Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2018

Ziarahi Syekh Yusuf Al-Makassari Penutup PKL PMII Makassar

Makassar, IMNU Tegal. Pelatihan Kader Lanjutan (PKL) Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Makassar ditutup dengan wisata religi dengan menziarahi makam Syekh Yusuf Al-Makassari di Kabupaten Gowa. Panitia, peserta yang berjumlah 19 orang beserta fasilitator turut serta dalam ziarah tersebut.

Ziarahi Syekh Yusuf Al-Makassari Penutup PKL PMII Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ziarahi Syekh Yusuf Al-Makassari Penutup PKL PMII Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ziarahi Syekh Yusuf Al-Makassari Penutup PKL PMII Makassar

Syekh Yusuf Al-Makasaari merupakan salah satu uluma besar yang berasal dari Makassar. Menurut Sonny Majid, fasilitator PKL PMII Makasaar, wisata religi ini dilakukan dalam rangka menjaga dan melestarikan budaya dan amalan yang selama ini dijaga oleh para tetua kita di Nahdatul Ulama.

“Menjaga tradisi merupakan salah satu tanggung jawab bagi organisasi yang berlambang prisai ini,” jelas Sonny yang juga dosen Universitas Pamulang Tangerang, Banten pada Kamis (29/9).

IMNU Tegal

Senada dengan Sonny, Ketua Cabang PMII Makassar Basri menegaskan, arti dari lambang perisai PMII adalah sebagai simbol agar warga pergerakan menjadi tameng untuk menjaga budaya dan tradisi di Indonesia.

Oleh karena itu, kata alumni PMII Rayon Ekonomi UMI, ziarah ke makam Syekh Yusuf Al-Makassari merupakan salah satu langkah untuk menjaga tradisi dan budaya di Indonesia.

IMNU Tegal

Setelah selesai PKL, Basri mengharapkan semua peserta dapat mengamalkan ilmunya di masyarakat, serta dapat mengembangkan PMII dan NU di daerah masing-masing. (Muhammad Aras Prabowo/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Warta, News IMNU Tegal

Senin, 19 Februari 2018

Banser Diimbau Perkuat Kemampuan di Bidang IT

Majalengka, IMNU Tegal - Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menggelar Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Angkatan VII pada Jumat-Sabtu (13-14/1). Kegiatan kaderisasi jenjang awal ini dikonsentrasikan di Lereng Cakrabuana Girimukti, Malausma, Majalengka.

Ketua GP Ansor Kabupaten Majalengka Ahmad Cece Asyfiyadi menjelaskan, sebanyak 350 anggota Banser terlibat kegiatan itu. "Ini adalah tahap awal untuk menempa fisik dan mental sebagai Banser agar siap menjaga marwah NU dan keutuhan NKRI," ujar Cece.

Banser Diimbau Perkuat Kemampuan di Bidang IT (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Diimbau Perkuat Kemampuan di Bidang IT (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Diimbau Perkuat Kemampuan di Bidang IT

Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Maman Imanulhaq yang turut mengisi acara tersebut meminta Banser menjadi garda terdepan dalam menjaga NKRI. Ia menegaskan, Banser harus siap membela para kiai dan ulama NU yang belakangan ini marak dilecehkan, dihujat, dan dihina.

IMNU Tegal

"Apakah kalian siap menjaga NKRI? Apakah kalian siap membela para kiai dan ulama?" teriak Kiai Maman dalam orasinya di hadapan peserta Diklatsar Banser.

Pertanyaan itu pun langsung dijawab serentak oleh seluruh anggota Banser yang hadir dengan jawaban “Siap!”.

Terkait Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Ansor yang digelar bersamaan Diklatsar Banser, Kiai Maman meminta GP Ansor Majalengka fokus melakukan kaderisasi untuk menguatkan ideologi Ahlussunah wal Jama’ah dan nasionalisme ke berbagai kalangan, termasuk pondok pesantren.

IMNU Tegal

"Intensifkan berbagai kegiatan pengkaderan seperti Pendidikan Kepemimpinan Dasar (PKD), Pendidikan Kader Lanjutan (PKL) untuk Ansor maupun Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar), Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) bagi Banser," ujar anggota DPR RI ini.

Merespon pesatnya perkembangan medsos dewasa ini, Kiai Maman berharap agar kader GP Ansor dan Banser memperkuat diri dengan kapasitas atau kemampuan di bidang teknologi informasi (IT).

"Ansor juga harus membangun jaringan komunikasi yang lebih luas dengan berbagai elemen lain dalam kerangka terlibat aktif memajukan pembangunan di Majalengka," pinta Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi itu. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Warta IMNU Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

LFNU Undang Masyarakat Ikuti Pelatihan Hisab-Rukyat

Jakarta, IMNU Tegal

Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) mengajak masyarakat secara umum untuk mengikuti Pelatihan Hisab-Rukyat yang digelar di Masjid an-Nahdlah yang terletak di lantai dasar gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (1/5) mendatang.

Kegiatan yang rutin diselenggarakan tiap Rabu minggu pertama saban bulan ini dimulai setelah sembahyang maghrib dari pukul 18.30 sampai 21.00 WIB. Pelatihan Hisab-Rukyat menargetkan, peserta dapat menguasai beragam materi seputar penentuan awal bulan hijriyah, waktu shalat, arah kiblat, dan peristiwa gerhana.

Seorang staf LFNU, Maftuhin, mengungkapkan, Rabu nanti pemateri akan datang dari Subdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat Kemenag RI yang akan mengulas hisab-rukyat penentuan arah kiblat.

LFNU Undang Masyarakat Ikuti Pelatihan Hisab-Rukyat (Sumber Gambar : Nu Online)
LFNU Undang Masyarakat Ikuti Pelatihan Hisab-Rukyat (Sumber Gambar : Nu Online)

LFNU Undang Masyarakat Ikuti Pelatihan Hisab-Rukyat

”Peserta juga akan diajarkan tentang cara hitung dan praktik sampai bisa. Rencananya, peserta akan mendapatkan buku secara gratis,” ujarnya.

LFNU mengadakan pelatihan gratis ini secara perdana pada April 2013. Dalam kesempatan ini, Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat Kemenag RI KH Ahmad Izzuddin, yang juga pengurus PP LFNU, memberikan pengenalan umum mengenai ilmu falak, hisab dan rukyat.

IMNU Tegal

Izzuddin mengatakan, ilmu falak merupakan pengetahuan yang langka. Meskipun, dalam menunjang ibadah umat Islam, urgensi disiplin ini tak terelakkan.

Untuk registrasi, peserta dapat datang ke sekretariat PP LFNU di gedung PBNU, lantai 4, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, atau menghubungi (021) 31909735.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Sholawat, Warta, Budaya IMNU Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Ini Cara Memakmurkan Masjid

Masjid merupakan tempat yang paling sakral bagi umat Islam sebab tempat ibadah seluruh umat Islam. Selain difungsikan sebagai tempat ibadah, masjid juga digunakan untuk kegiatan sosial, dakwah, dan belajar agama.

Islam menganjurkan umatnya untuk memakmurkan dan meramaikan masjid. Dalam Surat At-Taubah ayat 18, Allah SWT menjelaskan bahwa yang memakmurkan masjid tersebut hanyalah orang-orang beriman pada hari akhir, mendirikan shalat, dan membayar zakat.

Ini Cara Memakmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Memakmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Memakmurkan Masjid

Syekh Muhammad Ali As-Shabuni dalam Rawai’ul Bayan: Tafsir Ayatul Ahkam menerangkan ada dua cara memakmurkan masjid. Ia  mengatakan:

IMNU Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?....? ?: ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sebagian ulama berpendapat bahwa memakmurkan masjid adalah dengan cara membangun, memperkuat, dan memperbaiki bangunan yang rusak. Sementara pandangan lain mengatakan, yang dimaksud memakmurkan masjid ialah mengerjakan shalat dan segala bentuk ibadah di masjid.”

IMNU Tegal

Ulama berbeda pendapat tentang maksud memakmurkan masjid (‘imaratul masajid): ada yang menekankan pada pembangunan dan perbaikan fisik masjid dan ada pula yang menekankan pada substansi pendirian masjid, yaitu sebagai tempat ibadah.

Kedua pendapat ini sebenarnya masuk dalam kategori ‘imaratul masajid (memakmurkan masjid). Menurut mayoritas ulama, yang dimaksud memakmurkan masjid itu adalah memperbanyak ibadah di dalamnya.

Jadi memakmurkan masjid tidak hanya dengan memperindah dan merenovasi bangunan masjid, tetapi juga memperbanyak ibadah dan mengerjakan shalat berjamaah di masjid. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah).

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Warta, Tokoh, Pesantren IMNU Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Mahasiswa FDK Unisnu Jepara Shooting Film "Surban Putih"

Semarang, IMNU Tegal. Usai melakukan shooting film "Surban Putih" di pesantren Darut Talim Bangsri Jepara, dan di Kampus Unisnu Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), film yang disutradarai Robit Himami melakukan shooting di di kampus Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang pada Rabu (1/7).

Film ini memberikan pesan moral kepada masyarakat bahwa, pendidikan di pesantren memiliki ruang yang besar untuk meraih cita-cita sesuai dengan kompetensi yang diinginkan. Karena selain mendalami ilmu agama, juga mempelajari ilmu-ilmu yang berbasis sosial maupun penguatan keahlian sesuai dengan bakat minat yang dimiliki, ujar Khoirul Muslimin salah satu dosen FDK yang membina terlaksananya film ini.

Mahasiswa FDK Unisnu Jepara Shooting Film Surban Putih (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa FDK Unisnu Jepara Shooting Film Surban Putih (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa FDK Unisnu Jepara Shooting Film "Surban Putih"

"Modal dasar penguatan agama pada generasi muda akan menjadi generasi yang tangguh dan bermartabat untuk membangun bangsa yang lebih sejahtera," tambahnya.

IMNU Tegal

Sementara itu, Robit Himami mengatakan "Film ini menjadi penanda baru bahwa Fakultas Dakwah dan Komunikasi memiliki ruang lingkup yang luas dalam telaah keilmuan, dengan terjun langsung di dunia perfilman ini, banyak hal-hal yang baru yang didapatkan sesuai pada kajian teori yang kami dapat di bangku kuliah."

Dalam satu tahun mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi sudah memproduksi film sebanyak 7 karya, diantaranya film dengan judul (1) Paijo; (2) Tapak Kaki di Desa; (3) Karung Beras; (4) Terjawab oleh Detik; (5) Sepenggal Kisah Dua Belas AP; (6) Ngalap Berkah Pesta Lomban; dan (7) Surban Putih, pungkas Robit.

IMNU Tegal

Dalam sambutan ketua Program Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang Dr Turnomo Raharjo  mengucapkan "terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada kami menjadi tempat salah satu shooting film, semoga ini menjadi awal kerjasama kita dalam meningkatkan kualitas mahasiswa dan dosen."

Dalam kesempatan yang sama di ruang rapat magister Komunikasi Abdul Wahab, M.SI. selaku Kaprodi Fakultas Dakwah dan Komunikasi menyampaikan kerjasama ini diharapkan menjadi awal membuka gerbang kompetensi yang lain yang bisa dikerjasamakan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa di bidang Ilmu Komunikasi.

Minanurrohman yang juga pemeran Andi mengungkapkan "Senang sekali, tentu kegiatan ini memberikan kesempatan kepada saya untuk menggali ilmu dengan memerankan Andi. Tentu saya dituntut untuk bisa menjadi Andi yang sesungguhnya, harapan saya semoga apa yang saya perankan menjadi doa untuk kesuksesan saya dan teman-teman mahasiswa yang lain," tutur Minan. (Iqdasy/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Amalan, Makam, Warta IMNU Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Ultimatum, Calon dan Jurkam Harus Mundur dari Kepengurusan NU

Probolinggo, IMNU Tegal. Rais Syuriyah PCNU Kota Probolinggo terpilih KH Azis Fadol memberikan ultimatum dan garis tegas bagi pengurus harian NU selama lima tahun ke depan. Terutama dalam momen Pilwali Kota Probolinggo 2013 mendatang, jika akan maju harus pengurus harian NU harus mundur.

Menurutnya, pengurus harian NU ini meliputi Rais Syuriyah, Ketua Tanfidziyah, Wakil Ketua dan Sekretaris. “Dalam AD/ART sudah dijelaskan, kalau dicalonkan harus lepas dari kepengurusan NU,” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hidayah Kecamatan Kademangan ini saat dihubungi IMNU Tegal, Senin (3/12).

Ultimatum, Calon dan Jurkam Harus Mundur dari Kepengurusan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ultimatum, Calon dan Jurkam Harus Mundur dari Kepengurusan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ultimatum, Calon dan Jurkam Harus Mundur dari Kepengurusan NU

Selanjutnya posisi yang ditinggalkan pengurus tadi akan digantikan pengurus lainnya. Proses yang sama terjadi ketika Maksum Subani menggantikan Kiai Mafruddin Kelurahan Pilang Kecamatan Kademangan yang mengundurkan diri dari kepengurusan.

IMNU Tegal

Ketentuan yang sama berlaku bagi pengurus yang menjadi juru kampanye (jurkam) calon tertentu. Hanya saja, jika menjadi jurkam yang bersangkutan cukup nonaktif dari kepengurusan.

Meski demikian, bukan berarti pengurus NU tidak boleh terlibat dukung mendukung calon. Mereka tetap mendapatkan kebebasannya atas nama pribadi, tidak mengatasnamakan organisasi. “Kalau menjadi tim sukses, selama tidak membawa NU, tidak masalah,” terangnya.

IMNU Tegal

Menurut KH. Azis Fadol, ketentuan itu sesuai dengan komitmen khittah NU. “Tidak kemana-mana, tapi ada di mana-mana. NU tidak ke politik, terutama dalam Pilkada,” jelasnya.

Kiai Azis menyatakan perlu menyampaikan pernyataan tersebut pasalnya pada tahun 2013 mendatang warga nahdliyin terutama yang berada di Kota Probolinggo akan menghadapi Pilgub Jatim dan Pilwali Kota Probolinggo.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pendidikan, Warta, Kyai IMNU Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Menentukan Tujuan Berpuasa Sejak Dini

Bila Anda hendak pergi bermain ke Jakarta selama dua atau tiga hari lamanya, bagaimanakah Anda menyiapkan segala sesuatunya? Bila Anda hendak pergi ke Jakarta sebulan lamanya untuk satu keperluan bisnis yang menghasilkan keuntungan ratusan juta di mana di dalamnya Anda akan bertemu dengan orang-orang penting, bagimanakah Anda akan menyiapkan segala sesuatunya?

Tentunya jawaban atas kedua contoh soal di atas jauh berbeda. Pergi ke Jakarta selama dua tiga hari dengan keperluan sekadar bermain tak perlu bersusah payah mempersiapkan segalanya jauh-jauh hari. Tak harus membawa perbekalan yang banyak, uang yang berlebih, bakaian yang sangat bagus. Cukup biasa saja. Beli tiket bus atau kereta pada hari pemberangkatan, membawa uang yang cukup untuk makan dan keperluan lain selama dua atau tiga hari, dan berpakaian biasa saja yang pantas untuk sekadar bermain.

Menentukan Tujuan Berpuasa Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Menentukan Tujuan Berpuasa Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Menentukan Tujuan Berpuasa Sejak Dini

Tapi pergi ke Jakarta sebulan lamanya untuk satu keperluan bisnis yang menghasilkan keuntungan ratusan juta di mana di dalamnya Anda akan bertemu dengan orang-orang penting, tentu persiapan untuk melaksanakannya jauh lebih rumit dari yang pertama. Jauh-jauh hari mesti sudah membeli tiket, jangan sampai kehabisan karena bisa terlambat bertemu dengan rekanan dan jadwal bisnis jadi tak karuan. Pakaian yang dibawa pun mesti pakaian yang bagus yang layak dikenakan untuk pertemuan dengan orang-orang penting. Mesti menyiapkan banyak uang untuk hidup sebulan di sana. Dan persiapan lainnya harus diperhatikan agar keuntungan ratusan juta benar-benar dapat di raih.

IMNU Tegal

Dari gambaran kecil di atas dapat diambil satu pelajaran bahwa tujuan yang hendak dicapai seseorang akan sangat berpengaruh kepada proses mencapai tujuan tersebut. Seberapa mudah dan sulit, kecil dan besar, ringan dan berat suatu tujuan yang hendak dicapai akan berpengaruh pada proses mencapainya.

Demikian pula dengan puasa di bulan Ramadhan. Bagaimana proses menjalaninya akan sangat dipengaruhi oleh seberapa besar tujuan yang hendak dicapai oleh puasa itu. Bila seseorang berpuasa hanya karena merasa tidak enak dengan rekan sekantor yang pada berpuasa, maka ia akan menjalani ibadah puasanya sambil lalu saja. Bila seseorang berpuasa dengan motivasi sekadar menggugurkan kewajiban sebagai seorang muslim, maka bisa jadi ia akan menjalani puasanya dengan menahan lapar dan haus saja, sementara perilaku buruk yang bisa menghilangkan keutamaannya tetap ia lakukan. Dan bila seseorang melakukan puasanya dengan tujuan benar-benar ingin mendapat keridloan Tuhannya, maka ia akan menjalaninya sebaik mungkin, tidak hanya sekadar menahan haus dan lapar tapi juga menjaga diri dari perilaku-perilaku tercela yang tak disukai Tuhannya.

IMNU Tegal

Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183 Allah berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”

Dari ayat di atas tersurat sebuah harapan agar dengan berpuasa seorang mukmin akan selalu bertakwa kepada Allah SWT. Agar dengan berpuasa seseorang akan berpredikat sebagai muttaqin, orang yang bertakwa kepada Tuhannya. Inilah sebuah tujuan yang hendak dicapai dari diwajibkannya puasa di bulan Ramadhan.

Pertanyaannya adalah, apakah dengan berpuasa Ramadhan sebulan penuh maka dengan serta merta seseorang berpredikat sebagai muttaqin, orang yang bertakwa? Tentu saja tidak. Seorang yang bertakwa tentunya memiliki kriteria tertentu. Bila seorang yang berpuasa memiliki kriteria tersebut maka bisa jadi tujuan berpuasanya telah tercapai. Bila tidak, ya tidak.

Di dalam al-Qur’an ada banyak ayat yang menyebutkan beberapa kriteria orang yang bertakwa. Di antaranya adalah apa yang disebutkan oleh ayat 134 surat Al-Maidah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Yaitu orang-orang yang berinfak di saat senang dan susah, orang-orang yang menahan amarah, dan orang-orang yang memberi maaf kepada orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Ayat di atas menunjukkan tiga kriteria seorang yang bertakwa kepada Allah, yakni mau berinfak di kala suka dan duka, mampu menahan amarah, dan memberi maaf atas kesalahan orang lain.

Orang yang bertakwa memiliki perilaku mau menginfakkan hartanya pada kondisi apapun, baik saat senang atau susah, saat kaya atau sedang jatuh miskin, bahkan sementara ulama ada yang menafsirkan baik infaknya ia berikan kepada orang yang ia cintai maupun kepada orang yang ia benci (Baca, Abu Hayan al-Andalusi, Tafsir al-Bahrul Muhith [Beirut: Darul Fikr, 2005], jil. 3, hal. 346).

Orang yang bertakwa juga memiliki sikap mampu menahan rasa marah yang menggebu di dalam hati. Semestinya ia memiliki kemampuan untuk melampiaskan kemarahannya, namun ia lebih memilih untuk menahannya.

Ada yang menarik untuk dicermati dalam ayat itu membahasakan perilaku “menahan amarah”. Untuk menyebut “orang yang menahan amarah” ayat tersebut membahasakannya dengan kalimat al-kâdhimînal ghaidh. Kata al-kâdhimîn adalah bentuk jamak dari kata al-kâdhim yang berarti “yang menahan”. Yang menarik adalah kata ini satu akar kata dengan kata al-kadhîmah yang berarti “termos” (Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab – Indonesia [Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum, 1997], hal. 1509). Dari sini bisa dipahami bahwa seorang yang bertakwa mesti memiliki perilaku sebagaimana termos. Sepanas apapun air yang ada di dalam termos orang yang ada di dekatnya tak merasakan panasnya air tersebut. Demikian juga orang yang bertakwa. Sepanas apapun amarah yang membara di dalam hatinya ia mesti mampu menahan diri hingga orang yang di dekatnya tak tahu bahwa ia sedang marah.

Apakah orang yang bertakwa tak boleh marah? Tidak begitu. Orang yang bertakwa baru akan menumpahkan kemarahannya bila dirasa akan membawa manfaat yang nyata, sebagaimana termos hanya akan mengeluarkan air panasnya untuk sesuatu yang jelas manfaatnya.

Orang yang bertakwa juga berperilaku mudah memaafkan kesalahan orang lain. Memaafkan yang dalam bahasa Arab disebut ‘afwun dan pelakunya disebut al-‘âfî berasal dari kata ‘afâ – ya’fû semakna dengan kata mahâ – yamhû – mahwûn yang berarti menghapus (Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, 1997: 1302). Seorang yang bertakwa member maaf tidak sekadar mengucapkan kata maaf belaka, namun juga disertai rasa keridhaan, keikhlasan, dan tidak mendendam. Ia menghapus kesalahan dari dalam hatinya. Bukanlah pemaaf bila satu saat masih mengungkit-ungkit kesalahan orang lain dan bahkan menyebarluaskannya ke banyak orang. Bukanlah pemaaf bila dalam hatinya masih tersimpan kebencian pada orang yang berbuat salah kepadanya.

Menjadi orang bertakwa dengan perilaku seperti inilah yang hendak dituju dengan ibadah puasa selama Ramadhan. Menjadi hamba berperilaku luhur tersebut yang didamba dengan proses ibadah puasa.

Bila sejak dini seorang muslim telah mengetahui dan menyadari tujuan yang demikian yang hendak diraih dengan puasanya, maka akan sangat berpengaruh pada bagaimana ia akan menjalani ibadah puasanya sebagai proses mencapai tujuan tersebut. Jauh-jauh hari ia telah mempersiapkan diri untuk menyambut dan mengisi Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Ia rencanakan secara matang kebaikan apa saja yang akan ia lakukan di dalamnya. Sedemikian rupa ia jaga perilaku dan ucapannya.

Katakanlah, bila saya, Anda, kita semua dahulu memulai berpuasa pada saat berumur sepuluh tahun dan kini telah berusia empat puluh, lima puluh atau enam puluh tahun, itu artinya kita telah berpuasa Ramadhan sebanyak tiga puluh, empat puluh atau lima puluh kali. Dengan telah berpuasa berpuluh kali itu sudahkah saya, Anda, kita semua menjadi hamba yang bertakwa? Yang mau berinfak di kala suka dan duka, mampu menahan amarah, dan mudah memaafkan orang lain? Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)



Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tokoh, Warta IMNU Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

LTMNU Pamekasan Harap Pemerintah Pedulikan Masjid

Pamekasan, IMNU Tegal. Para pengurus Lembaga Tamir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Pamekasan berharap agar pemerintah mempedulikan keberadaan masjid-masjid. Pasalnya, masjid merupakan pilar utama dalam pemberdayaan masyarakat, juga menjadi sarana utama dalam pengembangan ibadah dalam setiap harinya.

"Itulah harapan teman-teman pengurus LTMNU Pamekasan mewakili harapan segenap elemen masyarakat," tutur sekretaris LTMNU Pamekasan, Abdul Kadir Damanhuri, kepada IMNU Tegal, Senin (21/5).

LTMNU Pamekasan Harap Pemerintah Pedulikan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU Pamekasan Harap Pemerintah Pedulikan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU Pamekasan Harap Pemerintah Pedulikan Masjid

Harapan tersebut, lanjutnya, sudah dipertegas dalam pertemuan bulanan LTNNU Pamekasan bertempat di masjid pesantren Panempan, Pamekasan, belum lama ini. Pertemuan tersebut dihadiri mustasyar NU Pamekasan yang juga bupati Pamekasan, KH Kholilurrahman, M.Si.

IMNU Tegal

"Dalam pertemuan itu, kami melakukan audensi dengan Bupati," tambah Ustaz Damanhuri, panggilan akrab Abdul Kadir Damanhuri.

IMNU Tegal

"Hakikatnya ini (audensi dengan Bupati, red.) adalah agenda lama yang baru dilaksanakan."

Dikatakan, audensi tersebut menekankan agar pemerintah bisa memberikan bantuan terhadap masjid-masjid di Pamekasan.

"Pengecatan, labelisasi, pengaturan pengeras masjid, dan sebagainya. Ini yang kami utarakan kepada Bupati," tegas Ustaz Damanhuri.

Dan harapan tersebut, oleh Kiai Kholilurrahman, akan diupayakan untuk diwujudkan dengan tetap melibatkan peran aktif pengurus LTMNU Pamekasan.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Kontributor : Hairul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Warta, Sejarah, Kajian Islam IMNU Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Buka Program Studi Umum, UNU NTB Harapan Baru

Mataram, IMNU Tegal. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Barat menggelar lalilatul ijitma’ ke 40 di aula Kantor PWNU NTB Jalan Pendidikan Nomor 6 Kota Mataram pada Jumat malam (4/9).

Buka Program Studi Umum, UNU NTB Harapan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Buka Program Studi Umum, UNU NTB Harapan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Buka Program Studi Umum, UNU NTB Harapan Baru

Kegiatan bulanan NU Wilayah NTB dimulai selepas shalat maghrib berjamaah dilanjutkan dengan istighotsah oleh santri Al-Manshuriah yang diikuti ratusan Nahdliyin. Tampak para mahasiswa baru UNU NTB sekitar 200 orang yang beberapa waktu lalu mengikuti OSPEK.

“Saat ini kita sudah miliki Universtitas (UNU) tersendiri di daerah. Sejauh ini memang banyak lembaga pendidikan yang dikelola oleh orang-orang NU,” kata TGH. Acmad Taqiuddin Mansur, Ketua PWNU NTB saat sambutan.

IMNU Tegal

Tua Guru menyebut lembaga-lembaga itu seperti di Bagu (institute Qomarul Huda Bagu), di Bonder (institute Qomarul Huda Bagu II Bonder), di Lombok Timur (STAINU), dan di Bima juga ada. Namun demikian, itu semua masih bersifat Yayasan.

Oleh karena itu, lanjutnya, Universitas Nahdlatul Ulama yang baru beberapa hari menggelar OSPEK menjadi harapan baru bagi generasi bangsa, khususnya warga nahdliyin karena membuka program study yang masih langka di NTB.

IMNU Tegal

“Dari semua jurusan, hanya Ekonomi Islam (EI) yang berbasis agama. Selain itu, umum semua yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia di masa kini.”

Ia meminta persatuan dan kesatuan bagi warga nahdliyin karena UNU adalah simbol NU.

Sementra itu, Sekretaris PWNU NTB H. Lalu Winengan dalam pengantarnya meminta kepada pelaksana UNU agar mewajibkan seluruh mahasiswanya untuk mengikuti lailatul ijitim’.

“Saya minta kepada birokrasi bagian akademik untuk mewajibkan semua mahasiswa UNU untuk mengikuti ijtima’,” katanya.

Menurut Winengan, lailatul ijitma’ penting diikuti oleh mahasiswa UNU agar mengenal para pengurus NU, mengenal siapa perintis NU dan juga mengenal semua tokoh-tokoh NU. “Jangan sampai mahasiswa UNU tidak mengenal siapa tokoh NU,” harapnya.

Lebih lanjut Kepala Dinas Tata Kota Lombok Barat ini nanti akan mengadakan Turnamen Futsal UNU Cup yang terbuka untuk umum.

“Insya Allah untuk juara satu kita berikan 5 juta. Dan setiap tahun UNU CUP harus diselenggarakan. Kepentingan kami yaitu UNU dikenal,” terangnya. (Hadi/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Cerita, Warta, Humor Islam IMNU Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Tokoh yang Tegas dan Berkepribadian

Politik memang tidak ada sekolahannya, karena sekolahannya di lapangan. Kalau pun terpaksa belajar politik di sekolah paling banter hanya akan menjadi ilmuwan politik atau sekadar pengamat politik, tidak dengan sendirinya menjadi politisi. Bagi seorang politisi, politik itu bukan sesuatu yang dipikirkan dan dilihat saja, tetapi sesuatu yang duterjuni, digumuli sebagai panggilan hidup. Dari situ banyak muncul tokoh politik yang matang dan berkeperibdian seperti Nuddin Luibis, dengan pengalaman lapangannya mampu memimpin partai dari tingkat lokal hingga nasional.

Tokoh yang dikenal sangat vokal dan teguh pendirian itu lahir di desa Roburan Mandailing Natal (Madina), 25 November 1919. Namun jangan heran kalau politisi yang sangat kondang pada zamannya itu hanya tamatan Madrasah Aliyah di pesantren Mustofawiyah Purba Baru Tapanuli Selatan. Dengan semangat belajar yang tekun serta talenta kepemimpinannya yang tinggi ia berhasil  mendongkrak karirnya sebagai politisi yang matang dan dihargai kawan maupun lawan, karena itu posisi sebagai ketua partai dan wakil ketua DPR/MPR cukup lama dipercayakan kepadanya. Dengan posisinya itu banayak persoalan nasional yang diselesaikan. 

Bekal pendidikan madrasah Aliyah itu ia mencoba meniti karir di bidang politik. Sejak tahun 1947 hingga tahun 1950 menjadi anggota DPRD dan DPD Kabupaten Tapanuli Selatan. Setelah sukses di daerahnya dua tahun kemudian dia hijrah ke Medan ibu kota Propinsi Sumatera Utara untuk mengembangkan karir sebagai pegawai negeri sipil. Karena memiliki jiwa kepemimpinan maka ia selalu menonjol di lingkungan kerjanya, maka tidak lama kemudian ia dia ditempatkan di Pemda Kota Medan, bahkan beberapa tahun kemudian bakat kepemimpinannya  dibuktikan dengan menduduki jabatan sebagai wedana atau pembantu walikota. Seusai menjabat sebagai wedana kemudian dipromosikan lagi  sebagai pegawai bagian politik pada Kantor Residen Medan hingga tahun 1954.

Tokoh yang Tegas dan Berkepribadian (Sumber Gambar : Nu Online)
Tokoh yang Tegas dan Berkepribadian (Sumber Gambar : Nu Online)

Tokoh yang Tegas dan Berkepribadian

Sebagai seorang alumni pesantren salaf dengan sendirinya Nuddin Lubis memiliki afiliasi yang kuat dengan Nahdlatul Ulama (NU). Mengingat komitmen ke-NU-annya yang kuat itu maka pada tahun 1957 berani melepaskan karirnya sebagai pegawai negeri setelah terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara, hasil Pemilu 1955 mewakili partai NU. Pada saat yang bersamaan dia terpilih sebagai Wakil Ketua DPD dan Wakil Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara Posisi ini dipegang hingga tahun 1963. Pilihan mengundurkan diri sebagai pegawai negeri yang penuh risiko itu telah diperhitungkan dengan cermat. Terbukti setelah itu karir politiknya bukan semakin menurun, justru semakin menanjak, bahkan telah menganatarkannya menjadi politisi berkaliber nasional, saat mana ia harus hijrah ke Jakarta untuk menjadi anggota DPRGR/MPRS pada tahun 1963.

Pejuang Tulen

H. Nuddin Lubis yang beristrikan Hj. Dumasari Nasution memang benar-benar seorang pejuang tulen. Sejak remaja dan pemuda waktunya habis untuk berkhidmat kepada bangsa dan Negara melalui organisasi politik maupun sosial. Masih dalam usia 20 tahun, Nuddin sudah menjabat sebagai pimpinan pengurus besar organisasi lokal yaitu Al-Ittihadul Islamiyah (AII) Tapanuli Selatan. Empat tahun kemudian dia menjabat Sekretaris Majelis Islam Tinggi (MIT) Tapanuli. Pergumulannya dengan berbagai organisasi Islam lokal itu merupakan sekolah politik yang sangat berharga bagi Nuddin muda.

Tahun 1945-1947 menjabat sebagai  pengurus besar AII Tapanuli. Selama enam tahun (1946-1952) menjadi pimpinan Masyumi Tapanuli Selatan. Bersamaan dengan itu ia menjadi anggota Konsul (Wilayah) Nahdlatul Ulama, hingga menjadi Ketua Wilayah NU Sumatera Utara hingga tahun 1970. Kepiawiannya dalam berpolitik itu, ia semakin menjadi perhatian kalangan Pengurus Besar NU, karena itu sejak tahun 1965 hingga 1970 menjadi Ketua Fraksi Partai NU di DPRGR dan anggota pleno PB Nahdlatul Ulama.

IMNU Tegal

Kiprah Nuddin Lubis dimulai sejak tahun 1941, aktif memimpin Gerakan Perjuangan Islam hingga masa pendudukan Jepang. Tahun 1945 turut aktif pula dalam revolusi kemerdekaan dengan menjadi anggota  Komite Nasional Indonesia (KNI) dan juga  Pengurus Barisan Pemuda Republik Indonesia Tapanuli Selatan. Pada saat bersamaan membentuk Barisan Hizbullah dan Sabilillah Tapanuli Selatan.

Pada tahun 1947-1948 menjadi anggota Badan Pertahanan Kabupaten Tapanuli Selatan. Selama setahun aktif bergerilya di hutan, merangkap sebagai penasihat pemerintah militer Tapanuli Selatan/Sumatera Timur Selatan. Dia juga membentuk Barisan Al-Jihad yang melakukan perlawanan-perlawanan kepada tentara Belanda. Sesudah penyerahan kedaulatan (1950) turut aktif memperjuangkan terwujudnya Negara kesatuan Republik Indonesia.

IMNU Tegal

Selama delapan tahun (hingga 1958) menjadi anggota Penguasa Perang Daerah (Peperda) Sumatera Utara dalam wadah ini Nuddin Lubis yang sangat patriotik itu dengan sendirinya turut aktif menentang pemberontakan PRRI –Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia pimpinan Kol Mauludin Simbolon berkecamuk di wilayahnya itu. Bagi Nuddin pemberontakan itu sebuah makar yang harus diperangi, sebab merongrong kesatuan Republik Indonesia.

Apalagi kota Medan pada tahun 1956 dijadikan Tuan rumah Pelaksanaan Muktamar NU ke 20, maka situasi harus benar-benar diamankan, karena itu dia terpaksa harus membujuk para pimpinan pemberontak agar tidak mengganggu jalannya Muktamar NU. Rupanya usaha itu berhasil sehingga Muktamar NU berjalan lancar di tengah suasana perang.

Resolusi Nuddin Lubis

Berpuluh tahun bergumul dalam dunia politik melalui partai NU membuat Nuddin Lubis amat matang dengan asam garam politik Nasional. Lebih 40 tahun menjadi wakil rakyat sejak di DPRD Kabupaten, Provinsi hingga tingkat pusat membuatnya menjadi politisi yang berkarakter kuat. Tidak mudah tergoda oleh manuver  politik dari partai lain, namun dia tetap konsisten dengan watak NU yang persuasif dan bijak. Kecuali dalam hal-hal tertentu apabila situasi sudah sangat genting, barulah ia tampil memperlihatkan kepiawaiannya di bidang politik.

Begitulah, ketika terjadi situasi dualisme politik dalam kepemimpinan Nasional antara Bung Karno dan Pak Harto pada tahun 1967, H. Nuddin Lubis tampil dengan usul resolusinya yang terkenal ketika itu. Nuddin Lubis dengan sejumlah teman dari partai lain yang terwakili di DPRGR meminta agar Bung Karno segera diberhentikan dalam jabatan sebagai Presiden/Pemimpin Besar Revolusi/Panglima Tertinggi ABRI dan Mandataris MPRS  Pemberhentian Bung Karno tentunya dilakukan dalam sidang MPRS, mengingat MPRSlah yang memberi mandat kepada Bung Karno sebagai Presiden.       

Resolusi itu diterima baik dalam sidang paripurna DPRGR yang diketuai oleh H.A.Sjaichu yang juga dari Partai NU. Pimpinan DPRGR kemudian meneruskan resolusi tadi kepada pimpinan MPRS yang diketuai oleh Jenderal Abdul Harris Nasution dengan salah seorang wakil Ketuanya HM Suchan ZE yang juga dari NU. Pada tahun 1967 itu juga diadakan Sidang Istimewa MPRS di Jakarta. Sebelum sidang berlangsung H.Djamaluddin Malik mengeluarkan resolusi agar  Letjen TNI Soeharto diangkat sebagai Pejabat Presiden atau pengganti Bung Karno.

Pada tahun 1967 itu juga sidang MPRS diadakan di Jakarta. Menjelang sidang situasi dualisme kepemimpinan makin terasa memanas dan tidak kondusif. Namun alhamdulillah segala problema bangsa dapat diselesaikan dengan cantik. Bung Karno diberhentikan sebagai Presiden dengan mencabut mandat yang diberikan oleh MPRS melalui siding umum MPRS juga. Letjen TNI Soeharto kemudian ditetapkan sebagai Pejabat Presiden Republik Indonesia.

Perlu diketahui adanya dualisme kepemimpinan itu terjadi karena Bung Karno merasa masih menjadi Presiden, sedangkan Pak Harto ketika itu masih dalam status pemegang Surat Perintah 11 Maret, atau sebagai Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban –Kopkamtib. Kejadian-kejadian yang mewarnai dualisme kepemimpinan ini nyaris berdampak ke tingkat akar rumput, sehingga terjadi benturan-benturan dan konflik politik yang membahayakan persatuan bangsa.

Kiprah dalam PPP

Setelah NU melakukan fusi bersama partai lain ke dalam PPP, maka kader politik yang sudah matang seperti Nuddin Lubis tentu sangat dibutuhkan. Apalagi berdarakan perolehan suara NU pada Pemilu 1971, yang merupakan ranking kedua setelah Golkar, bisa dibayangkan NU saat itu merupakan partai yang sangat besar dibanding partai Islam yang lai. Karena itu layak kalau NU memimpin partai yang lain dalam fusinya ke dalam PPP. Dibawah kepimpinan KH Bisri Sansuri PPP semakin besar dan berwibawa, sehingga kader seperti Nuddin Lubis, Cholik Ali, Yusuf Hasyim dan sebagainya bisa bermanuver secara cantik dalam pentas politik nasional melawan kedholiman Orde Baru.

Sebagai partai Islam dengan tegas PPP menolak RUU Perkawinan yang sekular, sebagai warga NU demngan tegas menolak monopoli penafsiran Pancasila  dan menolak UU Politik yang tidak demokratis. Karena itu dengan skuat yang kuat termasuk di dalamnya ada Nuddin Lubis NU melakukan walk out ketika persoalan krusial itu diangkat ke sidang DPR. Sementara unsur yang lain dalam PPP berdiam diri.

Berpuluh tahun menjadi anggota DPR/MPR ini berarti Nuddin Lubis orang paling lama mewakili Partai NU, dan kemudian Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ketika empat partai Islam yang berfusi ke dalam PPP, secara otomatis Nuddin menjadi anggota PPP. Ketika PPP dipimpin oleh HMS Mintaredja dan HJ.Naro, Nuddin Lubis menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP PPP. Tahun 1982, terjadi kemelut di dalam tubuh PPP karena agresifitas unsur lain yang berfusi, membuat sejumlah nama tokoh NU dipelantingkan dari nomor kecil ke nomor sepatu dalam daftar calon pemilu. Namun Nuddin Lubis mampu bertahan, hingga tetap menduduki jabatan Wakil Ketua DPR/MPR.

Ketika kemelut itu berkecamuk kalangan PBNU tetap menggunakan Nuddin Lubis ebagai mediator, terutama setelah walk out itu antara unsur NU dan lainnya retak, sementara PPP harus segera Solid untuk menghadapi Pemilu berikutnya yakni Pemilu 1982, karena itu NU mengutus Nuddin Lubis sebagai ketua Fraksi Persatuan Pembangunan untuk mengadakan ishlah dan rujuk yang diadakan pada 6 Maret 1980 yang diadakan di Hotel Syahid. Islah tersebut ternyata mampu mempererat kembali fusi PPP. Kemampuan berkomunikasi dan keterbukaannya itu membuat ia mudah diterima berbagai kalanagan.

Keluarga besar

Dari pernikahannya dengan Hj.Dumasari Nasution itu, ia dikaruniai 10 orang putera-puteri. Mereka adalah  Zulfikar Lubis, Yusnaini Lubis,Zulhana Lubis, Zulkifli Lubis, Zuraida Lubis, Zaini Musa Lubis, Masdulhaq Lubis, Syahrizal Lubis, Yusnina Sari Lubis dan Fadlansyah. Dari 10 putera puterinya itu dikaruniai belasan cucu. Nuddin Lubis wafat Mei tahun 2000 di Jakarta setelah menderita sakit beberapa pekan.

Rangkaian panjang perjuangannya hingga duduk menjadi Wakil Ketua DPR/MPR H.Nuddin Lubis dianugerahi sejumlah bintang jasa oleh Negara. Dia berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, namun ia tetap meminta agar dimakamkan di pemakaman umum Tanah Kusir Jakarta Selatan.

H A Baidhowi Adnan

Wartawan senior

Wakil Ketua LTN-PBNU


Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Warta IMNU Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Kiai Said: Alhamdulillah, Kita Dijadikan sebagai Orang NU

Jakarta, IMNU Tegal. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengajak warga NU untuk mensyukuri keberadaannya sebagai bagian dari warga NU yang memiliki ajaran yang jelas dan bersambung sampai kepada Rasulullah.?

Hal ini disampaikan oleh Kiai Said ketika menerima rombongan dari Ma’arif NU Sidoarjo yang berkunjung ke gedung PBNU, Sabtu (19/12).

Kiai Said: Alhamdulillah, Kita Dijadikan sebagai Orang NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Alhamdulillah, Kita Dijadikan sebagai Orang NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Alhamdulillah, Kita Dijadikan sebagai Orang NU

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Said menyampaikan kepada hadirin, terdapat dua tugas yang harus dijalankan. Pertama adalah belajar agama dengan benar.

IMNU Tegal

“Para ulama NU mempelajari agama dengan benar, sanad kita sampai dengan Imam Syafii dan Imam Syafii jika dirunut sampai kepada Rasulullah,” katanya.

Karena itu, jika ada orang yang belajar agama sembarangan, tapi sedikit-sedikit bilang Islam kaffah tetapi tidak bermazhab atau bahkan antimazhab, maka menurutnya patut dipertanyakan kemampuannya dalam beragama. “Mereka orang yang tidak jelas,” paparnya.

IMNU Tegal

Ia menjelaskan, pesantren sebagai pusat pendidikan agama NU telah ada sebelum berdirinya Indonesia. Pesantren ini mampu melahirkan tokoh-tokoh yang terlibat dalam perjuangan, seperti Ki Hajar Dewantara dan Panglimat Sudirman. Menurutnya, ungkapan dari Kartini tentang “Habis gelap terbitlah terang” juga berasal dari Qur’an saat ia mengaji, yaitu dari ayat minaddhulumaati ilannuur.?

Ia melanjutkan, kewajiban kedua adalah membimbing masyarakat. Setelah mampu belajar agama dengan baik, ilmu yang dimiliki harus kembangkan kepada masyarakat agar mereka ikut tercerahkan, agar masyarakat memiliki jiwa ikhlas, ukhuwah, dan mandiri.?

“Pesantren selalu mengajarkan kemandirian, tidak menggantungkan diri kepada siapapun, termasuk kepada negara. Lulusan pesantren tidak ingin jadi PNS, meskipun itu boleh-boleh saja. Yang penting belajar baik,” tandasnya.?

Dijelaskannya, secara pribadi, seorang Muslim harus tawadhu dan zuhud. Harta secukupnya dan tidak boleh memamerkannya kepada orang lain, tetapi ketika berbicara organisasi, tidak boleh seperti itu. Organisasi harus terus dikembangkan, tidak boleh dikelola sekedarnya.?

“Kalau untuk NU, kita tidak boleh zuhud, untuk organisasi ngak apa-apa kita membanggakan diri,” terangnya.

Ditambahkannya, “Jangan sampai umat Islam dihina dan tidak bermartabat, kita ikut berdosa. Inilah gunanya kita berorganisasi,” teranganya.?

Dalam kesempatan tersebut Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini memberikan penjelasan tentang perkembangan pendidikan NU yang kini terus berkembang pesat, baik sekolah maupun pesantren, termasuk sudah berdirinya 24 perguruan tinggi NU. ? (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kyai, Warta, Jadwal Kajian IMNU Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

Ada Benang Merah antara Islam Indonesia dengan Marokko

Jakarta, IMNU Tegal. Warna lokal atau penyebaran Islam dengan menghargai budaya setempat agar mudah diterima oleh masyarakat ternyata bukan monopoli Islam Indonesia. Marokko, salah satu negera dengan penduduk mayoritas muslim juga sangat menghargai tradisi lokal.

Informasi ini dikemukakan oleh Nasrullah Jasam, MA, alumni Ponpes Assidiqiyah Jakarta yang kini sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Abdul Malik Sa’di Tetauan Marokko, saat berkunjung ke IMNU Tegal? pekan lalu.

Diceritakan oleh Nasrullah bahwa banyak tradisi Islam di Marokko yang mirip dengan Indonesia seperti dalam ritual orang meninggal seperti peringatan tujuh hari, 40 hari sampai dengan haul. Contoh lain, kalau di Indonesia ada istilah bubur merah, bubur putih, di Marokko pada momen-moment tertentu ada makanan tertentu, dan hanya keluar pada saat itu. Pada hari Jum’at, mereka makan kus-kus, makanan seperti tumpeng. Pada bulan Ramadhan, di Indonesia ada makanan tertentu, hal yang sama juga terjadi di Marokko.

Ada Benang Merah antara Islam Indonesia dengan Marokko (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Benang Merah antara Islam Indonesia dengan Marokko (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Benang Merah antara Islam Indonesia dengan Marokko

“Jadi ada benang merah. Kalau memang Syeikh Maghribi itu betul dari Marokko mungkin bisa terlacak, tapi sampai sekarang asal Islam di Indonesia masih kontraversi, jadi saya kira hampir sama dengan Indonesia, tidak puritan seperti di Arab Saudi, sangat kultural dan ramah terhadap budaya lokal,” tandasnya.

Dijelaskannya bahwa wilayah Marokko merupakan wilayah yang terarabisasi atau musta’rob, bukan Arab murni, sama juga dengan Mesir dan Aljazair. Ketika Islam masuk dan ingin diterima secara ramah, maka konsekuensinya seperti yang terjadi di Indonesia dimana kulitnya tidak dipertahankan tetapi substansi ajarannya tidak dirubah.

Seperti juga di Indonesia, tasawwuf juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, Nasrullah menuturkan bahwa secara pribadi ia? pernah mengikuti ritual tasawwuf di Marokko, yaitu tarekat Kodiriah Buziziyah. Pada bulan maulud yang di Indonesia dirayakan dengan meriah, hal yang sama juga dilakukan di Marokko, ada tarekat yang melakukan semacam kholwat selama 30 hari, ada yang menghadiahi sapi yang besar dan gemuk.

IMNU Tegal

“Justru model seperti ini banyak menarik orang-orang bule, karena Marokko kan berdekatan dengan Eropa, untuk belajar Islam. Jadi nuansa mistiknya kuat. Katakanlah daerah-daerah seperti Marakhes, kalau kita ke sana kita rasakan mistisnya sangat kuat,” imbuhnya.

Kebebasan Beragama Dihargai

Dalam beberapa aspek, kebebasan dalam menjalankan agama juga dihargai. Setiap warga negara diajarkan tentang ajaran Islam, tetapi negara tidak memaksakannya. Alumni Ponpes Assidiqiyah tersebut memberi contoh meskipun ia kuliah di fakultas Ushuluddin yang notabene merupakan fakultas agama, tetapi mahasiswa tidak diwajibkan untuk berjilbab dan jika berjilbab, ini merupakan atas kesadaran pribadinya, bukan atas paksaan. “Saat ini, para pemikir Marokko sangat bangga bahwa Islam di Marokko paling moderat. Terlepas dari fihak lain setuju atau tidak,” imbuhnya.

Hari Raya Selalu Bersamaan

IMNU Tegal

Jika di Indonesia, berlebaran bisa diawali pada hari yang berbeda, jangan harap hal tersebut terjadi di Marokko. Meskipun ada pendapat yang berbeda tentang penentuan hari lebaran, tetapi ketika pemerintah memutuskan, semua warga negara mengikutinya. Ini memang berkaitan dengan perangkat UU yang memungkinan negara bisa menentukan kapan puasa diawali dan diakhiri. Dalam UU Marokko, setiap warga negara wajib berpuasa Ramadhan, sebagai konsekuensinya, jika ia berlebaran duluan sementara negara masih belum memutuskan puasa diakhiri, ia bisa dijerat UU.

“Ada komitmen bahwa pemimpin spiritual adalah raja sebagai amirul mukminin dan kebijakan harus keluar dari sana. Jadi saya kira kewibawaan pemerintah yang membedakan. Kalau di Indonesia, sebagai contoh dalam kasus lebaran. Kalau ada ormas yang menyatakan lebaran berbeda, Depag tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang perangkat hukumnya tidak ada. Tapi kalau disana tidak, kalau diputuskan hari ini, ya harus hari ini karena memang UU-nya jelas. Ini peranan pemerintah yang paling signifikan,” tandasnya.

Dijelaskannya secara umum, penduduk Marokko mengikuti mazhab Maliki, baik para pengikut salafy atau tradisional. Hal ini terefleksikan dari wudhunya, bahkan dari wiridan yang mereka baca setiap sholat sampai dengan sholat taraweh semuanya sama, mungkin hanya lagunya saja yang berbeda.

Kesempatan Beasiswa

Sampai sekarang, baru sekitar 40-an mahasiswa Indonesia yang belajar disana. Sebagian besar belajar pada tingkat pascasarjana dengan komposisi 20 persen belajar S1, 30 persen belajar S2 dan 50 persen studi doktoral.

Pemerintah Marokko memberikan jatah 15 orang untuk beasiswa disana Marokko, tapi selama ini tidak berjalan lancar karena ada tumpang tindih dalam pengelolaannya. Depag menerima dan yang daftar sendiri juga diterima. Namun kebijakan ini sudah diperbaiki dengan kebijakan satu pintu melalui kedutaan Marokko di Indonesia tetapi difasilitasi oleh Depag.

Sayangnya, karena komunitas NU masih kecil, mereka belum melembaga seperti di Mesir dengan KMNU-nya. “Karena komunitas NU-nya terlalu kecil, kalau kita membentuk nanti malah menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan dari teman-teman yang berhaluan lain. Jadi kita tetap personal saja, tetapi sering mengadakan halaqah, umpamanya informasi tentang NU bisa kita baca dari IMNU Tegal, gusmus.net, atau gusdur.net,” paparnya. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kyai, Warta, Bahtsul Masail IMNU Tegal

Sabtu, 11 November 2017

Banser Kaltim Didik Kader di Tengah Kebun Sawit

Paser, IMNU Tegal - Sebanyak 136 calon anggota Banser dan empat anggota Fatayat mengikuti Diklat Terpadu Dasar, Paser, Senin (20/2). Mereka mengikuti materi kebanseran dari Instruktur Satkorwil GP Ansor dan Satkornas Banser di lokasi yang terletak di perkebunan sawit dan berbukit di Kabupaten Paser, Kaltim.

Menurut Ketua GP Ansor Kalimantan Timur Fajri Al-Farobi, kegiatan pengkaderan ini bertujuan untuk mencari kader sekaligus meningkatkan kualitas kader, khususnya di seluruh Kalimantan Timur.

Banser Kaltim Didik Kader di Tengah Kebun Sawit (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Kaltim Didik Kader di Tengah Kebun Sawit (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Kaltim Didik Kader di Tengah Kebun Sawit

"Setelah Susbalan di Balikpapan, DTD di seluruh Satkorcab di Kaltim terus berjalan sebagai salah satu bentuk pelaksanaan Rencana Tindak Lanjut (RTL), sekaligus bentuk tanggung jawab secara organisasi. Kami menginginkan kader bukan secara kuantitas tetapi kualitas juga harus meningkat."

IMNU Tegal

Peserta dilatih materi khusus dan materi tambahan baik di dalam maupun lapangan sehingga mental. Fisik bisa teruji dalam mengembangkan organisasi.

“Kami melihat potensi kader yang luar biasa sehingga kami terus bergerak serta melangkah demi militansi kader yang cerdas dalam berpikir serta bertindak," kata Kasatkorwil Kalimantan Timur Murjani.

IMNU Tegal

Asrendiklat Satkornas Nuril Huda yang menjadi instruktur menambahkan, pembentukan kader yang berkualitas harus diimbangi dengan manajerial yang baik, menyangkut, komunikasi, administrasi dan koordinasi.

“Standarisasi pelatihan sesuai peraturan organisasi, juklak dan juknis yang ada sesuai tugas, fungsi, serta tanggung jawab Banser." (Herry Bh/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Warta, Pesantren, Makam IMNU Tegal

Kamis, 09 November 2017

Pelajaran dari Anak Suku Indian

Dunia ini penuh warna. Ada beragam suku bangsa. Banyak budaya dan bahasa. Banyak hal yang bisa dipelajari bersama. Banyak ranah bisa saling berbagi dan bertukar pikiran. Banyak orang bisa saling mengenal dan bercengkrama. Sungguh, Tuhan Maha Bijaksana dengan penciptaan-Nya. Setiap suku punya kekhasan tertentu yang Tuhan anugerahkan tiada tara. Kekhasan itu bukannya hampa nilai, namun ada sisi ibrah, pesan moral, dan filosofi di balik peristiwa.

Tersebutlah kisah proses pendidikan anak di sebuah suku pedalaman. Suku dari etnis Indian ini memiliki cara unik untuk mendewasakan anak laki-laki mereka. Ketika seorang anak dianggap sudah cukup umur untuk menjadi dewasa, maka sang anak itu akan diuji. Tidak semua anak bisa langsung disebut dewasa tanpa lulus dari tes maha berat ini. Pada malam yang telah ditentukan, si anak akan dibawa pergi oleh seorang pria yang bukan keluargaya, dengan mata tertutup. Anak tersebut dibawa jauh ke tengah hutan belantara. Saat hari sudah gelap pekat, tutup akan matanya dibuka. Kemudian sang anak akan ditinggalkan sendirian.

Pelajaran dari Anak Suku Indian (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajaran dari Anak Suku Indian (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajaran dari Anak Suku Indian

Anak ini akan dinyatakan lulus dan diterima sebagai pria dewasa dalam komunitas jika selama malam ujian itu ia tidak berteriak atau menangis sampai pagi. Si anak harus mengikuti prosesi ini sendirian. Nyalinya benar-benar diuji. Waktu yang ditentukan itu terjadi di malam yang begitu gelap gulita, bahkan siapapun tidak dapat melihat telapak tangannya sendiri. Dengan kondisi ini, para anak-anak berusia tanggung pasti sangat ketakutan.

Si anak harus menyiapkan mental untuk menghadapi ganasnya alam. Hawa udara yang dingin. Celah-celah hutan yang mengeluarkan suara menyeramkan. Bebunyian dahan gemerisik. Tak jarang, bahkan beberapa kali terdapat suara auman serigala. Tentunya, ketakutan si anak semakin menjadi-jadi. Tetapi ia tidak punya pilihan lain, selain diam, tidak boleh berteriak, atau menangis agar lulus dalam ujian. Keringat dingin akan mengucur deras dari seluruh pori-pori tubuhnya. Jika bisa, ia akan pergunakan segala doa supaya secercah sinar mentari disegerakan muncul di ufuk timur.

IMNU Tegal

IMNU Tegal

Hingga akhirnya malam yang terasa paling lama dalam kehidupan si anak itu mulai berganti perlahan. Cahaya pagi mulai tampak sedikit demi sedikit. Kini, si anak merasakan kegirangan yang tiada tara. Ia begitu gembira, lalu melihat sekelilingnya. Dan betapa kagetnya, ketika tahu ternyata ayahnya berdiri tidak jauh di belakangnya. Sejak semalam suntuk sang ayah telah siap dengan berbagai senjata melindungi anaknya dari berbagai keganasan alam. Menjaga setiap jengkal lokasi anaknya sambil terus berdoa agar si anak tidak berteriak atau menangis atau bahkan keluar hutan.

Saudaraku, Andaikan kisah tersebut kita kaitkan dengan kehidupan. Dalam keseharian kita mengarungi beragam drama. Kita analogikan saja jika anak-anak suku Indian itu adalah manusia. Sementara ayahnya adalah Tuhan Sang Maha Perkasa. Maka betapa sering kita baru terkaget dan menyadari di akhir atau bahkan tak pernah kita sadari. Tak pernah tahu akan kehadiran Sang Maha Penjaga dan Maha Pelindung di setiap jengkal langkah kita. Tak pernah terbayang akan penjagaan dan kasih sayang-Nya.

Tuhan senantiasa bersama para hamba-Nya. Tak pernah sedetik pun melalaikan kita. Tak juga sejenak saja Tuhan membiarkan manusia hidup tanpa petunjuk di belantara hutan kehidupan dunia. Tuhan selalu dekat dalam bagaimana pun kondisi kita. Terlalu sering justru manusia yang melupakan Tuhan. Menyalahkan Tuhan yang Maha Baik. Menuduh Tuhan telah meninggalkannya. Mengira Tuhan telah berbuat tidak adil. Menuduh Tuhan tidak peduli. Padahal, di sebalik pengetahuan manusia yang sangat terbatas, Tuhan selalu dekat dengan segenap para hamba-Nya. Tuhan sangat penyayang dan peduli.

Dari kisah itu, kita juga bisa mengambil ibrah bahwa dalam mengarungi hidup, mutlak dibutuhkan ujian. Anak sekolah dan mahasiswa membutuhkan ujian untuk mengukur kelulusannya. Para pelamar pekerjaan juga akan diuji untuk menunjukkan kualitas mereka. Dalam dunia olahraga pun dibutuhkan tes seleksi. Ujian adalah keharusan. Ujian sebagai diferensiasi antara satu individu dengan individu lainnya. Tanpa ujian, maka di dunia akan terkesan tidak adil.

Atas beragam ujian, maka tugas kita manusia adalah menjalaninya dengan sepenuh hati. Yakini bahwa Allah tidak pernah memberi ujian diluar batas kemampuan hamba. Bahwa Tuhan tidak akan menimpakan ujian yang tidak ada hikmah dibalik itu. Bahwa ketika kita diuji, maka Tuhan sedang berada di dekat kita. Layaknya sang anak yang dalam ujiannya di malam yang pekat, ada sang ayah yang berada di dekatnya. Dialah pelindung. Bahkan sebagai imbalannya, Tuhan akan mengugurkan dosa-dosa sang hamba yang diuji, mengangkat derajat, hingga menguatkan iman dan takwanya.

(Muhammad Ridha Basri, Redaktur Majalah Kibar; mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Warta IMNU Tegal

GP Ansor Kencong Bantu Warga Miskin

Jember, IMNU Tegal. Orang-orang yang hidupnya tak layak atau berada? di bawah garis kemiskinan adalah luka sosial yang tak henti-hentinya memunculkan iba dan menguras emosi jiwa. Inilah yang mendorong GP.Ansor Kencong untuk memberikan bantuan kepada mereka, Ahad (15/1).

Bekerja sama dengan anggota Sanlat (Pesantren Kilat) GP Ansor Kencong menyalurkan bantuan berupa sembako kepada puluhan janda dan fakir miskin di sekitar SD Assunniyah, Kencong, Jember, Jawa Timur.

GP Ansor Kencong Bantu Warga Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Kencong Bantu Warga Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Kencong Bantu Warga Miskin

Menurut Ketua PC. GP. Ansor Kencong, Muhammad Yasin Yusuf Ghazali, bantuan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi “kesusahan” mereka. Betapapun kecilnya, bantuan itu diharapkan dapat bermanfaat untuk meringankan beban hidup mereka.

“Harapan kami semoga ini dapat sedikit mengurangi beban hidup mereka yang sangat berat,” katanya kepada IMNU Tegal.

Yasin menambahkan, hidup hari-hari ini memang sangat melelahkan. Jangankan warga miskin, mereka yang tergolong hidup berkecukupan saja, juga tak gampang menyambung hidup di tengah gejolak mahalnya harga sembako.

“Saat ini masyarakat susah. (Harga) ini naik, itu naik. Belum lagi ancaman naiknya harga BBM. Kenaikan tarif listrik, jangan dikira tidak berpengaruh pada ekonomi rakyat kecil,” lanjutnya.

IMNU Tegal

Yang unik, bantuan tersebut dibagikan oleh sejumlah murid SD Assunniyah. Tujuannya adalah untuk melatih mereka agar menjadi orang yang ahli sedekah kelak.

Dikatakan Yasin, sedini mungkin anak-anak perlu dibiasakan berjiwa dermawan dan melihat secara langsung kondisi sosial. Hal ini untuk melatih kepekaan mereka dalam menyaksikan ketimpangan sosial yang terjadi.

“Mereka adalah aset bangsa. Kita berharap mereka tumbuh dengan jiwa sosial yang tinggi, selain kecerdasan yang membanggakan, tentunya,” pungkas Yasin. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal AlaNu, Warta, Berita IMNU Tegal

Minggu, 15 Oktober 2017

IPNU-IPPNU Kuripan Kobarkan Semangat Sumpah Pemuda di Tengah Ratusan Pelajar NU

Probolinggo, IMNU Tegal - Momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2016 dimanfaatkan Pimpinan Komisariat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) se-Kecamatan Kuripan Kabupaten Probolinggo. Mereka? menggelar Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) secara serentak, Ahad (30/10).

Kegiatan yang berlangasung di Pendopo Kecamatan Kuripan ini diikuti oleh ratusan pelajar NU yang merupakan perwakilan santri pesantren dan lembaga pendidikan di bawah naungan LP Maarif NU.

IPNU-IPPNU Kuripan Kobarkan Semangat Sumpah Pemuda di Tengah Ratusan Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kuripan Kobarkan Semangat Sumpah Pemuda di Tengah Ratusan Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Kuripan Kobarkan Semangat Sumpah Pemuda di Tengah Ratusan Pelajar NU

Peringatan Hari Sumpah Pemuda dan HSN sekaligus Makesta ini dihadiri oleh jajaran pengurus PCNU Kabupaten Probolinggo, MWCNU Kuripan, Ketua IPNU Kabupaten Probolinggo Babussalam dan Wakil Ketua IPPNIU Kabupaten Probolinggo Ika Vita Nurjannah.

Ketua IPNU Kuripan Muhammad Tholibin mengatakan, kegiatan ini diadakan sebagai langkah pemerataan kader IPNU dan IPPNU se-Kecamatan Kuripan dengan semangat Sumpah Pemuda dan HSN 2016.

IMNU Tegal

"Mudah-mudahan semangat Hari Sumpah Pemuda dan Hari Santri Nasional ini bisa menambah semangat para pelajar NU untuk mengikuti tahap pengkaderan awal sebagai langkah untuk estafet kepengurusan," katanya.

IMNU Tegal

Sementara Ketua IPPNU Kuripan Hanifah Parawansah berharap agar makesta di momentum Hari Sumpah Pemuda dan HSN ini kader IPNU-IPPNU mampu mengkobarkan semangat pemuda dengan tetap berpegang teguh kepada aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah.

Babussalam menyambut baik digelarnya makesta secara serentak ini. Menurutnya, inilah bentuk kebersamaan dari semua pengurus di semua tingkatan.

"Mudah-mudahan kebersamaan ini bisa terus dipertahankan, karena hal ini menjadi modal penting dalam menjalankan roda organisasi," katanya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nahdlatul, Warta IMNU Tegal

Selasa, 22 Agustus 2017

Majalah IPNU-IPPNU Kudus Siap Sapa Kembali Pembaca

Kudus, IMNU Tegal. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, telah membentuk tim redaksi baru untuk Majalah Pilar pada semester pertama kepengurusan periode ini.

IPPNU-IPNU pimpinan Joni Prabowo dan Futuhal Hidayah menyusun tim baru di Rumah Makan Gentong Sehat Kudus, Rabu (21/1). Tim redaksi yang terdiri dari alumni lokakarya jurnalistik PC IPNU-IPPNU Kudus tahun 2013 ini akan melanjutkan penerbitan majalah yang sudah berlangsung pada kepengurusan sebelumnya. Dengan demikian, urusan keredaksian kali ini didominasi oleh para mahasiswa dan pelajar dengan pemimpin redaksi Abdul Muis.

Majalah IPNU-IPPNU Kudus Siap Sapa Kembali Pembaca (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah IPNU-IPPNU Kudus Siap Sapa Kembali Pembaca (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah IPNU-IPPNU Kudus Siap Sapa Kembali Pembaca

Tema Majalah Pilar yang terbit pada empat kali dalam satu periode mengacu pada lingkup pelajar dan santri. Edisi kelima kelak tidak hanya berisi seputar organisasi NU dan persoalan sosial, tapi juga mengangkat wacana fiqh seputar kehidupan para pelajar.

IMNU Tegal

Beberapa rubrik yang telah disiapkan antara lain Salam Redaksi, Surat Pembaca, Joglo, Surat Pembaca, Sajian Khusus, Opini, Kolom, Fiqh, dan beberapa rubrik yang menampung kreaktifitas para pelajar dan santri, seperti Momen, Jalan-jalan, Resensi Film, Resensi Buku, Syair, Cerpen, Tips – Tips, Kartun, dan lain-lain.

Ketua IPNU Kudus Joni Prabowo berharap, pada semester pertama ini tim redaksi Majalah Pilar yang baru ini mampu tamplil lebih baik dalam isi atau pendistribusian kepada para kader NU se Kabupaten Kudus, bahkan di luar Kabupaten Kudus.

IMNU Tegal

“Sehingga Majalah Pilar ini menjadi majalah yang mampu bersaing dengan majalah-majalah yang sekarang ini beredar di kalangan pelajar yang memberikan contoh yang tidak baik bagi kader-kader NU,” tuturnya. (Dedi Hermanto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Doa, Makam, Warta IMNU Tegal

Minggu, 13 Agustus 2017

Program Prioritas, ISNU Jombang Kuatkan Infrastruktur dan Manajemen Organisasi

Jombang, IMNU Tegal - Keberadaan para sarjana dari kalangan nahdliyin yang terhimpun dalam Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama atau ISNU sangat diharapkan masyarakat. Kiprahnya semakin ditunggu demi mengejar ketertinggalan daerah.

"Masyarakat bawah, khususnya di desa sangat membutuhkan diskusi, pemikiran, dan aksi dari para sarjana NU," kata Ketua ISNU Jombang periode 2017-2021 Ahmad Hannan Majdy (Gus Hannan), Ahad (13/8).

Program Prioritas, ISNU Jombang Kuatkan Infrastruktur dan Manajemen Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Program Prioritas, ISNU Jombang Kuatkan Infrastruktur dan Manajemen Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Program Prioritas, ISNU Jombang Kuatkan Infrastruktur dan Manajemen Organisasi

Menurutnya, yang juga sangat dibutuhkan tidak semata kajian. "Juga bagaimana mendampingi masyarakat dalam membuat perencanaan pembangunan desa," tegasnya. Prinsipnya adalah bagaimana sarjana NU bisa bermanfaat untuk umat.

IMNU Tegal

Untuk dapat menopang kesuksesan program tersebut adalah dengan melakukan penguatan kelembagaan. "Salah satunya adalah penguatan infrastruktur dan manajemen organisasi," kata Gus Hannan.

Karena itu dalam waktu dekat, jaringan kepengurusan ISNU di tingkat kecamatan dan desa harus segera dibentuk. "Ini juga demi memberikan sumbangsih bagi kondisi negeri yang sangat kompleks," urainya.

Baginya, peneguhan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat dilakukan dengan kiprah para sarjana NU. "Jangan sampai kekayaan sumber daya alam yang demikian berlimpah, ternyata tidak bisa memberikan manfaat bagi masyarakat," ungkapnya.

IMNU Tegal

Ia mengajak para sarjana NU untuk memberikan perhatian terhadap sejumlah permasalahan tersebut. Sejumlah problem ini disampaikan saat pembukaan Musyawarah Kerja Cabang ISNU Jombang.

Kegiatan ini diselenggarakan di aula Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Tampak hadir KH Abdul Khaliq Mustaqim dari yayasan setempat, KH Azam Khairun Najib mewakili PCNU Jombang, serta pembina ISNU Jombang KH Taufiq Jalil. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Humor Islam, Meme Islam, Warta IMNU Tegal

Sabtu, 22 Juli 2017

Ramadhan Bulan Filantropi

Oleh Ali Romdhoni

Salah satu julukan untuk bulan Ramadhan adalah bulan filantropi (syahr al-judd; bulan kedermawanan). Di bulan ini umat Islam dianjurkan banyak bersedekah, terutama untuk meringankan beban fakir dan miskin. Rasulillah Muhammad SAW pun memberi keteladanan terbaik, sebagai orang yang paling dermawan di bulan yang suci dan bertabur berkah ini.

Ramadhan Bulan Filantropi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan Bulan Filantropi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan Bulan Filantropi

Demikian juga yang terjadi di Indonesia. Pada bulan Ramadhan seperti sekarang ini, antusiasme masyarakat muslim Indonesia dalam berderma meningkat. Ada rutinitas yang tidak dilakukan di luar bulan suci ini. Sebut saja, misalnya, tradisi berkirim dan menerima bingkisan (paket) yang dilakukan oleh sanak, famili dan handai tolan. Karena tradisi ini pula, anggaran kebutuhan rumah tangga membengkak, harga sembako dan barang-barang di pasar naik.

Berkirim bingkisan dengan sesama sebenarnya bukan hal baru bagi masyarakat kita. Ia sudah menjadi semacam tradisi, tidak saja pada hari-hari di bulan suci Ramadhan. Tetapi, di bulan Ramadhan biasanya animo masyarakat untuk berbagi kebahagiaan dengan membagikan kelebihan rezeki kepada orang lain menjadi meningkat, bahkan sampai agak dipaksakan.

IMNU Tegal

Lihat saja, hampir setiap hari di bulan Ramadhan kita bisa menjumpai acara buka bersama (bukber) sampai santap sahur bersama. Belum lagi pembagian sembako, zakat fitrah, dan seperangkat busana muslim/muslimah. Kegiatan ini tidak hanya dilakuka n individu yang merasa mampu, tetapi juga dilaksanakan lembaga dan perusahan, seperti perkantoran, institusi pendidikan,sampai kementerian negara. Dengan demikian, aktivitas filantropi masyarakat muslim di Indonesia pada hari-hari di bulan Ramadhan meningkat tajam.

Meningkatnya jumlah masyarakat filantropis di bulan Ramadhan dipicu oleh keyakinan umat Islam, bahwa bersedekah di bulan Ramdhan akan memperoleh balasan pahala yang berlipat ganda bila dibandingkan dengan haribiasa di luar Ramadhan. Karena itu, mereka enggan melewatkan kesempatan yang datangnya setahun sekali ini. Diperkirakan ada dana miliaran rupiah yang berputar di tengah masyarakat kita sejak menjelang puasa hingga hari raya tiba. Pertanyaannya, adakah dampak bagi berkurangnya angka kaum berkurang-mampu di Indonesia.

IMNU Tegal

Menurut hemat penulis, fenomena ini layak menjadi renungan bersama. Bangsa kita memiliki event tahunan yang bisa menghasilkan sumber dana miliaran bahkan mungkin triliunan rupiah.Tetapi hal ini tidak berpengaruh bagi lahirnya civil society (masyarakat mandiri-beradab) dan turunnya angka kemiskinan. Hal ini karenasebagian besardana yang disumbangkan masyarakat dipahami secara konsumtif dan diorientasikan berjangka pendek.

Apabila sumberdana ini bisa dikelola dengan baik, tidak mustahil manfaat yang lebih besar dirasakan bangsa ini. Caranya dengan mengarahkan dana yang disumbangkan masyarakat pada hal-hal yang produktif dan berorientasi untuk melahirkan masyarakat berdaya.

Zakat fitrah, misalnya, sudah saatnya dikelola dengan manajemen modern, sehingga efeknya lebih besar untuk pembangunan masyarakat di Indonesia. Seluruh dana yang diperolehdari aset zakat harus dikelola dan disalurkan dengan baik, sehingga tidak habis begitu saja. Pemberian kredit modal kerja bagi para pedagang kaki lima, misalnya, dapat dijadikan contoh terbaik bagi penggunaan dana filantropi ini. Semua itu dilakukan demi menciptakan lapangan pekerjaan baru sehingga ke depan angka pengangguran dapat ditekan dan akhirnya mampu mengurangi angka kemiskinan.

Sudah saatnya, berderma di bulan Ramadhan jangan dipahamai sekadar beramal atas dasar ibadah. Niat beribadah harus, tetapi yang juga tidak kalah penting adalah motivasi untuk berfilantropi demi membangun bangsa. Apabila hal ini terjadi, maka kekuatan filantropi secara individual akan mudah di satukan dan dikelola menjadi kekuatan besar untuk mewujudkan mimpi menghadirkan masyarakat yang mandiri dan berdaulat.

Sejauh ini, tradisi kesadaran berderma kaum muslim Indonesia masih didominasi motivasi spiritual. Sementara kesadaran memberikan hak kaum miskin masih terbatas pada penunaian kewajiban agama, belum menyentuh kesadaran atas kewajiban sosial untuk melahirkan keadilan sosial.Kesadaran ritualistik ini menjadi dasar bagi pola berderma antarpribadi dan berbasis caritas (rasa iba).

Akibatnya, sumber dana filantropi yang ada tidak dapat dimaksimalkan untuk mendukung lahirnya civil society,meningkatkan kesejahteraanmasyarakat yang secara sosial ekonomi kurang beruntung.Atas dasar ini,ada kebutuhanmendesak untuk mengubah ajaran kuno filantropiIslam yang menekankan rasa ibakepadafilantropi Islam yang lebih konstruktif, berdasarkanpemenuhan hak kaum miskin. Ini bukan berarti menafikan motif ibadah dan spiritual, karena ia menjadi legitimasi dan memberikan konteks keagamaan (yang khas) bagikegiatan filantropi Islam.

Apabila pemahaman terhadap makna bulanRamadhan sebagaimana di atas berhasil ditransformasikan kepada masyarakat muslim, maka image bulanpuasa yang tadinya identik dengan naiknya anggaran biaya rumah tangga akan berubah menjadi bulan kepekaan dan kedermawanan. Ini sekaligus akan mengembalikan esensi bulan Ramadhan sebagai bulan filantropinya umat Islam.

Menuju Indonesia Bangsa Donatur



Ke depan, seluruh aktivitas filantropi Islam di Indonesia seyogyanya lebih diarahkanuntuk pemberdayaan komunitas yang integral dan berkelanjutan, dalam rangka dan upaya pengentasan kemiskinan. Filantropi untuk caritasada baiknya mulai dikurangi porsinya. Alasannya, manfaat yang dihasilkan dari filantropi yang berorientasi kepada keadilan dan pembangunan sosial jauh lebih besar. Istilahnya, filantropi Islam harus memberikan kail dan bukan ikannya.

Apabila proses ini terus berkelanjutan, maka sebuah tatanan masyarakatyang berkeadilan, demokratis, mandiridan berdaulat akan lahir. Satu tatanan masyarakat ideal yang diimpikan bangsa kita. Di sini, bangsa Indonesia tidak lagi menyandang bangsa yang harus dibantu dan dikasihani, tetapi pelan-pelan akan menjadi bangsa donatur di dunia.



Penulis adalah Direktur Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Keislaman Fakultas Agama Islam Universitas Wahid Hasyim Semarang


Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Warta, Meme Islam IMNU Tegal

Rabu, 19 Juli 2017

Mahasiswa Unwaha Kunjungi Sekolah Terpencil di Jombang

Jombang, IMNU Tegal?



Puluhan mahasiswa dan mahasiswi Universitas KH Wahab Chasbullah (Unwaha) Tambakberas Jombang punya cara tersendiri untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional tiap 2 Mei. Mereka mengunjungi SDN Pojokklitih 3, Dusun Nampu, Desa Klitih, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang. Mereka melakukan bakti sosial (baksos) di lingkungan warga sekitar, Sabtu (29/4) lalu.

Mahasiswa Unwaha Kunjungi Sekolah Terpencil di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Unwaha Kunjungi Sekolah Terpencil di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Unwaha Kunjungi Sekolah Terpencil di Jombang

"Sambang Sekolah merupakan salah satu program kami yang setiap peringatan Hardiknas yang diselenggarakan di sekolah-sekolah dalam lingkup Kabupaten Jombang, terutama di pelosok-pelosok. Kini Pojokklitih yang kami kunjungi," jelas Anisa, ketua panitia.

Menurutnya, kegiatan dengan tema Living For Care, Care For Sharing ini sangat mengesankan. Sepanjang perjalanan terasa menantang karena harus melewati 2 bukit dan 1 sungai tanpa jembatan penyemberang, jalan berlumpur serta licin. Perjalanan terasa lama dan penuh tantangan.

"Banyak teman-teman yang terjatuh dikarenakan lumpur yang licin dan juga medan yang terjal," tambahnya.

IMNU Tegal

Ia menambahkan, dipilihnya SDN Pojokklitih 3, berawal dari info di media sosial yang mengangkat keadaan di sana dan karena semangat guru dan murid di sana memang patut diacungi jempol. Lokasi sekolah yang jauh dari keramaian, akses jalan yang sulit serta signal yang susah didapat. Setiap hari para guru harus jalan kaki sekitar 4 km atau sekitar 1,5 jam perjalanan.

Tim juga membawa bantuan berupa 3 kardus air mineral, 2 kardus tas donasi, 2 karung baju hasil donasi dan konsumsi. Semua bantuan akan diberikan kepada siswa-siswi dan warga sekitar yang membutuhkan bantuan.

"Perjuangan guru di sini sungguh luar biasa, daerahnya sangat plosok, mereka (guru, red) harus jalan kaki 4 km setiap hari. Ini masalah yang harus diangkat sebelum Hardiknas besok," papar mahasiswi jurusan bahasa Inggris ini.

Sementara itu, Purwandi, Kepala SDN Pojok Klitih mengaku senang atas kunjungan dari mahasiswa Unwaha yang bersusah payah melewati bukit dan sungai untuk berkunjung ke sekolahnya. SDN Pojokklitih 3 hanya memiliki 17 murid, tempat yang jauh dan terpencil membuat sekolah ini jarang disoroti oleh pemerintah. Para guru dan siswa-siswi juga kesulitan bila harus berurusan dengan internet, signal bagaikan oase di SDN Pojokklitih 3.

Dikatakan dia, setiap anak memiliki hak yang sama dalam hal pendidikan. Meski dalam kondisi yang jauh dari keramaian, namun urusan pendidikan patut diperjuangkan. "Terima kasih atas kunjungannya, ya beginilah kondisi sekolahan kami, sederhana tapi patut untuk dipejuangkan. Semua anak di sini memiliki hak sama mengenai pendidikan walaupun hanya berjumlah 17 siswa. Kalau bukan kita yang bergerak siapa lagi?" bebernya.

IMNU Tegal

Ia menyayangkan di Kabupaten Jombang masih ada sekolah yang susah dijangkau seperti sekolahnya. Semangat Hardiknas seharusnya bisa menjawab ini, tidak hanya diperingati secara rutin tapi tidak ada hasil yang nyata bagi masyarakat kecil. Guru-guru dan murid mengharap ada jembatan yang dapat mempermudah akses ke sekolah.

"Kami kesulitan akses jalan, internet dan signal disini, semoga pemerintah mendengar suara kami," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Fragmen, Warta IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock