Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Sarung Miliki Potensi dalam Pemberdayaan Ekonomi Pesantren

Jakarta, IMNU Tegal. Direktur Jenderal Industri Tekstil, Kulit, dan Aneka, Kementerian Perindustrian RI Muhdori mengungkapkan tradisi bersarung yang dilakukan warga NU dan pondok pesantren, memiliki potensi dan peluang positif dilihat dari pemberdayaan ekonomi pesantren. ?

Sarung Miliki Potensi dalam Pemberdayaan Ekonomi Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarung Miliki Potensi dalam Pemberdayaan Ekonomi Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarung Miliki Potensi dalam Pemberdayaan Ekonomi Pesantren

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara pada Seminar Nasional “Sarung Nusantara” yang digelar Lembaga Takmir Masjid Nahdltaul Ulama (LTMNU) di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Kamis (6/4).

“Industri tekstil, di dalamnya termasuk industri sarung, menempati urutan ketiga penghasil devisa negara. Nilai ekspor tahun 2016 sebesar US$ 11,78 miliar (8,22 persen ekspor nasional), dengan surplus USD 4,73 miliar; berkontribusi 1,18 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada tahun 2016. Industri tekstil juga merupakan satu dari sepuluh industri prioritas dan industri andalan Indonesia 2015-2035,” urai Muhdori.

Muhdori menyebut, pada tahun 2015, dari sisi penyerapan tenaga kerja, industri tersebut menyerap tenaga kerja langsung sejumlah 2,69 juta orang. Angka ini setara dengan 17,03 persen dari total tenaga kerja industri manufaktur yang bersifat padat karya.

IMNU Tegal

Oleh karena itu ia mendorong pesantren memanfaatkan peluang tersebut. “Contohnya bila di Cirebon saja ada 27 pesantren dengan rata-rata 200 santri per pesantren. Lalu koperasi pesantren membeli sarung dengan harga dasar 45 ribu dijual 50 ribu, itu akan ada keuntungan untuk pesantren. Jelas ini upaya pemberdayaan umat lewat sarung,” terangnya.

Belum lagi, kata Mudhori bila pesantren bisa memproduksi sarung sendiri, tentu optimalisasi pemberdayaan ekonomi dapat dilakukan.

IMNU Tegal

Ia juga mengatakan pengembangan tekstil tidak terbatas hanya sarung. “Ketika musim haji, kiai dan satri pondok pesantren minimal kalau tidak berangkat haji bisa bertindak sebagai pemandu manasik. Sekaligus ini bisa dipersiapkan dengan mengenalkan produk pendukung ibadah haji dan umrah,” lanjut Muhdori.

Bicara tentang bisnis, kata Muhdori, tidak akan ada habisnya ketika dikaitkan dengan pondok pesantren. “Karena itu pondok pesantren dan NU harus memanfaatkan betul peluang ini, selagi masih terbuka,” tandasnya. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Syariah, Amalan IMNU Tegal

Sabtu, 24 Februari 2018

Ekonomi Kreatif dan Agroindustri Bisa Jadi Solusi Atasi Persoalan Ekonomi

Jakarta, IMNU Tegal - Ketimpangan antara penduduk yang kaya dan miskin meningkat sejak diberlakukannya otonomi daerah. Ini berarti penerapan otonomi daerah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat belum tercapai.

Hal itu disampaikan Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung, Prof Dr Bustanul Arifin dalm Diskusi Ekonomi “Menyongsong Satu Abad Kebangkitan Ekonomi Umat dan Nahdlatul Tujar”, di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Selasa (14/6) sore.

Ekonomi Kreatif dan Agroindustri Bisa Jadi Solusi Atasi Persoalan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ekonomi Kreatif dan Agroindustri Bisa Jadi Solusi Atasi Persoalan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ekonomi Kreatif dan Agroindustri Bisa Jadi Solusi Atasi Persoalan Ekonomi

Diskusi yang diselenggarakan Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) ini sebagai persiapan Rapat Pleno PBNU yang akan dihelat akhir Juni.

IMNU Tegal

(Baca: Pentingnya Indonesia Kembali ke Sistem Ekonomi Pancasila)

IMNU Tegal

Lebih lanjut Bustanul mengatakan, ketimpangan tersebut ditandai dengan tingginya angka gini ratio (ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan secara keseluruhan) yang mencapai 0,41 antara tahun 2011-2015.

“Kalau sampai gini ratio mencapai 0,5 sangat mungkin menimbulkan kerusuhan rasial, seperti yang terjadi di beberapa negara. Jadi masalah ketimpangan ini menjadi serius,” kata Bustanul.

Angka kemiskinan yang pada tahun 2015 juga meningkat menjadi 28,51 juta jiwa dari tahun sebelumnya yang hanya 27,73 juta jiwa. Kemiskinan di perdesaan yang pada tahun 2014 sebanyak 17,73 juta jiwa menjadi 17,89 juta jiwa di tahun 2015.

Perlu Pembenahan

Menurut Bustanul, permasalahan ekonomi Indonesia memerlukan pembenahan dari aspek hati masyarakat Indonesia. Bustanul memaparkan pentingnya keunggulan keberlanjutan, sebab langkah pemerintah untuk menstabilkan harga pangan seperti yang selama ini dijalankan tidaklah cukup.

Saat ini ekspolitasi sumber daya alam seperti batu bara juga tidak menjamin penyelesaian persoalan ekonomi. Misalnya di Kalimantan Timur yang mulai sadar untuk masuk ke sektor yang mengandalkan jasa. Selain itu juga penerapan agroindustri di bidang perikanan dan holikultura, akan membuat ekonomi Indonesia mampu bertahan.

Ekonomi kreatif juga menjadi pilihan yang baik. Ekonomi kreatif bisa dalam bentuknya yang benar-benar menggunakan pemikiran, tidak harus berbasis aplikasi. Misalnya berupa pengenalan kebudayaan Indonesia. Bustanul mencontohkan Korea berhasil menjual budaya pop-nya sehingga dikenal dunia.

Contoh lainnya adalah Isreal. Israel yang tidak mempunyai tanah (wilayah) dan tidak punya kekuatan, tetapi bisa menjadi negara super power yang mampu mengendalikan dunia.

Presiden Joko Widodo mencetuskan ekonomi kreatif ini juga, tetapi agaknya kurang aktif sehingga hasilnya belum maksimal. Bustanul mengkritisi selama ini NU tidak sekali pun menyentuh hal tersebut.

Ekonomi kreatif yang dapat diterapkan juga adalah turisme yang mengombinasikan beberapa hal misalnya kekhasan home stay berhubungan dengan masyarakat asli. Dan semuanya dijadikan paket wisata sehingga bisa menjual hotel dan kuliner.

Bustanul merekomendasikan selain isu ketimpangan, yang juga perlu dibahas dalam periode nanti adalah pengusaaan lahan pertanian yang semakin menurun, dan kreativitas. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Syariah, Nasional, Ahlussunnah IMNU Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

Konsumen Puas Pelayanan Sertifikasi Halal NU

Jakarta, IMNU Tegal. Sertifikat halal sangat penting untuk memperluas jangkauan pemasaran, demikian alasan yang diungkapkan oleh Budi Paramita, pemilik usaha suplemen Vitamor Grape, minuman alami penjaga kesehatan dan keremajaan yang terbuat dari buah anggur segar.?

Konsumen Puas Pelayanan Sertifikasi Halal NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Konsumen Puas Pelayanan Sertifikasi Halal NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Konsumen Puas Pelayanan Sertifikasi Halal NU

Kepada IMNU Tegal, yang dihubungi via telepon, Senin (14/4), ia menjelaskan masyarakat mengidentikkan produk dari buah anggur seperti minuman beralkohol anggur atau wine karena berasal dari bahan yang sama, sehingga untuk mengantisipasi keraguan tersebut, ia mencari kepastian dengan sertifikasi halal. Produknya dibuat dari buah anggur segar yang di-blender, disaring dan dipasteurisasi agar bisa tahan lebih lama. Produk ini tanpa dicampur air dan pemanis. Suplemen tersebut dipasarkan di toko-toko khusus yang menjual produk kecantikan dan kesehatan.

Ia meminta bantuan koleganya, yang kebetulan saat ini menjabat sebagai Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud, untuk memproses sertifikasi halal di satu badan halal yang sudah beroperasi dan mapan di Indonesia, tetapi Marsudi juga menawarkan, NU saat ini juga sudah memiliki badan halal tersendiri. Ia memutuskan untuk mendapatkan sertifikat halal dari dua lembaga tersebut.

IMNU Tegal

Untuk sertifikat halal di badan halal yang sudah mapan tersebut, ia dikenakan biaya 2.4 juta rupiah dan biaya kunjungan auditor sebesar 300 ribu per kunjungan sehingga total biaya yang dikeluarkan sebesar 3 juta. Sertifikat halal tersebut berlaku selama dua tahun. Proses sertifikasinya memerlukan waktu sekitar tiga bulan.

IMNU Tegal

Untuk sertifikasi halal di BHNU, hanya dikenakan biaya 600 ribu dengan lama pemprosesan selama 2 minggu dan masa berlaku untuk tiga tahun. Yang berbeda, sertifikat halal NU harus melakukan uji kandungan alkohol di laboratorium Sucofindo di jl Pasar Minggu Jakarta dengan biaya 800 ribu.?

“Saya senang dengan adanya kerjasama BHNU dan Sucofindo, yang dikenal memiliki laboratorium handal,” terangnya.

Untuk sertifikasi di badan halal yang sudah mapan tersebut, tidak diperlukan pemeriksaan kandungan alkohol. Waktu kunjungan ke tempat produksinya di daerah Jelambar Jakarta Barat, auditor halal lembaga tersebut, seorang dokter, hanya memintanya mendeskripsikan proses produksi dan tidak diminta uji kandungan alkohol.

Dari auditor halal NU yang seorang santri, ia mendapat pengetahuan baru bagaimana melakukan proses produksi secara halal.?

Menurut Budi, keberadaan Badan Halal NU (BHNU) sangat membantu sektor UKM untuk memperoleh sertifikat halal dengan biaya terjangkau.?

Sebelumnya Ketua BHNU Prof Dr Maksum Mahfudh menjelaskan, sesuatu yang dimonopoli tidak baik bagi konsumen, sedangkan keberadaan persaingan akan membuat penyedia layanan berusaha memaksimalkan kebutuhan konsumen. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Bahtsul Masail, Syariah, Santri IMNU Tegal

Minggu, 18 Februari 2018

Panglima TNI Jelaskan Tahlilan dan Pancasila

Jakarta, IMNU Tegal - Melalui perwakilannya, Laksdya TNI Didit Herdiawan, Panglima TNI menyampaikan sambutan dalam kegiatan ”Tahlil Akbar untuk Pendiri Bangsa dan Pahlawan Indonesia” Kamis (24/11) malam di halaman Gedung PBNU, Jakarta Pusat.

Dalam pidato berdurasi tak kurang dari sepuluh menit itu, mewakili Panglima TNI, Didit menyampaikan menyambut baik kegiatan Tahlil Akbar. Kegiatan tahlil dapat dijadikan sebagai ajang untuk melestarikan semangat juang, patriotisme,? nasionalisme, dan keteladanan para pendiri bangsa. Pendiri bangsa yang telah berjuang dalam menyatukan visi dan misi rakyat, didominasi oleh para ulama dan santri.

Panglima TNI Jelaskan Tahlilan dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Panglima TNI Jelaskan Tahlilan dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Panglima TNI Jelaskan Tahlilan dan Pancasila

”Saya melihat kegiatan tahlil mengisyaratkan adanya benang merah dengan Pancasila,” kata Didit membacakan sambutan Panglima TNI.

Didit lalu meneruskan filosofi Pancasila dalam tahlilan dalam lima ilustrasi ilustrasi.

IMNU Tegal

IMNU Tegal

”Kita dapat melihat orang tahlil pasti membaca Surat Al-Ikhlas, yang berbunyi Qul huwa allaahu ahad(un), allaahu alshshamad(u), lam yalid walam yuulad(u), walam yakullahu kufuwan ahad(un). Dalam ayat tersebut ada sepotong kalimat yang artinya Ketuhanan yang Maha Esa, Tuhan yang hak (benar) adalah satu.”

Berikutnya, ”Siapa pun dalam suasana tahlil boleh datang, boleh ikut, tidak ada seleksi, tidak ada pertanyaan, bahkan nonmuslim pun boleh masuk, dan tidak ada yang dibeda-bedakan. Kelihatan bahwa Kemanusian yang adil dan beradab ada di sini.”

Ketiga, orang tahlil duduknya bersila, di mana tidak dibedakan duduknya antara seorang pejabat kaiai, santri, atau orang biasa. Semuanya bersila. Itulah Persatuan Indonesia yang terdapat dalam sila ketiga Pancasila.

Keempat, menjelang dimulai mereka mencari pemimpin. Maka terjadi musyawarah kecil untuk mencari pemimpin di dalam kegiatan tahlil. Setelah terpilih maju satu orang yang langsung memimpin kegiatan tahlil tersebut.

”Itulah Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanan dalam permusyawaratan perwakilan,” kata Didit yang untuk sekian kalinya disambut tepuk tangan hadirin.

”Kelima setelah melaksanakan kegiatan tahlil, semuanya alhamdulillah mendapatkan berkat yang sama. Tanpa ada perbedaan, baik tampilan dan isinya. Semuanya itu dituangkan dalam ’Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Syariah IMNU Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

Munas IV JQH Dibuka Taushiyah Rais Majelis Ilmi

Pontianak, IMNU Tegal. Musyawarah Nasional IV Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) dibuka Rais Majelis Ilmi JQH NU Prof Dr KH Ahsin Sakho Muhammad berlangsung di Hotel Grand Mahkota, Pontianak, Jumat, (6/7) pukul 10.00. 

Dalam taushiyahnya Ahsin yang juga Rektor Institut Ilmu Quran Jakarta ini mengharapkan seluruh anggota JQH setia menjadi khodimatul Quran, menjadi pelayan-pelayan Al-Quranul Karim.

Munas IV JQH Dibuka Taushiyah Rais Majelis Ilmi (Sumber Gambar : Nu Online)
Munas IV JQH Dibuka Taushiyah Rais Majelis Ilmi (Sumber Gambar : Nu Online)

Munas IV JQH Dibuka Taushiyah Rais Majelis Ilmi

Khodimatul Quran itu adalah menjadi orang selalu memberikan pencerahan, memberikan pelayanan-pelayanan sesuai dengan keahliannya masing-masing. 

IMNU Tegal

“Ada orang-orang yang keahliannya dalam bidang tahfidh Al-Quran, maka mari kita gerakkan tahfidh Al-Quran,” ujarnya.

Sekarang, lanjut kiai asal Cirebon ini, ada beberap teori tentang cara cepat menghapalkan Al-Quran, misalnya teori otak kanan, ada juga teori fahim Al-Quran.

IMNU Tegal

“Begitu juga mereka yang memiliki kepedulian terhadap tilawah  Al-Quran. Marilah kita bersama-sama mengembangkan fan tilawah di tempatnya masing-masing,” imbaunya.

Dengan adanya fan tilawah, masyarakat bisa menyenangi menggandrungi bacaan-bacaan Al-Quran dengan lagu-lagunya yang macam-macam itu. 

“Bagi mereka yang memiliki kajian Al-Quran, marilah kita kembangkan kajian Al-Quran dari berbagai macam sudutnya. Baik dari balaghoh, isinya, kemukjizatan ilmiahnya, dan lain sebagainya,” jelasnya.

Rais Majelis Ilmi PP JQH ini juga mengimbau supaya anggota JQH tidak hanya berkutat dalam persoalan tahfidh, tilawah Al-Quran, tapi lebih luas lagi yaitu dari segi tafsir, terjemah, ilmiah, dan lain sebagianya.

Menurut Wakil Sekretari PP JQH NU Zahid Luqman, Munas IV JQHNU ini akan berlangsung Jumat-Sabtu (6-7), dihadiri 250 orang yang terdiri dari Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Cabang. Masing-masing mengirimkan 2 majelis ilmi dan pengurus.

Selain Munas IV digelar juga MTQ Nasional VII dan MTQ Internasional I; berlangsung dari Selasa, (3/7) dan akan berakhir Ahad, (8/7).

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   :  Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Lomba, Syariah IMNU Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Pergunu Jombang Perluas Anak Cabang ke Tiap Kecamatan

Jombang, IMNU Tegal. Pimpinan Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jombang segera membentuk kepengurusan  pimpinan anak cabang (PAC) di tiap kecamatan. Rencana ini merupakan salah satu amanat musyawarah wilayah Pimpinan Wilayah Pergunu di Yayasan Madinatul Ulum Jombang beberapa waktu lalu.

Kepengurusan PAC Pergunu yang sedang diproses SK oleh PW Pergunu adalah PAC Kecamatan Ngoro, kemudian menyusul PAC Kecamatan Diwek.

Pergunu Jombang Perluas Anak Cabang ke Tiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Jombang Perluas Anak Cabang ke Tiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Jombang Perluas Anak Cabang ke Tiap Kecamatan

“Berdasarkan rapat kooordinasi pada awal Desember lalu, bertempat di rumah bendahara  PC Pergunu Jombang, Ustadz Dimyathi, ada agenda sesuai dengan amanat muskerwil Pergunu, agar  kita memperbanyak  pembentukan pengurus  PAC,” ujar Ahmad Faqih, Ketua Pimpinan Cabang Pergunu Jombang pada Rapat Koordinasi Program, Senin (31/03) di Hall Abdurrahman Wahid, Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Jombang.

IMNU Tegal

Agar sinergi dan berjalan efektif, PC Pergunu Jombang akan mengirim surat kepada tiap pengurus Majelis Wakil Cabang (MWCNU) dengan mengetahui Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah.

“Kita akan mengundang MWC, dengan mengetahui Rais dan Ketua Tanfidziyah , dilampirkan formulir dan stuktur kepengurusan. Rekomendasi pengurus MWC patut dipertimbangkan dalam seleksi pengurus PAC Pergunu. Harapannya guru yang aktif, dan dari kalangan nahdliyin yang menjadi kandidat pengurus,” ujarnya di hadapan para peserta rapat.

IMNU Tegal

Sebelum diadakan perluasan pembentukan pengurus anak cabang di tiap kecamatan, PC Pergunu Jombang kembali mengadakan diklat. Untuk akhir April ini, diagendakan diklat tentang Kurikulum 2013.

“Sebelum diklat Kurikulum 13 itu kita beri kemanfaatan lebih dulu. Kita kembali mengadakan pendidikan dan pelatihan untuk para guru. Pendidikan dan pelatihan itu dilaksanakan sebagai wujud kebermanfaatan yang harus dilakukan Pergunu,” ujarnya didampingi wakil ketua PC Pergunu, M. Sholahuddin, dan dua pengurus lainnya, Ahmad Rofik, dan Burhanuddin.

“Acara kita kali ini, dibuat lebih besar sekalian, dandirencanakan bekerja sama dengan PC LP Maarif Jombang, dan yang diundang seluruh perwakilan guru sekolah di bawah LP Ma’arif, SD, SMP, dan SMA di Jombang. Kita undang minimal 300 peserta,” ujar Kepala Sekolah SMA Misykatul Anwar Jombang ini. (Yusuf Suharto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal RMI NU, Syariah, Pesantren IMNU Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Mengupas Perjuangan Santri Nusantara

Mengapa tanggal 22 Oktober layak disebut sebagai Hari Santri Nasional? Sejatinya peristiwa apa yang terjadi pada tanggal tersebut? Serta apa yang melatarbelakangi tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari Santri? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab dengan kehadiran buku ini, sebuah buku yang ditulis oleh para ahli sejarah mengingat banyak sejarah kaum santri yang dimarjinalkan oleh sejarah nasional itu sendiri.

Dalam kata pengantarnya, KH. Salahuddin Wahid mengatakan bahwa pada akhir 2011, ia cukup terkejut dengan sebuah statement yang menyatakan bahwa Resolusi Jihad itu tidak pernah terjadi, bahkan Resolusi tersebut merupakan sebuah legenda. Oleh karena itu beliau memerintahkan Abdul Latif Bustami dan Tim Sejarawan Tebuireng untuk mencari bukti keras kesejarahannya pada media-media cetak yang terbit akhir Oktober 1945 pada Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional di Jakarta. Oleh sebab itu buku ini ditulis dengan disertai scan hasil bukti-bukti kesejarahan, sehingga buku ini layak untuk dibaca oleh siapa pun termasuk para peneliti yang akan melakukan penelitian lebih lanjut tentang Resolusi Jihad.

Mengupas Perjuangan Santri Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengupas Perjuangan Santri Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengupas Perjuangan Santri Nusantara

Pada bagian pertama buku ini menjabarkan tentang sejarah masuknya Islam di Nusantara. Ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh sejarawan terdahulu, ada yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara berasal dari India Selatan (Gujarat dan Malabar), pendapat kemudian ada yang menyatakan bahwa Islam Nusantara berasal dari Arab, Ada pula yang mengatakan dari Persia. Tentang penyebaran Islam di Nusantara penulis buku ini dengan lantang mengatakan bahwa Islam masuk di Nusantara dan disebarkan oleh para Wali Sanga (Sebuah julukan yang mengandung suatu perlambangan suatu dewan wali-wali, dengan mengambil angka sembilan yang sebelum pengaruh Islam sudah dipandang sebagai angka yang keramat). Sedangkan tentang proses saluran Islamisasinya, disalurkan melalui saluran perdagangan, saluran kebudayaan, saluran perkawinan, saluran tasawuf, saluran pendidikan serta saluran politik. Dalam bab ini juga, penulis menolak pandangan-pandangan para sejarawan yang mengamini bahwa kehadiran Islam di Nusantara dilakukan dengan pedang, agresi penyerangan ke Majapahit. Bukti sejarah menunjukkan bahwa tumbuh dan berkembangnya Islam bersamaan dengan terjadinya perang saudara Paregreg di Majapahit sehingga menyebabkan konflik internal yang berkepanjangan sampai berujung pada keruntuhan Majapahit. Sehingga sesuai hukum logika, keruntuhan Majapahit disebabkan faktor internal dan bukan dari faktor eksternal, sebab faktor eksternal hadir sebagai alternatif yang bukan kekuatan determinan yang bersifat destruktif.

IMNU Tegal

Pada bagian kedua, penulis buku ini memaparkan tentang dinamika pemikiran serta gerakan politik yang dilakukan oleh Nahdlatul Ulama. Misalnya pada Muktamar NU ke-2 di Surabaya, NU menyoroti persoalan kemasyarakatan, seperti masalah pernikahan di bawah umur yang ditangani pemerintah Hindia-Belanda yang banyak menyimpang dari hukum fiqih. Dalam muktamar ini juga meminta kepada pemerintah untuk memasukkan kurikulum agama Islam pada setiap sekolah umum di Jawa dan Madura. Juga dibahas dan diputuskan hukum menyerupai orang Belanda dalam hal berpakaian, misalnya pakai celana, dasi, topi serta sepatu hukumnya adalah Haram, apabila niat menyerupai itu dimaksudkan untuk seluruhnya termasuk kesombongannya, kekafirannya serta kegagahannya. Tapi untuk sekedar mode maka hukumnya boleh dengan pertimbangan tidak boleh melanggar batas aurat yang sudah ditentukan oleh Islam. (Hlm. 113-114). Juga pada muktamar ke-4 NU membentuk Lajnatun Nasihin (Sebuah komisi propaganda untuk menyebarkan NU ke berbagai daerah) yang dibentuk oleh Kiai Shaleh Banyuwangi dengan anggota KH. Hasyim Asy’ari, Kiai Ridwan, Kiai Asnawi Kudus dan Kiai Muharram Kediri pada Majelis Khamis (Komisi Lima).

Pada bab ini juga dibahas bagaimana pandangan NU terhadap pemerintahan Hindia-Belanda serta pemerintahan Jepang, mengingat terdapat tanggapan serta kritik dari beberapa peneliti sejarah akan sikap inkonsistensi NU terhadap pemerintahan saat itu, kita ambil contoh bahwa NU selalu kooperatif terhadap koloni sebelum diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta, tetapi setelah itu NU justru melawan serta memerangi koloni yang datang, Hal ini dijawab oleh penulis bahwa pada masa pendudukan Hindia-Belanda ataupun Jepang (hingga 1945), Indonesia termasuk Darul Islam sehingga pemerintahan Hindia-Belanda serta Jepang termasuk dalam pemerintahan yang sah (bis Syaukah), pendapat tersebut diperkuat oleh hasil keputusan Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin. Hasil tersebut menjadi momentum kebangsaan NU karena diputuskan status wilayah Indonesia termasuk Darul Islam. Keputusan ini berdasarkan pada rujukan karya al-Hadrami pada Bughyatul Mustarsyidin pada bab al-Hudnah wa al-Imamah. Tetapi pada masa kemerdekaan Indonesia (1945-1950), NU berubah sikap dengan dikeluarkannya keputusan Muktamar NU ke-16 di Purwekerto yang menyatakan bahwa pentingnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia sesuai hukum Islam, sehingga Indonesia dijadikan sebagai Darul Harb (Wilayah Perang) yang mewajibkan setiap warga negara untuk melawan penjajah yang diperkuat dengan Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945.

IMNU Tegal

Pada bagian ketiga membicarakan secara tuntas dan heuristik tentang Resolusi Jihad yang difatwakan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari serta kapasitas beliau sebagai seorang mufti serta pemegang Ijazah Hadist Shahih Bukhari ke-24. Suatu ketika Presiden Soekarno mengirim utusannya untuk menemui beliau dengan tujuan meminta fatwa beliau dengan rujukan Gunseikanbu (Pemerintahan Militer Jepang di Indonesia) ? bahwa KH. Hasyim Asy’ari termasuk orang yang sangat terkemuka di Jawa. Melalui utusannya beliau bertanya ? “Apakah hukumnya membela tanah air, bukan membela Allah, membela Islam atau membela al-Quran. Sekali lagi membela tanah air?” Pertanyaan tersebut direspon oleh Kiai Hasyim Asy’ari dengan dikeluarkannya Fatwa jihad yang kemudian diperkuat oleh Resolusi Jihad hasil Musyawarah Ulama NU se-Jawa dan Madura di Surabaya pada tanggal 21-22 Oktober 1945 yang mana resolusi tersebut memiliki dampak yang luar biasa besar dimulai dengan solidaritas umat, Berdirinya Laskar Sabilillah dan laskar Hizbullah serta kongres Masyumi yang merespon resolusi tersebut hingga pada puncaknya pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya.

Pada bagian keempat atau bagian terakhir, Penulis membahas tentang politisasi sejarah Indonesia. Menurut penulis, masa lalu terdiri dari dua hal, yaitu fakta sebagaimana ia terjadi, apa adanya serta pemikiran dari para sejawan sehingga disebut ada apanya, oleh sebab itu banyak para sejarawan kelas atas yang ingin mengkerdilkan bahkan menghapus peran para santri atau pun kiai dan pondok pesantren dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ijtihad untuk memperjuangkan atau pun meluruskan sejarah tersebut merupakan kewajiban yang harus sesuai dengan fakta riil atau yang biasa disebut apa adanya.

Data Buku?

Judul : Resolusi Jihad; Perjuangan Ulama: dari menegakkan Agama hingga Negara

Penulis : Abdul Latif Bustami dan Tim Sejarawan Tebuireng

Penerbit : Pustaka Tebuireng

Terbitan : I, 2015

Tebal : xx + 236

ISBN : 978-602-8805-36-0

Peresensi : M Ichwanul Arifin, mahasiswa FUF UIN Sunan Ampel Surabaya/Kader PC IPNU Kota Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal RMI NU, Syariah, Kyai IMNU Tegal

NU Care-LAZISNU Korea Selatan Berorganisasi di Sela-sela Libur

Jakarta, IMNU Tegal

Berada jauh di negeri orang, tak menghalangi warga Indonesia di Korea Selatan aktif berorganisasi. Itulah yang dituturkan aktivis NU Care-LAZISNU Korea Selatan, Totok Pramono, Ahad (24/9).

“Kami berorganisasi di sela-sela istirahat dan hari libur,” ungkapnya.

NU Care-LAZISNU Korea Selatan Berorganisasi di Sela-sela Libur (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Care-LAZISNU Korea Selatan Berorganisasi di Sela-sela Libur (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Care-LAZISNU Korea Selatan Berorganisasi di Sela-sela Libur

Anak muda kelahiran Magetan Jawa Timur 25 tahun lalu itu menceritakan, melalui NU Care-LAZISNU Korea Selatan berhasil melakukan penggalangan dana untuk Rohingya.

“Penggalangan dana dimulai tanggal 4 September, kami tutup tanggal 17 September. Lalu kami sumbangkan 60 juta untuk Rohingya melalui NU Care- LAZISNU Pusat,” terangnya.

IMNU Tegal

Penggalangan dilakukan lewat media sosial, juga secara langsung. Wilayah penggalangan dana tersebar di Daegu, Gimhae, Gyong Gido dan sekitarnya.

Selain bantuan untuk Rohingya, NU Care-LAZISNU Korea Selatan yang dibentuk 28 september 2014, aktif melakukan berbagai program.

“Setiap kegiatan kemanusiaan yang sekiranya kami siap membantu, kami berupaya untuk sekuat tenaga berpartisipasi,” kata Pramono.

Sebagai lembaga sosial di Korea Selatan, NU Care-LAZISNU Korea Selatan mencoba lebih aktif dan peduli dalam menangani saudara-saudara setanah air yang ada di Korea Selatan. 

IMNU Tegal

“Apabila ada teman yang sakit atau mengalami kecelakaan dan memerlukan biaya yang dirasa berat jika ditanggung oleh yang bersangkutan, kami meminta ijin untuk ikut membantu pembiayaan lewat penggalangan dana,” lanjutnya.

Saat ada warga Indonesia di Korea Selatan yang meninggal dunia, dilakukan penggalangan dana santunan kepada keluarga yang ditinggalkan. Jika lokasi warga yang meninggal dunia dekat, bersama PCINU Korea Selatan, mereka turut hadir melayat dan menshalatkan.

“Kami membantu untuk pengurusan jenazah, termasuk pengkafanannya,” tambahnya lagi.

Sosialisasi ke masjid dan mushala yang ada di Korea Selatan rutin dilakukan. Hal itu bertujuan untuk silaturrahim dengan sesama pejuang TKI; mengisi kekosongan di masjid atau mushala tersebut dengan pengajian akhir pekan; serta agar masyarakat di Korea Selatan semakin mengenal NU Care-LAZISNU. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Habib, Syariah IMNU Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

RMI Jateng Nilai Rencana Kebijakan Sekolah 5 Hari Tidak Tepat

Semarang, IMNU Tegal. Rencana kebijakan Gubernur Jawa Tengah, Gandjar Pranowo tentang Sekolah lima hari, dinilai tidak tepat oleh beberapa pihak. Rencana kebijakan ini, dianggap masih belum strategis dan bahkan kontraproduktif jika diterapkan di Jawa Tengah. Rencana kebijakan Gubernur Ganjar menjadi pertimbangan serius organisasi masyarakat, LSM dan aktifis lembaga pendidikan.?

Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (RMI) PWNU Jawa Tengah, KH. Abdul Ghoffar Rozien, M.Ed menolak rencana yang dilontarkan Gubernur Gandjar Pranowo. Rozien mengungkapkan bahwa, rencana kebijakan Ganjar Pranowo sebetulnya bagus, akan tetapi belum sepenuhnya tepat jika dilaksanakan di Jawa Tengah.?

RMI Jateng Nilai Rencana Kebijakan Sekolah 5 Hari Tidak Tepat (Sumber Gambar : Nu Online)
RMI Jateng Nilai Rencana Kebijakan Sekolah 5 Hari Tidak Tepat (Sumber Gambar : Nu Online)

RMI Jateng Nilai Rencana Kebijakan Sekolah 5 Hari Tidak Tepat

“Jika kebijakan itu diterapkan, akan berdampak pada ritme pembelajaran. Pertama, pelajar di Jateng masih membutuhkan pendidikan diniyyah sore. Ini penting, karena pendidikan diniyyah sore masih menjadi tumpuan basis moral anak-anak kita. Jadi, jadwal sekolah 5 hari perlu dikaji ulang,” ungkap Rozien. ?

IMNU Tegal

Menurut Rozien, dalam database RMI, di Jawa Tengah ada sekitar 1.700 pesantren dan madrasah yang memiliki kurikulum dengan format sore hari. Kebijakan sekolah lima hari, dengan jam padat dari pagi hingga siang, akan berdampak pada jam pelajaran sekolah diniyyah. ?

Rozien menambahkan, “Kedua, libur sekolah pada hari Sabtu dan Minggu, perlu ditimbang lagi manfaat dan mudharat (kerugian) nya. Jika tidak diisi dengan kegiatan produktif, maka tidak ada manfaatnya. Ketiga, kebijakan ini, hanya cocok jika diterapkan di kota Metropolitan, semisal Jakarta,“ terang Rozien.?

IMNU Tegal

Menurutnya, kondisi Jakarta yang macet parah menjadikan anak-anak yang sekolah membutuhkan perjalanan lebih lama, hingga kelelahan di akhir pekan. Sedangkan, di Jawa Tengah kondisinya tidak demikian.?

Dalam pandangan Rozien, pemerintah sebaiknya menyelenggarakan forum kajian dan riset tentang hal ini, sebelum mengeksekusi kebijakan.?

“Riset kebijakan, evaluasi dan dengar pendapat dari ormas, pengasuh pesantren dan aktifis pendidikan, sangat penting untuk melihat sejauh mana efektifitas kebijakan ini,” tegas Rozien. Red: Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Syariah IMNU Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

GP Ansor Tangerang Gelar Istighotsah untuk Pemilu Damai

Tangerang, IMNU Tegal. Tidak kurang dari 1000 santri dan pelajar menghadiri acara istighotsah dan doa bersama yang digelar Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Tangerang di Pondok Pesantren Jabal Nur Cipondoh, Tangerang, Banten, Kamis (27/3).

Ketua pelaksana, Ahmad Nazir, menyampaikan istighotsah tersebut sebagai salah satu usaha batin untuk menjaga situasi Kota Tangerang supaya tetap damai, aman, dan sejahtera. Menurutnya, saat ini masyarakat sedang berada di tengah tensi politik yang tinggi menghadapi dua agenda besar pesta demokrasi di Indonesia, yaitu Pileg dan Pilpres.

GP Ansor Tangerang Gelar Istighotsah untuk Pemilu Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Tangerang Gelar Istighotsah untuk Pemilu Damai (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Tangerang Gelar Istighotsah untuk Pemilu Damai

Acara yang diselenggarakan di pesantren pimpinan KH Saiful Millah ini juga dihadiri Kasat Binamas Polres Metro Tangerang Kota Letkol Haris, Capt. Rohani (Danramil 0506 Tangerang), Nurhalim (perwakilan KPU Kota Tangerang), serta Zainil Miftah (Panwaslu Kota Tangerang). Istighotsah dipimpin Ust Khoirul Fatihin dari Pondok Pesantren Langitan Jawa Timur.

IMNU Tegal

Pada kesempatan itu, Letkol Haris mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat agar senantiasa menjaga kondusivitas demi kelancaran pemilu khususnya di Kota Tangerang. Sedangkan Danramil Tangerang menyampaikan akan siap siaga menjaga keamanan, ketertiban lingkungan baik sebelum atau sesudah penyelenggaraan pileg da pilpres.

IMNU Tegal

Selaku anggota KPU, Nurhalim mengajak para hadirin untuk menciptakan Pemilu yang berkualitas dan bermartabat dengan menggunakan hak suaranya pada tanggal 9 April nanti, serta menghindari kecurangan-kecurangan dalam proses Pemilu.

Zainil Miftah, anggota Panwaslu, mengingatkan agar masyarakat tak mau dibodohi lagi dengan praktik politik yang menghalalkan segala cara baik itu politik uang, janji-janji palsu, maupun kampanye hitam. Bila menemukan kejadian-kejadian semacam itu masyarakat bisa melaporkan kepada petugas pengawas pemilu di wilayahnya masing-masing, ujarnya.

Sementara dalam sambutannya Ketua GP Ansor Banten H Ahmad Imron mengatakan, istighotsah ini selain untuk Pileg 9 April, juga sebagai doa menjelang Ujian Nasional SMA/SMK. “Saya berharap dengan doa bersama, pileg bisa berjalan lancar dan tidak ada masalah,” tuturnya. (Atho’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Syariah, Sunnah IMNU Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Menjadi Santri di Era Millennial

Oleh Faried Wijdan

Tinta emas sejarah mencatat kaum santri selalu tampil memberi sumbangsih dan mencurahkan darma baktinya bagi eksistensi negara dan Bangsa, baik pada periode prakolonial, zaman kolonial, era kemerdekaan, Orde Baru, dan reformasi. Banyak penelitian dan buku sejarah ‘merekam’ semua ini. Dan menjadi sebuah fakta sejarah bahwa santri senantiasa memberikan sumbangan maha penting dan berharga bagi masyarakat bangsa, bukan hanya dalam pembentukan karakter positif nan luhur bagi individu-individu anak bangsa, melainkan juga bagi utuhnya sistem Negara Bangsa dengan seluruh pilarnya.

Menjadi Santri di Era Millennial (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Santri di Era Millennial (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Santri di Era Millennial

Santri sebagai out put pesantren terbukti tidak hanya mempunyai intelektualitas yang tinggi, tapi juga sosok yang memiliki kecerdasan spiritual di atas rata-rata. Santri hidup dan digembleng tentang arti solidaritas, tenggang rasa, dan kebersamaan, memperoleh piwulang integral dari soal moral sampai keterampilan hidup (life skill). Santri diajari soal keduniaan sampai keakhiratan. Inilah karakter pendidikan pesantren yang komunal, integral, dan futuristik.

IMNU Tegal

Kekecualian Santri

Pertama, penjelajah intelektual yang kritis. Karena keahlian dan penguasaan ilmu alat (nahwu) dan bahasa santri terbiasa membaca sendiri khazanah kitab-kitab klasik maupun modern. Santri adalah sosok pembelajar mandiri, otodidak, dan ‘luas ilmu dan referensinya’. Santri terbiasa berdiskusi, berdebat ilmiah, membaca secara mendalam, meresume, dan mengulang-ulang pelajaran (takrar). Semua aktivitas tersebut men-drill santri untuk berani mengemukakan pemikiran, membangun argumentasi dan mempertahankan, melatih santri berpikir kritis dan analisis, melecut santri untuk menulis, dan menguatkan daya ingatnya.

IMNU Tegal

Kedua, moderat dan toleran. Dalam melihat, memahami, lalu menghukumi sesuatu, santri memiliki kesadaran diri bahwa sesungguhnya setiap orang tidak memiliki hak mengatakan yang paling benar. Santri tidak mudah menyalahkan orang lain dan mengafirkan sesama. Sikap toleran santri berupa akhlak terpuji dalam pergaulan, saling menghargai antara sesama manusia. Sikap moderat dan toleran berjalan berkelindan dengan laku lampah santri sehari-hari. Artinya, jika ada santri ekstrim dan tidak toleran, ia telah mengabaikan ajaran substantif dari nilai-nilai dasar pesantren. Pribadi santri diasosiasikan sebagai sosok yang mempunyai kepribadian saleh (baik ritual maupun sosial), berawawasan inklusif, toleran, humanis, kritis dan berorientasi pada komitmen kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan (al-musawah).

Ketiga, mencintai Tanah Air. Cinta tanah air bagian dari iman. Santri harus setia pada NKRI, mengamalkan Pancasila dan UUD 1945. Jika ada santri yang menyerukan penggantian dasar dan bentuk negara, dipastikan ia adalah santri abal-abal. Di dalam tubuh santri mengalir darah nasionalisme.

Keempat, mandiri, sederhana, ikhlas, asketis, rendah hati, dan selalu istikamah menjaga marwah diri. Kemandirian adalah merupakan elemen esensial dari moralitas yang dimiliki kaum santri. Kemandirian adalah sebuah kekuatan internal individu yang diperoleh melalui proses individuasi, yaitu proses realisasi kedirian dan proses menuju kesempurnaan ketika di pesantren. Selepas dari pesantren, setiap santri mampu berpikir alternatif dan memikirkan cara hidup, pandai memanfaatkan kesempatan dan peluang, senantiasa optimis dan melihat peluang, menyesuaikan diri dalam segala peran. Santri jebolan pesantren biasanya memeliliki kemandirian aman (secure autonomy), sebuah kekuatan untuk menumbuhkan cinta kasih pada dunia, kehidupan, dan orang lain, sadar akan tanggung jawab bersama, dan tumbuh rasa percaya diri terhadap kehidupan. Kekuatan ini digunakan untuk mencintai kehidupan dan membantu orang lain. Berapa banyak kita mendengar success stories para alumni pesantren. Meraka bisa berdarma dan berkarier di semua matra kehidupan, dari guru ngaji, politisi, seniman, entrepreuneur, aktifis, sampai praktisi IT dengan bisnis rintisannya (start up).

Kelima, visioner. Santri dididik untuk berpandangan jauh ke depan tentang bagaimana membangun masyarakat yang sesuai dengan nilai-nilai Islam universal, seperti keadilan, kesejahteraan, kemajuan, kearifan, kesetaraan, kebahagiaan, dan kerjasama dalam membangun kebaikan dan meminimalisir hal-hal negatif. Santri harus siap kembali ke masyarakat, berproses ditengah-tengah masyarakat, membimbing dan mengajarkan agama, membangun perekonomian rakyat kecil, mengembangkan kualitas pendidikan, memberikan keteladan moral dan dedikasi, serta aktif melakukan kaderisasi demi menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Seseorang tidak memperoleh predikat ‘muslim yang baik’ karena ia tidak pernah memikirkan masa depan Islam. Sedangkan santri yang kurang sempurna dalam menjalankan ajaran agama dianggap sebagai ‘muslim yang baik’, karena ia memikirkan masa depan Islam. Sebagai mahluk sosial dalam komunitas berbangsa, santri dituntut memberikan manfaat kepada orang lain dalam kerangka ibadah sosial. Sebagai pembangun bumi (imaratul ardhi), santri harus mampu mengelola, mengembangkan, dan melestarikan sumber daya alam. Santri harus menjadi pelopor gerakan hijau (go green) dan mengejawantahkan fikih lingkungan (fiqh biah) yang mereka pelajari.

Pendek kata, di pesantren, santri dididik soal: karakter (character), rasa ingin tahu (curiosity), kreativitas (creativity), ilmu dakwah/komunikasi (communication), berpikir kritis (critical thinking), bekerjasama (collaboration), tanggung jawab kultural dan sosial (cultural and social responsibility), penyesuian diri (adaptibility), melek media dan digital (digital and media literacy), penyelesain masalah dan membuat keputusan (decision making and problem solving), sehingga melahirkan pribadi-pribadi beretika luhur (strong ethic), terpercaya dan bertanggung jawab (dependability and responsibility), berakhlak mulia (possesing a positive attitude), lentur (adaptibility), jujur dan berintegritas (honesty and integrity), memiliki motivasi untuk tumbuh dan belajar (motivated to grow and learn), tangguh dan percaya diri (strong self and confidence).

Santri di Zaman Millennial

Kapital sosial santri sungguh luar biasa yang senantiasa menyatukan diri secara integral bersama masyarakat, memiliki basis dan jejaring sosial yang sungguh dahsyat. Potensi yang dimiliki oleh santri selama ini dinilai masih belum tereksplorasi dan termanfaatkan dengan baik dalam membangun bangsa, padahal santri merupakan individu-individu pilihan masyarakat yang diharapkan mampu berbuat sesuatu demi kebangsaan dan kesejahteraan umat.

Santri harus terus mengembangkan diri untuk meneruskan estafet perjuangan para pendahulunya. Perlu dipikirkan bagaimana menciptakan santri agar memiliki kemampuan diferensial dan distinctive dalam menghadapi perkembangan perubahan mondial (global) dan dapat berkiprah dalam wilayah-wilayah sosial, ekonomi, politik maupun pemerintahan. Santri bukan hanya menguasai kitab-kitab kuning saja tapi juga mampu survive dan memberikan warna tersendiri dalam berbagai sektor kehidupan. Santri meski mempunyai bidang "keahlian dunia", di bidang kedokteran, kimia, IT dan desain komunikasi visual, astronomi, nuklir, dan lain-lain sehingga mandiri, tak tergantung ‘angin politik’ dan ‘tidak tegoda’ untuk sibuk ‘menyusun proposal’.

Di era millenial, santri fardhu ain melakukan jihad-jihad kekinian di zaman kacau (mess age) ini. Santri harus menjadi generasi langgas yang moderat dan toleran di dunia maya. Santri harus aktif dan berani mentransfer, mengampanyekan sekaligus mensosialisasikan doktrin Islam yang toleran dan anti kekerasan di dunia maya. Santri adalah garda terdepan yang mendakwahkan Islam yang teduh, bukan rusuh. Santri harus menjadi ‘promotor’ persatuan, perdamaian, dan ketertiban. Bukan malah menjadi ‘buzzer’ kemunkaran, permusuhan, fitnah dan ujaran kebencian.

Santri itu harus serbaguna, serbabisa, multitalenta. Santi tidak boleh kudet (kurang update). Santri harus berpikir konstruktif, reflektif, aktif, efektif, kreatif, inovatif. Santri harus terus menjadi pelaku sejarah, bukan beban sejarah. Santri harus menjadi paku bumi sebagaimana amanat Alm. KH Abdul Aziz Mansur. Santri harus mampu mengambil peran sebagai lokomotif perubahan sosial demi kemaslahatan umat, bukan sekadar pendorong. Selamat merayakan Hari Santri Nasional!

Penulis adalah alumni UIN Syarif Hidayatullah JakartaDari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Syariah, Berita, Quote IMNU Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Belajar Mengaji

Saat mengaji kitab nahwu "Qathrunnada wa Ballusshoda" di Masjid Al-Munawwarah Pesantren Ciganjur, Gus Dur bercerita tentang seorang santri yang sedang belajar mengaji Al-Quran. Kali ini ia sedang belajar surat Al-Qurais.

Pak Ustadz menyuruhnya membaca. "Ayo dimulai nak...!"

Belajar Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Mengaji

Santri mulai membaca. "Bismillahirrahmanirrahim. Liilafiquraisyin iila fihim rihlatas syitaai wasshoifi."

Pak Ustadz spontan menyuruh santri menghentikan bacaannya. "Wasshoifffff," katanya.

IMNU Tegal

"Wasshoifi," kata satri.

IMNU Tegal

"Wasshoifff, kalau waqof dimatikan. Wasshoifff," kata ustadz.

Santri tetap tidak paham. "Wasshoifi". Masih ada ada bunyi "fi" di belakang.

Akhirnya pak ustadz tidak sabar. Saat santri membaca "Wasshoif," ia langsung menutup mulut santri dengan tangan kananannya. "Nah begitu, wasshoiff," katanya.

Tapi, kata Gus Dur, ketika mulut santri itu dilepaskan, tetap saja masih ada bunyi "fi". (Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Syariah, Sholawat IMNU Tegal

PMII dan Kesetiaan terhadap Pancasila

Oleh Falihin Barakati



Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia merupakan suatu organisasi kader yang di dalamnya diisi para mahasiswa Muslim yang landasan teologinya Ahlusunnah wal Jama’ah (Aswaja). Selain menggunakan paham Aswaja, PMII juga menetapkan Pancasila sebagai asas organisasinya. Pancasila diyakini sebagai suatu komitmen bersama the founding fathers bangsa Indonesia yang harus tetap terjaga keutuhannya sebagai dasar Negara. Karena PMII merupakan organisasi kepemudaan yang lahir di bumi Pancasila, maka PMII pun wajib membela dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia yang mampu menyatukan seluruh rakyat Indonesia di tengah kemajemukan dan kepluralan masyarakat Indonesia.

PMII dan Kesetiaan terhadap Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII dan Kesetiaan terhadap Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII dan Kesetiaan terhadap Pancasila

Jika kita kembali pada sejarah lahirnya Pancasila, sebelum Pancasila ditetapkan sebagai landasan atau dasar Negara, berbagai benturan pandangan terjadi. Dalam sidang BPUPKI misalnya, peserta sidang terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu kalangan nasionalis dan kalangan agamis. Kedua kelompok ini masing-masing memiliki pandangan berbeda terhadap gagasan Soekarno yang menawarkan Pancasila sebagai ideologi Negara. Yang paling menonjol dalam perdebatan tersebut adalah terkait apakah Negara Indonesia akan menjadi negara sekuler atau negara agama. Namun di tengah perdebatan panjang diambilah suatu kesepakatan bersama, bahwa Indonesia dengan Pancasilanya bukanlah negara sekuler dan juga bukan negara agama. Dari kesepakatan ini dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Indonesia adalah Negara Pancasila.

Sungguh menakjubkan, ide pemikiran politik yang terkandung di dalam Pancasila merupakan ramuan sempurna dan solutif. Para pendiri Negara mampu meramunya dengan sangat kreatif, dengan mengambil jalan tengah antara dua pilihan ekstrem, Negara sekuler atau negara agama. Mereka menyusunnya dengan rumusan yang begitu imajinatif di mana negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Coba bandingkan dengan Turki, di mana saat mencari jalan keluar dari kemerosotan Dinasti Utsmani yang berkuasa selama hampir delapan abad, akhirnya memilih negara sekuler yang ditandai dengan runtuhnya kekhalifahan pada Maret 1924. Turki pun menjadi negara sekuler pertama di tengah masyarakat Muslim.

IMNU Tegal

Begitu pun di Pakistan. Negeri yang berdiri di atas bekas wilayah Dinasti Mogul itu, dari dua arus pemikiran politik yang bersaing saat menuju kemerdekaan, antara Ali Jinnah sebagai representasi gagasan negara sekuler dan Maududi sebagai representasi gagasan negara agama, toh akhirnya memilih jalan sebagai Negara Islam, setelah gagal mensenyawakan format yang solutif untuk sebuah dasar negara modern.

Pancasila, sebagai jalan tengah antara dua pemikran apakah Indonesia sebagai negara sekuler atau negara agama. Inilah konsensus bersama para pendiri bangsa saat menetapkan dasar atau ideologi Negara Indonesia. Kesepakatan yang mampu menyatukan pendapat dua kelompok baik kelompok nasionalis dan keslaompok agamis. Tidak ada satu pun kelompok yang dikecewakan dengan ditetapkannya Pancasila sebagai ideologi Negara.

IMNU Tegal

Itulah sedikit petikan sejarah pergulatan tentang penetapan Pancasila sebagai ideologi Negara. PMII sebagai organisasi kepemudaan yang tidak bisa terlepas dari sejarah Indonesia tentu harus wajib mempertahankan Pancasila. Apalagi melihat realitas sekarang Pancasila begitu dikerdilkan bahkan terlupakan. Meski tak dapat dipungkiri trauma Orde Baru masih ada dalam bayang-bayang di segenap pemikiran rakyat Indonesia bagaimana Pancasila begitu ditegakkan dan dimasyarakatkan tetapi berdasarkan pengertian penguasa kala itu sehingga hanya dijadikan alat untuk memperthankan kekuasaan. Tetapi bukan karena itu kemudian kita meninggalkan Pancasila, karena Pancila adalah kesepakatan, komitmen dan konsensus bersama pendiri bangsa kita yang mampu menyatukan beragam pemikiran pendiri bangsa Indonesia sehingga Indonesia tetap kokoh sampai hari ini.

Setelah terbukanya kran demokrasi yang ditandai dengan reformasi, saat inilah kebebaasan begitu diagung-agungkan sehingga kebebasan pun mulai kebablasan, Pancasila mulai digoyang kembali oleh beberapa pemikiran ideology baik dari liberalism dan kapitalisme ataupun sosialisme-komunisme serta ideology islam radikal. Pancasila sudah dimasuki dengan neoliberalisme, sehingga kebijakan pemerintah pun terkadang lebih condong dari dasar neoliberalisme dari pada Pancsila itu sendiri. Begitupun ideologi Islam radikal, yang mulai tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Teroris di mana-mana, tindakan kekerasan atas nama Islam merajalela dan penanaman pemikiran Islam yang tekstual dan inkontekstual yang begitu jauh dari semangat dan nilai-nilai Pancasila.

PMII dengan pemikiran Pancasilais dan nasionalisnya harus melawan pemikiran neoliberalisme yang merongrong bangsa Indonesia, begitupun dengan Islam radikal. PMII harus kembali membumikan Islam Indonesia di bumi Nusantara. Begitulah yang dikehendaki Pancasila dan para pendiri bangsa kita. Harus tetap menjaga orisinalitas bangsa di tanah air kita, jangan sampai terongrong oleh ideologi-ideologi yang begitu bertentangan dengan Pancasila. Pancasila lah pemersatu bangsa, Pancasila lah yang menjaga keutuhan NKRI, ini lah warisan luhur kita yang harus tetap kita jaga dan pertahankan sebagai ideologi Negara. Ketika Pancasila sudah terganti oleh ideologi-ideologi lain, maka NKRI bubar, perjuangan para pahlawan dan the founding fathers kita untuk memerdekakan dan membentuk bangsa dan negara ini sia-sia. Kita sebagai kader PMII yang berasaskan Pancasila tentu tidak mau hal itu sampai terjadi. Pancasila dan NKRI adalah Final.

Penulis adalah Wakil Ketua PKC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sulawesi Tenggara



Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Syariah, PonPes IMNU Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Wayang Ki Sopo Nyono Meriahkan Maulid Nabi

Batang, IMNU Tegal. Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Ngadirejo Kec. Reban Kab. Batang, Jawa Tengah, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW bersama Kiai Lurah Ki Sopo Nyono dari Gringsing, Batang.  Tak seperti pengajian pada umumnya, Ki Sopo Nyono memadukan seni wayang dan musik sebagai media untuk berdakwah.

“Selain untuk memeringati Maulid Nabi, kami juga ingin nguri-nguri kabudayan jawi,” ungkap Ketua Panitia, Ahmad Musyifa’.

Wayang Ki Sopo Nyono Meriahkan Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Wayang Ki Sopo Nyono Meriahkan Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Wayang Ki Sopo Nyono Meriahkan Maulid Nabi

Maulid Nabi dikemas berbagai kegiatan menarik, dimulai dengan pembacaan Maulid al Barzanji selama 12 malam penuh oleh warga masyarakat, dilanjutkan dengan mengadakan berbagai lomba untuk anak-anak dan pengajian umum Ki Sopo Nyono.

IMNU Tegal

Antusias masyarakat Ngadirejo terhadap wayang dan peringatan maulid nabi dibuktikan dengan banyaknya pengunjung yang memadati acara tersebut. Meski hujan terus mengguyur sejak beberapa hari yang lalu, namun semangat panitia tidak surut, sehingga acara dapat berjalan dengan lancar.

“Seluruh panitia sudah bekerja dengan maksimal, meski cuaca sangat tidak mendukung. Ini bukti kecintaan kader-kader NU pada peringatan Maulid Nabi.” imbuh Musyifa’.

IMNU Tegal

Acara yang digelar di Mushola Nurul Huda itu pun menjadi kegiatan ketiga yang digelar oleh PRNU Desa Ngadirejo. Sebelumnya, acara serupa juga diadakan di Mushola al Ikhlas dan Mushola at Taqwa. Rencananya, minggu depan acara peringatan Maulid Nabi juga akan digelar di Masjid al Mustaqim Desa Ngadirejo.

“Pengurus Ranting NU Desa Ngadirejo merasa bangga, karena tahun ini kami bisa mengadakan peringatan Maulid Nabi sebanyak empat kali. Ini sangat luar biasa,” tutur Abdul Munir, Ketua PR NU Desa Ngadirejo.

Menurutnya, acara tersebut tidak akan sukses tanpa keterlibatan aktif dari pemuda-pemuda NU Desa Ngadirejo. “Insya Allah tahun depan akan lebih meriah.” Tambah Ketua PR NU Ngadirejo.

Dalam ceramahnya, Ki Sopo Nyono mengingatkan kepada masyarakat desa Ngadirejo untuk senantiasa mencintai Rosulullah dan mengambil hikmah dari peristiwa kelahiran baginda Nabi Muhammad Saw.

Masyarakat desa Ngadirejo pun nampak puas dengan suguhan ceramah ala Ki Sopo Nyono yang lincah dalam memainkan wayang kulit dan diselingi dengan musik gamelan. Acara yang digelar pada hari ini pun melibatkan puluhan Banser dari Pengurus Ranting GP Ansor Desa Ngadirejo. (Asop/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kajian Islam, Khutbah, Syariah IMNU Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

KH Wahab Chasbullah Tokoh yang Mesti Diteladani PMII, Kenapa?

Jombang,? IMNU Tegal?



Segenap keluarga besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas KH Wahab Hasbullah (Unwaha) dan STIKES Bahrul Ulum Tambakberas Jombang memperingati hari lahir (halah) ke-57 PMII, Senin, (17/4). Harlah digelar dengan kegiatan refleksi sejarah dan tujuan PMII didirikan. Tak hanya itu, mereka juga gelar istighotsah dan doa bersama.

Kegiatan yang digelar di aula STIKES Bahrul Ulum Tambakberas ini dihadiri puluhan aktivis PMII dari masa ke masa di lingkungan Tambakberas, mulai anggota dan kader yang saat ini masih aktif di kepengurusan tingkat rayon dan komisariat maupun beberapa alumni PMII komisariat Wahab Hasbullah.?

KH Wahab Chasbullah Tokoh yang Mesti Diteladani PMII, Kenapa? (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Wahab Chasbullah Tokoh yang Mesti Diteladani PMII, Kenapa? (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Wahab Chasbullah Tokoh yang Mesti Diteladani PMII, Kenapa?

Ketua Komisariat Elik mengungkapkan, tujuan diselenggarakannya kegiatan ini untuk melawan lupa akan sejarah PMII dan bagaimana tujuan terbentuknya PMII, selain itu upaya meningkatkan solidaritas anggota dan kader PMII Wahab Hasbullah juga menjadi tujuan penting digelarnya kegiatan tersebut. "Terhadap bagaimana PMII didirikan, kemudian apa tujuan PMII didirikan tidak boleh lupa, dan harus kita tanamkan betul," ujarnya.

Lebih jauh Hanifun Nashor alumni PMII Unwaha menyebutkan, KH Wahab Hasbullah adalah salah satu tokoh yang bisa dijadikan teladan bagi aktivis PMII dalam mengaplikasikan nilai-nilai dan tujuan PMII didirikan.?

IMNU Tegal

Sikap pemberani, pemikir dan pelopor yang dimiliki pendiri Nahdlatul Ulama ini, kata dia, seyogyanya menjadi representasi perjuangan aktivis PMII untuk mencapai cita-cita didirikannya PMII hingga saat ini.

Sementara Agus Riyanto Pengurus Cabang PMII Jombang dalam kesempatan yang sama, menyampaikan usia PMII yang sudah bisa dikatakan dewasa bahkan tua, hendaknya bisa membuat kader PMII secara keseluruhan lebih dewasa pula dalam pola berpikirnya juga gerakan-gerakannya. Hal ini menurutnya tiada lain untuk lebih taktis mencapai tujuan didirikannya PMII.

IMNU Tegal

"Perjalanan 57 tahun seharusnya mampu mendewasakan kita semua dalam berpikir maupun bergerak, senantiasa menjadi pelopor garda terdepan dalam membela bangsa dan menegakkan agama," kata pria berkaca mata ini.

Seperti dikatakan Hanifun Nashor di atas, Agus sapaan akrabnya kembali menegaskan betapa pentingnya aktivis PMII meneladani Kiai Wahab Hasbullah.?

"Sahabat-sahabat harus bisa menjadi pelopor seperti Kiai Wahab, gagasan Tashwirul Afkar, Nahdlatul Wathon, Nahdlatut tujjar, Nahdlatul Ulama sebagai representasi ide kebangsaan dan keislaman harus menular pada diri sahabat-sahabat selaku pembawa nama besar Kiai Wahab Hasbullah," tambahnya.? (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Syariah, Nusantara, Pendidikan IMNU Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

PBNU dan Mizan Bahas Perkembangan Sufisme Dunia

Jakarta, IMNU Tegal

Penerbit Mizan bekerjasama dengan Lembaga Talif wan Nasyr (LTNNU) dan Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU), akan mengadakan bedah buku dan diskusi tentang perkembangan sufisme dunia, pada Jumat (26/2), jam. 14.00, hari ini. Agenda ini juga dalam rangka Studium Generale Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU Jakarta) dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia. Diskusi dan Studium Generale ini, diselenggarakan dengan tema "Sufism in the Modern World".

PBNU dan Mizan Bahas Perkembangan Sufisme Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU dan Mizan Bahas Perkembangan Sufisme Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU dan Mizan Bahas Perkembangan Sufisme Dunia

Menurut rencana, agenda ini akan dihadiri oleh pakar sufi dari Aljazair, Dr Abdul Aziz Abbaci (Sadra Institute), Dr Haidar Bagir (Mizan), dan Dr Mastuki HS (Direktur Pascasarjana STAINU Jakarta). Agenda ini, terselenggara dengan dukungan Gerakan Islam Cinta, Nutizen, IMNU Tegal, TV9, Aswaja TV,? dan majalah Risalah NU.

Munawir Aziz, salah satu panitian menjelaskan pada agenda ini, akan dibahas perkembangan sufisme di negara-negara modern, serta kaitannya dengan jaringan sufisme di Nusantara. Tema ini, terkait erat dengan tema besar yang diusung Nahdlatul Ulama, yakni Islam Nusantara untuk peradaban dunia. Tentu, kajian ini akan menarik sebagai perspektif baru dalam memandang Islam di dunia, yakni dari pendekatan tasawuf yang penuh cinta dan welas asih. Pada momentum ini, juga akan diluncurkan sebuah buku baru, karya Prof. Carl Ernst (Carolina University), yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan.

Katib Syuriyah PBNU, KH Mujib Qulyubi, menyambut hangat diksusi sebagai salah satu titik penting dalam mengkaji perkembangan Islam di dunia. "Pada prinsipnya kita menyambut hangat majelis ilmiah yang sesuai dengan visi Nahdlatul Ulama. Terlebih, mengkaji perkembangan sufisme itu sangat menarik. Jadi, ada pengkaji sufi, dan pelaku sufi," ungkap Kiai Mujib.

IMNU Tegal

Diskusi dan Studium Generale pada agenda ini, akan disiarkan secara langsung (live streaming) oleh Nutizen, via aplikasi media ini. Untuk konfirmasi kehadiran, silakan hubungi Faiz, 085710086095[]. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal

IMNU Tegal Cerita, Makam, Syariah IMNU Tegal

Kiai Said Inginkan Penyelenggaraan Muktamar di Pesantren

Jakarta, IMNU Tegal. Diantara tiga tempat yang mengajukan diri sebagai tempat muktamar NU, yaitu Pesantren Tebuireng Jombang, NTB, dan Medan, KH Said Aqil Siroj masih mempertimbangkan antara Jawa Timur dan Medan. Lebih khusus lagi, ia menginginkan muktamar diselenggarakan di pesantren.

Kiai Said Inginkan Penyelenggaraan Muktamar di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Inginkan Penyelenggaraan Muktamar di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Inginkan Penyelenggaraan Muktamar di Pesantren

Dalam konteks muktamar untuk syiar, Kiai Said setuju dengan pendapat tersebut bahwa tempat penyelenggaraan muktamar NU harus dibuat merata di seluruh Indonesia, bukan didominasi oleh Jawa Timur yang sudah menyelenggarakan perhelatan tersebut selama 11 kali dari 33 kali muktamar.

“Idealnya memang ada pemerataan sebagai syiar NU, tapi kita harus mempertimbangkan situasi dan kondisi, transportasinya, dan dukungan dari pemerintah setempat dan masyarakat,” katanya.

IMNU Tegal

Menurutnya, yang paling siap sekarang adalah Jawa Timur sementara NTB, dari sisi transportasi masih kurang dibandingkan dengan Surabaya.

IMNU Tegal

“Kalau Sumatra Utara transportasi bagus, tetapi juga masih kita pertimbangkan apakah kondisi disana siap. Daripada nanti muktamar tidak maksimal, lebih baik yang sudah siap di Jawa Timur,” tandasnya.

Meskipun demikian, keputusan akhirnya akan ditentukan setelah melakukan survey terhadap kesiapan masing-masing lokasi.

“Walhasil, rapat akan membikin tim, mereka nantinya yang akan mensurvey. Dulu waktu di Makassar, saya dan Kiai Hafidz Utsman yang berangkat ke sana.”

Di sisi lain, ia juga berharap agar muktamar ke depan diselenggarakan di pesantren sesuai dengan visinya untuk menyelenggarakan seluruh kegiatan NU di pesantren dari rapat pleno, munas dan konbes sampai dengan muktamar.

“Saya ingin ke kembali ke pesantren. Apa pesantren di luar Jawa siap. Nanti kalau dipaksakan kualitas muktamar yang terganggu, lebih baik yang sudah siap,” tegasnya.?

“Saya ingin menyatukan kembali, NU itu pesantren dan pesantren itu NU.” (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Kyai, Syariah, Olahraga IMNU Tegal

Senin, 27 November 2017

Poligami, Antara Islam, Cinta dan Realitas

Oleh Rifatuz Zuhro*

Hukum di Indonesia masih mengandung dualisme produk hukum:? selain terdapat pengadilan negeri juga terdapat pengadilan agama untuk menangani kasus atau sengketa di masyarakat. Soal dengan hukum berpoligami, menurut Kompilasi Hukum Islam? yang diperjelas dengan adanya Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974, seorang suami ketika ingin melakukan praktik poligami harus mendapatkan izin istri, dan harus mendapatkan izin dari pengadilan agama, dengan catatan pertama istri tidak dapat memberikan keturunan, kedua istri tidak bisa menjalankan kewajiban dan ketiga mempunyai penyakit yang tidak bisa disembuhkan.

Sekilas Pandangan Islam

Poligami,  Antara Islam, Cinta dan Realitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Poligami, Antara Islam, Cinta dan Realitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Poligami, Antara Islam, Cinta dan Realitas

Praktik poligami sebenarnya sudah banyak dilakukan kaum-kaum sebelum Islam datang (pra-Islam), perbedaannya adalah dahulu tidak ada aturan yang mengikat? tentang berapa banyak perempuan yang? boleh dinikahi. Agama Islam datang juga tidak melarang praktik poligami tersebut, tetapi membolehkan dengan dengan beberapa aturan dan konskwensi. Kebolehan hukum tersebut juga diperjelas dengan dalil Q.S An-Nisa’ : 3 yang artinya,

IMNU Tegal

“Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berperilaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya) maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi; dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka nikahilah seorang saja. Atau hamba sahaya yang kamu miliki yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim”.

Berdasarkan dalil tersebut, menurut hemat penulis ada beberapa hal yang menjadi poin penting,

IMNU Tegal

Pertama, sejatinya praktik poligami bukan murni dari Islam, tetapi sebuah kenyataan peradaban yang sudah turun-temurun dan sering dilakoni oleh orang-orang sebelum Islam datang, dan bisa jadi kebiasaan itu sukses dilestarikan hingga saat ini.

Kedua, Tuhan sejak awal sudah memberikan peringatan bahwa mayoritas laki-laki tidak dapat berlaku adil, sebab adil itu konsekuensi mutlak untuk laki-laki yang melakoni tindak poligami. Ketika laki-laki itu tidak bisa adil maka sudah berlaku zalim, minimal terhadap dirinya sendiri.

Ketiga, persoalan banyaknya perempuan yang boleh dinikahi, entah itu yang berpendapat dua atau tiga atau empat ataupun yang berpendapat dua tambah tiga tambah empat bahkan yang dua kali tiga kali empat, yang jelas pendapat tersebut sudah ditafsirkan menurut kebutuhan dari mufassir-mufassir sekalipun berdasarkan dengan dalil syara’ yang dianggap benar.

Keempat, status poligami di akhir ayat tersebut diperuntukkan untuk orang-orang yang dinilai akan berbuat zalim, dan manusia masih mempunyai potensi untuk monogami saja.

Ketika Cinta yang Berbicara

Ini hanya subyektif penulis bahwa mungkin benar kodratnya laki-laki mampu mencintai lebih dari satu orang, tetapi apakah pemuasan laki-laki terhadap kebutuhan cintanya harus dengan cara menyakiti hati orang yang ia cintai, yang mendampinginya selama bertahun-tahun? Apakah itu cinta? Bukankah cinta juga berarti kerelaan untuk berkorban? Atau itu hanya nafsu yang berkedok cinta dan kebolehan hukum syara’ agama.

Beberapa waktu lalu, heboh vidoe curhat poligami di social media. Seorang perempuan bercadar menumpahkan perasaanya melalui video tersebut yang berisi pesan untuk para suami agar berpikir ulang sebelum memutuskan untuk memadu istri mereka. Poligami memang menarik, menarik untuk dilakoni ataupun untuk disoroti. Kembali pada tujuan pernikahan bahwa pernikahan itu penyatuan lahir dan batin bukan sekadar lahir saja, sebab siapapun tidak akan diam ketika di dalam sebuah perkawinan, dan mungkin perkawinan poligami yang di dalamnya terdapat unsur-unsur kezaliman, kekerasan. Ketidak-adilan, pelecehan, pemaksaan, dan penindasan terhadap perempuan, baik itu perasaannya maupun fisiknya.

Realitas Poligami dari Perspektif Gender

Praktik poligami akan menimbulkan berbagai bentuk ketidakadilan gender. Ketidakadilan biasanya berupa pembunuhan psikologi. pemiskinan perempuan dan marginalisasi perempuan.

Pertama, timbul perasaan inferior, yaitu istri menyalahkan diri sendiri, karena istri merasa suaminya berpoligami adalah akibat dari ketidakmampuan dirinya melayani dan memenuhi kebutuhan biologis suaminya.

Kedua, ketergantungan secara ekonomi. Maksudnya ketika istri dalam rumah tangga tidak mempunyai penghasilan maka seluruh interaksi ekonomi atas dasar pemberian suami. ketika kesenjangan antara suami-isteri terjadi maka salah satu pihak yang merasa superior akan berlaku sesuai dengan apa yang diinginkan, apalagi ketika posisi perempuan itu sebagai isteri yang dimadu, atau isteri yang kedua, ketiga dst, maka ketidaksamaan derajat inilah yang akan muncul sebagai awal dari tindak kekerasan dalam rumah tangga. Maka sangat perlu sekali laki-laki dan perempuan mempunya pemahaman dan visi misi yang sama dalam menjalankan roda pernikahan mereka.

Ketiga, mubahnya hukum poligami, dalam masyarakat sering disalahgunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, dan jelas mayoritas korbannya adalah perempuan. Misalkan laki-laki yang ingin melakukan poligami tidak mendapatkan izin resmi dari pengadilan agama maka bias jadi ia melakukan nikah di bawah tangan, yaitu perkawinan yang tidak dicatatkan pada kantor pencatatan nikah (Kantor Catatan Sipil atau Kantor Urusan Agama). Perkawinan yang tidak dicatatkan dianggap tidak sah oleh negara, walaupun perkawinan tersebut sah menurut agama. Bila ini terjadi, maka yang dirugikan adalah pihak perempuannya karena perkawinan tersebut dianggap tidak pernah terjadi oleh negara. Ini berarti bahwa segala konsekwensinya juga dianggap tidak ada, seperti hak waris dan sebagainya.

Keempat, poligami dijadikan sebagai tameng kebolehan hukum agama untuk orang-orang yang tidak bertanggung jawab, misalkan nikah siri, nikah mut’ah (kawin kontrak), bahkan human trafficking (perdagangan manusia) yang hanya ingin mengambil keuntungan dari perempuan dengan segala resiko yang dibebankan oleh perempuan itu sendiri.

Kelima, seringnya bergonta-ganti pasangan, semakin besar risiko terkena penyakit-penyakit kelamin. Termasuk HIV/AIDS, dan dampaknya yang akan terus berkelanjutan. Tentunya kemungkinan terbesar menjadi korban adalah perempuan, sebab rasionya yang lebih banyak dibandingkan laki-laki dalam praktik poligami.

Oleh karena itu, mubahnya hukum poligami seharusnya tidak dimanfaatkan untuk menindas perempuan, bersikap tidak adil terhadap perempuan; dan ketika ketdakadilan itu sudah jelas terindikasi, seharusnya kebijakan-kebijakan tentang hukum perkawinan lebih diperjelas dan dipersempit untuk mengakibatkan perempuan menjadi korban dalam sebuah hubungan sakral yang disebut “pernikahan”. Sebab keadilan bisa didapat dengan kesadaran dan kerja sama seluruh pihak.

*Penulis adalah Ketua Pengurus Komisariat PMII Yaqub Husein STIT al-Urwatul Wutsqo Jombang masa khidmat 2014-2015; mahasiswa semester 7 STIT al-Urwatul Wutsqo Jombang

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Ubudiyah, Khutbah, Syariah IMNU Tegal

Kamis, 23 November 2017

Gus Mus: Pendidikan Harus Tekankan Pembentukan Akhlakul Karimah

Jepara, IMNU Tegal. Rais Aam PBNU KH A. Mustofa Bisri menilai pendidikan nasional masih menitikberatkan pada pengajaran. Hal demikian, menurutnya, hanya menghasilkan generasi cendekia atau pandai saja, padahal seharusnya pendidikan itu membentuk akhlakul karimah.

"Pendidikan akhlakul karimah sangat penting dalam rangka menyiapkan generasi unggulan 2045. Bahkan bila ditekankan betul, insya Allah akan menjadi generasi unggulan sampai hari qiyamat," katanya dalam kuliah umum tahun akademik 2014/2015 Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) di Gedung Haji Tahunan Jepara, Rabu (29/10) kemarin.

Gus Mus: Pendidikan Harus Tekankan Pembentukan Akhlakul Karimah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Pendidikan Harus Tekankan Pembentukan Akhlakul Karimah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Pendidikan Harus Tekankan Pembentukan Akhlakul Karimah

Kiai yang sering disapa Gus Mus ini menekankan pendidikan harus membentuk lingkungaan yang mencintai pengetahuan sekaligus mengamalkan ilmu dan akhlakul karimah. Ia merasa prihatin melihat sekelompok orang yang mengatasnamakan agama, tetapi prilakunya tidak mencerminkan nilai dan ajaran agama.

IMNU Tegal

?

"Tidak ada generasi unggul kecuali dengan akhlakul karimah," tandas Pengasuh Pesantren Raudlatuth Thalibin Leteh Rembang.

Kepada Unisnu, Gus Mus mengharapkan perguruan tinggi milik NU ini mempunyai ciri khas sendiri dengan menciptakan cendikia berakhlakul karimah. Tidak hanya mengembangkan pengajaran di kuliah saja tetapi menekankan pendidikan akhlak.

IMNU Tegal

Di hadapan ribuan civitas akademika Unisnu ini, Gus Mus juga mengajak belajar memahami banyaak bahasa. Dalam masyarakat terdapat ragam bahasa yang mengemuka sesuai komunitasnya masing-masing seperti bahasa intelektual, akademisi, sarjana bahkan bahasa alay atau gaul.

"Dengan semakin memahami banyak bahasa, kita akan semakin arif bijaksana dan tidak kagetan," tegas Gus Mus yang juga menjadi dewan penyantun Unisnu Jepara ini.

Kuliah umum bertema "Membangun Atmosfir Akademik dan Generasi yang Unggul Menyongsong Indonesia Emas 2045" diikuti ribuan mahasiswa Unisnu. Tampak hadir dalam acara ini, rektor Unisnu H. Muhtarom, ketua umum Yayasan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (YAPTINU) H. Ali Irfan dan tamu undangan lainnya.(Qomarul Adib/Abdullalh Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Syariah, Anti Hoax, Budaya IMNU Tegal

Rabu, 22 November 2017

PMII Ngawi Desak DPRD Pro Rakyat

Ngawi,IMNU Tegal. Pelantikan anggota DPRD periode 2014-2019 disambut aksi demonstrasi puluhan mahasiswa, Senin 25/08). Massa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menuntut 45 wakil rakyat menandatangani kontrak moral. Sebab mereka menilai kinerja dewan sebelumnya tidak banyak memberikan sumbangsih terhadap kemajuan Ngawi.

Dalam aksi tersebut mereka tidak hanya berorasi, tapi juga membawa poster yang berisi pesan moral. Namun, mahasiswa berhadapan dengan pintu tertutup. Petugas sengaja menutup pintu masuk menuju Pendapa Wedya Graha, tempat dilakukan pengambilan sumpah janji anggota DPRD periode 2014-2019. Beberapa nekat naik ke atas gerbang dan berorasi sambil meneriakan yel-yel.

PMII Ngawi Desak DPRD Pro Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Ngawi Desak DPRD Pro Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Ngawi Desak DPRD Pro Rakyat

Wakhid Hariadi, koordinator aksi mendesak para wakil rakyat merealisasikan janji politiknya pasca diambil sumpah dan janjinya. Dia mengingatkan agar mereka benar-benar bekerja secara profesional dan pro rakyat. ‘’Pelantikan memiliki makna yang sakral dan mendalam sebagai penentu nasib rakyat,’’ ungkapnya.

IMNU Tegal

PMII menyodorkan kontrak moral yang berisi kesediaan anggota dewan baru untuk memiliki komitmen memajukan pembangunan ekonomi dan pendidikan, senantiasa melibatkan partisipasi masyarakat, lebih pro rakyat, merealisasikan kepentingan rakyat dengan amanah, jujur, profesional, kredibel dan transparan.

IMNU Tegal

PMII juga serta mendorong anggota DPRD agar merealisasikan kontrak politiknya, dan transparansi anggaran serta fungsi legislasinya. Mendesak anggota agar tidak berpraktik korupsi, kolusi serta nepotisme. ‘’Produk hukum, kebijakan serta program yang dilaksanakan harus pro rakyat,’’ tegasnya.

Sayangnya, tidak ada satupun anggota DPRD baru yang menandatangi kontrak moral tersebut. Usai pengambilan sumpah janji, para wakil rakyat buru-buru pulang. Mereka juga menggunakan pintu keluar depan sekretariat daerah. Sehingga tidak bertemu massa yang berkumpul di pintu masuk pendapa. ‘’Kalau mereka tidak mau menandatangani kontrak moral, sudah terlihat jika mereka tidak mau memajukan Ngawi,’’ katanya.

Meski begitu, PMII mengancam akan mendatangi gedung dewan. Mereka akan melakukan sweeping agar anggota DPRD mau menandatangani kontrak moral tersebut. Jika tidak berhasil, mahasiswa akan datang lagi dengan massa yang lebih besar. ‘’Kami tidak main main,’’ tegas Wakhid.

Ketua DPRD sementara Dwi Rianto Jatmiko mengatakan menerima masukan dari kalangan mahasiswa itu. Tanpa diminta pun, pihaknya sudah komitmen berjuang untuk kepentingan rakyat. Hal itu sudah dibuktikan dengan meningkatnya anggaran perbaikan infrastruktur jalan yang setiap tahunnya di atas 40 persen. Dewan juga fokus pada program dan kebijakan di bidang kesehatan dan pendidikan. ‘’Karena tiga hal tersebut merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Dan selalu kami perjuangkan agar mendapat prioritas,’’ katanya. (Agus Susanto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

IMNU Tegal Syariah, Daerah, Pendidikan IMNU Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs IMNU Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik IMNU Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan IMNU Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock