Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

Al-Hambra Darul Ulum Ajari Cepat Kuasai Kitab Kuning

Jombang, IMNU Tegal. Asrama Al-Hambra pesantren Darul ‘Ulum Jombang di bawah asuhan Gus Binhad Nurrohmat dan Hj Ma’murotus Sa’diyah yang juga rektor Universitas Darul ‘Ulum Jombang) mengadakan Pelatihan Membaca Kitab Kuning Kilat.

Al-Hambra Darul Ulum Ajari Cepat Kuasai Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Hambra Darul Ulum Ajari Cepat Kuasai Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Hambra Darul Ulum Ajari Cepat Kuasai Kitab Kuning

Ditemui IMNU Tegal, Gus Binhad Nurrohmat menyatakan bahwa tujuan pelatihan adalah agar belajar para santri lebih meningkat.

“Tujuan pelatihan ini adalah memperkenalkan metode pembelajaran tata bahasa Arab yang berbeda agar santri lebih antusias belajar bahasa Arab. Ini penting dilakukan agar santri lebih semangat dan makin mumpuni berbahasa Arab dan bisa mengakses isi kitab-kitab langsung melalui bahasa aslinya,” ujarnya.

IMNU Tegal

Pelatihan yang terus berlanjut selama beberapa sesi  ini dipandu pengasuh pesantren Darul ‘Ulum Karangpandan Pasuruan Gus Haidar Hafidz. Gus Haidar yang juga pengurus Lesbumi Pasuruan menamai metodenya “Ar-Rumuz”.

IMNU Tegal

“Para santri jangan takut membaca kitab. Caranya langsung baca kitab mukhtashar jiddan, kosongan,” ujarnya dalam pelatihan di Pendopo Thoriqoh, Sabtu (22/3) malam.

Menurutnya, kunci membaca kitab itu dua, ketepatan i’rab dan bina’. Santri tak perlu menghafal. Cukup menulis dan membaca secara terus menerus diagram sistematika i’rab dan bina.

Gus Haidar mengatakan, cukup tiga hingga lima pertemuan para santri sudah mahir membaca kitab dasar semacam mukhtashar jiddan. “Pokoknya santri harus berani belajar membaca. Jangan disalahkan. Kita pandu. Biarkan santri mencari sendiri pemahamannya, dan ini membutuhkan kamus semacam Al-Munawwir.”

Di setiap selesai pemahaman metode, para santri diminta menghadiahi fatihah kepada masyayikh. “Agar ada yang mendampingi secara spiritual,” ujar Gus Haidar serius.

Fitrah, seorang santri ketika ditanya kesan pelatihan ini menyampaikan, “Saya senang dengan pelatihan ini. Saya bisa lebih mudah membaca dan mengartikan  kitab. Lebih percaya diri.” (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal RMI NU IMNU Tegal

Minggu, 25 Februari 2018

Seluruh Calhaj Mentawai Sudah Berangkat

Jakarta, IMNU Tegal. Musibah tsunami di Mentawai yang menewaskan sedikitnya 312 orang di Sumatera Barat yang terjadi pada 26 Oktober lalu itu ternyata tidak mengganggu penyelenggaraan haji di embarkasi Padang. Bahkan seluruh calon jamaah haji asal kabupaten Mentawai sudah berangkat ke Tanah Suci.



Seluruh Calhaj Mentawai Sudah Berangkat (Sumber Gambar : Nu Online)
Seluruh Calhaj Mentawai Sudah Berangkat (Sumber Gambar : Nu Online)

Seluruh Calhaj Mentawai Sudah Berangkat

Kabid Haji, Zakat dan Wakaf  Kakanwil Kementerian Agama Sumbar H. Japeri pada Jumat (29/10) mengatakan, pada tahun ini ada enam orang calhaj (calon jamaah haji) berasal dari kabupaten Mentawai, seluruhnya sudah berangkat dengan Kloter 14 Padang, pada Kamis (28/10) , take off jam 14.00 Wib.

Calhaj asal kabupaten Mentawai, bila berangkat bergabung dengan kabupaten Padang atau Pariaman. Karena mereka mendaftar juga bukan di Mentawai. "Mereka mendaftar dan naik dari Padang atau Pariaman, mengingat di Mentawai Siskohat (sistem komputerisasi haji terpadu) belum online.

IMNU Tegal

Pada tahun ini, calhaj asal Mentawai berangkat bersama jemaah asal kota Pariaman. Mereka tergabung dalam kloter 14 mengangkut 359 orang dengan pesawat Garuda Indonesia. "Dalam kloter ini ada satu orang yang batal, karena meninggal dunia. Yakni Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pariaman Ridwan Bay, beliau sebagai jamaah biasa,"ujar Japeri.

Menurutnya, embarkasi Padang selain memberangkatkan jamaah haji Sumbar yang berjumlah 4.612 orang, juga jamaah asal provinsi Jambi dan Bengkulu seluruhnya 7.613 orang. Kloter terakhir berangkat pada 9 November mendatang, yaitu Kloter 22 merupakan gabungan dengan Kloter 16 dari embarkasi Balikpapan. "Pada kloter ini, 118 orang asal Sumbar, dan 221 orang dari Balikpapan,"tutur Japeri lagi. (amf/menag)Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal RMI NU, Hikmah IMNU Tegal

Minggu, 18 Februari 2018

Hari Ini, Laga Final LSN Region Sulawesi I dan Jatim II

Jakarta, IMNU Tegal

Liga Santri Nusantara (LSN) Region Sulawesi I menggelar laga final, Rabu (31/8) ini, pukul 15.00 WITA, di Lapanham PP DDI Kaballangan, Pinrang, Sulawesi Selatan. Region Sulawesi I meliputi Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Barat.

Di hari yang sama, final LSN Region Jatim II juga digelar di Stadion Brawijaya Kediri. LSN Region Jatim II yang bakal berlangsung pada pukul 15.30 WIB meliputi Kabupaten Kediri, Jombang, Malang, Batu, Nganjuk, Blitar, dan Tulungagung.

Hari Ini, Laga Final LSN Region Sulawesi I dan Jatim II (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Ini, Laga Final LSN Region Sulawesi I dan Jatim II (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Ini, Laga Final LSN Region Sulawesi I dan Jatim II

Menurut Koordinator LSN Region Sulawesi I Alimuddin Budung, laga final tersebut akan mempertemukan Pondok Pesantren DDI Kaballangang Pinrang versus Pondok Pesantren Al-Ihsan Kanang, Sulbar.

IMNU Tegal

"Alhamdulillah kita sudah memasuki babak final. Saya mengundang kepada seluruh masyarakat untuk menyaksikan laga final ini. Ini merupakan tontonan yang menarik," tandasnya.

Sementara itu, laga final LSN Jatim II mempertemukan antara Pondok Pesantren An Nur 2 Malang versus Pondok Pesantren Darut Taibin Tulungagung. Sedangkan, pertandingan untuk merebut juara ketiga mempertemukan antara Pesantren Queen Al Falah Ploso Kediri versus Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang pada pukul 13.30 WIB.

IMNU Tegal

Untuk sementara, LSN di Jatim yang baru memastikan tiket ke babak 32 besar seri nasional adalah Pesantren Darul Huda Mayak. Darul Huda merupakan wakil dari LSN Region Jatim I. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal RMI NU IMNU Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Pergunu Jombang Perluas Anak Cabang ke Tiap Kecamatan

Jombang, IMNU Tegal. Pimpinan Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jombang segera membentuk kepengurusan  pimpinan anak cabang (PAC) di tiap kecamatan. Rencana ini merupakan salah satu amanat musyawarah wilayah Pimpinan Wilayah Pergunu di Yayasan Madinatul Ulum Jombang beberapa waktu lalu.

Kepengurusan PAC Pergunu yang sedang diproses SK oleh PW Pergunu adalah PAC Kecamatan Ngoro, kemudian menyusul PAC Kecamatan Diwek.

Pergunu Jombang Perluas Anak Cabang ke Tiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Jombang Perluas Anak Cabang ke Tiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Jombang Perluas Anak Cabang ke Tiap Kecamatan

“Berdasarkan rapat kooordinasi pada awal Desember lalu, bertempat di rumah bendahara  PC Pergunu Jombang, Ustadz Dimyathi, ada agenda sesuai dengan amanat muskerwil Pergunu, agar  kita memperbanyak  pembentukan pengurus  PAC,” ujar Ahmad Faqih, Ketua Pimpinan Cabang Pergunu Jombang pada Rapat Koordinasi Program, Senin (31/03) di Hall Abdurrahman Wahid, Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Jombang.

IMNU Tegal

Agar sinergi dan berjalan efektif, PC Pergunu Jombang akan mengirim surat kepada tiap pengurus Majelis Wakil Cabang (MWCNU) dengan mengetahui Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah.

“Kita akan mengundang MWC, dengan mengetahui Rais dan Ketua Tanfidziyah , dilampirkan formulir dan stuktur kepengurusan. Rekomendasi pengurus MWC patut dipertimbangkan dalam seleksi pengurus PAC Pergunu. Harapannya guru yang aktif, dan dari kalangan nahdliyin yang menjadi kandidat pengurus,” ujarnya di hadapan para peserta rapat.

IMNU Tegal

Sebelum diadakan perluasan pembentukan pengurus anak cabang di tiap kecamatan, PC Pergunu Jombang kembali mengadakan diklat. Untuk akhir April ini, diagendakan diklat tentang Kurikulum 2013.

“Sebelum diklat Kurikulum 13 itu kita beri kemanfaatan lebih dulu. Kita kembali mengadakan pendidikan dan pelatihan untuk para guru. Pendidikan dan pelatihan itu dilaksanakan sebagai wujud kebermanfaatan yang harus dilakukan Pergunu,” ujarnya didampingi wakil ketua PC Pergunu, M. Sholahuddin, dan dua pengurus lainnya, Ahmad Rofik, dan Burhanuddin.

“Acara kita kali ini, dibuat lebih besar sekalian, dandirencanakan bekerja sama dengan PC LP Maarif Jombang, dan yang diundang seluruh perwakilan guru sekolah di bawah LP Ma’arif, SD, SMP, dan SMA di Jombang. Kita undang minimal 300 peserta,” ujar Kepala Sekolah SMA Misykatul Anwar Jombang ini. (Yusuf Suharto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal RMI NU, Syariah, Pesantren IMNU Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

UNU/STAINU Dirikan Pesantren Mahasiswa

Jakarta, IMNU Tegal. Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia dan Sekolah Tinggi Agama Islam NU (STAINU) mendirikan pesantren mahasiswa yang berlokasi di Jl Matraman Dalam II Rt 19 Rw 08 Jakarta Pusat, tak jauh dari kampus UNU di Jalan Taman Amir Hamzah. 

UNU/STAINU Dirikan Pesantren Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU/STAINU Dirikan Pesantren Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU/STAINU Dirikan Pesantren Mahasiswa

Peresmian pesantren tersebut dilakukan Senin malam (23/11) oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj bersama dengan dewan penyantun UNU Hermanto Dardak, Rektor UNU Maksum Machfoedz dan civitas akademika UNU dan STAINU.

Dalam kesempatan tersebut KH Said Aqil Siroj memberi motivasi kepada para mahasiswa untuk rajin belajar karena saat ini banyak sekali kesempatan beasiswa yang bisa diraih oleh para kader NU, asal memenuhi syarat. 

IMNU Tegal

Ia menjelaskan, dukungan terhadap NU diberikan oleh banyak pihak karena sikap moderat NU. Para pihak yang memiliki kesamaan pandangan tersebut sangat mendukung kemajuan NU. Karena itu, ia kembali menegaskan agar menggunakan kesempatan dan berbagai dukungan ini dengan sebaik-baiknya. 

IMNU Tegal

KH Mujib Qolyubi, pengasuh pesantren mahasiswa UNU menjelaskan, pesantren ini khusus diperuntukkan bagi santri putri, sedangkan untuk santri putra, disediakan lokasi di daerah Kalibata.

Inisiatif pendirian pesantren ini dikarenakan banyaknya orang tua mahasiswa yang menanyakan apakah ada pesantren dan tempat mengaji bagi anak-anaknya yang belajar di UNU Indonesia dan STAINU Jakarta. 

Mujib menambahkan, sebagai pesantren, nantinya akan diadakan pengajian rutin tiap hari dengan mengkaji kitab-kitab yang selama ini diajarkan di pesantren. Bukan sekedar belajar agama, para santri akan dididik bagaimana berperilaku dengan baik sesuai dengan akhlak Rasulullah. (Mukafi Niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal RMI NU, Kyai, Cerita IMNU Tegal

Quraish Shihab Ingatkan Pentingnya Nasionalisme dan Cinta Tanah Air

Jakarta, IMNU Tegal



Khatib shalat Idul Fitri di masjid Istiqlal Quraish Shihab mengingatkan bahwa nasionalisme, patriotisme dan cinta tanah air adalah fitrah (naluri) manusia.

Quraish Shihab Ingatkan Pentingnya Nasionalisme dan Cinta Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Quraish Shihab Ingatkan Pentingnya Nasionalisme dan Cinta Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Quraish Shihab Ingatkan Pentingnya Nasionalisme dan Cinta Tanah Air

"Tanah air adalah ibu pertiwi yang sangat mencitai kita sehingga mempersembahkan segalanya buat kita, kita pun secara naluriah mencintainya. Itulah fitrah, naluri manusiawi, karena itu hubbu al-wathan minal iman, cinta tanah air adalah manifestasi dan dampak keimanan," kata Quraish di masjid Istiqlal Jakarta pada Ahad.

Presiden RI Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo beserta putrinya Kahiyang Ayu dan putranya Kaesang Pangarep ikut melaksanakan shalat Id di masjid tersebut.?

Bersama Presiden dan keluarga, hadir pula Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta Ibu Mufidah Jusuf Kalla, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat dan istri Happy Farida, serta para menteri Kabinet Kerja, pimpinan lembaga negara, dan duta besar negara sahabat.

"Tanah air kita terbentang dari Sabang sampai Merauke harus dibangun dan dimakmurkan serta dipelihara persatuan dan kesatuannya," tambah Quraish.

IMNU Tegal

Persatuan dan kesatuan menurut Quraish adalah anugerah Tuhan yang tidak ternilai karena sebaliknya, perpecahan dan tercabik-cabiknya masyarkat adalah bentuk siksa Allah.

Kesatuan itu menurut Quraish memiliki tiga arti.

"Pertama, kesatuan seluruh makhluk karena semua makhluk kendati berbeda-beda namun semua diciptakan dan di bawah kendali Allah," ungkap Quraish.

Arti kedua adalah, karena semua manusia berasal dari tanah sehingga semua manusia harus dihormati kemanusiannya, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat walau mereka durhaka.

IMNU Tegal

"Memang jika ada manusia yang menyebarkan teror, mencegah tegaknya keadilan, menempuh jalan yang bukan jalan kedamaian, maka kemanusiaan harus mencegahnya," jelas Quraish.

Arti ketiga adalah kesatuan bangsa meski berbeda agama, suku, kepercayaan maupun pandangan politik.

"Mereka semua bersaudara, berkedududukan sama dari kebangsaan. Kesadaran tentang kesatuan dan persatuan itulah yang mengharuskan kita duduk bersama bermusyawarah demi kemaslahanan dan itulah makna kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan," tambah Quraish. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal RMI NU, Pertandingan IMNU Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Mengupas Perjuangan Santri Nusantara

Mengapa tanggal 22 Oktober layak disebut sebagai Hari Santri Nasional? Sejatinya peristiwa apa yang terjadi pada tanggal tersebut? Serta apa yang melatarbelakangi tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari Santri? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab dengan kehadiran buku ini, sebuah buku yang ditulis oleh para ahli sejarah mengingat banyak sejarah kaum santri yang dimarjinalkan oleh sejarah nasional itu sendiri.

Dalam kata pengantarnya, KH. Salahuddin Wahid mengatakan bahwa pada akhir 2011, ia cukup terkejut dengan sebuah statement yang menyatakan bahwa Resolusi Jihad itu tidak pernah terjadi, bahkan Resolusi tersebut merupakan sebuah legenda. Oleh karena itu beliau memerintahkan Abdul Latif Bustami dan Tim Sejarawan Tebuireng untuk mencari bukti keras kesejarahannya pada media-media cetak yang terbit akhir Oktober 1945 pada Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional di Jakarta. Oleh sebab itu buku ini ditulis dengan disertai scan hasil bukti-bukti kesejarahan, sehingga buku ini layak untuk dibaca oleh siapa pun termasuk para peneliti yang akan melakukan penelitian lebih lanjut tentang Resolusi Jihad.

Mengupas Perjuangan Santri Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengupas Perjuangan Santri Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengupas Perjuangan Santri Nusantara

Pada bagian pertama buku ini menjabarkan tentang sejarah masuknya Islam di Nusantara. Ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh sejarawan terdahulu, ada yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara berasal dari India Selatan (Gujarat dan Malabar), pendapat kemudian ada yang menyatakan bahwa Islam Nusantara berasal dari Arab, Ada pula yang mengatakan dari Persia. Tentang penyebaran Islam di Nusantara penulis buku ini dengan lantang mengatakan bahwa Islam masuk di Nusantara dan disebarkan oleh para Wali Sanga (Sebuah julukan yang mengandung suatu perlambangan suatu dewan wali-wali, dengan mengambil angka sembilan yang sebelum pengaruh Islam sudah dipandang sebagai angka yang keramat). Sedangkan tentang proses saluran Islamisasinya, disalurkan melalui saluran perdagangan, saluran kebudayaan, saluran perkawinan, saluran tasawuf, saluran pendidikan serta saluran politik. Dalam bab ini juga, penulis menolak pandangan-pandangan para sejarawan yang mengamini bahwa kehadiran Islam di Nusantara dilakukan dengan pedang, agresi penyerangan ke Majapahit. Bukti sejarah menunjukkan bahwa tumbuh dan berkembangnya Islam bersamaan dengan terjadinya perang saudara Paregreg di Majapahit sehingga menyebabkan konflik internal yang berkepanjangan sampai berujung pada keruntuhan Majapahit. Sehingga sesuai hukum logika, keruntuhan Majapahit disebabkan faktor internal dan bukan dari faktor eksternal, sebab faktor eksternal hadir sebagai alternatif yang bukan kekuatan determinan yang bersifat destruktif.

IMNU Tegal

Pada bagian kedua, penulis buku ini memaparkan tentang dinamika pemikiran serta gerakan politik yang dilakukan oleh Nahdlatul Ulama. Misalnya pada Muktamar NU ke-2 di Surabaya, NU menyoroti persoalan kemasyarakatan, seperti masalah pernikahan di bawah umur yang ditangani pemerintah Hindia-Belanda yang banyak menyimpang dari hukum fiqih. Dalam muktamar ini juga meminta kepada pemerintah untuk memasukkan kurikulum agama Islam pada setiap sekolah umum di Jawa dan Madura. Juga dibahas dan diputuskan hukum menyerupai orang Belanda dalam hal berpakaian, misalnya pakai celana, dasi, topi serta sepatu hukumnya adalah Haram, apabila niat menyerupai itu dimaksudkan untuk seluruhnya termasuk kesombongannya, kekafirannya serta kegagahannya. Tapi untuk sekedar mode maka hukumnya boleh dengan pertimbangan tidak boleh melanggar batas aurat yang sudah ditentukan oleh Islam. (Hlm. 113-114). Juga pada muktamar ke-4 NU membentuk Lajnatun Nasihin (Sebuah komisi propaganda untuk menyebarkan NU ke berbagai daerah) yang dibentuk oleh Kiai Shaleh Banyuwangi dengan anggota KH. Hasyim Asy’ari, Kiai Ridwan, Kiai Asnawi Kudus dan Kiai Muharram Kediri pada Majelis Khamis (Komisi Lima).

Pada bab ini juga dibahas bagaimana pandangan NU terhadap pemerintahan Hindia-Belanda serta pemerintahan Jepang, mengingat terdapat tanggapan serta kritik dari beberapa peneliti sejarah akan sikap inkonsistensi NU terhadap pemerintahan saat itu, kita ambil contoh bahwa NU selalu kooperatif terhadap koloni sebelum diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta, tetapi setelah itu NU justru melawan serta memerangi koloni yang datang, Hal ini dijawab oleh penulis bahwa pada masa pendudukan Hindia-Belanda ataupun Jepang (hingga 1945), Indonesia termasuk Darul Islam sehingga pemerintahan Hindia-Belanda serta Jepang termasuk dalam pemerintahan yang sah (bis Syaukah), pendapat tersebut diperkuat oleh hasil keputusan Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin. Hasil tersebut menjadi momentum kebangsaan NU karena diputuskan status wilayah Indonesia termasuk Darul Islam. Keputusan ini berdasarkan pada rujukan karya al-Hadrami pada Bughyatul Mustarsyidin pada bab al-Hudnah wa al-Imamah. Tetapi pada masa kemerdekaan Indonesia (1945-1950), NU berubah sikap dengan dikeluarkannya keputusan Muktamar NU ke-16 di Purwekerto yang menyatakan bahwa pentingnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia sesuai hukum Islam, sehingga Indonesia dijadikan sebagai Darul Harb (Wilayah Perang) yang mewajibkan setiap warga negara untuk melawan penjajah yang diperkuat dengan Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945.

IMNU Tegal

Pada bagian ketiga membicarakan secara tuntas dan heuristik tentang Resolusi Jihad yang difatwakan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari serta kapasitas beliau sebagai seorang mufti serta pemegang Ijazah Hadist Shahih Bukhari ke-24. Suatu ketika Presiden Soekarno mengirim utusannya untuk menemui beliau dengan tujuan meminta fatwa beliau dengan rujukan Gunseikanbu (Pemerintahan Militer Jepang di Indonesia) ? bahwa KH. Hasyim Asy’ari termasuk orang yang sangat terkemuka di Jawa. Melalui utusannya beliau bertanya ? “Apakah hukumnya membela tanah air, bukan membela Allah, membela Islam atau membela al-Quran. Sekali lagi membela tanah air?” Pertanyaan tersebut direspon oleh Kiai Hasyim Asy’ari dengan dikeluarkannya Fatwa jihad yang kemudian diperkuat oleh Resolusi Jihad hasil Musyawarah Ulama NU se-Jawa dan Madura di Surabaya pada tanggal 21-22 Oktober 1945 yang mana resolusi tersebut memiliki dampak yang luar biasa besar dimulai dengan solidaritas umat, Berdirinya Laskar Sabilillah dan laskar Hizbullah serta kongres Masyumi yang merespon resolusi tersebut hingga pada puncaknya pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya.

Pada bagian keempat atau bagian terakhir, Penulis membahas tentang politisasi sejarah Indonesia. Menurut penulis, masa lalu terdiri dari dua hal, yaitu fakta sebagaimana ia terjadi, apa adanya serta pemikiran dari para sejawan sehingga disebut ada apanya, oleh sebab itu banyak para sejarawan kelas atas yang ingin mengkerdilkan bahkan menghapus peran para santri atau pun kiai dan pondok pesantren dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ijtihad untuk memperjuangkan atau pun meluruskan sejarah tersebut merupakan kewajiban yang harus sesuai dengan fakta riil atau yang biasa disebut apa adanya.

Data Buku?

Judul : Resolusi Jihad; Perjuangan Ulama: dari menegakkan Agama hingga Negara

Penulis : Abdul Latif Bustami dan Tim Sejarawan Tebuireng

Penerbit : Pustaka Tebuireng

Terbitan : I, 2015

Tebal : xx + 236

ISBN : 978-602-8805-36-0

Peresensi : M Ichwanul Arifin, mahasiswa FUF UIN Sunan Ampel Surabaya/Kader PC IPNU Kota Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal RMI NU, Syariah, Kyai IMNU Tegal

Sabtu, 27 Januari 2018

Kemnaker Kawal Peralihan Pengelolaan LNG Bontang

Jakarta, IMNU Tegal. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menggelar rapat koordinasi dengan Pemerintah Kota Bontang terkait permasalahan industri kilang gas alam cair (LNG) Kota Bontang, Kalimantan Timur.

Pemerintah RI, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menugaskan PT Pertamina untuk mengelola sebagai operator LNG Bontang. Sejalan dengan hal itu, PT Badak NGL selaku operator akan mengakhiri pengelolaan usahanya pada 31 Desember 2017.

Kemnaker Kawal Peralihan Pengelolaan LNG Bontang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemnaker Kawal Peralihan Pengelolaan LNG Bontang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemnaker Kawal Peralihan Pengelolaan LNG Bontang

“Dalam proses peralihan tersebut saya harap akan berjalan dengan kondusif dan memperhatikan Job Security (keberlangsungan kerja) para pekerja PT Badak NGL yang selama ini telah bekerja di Bontang,” kata Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Kemnaker, Haiyani Rumondang, di kantor Kemnaker, Jakarta (15/11).

Ditambahkan Dirjen Haiyani, pihaknya telah berkoordinasi dengan PT Pertamina, di dalam proses pengambilalihan tersebut tidak ada yang tereliminasi (semua yang telah berjalan sebelumnya secara otomatis berlanjut seperti sebelumnya).

IMNU Tegal

“Saya juga minta kepada pihak manajemen PT Badak NGL agar mengkomunikasikan hambatan atau kendala yang dialami dalam proses tersebut kepada serikat pekerja untuk memastikan dan mendukung proses alih kelola dengan baik dan lancar sehingga tingkat produksi tetap terjaga,” ujar Haiyani.

Menurut Dirjen Haiyani, dalam hal pengalihan perusahaan maka hak-hak pekerja/buruh menjadi tanggung jawab pengusaha baru, kecuali ditentukan lain dalam perjanjian pengalihan yang tidak mengurangi hak-hak pekerja/buruh sesuai Pasal 61 ayat (3) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Sementara itu Walikota Bontang, Neni Moerniaeni, meminta Kementerian Ketenagakerjaan mengawal proses peralihan ini agar berjalan lancar dan aman.

IMNU Tegal

“Dalam proses transisi pengambilalihan pengelolaan perlunya dilakukan komunikasi dan koordinasi antara Perusahaan lama (PT Badak NGL), Perusahaan yang baru (PT Pertamina), serikat pekerja yang ada di perusahaan dan pemerintah pusat harus kawal proses ini,” kata Walikota Bontang Neni.

Dalam rapat koordinasi tersebut turut dihadiri Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PPK dan K3) Kemnaker,  Sugeng Priyanto, serta ketua LKS tripartit dan Dewan Pengupahan Kota Bontang, Neni Moerniaeni (Walikota Bontang).

Di akhir pertemuan pemerintah pusat dan pemerintah Kota Bontang sepakat untuk mengawal proses peralihan pengelolaan LNG Bontang dan memastikan pekerja mendapatkan hak-haknya. (Red: Kendi Setiawan)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal RMI NU IMNU Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Aman Tentram Bila Umara dan Ulama Bersatu

Brebes, IMNU Tegal. Rais Syuriyah Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Tanjung Brebes KH Mudrikah Toyib memandang perlu adanya hubungan antara ulama dan umara. Sebab bila keduanya sudah saling menyatu keamanan dan ketentraman masyarakat akan kondusif.

“Antara ulama dan umara, perlu menyatu untuk menjaga kondusivitas masyarakat,” tuturnya saat memberi mauidlatul hasanah memasuki hari kedua? Safari? Ramadhan? bersama Wakil Bupati Brebes? Narjo di Masjid Mujahidin Desa Karangreja Kecamatan Tanjung Brebes, Selasa malam (1/7).

Aman Tentram Bila Umara dan Ulama Bersatu (Sumber Gambar : Nu Online)
Aman Tentram Bila Umara dan Ulama Bersatu (Sumber Gambar : Nu Online)

Aman Tentram Bila Umara dan Ulama Bersatu

Menurut Kiai Mudrikah, masyarakat akan sejahtera manakala masing-masing pemangku kebijakan untuk rakyat dan umat berjalan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Namun harus saling bergenggam erat dengan satu tujuan untuk kesejahteraan warga masyarakat. “Akan diangkat derajat pemimpin manakala mencintai rakyatnya,” kata Mudrikah.

IMNU Tegal

Akan sangat sempurna bila suatu negara atau masyarakat dibangun di atas empat pilar yang saling menyangga. Empat pilar tersebut adalah Ilmu para cendekiawan yang bermanfaat, pemimpin yang bijaksana dan adil, sodaqohnya para aghniya dan doanya orang miskin. “Keempat pilar tersebut akan kokoh menegakan negara yang baldatun toyibatun wafofur ghofur,” pungkasnya.

IMNU Tegal

Safari Ramadhan Wakil Bupati Narjo didampingi unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) sebagai upaya perjalanan religi untuk menjalin ukhuwah antara pejabat dan rakyat. Tampak mengikuti Asisten III Setda Brebes Kustoro, Kepala Dishubkominfo Mayang Sri Herbimo, Kepala Badan Pertanahan Kab Brebes Gunung Jayalaksana, Kabag Humas dan Protokol Setda Brebes Atmo Tan Sidik, Kabag Kesra? Setda Brebes Syaiful Islam dan sejumlah pejabat lainnya.

Wakil Bupati Brebes Narjo dalam kesempatan tersebut mengajak kepada seluruh warga masyarakat untuk bersama-sama mensukseskan pemilu preiden 9 Juli mendatang. Partisipasi masyarakat sangat penting dalam pilpres untuk melahirkan pemimpin yang berkualitas.

Menurut Narjo, pada pemilu legislatif yang lalu angka partisipasi aktif masyarakat sudah sangat bagus, meskipun masih dibawa rata-rata Jateng yang mencapai 70 persen lebih. “Mari datang dan gunakan hak pilih anda ke TPS-TPS yang telah disediakan,” ajaknya.

Camat Tanjung Sugeng Basuki atas nama warga merasa gembira dengan kedatangan Wakil Bupati

di desa Karangreja. Dia melaporkan, kehidupan beragama dan bermasyarakat di Kecamatan Tanjung secara umum dalam keadaan kondusif. Termasuk untuk kegiatan pilpres sudah siap sedia demi kesuksesan bersama. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kajian Sunnah, RMI NU, Bahtsul Masail IMNU Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Ziarah, Ketum PB PMII: PMII Harus Belajar Pergerakan dari Mbah Wahab

Jombang, IMNU Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Aminudin Ma’ruf berziarah ke makam salah satu tokoh pelopor gerakan pemuda Hizbullah KH A Wahab Hasbullah di Jombang,  Selasa (28/10) malam.

Menurut Amin, KH A Wahab Hasbullah merupakan figur pemuda Nahdliyin di zamannya yang mempunyai semangat gerakan sangat tinggi. “PMII harus banyak belajar dari semangat jihad beliau,” paparnya di depan kader komisariat PMII se-Jombang di area makam Mbah Wahab Hasbullah.

Ziarah, Ketum PB PMII: PMII Harus Belajar Pergerakan dari Mbah Wahab (Sumber Gambar : Nu Online)
Ziarah, Ketum PB PMII: PMII Harus Belajar Pergerakan dari Mbah Wahab (Sumber Gambar : Nu Online)

Ziarah, Ketum PB PMII: PMII Harus Belajar Pergerakan dari Mbah Wahab

Selain itu, ia mengajak kader PMII untuk kembali meneruskan mengembangkan peninggalan Mbah Wahab, yaitu pesantren. Pesantren mesti tetap dijaga dari masuknya paham di luar Ahlusunnah wal Jamaah. “Pesantren merupakan lahan basah yang tidak boleh ditinggalkan  generasi muda Nahdliyin, di antaranya kader PMII,” terang pemuda berkaca mata ini.

IMNU Tegal

Ketua PMII Jombang Mahmudi berharap, kedatangan Ketum PB PMII dapat dimanfaatkan kadernya untuk belajar tentang apapun terutama mengenai kelembagaan PMII. “Kami memfasilitasi anggota dan kader untuk bertemu dan belajar secara langsung kepada ketua umum,” ungkapnya kepada IMNU Tegal.

Dalam kesempatan tersebut, kedatangan Amin pada pukul 22.00 WIB ke makam Mbah Wahab disambut puluhan kader PMII Jombang yang rela menunggu sejak maghrib. Demi bertemu dan berbagi pengetahuan dengan pimpinan organisasi mereka. (Romza/Mahbib)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Ulama, Khutbah, RMI NU IMNU Tegal

Mana Lebih Utama, Baca Al-Quran atau Jawab Adzan?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail IMNU Tegal yang kami hormati. Dalam kesempatan ini kami akan menanyakan tentang mana yang lebih didahulukan ketika sedang membaca Al-Quran kemudian mendengar suara adzan, apakah meneruskan membaca Al-Quran atau menjawab suara adzan? Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

(Ridwan/Poso)

Mana Lebih Utama, Baca Al-Quran atau Jawab Adzan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mana Lebih Utama, Baca Al-Quran atau Jawab Adzan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mana Lebih Utama, Baca Al-Quran atau Jawab Adzan?

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa membaca Al-Quran masuk dalam kategori amaliyah yang baik dan sangat dianjurkan. Demikian pula dengan menjawab adzan di mana hukumnya adalah sunah sebagaimana dikemukakan oleh Abu Ishaq Asy-Syairzi dalam Kitab Al-Muhadzdzab.

IMNU Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

IMNU Tegal

Artinya, “Fasal tentang zikir yang beriringan dengan adzan. Disunahkan (dianjurkan) bagi orang yang mendengar senandung suara adzan muadzin untuk mengucapkan hal sama dengan yang disenandungkan kecuali ketika muadzin sampai pada ucapan hayya ‘alas shalah dan hayya ‘alal falah, maka orang yang mendengar senandung suara adzan tersebut mengucapkan la hawla wala quwwata illa billah,” (Lihat Abu Ishaq asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, Beirut, Darul Fikr, tanpa tahun, juz I, halaman 58).

Lantas bagaimana ketika kita sedang asyik membaca Al-Quran kemudian terdengar kumandang adzan dari masjid atau mushalla. Apakah sebaiknya kita tetap melanjutkan membaca Al-Quran atau kita berhenti sejenak untuk menjawab suara adzan?

Dalam konteks ini menurut Muhyiddin Syaraf An-Nawawi yang lebih diutamakan menghentikan bacaan Al-Quran kemudian menjawab suara adzan. Hal ini sebagaimana yang kami pahami dari pernyataannya dalam Kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab berikut ini:

? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Seandainya seseorang yang sedang membaca Al-Quran mendengar adzan dikumandangkan oleh muadzdzin atau iqamah, maka ia (sebaiknya) menghentikan bacaan Al-Qurannya dan kemudian mengikutinya (menjawab suara adzan atau iqamah),” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Jeddah, Maktabah Al-Irsyad, juz II, halaman 193).

Jika demikian, maka akan muncul pertanyaan kenapa ketika kita sedang membaca Al-Quran kemudian mendengar suara adzan yang diutamakan adalah menghentikan bacaan tersebut kemudian menjawab suara adzan?

Menurut kami, bahwa waktu untuk membaca Al-Quran lebih luas dibanding dengan waktu menjawab adzan. Adzan hanya dikumandangkan pada saat-saat tertentu saja, misalnya ketika masuk waktu shalat. Hal ini tentunya berbeda dengan membaca Al-Quran.

Alasan lain yang bisa diajukan di sini adalah bahwa setiap kesunahan memiliki waktunya sendiri sehingga kesunahan menjawab adzan itu juga ada waktu sendiri yaitu ketika kita mendengar kumandang adzan. Sebagaimana waktu disunahkan membaca tasbih atau membaca Al-Quran juga memiliki waktunya sendiri. Inilah yang kami pahami dari keterangan yang terdapat dalam kitab I’anatut Thalibin berikut ini:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Karena setiap kesunahan itu memiliki waktu khusus, begitu juga menjawab senandung adzan muadzdzin memiliki waktunya sendiri, belajar, membaca tasbih dan membaca Al-Quran memiliki waktunya sendiri. Sebagaimana tidak ada bagi hamba menjadikan posisi membaca surat Al-Fatihah sebagai ajang untuk untuk istighfar, sujud sebagai kesempatan untuk membaca Al-Quran, atau posisi tasyahhud untuk yang lainnya,” (Lihat Al-Bakri Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin, Beirut, Darul Fikr, tanpa tahun, juz I, halaman 279).

Demikian penjelasan singkat dari kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari pembaca.

Wallahul Muwaffiq ila Aqwamith Thariq,

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.


(Mahbub Maafi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Ubudiyah, RMI NU IMNU Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Pergunu DKI Dukung RUU Madrasah dan Pondok Pesantren

Jakarta, IMNU Tegal

Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta mendukung upaya NU melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) megusulkan Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Madrasah dan Pondok Pesantren.

“Sudah seharusnya bangsa dan negara ini meberikan pengahargaan kepada madrasah dan pondok pesantren, karena pondok pesantren selama ini telah menunjukkan perannya dalam mebangun kehidupan masyarakat menuju cita-cita kemerdekaan Indonesia,” kata Aris Adi Leksono, Ketua PW Pergunu DKI Jakarta.

Pergunu DKI Dukung RUU Madrasah dan Pondok Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu DKI Dukung RUU Madrasah dan Pondok Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu DKI Dukung RUU Madrasah dan Pondok Pesantren

PW Pergunu DKI Jakarta berharap RUU Madrasah dan Pondok Pesantren ini mendapatkan dukungan dari seluruh fraksi parpol yang lain, sehingga cepat disahkan menjadi Undang-undang. “Jika undang-undang ini sahkan, maka tidak aka nada lagi dikotomi penyelenggaraan pendidikan, baik dalam alokasi anggaran, perlakuan terhadap kompetensi dan kesejahteraan guru, dan masalah lainya,” terang Aris yang juga Wakil Ketua STAINU Jakarta.

IMNU Tegal

Dalam waktu dekat Pergunu DKI Jakarta akan menjalin komunikasi dengan organisasi profesi keguruan untuk dapat bersama-sama mengawal disahkan Undang-Undang Madrasah dan Pondok Pesantren. Karena sesungguhnya banyak sekali organisasi keguruan, kelompok kerja madrasah, kelompok kerja pondok pesantren menunggu payung hukum khusus tentang penyelanggaraan pendidikan madrasah dan pondok pesantren.

Menurut Aris, madrasah dan pondok pesantren adalah model pendidikan khas Nusantara. Sebagai model lembaga pendidikan tertua di Nusantara, madrasah dan pondok pesantren telah teruji oleh lintasan zaman sebagai pencetak generasi penerus bangsa yang berkarakter, berprestasi, dan berakhlakul karimah. Konten dan subtansi pola pendidikan di madrasah dan pesantren telah menginspirasi perkembangan model kurikulum nasional dari tahun kurikulum 2006, kurikulum 2013, sampai hari ini kurikulum 2013 yang baru saja di revisi.

IMNU Tegal

Lebih lanjut, Aris yang juga sudah lama berkarir sebagai guru madrasah menjelaskan, jauh sebelum penerapan kurikulum berkarakter, madrasah dan pondok pesantren telah menjalankan pendidikan karakter yang terintegrasi dengan seluruh aktivitas peserta didik atau santri.

“Kurikulum 2013 yang lebih menekankan pada kemandirian dalam proses belajar, penilaian yang asli dan tuntas, kontruksi nalar pengetahuan dan penerapan yang? sistemik, sesungguhnya madrasah dan pondok pesantren telah menerapkan itu,” paparnya.

Sistem sorogan misalnya, tambah Aris, adalah model penilaian tuntas dan asli berdasarkan pengukuran yang dilakukan oleh ustadz atau kiai. Belajar mandiri yang berpusat pada peserta didik atau santri, pondok pesantren telah menjalankan itu sejak lama.

“Lihat bagaimana ketika santri ingin bisa membaca kitab kuning,? maka kiai atau ustadz hanya memberikan rumus ilmu alatnya, selanjutnya santri mengebangkan dengan model belajar kelompok atau mandiri. Sesungguhnya madrasah dan pesantren memang model pendidikan unggulan di Indonesia,” terangnya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Anti Hoax, RMI NU IMNU Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Perjuangan Membela Bangsa Tak Pernah Berujung

Jember, IMNU Tegal

Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama H. Ali Masykur Musa mengatakan, kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tak boleh membiarkan kesalahan berlarut-larut pada suatu keadaan. Sebab, kesalahan yang berlarut-larut secara perlahan akan berdampak destruktif bagi masa depan bangsa.?

Ia mengatakan hal itu saat menjadi pemateri pada Pelatihan Kader Dasar (PKD) yang digelar oleh PMII Komisariat Universitas Jember di Balai Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu, Jember, Jawa Timur, Rabu (1/2).

Menurut Ali Masykur, sebagai bagian dari eleman bangsa, PMII harus terus berjuag untuk memperbaiki keadaan dengan cara yang elegan. “Harus dipahami bahwa perjuangan membela bangsa dan agama belum berakhir tak akan pernah selesai, lebih-lebih saat ini persoalan? bangsa semakin rumit,” ucapnya.

Perjuangan Membela Bangsa Tak Pernah Berujung (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan Membela Bangsa Tak Pernah Berujung (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan Membela Bangsa Tak Pernah Berujung

Sementara itu, Ketua PMII Komisariat Universitas Jember, Davin Akhmad N. menegaskan bahwa PKD tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas peserta agar mampu menjadi kader mujahid yang siap membela bangsa dan negara guna mencapai keadilan sosial dan kesejahteraan bersama.

Kader PMII, katanya, mempunyai tanggung jawab moral untuk mendampingi masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik. “Satu lagi, kader PMII juga punya tugas yang melekat, yaitu melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar berdasarkan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah,” jelasnya.

IMNU Tegal

PKD berskala regional Jawa Timur yang diikuti oleh 54 peserta tersebut bertema “Mencetak Kader Berintelektual yang Mampu Mengikuti Irama Gelombang Dengan Landasan Aswaja”. Pelatihan yang berlangsung selama 4 hari tersebut, tidak hanya diisi dengan penyampaian materi, tapi peserta juga dilatih menjalankan varian advokasi dengan simulasi unjuk rasa. “Agar peserta tahu bagaimana caranya menyampaikan pendapat yang efektif, benar dan beretika,” lanjut Davin. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Cerita, RMI NU IMNU Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Merdeka dari Kebijakan Full Day School

Oleh Thoriq Tri Prabowo

Memasuki bulan Agustus pada setiap tahunnya berarti semakin bertambah juga usia kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan tersebut harus dikenang dan direfleksikan pada kondisi kekinian, pasalnya perjuangan untuk merebut kemerdekaan ini sarat akan nilai luhur yang patut dijadikan inspirasi oleh generasi muda. Pada tahun 2017 ini, kemerdekaan Indonesia memasuki usia yang ke-72. Usia tersebut bisa dibilang cukup tua untuk ukuran usia manusia.

Di usia yang bisa dibilang tidak muda, Indonesia tentu sudah banyak mengalami kemajuan termasuk dalam hal pemenuhan hak warga negaranya. Salah satu hak yang paling mendasar di Negara demokrasi ialah hak berpendapat. Secara sederhana, merdeka berarti bebas dari belenggu penjajahan. Namun jika dimaknai lebih luas, maka istilah merdeka tentu bisa diimplementasikan dimana saja, salah satunya ialah merdeka dalam berpendapat.

Merdeka dari Kebijakan Full Day School (Sumber Gambar : Nu Online)
Merdeka dari Kebijakan Full Day School (Sumber Gambar : Nu Online)

Merdeka dari Kebijakan Full Day School

Kemerdekaan berpendapat tentu bukan berarti seseorang lantas bebas berpendapat tanpa kontrol. Masyarakat yang hendak mengutarakan pendapatnya harus memperhatikan norma-norma yang berlaku di masyarakat, karena hakikat kebebasan di Indonesia ialah kebebasan yang dibatasi oleh hak orang lain. Salah satu wujud kemerdekaan berpendapat yang akhir-akhir ini sering dijumpai di dunia maya ialah kemerdekaan menyikapi kebijakan yang diluncurkan oleh pemerintah.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayakan meluncurkan wacana kebijakan Full Day School (FDS), sekolah 8 jam selama 5 hari yang hingga saat ini masih menjadi polemik dan penolakan masyarakat. Kebijakan tersebut tertuang pada Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017.

IMNU Tegal

Kebijakan lima hari sekolah diluncurkan dengan dalih untuk memperkuat pendidikan karakter siswa. Dengan diberlakukannya FDS, siswa akan belajar penuh di sekolah sampai dengan sore hari selama lima hari. Kebijakan tersebut menuai beragam tanggapan, ada yang pro dan tentu tak sedikit yang kontra.

Beberapa tokoh bahkan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) mengkritisi kebijakan FDS ini, pasalnya kebijakan tersebut dibuat tanpa memperhatikan aspirasi masyarakat. Beberapa aspek yang patut menjadi perhatian pemerintah ialah aspek sosial dan keagamaan.

Dalam aspek sosial, pemerintah perlu memperhatikan bahwa kondisi sosial masyarakat Indonesia tidaklah sama. Tidak semua anak yang sekolah berasal dari keluarga dengan kondisi perekonomian menengah ke atas. Bahkan di beberapa sekolah yang berada di pedesaan, siswanya berasal dari keluarga yang kurang mampu sehingga tidak jarang mereka membantu orang tuanya seusai jam sekolah.?

Dengan diberlakukannya FDS tentu mereka tidak bisa membantu orang tuanya bekerja lagi. Lebih parahnya lagi, FDS berpotensi semakin memberatkan orang tua yang kurang mampu, pasalnya dengan diberlakukannya jam tambahan uang saku siswa juga akan cenderung meningkat. Aspek sosial dan ekonomi yang seperti disebutkan di atas perlu menjadi perhatian pemerintah dalam memeratakan kebijakan FDS di seluruh daerah.

Selanjutnya dalam aspek keagamaan, FDS dikhawatirkan akan merampas hak anak untuk mengenyam pendidikan keagamaan di Madrasah Diniyah (Madin) yang selama ini sudah berdiri di tengah-tengah masyarakat. Madin bagi masyarakat Indonesia tidak hanya lembaga pendidikan semata, melainkan sudah menjadi tradisi kuat yang turut memiliki andil dalam perjuangan kemerdekaan. Perjuangan para santri, ustadz, dan kiai tersebut terekam jelas dalam tulisan para Sejarawan.

IMNU Tegal

Sangat miris tentunya jika salah satu lembaga yang turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia justru terancam oleh kebijakan pemerintah yang dulu pernah diperjuangkan kemerdekaannya. Menanggapi aspirasi dari para tokoh masyarakat dan Ormas yang semakin meluas, Presiden Joko Widodo menuliskan beberapa pendapatnya mengenai FDS pada media sosial twitter.?

Dalam cuitannya, Presiden mengungkapkan bahwa FDS bukanlah sebuah keharusan, melainkan sebuah pilihan. FDS boleh diimplementasikan asalkan diterima oleh masyarakat dan tokoh agama setempat. Presiden mengungkapkan bahwa yang terpenting dari pendidikan anak ialah masalah kualitasnya, sedangkan terkait pemberlakuan FDS ialah fleksibel.

Melaksanakan FDS atau tidak ialah sebuah kemerdekaan untuk sekolah sebagai penyelenggaranya. Seperti yang diinstruksikan Presiden, sekolah pun tidak bisa dengan sembarangan mengimplementasikan FDS tanpa memperhatikan aspirasi masyarakat sekitar.?

Untuk mengantisipasi terjadinya gesekan di tengah-tengah masyarakat, pemerintah harus mengkaji ulang kebijakan terkait FDS ini. Sikap Presiden yang membebaskan pemberlakuan FDS ini hanya berlaku sementara untuk meredam kekhawatiran masyarakat, namun di sisi lain perlu ada tindakan konkret dari pemerintah untuk menuntaskan persoalan ini agar tidak semakin meluas.

Penulis adalah Alumnus Magister Interdisciplinary Islamic Studies Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pondok Pesantren, RMI NU IMNU Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Cara Santri Futuhiyyah Mranggen Rayakan Hari Santri

Demak, IMNU Tegal. Pusaka hati wahai tanah airku//Cintamu dalam imanku//Jangan halangkan nasibmu//Bangkitlah hai bangsaku//Indonesia negeriku//Engkau panji martabatku//Siapa datang mengancammu//’kan binasa di bawah dulimu//.

Syair Subbanul Wathan karya KH Abdul Wahab Chasbullah itu menggema di halaman Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak pada Ahad malam (22/10). Syair itu dinyanyikan oleh sekitar lima ratus santri Futuhiyyah dengan suara lantang dan tangan kanan mengepal di tengah pelaksanaan upacara dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2017.

Cara Santri  Futuhiyyah Mranggen Rayakan Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Santri Futuhiyyah Mranggen Rayakan Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Santri Futuhiyyah Mranggen Rayakan Hari Santri

  

Seperti diketahui, melalui Keputusan Presiden (kepres) nomor 22 tahun 2015, Presiden Joko Widodo menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan itu mengacu pada Resolusi Jihad yang diinisiasi oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari dan dimaklumkan oleh para ulama Nahdlatul Ulama (NU) pada 22 Oktober 1945 sebagai hasil musyawarah konsul-konsul ulama NU se-Jawa dan Madura.

“Resolusi Jihad itu menyatakan bahwa memerangi penjajah itu hukumnya fardlu ain bagi setiap Muslim yang berjarak 94 km dari tempat musuh, adapun bagi yang di luar jarak itu, hukumnya fardlu kifayah,” terang Ustad Ahmad Sahal selaku pembina upacara.

 

IMNU Tegal

Hal itu, lanjutnya, menunjukkan bahwa para ulama dan kiai kita memiliki sikap nasionalisme yang tidak diragukan.

IMNU Tegal

“Karena itu, kita harus meneladani beliau-beliau yang sudah memberikan contoh yang sangat bagus, bukannya malah mengajarkan paham-paham yang merongrong NKRI!”

Pemahaman mengenai jihad harus diaktualisasi. Jika jihad pada zaman penjajah adalah memerangi para penjajah, maka jihad sekarang adalah belajar dengan rajin.

 

“Sekarang Indonesia sudah merdeka, dengan begitu jihad kita sekarang bukan lagi memerangi penjajah, tetapi memerangi kebodohan. Para santri harus rajin mengaji. Sebab dengan mengaji santri menjadi aji. Kita harus menyerap semaksimal mungkin ilmu-ilmu yang kita pelajari di pondok pesantren dan sekolah kemudian kita amalkan di masyarakat. Itulah makna jihad sekarang ini,” jelasnya.

Mujahadah 

Sebelum upacara digelar, bakda magrib para santri berkumpul di Masjid An-Nur mengadakan mujahadah dengan membaca shalawat nariyah sebanyak seratus kali. Mujahadah dipimpin oleh wakil kepala lurah Pondok Pesantren Futuhiyyah, Ustad Imam Fitri Khosyi’i, AH. 

Selain mengikuti intruksi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), menurut Ustad Imam Fitri Khosyi’i mujahadah juga penting dilakukan dalam rangka menyeimbangkan antara pikir dan dzikir. 

“Kita harus senantiasa memadukan antara jihad, ijtihad, dan mujahadah. Setelah kita melaksanakan jihad melawan malas dan ijtihad memahami pelajaran, rasanya tidak lengkap jika tidak dibarengi dengan mujahadah, memasrahkan semuanya kepada Allah,” tuturnya.

Nobar Film Sang Kiai. Selain mujahadah dan upacara, para santri Futuhiyyah juga mengadakan nonton bareng (nobar) film Sang Kiai di halaman pondok. Layar proyektor yang besar dan sound system yang menggelegar membuat para santri larut dalam keasyikan menonton film yang mengisahkan memoar KH. Hasyim Asy’ari tersebut.

 

Keakraban benar-benar tampak di antara para santri. Mereka duduk berlesehan sembari menikmati makanan ringan yang disajikan panitia. Tawa mereka membahana tiap kali film mempertontonkan adegan yang lucu. Begitu film selesai, para santri bertepuk tangan.  

Nailul Kamal, salah satu santri, merasa puas dengan rangkaian acara hari santri yang diselenggarakan Pesantren Futuhiyyah.

“Acara hari santri ini sederhana, tetapi efektif. Manfaatnya buat kami, terasa khidmat seperti acara nobar ini. Selain tidak mengganggu ketertiban umum, nobar ini sangat menghibur dan mendidik kami. Kami selaku para santri menjadi tahu perjuangan para kiai terdahulu seperti KH. Hasyim Asy’ari. Ia berharap acara seperti ini diagendakan setiap tahunnya. Kalau bukan kita, para santri, siapa lagi yang akan merayakannya,” pungkasnya. (Moh Salapudin/Ben Zabidy/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Meme Islam, RMI NU, Nahdlatul Ulama IMNU Tegal

Menjawab Problematika Kehidupan Warga NU

Dalam kehidupan ini, kita tidak akan lepas dari berbagai persoalan yang tentunya bisa datang kapan saja dan dimana saja. Begitupula dengan solusinya, tentu sudah ada ketentuan. Jika ada persoalan, sudah barang tentu ada solusinya. Namun, tidak semua orang mudah menemukan solusi dari suatu problem kehidupan yang dihadapinya. Khususnya terkait dengan aktivitas sehari-hari yang ada kiatannya dengan ibadah warga NU dan masyarakat pada umumnya. Meskipun menemukan jawaban dari persoalan yang dihadapi, kadang-kadang perasaan masih was-was atau ragu-ragu. Maka dari itu, kita membutuhkan suatu penguat dari jawaban tersebut. Tentunya dengan cara berbagi atau bertanya kepada orang yang mumpuni.

Buku ini hadir di tengah-tengah kita sebagai pegangan hidup agar tidak selalu dilanda keraguan untuk membuat suatu tindakan sesuai dengan syari’at Islam. Dengan sistem tanya-jawab, buku ini akan memudahkan pembaca untuk memahami tentang persoalan yang pernah terjadi di lingkungan masyarakat yang disertai dengan jawaban serta solusinya. Misalkan persoalan yang berkaitan dengan akidah, seperti persoalan seputar qadla dan qadar, taubatnya orang murtad, dan hukum pelarungan (hlm. 1).

Menjawab Problematika Kehidupan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjawab Problematika Kehidupan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjawab Problematika Kehidupan Warga NU

Inisiatif KH Marzuqi Mustamar dalam melayani umat untuk memberikan solusi mengenai problematika hukum dan aktivitas sehari-hari masyarakat yang berkaitan dengan ibadah perlu kita apreasi. Dengan jawaban dan solusi-solusi yang diberikan oleh KH Marzuqi, sedikit banyak akan memberikan sebuah pencerahan bagi kita semua. Berbagai persoalan akan segera ditemukan jawaban dan alasan-alasan yang menjadi hujjah dari ide dan gagasan yang dilontarkan olehnya.

IMNU Tegal

Secara umum, pertanyaan-pertanyaan dalam buku ini selalu kita dengar dari masyarakat. Padahal sudah banyak keterangan-keterangan yang menjelaskannya. Namun, kemungkinan karena masyarakat terlalu sibuk dengan aktivitas sehari-harinya, akhirnya masyarakat banyak yang tertinggal mengenai hukum-hukum yang semestinya diketahui. Sehingga, sebagai alternatif, buku ini akan menutupi celah masyarakat yang seakan terlalu sibuk. Dengan begitu, kita tidak akan merasa tertinggal dan bertanya kembali dengan pertanyaan yang sama dari penanya-penanya sebelumnya.

IMNU Tegal

Solusi hukum Islam yang disampaikan oleh KH. Marzuqi Mustamar melalui buku ini sangatlah sederhana, tidak berbelit-belit dengan teori-teori berat yang jauh dari praktek. Ulasan buku ini lebih realistis untuk bisa kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari dan banyak kita jumpai dalam berbagai aktivitas yang kita lakukan atau orang lain yang melakukannya.

Sudah barang tentu kita tahu, tentang jimat, rajah, dan berbagai jenis mantra serta jenis-jenisnya. Hal-hal seperti ini selalu menjadi ganjalan dalam hal aktivitas dan hal-hal yang berkaitan dengan ibadah sehari-hari. Tentunya ada pihak yang tak memperbolehkan menggunakan jimat, rajah, atau benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan di nalar manusia. Namun, tentu ada pula yang memperbolehkan untuk menggunakannya dengan alasan yang jelas dan rasional. Hal ini yang menjadi sorotan dan bahasan menarik dalam buku ini (hlm. 202).

Segala macam persoalan dijawab dengan penuh jemawa mulai hal-hal yang sepeleh hingga persoalan yang memerlukan daya kekuatan otak untuk berpikir lebih tajam dan tepat. Misalkan tentang persoalan dzikir yang menggunakan bahasa Arab, mengumandangkan talbiyah di luar Tanah Haram, dan bertakbir di luar Hari Raya. Entah itu pertanyaan remeh temeh atau berat, dengan tangkas dan penuh peduli mendapat respon dan jawaban yang sesuai dengan syari’at yang berlaku dalam aturan Islam, yang jelas buku ini hadir demi kemaslahatan bagi masyarakat secara umum sebagaimana tujuan utama agama Islam terlahir ke dunia ini.

Bahkan menariknya, model tanya jawab yang disajikan seakan-akan pembaca berbicara langsung dengan sang penulis. Sehingga pemahaman mengenai penjelasan yang disampaikan lebih mudah dimengerti dan tak tampak ada penghalang sedikitpun. Sebuah kreasi yang jarang dilakukan oleh banyak penulis, toh meskipun ada hanya bisa dihitung dengan jari tangan saja.

Kehadiran buku ini bukan semata untuk menjawab problematika kehidupan warga NU dan masyarakat secara luas yang terfokus pada persoalan ibadah belaka, namun juga sampai pada persoalan yang modern di era yang lebih maju pun disajikan dengan begitu sempurna. Secara menyeluruh, buku ini membahas tentang akidah dan Al-Qur’an, shalat dan zakat, puasa Ramadhan dan persoalan mengenai nabi, pernikahan, dan segala macam persoalan yang pernah dirasakan oleh masyarakat warga NU dan masyarakat secara luas. Sehingga, buku ini bisa menjadi wakil untuk memberikan jalan alternatif agar kebuntuan tentang hukum suatu ibadah atau aktivitas sehari-hari menemukan jalan keluar.

Data Buku

Judul : Solusi Hukum Islam Bersama Kiai Marzuqi Mustamar

Penulis : KH. Marzuqi Mustamar

Penerbit : Muara Progresif

Cetakan : I, September 2014

Tebal : xvi + 267 hal. 14,5 x 21 cm

ISBN: 978-602-14738-4-9

Peresensi : Fauzan, Kader Muda NU dan Pegiat Ikatan Pemuda dan Pemudi Nahdlatul Ulama (IPPNU) UIN Sunan Ampel, Surabaya 

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal IMNU, Pertandingan, RMI NU IMNU Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Meriah, Pekan Madaris Maarif NU Nalumsari

Jepara, IMNU Tegal. Memanfaatkan libur nasional, pada Jumat-Sabtu (3-4/4), Lembaga Pendidikan Maarif NU Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, menyelenggarakan Pekan Madaris antarsiswa Madrasah Diniyyah Awwaliyah. Acara yang digelar di Madin Al Maarif, Blimbing Rejo Kecamatan Nalumsari Kabupaten Jepara ini, berlangsung meriah.

Sekitar 400 siswa-siswi dari 27 madrasah diniyah (Madin) se-Kecamatan Nalumsari turut andil dalam ajang perlombaan, kreativitas seni, dan olahraga tersebut. Ajang yang diperuntukkan bagi anak-anak setara usia SD itu menyuguhkan 8 jenis perlombaan, antara lain, Cerita Islami, Cerdas Cermat Aswaja, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), Imla, Baca Kitab Kuning Taqrib, Puitisasi Al-Quran, kaligrafi, dan futsal.

Meriah, Pekan Madaris Maarif NU Nalumsari (Sumber Gambar : Nu Online)
Meriah, Pekan Madaris Maarif NU Nalumsari (Sumber Gambar : Nu Online)

Meriah, Pekan Madaris Maarif NU Nalumsari

Menurut Sekretaris panitia, Ahmad Najib, lomba tersebut merupakan salah satu langkah dan cara untuk memotivasi siswa madin dalam menekuni pendidikan agama di Madrasah Diniyyah Awwalaiyah.

IMNU Tegal

"Lomba Baca Kitab Kuning Taqrib, merupakan langkah untuk meningkatkan kualitas pada siswa dalam memahami kitab klasik warisan para ulama terdahulu," jelasnya melalui rilis yang diterima IMNU Tegal, Ahad (5/4). "Juga untuk menambah semangat bagi santri dalam mempelajari kitab kuning," tambahnya.

Sedangkan MTQ, kaligrafi, dan Puitisasi Al-Quran, merupakan kesenian islami yang patut terus untuk dikembangkan dan dilestarikan. "Kesenian islami juga penting untuk terus dikembangkan," imbuhnya.

Kaligrafi merupakan kesenian menulis indah ayat-ayat al-Quran, sedang MTQ merupakan ajang kreativitas kemerduan suara dalam melantunkan ayat-ayat suci al Quran. Sementara Puistisasi al-Quran adalah melantunkan terjemah surat-surat pendek al-Quran dengan aneka gerakan dan penjiwaan.

IMNU Tegal

Ajang ini juga dilengkapi dengan cerita islami, yakni bertutur dan bercerita ke hadapan dewan juri dan khalayak umum mengenai cerita-cerita islami yang inspiratif.

Najib menambhakan, selain kategori kesenian, ajang perlombaan ini juga dilengkapi dengan olahraga futsal, dimana merupakan salah satu olahraga kegemaran anak-anak. "Futsal merupakan olahraga popular bagi anak-anak, makanya kita melombakan ini juga," pungkasnya.

Perlombaan ini, juga merupakan salah satu persiapan kontingen LP Maarif Kecamatan Nalumsari untuk maju dalam Pekan Madaris tingkat Kabupaten Jepara pada akhir April mendatang.

"Kita berharap kegiatan ini dapat bermanfaat dan memotivasi para siswa untuk terus kreatif dan mengembangkan keilmuannya," ujarnya. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal RMI NU, Pondok Pesantren, Sholawat IMNU Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Penyebaran Islam Damai Sinergi dengan Agenda Kemenlu RI

Jakarta, IMNU Tegal. Menyambut kedatangan peserta International Summit of Islamic Leaders (Isomil), digelar gala dinner di Hotel Sultan Jakarta Pusat, Ahad (08/5) malam. 

Esti Andayani, Direktur Jenderal Informasi dan Publikasi Kementerian Luar atas nama Wakil Menteri Luar Negeri RI menyampaikan penghargaan atas undangan tersebut. 

Penyebaran Islam Damai Sinergi dengan Agenda Kemenlu RI (Sumber Gambar : Nu Online)
Penyebaran Islam Damai Sinergi dengan Agenda Kemenlu RI (Sumber Gambar : Nu Online)

Penyebaran Islam Damai Sinergi dengan Agenda Kemenlu RI

“Saya mendapat kehormatan khusus untuk menyaksikan peristiwa yang sangat penting yaitu pertemuan internasional yang bertujuan untuk menginformasikan ke seluruh dunia bahwa Indonesia begitu serius dalam upaya memerangi terorisme dan menciptakan perdamaian global,” kata Esti dalam pidato sambutan berbahasa Inggris.

Esti melanjutkan, di tempat inilah (Isomil), NU memiliki kompetensi untuk memainkan peran penting mencegah dan menangani tantangan global yaitu terorisme dan kekerasan.

IMNU Tegal

Kementerian Luar Negeri RI (Kemenlu), kata Esti, memiliki empat prioritas kebijakan luar negeri yang salah satunya adalah untuk meningkatkan peran Indonesia di kawasan dan forum internasional. Karena itu Kemenlu selalu mencoba mengambil inisiatif untuk memberdayakan dan meningkatkan diplomasi Indonesia, melalui satu kekuatan yaitu Islam yang moderat.

Dalam upaya itu, Indonesia terus bertindak sebagai pendorong utama dalam menyebarkan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin. 

Tahun lalu, Kemenlu mengadakan konferensi internasional ulama Islam. Dan sekarang terselenggara Isomil. Setiap tahun, Kemenlu menyelenggarakan dialog bilateral, regional dan multilateral antaragama secara teratur. Saat ini Indonesia juga mengambil inisiatif untuk memberantas terorisme dan ekstremisme melalui platform digital.

Esti mengatakan Kemenlu dan PBNU, menyambut para peserta pertemuan dengan keyakinan bahwa setiap peserta memiliki kontribusi bagi keberhasilan pertemuan ini. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Santri, RMI NU IMNU Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Ali Maskur: ISNU Jangan Banyak Bermain di Ranah Politik

Jombang, IMNU Tegal - Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ali Maskur Moesa meminta ISNU lebih fokus pada sektor kemandirian ekonomi umat dan tidak banyak bermain di ranah politik. Hal ini penting agar banom NU yang menanungi kaum intelektual ini benar-benar bisa menjadi tiang atau penyangga Nahdlatul Ulama.

"ISNU merupakan salah satu penyangga NU. Ada tiga wilayah besar yang selama ini menjadi konsentrasi NU. Salah satunya adalah membangun kesejahteraan ekonomi warganya. Itu sebagaimana cita-cita berdirinya NU yang dimulai dengan mendirikan Nahdlatut Tujar, " kata Ali Maskur Moesa usai melantik ISNU Jombang masa khidmat 2017-2022 di GOR Said Chasbullah Tambakberas, Sabtu (25/3).

Ali Maskur: ISNU Jangan Banyak Bermain di Ranah Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Ali Maskur: ISNU Jangan Banyak Bermain di Ranah Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Ali Maskur: ISNU Jangan Banyak Bermain di Ranah Politik

Ali Maskur menambahkan, seiring laju waktu, bidang ekonomi itu tergeser oleh wathan (tanah air atau negara). "Lebih banyak wathannya dibanding ekonomi. Makanya, ISNU harus membangun kekuatan ekonomi itu. Ranah politik biar diurusi partai yang berafiliasi dengan NU," tandas mantan BPK ini menambahkan.

IMNU Tegal

Yang kedua, lanjut Ali Masykur, ISNU bertugas meningkatkan sumber daya manusia dalam memperkuat kualitas perguruan tinggi NU. Pasalnya, saat ini sudah ada 26 perguruan tinggi milik NU. Dengan kata lain, semua ISNU di wilayah harus mendukung adanya UNU (Universitas Nahdlatul Ulama). "UNU menjadi bagian dari kiprah ISNU ke depan," katanya.

Terakhir, menurut Ali Masykur, ISNU harus menjadi peredam kekerasan mengatasnamakan agama yang saat ini sedang marak. Pasalnya, NU tidak pernah mempertentangkan agama dan negara. NU dan negara sudah satu nafas. "Hal-hal seperti itulah yang harus dilakukan ISNU ke depan," pugkas Cak Ali. (Muslim Abdurrahman/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal RMI NU, Aswaja IMNU Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

Universitas NU dan Masa Depannya (4)

Oleh Mh Nurul Huda

There are many alternatives” (TAMA), ada banyak alternatif. Slogan ini barangkali relevan bagi kita yang “melihat” aneka alternatif kemungkinan di masa depan. Kecuali bila penulis sendiri diam-diam terperangkap-betapapun ditepisnya ia dalam ucapan dan dipuaskannya ia hidup dalam kesinisan-membeku dalam suatu mitologi bahwa hanya ada satu jalan tunggal sejarah (the end of history) yang bernama apa saja dalam bendera “there is no alternative” (TINA).

Universitas NU dan Masa Depannya (4) (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas NU dan Masa Depannya (4) (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas NU dan Masa Depannya (4)

Mulai dari sini rupanya, dalam perjalanannya, kita dapat menemukan keselarasan pandangan atau titik temu (fusion of horizons) dengan mereka, saudara-saudara kita, yang berharap alternatif dunia masa depan yang lebih baik. Keselarasan itu diupayakan sedemikian rupa sehingga bila terdapat perbedaan cara, maka segera diinsyafi hanyalah konsekuensi belaka dari pengakuan terhadap aneka jalan kemungkinan alternatif. Bersamaan dengannya juga telah disadari bahwa ada alternatif masa depan yang paling kita inginkan (preferable) di antara sekian alternatif yang mungkin.

Dalam konteks inilah kiranya khalayak umum lalu dapat mengerti bahwa: seutuhnya masuk akal dalam nalar, bisa diterima secara moral, dan dapat dipertanggungjawabkan secara sosial kalau alternatif itu datang dari tradisi pesantren.

IMNU Tegal

Tradisi yang dimaksud sudah barang tentu bukan yang dibayangkan statis, mandeg, apalagi beroposisi dengan rasio seperti dalam gambaran rasionalisme positivis/empiris yang dibawa tradisi Pencerahan Eropa yang menjadi ranjang kenikmatan di pucuk tower intelektual bagi tesis sekularisasi yang sudah out of date. Karena sebagaimana terekam sejarah, para ulama, kiai dan santri sendiri pun terbukti merupakan para “pelaku agentik” (bearers of that tradition) yang dalam cakrawala rasio memelihara, menafsirkan dan “menggerakkan tradisi” secara berkesinambungan.

Mari bersama-sama membaca kembali esai-esai Kiai Abdurrahman Wahid berjudul Kiai Nyentrik Membela Pemerintah [1997]. Bila kita selidiki secara seksama-dipandu oleh kejelian kata pengantarnya budayawan kita DR Muhammad Sobary yang secara eksplisit memandang aneh pemberian judul itu karena “tak sepotong pun penjelasan diberikan”-di sana memperlihatkan tiadanya antinomi atau oposisi antara tradisi dan rasio dalam gerakan.

IMNU Tegal

Tradisi pesantren terus hidup hingga kini. Sebagai a living tradition, spirit luhurnya masih bergairah, kalau bukan malahan semakin bergairah, di tengah-tengah masyarakat kebanyakan. Oleh sebab itu, berdasarkan perhitungan yang masuk akal, kita dapat menyatakan bahwa “roh”-nya mampu menghidupkan tubuh universitas-universitas. Sedemikian rupa ia, sehingga universitas terkoneksi kembali dengan kebutuhan sebenarnya masyarakat kebanyakan.

Adalah juga preferable (yang lebih baik dan kita inginkan) bagi universitas NU di masa depan untuk mampu berkompetisi (fastabiqul khoirot) dalam kerangka “ko-operasi”(ta’awun). “Takdir sejarah”-nya menjadi bagian dari usaha pencapaian kesejahteraan dan kemajuan bersama masyarakat dari mana universitas itu sendiri berasal, tumbuh, berkembang, dan memimpin untuk kemajuan bangsa. Unggul dalam keilmuan, tangguh dalam karakter/mentalitas, dan populis dalam komitmen sosial sebagai suatu komunitas epistemik.

Di sini sudah barang tentu kita tidak dapat mengabaikan begitu saja kemungkinan-kemungkinan lain di masa depan (probable/possible futures). Yaitu suatu masa depan yang turut dibentuk oleh gejala-gejala masa kini yang terus menerus kian menerima penilaian kritis nan tajam dari para ahli.

Gejala itu dapat dinyatakan secara singkat sebagai pendidikan yang hanya mencetak individu-individu kompetitif mengejar kepentingan-kepentingannya sendiri sampai ke ujung surga. Terperangkap dalam alam pikiran darwinisme sosial, pembelajaran berlangsung begitu mekanistik dan behavioristik; kompetisi individual dalam pasar bebasnya para raksasa kapitalis menjadi satu-satunya tujuan utama. Hal ini sejenis pendidikan yang melupakan arti pentingnya “ko-operasi” (ta’awun) dan mengabaikan kerja sama organik dan publik (mashlahah ‘ammah, summum bonum), yang dapat berakibat mengerikan di masa depan.

Bagaimana mungkin masyarakat kebanyakan bisa bangkit membangun surga di bumi, baldatun thoyyibatul wa robbun ghofur (negeri yang baik dan dilimpahi kasih sayang), tanpa adanya suatu keselarasan pandangan dan “ko-operasi”? (bersambung...)

* M Nurul Huda, aktivis 1926, dosen Program Studi Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia di Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Anti Hoax, RMI NU, Kajian Islam IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock