Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Februari 2018

Pergunu Jabar-Irsyad Trust Limited Singapore Selenggarakan Instructional Mastery

Sukabumi, IMNU Tegal. Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Barat menjalin kerjasama dengan Irsyad Trust Limited Singapore melaksanakan kegiatan pelatihan Instructional Mastery (IM). ? Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, (20-22/7) di Pondok Pesantren Assamsyuriah dan diikuti 50 peserta guru-guru NU se-Kabupaten Sukabumi.

Sekretaris PERGUNU Jawa Barat, Saepuloh menyampaikan bahwa Pergunu merupakan organisasi profesi guru di bawah Nahdlatul Ulama yang berperan dalam meningkatkan kompetensi profesional, pendagogi, kepribadian, sosial serta Aswaja dan Ke-NU-an guru-guru NU.?

"PERGUNU bukan hanya mengembangkan dan meningkatkan kompetensi profesional, pendagogik, sosial, dan kepribadian guru, melainkan pergunu udah harus meningkatkan kompetensi Aswaja dan Ke-NUan guru-guru NU" tutur Saepuloh

Pergunu Jabar-Irsyad Trust Limited Singapore Selenggarakan Instructional Mastery (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Jabar-Irsyad Trust Limited Singapore Selenggarakan Instructional Mastery (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Jabar-Irsyad Trust Limited Singapore Selenggarakan Instructional Mastery

Lebih lanjut Saepuloh menyampaikan kerjasama dengan Irsyad Trust Limited Singapore ini juga merupakan bagian dari program Pergunu Jawa Barat dalam upaya peningkatan SDM guru-guru NU.?

"Kegiatan kerjasama dengan Irsyad Trust Limited Singapore ini diselenggarakan bukan hanya di Kabupaten Sukabumi, melainkan akan diselenggarakan juga di empat kabupaten/kota lainnya, yaitu Kabupaten Cianjur, ? Purwakarta, Kabupaten Bandung Barat dan Kuningan," tutur Saepuloh.

Sementara itu, Hafidz Othman direktur Program Kerjasama dari Irsyad Trust Limited Singapore mengatakan bahwa kegiatan kerjasama pelatihan bagi guru-guru NU sebenarnya sudah dilaksanakan lebih dulu dengan LP Maarif DKI Jakarta selama delapan bulan dan masih berlanjut sampai sekarang.?

IMNU Tegal

"Kegiatan pelatihan ini, sudah dilaksanakan lebih dulu kerjasama dengan LP Maarif DKI selama delapan bulan dan masih berlanjut sampai sekarang. Dan bukan hanya itu, kegiatan ini juga telah dilaksanakan di Thailand, Kamboja, Filipina dan China," tutur Hafidz.

Sementara itu, Bupati Sukabumi yang diwakili Kabag Sosial Keagamaan mengatakan bahwa program PERGUNU Jawa Barat ini sangat membantu dalam ? mewujudkan visi misi kab sukabumi yang religius dan mandiri, karena visi dan misi tersebut bisa tercapai manakala pendidikannya ? berbasis keagamaan.

"Pemda Kabupaten Sukabumi ? menyambut baik kegiatan ini, dan ini juga harus disambut pula oleh peserta dengan baik agar kualitas setelah pelatihan bisa meningkat dan bermanfaat bagi daerah setempat," tutur Unang

Kegiatan pelatihan tersebut akan dilanjutkan pada 3-5 Agustus 2017 mendatang. Instruktur kegiatan pelatihan semuanya dari Irsyad Trust Limited Singapore, Kamshari dan Madam Zainab. (Awis/Zunus)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nasional, Humor Islam, Tegal IMNU Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Maroko Sepakat Tambah Kuota Beasiswa Mahasiswa NU

Rabat, IMNU Tegal. PBNU diwakili Rais Syuriyah KH Mujib Qulyubi menemui Dirokterat Talimul Atiq Maroko Abdelwahid Bendaoud. Kedatanganya untuk mengajukan penambahan kouta penerimaan mahasiswa NU di universitas-universitas negara tersebut.

Maroko Sepakat Tambah Kuota Beasiswa Mahasiswa NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Maroko Sepakat Tambah Kuota Beasiswa Mahasiswa NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Maroko Sepakat Tambah Kuota Beasiswa Mahasiswa NU

Sebelumnya negara tersebut menyepakati menerima 10 mahasiswa per tahun untuk S1 di Insitut Imam Nafi di kota Tanger. Sementara S2 di Institut Darul Hadits, Rabat.

Pada pertemuan Jumat 12 desember 2014 lalu tersebut, negara tersebut memberikan tawaran beasiswa di Ta’limul Atiq Qurawiyyin di kota Fez.

IMNU Tegal

"Adapun persyaratannya minimal hafal 20 juz, berbeda dengan aturan yang diterapkan untuk pelajar Maroko, yakni 30 juz," ujar Abdelwahid.

Pertemuan tersebut didampingi Fungsi Pensosbud KBRI Rabat Muhammad Hartantyo beserta stafnya, serta Ketua Tanfidziyah PCINU Maroko Kusnadi. (Fairuz Ainun Naim/Abdullah Alawi)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tegal IMNU Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Media Massa Bertanggung Jawab Terhadap Kemajuan Bangsa

Way Kanan, IMNU Tegal. Media massa, baik cetak maupun elektronik memiliki tanggung jawab untuk kemajuan bangsa dengan jalan mencerdaskan masyarakat melalui pemberian informasi yang memiliki nilai positif sebagaimana perintah Islam, bukan sebaliknya.

"Salah satu fungsi media menurut pelopor teori komunikasi Harold D. Laswell untuk mendidik. Tapi dewasa ini, banyak ditemui sejumlah media justru mengabaikan fungsi utamanya, melanggar Kode Etik Jurnalistik atau KEJ hingga mengingkari Al Quran," ujar penggiat Gusdurian Lampung, Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Kamis (3/11).

Media Massa Bertanggung Jawab Terhadap Kemajuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Massa Bertanggung Jawab Terhadap Kemajuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Massa Bertanggung Jawab Terhadap Kemajuan Bangsa

Ia mencontohkan, berita berjudul "Gus Ishom Klarifikasi Buku 7 Dalil Umat Islam DKI dalam Memilih Gubernur" di IMNU Tegal diubah dengan judul "Nah Lho, Tokoh NU Ini Protes Namanya Dicatut Oleh Kubu Ahok-Djarot Untuk Kampanye" di media online lain.

"Banyak berita dengan judul-judul provokatif, bombastis dan berlebihan di berbagai media online yang mengaku sebagai media Islam dengan isi berita tidak bernilai positif. Hal tersebut tentu saja berbanding terbalik dengan Islam Rahmatan lil Alamin," kata penggiat Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) Lampung itu.

Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung itu menambahkan, dalam buku The Elements of Journalism, What Newspeople Should Know and the Public Should Expect (New York: Crown Publishers), Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2001), merumuskan Sembilan Elemen Jurnalisme. Antara lain, kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran.?

IMNU Tegal

"Selain independen, prinsip lain ditegaskan keduanya tentang esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi. Jurnalisme berfokus utama pada apa yang terjadi, seperti apa adanya. Berbeda dengan propaganda yang menyeleksi fakta atau merekayasa fakta, demi tujuan sebenarnya, yaitu persuasi dan manipulasi," ujar dia menjelaskan.

Media-media massa yang mengabaikan esensi jurnalisme tersebut, imbuh dia, jelas melanggar KEJ yang ditetapkan Dewan Pers melalui Peraturan Dewan Pers Nomor: 6/Peraturan-DP/V/2008 Tentang Pengesahan Surat Keputusan Dewan Pers Nomor 03/SK-DP/III/2006 tentang Kode Etik Jurnalistik Sebagai Peraturan Dewan Pers.

IMNU Tegal

Pasal satu KEJ menegaskan: Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk. Lalu pasal ketiga KEJ menegaskan: Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

Karena itu, kata dia lagi, pemerintah melalui institusi terkait harus mengambil langkah tegas terhadap keberadaan media massa-media massa yang menyebarluaskan hal-hal negatif. Adapun bagi umat Islam dalam menyikapi media-media propaganda tak bertanggungjawab ialah dengan tidak mengingkari Al-Quran.

QS Al Hujuraat [49] ayat 6: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."

Atau QS An Nuur [24] ayat 15: "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar."

"Jika film menurut Errol Morris suatu karya yang bisa membangun dan membudayakan suatu negara atau sebaliknya, berita juga mempunyai peluang demikian, konteks positif dari hal tersebut semestinya dipahami dan dilakukan seluruh jurnalis berikut media massa di Indonesia," demikian Gatot Arifianto. (Syuhud Tsaqafi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tegal IMNU Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Kiai Abbas Buntet: Kiai Sufi Pejuang Negeri

Salah satu kiai yang menjadi pejuang pada masa revolusi ialah Kiai Abbas bin Abdul Jamil, Buntet Cirebon. Kiai Abbas merupakan kiai kharismatik, yang dikenal karena pengetahuan keislaman, keteduhan spiritual dan kekuatan ilmu kanuragan yang menjadikan beliau sebagai rujukan dalam perang kemerdekaan. Kiai Abbas, dikenal sebagai Angkatan Udara Nahdlatul Ulama, yang menghancurkan beberapa pesawat tempur tentara NICA, dalam perang kemerdekaan di Surabaya, November 1945. Uniknya, Kiai Abbas menggunakan bakiak, tasbih dan butiran pasir sebagai senjata untuk merontokkan pesawat tempur musuh. Bagaimana kisahnya?

Kiai Abbas merupakan putra sulung dari Kiai Abdul Jamil, pengasuh pesantren Buntet, Cirebon. Beliau lahir pada 24 Dzulhijjah 1300 H/1879 M, di Cirebon, Jawa Barat. Pada masa kecilnya, Kiai Abbas belajar mengaji dengan Kiai Nasuha Plered Cirebon dan Kiai Hasan, Jatisari. Setelah itu, Abbas kecil berkelana untuk mengaji ke Tegal, di bawah asuhan Kiai Ubaedah. Setelah itu, menuju Jombang, Jawa Timur untuk mengaji kepada Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari.

Pada kisaran tahun 1900an, Kiai Abbas datang untuk belajar ke pesantren Tebu Ireng, Jombang. Beliau datang bersama saudaranya, yakni Kiai Sholeh Zamzam, Kiai Abdullah Pengurangan, dan Kiai Syamsuri Wanatar. Pada waktu itu, pesantren Tebu Ireng masih sering diganggu oleh musuh, yakni berandal-berandal lokal di sekitar Pabrik Gula Cukir. Bersama santri-santri lainnya, Kiai Abbas membantu Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari melawan bandit lokal yang mengganggu pesantren. Akhirnya, para berandal lokal dan bandit-bandit kecil kalah dalam adu ilmu kanuragan (Masyamul Huda, 2014). PesantrenTebu Ireng menjadi aman, serta jadi rujukan santri untuk mengaji.

Kiai Abbas Buntet: Kiai Sufi Pejuang Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Abbas Buntet: Kiai Sufi Pejuang Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Abbas Buntet: Kiai Sufi Pejuang Negeri

Ketika belajar di pesantren, bakat sebagai pemimpin, ahli ilmu, ahli strategi dan watak periang sudah terlihat dalam diri Kiai Abbas. Beliau berkawan karib dengan Kiai Wahab Chasbullah, putra Kiai Chasbullah Said, Tambakberas, Jombang. Setelah melalang buana di pesantren Jawa, Kiai Abbas kemudian menikah dan berangkat haji ke tanah suci. Di tanah Arab, Kiai Abbas bertemu dengan banyak kawan asal Nusantara yang belajar di Hijaz. Ia banyak diskusi dengan mereka, untuk memperdalam pengetahuan agama dan wawasan global.

Kemudian, Kiai Abbas pulang sebentar ke tanah air, dan kembali lagi ke tanah suci untuk belajar. Di Makkah, Kiai Abbas menjadi santri Syekh Ahmad Zubaidi. Kiai Abbas juga belajar kepada Syekh Mahfudh at-Termasi dan Syaikh Chatib al-Minangkabawi. Di tanah suci, Kiai Abbas dengan tekun belajar, diskusi dan menggelar pelbagai majlis ilmu bersama kawan-kawannya. Pada usia 40 tahun, Kiai Abbas mendapatkan tugas sebagai pengajar.

Mengembangkan Pesantren Buntet

IMNU Tegal

Sekembali ke tanah air, Kiai Abbas kemudian mengembangkan pesantren Buntet, yang menjadi peninggalan ayahandanya. Di bawah asuhan Kiain Abbas, pesantren Buntet menjadi ramai oleh santri dan terkenal sebagai salah satu rujukan dalam mengaji serta memperdalam ilmu Islam. Bagi Kiai Abbas, siapa saja boleh datang untuk mengaji di pesantren, untuk belajar berbagai macam ilmu. Pengetahuan dan wawasan yang diperoleh Kiai Abbas ketika belajar di pesantren dan mengaji di tanah suci, digunakan untuk menguatkan model pendidikan pesantren Buntet. Di pesantren ini, pada masa Kiai Abbas, bermacam ilmu diajarkan, dari ilmu al-Qur’an, ilmu Qiroat, Hadist, Tauhid hingga kanuragan menjadi bagian dari tradisi pembelajaran santri.

Kiai Abbas, selain mengasuh santri, juga menjadi _mursyid_ tarekat Syattariyah dan _muqoddam_ tarekat Tijaniyyah. Dalam catatan Muhaimin AG, Kiai Abbas termasuk sosok kiai dengan pikiran yang terbuka. Ketika beberapa Kiai menolak tarekat Tijaniyyah, Kiai Abbas menerima sebagai salah satu alternatif dalam laku batin. Di Cirebon, dalam perkembangannya, tarekat Tijaniyah berkembang, dengan Kiai Abbas dan Kiai Annas sebagai muqoddamnya. Kiai Annas kemudian melahirkan beberapa kiai yang menjadi penerus muqoddam dalam praktik tarekat Tijaniyyah: Kiai Muhammad (Brebes), Kiai Bakri (Kasepuhan, Cirebon), Kiai Muhammad Rais (Cirebon), Kiai Murtadho (Buntet), Kiai Abdul Khair, Kiai Hawi (Buntet), serta Kiai Soleh (Pesawahan). Sedangkan, Kiai Abbas mencetak beberapa penerus dalam tarekat ini, yakni: Kiai Badruzzaman (Garut), Kiai Ustman Dlomiri (Cimahi, Bandung), serta Kiai Saleh dan Kiai Hawi (Buntet) (Muhaimin, 2006: 264).

Kiai Abbas menjadikan pesantren Buntet sebagai rujukan santri. Beliau menambah staf pengajar untuk mengakomodasi kebutuhan santri-santri dalam belajar berbagai macam ilmu. Kiai Abbas juga mendirikan madrasah yang dipadukan dengan pendidikan sekolah. Madrasah inilah yang dinamakan Abna’oel Wathan, yang menegaskan visi perjuangan Kiai Abbas dalam membangun fondasi negara.

IMNU Tegal

Pejuang Revolusi

Kiai Abbas Buntet merupakan murid dari ulama Nusantara yang menjadi penyambung sanad para kiai: Kiai Nawawi al Bantani dan Syech Mahfudh at-Tirmasi. Selain Kiai Nawawi, ada beberapa murid lain yang juga menjadi kiai-kiai penting di Jawa, sebagai jaringan penggerak Nahdlatul Ulama. Di antaranya: Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muhammad Bakri bin Nur, Kiai Asnawi Kudus, Kiai Muammar bin Baidlawi Lasem, Kiai Ma’shum bin Muhammad Lasem, Haji Ilyas (Serang), Tubagus Muhammad Asnawi dan Abdul Ghaffar dari Caringin (Burhanuddin, 116).

Kiai Abbas, adalah sosok pejuang yang mencintai tanah air, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau menggembleng santri agar semangat memperjuangkan agama dan negara. Bahkan, pesantren Buntet juga menjadi markas latihan laskar Hizbullah, Sabilillah, dan pasukan PETA. Kiai Abbas juga membentuk dua regu laskar santri, yang dinamakan Asybal dan Athfal.

Dikisahkan, dalam pertempuran 10 November 1945, Kiai Abbas menggenggam pasir yang ditaburkan ke arah musuh. Aksi ini membuat musuh kocar-kacir, karena seakan-akan pasir yang ditaburkan menjadi meriam dan bom yang menghancurkan.

Sebelum pertempuran ini, Kiai Abbas juga ikut andil dalam keputusan Resolusi Jihad, yang merupakan keputusan para Kiai dalam rapat Nahdlatul Ulama di Bubutan, Surabaya, pada 21-22 Oktober 1945. Beberapa kiai, di antaranya Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri, Kiai Abbas Buntet, Kiai Wahid Hasyim, dan beberapa kiai lainnya berkumpul dalam sebuah majlis untuk membahas penyerbuan tentara NICA (_Netherlands Indies Civil Administration_). Fatwa Jihad yang digelorakan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari akhirnya menjadi catatan sejarah, sebagi pengobar semangat kaum santri untuk berjuang mempetahankan negeri.

Pada pertempuran 10 November 1945, Kiai Abbas ikut membaur dengan pejuang dari kalangan Kiai yang berpusat di Markas Ulama, di rumah Kiai Yasin Blauran Surabaya. Di rumah ini, para kiai berkumpul untuk merancang strategi, menyusun komando serta memberikan suwuk/doa kepada para santri pejuang yang bertempur melawan penjajah (Amin, 2008: 72)

Setelah masa perjuangan kemerdekaan, Kiai Abbas mendapat amanah sebagai anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat)—yang kedudukannya sebagai DPR sementara. Kiai Abbas mewakili area Jawa Barat, dalam kedudukannya sebagai anggota KNIP.

Kiai Abbas dikenal sebagai kiai yang memiliki ilmu kedigdayaan yang tinggi pada masa hidupnya. Beliau tak hanya berilmu agama mendalam, namun juga dikenal digdaya dan ampuh. Kemampuan Kiai Abbas dalam bidang _psychokinesys_—yang berangkat dari Cirebon menuju Surabaya dalam sekejap hentakan kaki, merupakan karomah yang diberikan Allah kepada beliau (Amin, 2008: 72). Inilah potret Kiai Abbas yang berjuang dengan ikhlas dan rela untuk menjaga negeri dari tangan penjajah. Sudah selayaknya, perjuangan Kiai Abbas menjadi referensi pewaris negeri, sebagai pahlawan dari kaum santri.

Munawir Aziz, Koordinator Teraju Indonesia, Wakil Sekretaris LTN PBNU, (@MunawirAziz)

Referensi:

Abdul Ghoffir Muhaimin, The Islamic Tradition of Cirebon: Ibadat and Adat among Javanese Muslim, Canberra: ANU Press, 2006.

_____________________________. Pesantren and Tarekat in the Modern Era: An Account of the Transmission of Traditional Islam in Java, Jakarta, Studia Islamika, 1997.

Abdul Wahid, Peranan Pondok Pesantren Buntet Cirebon bagi Kemajuan Lingkungan Pendidikan di Lingkungan Sekitar 1958-2009, Universitas Negeri Semarang, 2012.

Hasan AZ, Perlawanan dari Tanah Pengasingan: Kiai Abbas, Pesantren Buntet dan Bela Negara, Yogyakarta: LKIS. 2014.

Jajat Burhanuddin, Ulama dan Kekuasaan: Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia, Jakarta: Mizan, 2012.

Samsul Munir Amin, Karomah Para Kiai, Yogyakarta: LKIS. 2008.

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tegal, Nusantara IMNU Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Menjaga Hubungan Akrab NU dan Pemerintah

Rombongan pengurus PBNU yang dipimpin oleh Rais Aam KH Maruf Amin dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj diterima presiden Joko Widodo di Istana Merdeka pada Kamis (31/3). Banyak hal yang didiskusikan dalam pertemuan tersebut, terutama masalah-masalah kebangsaan. Belum ada seminggu, tepatnya pada Ahad 27 Maret 2016, Jokowi juga menghadiri puncak peringatan hari lahir ke-70 Muslimat NU di Malang. Di luar dua acara tersebut, susah untuk menghitung berapa kali pertemuan Presiden dengan tokoh atau komunitas NU. Kita tentu bersyukur dengan hubungan yang akrab ini mengingat banyak sekali persoalan bangsa yang membutuhkan kerjasama dari banyak komponen bangsa. ? Tanpa rasa saling mempercayai dan kerjasama yang baik, maka perjalanan bangsa ini juga mengalami banyak hambatan.?

Sesungguhnya, jika kita menengok perjalanan sejarah, hubungan NU dengan pemerintah selalu mengalami pasang-surut. Pada era Presiden Soekarno, ketika NU masih menjadi partai politik, Partai NU merupakan salah satu pendukung Soekarno. NU memberikan gelar waliyul amri adhharuri bisysyaukah. NU menjadi garda terdepan membela NKRI yang waktu itu sangat rentan terhadap perpecahan, termasuk pemberontakan oleh kelompok Islam melalui DI/TII.

Menjaga Hubungan Akrab NU dan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjaga Hubungan Akrab NU dan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjaga Hubungan Akrab NU dan Pemerintah

Pada era Orde Baru, massa NU yang besar dan solid dianggap menjadi ancaman eksistensi kekuasaan Golkar yang mendasarkan diri pada ABRI, Birokrasi, dan kino-kino Golkar. Karena itu, hubungan NU dan pemerintah mengalami masa-masa sulit. Banyak lembaga-lembaga pendidikan dengan nama NU dicurigai sehingga harus berganti nama. Untuk menggelar pengajian, sangat sulit dilakukan dan para intel pun mengawasi dengan ketat aktivitas para dai. Dengan berbagai cara, pemerintah berusaha menjegal Gus Dur dalam Muktamar NU di Cipasung tahun 1989 karena Gus Dur dianggap pemimpin oposisi. Pengabaian NU berarti negara telah mengabaikan sebagian besar potensi bangsa.?

Situasi berbalik setelah masa reformasi sampai dengan hari ini. Semua presiden pasca gerakan reformasi selalu menjaga hubungan baik dengan NU. Berbagai kebijakan penting terkait dengan hubungan agama dan sosial kemasyarakatan oleh pemerintah selalu meminta saran NU. Perhatian pemerintah terhadap aspek sosial, budaya, pendidikan, dan ekonomi warga NU ditingkatkan. Pesantren dan madrasah semakin meningkat dalam sisi pengakuan eksistensinya maupun bantuan dana, meskipun belum sesuai dengan harapan. Banyak pesantren mendapat program rusunawa untuk asrama santri, pemberian honor bagi para guru ngaji, diakuinya ijazah pesantren untuk masuk ke perguruan tinggi dan lainnya. Semua kebijakan tersebut baru tumbuh di era reformasi. Banyak hal telah berubah setelah komunitas NU diabaikan selama 32 tahun kekuasaan Orde Baru.

NU memang memiliki kekuatan massa besar yang tidak bisa diabaikan oleh siapapun. Apalagi saat dunia dihadapkan dengan merebaknya terorisme dan radikalisme serta aliran Islam transnasional. Mereka berusaha merobohkan NKRI sesuai dengan cita-cita dan ideologi yang diusungnya. Tentu saja NU dengan tegas akan membela NKRI. Ajaran Islam Ahlusunnnah wal Jamaah NU moderat, toleran, dan seimbang merupakan pilihan tepat bukan hanya bagi Indonesia, tapi juga bagi dunia. Tak heran Presiden Jokowi mendukung pengembangan Islam Nusantara yang digagas oleh NU sebagai cerminan Islam yang menghargai nilai-nilai lokalitas.?

Tentu saja hubungan baik tersebut bisa sangat bermanfaat bagi perjalanan bangsa ini. Banyak sekali persoalan kemasyarakatan yang tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah melalui berbagai kementerian dan lembaga negara lainnya. NU dengan jaringan yang dimilikinya bisa membantu berbagai program pemerintah sampai ke tingkat akar rumput. Banyak program tidak hanya butuh uang, tetapi pendekatan lain, seperti penanganan kasus terorisme dan radikalisme yang membutuhkan bimbingan agama yang benar bagi mereka yang terlanjur masuk aliran tersebut.?

IMNU Tegal

Posisi NU dihadapan pemerintah tidak dapat dikategorikan sebagai oposisi atau koalisi karena NU bukan partai politik. Jika ada kebijakan pemerintah yang tidak pas buat rakyat, tentu sudah sepatutnya bagi NU untuk mengingatkan pemerintah soal ini. Dengan pengalaman sejarahnya yang panjang, NU tidak takut atau enggan menyampaikan kritiknya. Tapi tentu saja, kritik bisa disampaikan secara santun dan tidak harus di depan publik. Yang penting adalah pesan tersebut sampai kepada pengambil kebijakan. Pengabdian NU adalah kepada bangsa dan negara, bukan kepada rezim pemerintahan tertentu yang setiap periode tertentu berganti. NU akan mengawal perjalanan bangsa ini, siapapun presidennya, siapapun pemerintahannya (Mukafi Niam)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Fragmen, Tegal IMNU Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Bulan Syaban, Perbanyak Baca Shalawat

Purworejo, IMNU Tegal. Barangsiapa yang ingin ditinggakan derajatnya, hendaknya memperbanyak membaca shalawat. Demikian pesan yang disampaikan KH Achmad Chalwani dalam acara "An-Nawawi Bershalawat" di komplek PP An-Nawawi Berjan, Purworejo, Ahad (13/5) malam.

Dalam kitab Madza Fi Syaban, kata Kiai Chalwani, disebutkan bahwa bulan Syaban adalah bulan shalawat. "Hal ini karena ayat Al-Quran yang berkaitan dengan shalawat diturunkan oleh Allah pada bulan Syaban, yaitu: innallaha wamalaikatahu yushalluna alan nabi ya ayyuhalladzina amanu shallu alahi wasallimu tasliema," terangnya.

"Ketika Allah perintah kita shalat, Allah sendiri tidak shalat. Ketika Allah perintah zakat, Allah tidak zakat, karena zakat untuk menyucikan, sedangkan Allah dzat yang paling suci. Ketika Allah perintah puasa, Allah tidak puasa, karena puasa itu benteng, sedangkan Allah lah benteng atau pelingdung itu sendiri. Ketika Allah perintah haji sowan baitullah, Allah tidak haji karena Allah lahtuan rumah. Akan tetapi ketika Allah perintah kita bershalawat, sebelum malaikat dan manusia bershalwatat, Allah sudah bershalwat, memberikan rahmat tadzim kepada Nabi Muhammad saw," terangnya di tengah ribuan hadirin.

Bulan Syaban, Perbanyak Baca Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bulan Syaban, Perbanyak Baca Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bulan Syaban, Perbanyak Baca Shalawat

Bahkan dalam berfirman terkait shalawat ini, lanjut Kiai Chalwani, Allah menggunakan "inna" dan dengan fiil mudzari, yushalluna. Dalam ilmu gramatika Arab, kata inna digunakan ketika orang belum percaya atau masih ragu. Ini artinya shalawat bukan hanya diwajibkan, tetapi sangat diwajibkan. Sedangkan fiil mudlari berupa yushalluna, berarti Allah senantiasa bershalawat, tak pernah berhenti bershalawat, hari ini, esok dan seterusnya.

"Adapun shalawat yang paling tua adalah Shalallah ala Muhammad. Maka, shalawat ini merupakan ummu shalawat, induk dari shalawat," terangnya.

IMNU Tegal

Lebih lanjut mantan DPD RI Jateng ini menerangkan, ketika Nabi Adam hendak menikah dengan Hawa. "Allah meciptakan Hawa kemudian langsung memakaikan pakaian terturup, memakai jilbab. Meski Hawa telah memakai jilbab, Nabi Adam tetap mengamati. Mohon maaf untuk para ibu, ini memang naluri lelaki, meski sudah tertutup, lelaki tetap mengamati," terangnya, disambut riuh hadirin.

Kemudian, lanjut Kiai Chalwani, Adam ingin memegang tangan Hawa dan ditegur oleh Allah, "Belum boleh memegang sebelum menikah. Kemudian Adam konsultasi kepada penasehat hukumnya, malaikat Jibril. Jibril melamarkan dan diterima Hawa dengan syarat, yaitu membaca shalawat kepada Nabi Muhammad. Nabi Adam belum bisa membaca shalawat, kemudian Jibril bilang: qul shalallah ala Muhammad. Menikahlan Nabi Adam dengan dewi Hawa dengan "mas kawin" shalawat."

Acara An-Nawawi Bershalawat merupakan salah satu rangkaian Akhirussanah Pondok Pesantren An-Nawawi. Disela-sela bershalawat, Kiai Chalwani menyisipkan ceramah dengan berbagai tema. Tampak hadir beberapa tokoh ulama dan dewan asatidz pesantren tersebut. (Ahmad Naufa/Zunus)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tegal, Sholawat IMNU Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Syaikh Mustafa Masud Nasihati Kaum Muda NU

Jombang, IMNU Tegal. Ulama sufi Ahlusunnah wal Jamaah, Syaikh Mustafa Masud al-Haqqani, menasihati kaum muda NU untuk instrospeksi diri dan merenungi kondisi serta peran perjuangan jamiyyah Nahdlatul Ulama terhadap bangsa Indonesia.

Syaikh Mustafa Masud Nasihati Kaum Muda NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Syaikh Mustafa Masud Nasihati Kaum Muda NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Syaikh Mustafa Masud Nasihati Kaum Muda NU

"Semoga NU akan menjadi suatu majelis yang bertumpu pada kesadaran, segala sesuatu karena rahmat Allah, supaya kami dapat merasakan betapa nikmatnya rahmat-Mu itu. Tercapai sudah perjuangan bangsa Indonesia untuk memulihkan kembali kemerdekaannya. Ini berkat rahmat Allah yang Mahakuasa," tuturnya saat memimpin Istighotsah penutupan Musyawarah Kaum Muda NU, Senin (3/8) sore, di halaman Universitas Wahab Chasbullah, Jombang.

Syeikh Mustafa mencontohkan tentang sosok tokoh NU yang juga menteri agama KH Abdul Wahid Hasyim. Kiai Wahid, dahulu pukul 10 pagi masuk kantor dengan melantunkan surat al-Baqarah, kemudian ashar pulang sudah sampai surat an-Nas.

IMNU Tegal

"Berarti (Abdul Wahid Hasyim) satu hari khatam sekali al-Quran. Ini akhlaknya NU. NU kok shalatnya telat, NU kok ngrasani (menggunjing) orang," singgung Mursyid Tarekat Naqshbandi Haqqani itu di hadapan ratusan kamu muda NU yang tergabung dari GP Ansor, Fatayat NU, PMII, IPNU, IPPNU, JNM, PPM Aswaja, HIPSI, dan lain-lain.

Dalam istighotsah tersebut, Syeikh Mustafa Masud membacakan dzikir yang mengandung asmaul husna, shalawat Nabi, pujian kepada para wali, dan dzikir-dzikir lainnnya.

IMNU Tegal

"Alhamdulillah petang ini kita bisa menjalani prosesi istighasah yaitu mengambil kesejukan dari Allah. Setiap orang mempunyai aura. Insyaallah lewat Istighotsah ini aura kalian semakin besar untuk mewarnai Nahdlatul Ulama sampai muktamar yang akan datang," doanya diamini serentak oleh hadirin.

Syeikh Mustafa mengimbau kepada kaum muda NU supaya tidak sembarang menyalahkan situasi dan kondisi Muktamar Ke-33 NU di Jombang kali ini. "Jangan mencela yang salah, kita tidak bisa menghakimi orang tua. Kita doakan, agar beliau-beliau diberi petunjuk Allah," harapnya.

Musyawarah Kaum Muda NU yang berlangsung 2-3 Agustus 2015 di arena Muktamar Ke-33 NU ini merupakan forum perbincangan, silaturrahim, dan jumpa gagasan kaum muda NU dari berbagai profesi, komunitas, keahlian, konsentrasi keilmuan, serta gerakan di masyarakat. Sementara forum yang dimusyawarahkan mulai dari keislaman Aswaja, persoalan keumatan, hingga perpolitikan. (M. Zidni Nafi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tegal, Budaya IMNU Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Rifa Anggyana, Nahkoda Baru KMNU UPI Bandung

Bandung, IMNU Tegal. Musyawarah Anggota Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Pendidikan Indonesia (KMNU UPI) Bandung mengamanatkan Rifa Anggyana sebagai Ketua Umum KMNU UPI untuk masa bakti 2013-2014.

Mahasiswa yang sedang menempuh S1 Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan di UPI Bandung ini memang dikenal sebagai aktivis kampus dengan segudang kegiatan dan prestasi. 

Rifa Anggyana, Nahkoda Baru KMNU UPI Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
Rifa Anggyana, Nahkoda Baru KMNU UPI Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)

Rifa Anggyana, Nahkoda Baru KMNU UPI Bandung

Pemilihan dilangsungkan di Masjid Al Falah Panorama, Bandung, Sabtu-Ahad (9-10/13). Pemilihan yang diikuti secara antusias oleh peserta musyawarah, berakhir pada 14.00 siang.

IMNU Tegal

Mantan Ketua KMNU UPI 2012-2013, Faisal Ramdan, berharap Rifa mampu membangun KMNU UPI menjadi lebih baik, meneruskan kaderisasi yang sudah berjalan, serta meneruskan program jangka panjang belum terselesaikan, yaitu mendirikan KMNU di kampus-kampus lainnya di Bandung.

IMNU Tegal

“Itu amanah yang harus sesegera mungkin di selesaikan, paling tidak selama satu tahun kedepan terbentuk sedikitnya 5 KMNU lagi di Bandung dan sekitarnya ,” ujarnya. 

Faisal menambahkan, Rifa pasti mampu untuk memimpin KMNU UPI karena ia sudah berkecimpung di dalamnya serta sarat akan pengalaman organisasi.

Saat di konfirmasi kesiapannya memegang amanah, Rifa Anggyana menyatakan siap. “ Insya Allah saya akan menjaga amanah ini dengan baik, saya siap !” tegasnya. 

Dari perwakilan alumni, Kang Khusnul berharap pengurus sekarang jangan sampai kehilangan arah perjuangan dan tetap konsisten menjaga ciri khas KMNU yang fokus membangun karakter kader NU yang memiliki keunggulan moralitas Islam, intelektualitas, humanitas, profesionalitas, sehingga terbentuk kader yang kritis, loyal dan militan.

Di kesempatan yang lain Kang Khusnul juga mengajak para alumni untuk terus mendukung kinerja KMNU UPI walaupun sudah tidak berada di kampus lagi, baik dengan pikiran, tenaga maupun finansial. 

Di wilayah kampus UPI Bandung, eksistensi mahasiswa NU semakin terasa. Namun yang masih kurang adalah membangun komunikasi dan jaringan dengan para dosen maupun manajemen kampus yang memiliki kesamaan latar belakang.

Di tengah masyarakat pun diharapkan kegiatan Saba Masjid terus di tingkatkan, sehingga hubungan dengan ulama dan masyarakat sekitar dapat terjalin dengan baik. Serta masyarakat mengetahui bahwa di UPI Bandung terdapat komunitas mahasiswa NU, tambah Kang Arif (mantan ketua KMNU UPI 2011-2012).

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Eko Rusli

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal PonPes, Tegal IMNU Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Kenapa Saya Gembira Ketika Gus Dur Presiden?

Sungguh sulit sebenarnya untuk mengungkapkan awal perkenalan secara fisik dengan ulama tersebut, karena peristiwa fisik sungguh belum pernah saya rasakan seutuhnya. Saya hanya bisa mengenal banyak dengan sosok yang nyentrik itu lewat tulisan-tulisannya.

Selain itu mengenal dia dari beberapa kebijakannya yang terbilang “mem-pri-ha-tin-kan” bagi kebanyakan orang di masa pemerintahannya dulu. Namun nyatanya, itu bukanlah awal perkenalan dengan nama tersebut.

Kenapa Saya Gembira Ketika Gus Dur Presiden? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Saya Gembira Ketika Gus Dur Presiden? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Saya Gembira Ketika Gus Dur Presiden?

Sebagai anak kelahiran Jakarta, saya terbilang jarang mengikuti berbagai informasi mengenai pergerakan ulama di negeri ini. Selain itu dengan status pelajar SD, saya belum tertarik mengenai hal tersebut.

IMNU Tegal

Namun saya memiliki sebuah pengalaman penting pada medio tahun 1999, dilaksanakanlah Pemilu usai terjadinya Reformasi. Kata yang akhirnya baru kumengerti saat menjadi mahasiswa kelak. Namun jujur, saat itu saya tak sama sekali tertarik dengan kalimat tadi dan akan memilih bermain bola sepak di lapangan dekat rumah yang masih tersedia.

Suatu keramaian terjadi di rumah. Saat itu seluruh penghuninya berkumpul bersama untuk menyaksikan televisi yang hanya terdiri dari beberapa chanel. Saya turut dipanggil untuk melaksanakan doa bersama di sela-sela tayangan itu. “Apa yang terjadi sih, sampai harus nonton sambil berdoa.” Begitulah kira-kira yang saya pikirkan.

IMNU Tegal

Di televisi sendiri, hanya ada dua buah gambar yang masing-masing terisi dua orang manusia yang sumpah mati belum pernah saya lihat sebelumnya. Seorang lelaki berpeci dengan background gambar berwarna hijau dan seorang wanita bersanggul dengan latarnya berwarna merah dan sedikit tambahan gambar banteng dibelakangnya.

Saya memberanikan diri bertanya pada kakek yang terlihat paling khusuk menyaksikannya.

Dengan penuh pengharapan, kakekku menjelaskan bahwa, orang yang memakai peci adalah seorang ulama bernama Abdurrahman Wahid yang terkenal dengan sebutan Gus Dur. Dia merupakan perwakilan umat Islam untuk memimpin Indonesia ke depan. Kira-kira begitulah kalimat yang masih sedikit tersisa dalam ingatanku.

“Lalu yang perempuan siapa?”

“Kalo yang itu namanya Megawati. Kalo sampai dia yang jadi presiden, bahaya negara ini soalnya berlawanan sama kodrat. Kan laki-laki kedudukannya harus memimpin perempuan.”

“Benar juga, itu sesuai yang diajarkan guru agama Islam di sekolah,” pikir saya. Yang menjadi menarik kala itu, adalah kedudukan si wanita lebih banyak dibandingkan hasil perolehan lelaki berpeci. Terdorong oleh motivasi yang irasional, seketika itu saya ke kamar dan mengambil sarung lantas mengambil wudhu dan berdoa.

Saat penghitungan selesai, saya melihat orang berpeci itu yang menjadi pemenangnya. Saya melonjak dengan gembira, bak seorang penyerang yang menjaringkan bola ke gawang lawan. Tapi hal yang tak pernah saya mengerti sampai sekarang, mengapa saya bisa segembira itu, sedangkan kedua orang tadi bukanlah orang yang saya kenal dekat.

Kejadian itu masih terngiang di kepala saya hingga kini. Bahkan ketika dulu menempuh pengajaran sejarah dalam lembaga Megawati Institute. Di sana, saya selalu teringat keriangan masa kecil dengan Gus Dur, sekalipun tanpa alasan jelas.

Anda marah? Namanya juga anak kecil. Tapi jika Anda tak pernah mengalaminya, mungkin ada tiga sebab yang menjadi alasannya; pertama keluarga anda pendukung loyal Megawati. Kedua, keluarga Anda apatis terhadap politik. Yang terakhir, masa kecil Anda suram karena tak memiliki televisi. (Aditya Nugraha)

Dalam rangka peringatan Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), IMNU Tegal akan memuat tulisan anak-anak muda tentangnya. Setiap hari akan dimuat satu tulisan. Jika ingin turut berpartisipasi, sila kirim tulisan Anda ke redaksi@nu.or.id.

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Sunnah, Tegal IMNU Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Hasyim: Momentum Persatukan Nahdliyin

Jakarta, IMNU Tegal

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengungkapkan, peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-82 NU tahun ini merupakan momentum untuk mempersatukan Nahdliyin (sebutan warga NU). Ia mengakui, sejak reformasi, warga NU tercerai-berai akibat tarik-menarik banyak kepentingan.

“Baik tarik-menarik keyakinan terhadap akidah, tata laksana organisasi, tarik menarik soal pandangan agama atas negara, maupun tarik menarik kepentingan politik praktis, politik kepartaian,” terang Hasyim kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Kamis (17/1) kemarin.

Hasyim: Momentum Persatukan Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim: Momentum Persatukan Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim: Momentum Persatukan Nahdliyin

Menurutnya, kondisi tersebut begitu memberatkan kaum Nahdliyin, terutama yang berada di lapis bawah. Hal itu jelas akan membawa dampak buruk jika tidak segera diambil langkah penyelamatan dan penyadaran.

IMNU Tegal

Ia mencontohkan sejumlah penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada) yang melibatkan warga Nahdliyin di lapis bawah. Tarik-menarik kepentingan politik praktis tersebut telah begitu menghabiskan banyak tenaga dan pikiran. Sementara, pendidikan politik masyarakat hingga saat ini belum menunjukkan perkembangan yang lebih baik.

IMNU Tegal

“Apalagi, di saat kondisi ekonomi seperti sekarang ini, orang gampang ‘dibeli’. Di saat kekerasan ada di mana-mana. Jika warga NU tidak diberi kesadaran, maka, ia akan tercabik-cabik,” pungkas Hasyim yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur, itu.

Selain itu, Hasyim menambahkan, peringatan 82 tahun NU yang puncaknya digelar di Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 3 Februari mendatang, juga merupakan bagian dari upaya memelihara pemikiran keagamaan yang domestik Indonesia. Ia mengatakan, dewasa ini, banyak pengaruh dari luar yang masuk ke Indonesia dan berpotensi merusak pemikiran keagamaan khas Nusantara.

“Baik itu dari aliran keras (fundamentalisme), maupun liberalisme. Bahkan, ateisme sekali pun,” jelas Presiden World Conference on Religions for Peace itu.

Ia berharap juga, melalui peringatan harlah yang puncaknya bakal dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kali ini, dapat menjadi awal kebangkitan NU di segala bidang, terutama, bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tegal, Olahraga IMNU Tegal

Sabtu, 25 November 2017

Banser dan Santri Ikuti Upacara di MI Salamah Karanganyar

Karanganyar,IMNU Tegal. Banser Anak Ranting Sulurejo dan santriwan-santriwati Pesantren al-Inshof mengikuti upacara bendera Madrasah Ibtidaiyah Salamah di Sulurejo Kalurahan Plesungan Kabupaten Karanganyar, Ahad, 17 Agustus 2014 pukul? 07.00 WIB.

Banser dan Santri Ikuti Upacara di MI Salamah Karanganyar (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser dan Santri Ikuti Upacara di MI Salamah Karanganyar (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser dan Santri Ikuti Upacara di MI Salamah Karanganyar

Upacara peringatan Kemerdekaan RI ke- 69 ini bertindak sebagai inspektur upacara Pengasuh Pesantren al-Inshof KH Abdullah Sa’ad. Sementara pemimpin upacara adalah komandan Banser Jarot. Sedangkan petugas lain dilakukan guru MI tersebut.

Meski bukan madrasah milik Ma’arif NU, namun pelajaran ke-NU-an, seni pencak silat Pagar Nusa, hingga seragam Batik Ma’arif merupakan ciri khusus madrasah ini. Begitu pula di pesantren al-Inshof mengajarkan materi ke-NU-an dan Pagar Nusa.

IMNU Tegal

“Motivasi kami sederhana, mudah-mudahan seluruh guru dan siswa kami di sini dilihat dan diperhatikan Mbah Hasyim Asy’ari, lebih-lebih diakui sebagai murid dan jamaah beliau,” kata Arif Amani, Kepala MI Salamah.

Dalam kesempatan tersebut KH. Abdullah Sa’ad menyampaikan pentingnya untuk mensyukuri dan menjaga kemerdekaan sebagai sarana wajib untuk beribadah kepada Allah SWT. “Tanpa kemerdekaan, kita tidak akan mampu beribadah dengan tenang dan khusuk,” katanya.

IMNU Tegal

Kemerdekaan masuk dalam kategori kaidah fiqh, Ma La yutimmul wajib illa bihi fahuwa wajib. Untuk para santri dan murid, ia berpesan, “Syababul yaum rijalul ghad, hari ini kalian murid, namun di masa depan kalian adalah pemimpin,” ungkapnya.

Menurut kiai yang baru berusia 33 tahun ini, pendidikan adalah kemampuan seseorang meletakkan dirinya pada tempatnya, pada posisi terbaik. Maka, kita harus menjadi murid terbaik, dengan amal terbaik, agar dapat membanggakan para guru, para pendahulu, dan Rasulullah SAW.

Pada ujung amanat, ia mengisahkan seorang ulama besar KH Hasan Besari yang berjuang bersama Pangeran Diponegoro. Suatu hari, Pangeran Diponegoro berkirim surat kepada KH. Hasan Besari mengajak memerdekakan daerah Kedu dan sekitarnya dengan tujuan untuk menggelar dan menegakkan agama Allah dan Rasulullah.

“Jadi kita merdeka, bukan semata untuk menyelamatkan kekayaan alam kita dari kolonial. Bukan! Namun tujuan utama yang diajarkan para kiai adalah untuk menggelar agama Rasulullah saw.” tegasnya.

Di akhir upacara seluruh santri menyanyikan Lirik Cinta Tanah Air gubahan Maulana al-Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan diiringi rebana. “Merah putih melekat di dada. Disinari pancaran imannya. Di manapun Ia berada. Tetap cinta Indonesia .... Tetap Cinta Indonesia ...”.

Lantunan syair para santri dengan segala gerak-geriknya menjadi hal yang menarik bagi murid-murid MI Salamah. (Ahmad Rosyidi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tegal, Aswaja, Kajian IMNU Tegal

Kamis, 23 November 2017

Hasyim: Masyarakat Tak Percaya Pemerintah Bisa Jaga Keselamatan Nuklir

Jakarta, IMNU Tegal

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menjelaskan penolakan para ulama di Jepara tentang rencana PLTN Muria sebenarnya berakar dari kekhawatiran karena mereka belum percaya pemerintah bisa memastikan keselamatan proyek tersebut.

“Wong gardu listrik saja njebluk (meledak.red), lalu bagaimana nantinya kalau ada kebocoran nuklir, ini yang dikhawatirkan oleh masyarakat Jepara,” tuturnya di PBNU, Senin (3/9).

Dikatakannya bahwa nuklir sendiri sifatnya adalah netral, tidak bisa dihukumi halal atau haram, tergantung pada penggunaannya. Disinilah para ulama di Jepara dalam forum Bahtsul Masa’il pada tanggal 1-2 September 2007 memutuskan bahwa aspek mudharatnya lebih besar daripada manfaat yang akan diperoleh.

Hasyim: Masyarakat Tak Percaya Pemerintah Bisa Jaga Keselamatan Nuklir (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim: Masyarakat Tak Percaya Pemerintah Bisa Jaga Keselamatan Nuklir (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim: Masyarakat Tak Percaya Pemerintah Bisa Jaga Keselamatan Nuklir

Penolakan masyarakat Jepara ini mendapat respon dari sejumlah LSM dan industri yang ada di Jepara dan sekitarnya yang mengkhawatirkan hal yang sama dan bergerak untuk melakukan perlawanan. “Lihat saja, gayanya demo kan bukan gaya NU, tetapi gaya LSM,” paparnya.

Meskipun demikian, Kiai Hasyim berpendapat bahwa energi nuklir tetap diperlukan di Indonesia sepanjang untuk tujuan damai dan sebagai energi alternatif. Sumber energi ini jauh lebih murah dibandingkan dengan energi lainnya.

“Kalau masyarakat Jepara menolak, jangan dipaksakan disitu, nanti terus diriwuki (diganggu.red)), cari saja tempat lain yang masyarakatnya mau menerima,” tandasnya. (mkf)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Habib, Berita, Tegal IMNU Tegal

Minggu, 19 November 2017

PBNU Kembalikan Semangat Spiritualitas PMII

Rengasdengklok, IMNU Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengingatkan pengurus harian Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk mentradisikan spiritual NU. Tradisi spiritual itu diingatkan dalam kegiatan Kaderisasi Penggerak NU di Rengasdengklok, pusat kaderisasi PBNU, Ahad-Kamis (21-25/4) malam.

Sejumlah 27 pengurus harian PB PMII bangun dari tidur setiap jam 3 dini hari. Mereka melakukan sholat Tahajjud, mujahadah, munajat, dan zikir bersama yang dipandu oleh KH Nur Muhammad. Ritual itu berlangsung selama pengkaderan berlangsung.

PBNU Kembalikan Semangat Spiritualitas PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Kembalikan Semangat Spiritualitas PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Kembalikan Semangat Spiritualitas PMII

“Pendidikan spiritual itu merujuk pada slogan PMII sendiri, ‘zikir, pikir, dan amal saleh’,” kata Wasekjen PBNU Abdul Mun‘im DZ di Pusat Kaderisasi PBNU Rengasdengklok, Selasa (23/4) malam.

IMNU Tegal

Sementara Waseksen PBNU Adnan Anwar menambahkan, kegiatan ini dimasukkan dalam pengkaderan ketat PBNU, menjadi bagian dari aspek spiritualitas yang sudah lama ditinggalkan PMII.

Pembangunan aspek spiritual PMII dalam kaderisasi ketat PBNU, diharapkan dapat diteruskan oleh PB PMII ke PKC dan PC PMII di seluruh Indonesia. Karena, kader PMII merupakan tonggak kader inti pengurus NU mendatang, tambah Adnan Anwar.

IMNU Tegal

Kaderisasi ketat PBNU dengan memasukkan aspek spiritualitas di dalamnya, tidak lain adalah kaderisasi khas ahlusunnah wal jama‘ah NU, tutup Abdul Mun‘im.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tegal, IMNU, Hadits IMNU Tegal

Senin, 13 November 2017

Muslimat NU Jepara Berkomitmen Kuatkan Ekonomi Umat

Jepara, IMNU Tegal. Ekonomi yang mandiri digadang menjadi penyemangat bagi para aktivis Muslimat NU Jepara dalam berjuang untuk umat. Mewujudkan hal itu ratusan kader Muslimat NU Jepara antusias mengikuti seminar yang diadakan oleh Bank Indonesia di Hotel Jepara Indah, Sabtu (19/8).

Hadir sebagai pembicara, Anggota Komisi XI DPR RI F-PKB, Fathan Subchi, Manajer Fungsi Pelaksana Bank Indonesia Jawa Tengah, Abdul Rohman. Hadir pula Pimpinan Bank Jateng Kabupaten Jepara, Heri Supriyanto, dan Dinas Koperasi dan UKM Nakertrans Jepara, Nasukha.

Muslimat NU Jepara Berkomitmen Kuatkan Ekonomi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Jepara Berkomitmen Kuatkan Ekonomi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Jepara Berkomitmen Kuatkan Ekonomi Umat

Kata Fathan, Muslimat NU harus diberdayakan utamanya dalam bidang pengembangan ekonomi agar perjuangannya menegakkan agama bisa kuat dan solid. Pemerintah perlu terjun secara langsung membina Muslimat agar memiliki jiwa entrepreneur yang mantap.?

"Jiwa enterpreneur harus diasah dengan terjun langsung dalam usaha riil demi mewujudkan kemandirian ekonomi. Kemandirian ekonomi akan berdampak pada kuat dan solidnya muslimat jepara dalam mewujudkan islam yang ramatan lil alamin,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu politisi asal Kabupaten Demak itu juga mengapresiasi atas berdirinya Koperasi Annisa yang dikelola Muslimat NU Jepara. Menurutnya itu bisa menjadi inspirasi bagi Muslimat yang lain untuk berjuang menyejahterakan umat.

IMNU Tegal

"Saya dengar Muslimat Jepara memiliki Koperasi Annisa dan usaha catering. Itu bisa jadi modal dan inspirasi bagi muslimat yg lain untuk berwirausaha," ujar Fathan.

Sementara itu, Manager fungsi pelaksana Bank Indonesia Jawa Tengah, Abdul Rohman menyampaikan bahwa peran UMKM dalam menopang ekonomi nasional sangatlah besar. UMKM juga merupakan penyelamat jitu bagi ekonomi Indonesia sekaligus solusi saat terjadi krisis moneter.

"Alasan Bank Indonesia mendukung program ini dan ikut membangun UMKM adalah untuk menjaga stabilitas moneter," ujar Rohman.

IMNU Tegal

Adanya acara ini juga menjadi awal dari hubungan yang kuat antara Bank Indonesia dengan Muslimat NU Jepara dalam membangun jaringan. Acara bertajuk Peran Bank Indonesia dalam Akses Keuangan dan Pengembangan UMKM di Indonesia itu diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan sekaligus bukti kerja sama BI dengan Muslimat NU Jepara. (M. Farid/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Internasional, Tegal, Ulama IMNU Tegal

Di sini Manusia Lebih Butuh Kemurahan Allah Menurut Ibnu Athaillah

Ketika melakukan larangan Allah SWT atau meninggalkan perintah-Nya, manusia jelas membutuhkan kemurahan, ampunan, dan kasih sayang-Nya. Ini cukup diterima akal. Tetapi kenapa manusia justru lebih membutuhkan kemurahan-Nya ketika mereka berada dalam ketaatan kepada-Nya? Ini memerlukan pengamatan lebih seksama.

Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam mengatakan sebagai berikut.

Di sini Manusia Lebih Butuh Kemurahan Allah Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Di sini Manusia Lebih Butuh Kemurahan Allah Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Di sini Manusia Lebih Butuh Kemurahan Allah Menurut Ibnu Athaillah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

IMNU Tegal

Artinya, “Kau lebih membutuhkan kemurahan-Nya ketika taat dibandingkan saat kau bermaksiat.”

Mengapa demikian? Rasulullah SAW membiasakan diri untuk beristighfar seusai shalat, bukan setelah maksiat. Para ulama mencoba mengkaji hikmah di balik istighfar Rasulullah SAW usai shalat. Dari wirid berupa istighfar usai shalat, ulama menyimpulkan bahwa ibadah tidak selalu sempurna karenanya untuk menutupi kekurangan-kekurangan di dalam ibadah kita perlu meminta kemurahan-Nya.

IMNU Tegal

Selain itu, yang perlu diingat adalah bahwa orang yang ibadah tidak lebih istimewa dari mereka yang tidak. Pasalnya, ibadah mereka juga didorong oleh taufiq yang merupakan anugerah dari Allah SWT. Tidak sedikit orang yang memandang dirinya ketika beribadah sehingga melihat bahwa dirinya lebih unggul dibanding yang lain. Dari sinilah muncul sikap ujub yang didorong oleh nafsu yang perlu diwaspadai.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Karena di dalam ketaatan ibadah kau merasa aman dengan amalmu di mana kerap mengakibatkan kelalaianmu terhadap tipu daya nafsu yang menyelinap di dalam berbagai bentuk ketaatanmu, lalu ketaatanmu berlangsung sementara nafsumu menyelinap tersembunyi di dalamnya tanpa kausadari. Kau lebih membutuhkan kemurahan, ampunan, dan perlindungan-Nya di saat kau menaatinya karena kurang ketelitianmu di dalam ketaatan dibandingkan saat kau bermaksiat kepada-Nya di mana tak ada nafsu tersembunyi di dalamnya. Karena itu, hendaklah orang-orang yang gemar beramal dan merasa aman dengan amalnya untuk waspada,” (Lihat Syekh Burhanuddin As-Syazili Al-Hanafi, Ihkamul Hikam fi Syarhil Hikam Al-Atha’iyyah, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2008 M/1429 H, halaman 95).

Butir hikmah Ibnu Athaillah ini bukan berarti menganjurkan orang untuk berhenti atau mengurangi ibadah, lebih-lebih menganjurkan orang untuk bermaksiat, tetapi mengingatkan mereka untuk lebih waspada. Ibnu Athaillah mengingatkan mereka yang gemar ibadah untuk tidak lupa mewaspadai benih-benih nafsu yang tak terlihat di dalamnya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tegal, Hikmah IMNU Tegal

Minggu, 12 November 2017

Mensos Khofifah Dorong Pemerintah Daerah Terbitkan Perda Disabilitas

Yogyakarta, IMNU Tegal. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mendorong pemerintah daerah segera menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Disabilitas. Baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/ Kota. Regulasi tersebut menjadi dasar perlindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas. 

Khofifah menerangkan sejak diundangkannya UU nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, hingga kini, sesuai catatan di Kemensos baru delapan provinsi yang sudah memiliki Perda Disabilitas. Kedelapan provinsi tersebut yakni Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, dan Bali. 

Mensos Khofifah Dorong Pemerintah Daerah Terbitkan Perda Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Khofifah Dorong Pemerintah Daerah Terbitkan Perda Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Khofifah Dorong Pemerintah Daerah Terbitkan Perda Disabilitas

"Saya berharap langkah strategis ini bisa diikuti oleh daerah lain khususnya kabupaten /kota di Indonesia. Dengan demikian hak-hak penyandang disabilitas bisa terkawal dan terpenuhi sehingga akhirnya mereka memperoleh hak dasarnya serta perlindungan, yang baik," ungkap Khofifah saat peringatan Hari Disabilitas Internasional 2017 di Lapangan Siwa kompleks Candi Prambanan, Sleman, Yogyakarta, pekan lalu. 

Namun demikian, menurut Khofifah penyusunan perda harus berdasarkan keperluan kaum difabel di daerah masing-masing. Oleh karena itu perlu pelibatan penyandang disabilitas dalam penyusunan Perdanya. 

IMNU Tegal

Khofifah menerangkan, nantinya Perda disabilitas tersebut menjadi payung hukum pemenuhan dan perlindungan hak penyandang disabilitas di tingkat daerah. Harapannya, kata dia, para penyandang disabilitas dapat lebih mandiri dan sejahtera melalui pengakuan, penghormatan, serta jaminan perlindungan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas. 

"Intinya bagaimana kemudian aksesibilitas para penyandang disabilitas terjamin oleh undang-undang," imbuhnya. 

Khofifah menuturkan, disabilitas bukanlah batasan karena mereka pun butuh akses dan kesempatan yang sama untuk mengaktualisasikan potensinya. Kementerian Sosial, lanjut dia, membuktikan bahwa penyandang disabilitas tidak kalah dengan mereka yang berstatus non disabilitas . 

IMNU Tegal

"Kami membentuk Difabel Siaga Bencana (Difagana) yang dilibatkan saat terjadi bencana alam. Mereka ini memiliki kekompakan dan semangat yang luar biasa. Saat ini Difagana baru ada di Yogyakarta. Mudah-mudahan bisa menjadi contoh daerah lain, untuk membentuk difabel siaga bencana (difagana)," ujarnya. 

Khofifah dalam pesannya meminta agar momentum peringatan Hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada tanggal 3 Oktober setiap tahunnya tidak sekedar menjadi seremoni. Namun, benar-benar bisa diimpelementasikan dan diwujudkan oleh seluruh daerah di Indonesia. 

"Ini penting, agar ke depan bisa terbentuk masyarakat yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan di atas bingkai keberagaman bangsa Indonesia," tuturnya.

Sementara itu, dalam kesempatan tersebut Khofifah juga menerima peta taktual yang menggunakan huruf Braille (timbul) buatan Badan Informasi Geospasial Indonesia kerjasama dengan Yayasan Dria Manunggal. 

Peta tersebut berisikan nama pulau, provinsi, kabupaten, kota, gunung dan sungai. Penggunaan huruf braille dan kode-kode Khusus didalamnya untuk memudahkan para tuna netra mendapat pengetahuan dan informasi tentang wilayah Indonesia. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Halaqoh, Tegal IMNU Tegal

Jumat, 10 November 2017

Bersama Fatayat, Stikes Icsada Bojonegoro Diskusi Pemanasan Global

Bojonegoro, IMNU Tegal. Usai mengadakan kegiatan rutin olahraga pagi setiap Minggu, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, mendapat kunjungan dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Insan Cendekia Husada (Stikes Icsada) Bojonegoro, Ahad (27/9).

Bersama Fatayat, Stikes Icsada Bojonegoro Diskusi Pemanasan Global (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Fatayat, Stikes Icsada Bojonegoro Diskusi Pemanasan Global (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Fatayat, Stikes Icsada Bojonegoro Diskusi Pemanasan Global

Mereka menggelar diskusi tentang pemanasan global (global warming) di Balai Desa Sarangan, Kecamatan Kanor, yang dihadiri sekitar 65 lebih anggota Fatayat NU, perwakilan masing-masing ranting se-Kanor.

"Kegiatan seperti ini baru, sebab biasanya hanya senam Minggu pagi saja," kata Ketua Ranting Fatayat NU Desa Sarangan, Masfiah.

IMNU Tegal

Menurut Masfiah, setiap kegiatan senam pagi ada sekitar 50 sampai 100 anggota yang ikut. Namun sekarang ini ada 65 lebih yang turut serta. Kegiatan bertambah menarik dan bermanfaat, karena ada tambahan diskusi dari Kampus Ungu, sebutan Stikes Icsada Bojonegoro.

Tamu yanga hadir saat itu adalah perwakilan dari Prodi D III Kebidanan dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Kampus Ungu.

IMNU Tegal

Salah satu pemateri dari Prodi D III Kebidanan Kampus Ungu, Istitoah menjelaskan, semakin sedikitnya tanaman dan penghijauan di desa turut serta mempercepat pemanasan global. Olah karena itu, dibutuhkan tanaman baru, termasuk yang terkecil seperti bunga maupun sayuran.

"Pola hidup harus juga diubah, seperti membuang sampah sembarang, menggunakan makanan organik dan lain sebagainya," terang Isti, panggilan akrab Istitoah.

Menurutnya, membuang sampah secara sembarangan cukup berbahaya bagi lingkungan. Padahal, seharusnya bisa dipisah dan dimanfaatkan ulang. Untuk yang basah dipakai pupuk organik atau kompos, sedangkan yang kering juga diolah untuk kegiatan kreatif.

"Bisa menambah pemasukan untuk belanja juga saat kreatif, seperi membuat bros, bunga, tas, dan lain-lain dari daur ulang sampah. LP2M Kampus Ungu juga tengah berkampanye daur ulang sampah," pungkasnya. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Budaya, Tegal IMNU Tegal

Selasa, 31 Oktober 2017

Putus Diplomasi, Saudi Larang Jamaah Haji dari Qatar?

Riyadh, IMNU Tegal - Putusnya hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Qatar memunculkan spekulasi sebagian kalangan tentang dampaknya terhadap pelarangan jamaah haji asal Qatar memasuki kawasan Masjidil Haram. Bahkan, kabar “pelarangan” itu menyebar di masyarakat.

Mengutip surat kabar Al Sharq yang berbasis di Doha, Aljazeera pada 11 Juni lalu juga melaporkan, Pemerintah Saudi mencegah warga Qatar memasuki Masjidil Haram di Mekah. Peristiwa ini lantas berlanjut dengan protes keras Komisi Hak Asasi Manusia Nasional Qatar (NHRC).

Putus Diplomasi, Saudi Larang Jamaah Haji dari Qatar? (Sumber Gambar : Nu Online)
Putus Diplomasi, Saudi Larang Jamaah Haji dari Qatar? (Sumber Gambar : Nu Online)

Putus Diplomasi, Saudi Larang Jamaah Haji dari Qatar?

Kepala Direktorat Jenderal Paspor Mayjen Sulaiman Al-Yahya membantah laporan bahwa jamaah Qatar dilarang memasuki Arab Saudi untuk melakukan ibadah haji. "Saudara laki-laki Qatari saat ini memasuki Kerajaan (Arab Saudi) untuk mengunjungi kerabatnya," kata Al-Yahya sebagaimana dilansir Arab News seperti dikutip harian Al-Jazirah.

Keterangan Al-Yahya otomatis membantah komentar yang dibuat Abdullah Al-Azbah, penasihat media untuk Emir Qatari Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani.

IMNU Tegal

Sebelumnya, NHRC mengajukan keluhan kepada PBB atas dasar tudingan bahwa Kerajaan Arab Saudi "mempolitisasi" haji dan menghadang warga Qatar yang hendak menunaikan ibadah haji dan umrah.

Seperti diwartakan sejumlah media, Juni lalu Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar yang dituding melakukan langkah yang mengganggu keamanan kawasan Teluk. Selain Arab Saudi, langkah serupa juga dilakukan Mesir, Bahrain, Libia, dan Uni Emirat Arab, Yaman dan Maladewa.

IMNU Tegal

Negara-negara tersebut menuding Qatar mendukung kelompok-kelompok militan seperti ISIS dan Al Qaida, meskipun tuduhan tersebut dibantah oleh Qatar. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Sholawat, Tegal IMNU Tegal

Minggu, 29 Oktober 2017

Jatman DKI Gelar Riyadlah Ramadhan Ulama Sufi

Jakarta, IMNU Tegal

Idarah Wustha 9Pimpinan Wilayah) Jamiyyah Ahlith Thariqah al-Mutabarah an-Nahdliyyah (Jatman) DKI Jakarta selama dua hari (18/6 - 19/6) menyelenggarakan Riyadlah Ramadhan Ulama Sufi 1437H. Kegiatan yang dihelat di Zawiyah Tarekat Idrisiyyah, Masjid Al Fattah Jl. Batu Tulis XIV No. 5, Juanda III Jakarta Pusat ini diikuti 80 peserta dari berbagai tarekat yang berhimpun di Jatman.

Acara dimulai Sabtu (18/6) dengan shalat zhuhur berjamaah, dilanjutkan dengan pembacaan istighotsah yang dipimpin oleh Ustadz Asep Saefuloh dari Tarekat Idrisiyyah. ?

Jatman DKI Gelar Riyadlah Ramadhan Ulama Sufi (Sumber Gambar : Nu Online)
Jatman DKI Gelar Riyadlah Ramadhan Ulama Sufi (Sumber Gambar : Nu Online)

Jatman DKI Gelar Riyadlah Ramadhan Ulama Sufi

"Alhamdulillah pada Ramadhan ini kita dapat menyelenggarakan riyadlah ulama sufi dengan tema ‘Menggapai Ilahi dengan Metode Thariqah’. Insyaallah Jatman akan terus mengadakan kegiatan untuk memperkuat kehadiran tarekat di masyarakat," papar Katib Jatman DKI Jakarta KH Ahmad Hidayat saat membuka acara.

IMNU Tegal

Pada sesi pertama, Ustadz Abdul Latif dari Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN) Suryalaya menyampaikan materi tentang Al-Quran. Penulis buku HATAM (Hafal Tanpa Menghafalkan) ini mengingatkan bahwa sufi sangat akrab dengan Al-Quran. "Mumpung Ramadhan, kita buat kebiasaan lebih akrab dengan Al-Quran agar lepas Ramadhan kebiasaan baru ini dapat terus berlanjut," ujarnya.

Selanjutnya, Kepala Humas Kementerian Pemuda dan Olahraga H Amar Ahmad yang hadir dalam kesempatan itu menjelaskan program kepemudaan yang sedang dijalankan. "Banyak peluang kegiatan yang dapat dilakukan oleh para pemuda, khususnya pemuda pengamal tarekat. Negeri ini butuh pemuda-pemudi yang kuat tauhidnya untuk melakukan perubahan," ungkapnya mewakili Menpora yang berhalangan hadir.

IMNU Tegal

Lepas shalat Tarawih, materi disampaikan oleh KH Maman Imanul Haq, pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka. Ia sangat mengapresiasi kegiatan Jatman. "Dakwah sufistik diterima oleh semua kalangan. Saya banyak keliling luar negeri dan mendapati corak dakwah yang tepat adalah metode tasawuf," tegas anggota Komisi VIII DPR RI ini.

Hari kedua (19/6), selepas shubuh setelah dzikir dan shalawat, kajian disampaikan oleh Mursyid Tarekat Idrisiyyah, Syaikh Muhammad Fathurahman. Ia memaparkan adab dan suluk dalam tarekat. Acara ditutup selepas shalat ashar. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Khutbah, Tegal, Humor Islam IMNU Tegal

Senin, 18 September 2017

Dakwah Ala Walisongo Tepat untuk Suku Tertinggal

Jambi, IMNU Tegal

Kementerian Agama melalui Pusat Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan sedang merumuskan pedoman pembinaan keagamaan suku/masyarakat tertinggal di Indonesia, khususnya di daerah pedalaman. Salah satu temuan dari lokakarya tersebut adalah penggunaan metode dakwah ala Walisongo.

Dakwah Ala Walisongo Tepat untuk Suku Tertinggal (Sumber Gambar : Nu Online)
Dakwah Ala Walisongo Tepat untuk Suku Tertinggal (Sumber Gambar : Nu Online)

Dakwah Ala Walisongo Tepat untuk Suku Tertinggal

Kegiatan ini bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Agama Islam Maarif Jambi, yang digelar di Jambi, Kamis (10/03) sebagaimana dikutip dari laman kemenag.go.id.

Untuk mendapatkan rumusan terbaik, lokakarya ini diikuti 75 peserta yang berasal dari para dosen, penyuluh agama, tokoh adat, perwakilan Suku Anak Dalam, organisasi kemasyarakatan Islam dan peneliti Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan.

Mewakili Gubernur Jambi, Staf Ahli Gubernur Jambi Bidang Ekonomi Husni Jamal mengatakan, Indonesia kaya akan suku dan beberapa di antaranya dalam kondisi tertinggal. Perhatian Pemerintah Pusat, ditandai kehadiran Presiden Jokowi menemui Suku Anak, melecut semangat pemerintah daerah Jambi untuk segera mengentaskan ketertinggalan warga suku. Program yang selama ini sudah berjalan akan lebih difokuskan agar lebih efektif dalam membina warga suku anak dalam. Terkait itu, Gubernur Jambi menyambut baik penyelenggaraan lokakarya ini sebagai salah satu ikhtiar mengentaskan ketertinggalan Suku Anak Dalam, melalui pendekatan pendidikan keagamaan.?

IMNU Tegal

Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jambi, M. Thahir Rahman, mengatakan, potensi masyarakat Jambi, termasuk Suku Anak Dalam, kalau dibina dapat menjadi generasi unggul dan ? berprestasi. Tahun 2015, Jambi mengirim duta lomba tahfidz di tingkat nasional hingga internasional, ternyata putra Jambi tersebut dapat memperoleh juara pertama.?

“Hal ini menunjukkan bahwa potensi putra Jambi tidak kalah dengan daerah lain,” paparnya. ? ?

Sementara itu, mantan Direktur Pascasarjana IAIN Jambi Lias Hasibuan yang didaulat sebagai salah satu narasumber mengingatkan, bahwa pembinaan kepada suku khusus seperti Suku Anak Dalam ? perlu mencontoh Walisongo di Jawa. Menurut Lias, Walisongo sukses mengajarkan kehidupan dan keagamaan melalui tradisi masyarakat Jawa.?

IMNU Tegal

“Jangan sampai mengajari mereka justru dengan mengganti tradisi mereka. Langkah seperti itu biasanya lebih banyak gagal daripada berhasilnya,” tuturnya.?

Pandangan Lias diamini oleh salah satu warga suku Kokoda di Papua yang ikut dalam lokakarya ini. Menurutnya, layanan pendidikan keagamaan sejauh ini masih sebatas silaturahmi. Mereka menanyakan masalah yang dihadapi, memberikan bantuan, lalu kami ditinggalkan.?

“Ini berbeda dengan gerakan keagamaan lain yang mau menunggui komunitas tertinggal dan membinanya,” terang warga suku Kokoda itu sebagaimana dikutip peneliti Puslibang Penda, Murtado.

Kabid Litbang Pendidikan Nonformal/Informal Kementerian Agama, Murtado menyatakan kajian penangangan suku/masyarakat ? tertinggal ini akan mengambil kasus-kasus pada tiga konsteks sosial, yaitu: suku tertinggal, masyarakat tertinggal di perbatasan negara, dan masyarakat tertinggal di bidang kemaritiman. Untuk menyusun pedoman tersebut, tim pengkaji bidang nonformal berencana melakukan blusukan ke beberapa lokasi seperti Suku Anak Dalam di Jambi, masyarakat tertinggal di perbatasan negara di Nusa Tenggara Timur, dan masyarakat tertinggal di bidang kemaritiman di Pulau Buton Sulawesi Tenggara. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tegal, AlaNu IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock