilakukan mengantisipasi ancaman kekurangan stok pangan ini menjadi modal sosial bagi kebangkitan gerakan ZIS. Tradisi tak dihilangkan. Hanya saja kini meningkat intensitasnya dengan gerakan Rp500 saban hari, dan pemaknaan terhadapnya sebagai bagian dari kegiatan ibadah semakin tinggi.

Selain sinergi dengan pemerintah setempat, keberhasilan gerakan filantropi ini juga sangat dipengaruhi oleh manajemen pengelolaan yang tertata. Dewan pengurus dibentuk dengan melibatkan pengurus RT/RW dan tokoh masyarakat. Distribusi tugas, perencanaan, dan laporan-laporan dijalankan. Semuanya digerakkan secara profesional tanpa mengurangi semangat kerelawanan dan gotong royong para pengurus yang mengemban amanah. Juru sosialisasi dan pengurus ZIS juga dituntut memberikan keteladanan sebelum mengajarkan. Dengan demikian, sistem terbangun mapan, semangat berderma kian berkembang, dan target pun mudah diraih.

Pelajaran utama gerakan yang dipaparkan dalam buku Membumikan Sedekah: Belajar dari Cicurug Sukabumi bukan terletak pada jumlah uang yang terkumpul. Melainkan, seberapa besar kesuksesan membangun kesadaran untuk berbagi pada masyarakat itu dicapai. Karena yang paling inti dari sebuah gerakan filantropi adalah tumbuhnya empati, gotong royong, dan kepedulian antarsesama. Kasus di Sukabumi ini juga mengajarkan kita bahwa “hal kecil” yang dijalankan secara kontinu (istiqamah) dan berjamaah akan menjelma sebagai hal yang berdampak besar.

Sayangnya, buku ini belum menyuguhkan data secara rinci seputar kelemahan atau kendala yang dialami para aktivis yang menjalankan gerakan ZIS itu. Padahal, sebagai buku inspiratif, paparan detail tentang berbagai tantangan di lapangan akan menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja yang hendak melakukan hal serupa. Terlepas dari itu, buku NU Care-LAZISNU ini layak menjadi referensi bagi yang ingin mengetahui gairah berfilantropi yang sukses dan mengakar karena berangkat dari partisipasi masyarakat bawah (bottom up).

Data Buku:

Judul buku : Membumikan Sedekah: Belajar dari Cicurug Sukabumi

Penulis? ? ? ? ? : Syamsul Huda, Nur Rohman, Amin Sudarsono

Penerbit? ? ? ? : NU Care-LAZISNU, Cetakan I, 2017

Tebal? ? ? ? ? ? ? ? : 180 halaman

Peresensi? : Mahbib Khoiron, penikmat buku; tinggal di Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Fragmen, Tokoh IMNU Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

Habib Syech: Kerukunan Itu Indah, Harus Kita Jaga!

Solo, IMNU Tegal. Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, ras dan agama. Hal tersebut menjadi modal untuk menjadi bangsa yang besar. Meskipun di satu sisi perbedaan tersebut juga berpotensi menimbulkan bibit perpecahan.

Habib Syech: Kerukunan Itu Indah, Harus Kita Jaga! (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syech: Kerukunan Itu Indah, Harus Kita Jaga! (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syech: Kerukunan Itu Indah, Harus Kita Jaga!

Oleh karena itu, alangkah indahnya apabila bangsa ini dapat bersatu di tengah perbedaan yang ada. "Kerukunan itu indah, jadi harus kita jaga. Seperti sekarang ini, kita duduk bersama meskipun kita ada yang berbeda agama," kata Habib Syech bin Abdul Qadir As Segaf, Jumat malam (30/8) lalu.

Habib Syech menyampaikan pesannya kepada jamaah dalam acara Shalawat Akbar. Kegiatan yang dihelat di Benteng Vastenburg Solo tersebut diikuti ribuan jamaah, yang sebagian diantaranya adalah warga non-muslim.

IMNU Tegal

Dalam kesempatan tersebut, ulama asal Solo itu juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kerukunan. Menurutnya, kerukunan tersebut perlu dijaga dengan siapapun, meskipun dengan orang yang berbeda agama. Dalam acara ini pula, Habib Syech membuktikan bahwa Sholawat juga mampu mempersatukan umat dan memberikan kedamaian.

Salah seorang jemaah asal Karanganyar, Sumarno, mengakui hal tersebut. Menurutnya, shalawat yang dibawakan oleh Habib tersebut adalah metode dakwah Islam yang sangatlah luar biasa dan bisa menyentuh perasaan.

IMNU Tegal

“Islam itu cintai damai, dan dengan bershalawat saya benar-benar merasakan kedamaian ajaran Islam.  Ini luar biasa,” ungkap Sumarno yang datang sejak sore untuk mengikuti acara tersebut. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Ahlussunnah, Tokoh, Internasional IMNU Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

IPNU-IPPNU Ajak Pelajar Cerdas dalam Bermedsos

Banyuwangi, IMNU Tegal. Interaksi sosial semakin dipermudah dengan adanya media online, terutama media sosial (medsos) seperti Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp, Line dan lain sebagainya.

IPNU-IPPNU Ajak Pelajar Cerdas dalam Bermedsos (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Ajak Pelajar Cerdas dalam Bermedsos (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Ajak Pelajar Cerdas dalam Bermedsos

Media sosial tersebut banyak digemari oleh masyarakat terutama golongan pemuda atau pelajar, untuk sekadar menyampaikan informasi berupa pesan singkat, tulisan, atau sekedar memposting foto maupun keluh kesah di media tersebut.

Beranjak dari hal tersebut, IPNU-IPPNU Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy, Genteng, Banyuwangi mengadakan Ngobrol Pintar Pelajar Keren dengan mengangkat tema "Cerdas dalam Bersosmed" akhir pekan lalu.

Diskusi diadakan di ruang perkuliahan yang diikuti oleh IPNU IPPNU Ibrahimy dan para mahasiswa. Hairul, Ketua IPNU Ibrahimy, mengatakan bahwa media sosial sekarang cukup masif di kalangan anak muda, khususnya pelajar. "Kita harus bisa menggunakan media sosial dengan memanfaatkannya sebaik mungkin," kata Hairul

Turut hadir juga, Ahmad Sulhan Hadi, jurnalis Banyuwangi sebagai narasumber dalam diskusi tersebut. Kang Sulhan, nama sapaanya, menyampaikan bahwa selama ini masih banyak yang belum mengerti cara menggunakan sosmed dengan baik, bahkan disalahgunakan untuk kepentingan pribadi.

IMNU Tegal

"Pemuda atau pelajar tidak jarang mengalami ketergantungan dalam menggunakan media sosial. Selain menyebabkan ketergantungan, twett atau pesan yang ditulis di media sosial tidak jarang dapat menyeret seseorang di ranah hukum, akibat kesalahan dalam memposting atau tulisan-tulisan yang ia posting mencemarkan atau mengganggu orang lain," tutur Kang Sulhan

Kang Sulhan menyarankan, kita perlu tahu hal-hal positif dan negatif akibat dari penggunaan sosmed. "Jangan sampai dengan adanya sosmed, kita malah menjadi korban dari kesalahan kita sendiri," tegas jurnalis yang juga alumnus IPNU Banyuwangi tersebut.

Ulva, mahasiswa IAI Ibrahimy, mengaku bahwa setelah ikut dalam diskusi tersebut, merasa tergugah untuk menggunakan media sosial lebih bijak lagi. "Saya rasa, sosmed itu bisa mendukung bakat yang kita lakukan, seperti penulisan cerpen, puisi, meme, kata bijak dan lain-lain," ungkapnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Tokoh IMNU Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

Serambi Al-Muayyad Kampanyekan “Ayo Mondok”

Solo, IMNU Tegal. Pengurus IPMA Pesantren Al-Muayyad menerbitkan Majalah Serambi Al-Muayyad (MSA) edisi terbaru. Edisi kedelapan yang mengkampanyekan gerakan Ayo Mondok! tersebut akan dirilis pada Haul KH Umar Abdul Mannan, Selasa (7/7).

Serambi Al-Muayyad Kampanyekan “Ayo Mondok” (Sumber Gambar : Nu Online)
Serambi Al-Muayyad Kampanyekan “Ayo Mondok” (Sumber Gambar : Nu Online)

Serambi Al-Muayyad Kampanyekan “Ayo Mondok”

“Tema khusus MSA Edisi 08 adalah Ayo Mondok,” terang salah satu redaktur MSA, Miftahul Abrori, Sabtu (4/7) lalu.

Menurut Miftah hal tersebut merupakan wujud dukungan para santri Al-Muayyad kepada RMI dalam menggalakkan Gerakan Nasional Ayo Mondok. “Wujud dukungan MSA terkait Ayo Mondok, sesuai dengan yang kami mampu adalah mewartakan melalui tulisan di majalah dengan harapan bisa dibaca masyarakat,” ujar dia.

IMNU Tegal

Pada edisi ini, juga akan menyajikan tulisan “Menafsir Bait-bait Shalawat Wasiat Mbah Umar” yang ditulis Dosen UNU Surakarta, Drs. Muhammad Ishom, yang menafsirkan dan menjelaskan makna yang tersembunyi dari shalawat yang dikarang oleh Mbah Umar.

Miftah menjelaskan, selama kegiatan Haul Mbah Umar, majalah yang memiliki slogan Melanggengkan Tradisi, Melanjutkan Silaturrahim ini akan dipajang pada stand bazar IPMA. “Para pengunjung yang berminat, bisa membeli langsung di sana dengan harga Rp. 15.000,” papar dia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tokoh, Sejarah IMNU Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Langgar Aturan Haji, 200 Ribu Lebih Ekspatriat Ditahan Saudi

Riyadh, IMNU Tegal. Mayjen Jamaan Al-Ghamdi, asisten komandan pasukan keamanan haji mengatakan, sejak awal musim haji, terdapat 61 kantor ilegal telah ditutup, serta 10.333 warga Saudi dan 213.541 ekspatriat ditahan karena melanggar peraturan haji.

Ia menambahkan, jumlah kendaraan yang masuk dan meninggalkan Makkah sampai hari Ahad mencapai 340.929 mobil, sementara jumlah kendaraan yang masuk melalui perbatasan Arab Saudi mencapai 1.333 bus, lapor Arab News,? Rabu (23/8), mengutip kantor berita Saudi Press Agency (SPA).?

"Proses perjalanan haji berjalan lancar karena tidak ada kecelakaan lalu lintas yang dilaporkan," ujar Mayjen Zaid Al-Tuwayyan, asisten komandan pasukan keamanan haji untuk keamanan jalan.

Langgar Aturan Haji, 200 Ribu Lebih Ekspatriat Ditahan Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Langgar Aturan Haji, 200 Ribu Lebih Ekspatriat Ditahan Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Langgar Aturan Haji, 200 Ribu Lebih Ekspatriat Ditahan Saudi

Dia menyatakan, semua jalan menuju Makkah berada di bawah kontrol yang ketat guna memantau pergerakan dan melacak potensi pelanggar peraturan haji.

Zaid berkomitmen, semua yang terlibat dalam komando keamanan jalan senantiasa siaga dan siap memberikan keamanan tertinggi di jalan raya yang menuju ke Makkah. Petugas keamanan juga siap membantu korban kecelakaan lalu mengantarkannya ke pusat-pusat medis baik melalui kendaraan udara maupun darat.

Pemerintah Arab Saudi gencar melakukan patroli sepanjang waktu dan mengantisipasi berbagai kemungkinan pelanggaran di berbagai lokasi yang dapat merugikan keamanan jemaah pada musim haji kali ini. (Mahbib)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Tokoh, Pondok Pesantren IMNU Tegal

NU, PKI, dan Kemungkinan Rekonsiliasi

Oleh Amin Mudzakkir

Belakangan beredar kesan seolah-olah Nahdlatul Ulama (NU) dan Partai Komunis Indonesia (PKI) sungguh berbenturan. Kesan ini dikuatkan oleh terbitnya buku Benturan NU & PKI, 1948-1965 (Depok: Langgar Swadaya Nusantara, 2014) yang dianggap merupakan suara resmi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Buku ini terbit bukan tanpa alasan. Suara-suara yang menggambarkan keterlibatan NU, khususnya Barisan Ansor Serbaguna (Banser), dalam aksi pembunuhan massal anggota PKI selama Prahara 1965 terasa memojokan—misalnya, Pengakuan Algojo 1965: Investigasi Tempo Perihal Pembantaian 1965 (Jakarta: Tempo Publishing, 2013). Seolah-olah NU sedemikian brutalnya. Merespons hal ini, tidak sedikit orang NU yang meradang.

Masalahnya, jika NU terlibat dalam pembunuhan massal anggota PKI selama Prahara 1965, apakah NU kemudian diuntungkan? Dengan ungkapan lain, apakah setelah tragedi itu NU keluar sebagai pemenang? Dengan mengajukan pertanyaan seperti ini, saya melihat kita bisa mendudukan perkaranya secara seimbang. Bagi kalangan internal NU, pertanyaan tersebut penting diajukan untuk mengevaluasi keterlibatannya dalam Prahara 1965. Jangan-jangan NU, seperti juga PKI, pada dasarnya adalah sama-sama korban dari suatu ambisi politik yang merendahkan martabat kemanusiaan?

NU, PKI, dan Kemungkinan Rekonsiliasi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU, PKI, dan Kemungkinan Rekonsiliasi (Sumber Gambar : Nu Online)

NU, PKI, dan Kemungkinan Rekonsiliasi

Konteks Pra-1965

IMNU Tegal

Setidaknya terdapat dua kelompok utama dalam perdebatan mengenai Prahara 1965 di Indonesia. Kelompok pertama selalu menekankan cerita-cerita tentang serangan kasar PKI, yang memuncak di Madiun 1948, terhadap lawan-lawannya. Kelompok kedua selalu menonjolkan kepiluan anggota PKI yang dibantai setelah kekalahan telak dan cepat Gerakan 30 September (Gestapu)/Gerakan 1 Oktober (Gestok).

IMNU Tegal

Menurut saya, kedua kelompok tersebut menawarkan fakta yang sama-sama valid, sehingga jika sekarang kita berbicara tentang rekonsiliasi, maka ia harus mencakup periode sebelum dan setelah 1965. PKI jelas pihak yang kalah, korbannya paling banyak, efeknya masih membekas hingga sekarang. Meski demikian, lawan-lawan politik PKI dari kalangan sipil, termasuk NU, tidak bisa dikatakan sebagai pemenang. Mereka adalah korban dari manipulasi dan ambisi politik biadab penguasa militer Orde Baru yang secara cerdik memanfaatkan situasi tidak menentu pada masa itu.

Selain dinamika aktor seperti dijelaskan di atas, struktur politik ekonomi pada tataran internasional dan domestik turut menghadap-hadapkan warga sipil pada posisi saling berseberangan. Kita tahu Perang Dingin pada waktu itu memberi pengaruh kuat, sehingga situasi menjadi sangat konfliktual. Perseteruan bukan hanya antara blok Barat (AS-Kapitalis) dan blok Timur (US-Komunis), tetapi juga terjadi di kalangan komunis, yaitu antara Moskow dan Peking. Dua blok komunis internasional ini saling berebut pengaruh. PKI di bawah Aidit lebih dekat dengan Peking, berbeda dengan PKI sebelumnya di bawah Musso yang menginduk ke Moskow.

Pada tingkat lokal, perseteruan di antara individu dan kelompok sosial semakin memanas setelah munculnya isu aksi sepihak. Berdasarkan UU No. 5/1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, pemerintah berkewajiban mendistribusikan lahan kepada para petani tuna tanah. UU ini sendiri adalah respons terhadap proyek nasionalisasi aset-aset peninggalan Belanda di Indonesia. Namun kenyataannya program reforma agraria tersebut kurang berjalan mulus sehingga menimbulkan banyak sengketa. Dalam situasi ini, PKI sering melakukan agitasi yang dipandang berlebihan oleh lawan-lawan politiknya.

Perseteruan melebar hingga ke urusan kebudayaan. Harap diingat pada masa itu Indonesia belum lama merdeka dan berbagai pihak memperebutkan tafsir mengenai bagaimana Indonesia seharusnya. Dari kalangan Muslim muncul Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) dan Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) yang sering berseteru dengan para aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Perseteruan tersebut kadang berlangsung keras. Secara simbolis salah satu puncak perseteruan itu mengemuka dalam penandatanganan Manifesto Kebudayaan oleh beberapa aktivis yang dekat dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang telah dibubarkan oleh Sukarno.

Dalam situasi yang semakin memanas menjelang 1965, orang-orang percaya bahwa pilihannya adalah ‘membunuh’ atau ‘dibunuh’. Situasi ini diperparah dengan kelambanan Sukarno beberapa saat setelah terjadinya peristiwa pembunuhan enam orang petinggi Angkatan Darat pada malam 1 Oktober 1965. Dia tidak segera mengeluarkan keputusan tegas mengenai apa yang sesungguhnya terjadi dan harus bagaimana mengatasinya. Melihat kondisi yang tidak menentu ini, Soeharto sebagai Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) melakukan aksinya dengan sangat efektif. Dia segera mengamankan ibukota dan memerintahkan tentara, khususnya Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD ) di bawah Sarwo Edhie Wibowo, untuk menumpas keberadaan PKI di beberapa daerah.

1965 sebagai Titik Balik

Peristiwa 1965 adalah titik balik dalam sejarah Indonesia. Setelah terjadi pembunuhan enam orang jenderal dan seorang kapten Angkatan Darat di Jakarta, suatu prahara terjadi dengan meminta korban jiwa berkisar antara 300 ribu hingga 2,5 juta orang. Masalahnya, hingga hari ini Prahara 1965 itu masih diselubungi tabir kelam. Dalam historiografi resmi yang disusun selama Orde Baru, narasi yang ditampilkan dibatasi pada peristiwa pembunuhan para jenderal pada tanggal 1 Oktober 1965. Partai Komunis Indonesia (PKI) dituduh sebagai pelakunya.

Akan tetapi, prahara sesungguhnya justru terjadi setelah itu. Sejak Soeharto mengambil alih kekuasaan dari Sukarno, pembunuhan terhadap siapa saja yang dituduh terlibat PKI berlangsung massif. Pembunuhan massal ini dilakukan secara terorganisasi oleh militer (Angkatan Darat) dengan bantuan beberapa kelompok sipil. Ladang pembantaian terbesar berada di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sumatera Utara selama kurun akhir 1965 hingga pertengahan 1966.

Anggota PKI yang tidak dibunuh dibuang ke Pulau Buru sebagai tahanan politik tanpa melewati proses pengadilan. Jumlahnya mencapai 15.000 orang. Pada tahun 1979 secara berangsur para tapol tersebut dibebaskan. Meski demikian, mereka tidak pernah memperoleh hak sebagai warga negara sepenuhnya. Selain itu, terdapat juga kaum eksil di luar negeri yang jumlahnya ribuan orang. Ketika peristiwa 1965 meletus, mereka sedang bertugas sebagai mahasiwa atau utusan Indonesia di organisasi-organisasi internasional. Oleh karena alasan yang sama dengan korban di dalam negeri, secara sewenang-wenang mereka dicabut paspornya. Akibatnya mereka tidak bisa pulang, sehingga hidup ‘kelayapan’ di luar negeri tanpa status kewarganegaraan (stateless).

Anggota PKI yang masih tersisa kemudian hidup dalam stigma sebagai pengkhianat bangsa. Secara moral mereka dianggap nista. Bagian tragisnya adalah hal ini mendera juga anak keturunan mereka. Mereka menjadi warga negara kelas dua yang mengalami diskriminasi dalam banyak perkara.

NU sebagai Korban

Salah satu pertanyaaan historis yang terabaikan hingga sekarang adalah apa yang terjadi dengan kelompok-kelompok sipil yang terlibat dalam pembunuhan massal PKI selama periode 1965-1966? Jika pertanyaan ini berhasil dijawab, maka kita setidaknya akan mengerti siapa yang diuntungkan oleh adanya itu. Tidak hanya itu, pertanyaan tersebut juga akan menggiring kita pada asumsi lain: bahwa kelompok-kelompok sipil yang terlibat dalam aksi tersebut juga adalah korban manipulasi tentara dan tumbal politik rezim Orde Baru yang baru berdiri.

Satu hal yang cukup pasti pasca-1965 adalah berdirinya negara Orde Baru yang telah berhasil menyingkirkan habis semua kekuatan pendukung Sukarno. Dalam hal ini posisi NU cukup dilematis. Sementara pada satu sisi NU adalah bagian dari skema nasionalis-agama-komunis-nya Sukarno mewakili unsur agama, pada sisi yang lain beberapa tokoh NU juga terlibat dari aksi-aksi penggulingan Sukarno di ujung masa kekuasaannya. Mengetahui posisi NU yang lentur seperti itu, Soeharto berhati-hati. Di awal periode kekuasaannya, dia hanya percaya pada tiga penyokong utamanya: tentara (ABRI), birokrasi, dan Golkar.

Bahkan bisa dikatakan, rezim Orde Baru pada periode awal kekuasaannya menunjukkan sikap Islam-fobia, selain tentu saja komunis-fobia yang warisannya masih awet hingga sekarang. Partai-partai Islam dibonsai ke dalam wadah Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dalam situasi ini, peran politik NU yang pada Pemilu 1955 merupakan partai ketiga terbesar dipangkas sedemikian rupa. Pada Pemilu 1971 dan 1974, orang-orang NU yang masih membandel dipangggil tentara dan dipaksa untuk mencoblos Golkar. Sayangnya cerita-cerita kelam pada periode ini belum banyak didokumentasikan.

Dengan demikian, NU sebagai sebuah lembaga tidak mendapatkan apa-apa terkait dengan keterlibatannya dalam pembunuhan massal 1965. Banser hanya dijadikan alat tentara. Beberapa cerita yang berkembang menyebutkan bahwa di beberapa daerah anggota Banser terpaksa ikut aksi pembunuhan massal bersama RPKAD karena dipaksa. Kalau tidak melakukan itu, dia akan segera dituduh terlibat pemberontakan PKI.

Kemungkinan Rekonsiliasi

Jatuhnya Orde Baru pada tahun 1998 membuka lembaran sejarah baru bagi para keluarga korban 1965. Mereka berharap adanya rehabilitasi terhadap hak kewarganegaraan mereka yang terampas selama ini. Bersama dengan itu, muncul berbagai penyelidikan yang menunjukkan adanya pelanggaran hak asasi manusia yang sangat serius selama periode itu.

Pada masa kepresidenan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, pemerintah Indonesia membuat terobosan penting. Secara pribadi Gus Dur meminta maaf kepada para keluarga korban Prahara 1965 dan mengajak semua kalangan, termasuk warga Nahdlatul Ulama (NU) untuk melakukan rekonsiliasi atau islah. Posisi Gus Dur yang selain presiden juga pemimpin NU membuat pernyataan ini sangat berpengaruh. Namun tindakan Gus Dur tersebut banyak disalahpahami termasuk oleh beberapa mantan anggota PKI sendiri. Dengan ajakan rekonsiliasi itu, Gus Dur sejatinya ingin mengingatkan bahwa kita—warga sipil—adalah sama-sama merupakan korban. Tidak ada yang diuntungkan oleh tragedi yang brutal itu kecuali para petualang politik kekuasaan yang membangun karir di atas piramida korban manusia.

Pada 2004 Undang-Undang No. 27 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) disahkan. Namun pada 2006 undang-undang tersebut dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) karena dianggap bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945. Secara pribadi Susilo Bambang Yudhoyono ketika masih menjabat presiden sempat mewacanakan kemungkinan permohonan maaf negara terhadap para korban Prahara 1965, meski hal itu tidak pernah terrealisasi. Belakangan Presiden Jokowi juga menyatakan hal yang kurang lebih serupa, tetapi lagi-lagi baru sebatas wacana.

Sebagai penutup, menurut saya, rekonsiliasi 1965 tidak bisa tidak harus berlandaskan pada suatu kesadaran baru mengenai sejarah 1965 itu sendiri. Apa yang disebut korban tidak hanya anggota PKI, tetapi juga semua warga sipil yang kehilangan hak kewarganegaraannya di sekitar peristiwa itu. Oleh karena itu, sejarah 1965 harus dipahami secara luas sebagai perubahan dan kelanjutan periode sejarah sebelumnya. Memotong penafsiran historiografis hanya pada tahun 1965, baik hanya fokus pada periode sebelumnya maupun sesudahnya, akan berdampak fatal.



*) Amin Mudzakkir, Peneliti PSDR-LIPI dan Mahasiswa Doktor STF Driyarkara.


Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tokoh, Halaqoh IMNU Tegal

Kamis, 30 November 2017

Surat yang Disunahkan Dibaca Saat Shalat Hari Jum’at

Jum’at termasuk hari yang dimuliakan dalam Islam. Bahkan, dalam hadits riwayat Ibnu Majah disebutkan, “Hari Jum’at adalah hari raya yang dijadikan Allah SWT untuk umat Islam.”

Ada banyak keutamaan dan manfaat bila mengerjakan amaliyah sunah Jum’at. Sebab itu, Rasulullah menganjurkan memperbanyak ibadah dan melakukan amalan sunah di hari Jum’at.

Surat yang Disunahkan Dibaca Saat Shalat Hari Jum’at (Sumber Gambar : Nu Online)
Surat yang Disunahkan Dibaca Saat Shalat Hari Jum’at (Sumber Gambar : Nu Online)

Surat yang Disunahkan Dibaca Saat Shalat Hari Jum’at

Di antara amalan sunah yang dianjurkan di hari Jum’at ialah membaca surat-surat tertentu pada saat shalat lima waktu, khususnya shalat Jum’at. Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in menjelaskan,

IMNU Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? {?} [? ?] {? ?} [? ?] ? ? ? ? ? ? ? {? ?} [? ?] ? ? {? ?} [? ?] ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

IMNU Tegal

Artinya, “Disunahkan bagi orang yang hadir (menetap) membaca surat Al-Jumu’ah dan Al-Munafiqun, atau surat Al-A’la dan surat Al-Ghasyiyah saat shalat Jum’at dan shalat Isya hari Jum’at. Dianjurkan pula membaca surat As-Sajdah dan surat Al-insan pada shalat Shubuh dan membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas saat shalat Maghrib di hari Jum’at. Sementara bagi musafir dianjurkan membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas saat shalat Shubuh di hari Jum’at dan selainnya.”

Berdasarkan penjelasan Zainuddin Al-Malibari di atas dapat dipahami bahwa pada saat shalat Shubuh di hari Jum’at disunahkan membaca surat As-Sajdah dan surat Al-Insan. Lebih afdhal lagi bila shalat Shubuh dilakukan secara berjamaah sembari membaca dua surat itu.

Pada shalat Jum’at, dianjurkan membaca surat Al-Jumu’ah dan Al-Munafiqun, atau membaca surat Al-A’la dan Al-Ghasyiyah. Kedua surat ini juga dianjurkan membacanya ketika shalat Isya hari Jum’at. Sementara surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas disunahkan membacanya saat shalat Maghrib.

Orang yang sedang berpergian jauh, atau musafir disunahkan membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas pada saat shalat Shubuh di hari Jum’at. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kajian Islam, Pertandingan, Tokoh IMNU Tegal

Rabu, 29 November 2017

Tangkal Islam Radikal, Ansor Pekalongan Aktifkan Majelis Dzikir Rijalul Ansor

Pekalongan, IMNU Tegal



Untuk menangkal gerakan Islam radikal, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Pekalongan mengoptimalkan Lembaga Majlis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor. Hal ini dilakukan antara lain melalui penguatan aqidah Islam Ahlussunnah wal jamaah An-Nahdliyyah bagi kader GP Ansor.

Tangkal Islam Radikal, Ansor Pekalongan Aktifkan Majelis Dzikir Rijalul Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangkal Islam Radikal, Ansor Pekalongan Aktifkan Majelis Dzikir Rijalul Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Tangkal Islam Radikal, Ansor Pekalongan Aktifkan Majelis Dzikir Rijalul Ansor

H Sholahuddin Zuhdi, selaku ketua Lembaga Majlis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Kabupaten Pekalongan menyatakan bahwa kegiatan Rijalul Ansor periode kepengurusan sekarang lebih fokus kepada penguatan pemahaman dan amaliyah internal kader Ansor.

"Untuk itu pengurus Rijalul Ansor telah mengagendakan kegiatan rutin bulanan secara bergiliran dari satu PAC ke PAC lainnya. Adapun format kegiatannya diisi dengan khataman Al-Quran dilanjutkan kajian dan penguatan akidah Ahlussunnah wal Jamaah dengan mengundang narasumber dari rais syuriyah Nahdlatul Ulama Kab. Pekalongan," papar H Sholahuddin.

Pria yang akrab disapa Gus Sholah ini menambahkan bahwa momen kegiatan Rijalul Ansor juga dimaksimalkan untuk koordinasi dan konsolidasi organisasi. Ini cukup efektif mengingat kegiatan rutin bulanan ini diikuti oleh semua pengurus dan anggota Ansor dan Banser dari semua Pimpinan Anak Cabang (Kecamatan).

Sementara itu, M. Azmi Fahmi, selaku ketua PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan mengingatkan kader Ansor untuk bisa menjadi contoh bagi masyarakat. Antara lain dengan istiqamah ngaji. Ia menyitir dawuh Mbah Maemun Zubair bahwa amaliyah terbaik yang dapat dilakukan saat ini adalah ngaji. Dengan ? ngaji, selain kapasitas keilmuannya terbangun juga akan meningkatkan spiritualitas seseorang.

IMNU Tegal

"Melalui gerakan ngaji ini, Lembaga Rijalul Ansor bisa menjadi wadah yang baik dan bermanfaat bagi kader dan masyarakat. Oleh karena itu Ansor berharap terutama kepada pemuda santri atau alumni pesantren untuk dapat bergabung dan menguatkan Rijalul Ansor," tandas Azmi.

Putaran perdana Rijalul Ansor yang dilaksanakan pada Ahad malam Senin (27/11) bertempat di Gedung MWC NU Kedungwuni, Jalan Kebangkitan No. 9 Kedungwuni. Hadir KH Sabilal Rosyad yang mengkaji kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah karangan Hadratusy Syakh KH Hasyim Asyari. Red: Mukafi Niam

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Ubudiyah, Tokoh, Ahlussunnah IMNU Tegal

Senin, 20 November 2017

Gus Dur Anggap SBY Takut Selesaikan Masalah Lapindo

Jakarta, IMNU Tegal

Jika berniat baik, upaya penyelesaian Lumpur Lapindo oleh pemerintah sebenarnya bisa dilakukan dengan mudah, namun akibat ketakutan presiden SBY terhadap reaksi berbagai fihak, maka masalah ini sampai sekarang belum tuntas.

Demikian dikatakan oleh Ketua Dewan Syuro PKB KH Abdurrahman Wahid dalam konferensi pers di PBNU, Rabu (22/8).

Terkait dengan penundaan interpelasi Lapindo kemarin, Gus Dur meminta FKB DPR RI untuk tetap menggelarnya tiga bulan ke depan jika tidak ada kesungguhan pemerintah untuk melaksanakannya. “Kita hanya berharap untuk membela kepentingan rakyat, bukan kepentingan siapapun,” katanya.

Gus Dur Anggap SBY Takut Selesaikan Masalah Lapindo (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Anggap SBY Takut Selesaikan Masalah Lapindo (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Anggap SBY Takut Selesaikan Masalah Lapindo

Selanjutnya Gus Dur meminta agar fihak-fihak non pemerintah dilibatkan dalam pengambilan keputusan, bukan hanya sekedar keputusan birokrasi saja. “Ada adagium Von Clausewitz bahwa perang terlalu penting hanya diputuskan para jendral saja. Maka bagi kita nasib rakyat adalah terlalu penting untuk hanya diputuskan oleh para birokrat di tingkat manapun,” katanya.

Saat ini masalah terpenting yang harus diselesaikan adalah bagiamana menyiapkan dana-dana untuk sertifikasi tanah yang sekarang tertimbun Lumpur dan berikutnya biaya mempersiapkan tanah baru? ditempat baru.

IMNU Tegal

“Kedua hal itu rupanya dilupakan oleh pemerintah pada tingkat pusat, propinsi maupun lokal, yang dipikirkan hanyalah kepentingan birokrasi saja, bukan kepentingan rakyat,” tandasnya.

Dikatakannya saat ini nasib para pengungsi di Pasar Baru Porong tidak diperhitungkan. Jatah makan 5000 rupiah per hari pun dikorupsi dan makanan yang diberikan kepada para pengungsi hanya bernilai 1000 rupiah yang berupa nasi aking. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Tokoh IMNU Tegal

Kamis, 16 November 2017

Catatan Habib Mudzir Ketika Mimpi Bertemu Rasulullah

Jakarta, IMNU Tegal. Umat Islam di Indonesia berduka dengan meninggalnya pimpinan Majelis Rasulullah, Habib Mudzir Al Musawwa, yang terjatuh di kamar mandi dan kemudian di bawa ke RSCM, Ahad (15/9).

Catatan Habib Mudzir Ketika Mimpi Bertemu Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Catatan Habib Mudzir Ketika Mimpi Bertemu Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Catatan Habib Mudzir Ketika Mimpi Bertemu Rasulullah

Jauh sebelumnya, Habib Mudzir telah menuliskan di blognya, http://majeliskecil.wordpress.com/ tentang kerinduan dan mimpinya bertemu dengan Rasulullah, dan ramalan umurnya yang tidak akan melebihi 40 tahun.? Berikut kutipan selengkapnya.? ?

"Malam ini aku tersandar di pembaringan dan terpaku bertafakkur…, airmata terus mengalir, alangkah lemahnya hamba ini menghadapi gelombak ombak…

IMNU Tegal

Dihadapanku acara esok malam di Monas, sedangkan acara malam minggu membuat dadaku pecah, ketika sakit di kepala belakangku kambuh, dan sakitnya terasa seluruh urat panas membara sampai ke kuku dan tulang… dan puncak sakitnya adalah di kepala bagian belakang…

Malam Minggu biasanya kutemui 15-20 ribu Muslimin, namun tubuh yang sudah rapuh ini terus merangkak menuju majelis yang kukira akan menemui jamaah yang lebih banyak..

IMNU Tegal

Ternyata yang kutemui hanya sekitar 300 orang saja, serasa meledak dadaku karena sedih dan menahan sakit, ingin rasanya kujatuhkan tubuhku dipanggung dan terserah apa yang akan terjadi..

Dengan tubuh yang terus menahan sakit aku bertahan, mataku nanar dan panas, wajah dan telinga serasa menjadi tebal bagai ditampar berkali kali.. keluhan sakit adalah sebab peradangan otak yang terus menjadi jadi

Aku terus menoleh ke kiri dan kanan, berharap para kekasihku datang berbondong bondong meramaikan acara, namun hanya beberapa puluh saja duduk di shaf, dan sisanya belasan orang berdiri di sekitar panggung…, gelombang jamaah tidak tiba juga, tak lama tiba konvoi pun mungkin hanya 50 orang saja

Aku terhenyak, kepalaku semakin sakit, seluruh tubuhku seakan berteriak kesakitan tak kuasa menahan sakitnya.. Allah.. Allah,..Allah… wahai tubuh penuh dosa kau harus bertahan…

Ceramah selesai,, acara ditutup, aku melangkah ke mobil dengan lemah dan ingin kuteriakkan pada semua orang jangan satupun menyentuh kulitku karena sangat terasa sakitnya.. namun aku harus menerima nasibku untuk dikerubuti, mereka datang dan setia padaku.., mereka orang orang berjiwa Muhammad saw, aku tak boleh kecewakan mereka

Aku membatin memandangi jumlah yang sangat sedikit dihadapan panggung besar dan lapangan bola ini……….. 12 tahun aku berdakwah, inilah hasil dakwahku, sisanya adalah buih di lautan..

Sampai di markas kurebahkan tubuh penuh derita dengan hati yang hancur, ketika mata hampir terlelap maka aku terhentak bagai dibentak syaitan, esok malam acara Monas, bagaimana nasibmu Munzir….!, adakah akan seperti ini ini…?, hujan akan turun dan kau terpaku kecewa dihadapan guru mulia..?

Aku bagai tersengat stroom tegangan tinggi, menangis sekeras kerasnya… sakit dikepalaku sudah tak tertahan, jika kuhantamkan kepala ini ke tembok hingga kepala ini hancur tidak akan terasa sakitnya karena sudah dikalahkan oleh sakit yang jauh lebih berat..

Tubuhku gemetar, lalu aku berkata : Ainiy, bantu aku membuka jubah dan sorbanku dan gamisku, bantu aku rebah, ini sudah larut malam, makanan apa yg ada Ainiy?, saya lapar, dan perlu makan sedikit untuk makan obat, ia berkata : jam segini wahai habib sudah tidak ada apa-apa, banyak restoran padang dan penjual makanan masih tutup pula karena liburan panjang..,

Baiklah, buatkan Indomie saja, sekedar pengganjal untuk makan obat..

Prof sudah mengatakan, jika sakit di kepala tak mau hilang denan obat penahan sakit yang saya berikan, habib harus segera ke RSCM untuk suntik otak…

Berkali-kali memang ia menembuskan jarum sepanjang hampir 15cm itu kedalam otakku sedalam dalamnya.. ah,,, tidak ada waktu untuk opname.. aku harus bertahan…

Dihadapanku acara Monas, pasrah pada Allah.. lalu saat mata hampir terpejam pikiranku dihentakkan lagi dengan beban berikutnya, 12 Rabiul Awal pada 26 Februari…., bulan depan…!!!, lalu kedatangan guru mulia pada sekitar Maret….!!, mestilah ada acara akbar pula..!, lalu 27 Rajab Isra Mikraj..!, lalu Nisfu Sya;ban..!!, lalu badr pada pertengahan Ramadhan..!!, lalu habisnya massa kontrak markas MR di bulan Juni…

Aku teringat mimpiku beberapa minggu yang lalu, aku berdiri dengan pakaian lusuh bagai kulit yang bekerja sepanjang hari, dihadapanku Rasulullah saw berdiri di pintu kemah besar dan megah, seraya bersabda : “Semua orang tak tega melihat kau kelelahan wahai Munzir, aku lebih tak tega lagi…, kembalilah padaku, masuklah ke dalam kemahku dan istirahatlah…

Ku jenguk dalam kemah mewah itu ada guru mulia, seraya berkata: kalau aku bisa keluar dan masuk ke sini kapan saja, tapi engkau wahai Munzir jika masuk kemah ini kau tak akan kembali ke dunia..

Maka Rasul saw terus mengajakku masuk, “masuklah.. kau sudah kelelahan.., kau tak punya rumah di dunia (memang saya hingga saat ini masih belum punya rumah), tak ada rumah untukmu di dunia, karena rumahmu adalah disini bersamaku.., serumah denganku.., seatap dengan ku…, makan dan minum bersamaku .. masuklah,,,

Lalu aku berkata: lalu bagaimana dengan Fatah Jakarta? (Fatah tegaknya panji kedamaian Rasul saw), maka beberapa orang menjawab dibelakangku : wafatmu akan membangkitkan ribuan hati untuk meneruskan cita citamu,..!!, masuklah,,,!

Lalu malaikat Izrail as menggenggamku dari belakang, ia memegang dua pundakku, terasa seluruh uratku sudah digenggamannya, seraya berkata: mari… kuantar kau masuk.. mari…

Maka kutepis tangannya, dan aku berkata, saya masih mau membantu guru mulia saya…, maka Rasul Saw memerintahkan Izrail as untuk melepaskanku..

Aku terbangun…

Semalam ketika aku rebah dalam kegelapan kulihat dua tamu bertubuh cahaya, namun wajahnya tidak berbentuk kecuali hanya cahaya, ia memperkenalkan bahwa ia adalah Izrail as..

Kukatakan padanya: belum… belum.. aku masih ingin bakti pada guru muliaku.. pergilah dulu, maka ia pun menghilang raib begitu saja.

Tahun 1993 aku bermimpi berlutut dikaki Rasul saw, menangis rindu tak kuat untuk ingin jumpa, maka Sang Nabi saw menepuk pundakku… tenang dan sabarlah..sebelum usiamu mencapai 40 tahun kau sudah kumpul bersamaku”

Usia saya kini 37 tahuh pada 23 Februari 1973, dan usia saya 38 tahun pada 19 Muharram ini.

Peradangan otak ini adalah penyakit terakhirku, aku senang wafat dengan penyakit ini, karena Rasul saw beberapa bulan sebelum wafatnya terus mengeluhkan sakit kepala..

Salam rinduku untuk kalian semua jamaah Majelis Rasulullah saw kelak, jika terjadi sesuatu padaku maka teruskan perjuanganku.. ampuni kesalahanku.., kita akan jumpa kelak dengan perjumpaan yang abadi..

Amiin..

Kalau usiaku ditakdirkan lebih maka kita terus berjuang semampunya, tapi mohon jangan siksa hari hariku.. hanya itu yang kuminta..

Semoga Allah panjangkan umur beliau untuk berdakwah di jalan Allah dan Rasulullah. Amin."(mukafi niam)

Foto: Pelitaonline

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Meme Islam, Tokoh IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock