Tampilkan postingan dengan label Anti Hoax. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anti Hoax. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Kemiskinan Kontekstual dan Tugas NU

Oleh Aswab Mahasin



Kemiskinan merupakan ancaman sosial dan bisa berefek pada keberagamaan manusia. Tidak sedikit manusia putus asa dan murka dikarenakan kondisi ekonominya carut marut. Walaupun dalam hal ini masalahnya adalah kualitas iman dan Islam seseorang. Sering kita dengar celoteh. “Shalat terus tidak kaya-kaya, sedangkan mereka tidak shalat menjadi kaya.” 

Kemiskinan Kontekstual dan Tugas NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemiskinan Kontekstual dan Tugas NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemiskinan Kontekstual dan Tugas NU

Sebenarnya, bukan masalah shalat atau tidak shalat lantas kemudian orang menjadi kaya, melainkan etos kerja, kreativitas, dan sejenisnya. Kalau kita kembalikan kepada hakikat penciptaan manusia, manusia telah difasilitasi kondisi alam yang kaya raya, dan manusia telah difasilitasi akal budi oleh Allah, dan Allah menyuruh kita untuk memaksimalkan potensi kreatif kita. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri.” 

Melihat data per Maret yang dilansir oleh banyak media, mengatakan, “Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Maret 2017 jumlah penduduk miskin, yakni penduduk dengan pengeluaran perkapita perbulan di bawah garis kemiskinan, di Indonesia mencapai 27,77 juta orang (10,64 persen dari jumlah total penduduk).” 

Lanjut menurt BPS, angka tersebut bertambah 690 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2016, sebesar 27,76 juta orang (10.70 persen). Secara presentase angka kemiskinan mengalami penurunan, tetapi jumlah angka tersebut mengalami kenaikan. Pertumbuhan penduduk yang naik tiap tahun menambah deretan jumlah penduduk Indonesia yang miskin.

Di samping itu, secara ekonomi, dikarenakan oleh tingkat penghasilan yang makin lemah, sedangkan harga-harga barang terus-menerus naik. Secara sosial, ditandai oleh lemahnya solidaritas sosial. Secara politik, ditandai oleh meluasnya konflik para elite politik, hanya mementingkan kekuasaan dan kepentingan partainya. Secara budaya, ditandai oleh kecenderungan kekuatan otot mengalahkan kekuatan nalar, sehingga nalar sebagai pusat mengalirnya kreativitas mengalami kekeringan. Secara hukum, ditandai oleh makin meluasnya masyarakat yang tidak taat aturan dan kebiasaan main hakim sendiri. Sedangkan, kemiskinan keagamaan munculnya gesekan, tindak kekerasan, dan pembunuhan “atas nama agama”. (Prof. Dr. Musya Asy’arie, Dialektika Agama untuk Pembebasan Spiritual, 2000, hlm. 65).

IMNU Tegal

Dari penjelasan di atas telah jelas, kemiskinan diakibatkan oleh banyak faktor—susah untuk diurai. Artinya, kemiskinan tidak mungkin disolusikan dengan satu pendekatan saja (ekonomi), melainkan harus menggunakan banyak pendekatan/berbagai aspek. Selagi Indonesia tidak kondusif, secara sosial, budaya, hukum, politik, dan agama—sepertinya “mimpi di siang bolong” mengurangi angka kemiskinan. 

Paling disayangkan adalah, ‘kemiskinan milenial’ (dialami oleh kalangan muda), terlahir dari keluarga tidak mampu dibarengi dengan tuntutan pergaulan hedonis, seringkali membuat mereka terjebak “gengsi sosial”. Akhirnya, jalan pintas menjadi caranya untuk menyelesaikan permasalahan gengsi. Tidak sedikit di antara anak sekolah tingkatan menengah atau mahasiswa/i, terjun ke “dunia gemerlap” demi mendapatkan uang (membeli gengsi). 

Ambil contoh, website yang baru saja diblokir pemerintah (nikahsirri[dot]com), baru satu hari dilaunching sudah banyak yang mendaftar, dan website itu menampung para wanita, yang putus sekolah/kuliah untuk dinikahkan sirri dengan para bos-bos berduit. Itu yang dinyatakan oleh pembuat website.  

Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits menyampaikan, “kada al-faqru an-yakuna kufran” (hampir-hampir kemiskinan menjadikan kekufuran). Penjelasan di atas adalah salah satu contoh, kemiskinan bisa menjerumuskan manusia pada lubang hitam. Tidak hanya itu, tidak sedikit fenomena sosial, seperti; pencurian, jambret, maling, kejahatan, dan sebagainya, di awali dari kemiskinan.

IMNU Tegal

Dalam konteks ini, seorang Muslim hakikatnya mempunyai keharusan berusaha terus-menerus agar mencapai tingkat kemampuan berlebih, memungkin mereka mampu menyempurnakan rukun-rukun Islam yang lima. Indonesia dengan mayoritas penduduknya adalah Muslim, suatu keharusan terus mencoba berpikir dan bertindak—melepas belenggu kemiskinan yang menjerat masyarakat Indonesia. Ini merupakan tantangan bagi komunitas Muslim di Indonesia sendiri. Bagaimana mereka melakukan sebuah instrumen dalam membantu saudaranya.

Seperti yang dikatakan oleh Hasan Hanafi dalam Al-Yasar al Islami (Kiri Islam), “bahwa kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertindasan umat Islam merupakan tantangan terbesar yang mesti dijawab”

Menurut Bachtiar Chamsyah, kemiskinan yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang memiliki dua dimensi, pertama, kemiskinan non-fisik, yang meliputi dimensi moral, etika, akhlak, dan mental—yang kemudian memperlemah daya saing sumber daya manusia Indonesia; kedua, kemiskinan fisik, yang lazim disebut kemiskinan ekonomi atau struktural. Jadi, krisis yang berwajah multidimensi di berbagai bidang kehidupan selama beberapa tahun belakangan ini semakin menutup jalan keluar bagi kemiskinan.

Meski persoalan penanggulangan kemiskinan cukup berat dan sulit. Bisa kita lihat, tidak sedikit usaha yang dilakukan oleh pemerintah, begitupun para tokoh dalam menggenjot potensi ekonomi rakyat. Namun, kita tidak boleh berhenti apalagi mundur. Minimal saling tolong menolong yang kita lakukan terhadap tetangga kita yang kurang mampu, menjadi bagian solusi pendek yang kita lakukan.

Bagi seorang Muslim, baiknya kita merenungkan pesan Nabi Muhammad SAW, melalui salah satu haditsnya ibda’ bi nafsika, mulailah dari diri kamu sendiri. Kita tidak harus menunggu pemerintah atau organisasi dalam menyelesaikan masalah ini, semua hal tersebut harus diawali dari kesadaran kita terhadap lingkungan sosial kita. Menurut Musya Asya’ari paling tidak, mulai dari jiwa kita untuk tidak miskin, karena jiwa yang miskin akan melahirkan tindakan yang miskin pula. 

Islam sebenarnya sudah mempunyai banyak cara untuk menanggulangi kesenjangan ekonomi, melalui zakat, sedekah, waris, dan sebagainya. Ajaran tersebut sebagai media berbagi untuk umat Islam terhadap kebanyakan manusia yang kekurangan. Selain itu, ajaran tersebut juga sebagai sarana mencegah penumpukan modal/harta dari tahun ke tahun/dari generasi ke generasi (sudah banyak konsep yang diterangkan oleh banyak pakar), karena di dalam harta kita ada hak orang lain. Nabi Muhammad SAW menegaskan, “yadu al-ulya khairun min-yadi al-sufla” (Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah).  

Kembali lagi dengan pernyataan, umat Islam di Indonesia jumlahnya begitu besar, sesungguhnya jika digali lebih dalam merupakan potensi ekonomi yang luar biasa, dan sudah waktunya kita tidak melulu menjadi konsumen, melainkan diusahakan menjadi produsen. Dan NU sebagai organisasi yang memiliki basis massa 80 juta lebih, harus terus menerus giat dan fokus menggenjot ekonomi rakyat. Minimal memberikan solusi dalam pengajaran pendidikan kewirausahaan dan penyaluran modal, sekaligus dengan pendampingannya. Terutama kemiskinan-kemiskinan konstekstual saat ini yang berwajah multidimensi dengan berbagai masalahnya. Kalau bukan NU, siapa lagi. 

Saya tutup dengan Firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 268, “Setan menjanjikan kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat jahat, sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampunan dari-Nya dan karunia (kekayaan dan balasan pahala. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya), lagi Maha Mengetahui.”





Penulis, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Anti Hoax, Aswaja IMNU Tegal

Senin, 26 Februari 2018

NU Jatim Jalin Kerja Sama dengan Malaysia

Surabaya, IMNU Tegal. Kunjungan sejumlah tokoh agama dari negara Jiran Malaysia ke Jawa Timur akan dioptimalkan untuk kegiatan penguatan kerjasama antar kedua pihak. Kegiatan yang diagendakan antara lain daurah Aswaja hingga pertukaran santri maupun mahasiswa serta dosen.

Penegasan ini disampaikan M Zunaidul Muhaimin di sela-sela mendampingi rombongan dari lembaga dan kampus yakni Universitas Tun Husain onn Malaysia (UTHM), Majlis Agama Johor, serta Institut Ahli Sunnah wal Jamaah kampus UTHM ke sejumlah pesantren di Jawa Timur.

NU Jatim Jalin Kerja Sama dengan Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jatim Jalin Kerja Sama dengan Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jatim Jalin Kerja Sama dengan Malaysia

"Ada 22 rombongan dari Malaysia yang mengikuti kunjungan ini," kata Wakil Direktur PW Aswaja NU Center Jawa Timur ini, Ahad (21/12). Jumlah ini lebih besar dari rencana semula yang hanya 16 orang.  Mereka mengunjungi sejumlah pesantren karena ingin mendapatkan informasi secara langsung dari para pimpinan dan pengelola pesantren.

IMNU Tegal

"Rombongan adalah utusan dari perguruan tinggi dan sejumlah lembaga di Malaysia," katanya. Jumat (20/12), rombongan dari Universitas Tun Husain onn Malaysia (UTHM), Majlis Agama Johor, serta Institut Ahli Sunnah wal Jamaah kampus UTHM diterima oleh pengurus NU Jatim di kantornya, Jalan Masjid al-Akbar Timur 9 Surabaya. Sejumlah kiai seperti KH Miftachul Akhyar (Rais), KH Abdul Matin (Wakil), KH Hasan Mutawakkil Alallah (Ketua), H Hamid Syarif, dan KH Jazuli Nur (Wakil) hadir saat penyambutan ini.

IMNU Tegal

Ustadz Muhaimin, sapaan akrabnya menandaskan bahwa dari kunjungan ini akan ditindaklanjuti dengan akan diselenggarakannya daurah Aswaja secara lebih intensif. "Juga akan dilakukan pertukaran pelajar atau santri hingga dosen demi pemantaban kerja sama tersebut," tandas kandidat doktor di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini. Dan semuanya akan dituangkan dalam nota kesepakatan yang ditandatangani bersama, lanjutnya.

Seperti diberitahukan sebelumnya, rombongan mengunjungi Pondok Pesantren Al-Fitroh Kedinding Surabaya. Hari kedua (hari ini) adalah berkunjung ke Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan. "Di Pesantren Sidogiri, para rombongan berkunjung lumayan lama sejak pagi hingga sore," kata dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) ini. Selama di Pasuruan, rombongan juga akan singgah di pesaren KH Hamid.

Keesokan harinya, rombongan melanjutkan kunjungan ke dua pesantren. "Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo dan terakhir di Pondok Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo," terang Muhaimin.

Dan pada hari Selasa (23/12), rombongan akan bergabung dalam seminar internasional yang diselenggarakan di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. "Mereka akan menceritakan pengalaman tantangan yang dihadapi serta peluang yang dapat ditindaklanjuti bersama," katanya.

Sedangkan hari Rabu, rombongan akan mengunjungi makam Syeikhona Kholil di Bangkalan, Sunan Ampel serta Taman Bungkul Surabaya.

Selama kunjungan, para akademisi dan ulama tersebut setidaknya ingin mendapatkan gambaran soal proses seleksi dan pendaftaran santri baru. "Selanjutnya juga akan diperdalam perihal proses belajar mengajar di masing-masing pesantren tersebut," katanya.

Kurikulum di masing-masing pesantren juga tidak luput dari perhatian rombongan. "Demikian juga pengawasan selama para santri mondok, juga penilaian yang dilakukan setiap pesantren terhadap para santri," ujarnya.

Sedangkan yang tidak kalah penting adalah pola distribusi dari setiap pesantren terhadap alumni yang dimiliki. "Tentu masing-masing pesantren memiliki model yang berbeda dalam pengelolaan dan distribusi para alumninya," pungkas Muhaimin.

Direktur PW Aswaja NU Center Jatim KH Abdurrahman Navis menandaskan bahwa kunjungan ini sebagai buah kerja sama yang intensif dengan sejumlah tokoh dan kampus di Malaysia. "Karenanya, kami berusaha menjadi tuan rumah yang baik dengan memberikan pelayanan kepada mereka," katanya.

Kiai Navis, sapaan akrabnya juga menandaskan dari kerja sama ini diharapkan akan ada tindaklanjut yang bisa dilakukan pada kesempatan berbeda. "Bisa dengan pesantren yang dituju, juga dengan Aswaja NU Center," kata Wakil Ketua PWNU Jatim ini. Sehingga kehadiran para ulama dan dosen dari kampus Malaysia tersebut bisa bermanfaat bagi syair agama dan kerja sama yang lain, pungkasnya. (Syaifullah/Mahbib)

Foto: Direktur Aswaja NU Center Jatim KH Abdurrahman Navis

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Anti Hoax, AlaNu IMNU Tegal

Sabtu, 24 Februari 2018

Agama, Rohingya, dan Masa Depan Kemanusiaan

Oleh Aswab Mahasin

Sebagai sistem kepercayaan, agama hanya mempunyai kapasitas mengajak. Ada dua pilihan ketika seseorang diajak oleh agama “mempercayai” atau “mengingkari”. Secara personal, tidak ada konsekuensi logis bagi mereka yang mengingkarinya, namun bagi mereka yang meyakininya (telah sukarela menjadi penganutnya), maka ada tuntunan yang harus dijaga dan disemarakan, khususnya esensi dari nilai-nilai agama itu sendiri. Agama tidak memuat unsur paksaan, melainkan agama memuat batasan-batasan nilai, norma, aturan, dan konsep sebagai realisasi keimanan seseorang.

Agama dalam catatan Karen Armstrong, “akhir abad ke-20, agama akan menjadi kekuatan yang harus dipertimbangkan. Dewasa ini, kita tengah dipertontonkan kebangkitan agama yang menyebar luas, padahal sebelumnya kisaran tahun 1950 dan 60-an oleh banyak orang, khususnya kaum sekuler cenderung menganggap agama sebagai takhayul primitif yang ditumbuh-kembangkan oleh manusia rasional dan beradab. Ada juga yang memprediksi kematian agama sudah di depan mata. Sedangkan prediksi terbaik pada saat itu, agama hanya akan menjadi aktifits privat dan marginal, yang tidak lagi dapat mempengaruhi peristiwa-peristiwa dunia.”

Agama, Rohingya, dan Masa Depan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Agama, Rohingya, dan Masa Depan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Agama, Rohingya, dan Masa Depan Kemanusiaan

Sekarang ini, kembangkitan agama dipertanyakan kembali, agama yang seharusnya konsisten mengusung misi perdamaian, terlihat lebih lihai menebarkan konflik. Walaupun jumlah antara kedamaian dan konflik, lebih dominan situasi damai. Hanya saja, ketika konflik meletus atas nama agama sulit untuk dilerai, pasti berkepanjangan, dan efeknya menyebar kemana-mana.

Munculnya penganut paham radikal atau biasa dikenal juga dengan fundamentalisme merupakan salah satu bagian penyulut api konflik tersebut. Karen Amstrong berpendapat fundamentalisme adalah suatu bentuk keimanan yang bersifat sangat politis, dan sebagian orang melihatnya sebagai bahaya yang mengancam dunia dan kedamaian sipil.

IMNU Tegal

Lanjutnya, fundamentalisme muncul ke permukaan di kebanyakan agama dan menjadi respon mendunia atas ketegangan kehidupan di akhir abad ke-20. Hindu radikal turun ke jalan-jalan untuk membela sistem kasta dan menentang Muslim India; kaum fundamentalisme Yahudi melakukan penghunian ilegal di Tepi barat dan Jalur Gaza serta bersumpah untuk mengusir semua orang Arab dari Tanah Suci mereka; Moral Majority yang dipimpin Jerry Falwell dan Chrsitian Right, yang menganggap Uni Soviet sebagai kerajaan setan, mencapai kekuatan yang hebat di Amerika Serikat selama tahun 1980-an. (Karen Armstrong: 2001). Selain itu, ada laskar ISIS yang mengusik kedamaian Aleppo.

Baru-baru inikonflik atas nama agama muncul kembali, belum habis berita Israel dan Palestina, menyusul gejolak yang sedang terjadi di Myanmar, di manaumat Islam Rohingya diberangus oleh kelompok Budha Ortodok (katanya). Ini adalah tragedi kemanusiaan yang “parah”. Namun, situasi yang terjadi sekarang di Myanmar kalau kita kaji secara mendalam, seperti yang di tuliskan dalam pernyataan GP Ansor di IMNU Tegal (judul berita: Ini Pernyataan Sikap GP Ansor Terkait Nasib Rohingya, Arakan, Rakhine, Myanmar) sangat menarik.

GP Ansor dalam pernyataannya, atas dasar laporan UN Office of the High Commissioner for Human Rights (OHCHR) – 2017peristiwa kemanusiaan keji di Myanmar semenjak tahun 2013, 2016, dan menguat di tahun 2017 syarat dengan konflik geopolitik, ada tiga hal yang saya garis bawahi;

IMNU Tegal

Pertama, konflik geopolitik di dasari atas pertarungan kuasa dan kekuasaan (yang tidak seimbang), di daerah Arakan-Rakhine, yang dihuni mayoritas etnis Rohingya, dengan dugaan kuat ada perebutan paksa tanah dan sumber daya, khususnya minyak dan gas (di wilayah-wilayah sekitar).

Kedua, daerah tersebut dilaporkan memiliki cadangan sebesar 1,774 triliun kaki kubik gas dan 1,569 Barel minyak, yang beberapa blok diantara jatuh tempo pada tahun 2017. GP Ansor menyatakan, fenomena minyak dan gas atau kutukan sumber daya, tidak hanya terjadi di Myanmar tetapi juga terjadi di belahan dunia yang lain. Di mana untuk menutup operasi apropriasi sumber daya. GP Ansor menyebutkan operator-operator di lapangan melakukan dengan cara menjijikan, dibungkus dengan konflik antar etnis, antar agama, antar kelompok masyarakat dengan tujuan agar akar masalahnya menjadi kabur.

Ketiga, Menurut GP Ansor saudara-saudara kita di Rohingya sudah menjadi sasaran khusus dengan operasi terselubung (covered operation) apropriasi kapital dan sumber daya secara biadab dan terencana menyasar praktik serta simbol agama. Membenturkan antar umat beragama termasuk dengan cara membakar al-Qur’an, pemerkosaan di Masjid, mempersenjatai dan memprovokasi warga untuk juga melakukan persekusi terhadap minoritas Rohingya.

GP Ansor juga mencermati, tragedi kemanusian ini karena situaasi dimana pemeluk agama mayoritas yang sebenarnya moderat memilih diam dan bukan membantu melawan saat terjadi persekusi terhadap kaum minoritas. GP Ansor dengan tegas menyatakan, Aung San Suu Kyi, sang penerima Nobel Perdamaian, hanyalah contoh paling memuakan dari diamnya mayoritas. (untuk lebih jelas, bisa membacanya langsung link di atas).

Di lihat dari analisis panjang tersebut, pembantain keji di Rohingya memang layak untuk dikutuk sebagai bentuk kebiadan sejarah umat manusia. Logikanya, kita tidak harus memakai agama untuk mengutuk ini, sisi kemanusiaan kita pun sudah tergugah, bahwa ini adalah tindakan yang sangat tidak manusiawi.?

Khusus mengenai peristiwa Rohingya tersebut, dalam menanggapi hal ini, mungkin yang paling bijak adalah mencoba menyaring seluruh berita, dan menganalisis sebenarnya apa yang terjadi di Rohingya, karena ini bukanlah perseteruan antar kampung. Siapa saja mungkin bisa ikut campur secara lapangan.?

Tentu kita tidak bisa diam, karena ini adalah peristiwa kemanusiaan paling parah di Asia Tenggara. Namun, untuk menyelesaikan masalah konflik, hubungannya bukanlah kirim militer dan kemudian berperang, melainkan ada pendekatan yang dilakukan antar negara, berdiplomasi, mengurai konflik, dan Indonesia dalam hal ini telah melakukan tindakan tersebut, bekerja sama dengan 11 Ormas, salah satunya Nadhlatul Ulama (NU) untuk membentuk aliansi kemanusiaan, dengan fokus pada bantuan kesehatan, makanan dan perlindungan. Sekarang telah akan mengglontorkan bantuan senilai 24 Miliar untuk warga Rakhine di Myanmar dan Ormas NU dan 11 Ormas lainnya melakukan pemberdayaan terhadap warga di Rakhine.

Dengan demikian, memanjatkan doa, dan terus mendukung serta memberi masukan terhadap pemerintah atas peristiwa ini adalah hal yang paling bijak, tidak lantas melampiaskan kemarahan kita, khususnya dilatarbelakangi sentimen keagamaan, dengan menggugat salah satu agama di Indonesia, karena dianggap sebagai agama tertuduh dalam konflik di Myanmar. Mari kita urai sekarng, bagaimana agama-agama dunia, khususnya Islam dalam menyikapi berbagai perbedaannya.

Agama dan sikap kemanusiaan

Berpijak dari hal-hal di atas, agama dalam praksisnya (oleh oknum-oknum tertentu), menjadi alat pertentangan yang strategis, ia dijadikan sebagai alat penindasan. Apalagi jika agama sudah bercampur dengan aktivitas politik arogan. Rumusannya begini, begitu agama diformalkan, baik dalam bentuk pelembagaan doktrin ataupun lainnya, dengan tujuan kepentingan-kepentingan kelompok, baik kepentingan “suara Tuhan” sebagai suara kekuasaan, maupun berbagai kepentingan lain yang memanfaatkan agama, maka agama tidak lagi murni sebagai gerakan persaudaran, perdamaian, dan keselarasan. Melainkan sebagai topeng surgawi semata.?

Pada tataran berhubungan dengan Tuhan, antar semua agama tidaklah ada pertentangan, apalagi konflik yang mengakar, wilayah keTuhan hanya melahirkan perdebatan teologis semata. Konflik terlahir dari mulut manusia yang mengatasnamakan sebagai pembela Tuhan demi keteraturan dunia. Akhirnya, dunia ini seakan-akan menjadi tunggal, kalau tidak sesuai dengannya maka akan salah. Lebih parah lagi, jika agama ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan duniawi. Seperti yang dikatakan Sidney Hook, perbedaan antar-agama tidak terletak pada “nilainya”, tetapi lebih pada “kosmologinya”.

Seperti halnya ilustrasi, memakan daging anjing bagi umat agama tertentu adalah haram, bagi satu umat agama lainnya hal yang biasa. Ini sama saja kita dengan membandingan antara satu merek mobil A dengan mobil B, yang jelas-jelas pabrikan dan buku panduannya berbeda. Itu bukanlah substansi yang harus kita perdebatkan, karena kebenaran esensinya antara mobil A dan mobil B, mempunyai tujuan yang sama, yakni “keselamatan dalam berkendara”. Artinya, yang kita cari adalah keamanan dan perdamaian.

Bukan berarti dalam hal ini kita menyamaratakan agama, melainkan sebagai pijakan paradigma kita dalam berpikir, untuk meminimalisir konflik. bahwa sesungguhnya Tuhan menghendaki perbedaan, seperti halnya apa yang pernah di tuliskan oleh Muhammad Afiq Zahara dalam opininya di IMNU Tegal (Terorisme Jihad), “Diversitas, kemajemukan dan kebhinekaan merupakan ketetapan dan fitrah kehidupan. Tuhan sendiri tidak menghendaki menciptakan umat yang satu”, seperti firmanNya (Q.S. Hud [11]: 118: “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.”

Komarudin Hidayat, dalam tulisannya “Agama-agama Besar Dunia: Masalah Perkembangan dan Interelasi”, menyatakan, “Suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah (truism) bahwa bumi ini hanya satu, sementara penghuninya terkotak-kotak ke dalam berbagai suku, ras, bangsa, profesi, kultural dan agama. Membayangkan bahwa dalam kehidupan ini hanya terdapat satu agama, rasanya hanya ilusi belaka.”

Untuk menjaga masa depan kemanusiaan, yang perlu ditanamkan adalah sebuah paradigma berpikir yang utuh mengenai sebuah ajaran, kita tidak bisa larut dalam pemahaman segregatif, di mana klaim kebenaran menjadi mutlak dalam setiap agama. Padahal, esensi dari beragama bukanlah mencari “kebenaran” untuk “menyalahkan”, melainkan kebenaran itu difungsikan sebagai jalan perdamain dan menebarkan kasih sayang. Karena ketika orang merasa benar, maka di situlah ia menjadi salah.?

Agama jika dipahami secara mendalam dan komperhensif akan melahirkan sifat humanis, toleran dan menghormati orang lain. Dengan demikian, yang dibangun tidak hanya pemahaman kemajemukan semata, melainkan pemahaman yang sesuai dengan konteks kekinian, tentu diambil dari ajaran agama yang utuh. Dalam Islam sendiri kita diajarkan oleh Allah sebuah penghormatan yang besar untuk menghormati yang lain dari kita, “tidak ada paksaan dalam beragama...”, “untukmulah agammu, dan untukkulah agamaku..”, “kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu: Maka barangsiapa yang ingin beriman hendaklah berimanlah”.

Di lihat dari penggalan pesan-pesan Allah SWT tersebut, Allah mengajarkan kepada kita bahwa prinsip beragama harus merupakan sebuah pilihan bukan paksaan. Karena dasar dari keimanan selain keTuhanan adalah kemanusiaan. Dan agama menolak kekerasan sebagai prinsip sebuah tindakan. Kekerasan merupakan tindakan amoral. Moralitas agama adalah kesadaran, kesalehan, yang selalu mendorong pemeluknya untuk akrab satu sama lain.?

Dan jangan dipahami keliru, pluralisme, saling menghormati dan berdampingan dengan agama lain, lantas kita mencampuradukan ajaran-ajaran agama tersebut, saya katakan, “tidak”. Karena tentu takarannya tidak akan sama. Pastinya adalah, keyakinan kita (keimanan) terhadap Allah SWT harus terus disemarakan untuk membangun sebuah sistem berketuhanan yang mampu menajawab persoalan-persoalan kemanusiaan. Agar masa depan kemanusiaan, yang dilatarbelakangi oleh misi agama yaitu perdamaian bisa terselenggara dengan baik.

Saya tutup tulisan ini dari perkataan seorang atheis, Friedrich Nietzche, “Hidup ini hanya masalah selera”. Agama adalah pilihan selera makan, tujuan makan adalah rasa kenyang, pepatah Jawa mengatakan, “Weteng ngelih pikiran ngalih, weteng wareg pikiran jejeg”. Jadi, beragama dengan memahami segala aspeknya—mutlak sebagai gizi kehidupan kita, sehat jasmani dan rohani.

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Anti Hoax IMNU Tegal

Kamis, 22 Februari 2018

PMII Jateng Instruksikan Pengawalan Penarikan Buku SKI

Semarang, IMNU Tegal. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Jawa Tengah menginstruksikan semua pengurus cabang PMII di Jawa Tengah untuk mengawal penarikan buku guru SKI Kelas VII MTs berbau sentimen Suku, Agama, Ras dan Antargolongan oleh Kemenag. Mereka melihat adanya upaya kelompok tertentu untuk menciptakan keresahan di tengah masyarakat.

PMII Jateng Instruksikan Pengawalan Penarikan Buku SKI (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Jateng Instruksikan Pengawalan Penarikan Buku SKI (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Jateng Instruksikan Pengawalan Penarikan Buku SKI

“Tampak sekali ada pihak-pihak tertentu secara sengaja dan terselubung menyebutkan ‘Berhala sekarang adalah kuburan para wali’,” kata Ketua PMII Jateng Ibnu Ngakil, Rabu (17/9) siang.

Ibnu Ngakil menyatakan pihaknya telah mengecek jangkauan edar buku berbau SARA ini. Menurutnya, pendistribusian buku ini sudah sampai ke tingkat madrasah di Jateng. Ia menyayangkan kejadian begini.

IMNU Tegal

Padahal para wali sangat berjasa menyebarkan agama Islam sekaligus mengembangkan peradaban masyarakat di zamannya.

IMNU Tegal

"Mereka adalah simbol penyebaran Islam rahmatan lil alamin di Indonesia," sambung Ibnu. (Mukhamad Zulfa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Anti Hoax IMNU Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

PW Ansor Jabar Siap Kembangkan Ekonomi Pemuda

Bandung, IMNU Tegal 



Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat sedang menyiapkan instrumen untuk mengembangkan potensi ekonomi untuk kalangan pemuda. Hal itu mengemuka pada l Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) PW Ansor Jawa Barat di Pondok Pesantren Cijaura, Kota Bandung, Ahad (21/1).

"Tiada pilihan lain kecuali para pemuda, khususnya kader GP Ansor untuk melek dalam mengembangkan perekonomian di wilayahnya masing-masing," ujar Ketua PW Aansor Jawa Barat, Deni Ahmad Haidar.

PW Ansor Jabar Siap Kembangkan Ekonomi Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)
PW Ansor Jabar Siap Kembangkan Ekonomi Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)

PW Ansor Jabar Siap Kembangkan Ekonomi Pemuda

Saat ini, kata Deni, PW GP Ansor Jawa Barat tengah menginventarisir berbagai potensi ekonomi agar bisa dikembangkan oleh anggota GP Ansor di seluruh Jawa Barat. 

"Untuk itu kita akan support dan fasilitasi agar potensi tersebut bisa kita raih dan jalankan sehingga kader-kader GP Ansor siap berdaya saing," ujarnya.

Selain itu, lanjut Deni, pengembangan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) juga akan menjadi perhatian serius dalam menyambut era persaingan global tersebut.

IMNU Tegal

"Saat ini beberapa kader GP Ansor di Jawa Barat sukses menjadi direktur utama di beberapa perusahaan milik daerah. Ini semata-mata tak lepas dari kapasitas SDM yang dimilikinya," tandasnya.

IMNU Tegal

Untuk itu, lanjut Deni, pihaknya akan terus mendorong kader-kader GP Ansor di Jawa Barat untuk merebut potensi - potensi ekonomi demi kesejahteraan ummat.

"Masalah pendidikan dan kemiskinan, ini persoalan serius. Kedepan tidak ada lagi kader-kader Ansor yang hanya tamatan SD dan SMP. Kader Ansor harus unggul di berbagai lintas sektoral," pungkasnya. (Ade Mahmudin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Anti Hoax, Quote, Nahdlatul Ulama IMNU Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

Cari Solusi, Mahasiswa-Pesantren se-Indonesia Silaturahmi di Madura

Sumenep, IMNU Tegal - Ratusan presiden mahasiswa (presma) berkumpul di Pesantren Al-Amien, Pragaan, Sumenep, Kamis-Sabtu (6-8/4). Mereka berasal dari pesantren seluruh Indonesia. Mereka juga mendiskusikan kelebihan dan kekurangan mereka di tempat masing-masing.

"Semua mahasiswa santri yang jadi presma dari kampus di bawah naungan pesantren se-Indonesia sengaja berkumpul di sini. Tujuannya, menguatkan solidaritas," ujar Khoirus Salim, Presma STIA Al-Falah yang terlibat aktif dalam pertemuan tersebut.

Cari Solusi, Mahasiswa-Pesantren se-Indonesia Silaturahmi di Madura (Sumber Gambar : Nu Online)
Cari Solusi, Mahasiswa-Pesantren se-Indonesia Silaturahmi di Madura (Sumber Gambar : Nu Online)

Cari Solusi, Mahasiswa-Pesantren se-Indonesia Silaturahmi di Madura

Acara ini diketengahkan guna mencuatkan kembali betapa pesantren merupakan gudangnya ilmu. Fakta tersebut sedikit banyak mulai pudar dalam keseharian pemuda.

"Kebanyakan pemuda bangga bila kuliah ke luar negeri. Padahal, pesantren adalah gudangnya ilmu. Kita komitmen untuk kembali mengkristalkan pemahaman tersebut," terangnya.

IMNU Tegal

Dalam acara tersebut, kelemahan dan kelebihan mahasiswa santri dari berbagai daerah didiskusikan. Semuanya diselaraskan dengan kearifan lokal masing-masing.

"Untuk kelemahannya, kita upayakan untuk meretas solusi. Sementara kelebihannya, kita perkuat dan syiarkan," tandasnya. (Hairul Anam/Alhafiz K)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Cerita, Anti Hoax IMNU Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Prodi KPI IPMAFA Pati Jalin Kerja Sama dengan Sejumlah Pakar Media

Pati, IMNU Tegal

Memantapkan langkah di era digital, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Institut Pesantren Mathaliul Falah (KPI IPMAFA) menjalin kerja sama dengan sejumlah pakar media untuk menyelenggarakan forum diskusi bertema ‘Kompetensi Dasar Komunikasi dan Penyiaran di Masa Depan’ yang merumuskan sejumlah pemikiran dan hubungan kerja sama dengan berbagai lembaga terkait.?

Prodi KPI IPMAFA Pati Jalin Kerja Sama dengan Sejumlah Pakar Media (Sumber Gambar : Nu Online)
Prodi KPI IPMAFA Pati Jalin Kerja Sama dengan Sejumlah Pakar Media (Sumber Gambar : Nu Online)

Prodi KPI IPMAFA Pati Jalin Kerja Sama dengan Sejumlah Pakar Media

Acara yang berlangsung Jumat (25/3) ini dihadiri oleh sejumlah praktisi dan pakar media seperti Hakim Jayli (TV9), Asep Cuwantoro (KPID Jawa Tengah), Muhammad Niam (Kepala SMK Multimedia Cordova), dan Luluk (PAS FM Pati).

?

"Forum ini adalah pemantik untuk membuka berbagai sumbangsih pemikiran mengenai tren era komunikasi digital pada 10 tahun mendatang," ungkap Rektor IPMAFA H Abdul Ghaffar Rozin saat memberikan sambutan.

?

IMNU Tegal

Ditegaskan kembali oleh Hakim Jayli, tren komunikasi dan penyiaran digital di era mendatang akan menawarkan banyak peluang sekaligus tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah keberagaman konten dan teknologi berbasis internet. Maka dibutuhkan kejelian untuk menangkap adanya peluang itu sekaligus kemampuan mengatasi berbagai hambatan yang ada.

IMNU Tegal

?

Pernyataan serupa juga dilontarkan oleh PAS FM Pati yang memandang, institusi pendidikan seperti KPI IPMAFA harus memulai untuk memberikan sumbangsih berupa karya-karya berbasis teknologi digital seperti pembuatan film dokumenter maupun fiksi, seni fotografi, maupun reportase radio. Namun, lebih ditekankan pada aspek local wisdom yang kini mulai terlupakan. Padahal secara geografis tiap daerah pasti memiliki kekhasan tersendiri. Tinggal bagaimana membuat kemasannya terasa menarik dan tepat sasaran.

?

Perihal konten berbasis local wisdom ini juga disoroti oleh Asep Cuwantoro selaku KPID Jawa Tengah. Menurutnya, aspek konten inilah yang harus diperkuat kembali. IPMAFA sebagai institusi perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan komunikasi dan penyiaran akan memiliki keunikan tersendiri jika mampu menghasilkan konten berkualitas yang berpatokan pada standar regulasi penyiaran dan tentu saja nilai-nilai moral pesantren.

?

Pada ranah praktis, banyak sekali tantangan yang harus dihadapi oleh perguruan tinggi maupun institusi pendidikan penyelenggara kegiatan pembelajaran komunikasi sejenis. Misalnya dari segi pembiayaan dan pengadaan alat-alat yang tentunya tidak murah. "Keterbatasan alat bisa disiasati dengan menjalin kerjasama dengan berbagai institusi," ungkap Muhammad Niam Kepala SMK Cordova.

?

Acara yang dimulai pukul 9:30 dan berakhir pada 15.30 WIB itu tidak hanya merumuskan gagasan ideal dan praksis untuk menghadapi tren komunikasi digital di masa depan, tetapi juga ditindaklanjuti dengan kesepakatan hubungan kerjasama antara IPMAFA dengan lembaga-lembaga yang hadir.

?

Menurut Arif Chasannudin, Sekretaris Program Studi Komunikasi dan Penyiaran IPMAFA, sumbangsih pemikiran dari para narasumber diskusi ini juga akan menjadi acuan ideal untuk merumuskan kurikulum perkuliahan komunikasi dan penyiaran berbasis nilainilai pesantren di masa depan. Ia juga menambahkan, tidak menutup kemungkinan KPI IPMAFA menjalin kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Islam Negeri (UIN), Universitas Gajah Mada (UGM), Undip Semarang dan penyelenggara pendidikan komunikasi lainnya. (Jamal Mamur/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Sejarah, Anti Hoax IMNU Tegal

Doa agar Lepas dari Lilitan Utang

Utang adalah salah satu tanggung jawab yang harus diselesaikan selama hidup di dunia. Mengabaikan hal ini berisiko memberatkan beban seorang hamba di akhirat kelak. Karena masalah tersebut menyangkut haqqul adami (hak sesama manusia) dan hanya akan selesai bila kedua belah pihak saling rela dan mengikhlaskan. Karenanya, seberat apapun utang harus dituntaskan di dunia. Rasulullah menyarankan, saat seseorang dililit utang, untuk membaca:

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Doa agar Lepas dari Lilitan Utang (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa agar Lepas dari Lilitan Utang (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa agar Lepas dari Lilitan Utang

Allâhumma-kfinî bihalâlika ‘an harâmika wa aghninâ bi fadl-lika ‘am man siwâka (Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal sehingga terhindar dari yang haram. Cukupkanlah aku dengan anugerahmu sehingga terhindar dari (meminta bantuan) selain-Mu. (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)

(Mahbib)

IMNU Tegal



Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Nahdlatul, Anti Hoax, Halaqoh IMNU Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Pergunu DKI Dukung RUU Madrasah dan Pondok Pesantren

Jakarta, IMNU Tegal

Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta mendukung upaya NU melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) megusulkan Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Madrasah dan Pondok Pesantren.

“Sudah seharusnya bangsa dan negara ini meberikan pengahargaan kepada madrasah dan pondok pesantren, karena pondok pesantren selama ini telah menunjukkan perannya dalam mebangun kehidupan masyarakat menuju cita-cita kemerdekaan Indonesia,” kata Aris Adi Leksono, Ketua PW Pergunu DKI Jakarta.

Pergunu DKI Dukung RUU Madrasah dan Pondok Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu DKI Dukung RUU Madrasah dan Pondok Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu DKI Dukung RUU Madrasah dan Pondok Pesantren

PW Pergunu DKI Jakarta berharap RUU Madrasah dan Pondok Pesantren ini mendapatkan dukungan dari seluruh fraksi parpol yang lain, sehingga cepat disahkan menjadi Undang-undang. “Jika undang-undang ini sahkan, maka tidak aka nada lagi dikotomi penyelenggaraan pendidikan, baik dalam alokasi anggaran, perlakuan terhadap kompetensi dan kesejahteraan guru, dan masalah lainya,” terang Aris yang juga Wakil Ketua STAINU Jakarta.

IMNU Tegal

Dalam waktu dekat Pergunu DKI Jakarta akan menjalin komunikasi dengan organisasi profesi keguruan untuk dapat bersama-sama mengawal disahkan Undang-Undang Madrasah dan Pondok Pesantren. Karena sesungguhnya banyak sekali organisasi keguruan, kelompok kerja madrasah, kelompok kerja pondok pesantren menunggu payung hukum khusus tentang penyelanggaraan pendidikan madrasah dan pondok pesantren.

Menurut Aris, madrasah dan pondok pesantren adalah model pendidikan khas Nusantara. Sebagai model lembaga pendidikan tertua di Nusantara, madrasah dan pondok pesantren telah teruji oleh lintasan zaman sebagai pencetak generasi penerus bangsa yang berkarakter, berprestasi, dan berakhlakul karimah. Konten dan subtansi pola pendidikan di madrasah dan pesantren telah menginspirasi perkembangan model kurikulum nasional dari tahun kurikulum 2006, kurikulum 2013, sampai hari ini kurikulum 2013 yang baru saja di revisi.

IMNU Tegal

Lebih lanjut, Aris yang juga sudah lama berkarir sebagai guru madrasah menjelaskan, jauh sebelum penerapan kurikulum berkarakter, madrasah dan pondok pesantren telah menjalankan pendidikan karakter yang terintegrasi dengan seluruh aktivitas peserta didik atau santri.

“Kurikulum 2013 yang lebih menekankan pada kemandirian dalam proses belajar, penilaian yang asli dan tuntas, kontruksi nalar pengetahuan dan penerapan yang? sistemik, sesungguhnya madrasah dan pondok pesantren telah menerapkan itu,” paparnya.

Sistem sorogan misalnya, tambah Aris, adalah model penilaian tuntas dan asli berdasarkan pengukuran yang dilakukan oleh ustadz atau kiai. Belajar mandiri yang berpusat pada peserta didik atau santri, pondok pesantren telah menjalankan itu sejak lama.

“Lihat bagaimana ketika santri ingin bisa membaca kitab kuning,? maka kiai atau ustadz hanya memberikan rumus ilmu alatnya, selanjutnya santri mengebangkan dengan model belajar kelompok atau mandiri. Sesungguhnya madrasah dan pesantren memang model pendidikan unggulan di Indonesia,” terangnya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Anti Hoax, RMI NU IMNU Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Penting, Dakwah dengan Tulisan

Bantul, IMNU Tegal. Dakwah, selain dilakukan dengan lisan, penting juga dengan tulisan. Dengan menulis, da’i mampu memberikan pengalaman dakwahnya kepada publik, sehingga menjadi inspirasi bagi masyarakat luas.

Penting, Dakwah dengan Tulisan (Sumber Gambar : Nu Online)
Penting, Dakwah dengan Tulisan (Sumber Gambar : Nu Online)

Penting, Dakwah dengan Tulisan

Demikian disampaikan KH Munawir AF, saat menerima silaturahim aktivis dakwah Kodama (Korp Dakwah Mahasiswa), di ndalemnya Krapyak Bantul, Yogyakarta, Rabu (8/5).

“Menjadi da’i harus juga menjadi penulis, biar aktivitas dakwahnya bisa menjadi pelajaran buat generasi masa depan,” kata kiai yang Mustasyar PWNU DIY ini.

IMNU Tegal

Bagi Kiai Munawir, semangat menulis jangan sampai padam. Dengan menulis, maka spirit dakwah akan menjadi abadi. Kisah dakwah para kiai akan “selesai” kalau tidak ditulis. Dengan ditulis, maka bisa melahirkan semangat berkobar bagi lahirnya generasi da’i masa depan yang lebih progresif.

IMNU Tegal

Ia juga menuturkan, contoh dakwah dengan tulisan yang paling sederhana menceritakan kealiman guru. Ia mengaku setiap membuka akun Facebook, selalu menulis kisah-kisah gurunya, di antaranya KH Ali Maksum, yang sangat menginspirasi jalan hidupnya.

“Dengan menulis kisah-kisah Mbah Ali Maksum dan Krapyak, semoga menjadi inspirasi dan ibroh buat sesama,” pungkasnya.

Redaktur         : Abdullah Alawi

Kontributor     : Jamil dan Rokhim

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Quote, Anti Hoax, Hikmah IMNU Tegal

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan

Minggu yang lalu saya pulang ke kampung halaman, Tabalong, yang berada sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin. Dalam perjalanan dari Banjarmasin, kami singgah di sebuah warung makan di kota Kandangan. Seperti umumnya warung dan rumah orang Banjar di kawasan ini, dinding warung ini dipenuhi poster foto-foto ulama.

Di antara puluhan poster foto itu, ada foto Tuan Guru H. Zainie Ghanie atau biasa dipanggil dengan sebutan "Guru Sekumpul" duduk? bersila berhadapan dengan KH Abdurrahman Wahid, atau akrab disebut Gus Dur. Jika Guru Sekumpul mengenakan baju koko putih dan serban putih, maka Gus Dur mengenakan kemeja batik oranye dan peci hitam. Tangan kanan Guru Sekumpul berada di bahu Gus Dur. Jelas keduanya terlihat akrab dan dekat.

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan

Pemasangan poster foto ulama adalah salah satu wujud penghormatan terhadap para ulama. Pemasangan poster Guru Sakumpul dan Gus Dur, menunjukkan penghormatan pemilik restoran pada sosok ulama tersebut. Dan sudah barang tentu ia berharap orang-orang, para pengunjung restorannya juga menghormati mereka berdua.

Catatan Kenangan

IMNU Tegal



Poster foto itu mengingatkan saya pada kenangan sekitar seperempat abad yang lalu. Ketika itu Gus Dur datang ke Salatiga untuk menjadi pembicara dalam Konferensi Agama-Agama (KAA) yang digelar oleh PGI. Rupanya sehabis kegiatan itu Gus Dur berniat untuk mengunjungi puterinya, Alissa, mahasiswi Fakultas Psikologi UGM yang kala itu sedang KKN di Magelang. Gus Dur minta kepada kami, teman-teman di Yogya, untuk ditemani. Kebetulan saya waktu itu yang mendapat pesan panitia sedang tidak ada kegiatan. Jadilah saya yang menemani beliau.

IMNU Tegal

Di dalam mobil Toyota Kijang milik panitia seperti biasa pula Gus Dur berbincang akrab. Bercerita tentang situasi politik, bertanya tentang perkembangan buku dan dunia intelektual dan tentu saja diselingi humor yang segar. Kadang suara Gus Dur lenyap karena tertidur, terdengar suara dengkur, tapi hanya sebentar, lalu kemudian terbangun lagi untuk melanjutkan perbincangan.

Tiba-tiba saja Gus Dur bertanya, siapa di Kalimantan Selatan sosok ulama yang sekarang sangat dihormati. Dengan spontan, saya menjawab "Tuan Guru H. Zainie Ghanie". Saya ceritakan bagaimana pengajian rutin yang diasuh beliau di sebuah kawasan kampung senantiasa dihadiri ribuan masyarakat dan bagaimana kampung itu, ‘Sekumpul’, kemudian dinisbahkan kepada beliau. Jadilah julukan akrabnya ‘Guru Sekumpul’. Nisbat seseorang pada nama sebuah kampung jelas menunjukkan kelas ketokohannya. Dalam sejarah Islam di Kalimantan, ini disandang misal oleh ‘Guru Kelampayan’, gelar kultural-keagamaan bagi Syekh Muhammad Arsyad, yang membuka dan mengembangkan pengajaran Islam di kampung Dalam Pagar, di daerah Kelampayan pada abad 18. Sanad guru-murid Tuan Guru Sekumpul sendiri terhubung sampai Guru Kelampayan ini.? ?

Gus Dur menyimak dan mendengarkan informasi yang saya sampaikan tersebut. Sembari diselingi beberapa pertanyaan mengenai detail yang tampaknya ingin beliau ketahui lebih lanjut.

Perbincangan itu mungkin berlangsung sekitar bulan April 1994. Langit politik Indonesia sedang kemarau karena protes dan ketidakpuasan terhadap pemerintahan Soeharto mulai bertumbuh dan menjamur luas. Dalam iklim yang panas itu, NU juga mengalami efek panas yang luar biasa karena Gus Dur –yang notabene Ketua Umum PBNU-- merupakan sumbu penting suara-suara protes tersebut.

Pak Harto konon sangat marah kepada Gus Dur. Beberapa kali Gus Dur hendak mengajukan sowan untuk melaporkan rencana pelaksanaan muktamar sekaligus meminta kepada Pak Harto untuk membuka, selalu ditolak.

Kala itu Pak Harto sudah tidak ingin Gus Dur jadi ketua umum lagi. Karena ITU, ‘perintah alus’-nya –suatu istilah era kolonial yang menunjukkan ketidakinginan pemerintah kepada suatu figur duduk dalam sebuah organisasi--? melalui aparat militer dan birokrasi berbagai cara dilakukan untuk menjegal Gus Dur. Bahkan ketika menabuh gong untuk membuka muktamar, Pak Harto sama sekali tidak menyapa dan hanya membelakangi Gus Dur. "Dinengke" dan "ra dianggap", istilah Jawanya, suatu simbol politik khas Jawa yang sangat keras.

Muktamar terpanas dalam Sejarah NU, dan politik masyarakat sipil Indonesia di ujung Orde Baru itu berlangsung dengan keras dan berakhir dramatis dengan terpilihnya kembali Gus Dur sebagai ketua PBNU. Gus Dur hanya memenangkan 3 suara dengan pesaingnya, sosok yang sama sekali tak dikenal, Hasan Syazili.

Tapi poinnya bukan itu. Pada Muktamar NU 1994 itu, saya –yang merupakan peserta ‘romli’ (rombongan liar) bertemu dengan senior Dr. Humaidi Abdussami, dosen IAIN (sekarang UIN) Antasari, Banjarmasin, yang datang sebagai peserta muktamar dari NU Kalimantan Selatan. Ia bercerita bahwa sebenarnya Guru Sekumpul ingin datang ke Muktamar ini. Dalam pengajian minggu sebelumnya beliau bilang minggu ini pengajian libur karena ingin menghadiri muktamar atas undangan Gus Dur. Sayang sekali, lanjut Humaidi, pada hari "H muktamar, Guru Sekumpul sakit, sehingga beliau batal hadir.

Saya tidak tahu apakah waktu ngobrol di mobil dan bertanya tentang ulama di Kalimantan Selatan beberapa bulan sebelumnya itu Gus Dur memang belum tahu dan tidak pernah mendengar nama Guru Sekumpul. Apakah beliau hanya ingin menguji pengetahuan saya saja? Atau hanya sekadar untuk mengonfirmasi dan mencocokkan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya mengenai Guru Sekumpul. Entahlah. Yang jelas, seperti cerita Dr. Humaidi Abdussami di atas, Guru Sekumpul berniat datang ke muktamar atas undangan Gus Dur, meski kemudian batal karena berhalangan.

Terlepas dari ketidakdatangan beliau, di dalam kepengurusan NU kemudian nama Guru Sekumpul dengan nama resmi KH Zaini Abdul Ghani, tercantum sebagai salah satu dari 9 anggota mustasyar PBNU perode 1994-1999. Mustasyar artinya penasehat. Mustasyar atau Dewan Penasehat ini berada di strata paling tinggi dalam struktur kepengurusan NU.? Mustasyar memang dari segi praktik lebih merupakan daftar nama. Tidak ada tugas organisasi yang harus diemban. Tetapi dari segi makna, mustasyar menunjukkan pengakuan tinggi organisasi ini pada sosok ulama sebagai garda pengawal organisasi ini. Ulama merupakan simbol organisasi ini.

Nama Guru sekumpul sebagai mustasyar itu bermakna lebih penting lagi mengingat setelah muktamar itu, NU terseret konflik antara kubu Gus Dur dan Abu Hasan yang kemudian membuat “NU Tandingan”. Kebetulan NU Kalimantan Selatan berada di kubu yang berseberangan dengan Gus Dur. Namun penentangan terhadap Gus Dur dari Kalimantan Selatan ini tidak begitu keras karena ada nama Guru Sekumpul dalam barisan Mustasyar, meski Guru Sekumpul sendiri tidak turut campur sama sekali. (Kelak sebelum Abu Hasan dan Gus Dur meninggal, keduanya bertemu, islah, dan saling memaafkan. Perbedaan pandangan politik adalah satu hal, persaudaraan adalah hal lain.)

Ketika tahun 2012 saya turut diajak menjadi salah seorang tim penulis dan penyunting Eksiklopedi NU, saya mengusulkan dan memasukkan nama Guru Sekumpul sebagai lema. Usulan ini diterima bulat dan jadilah sosok Guru Sekumpul terpampang sebagai salah satu lema dalam ensiklopedi tersebut.

Menjadi NU sendiri tidak mesti memiliki kartu anggota atau menjadi pengurus. Demikian dengan Guru sekumpul. Dari segi ajaran yang diajarkan dan dikembangkan beliau adalah NU sejati. Pengaruh dan sumbangannya pun amatlah besar kepada ‘masyarakat NU’, bukan hanya di Kalimantan Selatan, tapi di lima penjuru Kalimantan, bahkan keluar Kalimantan. Karena itu apakah namanya masuk dalam jajaran pengurus NU atau tidak, tidaklah penting bagi beliau. Demikian juga, andai tak dicantumkan dalam ensiklopedi, itu sama sekali tak mengurangi kebesaran namanya, seperti juga pencantuman itu tak menambah kebesaran namanya. Yang merasa berkepentingan dan untung tentu NU sendiri karena pencantuman itu memiliki makna simbolik yang dalam dan luas.

Presiden Gus Dur dan Kampanye



Tahun 1999. Politik Indonesia mengalami perubahan yang cepat dan dramatis seusai Pak Harto dimakzulkan. Tak dinyana, Gus Dur diangkat menjadi presiden, lewat suatu kemelut politik yang rumit.

Gus Dur adalah penggemar silaturahmi. Ia bersilaturahmi ke mana dan ke siapa saja. Menjadi presiden tak menghalanginya untuk terus melanjutkan hobi silaturahminya tersebut. Tentu saja ulama selalu ada dalam daftar kunjungan silaturahmi Gus Dur. Dan di antara ulama itu tersebutlah nama Guru Sekumpul.

Pada hari Jumat, 26 Mei tahun 2000 Gus Dur bersilaturahmi ke Martapura mengunjungi Guru Sekumpul dan berziarah ke makan Maulana Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Dalam pertemuan itu, Gus Dur menghadiahi Guru Sekumpul satu pak rokok bermerek Istana Presiden. Gus Dur tahu kalau Guru Sekumpul suka merokok. Menurut cerita, Guru Sekumpul menerimanya, tertawa sangat senang dan berterima kasih. Seorang penulis, Muqarramah Sulaiman Kurdi, menggambarkan pertemuan keduanya “tampak sangat akrab dan penuh canda tawa. Keduanya seperti sahabat lama yang baru bisa berjumpa kembali pada saat itu.”

Menurut catatan, itu adalah pertemuan pertama Gus Dur dan Guru Sekumpul. Tapi dari arsip foto yang beredar luas, di mana Gus Dur maupun Guru Sekumpul mengenakan pakaian yang berbeda, setidaknya Gus Dur lebih dari sekali bertemu dan bersilaturahmi ke tempat Guru Sekumpul. Bisa jadi sebelum dan sesudah 26 Mei 2000 di atas sudah pernah. Namun karena kunjungan di 26 Mei 2000 ini merupakan kunjungan tidak resmi Gus Dur sebagai presiden, maka inilah yang dicatat sebagai yang pertama dan diliput secara luas.

Dalam hal ini, patut saya ulang cerita yang kembali saya kutip dari Dr. Humaidy Abdussami tentang Guru Sekumpul dan Gus Dur ini. Sudah umum diketahui bahwa setelah reformasi, Gus Dur mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Tentu saja pendirian ini tidak menyenangkan partai-partai lama, karena menggerus pendukung mereka, terutama dalam hal ini Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang di Kalimantan Selatan, notebene juga berbasis pada masyarakat NU.

Pada kampanye Pemilu 1999, kontestasi antara? PKB dan PPP pun tak bisa dihindari. Tak terkecuali di Kalimantan Selatan. Dalam kampanye inilah muncul ejekan yang tidak semestinya kepada Gus Dur sebagai pendiri dan Ketua Umum PKB. Fisik Gus Dur yang tak bisa melihat dan buta pun menjadi sasaran ejekan.

Guru Sekumpul rupanya mendengar hal itu. Dalam sebuah pengajian, akhirnya beliau mengatakan yang kira-kira dalam bahasa Banjar kurang lebih demikian: “Aku mandangarlah ada bubuhannya manyambati Gus Dur tu picak. Aku baritahu buhan ikam, jangan diulang lagi, Gus Dur itu ulama. Anak ulama. Dan cucu ulama. Kalo katulahan kaina.” (Aku mendengar banyak orang mengejek Gus Dur picek. Aku kasih tahu kalian, jangan dilakukan lagi, Gus Dur itu seorang ulama. Anak seorang ulama, cucu seorang ulama. Bisa kuwalat kalian nanti.) Demikian kira-kira cerita Humaidy Abdussami, dengan paraprase yang saya buat kembali. Dan peringatan Guru Sekumpul itu bergema seperti guntur. Sejak itu tak ada lagi ejeken demikian terhadap Gus Dur.

Cerita ini menunjukkan betapa Guru Sekumpul sangat menghargai ulama di satu pihak, dan menganggap Gus Dur sebagai salah seorang ulama yang patut dihargai juga. Yang kedua, Guru Sekumpul secara tidak langsung mengingatkan bahwa berbeda boleh saja, Karena itulah Guru Sekumpul tidak memerintahkan memilih salah satunya.? Tetapi yang diingatkan beliau adalah tetap menjaga sopan santun dan akhlak serta persaudaraan.

Guru Sekumpul dan Gus Dur: Dua Wali Awal Abad 21 ?



Baik Guru Sekumpul maupun Gus Dur adalah ulama. Namun keduanya tampil sebagai ulama dalam pola dan lapangan pengabdian yang berbeda, meski dasar ajaran yang dikemukakan pada dasarnya sama.

Guru Sekumpul adalah ulama par excellent. Beliau menempuh pendidikan dalam lingkungan keagamaan tradisional yang ketat, hampir tanpa persentuhan sedikit pun dengan pendidikan modern. Lalu pada masanya kemudian beliau dipercaya oleh guru-guru beliau untuk memberikan pengajian sendiri. Mula-mula di kampung Keraton. Namun karena pengajiannya makin membesar, dan kampung Keraton tak bisa menampung lagi, beliau pindah ke sebuah kawasan yang relatif masih sepi: Sekumpul.

Pengajian-pengajian Guru Sekumpul berisi pengajaran-pengajaran tasawuf, baik tasawuf akhlaqi maupun falsafi. Selain itu, beliau juga menggelar pembacaan shalawat Simtut Durar, yang dua dekade kemudian populer di sekujur Jawa melalui pengasuhan Habib Syekh yang bersuara empuk.

Guru Sekumpul memberikan pengajaran dengan menggunakan kitab dan orang-orang –juga dengan memegang kitab yang dibacakan-- duduk menyimak pembacaan dan penjelasan kitab tersebut. Cara mengajarnya sangat komunikatif sekali dan mudah dipahami. Sesekali beliau menyelipkan humor yang segar. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Banjar dengan diselingi Bahasa Indonesia.? ?

Guru Sekumpul tak pernah mengenal yang namanya diskusi, seminar, workshop dan sejenisnya. Beliau tak pernah ikut pelatihan organisasi apapun. Beliau juga bukan orang politik, meski demikian, pengaruh politiknya sangat besar sekali, khususnya di kawasan Kalimantan. Karena itu taklah aneh jika hampir seluruh pimpinan politik di kawasan tersebut menyempatkan untuk mengunjungi beliau dan setiap calon pimpinan daerah berusaha mengejar restu beliau.

Berbeda dengan itu, Gus Dur tumbuh sebagai ulama dengan kombinasi pendidikan keagamaan tradisional dan pendidikan modern. Ia menulis esai-esai dan mengulas berbagai perkara mulai agama hingga sepakbola di media-media. Ia menjelajahi berbagai profesi dari pekerja LSM, dosen, penulis, konsultan, politisi dan lain-lain. Ia juga bertemu dengan banyak kalangan yang berwarna-warni dan beragama dari agama, etnis, bangsa, budaya, profesi dan banyak lagi lainnya. Artinya sebagai ulama, Gus Dur adalah ulama dengan banyak wajah dan dengan gelanggang yang sangat luas.

Gus Dur memandang tinggi Guru Sekumpul dan karena itu meminta beliau untuk masuk ke jajaran mustasyar, dewan penasihat, himpunan sembilan ulama yang layak memberikan nasihat. Sebaliknya Guru Sekumpul sendiri memandang Gus Dur sebagai ulama.

Lantas di manakah ‘perjumpaan’ antara keduanya? Perjumpaan keduanya terletak pada konsistensi untuk memperkenalkan Islam sebagai agama tauhid dengan nilai-nilai yang universal: kasih sayang, perdamaian, pembebasan. Islam sebagai yang berserah diri dan pasrah.

Guru Sekumpul tak pernah terlibat dalam dialog-dialog antaragama, tetapi pengajaran-pengajaran beliau mengandung dimensi pengembangan jiwa pribadi maupun umat secara mendalam. Seorang teman Katolik pernah bercerita bahwa ia pernah mendengar beberapa kali rekaman pengajian Guru Sekumpul dan ia mengaku sangat apresiatif. Pengajaran-pengajaran beliau penuh dengan nilai-nilai positif, pembangunan karakter jiwa, optimisme, dan kehidupan yang seimbang antara dunia dan akhirat. Dan yang penting lagi, menurutnya, tidak ada sama sekali, nada-nada permusuhan dengan kalangan lain. ?

Bergerak di wilayah lain dan dengan strategi yang berbeda, Gus Dur memperkenalkan Islam yang ramah, bukan yang marah. Tak lelah dan tak kenal henti ia meyakinkan bahwa Islam agama yang penuh penghormatan pada martabat kemanusiaan, toleran, dan adil.

Sebuah tulisan dari Muqarramah Sulaiman Kurdi di Gusdurian.net dengan baik mengulas perjumpaan Islam yang diajarkan Guru Sekumpul dan 9 nilai yang dikembangkan Gus Dur selama ini. Dalam bahasa yang singkat, keduanya mengajarkan ‘Islam yang basah’, mengutip Frithjof Schuon, bukan ‘Islam yang kering’, yang hanya memperkenalkan aspek-aspek permukaan dan parsial dari Islam. Tak heran kalau keduanya sangat mendalam pengaruhnya di kalangan pengikutnya masing-masing. Dan tidak aneh juga jika seseorang bisa menjadi pengikut Guru Sekumpul sekaligus penyuka Gus Dur seperti tercermin dalam sosok pemilik restoran yang dikutip di pembuka tulisan di atas.

Saya bersyukur pernah berguru kepada kedua ulama ini secara langsung. Pada masa pendidikan di pesantren dulu, saya cukup sering mengikuti pengajian Guru Sekumpul. Waktu itu, beliau masih menyelenggarakan majlis di Kampung Keraton dan belum lagi pindah ke daerah Sekumpul. Dari Pesantren Alfalah kami naik angkot ke kota Martapura sehabis Asar, mengikuti salat magrib jamaah dan kemudian dilanjut dengan pengajian kitab beliau, di antaranya kitab Ihya ‘ulumiddin dan Risalah Mu’awanah. Sementara pada masa mahasiswa, saya sering sekali bertemu Gus Dur, bahkan sempat berbincang-bincang berdua secara lebih dekat. ?

?

Beberapa tahun lalu, ketika ziarah ke makam para wali, baik di Kalimantan maupun di Jawa, saya pernah terpikir bahwa mereka yang disebut wali dan makamnya dikeramatkan dan diziarahi orang banyak tak henti-henti, adalah tokoh-tokoh masa lalu. Sekarang dan akan datang tak akan pernah ada lagi sosok-sosok demikian.

Ternyata anggapan saya itu keliru. Ketika Tuan Guru Haji Zainie Ghani atau Guru Sekumpul wafat tahun 10 Agustus 2005, lautan manusia melepaskan kepergian beliau. Setelah itu makam beliau di Sekumpul yang sangat bersih dan tertata rapi tiap hari selalu diziarahi banyak orang. Dan haul tahunan Guru Sekumpul juga dihadiri ratusan ribu umat Islam.

Tak berbeda jauh dengan Guru Sekumpul, ketika Gus Dur wafat 30 Desember tahun 2009, ribuan orang juga turut melepasnya. Lalu setelah itu makamnya di Tebu Ireng kini menjadi situs ziarah yang tak pernah habis. Sedemikian besarnya, tak aneh jika K. H. Maimun Zubair dari Sarang, pernah mengemukakan kecemburuannya dan bertanya kepada Gus Mus, apa gerangan amalan rutin Gus Dur sehingga pemakamannya dihadiri ratusan ribu orang dan makamnya tak pernah sepi penziarah. Uniknya penziarah Gus Dur bukan hanya umat Islam, sebagian juga datang dari kalangan lain.

Baik Tuan Guru Sekumpul dan Gus Dur adalah wali Indonesia abad 21.? ?



Hairus Salim HS, aktivis NU; pendiri Yayasan LKiS


Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pesantren, Anti Hoax IMNU Tegal

Pergunu Jabar: Kompetensi Guru Matematika di Bandung Masih Rendah

Bandung, IMNU Tegal. Nilai hasil uji kompetensi guru (UKG) yang dilaksanakan pada tanggal 9 sampai dengan 27 November 2015 jauh dari harapan. Dari hasil UKG mata pelajaran matematika di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, diperoleh nilai rata-rata mereka 63,57.? Sementara rata-rata kompetensi pendagogik 60,65 dan rata-rata kompetensi profesional 64,85.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Barat H Saepuloh, pada kegiatan Focus Gruop Discussion Analisis Hasil Uji Kompetensi Guru Matematika SMP Kabupaten Bandung di Ruang Rapat PWNU Jawa Barat, Kamis (17/12).

Pergunu Jabar: Kompetensi Guru Matematika di Bandung Masih Rendah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Jabar: Kompetensi Guru Matematika di Bandung Masih Rendah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Jabar: Kompetensi Guru Matematika di Bandung Masih Rendah

Hasil UKG tersebut menggambarkan penguasan kompetensi pendagogik dan profesional guru matematika SMP di Kabupaten Bandung masih rendah. Kompetensi pendagogik meliputi pemahaman guru terhadap peserta didik, kemampuan merancang dan pelaksanaan pembelajaran sampai pada evaluasi hasil belajar, serta pengembangan peserta didik akan potensi yang dimilikinya. Sedangkan kompetensi profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, serta penguasaan terhadap stuktur dan metodologinya.

IMNU Tegal

Menurut H. Saepuloh, hasil UKG ini merupakan sebuah fakta yang harus ditindaklanjuti oleh pemerintah dalam hal pengembangan dan pembinaan kompetensi guru secara berkelanjutan. Dengan memfasilitasi guru-guru untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kompetensi masing-masing guru agar efektif dan tepat sasaran

IMNU Tegal

“Pasca UKG, kami berharap pemerintah pusat dan daerah memfasilitasi guru-guru untuk mendapatkan pendidikan dan latihan sesuai dengan kebutuhan masing-masing guru berdasarkan kompetensi yang dimilikinya” tutur H. Saepuloh. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Humor Islam, Pemurnian Aqidah, Anti Hoax IMNU Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Gus Mus: Beragama Harusnya Enak, Kok Malah Dipersulit?

Malang, IMNU Tegal - Islam di Indonesia saat ini lebih banyak memperlihatkan wajah marah daripada ramah. Mengapa begitu? Hal ini karena esensi dakwah telah menghilang dan luput dari karakter pendakwah Muslim di negeri ini.

Demikian pesan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam Silaturahmi dan Tausyiah di Masjid Universitas Negeri Malang, Malang, Jawa Timur, Selasa (23/8/2016).

Gus Mus: Beragama Harusnya Enak, Kok Malah Dipersulit? (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Beragama Harusnya Enak, Kok Malah Dipersulit? (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Beragama Harusnya Enak, Kok Malah Dipersulit?

Dalam agenda ini, mustasyar PBNU ini didampingi Rektor Universitas Negeri Malang (UM) Ah. Rofiuddin dan segenap jajaran pimpinan kampus UM, serta guru besar, dosen dan pengurus NU Kota Malang dan Kabupaten Malang.

IMNU Tegal

Dalam ceramahnya, Gus Mus menyampaikan pentingnya ruhuddakwah (semangat mengajak), yang harus dimiliki oleh ustadz, pendakwah, dan segenap umat Muslim negeri ini. "Di antara krisis umat Islam adalah krisis ruhud-dakwah," terangnya. Menurut Gus Mus, hilangnya ruh dakwah akan menjadikan pesan Islam menjadi melenceng dari apa yang diperintahkan Allah.

Gus Mus juga mengecam para pendakwah yang bersikap keras dan cenderung main hakim sendiri, tanpa ada ajakan dengan kedamaian dan rahmat. "Semua sedang berjalan menuju Allah. Ada yang mampir, ada yang bergeser. Tapi semua belum sampai ke tujuan. Jika masih di jalan, tapi belum sampai kok disikat," ujar Gus Mus, di hadapan ribuan mahasiswa dan dosen.

IMNU Tegal

Lebih lanjut, Gus Mus menjelaskan bahwa Rasulullah Muhammad diutus untuk berdakwah dan mengajarkan cinta, bukan melaknat manusia. "Buitstu daaiyan, saya diutus untuk berdakwah bukan melaknat. Itulah ungkapan Nabi Muhammad," kisah Gus Mus.

Dalam esensi dakwah dengan cinta, Nabi Muhammad senantiasa bersabar dan terus mengajak kepada kebaikan, meski dibalas musuhnya dengan kejam. Namun, kesabaran Nabi Muhammad membuahkan hasil dengan Islam yang berkembang pesat.

"Kalian tahu siapa Khalid bin Walid? Khalid bin Walid itu anaknya Walid al-Mughirah, yang merupakan tokoh yang memusuhi Nabi Muhammad. Kalian mengenal Hindun? Perempuan bernama Hindun, istrinya Abu Sufyan, yang dahulu pernah memakan jantungnya Sayyidina Hamzah, di perang Uhud. Setelah masuknya Islam, Hindun sangat mencintai Nabi Muhammad, sebagai pujaan dan panutan," terang Gus Mus.

Gus Mus mengimbau kepada umat Muslim, khususnya pendakwah agar memahami bab tobat. Ia mengatakan bahwa tobat itu sampai pada akhir hayat, sebelum nyawa dicabut, setiap manusia bisa bertobat.

"Sunan Kalijaga ketika masih menjadi Brandal Lokajaya, itu merupakan begal. Kalau pada masa itu Sunan Bonang bersikap keras, maka ya tidak ada Sunan Kalijaga," kisah Gus Mus.

Dalam taushiyahnya, Gus Mus mengimbau agar umat Muslim mengedepankan akhlak dan memudahkan kesulitan.

"Yuriidu bikumul yusra walaa yuriidu bikumul usra. Allah menghendaki kalian gampang, dan tidak menghendaki kalian sulit. Allah itu tidak ingin kita itu sulit, kok kita malah mempersulit," terang Gus Mus.

Gus Mus menambahkan bahwa beragama itu seharusnya menjadi kenikmatan. "Beragama itu harusnya enak, tapi kok sekarang malah dipersulit? Islam itu harusnya rahmatan lil alamin (kasih sayang bagi seluruh alam), tapi kayaknya malah jadi lanatan lil alamiin (laknat bagi seluruh alam)," jelas Gus Mus.

Dalam agenda ini, Gus Mus berpesan kepada mahasiswa dan akademisi untuk teguh mengaji, tekun belajar, dan memberi kontribusi pada NKRI. Ia juga berharap agar kampus UM menjadi universitas yang memberi manfaat pada kehidupan, dan turut berkontribusi pada kebaikan Indonesia. (Munawir Aziz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Anti Hoax, Doa IMNU Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

Universitas NU dan Masa Depannya (4)

Oleh Mh Nurul Huda

There are many alternatives” (TAMA), ada banyak alternatif. Slogan ini barangkali relevan bagi kita yang “melihat” aneka alternatif kemungkinan di masa depan. Kecuali bila penulis sendiri diam-diam terperangkap-betapapun ditepisnya ia dalam ucapan dan dipuaskannya ia hidup dalam kesinisan-membeku dalam suatu mitologi bahwa hanya ada satu jalan tunggal sejarah (the end of history) yang bernama apa saja dalam bendera “there is no alternative” (TINA).

Universitas NU dan Masa Depannya (4) (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas NU dan Masa Depannya (4) (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas NU dan Masa Depannya (4)

Mulai dari sini rupanya, dalam perjalanannya, kita dapat menemukan keselarasan pandangan atau titik temu (fusion of horizons) dengan mereka, saudara-saudara kita, yang berharap alternatif dunia masa depan yang lebih baik. Keselarasan itu diupayakan sedemikian rupa sehingga bila terdapat perbedaan cara, maka segera diinsyafi hanyalah konsekuensi belaka dari pengakuan terhadap aneka jalan kemungkinan alternatif. Bersamaan dengannya juga telah disadari bahwa ada alternatif masa depan yang paling kita inginkan (preferable) di antara sekian alternatif yang mungkin.

Dalam konteks inilah kiranya khalayak umum lalu dapat mengerti bahwa: seutuhnya masuk akal dalam nalar, bisa diterima secara moral, dan dapat dipertanggungjawabkan secara sosial kalau alternatif itu datang dari tradisi pesantren.

IMNU Tegal

Tradisi yang dimaksud sudah barang tentu bukan yang dibayangkan statis, mandeg, apalagi beroposisi dengan rasio seperti dalam gambaran rasionalisme positivis/empiris yang dibawa tradisi Pencerahan Eropa yang menjadi ranjang kenikmatan di pucuk tower intelektual bagi tesis sekularisasi yang sudah out of date. Karena sebagaimana terekam sejarah, para ulama, kiai dan santri sendiri pun terbukti merupakan para “pelaku agentik” (bearers of that tradition) yang dalam cakrawala rasio memelihara, menafsirkan dan “menggerakkan tradisi” secara berkesinambungan.

Mari bersama-sama membaca kembali esai-esai Kiai Abdurrahman Wahid berjudul Kiai Nyentrik Membela Pemerintah [1997]. Bila kita selidiki secara seksama-dipandu oleh kejelian kata pengantarnya budayawan kita DR Muhammad Sobary yang secara eksplisit memandang aneh pemberian judul itu karena “tak sepotong pun penjelasan diberikan”-di sana memperlihatkan tiadanya antinomi atau oposisi antara tradisi dan rasio dalam gerakan.

IMNU Tegal

Tradisi pesantren terus hidup hingga kini. Sebagai a living tradition, spirit luhurnya masih bergairah, kalau bukan malahan semakin bergairah, di tengah-tengah masyarakat kebanyakan. Oleh sebab itu, berdasarkan perhitungan yang masuk akal, kita dapat menyatakan bahwa “roh”-nya mampu menghidupkan tubuh universitas-universitas. Sedemikian rupa ia, sehingga universitas terkoneksi kembali dengan kebutuhan sebenarnya masyarakat kebanyakan.

Adalah juga preferable (yang lebih baik dan kita inginkan) bagi universitas NU di masa depan untuk mampu berkompetisi (fastabiqul khoirot) dalam kerangka “ko-operasi”(ta’awun). “Takdir sejarah”-nya menjadi bagian dari usaha pencapaian kesejahteraan dan kemajuan bersama masyarakat dari mana universitas itu sendiri berasal, tumbuh, berkembang, dan memimpin untuk kemajuan bangsa. Unggul dalam keilmuan, tangguh dalam karakter/mentalitas, dan populis dalam komitmen sosial sebagai suatu komunitas epistemik.

Di sini sudah barang tentu kita tidak dapat mengabaikan begitu saja kemungkinan-kemungkinan lain di masa depan (probable/possible futures). Yaitu suatu masa depan yang turut dibentuk oleh gejala-gejala masa kini yang terus menerus kian menerima penilaian kritis nan tajam dari para ahli.

Gejala itu dapat dinyatakan secara singkat sebagai pendidikan yang hanya mencetak individu-individu kompetitif mengejar kepentingan-kepentingannya sendiri sampai ke ujung surga. Terperangkap dalam alam pikiran darwinisme sosial, pembelajaran berlangsung begitu mekanistik dan behavioristik; kompetisi individual dalam pasar bebasnya para raksasa kapitalis menjadi satu-satunya tujuan utama. Hal ini sejenis pendidikan yang melupakan arti pentingnya “ko-operasi” (ta’awun) dan mengabaikan kerja sama organik dan publik (mashlahah ‘ammah, summum bonum), yang dapat berakibat mengerikan di masa depan.

Bagaimana mungkin masyarakat kebanyakan bisa bangkit membangun surga di bumi, baldatun thoyyibatul wa robbun ghofur (negeri yang baik dan dilimpahi kasih sayang), tanpa adanya suatu keselarasan pandangan dan “ko-operasi”? (bersambung...)

* M Nurul Huda, aktivis 1926, dosen Program Studi Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia di Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Anti Hoax, RMI NU, Kajian Islam IMNU Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

IPNU-IPPNU Makassar Gelar Pelatihan Jurnalistik

Makassar, IMNU Tegal. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kota Makassar mengadakan pelatihan Jurnalistik bagi pelajar NU pada Sabtu-Senin (4-5/7) di Aula Gedung C Universitas Islam Makassar.

IPNU-IPPNU Makassar Gelar Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Makassar Gelar Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Makassar Gelar Pelatihan Jurnalistik

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut menghadirkan beberapa narasumber dari kalangan jurrnalis dan wartawan yang ada di Kota Makassar.

Muhammad Nur, Ketua IPNU Makassar mengungkapkan, bahwa kegiatan ini bertujuan mengenalkan dan meningkatkan minat para pelajar NU dalam dunia jurnalistik. “Kegiatan ini dilakukan di bulan ramadhan untuk mengisi liburan pelajar,” ujarnya.

IMNU Tegal

Selain itu, peserta diberikan materi tentang kode etik jurnalistik, teknik penulisan berita, teknik wawancara dan beberapa materi pengembangan skill bagi para pelajar.

IMNU Tegal

Kegiatan yang diikuti tiga puluhan pelajar NU dari beberapa kecamatan tersebut dihadiri Wakil Ketua IPNU Sulsel Andy Muhammad Idris yang juga kontributor IMNU Tegal Makassar, Bendahara IPNU Sulsel Sudirman, Ketua IPPNU Makassar Azizah Dahlan, Abdul Jabbar dan Abdul Jurlan wartawan yang juga alumni IPNU. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Anti Hoax, Meme Islam, Doa IMNU Tegal

Kamis, 23 November 2017

Gus Mus: Pendidikan Harus Tekankan Pembentukan Akhlakul Karimah

Jepara, IMNU Tegal. Rais Aam PBNU KH A. Mustofa Bisri menilai pendidikan nasional masih menitikberatkan pada pengajaran. Hal demikian, menurutnya, hanya menghasilkan generasi cendekia atau pandai saja, padahal seharusnya pendidikan itu membentuk akhlakul karimah.

"Pendidikan akhlakul karimah sangat penting dalam rangka menyiapkan generasi unggulan 2045. Bahkan bila ditekankan betul, insya Allah akan menjadi generasi unggulan sampai hari qiyamat," katanya dalam kuliah umum tahun akademik 2014/2015 Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) di Gedung Haji Tahunan Jepara, Rabu (29/10) kemarin.

Gus Mus: Pendidikan Harus Tekankan Pembentukan Akhlakul Karimah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Pendidikan Harus Tekankan Pembentukan Akhlakul Karimah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Pendidikan Harus Tekankan Pembentukan Akhlakul Karimah

Kiai yang sering disapa Gus Mus ini menekankan pendidikan harus membentuk lingkungaan yang mencintai pengetahuan sekaligus mengamalkan ilmu dan akhlakul karimah. Ia merasa prihatin melihat sekelompok orang yang mengatasnamakan agama, tetapi prilakunya tidak mencerminkan nilai dan ajaran agama.

IMNU Tegal

?

"Tidak ada generasi unggul kecuali dengan akhlakul karimah," tandas Pengasuh Pesantren Raudlatuth Thalibin Leteh Rembang.

Kepada Unisnu, Gus Mus mengharapkan perguruan tinggi milik NU ini mempunyai ciri khas sendiri dengan menciptakan cendikia berakhlakul karimah. Tidak hanya mengembangkan pengajaran di kuliah saja tetapi menekankan pendidikan akhlak.

IMNU Tegal

Di hadapan ribuan civitas akademika Unisnu ini, Gus Mus juga mengajak belajar memahami banyaak bahasa. Dalam masyarakat terdapat ragam bahasa yang mengemuka sesuai komunitasnya masing-masing seperti bahasa intelektual, akademisi, sarjana bahkan bahasa alay atau gaul.

"Dengan semakin memahami banyak bahasa, kita akan semakin arif bijaksana dan tidak kagetan," tegas Gus Mus yang juga menjadi dewan penyantun Unisnu Jepara ini.

Kuliah umum bertema "Membangun Atmosfir Akademik dan Generasi yang Unggul Menyongsong Indonesia Emas 2045" diikuti ribuan mahasiswa Unisnu. Tampak hadir dalam acara ini, rektor Unisnu H. Muhtarom, ketua umum Yayasan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (YAPTINU) H. Ali Irfan dan tamu undangan lainnya.(Qomarul Adib/Abdullalh Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Syariah, Anti Hoax, Budaya IMNU Tegal

Senin, 20 November 2017

Peringati Hari Kartini, IPPNU Sidoarjo Ajak Masyarakat Tertib Berlalu Lintas

Sidoarjo, IMNU Tegal. Pimpinan Anak Cabang IPNU dan IPPNU Sidoarjo kota membagi-bagikan stiker bertuliskan pelajar putri Sidoarjo cerdas berlalu lintas sosok Kartini masa kini kepada pengendara di jalan raya Jenggolo Sidoarjo, Jumat (21/4). Aksi ini mereka gelar untuk memperingati Hari Kartini serta mengajak para pengendara agar tertib berlalu lintas.

Peringati Hari Kartini, IPPNU Sidoarjo Ajak Masyarakat Tertib Berlalu Lintas (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Hari Kartini, IPPNU Sidoarjo Ajak Masyarakat Tertib Berlalu Lintas (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Hari Kartini, IPPNU Sidoarjo Ajak Masyarakat Tertib Berlalu Lintas

Ketua PAC IPPNU Sidoarjo Siti Firqo Najiyah mengatakan, melihat di sepanjang jalan banyak brosur save our student, mendukung pihak polisi agar para pelajar tetap berhati-hati dalam berkendara serta tertib berlalu lintas.

"Kita juga organisasi berbasis pelajar. Jadi, saling mendukung program kepolisian yang berbasis pelajar. Kita menyadarkan bahwa sosok Kartini di masa kini tidak harus memakai sanggul yang identik dengan Jawa. Tetapi kita sebagai perempuan juga bias eksis seperti laki-laki bias berekpresi namun tetap mematuhi aturan-aturan dan kaidah Islam," kata Firqo.

Selain membagi-bagikan stiker dan pin RA Kartini, IPPNU Sidoarjo juga membetangkan poster imbaun ukuran besar yang ditujukan bagi pengendara roda dua khususnya para perempuan baik pelajar maupun ibu-ibu swasta. Imbaun ini sengaja dibentangkan karena banyaknya jumlah pelanggar lalu lintas dari kalangan pelajar yang dinilai sangat parah.

Mengingat kecelakaan pelajar diawali dengan pelanggaran lalu lintas baik tidak memakai helm ? maupun tidak mempunyai kelangkapan surat yakni SIM. Dari itulah, IPPNU Sidoarjo membantu pihak kepolisian Sidoarjo dalam memberikan pemahaman bagi pengendara roda dua di jalan raya yang bertepatan dengan momen Hari Kartini. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Anti Hoax IMNU Tegal

Minggu, 05 November 2017

Mantra Pesantren dalam Krisis

Oleh: Abdurrahman Wahid?

Dalam perkembangan pesantren di negeri kita, terdapat banyak sekali legenda yang harus diteliti secara mendalam, termasuk dengan penelitian lapangan. Salah satu contoh yang dapat dikemukakan adalah legenda tentang Syeikh Ahmad Muttamakin dari Mejagung. Pertama mengenai lokasi kegiatan beliau. Ada sumber lisan yang menyatakan bahwa Mejagung terletak di Tuban sekarang Jawa Timur; sedangkan sumber lain mengatakan tempat itu ada di wilayah Pati (sekarang termasuk kecamatan Kajen, Kabupaten Pati). Kedua menurut DR. Subardi dalam desertasinya tentang Serat Cebolek, menggambarkan perdebatan antara beliau dan Katib Anom (cucu Sunan Kudus), yang dimenangkan oleh tokoh Kudus itu (yang penulis duga jadi semacam Menteri Agamanya Amangkurat III dari Kraton Kartasura dekat Solo. Dalam serat itu, Kiai Ahmad Muttamakin mengakui “kesalahan doktriner” yang dibuatnya, tanpa menjelaskan hal itu. Ini terbawa oleh kenyataan, bahwa Katib Anom menyalahkan Kiai Ahmad Muttamakin yang menyimpang dari “hukum agama” sebagaimana tertera dalam literatur fiqh. Bentuk penyimpangan itu adalah ia membiarkan Gajah dan Ular dilukis lengkap pada dinding Musholla tempatnya beribadat/mengajar, sedangkan waktu itu fiqh menetapkan bahwa tidak ada gambar yang utuh dari binatang maupun manusia yang diperkenankan. Yang sebenarnya diperbolehkan hanyalah “gambar mahluk hidup” yang tidak lengkap alias hanya sebagian saja. Disamping itu, Kiai Mutamakin sering menikmati pagelaran wayang kulit dengam cerita Dewa Ruci/ Bima Sakti.

Apa yang tidak dikemukakan oleh DR. Subardi dalam serat Cebolek itu adalah latar belakang politis dari pemunculan beliau, yang mungkin menimbulkan “masalah” bagi para pemuka agama Islam dalam masyarakat Jawa pada waktu itu. Para ahli fiqh, -di masa itu dikenal juga dengan nama kaum syari’ah-, banyak yang dekat posisi mereka dengan Raja/ Penguasa, minimal dimasyarakat “pesisiran” tempat Kiai Muttamakin tinggal. Sebaliknya para pemimpin tarekat (gerakan tasawuf yang diakui), umumya menentang penguasa. Namun keadaan ini menjadi berkebalikan pada tahun 70-an hingga akhir abad yang lalu (abad ke-20 masehi).

Jika Wali Sanga (wali sembilan yang menyebarkan Islam dikalangan orang Jawa dalam Abad ke XV dan XVI Masehi) menggunakan cara berkonfrontasi untuk menundukan para penguasa, dan hal itu diikuti oleh para ahli Fiqh dalam abad ke XVI dan XVII Masehi, Kiai Muttamakin menampilkan sebuah “strategi baru” dalam perjuangan gerakan-gerakan Islam waktu itu dalam menghadapi para penguasa, minimal di kalangan orang Jawa. Strategi baru itu merupakan jalan ketiga, yaitu tidak membiarkan tunduk kepada para penguasa (seperti dilakukan para ahli Fiqh), maupun menentang mereka (seperti dilakukan para pemimpin tarekat). Cara ketiga itu berintikan sikap menolak membicarakan pribadi-pribadi kaum penguasa waktu itu, melainkan hanya membatasi diri pada “kebiasaan” mengemukakan hal-hal ideal jika para penguasa berperilaku adil, memperjuangkan kebenaran dan berpikir melayani kepentingan orang banyak.

Mantra Pesantren dalam Krisis (Sumber Gambar : Nu Online)
Mantra Pesantren dalam Krisis (Sumber Gambar : Nu Online)

Mantra Pesantren dalam Krisis

Strategi baru Kiai Muttamakin itu akhirnya menjadi “strategi model” bagi apa yang dinamakan perjuangan Islam di negeri ini sampai sekarang. Dalam kidung yang ditulis dalam huruf Arab tetapi berbahasa Jawa (literatur Pegon) tersebut –kidung ini dahulunya dibacakan (dan terhenti sejak beberapa tahun terakhir ini) dalam upacara peringatan kematian (Haul/Khoul) beliau di desa Kajen, Margoyoso, Pati yang dihadiri oleh lebih dari 100 ribu orang-, disebutkan bahwa oleh penguasa/ Ratu (yang berarti Raja) di Solo akhirnya beliau diambil menjadi menantu. Ini adalah perlambang dari tercapainya kemenangan beliau dihadapan Ratu/Raja tersebut. Penguasa waktu itu adalah Susuhunan Pakubuwana II yang berkuasa di Surakarta Hadiningrat, menggantikan Amangkurat dari Kertasura.

IMNU Tegal

Dalam kidung tersebut diceritakan kembali doa-doa yang diucapkan oleh Syeikh Ahmad Muttamakin dalam perdebatannya melawan seorang abdi dalam maupun belakang oleh Susuhunan Pakubuwana II sendiri. Hal itu dapat dimengerti karena Syeikh Ahmad Muttamakin adalah pengasuh sebuah Pondok Pesantren, sehingga doa-doa yang diucapkannya tentulah dibaca tiap hari oleh murid-muridnya, baik santri di Pesantren maupun pengikut tarekat di luarnya. Karenanya, dalam pengertian kita sekarang ini, apa yang dijadikan doa-doa oleh mereka dapat disebut sebagai “mantra” di lingkungan Pesantren (para Kiai, para Santri dan para pengikut kiai di luar Pesantren).

Beraneka warna dan berjenis-jenis istilah yang digunakan dilingkungan mereka, baik yang bersifat umum maupun khusus. Yang belakangan ini disebut juga ijazah, konjugasi dari kata Ajaztuka yang berarti kubolehkan engkau mengajarkan/menggunakan suatu hal yang kuberikan kepadamu. Seorang Kiai harus dapat memberikan ijazah dalam bentuk doa, di samping ijazah mengajarkan kitab atau literatur yang semula diajarkan. Baik pemberian doa maupun ijin mengajarkan kitab tertentu itu, tentu saja dimulai dan ditutup dengan pembacaan doa oleh sang Kiai, yang diamini oleh para Santri/pengikutnya. Kareananya, seorang santri seperti pembawa makalah ini, dengan bangga akan mengemukakan ia telah mendapatkan ijazah buk atau kitab dari seorang Kiai, yang tentu saja akan disebutkan namanya dengan penuh hormat oleh santri tersebut. Umpamanya saja, pembawa makalah ini akan dengan bangga menyebutkan bahwa ia memperoleh ijazah dari Kiai Idris Kamali dari Tebu Ireng, Jombang untuk mengajarkan Al Itqan dari Imam Al-Sayuti yang ditulis abad ke-X Hijriyah/ ke- XVIII Masehi. Ada 25 buah literatur berbahasa Arab yang diperoleh ijin/Ijazahnya oleh penulis setelah bertahun-tahun mengaji di Pesantren. Tentu saja selama belajar di Pesantren para santri tidak akan sama memperoleh ijazah literaturnya, karena para Kiai memiliki keahlian yang berbeda-beda pula. KH. A Wahab Chasbullah (Ra’is Am PBNU 1947-1971) yang ahli Ushul F’qh / teori hukum Islam tentu tidak sama dengan adik iparnya, KH. M. Bisri Syansuri (Ra’is Am PBNU 1971-1980) yang adalah ahli Fi’qh sangat terkenal.

IMNU Tegal

Empat belas buah “disiplin pengetahuan agama” Islam yang dipelajari di Pesantren secara tradisional sesuai dengan silabi yang disusun oleh Imam Al-Suyuti dalam Itman Al-Dirayah, merupakan lahan kajian yang memiliki ratusan “buku wajib” (Al-Kutub Al-Mu’tabarah), sehingga tidak mungkin seorang santri pernah membaca/mengaji semuanya. Namun, seorang Kiai diharapkan mampu mengajarkan sebuah “buku wajib” untuk tiap disiplin, sehingga ia memiliki kebulatan disiplin-disiplin yang diketahuinya. Namun, kiai tersebut tidak akan mengajarkan semua disiplin yang pernah dipelajarinya. Ia akan memberikan ijazah hanya dalam disiplin-disiplin yang dikuasainya dan dengan demikian ia melakukan “pendalaman bidang” yang diajarkannya. Namun ia akan memberikan ijazah atau doa umum yang sama dengan para kiai yang lain dari pesantren-pesantren yang berbeda. Dalam “ijazah umum” itu, ia akan memberikan urutan-urutan para kiai yang mengajarkan “buku wajib” tersebut, yang tentu saja memuat nama guru, hingga kepada pengarangnya. Rangkaian nama-nama? itu di kalangan Pesantren disebut sebagai “sanad” (mata rantai) ijazah atau “Buku Wajib” tersebut, yang tentunya berbeda dari (walaupun berfungsi sama dengan) Sanad Hadist dari zaman Nabi Muhammad SAW.

Pesantren mengenal istilah pesantren tahunan ataupun pesantren bulanan (lebih dikenal dengan sebutan “pesantren puasa”. Jenis pertama adalah Pesantren yang memberikan pelajaran sepanjang tahun, sedangkan jenis kedua hanya berlangsung selama bulan puasa, seperti halnya dengan Pondok Ramadhan yang disamakan dengan program musim panas (summer program). Kedua jenis Pesantren itu, -yang pertama memiliki jangka pendidikan panjang dan yang satu berjangka sangat pendek-, sama-sama memiliki tata nilai serupa yaitu? penghormatan kepada guru ketundukan kepada hukum agama dan sama-sama menegakkan tata peribadatan serupa. Dengan mengikuti nilai-nilai yang sama itu, dengan sendirinya tata nilai yang dikembangkan dari satu ke lain Pesantren akan melahirkan tata kehidupan yang memiliki persamaan yang kokoh pula. Memang, dalam abad modern ini pesatren juga menghadapi tantangan-tantangan Barat dari proses modernisasi, yang dalam banyak hal berarti “pembaratan” dalam bentuknya yang vulgar.

Akibat suasana penuh tantangan dari respon yang lebih banyak berupa imitasi “proses pembaratan” itu sendiri, maka dominasi pencarian ijazah yang diutamakan dalam pendidikan agama formal di sekolah-sekolah agama kita sekarang, yang dikejar bukanlah standarisasi ilmu pengetahuan agama, melainkan penghargaan yang terlalu berlebih kepada ijazah/ diploma dari sekolah-sekolah tersebut. Berbeda dari perolehan ijazah cara lama, -yang bertumpukan pengalaman tata nilai yang dipercaya dalam kehidupan sehari-hari-, pencarian ijazah “model baru” tersebut sama sekali tidak mengindahkan pengalaman tata nilai tersebut. Dengan demikian, “perbenturan budaya” antara sekolah-sekolah agama kita dan sistem kehidupan Barat terletak pada perbenturan dua institusi. Karena baik Islam maupun Barat juga memiliki sisi lain yaitu proses budaya.

Harus diingat baik pihak Barat maupun pihak Islam sama-sama memiliki proses budaya yang kuat, maka dengan demikian kedua peradaban seluruhnya itu saling belajar bagaimana mengembangkan budaya di hadapan tantangan teknologi dan ilmu pengetahuan modern. Salah satu tantangan modernisasi adalah hilangnya ketiga nilai di atas yang digantikan oleh “modernitas” model barat yang terlalu berdasar kepada logika rasional, yang lebih banyak bersifat materialistik, capaian inilah yang menjadi kritik penulis. Makalah ini juga ditujukan untuk mengkritisi konsep “perbenturan peradaban” (clash of civilizations) yang dikemukakan oleh Samuel Huntington. Penulis makalah ini menilai, Huntington hanya mampu menggambarkan deretan pohon yang memiliki perbedaan keunikan tanpa mampu melihat keseluruhan hutan. Ia hanya mampu melihat sekitar peradaban yang saling berbenturan itu, tanpa mampu mengamati proses saling belajar antara mereka. Peoses saling belajar itu terlihat dari adanya sekitar ratus ribu orang pemuda muslim yang belajar di Barat setiap tahunnya. Mereka tidak hanya datang untuk mempelajari teknologi dan ilmu pengetahuan yang dijalani orang-orang barat, tetapi mereka juga memperoleh “penularan” dari peradaban Barat dan hal-hal lain yang diperlukan untuk “mengerti” peradaban Barat secara lengkap yaitu penghargaan kepada kerja keras, bersikap jujur dalam kehidupan, menghargai kedaulatan hukum dan kebebasan perpendapat, pengorganisasian hidup dan keterbukaan kepada faham-faham lain di luar pandangan sendiri.Walaupun sebenarnya nilai-nilai yang disebutkan diatas juga terdapat dalam peradaban masing-masing, namun hanya masih dalam bentuk potensi yang belum dikembangkan.

Salah satu “korban” dari perbenturan modernisme lawan tradisionalisme itu adalah mantra-mantra yang terdapat di lingkungan pesantren. Sekarang ini mantra demi matra yang sering digunakan di pesantren, kehilangan relevansinya dihadapan erosi keyakinan akibat pendidikan formal yang terlalu diarahkan kepada capaian-capaian materialistik. Mantra-mantra yang digunakan di pesantren, dalam bentuk doa seperti Hidzb, Wirid, dan sebagainya sudah tidak dianggap sakti oleh banyak sekali warga pesantren sendiri, sehingga dengan demikian terjadi pembelahan warga pesantren antara dua kubu yang saling berhadapan. Yaitu mereka yang percaya kepada mantra-mantra tersebut dan dianggap tidak rasional dengan mereka yang seolah-olah bersikap rasional secara penuh, namun tidak terjadi proses pengembangan rasionalitasnya berlandaskan pertimbangan moral.? Hal terakhir mengakibatkan munculnya konservativisme politik seperti saat ini.

Dilupakan dua hal penting oleh kaum muslimin dalam “perbenturan budaya” -antara yang modern dan yang kuno itu-, bahwa mau tidak mau perbenturan itu akan mempengaruhi juga kedudukan mantra di lingkungan pesantren. Oleh karena itu perlu dikaji beberapa hal yaitu: pertama, karena terdapat kekhususan antara berbagai masyarakat, maka? dalam mengembangkan ajaran Islam ini diharuskan adanya studi kawasan kaum muslimin? (Islamic Area Study’s) yang oleh laporan penulis kepada Universitas PBB di Tokyo (dengan Rektor DR. Sudjatmoko) pada tahun 1980-an, terbagi sebagai berikut: Masyarakat Afrika Hitam, Masyarakat Afrika Utara dan negeri-negeri Arab, masyarakat Turko – Persia - Afghan, masyarakat Asia Selatan (Bangladesh, Pakistan, Nepal, India dan Sri Lanka), masyarakat Asia Tenggara dan masyarakat minoritas muslim di negeri-negeri industri maju (terutama Eropa Barat dan Amerika Serikat). Kedua, perbedaan cara hidup antara Asia Tenggara dan Timur Tengah mempunyai perbedaan dalam struktur masyarakat. Di Asia Tenggara, tradisi gerakan Non-Pemerintah (LSM) sudah lama ada dan berdiri secara indenpenden. Sedangkan di Timur Tengah tradisi seperti itu tidak ada –contoh dari hal ini adalah ketua gerakan palang merah, ditunjuk dan diangkat oleh presiden/penguasa-. Dengan demikian gerakan-gerakan yang berbeda dengan pemerintah harus bergeraki di bawah tanah dan isu utama yang digunakan tidaklah mengajukan kritik terhadap kebijaksanaan pemerintah, melainkan terhadap “modernisasi model barat”. Pada akhirnya, hal ini sampai pada perbenturan institusional yang menjadi latar belakang terorisme secara internasional.

Kedua kenyataan diatas tentu saja menimbulkan pengaruh sangat besar kepada kedudukan mantra bagi kaum muslimin, termasuk yang berada di pesantren. Akhirnya do’a, Hidzb dan wirid hanya digunakan oleh mereka yang masih mempercayai ketiganya, sedangkan mereka yang menganggap diri “modern” tidak lagi memiliki kepercayaan seperti itu. Memang berat bagi kaum muslimin tradisionalis untuk meyakinkan keseluruhan kaum muslimin untuk tetap percaya penuh kepada kekuatan doa, hidzb dan wirid. Karena walau mereka berdoa pun, seperti di masjid-masjid kawasan kota, belum tentu mempercayai doa mereka sendiri, karena hal itu dilakukan karena memenuhi katentuan sopan-santun maupun karena keinginan orang banyak. Karena itulah selama gerakan-gerakan Islam tidak dapat menyelesaikan hal itu dengan baik, maka dikotomi antara yang modern dan yang tradisional akan tetap ada. Sementara itu, dikotomi antar kaum muslimin pun tidak hanya? dibatasi pada gerakan yang diikuti saja,? melainkan juga memasuki bidang-bidang lain. Demikian juga dalam bidang pendidikan, lembaga-lembaga modern berhadapan dengan pandangan hidup kuno yang berintikan kekuatan mantra tersebut. Tidak terkecuali dalam dunia Pesantren.

Dengan demikian menjadi jelaslah bagi kita bahwa masalah mantra dalam bentuk do’a, hidzb wirid yang juga merupakan bagian umum dari proses ijazah oleh sang Kiai pada murid/ santrinya juga dilanda oleh “krisis keyakinan.”? Ini diakibatkan oleh berbagai tantangan Internasional dari proses modernisasi. Sewaktu belajar di pesatren Tegalrejo (Magelang) dari 1957-1959, penulis tiap bulan menyelesaikan membaca Al Quran (Khatam Qur’an) di pemakaman Tejo Mulyo. Hal itu dimaksudkan sebagai penunjang bacaan doa, Hidzib dan Wirid yang harus dijalaninya waktu itu,-hingga kini pun masih ada yang “diamalkan” oleh penulis.? Hingga saat membuat makalah ini, penulis berkeyakinan bahwa kepercayaan individual akan kekuatan mantra itu, harus diimbangi dengan rasionalitas kolektif kaum Muslimin di manapun mereka berada, sebagai bagian dari proses penemuan identitas diri kembali. Pengamalan wirid dan hizib merupakan sesuatu yang sah dari sudut manapun, sama sahnya dengan “pencarian akar” yang dilakukan oleh orang-orang seperti Alex Haley melalui novelnya, The Roots. Apabila kita mengakui “hak kultural” berarti kita mengakui keutuhan manusia secara keseluruhan. Dan adalah hak seseorang untuk menilai bahwa hal itu adalah sesuatu yang ada gunanya atau tidak. Rasionalitas saja memang tidak cukup, karena ia cenderung melebih-lebihkan porsi rasio dalam kehidupan. Rasionalitas sebagai ukuran kegunaan sesuatu secara kolektif memang harus dipakai, tetapi penggunaannya secara individual sering harus dipertanyakan kembali. Nah, jika kita dapat “menerima” perbedaan antara kenyataan kolektif yang rasional dengan kebutuhan individual yang belum tentu rasional, maka hal ini masih menunjukkan pentingnya arti mantra dalam kehidupan manusia, apalagi untuk lingkungan pesantren.

?

Jakarta, 1 September 2003

? Makalah ini disampaikan pada Seminar Nasional Naskah Kuno Nusantra, 2 Sepetember 2003 di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta.

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pendidikan, Daerah, Anti Hoax IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock