Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

Diminta Bantu Bebaskan Sandera Taliban, Hasyim ‘Digilir’ Tiga Dubes

Jakarta, IMNU Tegal

Luar biasa. Tidak lebih 3 jam, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi ‘digilir’ tiga Duta Besar (Dubes) negara sahabat untuk Indonesia, antara lain, Kuasa Usaha Dubes Pakistan Ali Baz Khan, Dubes Afganistan Zherazamin Kunary dan Dubes Korea Selatan (Korsel) Mr Lee Sun Jin.

Para utusan negara masing-masing tersebut menemui Hasyim di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Rabu (1/8) siang kemarin. Pertemuan tersebut dilakukan untuk membicarakan upaya pembebasan 23 (2 di antaranya sudah ditembak mati) warga Korsel yang disandera gerilyawan Taliban di Afganisatan sejak 19 Juli lalu.

Diminta Bantu Bebaskan Sandera Taliban, Hasyim ‘Digilir’ Tiga Dubes (Sumber Gambar : Nu Online)
Diminta Bantu Bebaskan Sandera Taliban, Hasyim ‘Digilir’ Tiga Dubes (Sumber Gambar : Nu Online)

Diminta Bantu Bebaskan Sandera Taliban, Hasyim ‘Digilir’ Tiga Dubes

Ali Baz yang datang lebih awal pada pukul 14.10 WIB diterima Hasyim didampingi Ketua PBNU Rozy Munir dan Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Iqbal Sullam di ruangannya. Keduanya langsung menggelar pertemuan tertutup selama kurang lebih 1 jam.

IMNU Tegal

Para wartawan dari berbagai media cetak dan elektronik yang sudah menunggu sejak pukul 13.00 WIB tidak diperkenankan masuk. Hanya para fotografer saja yang diperbolehkan mengambil gambar. Itu pun tidak lebih 3 menit saja.

IMNU Tegal

Usai pertemuan, Ali Baz yang saat itu mengenakan kemeja batik warna hijau, langsung meninggalkan ruangan dan tak memberikan keterangan sedikit pun kepada wartawan tentang agenda pertemuan.

Tak lama kemudian, Zherazamin muncul dan langsung ditemui Hasyim di ruangannya. Sama seperti sebelumnya, pertemuan berlangsung secara tertutup dan wartawan tidak diperbolehkan masuk.

Pertemuan Hasyim dan Zherazamin berlangsung lebih singkat dari sebelumnya. Zherazamin langsung meninggalkan tempat setelah pertemuan selesai dan tak memberikan komentar apapun.

Giliran berikutnya Mr Lee. Lagi-lagi pertemuan digelar secara tertutup. Pertemuan keduanya berlangsung lebih lama daripada dua dubes lainnya. Pukul 16.45 WIB Mr Lee meninggalkan ruangan dan sama seperti pendahulunya, tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut pria berkaca mata dan berjas warna hitam itu.

“Khusus masalah yang berkaitan dengan 23 sandera yang sekarang tinggal 21 orang, kita sudah mengerti peta dan duduk masalahnya. Perlu kehati-hatian dan langkah cermat untuk mengatasi masalah ini. Jika tidak, salah-salah, akan membuat masalah baru dan membahayakan keselamatan orang lain,” ujar Hasyim kepada wartawan usai pertemuan.

Dari pertemuan dengan para utusan resmi tiga negara tersebut, menurut Hasyim, dapat disimpulkan bahwa penyanderaan warga sipil Korsel itu tak kaitannya dengan agama. Seluruhnya merupakan persoalan kepentingan politik dan kekuasaan.

Namun demikian, Hasyim mengatakan, pihaknya akan berusaha berkomunikasi dengan para ulama di sejumlah negara yang berdekatan dengan Afganistan dan memiliki hubungan khusus dengan Taliban. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Ahlussunnah, Cerita IMNU Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

Cari Solusi, Mahasiswa-Pesantren se-Indonesia Silaturahmi di Madura

Sumenep, IMNU Tegal - Ratusan presiden mahasiswa (presma) berkumpul di Pesantren Al-Amien, Pragaan, Sumenep, Kamis-Sabtu (6-8/4). Mereka berasal dari pesantren seluruh Indonesia. Mereka juga mendiskusikan kelebihan dan kekurangan mereka di tempat masing-masing.

"Semua mahasiswa santri yang jadi presma dari kampus di bawah naungan pesantren se-Indonesia sengaja berkumpul di sini. Tujuannya, menguatkan solidaritas," ujar Khoirus Salim, Presma STIA Al-Falah yang terlibat aktif dalam pertemuan tersebut.

Cari Solusi, Mahasiswa-Pesantren se-Indonesia Silaturahmi di Madura (Sumber Gambar : Nu Online)
Cari Solusi, Mahasiswa-Pesantren se-Indonesia Silaturahmi di Madura (Sumber Gambar : Nu Online)

Cari Solusi, Mahasiswa-Pesantren se-Indonesia Silaturahmi di Madura

Acara ini diketengahkan guna mencuatkan kembali betapa pesantren merupakan gudangnya ilmu. Fakta tersebut sedikit banyak mulai pudar dalam keseharian pemuda.

"Kebanyakan pemuda bangga bila kuliah ke luar negeri. Padahal, pesantren adalah gudangnya ilmu. Kita komitmen untuk kembali mengkristalkan pemahaman tersebut," terangnya.

IMNU Tegal

Dalam acara tersebut, kelemahan dan kelebihan mahasiswa santri dari berbagai daerah didiskusikan. Semuanya diselaraskan dengan kearifan lokal masing-masing.

"Untuk kelemahannya, kita upayakan untuk meretas solusi. Sementara kelebihannya, kita perkuat dan syiarkan," tandasnya. (Hairul Anam/Alhafiz K)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Cerita, Anti Hoax IMNU Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

UNU/STAINU Dirikan Pesantren Mahasiswa

Jakarta, IMNU Tegal. Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia dan Sekolah Tinggi Agama Islam NU (STAINU) mendirikan pesantren mahasiswa yang berlokasi di Jl Matraman Dalam II Rt 19 Rw 08 Jakarta Pusat, tak jauh dari kampus UNU di Jalan Taman Amir Hamzah. 

UNU/STAINU Dirikan Pesantren Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU/STAINU Dirikan Pesantren Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU/STAINU Dirikan Pesantren Mahasiswa

Peresmian pesantren tersebut dilakukan Senin malam (23/11) oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj bersama dengan dewan penyantun UNU Hermanto Dardak, Rektor UNU Maksum Machfoedz dan civitas akademika UNU dan STAINU.

Dalam kesempatan tersebut KH Said Aqil Siroj memberi motivasi kepada para mahasiswa untuk rajin belajar karena saat ini banyak sekali kesempatan beasiswa yang bisa diraih oleh para kader NU, asal memenuhi syarat. 

IMNU Tegal

Ia menjelaskan, dukungan terhadap NU diberikan oleh banyak pihak karena sikap moderat NU. Para pihak yang memiliki kesamaan pandangan tersebut sangat mendukung kemajuan NU. Karena itu, ia kembali menegaskan agar menggunakan kesempatan dan berbagai dukungan ini dengan sebaik-baiknya. 

IMNU Tegal

KH Mujib Qolyubi, pengasuh pesantren mahasiswa UNU menjelaskan, pesantren ini khusus diperuntukkan bagi santri putri, sedangkan untuk santri putra, disediakan lokasi di daerah Kalibata.

Inisiatif pendirian pesantren ini dikarenakan banyaknya orang tua mahasiswa yang menanyakan apakah ada pesantren dan tempat mengaji bagi anak-anaknya yang belajar di UNU Indonesia dan STAINU Jakarta. 

Mujib menambahkan, sebagai pesantren, nantinya akan diadakan pengajian rutin tiap hari dengan mengkaji kitab-kitab yang selama ini diajarkan di pesantren. Bukan sekedar belajar agama, para santri akan dididik bagaimana berperilaku dengan baik sesuai dengan akhlak Rasulullah. (Mukafi Niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal RMI NU, Kyai, Cerita IMNU Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Buka Program Studi Umum, UNU NTB Harapan Baru

Mataram, IMNU Tegal. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Barat menggelar lalilatul ijitma’ ke 40 di aula Kantor PWNU NTB Jalan Pendidikan Nomor 6 Kota Mataram pada Jumat malam (4/9).

Buka Program Studi Umum, UNU NTB Harapan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Buka Program Studi Umum, UNU NTB Harapan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Buka Program Studi Umum, UNU NTB Harapan Baru

Kegiatan bulanan NU Wilayah NTB dimulai selepas shalat maghrib berjamaah dilanjutkan dengan istighotsah oleh santri Al-Manshuriah yang diikuti ratusan Nahdliyin. Tampak para mahasiswa baru UNU NTB sekitar 200 orang yang beberapa waktu lalu mengikuti OSPEK.

“Saat ini kita sudah miliki Universtitas (UNU) tersendiri di daerah. Sejauh ini memang banyak lembaga pendidikan yang dikelola oleh orang-orang NU,” kata TGH. Acmad Taqiuddin Mansur, Ketua PWNU NTB saat sambutan.

IMNU Tegal

Tua Guru menyebut lembaga-lembaga itu seperti di Bagu (institute Qomarul Huda Bagu), di Bonder (institute Qomarul Huda Bagu II Bonder), di Lombok Timur (STAINU), dan di Bima juga ada. Namun demikian, itu semua masih bersifat Yayasan.

Oleh karena itu, lanjutnya, Universitas Nahdlatul Ulama yang baru beberapa hari menggelar OSPEK menjadi harapan baru bagi generasi bangsa, khususnya warga nahdliyin karena membuka program study yang masih langka di NTB.

IMNU Tegal

“Dari semua jurusan, hanya Ekonomi Islam (EI) yang berbasis agama. Selain itu, umum semua yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia di masa kini.”

Ia meminta persatuan dan kesatuan bagi warga nahdliyin karena UNU adalah simbol NU.

Sementra itu, Sekretaris PWNU NTB H. Lalu Winengan dalam pengantarnya meminta kepada pelaksana UNU agar mewajibkan seluruh mahasiswanya untuk mengikuti lailatul ijitim’.

“Saya minta kepada birokrasi bagian akademik untuk mewajibkan semua mahasiswa UNU untuk mengikuti ijtima’,” katanya.

Menurut Winengan, lailatul ijitma’ penting diikuti oleh mahasiswa UNU agar mengenal para pengurus NU, mengenal siapa perintis NU dan juga mengenal semua tokoh-tokoh NU. “Jangan sampai mahasiswa UNU tidak mengenal siapa tokoh NU,” harapnya.

Lebih lanjut Kepala Dinas Tata Kota Lombok Barat ini nanti akan mengadakan Turnamen Futsal UNU Cup yang terbuka untuk umum.

“Insya Allah untuk juara satu kita berikan 5 juta. Dan setiap tahun UNU CUP harus diselenggarakan. Kepentingan kami yaitu UNU dikenal,” terangnya. (Hadi/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Cerita, Warta, Humor Islam IMNU Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Perjuangan Membela Bangsa Tak Pernah Berujung

Jember, IMNU Tegal

Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama H. Ali Masykur Musa mengatakan, kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tak boleh membiarkan kesalahan berlarut-larut pada suatu keadaan. Sebab, kesalahan yang berlarut-larut secara perlahan akan berdampak destruktif bagi masa depan bangsa.?

Ia mengatakan hal itu saat menjadi pemateri pada Pelatihan Kader Dasar (PKD) yang digelar oleh PMII Komisariat Universitas Jember di Balai Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu, Jember, Jawa Timur, Rabu (1/2).

Menurut Ali Masykur, sebagai bagian dari eleman bangsa, PMII harus terus berjuag untuk memperbaiki keadaan dengan cara yang elegan. “Harus dipahami bahwa perjuangan membela bangsa dan agama belum berakhir tak akan pernah selesai, lebih-lebih saat ini persoalan? bangsa semakin rumit,” ucapnya.

Perjuangan Membela Bangsa Tak Pernah Berujung (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan Membela Bangsa Tak Pernah Berujung (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan Membela Bangsa Tak Pernah Berujung

Sementara itu, Ketua PMII Komisariat Universitas Jember, Davin Akhmad N. menegaskan bahwa PKD tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas peserta agar mampu menjadi kader mujahid yang siap membela bangsa dan negara guna mencapai keadilan sosial dan kesejahteraan bersama.

Kader PMII, katanya, mempunyai tanggung jawab moral untuk mendampingi masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik. “Satu lagi, kader PMII juga punya tugas yang melekat, yaitu melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar berdasarkan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah,” jelasnya.

IMNU Tegal

PKD berskala regional Jawa Timur yang diikuti oleh 54 peserta tersebut bertema “Mencetak Kader Berintelektual yang Mampu Mengikuti Irama Gelombang Dengan Landasan Aswaja”. Pelatihan yang berlangsung selama 4 hari tersebut, tidak hanya diisi dengan penyampaian materi, tapi peserta juga dilatih menjalankan varian advokasi dengan simulasi unjuk rasa. “Agar peserta tahu bagaimana caranya menyampaikan pendapat yang efektif, benar dan beretika,” lanjut Davin. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Cerita, RMI NU IMNU Tegal

Senin, 08 Januari 2018

Selama Ramadhan, STISNU Nusantara Adakan Pengajian Metodologi Tafsir

Tangerang, IMNU Tegal. Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang, Banten mengadakan kegiatan ngaji posonan atau pasaran di kampus dalam mengisi kegiatan Bulan Ramadhan 1437 H. Ramadhan kali ini, Perguruan Tinggi NU tersebut mengkaji Kitab Metodologi Tafsir.?

H Muhamad Qustulani, Pembantu Ketua Bidang Akademik menjelaskan bahwa kegiatan posonan atau pasaran di kampus STISNU sudah menjadi rutinitas di setiap bulan puasa. Tahun lalu kajiannya ushul fiqih, dibaca oleh KH M. Mahrusillah. Pada tahun ini, yatu metode tafsir, langsung diampu oleh Katib Syuriyah NU Kota Tangerang, KH Arif Hidayat.

Selama Ramadhan, STISNU Nusantara Adakan Pengajian Metodologi Tafsir (Sumber Gambar : Nu Online)
Selama Ramadhan, STISNU Nusantara Adakan Pengajian Metodologi Tafsir (Sumber Gambar : Nu Online)

Selama Ramadhan, STISNU Nusantara Adakan Pengajian Metodologi Tafsir

"Harapannya, di bulan puasa ini mahasiswa dapat menggali potensi diri dengan mengaji tafsir al Quran. Insya Allah, akan lebih bermakna dan bernilai jika diisi dengan taklim," ujar Qustulani.

KH Arif Hidayat, murabbi pengajian menjelaskan bahwa pada pasaran kali ini mahasiswa akan dibekali cara mudah dalam menafsirkan al-Quran, menggunakan metode yang ? diberi nama TAQWA.?

IMNU Tegal

"Mahasiswa diharapkan akan lebih mudah memberikan materi pembelajaran al-Quran kepada siswa/siswi di sekolah nantinya. Insyaallah, lebih mudah dalam menejermahkan al-Quran," jelas Kiai Arif.

Tidak hanya itu, imbuhnya, pada pengajian ini juga akan dibahas kutipan-kutipan penafsiran yang diambil dari kitab tafsir mutabarah, seperti Ibnu Katsir, al-Qurthuby, Mafathil Ghaib Fakhruddin al-Razi, dan lain sebagainya.?

Pengajian ini direncanakan berlangsung selama 10 hari, mulai pukul 10.00 pagi sampai menjelang ashar yang akan diikuti oleh seluruh mahasiswa STISNU Nusantara. Adapun jika dari selain mahasiswa yang ingin mengikuti pengajian maka dipersilahkan dengan pintu terbuka. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Cerita, Daerah IMNU Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Penguatan Aswaja Jadi Rangkaian Harlah Muslimat Kudus

Kudus, IMNU Tegal. Pimpinan Cabang Muslimat NU Kudus menyelenggarakan berbagai kegiatan dalam rangka peringatan hari lahir (Harlah) ke-67 Muslimat.

Jum’at (23/3) kemarin, Pimpinan Cabang Muslimat NU Kudus, menggelar seminar penguatan Aswaja yang bertempat di SD Unggulan Muslimat ? NU Kudus.

Penguatan Aswaja Jadi Rangkaian Harlah Muslimat Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Penguatan Aswaja Jadi Rangkaian Harlah Muslimat Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Penguatan Aswaja Jadi Rangkaian Harlah Muslimat Kudus

Koordinator Nasional Densus 26 Umaruddin Masdar, di depan peserta seminar yang sebagian besar pengurus Muslimat, guru ? PAUD, TK dan RA Muslimat se Kudus itu, menyebutkan beberapa alasan mengikuti NU dan seluruh tradisi keilmuan dan keagamaannya.

IMNU Tegal

Ia mengatakan menjadi warga ? NU berarti mengikuti tuntunan agama yang asasi yakni memuliakan ulama.Selain itu, bisa belajar dan mengambil ilmu agama yang otentik dan asli ? kepada yang benar-benar ahlinya (ulama).

IMNU Tegal

“Melalui NU ? kita bisa bersama ulama dan sholihin memahami dan menjalankan Islam secara kaffah,” tandas Umar seraya mengutip dalil Al Qur’an dan Hadits.

Sekarang ini, terang Umar, beragam ? bentuk ancaman dan tantangan telah mengancam amaliah ahlussunnah Wal jamaah. Diantaranya, ummat dibuat ragu terhadap ulama dan ajaran /amaliah keagamaannya sendiri.?

“Ada juga amaliah-amaliah NU dibd’ahkan,disesatkan,diharamkan, dimusyrikkan bahkan dikafirkan. kita harus waspada ini semua,” tegasnya.

Tidak hanya itu, sebagian besar kitab-kitab ulama klasik banyak dipalsukan. Masjid-masjid ? NU berusaha direbut ? dan diganti oleh kelompok wahabi dengan mengganti ? keta’mirannya.

“Termasuk pula, mereka memberikan bantuan-bantuan ekonomi kepada warga NU dan menyusupi ajaran mereka di sekolah-sekolah umum.” ujar Umarudin.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Umar mengajak untuk selalu mempunyai keyakinan seraya ? teguh melaksanakan ? amalan-amalan Aswaja yang dianut oleh Nahdlatul Ulama.

“Kita harus teguh dan kuat menjalankan tradisi amalan-amalan ? NU dengan menunjukkan ciri khas yang sesuai ajaran Aswaja dan NU,” tegasnya lagi.

Sementara itu beberapa kegiatan yang terselenggara dalam rangkaian peringatan Harlah ke-67 Muslimat NU antara lain, lomba mars Muslimat dan administrasi, lomba anak-anak Tk/PAUD Muslimat, pelayanan KB Gratis, Manaqiban dan ziarah ke makam tokoh Muslimat ? dan NU.

Puncak acara pengajian umum dengan menghadirkan Mustasyar PBNU KH. Sya’roni Ahmadi dan Ketua Umum PP Muslimat ? Hj.Khofifah Indar Parawansa pada Jum’at, 29 Maret mendatang.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal News, Cerita, Humor Islam IMNU Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Tingginya Angka Gugat Cerai WNI di Hong Kong

Jakarta, IMNU Tegal. Hasil penelitian yang dilakukan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan  Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia terhadap pasangan perkawinan Warga Negara Indonesia (WNI) yang melakukan gugat cerai di Hong Kong cukup banya. Dari tahun ke tahun, angkanya terus naik.

Berdasarkan dokumen dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong, menyebutkan, pengajuan gugat cerai pada 2014 sejumlah 2.971 orang; pada 2015 pengajuan gugat cerai tercatat 3.280 orang, pada 2016 pengajuan gugat cerai sebanyak 3.579 orang, sementara baru pada Januari-Mei 2017 pengajuan gugat cerai sejumlah 1.387 orang.

Tingginya Angka Gugat Cerai WNI di Hong Kong (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingginya Angka Gugat Cerai WNI di Hong Kong (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingginya Angka Gugat Cerai WNI di Hong Kong

Demikian dikatakan Mukhtar pada Seminar Hasil Penelitian Pencataan Perkawinan WNI di Luar Negeri di Hotel Aryaduta, Jakarta, Jumat (3/11).

(Baca juga: Ini Penyebab Kawin Sirri WNI di Belanda)

IMNU Tegal

Ia memaparkan sejumlah kemungkinan penyebab meningkatnya jumlah gugat cerai. Pertama, kemungkinan bagi WNI hidupnya merasa nyaman di negara orang (Hong Kong), sementara suami yang tinggal di Indonesia hanya menunggu kiriman dari istri yang bekerja di Hong Kong karena tidak memiliki pekerjaan atau tidak mau bekerja. Kedua, dimungkinkan karena tidak mengerti arti penting dari suatu pernikahan. Ketiga, kepergian seorang istri menjadi TKI sudah membawa permasalahan dalam rumah tangga.

“Sehingga setelah di Hong Kong merasa hidupnya lebih baik mereka berani menggugat cerai suaminya,” ujar Mukhtar.

IMNU Tegal

Kementerian Agama sendiri pada 2016 melalui KJRI telah melakukan sosialisasi di aula KJRI tentang pentingnya pencatatatan perkawinan dan pentingnya membina keluarga yang sejahtera terhadap 80 buruh migran.

Namun demikian, pembinaan agama dan sosialisasi dari pemerintah yang berkaitan dengan perkawinan terhadap tenaga kerja Indonesia yang berada di Hong Kong belum maksimal diisebabkan minimnya anggaran yang tersedia. 

“Dan ketika TKI di penampungan, tenaga kerja kurang pembinaan,” ujarnya. 

Penelitian sendiri dilakukan Mukhtar dan Selamet pada 24 April sampai 3 Mei 2017. Selain di Hong Kong, Puslitbang Bimas Agama dan Layanan  Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik juga melakukan penelitian di Belanda, Malaysia, dan Arab Saudi. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)

Baca Kajian Keagamaan lainnya DI SINI

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Cerita, Pondok Pesantren IMNU Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

Adakah Lebih Penting dari Wacana ‘Hari Santri’?

Oleh Ajie Najmuddin

--Muhammad Zidni Nafi’ dalam tulisannya di Kolom IMNU Tegal berjudul “Meninjau Wacana Labelisasi Hari Santri” (20/10/2014), memberikan gambaran kepada kita tentang rencana penatapan 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional yang diwacanakan oleh? presiden terpilih Jokowi yang dianggap menuai berbagai tanggapan dari banyak kalangan, khususnya dari kalangan pesantren. Tanggapan itu ada yang berupa dukungan penuh, menolak mentah-mentah atau ada juga yang menginginkan wacana tersebut untuk ditinjau ulang.

Dalam tulisannya dia juga mengatakan labelisasi Hari Santri Nasional tersebut tidak perlu apabila dalam realitanya masyarakat memang merasakan sangat betul atas kontribusi santri hingga sampai dewasa ini tetap berkelanjutan dan berkesinambungan. Untuk itu, dalam tulisan kali ini penulis hendak memberikan tanggapan terkait tulisan tersebut. Namun, tulisan di sini bukan untuk mengkritisi tulisan melainkan untuk memberikan wacana lain terkait pesantren.

Saat ini, menurut hemat penulis, ada hal lain yang lebih penting menyangkut ‘hajat hidup’ madrasah dan pesantren daripada sekadar perjuangan label santri. Hal tersebut yakni tatkala Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia, beberapa waktu lalu telah mengeluarkan kebijakan terbaru melalui Peraturan Menteri Agama (PMA) No 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam dan PMA No 18 Tahun 2014 tentang Satuan Pendidikan Muadalah pada Pesantren.

Adakah Lebih Penting dari Wacana ‘Hari Santri’? (Sumber Gambar : Nu Online)
Adakah Lebih Penting dari Wacana ‘Hari Santri’? (Sumber Gambar : Nu Online)

Adakah Lebih Penting dari Wacana ‘Hari Santri’?

Sebagai gambaran sekilas dari peraturan baru ini, salah satu poinnya yakni memungkinkan satuan pendidikan keagamaan Islam pada pesantren atau yang kemudian disebut satuan pendidikan muadalah setara dengan satuan pendidikan lainnya. Tidak hanya itu, peraturan tersebut juga tetap menjamin satuan pendidikan muadalah untuk dapat mengembangkan kurikulum sesuai kekhasan pesantren pada basis kitab kuning atau dirasah islamiyah dengan pola pendidikan muallimin secara berjenjang dan terstruktur.

Hal tersebut tentu menjadi semacam angin segar bagi dunia pesantren, di mana secara kelembagaan dan lulusan pesantren akan memiliki kesempatan besar untuk setara dengan sekolah formal. Dari sisi anggaran pesantren juga akan mendapatkan hak yang sama dengan pendidikan formal sehingga untuk pengajar, fasilitas, dan infrastruktur mendapatkan pembiayaan dari pemerintah.

IMNU Tegal

Ini menjadi secercah peluang yang diharapkan dapat lebih mendukung keberadaan lembaga pendidikan pesantren yang dalam buku “Tradisi Pesantren” (Zamakhsyari Dhofier, 1980) disebut sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Namun, di balik semua asa itu, tentu juga terselip banyak hal lain dari peraturan ini, yang akan menjadi tantangan bagi pesantren ke depan.

Kesiapan Kelembagaan

Tantangan yang dimaksud, lebih mengarah pada kesiapan pesantren menghadapi peraturan baru ini. Para kiai, nyai, ustaz, dan santri, yang selama ini hanya bergelut dengan dunia fa’ala-yaf’ulu dan lain sebagainya, kini mesti menyiapkan sistem kelembagaaan, administraasi dan organisasi yang tertata. Selain masalah tersebut, perlu diperhatikan pula beberapa hal menyangkut kesiapan pesantren dalam menghadapi peraturan ini, salah satunya tentang sistem kurikulum yang akan diterapkan.

IMNU Tegal

Mengingat pada PMA No. 18 tahun 2014 dalam pasal 10 ayat 3 menyebutkan setiap pesantren diwajibkan untuk memuat kurikulum umum paling sedikit empat mata pelajaran yakni: pendidikan kewarganegaraan (al-tarbiyah al-wathaniyah), bahasa Indonesia (al-lughah al-indunisiyah), matematika (al-riyadhiyat) dan ilmu pengetahuan alam (al-ulum al-thabiiyah).

Ketentuan di atas akan menjadi tantangan tersendiri bagi orang-orang pesantren untuk membuat kurikulum dengan pendekatan yang berbeda dibandingkan yang sudah ada pada pendidikan umum. Semisal yang dinyatakan oleh KH Lukman dari Termas, di mana kitab syamsul ma’arif yang diajarkan di beberapa pesantren, sudah selayaknya dikembangkan menjadi bagian dari ilmu pengetahuan alam atau al-ulum al-thabiiyah (Baso, 2014).

Penerapan kurikulum umum ini sekaligus juga akan menguji kemampuan pesantren untuk tetap dapat mempertahankan identitas dirinya, yang menurut Abdurrahman Wahid (2007) masih dinilai bersifat subkultural. Begitu pula dengan tata nilai yang selama ini dimiliki pesantren seperti keikhlasan, kejujuran, kepatuhan dan kesederhanaan. Tak pelak, penambahan kurikulum umum ini bagi pesantren yang benar-benar masih bercorak tradisional dan berada di lingkup pedesaan, setidaknya akan memberikan pembentukan tata nilai baru bagi mereka.

Penegasan Nasionalisme

Hal lain yang tak kalah penting dari peraturan ini, yakni sebagaimana termaktub dalam PMA No. 13 tahun 2014 ? Pasal 4 yang berbunyi : “Pesantren wajib menjunjung tinggi dan mengembangkan nilai-nilai Islam rahmatan lilalamin dengari menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhineka Tunggal Ika, keadilan, toleransi, kemanusiaan, keikhlasan, kebersamaan, dan nilai-nilai luhur lainnya."

Pasal ini dapat dinilai sebagai penegasan sikap nasionalisme di kalangan pesantren. Tentu, sudah banyak kisah kepahlawanan dari kaum sarungan yang pernah kita baca, khususnya di era perjuangan dalam merebut kemerdekaan bangsa ini. Pun dalam upaya mempertahankan kedaulatan bangsa ini, seperti saat peristiwa ‘Resolusi Jihad’ KH Hasyim Asy’ari dan perang 10 November di Surabaya.

Namun, dewasa ini sering terdengar stigma negatif tentang pesantren yang dianggap sebagai sarang teroris. Padahal tidak demikian, yang terjadi sebetulnya hanya dilakukan oleh segelintir oknum. Dengan menggunakan kedok pesantren, para oknum tersebut mengajarkan doktrin gerakan radikalisme yang dibungkus dengan ajaran agama.

Nah, dengan peraturan yang ada, oknum lembaga pesantren yang tidak mengakui NKRI dan bahkan mendukung gerakan radikalisme tersebut, semestinya tidak akan diberikan izin operasional. Ini sekaligus akan memupus stigma negatif terorisme pada pesantren. Tantangan tersebut juga berlaku bagi Kemenag sebagai pihak yang mengeluarkan kebijakan ini, beranikah mereka membubarkan ‘pesantren’ yang secara jelas tidak mau mengakui dan bahkan ikut merongrong NKRI?

Kejayaan Pesantren

Pembahasan permasalahan di atas kiranya dapat sedikit memberikan gambaran akan harapan, peluang serta tantangan yang akan dihadapi pesantren ke depan. Alangkah lebih baik, apabila mereka mulai untuk mempersiapkan kesemuanya. Tentu ini juga akan lebih penting dari sekedar membahas kepastian penetapan 1 Muharram sebagai ‘Hari Santri’.

Penulis berharap, dengan munculnya kebijakan ini menjadi pintu masuk dan langkah baru untuk kembali menemukan kejayaan pesantren seperti halnya yang pernah dibuktikan Pesantren Tebu Ireng Jombang, Mambaul Ulum Surakarta, dan pesantren lain yang pernah melahirkan tokoh-tokoh penting dan memberikan pengaruh besar bagi perkembangan bangsa ini. Sebut saja tokoh seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, KH Ahmad Dahlan, KH Wahab Hasbullah, KH Abdurrahman Wahid, Munawir Syadzali, dan lain sebagainya

Sebagi penutup, penulis mengutip beberapa kalimat dari Gus Dur dalam buku Islam Kosmopolitan (2007). Bagaimana pesantren, sebagai sebuah lembaga pendidikan menjawab tantangan ini merupakan perkembangan yang paling menarik untuk diamati dan dianalitis. Baik keterbatasan-keterbatasan dan peluang-peluang berlimpah-limpah dalam pengembangan pesantren yang sedang mengalami konflik selama ini. Sejarahlah yang kelak akan membuktikan hal ini!

?

Ajie Najmuddin, kontributor IMNU Tegal Solo Raya, pengajar di Ta’mirul Islam, aktivis GP Ansor

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Halaqoh, Cerita, AlaNu IMNU Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam

Jakarta, IMNU Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengaku tak terlalu serius menanggapi stigma ahli bid’ah (mengada-ada dalam beribadah) yang diarahkan padanya maupun organisasi yang ia pimpin. Hal itu dilakukannya demi menjaga kerukunan di antara sesama umat Islam di Indonesia.

“Dicap bid’ah-lah, dianggap kurang Islam-lah, saya biarkan aja. Kalau ditanggapi, saya khawatir jadi konflik nantinya. Kalau sudah konflik, meluas, dan akhirnya Islam mudah dipecah-belah,” ujar Hasyim kepada wartawan usai menerima kunjungan Duta Besar Swiss untuk Indonesia Bernardino Regazzoni di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (9/1) kemarin.

Presiden World Conference on Religion and Peace (WCRP) itu mengaku, hal yang dilakukannya didasari atas pertengkaran umat Islam di Timur Tengah yang hingga saat ini tak kunjung mereda. Meski sadar bahwa pertengkaran tersebut bukanlah didasari persoalan agama—melainkan konflik politik, menurutnya, hal itu cukup menjadi bukti bahwa umat Islam mudah sekali diadu-domba.

Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Tanggapi Stigma Bidah Demi Kerukunan Umat Islam

Ketika umat Islam berhasil diadu-domba, maka, lanjut Hasyim, kondisi tersebut berarti membuka peluang bagi pihak luar untuk memanfaatkan Islam. Hal itulah, katanya, yang sedang terjadi pada umat Islam di Irak, terutama pasca eksekusi mati mantan Presiden Irak Saddam Hussein.

“Video eksekusi Saddam terus ditayangkan. Saya yakin, maksudnya itu supaya orang Sunni marah dan berkelahi dengan Syiah. Sementara sekarang kepemimpinan Irak dipegang Syiah. Nah, saat mereka berkelahi, Amerika Serikat masuk ngambil minyak,” urai Hasyim yang juga Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars.

IMNU Tegal

Hal yang sama juga ia lakukan ketika sejumlah aset milik warga nahdliyin (sebutan untuk warga NU) seperti masjid dan madrasah diambil-alih oleh kelompok Islam garis keras. Ia yakin, jika ditanggapi apalagi dengan kekerasan, maka akan tumbuh benih-benih perpecahan di antara umat Islam.

“Biarkan saja. Saya tidak mungkin nyuruh warga NU marah dan mengambil lagi masjid atau madrasahnya. Saya yakin, masyarakat sendiri yang nanti akan menentukan sikap. Kalau nggak diadili langsung oleh masyarakat, ya, masjidnya ditinggalin jamaah,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur itu.

Ditambahkan Hasyim, meski umat Islam di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia relatif tenang. Namun, bukan tidak mungkin ketenangan itu akan diusik, seperti halnya di Timur Tengah. “Jangan sampai hal itu (konflik: Red) terjadi di Asia Tenggara, juga di Indonesia. Kuncinya jangan sampai tercerai berai,” imbaunya.

Untuk kepentingan itu, Hasyim akan mengusahakan pertemuan rutin para pemimpin organisasi kemasyarakat (ormas) Islam di Indonesia, tak terkecuali ormas Islam yang tergolong garis keras. “Saya ingin tokoh-tokoh Islam Indonesia kumpul, minimal tiga bulan sekali di sini (PBNU). Ya, sekedar silaturrahim aja. Biar kita bisa berkomunikasi dan saling terbuka,” harapnya. (rif)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal AlaSantri, Cerita, Kiai IMNU Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Persatuan Pelajar Indonesia Serahkan Bantuan Kepada Warga Syiria

Damaskus, IMNU Tegal. Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Damaskus menyerahkan bantuan kemanusiaan kepada Syrian Arab Red Crescent (SARC) di Kantor Pusat SARC di Damaskus Rabu, (20/4). Bantuan dari PPI ini langsung diterima Presiden SARC, Dr Abdul Rahman Attar, dan disaksikan Duta Besar RI Damaskus, Djoko Harjanto, didampingi Plh Pensosbud KBRI Damaskus.

Bantuan senilai 3.565.000 (tiga juta lima ratus enam puluh lima Lira Suriah) atau sekitar US$7000 dan 6 (enam) kardus berisi pakaian dan kebutuhan anak-anak berasal dari Perhimpunan Pelajar Indonesia sedunia yang dimediasi oleh KBRI Damaskus.

Persatuan Pelajar Indonesia Serahkan Bantuan Kepada Warga Syiria (Sumber Gambar : Nu Online)
Persatuan Pelajar Indonesia Serahkan Bantuan Kepada Warga Syiria (Sumber Gambar : Nu Online)

Persatuan Pelajar Indonesia Serahkan Bantuan Kepada Warga Syiria

Dubes Djoko Harjanto mengungkapkan rasa keprihatinannya atas krisis yang terjadi di Suriah dan berharap konflik akan segera berakhir di masa mendatang.

“Pemerintah Indonesia telah menyampaikan bantuan resmi senilai US$ 500,000 melalui organisasi PBB UN-OCHA,” ujarnya.?

“Sementara bantuan melalui SARC ini sebagai bentuk solidaritas para pelajar dan rakyat Indonesia terhadap penderitaan rakyat Suriah,” sambungnya.

IMNU Tegal

Sementara itu, Ketua SARC menyampaikan terima kasih atas kunjungan Dubes Djoko dan rombongan yang merupakan bukti solidaritas rakyat Indonesia dalam krisis yang dihadapi di Suriah. Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya telah beberapa kali berkunjung ke Indonesia terutama ke Jakarta dan Bali, terkait dengan organisasi kemanusiaan.?

Organisasi Bulan Sabit Merah Arab Suriah (Syrian Arab Red Crescent) memiliki 14 cabang di propinsi-propinsi Suriah dan 75 subcabang hingga ke pelosok Suriah. SARC juga merupakan organisasi kemanusiaan independen yang anggotanya terdiri dari Konfederasi Bulan Sabit dan Palang Merah Internasional. Presiden SARC juga merupakan salah satu anggota presidium konfederasi dimaksud.

Misi yang dilakukan SARC adalah misi independen dan kemanusiaan, jauh dari ranah politik dan keberpihakan. Misi yang dijalankan SARC benar-benar penuh resiko, dimana mereka harus menjadi penengah antara pemerintah dan oposisi serta kelompok bersenjata lainnya. SARC bisa masuk ke wilayah-wilayah hot area yang dikuasai kelompok-kelompok bersenjata untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan baik melalui darat maupun udara.

IMNU Tegal

Sejak lebih dari 5 tahun terjadinya konflik bersenjata, tercatat sebanyak 65 korban jiwa dari pihak relawan SARC yang berada di garis terdepan penyaluran bantuan kemanusiaan.

“Uang tunai bantuan tersebut akan dibelikan susu yang saat ini sangat dibutuhkan oleh para balita dan anak-anak yang berada di penampungan di bawah pengawasan The Syrian Arab Red Crescent (SARC),” ujar Dr Abdul Rahman Attar seraya mengucapkan banyak terima kepada para pelajar. Ia mengungkapkan bahwa bantuan PBB selama ini tidak pernah ada komponen susu untuk anak-anak yang sangat memerlukan. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Cerita, Sunnah IMNU Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Pererat Silaturrahim Melalui Istighotsah

Probolinggo, IMNU Tegal. Dalam rangka untuk mempererat ikatan silaturahim diantara pengurus dan Nahdliyin, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kuripan Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur secara istiqomah menggelar istighotsah baik di kantor NU maupun di rumah tokoh masyarakat di masing-masing ranting.

Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Kuripan Abdul Aziz, Selasa (17/12) mengungkapkan istighotsah ini dilakukan sebagai upaya untuk mempererat silaturahim diantara pengurus dan warga NU. Apalagi saat ini sudah banyak paham-paham baru di luar NU dan bertentangan dengan akidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Pererat Silaturrahim Melalui Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pererat Silaturrahim Melalui Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pererat Silaturrahim Melalui Istighotsah

”Istighotsah ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh MWCNU Kecamatan Kuripan untuk semakin mendekatkan diri kepada masyarakat. Melalui istighotsah ini, diharapkan akan semakin mempererat dan memperkokoh jalinan ikatan silaturahim diantara sesama pengurus NU dan warga NU sehingga nantinya akan menumbuhkan rasa kebersamaan untuk bersama-sama membesarkan NU,” ungkapnuya.

IMNU Tegal

Tidak hanya itu menurut Abdul Aziz, istighotsah ini juga dapat menjadi sebuah media untuk menyerap aspirasi Nahdliyin. “Dengan demikian pengurus NU tahu apa yang diharapkan oleh warganya. Sehingga nanti dapat dimasukkan sebagai program prioritas MWCNU Kecamatan Kuripan,” jelasnya.

IMNU Tegal

Abdul Aziz menegaskan istighosah ini merupakan salah satu tradisi ulama NU yang harus terus dilestarikan. ”Jangan pernah meninggalkan tradisi-tradisi yang ada dan tetap berpedoman pada hal-hal yang telah dirumuskan oleh ulama NU. Sebab tradisi-tradisi ini merupakan simbol dan kekuatan untuk membesarkan NU di tengah-tengah masyarakat,” tegasnya.

Lebih lanjut Abdul Aziz menjelaskan istighotsah ini bertujuan untuk mengamalkan ajaran tradisi ulama NU Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan mendoakan masyarakat. “Istighotsah ini merupakan salah satu upaya yang kami lakukan untuk selalu melestarikan tradisi-tradisi yang dilakukan oleh ulama NU,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Pendidikan, Cerita, Khutbah IMNU Tegal

PBNU dan Mizan Bahas Perkembangan Sufisme Dunia

Jakarta, IMNU Tegal

Penerbit Mizan bekerjasama dengan Lembaga Talif wan Nasyr (LTNNU) dan Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU), akan mengadakan bedah buku dan diskusi tentang perkembangan sufisme dunia, pada Jumat (26/2), jam. 14.00, hari ini. Agenda ini juga dalam rangka Studium Generale Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU Jakarta) dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia. Diskusi dan Studium Generale ini, diselenggarakan dengan tema "Sufism in the Modern World".

PBNU dan Mizan Bahas Perkembangan Sufisme Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU dan Mizan Bahas Perkembangan Sufisme Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU dan Mizan Bahas Perkembangan Sufisme Dunia

Menurut rencana, agenda ini akan dihadiri oleh pakar sufi dari Aljazair, Dr Abdul Aziz Abbaci (Sadra Institute), Dr Haidar Bagir (Mizan), dan Dr Mastuki HS (Direktur Pascasarjana STAINU Jakarta). Agenda ini, terselenggara dengan dukungan Gerakan Islam Cinta, Nutizen, IMNU Tegal, TV9, Aswaja TV,? dan majalah Risalah NU.

Munawir Aziz, salah satu panitian menjelaskan pada agenda ini, akan dibahas perkembangan sufisme di negara-negara modern, serta kaitannya dengan jaringan sufisme di Nusantara. Tema ini, terkait erat dengan tema besar yang diusung Nahdlatul Ulama, yakni Islam Nusantara untuk peradaban dunia. Tentu, kajian ini akan menarik sebagai perspektif baru dalam memandang Islam di dunia, yakni dari pendekatan tasawuf yang penuh cinta dan welas asih. Pada momentum ini, juga akan diluncurkan sebuah buku baru, karya Prof. Carl Ernst (Carolina University), yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan.

Katib Syuriyah PBNU, KH Mujib Qulyubi, menyambut hangat diksusi sebagai salah satu titik penting dalam mengkaji perkembangan Islam di dunia. "Pada prinsipnya kita menyambut hangat majelis ilmiah yang sesuai dengan visi Nahdlatul Ulama. Terlebih, mengkaji perkembangan sufisme itu sangat menarik. Jadi, ada pengkaji sufi, dan pelaku sufi," ungkap Kiai Mujib.

IMNU Tegal

Diskusi dan Studium Generale pada agenda ini, akan disiarkan secara langsung (live streaming) oleh Nutizen, via aplikasi media ini. Untuk konfirmasi kehadiran, silakan hubungi Faiz, 085710086095[]. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Cerita, Makam, Syariah IMNU Tegal

Mustasyar PCNU Probolinggo Lepas Jamaah Umroh

Probolinggo, IMNU Tegal. Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin, Kamis (29/12) pagi melepas puluhan jamaah umroh Kabupaten Probolinggo. Para jamaah yang dilepas dari Pendopo Bupati Probolinggo ini merupakan para guru pendidik dan pedagang di Kabupaten Probolinggo.

Mustasyar PCNU Probolinggo Lepas Jamaah Umroh (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PCNU Probolinggo Lepas Jamaah Umroh (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar PCNU Probolinggo Lepas Jamaah Umroh

Dalam kesempatan tersebut Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa saat ini suhu di Madinah mencapai 5 derajat yang merupakan cuaca yang ektrem. Oleh karena itu, jamaah umroh harus mempersiapkan diri serta menjaga kondisi kesehatan dengan baik.

"Ibadah umroh dan haji merupakan ibadah fisik. Melaksanakan ibadah umroh maupun haji yang mahal itu adalah untuk kebutuhan hotel (penginapan) dan pesawat," katanya.

IMNU Tegal

Menurut Hasan, sholat dhuhur 1 kali di Masjidil Haram itu sama dengan sholat Dhuhur 100 ribu kali di Indonesia. "Perbanyaklah serta maksimalkan untuk melaksanakan ibadah dan shalat sunnahnya," jelasnya.

IMNU Tegal

Kepada jamaah umroh Hasan meminta agar meninggalkan baju kesomboangan dan keangkuhannya selama berada di tanah suci Mekah dan Madinah. Sebab dengan sombong dan takabur nantinya akan membawa masalah selama menjalankan ibadah di tanah suci Mekah.

"Tawadhu atau rendah hatilah yang harus ditanamkan pada setiap hati jamaah untuk kelancaran melaksanakan ibadah umroh selama berada di tanah suci Mekah dan Madinah," tegasnya.

Hasan menambahkan bahwa banyak orang kaya yang tidak pernah ke Mekah dan Madinah untuk menjalan ibadah haji maupun umroh. "Jadi para jamaah ini merupakan kesempatan yang mendapat panggilan sebagai tamu Allah SWT dan Rasulullah," pungkasnya.

Pelepasan para jamaah umroh ini dihadiri oleh sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Probolinggo. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Amalan, Cerita IMNU Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

Puasa Setengah Hari Masa Kecil Pak Menteri

Jakarta, IMNU Tegal?



Menteri Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Rudiantara mengaku diajari berpuasa oleh keluarga sejak ia masa kecil. Sebagaimana umum anak-anak seusianya, ia hanya bisa melaksanakan puasa setengah hari.?

“Saya diajari dengan puasa setengah hari karena ganjarannya diberi bonus oleh orang tua setengah hari juga. Padahal kita tahu tidak ada puasa setengah hari itu,” katanya di gedung PBNU sebelum meresmikan Nusantara Command Center (NCC) Senin (22/5).?

Puasa Setengah Hari Masa Kecil Pak Menteri (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa Setengah Hari Masa Kecil Pak Menteri (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa Setengah Hari Masa Kecil Pak Menteri

Namun ia menilai, puasa setengah hari itu merupakan cara mendidik yang baik orang tua kepada anak agar kelak setelah dewasa terbiasa melakukannya.?

“Saya dibesarkan di Bogor, dididk orangtua, terutama nenek saya,” lanjutnya meriwayatkan masa kecilnya.?

Neneknnya, adalah pihak yang mendukung dia dalam menimba ilmu-ilmu agama dengan mengirimkannya ke sekolah agama sore hari.?

IMNU Tegal

Jika ia malas pergi ke madrasah, maka neneknya itu akan memanggil tukang becak agar mengantarkan Rudiantara ke madrasah.?

IMNU Tegal

“Supaya saya ikut kelas. Kalau enggak, nanti saya malas. Sampai sekarang saya tidak lupa itu,” katanya.?

Makanya, lanjut dia, saat dia berdoa untuk orangtuanya, ia selalu menyertakan nama neneknya.?

“Karena saya tidak bisa baca Qur’an, tidak bisa baca nahwu sharaf, grammer (tata bahasa) segala rupa kalau tanpa nenek saya. Saya di Bogor di Madrasah Ibtidaiyah belajar nahwu, sharaf, fiqih, tauhid, di Jalan Menteng,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Cerita, Sholawat, Meme Islam IMNU Tegal

Jumat, 24 November 2017

Tuhan yang Jauh

Oleh? Ali Usman

Jalaluddin Rumi (604-672 H/1207-1275 M) dalam kitabnya, Masnawi, bercerita: Dahulu, ada seorang muazin bersuara jelek di sebuah negeri kafir. Ia memanggil orang untuk shalat, tetapi umat muslim lainnya justru menegur, "janganlah kamu memanggil orang untuk shalat. Kita tinggal di negeri yang mayoritas bukan beragama Islam. Bukan tidak mungkin suaramu itu akan menyebabkan terjadinya kerusuhan dan pertengkaran antara kita dan orang-orang kafir."?



Namun muazin tersebut menolak nasihat banyak orang. Ia merasa bahagia dengan melantunkan azannya yang tidak bagus itu di negeri orang kafir. Ia merasa mendapat kehormatan untuk memanggil shalat di satu negeri di mana orang tak pernah shalat.

Tuhan yang Jauh (Sumber Gambar : Nu Online)
Tuhan yang Jauh (Sumber Gambar : Nu Online)

Tuhan yang Jauh



Kekhawatiran itu berwujud nyata. Seorang kafir datang kepada mereka (orang muslim) suatu pagi, dengan membawa jubah, lilin, dan manisan. Berulang-ulang dia bertanya, "katakan kepadaku di mana sang muazin itu? Tunjukkan padaku, siapa dia, muazin yang suara dan teriakannya selalu menambah kebahagiaan hatiku?" Seorang muslim bertanya, "kebahagiaan apa yang engkau peroleh dari suara muazin yang jelek itu?"

IMNU Tegal



Lalu orang kafir itu bercerita, "suara muazin itu menembus ke gereja dan tempat kami tinggal. Aku mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik dan berakhlak mulia. Ia berkeinginan sekali untuk menikahi seorang muslim. Ia mempelajari agama dan tampaknya tertarik untuk masuk Islam. Aku tersiksa, gelisah, dan terus-menerus dilanda kerisauan memikirkan anak gadisku itu. Aku khawatir dia akan masuk Islam. Sampai suatu saat anak perempuanku mendengar suara azan. Ia bertanya, suara apakah yang terdengar jelek dan mengganggu telingaku itu? Belum pernah dalam hidupku mendengar suara sejelek itu di tempat-tempat ibadah atau gereja."



Orang kafir melanjutkan ceritanya, “anak gadisku itu hampir tidak percaya. Dia bertanya lagi kepadaku, "apakah benar suara yang jelek itu adalah suara untuk memanggil orang sembahyang?" Namun ketika dia sudah diyakinkan bahwa betul suara itu adalah azan, wajahnya berubah pucat pasi. Dalam hatinya tersimpan kebencian pada Islam. Begitu aku menyaksikan perubahan itu, aku merasa dilepaskan dari segala kecemasan dan penderitaan.



IMNU Tegal

Singkat cerita, ketika orang kafir itu bertemu dengan si muazin, dia berkata, "terima kasih hadiah ini karena engkau telah menjadi pelindung dan juru selamatku. Berkat kebaikan yang telah engkau lakukan, kini aku terlepas dari kegelisahan. Sekiranya aku memiliki kekayaan dan harta benda yang banyak, akan aku isi mulutmu dengan emas."

?

Hikmah parodi



Rumi mengajari kita sebuah cerita yang berisi parodi, sebuah sindiran yang sangat halus. Azan yang dikumandangkan dengan buruk bukan hanya dapat menghalangi orang untuk masuk Islam, tetapi ini juga soal metode komunikasi—atau dalam bahasa agama "metode dakwah"—yang kurang tepat. Bahwa betul apa yang disampaikan itu suatu kebenaran Ilahi, tetapi jika caranya salah, seperti orang memberikan makanan lezat kepada orang lain dengan cara melemparnya, tidak dengan yang lazim/sopan sebagaimana menjadi aturan adat atau norma agama, orang lain akan enggan ? nerimanya.



Jalaluddin Rakhmat (2007) menyebut model keberagamaan seperti yang ditunjukkan oleh muazain di atas sebagai "kesalehan pulasan", yaitu orang yang meletakkan nilai pada segi lahiriah. Seperti orang yang berazan, ia merasa azannya betul-betul melaksanakan perintah agama. Karena azan itu, seperti disebutkan dalam hadits, adalah suatu kewajiban yang mulia. Dengan berpegang pada teks itu, maka orang berlomba-lomba mengumandangkan azan, apalagi dilakukan dengan menggunakan pengeras suara bersahut-sahutan. Ini juga berlaku kepada amalan ibadah lain yang cenderung—meminjam istilah wakil presiden Jusuf Kalla melakukan "polusi udara" pada kasus pemutaran kaset ngaji.



Apakah hal itu salah? Tentu saja tidak, tetapi mungkin perlu mempertimbangkan aspek substansi (batiniah) selain aspek lahiriah ibadah. Apakah dengan berazan atau bahkan mengaji menggunakan pengeras suara dapat melipatgandakan pahala di sisi-Nya? Bagaimana jika dengan lantunan ayat atau azan itu justru mengganggu masyarakat lain yang non-muslim karena bising yang ditimbulkannya? Atau jangan-jangan kita menganggap bahwa Tuhan itu jauh (padahal Dia sendiri mengatakan (Q.S al-Baqarah: 186) bahwa diri-Nya sangat dekat dengan kita, fainni qarib) dan tidak mendengar (padahal Dia adalah sami, Maha Mendengar) sehingga perlu dipanggil lewat pengeras suara?

?

Gus Dur dan Gus Mus



Jadi ingat humor berikut ini. Tokoh agama Islam, Kristen, dan Budha sedang berdebat. Gus Dur mewakili dari agama Islam. Kala itu yang diperdebatkan mengenai agama manakah yang paling dekat dengan Tuhan? Seorang biksu Budha langsung menjawab, "Agama sayalah yang paling dekat dengan Tuhan, karena setiap kami beribadah ketika memanggil Tuhan kami mengucapkan Om. Nah kalian tahu sendiri, begitu dekatnya hubungan keluarga antara paman dengan ponakannya?"



Seorang pendeta dari agama Kristen menyangkal. "Ya tidak bisa, pasti agama saya yang lebih dekat dengan Tuhan", ujar pendeta. "Lah kok bisa?", sahut biksu penasaran. "Kenapa tidak, agama Anda kalau memanggil Tuhan hanya Om, tetapi kalau di agama saya memanggil Tuhan itu Bapa. Nah kalian tahu sendiri, lebih dekat mana anak dengan bapaknya daripada keponakan dengan pamannya?" jawab pendeta.



Gus Dur yang belum mengeluarkan argumen masih tetap tertawa malah terbahak-bahak setelah mendengar argumen dari pendeta. "Loh kenapa Anda kok tertawa terus?" tanya pendeta penasaran. "Apa Anda merasa bahwa agama Anda lebih dekat dengan Tuhan?" sahut biksu bertanya pada Gus Dur.



Gus Dur masih saja tertawa sambil mengatakan "Ndak kok, saya ndak bilang gitu, boro-boro dekat justru agama saya malah paling jauh sendiri dengan Tuhan." Jawab Gus Dur dengan masih tertawa. "Lho kok bisa?" tanya pendeta dan biksu makin penasaran. "Bagaimana tidak, lah wong kalau di agama saya itu kalau memanggil Tuhan saja harus memakai Toa (pengeras suara)," jawab Gus Dur.



Karena itulah, tidak berlebihan, jika KH Musthafa Bisri atau Gus Mus menulis puisi Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana, yang penggalannya berbunyi, "... Aku harus bagaimana/Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggilnya dengan pengeras suara tiap saat/Kau bilang suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai."

?

Penulis adalah Dosen Filsafat dan Tasawuf pada Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran (STAISPA) Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal RMI NU, Cerita IMNU Tegal

Minggu, 12 November 2017

Lesehan Ansor Genuk Bincang Ma’rifat Samin

Semarang, IMNU Tegal 

Pengurus Anak Cabang (PAC) GP Ansor Genuk ngaji sosial budaya. Kegiatan ini mengambil pokok pembahasan ma’rifat suku Samin hingga simpang siur sejarah Walisongo, Islam, dan kebudayaan Jawa; serta sejarah akulturasi dan sejarah nilai.

Kegiatan atas kerjasama dengan Rumah Pendidikan Sciena Madani tersebut bertempat di rumah Pak RT  Zainun Kamil yang beralamatkan Penggaron Rt 6 Rw 1 Genuk, Semarang, Jawa Tengah, pada Ahad (13/10).

Lesehan Ansor Genuk Bincang Ma’rifat Samin (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesehan Ansor Genuk Bincang Ma’rifat Samin (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesehan Ansor Genuk Bincang Ma’rifat Samin

Dipandu Lukni Maulana, Pengasuh Rumah Pendidikan Sciena Madani kegiatan tersebut,  mulai gemuruh ketika Martin Moethadhim SM, selaku pembicara, bercerita lika-liku hidupnya. Seperti kisah spiritualnya ketika Shalat di Gereja Pangkalan Militer Amerika Serikat.

IMNU Tegal

Pembicara asli Blora ini, mengemukakan berbagai hal rancaunya dalam membahas sejarah. Ketika akan merunut sebuah sejarah, semisalkan sejarah tokoh itu seperti ingin menemukan sanad hadist. 

“Dengan belajar sejarah, kita diajak untuk selalu mengumpulkan dokumentasi dan banyak membaca, karena sejarah selalu saja bisa berubah ketika ada bukti baru,” kata Martin.

IMNU Tegal

“Sedangkan Samin bukanlah sebuah suku, melainkan laku hidup yang dinisbatkan kepada pendiri saminisme. Dalam pergolakkannya saminisme ini muncul sebagai sebuah gerakan untuk melawan penjajah,” lanjutnya.

Kegiatan Lesehan Ansor ini merupakan wadah gerakan wacana dan intelektual PAC GP Ansor Genuk yang diadakan setiap 2 bulan sekali dengan menghadirkan para pembicara yang berkompeten di bidangnya. Selain itu juga Lesehan Ansor menengahkan grup musik Ansor Nada, sebagai pemantik kemeriahan.

“Selain mendapatkan ilmu dari pakarnya, ada bonus mendenggarkan Grup Musik Ansorun Nada sebauh grup musik dakwah dan sedekah,” tutur Muhammad Sodri Ketua PAC GP Ansor Genuk. (Lukni Maulana/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Cerita, Tokoh IMNU Tegal

Selasa, 24 Oktober 2017

Alasan KUA Punya Peran Strategis dalam Membina Paham Keagamaan

Jakarta, IMNU Tegal. Direktur Bina Kantor Urusan Agama (KUA) dan Keluarga Sakinah Kementerian Agama RI, Mohsen, menegaskan, KUA sangat strategis dalam membina paham keagamaan Islam di tengah masyarakat. Hal ini disebabkan KUA dekat dan bersentuhan langsung dengan masyarakat bawah.

“Peran KUA Strategis justru karena dekat dengan masyarakat dalam membina paham keagamaan Islam,” ujar Mohsen, Kamis (14/12) lalu di Jakarta sembari menegaskan bahwa tugas KUA tidak hanya semata mengurusi persoalan pernikahan saja.

Alasan KUA Punya Peran Strategis dalam Membina Paham Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Alasan KUA Punya Peran Strategis dalam Membina Paham Keagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Alasan KUA Punya Peran Strategis dalam Membina Paham Keagamaan

Pria kelahiran Makassar ini menjelaskan, KUA sudah cukup dikenal masyarakat. Saat ini ada 5.707 KUA di Indonesia, penghulu 5.773 lokasi, Penyuluh PNS 4500 orang, penyuluh Non-PNS 45.000 orang.

Di KUA ada kepanjangan tangan yaitu penghulu dan penyuluh. Penghulu dan penyuluh menpunyai peran strategis kuntuk memberi layanan kepada umat Islam dalam membina paham keagamaan Islam.

“Jadi KUA selain memberikan pelayanan, juga melakukan pembinaan,” kata Mohsen.

IMNU Tegal

Dia berharap, KUA memberi peran yang sangat signifikan dalam memberi bimbingan kepada masyarakat. KUA, tegasnya, memiliki peran memberikan layanan dan bimbingan kepada masyarakat Islam di lingkungan kerjanya.

KUA, sambungnya, berfungsi salah satunya memberikan peneranagan agama Islam. KUA merupakan garda terdepan Kemenag yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Mohsen tidak memungkiri, di antara sebab yang mendukung aliran keagamaan yang bermasalah yaitu keliru memahami al-Qur’an, kurang menyeluruhnya sumber-sumber rujukan, lemahnya pemahaman keagaman, dan laata belakang pendidikan yang tidak cukup baik.

IMNU Tegal

Lebih jauh, dia menyatakan, aliran atau ideologi bermasalah juga berasal dari luar (transnasional, red) untuk menggangu stabilitas negara. Negosiasi lebih penting. Misal adanya komitmen dalam menyelesaikan masalah dari berbagai pihak.

“Tentu dengan mengesampingkan kepeantingan pribadi dan kelompok tertentu,” tandas mantan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Cerita IMNU Tegal

Raja Arab Saudi, Nahdlatul Ulama dan Islam Nusantara

Oleh: M. Rikza Chamami



Hari ini, Rabu 1 Maret 2017 menjadi sejarah baru harmoni dua negara berpenduduk mayoritas Muslim, Indonesia-Arab Saudi. Kemesraan ini bukan hal yang baru, mengingat memang selama ini dua negara sudah saling bekerja sama.

Raja Arab Saudi, Nahdlatul Ulama dan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Raja Arab Saudi, Nahdlatul Ulama dan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Raja Arab Saudi, Nahdlatul Ulama dan Islam Nusantara

Ada yang aneh dan di luar kebiasaan kunjungan Kepala Negara lainnya. Kehadiran Raja Salman seakan membuat heboh media karena membawa 1.500 rombongan dengan tujuh pesawat dan perlengkapan serba mewah.

Wajar saja, negara Petro Dollar itu memang sangat menghormati Rajanya dan ingin memberikan yang terbaik ketika hadir kemanapun. Indonesia juga menyambut dengan penuh kegembiraan.

Buktinya, titik lokasi yang dikunjungi Raja Salman dari Istana Bogor, Gedung DPR/MPR, Masjid Istiqlal, Hotel dan Bali sudah dipersiapkan secara khusus. Bahkan kekuatan TNI dan Polri dikerahkan khusus dalam pengamanan Khadimul Haramain ini.

IMNU Tegal

Dalam keterangan resmi Duta Arab Saudi untuk Indonesia, Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi dijelaskan bahwa Jokowi dan Raja Salman akan menandatangani 10 kerja sama. Di antara kerja sama yang penulis singgung dalam tulisan singkat ini adalah terkait kerjasama bidang agama dan keagamaan.

Jangan sampai dengan janji-janji kerja sama bidang ekonomi dengan nilai investasi USD 25 miliar atau sekitar Rp.333 triliun (kurs USD Rp.13.350), problem keagamaan lenyap dari perhatian publik.

Tour Raja Arab Saudi ke berbagai negara Asia memang baru menjadi sorotan dunia. Apalagi kebijakan politik diskriminatif Donald Trump kepada Timur Tengah baru-baru ini membuat Arab Saudi mulai berpikir mencari mitra strategis.

Maka pilihan Arab Saudi berkomitmen menjalin kemitraan dengan Indonesia, Malaysia, China dan Jepang bernilai strategis. Oleh sebab itu, Indonesia harus mampu menangkap semua peluang kemitraan dengan Arab Saudi.

IMNU Tegal

Bagi Arab Saudi sendiri, Indonesia pasti dianggap sangat istimewa karena menyumbang jamaah umroh dan haji yang sangat besar. Termasuk Indonesia dianggap sebagai saudara karena memiliki tenaga kerja terbesar di tanah suci itu.

*Kesan Positif*

Kesan Indonesia yang bermadzhab Sunni dan Arab Saudi bermadzhab Wahabi bukan satu-satunya pemisah bekerjasama. Sebab masyarakat Arab sendiri sangat menghormati keanekaragaman madzhab dan bahkan menjalin kerja sama dengan negara-negara sekuler.

Maka, jika selama ini bantuan yang mengalir dari Arab Saudi ke Indonesia boleh dibilang salah sasaran. Kenapa? Sebab bantuan itu justeru beralamat bagi "Islam Ngamukan" dan "Islam Fentungan" yang tidak khas Indonesia.

Masyarakat Indonesia yang toleran dijual dan dihasut anti Arab--oleh mereka. Intinya agar bantuan itu diambil mereka sendiri. Alhasil, pola busuk itu membuat suasana yang makin runcing.

Awal Maret 2017 menjadi momentum yang baik untuk Indonesia dalam mengenalkan Islam Indonesia. Siapa? Nahdlatul Ulama sebagai wadah mayoritas muslim Indonesia.

NU adalah pewaris Islam Arab yang sudah mengindonesia, bukan mengindonesiakan Arab. Sehingga jika ingin memahami Islam Indonesia perlu melihat NU sebagai organisasi terbesar dengan sikapnya yang sangat Islami dan moderat.

Bahkan NU mengajari untuk menghormat orang-orang Arab keturunan Nabi Muhammad dengan sebutan Habib, Yek atau Sayyid. Rasa hormat warga NU pada keturunan Arab juga diaktualisasikan dengan gelar acara rutin maulid bersama para habaib.

NU menjadi satu-satunya lembaga Islam yang sangat konsisten menggunakan kitab Arab dan ilmu Arab. Kajian-kajian di Madrasah dan Pondok Pesantren hingga kini masih mempertahankan kitab-kitab berbahasa Arab.

Maka, jika menyebut NU sebagai sebuah jamiyyah tidak akan lepas dari manhaj Arab. Apalagi jika dirunut sanad keilmuan para pendiri NU, ilmu yang diajarkan hingga kini berasal dari negeri Arab dan dari guru-guru Arab.

Oleh sebab itu, kehadiran Raja Salman ke Indonesia menjadi sebuah momentum baru bagi penataan agama dan keagamaan Islam khas Indonesia atau Islam Nusantara.

Pemahaman komprehensif Arab Saudi terhadap Islam Nusantara akan semakin memantapkan arah kerjasama keagamaan. Sebab boleh dipastikan, peserta umroh, haji dan ziarah ke Arab Saudi adalah warga NU. Termasuk para pelajar dan tenaga kerja di Arab Saudi juga banyak dari NU. Sebab NU-lah yang memiliki kesadaran menjalankan sunnah dan dekat dengan garis sanad ilmu Arab.

Jika memang momentum ini dapat dibuka, maka akan ada warna kiblat keagamaan yang bersifat pelangi, yaitu Pelangi Nusantara Arabia. Sebab kekhasan Arab jika sudah menyatu dengan Indonesia akan tampak beda. Apalagi kekhasan itu diracik oleh NU, pasti ada seni dan budaya yang begitu indah.

Itulah ciri khas keNUan yang sejak awal menjadikan Wali Songo sebagai kiblat Islam Nusantara. Dari para tokoh Walisongo yang berasal dari keturunan bangsa Arab itu, NU berdiri dan besar hingga saat ini. Menyebut orang NU anti-Arab, sama halnya dengan menutup sejarah dan tidak paham sejarah.

Selamat berNU dan berArab.*)

Penulis adalah Dosen UIN Walisongo & Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Ubudiyah, Cerita IMNU Tegal

Senin, 16 Oktober 2017

Pekan Depan PMII STKIP Rekrut Anggota Baru

OKU Timur, IMNU Tegal. Pengurus PMII STKIP Nurul Huda OKU Timur tahun ini kembali menggelar Masa Penerimaan Anggota Baru. Pengenalan terhadap gerakan mahasiswa ini akan berlangsung selama tiga hari Jumat-Ahad (10-12/10) di balai kampung Tebat Jaya, Buay Madang, OKU Timur.

Pekan Depan PMII STKIP Rekrut Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekan Depan PMII STKIP Rekrut Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekan Depan PMII STKIP Rekrut Anggota Baru

Menurut Panitia Mapaba Miftahul Huda, calon kader baru ini berasal dari lima jurusan program studi di kampus STKIP Nurul Huda Sukaraja. Sampai saat ini tercatat 25 mahasiswa mengembalikan formulir pendaftaran. 

“Kita juga tentu saja melakukan sosialisasi di kampus-kampus lain di kabupaten OKU Timur,” kata Miftah di sekretariat PMII STKIP Nurul Huda.

IMNU Tegal

Nurul Huda, Ketua PK PMII STKIP OKU Timur ini berharap rekrutmen anggota baru ini menambah amunisi bagi perubahan masa depan yang lebih baik.

“Kita ingin kader baru dengan komitmen kuat lahir dari Mapaba kali ini, yakni mereka yang loyal dan sadar akan tanggung jawab sebagai mahasiswa yang memperjuangkan idealisme,” harap Nurul. (Heri Amanudin/Alhafiz K)

IMNU Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Daerah, Cerita IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock