Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2018

Hadapi Teroris, Pemerintah Siapkan ISA

Jakarta, NU.Online
Undang-Undang Antiterorisme tampaknya belum mampu membuat pemerintah percaya diri menghadapi aksi-aksi terorisme. Kini pemerintah Megawati Soekarnoputri sedang serius menyiapkan undang-undang pengamanan internal (internal security act/ISA).

Undang-undang ini akan memberikan kewenangan luas kepada pemerintah untuk menangkap dan menahan seseorang tanpa vonis pengadilan. Rencana penerapan UU yang sangat ditakuti para aktivis HAM ini akan dibahas dalam rapat koordinasi menteri bidang politik dan keamanan (polkam) Kamis mendatang.

Baik Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Mendagri Hari Sabarno, maupun Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto setuju bahwa ISA sangat diperlukan untuk memberantas terorisme. Menurut mereka, ISA sangat diperlukan pemerintah sebagai payung hukum untuk melakukan tindakan preventif.

Menurut Yudhoyono, UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Terorisme belum memadai. Sebab, undang-undang tersebut tak mengatur cara mencegah terjadinya terorisme. "Yang jelas, pemerintah sangat memerlukan perangkat undang-undang yang memungkinkan aparat bertindak preventif untuk mendeteksi kembali terjadinya teror," kata Yudhoyono kepada pers di Istana Negara.

Setelah terjadi ledakan bom di Hotel JW Marriott, kata Yudhoyono, pemerintah merasa perlu mengkaji kembali cara paling efektif memberantas teroris di masa mendatang. Karena itu, jajaran polkam akan mempertimbangkan perlunya ISA atau merevisi UU Nomor 15 Tahun 2003. "Kamis mendatang, hal itu akan kami bahas di jajaran polkam," ujarnya.

UU Nomor 15 Tahun 2003 hanya memberi hakim kewenangan menggunakan laporan intelijen untuk melakukan penyidikan seperti yang tercantum dalam pasal 26. UU tersebut tak memberi pemerintah wewenang untuk menahan dan memeriksa orang atau kelompok yang diduga kuat mengancam keamanan negara. "Posisi ini jelas tak menguntungkan pemerintah untuk mencegah tindakan teror," kilahnya.

Untuk menghindari ancaman terorisme, menurut Yudhoyono, perlu adanya operasi intelijen secara intensif. Sebab, terorisme bisa muncul setiap saat dan tak bisa ditunggu. "Teroris itu bisa menunggu sehari, seminggu, bahkan berbulan-bulan untuk melakukan teror saat kita lengah." paparnya.

Senada dengan Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto pun mendukung penerapan ISA. Menurut dia, setelah UU Antisubversi dicabut, terlihat terjadi peningkatan aksi terorisme. Karena itu, diperlukan perangkat hukum untuk melakukan tindakan preventif. "Itu hanya bisa terakomodasi dengan alat hukum ISA," tandas Endriartono usai peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional di Istana Negara.

Endriartono mengungkapkan, sampai saat ini Indonesia belum memiliki UU yang memadai untuk mencegah terorisme. UU Nomor 15 Tahun 2003 pun belum mencukupi.

Apakah tak memunculkan penyalahgunaan ISA? Endriartono tak menampiknya. Dia mengakui, memang selalu ada kemungkinan seperti itu. "Tapi, kemungkinan seperti itu bisa kita koridori dengan rambu-rambu supaya orang yang menggunakannya tak keluar dari tujuan ISA," kilahnya.

Pentingnya ISA, kata Endriartono, karena teroris menyerang masyarakat yang tak berdosa. Padahal, kemungkinan aksi tersebut ditujukan kepada pemerintah. "Itu mengapa tidak kepada saya, misalnya."

Sementara itu, Hari Sabarno menegaskan, semua bangsa dan negara harus memiliki UU seperti ISA. Jika suatu bangsa tak memiliki kepedulian terhadap internal security, bisa muncul masalah. "Mendirikan rumah kan perlu pagar. Jadi, ISA itu wajar," katanya.

Menurut Hari, yang penting ISA berlaku wajar dan proporsional agar masalah keamanan tak terkesan militeristik. Metode dan penerapannya harus profesional dan proporsional sehingga tak terkesan negara dalam keadaan darurat. Selain itu, ISA tak boleh dipergunakan sebagai alat politik karena bisa memunculkan masalah. ’"Tapi, ini (ISA, Red) memang diperlukan," tandasnya.

Kapan pemerintah mengajukan ISA? Menurut Hari, pengajuan ISA merupakan hak legislasi DPR. "Karena itu, lebih baik DPR segera merespons untuk mengajukan ISA."


Belum Relevan

Berbeda dengan pemerintah, DPR menganggap pemberlakuan ISA belum relevan dalam situasi sekarang ini. Menurut anggota Komisi I Hajrianto Tohari, DPR akan lebih fokus pada evaluasi pelaksanaan UU Antiterorisme sebelum berpikir untuk membuat ISA. "Lagi pula, kalau sekarang dibuat ISA, aparat penegak hukum akan semakin bingung, karena terlampau banyaknya acuan. Jadi, penyelidikan kasus-kasus tDari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Berita IMNU Tegal

Hadapi Teroris, Pemerintah Siapkan ISA (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Teroris, Pemerintah Siapkan ISA (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi Teroris, Pemerintah Siapkan ISA

Minggu, 11 Februari 2018

Hukum Membaca Al-Quran dengan Langgam Batak atau Jawa

Assalamu’alaikum wr. Wb. Redaksi Bahtsul Masail yang kami hormati, baru-baru ini kita mengikuti polemic mengenai boleh-tidaknya membaca al-Quran dengan langgam selain langgam Arab, misalnya dengan langgam Batak atau Jawa. Yang ingin saya tanyakan bolehkan membaca al-Quran dengan langgam Batak atau Jawa? Atas penjelasannya kami ucapkan terimakasih. Wassalamu’alaikum wr. wb (Munawwir/Sragen)

--

Assalamu’alaikum wr. Wb

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Membaca al-Quran merupakan ibadah yang sangat besar pahalanya, bahkan disunnahkan juga mengindahkan bacaannya. Sampai disini sebenarnya tidak ada persoalan. Persoalan kemudian timbul ketika membaca al-Quran dengan langgam non-Arab. Misalnya langgam Jawa atau Batak.

Hukum Membaca Al-Quran dengan Langgam Batak atau Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Membaca Al-Quran dengan Langgam Batak atau Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Membaca Al-Quran dengan Langgam Batak atau Jawa

Untuk menjawab pertanyaan ini maka kami akan menghadirkan pandangan para ulama tentang pembacaan al-Quran dengan pelbagai langgam. Asy-Syasyi dalam kitab al-Hilah mendokumentasikan tentang perbedaan para ulama dalam menyikapi pembacaan al-Quran dengan pelbagai langgam. Menurutnya ada dua kalangan ulama, ada yang membolehkan dan ada yang tidak.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

IMNU Tegal

“Asy-Syasyi dalam kitab al-Hilah, adapun membaca (al-Qur`an) dengan pelbagai langgam maka sebagian kalangan membolehkan sedang kalangan yang lain melarangnya. (Lihat ar-Ramli, Hasyiyah ar-Ramli, juz, 4, h. 344)

Sedangkan imam Syafii cenderung untuk memerinci. Menurutnya membaca al-Quran dengan pelbagai langgam adalah boleh sepanjang tidak merubah huruf dari nazhamnya. Namun apabila sampai menambahi hurufnya maka tidak diperbolehkan. ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

IMNU Tegal

“Asy-Syasyi dalam kitab al-Hilah, adapun membaca (al-Qur`an) dengan pelbagai langgam maka sebagian kalangan membolehkan sedang kalangan yang lain melarangnya. Imam Syafi’i memilih untuk merincinya, jika membacanya dengan pelbagai langgam yang tidak sampai merubah huruf dari nazhamnya maka boleh, tetapi apabila merubah hurufnya sampai memberikan tambahan maka tidak boleh” (Hasyiyah ar-Ramli, juz, 4, h. 344)

Pandangan imam Syafii sebenarnya ingin menegaskan bahwa boleh saja al-Quran dibaca dengan pelbagai langgam asalkan tidak merusak tajwid, mengubah orisinalitas huruf maupun maknanya. Pandangan imam Syafii tersebut kemudian diamini juga oleh ad-Darimi dengan mengatakan bahwa membaca al-Quran dengan pelbagai langgam adalah sunnah sepanjang tidak menggeser huruf dari harakatnya atau menghilangkannya. Sebab, menggeser atau menghilangkan huruf dari harakatnya adalah haram.? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ad-Darimi berkata, membaca dengan pelbagai langgam itu disunnahkan sepanjang tidak menggeser huruf dari harakatnya atau menghilangkannya karena hal itu diharamkan”. (Hasyiyah ar-Ramli, juz, 4, h. 344)

Dengan mengaju pada penjelesan singkat ini, maka jawaban kami atas pertanyaan di atas adalah boleh membaca al-Quran dengan langgam Batak atau Jawa sepanjang tidak menabrak sisi tajwid, makharij huruf, dan terpeliharanya orisinalitas makna al-Quran itu sendiri.?

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Sikapilah perbedaan pandangan dengan bijak. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari pada para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb

(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

?

*Ilustrasi: Muhammad Yaser Arafat yang melantunkan Al-Quran dengan langgam Jawa di Istana Negara beberapa waktu lalu dan memicu polemik.

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Ulama, Berita IMNU Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Ini Alasan Pak Jimmi Peluk Agama Islam

Jakarta, IMNU Tegal - Jimmi didampingi dua sahabatnya mendatangi Kantor Lembaga Takmir Masjid (LTM PBNU) di Lantai 4 Gedung PBNU, Selasa (31/10) pagi. Dengan mengenakan kemeja tangan panjang ia datang dengan suka rela untuk menyatakan keislamannya di depan pengurus harian PBNU.

Menurut pria setengah baya lebih ini, ia untuk sekian lamanya mengamati praktik keislaman dan mempelajari ajaran Islam. Pada agama Islam ini ia kemudian menemukan jawaban.

Ini Alasan Pak Jimmi Peluk Agama Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Alasan Pak Jimmi Peluk Agama Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Alasan Pak Jimmi Peluk Agama Islam

“Saya ingin memiliki pegangan hidup. Saya merasa cocok dengan Islam. Saya sudah mengamati sejak lama. Islam lebih cocok bagi saya dibanding agama saya sebelumnya,” kata Jimmi kepada IMNU Tegal.

Ia juga mengatakan bahwa dirinya ingin sekali sejak lama tertarik pada NU karena NU menurutnya simpel dalam praktik agama, terutama praktik shalat. “Sebenarnya saya sudah lama tertarik dengan NU. Tetapi tidak ada yang bawa ke sini. Syukurlah ini dibawa pak Anto.”

IMNU Tegal

Jimmi mengatakan bahwa ia memeluk Islam tanpa paksaan dari pihak manapun. Ia menyatakan setuju kalau ikrar keislamannya dipublikasi di IMNU Tegal.

“Saya tinggal di Setiabudi. Saya memeluk Islam karena kemauan saya sendiri,” kata Jimmi kepada IMNU Tegal.

IMNU Tegal

Ia dibimbing untuk membaca dua kalimat syahadat oleh Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) KH Mahbub Maafi. Ia tampak mantap dalam mengikuti bacaan dua kalimat shayadat sehingga para saksi segera menyatakan bahwa ikrarnya sah. Ia dianjurkan untuk mempelajari tatacara shalat dan mengerjakannya secara berjamaah di mushalla atau di masjid. Ia diberikan buku pedoman praktis shalat oleh pengurus harian LTM PBNU.

“Saya sebenarnya ingin nama baru, nama Islam.” (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Berita IMNU Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Puasa dan Kejujuran

Oleh KH Zakky Mubarak



Salah satu hikmah dari pelaksanaan puasa Ramadhan adalah menumbuhkan sikap jujur, rajin menegakkan keadilan dan kebenaran. Ibadah puasa pada dasarnya memerlukan kejujuran dari setiap orang yang melaksanakannya, baik jujur terhadap dirinya atau terhadap orang lain. Tanpa kejujuran tidak mungkin ada ibadah puasa, karena ibadah itu dilakukan dengan keinsyafan dan tidak ada pengawasan dari manusia lain.?

Puasa dan Kejujuran (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa dan Kejujuran (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa dan Kejujuran

Allah SWT memerintahkan kepada kita agar menegakkan kejujuran, kebenaran dan keadilan sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Maidah, 5:8).

Ayat tersebut memerintahkan kepada kita agar: (1) Selalu menegakkan kejujuran serta kebenaran karena Allah semata. Maksudnya kita berlaku jujur dan menegakkan kebenaran itu, tidak mengharapkan pamrih materi atau kemewahan dunia lainnya, tetapi hanya mengharap keridhaan Allah SWT (2) Menjadi saksi yang adil, apabila kita diperlukan untuk memberikan kesaksian, dalam rangka mencari kejelasan suatu perkara hendaknya bersedia menjadi saksi yang adil. Kita harus selalu terpanggil untuk ikut andil dalam melahirkan keputusan-keputusan yang benar dan jujur. (3) Jangan¬lah kebencian terhadap suatu kaum, mendorong kita untuk berbuat tidak adil. Menetapkan suatu hukum harus selalu berdasarkan keadilan, baik terhadap orang yang dicintai ataupun yang dibenci.

Yang dimaksud dengan jujur pada kajian ini adalah sikap yang tulus dalam melaksanakan sesuatu yang diamanatkan, baik berupa harta ataupun tanggung jawab. Orang yang melaksanakan amanat dijuluki dengan sebutan “al-Amin” artinya orang yang terper¬caya, jujur dan setia. Dinamai demikian karena segala sesua¬tu yang diamanatkan kepadanya menjadi aman dan terjamin dari segala bentuk gangguan dan rongrongan, baik yang datang dari dirinya sendiri maupun dari orang lain. Sifat jujur dan terper¬caya merupakan sesuatu yang sangat dipentingkan dalam segala kehidupan, seperti dalam kehidupan rumah tangga, perniagaan, perusahaan, hidup bermasyarakat dalam berbangsa dan bernegara.

IMNU Tegal

Dalam kehidupan rumah tangga, kejujuran harus dilakukan oleh seluruh anggota keluarga itu, demi ketentraman dan kebaha¬giaan yang sama-sama didambakan. Sekiranya tidak ada kejujuran dalam kehidupan suatu keluarga, maka tatanan keluarga itu menjadi porak-poranda. Bayangkan, sekiranya anggota keluarga saling tidak jujur, suami terhadap istri demikian pula sebaliknya, anak terhadap orangtua, demikian juga orang tua terhadap anak, pasti rumah tangga itu akan menjadi berantakan.

Dunia perdagangan dan perniagaan juga memerlukan kejujuran, dengan kejujuran perniagaan itu akan memperoleh kemajuan yang tinggi, karena tidak ada orang yang dirugikan. Penjual ataupun pembeli sama-sama memperoleh keuntungan yang bermanfaat bagi kelompoknya masing-masing. Perdagangan yang tidak disertai dengan kejujuran, pasti akan menimbulkan penipuan-penipuan, dengan jalan memalsu barang, mengurangi takaran, yang kesemuanya itu akan mengakibatkan kerugian dan perdagangannya akan bangkrut.

Kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara juga memerlukan kejujuran semua pihak, jika tidak ada kejujuran nis¬caya akan menimbulkan kegoncangan dan kekacauan di tengah-tengah kehidupan dari masyarakat atau bangsa tersebut. Di antara faktor yang menyebabkan Rasulullah Muhammad SAW berhasil dalam membangun masyarakat Islam adalah karena sifat-sifatnya dan akhlaknya yang terpuji. Salah satu sifatnya yang menonjol adalah kejujurannya sejak masa kecil sampai akhir hayatnya, sehingga beliau mendapat gelar “al-Amin” (orang yang terpercaya atau orang yang jujur).

IMNU Tegal

Dalam mempertahankan dan menegakkan keadilan haruslah dilakukan sejujur mungkin dan seobyektif mungkin, kepada siapa saja dengan tidak memandang bulu. Kita harus bersikap adil meski¬pun terhadap orang-orang yang tidak kita sukai, keadilan harus ditegakkan kepada seluruh lapisan masyarakat, tidak boleh melaku¬kan diskriminasi. Mengenai hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak(mu) dan kaum kerabat(mu). Jika ia (yang terdakwa) kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan memberi saksi, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Nisa, 4:135).

Ibadah puasa yang dikerjakan sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan al-Sunnah akan membentuk para pelakunya menjadi orang-orang yang bersikap adil, menegakkan kebenaran dan berlaku jujur dalam segala aspek kehidupannya.





Penulis adalah Rais Syuriyah PBNU?

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal PonPes, Berita, Hikmah IMNU Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Luar Jawa dan di Pesantren, Katib Aam Dorong Muktamar di NTB

Jakarta, IMNU Tegal. Katib Aam PBNU KH Malik Madany akan mendorong penyelenggaraan muktamar ke-33 NU di NTB dengan alasan untuk pengembangan NU di luar Jawa. NTB juga menawarkan pesantren sebagai lokasi muktamar.

Ia menuturkan, sebelumnya salah satu rais syuriyah PBNU KH Machasin sudah melakukan kunjungan tidak resmi ke pesantren Komarul Huda, Bagu Prinderate Lombok yang diasuh oleh Tuan Guru Turmudi yang diusulkan menjadi lokasi muktamar. Dari hasil kunjungan tersebut, bisa disimpulkan infrastruktur pokok sudah siap, tinggal melengkapi kekurangan dengan fasilitas MCK.

Luar Jawa dan di Pesantren, Katib Aam Dorong Muktamar di NTB (Sumber Gambar : Nu Online)
Luar Jawa dan di Pesantren, Katib Aam Dorong Muktamar di NTB (Sumber Gambar : Nu Online)

Luar Jawa dan di Pesantren, Katib Aam Dorong Muktamar di NTB

Di kompleks pesantren tersebut telah terdapat perguruan tinggi berupa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah yang bisa dimanfaatkan untuk menggelar berbagai kegiatan muktamar.?

IMNU Tegal

“Saya kira Lombok-lah yang paling representatif,” tandasnya.

IMNU Tegal

Merujuk pendapatnya mantan rais aam PBNU KH Sahal Mahfudh, yang dimaksud pesantren siap menyelenggarakan muktamar adalah sudah memiliki infrastruktur yang pokok. “Kalau siap dibangunkan aula, itu ngak siap namanya. Kalau NTB sudah siap. Yang perlu ditambah cuma MCK, ini kan masalah kecil.”?

“Jadi kalau nanti ada rapat gabungan, maka saya termasuk yang cenderung mendukung apa yang disaksikan langsung oleh Prof Dr Mahasin. Apalagi saya juga mendengar disini kemarin, teman-teman yang dari NTB itu menceritakan bagaimana gubernur NTB Zainul Majdi sangat berharap muktamar NU juga disana,” jelasnya.

Mengenai masalah transportasi, menurutnya tidak masalah karena jaraknya dari bandara baru Internasional Lombok yang baru diresmikan pada 2011 lalu hanya 30 menit.?

Transportasi NTB semakin bagus karena menjadi tujuan wisata yang menyaingin Bali. Dari berbagai lokasi di Indonesia bisa langsung ke NTB tanpa perlu transit dulu ke Jakarta. ?

“Kalau tahun 1936 kita bisa menyelenggarakan muktamar di Banjarmasin, apalagi sekarang. Ngak ada alasan untuk soal transportasi,” jelasnya.?

Sebelumnya, lokasi pesantren Bagu NTB tersebut sudah pernah sukses menjadi penyelenggara munas dan konbes NU saat kepemimpinan Gus Dur ketika pesantren tersebut masih sangat sederhana. Kini, setelah pesantrennya berkembang pesat dengan berbagai lembaga pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi, tentu sangat tepat penyelenggaraan muktamar di Lombok Tengah itu.

Tambahan lagi dengan eksotisme pulau tersebut, seusai muktamar, para muktamirin bisa mengunjungi berbagai obyek wisata yang menarik.

Mengenai calon lokasi muktamar di Medan, kendalanya adalah tempat penyelenggaraan di asrama haji karena belum ada pesantren yang representatif.

Tentang keinginan Jawa Timur yang sudah 11 kali menyelenggarakan muktamar, hal ini tidak banyak berarti lagi untuk pengembangan NU karena disitu memang lumbungnya NU, seperti nguyahi segoro (menggarami laut).

Ia menginginkan, NU menyebar ke seluruh penjuru Nusantara, tidak terpusat di Jawa, apalagi Jawa Timur. “Saya menginginkan seluruh Nusantara NU-nya sama besar dan itu memerlukan kesadaran kita untuk berupaya bagaimana kalau perhelatan-perhelatan NU yang bersifat nasional dan akbar diselenggarakan di luar Jawa.”

Sebetulnya potensi NU di luar Jawa cukup besar, tetapi karena selama ini kurang disapa, akhirnya ya melempem. Ia memberi contoh, ketika Makassar diputuskan sebagai lokasi muktamar, NU-nya langsung bergerak dan sampai sekarang terus berkembang. Terbukti, PWNU Sulawesi Selatan mampu membangun gedung kantor NU lima lantai yang lengkap dengan gedung pertemuan yang bisa disewakan.?

“Saya kira ini tidak bisa dibantah merupakan barokahnya muktamar di Makassar,” jelasnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Ahlussunnah, Hikmah, Berita IMNU Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Mahasiswa Jadi Ekstrimis karena Wawasan Keagamaan yang Minim

Pati, IMNU Tegal. Mahasiswa bukanlah kelompok pemuda dan akademisi intelektual yang memiliki nalar kritis saja. Mahasiswa idealnya juga bukan mereka dengan wawasan keagamaan yang minim sehingga menunjukkan sikap dan tindakan yang ekstrim. Mahasiswa merupakan generasi produktif yang mampu memberikan kemaslahatan pada negara dan umat manusia.

Mahasiswa Jadi Ekstrimis karena Wawasan Keagamaan yang Minim (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Jadi Ekstrimis karena Wawasan Keagamaan yang Minim (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Jadi Ekstrimis karena Wawasan Keagamaan yang Minim

Demikianlah gelora semangat yang diorasikan Ketua Umum Jamiyyah Mahasiswa Ahli Thariqah Mutabarah An Nahdliyah (MATAN), KH Hamdani Muin dalam halaqah santri Mahad Jamiah Institut Pesantren Mathaliul Falah (IPMAFA) Pati, Senin (2/5). Halaqah tersebut dihadiri para santri mahad, mahasiswa, dosen Ipmafa dan sejumlah mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Hamdani diundang dalam rangka memperkuat khasanah nilai-nilai pesantren berbasis tashawuf pada para mahasiswa dan santri Ipmafa. Pengasuh Mahad Jamiah, KH Umar Farouq, dalam sambutannya menyampaikan bahwa KH M.A. Sahal Mahfudz termasuk salah satu ahli thariqah yang alim. Sehingga sudah sepantasnya nilai-nilai tasawuf yang suci dimiliki para santri dan mahasiswa Ipmafa.

Sementara Dimyati, Wakil Rektor I Ipmafa menegaskan bahwa pemahaman tentang thariqah mengalami stagnasi jika dipadang dari sudut orientalis yang melihat bahwa thariqah menjauh dari kehidupan dunia. Padahal dalam Islam, thariqah diumpamakan sebagai jalan atau proses menuju tujuan yang hakiki.

Hamdani mengawali paparannya dengan mengisahkan sejarah berdirinya MATAN yang melalui proses cukup serius. Matan berdiri karena mendapat amanat langsung dari Rais Aam Jamiyyah Ahli Thariqah Al-Mutabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya. Pada tahun 2012 MATAN resmi didirikan oleh KH Habib Lutfi. Salah satu tujuan MATAN agar para pemuda Muslim memiliki sinergitas antara intelektualitas dan spiritualitas.

IMNU Tegal

Melalui thariqah MATAN, akan bermunculan kader-kader dai yang dapat membangkitkan dunia Islam dan perdamaian dunia. Karena dalam thariqah, pendekatan yang dipakai adalah mahabbah atau cintakasih. "Jika tarekat bangkit, itu artinya adalah kebangkitan Islam dunia. Perdamaian dunia dapat diraih dengan penerapan nilai tashawuf yang berlandaskan mahabbah. Cinta adalah memberi dan berkorban. Sedangkan tanpa tashawuf paradigmanya adalah kepemilikan,” papar KH Hamdani.

Lebih lanjut, Hamdani menegaskan bahwa berthariqah bukan untuk menikmati kepuasan spiritualitas. Beberapa prinsip yang harus dilakukan seorang dalam berthariqah adalah tafaqquh fiddin atau pendalaman ilmu agama sekaligus ilmu sains. Dengan demikian akan muncul mursyid-mursyid yang ahli dalam bidang keilmuannya.?

Hal itu dapat dicontoh dari Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani yang merupakan ahli geologi dan banyak ulama lainnya. Kewajiban lain dalam thariqah adalah mulazamatul adzkar, atau wiridan agar hubungan antara hamba dan Allah Sang Rabb selalu terjaga dengan baik.

IMNU Tegal

Dalam thariqah ini terdapat tiga tahapan yang akan dilalui seorang salik (pelaku thariqah) meliputi adab yakni mengikuti akhlak Rasulullah dengan menyucikan hati dan jiwa, kemudian iltizamut thoah yakni selalu siap dalam ketaatan, dan terakhir al-wushul ilallah atau meraih kenikmatan hakikat karena sampai dalam perlindungan Allah SWT. (Isyrokh Fuaidi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Berita, Meme Islam, Nusantara IMNU Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Jelang UN SD, Siswa Ikuti Training-Mujahadah

Wonosobo, IMNU Tegal. Menjelang Ujian Nasional (UN) untuk Sekolah Dasar sederajat yang akan dimulai Senin (6/5) mendatang sebanyak 150 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’arif se Kecamatan Mojotengah, melaksanakan mujahadah dan training motivasi di Gedung MWC NU Mojotengah, Kabupaten Wonosobo).

Jelang UN SD, Siswa Ikuti Training-Mujahadah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang UN SD, Siswa Ikuti Training-Mujahadah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang UN SD, Siswa Ikuti Training-Mujahadah

Ketua PAC Maarif Mojotengah Fuad mengatakan, doa bersama dilakukan untuk menenangkan kejiwaan anak didik menjelang Ujian Nasional (UN). Disamping itu untuk menjalin kontak batin anak-anak dengan orang tua.

“Kami mengharapkan kontak batin anak-anak dengan orang tua selalu terjaga sehingga pada kesempatan ini kami mengundang pula orang tua untuk mengikuti kegiatan doa bersama,” ungkap Fuad. 

IMNU Tegal

Acara tersebut dihadiri oleh Mantan kepala Disdikpora (H. Mustangin) yang juga mengisi Traning motivasi. Serta dihadiri Rais Syuriyah Mojotengah (Kyai Musyafak), serta Ketua MWCNU Mojotengah (Hamzah). 

Ditanya mengenai hasil kelulusan, dirinya menyatakan lembaganya selama kurun waktu 3 tahun terakhir lulus 100%. Hal itu diakuinya berkat kerjasama peserta didik, orang tua lembaga serta didukung dengan spiritual.

IMNU Tegal

“Karena sekolah kami berlabel Ma’arif maka guru agama memberikan bimbingan keagamaan. Salah satu kegiatan memberikan bimbingan motivasi spiritual,” jelasnya. 

Lulusan Ma’arif, sambung Fuad mampu bersaing dengan sekolah-sekolah yang lain. Terbukti para alumninya bisa masuk dijenjang yang lebih baik. “Ada juga yang masuk di sekolah internasional, karena mahir dalam berbahasa ingris dan arab," terangnya. 

Melalui doa bersama Ketua MWC NU Hamzah berharap anak didiknya bisa ke jenjang yang lebih tinggi bisa diterima sesuai jurusan yang diharapkan. "Mujahadah ini sangat penting dilakukan untuk memberikan motivasi dan sebagai ikhtiar batin siswa dalam menghadapi UN,"terangnya. 

Dengan digelarnya dzikir dan do’a bersama tersebut tidak lain karena Ma’arif memiliki tanggung jawab terhadap pelajar sebagai generasi penerus bangsa yang dituangkan dengan memberikan wadah pendidikan penguatan iman.

“Mujahadah  ini juga kami tujukan untuk tiga hal, pertama mendoakan anak-anak yang akan mengikuti ujian nasional, yang kedua untuk guru-guru yang dipercaya untuk mengawasi ujian disatuan pendidikan atau sederajat, yang ketiga untuk civitas akademika agar lembaga Ma’arif ini bisa berkembang lebih bagus,” katanya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Fathul Jamil

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Berita IMNU Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Pendaftaran Online Mudahkan Wali Calon Santri Tebuireng

Jombang, IMNU Tegal. Pendaftaran secara online dirasa sangat efektif oleh para orang tua peserta test santri baru. Sistem online ini lebih terasa terutama bagi mereka yang berdomisili di luar Jawa. Dengan online, layanan informasi yang berkaitan dengan penerimaan santri baru pesantren Tebuireng, lebih cepat dan efisien.

Pendaftaran Online Mudahkan Wali Calon Santri Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendaftaran Online Mudahkan Wali Calon Santri Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendaftaran Online Mudahkan Wali Calon Santri Tebuireng

Demikian disampaikan Ketua panitia penerimaan santri baru pesantren Tebuireng Ali Subhan. Menurut Ali, “Panitia akan berusaha keras untuk memberikan pelayanan yang bagus dan maksimal bagi para peserta dan keluarga yang mengantar.”

Panitia, kata Ali, juga tengah berusaha untuk mengentri data secepat dan seefektif mungkin sehingga deadline pengumuman jatuh sesuai rencana, pada 10 Januari 2015.

IMNU Tegal

Sejak dibuka pendaftaran gelombang pertama pada Sabtu (15/11) lalu, mereka yang mendaftar sebagai santri baru tercatat sebanyak 916 calon santri. Sementara pada Ahad (28/12), para peserta mengikuti test penerimaan santri baru 2015-2016 pesantren Tebuireng di unit-unit pendidikan masing-masing.

Peserta seleksi beserta keluarga memadati pesantren Tebuireng sejak pukul 05.30 WIB. Selanjutnya peserta diarahkan untuk menuju ke unit-unit masing, kecuali test SMA trensains yang dilaksanakan di aula Bachir Ahmad Gedung Yusuf Hasyim lantai 3.

IMNU Tegal

Test pada Ahad, (28/12) diperuntukkan bagi unit SMA Abdul Wahid Hasyim, SMP Abdul Wahid Hasyim, MA Salafiyah Syafiiyah, Mts Salafiyah Syafiiyah dan SMA Trensains. Sementara untuk unit lain seperti SDIT, Madrasah Muallimin dan Mahad Aly Hasyim Asyari baru akan dimulai pada awal 2015 mendatang. (Abror/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Daerah, Berita, Aswaja IMNU Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Menjadi Santri di Era Millennial

Oleh Faried Wijdan

Tinta emas sejarah mencatat kaum santri selalu tampil memberi sumbangsih dan mencurahkan darma baktinya bagi eksistensi negara dan Bangsa, baik pada periode prakolonial, zaman kolonial, era kemerdekaan, Orde Baru, dan reformasi. Banyak penelitian dan buku sejarah ‘merekam’ semua ini. Dan menjadi sebuah fakta sejarah bahwa santri senantiasa memberikan sumbangan maha penting dan berharga bagi masyarakat bangsa, bukan hanya dalam pembentukan karakter positif nan luhur bagi individu-individu anak bangsa, melainkan juga bagi utuhnya sistem Negara Bangsa dengan seluruh pilarnya.

Menjadi Santri di Era Millennial (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Santri di Era Millennial (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Santri di Era Millennial

Santri sebagai out put pesantren terbukti tidak hanya mempunyai intelektualitas yang tinggi, tapi juga sosok yang memiliki kecerdasan spiritual di atas rata-rata. Santri hidup dan digembleng tentang arti solidaritas, tenggang rasa, dan kebersamaan, memperoleh piwulang integral dari soal moral sampai keterampilan hidup (life skill). Santri diajari soal keduniaan sampai keakhiratan. Inilah karakter pendidikan pesantren yang komunal, integral, dan futuristik.

IMNU Tegal

Kekecualian Santri

Pertama, penjelajah intelektual yang kritis. Karena keahlian dan penguasaan ilmu alat (nahwu) dan bahasa santri terbiasa membaca sendiri khazanah kitab-kitab klasik maupun modern. Santri adalah sosok pembelajar mandiri, otodidak, dan ‘luas ilmu dan referensinya’. Santri terbiasa berdiskusi, berdebat ilmiah, membaca secara mendalam, meresume, dan mengulang-ulang pelajaran (takrar). Semua aktivitas tersebut men-drill santri untuk berani mengemukakan pemikiran, membangun argumentasi dan mempertahankan, melatih santri berpikir kritis dan analisis, melecut santri untuk menulis, dan menguatkan daya ingatnya.

IMNU Tegal

Kedua, moderat dan toleran. Dalam melihat, memahami, lalu menghukumi sesuatu, santri memiliki kesadaran diri bahwa sesungguhnya setiap orang tidak memiliki hak mengatakan yang paling benar. Santri tidak mudah menyalahkan orang lain dan mengafirkan sesama. Sikap toleran santri berupa akhlak terpuji dalam pergaulan, saling menghargai antara sesama manusia. Sikap moderat dan toleran berjalan berkelindan dengan laku lampah santri sehari-hari. Artinya, jika ada santri ekstrim dan tidak toleran, ia telah mengabaikan ajaran substantif dari nilai-nilai dasar pesantren. Pribadi santri diasosiasikan sebagai sosok yang mempunyai kepribadian saleh (baik ritual maupun sosial), berawawasan inklusif, toleran, humanis, kritis dan berorientasi pada komitmen kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan (al-musawah).

Ketiga, mencintai Tanah Air. Cinta tanah air bagian dari iman. Santri harus setia pada NKRI, mengamalkan Pancasila dan UUD 1945. Jika ada santri yang menyerukan penggantian dasar dan bentuk negara, dipastikan ia adalah santri abal-abal. Di dalam tubuh santri mengalir darah nasionalisme.

Keempat, mandiri, sederhana, ikhlas, asketis, rendah hati, dan selalu istikamah menjaga marwah diri. Kemandirian adalah merupakan elemen esensial dari moralitas yang dimiliki kaum santri. Kemandirian adalah sebuah kekuatan internal individu yang diperoleh melalui proses individuasi, yaitu proses realisasi kedirian dan proses menuju kesempurnaan ketika di pesantren. Selepas dari pesantren, setiap santri mampu berpikir alternatif dan memikirkan cara hidup, pandai memanfaatkan kesempatan dan peluang, senantiasa optimis dan melihat peluang, menyesuaikan diri dalam segala peran. Santri jebolan pesantren biasanya memeliliki kemandirian aman (secure autonomy), sebuah kekuatan untuk menumbuhkan cinta kasih pada dunia, kehidupan, dan orang lain, sadar akan tanggung jawab bersama, dan tumbuh rasa percaya diri terhadap kehidupan. Kekuatan ini digunakan untuk mencintai kehidupan dan membantu orang lain. Berapa banyak kita mendengar success stories para alumni pesantren. Meraka bisa berdarma dan berkarier di semua matra kehidupan, dari guru ngaji, politisi, seniman, entrepreuneur, aktifis, sampai praktisi IT dengan bisnis rintisannya (start up).

Kelima, visioner. Santri dididik untuk berpandangan jauh ke depan tentang bagaimana membangun masyarakat yang sesuai dengan nilai-nilai Islam universal, seperti keadilan, kesejahteraan, kemajuan, kearifan, kesetaraan, kebahagiaan, dan kerjasama dalam membangun kebaikan dan meminimalisir hal-hal negatif. Santri harus siap kembali ke masyarakat, berproses ditengah-tengah masyarakat, membimbing dan mengajarkan agama, membangun perekonomian rakyat kecil, mengembangkan kualitas pendidikan, memberikan keteladan moral dan dedikasi, serta aktif melakukan kaderisasi demi menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Seseorang tidak memperoleh predikat ‘muslim yang baik’ karena ia tidak pernah memikirkan masa depan Islam. Sedangkan santri yang kurang sempurna dalam menjalankan ajaran agama dianggap sebagai ‘muslim yang baik’, karena ia memikirkan masa depan Islam. Sebagai mahluk sosial dalam komunitas berbangsa, santri dituntut memberikan manfaat kepada orang lain dalam kerangka ibadah sosial. Sebagai pembangun bumi (imaratul ardhi), santri harus mampu mengelola, mengembangkan, dan melestarikan sumber daya alam. Santri harus menjadi pelopor gerakan hijau (go green) dan mengejawantahkan fikih lingkungan (fiqh biah) yang mereka pelajari.

Pendek kata, di pesantren, santri dididik soal: karakter (character), rasa ingin tahu (curiosity), kreativitas (creativity), ilmu dakwah/komunikasi (communication), berpikir kritis (critical thinking), bekerjasama (collaboration), tanggung jawab kultural dan sosial (cultural and social responsibility), penyesuian diri (adaptibility), melek media dan digital (digital and media literacy), penyelesain masalah dan membuat keputusan (decision making and problem solving), sehingga melahirkan pribadi-pribadi beretika luhur (strong ethic), terpercaya dan bertanggung jawab (dependability and responsibility), berakhlak mulia (possesing a positive attitude), lentur (adaptibility), jujur dan berintegritas (honesty and integrity), memiliki motivasi untuk tumbuh dan belajar (motivated to grow and learn), tangguh dan percaya diri (strong self and confidence).

Santri di Zaman Millennial

Kapital sosial santri sungguh luar biasa yang senantiasa menyatukan diri secara integral bersama masyarakat, memiliki basis dan jejaring sosial yang sungguh dahsyat. Potensi yang dimiliki oleh santri selama ini dinilai masih belum tereksplorasi dan termanfaatkan dengan baik dalam membangun bangsa, padahal santri merupakan individu-individu pilihan masyarakat yang diharapkan mampu berbuat sesuatu demi kebangsaan dan kesejahteraan umat.

Santri harus terus mengembangkan diri untuk meneruskan estafet perjuangan para pendahulunya. Perlu dipikirkan bagaimana menciptakan santri agar memiliki kemampuan diferensial dan distinctive dalam menghadapi perkembangan perubahan mondial (global) dan dapat berkiprah dalam wilayah-wilayah sosial, ekonomi, politik maupun pemerintahan. Santri bukan hanya menguasai kitab-kitab kuning saja tapi juga mampu survive dan memberikan warna tersendiri dalam berbagai sektor kehidupan. Santri meski mempunyai bidang "keahlian dunia", di bidang kedokteran, kimia, IT dan desain komunikasi visual, astronomi, nuklir, dan lain-lain sehingga mandiri, tak tergantung ‘angin politik’ dan ‘tidak tegoda’ untuk sibuk ‘menyusun proposal’.

Di era millenial, santri fardhu ain melakukan jihad-jihad kekinian di zaman kacau (mess age) ini. Santri harus menjadi generasi langgas yang moderat dan toleran di dunia maya. Santri harus aktif dan berani mentransfer, mengampanyekan sekaligus mensosialisasikan doktrin Islam yang toleran dan anti kekerasan di dunia maya. Santri adalah garda terdepan yang mendakwahkan Islam yang teduh, bukan rusuh. Santri harus menjadi ‘promotor’ persatuan, perdamaian, dan ketertiban. Bukan malah menjadi ‘buzzer’ kemunkaran, permusuhan, fitnah dan ujaran kebencian.

Santri itu harus serbaguna, serbabisa, multitalenta. Santi tidak boleh kudet (kurang update). Santri harus berpikir konstruktif, reflektif, aktif, efektif, kreatif, inovatif. Santri harus terus menjadi pelaku sejarah, bukan beban sejarah. Santri harus menjadi paku bumi sebagaimana amanat Alm. KH Abdul Aziz Mansur. Santri harus mampu mengambil peran sebagai lokomotif perubahan sosial demi kemaslahatan umat, bukan sekadar pendorong. Selamat merayakan Hari Santri Nasional!

Penulis adalah alumni UIN Syarif Hidayatullah JakartaDari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Syariah, Berita, Quote IMNU Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Gelar Ikhtiar UN, Pelajar NU Babat Libatkan Santri dan Pelajar Istighotsah

Lamongan, IMNU Tegal - Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Babat Kabupaten Lamongan masa khidmah 2015-2017 menggelar istighotsah, do’a bersama, dan motivasi di Gedung Serbaguna Suroloyo, Kecamatan Babat. Ikhtiar menghadapi UN ini melibatkan santri dan pelajar setempat, Kamis (31/3).

Acara ini diikuti terutama siswa kelas tiga tingkat SLTP-SLTA dan kelas 6 MI-SD yang nantinya akan menghadapi Ujian Nasional sebagai syarat penentu kelulusan mereka.

Gelar Ikhtiar UN, Pelajar NU Babat Libatkan Santri dan Pelajar Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Ikhtiar UN, Pelajar NU Babat Libatkan Santri dan Pelajar Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Ikhtiar UN, Pelajar NU Babat Libatkan Santri dan Pelajar Istighotsah

Tampak hadir sejumlah pengurus PCNU Babat, Ketua Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama Kecamatan Babat KH Ma’mun Affandi, Ketua LP Ma’arif MWCNU Babat H Soeradi, pengurus harian IPNU-IPPNU Babat, serta tamu undangan PAC IPNU-IPPNU se-Cabang Babat.

IMNU Tegal

Ketua MWCNU Babat KH Ma’mun Affandi memberikan apresiasi untuk pengurus IPNU-IPPNU Babat atas kegiatan ini. Ia berpesan kepada pelajar yang hadir bahwa kunci sukses dalam menghadapi UN adalah istiqomah dalam belajar, istiqomah dalam berusaha, dan istiqomah dalam berdo’a.

Ketua PC IPNU Babat M Miftahul Aminin mendukung acara yang diselenggarakan PAC IPNU-IPPNU Babat. Ia mengimbau para pelajar untuk mengembangkan jiwa intelektual dengan belajar, berjuang dengan emosional, dan bertakwa untuk peningkatan spiritual.

IMNU Tegal

Di awal pembukaan M Miftahul Aminin meminta dukungan dari MWCNU Babat dan LP Ma’arif MWCNU Babat untuk menyediakan waktu dan dukungannya atas kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan IPNU dan IPPNU. (Aan Andri/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Sholawat, Berita, Ahlussunnah IMNU Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Muslim Xinjiang, Bertahan di Tengah Keterbatasan

Xinjiang, IMNU Tegal. Bicara Islam di Cina, maka harus menyertakan Xinjiang di dalamnya. Mengapa? Ya, karena Xinjiang adalah rumah bagi setidaknya sepertiga Muslim di Cina.

Muslim Xinjiang, Bertahan di Tengah Keterbatasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslim Xinjiang, Bertahan di Tengah Keterbatasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslim Xinjiang, Bertahan di Tengah Keterbatasan

Dari total 25 juta Muslim di Negeri Tirai Bambu, sebanyak 8,5 juta di antaranya hidup di Xinjiang. Sementara, dari 300 ribu masjid di Cina, 23 ribu di antaranya ada di Xinjiang.

Xinjiang adalah sebuah daerah otonomi— bukan provinsi—di Cina. Nama lengkapnya adalah Daerah Otonomi Uighur Xinjiang. Wilayah ini berbatasan dengan Daerah Otonomi Tibet di sebelah selatan dan Provinsi Qinghai serta Gansu di tenggara.

IMNU Tegal

Xinjiang juga berbatasan dengan Mongolia di sebelah timur, Rusia di utara, serta Kazakstan, Kirgistan, Tajikistan, Afghanistan, dan Kashmir di barat. Xinjiang juga mencakup sebagian besar wilayah Aksai Chin, yang diklaim India sebagai bagian dari Negara Bagian Jammu dan Kashmir.

IMNU Tegal

Secara harfiah, Xinjiang bermakna “perbatasan baru” atau “daerah baru”, sebuah nama yang diberikan semasa Dinasti Qing Manchu. Bagi para pendukung kemerdekaan Xinjiang, nama ini terasa sinis dan menyakitkan hati, sebab mereka sejatinya lebih menyukai nama lokal yang bersejarah atau yang berkaitan dengan gerakan kemerdekaan, seperti Turkestan Cina, Turkestan Timur, atau Uighuristan.

Penduduk asli Xinjiang berasal dari ras-ras Turki yang beragama Islam, terutama suku Uighur (45,21 persen) dan suku Kazakh (6,74 persen). Selain itu, di Xinjiang juga terdapat suku Han yang merupakan suku mayoritas di Cina.

Menurut sensus tahun 2000, jumlah suku Han di Xinjiang mencapai 40,58 persen. Ini adalah peningkatan jumlah yang sangat drastis dibandingkan pada 1949 saat berdirinya Republik Rakyat Cina. Kala itu, belum banyak suku Han yang hidup di Xinjiang, hanya sekitar enam persen.

Meski dalam hal jumlah Muslim Uighur masih merupakan mayoritas di Xinjiang, tetapi hari demi hari mereka kian terpinggirkan. Istilah ‘daerah otonomi’ yang ditetapkan Pemerintah Cina cuma sekadar nama. Agama dan budaya mereka ditekan habis-habisan oleh Pemerintah Cina.

Sementara, dalam bidang ekonomi, orang-orang dari suku Hanlah yang berkuasa. Di “tanah air” suku Uighur ini, orang-orang Han menguasai ladang-ladang minyak dan jalur-jalur perdagangan. Sementara, warga setempat yang beragama Islam cenderung terpinggirkan laksana orang Indian di Amerika.

Xinjiang kaya akan mineral dan minyak bumi. Cadangan gas alamnya bahkan merupakan yang terbesar di Cina. Daerah ini juga merupakan lokasi utama bagi Cina untuk melakukan uji coba nuklir.

Bagi Cina, Xinjiang memang sangat penting secara geopolitik. Sejak dulu, Cina menempatkan Xinjiang sebagai garda pertahanan terdepan dalam menghadapi kemungkinan serangan dari Barat.

Hal tersebut merupakan alasan mengapa Cina sedikit pun tak ingin kehilangan kontrol dan pengaruh atas wilayah ini.

Demi mengontrol Xinjiang, berbagai langkah dilakukan Pemerintah Cina, termasuk membelenggu hak warga Muslim untuk menjalankan ritual dan ajaran agamanya. Sekadar contoh, keberadaan sekolah Islam, masjid, dan imam dikontrol secara ketat.

Dalam kurun waktu 1995 hingga 1999, pemerintah telah meruntuhkan 70 tempat ibadah serta mencabut surat izin 44 imam. Pemerintah juga menerapkan larangan ibadah perorangan di tempat-tempat milik negara. Larangan ini mencakup larangan shalat dan berpuasa pada bulan Ramadhan di kantor atau sekolah milik negara.

Pendek kata, menjalankan ibadah secara leluasa masih menjadi barang mahal dan mewah bagi warga Muslim di Xinjiang. Di bidang ketenagakerjaan, orang-orang Muslim juga sering dihambat dari jabatan yang tinggi.

Cengkeraman dan tekanan Pemerintah Cina yang terlampau kuat ditambah dominasi suku Han atas masyarakat lokal membuat hasrat untuk memisahkan diri dari pemerintah pusat tak pernah surut dari bumi Xinjiang.

Ketimbang menjadi bagian Cina, masyarakat Uighur lebih suka jika Xinjiang menjadi negara sendiri atau bergabung dengan Kirgistan, sebuah negara bekas Uni Soviet yang berbatasan langsung dengan Xinjiang.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Sumber : Republika

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Berita IMNU Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Pelajar NU Jombang Ajak Pemuda Perbanyak Ngaji dan Sedekah

Jombang, IMNU Tegal - Ketua Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Jombang Qurotul Aini mengajak para pemuda setempat untuk meningkatkan amal baik di bulan Ramadhan. Menurut Aini, kesempatan Ramadhan dapat diisi dengan kegiatan bermanfaat seperti tadarus Al-Quran, bersedekah, dan perbuatan manfaat lainnya.

Ia menjelaskan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya kitab umat Islam, Al-Quran. Sebagai umat Muslim, para pemuda di Jombang sudah seharusnya memelihara kitab suci tersebut dengan meningkatkan bacaannya di bulan Ramadhan ini.

Pelajar NU Jombang Ajak Pemuda Perbanyak Ngaji dan Sedekah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Jombang Ajak Pemuda Perbanyak Ngaji dan Sedekah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Jombang Ajak Pemuda Perbanyak Ngaji dan Sedekah

"Sering munajat diri, perbanyak sedekah, qiyamul lail, terlebih tadarus. Karena syahru Ramadhan adalah syahrul Quran. Ramadhan itu bulannya Al-Quran," katanya kepada IMNU Tegal, Kamis (9/6) kemarin.

IMNU Tegal

Aini menambahkan, pada bulan tersebut umat Islam memiliki kesempatan besar untuk memperbanyak zikir kepada Allah SWT dan beramal baik kepada sesama. "Bulan Ramadhan, semua setan mulai dari tipe A hingga Z dipenjara. Kalau sampai masih ada yang berbuat negatif berarti itu nafsu dari masing-masing individu yang masih berkeliaran," ucapnya sambil tersenyum.

IMNU Tegal

Untuk itu, ia mengajak para pemuda mulai memanfaatkan bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya. "Harus diisi dengan kegiatan postif, yang negatif dikurangi bahkan kalau perlu dihapus. Minimal menahan hawa nafsu," ujarnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Berita IMNU Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Spirit Rakyat dalam Perang 10 November 1945

Jakarta, IMNU Tegal. Kedasyatan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya tidak bisa dilepaskan dari Resolusi Jihad, Perintah Perang, yang dikeluarkan oleh Hadratush Syaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari pada Tanggal 22 Oktober 1945. Pernyataan Perintah Perang itu disampaikan oleh Kiai Haji Hasyim Asy’ari di depan Presiden Soekarno di Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, beberapa hari sebelum pecah Perang 10 November 1945.



Spirit Rakyat dalam Perang 10 November 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)
Spirit Rakyat dalam Perang 10 November 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)

Spirit Rakyat dalam Perang 10 November 1945

Ihwal pertemuan bersejarah itu diungkapkan oleh Ki Setyo Oetomo Darmadi, adik pahlawan PETA Soepriyadi, di Blok A, Jakarta, Ahad, 7 November 2010.

Menurut mantan anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang akrab dipanggil Ki Darmadi, Bung Karno menemui Kiai Haji Hasyim Asy’ari ditemani oleh Residen Jawa Timur Soedirman, ayah Kandung Mantan Gubernur Jawa Timur Basofi Soedirman. Dalam pertemuan bersejarah di Pondok Pesantren Tebu Ireng itu, kedua pemimpin tersebut membahas situasi politik terkait kedatangan Pasukan Sekutu dibawa Komando Inggris, yang membawa serta penjajah Belanda.

IMNU Tegal

“Kiai, dipundi (despundi, bhs Jawa: bagaimana: RED.), bahasa Bung Karno, Inggris datang niku(itu: Jawa), gimana umat Islam menyikapinya? “ tanya Presiden Soekarno kepada Rois Akbar NU, yang akrab dengan panggilan Mbah Hasyim.

Mendapat pertanyaan atas sikapnya dengan kedatangan pasukan Sekutu, yang berdalih mengambil alih kekuasaan dari Jepang, lawan Perang Dunia Kedua yang sudah dikalahkan, yang berarti juga menafikan Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945, Mbah Hasyim pun menjawab dengan tegas.

IMNU Tegal

Lho Bung, umat Islam jihad fisabilillah (berjuang di jalan Allah: RED.) untuk NKRI, ini Perintah Perang !” kata Rois Akbar Nahdlatul Ulama Hadratush Syaikh Kia Haji Hasyim Asy’ari, menjawab pertanyaan, sekaligus permintaan bantuan dari Presiden Soekarno dalam menghadapi ancaman pasukan Sekutu.

Pasukan AFNEI mulai mendarat di Jakarta pada Tanggal 29 September 1945 dibawa pimpinan Letnan Jenderal Sir Philip Christison. AFNEI berkekuatan 3 divisi: Divisi ke-23 dibawa Komando Mayor Jenderal D.C Hawthorn, menguasai daerah Jawa Barat; Divisi ke-5 dibawa Komando Mayor Jenderal E.C.Mansergh, menguasai daerah Jawa Timur; dan Divisi ke-26 dibawah Komando Mayor Jenderal H.M. Chambers, menguasai daerah Sumatera. Adapun Brigade ke-49 dibawa pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S.Mallaby yang mendarat di Surabaya merupakan bagian Divisi ke-23 pimpinan Mayjen D.C Hawthorn. Ketiga divisi itu bertugas mengambil alih kekuasaan Indonesia dari Jepang, yang berarti tidak mengakui Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Menurut Ki Darmadi, seruan jihad melawan pasukan sekutu yang dikeluarkan Kiai Haji Hasyim Asy’ari itulah yang dikenal sebagai Resolusi Jihad. “Lalu Kiai Hasyim Asy’ari meminta Bung Tomo supaya teriak Allahu Akbar untuk menggerakkan para pemuda. Jasa utama Bung Tomo itu karena diperintah Kiai Haji Hasyim Asy’ari jadi orator perang,” ungkap Ki Darmadi terkait ihwal munculnya pekik Allahu Akbar yang dikumandangkan Bung Tomo melaui radio-radio.

Terkait pertanyaan kenapa Bung Karno menemui Mbah Hasyim Asy’ari, adik Pahlawan Nasional Soepriyadi, yang lahir di Kediri pada 17 Maret 1930 silam ini menjawab, “Tujuannya supaya Kiai Hasyim Asy’ari yang memiliki pengaruh besar di kalangan umat Islam itu menggerakkan jihad. Lalu ada yang hendak mengenyampingkan, kenapa Bung Karno tidak ke BKR (TKR: RED)? Saya punya jawaban. Karena jauh sebelum itu, saat pasukan PETA terbentuk, semua komandan batalyonnya itu ulama. Dan yang punya pengaruh besar terhadap para ulama, dan santri itu kan Kiai Haji Hasyim Asy’ari,” terang Ki Darmadi.

Di antara para ulama yang memegang kendali komando terhadap pasukan PETA, salah satu cikal bakal BKR itu, adalah Panglima Divisi Suropati, Kiai Imam Sujai, Divisi Ranggalawe dengan Panglimanya Jatikusumo, wakilnya adalah Soedirman, ayah kandung Basofi Soedirman, mantan gubernur Jawa Timur. Termasuk di Jawa Barat, komandan resimennya seorang ulama yang berjuluk Singa Bekasi, Kiai Haji Noor Ali.

“Jadi pilihan Bung Karno menemui Kiai Hasyim Asy’ari itu sudah tepat, karena yang bisa menggerakkan umat Islam ya, Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Terbukti sebelum Inggris masuk seluruh komandan batalyon PETA itu ulama,” tandas Ki Darmadi.

Presiden Soekarno memang datang ke orang yang tepat, lanjut Ki Darmadi, dampak perangnya pun luar biasa, seperti digambarkan dalam buku berjudul : Api Neraka di Surabaya. “Pertempuran di Surabaya itu bagaikan neraka bagi pasukan Sekutu. Orang bisa mati-matian berperang, itu karena perintah jihad tadi,” terang Ki Darmadi.

Pelaku dan saksi sejarah lainnya, yaitu Tokoh dan sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) Kiai Haji Muchit Muzadi beberapa tahun lalu mengatakan, Hari Pahlawan 10 November itu tak bisa dilepaskan dengan Resolusi Jihad NU, yang dicetuskan para ulama di Bubutan, Surabaya pada 22 Oktober 1945.

“Proklamasi yang diucapkan Bung Karno dan Bung Hatta merupakan tantangan kepada tentara Sekutu yang saat itu berkuasa setelah Jepang menyerah,” kata Kiai yang akrab dipanggil dengan Mbah Muchit ini. Pernyataan salah seorang santri Hadratus Syaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari ini kian menegaskan, bahwa Deklarasi Resolusi Jihad 21-22 Oktober 1945 merupakan kelanjutan dari hasil pertemuan Bung Karno dengan Mbah Hasyim.

Segera setelah itu, ribuan kiai dan santri bergerak ke Surabaya. Pada Tanggal 28 Oktober 1945, pasukan sekutu dibawa Brigadir Jenderal Mallaby mengambil alih lapangan udara Morokrembangan, dan beberapa gedung penting kantora jawatan kereta api, pusat telepon dan telegraf, termasuk Rumah Sakit Darmo.

Pertempuran besar tak terhindarkan antara 6 ribu pasukan Inggris dengan 120 ribu pemuda Indonesia yang terdiri dari para santri, dan tentara. Akibat kalah jumlah Mallaby meminta bantuan Hawthorn agar pihak Indonesia menghetikan pertempuran. Hawthorn pun meminta Soekarno agar mau membujuk panglima-panglimanya di Surabaya menghentikan pertempuran. Terjepit pasukan sekutu itu digambarkan dalam buku Donnison “The Fighting Cock” sebagai “Narrowly escape complete destraction” alias hampir musnah seluruhnya”, kalau tidak dihentikan Soekarno – Hatta dan Amir Syarifuddin.

Jenderal Sekutu Tewas

Karena tidak mau belajar, dari kekalahan pertama, Brigjen Mallaby pun tewas dalam pertempuran yang pecah pada Tanggal, 30 Oktober 1945. Panglima AFNEI Letjen Philip Sir Christison pun mengirim pasukan Divisi ke-5 dibawa Komando Mayor Jenderal E.C.Mansergh, jenderal yang terkenal karena kemenangannya dalam Perang Dunia II di Afrika saat melawan Jenderal Rommel, jenderal legendaris tentara Nazi Jerman. Mansergh membawa 15 ribu tentara, dibantu 6 ribu personel brigade45 The Fighting Cock dengan persenjataan serba canggih, termasuk menggunakan tank Sherman, 25 ponders, 37 howitser, kapal Perang HMS Sussex dibantu 4 kapal perang destroyer, dan 12 kapal terbang jenis Mosquito.

Dengan mesin pembunuhnya itu, Mansergh mengultimatum rakyat Surabaya, untuk bertekuk lutut alias menyerah, yang berarti mengakui Indonesia belum merdeka.

”Ultimatum Sekutu itu pun tak digubris sehingga terjadilah pertempuran 10 November 1945 dengan korban yang tidak sedikit, bahkan para santri dari Kediri, Tuban, Pasuruan, Situbondo, dan sebagainya banyak yang menjadi mayat dengan dibawa gerbong KA,” kata Mbah Muchit.

Kiai Kelahiran Tuban Jatim pada 1925 itu menambahkan, semangat dan tekad untuk merdeka itu merupakan semangat yang dipupuk melalui Resolusi Jihad NU yang digagas para ulama NU di Jalan Bubutan, Surabaya.”Tapi, terus terang, semuanya itu tidak tercatat dalam sejarah, karena ulama NU itu memang tidak ingin menonjolkan diri, sebab mereka berbuat untuk bangsa dan negara demi ridlo dari Allah SWT, bukan untuk dicatat dalam sejarah,” katanya.

Dampak perlawanan itu sepertinya tidak pernah terpikir oleh pasukan Sekutu, yang mengultimatum, agar seluruh pemuda, dan pasukan bersenjata bertekuk lutut. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

“Kenapa bisa begitu? Karena sebenarnya yang fanatik melbu suwargo (Bhs Jawa: masuk surga: RED.) itu kan Islam, jadi sudah tidak mikir apa-apa lagi. Mana ada Jenderal Sekutu tewas dalam Perang Dunia Kedua, itu kan hanya terjadi di Surabaya, di Indonesia, dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby,” kata Ki Darmadi menandaskan.

David Welch menggambarkan dasyatnya pertempuran itu dalam bukunya, Birth of Indonesia (hal. 66),“Di pusat kota pertempuran adalah lebih dasyat, jalan-jalan diduduki satu per satu, dari satu pintu ke pintu lainnya. Mayat dari manusia, kuda-kuda, kucing-kucing serta anjing-anjing bergelimangan di selokan selokan. Gelas - gelas berpecahan, perabot rumah tangga, kawat-kawat telephon bergelantungan di jalan-jalan dan suara pertempuran menggema di tengah gedung-gedung kantor yang kosong. Perlawanan Indonesia berlangsung dalam dua tahap, pertama pengorbanan diri secara fanatik, dengan orang-orang yang hanya bersenjatakan pisau-pisau belati menyerang tank-tank Sherman, dan kemudian dengan cara yang lebih terorganisir dan lebih efektif, mengikuti dengan cermat buku-buku petunjuk militer Jepang”

Pertempuran berlangsung dengan ganas selama 3 minggu. Pada akhir bulan November 1945 seluruh kota telah jatuh ke tangan sekutu. Namun semangat perlawanan oleh para pejuang Indonesia yang masih hidup tak bisa dipadamkan. Para santri, dan tentara mengikuti ribuan pengungsi yang melarikan diri meninggalkan Surabaya dan kemudian mereka membuat garis pertahanan baru mulai dari Mojokerto di Barat hingga ke arah Sidoarjo di Timur. Beberapa versi menyebut, korban dari pihak Republik Indonesia mencapai 20 ribu, bahkan ada yang menyebut 30 ribu jiwa.

Pelaku dan Saksi Sejarah

Pertanyaan, kemudian muncul, bagaimana membuktikan bahwa peristiwa Pertemuan Bung Karno dengan Rais Akbar Kiai Haji Hasyim Asy’ari itu benar? Mendapat pertanyaan ini Ki Setyo Oetomo Darmadi, menjelaskan posisinya. Menurutnya, Inggris datang ke Surabaya itu jauh sebelum meletus Perang 10 November 1945.

“Setelah meletus Pemberontakan PETA yang dipimpin Soepriyadi, saya dan ayah saya sekeluarga ditahan oleh penjajah Jepang, setelah Proklamasi Kemerdekaan, yaitu pada Tanggal 25 Agustus kami sekelurga dibebaskan. Usia saya saat itu 15 tahun, lalu masuk BKR. Karena saya Adiknya Soepriyadi, saya bisa kenal sama kiai-kiai, di antaranya Pak ud (KH Jusuf Hasyim), Pak Baidlowi, lalu bapaknya Pak Rozi Munir, yaitu Pak Munasir. Dan kebetulan saya masih familinya Bung Karno, jadi saya tahu ada pertemuan Bung Karno dengan Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Hasil pertemuan itu juga disampaikan oleh Bung Karno kepada para anggota BKR,” ungkap Ki Darmadi menjawab, asal sumber kesaksian.

Seruan Resolusi Jihad yang disampaikan di depan Presiden Soekarno oleh Rois Akbar Kiai Haji Hasyim Asy’ari merupakan peristiwa sejarah yang terpendam, dan hanya menjadi sejarah lisan. Namun, peristiwa tersebut bukan isapan jempol. Saat penulis meneliti sejumlah arsip Kabinet Presiden di Arsip Nasional, Cilandak, Jakarta Tahun 2001, penulis menemukan indeks tentang Resolusi Jihad. Namun saat saya pesan untuk saya baca, ternyata bagian pelayanan arsip tersebut menyatakan arsip sudah kosong, alias hilang.(Abdullah Taruna)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Berita, Nasional, Kiai IMNU Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Makna Selembar Bendera

Selembar bendera berlambang NU yang dibuat secara manual pada tahun 1962 masih tersimpan rapi di kediamaan KH Thola’ Al-Badr Karim, pengasuh Pesantren Al-Karimiyah, Pungangan, Patokbeusi, Subang, Jawa Barat. ?

Bendera yang berukuran 150 cm x 60 cm itu berwarna hijau tua dengan lafadh Nahdlatul Ulama dalam huruf Arab warna putih. Di bawah lambang itu tertulis “Tjabang NU Subang”.?

Makna Selembar Bendera (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Selembar Bendera (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Selembar Bendera

Kata cabang masih ditulis “tjabang” karena aturan “tj” menjadi “c” diberlakukan sejak tahun 1972 dalam aturan Ejaan Yang Disempurnakan. Sementara kata “NU” sudah tidak lagi “NO” karena pada tahun 1947 pun sudah diubah.

Bendera tersebut milik pribadi Mama Ajengan KH Syamsuddin. Kata “mama” adalah panggilan akrab “rama” yang berarti ayah. Sebagaimana di Jawa, penyematan “mama”, digunakan juga kepada tokoh agama, di samping untuk ayah.?

Mama Syamsuddin adalah tokoh NU di MWC Pabuaran, ketika Subang masih menjadi bagian Kabupaten Purwakarta. Ia adalah tokoh agama yang lari dari Garut karena tidak mau menerima tawaran bergabung menjadi bagian DI/TII. Kemudian ia tinggal daerah Subang, dan bekerja di perkebunan tebu.

IMNU Tegal

Kendati ia menyembunyikan diri, karena prilakunya berbeda dengan pekerja lain, lama kelamaan ia tercium juga sebagai seorang ahli agama. Kemudian ia diambil warga Pungangan untuk mengajar masyarakat. ?

Menurut Kiai Thola’ Al-Badr Karim bendera dibuat oleh kakeknya sendiri, Mama Syamsuddin dengan alat tulis kapas. Selain itu, sambil puasa juga. Bahkan bendera terebut pernah “dijiad” atau diberi bacaan-bacaan bertuah oleh kiai di Buntet.

Kemudian bendera tersebut disimpan di kamar pribadi Mama Syamsuddin. ? Setelah ia wafat, bendera itu raib tanpa jejak.

IMNU Tegal

Bertahun-tahun Kiai Thola’ Al-Badr Karim mencari bendera itu. Usahanya membuahkan hasil sebelum bulan puasa tahun ini. Bendera tersebut rupanya diamanatkan kepada Kiai Munir, seorang santri Mama Syamsuddin.

Selain itu, KH Thola’ Al-Badr juga menyimpan dua surat dan satu SK struktur kepengurusan NU Kabupaten Subang pada tahun 1979. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Berita, Kiai, Pertandingan IMNU Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

NU dan Mercon Lebaran Masa Penjajahan Belanda

Mercon atau petasan, tidak ada hubungannya dengan Islam. Penggunaannya pada hari Raya Idul Fitr atau Lebaran oleh sebagian kalangan dianggap bid’ah sesat karena tidak diajarkan Nabi Muhammad SAW serta tak berfaidah sama sekali.?

Namun, Berita Nahdlatul Oelama (selanjutnya BNO) berpendapat lain, mercon untuk semarak Lebaran merupakan bagian syiar Islam. Tengok misalnya pada majalah yang diterbitkan HBNO di Surabaya tersebut terbitan 7 November 1940 halaman 15:?



NU dan Mercon Lebaran Masa Penjajahan Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Mercon Lebaran Masa Penjajahan Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Mercon Lebaran Masa Penjajahan Belanda

Sampik sekarang masih banyak orang Islam yang berkelebihan sikep pada mertjon; ada jang anti dan ada jang keliwat dojan ja’ni sampik jang djenggoten, atau sampik meloepakan jang lebih perlu apa lagi sampik oetang atau gade-gade.? Keduanya menurut pikiran Garagoesy, nama ini entah penulis entah kelompok atau majalah lain, yang ada pada majalah itu, sama salahnya. Ia mengatakan,?



Jang pertama hendak menghilangkan keramaiannya hari orang Islam memperlihatken hari besarnya. Jang pertama bilang: itoe mertjon boekan perintah agama. Itoe memang betoel.? Namun, kata penulis itu, apa mercon saja yang bukan perintah agama yang dilakukan kalangan Muslimin saat Idul Fitri? Kenapa mercon saja yang dimusuhi sedang perkara-perkara yang memusuhi Islam 10 ribu persen dipelihara. Namun sayangnya penulis tidak merinci perkara-perkara tersebut.

IMNU Tegal

Lantas penulis mengajak untuk mengkaji kembali tentang larangan membakar mercon tersebut waktu itu.

Dari mana asalja anti mertjon itoe? Kan kembali kepada orang-orang jang soedah terkenal…nggak soeka sama Islam!!! Mereka bilang itoe pemborosan. Jah, itoe betoel kalau kelewat bates. Tapi apa tidak ada lain matjem pemborosan jang dipiara baik oleh mereka? Dan kaloek kita kritik kita dapat tjap ….kolot?Sepertinya memang mercon dilarang waktu itu. Pelarangnya tiada lain adalah pemerintah Hindia Belanda. Kalaupun tidak dilarang, pemerintah jajahan waktu itu mengatur atau membatasi penggunaan mercon. Majalah tersebut pada No 1 tahun 10 (diperkirakan edisi Oktober 1940), mengutip berita dari Balai Pustaka.



IMNU Tegal

Atas nama Legercommandant dikabarkan:

Berhoeboeng dengan larangan memasang petasan (mertjon) maka banjaklah timboel pertanyaan. Oleh sebab itoe diterangkan disini, bahwa larangan itoe mengenai segala matjam petasan dan jang sebangsanya. Djadi bukan petasan (mertjon atau bedil-bedil jang biasa sadja, melainkan djuga kembang api dan petasan banting).?

Oleh karena berhoeboeng dengan lebaran jang akan datang ini banjak permintaan jang masoek, maka sekarang lagi dipertimbangkan diberi tidaknja izin orang memasang petasan itoe, djadi diberi tidaknja atas larangan tersebut.?

Tidak lama lagi bisa rasajnadiberitakan poetoesan tentang itoe.?

Pada edisi tahun ke-10 BNO mengangkat berita berjudul “Mertjon Waktoe Lebaran” seperti berikut:?



Dengan memperloeas jang telah ditentoekan dalam beslitnya 28 Augustus 1941 Nr.4068/G.S. III-9, soedah diizinkan oleh Leggercommandant membakar mertjon pada malam sebeloem 1 Sjawal (21 Oktober) dan pada 1 Sjawal (22 Oktober) tetapi dalam hal itoe haroeslah diperhatikan djoega apa-apa jang ditentoekan dan atau jang dilarang oleh Bestuur.?

(D.v.O. verstrekt)?

Sekadar diketahui, BNO memiliki moto “Majalah Islamiyah Umumiyah”. Terbit dua minggu. Pada tiap jilid, dijelaskan Made Redacteuren j.m. K.H. Hasjim Asj’arie Teboeireng Djombang, j.m. K.H. Abduwahab Chasbullah Soerabaja, j.m. K.H Bisri Denanjar Djombang. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Berita, Nahdlatul Ulama, Budaya IMNU Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Nikah Massal, 298 Mempelai Dapat Putusan Itsbat

Purwakarta, IMNU Tegal. Sedikitnya 298 mempelai mendapat putusan itsbat nikah dengan usia termuda 32 tahun dan pasangan tertua berusia 60 tahun. Satu persatu status perkawinan mereka diputus oleh hakim Pengadilan Agama yang menggelar sidang di tempat.

Nikah Massal, 298 Mempelai Dapat Putusan Itsbat (Sumber Gambar : Nu Online)
Nikah Massal, 298 Mempelai Dapat Putusan Itsbat (Sumber Gambar : Nu Online)

Nikah Massal, 298 Mempelai Dapat Putusan Itsbat

Adegan ini terjadi saat itsbat massal perdana digelar di Bale Desa Linggamukti, Kecamatan Darangdan, Jumat (27/4). Pemerintah Purwakarta mulai membuat kebijakan itsbat nikah secara missal. Itsbat ini pun dilaksanakan secara bertahap dan bekerja sama dengan Kementerian Agama, serta Pengadilan Agama. 

Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkab Purwakarta mencatat sebanyak 2.000 lebih pasangan suami istri (pasutri) di wilayah kerjanya tak miliki akta nikah. Jumlah tersebut berdasarkan hasil validasi selama satu tahun.

IMNU Tegal

Meski demikian, data di lapangan melebihi angka itu. Pasalnya, dari 297.000 kepala keluarga yang ada, yang tak memiliki akta nikah mencapai 30%.

IMNU Tegal

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menuturkan, layanan terhadap administrasi kependudukan merupakan tanggung jawab negara. Dengan begitu, sudah menjadi keharusan layanan itu dibebaskan dari segala bentuk biaya. Termasuk dalam itsbat nikah pun seharusnya digratiskan.

"Tahun ini kita Pemkab mengalokasikan anggaran dari APBD sebesar Rp1,8 miliar untuk itsbat nikah. Jumlah dana tersebut untuk seribu pasang suami isteri. Sisanya akan kita alokasikan pada perubahan anggaran tahun ini," kata Dedi. 

Dikatakan Dedi, anggaran yang digelontorkan itu, selain untuk membayar biaya adminitsrasi akta, juga menanggung setiap pasangan yang hendak melakukan pernikahan. Misalnya, biaya mas kawin, kendaraan pengantin, serta hiburan pernikahan.

 

 

Redaktur : Syaifullah Amin

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Internasional, Berita IMNU Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Gus Mahsun Pimpin GP Ansor Ngawi

Ngawi, IMNU Tegal. Mahsun Fuad atau disapa Gus Mahsun akhirnya terpilih menjadi ketua GP Ansor pada Konferensi Cabang (konfercab) XI Ansor Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Jumat (30/6) kemarin.

Gus Mahsun Pimpin GP Ansor Ngawi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mahsun Pimpin GP Ansor Ngawi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mahsun Pimpin GP Ansor Ngawi

Setelah melalui mekanisme penetapan tata tertib pemilihan, calon ketua hanya ada satu nama yang muncul. Akhirnya pimpinan sidang menetapkan Mahsun Fuad sebagai ketua terpilih secara aklamasi.

"Karena hanya muncul satu nama calon dan telah memenuhi syarat-syarat menjadi ketua, maka secara aklamasi kami menetapkan sahabat Mahsun Fuad sebagai ketua terpilih GPAnsor Ngawi," ujar Hamzah utusan PW GP Ansor Jatim.

IMNU Tegal

Gus Mahsun yang juga dosen pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ngawi mendapat dukungan suara lebih dari 3 PAC dan 4 ranting. Hal tersebut praktis membuatnya sebagai tunggal akhirnya dipilih secara aklamasi oleh pimpinan sidang dan para peserta Konfercab.

IMNU Tegal

Ditanya soal program ke depan, Gus Mahsun, masih akan memplenokan dengan pengurus baru yang lain. Namun menurutnya, ada beberapa tugas mendesak dan harus segera diselesaikan. Diantara menyelesaikan KTA-nisasi 2000 anggota Ansor, konsentrasi penataan PAC dan pengelolaan administrasi organisasi agar tertata rapi.

Gus Mahsun berharap, pengurus baru yang akan datang bisa solid dan profesional dalam rangka membesarkan Ansor.

"Saya berharap, sahabat-sahabat pengurus baru yang akan datang bisa solid dan profesional dalam rangka bersama-sama membesarkan nama Ansor," harapnya.

Sementara itu Konfercab Ansor dihadiri kurang lebih 700 kader GP Ansor Ngawi. Menurut Husaini Amar, Ketua Panitia, konfercab tahun ini memang jauh lebih ramai karena diadakan di halaman Komplek LP Maarif NU Ngawi. 

"Tahun ini Konfercab sengaja diadakan di halaman LP Maarif NU agar bisa menampung seluruh kader Ansor se Kabupaten Ngawi," terangnya.

Dalam Konfercab kali ini, terang Husaini Amar Ansor juga akan meluncurkan Sistem Managemen Gerakan Pemuda Ansor atau yang diberi nama SI-GAP. Sistem ini dibuat oleh Abidulloh Mahfudzh kader Ansor yang mahir di bidang TI.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Agus Susanto

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Berita IMNU Tegal

Selasa, 28 November 2017

Ustadz Hamid: Jangan Gampang Menyalahkan Sebelum Memahami

Pringsewu, IMNU Tegal. Ustadz Abdul Hamid pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) yang diadakan rutin di kantor NU kabupaten Pringsewu, Ahad (16/08/15) menyampaikan pesan agar tidak gampang menyalahkan sebelum memahami persoalan secara menyeluruh dan mendalam. 

Ustadz Hamid: Jangan Gampang Menyalahkan Sebelum Memahami (Sumber Gambar : Nu Online)
Ustadz Hamid: Jangan Gampang Menyalahkan Sebelum Memahami (Sumber Gambar : Nu Online)

Ustadz Hamid: Jangan Gampang Menyalahkan Sebelum Memahami

Pesan ini disampaikan menyikapi fenomena di zaman sekarang ini banyak sekelompok golongan yang dengan gampang menyalah-nyalahkan amaliyah golongan lain.

Menurut Ustadz Hamid golongan ini sering memahami makna dari Al-Qur’an dan hadits secara tekstual saja. Padahal menurutnya, dalam memahami makna dari ayat Al-Qur’an dan hadits diperlukan pemahaman yang dalam, mencakup juga makna kontekstual berikut asbabun nuzul dan asbabul urutnya.

IMNU Tegal

Menurut Ustadz yang sedang menempuh pendidikan S3 di IAIN Radin Intan Lampung ini, pemahaman terhadap ayat Al-Qur’an hendaknya tidak memotong-motong ayat. Hal ini karena banyak sekali ayat Al-Qur’an yang memiliki kaitan dengan ayat sebelum dan sesudahnya. Sedangkan dalam memahami hadits, Ustadz Hamid mengatakan bahwa diperlukan pemahaman tentang sebab-sebab dan bagaimana hadits tersebut disampaikan oleh Nabi.

Hal senada juga disampaikan Mustasyar NU Pringsewu KH Sujadi yang memoderatori Jihad Pagi tersebut. Menurutnya, para ulama Nahdlatul Ulama tidak hanya mengkaji dan menyampaikan secara tekstual dalil dan hukum di dalam agama Islam. Banyak sekali yang menyampaikannya dengan langsung memberikan uswatun hasanah kepada umat.

IMNU Tegal

KH Sujadi mencontohkan bagaimana baru-baru ini KH Maimun Zubair memberikan uswatun hasanah dengan berdiri ketika dilantunkan lagu Indonesia Raya pada Muktamar ke-33 NU di Jombang walaupun kondisi beliau sedang menggunakan kursi roda. 

"Kemudian apakah ada dalil upacara kemerdekaan 17 Agustus? Apakah ada dalil menghormati bendera merah putih? Hal itu tidak harus diperdebatkan karena para ulama lebih tahu dengan mencontohkan yang terbaik kepada umatnya," terangnya. (Muhammad Faizin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Lomba, Berita, Kyai IMNU Tegal

Kamis, 23 November 2017

Hasyim: Masyarakat Tak Percaya Pemerintah Bisa Jaga Keselamatan Nuklir

Jakarta, IMNU Tegal

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menjelaskan penolakan para ulama di Jepara tentang rencana PLTN Muria sebenarnya berakar dari kekhawatiran karena mereka belum percaya pemerintah bisa memastikan keselamatan proyek tersebut.

“Wong gardu listrik saja njebluk (meledak.red), lalu bagaimana nantinya kalau ada kebocoran nuklir, ini yang dikhawatirkan oleh masyarakat Jepara,” tuturnya di PBNU, Senin (3/9).

Dikatakannya bahwa nuklir sendiri sifatnya adalah netral, tidak bisa dihukumi halal atau haram, tergantung pada penggunaannya. Disinilah para ulama di Jepara dalam forum Bahtsul Masa’il pada tanggal 1-2 September 2007 memutuskan bahwa aspek mudharatnya lebih besar daripada manfaat yang akan diperoleh.

Hasyim: Masyarakat Tak Percaya Pemerintah Bisa Jaga Keselamatan Nuklir (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim: Masyarakat Tak Percaya Pemerintah Bisa Jaga Keselamatan Nuklir (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim: Masyarakat Tak Percaya Pemerintah Bisa Jaga Keselamatan Nuklir

Penolakan masyarakat Jepara ini mendapat respon dari sejumlah LSM dan industri yang ada di Jepara dan sekitarnya yang mengkhawatirkan hal yang sama dan bergerak untuk melakukan perlawanan. “Lihat saja, gayanya demo kan bukan gaya NU, tetapi gaya LSM,” paparnya.

Meskipun demikian, Kiai Hasyim berpendapat bahwa energi nuklir tetap diperlukan di Indonesia sepanjang untuk tujuan damai dan sebagai energi alternatif. Sumber energi ini jauh lebih murah dibandingkan dengan energi lainnya.

“Kalau masyarakat Jepara menolak, jangan dipaksakan disitu, nanti terus diriwuki (diganggu.red)), cari saja tempat lain yang masyarakatnya mau menerima,” tandasnya. (mkf)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Habib, Berita, Tegal IMNU Tegal

Minggu, 19 November 2017

Ratusan Aktivis Maarif NU Kotagajah Gelar Pertemuan Halal Bihalal

Lampung Tengah, IMNU Tegal - Ratusan anggota Lembaga Pendidikan Maarif NU Kotagajah Kabupaten Lampung Tengah memadati kediaman Ahmad Dahlan di Desa Purwosari, Kecamatan Batanghari Nuban, Rabu (13/7). Pemerhati dan praktisi pendidikan di lingkungan NU ini mengadakan pertemuan halal bihalal dan silaturahmi di sini.

Sekretaris LP Maarif NU Kotagajah H Subroto mengatakan, silaturahmi yang dirangkai dengan halal bihalal ini sudah berlangsung sejak tahun 1990-an. Pertemuan ini diikuti seluruh anggota keluarga besar dewan guru dan staf tata usaha mulai dari jenjang MTs, MA dan SMK di lingkungan LP Maarif NU.

Ratusan Aktivis Maarif  NU Kotagajah Gelar Pertemuan Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Aktivis Maarif NU Kotagajah Gelar Pertemuan Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Aktivis Maarif NU Kotagajah Gelar Pertemuan Halal Bihalal

"Agenda halal bihalal digelar secara bergiliran, dimulai dari yang paling sepuh atau senior yang telah lama mengabdi di lembaga pendidikan ini. Pertemuan ini juga diawali dengan istighotsah," tambahnya.

Halal bihalal LP Maarif NU Kotagajah dihadiri beberapa tokoh NU seperti pengasuh Pesantren Al-Falah Bandar Jaya Terbanggi Besar KH Abdul Aziz, Wakil Ketua PCNU Lampung Tengah H Ali Mustofa, Wakil Ketua LP Maarif NU Lampung Tengah Usman Gatri, Rais Syuriyah MWCNU Kotagajah Kiai Damanhuri, Ketua LP Maarif NU Kotagajah KH M Baedlowi, Ketua MWCNU Kotagajah Kiai Imron Rosyadi, Ketua Muslimat NU Kotagajah Dra Sunarti, Ketua GP Ansor Kotagajah Ahmad Syamsul Hidayat, Ketua Fatayat NU Kotagajah Siti Maysaroh.

IMNU Tegal

Saat ini LP Maarif NU Kotagajah telah memiliki tiga unit pendidikan formal. Pertama, MTs Maarif 02 Kotagajah dengan 48 dewan guru. Kedua, MA Maarif 9 Kotagajah dengan 51 dewan guru. Ketiga, SMK Maarif 5 Kotagajah dengan 39 dewan guru. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Aswaja, Berita IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock