Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Februari 2018

Lewat Pentas PAI, Kemenag Rawat Keberagaman dan Mantapkan Keberagamaan

Jakarta, IMNU Tegal. Kementerian Agama RI melalui Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) menggelar Pentas Keterampilan dan Seni PAI pada 9-14 Oktober 2017. Penyelenggaraan Pentas PAI yang ke-8 ini mengambil tempat di Provinsi Aceh dengan mengangkat tema Merawat Keberagaman, Memantapkan Keberagamaan. 

Lewat Pentas PAI, Kemenag Rawat Keberagaman dan Mantapkan Keberagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat Pentas PAI, Kemenag Rawat Keberagaman dan Mantapkan Keberagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat Pentas PAI, Kemenag Rawat Keberagaman dan Mantapkan Keberagamaan

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kamaruddin Amin menyatakan, tema yang diangkat kali dalam Pentas PAI menunjukkan bahwa identitas keberagaman bangsa Indonesia harus terus dijaga dengan memupuk paham keagamaan yang menghargai terhadap sesama.

“Karena dengan beragama yang kuat, manusia bisa merawat keberagaman,” ujar Kamaruddin dalam jumpa pers, Jumat (6/10) di Kantor Kementerian Agama Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar ini mengharapkan, sejumlah cabang keterampilan dan seni yang dilombakan dalam Pentas PAI mampu memperkuat sisi spiritual sekaligus sisi sosial anak didik.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Agama Islam Imam Safei menerangkan, merawat keberagaman dan memantapkan keberagamaan anak didik adalah tanggung jawab bersama. Hal ini berangkat dari kesadaran menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

IMNU Tegal

“Semakin mantap dan tinggi kualitas keagamaan, maka akan terwujud kehidupan harmonis dalam masyarakat yang majemuk,” jelas Imam Safei dalam kesempatan yang sama.

Pentas PAI ini akan diikuti oleh sekitar 1.200 siswa yang berasal dari SD, SMP, SMA, dan SMK dari 34 provinsi yang akan berkompetisi merebutkan prestasi tertinggi di bidang Pendidikan Agama Islam.

IMNU Tegal

Kegiatan yang akan dibuka langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin ini melombakan sejumlah bidang yaitu Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Lomba Pidato PAI, Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ), Lomba Cerdas Cermat PAI, Lomba Kaligrafi Islam, Lomba Nasyid, Lomba Debat PAI, dan Lomba Kreasi Busana. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Halaqoh, Kyai, Internasional IMNU Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Kurikulum Pesantren Al-Qur’an Perlu Pembenahan

Jakarta, IMNU Tegal. Pesantren yang tumbuh dan dikembangkan oleh para kiai dan ulama memiliki banyak ragam. Selain pesantren umum yang mengajarkan ilmu-ilmu fikih, tafsir, hadist dan lainnya, terdapat pula pesantren yang lebih spesifik berupa pesantren Al-Qur’an atau tempat mempelajari dan menghafal kitab suci Al-Qur’an.

Sejauh ini, pesantren-pesantren Al-Qur’an telah melahirkan puluhan penghafal qur’an yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun sayangnya pengetahuan para penghafal (hafidz atau hafizhdoh) tersebut baru berbasis hafalan.

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi berpendapat, kurikulum pengajaran yang saat ini masih berbasis hafalan saja perlu dikembangkan lagi. “Mereka perlu memahami makna teks sehingga bisa menyampaikan isi Al-Qur’an kepada masyarakat,” tuturnya dalam perbincangan dengan IMNU Tegal di kantor PBNU, Jakarta, Jumat (18/5).

Kurikulum Pesantren Al-Qur’an Perlu Pembenahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurikulum Pesantren Al-Qur’an Perlu Pembenahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurikulum Pesantren Al-Qur’an Perlu Pembenahan

Pengasuh Ponpes Al Hikam Malang tersebut mengusulkan agar pesantren-pesantren tersebut manambahkan materi seperti bahasa Arab, tafsir, asbabun nuzul (penjelasan tentang sebab-sebab diturunkannya ayat tertentu), ayatul ahkam (berkaitan dengan hukum), ayat-ayat sosial, ayat-ayat tentang alam dan teknologi sampai dengan penafsiran Al-Qur’an dalam dunia kontemporer.

“Ini perlu agar puluhan ribu hafidz dan hafidhoh tidak dalam keadaan statis, hanya menunggu undangan hifdzul Qur’an,” paparnya.

IMNU Tegal

Dalam struktur NU, perangkat organisasi yang mengurusi para penghafal dan penafsir Al-Qur’an adalah Jamiyyatul Qurro wal Huffadz (JQH). Lembaga ini telah mengembangkan semaan Al-Qur’an yang secara rutin diselenggarakan di berbagai tempat. Sejumlah qori dan qoriah yang tergabung dalam lembaga ini juga telah meraih prestasi gemilang sampai ke tingkat internasional. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Kyai, Nahdlatul Ulama IMNU Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

UNU/STAINU Dirikan Pesantren Mahasiswa

Jakarta, IMNU Tegal. Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia dan Sekolah Tinggi Agama Islam NU (STAINU) mendirikan pesantren mahasiswa yang berlokasi di Jl Matraman Dalam II Rt 19 Rw 08 Jakarta Pusat, tak jauh dari kampus UNU di Jalan Taman Amir Hamzah. 

UNU/STAINU Dirikan Pesantren Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU/STAINU Dirikan Pesantren Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU/STAINU Dirikan Pesantren Mahasiswa

Peresmian pesantren tersebut dilakukan Senin malam (23/11) oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj bersama dengan dewan penyantun UNU Hermanto Dardak, Rektor UNU Maksum Machfoedz dan civitas akademika UNU dan STAINU.

Dalam kesempatan tersebut KH Said Aqil Siroj memberi motivasi kepada para mahasiswa untuk rajin belajar karena saat ini banyak sekali kesempatan beasiswa yang bisa diraih oleh para kader NU, asal memenuhi syarat. 

IMNU Tegal

Ia menjelaskan, dukungan terhadap NU diberikan oleh banyak pihak karena sikap moderat NU. Para pihak yang memiliki kesamaan pandangan tersebut sangat mendukung kemajuan NU. Karena itu, ia kembali menegaskan agar menggunakan kesempatan dan berbagai dukungan ini dengan sebaik-baiknya. 

IMNU Tegal

KH Mujib Qolyubi, pengasuh pesantren mahasiswa UNU menjelaskan, pesantren ini khusus diperuntukkan bagi santri putri, sedangkan untuk santri putra, disediakan lokasi di daerah Kalibata.

Inisiatif pendirian pesantren ini dikarenakan banyaknya orang tua mahasiswa yang menanyakan apakah ada pesantren dan tempat mengaji bagi anak-anaknya yang belajar di UNU Indonesia dan STAINU Jakarta. 

Mujib menambahkan, sebagai pesantren, nantinya akan diadakan pengajian rutin tiap hari dengan mengkaji kitab-kitab yang selama ini diajarkan di pesantren. Bukan sekedar belajar agama, para santri akan dididik bagaimana berperilaku dengan baik sesuai dengan akhlak Rasulullah. (Mukafi Niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal RMI NU, Kyai, Cerita IMNU Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Mengupas Perjuangan Santri Nusantara

Mengapa tanggal 22 Oktober layak disebut sebagai Hari Santri Nasional? Sejatinya peristiwa apa yang terjadi pada tanggal tersebut? Serta apa yang melatarbelakangi tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari Santri? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab dengan kehadiran buku ini, sebuah buku yang ditulis oleh para ahli sejarah mengingat banyak sejarah kaum santri yang dimarjinalkan oleh sejarah nasional itu sendiri.

Dalam kata pengantarnya, KH. Salahuddin Wahid mengatakan bahwa pada akhir 2011, ia cukup terkejut dengan sebuah statement yang menyatakan bahwa Resolusi Jihad itu tidak pernah terjadi, bahkan Resolusi tersebut merupakan sebuah legenda. Oleh karena itu beliau memerintahkan Abdul Latif Bustami dan Tim Sejarawan Tebuireng untuk mencari bukti keras kesejarahannya pada media-media cetak yang terbit akhir Oktober 1945 pada Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional di Jakarta. Oleh sebab itu buku ini ditulis dengan disertai scan hasil bukti-bukti kesejarahan, sehingga buku ini layak untuk dibaca oleh siapa pun termasuk para peneliti yang akan melakukan penelitian lebih lanjut tentang Resolusi Jihad.

Mengupas Perjuangan Santri Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengupas Perjuangan Santri Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengupas Perjuangan Santri Nusantara

Pada bagian pertama buku ini menjabarkan tentang sejarah masuknya Islam di Nusantara. Ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh sejarawan terdahulu, ada yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara berasal dari India Selatan (Gujarat dan Malabar), pendapat kemudian ada yang menyatakan bahwa Islam Nusantara berasal dari Arab, Ada pula yang mengatakan dari Persia. Tentang penyebaran Islam di Nusantara penulis buku ini dengan lantang mengatakan bahwa Islam masuk di Nusantara dan disebarkan oleh para Wali Sanga (Sebuah julukan yang mengandung suatu perlambangan suatu dewan wali-wali, dengan mengambil angka sembilan yang sebelum pengaruh Islam sudah dipandang sebagai angka yang keramat). Sedangkan tentang proses saluran Islamisasinya, disalurkan melalui saluran perdagangan, saluran kebudayaan, saluran perkawinan, saluran tasawuf, saluran pendidikan serta saluran politik. Dalam bab ini juga, penulis menolak pandangan-pandangan para sejarawan yang mengamini bahwa kehadiran Islam di Nusantara dilakukan dengan pedang, agresi penyerangan ke Majapahit. Bukti sejarah menunjukkan bahwa tumbuh dan berkembangnya Islam bersamaan dengan terjadinya perang saudara Paregreg di Majapahit sehingga menyebabkan konflik internal yang berkepanjangan sampai berujung pada keruntuhan Majapahit. Sehingga sesuai hukum logika, keruntuhan Majapahit disebabkan faktor internal dan bukan dari faktor eksternal, sebab faktor eksternal hadir sebagai alternatif yang bukan kekuatan determinan yang bersifat destruktif.

IMNU Tegal

Pada bagian kedua, penulis buku ini memaparkan tentang dinamika pemikiran serta gerakan politik yang dilakukan oleh Nahdlatul Ulama. Misalnya pada Muktamar NU ke-2 di Surabaya, NU menyoroti persoalan kemasyarakatan, seperti masalah pernikahan di bawah umur yang ditangani pemerintah Hindia-Belanda yang banyak menyimpang dari hukum fiqih. Dalam muktamar ini juga meminta kepada pemerintah untuk memasukkan kurikulum agama Islam pada setiap sekolah umum di Jawa dan Madura. Juga dibahas dan diputuskan hukum menyerupai orang Belanda dalam hal berpakaian, misalnya pakai celana, dasi, topi serta sepatu hukumnya adalah Haram, apabila niat menyerupai itu dimaksudkan untuk seluruhnya termasuk kesombongannya, kekafirannya serta kegagahannya. Tapi untuk sekedar mode maka hukumnya boleh dengan pertimbangan tidak boleh melanggar batas aurat yang sudah ditentukan oleh Islam. (Hlm. 113-114). Juga pada muktamar ke-4 NU membentuk Lajnatun Nasihin (Sebuah komisi propaganda untuk menyebarkan NU ke berbagai daerah) yang dibentuk oleh Kiai Shaleh Banyuwangi dengan anggota KH. Hasyim Asy’ari, Kiai Ridwan, Kiai Asnawi Kudus dan Kiai Muharram Kediri pada Majelis Khamis (Komisi Lima).

Pada bab ini juga dibahas bagaimana pandangan NU terhadap pemerintahan Hindia-Belanda serta pemerintahan Jepang, mengingat terdapat tanggapan serta kritik dari beberapa peneliti sejarah akan sikap inkonsistensi NU terhadap pemerintahan saat itu, kita ambil contoh bahwa NU selalu kooperatif terhadap koloni sebelum diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta, tetapi setelah itu NU justru melawan serta memerangi koloni yang datang, Hal ini dijawab oleh penulis bahwa pada masa pendudukan Hindia-Belanda ataupun Jepang (hingga 1945), Indonesia termasuk Darul Islam sehingga pemerintahan Hindia-Belanda serta Jepang termasuk dalam pemerintahan yang sah (bis Syaukah), pendapat tersebut diperkuat oleh hasil keputusan Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin. Hasil tersebut menjadi momentum kebangsaan NU karena diputuskan status wilayah Indonesia termasuk Darul Islam. Keputusan ini berdasarkan pada rujukan karya al-Hadrami pada Bughyatul Mustarsyidin pada bab al-Hudnah wa al-Imamah. Tetapi pada masa kemerdekaan Indonesia (1945-1950), NU berubah sikap dengan dikeluarkannya keputusan Muktamar NU ke-16 di Purwekerto yang menyatakan bahwa pentingnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia sesuai hukum Islam, sehingga Indonesia dijadikan sebagai Darul Harb (Wilayah Perang) yang mewajibkan setiap warga negara untuk melawan penjajah yang diperkuat dengan Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945.

IMNU Tegal

Pada bagian ketiga membicarakan secara tuntas dan heuristik tentang Resolusi Jihad yang difatwakan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari serta kapasitas beliau sebagai seorang mufti serta pemegang Ijazah Hadist Shahih Bukhari ke-24. Suatu ketika Presiden Soekarno mengirim utusannya untuk menemui beliau dengan tujuan meminta fatwa beliau dengan rujukan Gunseikanbu (Pemerintahan Militer Jepang di Indonesia) ? bahwa KH. Hasyim Asy’ari termasuk orang yang sangat terkemuka di Jawa. Melalui utusannya beliau bertanya ? “Apakah hukumnya membela tanah air, bukan membela Allah, membela Islam atau membela al-Quran. Sekali lagi membela tanah air?” Pertanyaan tersebut direspon oleh Kiai Hasyim Asy’ari dengan dikeluarkannya Fatwa jihad yang kemudian diperkuat oleh Resolusi Jihad hasil Musyawarah Ulama NU se-Jawa dan Madura di Surabaya pada tanggal 21-22 Oktober 1945 yang mana resolusi tersebut memiliki dampak yang luar biasa besar dimulai dengan solidaritas umat, Berdirinya Laskar Sabilillah dan laskar Hizbullah serta kongres Masyumi yang merespon resolusi tersebut hingga pada puncaknya pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya.

Pada bagian keempat atau bagian terakhir, Penulis membahas tentang politisasi sejarah Indonesia. Menurut penulis, masa lalu terdiri dari dua hal, yaitu fakta sebagaimana ia terjadi, apa adanya serta pemikiran dari para sejawan sehingga disebut ada apanya, oleh sebab itu banyak para sejarawan kelas atas yang ingin mengkerdilkan bahkan menghapus peran para santri atau pun kiai dan pondok pesantren dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ijtihad untuk memperjuangkan atau pun meluruskan sejarah tersebut merupakan kewajiban yang harus sesuai dengan fakta riil atau yang biasa disebut apa adanya.

Data Buku?

Judul : Resolusi Jihad; Perjuangan Ulama: dari menegakkan Agama hingga Negara

Penulis : Abdul Latif Bustami dan Tim Sejarawan Tebuireng

Penerbit : Pustaka Tebuireng

Terbitan : I, 2015

Tebal : xx + 236

ISBN : 978-602-8805-36-0

Peresensi : M Ichwanul Arifin, mahasiswa FUF UIN Sunan Ampel Surabaya/Kader PC IPNU Kota Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal RMI NU, Syariah, Kyai IMNU Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Ultimatum, Calon dan Jurkam Harus Mundur dari Kepengurusan NU

Probolinggo, IMNU Tegal. Rais Syuriyah PCNU Kota Probolinggo terpilih KH Azis Fadol memberikan ultimatum dan garis tegas bagi pengurus harian NU selama lima tahun ke depan. Terutama dalam momen Pilwali Kota Probolinggo 2013 mendatang, jika akan maju harus pengurus harian NU harus mundur.

Menurutnya, pengurus harian NU ini meliputi Rais Syuriyah, Ketua Tanfidziyah, Wakil Ketua dan Sekretaris. “Dalam AD/ART sudah dijelaskan, kalau dicalonkan harus lepas dari kepengurusan NU,” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hidayah Kecamatan Kademangan ini saat dihubungi IMNU Tegal, Senin (3/12).

Ultimatum, Calon dan Jurkam Harus Mundur dari Kepengurusan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ultimatum, Calon dan Jurkam Harus Mundur dari Kepengurusan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ultimatum, Calon dan Jurkam Harus Mundur dari Kepengurusan NU

Selanjutnya posisi yang ditinggalkan pengurus tadi akan digantikan pengurus lainnya. Proses yang sama terjadi ketika Maksum Subani menggantikan Kiai Mafruddin Kelurahan Pilang Kecamatan Kademangan yang mengundurkan diri dari kepengurusan.

IMNU Tegal

Ketentuan yang sama berlaku bagi pengurus yang menjadi juru kampanye (jurkam) calon tertentu. Hanya saja, jika menjadi jurkam yang bersangkutan cukup nonaktif dari kepengurusan.

Meski demikian, bukan berarti pengurus NU tidak boleh terlibat dukung mendukung calon. Mereka tetap mendapatkan kebebasannya atas nama pribadi, tidak mengatasnamakan organisasi. “Kalau menjadi tim sukses, selama tidak membawa NU, tidak masalah,” terangnya.

IMNU Tegal

Menurut KH. Azis Fadol, ketentuan itu sesuai dengan komitmen khittah NU. “Tidak kemana-mana, tapi ada di mana-mana. NU tidak ke politik, terutama dalam Pilkada,” jelasnya.

Kiai Azis menyatakan perlu menyampaikan pernyataan tersebut pasalnya pada tahun 2013 mendatang warga nahdliyin terutama yang berada di Kota Probolinggo akan menghadapi Pilgub Jatim dan Pilwali Kota Probolinggo.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pendidikan, Warta, Kyai IMNU Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Cara Gusdurian Lampung Peringati Hari Lahir Gus Dur

Way Kanan, IMNU Tegal?

Memperingati Hari Lahir KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Gusdurian Lampung menggelar Doa Lintas Agama Untuk Gus Dur dan Bakti Sosial Penyembuhan Alternatif Aji Tapak Sesontengan (ATS) di dua kecamatan daerah dipimpin Bupati Raden Adipati Surya.?

Cara Gusdurian Lampung Peringati Hari Lahir Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Gusdurian Lampung Peringati Hari Lahir Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Gusdurian Lampung Peringati Hari Lahir Gus Dur

Penggiat Gusdurian Markus Tri Cahyono, di Blambangan Umpu, Kamis (3/8) menjelaskan, kegiatan bekerja sama dengan Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Way Kanan dan Paguron Swarna Raya Yayasan Aji Tapak Sesontengan Global Indonesia tersebut mengambil tema Merawat Warisan Kebhinekaan, Menebar Warisan Jenius Leluhur Nusantara.

Kegiatan digelar di dua tempat mulai pukul 13.00-17.00 WIB. Pertama di RK IV, Madiun, Kelurahan Campur Asri, Kecamatan Baradatu, Jumat 4 Agustus yang merupakan hari kelahiran Gus Dur. Kemudian di Bale Banjar Adat Sari Agung, Kampung Bali Sadhar Tengah, Kecamatan Banjit, Sabtu 5 Agustus.

Masyarakat yang menderita penyakit asam urat, hernia, kencing nanah, lemah jantung, diabetes, lemah syahwat, stroke, paru-paru, kista, kanker payudara, rematik, pengeroposan tulang bisa menyembuhkan penyakitnya tanpa biaya.

IMNU Tegal

Hanya saja, bagi yang Muslim diharapkan membaca tiga kali Al Fatihah dihadiahkan bagi Gus Dur, untuk keselamatan bangsa Indonesia dan seluruh penyelenggara kegiatan. Untuk yang non muslim, dipersilakan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing dengan tujuan sama.

"Setelah atau sambil menunggu penyembuhan, kami akan mengajak masyarakat berfoto membawa pesan-pesan inspiratif Gus Dur mengenai keberagaman dan kemajemukan. Ini yang kami sebut sebagai merawat kebhinekaan," kata Markus lagi.

Adapun yang dimaksud menebar warisan jenius leluhur nusantara ialah berkumpul dan berdialog dengan masyarakat untuk merampungkan masalah melalui penyembuhan penyakit medis dan non medis dengan ATS, ilmu kuno peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia yang mudah digunakan siapapun yang telah diaktivasi, cukup 15 hingga 30 menit sudah bisa praktik.

IMNU Tegal

Saat ini, ATS sudah banyak dimanfaatkan di mancanegara seperti di Hongkong, Singapura, Polandia, Belanda, Jepang, Amerika, Meksiko, Australia, Belgia hingga Spanyol sehubungan bisa dipelajari oleh siapa pun mulai dari anak kecil dan orang tua. Aktivasi ATS 085382008080. (Erli Badra/Abdullah Alawi)

? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kyai, Pendidikan IMNU Tegal

Senin, 08 Januari 2018

Ribuan Santri NU Banyumas Gelar Aksi Tolak Kebijakan 5 Hari Sekolah

Banyumas, IMNU Tegal - Ribuan warga NU Kabupaten Banyumas melakukan aksi damai menolak program lima hari sekolah atau full day school (FDS) yang dinilai akan mematikan keberadaan madrasah diniyah (Madin) serta pondok pesantren, Senin (7/8).? Aksi yang terdiri atas kalangan santri dan pengelola madrasah ini dipusatkan di alun-alun Kota Purwokerto.

Ribuan santri dari berbagai sekolah dan pesantren NU se-Kabupaten Banyumas hadir memadati alun-alun. Mereka membawa berbagai macam sepanduk berisi penolakan.

Ribuan Santri NU Banyumas Gelar Aksi Tolak Kebijakan 5 Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Santri NU Banyumas Gelar Aksi Tolak Kebijakan 5 Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Santri NU Banyumas Gelar Aksi Tolak Kebijakan 5 Hari Sekolah

Mereka juga terus meneriakkan penolakan terhadap program FDS. "Kita seluruh warga NU Banyumas menolak Full Day School dan meminta kepada Presiden Jokowi agar menegur Menteri Pendidikan agar membatalkan program FDS. Bahkan kita minta agar Presiden mencopot Menteri Pendidikan," kata Kordinator Aksi, Taufiq Hidayat.

IMNU Tegal

Beberapa poster dan spanduk dibawa oleh meraka. Tuntutan mereka berbunyi, “Batalkan Full Day School, Tolak 5 Hari Sekolah”, “Ngaji Yes! Full Day School Day No!!”, “Ngaji Sinambi Sekolah Bukan Sekolah Nyambi Ngaji”, dan “Pak Jokowi, Tolong Pak Muhajir diganti!!”

Kebijakan lima hari sekolah dianggap lebih banyak mendatangkan kerugian dibanding manfaatnya. Secara budaya, program sekolah lima hari itu mengancam keberadaan madrasah diniyah. Padahal madrasah merupakan lembaga pendidikan yang mengajarkan budi pekerti kepada anak didik. Para santri-santri dahulu yang berjuang membela kemerdekaan juga terdidik di madrasah.

IMNU Tegal

Dalam pernyataan sikap yang ditandatangani Korlap Aksi, Taofik Hidayat, dan Ketua PCNU Banyumas Maulana Ahmad Hasan, mereka mendesak pemberlakuan kembali enam hari sekolah. Mereka mendesak Muhadjir Effendy dicopot dari Mendikbud karena dinilai telah menimbulkan kegaduhan yang meresahkan dunia pendidikan nasional.

Mereka juga meminta Bupati Banyumas menghentikan program lima hari sekolah di seluruh sekolah yang ada di Banyumas tanpa kecuali.

Aksi ini berjalan dengan damai. Mereka mendapat penjagaan ketat dari personel kepolisian dan Banser NU.

Mereka ditemui oleh Wakil Bupati Banyumas Budhi Setiawan. Kepada massa aksi, Budhi berjanji akan menyampaikan seluruh aspirasi dan desakan itu ke Pemerintah Pusat. (Kifayatul Akhyar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nasional, Kyai IMNU Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Kiai Said: Alhamdulillah, Kita Dijadikan sebagai Orang NU

Jakarta, IMNU Tegal. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengajak warga NU untuk mensyukuri keberadaannya sebagai bagian dari warga NU yang memiliki ajaran yang jelas dan bersambung sampai kepada Rasulullah.?

Hal ini disampaikan oleh Kiai Said ketika menerima rombongan dari Ma’arif NU Sidoarjo yang berkunjung ke gedung PBNU, Sabtu (19/12).

Kiai Said: Alhamdulillah, Kita Dijadikan sebagai Orang NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Alhamdulillah, Kita Dijadikan sebagai Orang NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Alhamdulillah, Kita Dijadikan sebagai Orang NU

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Said menyampaikan kepada hadirin, terdapat dua tugas yang harus dijalankan. Pertama adalah belajar agama dengan benar.

IMNU Tegal

“Para ulama NU mempelajari agama dengan benar, sanad kita sampai dengan Imam Syafii dan Imam Syafii jika dirunut sampai kepada Rasulullah,” katanya.

Karena itu, jika ada orang yang belajar agama sembarangan, tapi sedikit-sedikit bilang Islam kaffah tetapi tidak bermazhab atau bahkan antimazhab, maka menurutnya patut dipertanyakan kemampuannya dalam beragama. “Mereka orang yang tidak jelas,” paparnya.

IMNU Tegal

Ia menjelaskan, pesantren sebagai pusat pendidikan agama NU telah ada sebelum berdirinya Indonesia. Pesantren ini mampu melahirkan tokoh-tokoh yang terlibat dalam perjuangan, seperti Ki Hajar Dewantara dan Panglimat Sudirman. Menurutnya, ungkapan dari Kartini tentang “Habis gelap terbitlah terang” juga berasal dari Qur’an saat ia mengaji, yaitu dari ayat minaddhulumaati ilannuur.?

Ia melanjutkan, kewajiban kedua adalah membimbing masyarakat. Setelah mampu belajar agama dengan baik, ilmu yang dimiliki harus kembangkan kepada masyarakat agar mereka ikut tercerahkan, agar masyarakat memiliki jiwa ikhlas, ukhuwah, dan mandiri.?

“Pesantren selalu mengajarkan kemandirian, tidak menggantungkan diri kepada siapapun, termasuk kepada negara. Lulusan pesantren tidak ingin jadi PNS, meskipun itu boleh-boleh saja. Yang penting belajar baik,” tandasnya.?

Dijelaskannya, secara pribadi, seorang Muslim harus tawadhu dan zuhud. Harta secukupnya dan tidak boleh memamerkannya kepada orang lain, tetapi ketika berbicara organisasi, tidak boleh seperti itu. Organisasi harus terus dikembangkan, tidak boleh dikelola sekedarnya.?

“Kalau untuk NU, kita tidak boleh zuhud, untuk organisasi ngak apa-apa kita membanggakan diri,” terangnya.

Ditambahkannya, “Jangan sampai umat Islam dihina dan tidak bermartabat, kita ikut berdosa. Inilah gunanya kita berorganisasi,” teranganya.?

Dalam kesempatan tersebut Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini memberikan penjelasan tentang perkembangan pendidikan NU yang kini terus berkembang pesat, baik sekolah maupun pesantren, termasuk sudah berdirinya 24 perguruan tinggi NU. ? (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kyai, Warta, Jadwal Kajian IMNU Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Tumbuhkan Semangat Kebersamaan, Pelajar NU Surabaya Gelar Halal Bihalal

Jakarta, IMNU Tegal - Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) danIkatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Surabaya mengadakan halal bihalal di kantro PCNU Kota Surabaya, Ahad (31/7). Sedikitnya 100 peserta yang terdiri atas perwakilan PAC/PKPT IPNU-IPPNU di Surabaya dan beberapa alumni tampak hadir.

Salah satu alumni yang hadir antara lain H Syaihan, Ketua IPNU Surabaya periode 1989-1991.

Tumbuhkan Semangat Kebersamaan, Pelajar NU Surabaya Gelar Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)
Tumbuhkan Semangat Kebersamaan, Pelajar NU Surabaya Gelar Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)

Tumbuhkan Semangat Kebersamaan, Pelajar NU Surabaya Gelar Halal Bihalal

Ketua IPPNU Surabaya Arumi Maulida berharap jalinan silaturahmi antara PAC/PK dan PR tetap terjaga secara istiqomah bukan hanya pada momen halal bihalal, Ia Juga berharap kepada alumni agar bisa bertindak sebagai motivator bagi pengurus untuk meneruskan perjuangan dalam mengembangkan ajaran ahlus sunah wal jamaah an-nahdliyah di kalangan pelajar.

IMNU Tegal

Sementara Ketua IPNU Surabaya Agus Setiawan menuturkan, pada momen halal bihalal ini selain untuk memupuk silaturahmi, terlebih antaralumni dan kader harus ada hubungan yang proporsional di masing-masing tingkatan agar bisa melakukan sebuah gerakan nyata.

“Tentunya yang harus dibagun terlebih dahulu adalah pondasi yang kokoh dengan semangat kebersamaan.”

IMNU Tegal

Sementara Ketua PCNU Surabaya Dr H Achmad Muhibbin Zuhri mengatakan bahwa pelajar NU Surabaya harus lebih kreatif dan inovatif lagi untuk menarik minat kader di Kota Surabaya yang notabene kota metropolitan yang sangat heterogen.

“Selain fokus untuk mengasah dan mengembangkan kadar intelektualitas kader IPNU-IPPNU harus bisa lebih memaksimalkan sosial media misalnya FB, twetter, instragram sebagai penunjang eksistensi gerakan di kalangan pelajar-pelajar Surabaya,” tambahnya.

Sementara H Syaihan menuturkan bahwa IPNU-IPPNU harus lebih fokus dan intens lagi dalam mengembangkan potensi dan membekali kader yang ada di tingkatan bawah agar bisa membentengi dirinya dan juga pelajar-pelajar yang ada di Surabaya dari pengaruh paham-paham Islam radikal dan narkoba yang sudah masuk ke sekolah-sekolah dan meracuni generasi muda.

“Dinamika dan tantangan saat ini sangat berbeda dengan beberapa tahun silam, maka dari itu pengurus IPNU-IPPNU saat ini harus berjuang lebih keras lagi dalam memperkenalkan Islam ala Ahlus sunah wal jamaah An-Nahdliyah yang moderat kepada generasi muda yang ada di kota Surabaya,” jelasnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kyai IMNU Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

Ada Benang Merah antara Islam Indonesia dengan Marokko

Jakarta, IMNU Tegal. Warna lokal atau penyebaran Islam dengan menghargai budaya setempat agar mudah diterima oleh masyarakat ternyata bukan monopoli Islam Indonesia. Marokko, salah satu negera dengan penduduk mayoritas muslim juga sangat menghargai tradisi lokal.

Informasi ini dikemukakan oleh Nasrullah Jasam, MA, alumni Ponpes Assidiqiyah Jakarta yang kini sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Abdul Malik Sa’di Tetauan Marokko, saat berkunjung ke IMNU Tegal? pekan lalu.

Diceritakan oleh Nasrullah bahwa banyak tradisi Islam di Marokko yang mirip dengan Indonesia seperti dalam ritual orang meninggal seperti peringatan tujuh hari, 40 hari sampai dengan haul. Contoh lain, kalau di Indonesia ada istilah bubur merah, bubur putih, di Marokko pada momen-moment tertentu ada makanan tertentu, dan hanya keluar pada saat itu. Pada hari Jum’at, mereka makan kus-kus, makanan seperti tumpeng. Pada bulan Ramadhan, di Indonesia ada makanan tertentu, hal yang sama juga terjadi di Marokko.

Ada Benang Merah antara Islam Indonesia dengan Marokko (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Benang Merah antara Islam Indonesia dengan Marokko (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Benang Merah antara Islam Indonesia dengan Marokko

“Jadi ada benang merah. Kalau memang Syeikh Maghribi itu betul dari Marokko mungkin bisa terlacak, tapi sampai sekarang asal Islam di Indonesia masih kontraversi, jadi saya kira hampir sama dengan Indonesia, tidak puritan seperti di Arab Saudi, sangat kultural dan ramah terhadap budaya lokal,” tandasnya.

Dijelaskannya bahwa wilayah Marokko merupakan wilayah yang terarabisasi atau musta’rob, bukan Arab murni, sama juga dengan Mesir dan Aljazair. Ketika Islam masuk dan ingin diterima secara ramah, maka konsekuensinya seperti yang terjadi di Indonesia dimana kulitnya tidak dipertahankan tetapi substansi ajarannya tidak dirubah.

Seperti juga di Indonesia, tasawwuf juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, Nasrullah menuturkan bahwa secara pribadi ia? pernah mengikuti ritual tasawwuf di Marokko, yaitu tarekat Kodiriah Buziziyah. Pada bulan maulud yang di Indonesia dirayakan dengan meriah, hal yang sama juga dilakukan di Marokko, ada tarekat yang melakukan semacam kholwat selama 30 hari, ada yang menghadiahi sapi yang besar dan gemuk.

IMNU Tegal

“Justru model seperti ini banyak menarik orang-orang bule, karena Marokko kan berdekatan dengan Eropa, untuk belajar Islam. Jadi nuansa mistiknya kuat. Katakanlah daerah-daerah seperti Marakhes, kalau kita ke sana kita rasakan mistisnya sangat kuat,” imbuhnya.

Kebebasan Beragama Dihargai

Dalam beberapa aspek, kebebasan dalam menjalankan agama juga dihargai. Setiap warga negara diajarkan tentang ajaran Islam, tetapi negara tidak memaksakannya. Alumni Ponpes Assidiqiyah tersebut memberi contoh meskipun ia kuliah di fakultas Ushuluddin yang notabene merupakan fakultas agama, tetapi mahasiswa tidak diwajibkan untuk berjilbab dan jika berjilbab, ini merupakan atas kesadaran pribadinya, bukan atas paksaan. “Saat ini, para pemikir Marokko sangat bangga bahwa Islam di Marokko paling moderat. Terlepas dari fihak lain setuju atau tidak,” imbuhnya.

Hari Raya Selalu Bersamaan

IMNU Tegal

Jika di Indonesia, berlebaran bisa diawali pada hari yang berbeda, jangan harap hal tersebut terjadi di Marokko. Meskipun ada pendapat yang berbeda tentang penentuan hari lebaran, tetapi ketika pemerintah memutuskan, semua warga negara mengikutinya. Ini memang berkaitan dengan perangkat UU yang memungkinan negara bisa menentukan kapan puasa diawali dan diakhiri. Dalam UU Marokko, setiap warga negara wajib berpuasa Ramadhan, sebagai konsekuensinya, jika ia berlebaran duluan sementara negara masih belum memutuskan puasa diakhiri, ia bisa dijerat UU.

“Ada komitmen bahwa pemimpin spiritual adalah raja sebagai amirul mukminin dan kebijakan harus keluar dari sana. Jadi saya kira kewibawaan pemerintah yang membedakan. Kalau di Indonesia, sebagai contoh dalam kasus lebaran. Kalau ada ormas yang menyatakan lebaran berbeda, Depag tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang perangkat hukumnya tidak ada. Tapi kalau disana tidak, kalau diputuskan hari ini, ya harus hari ini karena memang UU-nya jelas. Ini peranan pemerintah yang paling signifikan,” tandasnya.

Dijelaskannya secara umum, penduduk Marokko mengikuti mazhab Maliki, baik para pengikut salafy atau tradisional. Hal ini terefleksikan dari wudhunya, bahkan dari wiridan yang mereka baca setiap sholat sampai dengan sholat taraweh semuanya sama, mungkin hanya lagunya saja yang berbeda.

Kesempatan Beasiswa

Sampai sekarang, baru sekitar 40-an mahasiswa Indonesia yang belajar disana. Sebagian besar belajar pada tingkat pascasarjana dengan komposisi 20 persen belajar S1, 30 persen belajar S2 dan 50 persen studi doktoral.

Pemerintah Marokko memberikan jatah 15 orang untuk beasiswa disana Marokko, tapi selama ini tidak berjalan lancar karena ada tumpang tindih dalam pengelolaannya. Depag menerima dan yang daftar sendiri juga diterima. Namun kebijakan ini sudah diperbaiki dengan kebijakan satu pintu melalui kedutaan Marokko di Indonesia tetapi difasilitasi oleh Depag.

Sayangnya, karena komunitas NU masih kecil, mereka belum melembaga seperti di Mesir dengan KMNU-nya. “Karena komunitas NU-nya terlalu kecil, kalau kita membentuk nanti malah menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan dari teman-teman yang berhaluan lain. Jadi kita tetap personal saja, tetapi sering mengadakan halaqah, umpamanya informasi tentang NU bisa kita baca dari IMNU Tegal, gusmus.net, atau gusdur.net,” paparnya. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kyai, Warta, Bahtsul Masail IMNU Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Tahun Baru Hijriyah Diawali dengan Doa

Jember, IMNU Tegal. Umat Islam di berbagai daerah di Indonesia, Jumat (19/1) tadi malam, memanjatkan doa keselamatan menyambut datangnya tahun baru Hijriyah 1428. Perpindahan tahun baru kali ini diharapkan juga berarti perpindahan atau hijrah dari yang tidak sempurna menuju ke tingkatan yang lebih sempurna, dari dosa dan salah menjadi pahala dan keutamaan.

Di Pondok Pesantren Al Qodiri Jember, malam tahun baru Islam diisi dengan menggelar hataman Al Quran bersama para santri dan warga sekitar pesantren. Para jamaah membaca doa bersama dan membaca wirid, untuk keselamatan semua umat manusia dan warga yang tertimpa musibah seperti banjir lumpur Lapindo, kapal hilang, banjir, longsor dan serangan penyakit.

Tahun Baru Hijriyah Diawali dengan Doa (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Baru Hijriyah Diawali dengan Doa (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Baru Hijriyah Diawali dengan Doa

Pimpinan Ponpes Al Qodiri, KH Achmad Muzakky Syah, Jumat (19/1) malam, mengatakan, sebagai ummat manusia sudah saatnya melakukan kajian terhadap diri sendiri dengan menyampaikan permohonan maaf mendalam kepada Allah SWT.

Diakui atau tidak, katanya, kita sering melakukan kesalahan baik kepada manusia maupun kepada Allah dengan tetap menganggap bahwa diri kita benar.  "Kalaupun belum dikabulkan maka kita terus meminta ampun pada Allah," ujarnya.

Warga Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, juga mengadakan hataman Al-Quran di Sekretariat Cabang Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sumenep.

IMNU Tegal

"Selama ini gema pergantian tahun baru Islam hampir tidak pernah dirayakan, makanya MUI memulai dengan kegiatan menghatamkan Al-Quran," ujar Ketua MUI Sumenep, KH Safraji, Sabtu.

Kegiatan menghatamkan Al-Quran, kata Safraji, akan dijadikan kalender tahunan. Masyarakat diharapkan mengikuti acara tersebut, selain memanjatkan doa juga sebagai wahana silaturrahmi sesama muslim.

IMNU Tegal

Malam Tahun Baru 1428 Hijriah di Semarang, Jawa Tengah, dirayakan secara sederhana dan bernuansa kontemplasi tanpa ada bunyi trompet dan konvoi kendaraan bermotor seperti ditemui setiap pergantian tarikh Masehi.

Menyambut datangnya bulan Muharam atau Sura, Kamis malam, warga Kota Semarang berkumpul untuk tirakatan yang diselenggarakan secara swadaya oleh warga tingkat RT, RW, maupun kelurahan.

Berbeda dengan pergantian tahun baru tarikh Masehi yang disambut gegap gempita, malam satu Sura ini disambut dengan segala kesederhanaannya. Aneka makanan yang disajikan semuanya bernuansa tradisional, termasuk nasi tumpeng. Kalau pun ada hiburan, berkaraoke bersama sudah mampu memberi kegembiraan warga.

Di  Yogyakarta umat Islam menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1428 Hijriyah dengan melakukan berbagai kegiatan religius di antaranya pengajian maupun tadarus Al Quran di masjid-masjid, Jumat malam.

Di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta tampak puluhan umat Islam dengan tekun melakukan kajian dan tadarus kitab suci Al-Quran dipimpin seorang ustadz.

Tadarus Al Quran yang diselenggarakan Takmir Masjid Gedhe itu, dimaksudkan agar jemaah Masjid Gedhe Kauman bisa mendalami isi Al Quran.

 "Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menghindarkan umat Islam melakukan kegiatan di luar ajaran agamanya serta yang bisa menjauhkan dari keimanan mereka," kata salah seorang pengurus Takmir Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta yang enggan disebut namanya. (ant/fur/nam/han/sam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kyai, Ulama IMNU Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Kiai Said Inginkan Penyelenggaraan Muktamar di Pesantren

Jakarta, IMNU Tegal. Diantara tiga tempat yang mengajukan diri sebagai tempat muktamar NU, yaitu Pesantren Tebuireng Jombang, NTB, dan Medan, KH Said Aqil Siroj masih mempertimbangkan antara Jawa Timur dan Medan. Lebih khusus lagi, ia menginginkan muktamar diselenggarakan di pesantren.

Kiai Said Inginkan Penyelenggaraan Muktamar di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Inginkan Penyelenggaraan Muktamar di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Inginkan Penyelenggaraan Muktamar di Pesantren

Dalam konteks muktamar untuk syiar, Kiai Said setuju dengan pendapat tersebut bahwa tempat penyelenggaraan muktamar NU harus dibuat merata di seluruh Indonesia, bukan didominasi oleh Jawa Timur yang sudah menyelenggarakan perhelatan tersebut selama 11 kali dari 33 kali muktamar.

“Idealnya memang ada pemerataan sebagai syiar NU, tapi kita harus mempertimbangkan situasi dan kondisi, transportasinya, dan dukungan dari pemerintah setempat dan masyarakat,” katanya.

IMNU Tegal

Menurutnya, yang paling siap sekarang adalah Jawa Timur sementara NTB, dari sisi transportasi masih kurang dibandingkan dengan Surabaya.

IMNU Tegal

“Kalau Sumatra Utara transportasi bagus, tetapi juga masih kita pertimbangkan apakah kondisi disana siap. Daripada nanti muktamar tidak maksimal, lebih baik yang sudah siap di Jawa Timur,” tandasnya.

Meskipun demikian, keputusan akhirnya akan ditentukan setelah melakukan survey terhadap kesiapan masing-masing lokasi.

“Walhasil, rapat akan membikin tim, mereka nantinya yang akan mensurvey. Dulu waktu di Makassar, saya dan Kiai Hafidz Utsman yang berangkat ke sana.”

Di sisi lain, ia juga berharap agar muktamar ke depan diselenggarakan di pesantren sesuai dengan visinya untuk menyelenggarakan seluruh kegiatan NU di pesantren dari rapat pleno, munas dan konbes sampai dengan muktamar.

“Saya ingin ke kembali ke pesantren. Apa pesantren di luar Jawa siap. Nanti kalau dipaksakan kualitas muktamar yang terganggu, lebih baik yang sudah siap,” tegasnya.?

“Saya ingin menyatukan kembali, NU itu pesantren dan pesantren itu NU.” (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kyai, Syariah, Olahraga IMNU Tegal

Selasa, 28 November 2017

Ustadz Hamid: Jangan Gampang Menyalahkan Sebelum Memahami

Pringsewu, IMNU Tegal. Ustadz Abdul Hamid pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) yang diadakan rutin di kantor NU kabupaten Pringsewu, Ahad (16/08/15) menyampaikan pesan agar tidak gampang menyalahkan sebelum memahami persoalan secara menyeluruh dan mendalam. 

Ustadz Hamid: Jangan Gampang Menyalahkan Sebelum Memahami (Sumber Gambar : Nu Online)
Ustadz Hamid: Jangan Gampang Menyalahkan Sebelum Memahami (Sumber Gambar : Nu Online)

Ustadz Hamid: Jangan Gampang Menyalahkan Sebelum Memahami

Pesan ini disampaikan menyikapi fenomena di zaman sekarang ini banyak sekelompok golongan yang dengan gampang menyalah-nyalahkan amaliyah golongan lain.

Menurut Ustadz Hamid golongan ini sering memahami makna dari Al-Qur’an dan hadits secara tekstual saja. Padahal menurutnya, dalam memahami makna dari ayat Al-Qur’an dan hadits diperlukan pemahaman yang dalam, mencakup juga makna kontekstual berikut asbabun nuzul dan asbabul urutnya.

IMNU Tegal

Menurut Ustadz yang sedang menempuh pendidikan S3 di IAIN Radin Intan Lampung ini, pemahaman terhadap ayat Al-Qur’an hendaknya tidak memotong-motong ayat. Hal ini karena banyak sekali ayat Al-Qur’an yang memiliki kaitan dengan ayat sebelum dan sesudahnya. Sedangkan dalam memahami hadits, Ustadz Hamid mengatakan bahwa diperlukan pemahaman tentang sebab-sebab dan bagaimana hadits tersebut disampaikan oleh Nabi.

Hal senada juga disampaikan Mustasyar NU Pringsewu KH Sujadi yang memoderatori Jihad Pagi tersebut. Menurutnya, para ulama Nahdlatul Ulama tidak hanya mengkaji dan menyampaikan secara tekstual dalil dan hukum di dalam agama Islam. Banyak sekali yang menyampaikannya dengan langsung memberikan uswatun hasanah kepada umat.

IMNU Tegal

KH Sujadi mencontohkan bagaimana baru-baru ini KH Maimun Zubair memberikan uswatun hasanah dengan berdiri ketika dilantunkan lagu Indonesia Raya pada Muktamar ke-33 NU di Jombang walaupun kondisi beliau sedang menggunakan kursi roda. 

"Kemudian apakah ada dalil upacara kemerdekaan 17 Agustus? Apakah ada dalil menghormati bendera merah putih? Hal itu tidak harus diperdebatkan karena para ulama lebih tahu dengan mencontohkan yang terbaik kepada umatnya," terangnya. (Muhammad Faizin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Lomba, Berita, Kyai IMNU Tegal

Sabtu, 25 November 2017

Ini Jadwal Peringatan Harlah Ke-32 Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta

Jakarta, IMNU Tegal



Pondok Pesantren Asshiddiqiyah yang diasuh KH Noer M. Iskandar, SQ memperingati hari lahir (harlah) ke-32. Beragam kegiatan digelar mulai hari ini Kamis (9/3) sampai Ahad (12/3). ? Berdasarkan jadwal kegiatan yang diterima IMNU Tegal, di antara kegiatan Harlah adalah nonton film bareng, bedah novel, karnaval budaya, pentas seni, bazar hingga tabligh akbar.?

Berikut agenda peringatan harlah tersebut. Pada Kamis malam 9 Maret 2017, panitia mengadakan bedah film “Jalan Da’wah Pesantren”.

Ini Jadwal Peringatan Harlah Ke-32 Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Jadwal Peringatan Harlah Ke-32 Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Jadwal Peringatan Harlah Ke-32 Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta

Pada Jumat pagi 10 Maret 2017, panitia mengadakan Bakti Sosial “Cek Darah, Fisioterapi, Konsultasi & Cek Kesehatan (Gula Darah & Kolesterol)”. Di waktu yang sama diadakan Santri Goes to Campus “Mengenal Berbagai Jurusan di PTN dan PTS”.

Pada siang hari, sekitar pukul 14.00 – 15.00, panitia mengadakan Peresmian Bazar & Pameran Selama 3 hari. Pada pukul 16.00 – 18.00, panitia mengadaka Seminar Informatika bertema “Aktif & Beretika dalam Dunia Sosial Media.”

Pada malam harinya, sekitar pukul 19.00 – 20.30, panitia mengadakan Bedah Novel “Pondok Lentera” karya Putri Annisa (Iklas 2008). Lalu pukul 21.00 – 22.30 diadakan kegiatan Ngaji Budaya bersama Zastrow El Ngatawi dan Fadly (Vokalis Band Padi)

IMNU Tegal

Pada Sabtu pagi 11 Maret 2017 sekitar pukul 07.30 – 12.00, panitia mengadakan Haul Akbar & Tabligh Akbar serta peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-32 Pondok Pesantren Asshiddiqiyah.

Pada siang harinya, pukul 14.00 – 16.00, panitia mengadakan Pentas Seni & Budaya Karya Santri. Pada pukul 20.30 – 22.30 diadakan Tasyakuran Ulang Tahun Pernikahan KH Noer M. Iskandar, SQ dan Ibu Nyai.

IMNU Tegal

Pada Ahad pagi 12 Maret 2017 pukul 07.00 – 10.00, panitia mendakan Karnaval Budaya Nusantara. Pukul 10.00 – 11.00 Hiburan & Pengumuman Pemenang Lomba. Pukul 13.00 – 14.30? Silaturrahim Nasional Alumni.?

Pada pukul 14.30 – 16.00 Konser Musik Religi dan Gerakan Ayo Mondok bersama Wali ? Band. Pukul 19.00 – 23.00 Asshiddiqiyah Bershalawat dalam Rangka Maulid Nabi Muhammad saw bersama Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Hadits, Nahdlatul Ulama, Kyai IMNU Tegal

Jumat, 24 November 2017

Habib Luthfi Jelaskan Mengapa Sebuah Bangsa Mudah Dipecah Belah

Pekalongan, IMNU Tegal. Dalam acara malam ta’aruf, Selasa (26/7) di Gedung Khanzus Shalawat Pekalongan sebelum pembukaan Konferensi Internasional Ulama Thariqah bertajuk Bela Negara, Rais Aam Jam’iyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya menjelaskan membela negara harus dilakukan oleh seluruh elemen bangsa.

Sebab hal itu adalah modal memperkuat bangsa dan negara dari keterpecahbelahan. Ulama sekaligus Mursyid Thariqah ini juga secara tegas menyampaikan penyebab sebuah bangsa mudah dipecah belah. Hal ini dia sampaikan di hadapan para ulama thariqah internasional nasional yang hadir dalam malam ta’aruf tersebut.

Habib Luthfi Jelaskan Mengapa Sebuah Bangsa Mudah Dipecah Belah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi Jelaskan Mengapa Sebuah Bangsa Mudah Dipecah Belah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi Jelaskan Mengapa Sebuah Bangsa Mudah Dipecah Belah

Menurutnya, penyebab sebuah bangsa mudah dipecah belah yaitu karena ruh dari bangsa tersebut sudah melentur. Karena sudah melentur, bangsa tersebut tidak mempunyai pijakan kokoh dalam memahami identitasnya sendiri sehingga mudah diprovokasi.

“Saya sedikit mempelajari bahwa mudahnya sebuah bangsa dipecah belah karena ruh bangsa tersebut sudah luntur,” tegas Habib Luthfi.

IMNU Tegal

Dia menjelaskan kepada seluruh ulama dan masyarakat yang hadir bahwa pemuda tetap memiliki peran penting dalam memperkokoh bangsa dan negara. Sebab itu para pemuda Indonesia harus memahami akan bangsa dan negaranya dengan wawasan kebangsaan secara menyeluruh.

“Jika para pemuda sudah tumbuh akan kecintaannya kepada bangsa dan negara, maka bangsa ini tidak akan mudah dipecah belah,” tutur Habib Luthfi.

IMNU Tegal

Selain sekitat 65 ulama mancanegara dan Menhan Riyamizard Riyacudu yang hadir, terlihat juga ulama nasional seperti KH Maimoen Zubair, KH Saifuddin Amsir, KH. Soleh Qasim Sidoarjo, KH. Ali Mas’adi Mojokerto, Habib Zain bin Smith Jakarta, dan KH Abdul Jalil Wonosobo. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kyai IMNU Tegal

Kamis, 16 November 2017

Jangan Sembarangan Pakai Nama NU

Jakarta, IMNU Tegal. Nama NU tampaknya cukup sakti dan bikin PD sehingga banyak institusi di luar lembaga resmi NU yang seringkali menambahi embel-embel NU sebagai bagian dari nama yang mereka miliki.

Ketua PBNU H. Ahmad Bagdja berharap agar penggunaan nama NU diluar perangkat resmi organisasi NU ini diatur dalam aturan organisasi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian hari “Kita harus menjaga nama baik NU, jangan sampai nama ini digunakan untuk hal-hal yang tidak baik yang akhirnya berdampak negatif bagi NU,” tandasnya kepada IMNU Tegal, Rabu

Menurutnya, penambahan embel-embel NU oleh institusi lain tersebut mencerminkan perasaan kurang percaya diri dari organisasi tersebut seolah-olah kalau tidak memakai nama NU tidak memiliki kemampuan, legitimasi dan pengakuan dari masyarakat. “Makanya kita jaga NU dengan tidak menggunakan nama NU sembarangan,” tuturnya.

Jangan Sembarangan Pakai Nama NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Sembarangan Pakai Nama NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Sembarangan Pakai Nama NU

Meskipun demikian, sampai saat ini NU masih berbesar hati bahwa banyak orang berhak memperoleh barokah dari nama NU. PBNU tidak melakukan protes meskipun banyak orang menamakan dirinya NU walaupun yang menggunakan itu belum tentu NU.

“Ke depan, organisasi harus ditata agar lebih sehat dengan menjalankan disiplin organisasi. Bagaimana caranya, dengan memberikan sanksi bagi pelanggaran-pelanggaran yang terjadi,” tegasnya.

IMNU Tegal

Ditambahkannya bahwa penggunaan simbol-simbol NU harus menggunakan standar seperti yang ditentukan AD/ART tentang tata letak, warna, ukuran dan lainnya. Dilaporkan salah satu cabang NU di wilayah Jawa Barat menggunakan warna hitam putih. “Ini tidak boleh, harus sesuai aturan,”katanya. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Santri, Kyai, Pendidikan IMNU Tegal

Selasa, 07 November 2017

Akhir Ramadhan, Pelajar NU Blubuk Serahkan Santunan ke 107 Yatim

Tegal, IMNU Tegal - Menjelang Lebaran 1438 Hijriyah, Pimpinan Ranting IPNU dan IPPNU Desa Blubuk Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal menggelar buka puasa bersama dengan 107 anak yatim di desa setempat di Pendopo Balai Desa Blubuk, Kamis (22/6) sore. Pada kesempatan ini mereka menyerahkan santunan kepada anak-anak tanpa orang tua tersebut.

Ketua IPPNU Blubuk Sukmawati menyampaikan terima kasih atas partisipasi dan sumbangsih serta dukungan masyarakat. Santunan ini merupakan realisasi program IPNU-IPPNU Desa Blubuk yang dibalut dalam amaliyah Ramadhan 1438 Hijriyah.

Akhir Ramadhan, Pelajar NU Blubuk Serahkan Santunan ke 107 Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhir Ramadhan, Pelajar NU Blubuk Serahkan Santunan ke 107 Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhir Ramadhan, Pelajar NU Blubuk Serahkan Santunan ke 107 Yatim

"Alhamdulillah tahun ini, santunan diberikan kepada 107 anak yatim, dari 120 anak yang kita undang," kata Sukma.

Ketua NU Desa Blubuk Syamsudin menyampaikan terima kasih dan rasa bangganya kepada IPNU dan IPPNU yang menyatakan kepeduliannya kepada anak yatim. Ia berharap pemberian santunan dapat berjalan secara rutin dan berkesinambungan.

IMNU Tegal

IMNU Tegal

"Saya turut berdoa semoga program-program dari IPNU-IPPNU bisa terlaksana dengan baik. Kepada anak-anakku semoga menjadi anak yang saleh dan selalu berbakti dan mendoakan orang tuanya," ujar Syamsuddin singkat.

Kepala Desa Blubuk Nuraeni mengungkapkan rasa bangganya atas kepedulian pelajar NU yang tergabung dalam IPNU-IPPNU. "Kegiatan ini sangat bagus dan harus kita dukung. Pasalnya kegiatan IPNU-IPPNU sudah rutin berjalan setiap Ramadhan," tutur Nuraeni.

Acara dimeriahkan dengan tampilan hadrah IPNU-IPPNU yang menyuguhkan lagu shalawat Nabi. Hadir dalam kesempatan ini Pengurus Ranting NU Blubuk dan badan otonom, pembina, alumni, tokoh masyarakat, dan serta ratusan yatim. (Hasan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tokoh, Pesantren, Kyai IMNU Tegal

Senin, 23 Oktober 2017

Pelajar MTs Ma’arif Sindangwangi Latihan Silat ala NU

Majalengka, IMNU Tegal. Pihak MTs Maarif NU Sindangwangi kabupaten Majalengka saat ini menekankan siswanya terlibat dalam berbagai ekstrakulikuler kesenian. Karenanya, mereka kini memfasilitasi muridnya berlatih pencak silat NU Pagar Nusa.

Menurut salah satu pembina kegiatan ekstra Mansyur, latihan bela diri ini dilakukan agar dapat menumbuhkan minat dan bakat para siswanya. Sehingga, selain mendapatkan bekal pengetahuan di madrasah mereka juga dapat mengasah keahlian di bidang seni, baik itu seni bela diri, seni sastra, maupun seni musik hadrah.

Pelajar MTs Ma’arif Sindangwangi Latihan Silat ala NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar MTs Ma’arif Sindangwangi Latihan Silat ala NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar MTs Ma’arif Sindangwangi Latihan Silat ala NU

“Untuk seni bela diri PN (Pagar Nusa) memang sudah ada jadwal rutin, setiap Rabu sore. Pelatihnya guru setempat. Sedangkan untuk kesastraan biasanya kami latih siswa untuk membuat cerpen, puisi, serta seni dalam membawakan cerita di depan umum,” kata Mansyur saat ditemui IMNU Tegal sedang melihat siswa berlatih pencak silat, Rabu (11/2) pagi.

IMNU Tegal

Sementara Kepala MTs Maarif NU H Damuri mengatakan, di bidang musik juga kami rutin setiap Sabtu mengembangkan seni musik hadrah karena baru saja kami membeli peralatannya.

Saat ditemui di ruangannya, Rabu (11/2), H Damuri menambahkan kegiatan-kegiatan ekstra lain juga kita akan coba kembangkan untuk lebih meningkatkan potensi dan bakat para siswa dan menunjukan pada calon siswa baru nanti supaya lebih tertarik masuk ke sekolah ini.

IMNU Tegal

“Ke depan harapan kami dengan beberapa kegiatan ekstra tersebut, kelak jika mereka sudah berbaur langsung dengan masyarakat dapat dimanfaatkan oleh para siswa sebagai salah satu sarana dakwah,” pungkas H Damanhuri. (Aris Prayuda/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kyai, RMI NU IMNU Tegal

Sabtu, 21 Oktober 2017

IPNU-IPPNU Karanglo Bersilaturahim dengan Pelajar dan Masyarakat

Jombang, IMNU Tegal - Terhitung sebulan, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Ranting Karanglo, Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur berdiri. Saat ini sejumlah pengurus sedang menyiapkan momen pelantikan untuk pengesahan.

Namun, meski belum dilantik, para Pengurus Ranting IPNU-IPPNU Karanglo mulai membangun keakraban dengan masyarakat dengan cara membudayakan silaturrahim kepada warga dan sejumlah tokoh masyarakat.

IPNU-IPPNU Karanglo Bersilaturahim dengan Pelajar dan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Karanglo Bersilaturahim dengan Pelajar dan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Karanglo Bersilaturahim dengan Pelajar dan Masyarakat

Salah satu pengurus IPPNU Ranting Karanglo Izzatul Mufidati menuturkan, sejak sepekan lalu, dirinya dan pengurus yang lain berkeliling desa mendatangi beberapa kediaman tokoh masyarakat. Hal itu untuk meminta mereka berkenan menjadi pembina IPNU-IPPNU Ranting Karanglo.

"Tanggal 20 Januari lalu, saya dan pengurus lainnya sowan ke rumah Pak Hadi, salah satu tokoh masyarakat di desa untuk merunding beliau menjadi pembina sekaligus meminta saran," tuturnya, Kamis (26/1).

IMNU Tegal

Dijelaskan Izzah, setiap pengurus mengunjungi beberapa tokoh masyarakat, ia mengaku selalu direspon positif dan diberikan saran positif pula. "Kalau sulit, jangan patah semangat, karena pasti ada jalan lain," kata Izzah menirukan ucapak Pak Hadi saat itu.

IMNU Tegal

Prihal sama juga didapati pengurus saat bersilaturrahim kepada tokoh masyarakat yang lain. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kyai, Anti Hoax, AlaNu IMNU Tegal

Kamis, 12 Oktober 2017

2000 Km Kirab Resolusi Jihad NU 2016

Jakarta, IMNU Tegal. PBNU menggelar Kirab Resolusi Jihad NU 2016 untuk memperingati Hari Santri Nasional pada bulan Oktober nanti. Kirab yang akan dimulai dari Banyuwangi (Jawa Timur) sampai Cilegon (Banten). Agenda tersebut dimulai13 Oktober dan rencananya akan berakhir 21 Oktober.? Banyuwangi-Cilegon-Jakarta dengan rute berkelok-kelok, diperkirakan akan menempuh 2000 km.

2000 Km Kirab Resolusi Jihad NU 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
2000 Km Kirab Resolusi Jihad NU 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

2000 Km Kirab Resolusi Jihad NU 2016

Kirab dengan seratus orang peserta dari banom dan lembaga NU tersebut akan menumpangi 5 bus. Namun demikian, mereka akan berjalan kaki dengan jarak tertentu di setiap kota, bergabung dengan peserta lokal. ?

“Perjalanan Kirab Resolusi Jihad NU ini relatif jauh dan melelahkan sehingga peserta harus siap lahir dan batin,” kata Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Ishfah Abidal Aziz Senin (19/9).

IMNU Tegal

Bahkan, menurut dia, peserta hampir tidak ada istirahatnya. Mereka kemungkinan akan banyak tidur di bus dalam perjalanan.

Secara rinci, Ishfah menyebutkan prakiraan jarak antarkota rute Kirab Resolusi Jihad NU sebagai berikut: Banyuwangi ke Situbondo 144 km. Dari Situbondo ke Probolinggo 80 km. Dari Probolinggo ke Pasuruan 59 km, Pasuruan Malang 54 km, Malang ke Sidoarjo 72 km, Sidoarjo ke Bangkalan 59 km, Bangkalan ke makam Sunan Ampel 39 km, Sunan Ampel ke PCNUU Surabaya di Bubutan 5 km. Bubutan ke PWNU Jatim 12 km.

IMNU Tegal

Kemudian dari Surabaya ke Mojokerto 43 km. Dari Mojokerto-Rejoso (Jombang)? 28 km. Dari Rejoso ke Tebuireng 11 km. Tebuireng? ? ? ke Denanyar 11 km. Dari Denanyar ke Tambak Beras 4 km. Tambak Tambak beras-Kertosono 22 km. Kertosono-Kediri 32 km. Kediri-Tambak Ngadi 20 km. Tambak Ngadi-Blitar 42 km. Blitar-Tulungagung 38 km. Tulungagung-Trenggalek 32 km. Trenggalek-Ponorogo 44 km. Ponorogo-Madiun 33 km. Madiun-Magetan 22 km. Magetan-Ngawi 23 km. Ngawi-Mantingan 44 km.

Dari Mantingan-Sragen 18 km. Sragen-Solo 35 km. Solo-Klaten 30 km. Klaten-Yogyakarta 46 km. Yogyakarta-Mlangi 12 km. Mlangi-Magelang 27 km. Magelang-Parakan 45 km. Parakan-Wonosobo33 km. Wonosobo-Banjarnegara 52 km. Banjarnegara-Ajibarang 64 km. Ajibarang-Majenang 48 km. Majenang-Banjar 36 km.

Banjar-Ciamis 32 km. Ciamis-Tasikmalaya 29 km. Tasikmalaya-Garut 43 km. Garut-Bandung? ? ? 69 km. Bandung-Cianjur 70 km. Cianjur-Bogor 61 km. Bogor-Tangerang Selatan 48 km. Tangerang Selatan-Tangerang 14 km. Tangerang-Tanara 51 km. Tanara-Serang 37 km. Serang-Pandeglang 20 km. Pandeglang-Cilegon 50 km. Cilegon-Jakarta 120 km. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kyai, Amalan, Makam IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock