Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Februari 2018

Pergunu Jombang Perluas Anak Cabang ke Tiap Kecamatan

Jombang, IMNU Tegal. Pimpinan Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jombang segera membentuk kepengurusan  pimpinan anak cabang (PAC) di tiap kecamatan. Rencana ini merupakan salah satu amanat musyawarah wilayah Pimpinan Wilayah Pergunu di Yayasan Madinatul Ulum Jombang beberapa waktu lalu.

Kepengurusan PAC Pergunu yang sedang diproses SK oleh PW Pergunu adalah PAC Kecamatan Ngoro, kemudian menyusul PAC Kecamatan Diwek.

Pergunu Jombang Perluas Anak Cabang ke Tiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Jombang Perluas Anak Cabang ke Tiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Jombang Perluas Anak Cabang ke Tiap Kecamatan

“Berdasarkan rapat kooordinasi pada awal Desember lalu, bertempat di rumah bendahara  PC Pergunu Jombang, Ustadz Dimyathi, ada agenda sesuai dengan amanat muskerwil Pergunu, agar  kita memperbanyak  pembentukan pengurus  PAC,” ujar Ahmad Faqih, Ketua Pimpinan Cabang Pergunu Jombang pada Rapat Koordinasi Program, Senin (31/03) di Hall Abdurrahman Wahid, Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Jombang.

IMNU Tegal

Agar sinergi dan berjalan efektif, PC Pergunu Jombang akan mengirim surat kepada tiap pengurus Majelis Wakil Cabang (MWCNU) dengan mengetahui Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah.

“Kita akan mengundang MWC, dengan mengetahui Rais dan Ketua Tanfidziyah , dilampirkan formulir dan stuktur kepengurusan. Rekomendasi pengurus MWC patut dipertimbangkan dalam seleksi pengurus PAC Pergunu. Harapannya guru yang aktif, dan dari kalangan nahdliyin yang menjadi kandidat pengurus,” ujarnya di hadapan para peserta rapat.

IMNU Tegal

Sebelum diadakan perluasan pembentukan pengurus anak cabang di tiap kecamatan, PC Pergunu Jombang kembali mengadakan diklat. Untuk akhir April ini, diagendakan diklat tentang Kurikulum 2013.

“Sebelum diklat Kurikulum 13 itu kita beri kemanfaatan lebih dulu. Kita kembali mengadakan pendidikan dan pelatihan untuk para guru. Pendidikan dan pelatihan itu dilaksanakan sebagai wujud kebermanfaatan yang harus dilakukan Pergunu,” ujarnya didampingi wakil ketua PC Pergunu, M. Sholahuddin, dan dua pengurus lainnya, Ahmad Rofik, dan Burhanuddin.

“Acara kita kali ini, dibuat lebih besar sekalian, dandirencanakan bekerja sama dengan PC LP Maarif Jombang, dan yang diundang seluruh perwakilan guru sekolah di bawah LP Ma’arif, SD, SMP, dan SMA di Jombang. Kita undang minimal 300 peserta,” ujar Kepala Sekolah SMA Misykatul Anwar Jombang ini. (Yusuf Suharto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal RMI NU, Syariah, Pesantren IMNU Tegal

Ini Cara Memakmurkan Masjid

Masjid merupakan tempat yang paling sakral bagi umat Islam sebab tempat ibadah seluruh umat Islam. Selain difungsikan sebagai tempat ibadah, masjid juga digunakan untuk kegiatan sosial, dakwah, dan belajar agama.

Islam menganjurkan umatnya untuk memakmurkan dan meramaikan masjid. Dalam Surat At-Taubah ayat 18, Allah SWT menjelaskan bahwa yang memakmurkan masjid tersebut hanyalah orang-orang beriman pada hari akhir, mendirikan shalat, dan membayar zakat.

Ini Cara Memakmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Memakmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Memakmurkan Masjid

Syekh Muhammad Ali As-Shabuni dalam Rawai’ul Bayan: Tafsir Ayatul Ahkam menerangkan ada dua cara memakmurkan masjid. Ia  mengatakan:

IMNU Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?....? ?: ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sebagian ulama berpendapat bahwa memakmurkan masjid adalah dengan cara membangun, memperkuat, dan memperbaiki bangunan yang rusak. Sementara pandangan lain mengatakan, yang dimaksud memakmurkan masjid ialah mengerjakan shalat dan segala bentuk ibadah di masjid.”

IMNU Tegal

Ulama berbeda pendapat tentang maksud memakmurkan masjid (‘imaratul masajid): ada yang menekankan pada pembangunan dan perbaikan fisik masjid dan ada pula yang menekankan pada substansi pendirian masjid, yaitu sebagai tempat ibadah.

Kedua pendapat ini sebenarnya masuk dalam kategori ‘imaratul masajid (memakmurkan masjid). Menurut mayoritas ulama, yang dimaksud memakmurkan masjid itu adalah memperbanyak ibadah di dalamnya.

Jadi memakmurkan masjid tidak hanya dengan memperindah dan merenovasi bangunan masjid, tetapi juga memperbanyak ibadah dan mengerjakan shalat berjamaah di masjid. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah).

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Warta, Tokoh, Pesantren IMNU Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

GP Ansor Jatim Bentuk Unit Khusus Siber dan Satgas Anti-Hoax

Surabaya, IMNU Tegal - Sadar dengan kian liarnya berita dan postingan di media sosial, Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur tengah menggodok unit khusus guna menanggulangi dampak negatif perkembangan teknologi informasi. Lembaga bentukan ini adalah Ansor Banser Cyber Army dan Satgas Anti-Hoax.

Keberadaan unit ini sebagaimana dijelaskan Wakil Ketua PW GP Ansor Jatim bidang IT-Media dan Infokom M Nur Arifin adalah dimaksudkan untuk memperkuat soliditas organisasi. "Kami? hanya memperkuat kapasitas kelembagaan dan personel unit khusus ini karena proses seleksi sudah mulai berjalan," ujar Arifin, Senin (16/1).

GP Ansor Jatim Bentuk Unit Khusus Siber dan Satgas Anti-Hoax (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Jatim Bentuk Unit Khusus Siber dan Satgas Anti-Hoax (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Jatim Bentuk Unit Khusus Siber dan Satgas Anti-Hoax

"Unit Ansor Banser Cyber (ABC) itu cakupannya luas, jejaring nasional, memproteksi kegiatan komunitas NU dan NKRI di Jawa Timur dan Indonesia yang berhubungan dengan perang siber untuk bebas dari cyber attack," katanya.

Satgas Anti-hoax berfungsi meminimalisasi perilaku negatif, fitnah, dan ujaran kebencian? di media sosial atau medsos, lanjutnya.

IMNU Tegal

Kasatkorwil Banser Jatim H Abid Umar menjelaskan proses seleksi anggota ABC dan satgas anti-hoax dari berbagai satuan di Banser tengah berlangsung. Usai seleksi, para calon anggota akan mendapatkan pendidikan dan pelatihan sebelum menerima tugas.

Pembentukan satgas ini, menurut Abid Umar, dipicu oleh mulai massifnya penyebaran berita atau informasi hoax. Sebagian berita hoax yang beredar rentan merusak harmoni kehidupan sosial masyarakat, merusak kerukunan antarumat beragama dan acaman serius terhadap keutuhan NKRI.

IMNU Tegal

"Jangan sampai berita tidak benar bergulir menjadi bola liar. Kasihan masyarakat jika langsung menyerap (berita hoax) dan meyakininya, padahal tidak benar," tegas Abid Umar.

Ia juga menjelaskan kecenderungan sebagian kalangan yang hanya membagi atau share dan salin-tempel sejumlah informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. "Sehingga kita lakukan juga tindakan preventif dan represif. Selain itu, kita akan terus kampanyekan literasi medsos yang sehat dan santun," tambahnya.

Unit khusus ABC dan Satgas Anti-Hoax ini telah memasuki tahap seleksi dari kader terbaik Ansor di Jatim dan berbagai satuan Banser Jatim. Sebelumnya, GP Ansor Jatim membentuk Tim Reaksi Cepat "Benteng NU". Tim ini khusus memantau, mendata, dan melaporkan penghinaan terhadap ulama atau kiai NU yang marak muncul di medsos.

Ketua GP Ansor Jatim Rudi Tri Wachid menjelaskan bahwa komposisi Tim Reaksi Cepat "Benteng NU" adalah aktivis Ansor dan Barisan Serba Guna (Banser) yang memang memiliki keahlian di bidang tersebut. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pesantren IMNU Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan

Minggu yang lalu saya pulang ke kampung halaman, Tabalong, yang berada sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin. Dalam perjalanan dari Banjarmasin, kami singgah di sebuah warung makan di kota Kandangan. Seperti umumnya warung dan rumah orang Banjar di kawasan ini, dinding warung ini dipenuhi poster foto-foto ulama.

Di antara puluhan poster foto itu, ada foto Tuan Guru H. Zainie Ghanie atau biasa dipanggil dengan sebutan "Guru Sekumpul" duduk? bersila berhadapan dengan KH Abdurrahman Wahid, atau akrab disebut Gus Dur. Jika Guru Sekumpul mengenakan baju koko putih dan serban putih, maka Gus Dur mengenakan kemeja batik oranye dan peci hitam. Tangan kanan Guru Sekumpul berada di bahu Gus Dur. Jelas keduanya terlihat akrab dan dekat.

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan

Pemasangan poster foto ulama adalah salah satu wujud penghormatan terhadap para ulama. Pemasangan poster Guru Sakumpul dan Gus Dur, menunjukkan penghormatan pemilik restoran pada sosok ulama tersebut. Dan sudah barang tentu ia berharap orang-orang, para pengunjung restorannya juga menghormati mereka berdua.

Catatan Kenangan

IMNU Tegal



Poster foto itu mengingatkan saya pada kenangan sekitar seperempat abad yang lalu. Ketika itu Gus Dur datang ke Salatiga untuk menjadi pembicara dalam Konferensi Agama-Agama (KAA) yang digelar oleh PGI. Rupanya sehabis kegiatan itu Gus Dur berniat untuk mengunjungi puterinya, Alissa, mahasiswi Fakultas Psikologi UGM yang kala itu sedang KKN di Magelang. Gus Dur minta kepada kami, teman-teman di Yogya, untuk ditemani. Kebetulan saya waktu itu yang mendapat pesan panitia sedang tidak ada kegiatan. Jadilah saya yang menemani beliau.

IMNU Tegal

Di dalam mobil Toyota Kijang milik panitia seperti biasa pula Gus Dur berbincang akrab. Bercerita tentang situasi politik, bertanya tentang perkembangan buku dan dunia intelektual dan tentu saja diselingi humor yang segar. Kadang suara Gus Dur lenyap karena tertidur, terdengar suara dengkur, tapi hanya sebentar, lalu kemudian terbangun lagi untuk melanjutkan perbincangan.

Tiba-tiba saja Gus Dur bertanya, siapa di Kalimantan Selatan sosok ulama yang sekarang sangat dihormati. Dengan spontan, saya menjawab "Tuan Guru H. Zainie Ghanie". Saya ceritakan bagaimana pengajian rutin yang diasuh beliau di sebuah kawasan kampung senantiasa dihadiri ribuan masyarakat dan bagaimana kampung itu, ‘Sekumpul’, kemudian dinisbahkan kepada beliau. Jadilah julukan akrabnya ‘Guru Sekumpul’. Nisbat seseorang pada nama sebuah kampung jelas menunjukkan kelas ketokohannya. Dalam sejarah Islam di Kalimantan, ini disandang misal oleh ‘Guru Kelampayan’, gelar kultural-keagamaan bagi Syekh Muhammad Arsyad, yang membuka dan mengembangkan pengajaran Islam di kampung Dalam Pagar, di daerah Kelampayan pada abad 18. Sanad guru-murid Tuan Guru Sekumpul sendiri terhubung sampai Guru Kelampayan ini.? ?

Gus Dur menyimak dan mendengarkan informasi yang saya sampaikan tersebut. Sembari diselingi beberapa pertanyaan mengenai detail yang tampaknya ingin beliau ketahui lebih lanjut.

Perbincangan itu mungkin berlangsung sekitar bulan April 1994. Langit politik Indonesia sedang kemarau karena protes dan ketidakpuasan terhadap pemerintahan Soeharto mulai bertumbuh dan menjamur luas. Dalam iklim yang panas itu, NU juga mengalami efek panas yang luar biasa karena Gus Dur –yang notabene Ketua Umum PBNU-- merupakan sumbu penting suara-suara protes tersebut.

Pak Harto konon sangat marah kepada Gus Dur. Beberapa kali Gus Dur hendak mengajukan sowan untuk melaporkan rencana pelaksanaan muktamar sekaligus meminta kepada Pak Harto untuk membuka, selalu ditolak.

Kala itu Pak Harto sudah tidak ingin Gus Dur jadi ketua umum lagi. Karena ITU, ‘perintah alus’-nya –suatu istilah era kolonial yang menunjukkan ketidakinginan pemerintah kepada suatu figur duduk dalam sebuah organisasi--? melalui aparat militer dan birokrasi berbagai cara dilakukan untuk menjegal Gus Dur. Bahkan ketika menabuh gong untuk membuka muktamar, Pak Harto sama sekali tidak menyapa dan hanya membelakangi Gus Dur. "Dinengke" dan "ra dianggap", istilah Jawanya, suatu simbol politik khas Jawa yang sangat keras.

Muktamar terpanas dalam Sejarah NU, dan politik masyarakat sipil Indonesia di ujung Orde Baru itu berlangsung dengan keras dan berakhir dramatis dengan terpilihnya kembali Gus Dur sebagai ketua PBNU. Gus Dur hanya memenangkan 3 suara dengan pesaingnya, sosok yang sama sekali tak dikenal, Hasan Syazili.

Tapi poinnya bukan itu. Pada Muktamar NU 1994 itu, saya –yang merupakan peserta ‘romli’ (rombongan liar) bertemu dengan senior Dr. Humaidi Abdussami, dosen IAIN (sekarang UIN) Antasari, Banjarmasin, yang datang sebagai peserta muktamar dari NU Kalimantan Selatan. Ia bercerita bahwa sebenarnya Guru Sekumpul ingin datang ke Muktamar ini. Dalam pengajian minggu sebelumnya beliau bilang minggu ini pengajian libur karena ingin menghadiri muktamar atas undangan Gus Dur. Sayang sekali, lanjut Humaidi, pada hari "H muktamar, Guru Sekumpul sakit, sehingga beliau batal hadir.

Saya tidak tahu apakah waktu ngobrol di mobil dan bertanya tentang ulama di Kalimantan Selatan beberapa bulan sebelumnya itu Gus Dur memang belum tahu dan tidak pernah mendengar nama Guru Sekumpul. Apakah beliau hanya ingin menguji pengetahuan saya saja? Atau hanya sekadar untuk mengonfirmasi dan mencocokkan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya mengenai Guru Sekumpul. Entahlah. Yang jelas, seperti cerita Dr. Humaidi Abdussami di atas, Guru Sekumpul berniat datang ke muktamar atas undangan Gus Dur, meski kemudian batal karena berhalangan.

Terlepas dari ketidakdatangan beliau, di dalam kepengurusan NU kemudian nama Guru Sekumpul dengan nama resmi KH Zaini Abdul Ghani, tercantum sebagai salah satu dari 9 anggota mustasyar PBNU perode 1994-1999. Mustasyar artinya penasehat. Mustasyar atau Dewan Penasehat ini berada di strata paling tinggi dalam struktur kepengurusan NU.? Mustasyar memang dari segi praktik lebih merupakan daftar nama. Tidak ada tugas organisasi yang harus diemban. Tetapi dari segi makna, mustasyar menunjukkan pengakuan tinggi organisasi ini pada sosok ulama sebagai garda pengawal organisasi ini. Ulama merupakan simbol organisasi ini.

Nama Guru sekumpul sebagai mustasyar itu bermakna lebih penting lagi mengingat setelah muktamar itu, NU terseret konflik antara kubu Gus Dur dan Abu Hasan yang kemudian membuat “NU Tandingan”. Kebetulan NU Kalimantan Selatan berada di kubu yang berseberangan dengan Gus Dur. Namun penentangan terhadap Gus Dur dari Kalimantan Selatan ini tidak begitu keras karena ada nama Guru Sekumpul dalam barisan Mustasyar, meski Guru Sekumpul sendiri tidak turut campur sama sekali. (Kelak sebelum Abu Hasan dan Gus Dur meninggal, keduanya bertemu, islah, dan saling memaafkan. Perbedaan pandangan politik adalah satu hal, persaudaraan adalah hal lain.)

Ketika tahun 2012 saya turut diajak menjadi salah seorang tim penulis dan penyunting Eksiklopedi NU, saya mengusulkan dan memasukkan nama Guru Sekumpul sebagai lema. Usulan ini diterima bulat dan jadilah sosok Guru Sekumpul terpampang sebagai salah satu lema dalam ensiklopedi tersebut.

Menjadi NU sendiri tidak mesti memiliki kartu anggota atau menjadi pengurus. Demikian dengan Guru sekumpul. Dari segi ajaran yang diajarkan dan dikembangkan beliau adalah NU sejati. Pengaruh dan sumbangannya pun amatlah besar kepada ‘masyarakat NU’, bukan hanya di Kalimantan Selatan, tapi di lima penjuru Kalimantan, bahkan keluar Kalimantan. Karena itu apakah namanya masuk dalam jajaran pengurus NU atau tidak, tidaklah penting bagi beliau. Demikian juga, andai tak dicantumkan dalam ensiklopedi, itu sama sekali tak mengurangi kebesaran namanya, seperti juga pencantuman itu tak menambah kebesaran namanya. Yang merasa berkepentingan dan untung tentu NU sendiri karena pencantuman itu memiliki makna simbolik yang dalam dan luas.

Presiden Gus Dur dan Kampanye



Tahun 1999. Politik Indonesia mengalami perubahan yang cepat dan dramatis seusai Pak Harto dimakzulkan. Tak dinyana, Gus Dur diangkat menjadi presiden, lewat suatu kemelut politik yang rumit.

Gus Dur adalah penggemar silaturahmi. Ia bersilaturahmi ke mana dan ke siapa saja. Menjadi presiden tak menghalanginya untuk terus melanjutkan hobi silaturahminya tersebut. Tentu saja ulama selalu ada dalam daftar kunjungan silaturahmi Gus Dur. Dan di antara ulama itu tersebutlah nama Guru Sekumpul.

Pada hari Jumat, 26 Mei tahun 2000 Gus Dur bersilaturahmi ke Martapura mengunjungi Guru Sekumpul dan berziarah ke makan Maulana Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Dalam pertemuan itu, Gus Dur menghadiahi Guru Sekumpul satu pak rokok bermerek Istana Presiden. Gus Dur tahu kalau Guru Sekumpul suka merokok. Menurut cerita, Guru Sekumpul menerimanya, tertawa sangat senang dan berterima kasih. Seorang penulis, Muqarramah Sulaiman Kurdi, menggambarkan pertemuan keduanya “tampak sangat akrab dan penuh canda tawa. Keduanya seperti sahabat lama yang baru bisa berjumpa kembali pada saat itu.”

Menurut catatan, itu adalah pertemuan pertama Gus Dur dan Guru Sekumpul. Tapi dari arsip foto yang beredar luas, di mana Gus Dur maupun Guru Sekumpul mengenakan pakaian yang berbeda, setidaknya Gus Dur lebih dari sekali bertemu dan bersilaturahmi ke tempat Guru Sekumpul. Bisa jadi sebelum dan sesudah 26 Mei 2000 di atas sudah pernah. Namun karena kunjungan di 26 Mei 2000 ini merupakan kunjungan tidak resmi Gus Dur sebagai presiden, maka inilah yang dicatat sebagai yang pertama dan diliput secara luas.

Dalam hal ini, patut saya ulang cerita yang kembali saya kutip dari Dr. Humaidy Abdussami tentang Guru Sekumpul dan Gus Dur ini. Sudah umum diketahui bahwa setelah reformasi, Gus Dur mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Tentu saja pendirian ini tidak menyenangkan partai-partai lama, karena menggerus pendukung mereka, terutama dalam hal ini Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang di Kalimantan Selatan, notebene juga berbasis pada masyarakat NU.

Pada kampanye Pemilu 1999, kontestasi antara? PKB dan PPP pun tak bisa dihindari. Tak terkecuali di Kalimantan Selatan. Dalam kampanye inilah muncul ejekan yang tidak semestinya kepada Gus Dur sebagai pendiri dan Ketua Umum PKB. Fisik Gus Dur yang tak bisa melihat dan buta pun menjadi sasaran ejekan.

Guru Sekumpul rupanya mendengar hal itu. Dalam sebuah pengajian, akhirnya beliau mengatakan yang kira-kira dalam bahasa Banjar kurang lebih demikian: “Aku mandangarlah ada bubuhannya manyambati Gus Dur tu picak. Aku baritahu buhan ikam, jangan diulang lagi, Gus Dur itu ulama. Anak ulama. Dan cucu ulama. Kalo katulahan kaina.” (Aku mendengar banyak orang mengejek Gus Dur picek. Aku kasih tahu kalian, jangan dilakukan lagi, Gus Dur itu seorang ulama. Anak seorang ulama, cucu seorang ulama. Bisa kuwalat kalian nanti.) Demikian kira-kira cerita Humaidy Abdussami, dengan paraprase yang saya buat kembali. Dan peringatan Guru Sekumpul itu bergema seperti guntur. Sejak itu tak ada lagi ejeken demikian terhadap Gus Dur.

Cerita ini menunjukkan betapa Guru Sekumpul sangat menghargai ulama di satu pihak, dan menganggap Gus Dur sebagai salah seorang ulama yang patut dihargai juga. Yang kedua, Guru Sekumpul secara tidak langsung mengingatkan bahwa berbeda boleh saja, Karena itulah Guru Sekumpul tidak memerintahkan memilih salah satunya.? Tetapi yang diingatkan beliau adalah tetap menjaga sopan santun dan akhlak serta persaudaraan.

Guru Sekumpul dan Gus Dur: Dua Wali Awal Abad 21 ?



Baik Guru Sekumpul maupun Gus Dur adalah ulama. Namun keduanya tampil sebagai ulama dalam pola dan lapangan pengabdian yang berbeda, meski dasar ajaran yang dikemukakan pada dasarnya sama.

Guru Sekumpul adalah ulama par excellent. Beliau menempuh pendidikan dalam lingkungan keagamaan tradisional yang ketat, hampir tanpa persentuhan sedikit pun dengan pendidikan modern. Lalu pada masanya kemudian beliau dipercaya oleh guru-guru beliau untuk memberikan pengajian sendiri. Mula-mula di kampung Keraton. Namun karena pengajiannya makin membesar, dan kampung Keraton tak bisa menampung lagi, beliau pindah ke sebuah kawasan yang relatif masih sepi: Sekumpul.

Pengajian-pengajian Guru Sekumpul berisi pengajaran-pengajaran tasawuf, baik tasawuf akhlaqi maupun falsafi. Selain itu, beliau juga menggelar pembacaan shalawat Simtut Durar, yang dua dekade kemudian populer di sekujur Jawa melalui pengasuhan Habib Syekh yang bersuara empuk.

Guru Sekumpul memberikan pengajaran dengan menggunakan kitab dan orang-orang –juga dengan memegang kitab yang dibacakan-- duduk menyimak pembacaan dan penjelasan kitab tersebut. Cara mengajarnya sangat komunikatif sekali dan mudah dipahami. Sesekali beliau menyelipkan humor yang segar. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Banjar dengan diselingi Bahasa Indonesia.? ?

Guru Sekumpul tak pernah mengenal yang namanya diskusi, seminar, workshop dan sejenisnya. Beliau tak pernah ikut pelatihan organisasi apapun. Beliau juga bukan orang politik, meski demikian, pengaruh politiknya sangat besar sekali, khususnya di kawasan Kalimantan. Karena itu taklah aneh jika hampir seluruh pimpinan politik di kawasan tersebut menyempatkan untuk mengunjungi beliau dan setiap calon pimpinan daerah berusaha mengejar restu beliau.

Berbeda dengan itu, Gus Dur tumbuh sebagai ulama dengan kombinasi pendidikan keagamaan tradisional dan pendidikan modern. Ia menulis esai-esai dan mengulas berbagai perkara mulai agama hingga sepakbola di media-media. Ia menjelajahi berbagai profesi dari pekerja LSM, dosen, penulis, konsultan, politisi dan lain-lain. Ia juga bertemu dengan banyak kalangan yang berwarna-warni dan beragama dari agama, etnis, bangsa, budaya, profesi dan banyak lagi lainnya. Artinya sebagai ulama, Gus Dur adalah ulama dengan banyak wajah dan dengan gelanggang yang sangat luas.

Gus Dur memandang tinggi Guru Sekumpul dan karena itu meminta beliau untuk masuk ke jajaran mustasyar, dewan penasihat, himpunan sembilan ulama yang layak memberikan nasihat. Sebaliknya Guru Sekumpul sendiri memandang Gus Dur sebagai ulama.

Lantas di manakah ‘perjumpaan’ antara keduanya? Perjumpaan keduanya terletak pada konsistensi untuk memperkenalkan Islam sebagai agama tauhid dengan nilai-nilai yang universal: kasih sayang, perdamaian, pembebasan. Islam sebagai yang berserah diri dan pasrah.

Guru Sekumpul tak pernah terlibat dalam dialog-dialog antaragama, tetapi pengajaran-pengajaran beliau mengandung dimensi pengembangan jiwa pribadi maupun umat secara mendalam. Seorang teman Katolik pernah bercerita bahwa ia pernah mendengar beberapa kali rekaman pengajian Guru Sekumpul dan ia mengaku sangat apresiatif. Pengajaran-pengajaran beliau penuh dengan nilai-nilai positif, pembangunan karakter jiwa, optimisme, dan kehidupan yang seimbang antara dunia dan akhirat. Dan yang penting lagi, menurutnya, tidak ada sama sekali, nada-nada permusuhan dengan kalangan lain. ?

Bergerak di wilayah lain dan dengan strategi yang berbeda, Gus Dur memperkenalkan Islam yang ramah, bukan yang marah. Tak lelah dan tak kenal henti ia meyakinkan bahwa Islam agama yang penuh penghormatan pada martabat kemanusiaan, toleran, dan adil.

Sebuah tulisan dari Muqarramah Sulaiman Kurdi di Gusdurian.net dengan baik mengulas perjumpaan Islam yang diajarkan Guru Sekumpul dan 9 nilai yang dikembangkan Gus Dur selama ini. Dalam bahasa yang singkat, keduanya mengajarkan ‘Islam yang basah’, mengutip Frithjof Schuon, bukan ‘Islam yang kering’, yang hanya memperkenalkan aspek-aspek permukaan dan parsial dari Islam. Tak heran kalau keduanya sangat mendalam pengaruhnya di kalangan pengikutnya masing-masing. Dan tidak aneh juga jika seseorang bisa menjadi pengikut Guru Sekumpul sekaligus penyuka Gus Dur seperti tercermin dalam sosok pemilik restoran yang dikutip di pembuka tulisan di atas.

Saya bersyukur pernah berguru kepada kedua ulama ini secara langsung. Pada masa pendidikan di pesantren dulu, saya cukup sering mengikuti pengajian Guru Sekumpul. Waktu itu, beliau masih menyelenggarakan majlis di Kampung Keraton dan belum lagi pindah ke daerah Sekumpul. Dari Pesantren Alfalah kami naik angkot ke kota Martapura sehabis Asar, mengikuti salat magrib jamaah dan kemudian dilanjut dengan pengajian kitab beliau, di antaranya kitab Ihya ‘ulumiddin dan Risalah Mu’awanah. Sementara pada masa mahasiswa, saya sering sekali bertemu Gus Dur, bahkan sempat berbincang-bincang berdua secara lebih dekat. ?

?

Beberapa tahun lalu, ketika ziarah ke makam para wali, baik di Kalimantan maupun di Jawa, saya pernah terpikir bahwa mereka yang disebut wali dan makamnya dikeramatkan dan diziarahi orang banyak tak henti-henti, adalah tokoh-tokoh masa lalu. Sekarang dan akan datang tak akan pernah ada lagi sosok-sosok demikian.

Ternyata anggapan saya itu keliru. Ketika Tuan Guru Haji Zainie Ghani atau Guru Sekumpul wafat tahun 10 Agustus 2005, lautan manusia melepaskan kepergian beliau. Setelah itu makam beliau di Sekumpul yang sangat bersih dan tertata rapi tiap hari selalu diziarahi banyak orang. Dan haul tahunan Guru Sekumpul juga dihadiri ratusan ribu umat Islam.

Tak berbeda jauh dengan Guru Sekumpul, ketika Gus Dur wafat 30 Desember tahun 2009, ribuan orang juga turut melepasnya. Lalu setelah itu makamnya di Tebu Ireng kini menjadi situs ziarah yang tak pernah habis. Sedemikian besarnya, tak aneh jika K. H. Maimun Zubair dari Sarang, pernah mengemukakan kecemburuannya dan bertanya kepada Gus Mus, apa gerangan amalan rutin Gus Dur sehingga pemakamannya dihadiri ratusan ribu orang dan makamnya tak pernah sepi penziarah. Uniknya penziarah Gus Dur bukan hanya umat Islam, sebagian juga datang dari kalangan lain.

Baik Tuan Guru Sekumpul dan Gus Dur adalah wali Indonesia abad 21.? ?



Hairus Salim HS, aktivis NU; pendiri Yayasan LKiS


Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pesantren, Anti Hoax IMNU Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Tujuh Aksi Memakmurkan Masjid

Cilegon, IMNU Tegal. Ketika kiamat terjadi, tiada payung selain perlindungan Allah. Salah seorang yang mendapat perlindungan itu adalah orang yang hatinya selalu terpaut kepada masjid. Ia selalu memikirkan dan bergerak untuk memakmurkan masjid.

Tujuh Aksi Memakmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuh Aksi Memakmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuh Aksi Memakmurkan Masjid

Ketua Umum Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) KH Abdul Manan A. Ghani, mengimbau kepada imam, khotib, dan DKM untuk memakmurkan masjid-masjid NU.  

Ada tujuh aksi untuk memakmurkan masjid, “Itu sesuai dengan apa yang diinginkan orang yang berdoa setelah shalat di masjid,” katanya pada Rapat Pimpina Daerah (Rapimda) di Pondok Pesantren Darul Ihsan Pegantungan Jombang, Kota Cilegon, pada Sabtu, (20/4).

IMNU Tegal

Menurut Kiai Abdul Manan, doa selepas shalat umumnya yaitu ingin salamatan fiddin. LTMNU harus memperkuat akidah ahlu sunah, syariah, dan akhlak jamaah.

IMNU Tegal

Wafiyatan fil jasad, menjadikan masjid sebagai pusat kesehatan. Masjid harus bersih dan sehat. Wjiyadatan fil-ilmi, masjid sebagai pusat kegiatan keilmuan, misalnya dengan mendirikan TPA, pengajian akhlak, tafsir, atau bidang-bidang lain sesuai dengan keinginan jamaah.

Wabarokatan fi rizky, masjid harus menjadi pemberdayaan umat, “Penguatannya melalui zakat, maka harus diaktifkan LAZISNU untuk membangun kewirausahaan umatnya,” katanya.

Wataubatan qobla maut, menjadika masjid sebagai pusat dakwah. Warohmatan qoblal maut, masjid sebagai kegiatan sosial, menolong orang sakit, atau terkena bencana.

Wa maghfirotan ba’dal maut, di masjid juga tempat untuk mendoakan orang, yaitu dengan tahlilan, istighasah, Yasinan, ratiban, berzanjinan, atau laillatul ijtima’.

Senada dengan Kiai Manan, Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. Mas’udi pada saat membuka Rapimda mengatakan, untuk menyongsong seabad NU, harus bertolak dari masjid, “Dari rumahnya, kita makmurkan masjidnya,” katanya.

Kemudian, sesuai dengan lambang NU yang bola dunia, kita harus memakmurkan bumi-Nya, yaitu bumi Indonesia, “Dari masjid-Nya, kita makmurkan bumi-Nya.”

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Jadwal Kajian, Pesantren, Nahdlatul IMNU Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

Karyanya Direstui Imam Al-Ghazali

Semua kitab karya KH Sholeh Darat berisi ajaran tasawuf. Meski membahas fiqih, isinya pun banyak ajaran tasawuf. Kitab kecil bab shalat dan wudhu, Lathaifut Thaharah waAsrarus Shalat, juga berisi ajaran tentang tasawuf. Juga kitab Majmu’ Syariat  maupun Pasolatan, ada tasawuf di dalamnya.

Terlebih dalam kitab yang memang membahas tentang tasawuf, seperti Munjiyat, Minhajul Atqiya fi Syarhi Ma’rifatil Adzkiya’, Tarjamah Al-Hikam, dan Syarah al-Burdah, penuh ajaran tentang pembersihan hati dan penghambaan sejati kepada Allah ta’âlâ.

Karyanya Direstui Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Karyanya Direstui Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Karyanya Direstui Imam Al-Ghazali

Karena keahlian Mbah Sholeh Darat sebagai ahli tasawuf (selain keahlian di banyak bidang lain), beliau dijuluki Imam Al-Ghazali-nya Jawa. Sebab semua kitab karyanya selalu mengutip ajaran tasawufnya Imam Al-Ghazali. Dan memang beliau sendiri menyebut bahwa karya-karyanya itu memetik dari kitab tasawuf Al-Ghazali.

Kebiasaan  beliau usai mulang (mengajar) ngaji adalah menulis. Mengarang kitab. Mbah Sholeh di dalam kamar, duduk di lantai menghadapi meja. Dengan penerangan lampu teplok, lembar demi lembar kertas beliau goresi dengan pena tutul dengan tinta Bak buatan China. Menuliskan gagasan atau ulasannya di atas kertas itu.

Tinta yang diwadahi sebuah cupu kecil berbahan tembaga itu terbuat dari larutan batang Bak dengan air yang dicampuri minyak wangi. Menurut banyak narasumber, minyak yang dipakai adalah Misik. Terbukti di kitab tulisan tangan asli Mbah Sholeh Darat yang sampai kini masih terjaga dan disimpan oleh cicitnya, bau wangi Misik masih terasa jika dibuka lembaran-lembarannya.

IMNU Tegal

Diriwayatkan, saat sedang tekun menulis kitab, suatu malam ada seorang tamu berbusana model Arab. Berjubah dan bersurban. Oleh para santri, tamu itu disalami lantas disuguhi minum wedang. Kemudian diantarkan bertemu Mbah Sholeh di ruang pribadi beliau. Kata perawi cerita ini, saat itu beliau sedang menulis kitab Munjiyat: Methik Saking Ihya Ulumiddin.

SI santri pun kembali ke ruang depan lalu menghabiskan minuman sang tamu yang masih tersisa. Lalu mereka kembali ke langgar untuk nderes pengajian pelajarannya.

Mereka mendengar sayup-sayup pembicaraan kiainya dengan sang tamu yang berbincang dalam bahasa Arab. Suara keduanya terdengar, tapi isi pembicaraan kurang jelas karena jarak dan dipisahkan dinding kayu di dalam ruangan.

Saat malam telah larut, sang tamu pamit pulang. Mbah Sholeh nguntapke (mengantarkan) sampai serambi rumahnya. Usai melambai di halaman langgar, si tamu itu melangkah ke arah jalan besar. Lantas menghilang di kegelapan malam.

Para santri yang penasaran lantas bertanya kepada gurunya. 

IMNU Tegal

“Itu tadi siapa, kiai? Rasanya belum pernah datang ke sini,” tanya seorang santri senior yang tadi menyuguhi wedang.

“Itu tadi Imam Al-Ghazali. Beliau merestui kitab yang kutulis,” jawab Mbah Sholeh kalem.

“Lhoh. Subhanallah. Masya Allah. Bukankah Imam Al-Ghazali sudah wafat ratusan tahun lalu?” ujar mereka takjub sambil bertanya-tanya.

“Ya itulah karomah beliau. Mari kita berdoa tawassul kepada Imam Al-Ghazali agar ilmu kita diberkahi,” pungkas Mbah Sholeh seraya menyuruh santrinya kembali ke langgar. (Ichwan)





Saya bertemu dengan beberapa kiai atau ustadz, umumnya yang sudah membaca atau mengajarkan kitab Munjiyat: Methik Saking Ihya Ulumiddin, disertai doa tawassul kepada Mbah Sholeh Darat dan Imam Al-Ghazali, mereka menjadi mudah dalam menjalani laku tasawuf. Atau minimal mendapat semangat belajar tasawuf.

  

                                 

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pesantren IMNU Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

BNPT: Peluru Tajam dan Penangkapan Tak Selesaikan Terorisme

Kendari, IMNU Tegal

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyadari persoalan terorisme tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan keras atau hard approach. Masyarakat diharapkan terlibat secara aktif dalam pencegahan kejahatan luar biasa tersebut.

?

"Karena itu, peluru tajam, penangkapan, dan penegakan hukum semata dirasa bukan jalan tunggal yang dapat memutus aktivitas terorisme di Indonesia," kata Deputi I bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT, Abdul Rahman Kadir, saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan kegiatan Literasi Media sebagai Upaya Cegah Tangkal Radikalisme dan Terorisme di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (9/3).

BNPT: Peluru Tajam dan Penangkapan Tak Selesaikan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
BNPT: Peluru Tajam dan Penangkapan Tak Selesaikan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

BNPT: Peluru Tajam dan Penangkapan Tak Selesaikan Terorisme

?

Abdul menambahkan, terorisme bukan persoalan pelaku, jaringan, sasaran, dan aksi brutalnya saja. Terorisme adalah persoalan ideologi, keyakinan, dan pemahaman yang keliru tentang cita-cita yang tidak sesuai dengan pandangan hidup bangsa, Pancasila.

IMNU Tegal

?

BNPT yang dibentuk pada tahun 2010, masih kata Abdul, telah menetapkan 2 jenis pendekatan dalan penanggulangan terorisme, yaitu hard dan soft approach. Soft approach sendiri dalam pelaksanaannya terbagi dalam 2 program, yaitu deradikalisasi, pembinaan terhadap narapidana terorisme, mantan narapidana terorisme, keluarganya dan jaringannya, baik di dalam Lapas maupun di luar Lapas.

?

"Program kedua adalah kontra-rdikalisasi, yaitu pelibatan seluruh komponen bangsa dalam menangkal pengaruh paham radikal terorisme di tengah lingkungan masyarakat. FKPT adalah bagian dari strategi kontraradikalisasi, dengan melibatkan tokoh dari berbagai unsur, untuk bisa membentengi masyarakat dari paparan paham raadikal terorisme," urai Abdul.

?

IMNU Tegal

Sebagai mitra strategis BNPT, Abdul meminta FKPT bisa mengkoordinir keterlibatan masyarakat dalam pencegahan terorisme. "Terorisme adalah kejahatan luar biasa yang menjadi musuh kita bersama. Oleh karena kebersamaan juga yang bisa menjadi sarana pencegahannya," pungkasnya.

?

Kegiatan Literasi Media sebagai Upaya Cegah Tangkal Radikalisme dan Terorisme, dilaksanakan BNPT dengan menggandeng 32 Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme di seluruh Indonesia. Selain diisi dengan kegiatan dialog, metode lain yang dijalankan adalah visit media dan menggelar lomba karya jurnalistik bertemakan kearifan lokal. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kiai, Pesantren IMNU Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Bersama TNI dan Polri, Banser Jaga Keamanan Pringsewu

Pringsewu, IMNU Tegal

Sekitar 20 Anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Pringsewu ikut bersama polisi dan TNI menjaga keamanan perayaan Natal di Gereja Santo Yosef Pringsewu. Badan otonom dari Gerakan Pemuda (GP) Ansor NU itu membantu pengamanan di Gereja terbesar di Kabupaten dengan julukan Bumi Jejama Secancanan Bersenyum Manis ini.

Bersama TNI dan Polri, Banser Jaga Keamanan Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama TNI dan Polri, Banser Jaga Keamanan Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama TNI dan Polri, Banser Jaga Keamanan Pringsewu

“Pringsewu itu sangat heterogen. Berbagai agama dan suku ada di Pringsewu. Kami ingin kerukunan antarumat beragama selalu terwujud di Pringsewu," kata Komandan Banser Pringsewu, Sunarman, saat melaksanakan tugas, Sabtu Malam (24/12).

Sunarman menjelaskan bahwa kegiatan pengamanan ini telah dilakukan oleh Banser Pringsewu setiap tahunnya dengan berkeliling gereja pada saat malam misa. Selain itu beberapa personel Banser juga ditempatkan di pos-pos keamanan Natal dan di gereja saat perayaan Natal.

IMNU Tegal

Dalam melaksanakan tugas, tambah Narman, Anggota Banser selalu berkoordinasi dengan Pihak Kepolisian Sektor Tanggamus. "Kita sudah instruksikan kepada anggota untuk tidak bertindak tanpa adanya komando. Semua prosedur pengamanan yang dilakukan harus melalui komando dan berkoordinasi dengan aparat," jelasnya.

Dipilihnya Gereja Santo Yosef dalam pengamanan Natal tahun ini karena Gereja tersebut berada di Pusat Kota dan paling banyak memiliki jamaah. "Penjagaan ini kami niati menjaga masyarakat agar ada rasa kenyamanan dalam melaksanakan aktifvitas," kata Narman.

IMNU Tegal

Ia juga menambahkan bahwa partisipasi pengamanan tersebut bukanlah soal akidah, tetapi ditujukan hanya untuk membangun toleransi agama di Kabupaten Pringsewu. "Setiap warga masyarakat memiliki hak untuk mendapatan keamanan dan kenyamanan dalam beribadah," katanya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pesantren, Humor Islam, IMNU IMNU Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Cak Nun, NU atau Muhammadiyah?

Emha Ainun Najib (Cak Nun) memang bikin orang penasaran. Kegemarannya pada shalawatan, tahlil, wirid, yasinan, ziarah, dan sejumlah aktivitas ‘klenik’ sekilas menimbulkan spekulasi bahwa ia orang NU.

Tapi, bukankah budayawan kelahiran Jombang ini dulu lulus dari SMA Muhammadiyah? Cak Nun juga lebih sering kepergok tak pakai sarung dan kopiah seperti umumnya orang Muhammadiyah.

Cak Nun, NU atau Muhammadiyah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Cak Nun, NU atau Muhammadiyah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Cak Nun, NU atau Muhammadiyah?

“Sampean ini sebenarnya ikut NU atau Muhammadiyah, sih, Cak?” tanya salah seorang seolah keberatan.

IMNU Tegal

“Emang kenapa?” sahut Cak Nun.

“Ya harus konsisten dong. Pilih yang benar. Yang mana?”

IMNU Tegal

“Begini. Semalem saya bermimpi ketemu Rasulullah,” ungkap Cak Nun datar.? “Saat itu, saya sempat tanyakan kepada beliau, ‘Kanjeng Nabi, saya didesak untuk menentukan dua pilihan, NU atau Muhammadiyah. Tolong jenengan beri petunjuk, kelompok mana yang benar?’”

“Terus, dijawab apa?” desak orang tadi tak sabar.

“Boro-boro dijawab. Nabi malah balik nanya, ‘Lho, Cak, NU sama Muhammadiyah itu apa?’” (Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Hadits, Pesantren IMNU Tegal

Kamis, 30 November 2017

Ini Putusan Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur Terkait Status Kewarganegaraan Teroris

Berikut ini adalah putusan Bahtsul Masail Muskerwil PWNU Jawa Timur di Graha Residen Jalan Darmo Harapan 1 Surabaya 24-25 September 2017. Putusan ini terdiri atas tiga masalah, yaitu soal status kewarganegaraan teroris, soal paytren, dan soal wasiat shalat jenazah satu gelombang.

1. Melepas Status Kewarganegaraan Teroris (PCNU Kota Kediri dan PCNU Bawean)

Deskripsi Masalah

Ini Putusan Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur Terkait Status Kewarganegaraan Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Putusan Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur Terkait Status Kewarganegaraan Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Putusan Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur Terkait Status Kewarganegaraan Teroris

Seiring maraknya terorisme global, tidak sedikit Warga Negara Indonesia yang menjadi simpatisan maupun aktif sebagai milisinya. Hal ini kemudian memunculkan wacana pelepasan status kewarganegaraan orang-orang Indonesia yang terlibat gerakan teroris di luar negeri. Sebab, ketika para teroris mendapat kesempatan pulang ke Indonesia, mereka menularkan ideologinya kepada orang lain sehingga ideologi radikal dan ancaman aksi-aksi teror semakin nyata.

Pertanyaan

IMNU Tegal

a. Bagaimana hukum pemerintah membuat kebijakan melepas status kewarganegaraan terhadap orang yang keluar negeri untuk menjadi teroris?

IMNU Tegal

b. Kapan pemerintah bisa mencabut status kewarganegaraan seorang warganya karena faktor potensi gangguan besar yang mungkin ditimbulkannya?

c. Bagaimana syariat memandang seseorang yang telah menyatakan diri lepas dari ikatan NKRI dan berbaiat mendukung terorisme, kemudian ia kembali lagi ke Indonesia dengan alasan faktor kekecewaan terhadap janji palsu kelompok yang dikunjungi, apakah ia masih boleh diterima kembali sebagai Warga Negara Indonesia secara syara’?

Jawaban

a. Pemerintah berkewajiban menjaga stabilitas keamanan negara, ketentraman warganya dan menjaga dari berbagai hal yang mengancamnya. Karena itu pemerintah diwajibkan membuat kebijakan yang paling maslahat bagi tercapainya tujuan tersebut, meskipun dengan melepas status kewarganegaraan teroris.

Catatan: Kebijakan tersebut disaratkan tidak berdampak tercabutnya hak kewarganegaraan terhadap anak keturunanya yang tidak bersalah.

b. Ketika diduga kuat dengan berdasarkan data akurat orang tersebut akan mengancam stabilitas keamanan negara dan ketentraman warganya, serta tidak ada cara lain yang lebih maslahat.

c. Tidak boleh, kecuali sudah dipastikan tidak membahayakan stabilitas keamanan negara, ketentraman.

Referensi

1. ? ? ? ? ?: 121 ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? – ? ? ? – ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

2. ? ? ? [? 167

? ? ? ? ? ? ? ?: ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ?: ? ? ? ? ? ? ? . ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

3. ? ? ? - (? 16 / ? 284

? ? ? : ? ? ? . ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? (?: 33)? ? ? ? ?.

4. ? ? ? - (? 1 / ? 4439

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (1) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ...  [?/1? 2] ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.  

5. ? ? ? 3 ? 329

? ?: ? ? ? «? ?» ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? {? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. .} ?

6. ? ? [1 /185

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .

7. ? ? ? ? ? ? (4/ 162

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

8. ? ? – (? 15 / ? 218

(? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

9. ? ? ? ? ? ? ? ? ? (5/ 279

?: ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

10. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 26

? ? ? ? ? ? ? ? -? ? ?- ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

11. ? ? ? ? – (1 / 303

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

12. ? ? ? (4/ 192

? ? ? : 25 – ? ? ? ? ? ? . ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (2) ? ? ? ? ? . ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? . (3) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? . (4) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

2. Paytren, Benarkah Bisnis Berbasis Syari’ah? (PCNU Kota Kediri)

Pembahasan masalah bisnis Paytren akan disempurnakan dan dilanjutkan pada bahtsul masail PWNU Jawa Timur berikutnya menunggu nara sumber dari Paytren.

3. Wasiat Shalat Jenazah Satu Gelombang (PCNU Kota Kediri)

Deskripsi masalah

Termasuk bagian dari ajaran Islam adalah memberlakukan hukum wasiat, yaitu pesan terakhir yang disampaikan oleh orang yang akan meninggal. Baik berkenaan dengan harta kekayaan maupun beragam permintaan lainnya, sekalipun itu wasiat terbilang cukup aneh. Umumnya manusia, mereka sangat senang bila ada banyak orang yang siap menyolatinya kelak saat dirinya meninggal. Namun demikian, rupanya ada sebagian orang yang terlehat aneh, ia justru berwasiat agar hanya dishalati oleh satu gelombang jamaah saja kala hari kematiannya, mungkin karena bertujuan agar mayatnya sesegera mungkin untuk diquburkan dan tidak ada penundaan pemakaman karena banyaknya orang yang mensholati atau didasari dengan alasan lain. Karenaitu, ketika wasiat telah terucap, maka tak jarang dari pihak keluarga berusaha keras untuk memenuhi permintaan tersebut.

Pertanyaan

Bolehkah keluarga melarang menyolati jenazah lebih dari satu gelombang berdasarkan wasiat dari mayit?

Jawaban

Pesan larangan untuk menyolati jenazah lebih dari satu gelombang bukan termasuk wasiat, karena bukan hak mayit. Pesan larangan tersebut tidak berdampak hukum apapun, sehingga ahli waris tidak berhak melarangnya. Namun bila terdapat pertimbangan lain seperti menyegerakan pemakaman, khawatir berubahnya jazad mayit (taghayur), maka boleh mencukupkan shalat jenazah satu gelombang.

Referensi

1. ? ? - (? 3 / ? 198

? ? ?  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

2. ? ? - (? 1 / ? 361

? ? ) ? ( ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

3. ? ? ? ? ? ?/?

(?) ? (?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?   .....

4. ? ? ? ? ? ? ?

? (?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? . ? ? ? ? ? ? ?



Tim Perumus

1. KH Sadid Jauhari

2. KH Syafruddin

3. KH Nuruddin Abdurrahman

4. KH Muhibbul Aman Aly

5. KH Ahmad Asyhar Shofwan, M.Pd.I.

6. KH Azizi Hasbullah

7. KH MB. Firjhaun Barlaman

8. KH.Maghfur Syadzili Iskandar

9. Ahmad Muntaha AM

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pahlawan, Pesantren IMNU Tegal

Sabtu, 18 November 2017

Santri Se-Kota Sidoarjo Pamerkan Puluhan Produk Pesantren

Sidoarjo, IMNU Tegal - Sejumlah pondok pesantren di Sidoarjo turut serta memeriahkan Hari Santri Nasional 2016 dengan menggelar pameran hasil produk santri. Sedikitnya ada 60 stand santri mulai dari banom NU hingga lembaga pendidikan NU bersaing dalam pameran hasil kreativitasnya. Langkah ini merupakan salah satu upaya menghidupkan ekonomi mandiri di lingkungan pesantren.

Pameran hasil produk santri ini secara langsung dibuka oleh Bupati Sidoarjo H Saiful Ilah dan Wakil Bupati Sidoarjo H Nur Ahmad Syaifuddin dengan melepaskan ratusan balon. Pelepasan balon ini merupakan sebagai tanda dimulainya pameran dan bazar yang diikuti seluruh santri dan banom NU Se-Kabupaten Sidoarjo.

Santri Se-Kota Sidoarjo Pamerkan Puluhan Produk Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Se-Kota Sidoarjo Pamerkan Puluhan Produk Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Se-Kota Sidoarjo Pamerkan Puluhan Produk Pesantren

Sekitra 60 bentuk kreativitas santri mulai dari makanan, minuman, pakaian, bros, buku Islam, tas cantik, dan miniatur yang terbuat dari styrofum ini ada yang dijual, ada pula yang hanya untuk menyemarakkan Hari Santri Nasional 2016.

Salah satu santri Pesantren Jabal Nur Taman Sidoarjo Moh Faruq mengatakan, hasil kreativitas yang dibuatnya merupakan bentuk partisipasi untuk menyemarakkan momentum Hari Santri. Di samping itu, pihaknya ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa santri juga bisa membuat berbagai kerajinan tangan atau kreativitasnya masing-masing.

IMNU Tegal

"Kami membuat miniatur yang terbuat dari bahan dasar styrofum berbentuk sebuah pesantren dan masjid. Bahan dasarnya seperti styrofum, kardus, lem, dan sebatang sapu. Untuk membuat satu buah masjid dan pesantren hanya memerlukan beberapa jam. Itupun harus dilakukan secara kelompok," ujar Faruq, Jumat (21/10).

Sementara itu, menurut panitia Hari Santri Nasional Slamet Budiono, pemeran dan bazar ini diikuti sejumlah santri dari pesantren se-Kabupaten Sidoarjo. Selain itu, peserta pameran juga diikuti banom NU di antaranya Muslimat, IPNU-IPPNU, lembaga NU, dan dari sejumlah dinas di lingkungan Pemkab Sidoarjo.

IMNU Tegal

"Kita ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa pameran ini hasil kerativitas pesantren, TPQ, banom NU yang notabenenya dikelola santri ketika di pesantren, dan kemudian dipamerkan dalam bentuk bazar. Sekitar 60 stand ini terdiri dari 20 UMKM di Sidoarjo dan 40 madin, TPQ, banom yang mempunyai kemandirian kita tampilkan di sini," kata Slamet. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pesantren IMNU Tegal

Minggu, 12 November 2017

LAZISNU Bantu Modal Usaha dan Beasiswa

Jakarta, IMNU Tegal. Lembaga Amil Zakat Infak dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (Lazisnu) menyumbang 28 mustahik pada Jumat (13/4) pukul 15.00, di kantor Lazisnu, gedung PBNU, Jakarta. Para mustahik masing-masing mendapatkan uang sejuta rupiah.?

LAZISNU Bantu Modal Usaha dan Beasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Bantu Modal Usaha dan Beasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Bantu Modal Usaha dan Beasiswa

Menurut Ketua Umum Lazisnu KH Masyhuri Malik, 28 mustahik itu terdiri dari tiga kelompok, “Dua kelompok kategori usaha kecil dari Ciganjur dan Rawamangun jumlahnya 20 orang, dan beasiswa 8 orang.”?

Kepada kelompok usaha kecil, Masyhuri menekankan supaya uang itu benar-benar digunakan untuk usaha, “Karena uang ini, uang amanah dari para aghniya yang diserahkan kepada PBNU. Jangan sampai dibelanjakan di mall!” ujarnya.

IMNU Tegal

Selain itu, Masyhuri mewajibkan para penerima sumbangan untuk menabung di masing-masing kelompoknya. Selama setahun, dan maksimal dua tahun, diharapkan tabungan itu mencapai sejuta lagi. Setelah uang itu terkumpul, bisa digunakan kelompok lain.?

Hingga saat ini, Lazisnu sudah membantu berbagai kelompok usaha kecil di empat wilayah, yaitu Banten, Ciamis, Bekasi (Jawa Barat), Sukabumi Ilir (DKI Jakarta), “Alhamdulillah berjalan lancar, perputarannya sudah millyaran,” terangnya.?

IMNU Tegal

Menurut Masyhuri, kunci keberhasilan perputarabn itu adalah ketua kelompok dan para anggotanya saling mengawasi.?

Lazisnu memiliki empat program yang selama ini sudah berjalan yaitu NUcare, untuk bantuan mendesak seperti kecelakaan atau bencana; NUpreneur untuk modal usaha kecil; NUsmart untuk beasiswa; dan NUskill untuk pelatihan keterampilan.?

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis: Abdullah Alawi?

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pesantren IMNU Tegal

Sabtu, 11 November 2017

Banser Kaltim Didik Kader di Tengah Kebun Sawit

Paser, IMNU Tegal - Sebanyak 136 calon anggota Banser dan empat anggota Fatayat mengikuti Diklat Terpadu Dasar, Paser, Senin (20/2). Mereka mengikuti materi kebanseran dari Instruktur Satkorwil GP Ansor dan Satkornas Banser di lokasi yang terletak di perkebunan sawit dan berbukit di Kabupaten Paser, Kaltim.

Menurut Ketua GP Ansor Kalimantan Timur Fajri Al-Farobi, kegiatan pengkaderan ini bertujuan untuk mencari kader sekaligus meningkatkan kualitas kader, khususnya di seluruh Kalimantan Timur.

Banser Kaltim Didik Kader di Tengah Kebun Sawit (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Kaltim Didik Kader di Tengah Kebun Sawit (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Kaltim Didik Kader di Tengah Kebun Sawit

"Setelah Susbalan di Balikpapan, DTD di seluruh Satkorcab di Kaltim terus berjalan sebagai salah satu bentuk pelaksanaan Rencana Tindak Lanjut (RTL), sekaligus bentuk tanggung jawab secara organisasi. Kami menginginkan kader bukan secara kuantitas tetapi kualitas juga harus meningkat."

IMNU Tegal

Peserta dilatih materi khusus dan materi tambahan baik di dalam maupun lapangan sehingga mental. Fisik bisa teruji dalam mengembangkan organisasi.

“Kami melihat potensi kader yang luar biasa sehingga kami terus bergerak serta melangkah demi militansi kader yang cerdas dalam berpikir serta bertindak," kata Kasatkorwil Kalimantan Timur Murjani.

IMNU Tegal

Asrendiklat Satkornas Nuril Huda yang menjadi instruktur menambahkan, pembentukan kader yang berkualitas harus diimbangi dengan manajerial yang baik, menyangkut, komunikasi, administrasi dan koordinasi.

“Standarisasi pelatihan sesuai peraturan organisasi, juklak dan juknis yang ada sesuai tugas, fungsi, serta tanggung jawab Banser." (Herry Bh/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Warta, Pesantren, Makam IMNU Tegal

Selasa, 07 November 2017

Akhir Ramadhan, Pelajar NU Blubuk Serahkan Santunan ke 107 Yatim

Tegal, IMNU Tegal - Menjelang Lebaran 1438 Hijriyah, Pimpinan Ranting IPNU dan IPPNU Desa Blubuk Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal menggelar buka puasa bersama dengan 107 anak yatim di desa setempat di Pendopo Balai Desa Blubuk, Kamis (22/6) sore. Pada kesempatan ini mereka menyerahkan santunan kepada anak-anak tanpa orang tua tersebut.

Ketua IPPNU Blubuk Sukmawati menyampaikan terima kasih atas partisipasi dan sumbangsih serta dukungan masyarakat. Santunan ini merupakan realisasi program IPNU-IPPNU Desa Blubuk yang dibalut dalam amaliyah Ramadhan 1438 Hijriyah.

Akhir Ramadhan, Pelajar NU Blubuk Serahkan Santunan ke 107 Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhir Ramadhan, Pelajar NU Blubuk Serahkan Santunan ke 107 Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhir Ramadhan, Pelajar NU Blubuk Serahkan Santunan ke 107 Yatim

"Alhamdulillah tahun ini, santunan diberikan kepada 107 anak yatim, dari 120 anak yang kita undang," kata Sukma.

Ketua NU Desa Blubuk Syamsudin menyampaikan terima kasih dan rasa bangganya kepada IPNU dan IPPNU yang menyatakan kepeduliannya kepada anak yatim. Ia berharap pemberian santunan dapat berjalan secara rutin dan berkesinambungan.

IMNU Tegal

IMNU Tegal

"Saya turut berdoa semoga program-program dari IPNU-IPPNU bisa terlaksana dengan baik. Kepada anak-anakku semoga menjadi anak yang saleh dan selalu berbakti dan mendoakan orang tuanya," ujar Syamsuddin singkat.

Kepala Desa Blubuk Nuraeni mengungkapkan rasa bangganya atas kepedulian pelajar NU yang tergabung dalam IPNU-IPPNU. "Kegiatan ini sangat bagus dan harus kita dukung. Pasalnya kegiatan IPNU-IPPNU sudah rutin berjalan setiap Ramadhan," tutur Nuraeni.

Acara dimeriahkan dengan tampilan hadrah IPNU-IPPNU yang menyuguhkan lagu shalawat Nabi. Hadir dalam kesempatan ini Pengurus Ranting NU Blubuk dan badan otonom, pembina, alumni, tokoh masyarakat, dan serta ratusan yatim. (Hasan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Tokoh, Pesantren, Kyai IMNU Tegal

Senin, 06 November 2017

GP Ansor Sidoarjo Deklarasikan Tolak Khilafah dan Radikalisme

Sidoarjo, IMNU Tegal - Pengurus Cabang GP Ansor Kabupaten Sidoarjo mengeluarkan pernyataan sikap penolakan atas gerakan khilafah dan radikalisme. Deklarasi ini dibacakan oleh Ketua GP Ansor Sidoarjo H Rizza Ali Faizin di depan Bupati Sidoarjo H Saiful Ilah dan Ketua Umum GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas pada apel kebangsaan di depan Masjid Agung Sidoarjo, Jumat (3/1).

Dengan diiringi bendera panji-panji kebesaran GP Ansor dan bendera merah putih, ribuan kader NU mulai dari Ansor, Fatayat, Muslimat, IPNU-IPPNU, Pagar Nusa, PMII, dan banom NU lainnya berikrar menyatakan sikap untuk melawan radikalime dan melawan berdirinya khilafah di Kabupaten Sidoarjo.

GP Ansor Sidoarjo Deklarasikan Tolak Khilafah dan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Sidoarjo Deklarasikan Tolak Khilafah dan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Sidoarjo Deklarasikan Tolak Khilafah dan Radikalisme

H Rizza menegaskan, bagi GP Ansor Sidoarjo NKRI harga mati. Dasar negara Indonesia adalah Pancasila. GP Ansor Sidoarjo siap melawan segala bentuk kekerasan dan gerakan yang mengancam NKRI. GP Ansor Sidoarjo siap melawan kelompok manapun yang mengubah Pancasila.

IMNU Tegal

GP Ansor Sidoarjo siap menjaga negara yang damai. GP Ansor bersama TNI dan Polri akan menindak tegas keberadaan kelompok yang mengancam NKRI. Kader muda NU ini siap berdiri di garda terdepan untuk menjaga nilai-nilai pluralisme dan kebhinekaan, melawan kelompok radikal yang telah berdirinya khilafah, GP Ansor dan Banser siap dalam satu barisan dan satu komando.

IMNU Tegal

"GP Ansor Sidoarjo juga akan melindungi para kiai," tegasnya. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pesantren, AlaSantri IMNU Tegal

Senin, 30 Oktober 2017

Registrasi Muktamar NU, Peserta Disambut Pelayanan Prima

Jombang, IMNU Tegal. Setelah menempuh perjalanan udara pada Jumat (31/07/15), Delegasi PCNU Pringsewu pada Muktamar NU ke 33 tiba di Kabupaten Jombang yang menjadi tuan rumah hajat Akbar 5 tahunan Jamiyyah Nahdlatul Ulama ini. Delegasi yang terdiri dari 6 orang tersebut langsung melakukan registrasi peserta yang dipusatkan di Gedung Olah Raga Merdeka Jombang.?

"Alhamdulillah proses registrasi berjalan dengan lancar karena PCNU Pringsewu sudah melaksanakan registrasi online sebelumnya. Kami cuma butuh kurang lebih 10 menit untuk menyelesaikan registrasi ," jelasnya.

Registrasi Muktamar NU, Peserta Disambut Pelayanan Prima (Sumber Gambar : Nu Online)
Registrasi Muktamar NU, Peserta Disambut Pelayanan Prima (Sumber Gambar : Nu Online)

Registrasi Muktamar NU, Peserta Disambut Pelayanan Prima

Ke-6 peserta langsung diantarkan menggunakan kendaraan yang khusus digunakan untuk mengantarkan peserta ke masing masing pemondokan. Delegasi PCNU Pringsewu ditempatkan di Komplek MTs Negeri Jombang yang menyatu dengan Komplek Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang.

IMNU Tegal

"Kami disambut dengan pelayanan prima dari Panitia. Kami menilai panitia sudah sangat siap menggelar hajat Muktamar yang baru kali ini digelar di tempat kelahiran NU pada 1926," kata Adi Ben Slamet salah satu delegasi dari Pringsewu.

IMNU Tegal

Adi memberikan apresiasi kepada panitia dengan kesigapan dan kesiapan mereka menyiapkan akomodasi bagi para peserta muktamar. "Begitu sampai di Pemondokan, kami diharuskan melakukan rekam finger print -sidik jari- untuk memastikan hanya peserta saja yang dapat memasuki komplek pemondokan," jelasnya.

Adi mengatakan bahwa mengawali aktifitas pertama, delegasi yang terdiri dari KH Ridwan Syuaib, Munawwir, H Taufiqurrahim, KH Hambali, dan Adi Ben Slamet akan melakukan ziarah ke makam para muassis dan tokoh NU seperti Makam Mbah Hasyim, Kyai Wahab, Mbah Wahab, Gus Dur dan lain-lainnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Hadits, Pesantren IMNU Tegal

Selasa, 10 Oktober 2017

UNUSA dan Indosat Ooredoo Gelar Kuliah Umum Soal Perempuan dan Teknologi

Surabaya, IMNU Tegal - Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) bekerja sama dengan PT Indosat Ooredoo menyiapkan generasi perempuan untuk melek Informasi Teknologi (IT) dan mahir gawai.

Rektor UNUSA Achamd Jazidie mengatakan bahwa perempuan merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki sifat lembut dan penuh kasih sayang. Namun di balik sisinya yang lembut dan penuh kasih sayang. Perempuan adalah sosok yang cerdas, tangguh, dan pekerja keras. Melalui kecerdasannya perempuan dapat membawa perubahan dan dapat merubah dunia. Perempuan merupakan ujung tombak untuk membangun sebuah negara lebih maju lagi, karena ibu adalah seorang perempuan dan dari ibulah yang pertama kali mendidik generasi penerus bangsa.

UNUSA dan Indosat Ooredoo Gelar Kuliah Umum Soal Perempuan dan Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
UNUSA dan Indosat Ooredoo Gelar Kuliah Umum Soal Perempuan dan Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

UNUSA dan Indosat Ooredoo Gelar Kuliah Umum Soal Perempuan dan Teknologi

"Jika seorang ibu paham IT dan mahir gawai, maka pengetahuannya akan bisa mendidik dan mengarahkan anak-anaknya untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk melalui informasi dan teknologi. Adanya Unusa akan memberikan keberkahan bagi semua elemen masyarakat. Salah satunya kaum perempuan dalam perkembangan IT dan mahir Gawai," katanya saat sambutan di Kafe Fastron Tower Unusa Kampus B Unusa Jemursari, Jumat (13/10).

IMNU Tegal

CEO dan Direktur PT Indosat Ooredoo, Alexander Rusli mengungkapkan hadirnya kesenjangan gender terutama di negara-negara yang belum berkembang masih terasa. Pendapatan wanita per tahun berada di kisaran 55 persen dari pendapatan per tahun pria. Industri terkait STRM (Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematik) akan menambah 1.7 juta lapangan kerja di Amerika Serikat. Namun jumlah mahasiswi teknik kurang dari 12 persen. Di Asia Selatan, jumlah wanita yang memiliki handphone 38 persen di bawah jumlah pria. Di Sub-Sahara Afrika, jumlah wanita yang memilik akses internet 45 persen di bawah jumlah pria. Di Norway, wanita muda dua kali lebih banyak mengalami cyberbullying dibanding pria.

"Tiga masalah utama kesenjangan yang dialami wanita. Kesenjangan pengetahuan dalam menggunakan internet dan solusi digital untuk memperluas wawasan. Kesenjangan pendanaan atau akses layanan keuangan dan perbankan. Kesenjangan kemampuan menambah penghasilan," terangnya saat memberikan materi kuliah umum dengan tema women and technology. (Rof Maulana/Alhafiz K)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kyai, News, Pesantren IMNU Tegal

Kamis, 28 September 2017

Al-Audah ila Iktisyaf Tsauratina, Kitab Pusaka Presiden Soekarno

Oleh A. Ginanjar Sya’ban

Kitab berjudul “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ” ini bernilai keramat. Kitab ini diterbitkan di Kairo pada tahun 1959 oleh al-Dâr al-‘Arabiyyah li al-‘Ulûm, dengan tebal 68 halaman. Saya mendapatkan salinan kitab ini dari perpustakaan Biblioteka Alexandria, Mesir.

Al-Audah ila Iktisyaf Tsauratina, Kitab Pusaka Presiden Soekarno (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Audah ila Iktisyaf Tsauratina, Kitab Pusaka Presiden Soekarno (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Audah ila Iktisyaf Tsauratina, Kitab Pusaka Presiden Soekarno

Apa istimewanya kitab “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ” ini?

Kitab ini merupakan terjemahan dari buku berjudul “Penemuan Kembali Revolusi Kita” yang berasal dari pidato Presiden Republik Indonesia Soekarno pada hari kemerdekaan RI yang ke-14 (17 Agustus 1959).

Dalam pidatonya, Soekarno mengulas berbagai persoalan pokok dan program umum Revolusi Indonesia yang bersifat menyeluruh. Pemikiran pidato ini kemudian menjadi Garis Besar Haluan Negara pada pemerintahan Soekarno.

Pidato ini kemudian dikenal dengan sebutan “Manifesto Politik Republik Indonesia”, setelah sebelumnya Presiden Soekarno mencangkan sistem demokrasi terpimpin dalam mengatur pemerintahan. Berdasarkan Tap MPRS No. I/MPRSI1960, pidato itu kemudian ditetapkan sebagai garis-garis besar haluan negara RI dan pedoman resmi dalam perjuangan penyelesaian revolusi.

IMNU Tegal

Di kancah perpolitikan dunia Arab pada masa itu, kitab ini punya pengaruh yang sangat besar. Kitab ini berisi tentang pandangan-pandangan revolusioner Soekarno yang saat itu ditahbiskan sebagai pemimpin Asia-Afrika, penggagas “Gerakan Non-Blok”, sekaligus pengilham kemerdekaan negara-negara dunia ketiga.

Terlebih lagi Mesir, yang saat itu baru menjalani 7 (tujuh) tahun masa revolusi (Juli 1952) yang dipimpin oleh Gamal Abdel Nasser. Tokoh revolusioner Nasser yang saat itu menjadi presiden Mesir dan dijuluki “Za’îm al-‘Âlam al-‘Arabî” (Pemimpin Dunia Arab) menyatakan dirinya sebagai murid gerakan revolusi Soekarno.?

Antara Nasser dan Soekarno terjalin hubungan persahabatan yang sangat erat. Dihitung dari tahun 1959, Presiden Soekarno sebelumnya sudah mengunjungi Mesir sebanyak 2 (dua) kali, yaitu pada 1955 dan 1958.

IMNU Tegal

Keberadaan kitab ini menjadi saksi bisu jika pada masa itu Indonesia yang belum genap 17 tahun masa kemerdekaan sudah memiliki pengaruh yang besar di kancah dunia Arab, menjadi “guru” bagi para pemimpin negara-negara Arab yang saat itu baru merdeka dari penjajahan Inggris dan Prancis.

Lebih dari itu, Indonesia bahkan sudah mampu “mengekspor” ideologi, gagasan, dan kebijakan nasionalnya.

Dalam halaman terakhir kitab “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ”, misalnya, dibuatkan glossary tentang falsafah kerakyatan dan kenegaraan Indonesia, seperti Pancasila (al-Mabâdi al-Khamsah) yang dalam bahasa Arab diterjemahkan butir-butirnya dengan; (1) al-Îmân billâh, (2) al-Insâniyyah, (3) al-Qaumiyyah al-Indûnisiyyah, (4) Siyâdah al-Sya’b, dan (5) al-‘Adâlah al-Ijtimâ’iyyah. Pancasila adalah ideologi hasil ijtihad para pediri bangsa-negara Indonesia yang memanifestasikan perpaduan nilai-nilai luhur keagamaan dan nasionalisme.

Selain Pancasila, tertulis juga tentang “al-Ta’addud fî al-Wihdah” (Bhinneka Tunggal Ika). Dijelaskan disana, bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah (? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?), yakni “bahwasannya Indonesia meskipun terdiri dari berbagai wilayah dan bangsa yang berbeda-beda, namun bersatu dalam kesatuan yang teguh”.

Terdapat juga falsafah hidup khas Nusantara yang diulas di glossary kitab ini, yaitu “al-Ta’âwun al-Musytarak” atau Gotong Royong.

Keberadaan kitab ini sezaman dengan kitab-kitab karangan ulama Nusantara yang ditulis dan diterbitkan di Timur Tengah pada saat itu, seperti Syaikh ‘Abd al-Qâdir al-Mandailî, Syaikh ‘Abd al-Hamîd al-Khatîb al-Minangkabâwî al-Makkî, Syaikh Muhammad Yâsîn ibn ‘Îsâ al-Fâdânî, Syaikh Marzûqî al-Batâwî, Syaikh Ihsân ibn Dahlân al-Jamfasî al-Kedîrî, dan lain-lain.

Di tahun yang sama dengan terbitnya kitab “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ” ini (1959), seorang ulama besar Nusantara, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), diundang untuk datang ke Universitas Al-Azhar Kairo untuk menerima gelar doktor honoris causa (duktûrah al-syaraf).

?

Penulis adalah Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pendidikan, Pesantren, Amalan IMNU Tegal

Minggu, 24 September 2017

IPNU Kota Banjar Pilih Pemimpin Baru

Banjar, IMNU Tegal. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota banjar melaksanakan Konferensi Cabang IV, Jumat (18/7), di Gedung MTs Cibeunteur Banjar, Jawa Barat,  dengan tema "Membangun Sayap-sayap Generasi NU untuk Memperjuangkan dan Mempertahankan Aqidah Aswaja".

Ketua PC IPNU Kota Banjar Irvan Fauzi menuturkan bahwa selain untuk mengevaluasi kinerja kepengurusan, menyusun program kerja dan strategi gerakan IPNU, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk regenerasi kepengurusan IPNU Kota Banjar.

IPNU Kota Banjar Pilih Pemimpin Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Kota Banjar Pilih Pemimpin Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Kota Banjar Pilih Pemimpin Baru

Sidang pleno IV Pemilihan Ketua PC IPNU Kota Banjar menetapkan Dikdik Nursidik sebagai Ketua PC IPNU Kota Banjar masa khidmah 2014-2016. Dikdik terplih secara aklamasi dalam konfercab yang dihadiri sedikitnya 50 peserta dari perwakilan Pimpinan Anak Cabang IPNU dan Pimpinan Komisariat IPNU se-Kota Banjar.

IMNU Tegal

Kegiatan tersebut juga dihadiri para tamu dari PCNU Kota Banjar, termasuk badan otonomom, lembaga dan lajnah NU Kota Banjar; Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Barat.

Supriyanto dari PCNU Kota Banjar berpesan kepada kepengurusan baru untuk lebih aktif turun ke desa-desa. Hal tersebut, menurutnya, menjadi modal gerakan untuk mempertahankan nilai-nilai Aswaja dan menjaga tradisi Islam Aswaja di Kota Banjar. (Aris Prayuda/Mahbib)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kiai, Pesantren, RMI NU IMNU Tegal

Kamis, 14 September 2017

Menjaga NKRI dengan Perkuat Ekonomi dan Kemandirian Santri

Lampung Tengah, IMNU Tegal?



Menjaga NKRI tidak hanya dilakukan dalam bentuk jihad melawan teroris atau kelompok yang mengganggu atau mengancamnya. Namun, memperkuat bidang ekonomi dan kemandirian juga merupakan salah satu bentuk menjaga NKRI dari intervensi pihak luar.

Menjaga NKRI dengan Perkuat Ekonomi dan Kemandirian Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjaga NKRI dengan Perkuat Ekonomi dan Kemandirian Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjaga NKRI dengan Perkuat Ekonomi dan Kemandirian Santri

Demikian dikatakan Ketua Rabithah Maahid Islamiyyah (RMI) Muhammad Athoillah di depan para santri dan tokoh NU Lampung yang hadir pada Acara Workshop dan Seminar Santripreneur di Kalirejo Lampung Tengah, Sabtu (19/8).?

Gus Athoillah, begitu pria ini biasa dipanggil, menambahkan bahwa dalam rangka mewujudkan kemandirian tersebut diharapkan kedepan para santri tidak hanya mumpuni dalam bidang ubudiyyah dan diniyyah, tapi juga harus mampu menjawab tantangan zaman dengan meningkatkan kapasitas dalam kemandirian ekonomi.

Menurutnya, tahun 2020 sampai dengan 2030, penduduk Indonesia akan didominasi oleh usia remaja dan pemuda. Jika 60 persen dari jumlah pemuda tersebut tidak memiliki pekerjaan alias pengangguran, Indonesia bisa goyah.

IMNU Tegal

"Hal ini harus diantisipasi dan disiapkan dari sekarang untuk membekali para santri selangkah lebih maju, menjadi pengusaha dan punya akhlak dalam kemandirian ekonomi," kata Ketua Panitia Pusat Hari Santri Nasional (HSN) 2017 ini.

Oleh karenanya, dalam Peringatan HSN pada tahun ini lanjutnya, panitia mengangkat tema besar yaitu "Santri Mandiri, NKRI Hebat". Dengan tema besar ini ia berharap dapat memicu para santri untuk memiliki semangat usaha agar NKRI tidak goyah seperti Yunani akibat banyaknya pengangguran.

Hal senada juga diungkapkan Ketua PWNU Provinsi Lampung KH Sholeh Bajuri yang hadir pada acara yang dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional tersebut.

"Semangat kemerdekaan dimulai dari Resolusi Jihad yang dikobarkan oleh para santri dan ditetapkan menjadi Hari Santri Nasional. Jadi untuk mengisi kemerdekaan dibutuhkan keterlibatan santri yang kuat secara ekonomi," ujarnya.

IMNU Tegal

Kiai Sholeh menambahkan bahwa workshop yang digelar oleh RMI tersebut dapat menjadi jawaban bagi hal ini dengan mencetak kader santri yang kuat secara ekonomi dan sekaligus menjadi pengusaha yang akan memperkuat NKRI. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pesantren, Ubudiyah IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock