Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Januari 2018

Rektor UIN Yogya: Pelajaran Agama Lahirkan Muslim Pancasilais

Yogyakarta, IMNU Tegal



Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta masa bakti 2016-2020, Yudian Wahyudi, mengatakan, jika mata pelajaran agama dijadikan materi Ujian Nasional, cita-cita melahirkan muslim Pancasilais menjadi niscaya.

Yudian melempar ide tersebut saat menjadi narasumber pada lokakarya Finalisasi Draf Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang Penilaian Buku Pendidikan Agama dan Keagamaan (Tadqiq al-Kutub) pada jenjang pendidikan dasar, menengah dan tinggi yang diinisiasi Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Balitbang Diklat Kemenag, Ahad (27/8) malam.

Rektor UIN Yogya: Pelajaran Agama Lahirkan Muslim Pancasilais (Sumber Gambar : Nu Online)
Rektor UIN Yogya: Pelajaran Agama Lahirkan Muslim Pancasilais (Sumber Gambar : Nu Online)

Rektor UIN Yogya: Pelajaran Agama Lahirkan Muslim Pancasilais

 

Kegiatan ini dijadwalkan selama tiga hari, Minggu-Selasa, 27-29 Agustus 2017 di Hotel Harper Jl. Pangeran Mangkubumi, Yogyakarta. Acara dibuka resmi Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Mas’ud, Minggu (27/8) malam.

Menurut Kiai Yudian, setidaknya ada empat ranah yang harus disepakati seluruh pendidik. Pertama, pelajaran akidah dan ibadah diajarkan oleh guru seagama untuk murid seagama. “Itu berlaku bagi enam agama resmi di Indonesia,” tandas Doktor (PhD) lulusan McGill University Kanada ini.

IMNU Tegal

Kedua, lanjut dia, pelajaran fiqih muamalah juga diajarkan oleh guru seagama untuk murid seagama. Ketiga, pelajaran agama pada poin pertama dan kedua digunakan untuk membaca aneka kebutuhan nasional.

“Misal, bagaimana Pancasila versi Islam. Bagaimana pula versi Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Contoh lain bagaimana agama-agama ini melihat persoalan mulai narkoba, radikalisme, korupsi, disintegrasi, hingga human trafficking dan HAM,” urai Pengasuh Pesantren Nawesea Yogyakarta ini.

 

Untuk poin keempat, dosen pertama dari Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang berhasil menembus Harvard Law School di Amerika Serikat ini mencoba menawarkan kebutuhan-kebutuhan nasional yang telah diurai berdasar kaca mata agama tersebut dibaca pakai Pancasila.

IMNU Tegal

“Logika ini mungkin hanya untuk anak SMA atau kampus. Tentu, membacanya dengan segala peraturan turunan mulai UU, Perpres dan lain sebagainya. Jika ini mampu dilakukan, saya kira tentu dahsyat output-nya,” tegas Kiai Yudian.

Lokakarya yang diikuti 50 orang tersebut menghadirkan sejumlah pejabat dan akademisi di lingkungan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, antara lain Rektor Prof KH Yudian Wahyudi PhD, Wakil Rektor I, Wakil Rektor III, Guru Besar Bidang Politik Islam Kontemporer Prof Noorhaidi Hasan PhD, serta para peneliti. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pahlawan, Nusantara IMNU Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

PMII Purworejo Kawal Nasib Buruh Toko

Purworejo, IMNU Tegal. Menindak lanjuti aksi turun jalan memperjuangkan kenaikan gaji buruh toko di Purworejo, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Purworejo mengadakan audiensi ke Kantor Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos) Purworejo, Senin (5/5).

PMII Purworejo Kawal Nasib Buruh Toko (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Purworejo Kawal Nasib Buruh Toko (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Purworejo Kawal Nasib Buruh Toko

Kedatangan empat mahasiswa pengurus PMII tersebut diterima Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Pengawasan Tenaga Kerja Disnakertransos Purworejo Sujana SH. Dalam pertemuan tersebut, PMII mengadukan temuan di lapangan terkait rendahnya gaji buruh toko yang masih jauh dari UMK yang ditetapkan Gubernur Jawa Tengah untuk Kabupaten Purworejo sebesar Rp 910 ribu per bulan.

"Terus terang kami prihatin dengan rendahnya gaji teman-teman buruh yang jauh dari UMK Purworejo. Untuk itu, kami meminta agar Disnakertransos mengambil langkah-langkah konkrit agar nasib mereka mengalami perbaikan," kata jurubicara PMII, Muhammad Arifin.

IMNU Tegal

Arifin menambahkan, biar bagaimanapun ia merasa bahwa rendahnya gaji buruh toko di Purworejo mengharuskan pemerintah untuk turun tangan. Pasalnya, jika hal ini dibiarkan para buruh khususnya buruh toko tidak akan pernah hidup dengan layak karena gaji yang diterimanya sangat rendah.

"Meskipun begitu kami menyadari bahwa iklim ekonomi di Purworejo kurang memungkinkan bagi para pengusaha untuk memberikan upah yang sesuai dengan UMK yang ditetapkan. Namun paling tidak, dengan adanya pengawasan atau himbauan dari Pemerintah akan menjadikan gaji mereka sedikit naik," tandasnya.

IMNU Tegal

Selain itu, Arifin juga menyampaikan beberapa pekerja dibeberapa toko yang mendapat perlakuan kurang manusiawi dari majikannya. "Dari penelusuran kami ada toko-toko yang dengan seenaknya main pecat kepada karyawannya terutama saat masa training. Dengan sistem ini, toko itu selalu mempekerjakan karyawan dengan gaji murah," tambahnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Sujana SH menyampaikan terima kasih kepada para mahasiswa yang memiliki kepedulian terhadap nasib para buruh khususnya buruh toko. Menurutnya permasalah buruh toko yang mayoritas berada disektor usaha kategori marginal memang cukup memperihatinkan.

"Secara berkala kami juga melakukan monitoring dan pengawasan ke toko-toko. Jadi kami sebenarnya juga sudah tahu dengan pemasalah gaji buruh tersebut," katanya.

Namun, sambung Sujana, pihaknya tidak bisa berbuat banyak karena pertama regulasi UMK tersebut hanya diperuntukkan bagi usaha formal bukan usaha marginal yang mempekerjakan karyawan dibawah 10 orang.

"Terus terang kami tidak bisa berbuat banyak karena melihat iklim ekonomi di Purworejo yang belum memungkinkan. Selain itu kalau kami melangkah lebih jauh misalnya dengan membuat edaran untuk menaikkan gaji juga melanggar karena pengupahan bagi karyawan usaha marginal belum diatur oleh undang-undang ataupun perda," tandasnya. (Lukman Hakim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pahlawan, Fragmen IMNU Tegal

GP Ansor Sumut: Kader Harus Ada di Setiap Desa

Asahan, IMNU Tegal. Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sumatera Utara (Sumut) Mulia Banurea meminta seluruh pimpinan cabang (PC) dan pimpinan anak cabang (PAC) se-Sumut agar menggiatkan kaderisasi. Sebagai realisasi program PW GP Ansor Sumut, ia mendorong kader organisasi pemuda NU ini ada di setiap desa.

GP Ansor Sumut: Kader Harus Ada di Setiap Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Sumut: Kader Harus Ada di Setiap Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Sumut: Kader Harus Ada di Setiap Desa

"Ansor adalah elemen pemuda yang berada di garda terdepan dalam mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena itu, kader Ansor harus ada di setiap desa guna menjaga keutuhan NKRI," kata Mulia saat menjadi narasumber pada Latihan Kader Dasar (PKD) yang digelar PC GP Ansor Kabupaten Asahan, di Pesantren Darul Hikmah Kisaran, Asahan, Sabtu (31/1).

Mulia menegaskan, untuk bisa berjuang, kader Ansor sebagai kader muda Nahdlatul Ulama (NU) harus mempersiapkan diri baik secara fisik maupun mental. Karena itu, seluruh kader Ansor harus mengikuti PKD agar mengetahui nilai-nilai dasar perjuangan organisasi ini.

IMNU Tegal

"Kader Ansor harus menjaga komitmen terhadap ajaran Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja). Prinsip Aswaja antara lain bersikap toleran terhadap perbedaan pandangan, terutama dalam hal-hal yang bersifat furuiyah, sehingga tidak terjadi perasaan saling terganggu, saling memusuhi, dan sebaliknya akan tercipta persaudaraan yang islami (ukhuwwah islâmiyyah)," katanya.

Hadir dalam acara itu, Rais Syuriah PCNU Asahan? H Ahmad Fadelah Pane, Wakil Ketua PW GP Ansor Sumut Armansyah Harahap, Sekretaris Parulian Siregar, serta unsur pengurus PW GP Ansor Sumut di antaranya M Uliansyah, Jasmi Assayuti, Dedi Hermanto Sitorus, Ketua Caretaker PC Ansor Asahan Safrizal, dan Ketua Panitia Budi Suherman.

?

IMNU Tegal

Sedangkan Rais Syuriah PC NU Asahan H Ahmad Fadelah Pane mengatakan, mazhab Ansor adalah Imam Syafii yang Aswaja, bukan Imam Samudra yang tidak mengakui NKRI.

Ketua Caretaker PC NU Asahan melaporkan, PKD yang digelar 30 Januari sampai 02 Februari itu dirangkai dengan pembentukan PAC di sejumlah kecamatan di Asahan, dan konferensi cabang (konfercab) GP Ansor Asahan. (Hamdani/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pahlawan, Hadits, Kajian Islam IMNU Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

Gus Sholah Pimpin Ansor Jateng

Pekalongan, IMNU Tegal - H Sholahudin Aly terpilih menjadi nakhoda baru Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah masa khidmat 2017-2021. Pria yang akrab disapa Gus Sholah itu terpilih secara aklamasi pada acara Konferwil GP Ansor Jateng di Gedung Pertemuan Umum (GPU) Kajen Kabupaten Pekalongan, Ahad (12/11).

Usai terpilih, Gus Sholah menyatakan komitmennya dalam berjuang bersama Ansor Jateng.

Gus Sholah Pimpin Ansor Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah Pimpin Ansor Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah Pimpin Ansor Jateng

"Ansor ini organisasi yang besar, sedangkan saya ini bukan apa-apa. Maka mari kita bersama ikut berjuang di dalamnya," kata Sholah.

IMNU Tegal

Pria kelahiran Jepara itu juga menekankan beberapa hal penting yang menjadi prioritas program di masa mendatang, antara lain soal penertiban administrasi.

IMNU Tegal

"Pertama tertib administrasi, ini sudah kita coba dan buktikan dengan adanya kegiatan akreditasi," katanya.

Selain Sholahudin, dua calon lain digadang menjadi ketua Ansor Jateng, yakni Fahsin M Faal (Demak) dan Wahidin Said (Kendal). (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal AlaNu, Halaqoh, Pahlawan IMNU Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Paduan Suara MTs Binaul Ummah Bakar Semangat Nasionalisme Peserta Konferwil Fatayat ke-XI

Yogyakarta, IMNU Tegal. Pada acara perhelatan Konferwil Fatayat NU DIY ke-XI, Sabtu-Ahad (25/26), paduan suara dari MTs Binaul Ummah membakar semangat nasionalisme dan semangat ke-NU-an peserta yang hadir. Ada tiga lagu yang ditampilkan oleh paduan suara MTs Binaul Ummah yakni Mars Syubbanul Wathon, Mars Fatayat dan Syi’ir NU.?

Paduan Suara MTs Binaul Ummah Bakar Semangat Nasionalisme Peserta Konferwil Fatayat ke-XI (Sumber Gambar : Nu Online)
Paduan Suara MTs Binaul Ummah Bakar Semangat Nasionalisme Peserta Konferwil Fatayat ke-XI (Sumber Gambar : Nu Online)

Paduan Suara MTs Binaul Ummah Bakar Semangat Nasionalisme Peserta Konferwil Fatayat ke-XI

“Indonesia negeriku, engkau panji martabatku, siapa datang mengancammu kan binasa di bawah dulimu. Siapa datang mengancammu kan binasa di bawah dulimu!, demikian salah satu lirik Mars Syubbanul Wathon karya Kiai Wahab Hasbullah yang menggetarkan arena Konferwil Fatayat ke-XI.?

Selain menyanyikan lagu bernafaskan nasionalisme, mereka juga menyanyikan syi’ir NU yang secara tidak langsung memberikan pengetahuan kepada para peserta yang hadir tentang NU dalam acara pembukaan Konferwil Fatayat tersebut.?

Tahun 26 laire NU. Ijo-ijo benderane NU. Gambar jagad simbole NU. Bintang songo lambange NU,” ujar mereka kompak.?

Pelatih paduan suara sekaligus guru di MTs Binaul Ummah, Heri Kiswanto mengungkapkan bahwa hanya butuh waktu latihan selama tiga minggu dan delapan kali tatap muka.?

IMNU Tegal

“Sebenarnya siswa memiliki potensi yang bagus dalam hal seni olah suara. Saya berharap ke depan, para siswa diberikan ruang lebih banyak untuk belajar musik,” tegas Heri.?

Sebagai pelatih, Heri juga menegaskan kagum dengan lagu Syubbanul Wathan.?

IMNU Tegal

“Lagu Syubbanul Wathan bukan sekadar lagu biasa. Lagu tersebut termasuk lagu yang memiliki ruh yang dapat menggetarkan dan membangkitkan kembali jiwa nasionalisme kaum santri, baik itu yang menyanyikan maupun yang mendengarkan lagu itu,” tandas Heri.?

Penampilan paduan suara MTs Binaul Ummah yang menyanyikan lagu bernapaskan nasionalisme mendapatkan apresiasi yang luas dari tamu undangan dan peserta yang hadir. (Nur Rokhim/Mukafi Niam)?



Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pahlawan, Bahtsul Masail, Hikmah IMNU Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Pasal Hari Santri

Salah satu yang menyebabkan istilah “hari santri” mencuat ke permukaan adalah justru karena “janji” Jokowi itu direspon oleh kubu capres lain. Seorang petinggi partai politik yang bersaing dengan kubu capres Jokowi menyampaikan komentar dengan bahasa yang tidak elok. Spontan, komentar itu menjadi bahan kampanye negatif yang justru merugikan kubu capres lain itu. Pengamat politik mengatakan, banyak santri yang awalnya tidak berkepentingan dengan pilpres justru malah bersimpati dengan Jokowi.

Padahal, janji penetapan hari santri itu juga terkesan muncul spontan di musim kampanye.

Baiklah, istilah hari santri sudah terlanjur menjadi perbincangan. Pada peringatan tahun baru Islam, 1 Muharram 1436 H kemarin, banyak yang menunggu-nunggu apakah hari santri itu jadi ditetapkan. Sebagian aktivis yang mengidentifikasi diri sebagai santri tidak bisa menahan diri untuk menagih janji kampanye. Dan, ternyata tidak ada pengumuman apapun tentang penetapan hari santri, meskipun tanggal 1 Muharram terjadi setelah presiden baru dilantik.

Pasal Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasal Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pasal Hari Santri

Apakah satu Muharram pantas dan perlu ditetapkan sebagai hari santri? Beberapa tokoh ormas Islam dan MUI menyatakan tidak setuju. 1 Muharram adalah hari besar umat Islam sedunia. Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, malahan mengusulkan tanggal lain untuk ditetapkan menjadi hari santri, yakni tanggal 22 Oktober, tanggal dideklarasikannya Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy’ari yang menyerukan umat Islam berjuang mengusir tentara Sekutu.

Tepat pada tanggal 1 Muharram kemarin, orang dekat presiden yang terlibat dalam kampanye buru-buru mengklarifikasi janji hari santri. Bahwa yang benar bukan penetapan tanggal 1 Muharram menjadi hari santri. “Tapi presiden dalam janji kampanyenya akan menetapkan Hari Santri di 1 Muharram.” Entah tanggal 1 Muharram tahun kapan.

Sebelum melanjutkan polemik mengenai hari santri, pertanyaannya siapa sebenarnya yang dimaksud dengan santri?

IMNU Tegal

Diskursus mengenai santri mengalami pergeseran. Istilah santri yang paling populer terdapat dalam tesis antropolog Amerika Clifford Geertz tentang trikotomi santri, abangan dan priyayi. Di sini kelompok santri diperbandingkan dengan kelompok abangan, meskipun sama-sama beragama Islam. Kaum santri umumnya hidup di daerah pesisir dan berprofesi sebagai pedagang, sementara kaum abangan ada di luar pusat perdagangan dan lebih banyak berprofesi sebagai petani. Kaum santri lebih puritan, sementara kaum abangan lebih akrab dengan berbagai tradisi keagamaan.

Tesis Geertz itu memang sangat rawan kritik, namun kenyataannya masih menjadi bahan bagi para politisi dan pengamat dalam menyusun peta politik. Belakangan malahan santri dan abangan sulit sekali dibedakan. Dalam hal tradisi keagamaan, sekedar misal, santri dan abangan sudah bertemu di kuburan atau makam para wali untuk bertawassul bersama. Siapa santri siapa abangan menjadi tidak jelas.

IMNU Tegal

Namun menyimak polemik hari santri, baik dari pihak yang setuju maupun tidak dengan penetapan hari santri, dapat dipastikan bahwa yang dimaksud dengan santri di sini adalah terkait dengan istilah pesantren, yakni tempat belajar para santri. Istilah pesantren sebagai tempat mempelajari banyak hal tentang agama sudah digunakan di Nusantara jauh sebelum Islam datang, kemudian masih digunakan oleh para penyebar Islam. Demikian juga dengan santri. Pesantren bahkan menjadi pusat penyebaran agama Islam dan para santri kemudian menyebar kemana-mana.

Jadi santri yang dimaksud adalah sebuah komunitas umat Islam yang berpusat di pesantren dan belakangan disatukan dalam wadah organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Kembali kepada hari santri, presiden ke-7 Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bapak Jokowi, memang sangat aktif menyapa rakyatnya. Jangankan komunitas besar bernama santri, dalam pidato pertamanya sebagai presiden pada 20 Oktober lalu, orang Indonesia yang berprofesi sebagai nelayan, petani, bahkan tukang bakso pun disebutnya sebagai bagian dari rakyat Indonesia yang ia pimpin.

Akhirnya, penetapan hari santri itu sendiri, kalaupun dilakukan, sebenarnya tidak  terlalu terkait dengan jabatan dan tugas sebagai seorang presiden. Mengutip pernyataan orang dekat presiden tadi, penetapan hari santri pada 1 Muharram 1436 kemarin belum dilakukan karena Pak Presiden tidak ingin hanya mengeluarkan selembar Keppres untuk menetapkan hari santri itu. Namun lebih dari itu, Presiden ingin melakukan aktivitas-aktivitas yang substansial berkaitan dengan pembangunan pesantren, memajukan level pendidikan untuk para santri, dan meningkatkan ekonomi umat. Ya, lihat saja nanti. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pahlawan IMNU Tegal

Kamis, 30 November 2017

Ini Putusan Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur Terkait Status Kewarganegaraan Teroris

Berikut ini adalah putusan Bahtsul Masail Muskerwil PWNU Jawa Timur di Graha Residen Jalan Darmo Harapan 1 Surabaya 24-25 September 2017. Putusan ini terdiri atas tiga masalah, yaitu soal status kewarganegaraan teroris, soal paytren, dan soal wasiat shalat jenazah satu gelombang.

1. Melepas Status Kewarganegaraan Teroris (PCNU Kota Kediri dan PCNU Bawean)

Deskripsi Masalah

Ini Putusan Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur Terkait Status Kewarganegaraan Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Putusan Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur Terkait Status Kewarganegaraan Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Putusan Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur Terkait Status Kewarganegaraan Teroris

Seiring maraknya terorisme global, tidak sedikit Warga Negara Indonesia yang menjadi simpatisan maupun aktif sebagai milisinya. Hal ini kemudian memunculkan wacana pelepasan status kewarganegaraan orang-orang Indonesia yang terlibat gerakan teroris di luar negeri. Sebab, ketika para teroris mendapat kesempatan pulang ke Indonesia, mereka menularkan ideologinya kepada orang lain sehingga ideologi radikal dan ancaman aksi-aksi teror semakin nyata.

Pertanyaan

IMNU Tegal

a. Bagaimana hukum pemerintah membuat kebijakan melepas status kewarganegaraan terhadap orang yang keluar negeri untuk menjadi teroris?

IMNU Tegal

b. Kapan pemerintah bisa mencabut status kewarganegaraan seorang warganya karena faktor potensi gangguan besar yang mungkin ditimbulkannya?

c. Bagaimana syariat memandang seseorang yang telah menyatakan diri lepas dari ikatan NKRI dan berbaiat mendukung terorisme, kemudian ia kembali lagi ke Indonesia dengan alasan faktor kekecewaan terhadap janji palsu kelompok yang dikunjungi, apakah ia masih boleh diterima kembali sebagai Warga Negara Indonesia secara syara’?

Jawaban

a. Pemerintah berkewajiban menjaga stabilitas keamanan negara, ketentraman warganya dan menjaga dari berbagai hal yang mengancamnya. Karena itu pemerintah diwajibkan membuat kebijakan yang paling maslahat bagi tercapainya tujuan tersebut, meskipun dengan melepas status kewarganegaraan teroris.

Catatan: Kebijakan tersebut disaratkan tidak berdampak tercabutnya hak kewarganegaraan terhadap anak keturunanya yang tidak bersalah.

b. Ketika diduga kuat dengan berdasarkan data akurat orang tersebut akan mengancam stabilitas keamanan negara dan ketentraman warganya, serta tidak ada cara lain yang lebih maslahat.

c. Tidak boleh, kecuali sudah dipastikan tidak membahayakan stabilitas keamanan negara, ketentraman.

Referensi

1. ? ? ? ? ?: 121 ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? – ? ? ? – ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

2. ? ? ? [? 167

? ? ? ? ? ? ? ?: ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ?: ? ? ? ? ? ? ? . ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

3. ? ? ? - (? 16 / ? 284

? ? ? : ? ? ? . ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? (?: 33)? ? ? ? ?.

4. ? ? ? - (? 1 / ? 4439

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (1) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ...  [?/1? 2] ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.  

5. ? ? ? 3 ? 329

? ?: ? ? ? «? ?» ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? {? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. .} ?

6. ? ? [1 /185

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .

7. ? ? ? ? ? ? (4/ 162

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

8. ? ? – (? 15 / ? 218

(? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

9. ? ? ? ? ? ? ? ? ? (5/ 279

?: ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

10. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 26

? ? ? ? ? ? ? ? -? ? ?- ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

11. ? ? ? ? – (1 / 303

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

12. ? ? ? (4/ 192

? ? ? : 25 – ? ? ? ? ? ? . ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (2) ? ? ? ? ? . ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? . (3) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? . (4) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

2. Paytren, Benarkah Bisnis Berbasis Syari’ah? (PCNU Kota Kediri)

Pembahasan masalah bisnis Paytren akan disempurnakan dan dilanjutkan pada bahtsul masail PWNU Jawa Timur berikutnya menunggu nara sumber dari Paytren.

3. Wasiat Shalat Jenazah Satu Gelombang (PCNU Kota Kediri)

Deskripsi masalah

Termasuk bagian dari ajaran Islam adalah memberlakukan hukum wasiat, yaitu pesan terakhir yang disampaikan oleh orang yang akan meninggal. Baik berkenaan dengan harta kekayaan maupun beragam permintaan lainnya, sekalipun itu wasiat terbilang cukup aneh. Umumnya manusia, mereka sangat senang bila ada banyak orang yang siap menyolatinya kelak saat dirinya meninggal. Namun demikian, rupanya ada sebagian orang yang terlehat aneh, ia justru berwasiat agar hanya dishalati oleh satu gelombang jamaah saja kala hari kematiannya, mungkin karena bertujuan agar mayatnya sesegera mungkin untuk diquburkan dan tidak ada penundaan pemakaman karena banyaknya orang yang mensholati atau didasari dengan alasan lain. Karenaitu, ketika wasiat telah terucap, maka tak jarang dari pihak keluarga berusaha keras untuk memenuhi permintaan tersebut.

Pertanyaan

Bolehkah keluarga melarang menyolati jenazah lebih dari satu gelombang berdasarkan wasiat dari mayit?

Jawaban

Pesan larangan untuk menyolati jenazah lebih dari satu gelombang bukan termasuk wasiat, karena bukan hak mayit. Pesan larangan tersebut tidak berdampak hukum apapun, sehingga ahli waris tidak berhak melarangnya. Namun bila terdapat pertimbangan lain seperti menyegerakan pemakaman, khawatir berubahnya jazad mayit (taghayur), maka boleh mencukupkan shalat jenazah satu gelombang.

Referensi

1. ? ? - (? 3 / ? 198

? ? ?  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

2. ? ? - (? 1 / ? 361

? ? ) ? ( ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

3. ? ? ? ? ? ?/?

(?) ? (?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?   .....

4. ? ? ? ? ? ? ?

? (?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? . ? ? ? ? ? ? ?



Tim Perumus

1. KH Sadid Jauhari

2. KH Syafruddin

3. KH Nuruddin Abdurrahman

4. KH Muhibbul Aman Aly

5. KH Ahmad Asyhar Shofwan, M.Pd.I.

6. KH Azizi Hasbullah

7. KH MB. Firjhaun Barlaman

8. KH.Maghfur Syadzili Iskandar

9. Ahmad Muntaha AM

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pahlawan, Pesantren IMNU Tegal

Sabtu, 25 November 2017

Tentang Manfaat Amal Dan Doa Bagi Orang Meninggal

Yogyakarta, IMNU Tegal. Sesungguhnya, orang–orang  meninggal itu, bisa mengambil manfaat dari orang-orang yang masih hidup.  

Demikian yang disampaikan oleh KH Abdul Majid, salah satu wakil Rais Syuriyah PWNU DIY dalam acara pengajian rutin Ahad wage di lantai dua Gedung PWNU DIY(5/5).

Tentang Manfaat Amal Dan Doa Bagi Orang Meninggal (Sumber Gambar : Nu Online)
Tentang Manfaat Amal Dan Doa Bagi Orang Meninggal (Sumber Gambar : Nu Online)

Tentang Manfaat Amal Dan Doa Bagi Orang Meninggal

Ia juga menambahkan bahwa ada dua hal yang bisa diambil manfaat oleh orang-orang meninggal atas orang-orang yang masih hidup.

IMNU Tegal

“Ada dua hal manfaat yang bisa diambil oleh orang-orang yang meninggal. Pertama, mayat bisa mengambil manfaat dari amal yang pernah dilakukannya semasa ia masih hidup di dunia. Misalnya, ia berhasil mendidik anak-anaknya menjadi anak yang sholih/sholikhah, maka amal yang dilakukan oleh anak-anaknya akan memberikan manfaat yang besar baginya. Kedua, doa dari sesama umat Islam dan istighfar sesama umat Islam atas diri sang mayat. Ini juga bisa memberikan manfaat yang besar bagi diri sang mayat,” ujar Abdul Majid.

IMNU Tegal

Dalam acara pengajian tersebut, KH Abdul Majid juga menyampaikan beberapa hal tentang Harlah ke-90 NU.

“Perjalanan NU hingga di usia 90 tahun ini, tidak lepas dari pertolongan Allah Swt. Untuk itu, mari kita ucapkan puji syukur ke hadirat-Nya. Semoga dengan mengucapkan syukur ini, NU akan semakin memberikan manfaat dan maslahah bagi bangsa dan negara fi dunya wal akhirah,” tegas Kiai Abdul Majid dengan menggebu-nggebu.

Acara pengajian Ahad wage yang rutin di gelar tersebut, mengkaji tentang kitab Risalah Ahlusunnah wal Jamaah karya Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari. Kebetulan hari ini, kitab tersebut sudah selesai dikaji. Hal ini terasa istimewa karena khatamnya kajian kitab tersebut bersamaan dengan acara pameran foto yang diselenggarakan oleh PWNU DIY menyambut harlah ke-90 NU. 

 

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Rokhim Bangkit

           

 

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pahlawan, Makam IMNU Tegal

Jumat, 10 November 2017

Fatayat NU, Meneguhkan Keislaman dan Keindonesiaan

Jakarta,IMNU Tegal  

Fatayat NU, sebagai salah satu perangkat Nahdlatul Ulama, berkepentingan mengampanyekan karakter keislaman dan keindonesiaan sebagaimana yang dirumuskan organisasi yang didirikan para kiai tersebut.

Fatayat NU, Meneguhkan Keislaman dan Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU, Meneguhkan Keislaman dan Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU, Meneguhkan Keislaman dan Keindonesiaan

Ketua Umum PP Fatayat NU Ida Fauziyah mengatakan, untuk itu, pada peringatan Hari Lahir ke-63 ini, mengambil tema “Meneguhkan karakter keislaman dan Keindonesiaan”.

“Pemilihan tema ini merupakan refleksi dari berbagai persoalan kemasyarakat dan kebangsaan,” katanya pada pidato peringatan Harlah ke-63 yang diigelar PP Fatayat NU di gedung Langen Palikrama Pegadaian, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu, (24/4).

IMNU Tegal

Dengan tema ini, Fatayat NU ingin memberikan kontribusi bagi penyelesaian berbagai persoalan kemasayarakat dan kebangsaan.

Fatayat NU memandang berbagai persoalan seperti maraknya mafioso pangan dan ekonomi; korupsi yang terus terjadi, kekerasan, terorisme, penindasan dan pelanggaran HAM, penyalahgunaan narkoba, pornografi, hingga konflik sosial terjadi karena luruhnya karakter keislaman dan keindonesiaan.

IMNU Tegal

Oleh karena itu, bagi Fatayat NU, penyelesaian problem tersebut hanya mungkin bisa dilakukan dengan penanaman dan peneguhan karakter keislaman dan keindonesiaan.

Hadir pada kesempatan tersebut, Ketua PBNU H. Slamet Effendi Yusuf, mantan Ketua Umum PP Fatayat NU periode 2000-2010 Maria Ulfa Ansor, dan salah seorang senior Fatayat NU Musdah Mulia. Hadir juga ratusan kader Fatayat.

Fatayat NU didirikan pada tanggal 24 April 1950 yang dirintis tiga serangkai, yaitu Murthasiyah, Khuzaimah Mansur, dan Aminah.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Hikmah, Pahlawan IMNU Tegal

Kamis, 09 November 2017

STAINU Jakarta Serah Terima Pimpinan Baru

Jakarta, IMNU Tegal. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta mengadakan serah terima jabatan dan pengukuhan pimpinan baru periode 2014-2019 di ruang rapat kantor PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (8/7). Pengukuhan dilakukan langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

STAINU Jakarta Serah Terima Pimpinan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Serah Terima Pimpinan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Serah Terima Pimpinan Baru

Dalam serahterima itu ketua STAINU yang lama KH Mujib Qulyubi yang naik menjadi ketua Badan Pelaksana Perguruan Tinggi Nahdaltul Ulama (BPPTNU) digantikan oleh Syahrizal Syarif PhD.? Ia didapingi oleh empat wakil ketua yakni Imam Buhori, Arif Rahman, Ahmad Nurul Huda dan Aris Adi Leksono.

“Sebelum kita punya presiden baru, kita sudah punya ketua baru,” kata KH Mujib Qulyubi berseloroh.

IMNU Tegal

Ia mengatakan, sesuai dengan keputusan PBNU, semua perguruan tinggi di lingkungan NU sudah harus bernaung di bawah badan hukum organisasi NU. Selama ini beberapa perguruan tinggi di lingkungan NU masih bernaung di bawah yayasan masing-masing.

Karena itu Yayasan Perguruan Tinggi NU Jakarta telah berubah menjadi BPPTNU. “Ini yang pertama dan diharapkan menjadi pilot project untuk seluruh perguruan tinggi di lingkungan NU,” katanya yang didampingi Sekretaris BPPT H Sulthon Fathoni.

IMNU Tegal

Ketua Umum PBNU usai mengukuhkan pimpinan baru STAINU mengingatkan, perguruan tinggi NU mengemban amanat melestarikan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). “Para dosen di STAINU harus tahu apa itu Aswaja NU,” katanya.

Diingatkan bahwa STAINU Jakarta yang sedang berproses menjadi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) harus memegang empat prinsip yakni ta’lim (pengajaran), tadris (pengamalan), ta’dib (kedisiplinan), dan tarbiyah (pengelolaan dan pengembangan).

Serah terima dan pengukuhan langsung dianjutkan dengan rapat pimpinan. “Mari kita mulai bekerja,” kata Ketua STAINU baru, Syahrizal Syarif. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pahlawan, RMI NU, Pertandingan IMNU Tegal

Sabtu, 30 September 2017

PBNU Siap Bantu Bebaskan Warga Korsel yang Disandera Taliban

Jakarta, IMNU Tegal

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan siap membantu upaya pembebasan 21 warga sipil Korea Selatan (Korsel) yang disandera kelompok militan dan gerilyawan Taliban di Afganistan. Namun, upaya pembebasan itu tetap terbatas pada wilayah-wilayah tertentu yang menjadi kewenangan PBNU.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi kepada wartawan usai menerima dua Duta Besar (Dubes) negara sahabat untuk Indonesia; Dubes Korsel Mr Lee Sun Jin, Dubes Afganistan Zherazamin Kunary dan Kuasa Usaha Dubes Pakistan Ali Baz Khan, di Kantor PBNU, Jakarta, Rabu (1/8)

PBNU Siap Bantu Bebaskan Warga Korsel yang Disandera Taliban (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Siap Bantu Bebaskan Warga Korsel yang Disandera Taliban (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Siap Bantu Bebaskan Warga Korsel yang Disandera Taliban

Hasyim berjanji siap berpartisipasi secara moral dalam upaya pembebasan sandera yang diculik sejak 19 Juli lalu itu. Hanya saja, katanya, partisipasi itu tidak akan sampai memasuki wilayah diplomatik negara-negara yang bersangkutan. “Itu urusannya lebih ke pemerintah masing-masing. Yang kita lakukan adalah intensifikasi negosiasi,” ujarnya.

IMNU Tegal

Presiden World Conference on Religions for Peace juga mengatakan akan mengusahakan berkomunikasi dan mendesak sejumlah ulama berpengaruh di beberapa negara, terutama negara-negara yang berdekatan dengan Afganistan. Pun ia berharap, organisasi-organisasi Islam di dunia turut melakukan hal yang sama.

“Saya minta juga kepada ulama-ulama dan komunitas Muslim di dunia untuk menyuarakan upaya-upaya pembebasan, demi kemanusiaan. Saya berharap juga pihak Korsel mampu mengikutsertakan komunitas Muslim di negaranya,” terang Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur, itu.

IMNU Tegal

Meski tak memiliki akses dengan pihak Taliban, namun Hasyim mengatakan akan mencoba menghubungkan dengan para ulama di negara tersebut. Utamanya para ulama yang telah berkomunikasi dengan NU saat hadir pada Konferensi Ulama/Cendikiawan Muslim se-Dunia (International Conference of Islamic Scholars/ICIS) yang digelar PBNU beberapa waktu lalu. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pahlawan, Olahraga, Pertandingan IMNU Tegal

Selasa, 22 Agustus 2017

Inilah Santri Juara Internasional yang Anak Pedagang Rombeng

Jember, IMNU Tegal. Nama Izza Nur Layla, dalam beberapa hari terakhir ini tiba-tiba mencuat bak meteor menyusul keberhasilannya  meraih medali emas dalam ajang kompetisi internasional bidang agribisnis di Thailand. Dia adalah satu dari dua santri Indonesia yang meraih jawara dalam ajang bergensi tersebut.

Inilah Santri Juara Internasional yang Anak Pedagang Rombeng (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Santri Juara Internasional yang Anak Pedagang Rombeng (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Santri Juara Internasional yang Anak Pedagang Rombeng

Menurut wakil pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember, Robith Qoshidi, santrinya itu memang tergolong anak yang cedas, sejak duduk di bangku Tsanwiyah hingga Aliyah.

“Dia kader Aswaja yang cerdas. Dia hafal alfiah, dia paham dalil-dalil tahlil, talqin dan sebagainya. Itu karena sekolah kami ada penekanan baca kitab kuning dan kitab-kitab Aswaja,” tuturnya di kediamannya, akhir pekan lalu (22/2).

IMNU Tegal

Izza adalah putri keempat dari pasangan H Abd Roqib dan Futiha. Kehidupan keluarga Izza sangat sederhana, tinggal di pusat kota, tepatnya Jalan Dr. Sutomo 8 Jember, bersebelahan dengan rumah Bupati MZA Djalal.

Ayah Izza bekerja sebagai pedagang rombeng, yaitu pedagang barang-barang bekas seperti kipas, radio dan lain-lain di Pasar Gebang. Itulah sumber mata pencaharian satu-satunya. Kegiatan lainnya, H. Roqib membuka taman pendidikan al-Qur’an (TPA) di rumahnya, yang setiap sore didatangi anak-anak kecil untuk belajar mengaji. Kegiatan tersebut dijalaninya dengan ikhlas, tanpa pamrih sedikitpun.

IMNU Tegal

“Saya tidak hafal siapa saja  pernah belajar ngaji di sini, karena saya tidak pernah mencatat nama-namnya. Dari awal saya memang berniat cuma ingin agar anak-anak bisa mengaji, tanpa pernah meminta iuran seperak pun. Dan saya yakin keberhasilan anak-anak saya juga karena doa murid-murid saya,” ucapnya.

Keempat  anak H. Roqib sudah  menikah kecuali si bungsu, Izza. Kendati H. Roqib tergolong kurang mampu secara ekonomi, namun anak-anaknya berhasil meraih gelar S1 dengan profesi yang berbeda, bahkan ada yang hafidz. Mereka semua mendapat beasiswa, sehingga H. Roqib tak perlu mengeluarkan biaya kecuali di saat pendaftaran saja, termasuk, Izza.

Saat lulus MA Nuris, Izza berhasil meraih beasiswa melalui program pertukaran pelajar dengan The Southern Border Provinces Administrative Centre (SBPAC). Pertukaran pelajar ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama antara Menteri Agama RI dan SBPAC yang ditandatangani di Naradhiwas University pada September 2013. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pahlawan, Tokoh, Anti Hoax IMNU Tegal

Sabtu, 05 Agustus 2017

IPPNU Award 2016, Sarana Evaluasi Perkembangan Organisasi Pelajar NU

Probolinggo, IMNU Tegal - Untuk mengetahui perkembangan dan capaian program di masing-masing cabang, Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Timur akan menggelar IPPNU Award 2016. Pihak IPPNU Jatim membentuk tim visitasi untuk menilai keberadaan pimpinan cabang dari bidang administrasi, organisasi dan kaderisasi.

Penilaian oleh tim visitasi ini dilakukan di 38 cabang IPPNU se-Jawa Timur.

IPPNU Award 2016, Sarana Evaluasi Perkembangan Organisasi Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Award 2016, Sarana Evaluasi Perkembangan Organisasi Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Award 2016, Sarana Evaluasi Perkembangan Organisasi Pelajar NU

Wakil Ketua I PW IPPNU Jawa Timur Khoirun Nisa mengatakan, IPPNU Award 2016 ini digelar dalam rangka mengevaluasi sekaligus memastikan pelaksanaan program berjalan tepat sasaran dan sesuai dengan target yang telah ditentukan.

“Pada akhir bagian dari program ini, secara keseluruhan hasil monitoring akan dikomparasikan satu sama lain. Kemudian diolah secara kolektif untuk menentukan cabang mana saja yang layak mendapatkan apresiasi di masing-masing bidang dan keseluruhan,” katanya, Selasa (26/7).

IMNU Tegal

Menurut Khoirun Nisa, IPPNU Award 2016 ini bertujuan untuk memantau proses pengelolaan pengembangan organisasi pada bidang administrasi, organisasi dan kaderisasi serta mengukur capaian positif cabang IPPNU se-Jawa Timur pada bidang administrasi, organisasi dan kaderisasi.

“Di samping itu menyebarluaskan capaian positif cabang IPPNU se-Jawa Timur pada bidang administrasi, organisasi dan kaderisasi. Serta menyebarkan efek kompetisi antarcabang IPPNU se-Jawa Timur untuk mencapai kemajuan IPPNU secara menyeluruh,” jelasnya.

IMNU Tegal

Khoirun Nisa menerangkan bahwa ada beberapa poin yang akan menjadi penilaian di tiap-tiap bidang. Bidang administrasi meliputi upaya dalam pengelolaan administrasi yang dapat berupa pembukuan, pengarsipan, inventarisasi, dan pangkalan data.

“Untuk organisasi meliputi upaya penyelenggaraan organisasi yang teratur dan sistematis yang dapat mengoptimalkan potensi organisasi. Sedangkan kaderisasi meliputi upaya pelaksanaan jenjang kaderisasi formal yang sesuai pedoman pengkaderan nasional, manajemen perawatan kader dan pengembangan potensi kader melalui diversifikasi model pelatihan,” terangnya.

Pengurus asal Kota Probolinggo ini menambahkan bahwa selama ini IPPNU sering dihadapkan dalam kondisi di mana kader-kadernya kesulitan mempelajari bagaimana pola pengelolaan organisasi pada setiap masa yang telah terlewati. Berdasarkan hal tersebut, paling tidak ada beberapa permasalahan yang sekaligus menjadi kelemahan bagi IPPNU.

“Seperti, minimnya dokumen pola pengelolaan organisasi di setiap masa, belum tersedianya juklak pengukuran terhadap upaya organisasi yang telah dilakukan, pengelolaan media dalam proses penyebaran informasi tentang upaya-upaya yang telah dilakukan dalam proses pengembangan dan pembinaan organisasi,” tegasnya.

? “IPPNU Award 2016 ini dilakukan dimaksudkan untuk menjawab ketersediaan SDM yang dimiliki oleh IPPNU dari tingkat wilayah hingga cabang. Selain itu untuk mengetahui upaya apa saja yang dilakukan oleh masing-masing cabang dalam proses pengembangan dan pembinaan organisasi,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Ubudiyah, Pahlawan, Daerah IMNU Tegal

Kamis, 29 Juni 2017

NU Bukan Sekadar Gerakan Kultural

Jepara, IMNU Tegal. Ketua MWC NU Kecamatan Bangsri Jepara, Jawa Tengah, KH Ahmad Jazuli mengatakan Nahdlatul Ulama (NU) bukan hanya dipahami dari gerakan kulturalnya saja, melainkan juga gerakan struktruralnya. Keduanya harus disinergikan secara bersama-sama.

Hal itu merupakan pokok paper Kiai Jazuli untuk materi Ke-NU-an yang disampaikan kepada peserta Latihan Kader Muda (Lakmud) PAC IPNU-IPPNU Bangsri di MTs Hasyim Asyari Bangsri, pada Jum’at (14/6) pagi.

NU Bukan Sekadar Gerakan Kultural (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bukan Sekadar Gerakan Kultural (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Bukan Sekadar Gerakan Kultural

Kiai Jazuli menambahkan, sejauh ini banyak yang menilai NU merupakan gerakan kultural karena kegiatan-kegiatan yang digagas bernuansa kultural. Semisal istighatsah, tahlil,  dibaan, manaqib, yasinan dan sejenisnya. Alih-alih nuansa kultural itu sebut kiai Jazuli kerap menjadi instrumen untuk mengidentifikasi seseorang itu NU atau bukan.

IMNU Tegal

Meski demikian, ia mengutip pendapat Rais Syuriah PBNU, KH Masdar Farid Masudi, kekuatan kultural itu menjadi kelebihan NU yang melekat kuat sejak NU lahir.

Lebih lanjut ia mengemukakan bahwasanya NU merupakan kombinasi dari gerakan kultral dan struktural. Pengelolaan energi NU, lanjut Wakil Ketua Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) Hasyim Asyari Bangsri Jepara ini, harus dilakukan secara proporsional.

IMNU Tegal

 

“40 % energi NU untuk melestarikan kultur sedangkan 60% untuk membangun struktur organisasi yang kuat dan kokoh,” jelasnya.

 

Hal itu sebutnya sejalan dengan falsafah NU yang sangat popular—al muhafadzatu ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah. Ketua Jurusan program Imersi MA Hasyim Asyari menyatakn falsafah itu memuat 2 poin--al muhafadzah alal qadimis shalih dan al ahdzu bil jadidil ashlah.

 

Poin pertama, sambung Jazuli, NU harus merawat dan melestarikan tradisi. Sedangkan poin kedua NU harus mendesiminasi tradisi baru melalui pembangunan struktur organisasi yang kuat dan kokoh yang berorientasi kepada pelayanan umat, “Kekuatan kultur tanpa diimbangi kekuatan struktural tidak akan banyak berarti. Sebab ikatan-ikatan kultural itu nantinya menjadi sangat rapuh,” imbuhnya.

 

Karenanya, NU tambahnya harus membangun nizham organisasi yang kuat dan modern untuk membentengi kultur sekaligus memberdayakan Nahdliyyin sehingga manfaat keberadaan NU tidak hanya bersifat kultural namun juga menyentuh semua sendi kehidupan.

 

Kiai Jazuli juga menyatakan untuk melestarikan kultur dan membangun struktur organisasi yang kuat menurutnya semua pemangku kepentingan di NU harus terlibat secara optimal. Baik pemangku pesantren yang menjadi kekuatan NU, pimpinan masjid maupun penggerak roda organisasi dari level tertinggi hingga terbawah.

 

“Bila gerakan kultur dan struktur dipadukan degan baik maka patut diyakini bahwa NU akan menjadi organisasi terbesar yang kokoh, kuat, berwibawa dan disegani,” harapnya.

Redaktur     : Abdullah Alawi

Kontributor : Syaiful Mustaqim

 

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Sejarah, Pahlawan, Olahraga IMNU Tegal

Minggu, 14 Mei 2017

Sambut Ujian Nasional, Pelajar NU Probolinggo Gelar Doa Bersama

Probolinggo, IMNU Tegal - Sedikitnya 200 orang pelajar NU di Kabupaten Probolinggo mengikuti doa bersama jelang ujian nasional (UN) di Pondok Pesantren Miftahul Khoir Desa Menyono Kecamatan Kuripan Kabupaten Probolinggo, Ahad (2/4). Acara yang diinisiasi IPNU-IPPNU Probolinggo ini dihadiri oleh Camat Kuripan dan pengurus harian MWCNU Kuripan.

Ketua IPNU Kabupaten Probolinggo Babus Salam mengatakan, doa bersama ini digelar untuk memberikan bimbingan serta dorongan semangat kepada para pelajar NU yang akan mengikuti UN tahun 2017.

Sambut Ujian Nasional, Pelajar NU Probolinggo Gelar Doa Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Ujian Nasional, Pelajar NU Probolinggo Gelar Doa Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Ujian Nasional, Pelajar NU Probolinggo Gelar Doa Bersama

“Semoga kegiatan ini bisa menambah motivasi pada pelajar NU agar betul-betul mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin dalam menyambut ujian nasional. Meskipun bukan lagi menentukan kelulusan, setidaknya nanti bisa meraih hasil yang maksimal,” katanya.

Menurutnya, doa bersama ini merupakan salah satu ikhtiar yang harus dilakukan oleh pelajar NU selain belajar dengan sungguh-sungguh. “Harapannya ketika ujian nasional, pelajar NU bisa benar-benar siap lahir dan batin,” katanya.

IMNU Tegal

IMNU Tegal

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua IPPNU Kabupaten Probolinggo Nur Hakimah Ismawati. Menurutnya, doa bersama sukses UN bersama ratusan pelajar ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan oleh IPNU-IPPNU Kabupaten Probolinggo.

“Doa bersama ini dilakukan sebagai salah satu wujud perjuangan kami agar pelajar NU, menjadi garda terdepan untuk membentengi pelajar-pelajar dari faham radikalisme dan memperkuat aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja),” katanya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pahlawan, Kyai IMNU Tegal

Senin, 20 Maret 2017

Pola Dakwah Wali Songo Perlu Diteladani

Blitar, IMNU Tegal. Pola dakwah wali Sembilan (wali songo) perlu diteladani oleh para kader dan penerus NU. Karena, pola yang dijalankan oleh para wali sederhana. Namun mengandung hikmah dan motivasi yang sangat tinggi.

“Dalam berdakwah para wali ini tidak terlalu muluk-muluk dalam penyampaian. Namun, dinamis dalam pelaksanaannya," ujar Wakil Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Blitar, KH Noer Hidaytulloh Dawami kepada NU Onlie tadi pagi (10/1), usai melakukan ziarah makam dan pendiri NU di Jatim, tadi pagi.

Pola Dakwah Wali Songo Perlu Diteladani (Sumber Gambar : Nu Online)
Pola Dakwah Wali Songo Perlu Diteladani (Sumber Gambar : Nu Online)

Pola Dakwah Wali Songo Perlu Diteladani

Sitem dakwah para wali, lanjut Kiai Noer, tidak macem-macem. Baik pola maupun bahasanya. Sehingga masyarakat luas mudah menerima apa yang disampaikan.?

IMNU Tegal

“Para wali itu semua hafal Qur’an dan hadits. Tapi mereka tidak banyak mengunakan dalil-dalil itu untuk disampaikan ke umatnya. Namun kandungannya yang dijlentrehkan berfaedah. Misalnya kenduri. Dulu kenduri itu bentuknya sesaji kepada mahluk gaib. Namun oleh wali diluruskan bahwa kenduri itu bagian dari shodaqoh. La shodaqoh itu bagian dari li daf’il balak (menjauhkan dari mara bahaya)," ungkap Kiai Noer yang juga pengasuh pesantren Darur Roja’ Selokajang ini.?

IMNU Tegal

“Jadi dakwahnya sangat sederhana. Namun mengena. Para wali tahu ini Jawa bukan Arab. Sehingga melalui tradisi dan buya itulah para wali bisa menyebarkan Islam di Jawa secara damai. Ini yang perlu diteladani," tambahnya.

Sebagimana diketahui, sukses pelaksanaan dan hasil dalam konfercab NU Kabupaten Blitar. Panitia konfercab, melakukan safari ziarah wali dan pendiri NU di Jatim. Acara dilaksanakan, 8-9 Januari 2013 kemarin. Ziarah yang diikuti anggota panitia berjumlah sekitar 55 orang itu mengambil rute, Tuban, Lamongan, Gresik, Bangkalan, Surabaya dan Jombang.?

“Ziarah kita mulai dari Tuban, lalu ke Lamongan, terus Gresik. Tiba di Gresik pas waktu subuh. Habis Subuhan, kita ziarah ke makam Sunan Giri. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Bangkalan untuk ziarah ke makam Syakhona Cholil. Usai dari Bangkalan, rombongan menuju ke Ampel Surabaya,’’ jelas Masduki, ketua panitia.

Tiba di Ampel, lanjut Masduki, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Padahal, rombongan masih belum ke Troloyo Mojokerto dan Tebuireng Jombang. Karena waktunya mepet, maka perjalanan dilanjutkan ke Jombang. Untuk ziarah ke makam KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).?

Namun sayang, tiba di Tebuireng waktu sudah menunjukkan pukul 17.15 menit. Pintu gerbang pesarehan sudah tutup. “Yak arena tutup kit abaca tahlil di depan pintu masuk di sebelah barat. Toh hal ini tidak mengurangi pahala tahlil," ujar Masduki menghibur. Setelah itu, rombongan pulang ke Blitar melalui jalur Pare dan Kediri. “Tadi malam sekitar jam 22.00 kita sampai di Blitar," tambahnya.

Redaktur ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor : Imam Kusnin?

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pahlawan, Quote, Lomba IMNU Tegal

Minggu, 19 Maret 2017

Keistimewaan Orang Berpuasa, Bertemu Langsung dengan Allah

Pringsewu, IMNU Tegal?



Pengasuh Pondok Pesantren Mathlaul Huda Ambarawa Pringsewu Kiai Mubalighin Adnan menjelaskan berbagai keistimewaan orang yang menjalankan ibadah puasa. Penjelasan tersebut disampaikannya saat mengisi Ngaji Ahad (Jihad) sore di aula gedung PCNU Pringsewu, Ahad (11/7).

Keistimewaan Orang Berpuasa, Bertemu Langsung dengan Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Keistimewaan Orang Berpuasa, Bertemu Langsung dengan Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Keistimewaan Orang Berpuasa, Bertemu Langsung dengan Allah

Keistimewaan yang pertama, menurutnya, adalah kesempatan bertemu dengan Allah langsung tanpa perantara. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang menceritakan Nabi Musa. Pada hadits tersebut disebutkan Nabi Musa dapat berkomunikasi langsung dengan Allah, menanyakan tentang keistimewaan yang dianugerahkan kepadanya.

"Nabi Musa bertanya kepada Allah adakah orang lain yang mampu berbicara langsung dengan Allah selain dia? Kemudian Allah menjawab bahwa akan ada suatu kaum yang dianugerahi bulan Ramadhan dan akan bisa berbicara langsung dan lebih dekat dengan Allah dibanding Nabi Musa," jelas kiai akrab disapa Gus Balighin seraya menjelaskan bahwa orang yang berpuasa di bulan Ramadhan akan dibukakan hijab saat berbuka puasa.

Lebih lanjut Gus Balighin menjelaskan, puasa adalah ibadah yang spesial. "Ibadah puasa merupakan ibadah yang jauh dari unsur riya. Yang tahu berpuasa atau tidak, hanyalah Allah dan pelakunya sendiri. Oleh karenanya ibadah spesial ini juga akan mendapatkan pahala yang langsung diberikan oleh Allah SWT," terangnya.

Puasa, lanjutnya, juga merupakan ibadah dengan bentuk menahan diri untuk tidak makan dan tidak minum. Sehingga ibadah puasa identik dengan sifat Allah yaitu tidak makan dan tidak minum.

IMNU Tegal

"Orang yang mendapatkan pahala dari Allah adalah orang yang menahan diri termasuk menahan diri untuk tidak melakukan kemaksiatan baik ucapan maupun perbuatan," katanya.

IMNU Tegal

Keistimewaan orang yang melakukan Ibadah puasa selanjutnya adalah akan dimasukkan ke surga tanpa dihisab. "Orang yang berpuasa besok seperti burung yang punya sayap di pertamanan surga dan masuk ke dalamnya tanpa dihisab. Dia sendiri tidak akan tahu kenapa ia dimasukkan ke surga secara diam-diam karena memang ibadah puasa juga ibadah yang diam-diam," pungkasnya.

Jihad Sore dihadiri Bupati Pringsewu KH Sujadi, Ketua MUI Kabupaten Pringsewu KH Hambali dan Ketua PCNU Pringsewu H. Taufiqurrohim. Setelah kegiatan tersebut, seluruh jamaah melaksanakan buka puasa bersama.

Saat buka puasa dibarengi dengan tasyakkuran ulang tahun KH Sujadi ke-57. Sebuah kue simbol rasa syukur dibuat dan dipotong serta dibagikan ke seluruh jamaah untuk dinikmati bersama. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pahlawan, Tokoh, Sejarah IMNU Tegal

Sabtu, 18 Maret 2017

Siapakah Ahlusunnah yang Sebenarnya?

Tarim, IMNU Tegal



Untuk kesekian kalinya, Departemen Pendidikan dan Dakwah Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Hadhramaut kembali mengadakan acara seminar ilmiah dengan mengangkat tema “Man hum Ahlussunnati wal Jama’ah? Wa Af’alu al-‘Ibad: Siapakah Ahlussunnah wal Jamaah? Dan Orientasi Perbuatan Seorang Hamba”. Acara kali ini berlangsung pada Jumat malam (19/2) di Auditorium Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Hadhramaut, Yaman.

Seminar dengan dua tema pembahasan yang cukup berat ini sengaja mendatangkan dua narasumber yang memiliki kapabilitas dalam bidang masing-masing. Yang pertama Syekh Mukhtar Jamil seorang pakar muda dalam bidang ilmu hadits, dan kedua Habib Abdullah bin Ahmad Al-Jufri, spesialis dalam bidang ilmu teologi. Kedatangan kedua ulama muda ini merupakan satu peristiwa yang langka sekaligus kebanggaan bagi para pelajar Indonesia yang berada di Hadhramaut.

Siapakah Ahlusunnah yang Sebenarnya? (Sumber Gambar : Nu Online)
Siapakah Ahlusunnah yang Sebenarnya? (Sumber Gambar : Nu Online)

Siapakah Ahlusunnah yang Sebenarnya?

Pada awal pembahasan, Syekh Mukhtar mengatakan bahwa tujuan diskusi ini bukan untuk menebar kebencian di antara sekte-sekte keislaman yang telah ada. Ia menekankan, bahwa pertemuan ini hanya untuk mendeskripsikan serta mendudukkan suatu permasalahan pada tempatnya.?

“Kami hanya ingin memberikan penamaan terhadap suatu perkara sesuai dengan kandungannya, bukan untuk menambah kebencian,” cetusnya.?



IMNU Tegal



Menurut Syekh Mukhtar, istilah Ahlussunnah wal Jamaah merupakan satu-satunya sekte yang beruntung dan terdiri dari satu golongan saja. Meskipun dari beberapa pandangan, Ahlussunnah wal Jamaah masih terbagi menjadi tiga bagian. Yaitu al-Muhadditsun, kelompok yang memprioritaskan dalil-dalil naqli (yang bersumber dari periwayatan) dalam pembahasan ilmu akidah. Ahlunnadzar al-Aqli, para penganut paham rasionalisme yang diperankan oleh Al-Maturidiyah dan Al-Asy’ariah. Dan yang ketiga adalah As-Sufiah, yaitu pengikut aliran sufisme. Ketika ditanya mengenai pemecahan yang terjadi pada tubuh Ahlussunnah wal Jamah sendiri, ia menandaskan bahwa hal itu tidak merusak statemen awal, bahwa Ahlussunnah wal Jamaah hanya terdiri dari satu golongan saja. Ia mencontohkan seperti satu universitas yang di dalamnya terdapat beberapa fakultas yang berbeda.?

“Contoh konkretnya seperti Universitas Al-Ahgaff yang memiliki beberapa fakultas. Setiap fakultas tetap dinisbatkan terhadap Universitas Al-Ahgaff” tegasnya menambahkan.

IMNU Tegal

Pada akhir penyampaiannya, Syekh yang merupakan jebolan Darul Musthafa ini menyatakan, bahwa semua empat madzhab yang ada (Hanafiah, Syafi’iah, Malikiah, dan Hanabilah) merupakan penganut paham Ahlussunnah wal Jamaah. “Setiap al-Madzahib al-Arba’ah (empat madzhab) termasuk dari paham Ahlussunnah wal Jamaah,” tuturnya.?

Beralih terhadap tema pembahasan yang kedua, yaitu orientasi pekerjaan seorang hamba, Habib Abdullah bin Ahmad Al-Jufri tampil sebagai pembicara. Ulama muda yang merupakan santri Syekh Said Fudah ini sangat cekatan dalam penyampaiannya. Pertama-tama ia menyuguhkan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama Ahlussunnah wal Jama`ah dan ulama Mu`tazilah perihal “perbuatan makhluk dan kaitannya dengan kehendaknya sendiri”, dikemukakan di dalamnya dalil-dalil yang menjadi landasan para ulama Ahlussunnah dan Mu`tazilah dalam berhujjah. Tidak hanya itu, ia juga menyampaikan perbedaan pendapat secara internal yang terjadi di kalangan ulama Ahlussunnah itu sendiri.

Pembicaraan yang cukup memeras otak para peserta seminar itu ia tutup dengan menukil perkataan Imam Abdullah Al-Haddad dalam bait-baitnya yang terkenal, yang artinya: “Dan hanya dengan taufiq Allah lah semuanya bisa melakukan ketaatan, maka mohonlah kepada Nya taufiq itu untukmu”. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pahlawan, RMI NU, IMNU IMNU Tegal

Sabtu, 04 Februari 2017

Kisah Penyesalan Anak yang Durhaka pada Ayahnya

"Anak ada empat, laki-laki semua, dan sudah dewasa, kenapa (masih) harus nyangkul sendiri?" Sebuah pertanyaan diajukan kepada seorang guru SD Negeri sekaligus petani yang sedang merapikan cangkul untuk persiapan ke sawah. Sebut saja namanya Suja.

Pertanyaan Sabtu (21/5) malam itu dijawab oleh Suja dengan sebuah kisah masa lalu yang tidak bisa dilupakannya. "Ini karena kesalahan saya," jawab warga Kabupaten Subang, Jawa Barat ini.

Suja mengungkapkan, bapaknya yang bernama Saeful Bahri adalah seorang guru Pegawai Negeri Sipil (PNS). Di luar jam mengajar, sang ayah memiliki aktivitas lain, yaitu mengurus sawah miliknya.

Suja mengisahkan, waktu kecil ia sering disuruh sang ayah untuk membantu mengurus sawah. Bagi Bahri yang kian sibuk, pekerjaan itu merepotkan, apalagi jika musim panen tiba, karena harus memanggul karung padi, menjemur, sampai memasukannya kembali ke dalam karung.

Kisah Penyesalan Anak yang Durhaka pada Ayahnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Penyesalan Anak yang Durhaka pada Ayahnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Penyesalan Anak yang Durhaka pada Ayahnya

Namun sayangnya Suja sering menolak perintah Bahri tersebut. Suja hanya bersedia melakukan semua itu dengan satu syarat yang diajukan.

"Kalau dikasih uang sama almarhum bapak, baru saya mau ngurus padi. Kalau enggak dikasih ya enggak," sesal Suja di Subang.

IMNU Tegal

Suja sama sekali tidak akan bergerak untuk membantu bapaknya jika tidak ada uang. Jika uang sudah diberi, Suja akan langsung bekerja.

"Almarhum pernah bilang sama saya, ‘kamu jangan begitu, siapa tahu nanti kalau sudah berkeluarga kamu juga punya sawah’," kisah Suja menirukan ucapan ayahnya, sambil merapikan cangkul buat persiapan besok ke sawah.

Beberapa tahun kemudian Suja berkeluarga dan saat ini dikaruniai empat orang anak. Ternyata, apa yang diucapkan oleh bapaknya puluhan tahun yang lalu terbukti, Suja punya sawah.

IMNU Tegal

"Eehh... sekarang, anak saya susah kalau disuruh bantu-bantu ngurus sawah, mereka mau bantu kalau dikasih duit. Kalau enggak ya enggak bakalan mau. Ini karena kesalahan saya dulu," ucap Suja penuh sesal.

Ia pun mengingatkan agar selalu berusaha berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika kita bisa berbakti dan berbuat baik kepada orang tua, kelak anak-anak kita akan berbakti dan berbuat baik kepada kita, begitu pun jika sebaliknya. (Aiz Luthfi).

?

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pahlawan, Tegal IMNU Tegal

Senin, 30 Januari 2017

Sastrouw: Saatnya Kembali ke Khittah Kebudayaan

Yogyakarta, IMNU Tegal. Sudah bangsa Indonesia kembali ke khittah kebudayaan dengan tetap menjaga sikap kritis. Maka IKA-PMII menawarkan, konsep pribumisasi kebudayaan yang berangkat dari prinsip al-muhafadhatu ‘alal-qadim as-shalih, melestrarikan tradisi yang baik.

Kedua IKA-PMII menilai bahwa modernitas dan tradisionalitas tidak didudukkan secara berhadap-hadapan, tapi komplementer, saling melengkapi. Ini berangkat dari prinsip wal-akhdu bil-jadid al-ashlah, mengambil hal baru yang lebih baik.

Sastrouw: Saatnya Kembali ke Khittah Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sastrouw: Saatnya Kembali ke Khittah Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sastrouw: Saatnya Kembali ke Khittah Kebudayaan

Demikian Ngatawi al-Zastrouw menyampaikan hasil pembahasan tim materi panitia Munas Ikatan Alumni (IKA) PMII dalam aspek kebudayaan pada Rabu (26/6).

IMNU Tegal

Tawaran IKA PMII dalam aspek kebudayaan yang dikemas dalam acara Pra Munas ke-5 di Gedung Kunthi Wanitatama, Yogyakarta itu berangkat dari pembahasan panjang tentang tiga strategi yang digunakan penjajah dalam menghancurkan kebudayaan Indonesia. 

“Ada tiga strategi yang digunakan penjajah dalam menghancurkan kebudayaan. Pertama, dimasukkannya sistem sekolah dalam pendidikan. Sehingga spiritualitas dianggap beban dan penghambat kemajuan.

IMNU Tegal

Kedua, hegemoni pencamplokan tradisionalitas. Tradisionalitas dan spiritualitas didudukkan secara berhadap-hadapan. Sehingga keduanya tidak akan pernah bersanding. 

Ketiga, brain wash (pencucian otak, red.) melalui media massa dan sebagainya yang semuanya menggunakan standar modernitas,” tuturnya di tengah hadirin yang menyesaki ruangan.  

Pihaknya mengungkapkan pula bahwa konstruksi kebudayaan Indonesia pada dasarnya adalah rasionalitas dan spiritualitas. Tapi hal itu telah digerus oleh kebudayaan barat yang hanya mengandalkan rasionalitas. Padahal  hati atau rasa dan laku atau budi pekertilah yang melahirkan kebudayaan nusantara.

“Kemudian para wali datang dan dilakukan konstruksi ulang. Mereka melakukan rajutan kebudayaan. Menyatu tapi tidak melebur,” imbuhnya.  

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Nur Hasanatul Hafshaniyah

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kajian Sunnah, Meme Islam, Pahlawan IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock