Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

Satu Jamaah Haji Brebes Tidak Pulang

Brebes, IMNU Tegal. Kepulangan jamaah haji Indonesia asal Brebes ternyata tidak lengkap, karena salah satu jamaah meninggal dunia. Satu orang lagi tertinggal dan lima orang pulang cepat. 

Namun pada intinya, semua proses perjalanan haji dari Kabupaten Brebes berjalan lancar dan sukses. Hal tersebut disampaikan Kepala Seksi penyelenggara haji dan umrah (garahaju) Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kab Brebes H Moh Aqso. 

Satu Jamaah Haji Brebes Tidak Pulang (Sumber Gambar : Nu Online)
Satu Jamaah Haji Brebes Tidak Pulang (Sumber Gambar : Nu Online)

Satu Jamaah Haji Brebes Tidak Pulang

“Alhamdulillah, semalam pukul 22.00 jamaah kita sudah sampai di Islamic Center dan dijemput masing-masing keluarga,” terang di kantornya, Rabu (28/11).

IMNU Tegal

Lebih jauh Aqso menerangkan, jamaah yang meninggal dunia bernama Khodijah bin Maksudi (72) warga Slatri Rt 4 Rw I, Kec Larangan Brebes. Dia meninggal pada tanggal 12 Nopember lalu di Mekkah Arab Saudi karena sakit pada pukul 10.30 waktu setempat. 

IMNU Tegal

Sementara yang pulang cepat akibat sakit Khudori Sudaryo Carsiyem dan Ruisah Wastap Asy’ari keduanya warga Tegalglagah Rt 05/09 bulakamba Brebes, Darwen (Bantarkawung), Kartem (Paguyangan) dan Sofi suami dari Khodijah.

Sedangkkan seorang lagi Muslihah Ahmad tidak bisa pulang bersama-sama dengan kloter Brebes karena masih terbaring sakit di RS Hira Mekkah. “Mereka yang pulang cepat, sudah memenuhi rukun haji, tapi karena kondisinya tidak memungkinkan maka dipulangkan bersama kloter sebelumnya,” bebernya.

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Wasdiun

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tokoh, Pendidikan, AlaSantri IMNU Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Jelang Ramadhan, PCNU Kabupaten Garut Gelar Keramasan

Garut, IMNU Tegal - Dalam rangka menyambut bulan Ramadhan, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Garut menggelar keramasan di Pondok Pesantren Salaman (Fauzan III) Sukaresmi-Garut, Selasa (23/5).

Keramasan yang digelar oleh PCNU Garut yang dihadiri oleh Rais Syuriyah KH Amin Muhyiddin, Ketua PCNU Garut KH Atjeng Abdul Wahid, Sekretaris PCNU Garut Deni Ranggajaya, pengurus lembaga NU, pengurus banom, pengurus MWCNU Se-Kabupaten Garut, dan ribuan warga NU Kecamatan Sukaresmi.

Jelang Ramadhan, PCNU Kabupaten Garut Gelar Keramasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Ramadhan, PCNU Kabupaten Garut Gelar Keramasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Ramadhan, PCNU Kabupaten Garut Gelar Keramasan

Kiai Abdul Wahid berpesan kepada seluruh jajaran pengurus, lembaga, dan banom NU untuk meningkatkan amal ibadah di bulan Ramadhan serta saling memaafkan agar jalinan ukhuwah islamiyah tetap terjaga dan menjadi teladan bagi masyarakat sekitar.

Sementara Kiai Amin Muhyiddin berpesan agar warga NU senantiasa menjaga dan meningkatkan amal ibadah serta menjaga keyakinan terhadap kiai NU dalam melaksanakan ibadah sesuai dengan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

IMNU Tegal

"Salah satunya kita harus yakin bahwa shalat tarawih itu 23 rakaat beserta witir, kebiasaan kita sebelum atau sesudah bulan Ramadhan kita terbiasa untuk berziarah kubur, memperbanyak ssedekah, dan amalan-amalan lainnya.” (Muhammad Salim/Alhafiz K)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Sunnah, Pendidikan, Fragmen IMNU Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Ultimatum, Calon dan Jurkam Harus Mundur dari Kepengurusan NU

Probolinggo, IMNU Tegal. Rais Syuriyah PCNU Kota Probolinggo terpilih KH Azis Fadol memberikan ultimatum dan garis tegas bagi pengurus harian NU selama lima tahun ke depan. Terutama dalam momen Pilwali Kota Probolinggo 2013 mendatang, jika akan maju harus pengurus harian NU harus mundur.

Menurutnya, pengurus harian NU ini meliputi Rais Syuriyah, Ketua Tanfidziyah, Wakil Ketua dan Sekretaris. “Dalam AD/ART sudah dijelaskan, kalau dicalonkan harus lepas dari kepengurusan NU,” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hidayah Kecamatan Kademangan ini saat dihubungi IMNU Tegal, Senin (3/12).

Ultimatum, Calon dan Jurkam Harus Mundur dari Kepengurusan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ultimatum, Calon dan Jurkam Harus Mundur dari Kepengurusan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ultimatum, Calon dan Jurkam Harus Mundur dari Kepengurusan NU

Selanjutnya posisi yang ditinggalkan pengurus tadi akan digantikan pengurus lainnya. Proses yang sama terjadi ketika Maksum Subani menggantikan Kiai Mafruddin Kelurahan Pilang Kecamatan Kademangan yang mengundurkan diri dari kepengurusan.

IMNU Tegal

Ketentuan yang sama berlaku bagi pengurus yang menjadi juru kampanye (jurkam) calon tertentu. Hanya saja, jika menjadi jurkam yang bersangkutan cukup nonaktif dari kepengurusan.

Meski demikian, bukan berarti pengurus NU tidak boleh terlibat dukung mendukung calon. Mereka tetap mendapatkan kebebasannya atas nama pribadi, tidak mengatasnamakan organisasi. “Kalau menjadi tim sukses, selama tidak membawa NU, tidak masalah,” terangnya.

IMNU Tegal

Menurut KH. Azis Fadol, ketentuan itu sesuai dengan komitmen khittah NU. “Tidak kemana-mana, tapi ada di mana-mana. NU tidak ke politik, terutama dalam Pilkada,” jelasnya.

Kiai Azis menyatakan perlu menyampaikan pernyataan tersebut pasalnya pada tahun 2013 mendatang warga nahdliyin terutama yang berada di Kota Probolinggo akan menghadapi Pilgub Jatim dan Pilwali Kota Probolinggo.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pendidikan, Warta, Kyai IMNU Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Cara Gusdurian Lampung Peringati Hari Lahir Gus Dur

Way Kanan, IMNU Tegal?

Memperingati Hari Lahir KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Gusdurian Lampung menggelar Doa Lintas Agama Untuk Gus Dur dan Bakti Sosial Penyembuhan Alternatif Aji Tapak Sesontengan (ATS) di dua kecamatan daerah dipimpin Bupati Raden Adipati Surya.?

Cara Gusdurian Lampung Peringati Hari Lahir Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Gusdurian Lampung Peringati Hari Lahir Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Gusdurian Lampung Peringati Hari Lahir Gus Dur

Penggiat Gusdurian Markus Tri Cahyono, di Blambangan Umpu, Kamis (3/8) menjelaskan, kegiatan bekerja sama dengan Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Way Kanan dan Paguron Swarna Raya Yayasan Aji Tapak Sesontengan Global Indonesia tersebut mengambil tema Merawat Warisan Kebhinekaan, Menebar Warisan Jenius Leluhur Nusantara.

Kegiatan digelar di dua tempat mulai pukul 13.00-17.00 WIB. Pertama di RK IV, Madiun, Kelurahan Campur Asri, Kecamatan Baradatu, Jumat 4 Agustus yang merupakan hari kelahiran Gus Dur. Kemudian di Bale Banjar Adat Sari Agung, Kampung Bali Sadhar Tengah, Kecamatan Banjit, Sabtu 5 Agustus.

Masyarakat yang menderita penyakit asam urat, hernia, kencing nanah, lemah jantung, diabetes, lemah syahwat, stroke, paru-paru, kista, kanker payudara, rematik, pengeroposan tulang bisa menyembuhkan penyakitnya tanpa biaya.

IMNU Tegal

Hanya saja, bagi yang Muslim diharapkan membaca tiga kali Al Fatihah dihadiahkan bagi Gus Dur, untuk keselamatan bangsa Indonesia dan seluruh penyelenggara kegiatan. Untuk yang non muslim, dipersilakan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing dengan tujuan sama.

"Setelah atau sambil menunggu penyembuhan, kami akan mengajak masyarakat berfoto membawa pesan-pesan inspiratif Gus Dur mengenai keberagaman dan kemajemukan. Ini yang kami sebut sebagai merawat kebhinekaan," kata Markus lagi.

Adapun yang dimaksud menebar warisan jenius leluhur nusantara ialah berkumpul dan berdialog dengan masyarakat untuk merampungkan masalah melalui penyembuhan penyakit medis dan non medis dengan ATS, ilmu kuno peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia yang mudah digunakan siapapun yang telah diaktivasi, cukup 15 hingga 30 menit sudah bisa praktik.

IMNU Tegal

Saat ini, ATS sudah banyak dimanfaatkan di mancanegara seperti di Hongkong, Singapura, Polandia, Belanda, Jepang, Amerika, Meksiko, Australia, Belgia hingga Spanyol sehubungan bisa dipelajari oleh siapa pun mulai dari anak kecil dan orang tua. Aktivasi ATS 085382008080. (Erli Badra/Abdullah Alawi)

? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kyai, Pendidikan IMNU Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Komunitas Jenank Napak Tilas Pertempuran Muria

Kudus, IMNU Tegal. Dalam rangka memperingati hari pahlawan, 10 November, Komunitas Jelajah Edukasi Napak Tilas Kabupaten Kudus (Jenank) kembali melakukan kegiatan sejarah peradaban di Kota Kudus Jawa Tengah, Ahad (9/11). Kali ini, 30 aktivis Jenank mengadakan napak tilas pertempuran Muria di Kudus.

Menurut Koordinator Jenank Danar Ulil H, sejarah kota Kudus  memiliki kisah heroik para pejuang kemerdekaan dalam merebut dan mempertahankan bangsa ini dari penjajah. Sejarah ini terdapat dalam pertempuran di kawasan Muria Kudus.

Komunitas Jenank Napak Tilas Pertempuran Muria (Sumber Gambar : Nu Online)
Komunitas Jenank Napak Tilas Pertempuran Muria (Sumber Gambar : Nu Online)

Komunitas Jenank Napak Tilas Pertempuran Muria

"Karenanya, napak tilas ini menyusuri beberapa titik lokasi perang mulai dari stasiun Wergu (sekarang Pasar Wergu), tugu identitas dan markas gerilya Desa Besito, Gebog, Kudus," katanya kepada IMNU Tegal.

IMNU Tegal

Dalam mengakhiri acara bertema "Kudus, Secercah Darah Daulat Merah Putih", mereka berdiskusi sejarah Pertempuran Muria  di Monumen Macan Putih, Glagah Kulon, Dawe bersama sejarawan  Kudus Edy Supratno, dan Mbah Nasir, mantan kamituwo Glagah.

IMNU Tegal

"Dalam diskusi ini keduanya memaparkan sejarah pertempuran kota Kudus. Mbah Nasir ini merupakan saksi hidup bagaimana masyarakat Glagah Kulon nyengkuyung perjuangan para pejuang kemerdekaan." tambah Danar yang juga aktivis MATAN Kudus ini.

Seorang peserta napak tilas M. Khoirul Faizin mengatakan, belajar sejarah dengan mendatangi langsung lokasi ini sangat menyenangkan karena bisa mengenang perjuangan para pejuang kemerdekaan secara kontekstual.

"Selain itu, dengan narasumber yang relevan mampu mendekatkan kita kepada fakta sejarah yang sesungguhnya" ujar mahasiswa Universitas Muria Kudus ini. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pendidikan, PonPes, Doa IMNU Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

KH Wahab Chasbullah Tokoh yang Mesti Diteladani PMII, Kenapa?

Jombang,? IMNU Tegal?



Segenap keluarga besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas KH Wahab Hasbullah (Unwaha) dan STIKES Bahrul Ulum Tambakberas Jombang memperingati hari lahir (halah) ke-57 PMII, Senin, (17/4). Harlah digelar dengan kegiatan refleksi sejarah dan tujuan PMII didirikan. Tak hanya itu, mereka juga gelar istighotsah dan doa bersama.

Kegiatan yang digelar di aula STIKES Bahrul Ulum Tambakberas ini dihadiri puluhan aktivis PMII dari masa ke masa di lingkungan Tambakberas, mulai anggota dan kader yang saat ini masih aktif di kepengurusan tingkat rayon dan komisariat maupun beberapa alumni PMII komisariat Wahab Hasbullah.?

KH Wahab Chasbullah Tokoh yang Mesti Diteladani PMII, Kenapa? (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Wahab Chasbullah Tokoh yang Mesti Diteladani PMII, Kenapa? (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Wahab Chasbullah Tokoh yang Mesti Diteladani PMII, Kenapa?

Ketua Komisariat Elik mengungkapkan, tujuan diselenggarakannya kegiatan ini untuk melawan lupa akan sejarah PMII dan bagaimana tujuan terbentuknya PMII, selain itu upaya meningkatkan solidaritas anggota dan kader PMII Wahab Hasbullah juga menjadi tujuan penting digelarnya kegiatan tersebut. "Terhadap bagaimana PMII didirikan, kemudian apa tujuan PMII didirikan tidak boleh lupa, dan harus kita tanamkan betul," ujarnya.

Lebih jauh Hanifun Nashor alumni PMII Unwaha menyebutkan, KH Wahab Hasbullah adalah salah satu tokoh yang bisa dijadikan teladan bagi aktivis PMII dalam mengaplikasikan nilai-nilai dan tujuan PMII didirikan.?

IMNU Tegal

Sikap pemberani, pemikir dan pelopor yang dimiliki pendiri Nahdlatul Ulama ini, kata dia, seyogyanya menjadi representasi perjuangan aktivis PMII untuk mencapai cita-cita didirikannya PMII hingga saat ini.

Sementara Agus Riyanto Pengurus Cabang PMII Jombang dalam kesempatan yang sama, menyampaikan usia PMII yang sudah bisa dikatakan dewasa bahkan tua, hendaknya bisa membuat kader PMII secara keseluruhan lebih dewasa pula dalam pola berpikirnya juga gerakan-gerakannya. Hal ini menurutnya tiada lain untuk lebih taktis mencapai tujuan didirikannya PMII.

IMNU Tegal

"Perjalanan 57 tahun seharusnya mampu mendewasakan kita semua dalam berpikir maupun bergerak, senantiasa menjadi pelopor garda terdepan dalam membela bangsa dan menegakkan agama," kata pria berkaca mata ini.

Seperti dikatakan Hanifun Nashor di atas, Agus sapaan akrabnya kembali menegaskan betapa pentingnya aktivis PMII meneladani Kiai Wahab Hasbullah.?

"Sahabat-sahabat harus bisa menjadi pelopor seperti Kiai Wahab, gagasan Tashwirul Afkar, Nahdlatul Wathon, Nahdlatut tujjar, Nahdlatul Ulama sebagai representasi ide kebangsaan dan keislaman harus menular pada diri sahabat-sahabat selaku pembawa nama besar Kiai Wahab Hasbullah," tambahnya.? (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Syariah, Nusantara, Pendidikan IMNU Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Peluang Kerja Pengelasan Terbuka Luas di Dalam dan Luar Negeri

Bekasi, IMNU Tegal

Kerjasama antara pemerintah dengan dunia industri dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil di dunia industri. Termasuk industri-indutri terkait teknis pengelasan yang masih membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar.

Peluang Kerja Pengelasan Terbuka Luas di Dalam dan Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Peluang Kerja Pengelasan Terbuka Luas di Dalam dan Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Peluang Kerja Pengelasan Terbuka Luas di Dalam dan Luar Negeri



"Peluang kerja di bidang teknik pengelasan masih terbuka luas. Para tenaga kerja di bidang ini dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan di dalam dan luar negeri. Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong ketersediaan tenaga kerja bidang pengelasan yang terampil dan kompeten yang siap memasuki dunia kerja," kata Kepala Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Bekasi, Helmiyati Basri di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (24/8).



IMNU Tegal

Hal tersebut diungkapkan Helmiyati saat memberikan sambutan pada pembukaan Iwatani-API/IWS Welding Contest in Indonesia 2017 Perlombaan teknik pengelasan tingkat nasional ini diselenggarakan Asosiasi Pengelasan Indonesia (API) atau Indonesian Welding Society (IWS),  Iwatani Coorporation dan Iwatani Industrial Gas Indonesia (IIG) dengan peserta yang berasal dari para pekerja dari berbagai perusahaan Jepang dan perusahaan lainnya di area Jabodetabek.

IMNU Tegal



Kegiatan ini merupakan ajang untuk menunjukkan kemampuan para tenaga kerja Indonesia di bidang pengelasan. Kontes yang diselenggarakan di BBPLK Bekasi ini adalah penyelenggaraan kedua kalinya, setelah sebelumnya diselenggarakan pada tahun 2016.



Helmiaty mengatakan sinergi antara program pelatihan kerja yang diselenggarakan pemerintah dengan dunia industri sangat penting. Hal ini dibutuhkan agar link and match antar keduanya dapat tercapai. Sehingga, kebutuhan akan tenaga kerja kompeten dapat tercapai dengan maksimal.



"Keterlibatan swasta dalam mendukung program pelatihan kerja yang diselenggarakan pemerintah sangat penting untuk mengurangi kesenjangan pekerja terampil yang dialami Indonesia dewasa ini,”



"Kita berharap para tenaga kerja di bidang teknik pengelasan ini kian mampu bersaing di perusahaan-perusahaan nasional dan internasional dengan kemampuan dan keahlian mumpuni yang tidak diragukan lagi kualitasnya," paparnya.



Ditambahkan Helmiaty dengan ditunjuknya BBPLK Bekasi sebagai tuan rumah kompetisi ini diharapkan kedepannya pihak Iwatani juga dapat mensinergikan dengan program BBPLK Bekasi yang lainnya. Saat ini, BBPLK Bekasi sendiri fokus pada 2 (dua) kejuruan, yaitu elektronika dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).



Helmiyati juga menambahkan, keterlibatan BBPLK Bekasi dalam penyelenggaraan Iwatani-API/IWS Welding Contest In Indonesia 2017 merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam mendorong peningkatan kompetensi anak bangsa.



"Indonesia saat ini kekurangan tenaga kerja terampil. Pada tahun 2030 Indonesia diprediksi akan menempati posisi ke-7 negara ekonomi terbesar di dunia dengan kebutuhan tenaga kerja terampil berkisar 113 juta. Sedangkan pada tahun 2016 Indonesia baru memiliki sekitar 57 juta tenaga kerja terampil. Hal ini berarti Indonesia harus menciptakan 4 juta tenaga kerja terampil setiap tahunnya." kata Helmiyati mengutip arahan Presiden Jokowi.



Untuk mempercepat peningkatan kompetensi pekerja, Kemnaker melakukan terobosan melalui program 3R BLK (Revitalisasi, Reorientasi, dan Rebranding) di  Balai Latihan Kerja. Saat ini terdapat 301 BLK di seluruh Indonesia dimana 17 diantaranya milik pemerintah pusat, dan sisanya milik pemerintah daerah tingkat provinsi, Kabupaten/Kota.



Ketiga Balai Latihan Kerja yaitu BBPLK Bekasi, BBPLK Serang, dan BBPLK Bandung Bekasi, dipilih sebagai pusat pengembangan program tahap pertama. BBPLK Bekasi akan dijadikan sebagai pusat pengembangan kejuruan elektronika dan teknologi informasi. BBPLK Serang ditunjuk sebagai pusat pengembangan kejuruan las dan listrik. Sementara BBPLK Bandung sebagai pusat pengembangan kejuruan manufaktur dan otomotif. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pendidikan, Ahlussunnah IMNU Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Pererat Silaturrahim Melalui Istighotsah

Probolinggo, IMNU Tegal. Dalam rangka untuk mempererat ikatan silaturahim diantara pengurus dan Nahdliyin, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kuripan Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur secara istiqomah menggelar istighotsah baik di kantor NU maupun di rumah tokoh masyarakat di masing-masing ranting.

Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Kuripan Abdul Aziz, Selasa (17/12) mengungkapkan istighotsah ini dilakukan sebagai upaya untuk mempererat silaturahim diantara pengurus dan warga NU. Apalagi saat ini sudah banyak paham-paham baru di luar NU dan bertentangan dengan akidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Pererat Silaturrahim Melalui Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pererat Silaturrahim Melalui Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pererat Silaturrahim Melalui Istighotsah

”Istighotsah ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh MWCNU Kecamatan Kuripan untuk semakin mendekatkan diri kepada masyarakat. Melalui istighotsah ini, diharapkan akan semakin mempererat dan memperkokoh jalinan ikatan silaturahim diantara sesama pengurus NU dan warga NU sehingga nantinya akan menumbuhkan rasa kebersamaan untuk bersama-sama membesarkan NU,” ungkapnuya.

IMNU Tegal

Tidak hanya itu menurut Abdul Aziz, istighotsah ini juga dapat menjadi sebuah media untuk menyerap aspirasi Nahdliyin. “Dengan demikian pengurus NU tahu apa yang diharapkan oleh warganya. Sehingga nanti dapat dimasukkan sebagai program prioritas MWCNU Kecamatan Kuripan,” jelasnya.

IMNU Tegal

Abdul Aziz menegaskan istighosah ini merupakan salah satu tradisi ulama NU yang harus terus dilestarikan. ”Jangan pernah meninggalkan tradisi-tradisi yang ada dan tetap berpedoman pada hal-hal yang telah dirumuskan oleh ulama NU. Sebab tradisi-tradisi ini merupakan simbol dan kekuatan untuk membesarkan NU di tengah-tengah masyarakat,” tegasnya.

Lebih lanjut Abdul Aziz menjelaskan istighotsah ini bertujuan untuk mengamalkan ajaran tradisi ulama NU Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan mendoakan masyarakat. “Istighotsah ini merupakan salah satu upaya yang kami lakukan untuk selalu melestarikan tradisi-tradisi yang dilakukan oleh ulama NU,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pendidikan, Cerita, Khutbah IMNU Tegal

Rabu, 22 November 2017

Lakpesdam NU Kota Bogor Perkuat Kader Muda NU

Bogor, IMNU Tegal - Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama (NU) Kota Bogor mengadakan pelatihan pengembangan sumberdaya manusia di Kantor PCNU Kota Bogor pada Ahad (12/3). Pelatihan ini diikuti sedikitnya 15 orang yang terdiri atas berbagai unsur baik pengurus ranting, MWCNU maupun pengurus banom NU.

Kegiatan yang mendatangkan dua instruktur wilayah, Faridh Almuhayat Uhib Hamdani dan Muhammad Zimamul Adli serta pemateri dari Lakpesdam NU Kota Bogor Ustads Muhammad Ichsan berjalan lancar.

Lakpesdam NU Kota Bogor Perkuat Kader Muda NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Kota Bogor Perkuat Kader Muda NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Kota Bogor Perkuat Kader Muda NU

“Kegiatan ini merupakan kegiatan Lakpesdam yang akan rutin dijalankan setiap bulan dengan mendatangkan narasumber yang sesui dengan kebutuhan isu di Kota Bogor,” ujar Anwar Sadat.

IMNU Tegal

Menurutnya, Lakpesdam harus menjadi garda terdepan dalam membangun SDM warga NU agar mampu bersaing di era globalisasi ini.

Faridh Almuhayat menyampaikan mengenai analisis kawan dan lawan NU dengan harapan dapat menjadi penyemangat bagi warga NU bahwa NU harus mengambil sikap dengan berbagai terpaan isu dan semakin beratnya tantangan baik di internal maupun eksternal. Sehingga warga NU harus melek terhadap kawan dan lawan NU walaupun dalam dakwahnya NU tetap harus menganut prinsip tasamuh, tawazun, tawasuth, dan i’tidal.

Sementara Zimamul Adli menyampaikan tentang Outlook NU 2026 di mana NU menyambut 1 abad-nya dengan berbagai strategi. Maka NU harus menyiapkan diri untuk menuju masa keemasan NU sebagaimana yang dicita-citakan pendiri NU KH Muhammad Hasyim Asy’ari.

IMNU Tegal

Muhammad Ichsan menyampaikan tentang Aswaja NU. Berbagai prinsip agama yang dijalankan oleh warga NU sebagaimana yang diajarkan oleh para ulama harus menjadi karakter warga NU di manapun berada. Tidak malu dalam ber-NU menjadi bagian penting dalam memajukan organisasi NU.

Faridh Almuhayat menambahkan dengan harapan dari kegiatan pengembangan SDM warga NU ini adalah menjadikan NU sebagai jamaah dan NU sebagai jamiiah kuat dan terus berinovasi dalam menjalankan amanah pendiri NU. “Maka, tidak perlu malu menjadi warga NU Kota Bogor, sebab kita sudah punya modal yaitu jamaah yang sangat banyak.” (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pendidikan IMNU Tegal

PMII Ngawi Desak DPRD Pro Rakyat

Ngawi,IMNU Tegal. Pelantikan anggota DPRD periode 2014-2019 disambut aksi demonstrasi puluhan mahasiswa, Senin 25/08). Massa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menuntut 45 wakil rakyat menandatangani kontrak moral. Sebab mereka menilai kinerja dewan sebelumnya tidak banyak memberikan sumbangsih terhadap kemajuan Ngawi.

Dalam aksi tersebut mereka tidak hanya berorasi, tapi juga membawa poster yang berisi pesan moral. Namun, mahasiswa berhadapan dengan pintu tertutup. Petugas sengaja menutup pintu masuk menuju Pendapa Wedya Graha, tempat dilakukan pengambilan sumpah janji anggota DPRD periode 2014-2019. Beberapa nekat naik ke atas gerbang dan berorasi sambil meneriakan yel-yel.

PMII Ngawi Desak DPRD Pro Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Ngawi Desak DPRD Pro Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Ngawi Desak DPRD Pro Rakyat

Wakhid Hariadi, koordinator aksi mendesak para wakil rakyat merealisasikan janji politiknya pasca diambil sumpah dan janjinya. Dia mengingatkan agar mereka benar-benar bekerja secara profesional dan pro rakyat. ‘’Pelantikan memiliki makna yang sakral dan mendalam sebagai penentu nasib rakyat,’’ ungkapnya.

IMNU Tegal

PMII menyodorkan kontrak moral yang berisi kesediaan anggota dewan baru untuk memiliki komitmen memajukan pembangunan ekonomi dan pendidikan, senantiasa melibatkan partisipasi masyarakat, lebih pro rakyat, merealisasikan kepentingan rakyat dengan amanah, jujur, profesional, kredibel dan transparan.

IMNU Tegal

PMII juga serta mendorong anggota DPRD agar merealisasikan kontrak politiknya, dan transparansi anggaran serta fungsi legislasinya. Mendesak anggota agar tidak berpraktik korupsi, kolusi serta nepotisme. ‘’Produk hukum, kebijakan serta program yang dilaksanakan harus pro rakyat,’’ tegasnya.

Sayangnya, tidak ada satupun anggota DPRD baru yang menandatangi kontrak moral tersebut. Usai pengambilan sumpah janji, para wakil rakyat buru-buru pulang. Mereka juga menggunakan pintu keluar depan sekretariat daerah. Sehingga tidak bertemu massa yang berkumpul di pintu masuk pendapa. ‘’Kalau mereka tidak mau menandatangani kontrak moral, sudah terlihat jika mereka tidak mau memajukan Ngawi,’’ katanya.

Meski begitu, PMII mengancam akan mendatangi gedung dewan. Mereka akan melakukan sweeping agar anggota DPRD mau menandatangani kontrak moral tersebut. Jika tidak berhasil, mahasiswa akan datang lagi dengan massa yang lebih besar. ‘’Kami tidak main main,’’ tegas Wakhid.

Ketua DPRD sementara Dwi Rianto Jatmiko mengatakan menerima masukan dari kalangan mahasiswa itu. Tanpa diminta pun, pihaknya sudah komitmen berjuang untuk kepentingan rakyat. Hal itu sudah dibuktikan dengan meningkatnya anggaran perbaikan infrastruktur jalan yang setiap tahunnya di atas 40 persen. Dewan juga fokus pada program dan kebijakan di bidang kesehatan dan pendidikan. ‘’Karena tiga hal tersebut merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Dan selalu kami perjuangkan agar mendapat prioritas,’’ katanya. (Agus Susanto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Syariah, Daerah, Pendidikan IMNU Tegal

Jumat, 17 November 2017

Ingin Terus Dapat Pahala, Lakukan Hal Kecil Ini!

Ketika kebutuhan hidup manusia terpenuhi oleh alam, manusia tidak perlu susah-susah membuat dan mengolah makanan. Manusia cukup mengambil dari alam karena alam banyak menyediakan kebutuhan manusia, terutama makanan. Makanan itu antara lain buah-buahan dan binatang buruan.

Kehidupan awal manusia sangat tergantung dari alam. Ketika alam sudah tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup manusia, yang disebabkan populasi manusia bertambah dan sumber daya alam berkurang, maka manusia mulai memikirkan bagaimana dapat menghasilkan makanan.

Ingin Terus Dapat Pahala, Lakukan Hal Kecil Ini! (Sumber Gambar : Nu Online)
Ingin Terus Dapat Pahala, Lakukan Hal Kecil Ini! (Sumber Gambar : Nu Online)

Ingin Terus Dapat Pahala, Lakukan Hal Kecil Ini!

Oleh karena itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

IMNU Tegal

?

Artinya: “Siapa yang menanam tumbuh-tumbuhan, kemudian dimakan anak Adam (manusia) atau makhluk Allah lainnya, niscaya baginya (pahala) sedekah “ (HR. Muslim)

IMNU Tegal

Sabda tersebut menggerakkan para sahabat Nabi untuk melakukan penghijauan. Diceritakan, Abu Darda radliyallahu ‘anhu pernah menanam pohon zaitun ketika usianya sudah senja. Padahal, untuk menghasilkan buah pohon tersebut membutuhkan waktu cukup lama.

Abu Darda pun ditegur seseorang perihal kegiatannya ini. “Kenapa Engkau menanam pohon zaitun, padahal pohon tersebut lama berbuah sementara usiamu sudah tua, wahai Abu Darda?”

“Tidak menjadi persoalan pohon yang saya tanam berbuah ketika saya sudah meninggal, tapi nanti yang menikmati anak cucu saya,” jelas Abu Darda.

Abu Darda pun melanjutkan penjelasannya,? “Anak cucu saya akan mendoakan, dan doanya sampai ke kuburan saya.” (Ahmad Rosyidi)

(Disarikan dari kitab Ahubbuhum Anfa’uhum karya Dr.? Imad Ali Abd Abdusam’i Husani)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pertandingan, Pendidikan, Ulama IMNU Tegal

Kamis, 16 November 2017

Jangan Sembarangan Pakai Nama NU

Jakarta, IMNU Tegal. Nama NU tampaknya cukup sakti dan bikin PD sehingga banyak institusi di luar lembaga resmi NU yang seringkali menambahi embel-embel NU sebagai bagian dari nama yang mereka miliki.

Ketua PBNU H. Ahmad Bagdja berharap agar penggunaan nama NU diluar perangkat resmi organisasi NU ini diatur dalam aturan organisasi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian hari “Kita harus menjaga nama baik NU, jangan sampai nama ini digunakan untuk hal-hal yang tidak baik yang akhirnya berdampak negatif bagi NU,” tandasnya kepada IMNU Tegal, Rabu

Menurutnya, penambahan embel-embel NU oleh institusi lain tersebut mencerminkan perasaan kurang percaya diri dari organisasi tersebut seolah-olah kalau tidak memakai nama NU tidak memiliki kemampuan, legitimasi dan pengakuan dari masyarakat. “Makanya kita jaga NU dengan tidak menggunakan nama NU sembarangan,” tuturnya.

Jangan Sembarangan Pakai Nama NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Sembarangan Pakai Nama NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Sembarangan Pakai Nama NU

Meskipun demikian, sampai saat ini NU masih berbesar hati bahwa banyak orang berhak memperoleh barokah dari nama NU. PBNU tidak melakukan protes meskipun banyak orang menamakan dirinya NU walaupun yang menggunakan itu belum tentu NU.

“Ke depan, organisasi harus ditata agar lebih sehat dengan menjalankan disiplin organisasi. Bagaimana caranya, dengan memberikan sanksi bagi pelanggaran-pelanggaran yang terjadi,” tegasnya.

IMNU Tegal

Ditambahkannya bahwa penggunaan simbol-simbol NU harus menggunakan standar seperti yang ditentukan AD/ART tentang tata letak, warna, ukuran dan lainnya. Dilaporkan salah satu cabang NU di wilayah Jawa Barat menggunakan warna hitam putih. “Ini tidak boleh, harus sesuai aturan,”katanya. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Santri, Kyai, Pendidikan IMNU Tegal

Minggu, 05 November 2017

Mantra Pesantren dalam Krisis

Oleh: Abdurrahman Wahid?

Dalam perkembangan pesantren di negeri kita, terdapat banyak sekali legenda yang harus diteliti secara mendalam, termasuk dengan penelitian lapangan. Salah satu contoh yang dapat dikemukakan adalah legenda tentang Syeikh Ahmad Muttamakin dari Mejagung. Pertama mengenai lokasi kegiatan beliau. Ada sumber lisan yang menyatakan bahwa Mejagung terletak di Tuban sekarang Jawa Timur; sedangkan sumber lain mengatakan tempat itu ada di wilayah Pati (sekarang termasuk kecamatan Kajen, Kabupaten Pati). Kedua menurut DR. Subardi dalam desertasinya tentang Serat Cebolek, menggambarkan perdebatan antara beliau dan Katib Anom (cucu Sunan Kudus), yang dimenangkan oleh tokoh Kudus itu (yang penulis duga jadi semacam Menteri Agamanya Amangkurat III dari Kraton Kartasura dekat Solo. Dalam serat itu, Kiai Ahmad Muttamakin mengakui “kesalahan doktriner” yang dibuatnya, tanpa menjelaskan hal itu. Ini terbawa oleh kenyataan, bahwa Katib Anom menyalahkan Kiai Ahmad Muttamakin yang menyimpang dari “hukum agama” sebagaimana tertera dalam literatur fiqh. Bentuk penyimpangan itu adalah ia membiarkan Gajah dan Ular dilukis lengkap pada dinding Musholla tempatnya beribadat/mengajar, sedangkan waktu itu fiqh menetapkan bahwa tidak ada gambar yang utuh dari binatang maupun manusia yang diperkenankan. Yang sebenarnya diperbolehkan hanyalah “gambar mahluk hidup” yang tidak lengkap alias hanya sebagian saja. Disamping itu, Kiai Mutamakin sering menikmati pagelaran wayang kulit dengam cerita Dewa Ruci/ Bima Sakti.

Apa yang tidak dikemukakan oleh DR. Subardi dalam serat Cebolek itu adalah latar belakang politis dari pemunculan beliau, yang mungkin menimbulkan “masalah” bagi para pemuka agama Islam dalam masyarakat Jawa pada waktu itu. Para ahli fiqh, -di masa itu dikenal juga dengan nama kaum syari’ah-, banyak yang dekat posisi mereka dengan Raja/ Penguasa, minimal dimasyarakat “pesisiran” tempat Kiai Muttamakin tinggal. Sebaliknya para pemimpin tarekat (gerakan tasawuf yang diakui), umumya menentang penguasa. Namun keadaan ini menjadi berkebalikan pada tahun 70-an hingga akhir abad yang lalu (abad ke-20 masehi).

Jika Wali Sanga (wali sembilan yang menyebarkan Islam dikalangan orang Jawa dalam Abad ke XV dan XVI Masehi) menggunakan cara berkonfrontasi untuk menundukan para penguasa, dan hal itu diikuti oleh para ahli Fiqh dalam abad ke XVI dan XVII Masehi, Kiai Muttamakin menampilkan sebuah “strategi baru” dalam perjuangan gerakan-gerakan Islam waktu itu dalam menghadapi para penguasa, minimal di kalangan orang Jawa. Strategi baru itu merupakan jalan ketiga, yaitu tidak membiarkan tunduk kepada para penguasa (seperti dilakukan para ahli Fiqh), maupun menentang mereka (seperti dilakukan para pemimpin tarekat). Cara ketiga itu berintikan sikap menolak membicarakan pribadi-pribadi kaum penguasa waktu itu, melainkan hanya membatasi diri pada “kebiasaan” mengemukakan hal-hal ideal jika para penguasa berperilaku adil, memperjuangkan kebenaran dan berpikir melayani kepentingan orang banyak.

Mantra Pesantren dalam Krisis (Sumber Gambar : Nu Online)
Mantra Pesantren dalam Krisis (Sumber Gambar : Nu Online)

Mantra Pesantren dalam Krisis

Strategi baru Kiai Muttamakin itu akhirnya menjadi “strategi model” bagi apa yang dinamakan perjuangan Islam di negeri ini sampai sekarang. Dalam kidung yang ditulis dalam huruf Arab tetapi berbahasa Jawa (literatur Pegon) tersebut –kidung ini dahulunya dibacakan (dan terhenti sejak beberapa tahun terakhir ini) dalam upacara peringatan kematian (Haul/Khoul) beliau di desa Kajen, Margoyoso, Pati yang dihadiri oleh lebih dari 100 ribu orang-, disebutkan bahwa oleh penguasa/ Ratu (yang berarti Raja) di Solo akhirnya beliau diambil menjadi menantu. Ini adalah perlambang dari tercapainya kemenangan beliau dihadapan Ratu/Raja tersebut. Penguasa waktu itu adalah Susuhunan Pakubuwana II yang berkuasa di Surakarta Hadiningrat, menggantikan Amangkurat dari Kertasura.

IMNU Tegal

Dalam kidung tersebut diceritakan kembali doa-doa yang diucapkan oleh Syeikh Ahmad Muttamakin dalam perdebatannya melawan seorang abdi dalam maupun belakang oleh Susuhunan Pakubuwana II sendiri. Hal itu dapat dimengerti karena Syeikh Ahmad Muttamakin adalah pengasuh sebuah Pondok Pesantren, sehingga doa-doa yang diucapkannya tentulah dibaca tiap hari oleh murid-muridnya, baik santri di Pesantren maupun pengikut tarekat di luarnya. Karenanya, dalam pengertian kita sekarang ini, apa yang dijadikan doa-doa oleh mereka dapat disebut sebagai “mantra” di lingkungan Pesantren (para Kiai, para Santri dan para pengikut kiai di luar Pesantren).

Beraneka warna dan berjenis-jenis istilah yang digunakan dilingkungan mereka, baik yang bersifat umum maupun khusus. Yang belakangan ini disebut juga ijazah, konjugasi dari kata Ajaztuka yang berarti kubolehkan engkau mengajarkan/menggunakan suatu hal yang kuberikan kepadamu. Seorang Kiai harus dapat memberikan ijazah dalam bentuk doa, di samping ijazah mengajarkan kitab atau literatur yang semula diajarkan. Baik pemberian doa maupun ijin mengajarkan kitab tertentu itu, tentu saja dimulai dan ditutup dengan pembacaan doa oleh sang Kiai, yang diamini oleh para Santri/pengikutnya. Kareananya, seorang santri seperti pembawa makalah ini, dengan bangga akan mengemukakan ia telah mendapatkan ijazah buk atau kitab dari seorang Kiai, yang tentu saja akan disebutkan namanya dengan penuh hormat oleh santri tersebut. Umpamanya saja, pembawa makalah ini akan dengan bangga menyebutkan bahwa ia memperoleh ijazah dari Kiai Idris Kamali dari Tebu Ireng, Jombang untuk mengajarkan Al Itqan dari Imam Al-Sayuti yang ditulis abad ke-X Hijriyah/ ke- XVIII Masehi. Ada 25 buah literatur berbahasa Arab yang diperoleh ijin/Ijazahnya oleh penulis setelah bertahun-tahun mengaji di Pesantren. Tentu saja selama belajar di Pesantren para santri tidak akan sama memperoleh ijazah literaturnya, karena para Kiai memiliki keahlian yang berbeda-beda pula. KH. A Wahab Chasbullah (Ra’is Am PBNU 1947-1971) yang ahli Ushul F’qh / teori hukum Islam tentu tidak sama dengan adik iparnya, KH. M. Bisri Syansuri (Ra’is Am PBNU 1971-1980) yang adalah ahli Fi’qh sangat terkenal.

IMNU Tegal

Empat belas buah “disiplin pengetahuan agama” Islam yang dipelajari di Pesantren secara tradisional sesuai dengan silabi yang disusun oleh Imam Al-Suyuti dalam Itman Al-Dirayah, merupakan lahan kajian yang memiliki ratusan “buku wajib” (Al-Kutub Al-Mu’tabarah), sehingga tidak mungkin seorang santri pernah membaca/mengaji semuanya. Namun, seorang Kiai diharapkan mampu mengajarkan sebuah “buku wajib” untuk tiap disiplin, sehingga ia memiliki kebulatan disiplin-disiplin yang diketahuinya. Namun, kiai tersebut tidak akan mengajarkan semua disiplin yang pernah dipelajarinya. Ia akan memberikan ijazah hanya dalam disiplin-disiplin yang dikuasainya dan dengan demikian ia melakukan “pendalaman bidang” yang diajarkannya. Namun ia akan memberikan ijazah atau doa umum yang sama dengan para kiai yang lain dari pesantren-pesantren yang berbeda. Dalam “ijazah umum” itu, ia akan memberikan urutan-urutan para kiai yang mengajarkan “buku wajib” tersebut, yang tentu saja memuat nama guru, hingga kepada pengarangnya. Rangkaian nama-nama? itu di kalangan Pesantren disebut sebagai “sanad” (mata rantai) ijazah atau “Buku Wajib” tersebut, yang tentunya berbeda dari (walaupun berfungsi sama dengan) Sanad Hadist dari zaman Nabi Muhammad SAW.

Pesantren mengenal istilah pesantren tahunan ataupun pesantren bulanan (lebih dikenal dengan sebutan “pesantren puasa”. Jenis pertama adalah Pesantren yang memberikan pelajaran sepanjang tahun, sedangkan jenis kedua hanya berlangsung selama bulan puasa, seperti halnya dengan Pondok Ramadhan yang disamakan dengan program musim panas (summer program). Kedua jenis Pesantren itu, -yang pertama memiliki jangka pendidikan panjang dan yang satu berjangka sangat pendek-, sama-sama memiliki tata nilai serupa yaitu? penghormatan kepada guru ketundukan kepada hukum agama dan sama-sama menegakkan tata peribadatan serupa. Dengan mengikuti nilai-nilai yang sama itu, dengan sendirinya tata nilai yang dikembangkan dari satu ke lain Pesantren akan melahirkan tata kehidupan yang memiliki persamaan yang kokoh pula. Memang, dalam abad modern ini pesatren juga menghadapi tantangan-tantangan Barat dari proses modernisasi, yang dalam banyak hal berarti “pembaratan” dalam bentuknya yang vulgar.

Akibat suasana penuh tantangan dari respon yang lebih banyak berupa imitasi “proses pembaratan” itu sendiri, maka dominasi pencarian ijazah yang diutamakan dalam pendidikan agama formal di sekolah-sekolah agama kita sekarang, yang dikejar bukanlah standarisasi ilmu pengetahuan agama, melainkan penghargaan yang terlalu berlebih kepada ijazah/ diploma dari sekolah-sekolah tersebut. Berbeda dari perolehan ijazah cara lama, -yang bertumpukan pengalaman tata nilai yang dipercaya dalam kehidupan sehari-hari-, pencarian ijazah “model baru” tersebut sama sekali tidak mengindahkan pengalaman tata nilai tersebut. Dengan demikian, “perbenturan budaya” antara sekolah-sekolah agama kita dan sistem kehidupan Barat terletak pada perbenturan dua institusi. Karena baik Islam maupun Barat juga memiliki sisi lain yaitu proses budaya.

Harus diingat baik pihak Barat maupun pihak Islam sama-sama memiliki proses budaya yang kuat, maka dengan demikian kedua peradaban seluruhnya itu saling belajar bagaimana mengembangkan budaya di hadapan tantangan teknologi dan ilmu pengetahuan modern. Salah satu tantangan modernisasi adalah hilangnya ketiga nilai di atas yang digantikan oleh “modernitas” model barat yang terlalu berdasar kepada logika rasional, yang lebih banyak bersifat materialistik, capaian inilah yang menjadi kritik penulis. Makalah ini juga ditujukan untuk mengkritisi konsep “perbenturan peradaban” (clash of civilizations) yang dikemukakan oleh Samuel Huntington. Penulis makalah ini menilai, Huntington hanya mampu menggambarkan deretan pohon yang memiliki perbedaan keunikan tanpa mampu melihat keseluruhan hutan. Ia hanya mampu melihat sekitar peradaban yang saling berbenturan itu, tanpa mampu mengamati proses saling belajar antara mereka. Peoses saling belajar itu terlihat dari adanya sekitar ratus ribu orang pemuda muslim yang belajar di Barat setiap tahunnya. Mereka tidak hanya datang untuk mempelajari teknologi dan ilmu pengetahuan yang dijalani orang-orang barat, tetapi mereka juga memperoleh “penularan” dari peradaban Barat dan hal-hal lain yang diperlukan untuk “mengerti” peradaban Barat secara lengkap yaitu penghargaan kepada kerja keras, bersikap jujur dalam kehidupan, menghargai kedaulatan hukum dan kebebasan perpendapat, pengorganisasian hidup dan keterbukaan kepada faham-faham lain di luar pandangan sendiri.Walaupun sebenarnya nilai-nilai yang disebutkan diatas juga terdapat dalam peradaban masing-masing, namun hanya masih dalam bentuk potensi yang belum dikembangkan.

Salah satu “korban” dari perbenturan modernisme lawan tradisionalisme itu adalah mantra-mantra yang terdapat di lingkungan pesantren. Sekarang ini mantra demi matra yang sering digunakan di pesantren, kehilangan relevansinya dihadapan erosi keyakinan akibat pendidikan formal yang terlalu diarahkan kepada capaian-capaian materialistik. Mantra-mantra yang digunakan di pesantren, dalam bentuk doa seperti Hidzb, Wirid, dan sebagainya sudah tidak dianggap sakti oleh banyak sekali warga pesantren sendiri, sehingga dengan demikian terjadi pembelahan warga pesantren antara dua kubu yang saling berhadapan. Yaitu mereka yang percaya kepada mantra-mantra tersebut dan dianggap tidak rasional dengan mereka yang seolah-olah bersikap rasional secara penuh, namun tidak terjadi proses pengembangan rasionalitasnya berlandaskan pertimbangan moral.? Hal terakhir mengakibatkan munculnya konservativisme politik seperti saat ini.

Dilupakan dua hal penting oleh kaum muslimin dalam “perbenturan budaya” -antara yang modern dan yang kuno itu-, bahwa mau tidak mau perbenturan itu akan mempengaruhi juga kedudukan mantra di lingkungan pesantren. Oleh karena itu perlu dikaji beberapa hal yaitu: pertama, karena terdapat kekhususan antara berbagai masyarakat, maka? dalam mengembangkan ajaran Islam ini diharuskan adanya studi kawasan kaum muslimin? (Islamic Area Study’s) yang oleh laporan penulis kepada Universitas PBB di Tokyo (dengan Rektor DR. Sudjatmoko) pada tahun 1980-an, terbagi sebagai berikut: Masyarakat Afrika Hitam, Masyarakat Afrika Utara dan negeri-negeri Arab, masyarakat Turko – Persia - Afghan, masyarakat Asia Selatan (Bangladesh, Pakistan, Nepal, India dan Sri Lanka), masyarakat Asia Tenggara dan masyarakat minoritas muslim di negeri-negeri industri maju (terutama Eropa Barat dan Amerika Serikat). Kedua, perbedaan cara hidup antara Asia Tenggara dan Timur Tengah mempunyai perbedaan dalam struktur masyarakat. Di Asia Tenggara, tradisi gerakan Non-Pemerintah (LSM) sudah lama ada dan berdiri secara indenpenden. Sedangkan di Timur Tengah tradisi seperti itu tidak ada –contoh dari hal ini adalah ketua gerakan palang merah, ditunjuk dan diangkat oleh presiden/penguasa-. Dengan demikian gerakan-gerakan yang berbeda dengan pemerintah harus bergeraki di bawah tanah dan isu utama yang digunakan tidaklah mengajukan kritik terhadap kebijaksanaan pemerintah, melainkan terhadap “modernisasi model barat”. Pada akhirnya, hal ini sampai pada perbenturan institusional yang menjadi latar belakang terorisme secara internasional.

Kedua kenyataan diatas tentu saja menimbulkan pengaruh sangat besar kepada kedudukan mantra bagi kaum muslimin, termasuk yang berada di pesantren. Akhirnya do’a, Hidzb dan wirid hanya digunakan oleh mereka yang masih mempercayai ketiganya, sedangkan mereka yang menganggap diri “modern” tidak lagi memiliki kepercayaan seperti itu. Memang berat bagi kaum muslimin tradisionalis untuk meyakinkan keseluruhan kaum muslimin untuk tetap percaya penuh kepada kekuatan doa, hidzb dan wirid. Karena walau mereka berdoa pun, seperti di masjid-masjid kawasan kota, belum tentu mempercayai doa mereka sendiri, karena hal itu dilakukan karena memenuhi katentuan sopan-santun maupun karena keinginan orang banyak. Karena itulah selama gerakan-gerakan Islam tidak dapat menyelesaikan hal itu dengan baik, maka dikotomi antara yang modern dan yang tradisional akan tetap ada. Sementara itu, dikotomi antar kaum muslimin pun tidak hanya? dibatasi pada gerakan yang diikuti saja,? melainkan juga memasuki bidang-bidang lain. Demikian juga dalam bidang pendidikan, lembaga-lembaga modern berhadapan dengan pandangan hidup kuno yang berintikan kekuatan mantra tersebut. Tidak terkecuali dalam dunia Pesantren.

Dengan demikian menjadi jelaslah bagi kita bahwa masalah mantra dalam bentuk do’a, hidzb wirid yang juga merupakan bagian umum dari proses ijazah oleh sang Kiai pada murid/ santrinya juga dilanda oleh “krisis keyakinan.”? Ini diakibatkan oleh berbagai tantangan Internasional dari proses modernisasi. Sewaktu belajar di pesatren Tegalrejo (Magelang) dari 1957-1959, penulis tiap bulan menyelesaikan membaca Al Quran (Khatam Qur’an) di pemakaman Tejo Mulyo. Hal itu dimaksudkan sebagai penunjang bacaan doa, Hidzib dan Wirid yang harus dijalaninya waktu itu,-hingga kini pun masih ada yang “diamalkan” oleh penulis.? Hingga saat membuat makalah ini, penulis berkeyakinan bahwa kepercayaan individual akan kekuatan mantra itu, harus diimbangi dengan rasionalitas kolektif kaum Muslimin di manapun mereka berada, sebagai bagian dari proses penemuan identitas diri kembali. Pengamalan wirid dan hizib merupakan sesuatu yang sah dari sudut manapun, sama sahnya dengan “pencarian akar” yang dilakukan oleh orang-orang seperti Alex Haley melalui novelnya, The Roots. Apabila kita mengakui “hak kultural” berarti kita mengakui keutuhan manusia secara keseluruhan. Dan adalah hak seseorang untuk menilai bahwa hal itu adalah sesuatu yang ada gunanya atau tidak. Rasionalitas saja memang tidak cukup, karena ia cenderung melebih-lebihkan porsi rasio dalam kehidupan. Rasionalitas sebagai ukuran kegunaan sesuatu secara kolektif memang harus dipakai, tetapi penggunaannya secara individual sering harus dipertanyakan kembali. Nah, jika kita dapat “menerima” perbedaan antara kenyataan kolektif yang rasional dengan kebutuhan individual yang belum tentu rasional, maka hal ini masih menunjukkan pentingnya arti mantra dalam kehidupan manusia, apalagi untuk lingkungan pesantren.

?

Jakarta, 1 September 2003

? Makalah ini disampaikan pada Seminar Nasional Naskah Kuno Nusantra, 2 Sepetember 2003 di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta.

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pendidikan, Daerah, Anti Hoax IMNU Tegal

Muslimat NU Probolinggo Santuni Ratusan Anak Yatim

Probolinggo, IMNU Tegal - Dalam rangka menyemarakkan bulan Muharram 1439 Hijriyah, Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Probolinggo memberikan santunan kepada ratusan anak yatim. Penerima santunan adalah utusan dari masing-masing ranting se-Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Kecamatan Sumberasih, Ahad (15/10).

Kegiatan yang digelar di Kantor PAC Muslimat NU Kecamatan Sumberasih ini dihadiri oleh Ketua Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj Nurhayati yang didampingi sejumlah pengurus serta pengurus PAC Muslimat NU Kecamatan Sumberasih.

Muslimat NU Probolinggo Santuni Ratusan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Probolinggo Santuni Ratusan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Probolinggo Santuni Ratusan Anak Yatim

Pemberian santunan kepada anak yatim piatu ini merupakan agenda rutin yang dibuat oleh Muslimat NU Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini dilaksanakan secara istiqamah setiap tiga bulan sekali secara bergantian antarPAC Muslimat NU se-wilayah Muslimat NU Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini diikuti oleh 1.000 orang lebih peserta yang merupakan para pengurus Muslimat NU mulai dari tingkat PAC hingga Ranting se-Kecamatan Sumberasih.

IMNU Tegal

Hj Nurhayati mengatakan, dalam hidup kita harus selalu bersyukur kepada Allah SWT dan apapun yang kita miliki yang terbaik bagi kita.

“Semakin banyak yang kita miliki maka pertanggungjawaban kita juga semakin berat. Amanah yang diterima ini nantinya akan diminta pertanggungjawaban di dunia dan di akhirat kelak. Oleh karena itu manfaatkan amanah ini dengan sebaik-baiknya untuk hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain,” katanya.

IMNU Tegal

Kegiatan pemberian santunan kepada anak yatim ini mengambil tema Dengan Kebersamaan Kita Mampu Memberikan Sedikit Terang Kehidupan Mereka, Rasa Memiliki Persaudaraan Tanpa Harus Membedakan.

“Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan santunan kepada anak yatim dalam rangka menyambut 1 Muharram 1439 Hijriyah ini akan membuat para pengurus Muslimat NU di Kabupaten Probolinggo semakin solid dan lebih sadar serta peduli dengan sesama,” harapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kajian Islam, Pendidikan IMNU Tegal

Jumat, 13 Oktober 2017

Bungkus Agama Lebih Menipu dari yang Lain

Jakarta, IMNU Tegal. Semua hal selain Allah adalah kepalsuan. Tak setiap manusia menyadarinya. Inilah tugas berat para penempuh jalan tasawuf. Hati mereka dituntut bersih dari rasa bangga tak hanya atas kekayaan dan kedudukan tapi juga prestasi keagamaan.

Pesan ini muncul dalam pengajian rutin tasawuf yang digelar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di ruang Ketua Umum PBNU sekaligus pengasuh pengajian KH Said Aqil Siraj, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (14/1) malam.

Bungkus Agama Lebih Menipu dari yang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Bungkus Agama Lebih Menipu dari yang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Bungkus Agama Lebih Menipu dari yang Lain

Kang Said menjelaskan, Syaikh Ma’ruf al-Kurkhi mendefinisikan tasawuf sebagai penggapaian Kebenaran Sejati dan keberpalingan diri dari semua bentuk kepalsuan. Namun, tak sedikit penghuni dunia ini cenderung berlaku sebaliknya, menduakan Tuhan dan asyik berkubang dalam ketidaksejatian.

IMNU Tegal

”Padahal di dunia ini 99,9% palsu semua. Kepalsuan kita ada yang dibungkus dengan jas dan dasi; ini masih mending karena terlihat terang dan jelas. Ada yang dibungkus pakai sorban dan jenggot; ini yang paling sulit, karena tidak terasa,” katanya.

Doktor Universias Umml Qura Mekah ini juga mendasarkan pendapat tersebut pada surat Luqman ayat (33) yang memperingatkan manusia untuk tidak tertipu oleh kehidupan dunia dan ketaatan beribadah. Kepalsuan, menurut Kang Said, meliputi banyak hal.

IMNU Tegal

”Ada kepalsuan yang ditutupi dengan ilmu. Ada yang ditutup dengan kedudukan, jadi ketua umum PBNU. Ada yang ditutup dengan ibadah, jidatnya item. Ada yang ditutup dengan keturunan, jadi habib atau gus/lora (putra kiai). Ada juga yang ditutup dengan hafidz Qur’an dan hafidz hadits,” tambahnya.

Menurut Kang Said, para penempuh jalan tasawuf mempunyai kepribadian merdeka, karena hatinya senantiasa dipenuhi kesadaran akan Allah. Dengan kondisi jiwa semacam ini, mereka sanggup melepas berbagai gejala emosional, seperti rasa takut, marah, dan bangga.

Dalam kali kedua pengajian tasawuf PBNU dengan materi disertasi doktoralnya ini, Kang Said mengulas ragam definisi tasawuf menurut kaum sufi, seperti Ma’ruf al-Kurkhi, Dzun Nun al-Mishri, Abu Yazid al-Bushtami, Sahl al-Tustari, dan sejumlah sufi lainnya. Menurut jadwal, pengajian akan digelar secara berkala setiap senin malam.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Ubudiyah, Pendidikan, Pertandingan IMNU Tegal

Kamis, 28 September 2017

Al-Audah ila Iktisyaf Tsauratina, Kitab Pusaka Presiden Soekarno

Oleh A. Ginanjar Sya’ban

Kitab berjudul “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ” ini bernilai keramat. Kitab ini diterbitkan di Kairo pada tahun 1959 oleh al-Dâr al-‘Arabiyyah li al-‘Ulûm, dengan tebal 68 halaman. Saya mendapatkan salinan kitab ini dari perpustakaan Biblioteka Alexandria, Mesir.

Al-Audah ila Iktisyaf Tsauratina, Kitab Pusaka Presiden Soekarno (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Audah ila Iktisyaf Tsauratina, Kitab Pusaka Presiden Soekarno (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Audah ila Iktisyaf Tsauratina, Kitab Pusaka Presiden Soekarno

Apa istimewanya kitab “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ” ini?

Kitab ini merupakan terjemahan dari buku berjudul “Penemuan Kembali Revolusi Kita” yang berasal dari pidato Presiden Republik Indonesia Soekarno pada hari kemerdekaan RI yang ke-14 (17 Agustus 1959).

Dalam pidatonya, Soekarno mengulas berbagai persoalan pokok dan program umum Revolusi Indonesia yang bersifat menyeluruh. Pemikiran pidato ini kemudian menjadi Garis Besar Haluan Negara pada pemerintahan Soekarno.

Pidato ini kemudian dikenal dengan sebutan “Manifesto Politik Republik Indonesia”, setelah sebelumnya Presiden Soekarno mencangkan sistem demokrasi terpimpin dalam mengatur pemerintahan. Berdasarkan Tap MPRS No. I/MPRSI1960, pidato itu kemudian ditetapkan sebagai garis-garis besar haluan negara RI dan pedoman resmi dalam perjuangan penyelesaian revolusi.

IMNU Tegal

Di kancah perpolitikan dunia Arab pada masa itu, kitab ini punya pengaruh yang sangat besar. Kitab ini berisi tentang pandangan-pandangan revolusioner Soekarno yang saat itu ditahbiskan sebagai pemimpin Asia-Afrika, penggagas “Gerakan Non-Blok”, sekaligus pengilham kemerdekaan negara-negara dunia ketiga.

Terlebih lagi Mesir, yang saat itu baru menjalani 7 (tujuh) tahun masa revolusi (Juli 1952) yang dipimpin oleh Gamal Abdel Nasser. Tokoh revolusioner Nasser yang saat itu menjadi presiden Mesir dan dijuluki “Za’îm al-‘Âlam al-‘Arabî” (Pemimpin Dunia Arab) menyatakan dirinya sebagai murid gerakan revolusi Soekarno.?

Antara Nasser dan Soekarno terjalin hubungan persahabatan yang sangat erat. Dihitung dari tahun 1959, Presiden Soekarno sebelumnya sudah mengunjungi Mesir sebanyak 2 (dua) kali, yaitu pada 1955 dan 1958.

IMNU Tegal

Keberadaan kitab ini menjadi saksi bisu jika pada masa itu Indonesia yang belum genap 17 tahun masa kemerdekaan sudah memiliki pengaruh yang besar di kancah dunia Arab, menjadi “guru” bagi para pemimpin negara-negara Arab yang saat itu baru merdeka dari penjajahan Inggris dan Prancis.

Lebih dari itu, Indonesia bahkan sudah mampu “mengekspor” ideologi, gagasan, dan kebijakan nasionalnya.

Dalam halaman terakhir kitab “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ”, misalnya, dibuatkan glossary tentang falsafah kerakyatan dan kenegaraan Indonesia, seperti Pancasila (al-Mabâdi al-Khamsah) yang dalam bahasa Arab diterjemahkan butir-butirnya dengan; (1) al-Îmân billâh, (2) al-Insâniyyah, (3) al-Qaumiyyah al-Indûnisiyyah, (4) Siyâdah al-Sya’b, dan (5) al-‘Adâlah al-Ijtimâ’iyyah. Pancasila adalah ideologi hasil ijtihad para pediri bangsa-negara Indonesia yang memanifestasikan perpaduan nilai-nilai luhur keagamaan dan nasionalisme.

Selain Pancasila, tertulis juga tentang “al-Ta’addud fî al-Wihdah” (Bhinneka Tunggal Ika). Dijelaskan disana, bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah (? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?), yakni “bahwasannya Indonesia meskipun terdiri dari berbagai wilayah dan bangsa yang berbeda-beda, namun bersatu dalam kesatuan yang teguh”.

Terdapat juga falsafah hidup khas Nusantara yang diulas di glossary kitab ini, yaitu “al-Ta’âwun al-Musytarak” atau Gotong Royong.

Keberadaan kitab ini sezaman dengan kitab-kitab karangan ulama Nusantara yang ditulis dan diterbitkan di Timur Tengah pada saat itu, seperti Syaikh ‘Abd al-Qâdir al-Mandailî, Syaikh ‘Abd al-Hamîd al-Khatîb al-Minangkabâwî al-Makkî, Syaikh Muhammad Yâsîn ibn ‘Îsâ al-Fâdânî, Syaikh Marzûqî al-Batâwî, Syaikh Ihsân ibn Dahlân al-Jamfasî al-Kedîrî, dan lain-lain.

Di tahun yang sama dengan terbitnya kitab “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ” ini (1959), seorang ulama besar Nusantara, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), diundang untuk datang ke Universitas Al-Azhar Kairo untuk menerima gelar doktor honoris causa (duktûrah al-syaraf).

?

Penulis adalah Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pendidikan, Pesantren, Amalan IMNU Tegal

Sabtu, 09 September 2017

Kasih Sayang dan Keteladanlah Kunci Pendidikan

Demak, IMNU Tegal



Tidak disebut mendidik jika tidak mengedepankan kasih sayang. Tidak disebut guru jika seseorang tidak bisa memberi keteladanan. Sifat rahman dan memberi uswah hasanah (contoh mulia) itulah kunci pendidikan. Terutama untuk pendidikan anak usia dini (PAUD). 

Kasih Sayang dan Keteladanlah Kunci Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kasih Sayang dan Keteladanlah Kunci Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kasih Sayang dan Keteladanlah Kunci Pendidikan

Barangkali karena inspirasi dari prinsip moral para guru PAUD itulah, para peraih juara di Festival PAUD Demak yang digelar di halaman kantor Bupati Demak, Jumat (8/12) memiliki nama yang seirama. 

Di ajang kreativitas membacakan buku cerita dan mendongeng (story telling) yang diikuti 59 PAUD se Kabupaten Demak dan Kota Semarang ini, pemenangnya adalah PAUD Abdurrahman Wahid asal Bonang, Demak. Disusul juara II PAUD Uswatun Hasanah, juga dari Bonang Demak, diikuti juara III PAUD Al-Mubarok dari Kota Demak. 

Adapun juara harapan I sampai III adalah PAUD Bina Sejahtera dari Bonang, PAUD Ceria dari Mranggen (keduanya di Demak), dan PAUD Darul Iman dari Genuk, Kota Semarang. Seluruh peraih juara tersebut mendapat hadiah uang pembinaan dari penyelenggara Fesival, yaitu Ananda Marga Universal Relief Team (AMURT) Indonesia.

Ketua Yayasan AMURT Indonesia Bayu Laksma Pradana memberikan hadiah kepada para pemenang, diiringi tepuk tangan meriah para peserta dan hadirin yang berjumlah 1.200 orang. 

IMNU Tegal

Dalam sambutannya, Bayu mengatakan, AMURT Indonesia sangat menghargai keikhlasan para guru PAUD yang begitu mulia hatinya memberikan ilmunya tanpa imbalan materi kepada para anak anak desa maupun kota. Mereka benar benar memberi harapan adanya generasi yang berakhlak mulia serta berguna bagi bangsa dan negaranya.

IMNU Tegal

Tak lupa ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu AMURT Indonesia memberi layanan pengembangan pendidikan usia dini di wilayah kerja Demak dan Kota Semarang selama ini. 

Disebutkan secara jelas, pihak yang membantu adalah para pengurus Himpunan Pendidik Anak Usia Dini (HIMPAUDI), para pegiat komunitas peduli PAUD, para pemuka masyarakat, kepala desa, camat, pejabat dinas pendidikan, dan juga kepala daerah dan wakil rakyat. 

"Terima kasih tak terhingga juga kami sampaikan kepada para ibu dan bapak yang mendukung adanya pendidikan usia dini sehingga anak anaknya menjadi siswa PAUD yang luar biasa," tuturnya didampingi para pegiat AMURT Indonesia. (Ichwan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nasional, Pendidikan IMNU Tegal

Jumat, 08 September 2017

Sholawat Barzanji Rendra untuk Meneladani Rasul

Jakarta, NU.Online
Untuk merayakan maulud nabi Muhammad saw Rendra melakukan pementasan Sholawat Barzanji di lapangan tennis indoor Senayan? Jakarta 12, 13, 14 Mei 2003. Pementasan ini merupakan karya lama Rendra yang telah dipentaskan pertama kali tahun 1969 dengan judul Kasidah Barzanji dan mencapai Box Office yang sampai saat ini belum tertandingi.

Kitab Barzanji dikarang oleh Syed Jaafar al-Barzanji ibn Syed Hasan ibn Syed Abdul-Karim ibn Syed Muhammad al-Madani ibn Syed Rasul (1609-1766 M). Nama kitab Al-Barzanji diambil dari nama pengarangnya, yang tak lain juga dinisbahkan dari tempat asal keturunan sang penulis, yakni daerah Barzinj (Kurdistan). Kita ini juga biasa disebut kitab Iqd Aljawahir (Kalung Permata),

Pembacaan kosidah berjanji merupakan tradisi yang biasa dijalankan di pesantren atau warga NU pada malam Jum’at. Ini dilakukan untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta agar umat Islam meneladani kepribadian Rasulullah. Di dalam kitab tersebut dilukiskan riwayat hidup Nabi SAW dengan bahasa Arab yang indah, berbentuk puisi dan prosa, serta kasidah yang sangat menarik perhatian orang untuk membacanya/mendengarnya.

Selain berzanji, puisi yang biasa dibaca oleh warga NU dalam memperingati perayaan-perayaan keagamaan atau rutinitas seperti tiap malam Jum’at adalah kitab Diba’ dan Burdah.

Pertunjukan sholawat berzanji ini merupakan usaha untuk mereaktualisasikan kembali nilai hari-hari besar Islam dalam hal ini adalah maulud nabi dan sekaligus memberikan hiburan seni yang sehat dan mencerdaskan bagi masyarakat. Peringatan maulud tidak harus dengan pengajian akbar, tapi juga dirayakan dengan berbagai event kesenian yang islami.

Pertunjukan Rendra ini disetting dengan suasana gurun pasir serta dibangun dengan suasana bulan purnama yang bermandikan cahaya. Untuk mendukung suasan ini lembaran-lembaran kain dengan berbagai warna dibentangkan melajur di bagian tengah panggung.

Suara koor mengalun merdu ditengah keheningan penonton dengan menyuarakan puji-pujian kehadiran nabi. Ya, Nabi, salamalaika. Ya, Rasul, salamalaika. Ya, habib, salamalaika. Salawatullaalaika, Diantara alunan sholawat, suara azan dan lantunan ayat Al Quran yang mengharukan menggugah rasa spiritualitas penonton.

Di panggung, para aktor berpakaian warna gelap, dengan kain sarung dan berpeci. Para aktris dengan pakaian panjang dan tutup kepala. Seorang aktor berbadan tegap mengibarkan bendera putih. Mereka menabuh rebana.

Dengarlah jerit batin anak manusia, Duhai, Ya Allah Mahamustika Cahaya hormatilah untuk Mustofa bapak tawanan dan para hina. Begitupula untuk warganya, tajuk mahkota semoga iman hadir di saat ajal, semoga didapat apa yang diminta apa didamba. Jagalah kami dari laku yang nista laku yang luka ....

Begitupun saat Rendra bermonolog menceritakan kemuliaan Muhammad saw. Kemuliaan Muhammad melalui ciri dan sifat-sifatnya. Ia adalah manusia sederhana dan rendah hati, karenanya mulia. Selama ada dia tidak satu bulan pun bersinar terang, demikian petikan monolog itu.

Tak jarang, suasana mistis sufisme membayang di tengah lautan salawat dan doa serta barzanji. Dengan gerak teaterikal, bangun grouping, Rendra mengalirkan bah kerinduan pada Nabi saw.

Ditengah-tengah salawat, monolog Ken Zuraida mengusik, Namaku Zaitun. Hidupku seperti malam. Jiwaku gamang, mengembara di kegelapan, tanpa bintang. Tanganku menggapai tanpa pegangan .... Suara yang menggambarkan jerit tangis yang tak tahan menanggung dosa. Jiwa yang selama ini terbenam dalam lumpur hawa nafs, ketika hidup hanya untuk mencari harta, menjadi pemenang atau pecundang, membantai atau dibantai.

? Saudara-saudariku, aku mendengar kasidah dan salawatan. Aku mendegar kisah dan cakrawala yang kamu bentangkan. Akhirnya aku membaca sirah Muhammad Rasullah, Bulan purnama muncul!, Bulat sempurna, Bau wangi menegur sepi, Keramahan membawa kehangatan dan kedamaian. Demikianlah petikan akhir monolog yang merupakan usaha penyadaran spiritual untuk meneladani Muhammad saw.

Sentuhan musik yang ritmik dari Ade A Kholiq, gesekan biola, denting kecapi, sayatan seruling, yang diramu dengan baik, membuat pertunjukan ini memikat. Begitupun tari zapin yang ditata Boi G Sakti dengan Sanggar Gumarang Sakti menambah daya tarik pertunjukan tersebut. (rp/mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Ulama, Pendidikan IMNU Tegal

Sholawat Barzanji Rendra untuk Meneladani Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)
Sholawat Barzanji Rendra untuk Meneladani Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)

Sholawat Barzanji Rendra untuk Meneladani Rasul

Selasa, 29 Agustus 2017

Ansor Sidoarjo Sikapi Berbagai Berita Miring di Medsos

Sidoarjo, IMNU Tegal. Pasca aksi penolakan penceramah Khalid Basalamah, oleh GP Ansor dan Banser Sidoarjo pada acara pengajian di masjid Shalahuddin, Gedangan, Sidoarjo, Sabtu (4/3) kemarin, banyak bermunculan berita miring di media sosial terkait adanya aksi tersebut.

Ansor Sidoarjo Sikapi Berbagai Berita Miring di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Sidoarjo Sikapi Berbagai Berita Miring di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Sidoarjo Sikapi Berbagai Berita Miring di Medsos

Menyikapi adanya berita yang tidak benar itu, Ketua GP Ansor Sidoarjo, H Rizza Ali Faizin mengklarifikasi dan menjelaskan kronologi sebenarnya. Pasalnya, disengaja atau tidak, namun itulah gaya mereka dalam berdakwah, menyebarkan berita yang tidak sebenarnya, mendramatisir bahkan keluar dari konteks kejadian dengan tujuan menjelekkan kelompok lain dan mengambil simpati.

Rizza menegaskan, penolakan itu sebenarnya bukanlah acara pengajian atau majlis ilmunya. Namun, ceramah Khalid Basalamah yang dianggap memprovaksi dan rentan menimbulkan konflik itulah yang kemudian menjadi pokok persoalan. Padahal, sebelumnya sudah ada kesepakatan, bahwa panitia tidak akan menghadirkan Khalid Basalamah.

"Yang kita tolak bukanlah majlis ilmunya, sebagai bukti ketika Basalamah turun, diganti Ustadz lain, kita tidak mempermasalahkan. Bukan perbedaan madzhabnya, tapi bagaimana menghargai perbedaan. Ansor dan NU sudah terbiasa berbeda faham dengan Muhammadiyah dan aliran lain yang seiman, bahkan dengan agama lain. Namun tidak ada provokasi dan tetap hidup dengan rukun dan damai," kata Rizza dalam releasenya kepada IMNU Tegal, Ahad (5/3).

Rizza mengungkapkan, pada saat forum mediasi oleh Kapolresta antara MWCNU, Ansor, panitia dan pengurus masjid, Kapolresta meminta bukti rekaman atau contoh ceramah Khalid Basalamah yang dianggap memprovaksi dan rentan menimbulkan konflik?. Ansor sudah menyiapkan 3 video bagaimana Khalid Basalamah menelanjangi ajaran lain, menyalahkan aliran lain tanpa memahami duduk permasalah, mensyirikkan tampa perbandingan dalil.

IMNU Tegal

Sebelumnya, terjadi negoiasi dengan Kapolresta, panitia menyatakan bahwa yang ceramah bukan Khalid Basalamah melainkan CD rekaman. Inilah gaya mereka berbohong. Dan ketika mengetahui bahwa yang berceramah adalah asli Khalid Basalamah, maka Ansor merasa dibohongi. Namun, Ansor dan Banser tetap sabar. Dan tetap pada koridor negoisasi dan percaya pada pihak kepolisian.

"Namun apa yang terjadi? berita yang beredar di media kita melakukan pembubaran, bentrok bahkan merusak masjid, gereja dijaga namun kegiatan ilmu sesama Muslim dibubarkan dan banyak berita miring yang muncul. Masyallah, tidak ada satupun aset rumah Allah yang dirusak dan dikotori oleh Ansor Banser NU," tegas Rizza.

Justru, lanjut Rizza, saat situasi sudah tenang dan selesai karena ada kesepakatan MoU bahwa panitia akan menghentikan ceramah Khalid Basalamah serta tidak akan menaikkan mimbar lagi, bahkan pengurus masjid tidak akan mengundangnya dikemudian hari. Tiba-tiba ada laporan bahwa Ketua PAC Ansor Tulangan, Zaini, dipukul jamaah pegajian. Dan pemukulnya sudah diamankan polisi.

"Saat di Mapolsek Gedangan, Zaini tidak melawan, justru Zaini memaafkannya, kerena Islam yang diajarkan para pendiri NU adalah Islam yang ramah. Atas nama Ukhuwah Islamiyah pelaku yang mengaku warga Kamal dimaafkan," tuturnya.

IMNU Tegal

Selain melakukan penolakan terhadap penceramah Khalid Basalamah, PC GP Ansor Sidoarjo juga meminta untuk melakukan Tabayyun, berdialog dan berbagi ilmu dengan Khalid Basalamah, tujuannya adalah menjaga tradisi keilmuan sekaligus ingin menghilangkan kesalahfahaman.

Namun permintaan ditengah negoisasi itu tidak kesampaian, karena Ansor konsentrasi atas hasil kesepakatan (MoU) untuk mendinginkan suasana. Rizza berharap, ke depan cita-cita mempertemukan antara Khalid Basalamah dengan Kiai NU akan terselenggara. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pendidikan, Ahlussunnah, Halaqoh IMNU Tegal

Senin, 21 Agustus 2017

Brebes Sambut Hijriyah dengan Rebana dan Kaligrafi

Brebes, IMNU Tegal. Pemerintah Kabupaten Brebes menyambut tahun baru 1435 Hijriyah dengan menggelar Festival Rebana dan Kaligrafi di pendopo kabupaten Selasa (5/11). 

Brebes Sambut Hijriyah dengan Rebana dan Kaligrafi (Sumber Gambar : Nu Online)
Brebes Sambut Hijriyah dengan Rebana dan Kaligrafi (Sumber Gambar : Nu Online)

Brebes Sambut Hijriyah dengan Rebana dan Kaligrafi

Menurut Ketua Panitia Festival, Syaiful Islam, Sebanyak 26 grup perwakilan dari 17 kecamatan mengikuti rebana. Sedangkan kaligrafi diikuti 34 anak SMP 34 dan anak SMA.

Syaiful menambahkan, kegiatan tersebut memperebutkan piala bupati dan sejumlah uang pembinaan.

IMNU Tegal

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE membuka festival dengan cara memukul gong. Dalam kata sambutan, ia berharap momentum Hijriyah digunakan untuk introspeksi diri.

Dalam artian, Idza menambahkan, menata kehidupan dari yang tidak baik menjadi baik dan terus berbuat kebaikan dari detik, menit, jam, hari, minggu, bulan hingga tahun berikutnya. “Jangan sampai kita tersandung jatuh ke lubang yang sama,” tuturnya.

IMNU Tegal

Demikian juga dengan Pemkab Brebes, kata dia, berusaha menata kehidupan masyarakat Brebes lebih Islami. Antara lain selalu menyelenggarakan event-event religius. “Pada tanggal 8 November nanti, juga akan digelar pembacaan Yasin secara massal oleh 20 ribu orang,” paparnya.

Kegiatan tersebut berlangsung hingga malam hari. Pemenang Festival Rebana, juara 1 mendapatkan 1 set alat marawis, sejumlah uang pembinaan dan piala. Juara 2 mendapatkan 1 set alat hadrah, uang pembinaan dan piala dan juara 3 mendapatkan 1 set alat qosidah, uang pembinaan dan piala. Sedangkan untuk juara Kaligrafi, juara 1 sampai 3 akan mendapatkan 1 buah laptop. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nasional, Pendidikan, Cerita IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock