Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

NU Jatim Jalin Kerja Sama dengan Malaysia

Surabaya, IMNU Tegal. Kunjungan sejumlah tokoh agama dari negara Jiran Malaysia ke Jawa Timur akan dioptimalkan untuk kegiatan penguatan kerjasama antar kedua pihak. Kegiatan yang diagendakan antara lain daurah Aswaja hingga pertukaran santri maupun mahasiswa serta dosen.

Penegasan ini disampaikan M Zunaidul Muhaimin di sela-sela mendampingi rombongan dari lembaga dan kampus yakni Universitas Tun Husain onn Malaysia (UTHM), Majlis Agama Johor, serta Institut Ahli Sunnah wal Jamaah kampus UTHM ke sejumlah pesantren di Jawa Timur.

NU Jatim Jalin Kerja Sama dengan Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jatim Jalin Kerja Sama dengan Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jatim Jalin Kerja Sama dengan Malaysia

"Ada 22 rombongan dari Malaysia yang mengikuti kunjungan ini," kata Wakil Direktur PW Aswaja NU Center Jawa Timur ini, Ahad (21/12). Jumlah ini lebih besar dari rencana semula yang hanya 16 orang.  Mereka mengunjungi sejumlah pesantren karena ingin mendapatkan informasi secara langsung dari para pimpinan dan pengelola pesantren.

IMNU Tegal

"Rombongan adalah utusan dari perguruan tinggi dan sejumlah lembaga di Malaysia," katanya. Jumat (20/12), rombongan dari Universitas Tun Husain onn Malaysia (UTHM), Majlis Agama Johor, serta Institut Ahli Sunnah wal Jamaah kampus UTHM diterima oleh pengurus NU Jatim di kantornya, Jalan Masjid al-Akbar Timur 9 Surabaya. Sejumlah kiai seperti KH Miftachul Akhyar (Rais), KH Abdul Matin (Wakil), KH Hasan Mutawakkil Alallah (Ketua), H Hamid Syarif, dan KH Jazuli Nur (Wakil) hadir saat penyambutan ini.

IMNU Tegal

Ustadz Muhaimin, sapaan akrabnya menandaskan bahwa dari kunjungan ini akan ditindaklanjuti dengan akan diselenggarakannya daurah Aswaja secara lebih intensif. "Juga akan dilakukan pertukaran pelajar atau santri hingga dosen demi pemantaban kerja sama tersebut," tandas kandidat doktor di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini. Dan semuanya akan dituangkan dalam nota kesepakatan yang ditandatangani bersama, lanjutnya.

Seperti diberitahukan sebelumnya, rombongan mengunjungi Pondok Pesantren Al-Fitroh Kedinding Surabaya. Hari kedua (hari ini) adalah berkunjung ke Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan. "Di Pesantren Sidogiri, para rombongan berkunjung lumayan lama sejak pagi hingga sore," kata dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) ini. Selama di Pasuruan, rombongan juga akan singgah di pesaren KH Hamid.

Keesokan harinya, rombongan melanjutkan kunjungan ke dua pesantren. "Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo dan terakhir di Pondok Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo," terang Muhaimin.

Dan pada hari Selasa (23/12), rombongan akan bergabung dalam seminar internasional yang diselenggarakan di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. "Mereka akan menceritakan pengalaman tantangan yang dihadapi serta peluang yang dapat ditindaklanjuti bersama," katanya.

Sedangkan hari Rabu, rombongan akan mengunjungi makam Syeikhona Kholil di Bangkalan, Sunan Ampel serta Taman Bungkul Surabaya.

Selama kunjungan, para akademisi dan ulama tersebut setidaknya ingin mendapatkan gambaran soal proses seleksi dan pendaftaran santri baru. "Selanjutnya juga akan diperdalam perihal proses belajar mengajar di masing-masing pesantren tersebut," katanya.

Kurikulum di masing-masing pesantren juga tidak luput dari perhatian rombongan. "Demikian juga pengawasan selama para santri mondok, juga penilaian yang dilakukan setiap pesantren terhadap para santri," ujarnya.

Sedangkan yang tidak kalah penting adalah pola distribusi dari setiap pesantren terhadap alumni yang dimiliki. "Tentu masing-masing pesantren memiliki model yang berbeda dalam pengelolaan dan distribusi para alumninya," pungkas Muhaimin.

Direktur PW Aswaja NU Center Jatim KH Abdurrahman Navis menandaskan bahwa kunjungan ini sebagai buah kerja sama yang intensif dengan sejumlah tokoh dan kampus di Malaysia. "Karenanya, kami berusaha menjadi tuan rumah yang baik dengan memberikan pelayanan kepada mereka," katanya.

Kiai Navis, sapaan akrabnya juga menandaskan dari kerja sama ini diharapkan akan ada tindaklanjut yang bisa dilakukan pada kesempatan berbeda. "Bisa dengan pesantren yang dituju, juga dengan Aswaja NU Center," kata Wakil Ketua PWNU Jatim ini. Sehingga kehadiran para ulama dan dosen dari kampus Malaysia tersebut bisa bermanfaat bagi syair agama dan kerja sama yang lain, pungkasnya. (Syaifullah/Mahbib)

Foto: Direktur Aswaja NU Center Jatim KH Abdurrahman Navis

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Anti Hoax, AlaNu IMNU Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Fatayat NU Jateng Gelar Kontes Puteri Fatayat 2015

Solo, IMNU Tegal. Akhir pekan lalu (24/5), Pengurus Wilayah (PW) Fatayat NU Jawa Tengah menggelar acara kontes pemilihan ajang Puteri Fatayat NU wilayah Jawa Tengah yang bertempat di Gedung Asrama Haji Islamic Centre Manyaran, Semarang.

Dalam kesempatan tersebut, peserta dari perwakilan Fatayat Magelang, Aini Chabibah, berhasil mengalahkan para pesaingnya dan berhak untuk dinobatkan menjadi Puteri Fatayat NU Jawa Tengah tahun 2015.

Fatayat NU Jateng Gelar Kontes Puteri Fatayat 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Jateng Gelar Kontes Puteri Fatayat 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Jateng Gelar Kontes Puteri Fatayat 2015

Ketua Umum PW Fatayat NU Jawa Tengah Khizanaturrohmah menjelaskan, kegiatan Kontes Puteri Fatayat 2015 ini, masih menjadi rangkaian dari kegiatan Harlah Fatayat NU yang diperingati pada 24 April lalu.

IMNU Tegal

“Acara ini diikuti 60-an peserta dari 35 pengurus cabang Fatayat se-Jawa Tengah. Seleksi peserta sudah dilaksanakan sejak bulan April. Dari jumlah tersebut kemudian dipilih 25 finalis yang tampil dalam acara final pemilihan Puteri Fatayat NU,” terang Khizanaturrohmah, saat ditemui IMNU Tegal di Solo belum lama ini.

IMNU Tegal

Ditambahkan dia, pihak panitia juga membuka kesempatan bagi para wanita di luar Fatayat yang ingin mengikuti kegiatan ini. “Tujuan kita, juga untuk mengenalkan Fatayat NU kepada masyarakat, agar mereka juga tertarik untuk masuk Fatayat,” ujar dia.

Meski demikian, lanjut Khiz, para peserta yang mengikuti kegiatan ini mesti memiliki beberapa kriteria. Kriteria tersebut antara lain brain, beauty, religius, dan berakhlakul karimah. “Yang tidak kalah penting mereka juga mesti menguasai materi Aswaja,” imbuhnya.

Selain kegiatan pemilihan Puteri Fatayat NU 2015 ini, Fatayat Jateng juga menggelar berbagai event kegiatan “Festival Budaya Islami 2015” yang berupa ? fashion show, seminar beauty class, focus group discussion, dan festival hadroh. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nusantara, AlaNu IMNU Tegal

Pengaturan Waktu Shalat dalam Event Sepak Bola

Sudah jamak diketahui, bahwa masyarakat Indonesia merupakan “penggila” sepak bola. Hal itu terbukti dengan tingginya animo suporter dari Sabang sampai Merauke ketika mendukung klub kesayangannya bertanding di Liga Indonesia. Hampir di setiap pertandingan stadion penuh sesak ribuan bahkan puluhan ribu jiwa dengan segala atribut kreatifitasnya.

Puncaknya, ketika Timnas Indonesia bertanding di level Internasional yang dianggap mampu mengangkat martabat bangsa Indonesia di mata dunia. Dengan rasa nasionalisme yang tinggi, para suporter dari berbagai daerah rela antri berjam-jam untuk memperoleh tiket demi menjadi saksi perjuangan punggawa Timnas Merah Putih.

Akan tetapi, yang tak luput dari kaca mata dunia, bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.? Sebagai seorang Muslim, kewajiban shalat 5 waktu tentu tak boleh dilewatkan begitu saja. Para suporter sepak bola Indonesia yang mayoritas Muslim tidak boleh meninggalkan kewajiban ini. Mungkin bagi mereka yang menyaksikan lewat siaran televisi dapat mengatur waktu lebih mudah antara menunaikan shalat dengan menyaksikan pertandingan. Akan tetapi, bagi mereka yang menyaksikan langsung di stadion justru menjadi masalah pelik. Lama waktu mengantre tiket, berjubelnya suporter dan minimnya fasilitas musholla seolah menjadi alasan mereka untuk “pasrah”. Akhirnya, mereka meninggalkan kewajiban shalat begitu saja.

Pengaturan Waktu Shalat dalam Event Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengaturan Waktu Shalat dalam Event Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengaturan Waktu Shalat dalam Event Sepak Bola

Lantas, siapa yang “paling” bertanggungjawab terhadap masalah ini ? Dalam Islam, Nabi Muhammad telah bersabda: “kullukum rầ’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyatihi”. Jika ditempatkan dalam konteks persepakbolaan Indonesia, pemimpin dalam hal ini adalah pengurus PSSI. Sebagai penyelenggara Liga Indonesia dan pertandingan internasional, seharusnya mereka mengerti dan memahami bahwa mayoritas suporter adalah Muslim.

Apalagi Ketua dan mayoritas pengurus PSSI juga Muslim. Tidak selayaknya mereka sibuk dengan masalah internal yang ujung-ujungnya berebut kekuasaan. Tidak selayaknya pula hanya melakukan komersialisasi demi meraih kuntungan yang sebesar-besarnya, hingga melupakan masalah yang urgent, hak dan kewajiban suporter sebagai umat Islam. PSSI harus mengayomi mereka dengan melakukan beberapa hal.

Pertama, mengatur waktu penyelenggaraan pertandingan. PSSI hendaknya menentukan waktu-waktu pertandingan yang tidak mepet dengan batas waktu shalat. Shalat yang paling “rawan” hilang adalah shalat Dzuhur (disebabkan membeli tiket untuk pertandingan sore), shalat Ashar dan Magrib (disebabkan membeli tiket untuk pertandingan malam). Waktu yang paling pas menurut bagi pertandingan sepak bola Indonesia adalah ba’da shalat Ashar dan ba’da shalat Isya’. Alasannya, jarak kedua waktu shalat ini dengan shalat sesudahnya cukup panjang. Dari Ashar ke Magrib sekitar tiga jam, sedangkan dari Isya’ ke Subuh malah lebih panjang lagi. Akan tetapi, hal ini harus didukung dengan penjualan tiket yang professional.

Kedua, memperbaiki manajemen penjualan tiket. Apabila penjualan tiket masih saja seperti saat ini dengan cara mengantre berjam-jam di hari H, tentu akan membuang banyak waktu hingga shalatnya “bablas”. Karena itu, system penjualan tiket secara online hendaknya semakin diutamakan dengan waktu pengambilan tiket beberapa hari sebelum hari H. Minimal menjual tiket lebih pagi. Dengan itu para suporter bisa datang ke stadion beberapa menit sebelum kick off dimulai, tanpa kehilangan shalatnya.

IMNU Tegal

Ketiga, penyediaan fasilitas shalat di dekat stadion. PSSI bisa berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk membangun masjid di dekat stadion yang sanggup menampung ratusan hingga ribuan jamaah. Hal ini penting agar penonton tidak terlalu jauh dan membuang-buang waktu mencari tempat untuk menunaikan shalat. Selain itu, masjid yang dekat dengan stadion juga mempengaruhi mood para suporter terhadap kewajibannya agar tidak dilupakan begitu saja.

Keempat, sosialisasi dalam internal PSSI maupun dengan elemen-elemen masyarakat. Berawal dari Pengurus Besar PSSI disalurkan kepada Pengprov PSSI, Pengcab PSSI hingga ke akar rumput perkumpulan suporter, dan akhirnya sampai ke sanubari pribadi suporter. Selain itu, perlu juga berkoordinasi dengan elemen-elemen masyarakat, di antaranya dengan ulama’ atau kyai. Pengurus PSSI bisa terjun dalam pengajian-pengajian bersama ulama’ membahas pentingnya shalat bagi umat Islam mekipun dalam keadaan hendak menyaksikan pertandingan sepak bola, sehingga shalatnya tidak terlewatkan.

IMNU Tegal

Terakhir, petinggi dan pengurus PSSI (banyak yang telah Haji) mestinya memahami arti pentingnya shalat. Tentunya mereka menginginkan terwujudnya ketertiban dan sportifitas pada persepakbolaan Indonesia, baik di dalam maupun di luar lapangan. Hal itu dapat terwujud setelah elemen-elemen persepakbolaan Indonesia melaksanakan shalat. Setelah shalat, hati dan fikiran mereka akan terasa “adem ayem”, tenang, damai, dan terhapuslah rasa dengki yang dapat menciptakan anarkisme. Hal itu sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Ashsholatu tanha ‘an al-fakhsya’i wa al-munkar” (Shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar).

Mengingat masih sedikitnya yang membahas masalah ini, semoga saran dalam tulisan ini diperhatikan dan ditindak lanjuti demi keseimbangan dunia dan akhirat kita sebagai umat Islam. Boleh kita menyaksikan pertandingan sepak bola, namun jangan sampai meninggalkan shalat. Hendaknya masalah pelaksanaan shalat ini menjadi tanggungjawab bersama antara PSSI, Suporter, dan elemen-elemen masyarakat.

Di dalam momentum peringatan tahun baru Hijriyah ini, dan sebelum dimulainya kompetisi musim depan, saatnya PSSI mulai berpikir dan berhijrah ke arah yang lebih baik dengan mengatur jadwal pertandingan sepak bola supaya tidak bentrok dengan waktu shalat. Semoga persepakbolaan Indonesia semakin berprestasi dan didukung oleh suporter yang mempunyai akhlak mulia, sebagai akibat dari pelaksanaan shalat. Amin.

?

Riza Nur Fikri

Alumni Pesantren Tebuireng Jombang dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nahdlatul, AlaNu IMNU Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Ketua Umum PB PGRI Buka Kejurda Pagar Nusa

Semarang, IMNU Tegal. Kejuaraan Daerah (Kejurda) Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa tingkat Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Jogjakarta, Kamis (1/1) kemarin secara resmi dibuka. Ketua Umum PB PGRI, DR H Sulistiyo yang berkesempatan membuka acara.

Ketua Umum PB PGRI Buka Kejurda Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Umum PB PGRI Buka Kejurda Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Umum PB PGRI Buka Kejurda Pagar Nusa

Kejurda yang akan berlangsung hingga 4 Januari itu mengambil tempat di Pondok Pesantren Az-Zuhri Ketileng Semarang.

Saat membuka acara tersebut, Sulistiyo yang juga anggota DPD RI itu mengajak pengurus dan? warga Pagar Nusa untuk terus mengembangkan silat khas warga NU itu. Bahkan PGRI siap diajak kerjasama dengan pengurus Pagar Nusa untuk mengembangkan silat tersebut di sekolah-sekolah. "Kami siap diajak MOU oleh Pagar Nusa," ungkap Sulistiyo.

IMNU Tegal

Dikatakan, saat ini seni beladiri dari perguruan? lain juga sudah masuk di sekolah-sekolah. Pagar Nusa juga bisa menjadi salah satu pilihan di sekolah.

IMNU Tegal

Bahkan, dia menyarankan pengurus agar Pagar Nusa dikembangkan di perguruan tinggi. Kalau Pagar Nusa masuk perguruan tinggi, seperti UIN, IAIN, IKIP atau universitas, akan memiliki dampak cukup bagus bagi pengembangan Pagar Nusa ke depan.

Nantinya, lanjut dia, mahasiswa yang telah lulus bisa mengembangkan Pagar Nusa di lingkungan masing-masing. Kalau ada yang jadi guru, guru tersebut nantinya akan mengembangkan Pagar Nusa kepada murid-muridnya di sekolah masing-masing.

Hadir di acara pembukaan itu antara lain Ketua PWNU NU Jawa Tengah, KH DR Abu Hafsin MA, jajaran pengurus Pagar Nusa wilayah Jawa Tengah dan pengasuh Pondok Pesantren Az Zuhri, Gus Luqman. Selain itu, sekitar 500 pesilat dari dua provinsi secara khidmah mengikuti jalannya upacara pembukaan. (Sholihin Hasan/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal AlaNu IMNU Tegal

Senin, 05 Februari 2018

IPNU-IPPNU Mranggen Makesta ke Desa

Demak, IMNU Tegal . Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Mranggen Demak turun ke basis-basis (turba) pelajar NU untuk melakukan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta). 

IPNU-IPPNU Mranggen Makesta ke Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Mranggen Makesta ke Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Mranggen Makesta ke Desa

Turba mereka pada Ahad (1/3) ke Makesta yang diadakan Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Desa Kebonbatur di MA Miftahul Ulum Tlogorejo Karangawen Demak. Kegiatan tersebut diikuti 80 pelajar.

Setelah mengikuti Makesta, pelajar dibaiat atau disahakan menjadi anggota IPNU-IPNNU oleh Ketua PAC IPNU Mranggen Ahmad Syaifuddin. 

IMNU Tegal

Pada sambutannya, Ahmad berharap para pelajar yang tergabung di IPNU dan IPPNU tersebut makin mantap berorganisasi, setia di bawah panji IPNU-IPPNU yang berlandaskan Ahlussunah wal Jama’ah dan setia pada NKRI. 

IMNU Tegal

Terpisah, Ketua Pimpinan Cabang IPPNU Demak Istiqomah menegaskan, semangat “belajar, berjuang, dan bertaqwa” harus senantiasa kita tanamkan keapada pelajar NU agar segala langkah IPNU dan IPPNU mendapat dukungan semua pihak.

Pada kegiatan tersebut, hadir Ketua PC IPNU Demak Abdul Halim bersama pengurus lain, serta perwakilan Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Tengah Shohibul Anam, Pembina IPNU M Said Athoillah, dan lain-lain. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Nasional, AlaNu IMNU Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Pengurus NU Subang Terima Wakaf Masjid Assaadah Ciater

Subang, IMNU Tegal - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Subang yang diwakili oleh beberapa pengurusnya menerima wakaf dari pendiri dan pemilik Masjid As-Saadah di Lembah Sarimas Hotel, lingkungan kompleks masjid As-Sa’adah, Kabupaten Subang, Rabu (2/2). Proses serah terima wakaf ini berlanjut dengan pembahasan teknis pengelolaan masjid.

Ketua PCNU Subang KH Musyfiq Amrullah mengatakan, pendiri dan pemilik Masjid As-Saadah H Ibrahim diketahui sudah lama ingin mewakafkan masjidnya ke PCNU Subang karena memang leluhur H Ibrahim adalah orang NU.

Pengurus NU Subang Terima Wakaf Masjid Assaadah Ciater (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus NU Subang Terima Wakaf Masjid Assaadah Ciater (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus NU Subang Terima Wakaf Masjid Assaadah Ciater

"Tadinya pihak keluarga setuju masjid As-Sadah? diwakafkan. Walaupun ada sedikit keberatan dari salah satu ahli waris, tapi kemudian pada akhirnya mereka semua setuju," kata Kiai Musyfiq usai rapat.

Ia menambahkan, dalam pertemuan ini disepakati bahwa Nadhir Masjid Assaadah ini adalah Yayasan As-Saadah yang akan segera diurus pembuatan Akta Yayasannya di Notaris dan Akta Wakaf Kantor Urusan Agama (KUA) setempat.

IMNU Tegal

IMNU Tegal

"Susunan pengurusnya kebanyakan dari PCNU Subang," katanya.

Sebagaimana diketahui Masdij As-Sa’adah adalah salah satu masjid yang cukup megah di Kabupaten Subang. Masjid ini didirikan oleh pengusaha bernama H Ibrahim. Masjid ini terletak di daerah pegunungan sehingga membuat masjid yang berdekatan dengan tempat wisata air hangat itu memiliki keindahan tersendiri. Anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan masjid yang memiliki kubah berwarna biru ini menelan biaya hingga miliaran rupiah. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal AlaNu, Nasional, Ubudiyah IMNU Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

Innalillahi, KH Luthfi Elt Hakim Fuad Hasyim Buntet Wafat

Cirebon, IMNU Tegal. KH Luthfi Elt Hakim Fuad Hasyim, Pengasuh Pesantren Nadwatul Ummah-Buntet Pesantren, Cirebon tutup usia pada Senin (18/5) malam lalu. Almarhum tutup usia saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta sekitar pukul 22.30 WIB.

Menurut Abu Tolkha Nawawi, Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Cirebon, pagi sekitar pukul 08.00 WIB, Almarhum menjalani operasi pergantian pembuluh darah, namun operasi tersebut tidak berhasil dengan lancar.

Innalillahi, KH Luthfi Elt Hakim Fuad Hasyim Buntet Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillahi, KH Luthfi Elt Hakim Fuad Hasyim Buntet Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillahi, KH Luthfi Elt Hakim Fuad Hasyim Buntet Wafat

Almarhum KH Luthfi Elt Hakim Fuad Hasyim, di mata Tolkha adalah sosok dengan pribadi dan budi pekerti yang sangat luhur serta punya dedikasi yang luar biasa terhadap dunia pesantren. Diakui Tolkha, dirinya sangat merasa kehilangan salah satu sahabat terbaiknya ini.

IMNU Tegal

“Beliau selaku guru dan sahabat saya terlalu istimewa. Dengan pribadinya dan budi pekertinya yang sangat luhur, perangainya sangat santun, alim dan punya dedikasi yang luar biasa,” jelasnya seperti dilansir cirebontrust.com. (Red: Fathoni)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Internasional, Kiai, AlaNu IMNU Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

Adakah Lebih Penting dari Wacana ‘Hari Santri’?

Oleh Ajie Najmuddin

--Muhammad Zidni Nafi’ dalam tulisannya di Kolom IMNU Tegal berjudul “Meninjau Wacana Labelisasi Hari Santri” (20/10/2014), memberikan gambaran kepada kita tentang rencana penatapan 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional yang diwacanakan oleh? presiden terpilih Jokowi yang dianggap menuai berbagai tanggapan dari banyak kalangan, khususnya dari kalangan pesantren. Tanggapan itu ada yang berupa dukungan penuh, menolak mentah-mentah atau ada juga yang menginginkan wacana tersebut untuk ditinjau ulang.

Dalam tulisannya dia juga mengatakan labelisasi Hari Santri Nasional tersebut tidak perlu apabila dalam realitanya masyarakat memang merasakan sangat betul atas kontribusi santri hingga sampai dewasa ini tetap berkelanjutan dan berkesinambungan. Untuk itu, dalam tulisan kali ini penulis hendak memberikan tanggapan terkait tulisan tersebut. Namun, tulisan di sini bukan untuk mengkritisi tulisan melainkan untuk memberikan wacana lain terkait pesantren.

Saat ini, menurut hemat penulis, ada hal lain yang lebih penting menyangkut ‘hajat hidup’ madrasah dan pesantren daripada sekadar perjuangan label santri. Hal tersebut yakni tatkala Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia, beberapa waktu lalu telah mengeluarkan kebijakan terbaru melalui Peraturan Menteri Agama (PMA) No 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam dan PMA No 18 Tahun 2014 tentang Satuan Pendidikan Muadalah pada Pesantren.

Adakah Lebih Penting dari Wacana ‘Hari Santri’? (Sumber Gambar : Nu Online)
Adakah Lebih Penting dari Wacana ‘Hari Santri’? (Sumber Gambar : Nu Online)

Adakah Lebih Penting dari Wacana ‘Hari Santri’?

Sebagai gambaran sekilas dari peraturan baru ini, salah satu poinnya yakni memungkinkan satuan pendidikan keagamaan Islam pada pesantren atau yang kemudian disebut satuan pendidikan muadalah setara dengan satuan pendidikan lainnya. Tidak hanya itu, peraturan tersebut juga tetap menjamin satuan pendidikan muadalah untuk dapat mengembangkan kurikulum sesuai kekhasan pesantren pada basis kitab kuning atau dirasah islamiyah dengan pola pendidikan muallimin secara berjenjang dan terstruktur.

Hal tersebut tentu menjadi semacam angin segar bagi dunia pesantren, di mana secara kelembagaan dan lulusan pesantren akan memiliki kesempatan besar untuk setara dengan sekolah formal. Dari sisi anggaran pesantren juga akan mendapatkan hak yang sama dengan pendidikan formal sehingga untuk pengajar, fasilitas, dan infrastruktur mendapatkan pembiayaan dari pemerintah.

IMNU Tegal

Ini menjadi secercah peluang yang diharapkan dapat lebih mendukung keberadaan lembaga pendidikan pesantren yang dalam buku “Tradisi Pesantren” (Zamakhsyari Dhofier, 1980) disebut sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Namun, di balik semua asa itu, tentu juga terselip banyak hal lain dari peraturan ini, yang akan menjadi tantangan bagi pesantren ke depan.

Kesiapan Kelembagaan

Tantangan yang dimaksud, lebih mengarah pada kesiapan pesantren menghadapi peraturan baru ini. Para kiai, nyai, ustaz, dan santri, yang selama ini hanya bergelut dengan dunia fa’ala-yaf’ulu dan lain sebagainya, kini mesti menyiapkan sistem kelembagaaan, administraasi dan organisasi yang tertata. Selain masalah tersebut, perlu diperhatikan pula beberapa hal menyangkut kesiapan pesantren dalam menghadapi peraturan ini, salah satunya tentang sistem kurikulum yang akan diterapkan.

IMNU Tegal

Mengingat pada PMA No. 18 tahun 2014 dalam pasal 10 ayat 3 menyebutkan setiap pesantren diwajibkan untuk memuat kurikulum umum paling sedikit empat mata pelajaran yakni: pendidikan kewarganegaraan (al-tarbiyah al-wathaniyah), bahasa Indonesia (al-lughah al-indunisiyah), matematika (al-riyadhiyat) dan ilmu pengetahuan alam (al-ulum al-thabiiyah).

Ketentuan di atas akan menjadi tantangan tersendiri bagi orang-orang pesantren untuk membuat kurikulum dengan pendekatan yang berbeda dibandingkan yang sudah ada pada pendidikan umum. Semisal yang dinyatakan oleh KH Lukman dari Termas, di mana kitab syamsul ma’arif yang diajarkan di beberapa pesantren, sudah selayaknya dikembangkan menjadi bagian dari ilmu pengetahuan alam atau al-ulum al-thabiiyah (Baso, 2014).

Penerapan kurikulum umum ini sekaligus juga akan menguji kemampuan pesantren untuk tetap dapat mempertahankan identitas dirinya, yang menurut Abdurrahman Wahid (2007) masih dinilai bersifat subkultural. Begitu pula dengan tata nilai yang selama ini dimiliki pesantren seperti keikhlasan, kejujuran, kepatuhan dan kesederhanaan. Tak pelak, penambahan kurikulum umum ini bagi pesantren yang benar-benar masih bercorak tradisional dan berada di lingkup pedesaan, setidaknya akan memberikan pembentukan tata nilai baru bagi mereka.

Penegasan Nasionalisme

Hal lain yang tak kalah penting dari peraturan ini, yakni sebagaimana termaktub dalam PMA No. 13 tahun 2014 ? Pasal 4 yang berbunyi : “Pesantren wajib menjunjung tinggi dan mengembangkan nilai-nilai Islam rahmatan lilalamin dengari menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhineka Tunggal Ika, keadilan, toleransi, kemanusiaan, keikhlasan, kebersamaan, dan nilai-nilai luhur lainnya."

Pasal ini dapat dinilai sebagai penegasan sikap nasionalisme di kalangan pesantren. Tentu, sudah banyak kisah kepahlawanan dari kaum sarungan yang pernah kita baca, khususnya di era perjuangan dalam merebut kemerdekaan bangsa ini. Pun dalam upaya mempertahankan kedaulatan bangsa ini, seperti saat peristiwa ‘Resolusi Jihad’ KH Hasyim Asy’ari dan perang 10 November di Surabaya.

Namun, dewasa ini sering terdengar stigma negatif tentang pesantren yang dianggap sebagai sarang teroris. Padahal tidak demikian, yang terjadi sebetulnya hanya dilakukan oleh segelintir oknum. Dengan menggunakan kedok pesantren, para oknum tersebut mengajarkan doktrin gerakan radikalisme yang dibungkus dengan ajaran agama.

Nah, dengan peraturan yang ada, oknum lembaga pesantren yang tidak mengakui NKRI dan bahkan mendukung gerakan radikalisme tersebut, semestinya tidak akan diberikan izin operasional. Ini sekaligus akan memupus stigma negatif terorisme pada pesantren. Tantangan tersebut juga berlaku bagi Kemenag sebagai pihak yang mengeluarkan kebijakan ini, beranikah mereka membubarkan ‘pesantren’ yang secara jelas tidak mau mengakui dan bahkan ikut merongrong NKRI?

Kejayaan Pesantren

Pembahasan permasalahan di atas kiranya dapat sedikit memberikan gambaran akan harapan, peluang serta tantangan yang akan dihadapi pesantren ke depan. Alangkah lebih baik, apabila mereka mulai untuk mempersiapkan kesemuanya. Tentu ini juga akan lebih penting dari sekedar membahas kepastian penetapan 1 Muharram sebagai ‘Hari Santri’.

Penulis berharap, dengan munculnya kebijakan ini menjadi pintu masuk dan langkah baru untuk kembali menemukan kejayaan pesantren seperti halnya yang pernah dibuktikan Pesantren Tebu Ireng Jombang, Mambaul Ulum Surakarta, dan pesantren lain yang pernah melahirkan tokoh-tokoh penting dan memberikan pengaruh besar bagi perkembangan bangsa ini. Sebut saja tokoh seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, KH Ahmad Dahlan, KH Wahab Hasbullah, KH Abdurrahman Wahid, Munawir Syadzali, dan lain sebagainya

Sebagi penutup, penulis mengutip beberapa kalimat dari Gus Dur dalam buku Islam Kosmopolitan (2007). Bagaimana pesantren, sebagai sebuah lembaga pendidikan menjawab tantangan ini merupakan perkembangan yang paling menarik untuk diamati dan dianalitis. Baik keterbatasan-keterbatasan dan peluang-peluang berlimpah-limpah dalam pengembangan pesantren yang sedang mengalami konflik selama ini. Sejarahlah yang kelak akan membuktikan hal ini!

?

Ajie Najmuddin, kontributor IMNU Tegal Solo Raya, pengajar di Ta’mirul Islam, aktivis GP Ansor

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Halaqoh, Cerita, AlaNu IMNU Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Pengurus IPNU-IPPNU Diimbau Kompak bak Shalat Berjamaah

Jombang, IMNU Tegal

Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Jombang dikukuhkan di aula Pondok Pesantren Bahrul Ulum (BU) Tambakberas, Ahad (14/2/2016) pagi. Sejumlah kegiatan seremonial semarakkan momen pelantikan tersebut.

Pengurus IPNU-IPPNU Diimbau Kompak bak Shalat Berjamaah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus IPNU-IPPNU Diimbau Kompak bak Shalat Berjamaah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus IPNU-IPPNU Diimbau Kompak bak Shalat Berjamaah

Pada pelantikan ini, segenap pengurus PC IPNU-IPPNU Jombang diimbau membangun sekaligus meningkatkan soliditas antarpengurus, juga mengoptimalkan peran penting di masing-masing pos atau divisi kepengurusannya.

Kesolidan dan optimalisasi peran setiap pengurus tersebut, menurut Ketua PC IPPNU Jombang Qurrotul Aini, tak ubahnya seperti orang yang sedang melakukan shalat berjamaah yang dituntut bergerak secara kolektif dan sesuai aturan.

IMNU Tegal

“Ibarat ketika shalat berjamaah, yang mana imam dan makmumnya saling mengetahui syarat dan wajibnya shalat. Sama dengan sebuah organisasi ini, hendaknya para pengurus IPNU-IPPNU Jombang saling memahami porsinya masing-masing,” katanya saat memberikan sambutan-sambutannya di hadapan para tamu undangan.

Ia menambahkan bahwa yang paling menentukan maju dan tidaknya sebuah organisasi adalah niat, kesadaran dan kerja keras pengurus dalam menjalankan mandat organisasi. Sejumlah program yang sudah dirumusakn bersama, memerlukan dorongan yang kuat dari niat dan kesadaran berorganisasi tersebut.

IMNU Tegal

Sementara itu Abd Haris, Ketua PC IPNU mengungkapkan bahwa IPNU-IPPNU seyogianya menjadi tumpuan harapan bangsa. Ia tak menampik keberadaan pelajar NU itu sudah banyak tersebar luas khususnya di wilayah Indonesia. “Dengan demikian Pelajar IPNU-IPPNU Harus siap menjadi generasi bangsa terdepan,” terangnya.

Di tempat yang sama Ketua Pengurus Wilayah IPNU Jawa Timur Haikal Atiq Zamzami mengapresiasi tentang momen pelantikan PC IPNU-IPPNU Jombang yang bertepatan dengan momentum hari lahir (harlah) NU.

Haikal berharap IPNU-IPPNU Jombang bisa meneladani para pendiri NU yang mayoritas berasal dari Jombang. “Ini adalah momen yang paling tepat, sekarang ini masih memasuki hari lahir NU, dimana para pendiri NU berasal dari Jombang sendiri,” ujarnya.

Hadir pada acara pelantikan, PC Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jombang, perwakilan PCNU, Fatayat NU, Muslimat NU, PW IPNU-IPPNU Jawa Timur, Dinas Pendidikan, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Subaidi Muchtar, seluruh PC IPNU-IPPNU Jombang, PAC IPNU-IPPNU dan ranting-ranting setempat. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal AlaNu IMNU Tegal

Temui LKKNU, WWB Ingin Dirikan Sekolah untuk Ibu

Jakarta,? IMNU Tegal

Salah satu program yang dimiliki Women without Borders? adalah sekolah untuk ibu. Peran ibu sangat besar untuk membentengi anak-anak mereka dari ideologi radikalisme dan ekstimisme yang sedang menjamur.

Demikian disampaikan direktur eksekutif? Women without Borders? (WWB)? Edit Schlaffer saat melakukan audiensi dengan Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) di kantor PBNU, Senin (22/2). Acara audiensi tersebut berlangsung sekitar dua jam dan dipandu sekretaris LKKNU, Alissa Wahid.

Temui LKKNU, WWB Ingin Dirikan Sekolah untuk Ibu (Sumber Gambar : Nu Online)
Temui LKKNU, WWB Ingin Dirikan Sekolah untuk Ibu (Sumber Gambar : Nu Online)

Temui LKKNU, WWB Ingin Dirikan Sekolah untuk Ibu

WWB merupakan organisasi nonprofit internasional yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan. Organisasi ini mempromosikan peran perempuan dalam bidang keamanan dan membuat peka para ibu rumah tangga terhadap peran dan tanggung jawab mereka terhadap anak-anaknya untuk menghadapi ideologi ekstrim yang berasas kekerasan .WWB didirikan oleh Edit Schlaffer pada tahun 2002 di Vienna, Austria.

Edit mengatakan, para ibu belum mendapatkan pendidikan yang memadahi terkait hal tersebut. Untuk itu, pihaknya menciptakan program sekolah untuk ibu dengan tujuan memberi bekal kepada para ibu-ibu.? ? ? ? ? ?

“Saya mengaharapkan kerjasama (dengan LKKNU) karena saya percaya ini organisasi yang sangat bagus. Kita bisa bekerjasama,” kata Edit.

IMNU Tegal

Lebih lanjut Edit menyatakan WWB dan LKKNU? memiliki concern bidang yang sama yaitu pemberdayaan perempuan. Dia berharap kerjasama dengan LKKNU untuk memberdayakan perempuan bisa berjalan dengan baik.

“Kita bisa membuat kerjasama (dengan LKKNU). Mungkin kita menawarkan program sekolah untuk ibu, pendidikan untuk orang tua tentang perdamaian kepada organisasi ini,” lanjut Edit.

LKKNU menyambut baik kunjungan dari WWB. Mereka juga berharap kedepan akan terjalin kerjasama dengan WWB.

“Kita berharap kedepan akan terjalin kerjasama berupa program. Karena selama ini mereka sudah banyak bekerjasama dengan organisasi lain di Indonesia. Mereka melihat bahwa NU adalah organisasi penting,” kata Alissa Wahid.

IMNU Tegal

Acara audiensi dihadiri oleh Duta Besar Austria untuk Indonesia, Andreas Karabaczec dan beberapa pengurus PBNU. (Ahmad Muchlishon/Zunus)? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal AlaNu IMNU Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

Gus Sholah Pimpin Ansor Jateng

Pekalongan, IMNU Tegal - H Sholahudin Aly terpilih menjadi nakhoda baru Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah masa khidmat 2017-2021. Pria yang akrab disapa Gus Sholah itu terpilih secara aklamasi pada acara Konferwil GP Ansor Jateng di Gedung Pertemuan Umum (GPU) Kajen Kabupaten Pekalongan, Ahad (12/11).

Usai terpilih, Gus Sholah menyatakan komitmennya dalam berjuang bersama Ansor Jateng.

Gus Sholah Pimpin Ansor Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah Pimpin Ansor Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah Pimpin Ansor Jateng

"Ansor ini organisasi yang besar, sedangkan saya ini bukan apa-apa. Maka mari kita bersama ikut berjuang di dalamnya," kata Sholah.

IMNU Tegal

Pria kelahiran Jepara itu juga menekankan beberapa hal penting yang menjadi prioritas program di masa mendatang, antara lain soal penertiban administrasi.

IMNU Tegal

"Pertama tertib administrasi, ini sudah kita coba dan buktikan dengan adanya kegiatan akreditasi," katanya.

Selain Sholahudin, dua calon lain digadang menjadi ketua Ansor Jateng, yakni Fahsin M Faal (Demak) dan Wahidin Said (Kendal). (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal AlaNu, Halaqoh, Pahlawan IMNU Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Pelajar NU Sidoarjo Gelar Maulid Diba’ wa Ta’lim

Sidoarjo, IMNU Tegal. Pelajar NU Sidoarjo kembali menggelar acara rutinan setiap bulan sekali yakni Maulid Diba wa Talim yang ke XI di Masjid Maslakhul Huda Desa Wonoayu pada Ahad, 15 November 2015. Acara ini dihadiri oleh PAC/PKPT IPNU-IPPNU se-kabupaten Sidoarjo.?

Gema sholawat berkumandang dengan merdunya sejak acara dimulai pada pukul 08.00-11.30.?

Pelajar NU Sidoarjo Gelar Maulid Diba’ wa Ta’lim (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Sidoarjo Gelar Maulid Diba’ wa Ta’lim (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Sidoarjo Gelar Maulid Diba’ wa Ta’lim

"Acara ini merupakan momentum untuk menjaga budaya shalawat tetap terjaga di kalangan pelajar Nahdliyin," tutur Mohammad Hendra selaku ketua PAC IPNU-IPPNU dalam sambutannya.?

IMNU Tegal

KH Ahmad Imam Jazuly dalam mauidhoh hasanah mengajak hadirin untuk mempertahankan tradisi dan amaliyah yang baik agar mendapat manfaat yang baik (Zamroni/Mukafi Niam)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal AlaNu, Ubudiyah, Quote IMNU Tegal

Jumat, 01 Desember 2017

NU: Partai Politik Harus Rekrut Legislator yang Berakhlak

Jakarta, IMNU Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, menilai beredarnya video porno yang diduga diperankan oleh anggota DPR RI, tak lepas dari kesalahan dalam proses rekrutmen legislator oleh partai politik. Di waktu mendatang aspek moral diminta disertakan dalam proses yang sama.

NU: Partai Politik Harus Rekrut Legislator yang Berakhlak (Sumber Gambar : Nu Online)
NU: Partai Politik Harus Rekrut Legislator yang Berakhlak (Sumber Gambar : Nu Online)

NU: Partai Politik Harus Rekrut Legislator yang Berakhlak

"Dulu rekrutmen legislator oleh partai hanya berdasarkan kemampuan menarik konstituen, entah pakai program atau pakai uang. Dulu aspek moral mungkin tidak dipertimbangkan, tapi yang akan datang ini harus menjadi pelajaran berarti. Partai politik harus bisa mencari legislator yang benar-benar berakhlak," kata Kiai Said di Jakarta, Selasa (24/4). 

Permintaan itu disampaikan Kiai Said untuk menjaga nama baik parlemen, yang belakangan banyak mendapatkan penilaian miring di mata masyarakat. "Ini untuk nama baik parlemen kita juga," tambahnya tegas.

IMNU Tegal

Meski demikian Kiai Said meminta agar pembuktian atas video porno yang diduga diperankan oleh anggota DPR RI tersebut dilakukan secara berhati-hati. Masyarakat diminta tidak mudah terprovokasi dan memberikan penilaian negatif terlebih dahulu. 

"Kalau betul itu anggota DPR kami jelas sangat menyayangkan, yang mana negara kita sedang mengalami kemerosotan moral yang luar biasa. Tapi itu harus dicek benar-benar dulu, harus tabayyun, harus diperiksa dengan teliti apakah itu benar anggota DPR yang kabarnya sangat terkenal," urai Kiai Said. 

IMNU Tegal

Mengaca pada kasus video porno yang sebelumnya juga beredar dengan pemeran anggota DPR RI, dimana pada prosesnya dilakukan  pemecatan terhadap pelakunya, langkah yang sama diminta dilakukan terhadap kasus terbaru ini. 

"Sekali lagi kalau memang itu benar ya harus dipecat. Ini untuk menjaga nama baik parlemen dan memberikan contoh ke masyarakat, bahwa tindakan-tindakan semacam itu tidak baik dan tidak dibenarkan," pungkas Kiai Said. 

Penulis: Emha Nabil Haroen

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Aswaja, Budaya, AlaNu IMNU Tegal

Rabu, 22 November 2017

Menneg Kominfo: Dampak Kenaikan BBM Dipikul Bersama-Sama

Surabaya, IMNU Tegal
Menteri Negara Komunikasi dan Informatika (Menneg Kominfo) Dr Sofyan A Djalil SH MA MALD menyatakan dampak kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) akan dipikul bersama-sama.

"Pemerintah menyadari kenaikan BBM memang akan menambah beban rakyat, tapi beban itu akan kita pikul bersama-sama, karena sebagaian subsidi BBM akan kita alihkan kepada rakyat miskin," katanya saat membuka dialog publik di Surabaya, Senin.

Di hadapan ratusan peserta dialog publik "Kebijakan Pengurangan Subsidi BBM: Kita Berhemat Untuk Rakyat" yang digagas Departemen Kominfo dan PP Lembaga Perekonomian NU itu, ia menjelaskan pengurangan subsidi BBM tanpa kompensasi akan menambah jumlah rakyat miskin.

"Tapi, karena pengurangan subsidi BBM sebesar 40,34 persen akan disertai dengan kompensasi kepada rakyat miskin untuk pendidikan, kesehatan, beras miskin, dan sebagainya sehingga jumlah rakyat miskin akan justru berkurang," katanya.

Menurut mantan anggota tim sukses Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu, dampak kenaikan harga barang pasca kenaikan BBM akan berkisar 0,1 persen hingga 1 persen, kecuali angkutan kota yang cukup tinggi berkisar 5-12 persen.

"Tapi, semuanya akan dipikul bersama, karena subsidi yang kita alihkan kepada rakyat miskin mencapai Rp61 triliun dengan patokan harga BBM 35 dolar AS per-barel, bahkan patokan harga BBM 2005 mencapai 50 dolar AS per-barel maka pengalihan subsidi BBM menjadi Rp100 triliun," katanya.

Doktor alumnus Tufts University Medford, Massachussetts, AS itu menyatakan pengurangan subsidi BBM didasarkan atas studi bahwa 82 persen dari subsidi BBM 2004 sebesar Rp74 triliun justru tak sampai kepada rakyat miskin yang seharusnya menikmati. "Itu tak adil atau dalam bahasa agama disebut dzalim, karena subsidi tidak kita berikan kepada orang yang berhak, karena itu kita akan kurangi dan kita alihkan kepada subsidi langsung kepada rakyat miskin. Itu tugas negara," katanya.

Oleh karena itu, katanya, subsidi BBM 2005 akan dialihkan kepada 9,6 juta anak miskin dari SD hingga SMA sebesar Rp5,6 triliun, 36 juta rakyat akan diberi asuransi kesehatan sebesar Rp2,2 triliun, dan 8,6 juta rakyat miskin diberi beras 20 kilogram/bulan/KK (Kepala Keluarga).

Selain itu, 11 ribu dari 26 ribu desa tertinggal akan diberi anggaran pembangunan Rp300 juta per-desa sebesar Rp3,3 triliun, rumah rakyat dengan subsidi Rp2,6 juta/rumah atau anggaran sebesar Rp400 miliar, dan  ratusan panti asuhan.

"Semuanya hanya Rp17 triliun untuk rakyat miskin, apalagi BBM yang terlalu murah telah terbukti justru meningkatkan penyelundupan dan mematikan pengembangan energi alternatif, karena gas Indonesia justru banyak dinikmati rakyat Singapura akibat harga tidak kompetitif dengan BBM," katanya.

Acara yang dihadiri Ketua PBNU H Masdar F Masudi dan Rois Syuriah PWNU Jatim KHA Masduqi Mahfudh itu menampilkan pembicara Dr Dedi Maskur Riyadi (Deputi Kepala Bappenas RI), Dr Qurtubi (pakar perminyakan UI), KH Drs Ali Maschan Moesa MSi (Ketua PWNU Jatim), Anwar Hudiono (pers), dan Dr Ir H Umar Said (pakar energi).

Kontributor : Paryono N. Abdillah

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal IMNU, AlaNu IMNU Tegal

Menneg Kominfo: Dampak Kenaikan BBM Dipikul Bersama-Sama (Sumber Gambar : Nu Online)
Menneg Kominfo: Dampak Kenaikan BBM Dipikul Bersama-Sama (Sumber Gambar : Nu Online)

Menneg Kominfo: Dampak Kenaikan BBM Dipikul Bersama-Sama

Kamis, 09 November 2017

Nursiah Ismail, Qoriah Kebanggaan Kalbar

Pontianak, IMNU Tegal. “Kuncinya adalah berlatih keras dan berguru kepada banyak orang,” aku Nursiah, qoriah nasional-internasional asal Pontianak, Kalimantan Barat, ketika ditanya kunci kesuksesannya dalam seni baca Al-Quran.

Nursiah Ismail, Qoriah Kebanggaan Kalbar (Sumber Gambar : Nu Online)
Nursiah Ismail, Qoriah Kebanggaan Kalbar (Sumber Gambar : Nu Online)

Nursiah Ismail, Qoriah Kebanggaan Kalbar

Tak tangugung-tanggung, Nursiah mencapai reputasi tertinggi di bidang itu. Pada tahun 1969, ketika usianya 12 tahun, ia menggondol juara I pada MTQ Nasional tingkat kanak-kanak, di Bandung, Jawa Barat. 

Pada tahun yang sama, ia mewakili Indonesia pada MTQ Internasional di Kuala Lumpur, Malaysia. Pada waktu itu, ia memperoleh juara kedua. Pada tahun 1973, ia menyabet juara pertama tingkat remaja, pada MTQ Nasional di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

IMNU Tegal

Kemudian 1975 pada MTQ Nasional di Palembang, Sumatera Selatan, ia kembali meraih juara I tingkat dewasa. Di tahun itu pula, puncaknya prestasinya ia genapkan dengan sebagai Juara I MTQ Internasional di Kula Lumpur.

IMNU Tegal

Faktor lain, Nursiah ditunjang kemerduan suara dan kemahiran dalam membawakan variasi-variasi baca Al-Quran. Menurut Nursiah, hal itu diwariskan dari darah seni ayahnya yang juga menyukai seni tarik suara. 

“Ayah saya memang orang seni. Dia salah seorang pemain gambus, senang nyanyi Melayu dan seni zapin Melayu. Dia orang seni sejak bujangan,” ujar Nursiah, menjelaskan profil ayahnya.

Masaa muda Nursiah juga sering menyanyi gambus dan kasidah grup Irhamni pimpinan Ahmad Mahmud. “Ibu masuk semua. Dangdut, pop juga bisa, kasidah apa lagi,” aku pengagum Umu Kultsum Mesir dan Nur Aisyah Jamil Sumatera Utara ini.

Tapi, lanjut penyuka lagu Ifroh ya Albi ini, menyanyi waktu itu hanyalah sampingan saja. Yang diutamakan adalah seni baca Al-Quran.  

Kemerduan suaranya, meski menginjak usia 56 tahun, masih diakui sesama qoriah lain. “Bu Nursiah itu seangkatan saya di tahun 75, ketika saya ikut MTQ Nasional remaja. Suaranya sampai sekarang masih bagus. Qoriah-qoriah nasional yang saya ngefans itu, salah satunya Bu Nursiah,” aku Hj. Maslahah Zen, qoriah nasional asal Surabaya, Jawa Timur.

Hal itu dikuatkan pula oleh HM Tuwok, seorang qori asal Kalimantan Barat. “Meski sudah berumur, suaranya masih bagus,” terang Ketua Umum JQH NU Kalimantan Barat ini.

Karena itulah pada saat pembukaan MTQ Nasional VII, MTQ Nasional I dan Musyawarah Nasional IV JQH NU, ia didaulat mengumandangkan ayat-ayat suci al-Quran di hadapan ribuan orang, di stadion Sultan Syarif Abdurahman, Pontianak. 

“Walaupun nafas sudah pendek, tapi kita masih bisa memainkan variasi-variasi lagu,” terang Nursiah.

Masa kecil susah

Nama lengkapnya Nursiah Ismail. Ia lahir 15 Agustus 1956 di Kampung Kapur, Desa Saigon, Kecamatan Pontianak Timur, Pontianak, Kalimantan Barat. “Letak kampung ibu di tepi sungai Kapuas,” tambahnya.

Seperti anak-anak lain di kampungnya, Nursiah bersekolah di sebuah SD, 1 km dari rumahnya. Setamat SD, melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah. 

“Sewaktu di Tsanawiyah, tiap pagi ibu nyeberang sungai Kapuas, memakai sampan. Karena sering tak punya uang, ibu sering berhutang kepada tukang sampan. Kemudian setelah menumpuk, ayah membayarnya. Sempat sekolah di SMA, tapi tak tamat. Jadi nggak sempat kuliah,” jelasnya.

“Sekolah waktu itu susah, putus-putus. Memang udah keadaan begitu. Ibu juga tak bisa menyalahkan orang tua. Keadaan rumah itu adik ramai. Kita mau nuntut sekolah tinggi juga nggak bisa.

Nursiah mengaku, hal itu disebabkan biaya. Sebagai seniman di kampung, ayahnya tidak terlalu mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Sehingga ia nyambi juga sebagai seorang tukang bangunan. Tapi itu pun tidak mencukupi. Sementara ibunya adalah petani sawah.

“Ayah harus menghidupi 14 anak-anaknya. Ibu nomor 10. Kalau hidup semua ada 18 orang. Jangankan untuk beli baju, untuk makan pun susah. Banyak yang nggak lancarlah! Sekarang tinggal 6 bersaudara. Semua tinggal di Pontianak.” 

Berguru kepada para ahli qori

Meskipun demikian, Nursiah tidak putus asa, kesenangan kepada seni suara, ia lampiaskan untuk belajar lebih giat kepada seorang qori terkenal, ahli tajwid di kampungnya, Ustad Fauzi Arsyad. 

Fauzi Arsyad adalah qori nomor satu di Kalbar yang disegani KH Abdul Aziz Muslim, seorang qori di Tegal, Jawa Tengah. Selain kepadanya, ia juga berguru kepada ustadz Haji Ja’far Yahya, terkenal dalam bidang lagu. Ia sampai menguasai 14 lagu. Selain itu, ada ustadz H Abdul Rasyid Mahmud yang mengusai bidang fashohah.

“Ibu berguru juga kepada KH Abdul Aziz Muslim, Kiai Asyiri. Beliau-beliau itulah yang melatih kita tahun 1969 dan 1975. Pernah juga berguru kepada Syekh Azra’i Abdur Rauf Deli, Sumatera Utara. Pokoknya siapa pun kiai, qori, ibu datangi semua,” ujarnya. 

Umur 18 tahun, Nursiah menikah dengan Drs H Nurdin Mikhrad  yang bertugas di Departemen Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat. Meskipun demikian, kehausan menimba ilmu tidak kurang. 

Ia masih menyempatkan belajar kepada juara I MTQ Nasional I KH Syahid di Cicalengka, Bandung, Jawa Barat. 

“Ibu belajar kepadanya sampai setengah bulan. Bersama istrinya, pernah diajak beliau ke Cirebon untuk mengisi acara sama istrinya. Pokoknya di mana guru, dimana kiai, ibu datangi,” 

Ia bersyukur karena suaminya sangat mendukung aktivitasnya itu. “Suami ibu itu, kemana pun ibu pergi, silakan. Asal tujuan baik. Tidak pernah menghalangi, Alhamdulillah.

Selain itu, ia sering bolak-balik Jakarta-Pontianak, misalnya untuk rekaman bersama qori-qoriah lain dan atau rekaman selawat.

“Muammar pernah ngajak rekaman. Pernah juga rekaman duet dengan Mawadah, Sarini Abdullah, Nur Aisyah Amin. Cuma beberapa tahun ini udah dapat cucu, susah mau berangkat,” ujar nenek dari lima cucu ini.

Karena aktivitasnya itu, pergaulannya menjadi luas. “Kalau ke Jakarta, ibu senang mampir di umi Sayidah Ahmad, bibinya Tuti Alawiyah. Sama Tuti Alawiyah juga akrab. Ia yang mendampingi ibu ke MTQ Internasional di Kuala Lumpur.”

Karena prestasinya itu, ia sering diundang ke luar negeri seperti Thailand, Kerajaan Brunei Darus Salam, Malaysia misalnya ke Serawak dan Kuching. 

“Pernah mengajar qori-qoriah di Malaysia di Miri sampai setahunan. Tiga bulan, pulang. Tiga bulan, pulang. Pernah juga melatih di Batam, di Natuna hingga sekarang juga masih.

Hingga kini, aktivitasnya masih padat. Ia sering diundang menjadi dewan juri nasional, pendamping perwakilan dari Kalimantan Barat. Pembina di Jam’iyyatul Qurra wal-Huffaz Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat, mengisi pengajian dan memimpin selawat di majelis-ta’lim ibu-ibu.  

Kebanggaan Kalbar 

“Wah, Umi Nursiah itu kebanggaan Kalbar, Mas. Bukan Kalbar saja, tapi nasional dan internasional juga,” aku Salbiyah, seorang murid yang sering mengikuti majelis ta’lim Nursiah. 

Menurut Salbiyah, belum ada suaranya yang seperti Nursiah. “Dari Kalbar memang sudah ada yang mendapat juara, baik nasional maupun internasional, tapi belum ada yang suaranya seperti Umi,” tambahnya.  

Selain itu, Salbiyah memuji pilihan Nursiah yang tidak meninggalkan Kalbar. Padahal ia sangat memungkinkan untuk itu. 

Menurut Nursiah, hal itu disebabkan kecintaannya kepada Kalbar.“Saya menetap di sini karena masih tetap cinta dengan Kalbar. Banyak yang minta pindah ke Jakarta,” aku Nursiah yang dikaruniai dua putera, dua puteri. 

Selain Salbiyah, pengagumnya adalah HM Tuwok, “Saya sejak kecil termotivasi hajah Nursiah Ismail. Ketika kecil, orang tua sering mendorong saya untuk seperti qoriah hajah Nursiah,” ujarnya. 

Kepada generasi muda yang tertarik seni baca Al-Quran, Nursiah berpesan supaya belajar keras, dan banyak berguru kepada ahlinya. 

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal AlaNu, Berita IMNU Tegal

GP Ansor Kencong Bantu Warga Miskin

Jember, IMNU Tegal. Orang-orang yang hidupnya tak layak atau berada? di bawah garis kemiskinan adalah luka sosial yang tak henti-hentinya memunculkan iba dan menguras emosi jiwa. Inilah yang mendorong GP.Ansor Kencong untuk memberikan bantuan kepada mereka, Ahad (15/1).

Bekerja sama dengan anggota Sanlat (Pesantren Kilat) GP Ansor Kencong menyalurkan bantuan berupa sembako kepada puluhan janda dan fakir miskin di sekitar SD Assunniyah, Kencong, Jember, Jawa Timur.

GP Ansor Kencong Bantu Warga Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Kencong Bantu Warga Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Kencong Bantu Warga Miskin

Menurut Ketua PC. GP. Ansor Kencong, Muhammad Yasin Yusuf Ghazali, bantuan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi “kesusahan” mereka. Betapapun kecilnya, bantuan itu diharapkan dapat bermanfaat untuk meringankan beban hidup mereka.

“Harapan kami semoga ini dapat sedikit mengurangi beban hidup mereka yang sangat berat,” katanya kepada IMNU Tegal.

Yasin menambahkan, hidup hari-hari ini memang sangat melelahkan. Jangankan warga miskin, mereka yang tergolong hidup berkecukupan saja, juga tak gampang menyambung hidup di tengah gejolak mahalnya harga sembako.

“Saat ini masyarakat susah. (Harga) ini naik, itu naik. Belum lagi ancaman naiknya harga BBM. Kenaikan tarif listrik, jangan dikira tidak berpengaruh pada ekonomi rakyat kecil,” lanjutnya.

IMNU Tegal

Yang unik, bantuan tersebut dibagikan oleh sejumlah murid SD Assunniyah. Tujuannya adalah untuk melatih mereka agar menjadi orang yang ahli sedekah kelak.

Dikatakan Yasin, sedini mungkin anak-anak perlu dibiasakan berjiwa dermawan dan melihat secara langsung kondisi sosial. Hal ini untuk melatih kepekaan mereka dalam menyaksikan ketimpangan sosial yang terjadi.

“Mereka adalah aset bangsa. Kita berharap mereka tumbuh dengan jiwa sosial yang tinggi, selain kecerdasan yang membanggakan, tentunya,” pungkas Yasin. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal AlaNu, Warta, Berita IMNU Tegal

Senin, 06 November 2017

Dakwah NU Memotivasi Bukan Memarahi

Probolinggo, IMNU Tegal. Mustasyar PCNU Kota Kraksaan H. Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa model dakwah yang disampaikan NU tidak sama dengan yang lain. Karena dakwah NU itu adalah memberikan motivasi dan bukan memarahi.

Dakwah NU Memotivasi Bukan Memarahi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dakwah NU Memotivasi Bukan Memarahi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dakwah NU Memotivasi Bukan Memarahi

Hal tersebut disampaikan oleh H Hasan Aminuddin dalam pelantikan pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Kraksaan masa khidmat 2016-2018 di GOR Sasana Krida Kota Kraksaan, Selasa (31/1) malam.

“Model dakwah NU mengedepankan sebuah toleransi. Artinya, yang sudah beda jangan dipaksa untuk sama. Begitu juga sebaliknya, yang sudah sama jangan dicari agar bisa berbeda,” katanya.

Menurut Hasan, GP Ansor ini adalah salah satu badan otonom (banom) NU. Dimana GP Ansor ini merupakan forum pengkaderan pengurus sebelum menjadi pengurus maupun Ketua NU di tingkat cabang.

IMNU Tegal

“Sehingga ketika nanti saatnya diberi amanah menjadi ? pemimpin bukanlah seorang pemimpin yang prematur, tetapi pemimpin yang tangguh menghadapi segala tantangan,” jelasnya.

A’wan PWNU Jawa Timur ini menerangkan bahwa Banser dan Pagar Nusa merupakan benteng di depan dari para ulama NU. Selama sesuai dengan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan peraturan perundang-undangan di Indonesia, jangan takut kepada sesama manusia tapi hanya takut kepada Allah SWT.

“Saya bangga mempunyai Banser yang siap menjadi benteng ulama NU. Saya ingin memberikan akhlak dan etika agar nantinya tidak ikut terhanyut dan membuat malu. Jangan bangga dengan besarnya kalian, tapi harus bangga melihat kelebihan orang lain,” terangnya.

IMNU Tegal

Dalam hal konteks keBhinnekaan jelas Hasan, Indonesia sedang diuji. Indonesia dihuni bukan orang Islam saja, tetapi beragam agamanya. Serta suku dan budaya yang beragam. NU tidak mengenal perbedaan, karena NU itu rahmatan lil alamin.

Pelantikan PAC GP Ansor Kecamatan Kraksaan ini dihadiri oleh Wakapolres Probolinggo Kompol Hendy Kurniawan, Kasdim 0820 Probolinggo Mayor Inf. Teguh Hery Wignyono, Habib Zainal Abidin dari Desa Klaseman Kecamatan Gending, sejumlah Kepala Perangkat Daerah, Forkopimka Kraksaan serta Kepala Desa dan Lurah se-Kecamatan Kraksaan. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Halaqoh, AlaNu IMNU Tegal

Rabu, 25 Oktober 2017

Masyarakat Banjit Antusias atas Penyembuhan Alternatif GP Ansor

Way Kanan, IMNU Tegal. Sukses menggelar penyembuhan alternatif Aji Tapak Sesontengan (ATS) bersamaan dengan pasar murah, Ahad (18/6), di Kampung Neki, Banjit, Way Kanan, Lampung masyarakat meminta PAC GP Ansor Banjit untuk menggelar kegiatan serupa.

"Antusias masyarakat bagus sekali terhadap penyembuhan dilakukan sahabat Ketua PC GP Ansor Way Kanan sahabat Gatot Arifianto. Harapan mereka, kegiatan bisa digelar lagi," ujar Ketua PAC Ansor Banjit, Yudi Hutri Winata, di Way Kanan, Selasa (20/6).

Masyarakat Banjit Antusias atas Penyembuhan Alternatif GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Masyarakat Banjit Antusias atas Penyembuhan Alternatif GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Masyarakat Banjit Antusias atas Penyembuhan Alternatif GP Ansor

Saat menggelar penyembuhan alternatif di Kampung Neki, Gatot yang merupakan Kamituo (Master) ATS diserbu kurang lebih 50 masyarakat.

Masyarakat mengaku penyakit asam urat, rabun, maag, jantung yang mereka derita mengalami perbaikan signifikan.

IMNU Tegal

Vera Heryati, misalnya, mengaku ada perbaikan setelah ditangani aktivis Gusdurian Lampung itu.

Sejak empat bulan lalu, Vera memutuskan untuk berhenti dari SMA N 1 Banjit sehubungan tidak bisa duduk dan menulis. Bagian tangan dan kaki Vera terasa keras dan lututnya terasa sakit sehingga tidak bisa untuk duduk bersila.

Namun setelah ditangani Gatot yang juga praktisi hypnosis dan Neo Neuro Lingusitic Programing itu, kondisi Vera sudah mulai membaik. Bagian-bagian tubuh Vera yang tegang sudah mulai mengendur dan tidak keras lagi. Ia juga sudah bisa membuat sambal pada sore hari untuk berbuka puasa setelah ditangani siang hari.

"Jadi PAC Ansor Banjit berharap kegiatan serupa bisa digelar kembali sehubungan sangat membantu menyembuhkan masyarakat kurang mampu yang menderita penyakit jika ditangani dokter biayanya tidak terjangkau," ujar Yudi. (Darma Cakra/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Meme Islam, AlaNu, Ulama IMNU Tegal

Sabtu, 21 Oktober 2017

IPNU-IPPNU Karanglo Bersilaturahim dengan Pelajar dan Masyarakat

Jombang, IMNU Tegal - Terhitung sebulan, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Ranting Karanglo, Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur berdiri. Saat ini sejumlah pengurus sedang menyiapkan momen pelantikan untuk pengesahan.

Namun, meski belum dilantik, para Pengurus Ranting IPNU-IPPNU Karanglo mulai membangun keakraban dengan masyarakat dengan cara membudayakan silaturrahim kepada warga dan sejumlah tokoh masyarakat.

IPNU-IPPNU Karanglo Bersilaturahim dengan Pelajar dan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Karanglo Bersilaturahim dengan Pelajar dan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Karanglo Bersilaturahim dengan Pelajar dan Masyarakat

Salah satu pengurus IPPNU Ranting Karanglo Izzatul Mufidati menuturkan, sejak sepekan lalu, dirinya dan pengurus yang lain berkeliling desa mendatangi beberapa kediaman tokoh masyarakat. Hal itu untuk meminta mereka berkenan menjadi pembina IPNU-IPPNU Ranting Karanglo.

"Tanggal 20 Januari lalu, saya dan pengurus lainnya sowan ke rumah Pak Hadi, salah satu tokoh masyarakat di desa untuk merunding beliau menjadi pembina sekaligus meminta saran," tuturnya, Kamis (26/1).

IMNU Tegal

Dijelaskan Izzah, setiap pengurus mengunjungi beberapa tokoh masyarakat, ia mengaku selalu direspon positif dan diberikan saran positif pula. "Kalau sulit, jangan patah semangat, karena pasti ada jalan lain," kata Izzah menirukan ucapak Pak Hadi saat itu.

IMNU Tegal

Prihal sama juga didapati pengurus saat bersilaturrahim kepada tokoh masyarakat yang lain. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kyai, Anti Hoax, AlaNu IMNU Tegal

Selasa, 03 Oktober 2017

Kiai Dzikron Tetap Mudir Idaroh Wustho

Banjarnegara, IMNU Tegal
Musyawarah Idaroh Wustho Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mutabarah An-Nahdliyyah (Jatman) Jawa Tengah, Sabtu-Minggu (30-31/7), di Pesantren Al Fatah Banjarnegara, lancar. Sedikitnya 750 kiai dari seluruh idaroh syubiyyah di Jawa Tengah mengikuti semua agenda acara dengan khidmat.

Acara yang dimulai Sabtu (30/7) pukul 21.00 itu diawali serangkaian sambutan dari pengasuh Pesantren Al Fatah Banjarnegara KH Hasyim Hasan, Mudir Idaroh Wustho Jateng KH Dzikron Abdulloh, PWNU Jateng KH Masruri Mughni, dan Mudir Aam Idaroh Aliyah KH Muhaiminan G.

Tampak pula pada acara pembukaan, Bupati Banjarnegara Djasri MT dan Kepala Bakorlin III Tjipto Hartono mewakili Gubernur Jateng. Ketua Idaroh Aliyah KH Habib M Luthfi bin Ali bin Yahya baru datang menjelang tengah malam. Kedatangannya mendapat sambutan antusias dari jamaah yang telah lama menunggunya.

KH Habib M Luthfi bin Ali bin Yahya sempat pula melantik pengurus Idaroh Syubiyyah Kabupaten Banjarnegara. Dia berpesan kepada semua pengurus untuk bekerja sama dengan baik. Sebelumnya telah diserahkan satu unit mobil Daihatsu Xenia untuk mendukung kelancaran operasional Idaroh Wustho Jateng.

Pembukaan musyawarah Idaroh Wustho juga disertai dengan pengajian umum dan Manaqib Kubro atau pembacaan riwayat hidup para ulama. Selanjutnya dirangkai dengan istighotsah atau doa bersama untuk perdamaian umat manusia. Pengajian umum disampaikan oleh KH Drs Chisnullah Abdurrahiem dan KH Habib M Luthfi bin Ali bin Yahya. Adapun istighotsah dan manaqib kubro dipandu oleh KH Latif Mastur, KH Zaini Mawardi, KH Ulin Nuha Arwani, KH Salman Dahlawi, KH A Chalwani N, KH Hasyim Hadi, dan KH Rozaq.

Banyak Masukan

Agenda hari kedua musyawarah yang berlangsung pagi hari adalah pembahasan program kerja oleh Komisi B, pembahasan masalah-masalah dalam masyarakat (bahtsul masail) oleh Komisi A, dan rapat formatur untuk menentukan pengurus Idaroh Wustho Jateng masa khidmat 2005-2010.

Pembahasan program kerja oleh Komisi B lancar dan menarik. Sebab, delegasi dari setiap Idaroh Syubiyyah memberikan apresiasi baik dengan saran maupun berbagai pertanyaan. Di antaranya adalah usulan untuk dibentuk forum tersendiri guna koordinasi ke bawah di luar Istighotsah dan manaqib kubro.

Usulan lainnya yang sempat terhimpun adalah segera dilakukan perbaikan organisasi atau reorganisasi, terutama di tingkat Idaroh Syubiyyah. Sebab, beberapa kabupaten sedang mengalami masalah dalam organisasi.

Salah satunya, Kebumen. Harapannya, setelah kepengurusan Idaroh Wustho terbentuk dan dilantik, segera melakukan perbaikan di Idaroh Syubiyyah (kabupaten).

Sidang Komisi B itu lancar dan singkat. Hanya dengan waktu sekitar satu setengah jam, rancangan program kerja yang terdiri atas empat bidang, yakni organisasi, pengembangan, konsolidasi keanggotaan, dan keuangan, tidak mengalami banyak perubahan.

Pembahasan masalah-masalah di masyarakat oleh Komisi A di Masjid Al Fatah hanya mengenai dua hal, dari tiga yang diagendakan. Dua masalah tersebut adalah hukum penyembelihan hewan yang terlebih dahulu dibius sebelum disembelih serta hukum daging dalam kaleng yang pemotongannya tidak diketahui.

Sidang Komisi A yang dipimpin oleh KH Ahmad Kholil dari Jepara memutuskan, hukum penyembelihan hewan yang terlebih dahulu dibius adalah haram. Adapun hukum daging dalam kaleng yang tidak diketahui pemotongannya adalah haram, bila tidak diketahui yang menyembelih muslim atau bukan. Kecuali di daerah yang banyak muslimnya.

Menjelang shalat zuhur, Musyawarah Idaroh Wustho Jatman Jawa Tengah ditutup dengan pengumuman pengurus Idaroh Wustho masa khidmat 2005-2010. Dalam rapat formatur di kediaman KH Hasyim Hasan Fattah itu akhirnya KH Dzikron Abdulloh terpilih kembali menjadi Mudir Idaroh Wustho Jatman Jawa Tengah masa khidmat lima tahun ke depan. Sekretarisnya adalah KH Syaroni dan Aminus Sunduq Dr dr Habib Ahmad Syakir.

Duduk di jajaran Ifadliyah adalah KH Latif Mastur Ihsan sebagai rois, KH Hasyim Hasan Fattah sebagai rois awal, dan KH Choironi sebagai katib.(SM/cih)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal AlaNu, News IMNU Tegal

Kiai Dzikron Tetap Mudir Idaroh Wustho (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Dzikron Tetap Mudir Idaroh Wustho (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Dzikron Tetap Mudir Idaroh Wustho

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock